Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Secara teori, sebuah negara dibentuk oleh masyarakat di suatu
wilayah yang tidak lain bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup bersama
setiap anggotanya dalam koridor kebersamaan. Dalam angan setiap anggota
masyarakat, negara yang dibentuk oleh mereka ini akan melaksanakan
fungsinya menyediakan kebutuhan hidup anggota berkaitan dengan konstelasi
hidup berdampingan dengan orang lain di sekelilingnya. Di kehidupan sehari-
hari, kebutuhan bersama itu sering kita artikan sebagai “kebutuhan publik”.
Salah satu contoh kebutuhan publik yang mendasar adalah kesehatan
Kesehatan adalah pelayanan publik yang bersifat mutlak dan erat
kaitannya dengan kesejahteraan masyarakat. Untuk semua pelayanan yang
bersifat mutlak, negara dan aparaturnya berkewajiban untuk menyediakan
layanan yang bermutu dan mudah didapatkan setiap saat. Salah satu wujud
nyata penyediaan layanan publik di bidang kesehatan adalah adanya
Puskesmas. Tujuan utama dari adanya Puskesmas adalah menyediakan
layanan kesehatan yang bermutu namun dengan biaya yang relatif terjangkau
untuk masyarakat, terutama masyarakat dengan kelas ekonomi menengah ke
bawah.
Dalam makalah ini, saya membahas mengenai “Pelayanan
Puskesmas” karena Puskesmas sebagai bentuk nyata peran birokrasi dalam
memberikan pelayanan publik kepada masyarakat, khususnya dalam bidang
kesehatan dan karena Puskesmas merupakan ujung tombak pelayanan
kesehatan masyarakat.
Upaya meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan
kesehatan yang berkualitas, di antaranya meningkatkan akses terhadap
pelayanan kesehatan dasar. Di sini peran Puskesmas dan jaringannya sebagai
institusi yang menyelenggarakan pelayanan kesehatan di jenjang pertama
yang terlibat langsung dengan masyarakat menjadi sangat penting. Puskesmas
bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di wilayah
kerjanya yaitu meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup

1
sehat bagi setiap orang yang bertempat tinggal di wilayah kerjanya agar
terwujudnya derajat kesehatan yang setinggi-tingginya. Dengan demikian,
akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas dapat ditingkatkan
melalui peningkatan kinerja Puskesmas.
Untuk meningkatkan kinerja Puskesmas dimaksud, diperlukan data
dasar Puskesmas di antaranya data yang berkaitan dengan bangunan,
peralatan, sarana penunjang, tenaga, serta pembiayaan di Puskesmas dan
jaringannya yang digunakan untuk mendukung pengambilan keputusan.
Kemudian jaringan puskesmas juga sangat ikur berperan penting untuk
meratakan akses pelayanan masyarakat yang memadai jaringan puskesmas ini
seperti; Jumlah dan kondisi pusling roda 4 jumlah dan kondisi pusling
Perairan (Perahu) Jumlah dan kondisi pustu.
2. Rumusan Masalah
a. Apa konsep dari puskesmas?
b. Apa konsep Public Health Nursing?
c. Bagaimana Issue dan Trend dalam Pelayanan Keperawatan Komunitas?
d. Bagaimana Issue dan Trend dalam Pendidikan Keperawatan Komunitas?
e. Bagaimana Issue dan Trend dalam Penelitian Keperawatan Komunitas?
f. Bagaimana Issue dan Trend dalam Keprofesian Keperawatan Komunitas?
3. Tujuan
a. Tujuan Umum
Untuk mengetahui konsep dan trend dan issue dari keperawatan
komunitas
b. Tujuan Khusus
1) Untuk mengetahui konsep dari puskesmas
2) Untuk mengetahui Public Health Nursing
3) Untuk mengetahui Issue dan Trend dalam Pelayanan Keperawatan
Komunitas
4) Untuk mengetahui Issue dan Trend dalam Pendidikan Keperawatan
Komunitas
5) Untuk mengetahui Issue dan Trend dalam Penelitian Keperawatan
Komunitas

2
6) Untuk mengetahui Issue dan Trend dalam Keprofesian Keperawatan
Komunitas
4. Manfaat
a. Bagi Institusi Pendidikan
Makalah ini bagi Institusi pendidikan kesehatan adalah untuk
mengetahui tingkat kemampuan mahasiswa sebagai peserta didik dalam
menelaah suatu fenomena kesehatan yang spesifik tentang konsep
pelayanan perawatan komunitas
b. Bagi Tenaga Kesehatan (Perawat)
Makalah ini bagi tenaga kesehatan khususnya untuk perawat
adalah untuk mengetahui pentingnya konsep pelayanan perawatan
c. Bagi Mahasiswa
Manfaat makalah ini bagi mahasiswa baik menyusun maupun
pembaca adalah untuk menambah wawasan terhadap seluk beluk konsep
pelayanan perawatan

3
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. PUSKESMAS
a. Definisi
Puskesmas adalah Suatu unit organisasi yang bergerak dalam
bidang pelayanan kesehatan yang berada di garda terdepan dan
mempunyai misi sebagai pusat pengembangan pelayanan kesehatan, yang
melaksanakan pembinaan dan pelayanan kesehatan secara menyeluruh
dan terpadu untuk masyarakat di suatu wilayah kerja tertentu yang telah
ditentukan secara mandiri dalam menentukan kegiatan pelayanan namun
tidak mencakup aspek pembiayaan. (Ilham Akhsanu Ridlo, 2008)
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis (UPT) dinas kesehatan
kabupaten/kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan
kesehatan di suatu wilayah kerja
Puskesmas adalah unit pelaksana teknis dinas kesehatan
kabupaten/kota yang bertanggung jawab menyelenggarakan
pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja.( Makhfudli. 2009 )
Pengertian puskesmas yang akan diketengahkan disini
menunjukkan adanya perubahan yang disesuaikan dengan perkembangan
dan tuntutan pelayanan kesehatan dewasa ini, diantaranya:
1) Dr. Azrul Azwar, MPH
Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) adalah suatu
kesatuan organisasi fungsional yang langsung memberikan
pelayanan secara menyeluruh kepada masyarakat dalam suatu
wilayah kerja tertentu dalam bentuk usaha-usaha kesehatan pokok.
2) Departemen Kesehatan RI
Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) adalah suatu
kesatuan organisasi kesehatan yang langsung memberikan pelayanan
kesehatan secara menyeluruh dan terintegrasi kepada masyarkat
diwilayah kerja tertentu dalam usaha-usaha kesehatan pokok
3) Departemen Kesehatan RI

