Anda di halaman 1dari 29
STANDAR AKREDITASI BAB 4 PROGRAM PRIORITAS NASIONAL (PPN) Kasubdit Mutu dan Akreditasi Pelayanan Primer dr.

STANDAR AKREDITASI BAB 4

PROGRAM PRIORITAS NASIONAL

STANDAR AKREDITASI BAB 4 PROGRAM PRIORITAS NASIONAL (PPN) Kasubdit Mutu dan Akreditasi Pelayanan Primer dr. H.KM.

(PPN)

Kasubdit Mutu dan Akreditasi Pelayanan Primer dr. H.KM. Taufiq, MMR

Jakarta, 20 Juni 2019

Optimalkan Sumberdaya yang ada, tanpa pemborosan bahan

7 DIMENSI MUTU

Sumberdaya yang ada, tanpa pemborosan bahan 7 DIMENSI MUTU meminimalisasi terjadinya kerugian (harm), cedera dan

meminimalisasi terjadinya kerugian (harm), cedera dan kesalahan medis yang bisa dicegah kepada mereka yang menerima pelayanan

INTEGRASI EFISIEN AMAN menyediakan pelayanan kesehatan yang berbasis bukti kepada masyarakat menyediakan pelayanan
INTEGRASI
EFISIEN
AMAN
menyediakan pelayanan
kesehatan yang berbasis bukti
kepada masyarakat
menyediakan pelayanan yang seragam tanpa me
mbedakan jenis kelamin, suku, etnik,
tempat tinggal, agama, sosial ekonomi
EFEKTIF
ADIL
mengurangi waktu tunggu dan ke
terlambatan pemberian
pelayanan kesehatan
menyediakan pelayanan yang sesuai
dengan preferensi, kebutuhan dan nilai-ni
lai individu
TEPAT
kMal
BERORIENTASI
WAKTU
PASIEN

tingkat layanan kesehatan untuk individu dan masyarakat yang dapat meningkatkan keluaran (outcome) kesehatan yang optimal, diberikan sesuai dengan standar pelayanan dan perkembangan ilmu pengetahuan terkini serta memperhatikan hak dan kewajiban pasien.

sesuai dengan standar pelayanan dan perkembangan ilmu pengetahuan terkini serta memperhatikan hak dan kewajiban pasien.

SASARAN POKOK PEMBANGUNAN KESEHATAN DALAM RPJMN 2015 -2019

(PERPRES NO 2 TAHUN 2015)

KESEHATAN DALAM RPJMN 2015 -2019 (PERPRES NO 2 TAHUN 2015) Meningkatnya status kesehatan dan gizi ibu

Meningkatnya status kesehatan dan gizi ibu dan anak

Meningkatnya pengendalian penyakit

Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama di daerah terpencil, tertinggal dan perbatasan

Meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan universal melalui Kartu Indonesia Sehat dan kualitas pengelolaan SJSN Kesehatan

Terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan, obat dan vaksin

Meningkatkan responsivitas sistem

kesehatan

Diakomodir dalam standar akreditasi Edisi 1 BAB 4 Program Prioritas Nasional (PPN)
Diakomodir dalam standar akreditasi Edisi 1 BAB 4 Program Prioritas Nasional (PPN)
Diakomodir dalam standar akreditasi Edisi 1 BAB 4 Program Prioritas Nasional (PPN)

Diakomodir

dalam standar

akreditasi

Edisi 1

Diakomodir dalam standar akreditasi Edisi 1 BAB 4 Program Prioritas Nasional (PPN)
BAB 4 Program Prioritas Nasional (PPN)
BAB 4
Program Prioritas
Nasional (PPN)
BAB 4 PROGRAM PRIORITAS NASIONAL
BAB 4
PROGRAM PRIORITAS NASIONAL
BAB 4 PROGRAM PRIORITAS NASIONAL STANDAR = 5 KRITERIA = 5 EP = 31
STANDAR = 5 KRITERIA = 5 EP = 31
STANDAR = 5
KRITERIA = 5
EP = 31
ALUR PELAKSANAAN PROGRAM
ALUR PELAKSANAAN PROGRAM
ALUR PELAKSANAAN PROGRAM KEBIJAKAN PROGRAM PENYEDIAAN SD P D S A C Q I PENGGERAKAN &
ALUR PELAKSANAAN PROGRAM KEBIJAKAN PROGRAM PENYEDIAAN SD P D S A C Q I PENGGERAKAN &
KEBIJAKAN PROGRAM PENYEDIAAN SD
KEBIJAKAN
PROGRAM
PENYEDIAAN SD
ALUR PELAKSANAAN PROGRAM KEBIJAKAN PROGRAM PENYEDIAAN SD P D S A C Q I PENGGERAKAN &

