Anda di halaman 1dari 11

BAB II

PEMBAHASAN

A. KONSEP DASAR PENYAKIT


1. PENGERTIAN
HNP adalah suatu nyeri yang disebabkan oleh proses patologik dikolumna
vertebralis pada disus intervertebralis atau diskogenik (Harsono,1996).
HNP adalah keadaan dimana nukleus pulposus keluar menonjol dan menekan
ke arah kanalis spinalis melalui anulus fibrosis yang robek.

2. ETIOLOGI
 Keadaan akut, injuri pada ligamen, otot dan degenerasi spinal ini akan
menyebabkan nyeri punggung.
 Degenerasi pada tulang belakang normal pada proses ketuaan, akselerasi
trauma.
 Nyeri punggung akibat spasme otot sehubungan dengan stress.
 Pengalaman masing-masing orang tentang persepsi nyeri punggung berbeda.

3. PATOFISIOLOGI
Secara anatomi kolumna vertebralis terdiri dari 33 buah tulang vertebral.
Tulang vertebral ini berhubungan satu dengan yang lain oleh ligament dan tulang
rawan. Bagian anterior columna vertebra terdiri dari korpus vertebra yang
berhubungan satu dengan yang lain oleh discus invertebralis dan diperkuat oleh
ligamentum longitudinalis anterior dan posterior. Diskus invertebralis berfungsi
sebagai sendi yang memberikan keleluasaan bergerak columna vertebralis dan
sebagai pelindung agar columna vertebralis tidak cedera bila terjadi trauma. Diskus
vertebralis terdiri dari lempeng rawan hyaline, nucleus pulposul dan annulus fibrosus.
Pada umur diatas 25 tahun, aliran darah ke discus ini akan menurun hingga
kekuatan annulus fibrosus juga menurun, terutama didaerah Lumbal 5 sampai
Sacrum 1. ligamen longitudinalis posterior dibagian Lumbal 1 sampai Sacrum 1
sangat lemah sehingga HNP sering terjadi dibagian dorolateral.
Faktor-faktor yang menyebabkan HNP adalah :

 Aliran darah ke discus menurun.


 Beban yang berat ligament.
 Longitudinalis menyempit.

Jika beban pada discus bertambah, annulus fibrosus tidak kuat menahan,
nucleus pulposul akan keluar, akan timbul rasa nyeri sekali karena nucleus pulposul
menekan radiks.

4. PATHWAY

Aliran darah ke discus Beban berat Penyempitan ligament


menurun longitudinalis

Discus tidak kuat menahan beban

Discus menjadi rapuh dan terus tertekan

Annulus fibrosus keluar

Menekan radiks

Gangguan Kontraksi Otot

Nyeri

5. MANIFESTASI KLINIS
 Nyeri spontan : sifat nyeri adalah khas yaitu dari posisi berbaring-duduk nyeri
bertambah hebat. Bila berbaring nyeri berkurang atau hilang.
 Nyeri mulai dari pantat, menjalar kebelakang lutut hingga kemudian ke tungkai.
 Nyeri bertambah apabila mengejan, batuk, dan angkat beban berat.
 Nyeri bertambah bila ditekan pada Lumbal 5 sampai Sacrum 1 (garis antara 2
krista iliaka).

6. PENATALAKSANAAN
 Terapi konservatif
Tirah baring : penderita harus tetap berbaring ditempat tidur selama
beberapa hari dengan sikap yang baik adalah sikap dalam posisi setengah
duduk dimana tungkai dalam sikap fleksi pada sendi panggul dan lutu
tertentu. Tempat tidur tidak boleh memakain pegas/per dengan demikian
tempat tidur harus dari papan yang lurus dan ditutup dengan lembar busa
tipis. Tirah baring bermanfaat untuk nyeri punggung bawah mekanik akut.
Lama tirah baring tergantung pada berat ringannya gangguan yang dirasakan
penderita.
Pada HNP memerlukan waktu yang lebih lama. Setelah berbaring
dianggap cukup maka dilakukan latihan/dipasang korset untuk mencegah
terjadinya kontraktur dan mengembalikan lagi fungsi-fungsi otot.
 Medikamentosa
 Symtomatik :Analgesik (salisilat, parasetamol), kortikosteroid
(prednison, prednisolon), anti-inflamasi non-steroid (AINS) seperti
piroksikan, antidepresan trisiklik (amitriptilin), obat penenang
minor (diasepam, klordiasepolsid).
 Kausal : Kolagenese.
 Fisioterapi
Biasanya dalam bentuk diatermy (pemanasan dengan jangkauan
permukaan yang lebih dalam) untuk relaksasi otot dan mengurangi lordosis.
 Terapi operatif
Terapi operatif dikerjakan apabila dengan tindakan konservatif tidak
memberikan hasil yang nyata, kambuh berulang atau terjadi defisit
neurologik.
 Rehabilitasi
 Mengupayakan penderita segera bekerja seperti semula.
 Agar tidak menggantungkan diri pada orang lain dalam
melakukan kegiatan sehari-hari.
 Klien tidak mengalami komplikasi pneumonia, infeksi saluran
kencing dan sebagainya.
B. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian keperawatan
 Identitas : HNP terjadi pada umur pertengahan, kebanyakan pada jenis
kelamin pria dan pekerjaan atau aktivitas berat (mengangkat benda berat
atau mendorong benda berat).
 Keluhan Utama (Lihat Gejala)
Pengaruh posisi tubu atau anggota tubuh berkaitan dengan aktivitas
tubuh, posisi bagaimana yang dapat meredakan rasa nyeri dan
memperberat nyeri. Pengaruh pada aktivitas yang menimbulkan rasa
nyeri seperti berjalan, turun tangga, menyapu, gerakan yang mendesak.
Obat-obatan yang sedang diminum seperti analgesik, berapa lama
diminumkan. Waktu : Sifatnya akut, sub akut, perlahan-lahan atau bertahap,
bersifat menetap, hilang timbul, makin lama makin nyeri.
 Riwayat Keperawatan
1. Apakah klien pernah menderita Tb tulang, osteomilitis, keganasan
(mieloma multipleks), metabolik (osteoporosis).
2. Riwayat menstruasi, adneksitis dupleks kronis, bisa menimbulkan
nyeri punggung bawah.
 Status mental
Pada umumnya klien menolak bila langsung menanyakan tentang
banyak pikiran/pikiran sedang (ruwet). Lebih bijaksana bila kita
menanyakan kemungkinan adanya ketidakseimbangan mental secara tidak
langsung (faktor-faktor stress).