4
Puskesmas adalah sebagai pusat pembangunan kesehatan
yang berfungsi mengembangkan dan membina kesehatan masyarakat
serta menyelenggarakan pelayanan kesehatan terdepan dan terdekat
dengan masyrakat dalam bentuk kegiatan pokok yang menyeluruh
dan terpadu diwilayah kerjanya
Puskesmas adalah suatu unit organisasi yang secara
porfesional melakukan upaya pelayanan kesehatan pokok yang
menggunakan peran serta masyarakat secara aktif untuk dapat
memberikan pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada
masyrakat di wilayah kerjanya.
4) Departemen Kesehatan RI (2004)
Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) adalah suatu
organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat
pengembangan kesehatan masyarakat yang juga membina peran
serta masyarakat di samping memberikan pelayanan secara
menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya
dalam bentuk kegiatan pokok.

b. Prinsip Pelayanan ( Efendi, Ferry. 2009 )


Prinsip penyelenggaraan Puskesmas meliputi:
1. Paradigma sehat
Puskesmas mendorong seluruh pemangku kepentingan
untuk berkomitmen dalam upaya mencegah dan mengurangi resiko
kesehatan yang dihadapi individu, keluarga, kelompok dan
masyarakat.
2. Pertanggung jawaban wilayah
prinsip pertanggung jawaban wilayah Puskesmas menggerakkan
dan bertanggung jawab terhadap pembangunan kesehatan di
wilayah kerjanya.
3. Kemandirian masyarakat
Puskesmas mendorong kemandirian hidup sehat bagi
individu, keluarga, kelompok, dan masyarakat.

5
4. Pemerataan
Puskesmas menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan
yang dapat diakses dan terjangkau oleh seluruh masyarakat di
wilayah kerjanya secara adil tanpa membedakan status sosial,
ekonomi, agama, budaya dan kepercayaan.
5. Teknologi tepat guna
Puskesmas menyelenggarakan Pelayanan Kesehatan
dengan memanfaatkan teknologi tepat guna yang sesuai dengan
kebutuhan pelayanan, mudah dimanfaatkan dan tidak berdampak
buruk bagi lingkungan.
6. Keterpaduan dan kesinambungan.
Puskesmas mengintegrasikan dan mengkoordinasikan
penyelenggaraan UKM dan UKP lintas program dan lintas sektor
serta melaksanakan Sistem Rujukan yang didukung dengan
manajemen Puskesmas.
c. Bentuk Pelayanan ( Efendi, Ferry. 2009 )
Dalam memberikan pelayanan Puskesmas Menjalin, telah
menyediakan jenis - jenis pelayanan yang dapat diakses dan diberikan
kepada masyarakat. Jenis - jenis pelayanan tersebut adalah sebagai berikut
:
1) Pelayanan Puskesmas dalam Gedung ( Efendi, Ferry. 2009 )
a) Loket Pendaftaran
1. Pendaftaran pasien
2. Pencatatan / rekam medis
b) Poli Umum
1. Pemeriksaan awal terhadap pasien
2. Pemberian resep oleh dokter
3. Konsultasi
c) Poli Gigi
1. Pemeriksaan gigi
2. Penambalan gigi
3. Pencabutan gigi

6
4. Konsultasi
d) Poli KIA-KB
1. Periksaan kesehatan Ibu dan anak
2. Pelayanan Keluarga Berencana
3. Konsultasi
4. ANC (Antenatal Care)
5. PNC (Post Natal Care),
e) Poli Gizi
1. Pemeriksaan pada bayi balita serta memantau tumbuh
kembang anak
2. Konsultasi
3. Pemberian makanan tambahan pada gizi buruk
f) Poli Kesehatan Lingkungan
1. Konsultasi klinik sanitasi
g) Ruangan Tindakan / IGD
1. Pelayanan 24 jam
2. Tindakan pada pasien dengan status gawat darurat
h) Apotek
1. Pelayanan / pemberian obat – obatan
i) GudangObat
1. Distribusi obat – obatan kesemua sektor pelayanan seperti
Pustu, Polindes, Poskesdes, Rawat Inap, Rawat Jalan
2. Persediaan stok obat dalam waktu tertentu
j) Gudang Inventaris
1. Pencatatan dan pemantauan alat – alat atau bahan yang ada
2. Peyimpanan stok barang yang belum digunakan
k) Ruangan Tata Usaha
1. Pembuatan surat menyurat
2. Pengarsipan surat masuk dan keluar
3. Tata kelola dan administrasi
l) Ruangan Imunisasi
1. Penyimpanan vaksin

7
2. Pencatatan
m) Ruangan Laboratorium Sederhana
1. Pemeriksaan dahak
2. Pemeriksaan AsamUrat
3. Pemeriksaan Hemoglobin
4. Pemeriksaan Cholesterol
5. Pemeriksaan Guladarah
6. Pemeriksan Malaria
7. Golongan Darah
n) Ruangan Kepala Puskesmas
1. Legalitas berkas dan dokumen
o) Ruangan Kepegawaian
1. Pemberkasan dokumen kepegawaian
2. Rekrutmen pegawai magang / kontrak
p) Poned ( Pelayanan Obstetri Neonatus Essensial Dasar )
1. Pemeriksaan kehamilan
2. Pemantauan kehamilan
3. Pertolongan persalinan
4. Pendeteksian Resiko tinggi Bumil
5. Penatalaksanaan Bumil Resiko tinggi
q) Sistem Informasi kesehatan( SIK )
1. Pemberkasan informasi Puskesmas
r) Ruang rawat inap
1. Perawatan penginapan pasien
2. Pemantauan perkembangan pasien
3. Rekomendasi rujukan pada pasien tertentu
2) Pelayanan Puskesmas di Luar Gedung ( Efendi, Ferry. 2009 )
a. Posyandu Bayi Balita
1. Penimbangan berat badan
2. Pemberian imunisasi
3. Pemantauan status imunisasi bayi balita
b. Posyandu Lansia