P

D

S

A

C Q I
C
Q
I
PENGGERAKAN & PELAKSANAAN
PENGGERAKAN & PELAKSANAAN
PENGAWASAN, PENGENDALIAN & PENILIAN PENCATATAN & PELAPORAN
PENGAWASAN, PENGENDALIAN
& PENILIAN
PENCATATAN & PELAPORAN
P1 P2 P3
P1
P2
P3

PROGRAM PRIORITAS NASIONAL

PROGRAM PRIORITAS NASIONAL 4.1 PENURUNAN AKI DAN AKN 4.2 PROGRAM PENANGGULANGAN BAB 4 TUBERKULOSIS PROGRAM
4.1 PENURUNAN AKI DAN AKN 4.2 PROGRAM PENANGGULANGAN BAB 4 TUBERKULOSIS PROGRAM PRIORITAS 4.3 PENCEGAHAN
4.1 PENURUNAN AKI DAN AKN
4.2
PROGRAM
PENANGGULANGAN
BAB 4
TUBERKULOSIS
PROGRAM
PRIORITAS
4.3 PENCEGAHAN DAN PENURUNAN STUNTING
NASIONAL
(PPN)
4.4 PENINGKATAN CAKUPAN & MUTU IMUNISASI
4.5 PROGRAM PENANGGULANGAN PTM DAN
FAKTOR RESIKO

4.1 Penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian neonatus (AKN).

Puskesmas memberikan pelayanan kesehatan ibu hamil, pelayanan kesehatan ibu bersalin,

pelayanan kesehatan masa sesudah melahirkan, pelayanan kesehatan bayi baru lahir beserta

pemantauan dan evaluasinya sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundangan.

evaluasinya sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundangan . • Puskesmas melaksanakan pelayanan kesehatan ibu hamil,
evaluasinya sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundangan . • Puskesmas melaksanakan pelayanan kesehatan ibu hamil,
• Puskesmas melaksanakan pelayanan kesehatan ibu hamil, pelayanan kesehatan ibu bersalin, pelayanan kesehatan masa
• Puskesmas melaksanakan pelayanan
kesehatan ibu hamil, pelayanan kesehatan
ibu bersalin, pelayanan kesehatan masa
4.1.1
sesudah melahirkan, pelayanan kesehatan
bayi baru lahir

Penjelasan 4.1.1

Penjelasan 4.1.1 • Pelayanan kesehatan ibu hamil, adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan

Pelayanan kesehatan ibu hamil, adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang dilakukan sejak terjadinya masa konsepsi hingga melahirkan.

Pelayanan Kesehatan ibu bersalin, yang selanjutnya disebut persalinan adalah setiap kegiatan dan/atau serangkaian kegiatan yang ditujukan pada ibu sejak dimulainya persalinan hingga 6 (enam) jam sesudah melahirkan.

Pelayanan kesehatan masa sesudah melahirkan adalah

setiap kegiatan dan/atau serangkaian yang dilakukan

ditujukan pada ibu selama nifas (6 jam 42 hari sesudah melahirkan).

Pelayanan kesehatan bayi baru lahir dilakukan melalui pelayanan kesehatan neonatal esensial sesuai standar. Pelayanan kesehatan neonatal esensial dilakukan pada umur 0-28 hari.

