Anda di halaman 1dari 10

JURNAL REKAYASA DAN MANAJEMEN SISTEM INDUSTRI VOL. 3 NO.

3
TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

STRATEGI PENANGANAN RISIKO PADA RANTAI PASOK PUPUK ORGANIK


MENGGUNAKAN METODE FUZZY ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS
(FAHP)
(Studi Kasus di PT Tiara Kurnia, Malang)

RISK MANAGEMENT STRATEGY IN THE SUPPLY CHAIN OF ORGANIC


FERTILIZER BY USING FUZZY ANALYTICAL HIERARCHY PROCESS
(FAHP)
(Case Study in PT Tiara Kurnia, Malang)

Windha Dwi Astutik1), Purnomo Budi Santoso2), Yeni Sumantri3)


Jurusan Teknik Industri Universitas Brawijaya
Jalan MT. Haryono 167, Malang, 65145, Indonesia
E-mail : wienindustri@gmail.com1), budiakademika@yahoo.com2), yeni@ub.ac.id3)

Abstrak

Setiap aktivitas supply chain tidak terlepas dari risiko, oleh karena itu manajemen risiko sangat
diperlukan untuk penanganan risiko. PT Tiara Kurnia merupakan salah satu perusahaan penghasil pupuk
organik granul, dengan bahan baku utama berupa kotoran sapi dan kotoran ayam. Dalam aktivitas supply
chain bahan baku tersebut memiliki peluang untuk timbul risiko. Perusahaan perlu menciptakan aliran
supply chain yang handal (robust) terhadap berbagai macam risiko yang dapat menyebabkan gagalnya
tujuan yang akan dicapai perusahaan. Pada penelitian ini akan dilakukan pengelolaan risiko pada supply
chain perusahaan dengan menggunakan metode House of Risk (HOR). HOR diaplikasikan untuk memitigasi
risiko yang muncul pada aliran supply chain dengan cara mengidentifikasi risiko, memprioritaskan agen
risiko serta merancang strategi penanganan. Pada tahap selanjutnya melakukan perhitungan agen risiko
yang akan ditangani serta merancang strategi penanganan. Dalam merancang strategi penanganan akan
dilakukan perhitungan dengan menggunakan metode Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP). FAHP
digunakan untuk mengetahui seberapa besar bobot yang diperoleh pada agen risiko dan strategi
penanganan. Setelah dilakukan penelitian terdapat 26 kejadian risiko dan 27 agen risiko. Terdapat 17
usulan strategi penanganan yang dapat direkomendasikan pada perusahaan,.dengan harapan dapat
menangani risiko supply chain pada pupuk organik.

Kata kunci : Risiko Supply Chain, House Of Risk (HOR), Fuzzy Analytical Hierarchy Process (FAHP)

1. Pendahuluan meningkatkan pendapatan, menurunkan biaya,


Setiap aktivitas yang dilakukan oleh dan membuat perusahaan semakin kuat. Dari
perusahaan tidak akan terlepas dari berbagai manfaat dapat dibayangkan berbagai
ketidakpastian atau kejadian peristiwa tak keuntungan apabila perusahaan mengelola
terencana yang bisa mempengaruhi aliran bahan supply chain dengan baik. Oleh karena itu
dan komponen pada rantai pasok (Svensson, pengelolaan supply chain yang baik sangat
2000). Aliran atau kegiatan supply chain diperlukan dalam suatu perusahaan.
meliputi aliran material, aliran informasi, dan Risiko adalah ancaman yang mungkin terjadi
aliran finansial. Beberapa kegiatan utama yang untuk mengacaukan aktivitas normal atau
masuk dalam klasifikasi Supply Chain menghentikan sesuatu yang telah direncanakan
Management adalah: kegiatan merancang (Walters, 2006). Menurut Trieschman dan
produk (product development), kegiatan Gustavson (1979) dalam Suwandi (2010:21)
mendapatkan bahan baku (procurement), risiko adalah ketidakpastian yang berkenaan
kegiatan merencanakan produksi dan dengan kerugian dan merupakan sebuah
persediaan (planning & control), kegiatan masalah dalam bisnis dan individual dalam
melakukan produksi (production), dan kegiatan setiap segi kehidupan. Penanganan risiko yang
melakukan pengiriman atau distribusi ada pada SCM biasanya disebut dengan supply
(distribution). Manfaat supply chain chain risk management (SCRM). Menurut
management pada suatu perusahaan sangat (Zsidisin dkk, 2004) supply chain risk
penting antara lain untuk kepuasan pelanggan, management merupakan suatu kejadian

