Anda di halaman 1dari 15

AKUNTANSI SEKTOR PUBLIK

EVALUASI SEKTOR PUBLIK BADAN


PEMERIKSAAN KEUANGAN

Nama Anggota :
1. Yazid Alfarizi
2. Tommy (C1C017002)
3. Syifa Muthmainnah (C1C017054)
4. Clara Anasti Fitri (C1C017082)
5. Fahrozi Lariyansyah (C1C017101)
6. Melgalisa Handayani (C1C017117)
7. Wulan Permata Sari (C1C017121)
8. Della Febrian (C1C017128)
9. Merlin Sruwally (C1C017153)

UNIVERSITAS BENGKULU
BENGKULU
2019

1
DAFTAR ISI

JUDUL PENELITIAN ............................................................................................................. i

DAFTAR ISI.............................................................................................................................ii

ABSTRAK .............................................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN ......................................................................................................... 1


1.1 Latar belakang ........................................................................................................... 1
1.2 Permasalahan .......................................................... Error! Bookmark not defined.
1.3 Tujuan Penelitian .................................................... Error! Bookmark not defined.
1.4 Manfaat Penelitian .................................................. Error! Bookmark not defined.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian....................................... Error! Bookmark not defined.

Bab II TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS ........................... 3

2.1 Teori yang digunakan ............................................................................................... 3


2.3 Pengembangan Hipotesis Penelitian ......................................................................... 4

BAB III METODE PENELITIAN ......................................................................................... 6

3.1 Jenis Penelitian........................................................................................................... 6


3.2 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel ......................................................... 6
3.3 Populasi dan Sampel .................................................................................................. 7
3.4 Metode Pengumpulan Data ........................................................................................ 8
3.5 Teknik Analisis Data.................................................................................................. 8

BAB IV PENUTUP .................................................................................................................. 9

Daftar Pustaka ....................................................................................................................... 11

2
ABSTRAK

Etika Birokrasi dalam penyelenggaraan pemerintahan sangat terkait dengan moralitas


dan mentalitas aparat birokrasi dalam melaksanakan tugas-tugas pemerintahan itu sendiri
yang tercermin lewat fungsi pokok pemerintahan , yaitu fungsi pelayanan, fungsi pengaturan
atau regulasi dan fungsi pemberdayaan masyarakat. Jadi berbicara tentang Etika Birokrasi
berarti kita berbicara tentang bagaimana aparat Birokrasi tersebut dalam melaksanakan fungsi
tugasnya sesuai dengan ketentuan aturan yang seharusnya dan semestinya, yang pantas untuk
dilakukan dan yang sewajarnya dimana telah ditentukan atau diatur untuk ditaati
dilaksanakan. Menjadi permasalahan sekarang ini bagaimana proses penentuan Etika dalam
Birokrasi itu sendiri, siapa yang akan mengukur seberapa jauh etis atau tidak, bagaimana
dengan kondisi saat itu dan tempat daerah tertentu yang mengatakan bahwa itu etis saja di
daerah kami atau dapat dibenarkan, namun ditempat lain belum tentu. Dapat dikatakan bahwa
Etika Birokrasi sangat terpergantung dari seberapa jauh melanggar di tempat atau daerah
mana, kapan dilakukannya dan pada saat yang bagaimana, serta sangsi apa yang akan
diterapkan sangsi social moral ataukah sangsi hukum, semua ini sangat temporer dan
bervariasi di negara kita sebab terkait juga dengan aturan, norma, adat dan kebiasaan
setempat.

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pemerintahan daerah menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi


kewenangannya, yang merupakan limpahan Pemerintah Pusat kepada Daerah. Meskipun
demikian, urusan pemerintahan tertentu seperti politik luar negeri, pertahanan, keamanan,
moneter dan fiskal nasional masih diatur Pemerintah Pusat. Pendelegasian kewenangan
tersebut disertai dengan penyerahan dan pengalihan pendanaan, sarana dan prasarana, serta
sumber daya manusia (SDM) dalam kerangka Desentralisasi Fiskal. Kewenangan untuk
memanfaatkan sumber keuangan sendiri dilakukan dalam wadah Pendapatan Asli Daerah
(PAD) yang sumber utamanya adalah Pajak Daerah dan Retribusi Daerah. Sedangkan
pelaksanaan perimbangan keuangan dilakukan melalui Dana Perimbangan yang terdiri atas
Dana Bagi Hasil, Dana Alokasi Umum, dan Dana Alokasi Khusus (Undang-Undang No. 33
tahun 2004). Implikasi langsung pendelegasian kewenangan dan penyerahan dana tersebut
adalah kebutuhan untuk mengatur hubungan keuangan antara Pusat-Daerah dan
pertanggungjawaban pengelolaan keuangan oleh pemerintah daerah. Undang-Undang No. 17
tahun 2003 tentang Keuangan Negara mengatur antara lain pengelolaan keuangan daerah dan
pertanggungjawabannya. Pengaturan tersebut meliputi penyusunan Anggaran Pendapatan
danBelanja Daerah (APBD) berbasis prestasi kerja dan laporan keuangan yang komprehensif
Pewujudan Transparansi dan Akuntabilitas Publik Melalui Akuntansi Sektor Publik sebagai
bentuk pertanggungjawaban yang harus diperiksa oleh Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).
Untuk merealisasikan pengaturan pengelolaan dan pertanggunganjawaban keuangan tersebut,
pengembangan dan pengaplikasian akuntansi sektor publik sangat mendesak dilakukan
sebagai alat untuk melakukan transparansi dalam mewujudkan akuntabilitas publik untuk
mencapai good governance (accounting for governance). Penyusunan APBD berbasis prestasi
kerja atau kinerja dilakukan berdasarkan capaian kinerja, indikator kinerja, analisis standar
belanja, standar satuan harga, dan standar pelayanan minimal. Penyelenggaraan urusan
pemerintahan dibagi berdasarkan kriteria eksternalitas, akuntabilitas, dan efisiensi dengan
memperhatikan keserasian hubungan antar susunan pemerintahan. Dalam
penyelenggaraannya, pemerintah daerah dituntut lebih responsif, transparan, dan akuntabel
terhadap kepentingan masyarakat.

4
1.2 Permasalahan
1) Bagaimana etika birokrasi dalam hal pengolahan keuangan negara ?
2) Mengapa etika birokrasi sangat penting dan diperlukan dalam pengelolaan keuangan
negara ?
3) Bagaimana kinerja pada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ?
4) Bagaimana peraturan kepegawaian dalam penerapan etika birokrasi ?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah untuk memberikan penjelasan
yang seefisien mungkin bagaimana administrasi negara suatu organisasi pemerintah dalam
menghadapi era globalisasi sesuai dengan perkembangan masyarakat dan perkembangan
zaman, dan dapat mengetahui bagaimana aparat Birokrasi tersebut dalam melaksanakan
fungsi tugasnya sesuai dengan ketentuan aturan yang seharusnya dan semestinya, yang pantas
untuk dilakukan dan yang sewajarnya dimana telah ditentukan atau diatur untuk ditaati
dilaksanakan. Terutama perbaikan pada Etika Birokrasi dan Reformasi pada Aparatur
Negara.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat dalam penulisan karya tulis ilmiah ini adalah dapat mempunyai pandangan
yang positif dan hal-hal yang perlu dilakukan birokrasi pemerintah administrasi negara dalam
era globalisasi, terutama dalam mewujudkan aparatur yang bersih dan berwibawa, khususnya
di negara-negara sedang berkembang.
1.5 Ruang Lingkup Penelitian
Agar penelitian ini dapat berjalan sesuai dengan tujuan, sasaran dalam penelitian ini
adalah Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan ntuk memperjelas masalah yang akan dibahas
agar tidak terjadi pembahasan yang meluas atau menyimpang,maka perlu kiranya dibuat
suatu batasan masalah. Adapun ruang lingkup permasalahan yang akan dibahas dalam
penulisan penelitian ini, yaitu hanya pada lingkup seputar kinerja yanga ada di BPK. Ruang
lingkup yang dibahas dalam laporan ini mengenai bagaimana proses kerja aparatur atau
pegawai terhadap pengelolahan dan tanggung jawab keuangan negara. Ruang lingkup yang
akan dibahas dalam laporan ini mengenai :
 Peneliti memfokuskan penelitian hanya pada Badan Pemeriksa Keuangan. Hal ini
dimaksudkan agar peneliti dapat fokus dalam satu bagian, sehingga data yang diperoleh
valid, spesifik, mendalam dan memudahkan peneliti untuk menganalisis data yang
diperoleh.
 Kegiatan akuntabilitas kinerja pada Badan Pemeriksa Keuangan.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA DAN PENGEMBANGAN HIPOTESIS