Pelayanan pada masa kehamilan meliputi pelayanan sesuai standar kuantitas dan standar kualitas

Kuantitas: Kunjungan 4 kali selama periode kehamilan (K4)

Kualitas: Standar Kualitas yaitu pelayanan antenatal yang memenuhi 10 T

Pelayanan persalinan: normal dan persalinan dengan komplikasi (mengacu pada buku Saku Pelayanan Kesehatan Ibu di fasilitas pelayanan kesehatan Dasar dan Rujukan)

Pelayanan Kesehatan Masa Sesudah Melahirkan dilakukan minimal 4 kali

Pelayanan bayi baru lahir meliputi pelayanan sesuai

standar kuantitas dan standar kualitas

minimal 3 kali selama periode

Kualitas: Pelayanan Neonatal Esensial saat lahir (0-6 jam) & Pelayanan Neonatal Esensial setelah lahir (6 jam 28 hari)

Kuantitas:

kunjungan

neonatal

Pencatatan dan pelaporan pelayanan kesehatan

meliputi cakupan program kesehatan keluarga,

pencatatan kohor, pelaporan kematian ibu, bayi lahir mati dan kematian neonatal serta pengisian dan pemanfaatan buku KIA

ELEMEN PENILAIAN

ELEMEN PENILAIAN 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Ditetapkan kebijakan dan prosedur pelayanan kesehatan pada

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

Ditetapkan kebijakan dan prosedur pelayanan kesehatan pada ibu hamil, masa persalinan, masa sesudah melahirkan dan pelayanan kesehatan pada bayi baru lahir. (R)

Ditetapkan program penurunan AKI dan AKN yang disusun berdasarkan analisis masalah Kesehatan Ibu dan Anak yang dipimpin oleh Kepala Puskesmas. (R, D, W)

Dilakukan pelayanan kesehatan pada masa hamil, masa sesudah melahirkan dan bayi baru

lahir sesuai dengan prosedur yang ditetapkan termasuk kewajiban penggunaan partograph pada saat pertolongan persalinan dan upaya stabilisasi pra rujukan pada kasus komplikasi. (D, O, W)

Dilakukan pelayanan persalinan sesuai dengan standar. (D, O, W)

Program penurunan AKI dan AKN dikoordinasikan dan dilaksanakan sesuai dengan rencana

yang disusun bersama lintas program dan lintas sektor. (D, W)

Tersedia alat, obat dan prasarana pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru lahir termasuk standar alat kegawatdaruratan maternal dan neonatal sesuai dengan standar dan dikelola sesuai dengan prosedur. (D, O, W)

Dilakukan pemantauan, evaluasi, dan tindak lanjut terhadap pelaksanaan program

penurunan AKI dan AKN termasuk pelayanan kesehatan pada masa hamil, persalinan dan bayi baru lahir di Puskesmas (D, W)

4.2 Program Penanggulangan Tuberkulosa

Puskesmas memberikan pelayanan kepada pasien TB mulai dari penemuan kasus TB kepada orang yang

terduga TB, penegakan diagnosis, penetapan klasifikasi dan tipe pasien TB, tata laksana kasus terdiri dari

pengobatan pasien beserta pemantauan dan evaluasinya untuk memutus mata rantai penularan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundangan

penularan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundangan • Puskesmas melaksanakan pelayanan kepada pasien TB mulai
penularan sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundangan • Puskesmas melaksanakan pelayanan kepada pasien TB mulai
• Puskesmas melaksanakan pelayanan kepada pasien TB mulai dari penemuan kasus TB kepada orang yang
• Puskesmas melaksanakan pelayanan kepada
pasien TB mulai dari penemuan kasus TB
kepada orang yang terduga TB, penegakan
diagnosis, penetapan klasifikasi dan tipe
pasien TB, tata laksana kasus terdiri dari
4.2.1
pengobatan pasien beserta pemantauan dan
evaluasinya

Penjelasan 4.2.1

Penjelasan 4.2.1 • Penanggulangan Tuberkulosis adalah segala upaya kesehatan yang mengutamakan aspek promotif dan

Penanggulangan Tuberkulosis adalah segala upaya kesehatan yang mengutamakan

aspek promotif dan preventif, tanpa mengabaikan aspek kuratif dan rehabilitatif yang ditujukan untuk melindungi kesehatan masyarakat, menurunkan angka kesakitan, kecacatan atau kematian, memutuskan penularan, mencegah resistensi obat dan mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan akibat Tuberkulosis.

Program penanggulangan tuberkulosis direncanakan, dilaksanakan, dipantau ditindak lanjuti dalam upaya eliminasi tuberkulosis.

Untuk tercapainya target program Penanggulangan TB Nasional, Pemerintah Daerah provinsi dan Pemerintah Daerah kabupaten/kota harus menetapkan target

dan

Penanggulangan TB tingkat daerah berdasarkan target nasional dan memperhatikan

strategi nasional.

