Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

PADA KLIEN DENGAN RETENSIO PLASENTA


Di Ruang IGD Kebidanan RSUD. Dr. H. Moch. Ansari Saleh
Banjarmasin

Tanggal 16 – 21 September 2019

Oleh :
Jannatu Rahmah, S.Kep
NIM. 1930913320019

PROGRAM PROFESI NERS ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS LAMBUNG MANGKURAT
BANJARBARU
2019
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PENDAHULUAN
PADA KLIEN DENGAN RETENSIO PLASENTA
Di Ruang IGD Kebidanan RSUD. Dr. H. Moch. Ansari Saleh
Banjarmasin

Tanggal 16 – 21 September 2019

Oleh :
Jannatu Rahmah, S.Kep
NIM. 1930913320019

Banjarmasin, 16 September 2019


Mengetahui,

Pembimbing Akademik Pembimbing Lahan

Devi Rahmayanti, S.Kep, Ns, M.Imun Hj. Fauziah, S.Kep, Ns


NIP. 19780101200812 2 002 NIP. 19730323 199703 2 001
RETENSIO PLASENTA

A. Definisi
Retensio plasenta adalah terlambatnya kelahiran plasenta selama setengah
jam setelah persalinan bayi, dapat terjadi retensio plasenta berulang
(habitual retension) oleh karena itu plasenta harus di keluarkan karna dapat
menimbulkan bahaya perdarahan.
B. Etiologi
Adapun faktor penyebab dari retensio plasenta adalah :
1. Plasenta belum terlepas dari dinding rahim karena tumbuh dan melekat
lebih dalam.
2. Plasenta sudah terlepas tetapi belum keluar karena atonia uteri dan akan
meyebabkan perdarahan yang banyak atau adanya lingkaran konstriksi
pada bagian bawah rahim yang akan menghalangi plasenta keluar .
3. Bila plasenta belum lepas sama sekali tidak akan terjadi perdarahan
tetapi bila sebagian plasenta sudah lepas akan terjadi perdarahan
(Mochtar, 1998).
Apabila terjadi perdarahan post partum dan plasenta belum lahir,
perlu di usahakan untuk melahirkan plasenta dengan segera . Jikalau
plasenta sudah lahir, perlu dibedakan antara perdarahan akibat atonia
uteri atau perdarahan karena perlukaan jalan lahir. Pada perdarahan
karena atonia uterus membesar dan lembek pada palpasi, sedang pada
perdarahan karena perlukaan jalan lahir uterus berkontraksi dengan baik
(Wiknjosastro, 2005).
C. Klasifikasi
Berdasarkan tempat implantasinya retensio plasenta dapat di klasifikasikan
menjadi 5 bagian :
1. Plasenta Adhesiva
Kontraksi uterus kurang kuat untuk melepaskan plasenta plasenta dan
melekat pada desidua dan melekat pada desidua endometrium lebih
dalam.
2. Plasenta Akreta
Implantasi jonjot korion plasenta hingga memasuki lapisan
miometrium yang menembus lebih dalam miometrium tetapi belum
menembus serosa.
c. Plasenta Inkreta
Implantasi jonjot korion plasenta hingga mencapai atau memasuki
miometrium, dimana vili khorialis tumbuh lebih dalam dan menembus
desidua sampai ke miometrium .
d. Plasenta Perkreta
Implantasi jonjot khorion plsenta yang menembus lapisan otot hingga
mencapai lapisan serosa di uterus, yang menembus serosa atau
peritoneum dinding rahim .
e. Plasenta Inkarserata
Tertahannya plasenta di dalam kavum uteri, disebabkan oleh kontraksi
ostium uteri (Sarwono, 2005).

D. Manifestasi Klinik

Gejala Akreta parsial Inkarserata Akreta


Konsistensi uterus Kenyal Keras Cukup
Tinggi fundus Sepusat 2 jari bawah pusat Sepusat
Bentuk uterus Discoid Agak globuler Discoid
Perdarahan Sedang – banyak Sedang Sedikit / tidak ada
Tali pusat Terjulur sebagian Terjulur Tidak terjulur
Ostium uteri Terbuka Konstriksi Terbuka
Pelepasan plasenta Lepas sebagian Sudah lepas Melekat
seluruhnya
Syok Sering Jarang Jarang sekali,
kecuali akibat
inversion oleh
tarikan kuat pada
tali pusat.