8
1. Pemeriksaan fisik
2. Pemberian obat – obatan
3. Konsultasi
c. Promosi Kesehatan
1. Penyuluhan di desa – desa
d. Pelacakan Kasus
1. Deteksi dini penyakit dengan Survei lapangan
2. Kunjungan dari rumah kerumah
3. Tidak lanjut terhadap laporan- laporan masyakarat dan
petugas lapangan
e. Kesehatan Lingkungan
1. Surveilan lapangan tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat(
PHBS )
2. Kunjungan dari rumah kerumah
3. Pemantauan keadaan lingkungan
4. Penyuluhan kesehatan lingkungan dan PHBS
5. Pengawasan SPAL (saluran pembuangan air limbah),SAMI-
JAGA (sumber air minum-jamban keluarga), TTU (tempat
umum), Institusi Survey Jentik Nyamuk
6. Fogging
7. Penyemprotan insektisida malaria
f. Pelayanan ambulance
1. Rujukan pasien
2. Puskesmas keliling
2. PHN(Public Health Nursing)
a. Definisi
Public health nursing adalah praktek mempromosikan dan
melindungi kesehatan masyarakat menggunakan pengetahuan dari
keperawatan, sosial, dan ilmu kesehatan masyarakat. PHN juga
merupakan proses yang sistematis dimana kesehatan dan perawatan
kesehatan kebutuhan populasi dinilai untuk mengidentifikasi sub-
populasi, keluarga dan individu yang akan mendapat manfaat dari

9
promosi kesehatan atau yang berisiko penyakit, cedera, cacat atau
kematian dini.
( Efendi, Ferry. 2009 )
b. Prinsip Pelayanan (Depkes, 2014)
Agar usaha kesehatan masyarakat dapat terlaksana dengan baik
maka ada beberapa prinsip pokok yang harus terpenuhi, yaitu:
1. Usaha Kesehatan Masyarakat lebih mengutamakan tindakan
pencegahan (preventif) daripada pengobatan (kuratif).
2. Dalam melaksanakan tindakan pencegahan selalu menggunakan
cara-cara yang ringan biaya dan berhasil guna.
3. Dalam melaksanakan kegiatannya lebih menitik beratkan pada
masyarakat, baik sebagai pelaku (subyek) dan sasaran (obyek) atau
dengan kata lain suatu usaha dari, oleh dan untuk masyarakat.
4. Dalam melibatkan masyarakat sebagai pelaku maka sasaran yang
diutamakan adalah masyarakat yang terorganisir.
5. Ruang lingkup usaha lebih mengutamakan masalah-masalah
kesehatan kemasyarakatan daripada kesehatan perorangan karena
bila tidak ditanggulangi dengan segera dapat mengancam kesehatan
dan keselamatan masyarakat luas.

c. Bentuk Pelayanan ( Makhfudli. 2009 )


1. Epidemiologi
2. Biostatik/Statistik Kesehatan
3. Kesehatan lingkungan
4. Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku
5. Administrasi Kesehatan Masyarakat
6. Gizi Masyarakat
7. Kesehatan Kerja

10
3. Issue dan Trend dalam Pelayanan Keperawatan Komunitas
Layanan pembelajaran memberikan siswa kesempatan untuk terlibat dengan
masyarakat dan mengembangkan kesadaran akan kesenjangan kesehatan.
ada di dalam komunitas itu (Thomas dan Smith, 2017). Pembelajaran
layanan melibatkan siswa melalui partisipasi dalam kegiatan terorganisir yang
memenuhi kebutuhan masyarakat yang diakui dan melalui refleksi pada
kegiatan untuk pemahaman yang lebih dalam konten teoritis, apresiasi yang
lebih luas untuk dampak keperawatan dapat membuat dan rasa tanggung
jawab kepada masyarakat. Manfaat untuk pembelajaran layanan termasuk
kesempatan untuk mengembangkan penilaian, komunikasi, berpikir kritis,
dan keterampilan kolaborasi sambil mendapatkan kesadaran tentang
keragaman masyarakat (Gaberson et al., 2015, hal. 159–162).
Proyek ini adalah studi kasus yang mengukur sikap menggunakan
kuesioner terbuka kuantitatif yang didistribusikan ke satu kelompok
praktikum klinis dalam pre-test / post-test. Desain. Kelompok ini terdiri dari
delapan siswa (7 perempuan; 1 laki-laki) dari satu program keperawatan yang
menawarkan gelar sarjana muda dari Universitas utama di selatan. Delapan
siswa ini terdaftar dalam kursus praktikum klinis Keperawatan Komunitas
yang ditawarkan pada semester akhir program studi. Proyek ini menerima
status pengecualian dan disetujui oleh dewan peninjau institusional
universitas. cenderung memahami tantangan terkait kesehatan populasi rentan
ini dan memberikan perawatan berkualitas dalam praktik mereka setelah
lulusPengaturan kemitraan (Lashley, 2008).
Komponen refleksi dari pembelajaran layanan Lingkungan praktikum
praktikum komunitas adalah waktu penemuan-diri dari keyakinan dan nilai
yang terbentuk sebelumnya ketika mereka mempersiapkan berkisar melalui
pencarian layanan lokal yang memenuhi kebutuhan untuk memasuki profesi
keperawatan. Memperoleh kesadaran tentang kepercayaan satu komunitas
tunawisma di satu kota. Organisasi nirlaba lokal adalah dan nilai adalah
bagian dari menjadi kompeten secara budaya yang dapat ditemukan yang
menyediakan satu tempat penampungan dengan akomodasi semalam dan
menerjemahkan ke praktik profesional (Loewenson dan Hunt, 2011).