Tuberkulosis merupakan permasalahan penyakit menular baik global maupun nasional. Upaya untuk penanggulangan penularan tuberkulosis merupakan salah

satu program prioritas nasional bidang kesehatan

Penjelasan 4.2.1

Penjelasan 4.2.1 • Pelayanan pasien TB dilaksanakan melalui:  Pelayanan kasus TB Sensitif Obat (SO), dan

Pelayanan pasien TB dilaksanakan melalui:

Pelayanan kasus TB Sensitif Obat (SO), dan Pelayanan kasus TB Resisten Obat (RO)

Pemberian pengobatan pencegahan TB pada anak dan ODHA

Pemberian edukasi tentang penularan, pencegahan penyakit TB dan etika batuk kepada pasien dan keluarga

pelayanan pengawasan menelan obat (PMO) bagi pasien TBC SO dan TBC RO

Program pengendalian tuberkulosis perlu disusun dan dikoordinasikan baik dalam upaya preventif maupun upaya kuratif di Puskesmas melalui strategi

DOTS.

Penyusunan program Penanggulangan TB terintegrasi dengan penyusunan RUK dan RPK pelayanan UKM dan UKPP (lihat juga KMP : 1.1.2, dan UKM :

2.1.1)

ELEMEN PENILAIAN

ELEMEN PENILAIAN • Ditetapkan kebijakan dan prosedur pengendalian tuberkulosis serta target pasien TBC yang harus

Ditetapkan kebijakan dan prosedur pengendalian tuberkulosis serta target

pasien TBC yang harus diobati di Puskesmas sesuai dengan target penemuan

kasus TBC. (R, D, W)

Ditetapkan tim TB DOTS di Puskesmas yang terdiri dari dokter, perawat, analis laboratorium dan petugas pencatatan pelaporan terlatih (R)

Ditetapkan program penanggulangan tuberkulosis disusun berdasarkan analisis masalah TB yang dipimpin oleh Kepala Puskesmas. (R, D, W)

Program penanggulangan tuberkulosis dikoordinasikan dan dilaksanakan sesuai

dengan rencana yang disusun (D, W)

Dilakukan tata laksana kasus tuberkulosis mulai dari diagnosis, pengobatan, pemantauan, evaluasi, dan tindak lanjut sesuai dengan peraturan perundangan( D, O, W).

Logistik baik OAT maupun non OAT disediakan sesuai dengan kebutuhan program

serta dikelola sesuai dengan prosedur (D, W)

4.3 Peningkatan Cakupan dan Mutu Puskesmas

Puskesmas

perundangan

melaksanakan

program

imunisasi

sesuai

peraturan

perundangan melaksanakan program imunisasi sesuai peraturan • Program imunisasi direncanakan, dilaksanakan,
perundangan melaksanakan program imunisasi sesuai peraturan • Program imunisasi direncanakan, dilaksanakan,
• Program imunisasi direncanakan, dilaksanakan, dimonitor dan dievaluasi dalam 4.3.1 upaya peningkatan capaian
• Program imunisasi
direncanakan, dilaksanakan,
dimonitor dan dievaluasi dalam
4.3.1
upaya peningkatan capaian
cakupan dan mutu imunisasi

POKOK PIKIRAN

POKOK PIKIRAN • Sebagai upaya untuk melindungi masyarakat dari penyakit menular yang dapat dicegah melalui imunisasi,

Sebagai upaya untuk melindungi masyarakat dari penyakit menular yang dapat

dicegah melalui imunisasi, Puskesmas wajib melaksanakan kegiatan imunisasi sebagai bagian dari program prioritas nasional. Pelaksanaan program imunisasi di Puskesmas perlu direncanakan,dilaksanakan,

dipantau dan dievaluasi agar dapat mencapai cakupan imunisasi secara optimal.

Perencanaan yang detail (micro planning) meliputi pemetaan wilayah, identifikasi dan penentuan jumlah sasaran, kebutuhan SDM, penentuan kebutuhan, jadwal pelaksanaan imunisasi serta jadwal dan mekanisme distribusi logistik, dan biaya operasional disusun untuk memastikan pelaksanaan program imunisasi berjalan dengan baik. Micro planning disusun dengan melibatkan lintas program terkait. Pencatatan dan pelaporan program imunisasi dilaksanakan secara akurat dan

sesuai prosedur meliputi cakupan imunisasi, stok dan pemakaian vaksin dan

logistik lainnya, kondisi peralatan rantai vaksin dan KIPI.

