Anda di halaman 1dari 23

SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

PENATALAKSANAAN HIPO DAN HIPERGLIKEMI


DI RUANG PANDANWANGI
RSUD Dr. SOETOMO SURABAYA

Disusun oleh:
Kelompok 16
Abyan Shafly Nur Firdaus, S.Kep. 131913143090
Riris Medawati, S.Kep. 131913143005
Nyuasthi Genta S, S.Kep. 131913143014
Lely Suryawati, S.Kep. 131913143040
Risniawati, S.Kep. 131913143056
Isnaini Via Zuraiyahya, S.Kep. 131913143076

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)

Topik : Diabetes Melitus


Hari/Tanggal : X
Waktu : 09.00 WIB – 11.00 WIB
Tempat: Ruang Pandanwangi Rumah Sakit Dr. Soetomo
Surabaya
Penyaji : Mahasiswa Kelompok 16 Program Pendidikan
Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas
Airlangga

1. Tujuan
a. Tujuan Instruksional Umum
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang diabetes melitus selama
120 menit, diharapkan sasaran dapat mengetahui, mengerti, dan
memahami tentang penyakit diabetes melitus.
b. Tujuan Instruksional Khusus
Setelah dilakukan penyuluhan kesehatan tentang diabetes melitus,
diharapkan sasaran dapat :
1) Mengetahui apa itu diabetes melitus
2) Mengetahui apa saja jenis dari diabetes melitus
3) Mengetahui penyebab diabetes melitus
4) Mengetahui tanda dan gejala dari diabetes mellitus
5) Mengetahui komplikasi dari diabetes mellitus
6) Mengetahui cara pencegahan dan penanganan diabetes mellitus
7) Mengetahui cara pencegahan dan penanganan dari kondisi terburuk
(hipoglikemia dan hiperglikemia) diabetes mellitus
8) Mengetahui cara pencegahan dan perawatan luka pada diabetes
melitus
2. Sasaran
Sasaran dalam penyuluhan kesehatan ini adalah pasien dan keluarga rawat
inap Pandanwangi RSUD Dr.Soetomo Surabaya.

3. Metode
Metode yang digunakan penyaji dalam penyuluhan kesehatan ini adalah
ceramah dan demonstrasi.
4. Media
Media yang digunakan penyaji dalam penyampaian materi adalah:
a. Flip chart
5. Struktur Organisasi
a. Pembimbing
Dr. Yulis Setiya Dewi, S.Kep.Ns., M.Ng.
b. Moderator
x
c. Penyaji
x
d. Notulen
x
e. Observer
x
6. Job Description
a. Moderator
Membuka acara, mengatur jalannya diskusi, dan menutup acara.
b. Penyaji
Menyampaikan materi dan menjawab pertanyaan dari peserta.
c. Notulen
Menulis, mencatat, dan melaporkan jalannya penyuluhan.
d. Observer
Mengamati jalannya diskusi dan menyampaikan hasil diskusi pada saat
evaluasi.
Setting Tempat

Keterangan:

Penyaji Moderator

Peserta

Pengamat dan
Notulen

7. Materi
Terlampir 1
8. Waktu
Kegiatan penyuluhan ini dilaksanakan pada hari x, dan dimulai pada pukul
09.00WIB –11.00 WIB.
9. Tempat
Kegiatan ini dilaksanakan di ruang rawat inap Pandanwangi RSUD Dr.
Soetomo Surabaya
10. Evaluasi
Kriteria evaluasi :
a. Struktur : Penyuluhan dapat berjalan sesuai dengan waktu yang telah
ditentukan.
b. Proses : 70% dari seluruh peserta hadir pada kegiatan tersebut, 30% dari
peserta mengajukan pertanyaan, 80% dari peserta mengikuti kegiatan dari
awal sampai akhir.
c. Hasil
Peserta dapat :
a. Mengetahui apa itu diabetes melitus
b. Mengetahui apa saja jenis dari diabetes melitus
c. Mengetahui penyebab diabetes melitus
d. Mengetahui tanda dan gejala dari diabetes mellitus
e. Mengetahui komplikasi dari diabetes mellitus
f. Mengetahui cara pencegahan dan penanganan diabetes mellitus
g. Mengetahui cara pencegahan dan penanganan dari kondisi terburuk
(hipoglikemia dan hiperglikemia) diabetes mellitus
h. Mengetahui cara pencegahan dan perawatan luka pada diabetes melitus
11. Kegiatan Penyuluhan

No Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta


1 Pembukaan a. Moderator mengucapkan a. Peserta menjawab
15 menit salam salam
b. Moderator b. Peserta memperhatikan
memperkenalkan diri dengan baik
dan memperkenalkan
annggota kelompok
sesuai job description
c. Moderator menjelaskan
latar belakang
dilakukannya
penyuluhan
d. Sambutan dari
pembimbing akademik
e. Sambutan dari
pembimbing klinik
2 Penyampaian a. Penyaji memaparkan a. Peserta mendengarkan
Materi informasi tentang dan memperhatikan
60 menit diabetes melitus informasi yang
diberikan oleh penyaji
3 Praktik a. Moderator membuka a. Peserta bertanya
30 menit sesi tanya jawab kepada mengenai materi yang
peserta yang ingin disampaikan yang
bertanya dirasa belum cukup
jelas
b. Penyaji menjawab
semua pertanyaan dari
peserta dengan baik
4 Penutup a. Moderator a. Mendengarkan apa
15 menit menyimpulkan hasil yang disampaikan oleh
diskusi moderator
b. Moderator mengucapkan b. Mengucapkan salam
maaf jika ada kesalahan
c. Moderator mengucapkan
salam penutup
12. Lampiran 1
A. Definisi DM
Diabetes Mellitus merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan kadar
glukosa darah melebihi normal. Insulin yang dihasilkan oleh kelenjar
pankreas sangat penting untuk menjaga keseimbangan kadar glukosa darah
yaitu untuk orang normal (non diabetes) waktu puasa antara 60-120 mg/dL
dan dua jam sesudah makan dibawah 140 mg/dL. Bila terjadi gangguan
pada kerja insulin, keseimbangan tersebut akan terganggu sehingga kadar
glukosa darah cenderung naik.
Diabetes Mellitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik dengan
karakteristik hiperglikemia yang terjadi karena kelainan sekresi insulin,
kerja insulin, atau keduaduanya (American Diabetes Association (ADA),
2010)
B. Klasifikasi DM
1) Diabetes mellitus tipe 1
Diabetes tipe ini disebabkan kerusakan sel-sel β pulau Langerhans
yang disebabkan oleh reaksi otoimun. Pada pulau Langerhans sel β
memproduksi insulin, sel α memproduksi glukagon, sedangkan sel-
sel σ memproduksi hormon somastatin. Namun serangan autoimun
secara selektif menghancurkan sel-sel β.
Destruksi otoimun dari sel-sel β pulau Langerhans kelenjar
pankreas mengakibatkan defesiensi sekresi insulin. Defesiensi
insulin inilah yang menyebabkan gangguan metabolisme yang
menyertai DM Tipe 1. Selain defesiensi insulin, fungsi sel-sel α
kelenjar pankreas pada penderita DM tipe 1 juga menjadi tidak
normal. Pada penderita DM tipe 1 ditemukan sekresi glukagon
yang berlebihan oleh sel-sel α pulau Langerhans. Secara normal,
hiperglikemia akan menurunkan sekresi glukagon, tapi hal ini tidak
terjadi pada penderita DM tipe 1, sekresi glukagon akan tetap
tinggi walaupun dalam keadaan hiperglikemia, hal ini
memperparah kondisi hiperglikemia.
2) Diabetes mellitus tipe 2
Diabetes Mellitus tipe 2 terjadi karena sel-sel sasaran insulin gagal
atau tak mampu merespon insulin secara normal, keadaan ini
disebut resistensi insulin. Disamping resistensi insulin, pada
penderita DM tipe 2 dapat juga timbul gangguan gangguan sekresi
insulin dan produksi glukosa hepatik yang berlebihan. Namun
demikian, tidak terjadi pengrusakan sel-sel β langerhans secara
