Anda di halaman 1dari 8

UNIVERSITAS INDONESIA

SURVEI NASIONAL MANAJEMEN RISIKO 2018


CENTER FOR RISK MANAGEMENT STUDIES (CRMS) INDONESIA

RINGKASAN

Ditujukan untuk memenuhi mata kuliah


Manajemen Risiko dan Pengauditan Internal

Disusun oleh:
Aktivani Naza Khoirunnisa (1806162111)
Irfan Nurahmadi Harish (1806250133)
Nabilah Ayu Shabirah (1806162313)
Sang Ayu Putu Thania Parameswari Eka Putri (1806162364)

Program Studi Magister Akuntansi


Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Indonesia
September 2019
STATEMENT OF AUTHORSHIP

Kami yang bertandatangan di bawah ini menyatakan bahwa makalah/tugas terlampir adalah
murni hasil pekerjaan kami sendiri. Tidak ada pekerjaan orang lain yang saya/kami gunakan
tanpa menyebutkan sumbernya.

Materi ini tidak/belum pernah disajikan/digunakan sebagai bahan untuk makalah/tugas pada
mata ajaran lain, kecuali kami menyatakan dengan jelas bahwa kami menggunakannya.

Kami memahami bahwa tugas yang saya/kami kumpulkan ini dapat diperbanyak dan atau
dikomunikasikan untuk tujuan mendeteksi adanya plagiarisme.

Mata Ajaran : Manajemen Risiko dan Pengauditan Internal.


Judul Makalah/Tugas : Ringkasan Survei Nasional Manajemen Risiko 2018.
Hari, Tanggal : Jum’at, 13 September 2019.
Nama Pengajar : Munir Machmud Ali S.E., MBA.

Aktivani Naza Khoirunnisa Irfan Nurahmadi Harish Nabilah Ayu Shabirah Sang Ayu Putuh Thania
NPM 1806162111 NPM 1806250133 NPM 1806162313 Parameswari Eka Putri
NPM 1806162364
PENGANTAR
Pada tahun 2018, Center for Risk Management Studies (CRMS) Indonesia kembali melakukan
survei nasional manajemen risiko yang bertujuan untuk melihat pertumbuhan dari
implementasi manajemen risiko yang diterapkan berdasarkan industri, peran, dan manfaat
dalam perkembangan yang berkesinambungan. Hal tersebut dilatarbelakangi oleh risiko-risiko
yang mungkin akan dihadapi oleh perusahaan, mengingat banyaknya faktor yang dapat
memicunya, seperti disrupsi teknologi informasi, dan situasi politik nasional maupun
internasional, serta ekonomi global. Untuk itu, perusahaan harus dapat menentukan langkah
strategis dan mitigasi untuk mengatasi risiko-risiko tersebut.

Survei tersebut dilaksanakan selama lebih kurang 3 bulan pada pertengahan tahun, dan diikuti
oleh 366 responden dan berasal dari perusahaan dengan jumlah aset yang berbeda-beda dengan
komposisi laki-laki sebesar 75,24% dan 24,6% perempuan. Responden dengan posisi manajer
menengah mendominasi survei ini dengan 30,10%, dan selanjutnya staf dengan 28,70%,
manajer senior dengan 22,70%, serta sisanya 18,50% menduduki posisi sebagai komisaris,
direktur dan anggota komite. Skala perusahaan yang disurvei yang diukur dengan aset > Rp 1
Triliun sebesar 53,80% dan sisanya berada dibawah Rp 1 Triliun. Industri aktivitas keuangan
dan asuransi menjadi responden terbesar dalam survei ini, dan diikuti dengan aktivitas jasa
lainnya serta industri pengolahaan.

Komponen daripada survei ini, adalah sebagai berikut:


1. Sejauh apa perusahaan anda menerapkan manajemen risiko terintegrasi?
2. Kerangka manajemen risiko apa yang digunakan oleh perusahaan anda?
3. Siapa yang memiliki tanggung jawab tertinggi dalam proses manajemen risiko di
perusahaan anda?
4. Risiko terbesar apa yang dihadapi oleh perusahaan Anda saat ini?
5. Keahlian apa yang menurut Anda penting untuk dimiliki oleh penanggung jawab tertinggi
Manajemen Risiko dalam perusahaan?
6. Apa saja yang menurut Anda menjadi manfaat dari adanya proses Manajemen Risiko
dalam perusahaan?
7. Apa saja yang menurut Anda menjadi faktor penentu efektivitas implementasi Manajemen
Risiko dalam perusahaan?
8. Sejauh apa perusahaan Anda mengintegrasikan pelatihan Manajemen Risiko?
ADOPSI MANAJEMEN RISIKO DI INDONESIA
Tingkat Kematangan Penerapan Manajemen Risiko di Indonesia
Tingkat kematangan penerapan manajemen risiko di Indonesia berada pada tingkat baik dan
menengah, serupa dengan hasil survei tahun 2016 dan 2017, namun sebesar 18,03% perusahaan
telah memiliki tingkat penerapan manajemen risiko yang optimal. Dengan kata lain,
perusahaan di Indonesia telah menerapkan prinsip-prinsip, kerangka kerja dan juga proses
manajemen risiko yang disertai dengan sistem pengawasan serta terintegrasi dengan proses
bisnis perusahaan.