E. Pemeriksaan Penunjang
Hitung darah lengkap: untuk menentukan tingkat hemoglobin (Hb) dan
hematokrit (Hct), melihat adanya trombositopenia, serta jumlah leukosit.
Pada keadaan yang disertai dengan infeksi, leukosit biasanya meningkat.
F. Penatalakasanaan
Terapi yang dilakukan pada pasien yang mengalami retensio plasenta
adalah sebagai berikut :
1. Bila tidak terjadi perdarahan
Perbaiki keadaan umum penderita bila perlu misal: infus atau transfusi,
pemberian antibiotika, pemberian antipiretika, pemberian ATS.
Kemudian dibantu dengan mengosongkan kandung kemih. Lanjutkan
memeriksa apakah telah terjadi pemisahan plasenta dengan cara Klein,
Kustner atau Strassman.
2. Bila terjadi perdarahan
lepaskan plasenta secara manual, jika plasenta dengan pengeluaran
manual tidak lengkap dapat disusul dengan upaya kuretase. Bila
plasenta tidak dapat dilepaskan dari rahim, misal plasenta
increta/percreta, lakukan hysterectomia.
Cara untuk melahirkan plasenta:
1. Dicoba mengeluarkan plasenta dengan cara normal : Tangan kanan
penolong meregangkan tali pusat sedang tangan yang lain
mendorong ringan.
2. Pengeluaran plasenta secara manual (dengan narkose).
Melahirkan plasenta dengan cara memasukkan tangan penolong
kedalam cavum uteri, melepaskan plasenta dari insertio dan
mengeluarkanya.
3. Bila ostium uteri sudah demikian sempitnya, sehingga dengan
narkose yang dalam pun tangan tak dapat masuk, maka dapat
dilakukan hysterectomia untuk melahirkan plasentanya.
G. Komplikasi
Komplikai plasenta previea menimbulkan bahaya:
1. Perdarahan
2. Terjadi terlebih lagi bila retensio plasenta yang terdapat sedikit
perlepasan hingga kontraksi memompa darah tetapi bagian yang
melekat membuat luka tidak menutup.
3. Infeksi
Pathway

Sebab fungsional Sebab patologik Plasenta belum lepas Plasenta sudah lepas
(perlekatan abnormal) dari dinding rahim tetapi belum
dilahirkan

1. His yang kurang kuat 1. Plasenta adhesiva Melahirkan plasenta


(sebab utama). 2. Plasenta inkreta secara manual
2. Tempat melekatnya yang 3. Plasenta perketra
kurang menguntungkan
(contoh: di sudut tuba). Tarikan Tali Pusat
3. Ukuran plasenta terlalu
RETENSIO PLASENTA
kecil.
4. Lingkaran kontriksi pada
bagian bawah perut.
Tidak dapat berkontraksi Insersio uteri
secara efektif (terjadi retraksi
Dx: Ansietas
dan kontraksi otot uterus)
Ante, intra, postnatal,
aktivitas lemah,
Sinus-Sinus maternalis tetap tampak sakit, menyusu
terbuka penutupan pembuluh buruk, peningkatan
darah terhambat leukosit darah

Nyeri

Perdarahan Dx : Risiko
pervaginam Dx : Nyeri akut
Infeksi

Dx : Risiko Kehilangan
Syok banyak darah

Dx : Kekurangan
volume cairan
A. Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji
a. Pengkajian
1) Identitas klien dan penanggung jawab
Meliputi nama, umur, pendidikan, suku bangsa, pekerjaan, agam,
alamat, status perkawinan, ruang rawat, nomor medical record,
diagnosa medik, alasan masuk, keadaan umum tanda vital.
2) Keluhan utama
Umumnya keluhan yang sering dirasakan adalah nyeri dan perdarahan
pervaginam
3) Data Riwayat penyakit
a. Riwayat kesehatan sekarang
Perdarahan pervaginam
b. Riwayat Kesehatan Dahulu
Riwayat melahirkan
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Meliputi penyakit yang diderita pasien dan apakah keluarga pasien
ada juga mempunyai riwayat penyakit diabetes, hipertensi dan lain-
lain.
4) Riwayat ginekologi:
a. Riwayat menstruasi:……
b. Menarke:……
c. Siklus:……
d. Lamanya:…..
e. Banyaknya:……
f. Warna:……. :
g. Bau/karakteristik:…… :
h. Disminore:….. :
5) Riwayat perkawinan
a. Istri
Pernikahan:…….
Usia pernikahan:…….
b. Suami
Pernikahan:……
Usia pernikahan:…..
6) Data Fokus
a. Aktifitas dan istirahat
1) Tekanan darah menurun dari pada normal
2) Denyut nadi meningkat
3) Pernafasan meningkat
4) Tampak anemis
5) Akral dingin
b. Integritas Ego
1) Menunjukkan perubahan persepsi diri, karena kondisinya
c. Eliminasi
Kesulitan berkemih dapat menunjukan haematoma dari porsi atas
vagina
d. Makanan dan Cairan
1) Nafsu makan menurun
2) Turgor kulit berkurang
3) Akral dingin
4) Pucat
e. Nyeri dan Ketidaknyamanan
Sensasi nyeri terbakar/robekan (laserasi), nyeri tekan abdominal
(fragmen placenta tertahan) dan nyeri uterus lateral.
f. Pernafasan
frekuensi pernafasan dapat meningkat
g. Keamanan
Laserasi jalan lahir: darah memang terang sedikit menetap (mungkin
tersembunyi) dengan uterus keras, uterus berkontraksi baik; robekan
terlihat pada labia mayora/labia minora, dari muara vagina ke
perineum; robekan luas dari episiotomie, ekstensi episiotomi
kedalam kubah vagina, atau robekan pada serviks.
b. Sexualitas
Uterus kuat; kontraksi baik atau kontraksi parsial, dan agak
menonjol (fragmen placenta yang tertahan)
Kehamilan baru dapat mempengaruhi overdistensi uterus (gestasi
multipel, polihidramnion, makrosomia), abrupsio placenta, placenta
previa.
c. Interaksi sosial
1) Rasa takut akibat kondisi yang dialami
2) Respon anggota keluarga lain dapat bervariasi dari positif dan
mendukung sampai disfungsional
d. Penyuluhan/ Pembelajaran
Harapan individu terhadap keadaannya, tingkat pengetahuan, paritas,
keinginan terhadap anak, dan keadaan ekonomi.

