Anda di halaman 1dari 2

Jawaban di interview itu real, nyata, dan dapat diukur.

Karena saya sudah membuat rencana terperinci tentang target capaian saya 5 tahun ke depan.
Riset yang saya buat nantinya akan berdampak nyata pada bidang pertanian (misalnya), dimana
teknologi “x” yang saya buat ini akan mendukung program pemerintah dalam hal “y” sehingga
target saya akan terciptanya peningkatan capaian “z” sebesar ….% terwujud. Akhirnya, riset ini
dapat dimanfaatkan dalam perkembangan pertanian berkelanjutan, dan saya yakin akan
mencapai itu.

Intinya, berikan jawaban yang detail, jangan yang klise seperti “karena saya sudah berjuang
bersungguh-sungguh”. Pewawancara mungkin akan berteriak dalam hati bahwa “bukan kamu
sendiri yang sungguh-sungguh’. Sebisa mungkin jawabannya harus ada kaitannya dengan
penelitian yang akan kamu lakukan dan apa yang akan kamu lakukan setelah lulus.

It really depens on what your purpose of life is and what your real motivation of pursuing higher
education is. If your motivation is to get higher sallary, except if there are any prior promises or
agreement regarding that with any companies, I don’t think your decision to pursue higher
education is appropriate because there is no guarantee that you will get better job (in terms of
sallary) after you finish your study.

However, if your motivation is basically self improvement, or you are curious or passionate
about learning something new, and you find happines, there is nothing wrong with pursuing
higher degree and leaving the high sallary job. Because of this is your motivation, then it means
what makes you satisfied with yourself is not measured by money but by wisdom, so you can
still be happy with yourself.

In conclusion, I think every people is different. As long as you are happy with it, there will never
be wrong decision.

1. Apa tujuan kamu lanjut S2?


2. Kamu kan dari jurusan PGSD, guru SD kan cukup tamatan S1. Apakah kamu mau jadi dosen
makanya lanjut S2?
3. Seberapa penting untuk kamu lanjut S2?
4. Apakah setelah kami biayain S2, kamu akan tetap bekerja seperti sekarang?
5. Coba berikan satu statement untuk meyakinkan kami bahwa kamu pantas menjadi bagian dari
LPDP.

Terima kasih Pak/Ibu atas pertanyaannya. Ya benar, menurut UU TP Guru dan Dosen untuk
menjadi tenaga pendidik khususnya di SD cukup dengan S1. Menjadi dosen bukanlah tujuan
utama saya untuk lanjut S2. Berdasarkan sedikit pengalaman saya saat menerapkan ilmu yang
saya dapat selama S1 PGSD di SD tempat saya mengabdi, ada beberapa temuan yang saya dapati
(penjelasan sesuai ilmu PGSD dan relevansinya dengan temuan dan kesenjangan yang terjadi).

Maka dari itu saya merasa bahwa perlu bagi saya untuk kembali mengembangkan diri saya
melalui studi lanjut di lembaga formal. Sekalipun beberapa pelatihan dan buku terkait kasus yang
ada terus saya ikuti dan baca. Namun, tentu tempat untuk sharing ilmu tersebut kurang rasanya
tanpa lembaga formal dalam hal ini. Untuk ke depannya setelah saya lulus apakah menjadi dosen
atau kembali menjadi tenaga pendidik SD, saya siap dimanapun it profesinya. Jikapun saya
diberi kesempatan dan kiranya dianggap pantas untuk menjadi dosen tentunya saya sangat
berbesar hati dan akan menjalankan amanah di dunia dosen sesuai dengan Tri Dharma PT, yakni
mendidik, meneliti dan mengabdikan diri kepada masyarakat.

Memang, pendidikan kita hari ini belum mewajibkan untuk TP (tenaga pendidik)nya memiliki
latar belakang S2, S3 bahkan Professor untuk tingkat SD. Namun, di Finlandia yang merupakan
negara yang mendapatkan rekomendasi sebagai negara terbaik di dunia pendidikan, khususnya
pendidikan dasar TPnya adalah berlatar belakang Professor.

Pendidikan dasar merupakan jantung dari pendidikan awal. Tiada dokkter dan insinyur dan
profesi hebat lainnya tanpa pendidikan SD. Maka dari itu, penting rasanya bagi saya untuk
melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai tuntutan dan kebutuhan di dunia
pendidikan khususnya pendidikan dasar. Sesuai dengan perkembangan zaman yang tentunya
akan semakin canggih ke depannya, maka sangat penting bagi tenaga pendidik untuk
mengupgrade dirinya, baik melalui pendidikan formal maupun non formal, karena di tangannya
adalah benda hidup, karena di tangannya ada calon-calon generasi emas yang nantinya akan
menajdi pilar-pilar penerus bangsa ini.

Maka ilmu yang ia miliki juga harus update, salah satu caranya dengan melanjutkan pendidikan
jenjang S2.

Tentang pilihan bekerja atau tidak setelah mendapatkan beasiswa, saya tidak berani menjawab
hari ini, karena saya belum mengetahui nominal beasiswa yang diberikan LPDP hingga hari ini.
Jikapun mencukupi biaya kuliah saya, mohon izin dan maaf sebelumnya untuk saya tetap bekerja
karena saya memiliki tanggungjawab lainnya dan harus memenuhi beberapa kebutuhan lainnya.

Izinkan saya menjadi bagian dari LPDP. Saya yakin saya pantas untuk menjadi bagian dari
LPDP, dan saya kan memantaskan diri untuk menjadi bagian dari LPDP.

Pertanyaan : Sebelumnya kami minta maaf, jika nantinya kamu tidak lulus di LPDP. Dan
bagaimana pendapat kamu jika kamu dinyatakan tidak lulus di LPDP? Apakah kamu akan
kecewa dengan LPDP? Apakah kamu tidak jadi melanjutkan S2?
Terima kasih Bapak/Ibu. Jikapun nantinya saya dinyatakan tidak lulus di LPDP, saya kan tetap
melanjutkan pendidikan S2 saya baik itu dengan uang pribadi sambil bekerja atau beasiswa
lainynya. Tentu saya tidak akan kecewa dengan apapun keputusan LPDP. Karena saya yakin
keputusan dari LPDP adalah yang terbaik bagi saya. Saya akan terima dan belajar memantaskan
diri lagi. Dan tentu, God’s plan is better. Maka saya tidak kan putus asa. Saya akan memantaskan
diri terus dan mencoba kembali untuk S3nya.