558
JURNAL REKAYASA DAN MANAJEMEN SISTEM INDUSTRI VOL. 3 NO. 3
TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
potensial dari kecelakaan atau kegagalan untuk pada PT Tiara Kurnia berbeda pada setiap
menangkap peluang dari inbound supply yang produknya.
akan berakibat pada kehilangan atau Pada penelitian kali akan dilakukan analisis
berkurangnya pendapatan pada sektor dan evaluasi risiko yang berpotensi muncul
keuangan. Menurut Department of State and pada supply chain perusahaan menggunakan
Regional Development, New South Wales tools HOR (House Of Risk) yang
(NSW) (2005:21) kerangka kerja pada SCRM dikembangkan oleh (Pujawan dan Geraldin,
dapat dilakukan dengan lima tahap yaitu 2009). Konsep HOR hampir sama dengan
menentukan tujuan, identifikasi risiko, analisis konsep House of Quality (HOQ) yang berasal
risiko, evaluasi risiko dan tindakan terhadap dari metode Quality Function Deploment
risiko. Manfaat dari SCRM yaitu untuk dapat (QFD). Menurut (Geraldin, 2007) konsep HOQ
mengidentifikasi dan menilai gangguan supply akan membantu untuk perancangan strategi,
chain serta dapat mengurangi dampak negative sehingga dapat mengidentifikasi risiko dan
dari kinerja supply chain. memprioritaskan kejadian risiko yang harus
PT Tiara Kurnia merupakan salah satu ditangani terlebih dahulu serta merancang
perusahaan penghasil pupuk organik, di bawah strategi penanganan untuk mengurangi atau
asuhan PT Petrokimia Gresik. PT Tiara Kurnia mengeliminasi agen risiko yang telah
ini memiliki beberapa proses produksi, dengan teridentifikasi. Untuk merancang strategi
bahan baku utama berupa kotoran sapi dan penanganan risiko digunakan Fuzzy Analytic
kotoran ayam. Dalam aktivitas supply chain Hierarchy Process (FAHP). FAHP merupakan
bahan baku tersebut memiliki peluang untuk suatu model pendukung keputusan yang
timbul risiko. Perusahaan perlu menciptakan dikembangkan oleh Thomas L. Saaty (1990).
aliran supply chain yang handal (robust) Model ini menguraikan masalah multi faktor
terhadap berbagai macam risiko yang dapat atau multi kriteria yang kompleks menjadi
menyebabkan gagalnya tujuan yang akan suatu hirarki. Penggunaan metode Fuzzy AHP
dicapai perusahaan yakni memproduksi pupuk ini sangat tepat untuk menentukan bobot relatif
organik dengan kuantitas maksimal dan kualitas pada strategi penanganan risiko yang terjadi di
yang baik sehingga dapat memenuhi harapan PT Tiara Kurnia. Sehingga perusahaan dapat
dan meningkatkan kepuasan pelanggan. Untuk menentukan strategi penanganan risiko yang
memenuhi tujuan tersebut, maka diperlukan terjadi di PT Tiara Kurnia.
analisa dan evaluasi terhadap risiko yang
berpotensi timbul pada aliran supply chain pada 2. Metode Penelitian
PT Tiara Kurnia. Pada penelitian ini, tahap penelitian dibagi
Saat ini PT Tiara Kurnia belum memiliki menjadi tiga tahap, yaitu tahap identifikasi
manajemen risiko yang secara jelas membahas awal, tahap pengumpulan dan pengolahan data,
mengenai usulan pengelolaan risiko beserta dan tahap analisa dan kesimpulan.
strategi penanganan yang dibutuhkan oleh
perusahaan. Dengan melihat kondisi perusahaan 2.1 Tahap Identifikasi Awal
saat ini, agar dapat mencapai tujuan yang ingin Pada tahap identifikasi awal meliputi:
dicapai perusahaan memerlukan perencanaan a. Mengidentifikasi masalah dan studi pustaka
supply chain yang baik diantaranya dengan cara sesuai dengan topik yang diambil.
melakukan identifikasi risiko yang ada pada b. Merumuskan masalah
supply chain serta tindakan pencegahan. Oleh c. Menentukan tujuan penelitian
karena itu pada penelitian ini akan dilakukan d. Menentukan manfaat penelitian
identifikasi kejadian risiko yang berpotensi
timbul pada suatu supply chain, faktor apa saja 2.2 Tahap Pengumpulan dan Pengolahan
yang menyebabkan risiko tersebut terjadi, Data
hubungan antar faktor dan risiko tersebut, serta Tahapan pengumpulan dan pengolahan data
bagaimana strategi penanganan yang dapat yang dilakukan dalam penelitian ini adalah
digunakan pada PT Tiara Kurnia untuk sebagai berikut:
menangani risiko yang terjadi dalam supply 1. Pengumpulan data
chain. Pengelolaan risiko ini hanya akan Data atau informasi yang dikumpulkan harus
dilakukan pada aliran supply chain yang ada relevan dengan persoalan yang dihadapi.
pada produk pupuk organik dalam kemasan Data ini akan menjadi input pada
karung, karena aliran supply chain yang ada pengolahan data. Data umum perusahaan