2.1 Teori yang Digunakan


Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori induktif. Teori induktif adalah
cara menerangkan dari data kea arah teori. Dalam bentuk ekstrim titik pandang yang
postivistik ini dijumpai pada kaum behaviorist.
a. Pengukuran Kinerja
Pengukuran kinerja (performance measurement) adalah suatu proses penilaian
kemajuan pekerjaan terhadap tujuan dan sasaran yang telah ditentukan sebelumnya,
termasuk informasi atas: efisiensi penggunaan sumber daya dalam menghasilkan barang
dan jasa; kualitas barang dan jasa (seberapa baik barang dan jasa diserahkan kepada
pelanggan dan sampai seberapa jauh pelanggan terpuaskan); hasil kegiatan dibandingkan
dengan maksud yang diinginkan; dan efektivitas tindakan dalam mencapai tujuan
(Robertrson, 2002 dalam Mahsun, 2006:25).
B. Tujuan Pengukuran pada Etika Birokrasi
Aristoteles, dalam bukunya Etika Nikomacheia, menjelaskan tentang pembahasan
Etika,sebagai berikut:
 Terminius Techicus, Pengertian etika dalam hal ini adalah, etika dipelajari untuk ilmu
pengetahuan yang mempelajari masalah perbuatan atau tindakan manusia.
 Manner dan Custom, Membahas etika yang berkaitan dengan tata cara dan kebiasaan
(adat) yang melekat dalam kodrat manusia (In herent in human nature) yang terikat
dengan pengertian “baik dan buruk” suatu tingkah laku atau perbuatan manusia.
 Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam
berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
 Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku
perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan
oleh akal.
 Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai
nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya. Pengertian
dan definisi Etika dari para filsuf atau ahli berbeda dalam pokok perhatiannya; antara
lain:

6
1. Merupakan prinsip-prinsip moral yang termasuk ilmu tentang kebaikan dan sifat
dari hak (The principles of morality, including the science of good and the nature
of the right)
2. Pedoman perilaku, yang diakui berkaitan dengan memperhatikan bagian utama
dari kegiatan manusia. (The rules of conduct, recognize in respect to a particular
class of human actions)
3. Ilmu watak manusia yang ideal, dan prinsip-prinsip moral sebagai individual. (The
science of human character in its ideal state, and moral principles as of an
individual)
4. Merupakan ilmu mengenai suatu kewajiban (The science of duty
Etika dalam perkembangannya sangat mempengaruhi kehidupan manusia. Etika
memberi manusia orientasi bagaimana ia menjalani hidupnya melalui rangkaian
tindakan sehari-hari. Itu berarti etika membantu manusia untuk mengambil sikap
dan bertindak secara tepat dalam menjalani hidup ini.
2.2 Pengembangan Hipotesis
Etika berasal dari bahasa Yunani yaitu “Ethes” berarti kesediaan jiwa akan kesusilaan,
atau secara bebas dapat diartikan kumpulan dari peraturan-peraturan kesusilaan. Dalam
pengertian kumpulan dari peraturan-peraturan kesusilaan sebetulnya tercakup juga adanya
kesediaan karena kesusilaan dalam dirinya minta minta ditaati pula oleh orang lain.
Aristoteles juga memberikan istilah Ethica yang meliputi dua pengertian yaitu etika meliputi
Kesediaan dan Kumpulan peraturan, yang mana dalam bahasa Latin dikenal dengan kata
Mores yang berati kesusilaan, tingkat salah saru perbuatan (lahir, tingkah laku), Kemudian
perkataan Mores tumbuh dan berkembang menjadi Moralitas yang mengandung arti
kesediaan jiwa akan kesusilaan. Dengan demikian maka Moralitas mempunyai pengertian
yang sama dengan Etika atau sebaliknya, dimana kita berbicara tentang Etika Birokrasi tidak
terlepas dari moralitas aparat Birokrasi penyelenggara pemerintahan itu sendiri. Dalam
membahas Etika sebagai ilmu yang menyelidiki tentang tanggapan kesusilaan atau etis, yaitu
sama halnya dengan berbicara moral (mores).
Etika dan moralitas secara teoritis berawal dari pada ilmu pengetahuan (cognitive)
bukan pada efektif. Moralitas berkaitan pula dengan jiwa dan seamangat kelompok
masyarakat. Moral terjadi bila dikaitkan dengan masyarakat, tidak ada moral bila tidak ada
masyarakat dan seyogyanya tidak ada masyarakat tanpa moral, dan berkaitan dengan
kesadaran kolektif dalam masyarakat. Immanuel Kant, teori moralitas tidak hanya mengenai
hal yang baik dan yang buruk, tetapi menyangkut masalah yang ada dalam kontak social