2. Pemeriksaan
A. Pemeriksaan Umum :
 Keadaan umum : Tanda-tanda vital, pemeriksaan jantung, paru-paru,
perut.
 Inspeksi : Inspeksi punggung, pantat dan tungkai dalam berbagai posisi
dan gerakan untuk evalusi neurologik.
 Kurvatura yang berlebihan, pendataran arkus lumbal, adanya angulus,
pelvis yang miring/asimitris, muskulatur paravertebral atau pantat yang
asimetris, postur tungkai yang abnormal.
 Hambatan pada pergerakan punggung, pelvis dan tungkai
selama bergerak.
 Klien dapat mengenakan pakaian secara wajar/tidak.
 Kemungkinan adanya atropi, faskulasi,
pembengkakan,perubahan warnakulit.
 Neurologik
B. Pemeriksaan motorik
 Kekuatan fleksi dan ekstensi tungkai atas, tungkai bawah,kaki,
ibu jari dan jari lainnya dengan menyuruh klien untuk
melakukan gerak fleksi dan ekstensi dengan menahan gerakan.
 Atropi otot pada maleolus atau kaput fibula dengan
membandingkan kanan kiri.
 Fakulasi (kontraksi involunter yang bersifat halus) pada
otot-otot tertentu.
C. Pemeriksaan ROM
Pemeriksaan ini dapat dilakukan aktif atau pasif untuk memperkirakan derajat
nyeri, functio laesa atau untuk memeriksa ada/tidaknya penyebaran
nyeri.
D. Pemeriksaan penunjang
 Foto rontgen (foto rontgen dari depan, samping dan serong) untuk
identifikasi ruang antar vertebra menyempit. Mielografi adalah
pemeriksaan dengan bahan kontras melalui tindakan lumbal pungsi dan
pemotrata dengan sinar tembus. Apabila diketahui adanya penyumbatan.
Hambatan kanalis spinalis yang mungkin disebabkan HNP.
 ENMG (Elektroneuromiografi) untuk mengetahui
radiks mana yang terkena.
 CT Scan : melihat gambaran vertebra.

3. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Data Subjektif Data Objektif
1. Nyeri b.d Penjepitan saraf Klien mengeluh : Klien tampak :
pada diskus nyeri, insomnia, perubahan pola Ekspresi wajah tampak
intervertebralis. tidur. nyeri,pucat,gelisah,perilaku
terarah/hati-hati.
2. Cemas b.d gangguan Klien mengeluh : Klien tampak :
berulang dengan nyeri lelah, takut, tidak berdaya. tegang, tidak mampu
terus menerus. memecahkan masalah.

3. Perubahaan mobilitas fisik Klien mengeluh : Klien tampak :


b.d tidak mampu melakukan ADL, Tremor, berkurangnya
Hemiparese/hemiplagia. otot menjadi spasme dan kaku. pergerakan, bradikinensia,
gangguan gaya berjalan,
rigiditas.

4. Rencana Tindakan/Intervensi Keperawatan


Diagnosa Keperawatan 1 : Nyeri b.d Penjepitan saraf pada diskus intervertebralis.
Goal : Klien tidak akan mengalami nyeri selama dalam perawatan.
Objektif : Klien tidak akan merasakan penjepitan saraf pada diskus intervertebralis
selama dalam perawatan
Outcame : Dalam waktu 1 x 24 jam klien :

 Mengatakan tidak terasa nyeri

 Lokasi nyeri minimal

 Keparahan nyeri berskala 0

 Indikator nyeri verbal dan nonverbal (tidak menyeringai).


Intervensi dan Rasional :

 Identifikasi klien dalam membantu menghilangkan rasa nyerinya.