559
JURNAL REKAYASA DAN MANAJEMEN SISTEM INDUSTRI VOL. 3 NO. 3
TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
yang meliputi sejarah perusahaan, visi dan menentukan tingkat atau peringkat risiko
misi, struktur organisasi, proses produksi dengan melakukan perhitungan Aggregate
dan hasil produksi, serta data aktivitas bisnis Risk Potential (ARP).
perusahaan yang terdiri dari data aliran d. Evaluasi Risiko
pengadaan bahan baku, data aliran produksi Melakukan evaluasi risiko penentuan
dan data aliran pendistribusian yang ada peringkat dan menentukan prioritas agen
pada perusahaan. risiko sehingga dapat diketahui agen risiko
2. Pengolahan Data yang paling mempengaruhi supply chain
Setelah mendapatkan data yang dibutuhkan, perusahaan.
maka langkah selanjutnya dilakukan e. Penanganan Risiko
pengolahan data dengan menggunakan metode Pada tahap ini dilakukan analisis mengenai
yang relevan sesuai dengan permasalahan yang cara untuk menangani agen risiko serta
dihadapi. Langkah-langkah yang dilakukan evaluasi dari strategi penanganan risiko
pada tahap pengolahan data ini adalah: tersebut, sehingga pada tahap ini akan dipilih
a. Pemetaan aktivitas Supply Chain strategi penanganan yang dapat
Pada tahap ini dilakukan pemetaan awal direkomendasikan di PT Tiara Kurnia agar
terhadap aktivitas supply chain. Proses dapat mengurangi terjadinya agen risiko
pemetaan aktivitas supply chain ini dalam supply chain serta aliran supply chain
dilakukan dengan mengidentifikasi bagian- dalam perusahaan dapat berjalan dengan
bagian yang terlibat dalam aktivitas supply baik.
chain pada PT Tiara Kurnia.
b. Identifikasi Risiko 2.3 Tahap Penarikan Kesimpulan dan Saran
Mengidentifikasi risiko yang berpotensi Setelah diperoleh pemecahan masalah,
muncul pada supply chain perusahaan, maka langkah selanjutnya adalah menarik
dengan cara melakukan brainstorming kesimpulan. Kesimpulan yang ditarik nantinya
mengenai risiko yang terjadi, sumber dapat menjawab tujuan penelitian yang
penyebab risiko, dimana risiko berada dan dilakukan. Selain itu juga dapat memberikan
bagaimana risiko itu muncul. Tahap saran untuk perbaikan perusahaan dan
identifikasi risiko ini menggunakan metode penelitian selanjutnya.
pengembangan SCOR yang membagi
aktivitas bisnis menjadi lima yaitu plan, 3. Hasil dan Pembahasan
source, make, deliver, dan return. Pada bagian ini akan menjelaskan mengenai
c. Penilaian Risiko hasil dan pembahasan dari pengolahan data
Analisa risiko dilakukan terhadap semua yang telah dilakukan.
informasi potensi risiko yang sudah
diidentifikasi sebelumnya. Pada tahapan ini 3.1 Pemetaan Aktivitas Supply Chain
dilakukan beberapa penelitian yaitu Pemetaan aktivitas supply chain perusahaan
penelitian tingkat dampak (severity), dapat dilihat pada Gambar 1. Pada suatu supply
penilaian peluang kemunculan (Occurence) chain terdapat tiga aliran yaitu aliran material,
dan penilaian tingkat korelasi antara
aliran finansial, dan aliran informasi. Aliran
kejadian risiko dan agen risiko. Penilaian
terhadap tingkat keparahan atau dampak dari material merupakan aliran barang atau produk
risiko. Perhitungan severity menunjukkan yang mengalir dari hulu (upstream) ke hilir
seberapa besar risiko mempengaruhi proses (downstream). Pada aliran finansial atau uang
bisnis perusahaan. Pada perhitungan mengalir dari hilir ke hulu, sedangkan aliran
Occurence menunjukkan peluang informasi bisa terjadi dari hulu ke hilir ataupun
kemunculan atau kemungkinan terjadinya sebaliknya.
suatu agen risiko, sedangkan penilaian besar
Alur supply chain dalam perusahaan dapat
korelasi antara kejadian risiko dan agen
risiko yaitu semakin besar agen risiko dapat diawali dengan PT Tiara Kurnia order bahan
mendorong timbulnya risiko, maka tingkat baku kepada supplier. Setelah PT Tiara Kurnia
korelasinya semakin tinggi. Dampak menerima bahan baku, maka akan dilakukan
(severity) dan korelasi antar risiko dan agen inspeksi apabila bahan baku tidak sesuai
risikonya serta kemungkinan timbulnya agen dengan spesifikasi PT Tiara Kurnia maka bahan
risiko (Occurence) digabungkan untuk