7
dengan masyarakat, ini berarti Etika tidak hanya sebatas moralitas individu tersebut dalam
artian aparat birokrasi tetapi lebih dari itu menyangkut perilaku di tengah-tengah masyarakat
dalam melayani masyarakat apakah sudah sesuai dengan aturan main atau tidak, apakah etis
atau tidak. Dari beberapa pendapat yang menegaskan tentang pengertian Etika di atas jelaslah
bagi kita bahwa Etika terkait dengan moralitas dan sangat tergantung dari penilaian
masyarakat setempat, jadi dapat dikatakan bahwa moral merupakan landasan normative yang
didalamnya mengandung nilai-nilai moralitas itu sendiri.

8
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Data


Jenis penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yaitu suatu pendekatan
yang menggunakan data berupa kalimat tertulis atau lisan, fenomena, perilaku, peristiwa-
peristiwa, pengetahuan dan objek studi yang dapat diamati oleh peneliti. Penelitian ini
menggunakan pendekatan deskriptif. Pendekatan deskriptif merupakan suatu jenis penyajian
data yang diperoleh dari hasil penelitian dengan memberikan gambaran sesuai dengan
kenyataan atau pun fakta-fakta yang ada pada saat diadakan penelitian.
3.2 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel
Pertanggungjawaban Pengelolaan Keuangan Negara dalam rangka akuntabilitas
pengelolaan keuangan negara, maka:
 Menteri/pimpinan lembaga/gubernur/bupati/walikota selaku Pengguna
Anggaran/Pengguna Barang bertanggung jawab dari segi manfaat/hasil (outcome)
atas pelaksanaan kebijakan yang ditetapkan dalam Undang-undang tentang
APBN/Peraturan Daerah tentang APBD.
 Pimpinan unit organisasi kementrian negara/lembaga bertanggung jawab dari segi
barang dan/atau jasa yang disediakan (output) atas pelaksanaan kegiatan yang
ditetapkan dalam undang-undang tentang APBN, demikian pula Kepala Satuan Kerja
Perangkat Daerah bertanggung jawab atas pelaksanaan kegiatan yang ditetapkan
dalam Peraturan Daerah tentang APBD.
 Terdapat sanksi yang berlaku bagi Menteri/Pimpinan
Lembaga/Gubernur/Bupati/Walikota, serta Pimpinan Unit Organisasi Kementrian
Negara/Lembaga/Satuan Kerja Perangkat Daerah yang terbukti melakukan
penyimpangan kebijakan/kegiatan yang telah ditetapkan dalam UU tentang
APBN/Peraturan Daerah tentang APBD. Ketentuan sanksi tersebut dimaksudkan
sebagai upaya preventif dan represif, serta berfungsi sebagai jaminan atas ditaatinya
Undang-undang tentang APBN/Peraturan Daerah tentang APBD yang bersangkutan.

Ketentuan Pidana, Sanksi Administratif, Dan Ganti Rugi Undang-undang Nomor 17


Tahun 2003 Pasal 34 Pasal 35 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999. Undang-undang
Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Pasal 2 Pasal 3 Pasal 4
Pasal 12A Pasal 12B 12C Pasal 13 Kerugian Negara/Daerah. Berdasarkan Undang-undang

9
Nomor 1 Tahun 2004, kerugian negara/daerah adalah kekurangan uang, surat berharga, dan
barang, yang nyata dan pasti jumlahnya sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik
sengaja maupun lalai. Diatur Dalam Pasal 59 Sampai Dengan Pasal 67 Undang-undang
Nomor 1 Tahun 2004 Penyelesaian Kerugian Negara/Daerah.

