Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum ke-9 Hari/Tanggal : Senin/25 Maret 2019

Teknik Laboratorium Nutrisi Tempat : Laboratorium Terpadu,


dan Teknologi Pakan Asisten Praktikum
Dwiutami

INTERPRETASI DATA PROFIL ASAM LEMAK DAN


KROMATOGRAM

Siska Tifani Hidayat


D24160060
Kelompok 1/Pagi

DEPARTEMEN ILMU NUTRISI DAN TEKNOLOGI PAKAN


FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2019
PENDAHULUAN

Latar Belakang

Asam lemak adalah asam monokarboksilat berantai lurus yang terdapat


di alam sebagai ester di dalam molekul lemak atau trigliserida. Asam lemak
merupakan sekelompok senyawa hidrokarbon yang berantai panjang dengan
gugus karboksilat pada ujungnya (Sartika 2008). Asam lemak memiliki empat
peranan utama. Pertama, asam lemak merupakan unit penyusun fosfolipid dan
glikolipid. Molekul-molekul amfipatik ini merupakan komponen penting bagi
membran biologi.Kedua, banyak protein dimodifikasi oleh ikatan kovalen asam
lemak, yang menempatkan protein-protein tersebut ke lokasi-lokasinya pada
membran . Ketiga, asam lemak merupakan molekul bahan bakar. Asam lemak
disimpan dalam bentuk triasilgliserol, yang merupakan ester gliserol yang tidak
bermuatan. Triasilgliserol disebut juga lemak netral atau trigliserida. Keempat,
derivat asam lemak berperan sebagai hormon dan cakra intrasel (Rusmana et al
2008).
Tujuan

Praktikum ini bertujuan mengetahui produksi VFA di dalaam cairan


rumen sebagai tolak ukur fermentasi pakan serta mengetahui analisis VFA dengan
teknik destilasi uap.

MATERI DAN METODE

Materi

Alat yang digunakan dalam praktikum yaitu panci presscooker, tabung


destilasi, pipet mohr, bulb, kompor gas, Erlenmeyer, alat titrasi, magnetic stirer.
Bahan digunakan yaitu sampel uji, indikator PP, NaOH 0.5 N, H2SO4 15%, HCl
0.5%.
Metode

Langkah pertama yang dilakukan yaitu alat dan bahan disiapkan, Panci
presscooker diisi akuades hingga batas maksimal. Air digunakan sebagai
pendingin dengan dialirkan secara terus-menerus. Selanjutnya aquadest pada
presscooker dipanaskan sampai mendidih dan menghasilkan uap yang akan masuk
ke dalam tabung-tabung destilasi sebagai indikator dimulainya analisis VFA.
Kemudian supernatan diambil sebanyak 5 ml dimasukkan ke dalam tabung
destilasi, untuk blangko tidak menggunakan supernatan lalu tabung erlenmeyer
yang berisi 5 ml NaOH 0.5 N ditempatkan di bawah selang tampungan. Setelah
itu, H2SO4 15% diambil sebanyak 1 ml ditambahkan kedalam tabung destilasi
yang telah diisi larutan sampel kemudian penutup kaca ditutup dan dibilas dengan
akuades dengan cara dialirkan pada penutup sambil diputar tutupnya. Uap air
panas yang terbentuk dari pemanasan aquadest dalam presscooker akan mendesak
VFA di dalam sampel supernatant yang akan terkondensasi dalam pendingin. Air
yang dihasilkan ditampung dengan tabung erlenmeyer yang telah disiapkan
sampai volume mencapai 250 ml. Erlenmeyer yang telah berisi air tampungan 250
ml kemudian ditambahkan dengan indikator PP (Phenol Pthalin) sebanyak 2-3
tetes. Kemudian dititrasi dengan HCl 0.5 N hingga warna berubah dari warna
merah menjadi merah muda seulas. Sisa volume titran diamati kemudian kadar
VFA total dalam mM dihitung dengan rumus matematis:

VFA Total=(a-b)×NHCl×1000/5

Keterangan :
a = volume blanko
b = volume sampel perlakuan
N HCl = 0.5 N
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Volatile fatty Acid (VFA) atau asam lemak terbang merupakan hasil
fermentasi di dalam rumen akibat adanya aktivitas mikroba. VFA dapat
digunakan sebagai sumber energy. Berikut ini adalah hasil dari kandungan VFA
pada berbagai perlakuan.