560
JURNAL REKAYASA DAN MANAJEMEN SISTEM INDUSTRI VOL. 3 NO. 3
TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
baku tersebut akan dikembalikan kepada dahulu untuk diberikan penanganan terhadap
supplier. Apabila bahan baku diterima maka agen risiko.
akan disimpan di gudang raw material untuk Besar nilai ARP pada setiap agen risiko
dipengaruhi oleh tingkat kemunculan
dilakukan proses produksi. Bahan baku yang
(Occurence) dari agen risiko, besar korelasi
telah melalui proses produksidan telah menjadi kejadian risiko dengan agen risiko yang ada,
produk pupuk selanjutnya dilakukan proses dan tingkat dampak (severity) dari kejadian
pengemasan lalu dilakukan inspeksi produk risiko yang memiliki korelasi dengan agen
akhir. Setelah produk tersebut telah memenuhi risiko.
spesifikasi dan kualitas yang telah ditetapkan Berikut contoh perhitungan ARP, dan
maka produk tersebut akan disimpan ke bagian semua hasil dari perhitungan ARP dapat dilihat
pada tabel 1 HOR fase 1.
gudang apabila ada permintaan dari pihak ARP1 = 2 x ∑ [ 9 (3) + 3 (3+ 3+ 3)] = 108
distributor maka produk tersebut akan dikirim ARP4 = 3 x ∑ [ 3 (3 + 2 + 3)] = 72
ke pihak distributor (PT Petrokimia Gresik), ARP5 = 3x ∑ [ 9 (3 + 2) + 3 (2)] = 153
pihak distributor akan mengirimkan ke ARP6 = 2 x ∑ [9 (2 + 2 + 3 + 3) + 3 (3) + 1 (3 + 4 + 3)] =
236
customer.
ARP7= 3 x ∑ [9 (2 + 3 + 4) + 3 (4 + 2)] = 297
ARP10= 3 x ∑ [9 (3 + 3 + 4 + 3) + 1 (2)] = 357
3.2 HOR fase 1 (Fase Identifikasi Risiko) ARP11 = 3 x ∑ [9 (4 + 3) + 3 (4 + 3)+1 (3 + 3)] = 270
HOR fase 1 merupakan tahapan awal dapat ARP12 = 2 x ∑ [9 (3) + 1 (3)] = 60
metode House Of Risk, dimana HOR fase 1 ini ARP13= 2 x ∑ [9 (3)] = 27
merupakan fase identifikasi risiko yang ARP14= 2 x ∑ [9 (2 + 3 + 3) + 3 (3)] = 130
digunakan untuk menentukan agen risiko yang ARP15 = 3 x ∑ [3 (2 + 3) + 1 (2)] = 51
harus diberikan prioritas untuk tindakan ARP16 = 2 x ∑ [9 (3 + 3) + 1 (3)] = 114
penanganan. Langkah-langkah dalam HOR fase ARP17 = 2 x ∑ [3 (3 + 3 + 4) + 1 (3 + 3)] = 72
ARP18 = 2x ∑ [ 9 (3 + 2 + 4 + 4)] = 234
1 ini yaitu identifikasi risiko dan penilaian
ARP19 = 3 x ∑ [ 9 (3 + 3) + 3 (3) + 1 (4 + 3)] = 138
risiko yang meliputi penilaian tingkat dampak
ARP20 = 3 x ∑ [9 (4 + 3)] = 189
(severity), penilaian tingkat kemunculan
ARP22 = 2 x ∑ [9 (3 + 3) + 3 (4) + 1 (3)] = 138
(occurrence), penilaian korelasi (correlation) ARP23 = 2 x ∑ [9 (2) + 3 (3 + 3) + 1 (2 + 3)]= 82
dan perhitungan nilai Aggregate Risk Potential ARP25 = 2 x ∑ [9 (3 + 3) + 3 (4)] = 132
(ARP), sehingga dapat diketahui agen risiko ARP26 = 2 x ∑ [3 (3)] = 18
yang akan diberi tindakan penanganan dengan
mengurutkan nilai ARP. 3.3 Evaluasi isiko
Pada tahap ini merupakan evaluasi
3.2.1 Identifikasi Kejadian Risiko (Risk kejadian risiko yaitu untuk mengetahui agen
Events) risiko mana yang akan diberi penanganan
Identifikasi risiko pada supply chain dengan menggunakan diagram dengan melihat
perusahaan didapatkan dari hasil wawancara nilai ARP tertinggi. Pada Gambar 2 merupakan
dengan pihak perusahaan yaitu Manajer diagram ARP dari seluruh agen risiko yang ada,
Produksi dan Manajer Quality Control. penggambaran diagram tersebut bertujuan
Terdapat 26 kejadian risiko yang diidentifikasi untuk menentukan agen risiko mana yang akan
yang telah dikonfirmasi kepada pihak diprioritaskan untuk ditangani.
perusahaan dengan menggunakan metode
SCOR yang telah dikembangkan oleh 3.4 Penentuan Strategi Penanganan
Karningsih (2011) yang dikelompokkan Berdasarkan grafik ARP pada Gambar 2
berdasarkan plan, source, make, deliver dan dapat dilihat ada lima kejadian risiko terbesar,
return. yaitu human error pada pekerja (A8),
komunikasi internal antar departemen kurang
3.2.2 Nilai Aggregate Risk Potential (ARP) berjalan dengan baik (A2), keterlambatan
Perhitungan nilai Aggregate Risk penyelesaian produksi (A24), faktor gangguan
Potential (ARP) digunakan untuk sebagai alam atau bencana alam (A10) dan
masukan untuk menentukan prioritas agen ketidakpastian penyedia logistik untuk
risiko yang perlu untuk ditangani terlebih pengiriman (A7). Dari 5 agen risiko ini akan
ditentukan strategi penanganan yang

561
JURNAL REKAYASA DAN MANAJEMEN SISTEM INDUSTRI VOL. 3 NO. 3
TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
memungkinkan untuk menangani (S3), memberikan reward, punishment, dan
munculnya penyebab risiko tersebut. Beberapa motivasi kerja pada seluruh karyawan (S4).
strategi penanganan yang diusulkan dapat Agen risiko sistem komunikasi internal antar
dilihat pada Tabel 2. departemen kurang berjalan dengan baik (A2)
sebanyak 3 strategi penanganan meliputi
3.5 Perhitungan Nilai Konsistensi Fuzzy menjalin komunikasi yang lebih baik dengan
AHP berbagai pihak (S5), membuat sistem informasi
Berdasarkan identifikasi masalah yang telah yang terintegrasi (S6), membuat standar
dilakukan pada tahap selanjutnya maka operasional prosedur untuk sistem komunikasi
diketahui terdapat 5 agen risiko dan 17 strategi internal departemen (S7). Agen risiko
penanganan yaitu pada agen risiko human error keterlambatan penyelesaian produksi (A24)
pada pekerja (A8) sebanyak 4 strategi sebanyak 3 strategi penanganan meliputi
penanganan meliputi mengadakan pelatihan menerapkan sales and operating planning (S8),
rutin kepada semua pekerja (S1), melakukan menetapkan time fence (S9), melakukan
pengawasan pada masing-masing departemen penjadwalan ulang pada proses produksi (S10).
(S2), melakukan penilaian kinerja karyawan

Supplier 1 FINANSIAL FINANSIAL FINANSIAL FINANSIAL

MATERIAL MATERIAL
MATERIAL
MATERIAL

INFORMASI INFORMASI INFORMASI INFORMASI


Supplier 2
Gudang Raw PT Tiara Kurnia
Material PT Tiara PT Petrokimia
Kurnia Gudang Produk Jadi PT Tiara
Kurnia

