Anda di halaman 1dari 14

“Analisis SWOT, tentang K3

Kecelakaan di Tambang Batu Bara China, 19 Tewas

Kecelakaan tambang di China bukanlah suatu hal yang aneh, foto diatas adalah proses
evakuasi jenazah yang tewas akibat kecelakaan tambang batu bara pada 4 Oktober 2011

SHUOZHUO – Setidaknya 19 orang tewas dalam kecelakaan yang terjadi di tambang batu
bara di China Utara. Semua korban diketahui sebagai penambang di sana.

Sebagaimana diwartakan Xinhua, Kamis (24/3/2016), kecelakaan terjadi pada Rabu 23 Maret
2016 malam di platform bawah tanah yang terletak di sebuah tambang di Kota Shuozhuo,
Provinsi Shanxi, China.

Dilaporkan, pengelola tambang tersebut adalah sebuah perusahaan bernama Shanxi Datong
Coal Mine Group. Media setempat CCTV menyatakan saat insiden itu terjadi ada 129 orang
yang sedang berada di bawah tanah.

Selain 19 penambang yang bernasib nahas tersebut, terdapat orang-orang yang berhasil
menyelamatkan diri. Sebab ketika kecelakaan itu terjadi, mereka berlari ke tempat yang
aman.

China memang terkenal dengan perindustrian dan pertambangan yang tidak terlalu
memerhatikan regulasi keselamatan. Sehingga, kelalaian kerap memicu insiden yang dapat
menelan korban jiwa para pekerja.

Analisis SWOT Pembahasan :

Berdasarkan berita dan gambar sebelumnya, menghasilkan kesimpulan dan informasi bahwa
Pertambangan itu sangat minim dalam penetapan Keselamatan para pekerjanya, atau dengan
kata lain manajemen K3-nya sangat kurang di perhatikan. Sehingga Penganalisisan dengan
metode SWOT meliputi hal-hal Sebagai berikut :
1. Kekuatan ( Strength )
 Sebagai salah satu Wilayah yang memiliki Sumberdaya yang besar tempat
atau lingkungan tersebut sangatlah memiliki Prospek tinggi untuk menunjang
kebutuhan maupun meningkatkan perekonomian sekitar.
 Dengan melakukan penambangan bawah tanah, masalah isu lingkungan bisa
di reduksi (dikurangi) seperti penebangan pohon dan pengerukan tanah.
 Dapat menekan biaya pengeluaran, dari pada biaya jika melakukan tambang
terbuka.

2. Kelemahan ( Weakness )
 Sangat terlihat bahwa Pengusaha bahkan pekerjanya sendiri sangat kurang
memperhatikan Keselamatan kerja.
 Regulasi keselamatan kerja yang tak mengontrol secara penuh tentang
kecelakaan kerja, dengan kata lain regulasi hanya seperti pajangan. Tak
mengikat pada owner atau pengusahanya bila terjadi kecelakaan (mungkin tak
bias ke para pengembangnya).
 Kurangnya atau belum adanya pelatihan ( training ) kepada petugas – petugas
Pekerja tambang yang ada, sehingga program K3 belum diterapkan dengan
benar. Ini dapat dilihat dari banyaknya kejadian di daerah sana.
 Kontruksi yang tidak diperhatikan oleh pengawas, dan kelalaian para
pekerjanya, menunjukan ke tidak pedulian pada resiko.

3. Peluang ( opportunity )
 Tersedianya Diploma dan Sarjana Kesehatan Lingkungan yang dapat
menerapkan pengetahuan mengenai K3
 Kebutuhan tentang Pebaikan Struktur kontruksi, membuka kesempatan bagi
para konstruktor untuk membangun ulang.
 Supply bahan baku untuk membangun kembali kontruksi akan diperlukan.