Tabel 1. Kandungan VFA total pada berbagai perlakuan


Sampel Volume Titrasi (ml) VFA (mM)
Blanko 4.05 -
Formaldehid 3.075 97.5
HgCl2 3.3 75
H2SO4 3.65 40

Pembahasan

Menurut Parakkasi (1999), VFA merupakan suatu produk akhir fermentasi


karbohidrat dan sumber energi utama bagi ternak ruminansia. Arora (1995) juga
mengatakan, bahwa proses fermentasi karbohidrat dalam rumen akan
menghasilkan asam lemak atsiri (asam lemak terbang atau VFA) terutama asetat,
propionat, n-butirat, laktat. Proses pembentukan VFA dari fermentasi karbohidrat
pakan berawal dengan memecah susunan karbohidrat kompleks menjadi bentuk
yang lebih sederhana (monosakarida) seperti glukosa, fruktosa dan pentosa
dengan cara hidrolisis, kemudian dari hasil tersebut akan mengalami proses yang
dinamakan glokolis, di mana karbohidrat sederhana akan diubah menjadi piruvat,
kemudian perivat itulah yang diubah menjadi VFA. Seperti yang dikemukakan
oleh Arora (1995), bahwa ada tiga tahap dalam proses terbentuknya VFA yang
pertama, karbohidrat mengalami hidrolisis menjadi monosakarida, seperti
glukosa, fruktosa dan pentosa. Tahap kedua dengan melakukan proses glikolisis,
yaitu hasil dari produk dari tahap pertama akan mengalami pencernaan yang
menghasilkan piruvat. Piruvat selanjutnya akan diubah menjadi VFA yang
umumnya terdiri dari asetat, butirat dan propionat. Proses pembentukan VFA
berawal dari proses fermentasi karbohidrat di dalam rumen. Destilasi adalah suatu
metode pemisahan campuran yang didasarkan pada perbedaan tingkat volalitas
(kemudahan suatu zat untuk menguap ) pada suhu dan tekanan tertentu. Destilasi
merupakan proses fisika dan tidak terjadi adanya reaksi kimia selama proses
berlangsung. Dasar utama pemisahan dengan cara destilasi adalah perbedaan titik
didih cairan pada tekanan tertentu. Proses destilasi biasanya melibatkan suatu
penguapan campuran dan diikuti dengan proses pendinginan dan pengembunan.
Destilasi uap yaitu memisahkan zat senyawa cair yang tidak larut dalam air dan
titik didihnya cukup tinggi. Aplikasi distilasi uap adalah untuk mengekstrak
beberapa produk alam seperti minyak eucalyptus, minyak sitrus dari lemon atau
jeruk, dan untuk ekstraksi minyak dari tumbuhan lainnya. Destilasi uap adalah
istilah umum untuk destilasi campuran air dengan senyawa yang tidak larut dalam
air. NaOH pada analisis VFA berfungsi untuk menangkap VFA yang teruapkan.
HCl dan H2SO4 dalam analisis VFA berfungsi sebagai zat kimia yang digunakan
untuk mengukur produksi VFA (Nasiu et al. 2016).
Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan dihasilkan volume titrasi
sebesar 4.05 ml. Sampel formaldehid dihasilkan volume titrasi sebanyak 3.075 ml
dengan VFA yang dihasilkan yaitu 97.5 mM. Sampel HgCl2 dihasilkan volume
titrasi sebanyak 3.075 ml dengan VFA yang dihasilkan yaitu 75 mM. Sampel
H2SO4 dihasilkan volume titrasi 3.65 dengan VFA yang dihasilkan yaitu 40 mM.
Konsentrasi VFA yang dibutuhkan untuk pertumbuhan optimal mikroba rumen
menurut beberapa penelitian, 80-160 mM (Sutardi, 1979), 70-150 mM (Mc.
Donald et al., 2002), dan 70- 130 mM (France & Djikstra, 2005). Hal ini
menunjukan bahwa pada hasil pengamatan pada sampel formaldehid dan HgCl2
sesuai dengan literature, sedangkan pada sampel H2SO4 dihasilkan VFA yaitu 40
mM tidak sesuai dengan literature. Konsentrasi total VFA pada cairan fermentasi
juga dipengaruhi oleh nilai pH yang tetap stabil sekitar 6,54-6,55. Erfle et al.
(1982) menyimpulkan produksi VFA menurun ketika pH rumen turun dari 7 ke 5,
karena enzim yang penting untuk memecah serat tidak dapat berfungsi secara
efektif pada pH di bawah 6 dan laju pertumbuhan bakteri fibrolitik menurun
secara nyata pada pH yang rendah (Russel dan Wilson 1996). Sung et al. (2007)
menyatakan bahwa produksi VFA pada pH 6,2 dan 6,8 lebih tinggi dibandingkan
pada pH 5,7. Mouriño et al. (2001) menyatakan bahwa pH merupakan faktor yang
paling penting yang dapat mempengaruhi fermentasi selulosa di dalam rumen dan
bakteri selulolitik dapat berkerja optimal pada pH di atas 6.