B. Diagnosa keperawatan
1) Risiko syok
2) Kekurangan volume cairan
3) Nyeri Akut
4) Resiko infeksi
5) Ansietas

C. Rencana tindakan keperawatan


Diagnosa Keperawatan Rencana Keperawatan
Tujuan dan Kriteria Hasil Intervensi
Risiko syok dengan faktor NOC : NIC :
risiko hipovolemia Keparahan Kehilangan Pengurangan Pendarahan
Darah
Faktor Risiko: 1. Identifikasi penyebab
- Hipsemia Setelah dilakukan tindakan pendarahan
- Hipoksia keperawatan keparahan dan 2. Monitor jumlah dan
- Hipotensi tanda gejala pendarahan sifat kehilangan darah
- Hipovolemia teratasi atau berkurang 3. Pertahankan kepatenan
- Infeksi dengan kriteria hasil: akses IV
- Sepsis 1. Kehilangan darah yang 4. Beri produk-produk
terlihat darah dengan tepat
2. Pendarahan vagina 5. Instruksikan pasien dan
3. Penurunan Hb keluarga mengenai
keparahan kehilangan
darah dan tindakan-
tindakan yamg tepat
untuk dilakukan
Kekurangan volume cairan NOC : NIC:
b.d kehilangan output Keseimbangan cairan Manajemen cairan
berlebihan (muntah), Setelah dilakukan tindakan 1. Menjaga intake/asupan
peningkatan kebutuhan keperawatan, kebutuhan yang akurat dan catat
cairan. cairan terpenuhi, dengan output.
kriteria hasil : 2. Berikan terapi IV,
Batasan karakteristik: 1. Tekanan darah tidak seperti yang ditentukan
- Haus terganggu 3. Berikan cairan dengan
- Kelemahan 2. Denyut nadi tidak tepat
- Kulit kering terganggu 4. Monitor tanda-tanda
- Membrane mukosa kering 3. Keseimbangan intake dan vital
- Peningkatan frekuensi nadi output dalam 24 jam
- Peningkatan suhu tubuh tidak terganggu
- Penururnan berat badan 4. Turgor kulit tidak
tiba-tiba terganggu
- Penurunan turgor kulit
- Perubahan status mental

Nyeri Akut NOC : NIC :