4. Ancaman/Hambatan ( threat )
 Kurangnya pemahaman serta kesadaran tentang pentingnya diterapkan K3 di
sekitar lingkungan kerja di perusahaan itu.
 Konstruksi yang tua, dapat menimbulkan kecelakaan susulan.
 Tidak ada pengawasan dari pemerintah tentang perlunya K3 diterapkan.
 Ketidak pedulian yang hanya akan berakibat fatal, mementingkan Pendapatan
bersih tanpa memperhatikan aspek lain yang memiliki resiko.
Analisis swot tentang explorasi

KOMPONEN STRENGTH WEAKNESS OPPORTUNI THREAD


TY

Bumi dan air Terdapat Adanya Apabila Apabila


dan kekayaan kejelasan bahwa kemungkinan diterapkan disalahgun
alam yang SDA dikuasai terjadinya dengan sebaik- akan maka
terkandung di oleh negara, penyalahgunaan baiknya dan tidak akan
dalamnya sehingga dapat kekuasaan oleh tidak tercipta
dikuasai oleh mencegah pemerintah yang disalahgunakan kemakmur
negara dan terjadinya mengatasnamakan n oleh semua an bagi
dipergunakan pengambilan egara. pihak, maka rakyat.
untuk sebesar- SDA yang akan tercipta
besar semena-mena kemakmuran
kemakmuran dan tak bagi rakyat.
rakyat. bertanggung
jawab.

Peraturan Setiap kegiatan Didalam prakteknya Memberikan Pemilik


untuk setiap dalam IUP dilapangan masih sanksi yang IUP
kegiatan Ekplorasi akan banyak terdapat tegas kepada Eksplorasi
dalam IUP berjalan dengan pelanggaran pemegang IUP tidak
Eksplorasi baik karena terhadap batas waktu Eksplorasi yang menjalanka
peraturan dan juga sering melanggar n tahapan
tersebut akan terjadi tahapan dari sesuai
mengatur penyelewengan setiap kegiatan. dengan
bagaimana cara dalam setiap aturan
yang tepat dalam tahapan. yang
melaksanakan berlaku
setiap kegiatan. sehingga
setelah
mendapat
IUP
Ekplorasi
langsung
mengajuka
n IUP
Operasi
Produksi.

Jalur Tidak terjadi Terkadang akan Apabila jelas Adanya


Pemberian kebingungan terdapat kesulitan siapa pemegang kemungkin
IUP dalam hal pada prakteknya keputusan an
pembagian untuk mengetahui pemberian IUP pemberian
pemegang apakah wilayah maka akan IUP yang
keputusan tersebut sudah mempercepat pada
pemberian IUP birokrasi dalam prakteknya
dengan wilayah melewati batas mendapatkan akan
tertentu karena wilayah atau belum. IUP. membeban
telah diatur. i satu
wilayah
tertentu.
KOMPONEN STRENGTH WEAKNESS OPPORTUNI THREAD
TY

Jangka Terdapat jangka Adanya jangka Memotivasi Adanya


Waktu IUP waktu tertentu waktu mempersulit pemegang IUP kemungkin
Eksplorasi sehingga pemegang IUP yang agar lebih cepat an setelah
pemegang IUP masih kekurangan lagi dalam jangka
eksplorasi harus dalam bebrapa faktor melakukan waktu
fokus dalam seperti modal, eksplorasi. tersebut
kegiatan teknologi, dan habis tetapi
eksplorasinya. pekerja. pemegang
IUP belum
selesai
sepenuhny
a
mengekspl
orasi,.

Jangka Waktu Terdapat jangka Adanya jangka Memotivasi Adanya


IUP Operasi waktu tertentu waktu mempersulit pemegang IUP kemungkin
Produksi sehingga pemegang IUP yang agar lebih cepat an setelah
pemegang IUP masih kekurangan lagi dalam jangka
produksi harus dalam bebrapa faktor melakukan waktu
fokus dalam seperti modal, produksi. tersebut
kegiatan teknologi, dan habis tetapi
eksplorasinya pekerja pemegang
IUP belum
selesai
melakukan
produksi.