POKOK PIKIRAN

POKOK PIKIRAN secara berkala, berkesinambungan, berjenjang dan dilakukan analisa serta rencana tindak lanjut perbaikan

secara berkala, berkesinambungan,

berjenjang dan dilakukan analisa serta rencana tindak lanjut perbaikan program

imunisasi berdasarkan hasil I

Tindak lanjut perbaikan program imunisasi berdasarkan hasil pemantauan dan evaluasi dilaksanakan meliputi upaya dalam rangka penjangkauan sasaran dan

Pemantauan

dan

evaluasi

dilaksanakan

meningkatkan cakupan imunisasi melalui:

kegiatan sweeping, drop out follow up (DOFU), kegiatan SOS (Sustainable Outreach Services) untuk daerah geografis sulit, defaulter tracking, Backlog Fighting, Crash Program dan Catch Up Campaign;

upaya peningkatan kualitas imunisasi melalui pengelolaan vaksin yang sesuai prosedur,

pemberian imunisasi yang aman dan sesuai prosedur, kegiatan validasi data sasaran, Data Quality Self assessment (DQS), Rapid Convenience Assessment (RCA) untuk melakukan validasi terhadap hasil cakupan imunisasi dan supervisi berkala; serta

upaya penggerakkan masyarakat melalui kegiatan penyuluhan sosialisasi melalui berbagai

media komunikasi, peningkatan keterlibatan lintas program dan lintas sektor terkait dan

pembentukan forum komunikasi masyarakat peduli imunisasi

POKOK PIKIRAN

POKOK PIKIRAN • Penyusunan program peningkatan cakupan dan mutu imunisasi terintegrasi dengan penyusunan RUK dan RPK

Penyusunan program peningkatan cakupan dan mutu imunisasi terintegrasi

dengan penyusunan RUK dan RPK pelayanan UKM dan UKPP (lihat juga KMP :

1.1.2, dan UKM : 2.1.1)

ELEMEN PENILAIAN

ELEMEN PENILAIAN 1. Ditetapkan kebijakan dan prosedur imunisasi. (R) 2. Ditetapkan program imunisasi yang

1.

Ditetapkan kebijakan dan prosedur imunisasi. (R)

2.

Ditetapkan program imunisasi yang disusun secara rinci dan melibatkan lintas

program terkait yang dipimpin oleh Kepala Puskesmas.(R, D, W)

3.

Kegiatan Peningkatan cakupan dan mutu imunisasi dikoordinasikan dan

dilaksanakan sesuai dengan rencana dan prosedur yang telah ditetapkan. (D, O,

W)

4.

Tersedia vaksin dan logistik sesuai dengan kebutuhan program dan dikelola sesuai dengan prosedur (D, O, W)

5.

Dilakukan pemantauan, dan evaluasi serta tindaklanjut program imunisasi

sesuai hasil kegiatan pemantauan dan evaluasi. (D, W)

6.

Dilakukan pencatatan dan pelaporan sesuai prosedur yang telah ditetapkan. (D)

4.4 Pencegahan dan Penurunan Stunting

Puskesmas

melaksanakan

pencegahan

pemantauan dan evaluasinya

dan

penurunan

stunting

beserta

• Pencegahan dan penurunan stunting direncanakan, dilaksanakan, dimonitor dan 4.4.1 dievaluasi dengan melibatkan
• Pencegahan dan penurunan
stunting
direncanakan,
dilaksanakan, dimonitor dan
4.4.1 dievaluasi dengan melibatkan
lintas program, lintas sektor dan
pemberdayaan masyarakat

POKOK PIKIRAN

POKOK PIKIRAN • Pencegahan dan penurunan stunting merupakan salah satu fokus Pemerintah yang bertujuan agar anak-anak

Pencegahan dan penurunan stunting merupakan salah satu fokus Pemerintah yang bertujuan agar anak-anak Indonesia tumbuh dan berkembang secara

optimal dan maksimal disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang

siap untuk belajar serta berinovasi dan berkompetisi di tingkat global. Upaya pencegahan dan penurunan stunting tidak dapat dilakukan oleh sektor

kesehatan saja, tetapi perlu dilakukan dengan pemberdayaan lintas sektor dan

masyarakat melalui perbaikan pola makan, pola asuh, dan sanitasi serta akses

terhadap air bersih.