11
Satu tempat penampungan yang menyediakan layanan hari. Tempat
penampungan hari ini memiliki banyak manfaat dari pengalaman belajar
layanan dengan para tunawisma yang memungkinkan para mitra komunitas
yang datang untuk menyediakan berbagai layanan bagi para penyok, suatu
kesempatan untuk membangun kepekaan dan kesadaran klien sepanjang
minggu. Seorang dokter telah menawarkan kebutuhan perawatan kesehatan
bagi para tunawisma (Lashley, 2007).
layanan selama beberapa jam sebulan sekali di shelter siang hari untuk
approxi- Hubungan antara pembelajaran layanan atau praktik klinis selama 5
tahun. Selama pengalaman klinis siswa, dokter mengalami dengan populasi
tunawisma dan sikap keperawatan tidak hadir yang memberikan kesempatan
bagi siswa untuk mengisi siswa terhadap populasi ini terwakili dengan baik
dalam literatur. kesenjangan dalam layanan perawatan kesehatan dalam
lingkup praktik keperawatan. Beberapa penelitian mengukur persepsi dan
sikap siswa keperawatan Setelah bertemu dengan direktur penampungan hari
nirlaba, itu tentang orang miskin dan tunawisma, dan menemukan bahwa
siswa yang berpartisipasi menetapkan bahwa siswa dapat memenuhi hasil
kursus untuk di klinik Pengalaman dengan populasi ini melaporkan
peningkatan dalam pengalaman klinis masyarakat. Selain itu, pengalaman
pada empati dan perubahan dalam sikap (Boylston dan O'Rourke, 2013
Schoon et al., 2012; Kooken et al., 2014 Bowker dkk.,
Mengukur percakapan dengan klien, memahami tantangan dasar 2013,
Loewenson dan Hunt, 2011, Hunt, 2007; Pennington dkk., 2010; kehidupan
sehari-hari mereka, dan membantu menjembatani gap antara Lashley, 2007).
Kooken dkk. (2014) menemukan siswa menunjukkan populasi tunawisma
dan kesehatan. Tempat penampungan hari memberikan perubahan positif
dalam sikap terhadap pasien yang sakit jiwa, tunawisma sebagai sekolah
dengan ruang untuk bertemu pasien dan berkolaborasi dengan hasil hari dari
terlibat dalam pengalaman klinis di penampungan untuktunawisma staf
penampunganuntuk menilai kebutuhan populasi ini. laki-laki. Pengalaman
klinis di kamp tunawisma memungkinkan keperawatan Sebagai organisasi
nirlaba, tempat penampungan hari mencari keterlibatan dan siswa untuk

12
mengembangkan empati, menjadi pendukung untuk tunawisma dan dukungan
dari masyarakat. Hubungan dengan universitas besar dalam mencari
perubahan di komunitas lokal mereka (Bowker et al., 2013). Perburuan dekat
dilihat sebagai aset bagi organisasi ini. Universitas (2007) menjelaskan
mahasiswa keperawatan sebagai pengembangan rasa empati, juga mencari
cara untuk terlibat dalam komunitas lokal. Advokasi mitra dan komunikasi
terapeutik pada tingkat yang mereka kirimkan antara tempat penampungan
hari dan universitas positif untuk keduanya tidak sebelum pengalaman
mereka dengan populasi tunawisma. organisasi. Pengaturan ini diformalkan
dengan penyelesaian Loewenson dan Hunt (2011) menemukan perubahan
positif yang signifikan dalam perjanjian yang sesuai didokumentasikan dan
ditandatangani. Kemitraan adalah sikap siswa keperawatan niora mengenai
populasi tunawisma yang dibentuk untuk menerapkan kesempatan
pembelajaran layanan yang diberikan setelah partisipasi dalam pengalaman
klinis 3 bulan. manfaat untuk pendidikan keperawatan dan masyarakat adalah
Para siswa juga memberikan pemeriksaan tekanan darah, pendidikan, dan
informasi rujukan pada dua makanan komunitas di gereja-gereja lokal. Untuk
keperluan penelitian, kuesioner dikembangkan. Yang disajikan selama waktu
klinis. Sementara makanan terbuka untuk semua dalam kuesioner hard copy
terdiri dari pertanyaan terbuka col-community, mayoritas orang yang
menghadiri makanan ini homepresentasi data kualitatif dari tanggapan siswa.
Kuesioner kurang atau makanan tidak aman. Para siswa ditugaskan
berpasangan untuk menghadiri dibagikan pada awal dan akhir semester. Para
siswa makan siang 3 sampai 4 kali di seluruh kursus klinis. diminta untuk
merefleksikan bagaimana pengalaman ini dengan populasi tunawisma akan
mempengaruhi praktik masa depan mereka sebagai perawat dan jika persepsi
mereka 3. Hasil dan diskusi tentang orang yang mengalami tunawisma telah
berubah sebagai akibat dari penempatan klinis ini. Pertanyaan-pertanyaan
termasuk, “Bagaimana menurut Anda perawat Tujuan dari proyek ini adalah
untuk memeriksa sikap dan persepsi dapat berdampak pada kesehatan
populasi tunawisma?” Dan “Apakah Anda menyusui siswa terhadap populasi
tunawisma sebelum dan sesudah berpikir tentang bekerja dengan populasi