Pemeriksaan Keuangan Negara Oleh Badan Pemeriksa Keuangan


Pasal 23 Ayat (5) UUD 1945 Pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan
negara dilaksanakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan yang bebas dan mandiri Undang-
undang Nomor 19 Tahun 2003 tentang Badan Usaha Milik Negara Pasal 71 Ayat (2)
Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) berwenang melakukan pemeriksaan terhadap BUMN
sesuai dengan peraturan perundang-undangan
1. Peraturan Pemerintah Nomor 23 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Badan
Layanan Umum Pasal 27 Ayat (8)
2. Laporan pertanggungjawaban keuangan BLU diaudit oleh pemeriksa ekstern sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan Pasal 35 Ayat (2) Pemeriksaan
ekstern terhadap BLU dilaksanakan oleh pemeriksa ekstern sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
3.3 Populasi dan Sampel
a. Populasi
BPKP telah merumuskan sasaran program dengan keberhasilan kinerja diukur
berdasarkan kinerja sasaran program pendukungnya. Capaian sasaran program diindikasikan
dengan capaian indikator kinerja utama (IKU) yaitu indikator yang secara signifikan
mempengaruhi capaian sasaran program. Pengukuran capaian kinerja sasaran program
meliputi identifikasi atas realisasi IKU dan membandingkan dengan targetnya. Analisis lebih
mendalam dilakukan terhadap perkembangan capaian IKU dan efisiensi penggunaan sumber
dana dalam mencapai kinerja IKU. Sasaran program perbaikan pengelolaan program prioritas
nasional dan pengelolaan keuangan negara/korporasi terkait dengan tujuan pertama BPKP
dalam rencana strategis tahun 2015-2019 yaitu peningkatan kualitas akuntabilitas
pengelolaan keuangan dan pembangunan nasional yang bersih dan efektif.Sasaran program
ini diukur menggunakan tiga indikator kinerja utama (IKU) yaitu:
1. Perbaikan Tata Kelola, Manajemen Risiko, dan Pengendalian Intern Pengelolaan
Program Nasional, diukur dengan menghitung jumlah perbaikan hasil tindak lanjut
dibandingkan dengan jumlah rekomendasi. Realisasi tahun 2016 IKU ini adalah

10
sebanyak tindak lanjut dari Rekomendasi Hasil Pengawasan atau dengan perhitungan
sebagai berikut :

Hasil Tindak

Bidang Rekomendasi Lanjut (%)

IPP 43 31 72,09

APD 59 39 66,10

Jumlah 102 70 68,63

2. Persentase Tindak Lanjut Rekomendasi Tata Kelola, Manajemen Risiko dan


Pengendalian Intern Pengelolaan Korporasi, diukur dengan menghitung jumlah
laporan yang diserahkan ke korporasi dibandingkan dengan jumlah permintaan
(penugasan atas permintaan). Realisasi tahun 2016 IKU ini adalah sebanyak laporan
yang diserahkan ke korporasi atau dengan perhitungan sebagai berikut :

Laporan yang
Bidang Permintaan (PP) diserahkan ke (%)
korporasi

AN 31 31 100,00

Jumlah 31 31 100,00

3. Penyerahan Hasil Pengawasan Keinvestigasian kepada Aparat Penegak Hukum


(APH), diukur dengan menghitung jumlah laporan yang diserahkan ke APH/K/L
Pemerintah Daerah/Korporasi dibandingkan dengan jumlah permintaan penugasan.
Realisasi tahun 2016 IKU ini adalah sebanyak laporan yang diserahkan ke Aparat
Penegak Hukum (APH) atau dengan perhitungan sebagai berikut :

11
Laporan yang
Bidang Permintaan (PP) diserahkan (%)
Ke APH

Investigasi 39 39 100

Jumlah 39 39 100

3.4 Metode Pengumpulan Data


Karya ilmiah ini dalam penulisannya menggunakan metode deskriptif. Metode
penulisan deskriptif adalah metode yang digunakan untuk memecahkan masalah yang sedang
dihadapi pada masa sekarang, dilakukan dengan langkah-langkah pengumpulan data,
klasifikasi, dan analisa atau pengolahan data, membuat kesimpulan dengan tujuan untuk
membuat gambaran tentang sesuatu keadaan dengan cara obyektif serta situasi yang
mempunyai manfaat terutama dalam rangka mengadakan berbagai perbaikan.
Penulis mengangkat permasalahan Etika Birokrasi yang ada BPK yang belum
memenuhi harapan seluruh rakyat Indonesia terutama dalam hal pengelolaan keuangan
Negara sehingga diperlukan upaya peningkatan moralitas dan mentalitas para Aparatur Negra
dan pemahaman yang maksimal dalam hal pengeloalan keuangan negara.
3.5 Teknik Analisis Data
Teknik pengumpulan data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah studi
pustaka dengan mengumpulkan data dan informasi dari buku-buku, jurnal dan sebagainya
yang berkaitan dengan penelitian ini.