Dalam

pencegahan

dan

penurunan

stunting

dilakukan

upaya

untuk

meningkatkan layanan dan cakupan intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi

sensitif sesuai dengan pedoman yang berlaku.

POKOK PIKIRAN

POKOK PIKIRAN  Intervensi gizi sensitif antara lain meliputi: a) perlindungan sosial b) penguatan pertanian c)

Intervensi gizi sensitif antara lain meliputi:

a) perlindungan sosial

b) penguatan pertanian

c) perbaikan air dan sanintasi lingkungan

d) keluarga berencana

Intervensi gizi spesifik meliputi:

a) pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja puteri

b) pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada ibu hamil

c) pemberian makanan tambahan pada ibu hamil Kurang Energi Kronik (KEK)

d) promosi /konseling IMD, ASI Eksklusif dan Makanan Pendamping ASI yang tepat/PMBA

( Pemberian Makanan Bayi dan Anak )

e) pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita

f) tata laksana balita gizi buruk

g) pemberian vitamin A bayi dan balita

h) pemberian makanan tambahan untuk balita kurus

POKOK PIKIRAN

POKOK PIKIRAN • Dalam pencegahan dan penurunan stunting harus dapat menjamin terlaksananya pencatatan dan pelaporan

Dalam pencegahan dan penurunan stunting harus dapat menjamin terlaksananya pencatatan dan pelaporan yang akurat dan sesuai prosedur terutama pengukuran tinggi badan menurut umur (TB/U) dan perkembangan balita.

Pencatatan dan pelaporan program stunting dilaksanakan secara akurat dan

sesuai prosedur.

Penyusunan program pencegahan dan penurunan stunting terintegrasi dengan penyusunan RUK dan RPK pelayanan UKM dan UKPP (lihat juga KMP : 1.1.2, dan UKM : 2.1.1)

ELEMEN PENILAIAN

ELEMEN PENILAIAN 1. Ditetapkan kebijakan dan prosedur program stunting. (R) 2. Ditetapkan program pencegahan

1.

Ditetapkan kebijakan dan prosedur program stunting. (R)

2.

Ditetapkan program pencegahan dan penurunan stunting disusun berdasarkan hasil analisis masalah gizi di wilayah kerja Puskesmas yang dipimpin oleh Kepala Puskesmas). (R, D, W)

3.

Pencegahan dan penurunan stunting dikoordinasikan dan dilaksanakan sesuai dengan rencana yang disusun bersama lintas program dan lintas sektor (D, W)

4.

Dilaksanakan intervensi gizi spesifik dan sensitif sesuai dengan rencana yang disusun (D, O, W)

5.

Dilaksanakan koordinasi dan advokasi intervensi gizi sensitif dan sensitif bersama lintas sektor sesuai dengan rencana yang disusun (D, O, W)

6.

Dilakukan pemantauan, evaluasi dan tindak lanjut terhadap pelaksanaan program pencegahan dan penurunan stunting (D,

4.5. Program Penanggulangan PTM dan Faktor Resiko

Puskesmas melaksanakan pengendalian penyakit tidak menular utama yang melipiti

hipertensi, diabetes mellitus, kanker payudara dan leher rahim, Pasien Rujuk Balik (PRB)

Penyakit Tidak Menular (PTM) dan penyakit katastropik lainnya sesuai kompetensi di tingkat primer, serta penanganan faktor risiko PTM

di tingkat primer, serta penanganan faktor risiko PTM • Program pengendalian penyakit tidak menular dan faktor
di tingkat primer, serta penanganan faktor risiko PTM • Program pengendalian penyakit tidak menular dan faktor
• Program pengendalian penyakit tidak menular dan faktor risikonya direnanakan, dilaksanakan, dipantau dan
• Program pengendalian penyakit tidak
menular dan faktor risikonya
direnanakan, dilaksanakan, dipantau
dan ditindaklanjuti dalam upaya
4.5.1
pencegahan dan pengendalian
penyakit tidak menular

POKOK PIKIRAN

POKOK PIKIRAN • Meningkatnya faktor risiko dan penyakit tidak menular serta komplikasinya tidak hanya berdampak pada