13
tunawisma setelahkelulusan partisipasidalam pengalaman praktikum klinis
pembelajaran layanan. Sebelum ini klinis? ”Para siswa ditanya tentangmereka
sebelumnya tujuan keseluruhanadalah untuk mengurangi dan meminimalkan
potensi untuk pertemuan negatif dengan orang-orang yang mengalami
tunawisma dan sikap sikap mereka dan tidak hormat dipamerkan terhadap
para tunawisma oleh orang-orang di sekitar orang-orang ini. Kuesioner juga
termasuk pertanyaan tentang perawatan kesehatan (perawat) melalui
perubahan dalam sikap dan keyakinan. Masalah kesehatan yang terbuka yang
mungkin dihadapi oleh tunawisma dan peran yang mengakhiri tanggapan
siswa pada kuesioner dianalisis menggunakan perawat yang dapat menangani
masalah ini. Hanya ada satu pertanyaan analisis komparatif konstan umum
dalam desain kualitatif. Ini berubah antarapertanyaan pra-pengalaman dan
pasca-pengalaman yangpertanyaan prosesmelibatkan membandingkan
jawaban oleh peserta yang berbeda untuk daftar.
Kuesioner pra berisi pertanyaan "Apa yang Anda kenali tema umum yang
muncul dari pengalaman bersama (Thorne, berharap untuk belajar?"
Kuesioner posting termasuk "Apa yang Anda 2000). Kuesioner
dikembangkan berdasarkan refleksi pra-belajar? ”Kuesioner diberikan selama
orientasi kelompok klinis sebelumnya dalam pengaturan penelitian sebelum
awal sesi sebelum pengalaman klinis denganpopulasi tunawisma
pengumpulan datadan informasi yang diperoleh dalam literatur dari studi dan
pada hari terakhir siswa dari pengalaman praktikum klinis. dilakukan di kota-
kota lain. Ini adalah pertama kalinya alat asli ini digunakan sehingga
keandalan dan validitas tidak tersedia yang terbuka. Prosedur metodologi
sponsor digunakan untuk memungkinkan siswa untuk merefleksikan
pengalaman mereka dan untuk memungkinkan tema muncul sendiri tanpa
Delapan siswa (7 perempuan; 1 laki-laki) yang terdaftar dalam komunitas
bimbingandari penulis. Tema-tema utama yang muncul adalah kursus
keperawatan dan ditugaskan untuk satu kelompok klinis. Para siswa
mengurangi ketakutan akan populasi tunawisma, peningkatan empati, berada
di situs klinis selama dua 8 jam per minggu. Para siswa dirotasi dan
kesadaran akan dampak yang ditimbulkan oleh perawat dapat dilakukan

14
dengan menjadi pendukung untuk berbagai bidang di penampungan hari
tunawisma: ruang berkumpul, orang yang mengalami tunawisma. klinik, dan
kantor manajer kasus untuk tujuan membayangi. Dua jawaban terbuka untuk
pertanyaan-pertanyaan sebelum mantan siswa klinis ditugaskan ke tiga
bidang ini setiap hari. Para siswa perience dengan populasi tunawisma
menunjukkan bahwa siswa telah diawasi oleh instruktur klinis ketika
ditugaskan ke klinik.
Jika tersedak sedikit dengan populasi ini. Beberapa siswa telah
berpartisipasi para siswa di ruang pertemuan atau dengan manajer kasus,
mereka dalam melayani makanan atau membantu dengan drive makanan di
kota asal mereka, tetapi diawasi oleh staf penampungan hari itu. Instruktur
klinis tidak satu pun dari siswa yang dilaporkan terlibat dalam konferensi
satu-satu di situs jika keadaan darurat muncul di area berbeda dari percakapan
dengan orang-orang tunawisma. Para siswa memperagakan tempat
perlindungan dasar. Untuk alasan privasi, hanya satu klien pada satu waktu
yang terlihat dalam pengetahuan tentang masalah kesehatan yang dihadapi
oleh populasi tunawisma di klinik. survei pra-klinis mereka. Siswa # 6
berkata, "Masalah kebersihan, sedikit gigi Ruang berkumpul adalah tempat
pasien berkumpul terutama selama atau kunjungan dokter, beberapa cara
untuk menerima obat." Siswa # 2 terdaftar hari itu. Ini memberikan
kesempatan bagi siswa untuk mengamati malnutrisi dan salah urus umum
penyakit kronis sebagai perilaku klien, membantu meringankanberlebihan
kekhawatiran kesehatan yanguntuk orang yang mengalami tunawisma. Empat
dari delapan obat, melayani makanan, dan berinteraksi dengan klien dengan
cara biasa. siswa yang terlibat dalam pengalaman berpikir tentang menjadi
sukarelawan Klinik ini mengacu pada ruangan di tempat penampungan hari
yang telah di isi sebelum rotasi klinis ini, tetapi mereka tidak menindaklanjuti
dengan dengan peralatan penilaian dasar, persediaan perawatan luka, dan file
pemikiran ini .
Siswa menyatakan mereka berharap untuk bekerja dalam informasi pasien
yang berisi. Klien datang ke klinik ketika Departemen Gawat Darurat setelah
lulus, jadi, “Saya tahu saya akan bekerja, mereka memiliki kebutuhan khusus

15
untuk para siswa. Klinik yang ditawarkan dengan populasi tunawisma.
”Dalam pengalaman pra-klinis, para siswa mendapat kesempatan untuk
melakukan penilaian yang terfokus, memberikan ceramah, para siswa berpikir
perawat dapat membantu populasi ini dengan perawatan luka, dan membuat
rujukan ke klinik berbasis masyarakat, jika menyetujui pendidikan, rujukan,
dan beberapa penilaian kesehatan.
4. Issue dan Trend issue dalam Pendidikan Keperawatan Komunitas
a. Jenjang Pendidikan
Menurut jurnal yang berjudul Neighbourhood as community : A
qualitative descriptive study of nurding students expriences of community
healt nursing pendidikan keperawatan sarjana adalah elemen atau proses
penting dari perkembangan siswa atau anak karena merupakan
pengembangan kopetensi dan mengembangkan ilmu – ilmu yang berada di
masyarakat contohnya budaya, , keadilan sosial, kemitraan, dan
pengembangan masyarakat. ( Yolanda Babenko, 2016).
Selanjutnya, interaksi dan partisipasi siswa atau anak dalam kesehatan
lingkungan telah menghasilkan hasil yang positif bagi anggota masyarakat
yang dilayani Meskipun pendidikan diakui sebagai aspek penting dalam
mempersiapkan baccalaureate (BScN).
Pendidikan keperawatan adalah proses pendidikan yang diselenggarakan
di Perguruan Tinggi untuk menghasilkan berbagai lulusan Ahli Madya
Keperawatan, Ners, Magister Keperawatan, Ners Spesialis, dan Doktor
Keperawatan. Jenis pendidikan perawat adalah pendidikan akademik, vokasi,
dan profesi. Pendidikan akademik merupakan pendidikan yang diarahkan
terutama pada penguasaan ilmu pengetahuan. Pendidikan vokasi merupakan
pendidikan yang diarahkan terutama pada kesiapan penerapan keahlian
tertentu sebagai perawat. Pendidikan profesi merupakan pendidikan yang
diarahkan untuk mencapai kompetensi profesi keperawatan. Pendidikan
keperawatan di indonesia mengacu kepada UU No. 20 tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional. Jenis pendidikan keperawatan di Indonesia
mencakup:

16
1. Pendidikan Vokasi
yaitu pendidikan yang diarahkan terutama pada kesiapan penerapan dan
penguasaan keahlian keperawatan tertentu sebagai perawat vokasi. Jenjang
pedidikan vokasi adalah pendidikan diploma D3 keperawatan.
2. Pendidikan Akademik
yaitu pendidikan yang diarahkan terutama pada penguasaan dan
pengembangan disiplin ilmu keperawatan. Jenjang pendidikan adalah
pendidikan S1 , pendidikan Magister dan pendidikan Doktor keperawatan.
3. Pendidikan Profesi
yaitu pendidikan yang diarahkan untuk mampu memecahkan masalah
sains dan teknologi dalam bidang ilmu keperawatan untuk mampu
mengambil keputusan strategis dengan akuntabilitas dan tanggung jawab
penuh atas tindakan keperawatan dibawah tanggung jawabnya. Jenjang
pendidikan adalah profesi dan spesialis Pendidikan Spesialis Pendidikan
spesialis tersebut di atas akan berkembang sesuai dengan kebutuhan
masyarakat akan pelayanan keperawatan dan kebutuhan pengembangan
ilm
b. Kewenangan
1. Vokasi
Jenjang pendidikan Diploma III keperawatan memangku peran dan fungsi
sebagai tenaga perawat vokasi yang proses pendidikanya menggunakan
kurikulum terintegrasi. Sampai dengan saat ini jenis tenaga vokasi masih
dibutuhkan baik dalam negeri maupun diluar negeri. Oleh karena dalam
beberapa dekade kedepan pendidikan jenjang Diploma III masih tetap
eksis.
2. Akademik merupakan suatu institusi pendidikan tinggi, penelitian, atau
keanggotaan kehormatan
3. Jenjang pendidikan Magister Keperawatan juga akan tetap dikembangkan
misalnya bidang Ilmu Keperawatan Dasar dan Dasar Keperawatan,
Kepemimpinan dan Manajemen Keperawatan.

17
4. Jenis pendidikan Akademik pada jenjang Doktor K eperawatan untuk
meningkatkan pengembangan keilmuan keperawatan melalui berbagai
penemuan inovatif dan memiliki tingkat originalitas tinggi serta
meningkatkan budaya meneliti dan menghasilkan IPTEK baru untuk
mendukung peningkatan praktik keperawatan berbasis bukti.
5. Issue dan Trend issue dalam Penelitian Keperawatan Komunitas
Jurnal Penelitian Keperawatan Komunitas pada lansia di Jepang
Pada penelitian ini merupakan Bagian penting dari sistem kesehatan
Jepang adalah profesi keperawatan, dan yang lebih penting adalah
keperawatan kesehatan masyarakat. Konsep perawat kunjungan atau
komunitas dapat ditelusuri kembali ke akhir 1880-an ketika perawat
memberikan pelayanan keperawatan mengunjungi, secara sukarela, untuk
ibu, anak-anak dan korban bencana.
Sistem perawat mengunjungi diperluas pada tahun 1960 ketika orang tua
yang menderita penyakit serebral menjadi masalah sosial yang signifikan
di Jepang. Pada 1984, sekitar 8% dari semua rumah sakit Jepang
menyediakan layanan keperawatan komunitas. Pada tahun 1999,
persentasenya telah mencapai hampir setengah dari semua rumah sakit
Jepang. Selain rumah sakit, pada 1980-an dan 1990-an, sistem
keperawatan mengunjungi juga terlibat menjadi klinik umum .
Ada perawat yang berbeda yang berperan dalam keperawatan komunitas
di Jepang. Perawat kesehatan masyarakat (PHN) lebih senior daripada
jenis lain dari perawat masyarakat seperti perawat terdaftar dan
memainkan peran penting dalam promosi kesehatan, pencegahan penyakit
dan pengembangan masyarakat. Mereka juga mengelola program
kesehatan dan berkontribusi pada perumusan kebijakan. PHN mendidik
dan memimpin perawat kesehatan masyarakat, mereka memberikan
panduan pada isu-isu yang kompleks dan sering bertindak sebagai
pengawas untuk kerja yang dilakukan oleh masyarakat yang memerlukan
perawatan kesehatan.Toberegisteredas PHN tingkat tinggi skor masuk
diperlukan untuk memasuki pendidikan keperawatan pra-syarat. Peran
PHN meningkat, ketika asuransi perawatan jangka panjang dan inisiatif

18
diperkenalkan untuk memuat pengeluaran perawatan kesehatan oleh
Pemerintah.
Perawatan lansia di tingkat pedesaan paling efektif ketika perawat
memperhitungkan praktek diet lansia, hubungan dengan tetangga, dan
nilai-nilai dan keyakinan penduduk. Sejumlah pendekatan untuk
penyediaan perawatan peka budaya termasuk menunjukkan minat, dan
menghormati budaya lokal dan praktik pertanian dan mengembangkan
kepercayaan dengan orang tua. Para penulis menggambarkan strategi
PHN yang terlibat dalam dialog dengan lansia tentang modifikasi dalam
kebiasaan bertani dan makan yang menghasilkan perubahan perilaku.
Pada awalnya, PHN mengakui pandangan lansia setempat, tetapi pada
waktunya, dengan mengembangkan kepercayaan dengan mereka, mereka
mulai menantang kebutuhan akan konsumsi berlebihan jenis makanan
tertentu (misalnya jagung dan sushi) yang memiliki kandungan gula yang
tinggi.