12
BAB 1V
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Reformasi Administrasi Negara dalam Era globalisasi adalah perubahan yang
terancana terhadap pelaksanaan berupa kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dibuat oleh elit
penguasa (militer, birokrasi, partai politik, teknokrat, pemimpin yang dominan dan dimensi
manusia) untuk melakukan revisi, perbaikan birokrasi pemerintah serta mencari alternatif
baru tentang sistem administrasi negara yang lebih cocok dengan perkembangan masyarakat
dan perkembangan zaman di negara-negara sedang berkembang. Dengan kata lain, bahwa
reformasi yang benar yang seharusnya dilakukan negara-negara sedang berkembang adalah
sifatnya progmatik artinya pemerintah (elit penguasa) melansir suatu program substantif.
Etika Birokrasi bukan hanya sekedar retorika yang didengungkan baik lewat Sapta
Pra Setya Korpri maupun Sapta Marga dan sederetan Undang-undang atau Peraturan
Pemerintah Tentang kepegawaian, tetapi lebih dari itu bagaiaman ketentuan-ketentuan
tersebut dapat dapat dihayati dan diamalkan dalam berepilaku sebagai Aparat Birokrasi dan
yang tidak kalah penting yaitu bagaiman penegakkan hukum atau sangsi yang tegas bagi para
pelanggar aturan yang telah disepakati dan ditentukan tersebut. Hukuman atau sangsi perlu
ditegakkan secara merata tanpa pandang bulu apakah dia atasan atau bawahan semuanya
harus sama di mata hukum.msyarakat juga berhak menentukan kode Etik atau aturan dalam
masyarakat yang juga turut mengatur keberadaan seorang Aparat Birokrasi di lingkungannya.
4.2 Saran
1. Menyusun Pedoman Perencanaan dan Pelaporan Kinerja unit-unit Kerja di
lingkungan BPK.
2. Menysusun Pedoman Audit Kinerja atas Pelaporan Kinerja, sebagai standar kerja
Unit Pemeriksa BPK,
3. Mencari masukan-masukan dari instansi atau pihak-pihak yang terkait dengan
masalah Pemeriksaan Kinerja, antara lain : BPKP, Bepeka, Kementerian PAN,
Departemen Keuangan, Forum Bersama Inspektorat Jenderal Departemen (Forbes
Itjen), Lembaga-lembaga Akademis, dll. Ha lini dilakukan dengan menjalin kerja
sama dengan instansi atau pihakpihak ybs. serta dengan penyelenggaraan atau
keikutsertaan dalam seminar-seminar atau workshop, di dalam maupun luar negeri.
4. Etika Birokrasi bukan hanya sekedar retorika yang didengungkan baik lewat Sapta
Pra Setya Korpri maupun Sapta Marga dan sederetan Undang-undang atau Peraturan

13
Pemerintah Tentang kepegawaian, tetapi lebih dari itu bagaiaman ketentuan-ketentuan
tersebut dapat dapat dihayati dan diamalkan dalam berepilaku sebagai Aparat
Birokrasi dan yang tidak kalah penting yaitu bagaiman penegakkan hukum atau
sangsi yang tegas bagi para pelanggar aturan yang telah disepakati dan ditentukan
tersebut.
5. Hukuman atau sangsi perlu ditegakkan secara merata tanpa pandang bulu apakah dia
atasan atau bawahan semuanya harus sama di mata hukum.msyarakat juga berhak
menentukan kode Etik atau aturan dalam masyarakat yang juga turut mengatur
keberadaan seorang Aparat Birokrasi di lingkungannya, kalau memang melanggar
harus ada komitmen bersama untuk mentaati aturan yang ada di tengah-tengah
masyarakat.

14
DAFTAR PUSTAKA

Undang-Undang 15 Tahun 2004


Undang-undang Nomor 1 Tahun 2004
Undang No. 17 tahun 2003
Pasal 23 Ayat (5) UUD 1945
http://hombang.blogspot.co.id/2010/06/etika-birokrasi.html
https://ejurnaletika.files.wordpress.com/2016/08/je6112014-49-651.pdf
Aristoteles,
Drs. O.P. SIMORANGKIR
-Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat
- Drs. H. Burhanudin Salam :
(Keraf: 1991: 23
(Muhammad Ali, 1984: 120).

15