Pembagian Dengan adanya Pembagian besarnya Dengan adanya Pembagian


Wilayah IUP wilayah wilayah maksimum wilayah besarnya
maksimum dan dan minimum yang maksimum wilayah
minimum dapat berbeda antara jenis akan maksimum
membuat bahan yang menciptakan dan
investor ditambang akan peluang bagi minimum
mengambil dapat menimbulkan investor lain yang
keputusan jenis pandangan tidak yang berminat berbeda
bahan galian apa adil. sehingga tidak antara jenis
yang menurut terjadi bahan yang
monopoli. ditambang
mereka lebih akan
menguntungkan . membuat
investor
hanya akan
berinvestas
i pada jenis
tertentu
saja.

Cara Adanya Cara pemberian IUP Prosedur Adanya


Pemberian prosedur pemberi yang berbeda dapat pemberian IUP cara
IUP an yang jelas. menimbulkan yang jelas akan pemberian
pandangan tidak mempercepat IUP tanpa
adil. dan melalui
memudahkan lelang
dalam menimbulk
birokrasinya. an resiko
terjadinya
KKN
antara
pemohon
IUP dan
pemberi
IUP.

KOMPONEN STRENGTH WEAKNESS OPPORTUNI THREAD


TY

Jangka Pemerintah telah Dalam batas waktu Memberikan Bahan


waktutambah bertindak adil yang telah diberikan, batas waktu galian
anuntuk dengan pelaku tambang tambahan lagik belum
IUPOperasi memberikan belum bisa epada pelaku habis di
Produksi penambahan mengambil semua tambang tambang
sebanyak 2x waktu sebanyak bahan galian yang dengan syarat karena
untuk tiap 2x sehingga ada padahal masih harus adanya
bahan galian. harus banyak bahan galian menyelesaikan faktor-
dimanfaatkan yang tersisa dari proses faktor lain
dengan baik oleh proses operasi penambanganat yang
setiap pelaku produksi tersebut. as bahan galian menghamb
tambang. yang masih at dalam
tersisa. proses
penambang
annya yang
tidak
disesuaika
n di dalam
waktu
tambahan.
Pembagian Pengaturan Pada daerah yang Menyesuaikan Daerah
wilayah IUP besarnya luasIUP memiliki cadangan peraturan yang tidak
Eksplorasi Eksplorasi sumberdaya yang be tersebut dapat
untuk mineral yang baik akanm rpotensitapi luasnya dengan kondisi menyesuai
logam dan engurangi tidak memenuhi geografis daera kan
batubara dampak terhadap syarat 5000 ha maka h yang terhadap
minimal 5.000 adanya praktik tidak mampu memiliki peraturan
hektare. tambang illegal. menjadi bagian potensi sumber tersebut
dalam WIUP daya alam akan
sehingga tidak dapat yang baik dan mengalami
ditambang untuk siap untuk kerugian
menambah ditambang. karena
pendapatan daerah. (daerah yang sumber
membuat daya alam
kebijakan yang
tersebut). berharga
tidak dapat
dimaksima
lkan
pemanfaata
n
nya.

KOMPONEN STRENGTH WEAKNESS OPPORTUNI THREAD


TY

Untuk Dalam Penambahan Adanya Bila


mendapatkan prakteknya anggaran Perusahaan program- kegiatan
IUP dengan untuk melakukan program yang ini tidak
Eksplorasidan diberlakukannya kegiatan disiapkan berhasil
IUP Operasi persyaratan ini Pemberdayaan Perusahaan dilakukan
Produksi, maka Masyarakat Masyarakat yang untuk dengan
pemohon sekitar akan tentunya memakan memberdayaka baik atau
wajib memuat memberikan biaya yang tidak n dan muncul
ketentuanrenc kontribusi yang sedikit. mengembangka factor dari
ana positif bagi n masyarakat masyarakat
pengembanga Perusahaan (tidak sekitar yang
n dan mengganggu khususnya yang memang
pemberdayaan kegiatan berkaitan tidak
masyarakat di Perusahaan) dengan bidang senang
sekitar dikarenakan keekonomian. akan
wilayah Perusahaan kegiatan
pertambangan dianggap ikut Perusahaan
; turut Tambang
memerhatikan maka akan
kesejahteraan menghamb
masyarakat at
sekitar. Produktivit
as
Perusahaan
.

analisis swot tentang penambangan

Analisa SWOT Pertambangan Pasir Besi di Kulon Progo

a.Pendahuluan

Analisis SWOT adalah suatu bentuk analisis di dalam manajemen perusahaan atau di
dalam organisasi yang secara sistematis dapat membantu dalam usaha penyusunan suatu
rencana yang matang untuk mencapai tujuan, baik itu tujuan jangka pendek maupun tujuan
jangkan panjang.