Pendekatan PHN lainnya melibatkan perawat yang meningkatkan


kesadaran lansia akan risiko kesehatan dengan menggunakan contoh yang
sudah dikenal termasuk menunjukkan perbedaan rasa antara berbagai
jenis makanan asin dan non-asin untuk mengurangi asupan garam
mereka. Selain itu, PHN berusaha untuk menerima dan memahami
ketidakkonsistenan antara budaya lokal dan praktik yang sehat diterima
dengan baik oleh orang tua. Ini diilustrasikan menggunakan kasus PHN
yang menunjukkan kepada wanita tua bahwa meskipun dia perlu untuk
mengurangi jumlah gula yang diambil dalam gulungan sushi, PHN
memahami bahwa praktek itu berasal dari masa lalu di mana gula telah
memperlakukan khusus. PHN dalam penelitian ditemukan khawatir
tentang over kerja di antara orang tua. Etika kerja yang kuat dari banyak
orang Jepang pedesaan, bersama dengan perasaan bersalah yang melekat
dalam mengabaikan ladang, sering menyebabkan masalah kesehatan.
PHN mendorong para lansia untuk bekerja di pagi hari dan sore hari,
untuk beristirahat secara teratur dan menikmati tahun-tahun berikutnya

19
tanpa perasaan bersalah. PHN berusaha menyesuaikan upaya promosi
kesehatan mereka agar sesuai dengan budaya lokal lansia mereka. Dengan
memahami perilaku, kebutuhan dan tradisi lokal, PHNs telah mampu
menemukan cara inovatif untuk meningkatkan kesehatan dan mencegah
masalah kesehatan .
Jurnal 2 Penelitian Keperawatan Komunitas di Indonesia
Perawat kesehatan komunitas bekerja untuk meningkatkan
kesehatan individu, keluarga, komunitas dan populasi melalui fungsi inti
dari pengkajian, jaminan dan kebijakan
pengembangan (IOM, 2003). Fungsi inti diaplikasikan dalam cara
sistematik dan komprehensif. Proses pengkajian meliputi identifikasi
kepedulian, kekuatan dan harapan populasi dan dipandu dengan metode
epidemiologi. Jaminan diperoleh melalui regulasi, advokasi pada
penyedia layanan kesehatan profesional lain untuk memenuhi kebutuhan
layanan yang dikehendaki populasi, koordinasi pelayanan komunitas atau
ketentuan langsung pelayanan. Srategi asuransi meliputi ketersediaan,
bisa diterima, dapat diakses dan kualitas layanan. Kebijakan ditetapkan
berdasarkan hasil pengkajian, prioritas ditentukan oleh populasi dan
dengan pertimbangan dari subpopulasi dan komunitas pada resiko
terbesar, seperti bukti keefektifan dari berbagai aktivitas atau strategi.
Perawat kesehatan komunitas proaktif dengan menghormati
kecenderungan
pelayanan kesehatan dan sosial, merubah kepedulian, dan aktivitas
legislatif serta kebijakan. Fungsinya sebagai advokat pada populasi yang
mereka layani. Seperti advokasi untuk kesehatan masyarakat dan promosi
kesehatan lingkungan, menciptakan kondisi yang emperbaiki dan
mempertahankan kesehatan populasi dan merupakan peranan kunci dari
perawat kesehatan komunitas. Perawat kesehatan komunitas terlibat
dalam penelitian untuk meningkatkan praktik perawat kesehatan
komunitas dan strategi serta intervensi khusus. Perawat harus memiliki
tanggung jawab secara aktif dalam meningkatkan ilmu berbasis bukti
yang profesional.

20
Menurut Depkes (2006) Pelayanan keperawatan kesehatan
komunitas dapat diberikan secara langsung pada semua tatanan pelayanan
kesehatan , yaitu :
1. Di dalam unit pelayanan kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, dll)
yang mempunyai pelayanan rawat jalan dan rawat nginap
2. Di rumah Perawat “home care” memberikan pelayanan secara
langsung pada keluarga di rumah yang menderita penyakit akut
maupun kronis. Peran home care dapat meningkatkan fungsi keluarga
dalam merawat anggota keluarga yang mempunyai resiko tinggi
masalah kesehatan.
3. Di sekolah Perawat sekolah dapat melakukan perawatan sesaat
(day care) diberbagai institusi pendidikan (TK, SD, SMP, SMA, dan
Perguruan tinggi, guru dan karyawan). Perawat sekolah melaksanakan
program screening kesehatan, mempertahankan kesehatan, dan
pendidikan kesehatan
4. Di tempat kerja/industry Perawat dapat melakukan kegiatan
perawatan langsung dengan kasus kesakitan atau kecelakaan minimal
di tempat kerja atau kantor, home industri/ industri, pabrik dll.
Melakukan pendidikan kesehatan untuk keamanan dan keselamatan
kerja, nutrisi seimbang, penurunan stress, olahraga dan penanganan
perokok serta pengawasan makanan.
5. Di barak-barak penampungan Perawat memberikan tindakan
perawatan langsung terhadap kasus akut, penyakit kronis, dan
kecacatan fisik ganda, dan mental.
6. Dalam kegiatan Puskesmas keliling Pelayanan keperawatan dalam
puskesmas keliling diberikan kepada individu, kelompok masyarakat
di pedesan, kelompok terlantar. Pelayanan keperawatan yang dilakukan
adalah pengobatan sederhana, screening kesehatan, perawatan kasus
penyakit akut dan kronis, pengelolaan dan rujukan kasus penyakit.
7. Di Panti atau kelompok khusus lain, seperti panti asuhan anak,
panti wreda, dan panti Sosial lainya serta rumah tahanan (rutan) atau
lembaga pemasyarakatan (Lapas).