Meningkatnya faktor risiko dan penyakit tidak menular serta komplikasinya tidak hanya

berdampak pada terjadinya peningkatan angka morbiditas, mortalitas dan disablilitas, namun juga berdampak kehilangan produktivitas yang berdampak pada beban ekonomi baik tingkat

individu, keluarga, dan masyarakat

Upaya pengendalian penyakit tidak menular dilakukan melalui berbagai kegiatan promotif dan preventif tanpa mengesampingkan tindakan kuratif dan rehabilitatif

Kegiatan promotif dan preventif dilakukan melalui upaya :

Promotif yaitu memberikan informasi dan edukasi seluas-luasnya kepada masyarakat agar tumbuh

kesadaran untuk ikut bertanggung jawab terhadap kesehatan diri dan lingkungannya

Preventif:

Pembinaan terhadap UKBM (POSBINDU) agar penyelenggaraannya tertib 1 kali/bulan dengan kader terlatih (sesuai juknis posbindu terbaru, terlampir) yang melakukan deteksi dini faktor risiko PTM

Preventif di FKTP dilakukan melalui deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim dengan Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) dan Inspeksi Visual Asam Asetat (IVA) pada perempuan usia 30-50 tahun

POKOK PIKIRAN

POKOK PIKIRAN  Kegiatan kuratif dan rehabilitatif dilakukan melalui upaya, antara lainMenguatkan akses Pelayanan

Kegiatan kuratif dan rehabilitatif dilakukan melalui upaya, antara lainMenguatkan akses Pelayanan terpadu PTM di Puskesmas dengan menguatkan keterampilan

petugas kesehatan dalam penanganan PTM dan faktor risiko PTM sesuai

kewenangan dan kompetensi di FKTP, Menguatkan sistem rujukan dari UKBM ke FKTP , dll

Deteksi dini atau penapisan (screening) perlu dilakukan untuk mencegah terhadinya peningkatan kasus PTM

Dalam upaya pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular, antara lain:

diabetes, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, merokok, dan faktor risiko yang lain, dilakukan secara teraintegrasi melalui pendekatan keluarga dengan PIS-PK

ELEMEN PENILAIAN

1.

Ditetapkan kebijakan dan prosedur serta target sasaran pelayanan program Penyakit Tidak Menular (PTM). (R)

sasaran pelayanan program Penyakit Tidak Menular (PTM). (R) 2. Ditetapkan program pengendalian Penyakit Tidak Menular

2. Ditetapkan program pengendalian Penyakit Tidak Menular dan program

promosi kesehatan termasuk kegiatan skrining PTM melalui Posbindu dan pendekatan keluarga, untuk pencegahan penyakit tidak menular, termasuk pengendalian faktor risiko PTM yang disusun berdasarkan analisis masalah PTM yang dipimpin oleh Kepala Puskesmas.(R, D, W)

3. Program pengendalian penyakit tidak menular dikoordinasikan dan dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah disusun bersama Lintas Program dan Lintas Sektor. (D, O, W)

4. Pelayanan dilakukan secara terpadu dengan diagnosis, pengobatan dan

tindaklanjut pada pasien dengan penyakit tidak menular sesuai dengan

panduan praktik klinis oleh tenaga kesehatan yang berkompeten. (D, O, W)

5. Dilakukan pemantauan, evaluasi, dan tindak lanjut terhadap pelaksanaan program pengendalian penyakit tidak menular. (D, W)

TERIMA KASIH w w w . y a n k e s . k e

TERIMA KASIH

TERIMA KASIH w w w . y a n k e s . k e m
TERIMA KASIH w w w . y a n k e s . k e m

www.yankes.kemkes.go.id

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pelayanan Kesehatan Jl. HR. Rasuna Said Blok X5 Kav 4- Jakarta Selatan

Kesehatan Jl. HR. Rasuna Said Blok X5 Kav 4- Jakarta Selatan www.facebook.com/ditjen.yankes @ d i t

www.facebook.com/ditjen.yankes

X5 Kav 4- Jakarta Selatan www.facebook.com/ditjen.yankes @ d i t j e n y a n

@ditjenyankes

Jakarta Selatan www.facebook.com/ditjen.yankes @ d i t j e n y a n k e s

@ditjenyankes