Mengutip dari wikipedia, analisis SWOT adalah : “Merupakan metode perencanaan


strategis yang digunakan untuk mengevaluasi kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses),
peluang (opportunities), dan ancaman (threats) dalam suatu proyek bisnis/perusahaan atau
suatu spekulasi bisnis. Keempat faktor itulah yang membentuk akronim SWOT (strengths,
weaknesses, opportunities, dan threats)”. Teknik ini dibuat oleh Albert Humphrey, yang
memimpin suatu proyek riset pada Universitas Stanford tepatnya dasawarsa 1960 an dan 1970
an dengan menggunakan data dari perusahaan-perusahaan Fortune 500.

Atau definisi analisis SWOT yang lainnya yaitu sebuah bentuk analisa situasi dan juga
kondisi yang bersifat deskriptif (memberi suatu gambaran). Analisa ini menempatkan situasi
dan juga kondisi sebagai sebagai faktor masukan, lalu kemudian dikelompokkan menurut
kontribusinya masing-masing. Satu hal yang perlu diingat baik-baik oleh para pengguna analisa
ini, bahwa analisa SWOT ini semata-mata sebagai suatu sebuah analisa yang ditujukan untuk
menggambarkan situasi yang sedang dihadapi, dan bukan sebuah alat analisa ajaib yang
mampu memberikan jalan keluar yang bagi permasalahan yang sedang dihadapi. SWOT adalah
singkatan dari :

Strength (Kekuatan)
 Kelebihan apa yang dimiliki oleh organsiasi ?
 Apa yang membuat organisasi lebih baik dari organisasi lainnya?
 Keunikan apa yang dimiliki oleh organisasi ?
 Apa yang menyebabkan kita mendapatkan penjualan ?
 Apa yang dilihat atau dirasakan oleh konsumen kita sebagai suatu kelebihan ?

Weakness (Kelemahan)

 Apa yang dapat ditingkatkan dalam organisasi ?


 Apa yang harus dihindari oleh organisasi ?
 Faktorapa yang menyebabkan kehilangan penjualan ?
 Apa yang dilihat atau dirasakan oleh konsumen kita sebagai suatu kelemahan
organisasi kita ?
 Apa yang dilakukan oleh pesaing sehingga mereka dapat lebih baik dari organisasi
kita ?

Opportunities (Peluang)

 Kesempatan apa yang dapat kita lihat ?


 Perkembangan tren apa yang sejalan dengan organisasi kita ?

Threats (Ancaman)

 Hambatan apa yang kita hadapi sekarang ?


 Apa yang dilakukan oleh pesaing organisasi ?
 Perkembangan Teknologiapa yang menyebabkan ancaman bagi organisasi ?
 Adakah perubahan peraturan pemerintah yang akan mengancam perkembangan
organisasi ?

Penjelasan mengenai 4 (empat) komponen analisis SWOT, yaitu :

Strenght (S) yaitu analisis kekuatan, situasi ataupun kondisi yang merupakan kekuatan
dari suatu organisasi atau perusahaan pada saat ini. Yang perlu di lakukan di dalam analisis
ini adalah setiap perusahaan atau organisasi perlu menilai kekuatan-kekuatan dan kelemahan
di bandingkan dengan para pesaingnya. Misalnya jika kekuatan perusahaan tersebut unggul di
dalam teknologinya, maka keunggulan itu dapat di manfaatkan untuk mengisi segmen pasar
yang membutuhkan tingkat teknologi dan juga kualitas yang lebih maju.