Kerangka Manajemen Risiko di Indonesia


Perusahaan-perusahaan di Indonesia menggunakan dua kerangka manajemen risiko, yakni:
ISO 31000 dan COSO ERM. Namun pada praktiknya, kerangka ISO 31000 digunakan oleh
67,5% perusahaan-perusahaan di Indonesia dibandingkan dengan COSO ERM yang hanya
sekitar 15% dan hasil tersebut tidak jauh berbeda sejak tahun 2016.

Perusahaan yang bergerak di industri pengolahan paling mendominasi dalam penerapan ISO
31000 sebagai standar manajemen risiko. Diikuti dengan industri aktivitas jasa lainnya sebesar
68,8%, dan perusahaan-perusahaan dari industri keuangan dan asuransi yang hanya sebesar
57,4%. Secara keseluruhan, ISO 31000 lebih realistis diterapkan apabila dibandingkan dengan
COSO ERM karena terdapat standar pendukung dalam menerapkan manajemen risiko.

PERGESERAN RISIKO DI TAHUN 2018


Pada survei yang dilakukan pada tahun 2017, tiga risiko
terbesar adalah risiko reputasi (43%), risiko kegagalan
perencanaan SDM (39%), ketidakpastian kebijakan
pemerintah (37%). Sedangkan pada tahun 2018, terdapat
pergeseran risiko terbesar yaitu risiko reputasi (44,8%), risiko
perubahan arah perusahaan (44,8%), risiko kerjasama dengan
pihak ketiga (40,7%), ketidakpastian kebijakan pemerintah
(37,4%).
Penyebabnya tingginya risiko reputasi disebabkan oleh
digitalisasi yang berkembang dalam dunia usaha. Digitalisasi
memudahkan masyarakat mengakses informasi mengenai
perusahaan baik informasi positif dan negatif sehingga menjaga
reputasi perusahaan agar tetap positif adalah hal yang krusial.
Digitalisasi juga dapat memaksa perusahaan untuk beradaptasi
dengan perubahan dalam waktu singkat untuk mempertahankan
keunggulan di industri.

Tren Risiko 2018 Berdasarkan Perspektif Industri


Industri keuangan merupakan industri yang paling berkembang
di era digital. Sistem dan teknologi baru seperti sharing
economy, blockchain, cloud-based software, dan artificial
intelligence ke depannya akan menghiasi platform industri
keuangan dan asuransi dalam memudahkan dan
mengoptimalkan aktivitas bisnis mereka. Di satu sisi, kemajuan
teknologi ini juga berimbas pada tingginya kekhawatiran
industri terhadap risiko siber.
Sedangkan mayoritas responden di industri pengolahan dan
aktivitas jasa lainnya memilih Risiko Perubahan Arah
Perusahaan sebagai risiko utama dengan persentase 55%.
Perusahaan yang tanggap terhadap perubahan karena
digitalisasi akan lebih dapat bertahan di kompetisi daripada
perusahaan yang masih mengandalkan model bisnis
konvensional.

AKUNTANBILITAS DAN KAPABILITAS PEMIMPIN RISIKO


Akuntabilitas Tertinggi Manajemen Risiko
Hasil survey tahun 2018 menunjukkan bahwa Direktur atau Chief Executive Officer (CEO)
merupakan pihak yang memiliki tanggung jawab tertinggi dalam penerapan proses Manajemen
Risiko dengan persentase sebesar 71,58%. Hasil ini tidak jauh berbeda dari tahun 2016 dan
2017 dimana posisi tersebut merupakan posisi dengan akuntabilitas tertinggi dalam penerapan
Manajemen Risiko.
Kapabilitas Penting Pemimpin Manajemen Risiko dalam Perusahaan
Hasil survey tahun 2018 menunjukkan bahwa lima keahlian atau kapabilitas yang paling
penting untuk dimiliki oleh penanggung jawab tertinggi atas Manajemen Risiko antara lain:
1. Analisis Strategis (75%)
2. Kemampuan Mengelola Perubahan (65%)
3. Kepemimpinan (65%)
4. Komunikasi (64%)
5. Fokus pada Kepentingan Seluruh Stakeholder (64%)

Keahlian yang Diperlukan Berdasarkan Persepsi Setiap Peran dalam Perusahaan


Masing-masing peran dalam perusahaan memiliki perspektif berbeda-beda terkait keahlian
yang harus dimiliki oleh manajemen puncak dalam penerapan Manajemen Risiko. Berdasarkan
hasil survey tahun 2018, responden dari berbagai posisi secara umum memilih keahlian
Analisis Strategis yang dinilai paling dibutuhkan oleh pemegang akuntabilitas tertinggi
Manajemen Risiko.