Kontrol Nyeri Manajemen Nyeri
Batasan karakteristik: 1. Kaji secara
- Ekspresi wajah nyeri Setelah dilakukan asuhan
komprehensip terhadap
- Fokus menyempit keperawatan diharapkan
nyeri berkurang atau teratasi nyeri termasuk lokasi,
- Focus pada diri sendiri
- Keluhan tentang intensitas dengan kriteria hasil: karakteristik, durasi,
menggunakan standak 1. Melaporkan nyeri
frekuensi, kualitas,
skala nyeri berkurang
2. Menggunakan teknik intensitas nyeri dan
- Laporan tentang perilaku
nyeri/perubahan aktifitas pengurangan nyeri faktor presipitasi
- Mengekpresikan perilaku 3. Tingkat nyeri berkurang
2. Observasi reaksi
- Sikap melindungi area
ketidaknyaman secara
nyeri
- Perubahan posisi untuk nonverbal
menghindari nyeri 3. Gunakan strategi
komunikasi terapeutik
untuk mengungkapkan
pengalaman nyeri dan
penerimaan klien
terhadap respon nyeri
4. Tentukan pengaruh
pengalaman nyeri
terhadap kualitas hidup
(napsu makan, tidur,
aktivitas,mood,
hubungan sosial)
5. Tentukan faktor yang
dapat memperburuk
nyeri
6. Lakukan evaluasi dengan
klien dan tim kesehatan
lain tentang ukuran
pengontrolan nyeri yang
telah dilakukan
7. Berikan informasi
tentang nyeri termasuk
penyebab nyeri, berapa
lama nyeri akan hilang,
antisipasi terhadap
ketidaknyamanan dari
prosedur
8. Control lingkungan yang
dapat mempengaruhi
respon ketidaknyamanan
klien (suhu ruangan,
cahaya dan suara)
9. Hilangkan faktor
presipitasi yang dapat
meningkatkan
pengalaman nyeri klien
(ketakutan, kurang
pengetahuan)
10. Ajarkan cara
penggunaan terapi non
farmakologi (distraksi,
guide imagery,relaksasi)
11. Kolaborasi
pemberian analgesic
Risiko infeksi NOC: NIC:
Kontrol Risiko Kontrol Infeksi
Faktor risiko: - Memonitor faktor risiko 1. Cuci tangan setiap
- Kurang pengetahuan untuk individu sebelum dan sesudah
menghindari pemajanan - Menjalankan strategi
melakukan tindakan
pathogen control risiko yang sudah
- Pecah ketuban dini ditentukan keperawatan.
- Imunosupresi - Suhu tubuh 2. Instruksikan pada
- Leukopenia - Pembengkakan sisi luka
pengunjung untuk
- Penyakit kronis
- Prosedur invasif mencuci tangan
sebelum dan sesudah
berkunjung pada
pasien.
3. Tingkatkan intake
nutirsi.
4. Berikan antibiotic bila
perlu.
5. Observasi tanda dan
gejala infeksi.
6. Monitor nilai leukosit.
7. Berikan perawatan
pada area luka.
8. Ajarkan klien dan
keluarga cara
menghindar infeksi

Ansietas b.d perubahan besar NOC: NIC:


status kesehatan Kontrol Kecemasan Diri Pengurangan Kecemasan
Setelah dilakukan asuhan 1. Gunakan pendekatan
Batasan karakteristik: keperawatan diharapkan ysng tenang dan
- Gelisah tindakan personal untuk meyakinkan
- Mengekspresikan mengurangi perasaan, takut, 2. Puji atau kuatkan
kekhawatiran karena tegang atau gelisah perilaku yang baik
perubahan dalam peristiwa berkurang atau teratasi secara tepat
hidup dengan kriteria hasil: 3. Instruksikan klien untuk
- Ketakutan 1. Menggunakan teknik menggunakan teknik
- Sangat khawatir relaksasi untuk relaksasi
- Wajah tegang menurunkan kecemasan 4. Berikan informasi
- Insomnia sering dilakukan factual terkait diagnosis,
- Kontak mata yang buruk 2. Mengendalikan respon perawatan dan
- Berfokus pada diri sendiri kecemasan sering prognosis
- Peningkatan denyut nadi dilakukan 5. Bantu klien
- Peningkatan frekuensi 3. Memantau manifestasi mengidentifikasi situasi
pernafasan fisik dari kecemasan yang memicu
- Gangguan konsentrasi sering dilakukan kecemasan
6. Dukung penggunaan
mekanisme koping yang
sesuai
DAFTAR PUSTAKA

Bulechek G.M., Howard K.B., Joanne M.D. (Eds.). 2013. Nursing Intervention
Classification (NIC), 6th Edition. St. Louis Missouri: Mosby Inc.
Depkes. 2007. Buku Acuan Pelayan Obstetri Neonatal Emergensi Dasar. Jakarta :
Depkes RI.

Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds.). 2015. NANDA International Diagnosis


Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2015-2017. Oxford: Wiley
Blackwell.
Herdman, T.H. & Kamitsuru, S. (Eds.). 2018. NANDA International Diagnosis
Keperawatan: Definisi dan Klasifikasi 2018-2020. Oxford: Wiley
Blackwell.
Manuaba. 2010. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana
untuk Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Moorhead Sue, Marion Johnson, Meridean L.M., et al. (Eds.). 2013. Nursing
Outcomes Classification (NOC), 5th Edition. St. Louis Missouri: Mosby
Inc.
Yulianti Lia, dkk. 2011. Asuhan kebidanan IV. Patologi Kebidanan). Jakarta:TIM

Anda mungkin juga menyukai