FINANSIAL
INFORMASI

MATERIAL
Supplier 3

Supplier 4

End End
Customer Customer

. .
Gambar 1. Pemetaan Aktivitas Supply Chain

ARP
700

600

500

400

300

200

100

0
A8
A2

A4
A7
A3

A6

A9

A5

A1
A24
A10

A11

A18

A20
A21
A27

A19
A22
A25
A14
A16

A23

A17
A12
A13
A15
A26

Agen Risiko

Gambar 2. Grafik Nilai ARP

562
JURNAL REKAYASA DAN MANAJEMEN SISTEM INDUSTRI VOL. 3 NO. 3
TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Tabel 1. HOR Fase 1
Agen Risiko
Severi
Kode A2 A2
A1 A2 A3 A4 A5 A6 A7 A8 A9 A10 A11 A12 A13 A14 A15 A16 A17 A18 A19 A20 A22 A23 A24 A25 A26 ty
1 7
E1 9 9 3 3 9 3 3 1 1 3 9 3 1 1 3
E2 9 3 9 9 1 3 1 9 2
E3 9 9 3 3 3 2
E4 3 9 9 9 1 2
E5 3 9 9 9 1 1 9 3 3 2
E6 9 9 9 4
E7 3 9 9 1 1 1 3
E8 1 9 9 3 3 9 9 3
E9 3 1 9 9 3 9 1 1 1 3
E10 9 1 9 1 3
E11 9 3 4
E12 9 3 9 3 9 1 9 3 4
E13 3 3 1 9 9 3 3 3
E14 3 1 9 9 3 3 4
E15 3 3 3 9 1 1 1 9 3 3
E16 3 9 9 3
E17 3 9 9 3
E18 3 3 9 1 9 3 3 3 3
E19 3 1 9 9 9 3
E20 1 3 3 9 9 1 2
E21 3 3 9 3 3 3
E22 9 3 3 3 3
E23 9 3 4
E24 9 3 3
E25 9 9 9 3
E26 9 3 3
Occurence 2 3 2 3 3 2 3 3 2 3 3 2 2 2 3 2 2 2 3 3 2 2 2 3 2 2 2
ARP 108 537 270 72 153 236 297 627 198 357 270 60 54 130 51 114 70 234 138 189 180 138 82 423 132 18 178
Peringkat
19 2 7 22 16 6 5 1 9 4 11 23 24 14 26 20 25 10 8 15 13 17 21 3 18 27 12
ARP

Tabel 2. Strategi Penanganan


No Agen Risiko Strategi Penanganan Kode

Mengadakan pelatihan rutin kepada semua pekerja S1


Melakukan pengawasan pada masing-masing departemen S2
1 Human error pada pekerja (A8)
Melakukan penilaian kinerja karyawan S3
Memberikan reward, punishment, dan motivasi kerja pada seluruh karyawan. S4
Sistem Komunikasi internal antar Menjalin komunikasi yang lebih baik dengan berbagai pihak S5
2 departemen kurang berjalan dengan Membuat sistem informasi yang terintegrasi S6
baik (A2) Membuat Standar Operasional Prosedur untuk sistem komunikasi internal departemen S7
Menerapkan Sales and Operating Planning S8
Keterlambatan penyelesaian
3 Menetapkan Time Fence S9
produksi (A24)
Melakukan penjadwalan ulang pada proses produksi S10
Adanya manajemen persediaan yang dikelola dengan baik S11
Melakukan pengembangan teknologi untuk penyimpanan pupuk organik agar memperkecil proses
4 Faktor gangguan alam atau bencana S12
penyusutan pada pupuk organik
alam (A10)
Pembelian bahan baku dalam kondisi kering S13
Melakukan penjadwalan ulang pada proses produksi S14
Menjalin komunikasi yang lebih baik dengan berbagai pihak S15
Ketidakpastian penyedia logistik
5 Membuat penjadwalan pengiriman S16
untuk pengiriman (A7)
Adanya manajemen persediaan yang dikelola dengan baik S17

Agen risiko faktor gangguan alam atau Tabel 3. Rekapan Kuisioner Kedua Responden
RESPONDEN
bencana alam (A10) sebanyak 4 strategi R1 R2
penanganan meliputi adanya manajemen S1
S1
¼
2
1/2
3
S2
S3
persediaan yang dikelola dengan baik (S11), S1 2 2 S4
S2 2 3 S3
melakukan pengembangan teknologi untuk S2 2 3 S4
S3 1 1 S4
penyimpanan pupuk organik agar
memperkecil proses penyusutan pada pupuk
organik (S12), Pembelian bahan baku dalam Setelah diketahui hasil kuesioner pada kedua
kondisi kering (S13), melakukan penjadwalan responen maka dilakukan perhitungan
ulang pada proses produksi (S14). Sedangkan geometric mean pada FAHP yaitu sebagai
agen risiko ketidakpastian penyedia logistik berikut:
untuk pengiriman (A7) sebanyak 3 strategi 1. Tabel 4 adalah mengubah menjadi bilangan
penanganan meliputi menjalin komunikasi fuzzy pada masing-masing penilaian
yang lebih baik dengan berbagai pihak (S15), responden.
membuat penjadwalan pengiriman (S16) serta
Tabel 4. Bilangan Fuzzy pada Penilaian
adanya manajemen persediaan yang dikelola
Responden
dengan baik (S17). Sebelum mencari nilai
RESPONDEN
konsistensi pada kriteria utama maka R1 R2
melakukan perhitungan geometric mean S1
L
0.250
m
0.333
U
0.500
l
0.333
m
0.500
u
1.000 S2
karena jumlah responden yang diambil lebih S1 1.000 2.000 3.000 2.000 3.000 4.000 S3
S1 1.000 2.000 3.000 1.000 2.000 3.000 S4
dari satu. Tabel 3 berikut ini merupakan S2 1.000 2.000 3.000 2.000 3.000 4.000 S3
rekapan kuesioner dari kedua responden S2
S3
1.000
1.000
2.000
1.000
3.000
1.000
2.000
1.000
3.000
1.000
4.000
1.000
S4
S4
untuk strategi penanganan:

563
JURNAL REKAYASA DAN MANAJEMEN SISTEM INDUSTRI VOL. 3 NO. 3
TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2. Pada Tabel 5 berikut ini merupakan 3. Setelah melakukan tahap normalisasi maka
perhitungan geometric mean dengan tahap selanjutnya yang harus dilakukan
merata-rata pendapat pihak expert dari adalah dengan menentukan vektor bobot
kedua responden. pada masing-masing kriteria seperti yang
ada pada Tabel 9.
Tabel 5. Rata-rata Geometric Mean
RATA- RATA
l M U
DEFUZZIFIKASI Tabel 9. Vektor Bobot
VEKTOR
S1 0.289 0.408 0.707 S2 0.468 S1 S2 S3 S4 TOTAL BOBOT
S1 1.414 2.449 3.464 S3 2.443
S1 0.247 0.205 0.355 0.310 1.117 0.279
S1 1.000 2.000 3.000 S4 2.000 S2 0.528 0.437 0.355 0.379 1.699 0.425
S2 1.414 2.449 3.464 S3 2.443 S3 0.101 0.179 0.145 0.155 0.581 0.145
S2 1.414 2.449 3.464 S4 2.443 S4 0.124 0.179 0.145 0.155 0.603 0.151
S3 1.000 1.000 1.000 S4 1.000 TOTAL 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000

Setelah mengetahui nilai geometric mean a. Konsistensi


maka dilakukan perhitungan konsistensi pada Tahap yang dilakukan selanjutnya
kriteria utama dimana hasil perhitungan akan adalah menentukan nilai lamda max
dianggap konsisten apabila nilai CR ≤0.1 atau yang telah disajikan pada Tabel 10.
10% jika tidak maka akan dilakukan verifikasi
data. Berikut ini merupakan langkah-langkah Tabel 10. Nilai Lamda Max
dari contoh perhitungan konsistensi pada
kriteria utama: S1 S2 S3 S4
VEKTOR
BOBOT
Hasil
Kali
1. Tahap pertama yang dilakukan dalam 1.000 0.468 2.443 2.000 X 0.279 = 1.134
2.137 1.000 2.443 2.443 0.425 1.744
mencari nilai konsistensi adalah dengan 0.409 0.409 1.000 1.000 0.145 0.584
merubah kuesioner menjadi matrik yang 0.500 0.409 1.000 1.000 0.151 0.609
dapat dilihat pada Tabel 6.
Hasil Vektor Hasil Lamda
Kali Bobot Bagi Max
Tabel 6. Merubah Kuesioner Menjadi Matrix 1.134 0.279 4.062
1.744 : 0.425 = 4.106
S1 S2 S3 S4 4.059
0.584 0.145 4.024
S1 1.000 0.468 2.443 2.000 0.609 0.151 4.043
S2 2.137 1.000 2.443 2.443
S3 0.409 0.409 1.000 1.000
S4 0.500 0.409 1.000 1.000
b. Menentukan nilai CI (Consistency
Index)
2. Normalisasi
CI = (pers. 2)
a. Pada tahap normalisasi ini pertama kali
yang harus dilakukan adalah dengan
CI = = 0.020
melakukan penjumlahan pada setiap
kolom yang dapat dilihat pada Tabel 7.
c. Menentukan nilai CR (Consistency
Tabel 7. Hasil Penjumlahan pada Setiap Ratio)
Kolom CR = (pers.3)
S1 S2 S3 S4
S1 1.000 0.468 2.443 2.000
S2 2.137 1.000 2.443 2.443 CR = = 0.022
S3 0.409 0.409 1.000 1.000
S4 0.500 0.409 1.000 1.000
TOTAL 4.047 2.287 6.885 6.443
3.6 Pembobotan dengan FAHP
Berikut ini merupakan langkah-langkah
b. Untuk tahap normalisasi selanjutnya pada perhitungan bobot dengan menggunakan
adalah dengan cara melakukan metode FAHP:
pembagian setiap komponen dengan 1. Dalam pembobotan pada FAHP langkah
jumlah total di atas yang dapat dilihat pertama yang harus dilakukan adalah
pada Tabel 8. membuat matriks perbandingan fuzzy
Tabel 8. Pembagian Setiap Komponen
dimana terdapat nilai 1 (lower), m
dengan Jumlah Total (medium) dan u (upper) dengan cara yang
S1 S2 S3 S4 sama dihitung pada masing-masing agen
S1 0.247 0.205 0.355 0.310
S2 0.528 0.437 0.355 0.379 risiko seperti pada Tabel 11.
S3 0.101 0.179 0.145 0.155
S4 0.124 0.179 0.145 0.155
TOTAL 1.000 1.000 1.000 1.000