MANFAAT DAN FAKTOR PENENTU EFEKTIVITAS MANAJEMEN RISIKO


Manfaat Implementasi Proses Manajemen Risiko
Berdasarkan teori Balance Scorecard yang dirumuskan oleh Robert Kaplan dan David Norton,
dampak dari implementasi Manajemen Risiko terdiri dari:
1. Perspektif Finansial 65% -> Performa Keuangan Secara Keseluruhan
2. Perspektif Internal Bisnis 61% -> Efisiensi Penggunaan Sumber Daya
3. Perspektif Pengembangan 59,6% -> Peningkatan Kinerja Pekerja
4. Perspektif Pelanggan 59,8% -> Peningkatan Kualitas Pelayanan.

Manfaat Implementasi Manajemen Risiko Menurut Perspektif Industri


Manfaat implementasi Manahemen Risiko memberikan hasil yang berbeda di industri berbeda.
Berdasarkan hasil survey, manfaat utama Manajemen Risiko ada pada Performa Keuangan
Secara Keseluruhan (75,5%) untuk Industri Aktivitas Keuangan dan Asuransi. Sementara pada
Industri Pengolahan dan Industri Aktivitas Jasa Lainnya, manfaat implementasi Manajemen
Risiko ada pada Efisiensi Penggunaan Sumber Daya (72,7% dan 77,1%)
Manfaat Inplementasi Manajemen Risiko:
1. Peningkatan kinerja pekerja
2. Peningkatan kepuasan pekerja
3. Efisiensi penggunaan sumber daya
4. Peningkatan efektivitas dan efisiensi rantai pasok (supply chain)
5. Peningkatan kepuasan konsumen
6. Peningkatan kualitas pelayanan
7. Performa keuangan secara keseluruhan
8. Peningkatan pendapatan perusahaan.

Manfaat Terbesar di Setiap Tingkat Maturitas


Survey ini juga menunjukkan perbedaan persepsi responden terkait manfaat dari penerapan
Manajemen Risiko. Responden survey dikelompokkan berdasarkan tingkat maturitas
perusahaan yaitu “sangat lemah”, “lemah”, “menengah”, “baik”, dan “optimal”. Hasil survey
tersebut berupa:
Perusahaan “sangat lemah” -> Peningkatan pada Pelayanan (55,6%)
Perusahaan “lemah” -> Efisiensi Penggunaan Sumber daya (70,8%); Peningkatan Kinerja
Pekerja (70,8%)
Perusahaan “menengah” -> Efisiensi Penggunaan Sumber daya (65,3%)
Perusahaan “ baik” dan “optimal” -> Peningkatan Performa Keuangan secara Keseluruhan
(70,6% dan 66,7%).

Faktor Penentu Efektivitas Implementasi Manajemen Risiko


Kepemimpinan dan Komitmen yang Kuat dari Manajemen Puncak (87%) dipilih oleh
keseluruhan mayoritas responden suvey sebagai faktor penentu efektivitas penerapan
Manajemen Risiko. ISO 31000:2018 juga menyatakan faktor penentu yang sama, mendukung
hasil survey, terutama pada bagian penerapan kerangka kerja Manajemen Risiko. Selain itu,
Adanya Manfaat yang Didapatkan Ketika Mengimplementasikan Manajemen Risiko (55%)
dan Regulasi yang Mengharuskan Mengimplementasikan Manajemen Risiko (47%), juga
merupakan faktor yang tidak kalah penting dalam menerapkan Manajemen Risiko.

Faktor Penentu Manajemen Risiko Berdasarkan Tingkat Maturitas Perusahaan


Faktor penentu yang sama juga didapatkan dari survey berdasarkan Tingkat Maturitas
Perusahaan. Hasil survey menunjukkan, di setiap tingkat maturitas perusahaan menunjukkan
persepsi faktor penentu Manajemen risiko yang seruapa. Kepemimpinan dan Komitmen yang
Kuat dari Manajemen Puncak dipilih oleh lebih dari 70% responden pada setiap tingkat
maturitas, sebagai faktor penentu dalam implementasi Manajemen Risiko yang saling
berpengaruh.

PEMBANGUNAN KAPABILITAS MANAJEMEN RISIKO


Salah satu komponen untuk melihat implementasi Manajemen
Risiko dalam pengembangan kapabilitasnya adalah sejauh
mana pelatihan Manajemen Risiko dilakukan oleh perusahaan.
Berdasarkan hasil survei, terlihat bahwa pelatihan Manajemen
Risiko secara garis besar sudah terintegrasi dengan baik oleh
perusahaan-perusahaan di Indonesia. Hasil survei menyatakan
bahwa pelatihan manajemen risiko sebagai bagian dari budaya
Perusahaan (25%), dijalankan secara insidental (22%),
pelatihan dijadwalkan sesuai kebutuhan (21%), pelatihan
merupakan bagian dari strategi pengembangan SDM (19%),
dan yang tidak memiliki pelatihan mengenai Manajemen
Risiko (13%).
Berdasarkan hasil survei, sebagian besar perusahaan dengan jumlah aset lebih dari 1 triliun
telah menjadikan manajemen risiko sebagai bagian dari budaya perusahaan. Sedangkan
kebanyakan perusahaan dengan aset di bawah 500 juta belum melakukan manajemen risiko.