Weaknesses (W) yaitu analisi kelemahan, situasi ataupun kondisi yang merupakan
kelemahan dari suatu organisasi atau perusahaan pada saat ini. Merupakan cara menganalisis
kelemahan di dalam sebuah perusahaan ataupun organisasi yang menjadi kendala yang serius
dalam kemajuan suatu perusahaan atau organisasi.
Opportunity (O) yaitu analisis peluang, situasi atau kondisi yang merupakan peluang
diluar suatu organisasi atau perusahaan dan memberikan peluang berkembang bagi organisasi
dimasa depan. Cara ini adalah untuk mencari peluang ataupun terobosan yang memungkinkan
suatu perusahaan ataupun organisasi bisa berkembang di masa yang akan depan atau masa yang
akan datang.

Threats (T) yaitu analisis ancaman, cara menganalisis tantangan atau ancaman yang harus
dihadapi oleh suatu perusahaan ataupun organisasi untuk menghadapi berbagai macam faktor
lingkungan yang tidak menguntungkan pada suatu perusahaan atau organisasi yang
menyebabkan kemunduran. Jika tidak segera di atasi, ancaman tersebut akan menjadi
penghalang bagi suatu usaha yang bersangkutan baik di masa sekarang maupun masa yang
akan datang.

Metode analisis SWOT bisa dianggap sebagai metode analisis yangg paling dasar, yang
bermanfaat untuk melihat suatu topik ataupun suatu permasalahan dari 4 empat sisi yang
berbeda. Hasil dari analisa biasanya berupa arahan ataupun rekomendasi untuk
mempertahankan kekuatan dan untuk menambah keuntungan dari segi peluang yang ada,
sambil mengurangi kekurangan dan juga menghindari ancaman. Jika digunakan dengan benar,
analisis ini akan membantu untuk melihat sisi-sisi yang terlupakan atau tidak terlihat selama
ini. Dari pembahasan diatas tadi, analisis SWOT merupakan instrumen yang bermanfaat dalam
melakukan analisis strategi. Analisis ini berperan sebagai alat untuk meminimalisasi
kelemahan yang terdapat dalam suatu perusahaan atau organisasi serta menekan dampak
ancaman yang timbul dan harus dihadapi.

Metode analisis SWOT merupakan alat yang tepat untuk menemukan masalah dari 4
(empat) sisi yang berbeda, dimana aplikasinya adalah bagaimana kekuatan (strengths) mampu
mengambil keuntungan dari sebuah peluang (opportunities) yang ada, kemudian bagaimana
cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mencegah keuntungan, selanjutnya bagaimana
kekuatan (strengths) mampu menghadapi ancaman (threats) yang ada, dan terakhir adalah
bagaimana cara mengatasi kelemahan (weaknesses) yang mampu membuat ancaman (threats)
menjadi nyata atau menciptakan sebuah ancaman baru.

Dengan saling berhubungannya 4 faktor tersebut, maka membuat analisis ini


memberikan kemudahan untuk mewujudkan visi dan misi suatu perusahaan. Untuk
menyempurnakan atau melengkapi pemahaman tentang analisis SWOT, maka saya akan
memberikan bagaimana contoh analisis SWOT suatu perusahaan.

Faktor-faktor yang mempengaruhi keempat komponen dasar Analisis SWOT


diantaranya adalah :

Faktor Internal (Strength dan Weakness)

 Sumber daya yang dimiliki


 Keuangan atau Finansial
 Kelebihan atau kelemahan internal organisasi
 Pengalaman-pengalaman organisasi sebelumnya (baik yang berhasil maupun yang
gagal)

Faktor Eksternal (Opportunities dan Threats)