564
JURNAL REKAYASA DAN MANAJEMEN SISTEM INDUSTRI VOL. 3 NO. 3
TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA
Tabel 11. Perbandingan Berpasangan Fuzzy 6. Tahap terakhir yang dilakukan adalah
RATA- RATA
l M U melakukan pembobotan FAHP adalah
S1
S1
0.289
1.414
0.408
2.449
0.707
3.464
S2
S3
dengan melakukan perhitungan bobot dan
S1 1.000 2.000 3.000 S4 normalisasi vector bobot sehingga
S2 1.414 2.449 3.464 S3
S2 1.414 2.449 3.464 S4 diketahui nilai bobot pada masing-masing
S3 1.000 1.000 1.000 S4
kriteria utama seperti pada Tabel 17
setelah itu melakukan normalisasi pada
Tabel 12. Matriks Perbandingan Berpasangan
Fuzzy masing-masing vector bobot seperti pada
S1 S2 S3 S4 Tabel 18.
L
1.000
M
1.000
U
1.000
L
0.289
M
0.408
U
0.707
L
1.414
M
2.449
U
3.464
L
1.000
M
2.000
U
3.000
a. Vektor bobot antar strategi penanganan.
S1
S2 1.414 2.451 3.466 1.000 1.000 1.000 1.414 2.449 3.464 1.414 2.449 3.464

S3 0.289 0.408 0.707 0.289 0.408 0.707 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000
Tabel 17. Vektor Bobot
S4 0.333 0.500 1.000 0.289 0.408 0.707 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 1.000 d(S1) d(S2) d(S3) d(S4) d(S5) Total
W
0.795 1.000 0.139 0.195 0.795 2.129

2. Menghitung nilai ∑ j=1mlj, j=1mmj, b. Normalisasi vector bobot antar strategi


j=1muj dengan operasi penjumlahan pada tiap- penenganan.
tiap bilangan triangular fuzzy dalam setiap baris
seperti pada Tabel 13. Tabel 18. Normalisasi Vektor Bobot
d(S1) d(S2) d(S3) d(S4)
W
0.373 0.470 0.065 0.092
Tabel 13. Penjumlahan Matriks Perbandingan
Bilangan Fuzzy 3.7 Analisis Pembobotan Strategi
L M U
S1
S2
3.703
5.243
5.858
8.350
8.171
11.394
dengan Metode FAHP
S3 2.577 2.816 3.414 Berdasarkan hasil pengolahan data maka
S4 2.622 2.908 3.707
diketahui bobot prioritas masing-masing agen
3. Menghitung nilai [∑ ∑ ] dengan risiko dan strategi penanganan. Kuesioner ini
operasi penjumlahan untuk keseluruhan diisi oleh 2 responden yaitu manajer produksi
bilangan triangular fuzzy delam matriks dan manajer quality control. Kemudian hasil
perbandingan berpasangan seperti pada kuesioner tersebut diuji konsistensinya
Tabel 14. terhadap semua agen risiko dan strategi
penanganan, setelah itu akan dilakukan
Tabel 14. Penjumlahan keseluruhan bilangan
Fuzzy
pengolahan data untuk mendapatkan bobot
L M U dari setiap agen risiko dan strategi
14.145 19.932 26.687
penanganan.
4. Tahap selanjutnya adalah dengan Dari hasil penelitian didapatkan hasil
menghitung nilai nilai fuzzy synthetic extent bahwa dari pengalian antara masing-masing
yang dapat dilihat pada Tabel 15. agen risiko dengan strategi penanganan
Tabel 15. Perhitungan Fuzzy Synthetic Extent diketahui bahwa nilai tertinggi diperoleh pada
L M U agen risiko human error pada pekerjadengan
0.139 0.294 0.578
0.196 0.419 0.806 strategi penanganan melakukan pengawasan
0.097 0.141 0.241
0.098 0.146 0.262 masing-masing depatemen (S2) dengan bobot
0.121 hal ini dikarenakan bobot pada agen
5. Selanjutnya adalah melakukan
risiko human error dalah bobot yang tertinggi
perbandingan tingkat kemungkinan antar
fuzzy synthetic extent dengan nilai dengan bobot agen risiko yang cukup tinggi
minimumnya seperti yang ditampilkan sehingga melakukan pengawasan masing-
pada Tabel 16. masing depatemen mendapatkan urutan
pertama selain itu ditinjau pada tingginya
Tabel 16. Nilai Tingkat Kemungkinan Fuzzy risiko melakukan pengawasan masing-masing
Synthetic Extent
S1 S2 S3 S4 depatemen yang ada pada PT Tiara Kurnia
S1 1.000 0.400 0.394
S2 0.795 0.139 0.195 merupakan strategi penanganan yang harus
S3 1.000 1.000 1.000
S4 1.000 1.000 0.966 dilakukan karena sering terjadi human error
Nilai Minimum 0.795 1.000 0.139 0.195
pada pekerja kemudian disusul dengan

565
JURNAL REKAYASA DAN MANAJEMEN SISTEM INDUSTRI VOL. 3 NO. 3
TEKNIK INDUSTRI UNIVERSITAS BRAWIJAYA

Bobot Keseluruhan
0.140
Bobot Keseluruhan 0.120
0.100
0.080
0.060
0.040
0.020
0.000
S1 S2 S3 S4 S5 S6 S7 S8 S9 S10 S11 S12 S13 S14 S15 S16 S17
Strategi Penanganan