SIMPULAN

VFA adalah hasil fermentasi didalam rumen yang terjadi dikarenakan


adanya aktivitas mikroba. Produksi VFA pada cairan rumen yaitu 10-70 mM,
hanya sampel H2SO4 yang menghasilkan VFA sesui dengan literatur. Destilasi uap
pada analisis VFA memiliki dasar utama yaitu perbedaan titik didih cairan pada
tekanan tertentu.

DAFTAR PUSTAKA

Akoso, B. 1996. Petunjuk Praktis Berternak Sapi Perah. Yogyakarta (ID) :


kanisius (42-45).
Arora, S.P. 1995. Pencernaan Mikroba pada Ruminansia. Cetakan ke-2.
Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press.
Dewhurst, R.J., D.R. Davies, and R.J. Merry. 2000. Microbial protein supply from
the rumen. J. Anim. Feed Sci. Technol. 85: 1 - 21.
Erfle, J. D., R. J. Boila, R. M. Teather, S. Mahadevan, and F. D. Sauer. 1982.
Effect of pH on fermentation characteristics and protein degradation by
rumen microorganisms in vitro. J. Dairy Sci. 8:1457-1464.
Erwanto. 1995. “Optimalisasi Sistem Fermentasi Rumen melalui Suplementasi S.
Defaunasi, Reduksi Emisi Methan dan Stimulasi Pertumbuhan Mikroba
pada Ternak Ruminansia”. [Disertasi]. Program Pascasarjana. Bogor
(ID): Institute Pertanian Bogor. Jawa Barat.
France, J. & J. Dijkstra. 2005. Volatille Fatty Acid Production. In: J. Dijkstra, J.
M. Forbes & J. France (Eds). Quantitative Aspect for Ruminant
Digestion and Metabolism. 2nd Edition. CABI Publishing. London.
McDonald, P., R.A. Edwards., J.F.D. Greenhalgh., and C.A. Morgan. 2002.
Animal Nutrition. 6th Edition. Pearson Education Limited. Harlow,
United Kingdom.
Mouriño, F., R. Akkarawongsa, and P. J. Weimer. 2001. Initial pH as a
determinant of cellulose digestion rate by mixed ruminal
microorganisms in vitro. J. Dairy Sci. 84: 848-859.
Nasiu F, Yusiati LM , Supadmo. 2016. Suplemetasi vitamin E dalam cairan
rumen in vitro: analisis parameter fermentasi. Buletin peternakan vol.
40 (2): 138-143
Parakkasi, A. 1999. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Jakarta (ID):
Cetakan Pertama Penerbit UP.
Russel, J. B. and D. B. Wilson. 1996. Why are ruminal cellulolytic bacteria unable
to digest cellulose at low Ph. J. Dairy Sci. 8: 1503-1509.
Sung, H. G., Y. Kobayashi, J. Chang, A. Ha, I. H. Hwang, and J. K. Ha. 2007.
Low ruminal pH reduces dietary fiber digestion via reduced microbial
attachment. Asian-Aust. J. Anim. Sci. 2: 200-207.
Sutardi,T. 1979. Ketahanan protein bahan makanan terhadap degradasi oleh
mikroba rumen dan manfaatnya bagi peningkatan produktifitas ternak.
Proceeding Seminar dan Penunjang Peternakan. Lembaga Penelitian
Peternakan. Bogor (ID): Buku 2. Hal. 91-103.

LAMPIRAN