 Tren
 Budaya, Sosial Politik, Ideologi, perekonomian
 Sumber-sumber permodalan
 Peraturan Pemerintah
 Perkembangan Teknologi
 Peristiwa-peristiwa yang terjadi
 Lingkungan

a. Proyek Tambang Pasir Besi di Kulon Progo

Kabupaten Kulon Progo memiliki banyak potensi kekayaan sumber daya alam. Oleh
sebab itu, pemerintah Kabupaten Kulon Progo melakukan konsep Pengembangan Ekonomi
Lokal (PEL) sebagai usaha memajukan perekonomiannya dengan mengembangkan potensi
yang ada di Kulon Progo, yaitu pertambangan pasir besi. Pertambangan dan pengolahan pasir
besi ditujukan untuk meningkatkan ekonomi lokal Kabupaten Kulon Progo. Lokasi
penambangan akan dilakukan di wilayah pesisir pantai yang selama ini merupakan lahan
pertanian masyarakat dan telah menjadi penyokong hidup mereka selama puluhan tahun.

Rencana proyek penambangan pasir besi sampai kedalaman 14,5 meter dengan bentang
atau sepanjang 22 kilometer serta lebar 1,8 kilometer. Potensi pasir besi di pesisir selatan Kulon
Progo cukup besar dan diperkirakan memiliki deposit sekitar 300 juta ton. Pasir besi yang
terdapat di sepanjang pesisir pantai Kulon Progo bukan hanya pasir besi biasa yang hanya
mengandung titanium, tetapi juga mengandung vanadium. Di dunia ini, pasir besi yang
memiliki kandungan vanadium dengan kualitas baik hanya di Meksiko dan Indonesia yaitu di
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Penambangan akan dilakukan oleh PT. Jogja Magasa Iron
(JMI). Oleh pemerintah dalam perjanjian kontrak, PT. JMI hanya diberi izin untuk melakukan
penambangan dan menghasilkan bahan baku besi berupa pig iron atau lonjoran besi.
Rencananya, kawasan yang akan ditambang melintasi empat wilayah kecamatan yaitu Galur,
Panjatan, Temon dan Wates, di sepuluh desa yakni Banaran, Karangasem, Garongan, Pleret,
Bugel, Glagah, Palian, Sindutan, Jangkaran dan Karangwuni.

b. Profil PT. Jogja Magasa Iron (JMI)


PT. Jogja Magasa Iron (JMI) merupakan perusahaan yang ditunjuk oleh pemerintah
Indonesia untuk melakukan ekslporasi, penambangan, pengolahan, dan pemurnian pasir besi
serta memproduksi pig iron sebagai bahan baku industri baja di wilayah Kontrak Karya yang
terletak di kawasan pesisir selatan Kulon Progo. Berawal dari keinginan dua Raja Sri Sultan
Hamengku Buwono IX dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Paduka Paku Alam
VIII dari Puro Pakualaman untuk mengembangkan Yogyakarta dan memakmurkan rakyatnya,
beliau melihat potensi pasir besi di daerah pesisir pantai selatan yang merupakan tanah Sultan
dan Paku Alam atau lebih dikenal dengan sebutan Sultan Ground dan Pakualaman Ground.

Tahun 1970 dilakukan penelitian pertama tentang pasir besi namun belum ada investor
yang serius untuk mengembangkan potensi pasir besi karena tuntutan dari dua Raja tersebut
yang mengharuskan didirikannya industri pengolahan pasir besi bukan hanya penambangan.
Pada tanggal 6 Oktober 2005 dibentuk PT. Jogja Magasa Mining oleh Lutfi Heyder, GBPH
Joyokusumo, GKR Pembayun, BRMH Hario Seno dan Imam Syafi, yang diikuti dengan
kerjasama manajemen dengan AKD (Australian Kimberly Diamond Limited) untuk
melakukan penelitian awal potensi pasir besi.

Pada tanggal 12 Oktober 2005 diterima Kuasa Pertambangan No.