Gambar 3. Ringkasan strategi penanganan

menjalin komunikasi yang lebih baik dengan Operations Reference (SCOR) dengan lima
berbagai pihak (S15) dengan bobot 0.115 dan aktivitas yaitu plan, source, make, deliver,
mengadakan pelatihan rutin kepada semua dan return, diperoleh 26 risiko yang terjadi
pekerja (S3) dengan bobot 0.096 dan seterusnya dalam supply chain perusahaan masing-
kemudian yang menduduki nilai terendah masing terbagi yaitu: 5 risiko yang terjadi
adalah melakukan penilaian kinerja karyawan pada aktivitas plan, 6 risiko yang terjadi
(S3) dengan bobot 0.017 dan pembelian bahan pada aktivitas source, 6 risiko yang terjadi
baku dalam kondisi kering (S13) dengan bobot pada aktivitas make, 5 risiko yang terjadi
0.020. Dilihat dari segi risikonya dengan pada aktivitas deliver, 4 risiko yang terjadi
pembelian bahan baku dalam kondisi kering pada aktivitas return.
tidak berpengaruh besar terhadap proses 2. Berdasarkan hasil penelitian mengenai
produksi yang ada pada PT Tiara Kurnia karena identifikasi agen risiko terjadinya risiko-
bahan baku dapat dicampur dengan bahan risiko tersebut dengan melakukan
pendukung lainnya seperti kapur pertanian. wawancara kepada pihak perusahaan PT
Pada hal ini melakukan pengawasan pada Tiara Kurnia yaitu Manajer Produksi dan
masing-masing departemen (S2) yang Manager Quality Control terdapat 27 agen
sebelumnya menduduki posisi tertinggi pada risiko yang dapat menyebabkan terjadinya
strategi penanganan tidak termasuk dalam risiko dalam supply chain perusahaan.
kategori nilai tertinggi hal ini dikarenakan bobot 3. Berdasarkan hasil penilaian tingkat dampak
pada human error pada pekerjamerupakan (severity) dari risiko dan penilaian tingkat
bobot terendah sehingga apabila dikalikan kemunculan kejadian (occurance) dari agen
dengan bobot tersebut hasil yang didapatkan risiko atau penyebab risiko, dapat diketahui
cenderung lebih sedikit dari nilai yang lain. besar nilai Aggregate Risk Potential (ARP)
Untuk mencari nilai kritis pada risiko supply yang digunakan untuk menentukan prioritas
chain didasarkan pada perhitungan yang ada agen risiko mana yang perlu untuk ditangani
pada perhitungan bobot keseluruhan, karena terlebih dahulu untuk diberikan strategi
pada perhitungan bobot keseluruhan tidak ada penanganan. Dari hasil perhitungan ARP,
lagi nilai agen risiko maupun nilai strategi terdapat lima risiko yang memiliki nilai
penanganan karena nilai tersebut di globalkan tertinggi yang ditunjukkan oleh diagram
sehingga lebih mudah dalam memberikan pareto yang nantinya akan dilakukan
rangking pada bobot keseluruhannya. perancangan strategi penanganan agar dapat
mengurangi agen risiko yang terjadi dalam
4. Kesimpulan perusahaan, dimana terdapat 17 strategi
Dari hasil pengolahan dan analisis data yang penanganan yang dapat digunakan untuk
telah dilakukan, terdapat beberapa kesimpulan meminimalisasi atau menurunkan munculnya
yang dapat diambil sebagai berikut: agen risiko, yaitu mengadakan pelatihan
1. Berdasarkan hasil penelitian awal, rutin kepada semua pekerja (S1), melakukan
identifikasi risiko yang dilakukan pengawasan pada masing-masing
menggunakan metode Supply Chain departemen (S2), melakukan penilaian

566
kinerja karyawan (S3), memberikan reward, Daftar Pustaka
punishment, dan motivasi kerja pada seluruh
karyawan (S4), menjalin komunikasi yang Geraldin, L. H., Pujawan, I. N., & Dewi, D. S.
lebih baik dengan berbagai pihak (S5), 2007. Manajemen Risiko dan Aksi Mitigasi
membuat sistem informasi yang terintegrasi untuk Menciptakan Rantai Pasok yang Robust.
(S6), membuat standar operasional prosedur Jurnal Teknologi dan Rekayasa Teknik Sipil
untuk sistem komunikasi internal “TORSI”, 53-64
departemen (S7), menerapkan sales and
operating planning (S8), menetapkan time Saaty, T.L., (1990). The Analytic Hierarchy
fence (S9), melakukan penjadwalan ulang Process, McGraw-Hill, New York.
pada proses produksi (S10), adanya
manajemen persediaan yang dikelola dengan Sydney: Global Risk Alliance and the NSW
baik (S11), melakukan pengembangan Department of State and Regional Development,
teknologi untuk penyimpanan pupuk organik (2005), Australia.
agar memperkecil proses penyusutan pada
pupuk organik (S12), pembelian bahan baku Trieschman, James S., and Gustavson, Sandra
dalam kondisi kering (S13), melakukan G., (1979), Risk Management and Insurance,
penjadwalan ulang pada proses produksi Australia South-Western College Publ. 2001.
(S14), menjalin komunikasi yang lebih baik
dengan berbagai pihak (S15), membuat Walters, D. (2006). Supply Chain Risk
penjadwalan pengiriman (S16) dan adanya Manajement. London and Philadelphia Kogan
manajemen persediaan yang dikelola dengan Page Limited.
baik (S17).
Zsidisin, G. a., Ellram, L. M., Carter, J. R., dan
Cavinato, J. L. (2004), An analysis of supply
risk assessment techniques, International
Journal of Physical Distribution & Logistics
Management, Vol. 34 No. 5, hal. 397–413.

567