21
8. Pelayanan pada kelompok kelompok resiko tinggi
a. Pelayanan perawatan pada kelompok wanita, anak-anak, lansia
mendapat perlakukan kekerasan
b. Pelayanan keperawatan di pusat pelayanan kesehatan jiwa
c. Pelayanan keperawatan dipusat pelayanan penyalahgunaan obat
d. Pelayanan keperawatan ditempat penampungan kelompok
lansia, gelandangan
Fokus utama kegiatan pelayanan keperawatan kesehatan komunitas
adalah meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keperawatan,
membimbing dan mendidik individu, keluarga, kelompok, masyarakat
untuk menanamkan pengertian, kebiasaan dan perilaku hidup sehat
sehingga mampu memelihara dan meningkatkan derajad kesehatannya.

6. Issue dan Trend dalam Keprofesian Keperawatan Komunitas


Praktik Keperawatan adalah tindakan mandiri perawat
professional (Ners) melalui kerjasama yang bersifat kolaboratif baik
dengan klien maupun tenaga kesehatan yang lain dalam memberikan
asuhan keperawatan yang holistic sesuai dengan wewenang dan tanggung
jawabnya (CHS,2016).
Praktik Keperawatan Profesional adalah tindakan mandiri perawat
professional dengan menggunakan teoritik yang mantap dan kokoh
mencakup ilmu dasar dan ilmu keperawatan sebagai landasan dan
menggunakan proses keperawatan sebagai pendekatan dalam melakukan
asuhan keperawatan (Pokja Kep. CHS,2016).
Asuhan Keperawatan dilaksanakan mengacu pada kaidah
keperawatan sebagai profesi yakni menggunakan pendekatan holistic,
berdasarkan ilmu dan kiat keperawatan, bersifat manusiawi (humanistik),
memenuhi kebutuhan objektif klien untuk mengatasi masalah klien, yang
dilakukan oleh perawat professional (Ners) dengan menggunakan
manajemen dan kepemimpinan keperawatan professional (Creasia, 2016).

22
Layanan keperawatan profesional yang diberikan oleh perawat
yang telah memeperoleh pendidikan keperawatan komunitas atau disiplin
lain yang berkaitan dan bekerja untuk meningkatkan derajat kesehatan
yang berfokus pada masyarakat (IOM, 2013)
Tatanan praktik keperawatan komunitas adalah sebagai berikut:
1. Praktik keperawatan komunitas di institusi pelayanan kesehatan
(Puskesmas)
2. Praktik keperawatan komunitas di luar institusi pelayanan kesehatan
(praktik mandiri perawat)
a. Praktik keperawatan kesehatan di rumah
b. Praktik keperawatan yang dilakukan secara kelompok
c. Praktik keperawatan yang dilakukan secara individu / perorangan
3. Perawat kesehatan komunitas bekerja sama dengan populasi dan berbagai
kelompok meliputi :
a. Anggota dari tim kesehatan masyarakat seperti epidemiologis,
pekerja sosial, nutrisionis dan pendidik kesehatan
b. Organisasi kesehatan pemerintah
c. Penyedia layanan kesehatan
d. Organisasi dan koalisi masyarakat
e. Unit pelayanan komunitas seperti sekolah, lembaga
f. bantuan hukum dan unit gawat darurat

23
BAB III
PENUTUP
1. KESIMPULAN
Kesehatan adalah pelayanan publik yang bersifat mutlak dan erat
kaitannya dengan kesejahteraan masyarakat. Untuk semua pelayanan
yang bersifat mutlak, negara dan aparaturnya berkewajiban untuk
menyediakan layanan yang bermutu dan mudah didapatkan setiap saat.
Salah satu wujud nyata penyediaan layanan publik di bidang kesehatan
adalah adanya Puskesmas. Tujuan utama dari adanya Puskesmas adalah
menyediakan layanan kesehatan yang bermutu namun dengan biaya yang
relatif terjangkau untuk masyarakat, terutama masyarakat dengan kelas
ekonomi menengah ke bawah.
2. SARAN
Demikianlah makalah ini kami buat untuk meningkatkan
pemahaman dan pengetahuan kita tentang asuhan keperawatan pada masa
klimakterium dan manepouse. Kami selaku penulis sadar bahwa makalah
ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, kami mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari para pembaca agar mnakalah
selanjutnya dapat lenih baik.

24
DAFTAR PUSTAKA

Efendi, Ferry & Makhfudli. 2009. Keperawatan kesehatan komunitas: Teori


dan praktik dalam keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Depkes. 2014. Peraturan Mentri kesehatan republik Indonesia nomor 75
tahun 2014 tentang pusat kesehatan masyarakat. Berita Negara republic
Indonesia
Depkes. 2004. Peraturan mentri kesehatan masyarakat republik Indonesia
nomor 128 tahun 2004 tentang kebijakan dasar puskesmas. Berita
Negara republik Indonesia
Barbara Ślusarska.2018. Nursing education in Poland – The past and new
development perspectives.Elsevier
Christina Aggar.2013. Evaluation of a community transition to professional
practice program for graduate registered nurses in Australia. Elsevier
Yi-Ling Lu.2016. Experiences in the workplace community and the influence
of
community experiences on ENP courses for nursing professionals.
Elsevier
Big Ideas.2018. Boundaries between professional nursing and midwifery
academics and scholarly research activities: Transitioning
through communities of practice. Elsevier
Yvonne K. Parry.2018. Assessing levels of student nurse learning in
community based health placement with vulnerable families: Knowledge
development for future clinical practice
Yolanda Babenko-Mould.2016. Neighbourhood as community: A qualitative
descriptive study of nursing students' experiences of community health
nursing
Rhonda S. Smith.2017. Nurse Education Today
Janet Gardner.2018. Changing students’ perceptions of the homeless: A
community service learning experience.Elsevier

25