008/KPTS/EKPL/X/2005 dengan lokasi pertambangan terletak di sepanjang pantai antara
sungai Progo dan sungai Bogowonto, Kabupaten Kulon Progo, Propinsi Daerah Istimewa
Yogyakarta yang merupakan lahan Pakualaman, dengan luas area pertambangan 4.076,7 Ha.
Pada tanggal 9 September 2008, berdiri PT. Jogja Magasa Iron yang merupakan perusahaan
join venture antara PT. JMM (Jogja Magasa Mining) dan Indomines Ltd dari Australia, status
Kuasa Pertambangan meningkat menjadi Kontrak Karya pada tanggal 4 November 2008,
dengan luas area 2.987,79 Ha yang terletak di sepanjang pantai antara sungai Progo dan sungai
Serang (jmi.co.id). Namun kini kepemilikan saham PT. JMI telah diakuisisi oleh Rajawali
Group sebesar 57,12% saham perusahaan tambang yang terdaftar di bursa saham Australia.

c. Analisa SWOT

Strength

Beberapa kekuatan yang mendukung pertambangan pasir besi di Kulon Progo adalah
adanya fakta bahwa cadangan pasir besi yang sangat melimpah, sehingga cadangan ini menjadi
prospek dan sangat bermanfaat jika dieksploitasi guna kemaslahatan masyarakat Kulon Progo.
Beberapa sisi kelebihan dari adanya tambang besi ini adalah dapat membuka lapangan
pekerjaan bagi masyarakat sekitar dan dijadikan sebagai suatu wadah yang mengatur dan
menjamin kehidupan masyaratak sekitar.

Weakness

Kelemahan dari pertambangan pasir besi ini adalah masih terdapat adanya sengketa dan
ketidaksepahaman antara warga masyarakat pesisir Kulon Progo dengan perusahaan tambang
yang berdiri dan juga dengan pemerintah daerah yang menerbitkan peraturan tambang di
pesisir Kulon Progo. Kecemasan warga beralasan karena takut akan terjadi ketidakseimbangan
dengan alam yang akan berdampak pada bencana yang mungkin saja terjadi. Kesalahfahaman
ini tentu saja harus segera dibenahi karena pemerintah dan perusahaan terkait tentu sudah
memikirkan semua dampak yang akan terjadi selama eksploitasi pasir besi dan sudah
menentukan langkah mitigasi jika terjadi suatu bahaya.

Opportunities

Kesempatan akan mendapat pekerjaan bagi warga sekitar berbanding lurus dengan
cadangan pasir besi yang melimpah sehingga akan membuat perusahaan melakukan eksploitasi
dengan jangka waktu yang cukup panjang.

Threat

Ancaman bagi pertambangan besi ini adalah adanya kesalahfahaman yang berkelarutan
antara pemerintah dan warga sekitar, jika dilakukan sosialisasi dan pendekatan tentunya akan
terjadi satu kata mufakat bagi kebaikan bersama kedepannya.

Analisis swot tentang studi lingkungan

Pasir merupakan salah satu produk kegiatan Gunung Merapi yang, merupakan andalan
pemerintah Kabupaten Magelang dalam meningkatkan Pendapatan Asli Daerah dan juga
menyerap lapangan kerja. Selain mendatangkan manfaat penambangan pasir Merapi juga
menimbulkan dampak lingkungan bagi daerah di lokasi penambangan dan juga bagi daerah di
bawahnya Penelitian kajian dampak kerusakan lingkungan akibat kegiatan penambangan
pasir bertujuan untuk mengkaji i) tingkat kerusakan lingkungan yang terjadi di lokasi
penambangan pasir, ii) mengkaji dampak kerusakan lingkungan yang terjadi akibat
penambangan pasir, iii) mengajukan usulan pengelolaan lokasi penambangan pasir.
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Keningar kecamatan Dukun Kabupaten
Magelang. Metode penelitian yang digunakan metode analisis kuantitatif. Untuk
penghitungan tingkat erosi dilakukan dengan rumus USLE sedangkan aspek sosial
melakukan wawancara dengan pertanyaan terstruktur yang didukung kuesioner terhadap
responden untuk mengetahui pendapat tentang lingkungan sekitar. Selanjutnya dalam rangka
menentukan strategi dan kebijakan dalam penyusunan pengelolaan lingkungan penambangan
pasir dilakukan analisa SWOT.Hasil penelitian menunjukkan tingkat erosi di lokasi
penambangan pasir adalah moderat dan ringan dan menimbulkan dampak fisik lingkungan
seperti tanah longsor, berkurangnya debit air permukaan (mata air), tingginya lalu lintas
kendaraan membuat mudah rusaknya jalan, polusi udara, dan dampak sosial
ekonomi. Dampak sosial ekonomi penyerapan tenaga kerja karena sebagian masyarakat
bekerja menjadi tenaga kerja di penambangan pasir, adanya pemasukan bagi pemilik tanah
yang dijual atau disewakan untuk diambil pasirnya dengan harga tinggi, banyaknya
pendatang yang ikut menambang sehingga dapat menimbulkan konflik, adanya ketakutan
sebagian masyarakat karena penambangan pasir yang berpotensi longsor.Berdasarkan
analisis SWOT maka langkah-langkah yang perlu dilakukan untuk menghindari dampak
lingkungan adalah dengan memanfaatkan teknologi konservasi lahan dan penegakan hukum
melalui peraturan perundangan yang jelas, transparan dan akuntabel serta pelibatan peran
aktif masyarakat.