R/ : Pengetahuan yang mendalam tentang nyeri dan kefektifan tindakan


penghilangan nyeri.

 Berikan informasi tentang penyebab dan cara mengatasinya.

R/ : Informasi mengurangi ansietas yang berhubungan dengan sesuatu yang


diperkirakan.

 Tindakan penghilangan rasa nyeri noninvasif dan nonfarmakologis posisi,


balutan (24-48 jam), distraksi dan relaksasi.

R/ : tindakan ini memungkinkan klien untuk


mendapatkan rasa kontrol terhadap nyeri.

 Terapi analgestik

R/ : terapi farmakologi diperlukan untuk memberikan


peredam nyeri.

Diagnosa Keperawatan 2 : Cemas b.d gangguan berulang dengan nyeri terus


menerus.

Goal : Klien tidak akan kelihatan cemas selama dalam perawatan.

Objektif : klien tidak akan merasakan gangguan berulang dengan nyeri terus menerus
selama dalam perawatan.

Outcome : Dalam waktu 1 x 24 jam klien :

 Klien mampu mengungkapkan ketakutan/kekuatirannya.

 Respon klien tampak tersenyum.

 Tampak rileks

Intervensi dan Rasional :

 Kaji tingkat ansietas pasien.


R/ : Membantu dalam mengidentifikasikan kekuatan dan keterampilan yang
mungkin membantu pasien mengatasi keadaannya

 Berikan informasi yang akurat dan jawab dengan jujur.

R/ : Memungkinkan pasien untuk membuat keputusan yang didasarkan atas


pengetahuannya.

 Berikan support system (perawat, keluarga atau teman dekat dan pendekatan
spiritual)

R/ : Dukungan dari beberapa orang yang memiliki pengalaman yang sama akan
sangat membantu klien.

 Berikan informasi mengenai klien yang juga pernah mengalami gangguan seperti
yang dialamu klien dan menjalani operasi.

R/ : Harapan-harapan yang tidak realistic tidak dapat mengurang

Diagnosa Keperawatan 3 : Perubahan mobilitas fisik b.d Hemiparese/hemiplagia.

Goal : Klien tidak akan mengalami mobilitas fisik selama dalam perawatan.

Objektif : Klien tidak akan mengalami hemiparese/hemiplagia selama dalam


perawatan

Outcome : Dalam 2x 24 jam perawatan klien dapat :

 Mengungkapkan pemahaman tentang situasi/faktor risiko dan aturan pengobatan


individual.

 Mendemonstrasikan teknik/perilaku yang baik.

 Mempertahankan atau meningkatkan kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang


sakit dan/atau kompensasi.

 Tidak terjadi kontraktur sendi.

Intervensi dan Rasional :


 Ubah posisi klien tiap 2 jam.

R/ : menurunkan resikko terjadinya iskemia jaringan akibat sirkulasi darah yang


jelek pada daerah yang tertekan.

 Ajarkan klien untuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstremitas yang tidak
sakit.

R/ : Obat volunter akan menghilangkan tonus dan kekuatannya bila tidak dilatih
untuk digerakan.

 Ajarkan klien utnuk melakukan latihan gerak aktif pada ekstremitas yang tidak
sakit.

R/ : Gerakan aktif memberikan massatonus dan kekuatan otot serta memperbaiki


fungsi jantung dan pernapasan.

 Kolaborasi dengan ahli fisioterapi untuk latihan fisik klien.

R/ : Memaksimalkan fungsi gerakan.

5. Tindakan Keperawatan
Tindakan keperawatan dilakukan dengan mengacu pada rencana
tindakan/intervensi keperawatan yang telah ditetapkan/dibuat.

6. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi keperawatan dilakukan untuk menilai apakah masalah keperawatan
telah teratasi, tidak teratasi atau teratasi sebagian dengan mengacu pada kriteria
evaluasi.
BAB III

PENUTUP

1. KESIMPULAN
Dari makalah di atas dapat diambil kesimpulan bahwa Hernia Nukleus
Pulposus adalah suatu nyeri yang disebabkan oleh proses patologik dikolumna
vertebralis pada disus intervertebralis atau diskogenik.
Hernia Nukleus Pulposus adalah keadaan dimana nukleus pulposus keluar
menonjol dan menekan ke arah kanalis spinalis melalui anulus fibrosis yang robek.

2. SARAN
Kami sadar bahwa makalah ini jauh dari sempurna, hal ini karena keterbatasan
kemampuan dan pengetahuan kami oleh karena itu, kami sangat mengharapkan kritik
dan saran yang bersifat membangun daripara pembaca.Semoga makalah ini dapat
bermanfaat bagi kita.
DAFTAR PUSTAKA

Corwin J. Elisabet.2004.patofisiologi untuk perawat.EGC,Jakarta.

Suzanne C.Smeltzer & Brenda G.Bare.2001. KMB vol 3. Hal.2194 BAB 60 UNIT
15.EGC.Jakarta.

Carpenito – moyet,L.J. 2004. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : EGC.

Doenges, Marilyn E, dkk.(1999).Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk


Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, 3 th ed. Jakarta : EGC.