Analisis swot pada alat alat penambangan


PT United Tractors Tbk

Analsis Porter Five Forces


Profil Perusahaan
1. Faktor Internal yang terdiri dari Kekuatan (Strengths) dan Kelemahan (Weaknesses)
a) Kekuatan
• Kegiatan usaha mencakup pendistribusian alat berat atau mesin konstruksi,
kontarktor penambangan, dan penambangan.
• Memegang kepemilikan atas sejumlah konsesi tambang batu bara
dengan perkiraan total cadangan sebesar 400 juta ton.
• Sebagai distributor tunggal produk Komatsu, UD Trucks, Scania, Bomag, Tadano dan
Komatsu Forest.
• Perseroan memiliki beberapa sertifikasi baik secara nasional maupun internasional

 Didirikan pada 13 Oktober 1972


 Saat ini jaringan distribusi perusahaan ini mencakup 19 kantor cabang, 22 kantor
pendukung, dan 11 kantor perwakilan di seluruh penjuru negeri
 Kegiatan usaha meliputi distribusi mesin konstruksi, kontraktor penambangan dan
pertambangan

b) Kelemahan
• Kurangnya tenaga teknisi untuk mesin konstruksi.
• Jumlah kantor cabang dan kantor pendukung yang masih sedikit.
• Ketergantungan perseroan pada perjanjian dengan pihak supplier.
• Kurangnya ketersediaan alat berat dan perlengkapan pendukung untuk melaksanakan
penambangan.
Visi :
“Menjadi perusahaan kelas dunia berbasis solusi di bidang alat berat, pertambangan dan
energi, untuk menciptakan manfaat bagi para pemangku kepentingan.”
Misi :
• Bertekad membantu pelanggan meraih keberhasilan melalui pemahaman usaha yang
komprehensif dan interaksi berkelanjutan.
• Menciptakan peluang bagi insan perusahaan untuk dapat meningkatkan status sosial dan
aktualisasi diri melalui kinerjanya.
• Menghasilkan nilai tambah yang berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan melalui
tiga aspek berimbang dalam hal ekonomi, sosial dan lingkungan.
• Memberi sumbangan yang bermakna bagi kesejahteraan bangsa.
Faktor Internal : Kekuatan, Kelemahan
Analisis SWOT adalah metode perencanaan strategis yang digunakan untuk mengevaluasi
kekuatan (strengths), kelemahan (weaknesses), peluang (opportunities), dan ancaman
(threats) dalam suatu proyek atau suatu spekulasi bisnis.
a) Peluang
• Permintaan pasar yang cukup tinggi terhadap produk atau jasa yang ditawarkan oleh
perseroan.
• Kemajuan teknologi mesin konstruksi yang semakin pesat.
b) Ancaman
• Bertambahnya jumlah pesaing pada pangsa pasar yang sama.
• Operasi penambangan mengandung resiko keselamatan yang cukup tinggi.
• Ketersediaan hasil tambang yang tidak stabil.