autoimun sebagaimana terjadi pada DM tipe 1. Dengan demikian
defisiensi fungsi insulin pada penderita DM tipe 2 hanya bersifat
relatif, tidak absolut.
3) Diabetes mellitus gestasional
Diabetes mellitus gestasional adalah keadaaan diabetes yang timbul
selama masa kehamilan, dan biasanya berlangsung hanya
sementara. Keadaan ini terjadi karena pembentukan hormon pada
ibu hamil yang menyebabkan resistensi insulin (Tandra, 2008).
C. Etiologi DM
Menurut Smeltzer dan Bare (2001), penyebab dari diabetes melitus adalah:
1) Faktor genetic
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri
tetapi mewarisi suatu presdisposisi atau kecenderungan genetic kearah
terjadinya diabetes tipe I. Kecenderungan genetic ini ditentukan pada
individu yang memililiki tipe antigen HLA (Human Leucocyte
Antigen) tertentu. HLA merupakan kumpulan gen yang bertanggung
jawab atas antigen tranplantasi dan proses imun lainnya.
2) Faktor imunologi
Pada diabetes tipe I terdapat bukti adanya suatu respon
autoimun. Ini merupakan respon abnormal dimana antibody terarah
pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan
tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing.
3) Faktor lingkungan dan gaya hidup
Faktor eksternal yang dapat memicu destruksi sel β pancreas,
sebagai contoh hasil penyelidikan menyatakan bahwa virus atau toksin
tertentu dapat memicu proses autuimun yang dapat menimbulkan
destuksi sel β pankreas. Gaya hidup dengan asupan karbohidrat yang
tinggi serta aktivitas fisik yang inadekuat ketika digabungkan dengan
faktor genetic dapat menyebabkan diabetes tipe 2.
D. Tanda dan gejala DM
Gejala dan tanda-tanda DM dapat digolongkan menjadi gejala akut dan gejala
kronik.
1) Gejala Akut Penyakit Diabetes melitus
Gejala penyakit DM dari satu penderita ke penderita lain bervariasi
bahkan, mungkin tidak menunjukkan gejala apa pun sampai saat tertentu.
a) Pada permulaan gejala yang ditunjukkan meliputi serba banyak
(Poli), yaitu:
 Banyak makan (poliphagia).
 Banyak minum (polidipsia).
 Banyak kencing (poliuria).
b) Bila keadaan tersebut tidak segera diobati, akan timbul gejala:
 Banyak minum.
 Banyak kencing.
 Nafsu makan mulai berkurang atau berat badan turun
dengan cepat (turun 5-10 kg dalam waktu 2-4 minggu).
 Mudah lelah.
 Bila tidak lekas diobati, akan timbul rasa mual, bahkan
penderita akan jatuh koma yang disebut dengan koma
diabetik.
2) Gejala Kronik Diabetes melitus
Gejala kronik yang sering dialami oleh penderita Diabetes melitus adalah
sebagai berikut:
a) Kesemutan.
b) Kulit terasa panas, atau seperti tertusuk-tusuk jarum.
c) Rasa tebal di kulit.
d) Kram.
e) Mudah mengantuk.
f) Mata kabur, biasanya sering ganti kacamata
g) Gatal di sekitar kemaluan terutama wanita.
h) Gigi mudah goyah dan mudah lepas kemampuan seksual
menurun,bahkan impotensi.
i) Para ibu hamil sering mengalami keguguran atau kematian janin
dalam kandungan, atau dengan bayi berat lahir lebih dari 4 kg.
E. Faktor Risiko DM
Faktor-faktor risiko terjadinya Diabetes melitus tipe 2 menurut ADA, 2007
dengan modifikasi terdiri atas
1) Faktor risiko mayor :
a) Riwayat keluarga DM.
b) Obesitas.
c) Kurang aktivitas fisik.
d) Ras/Etnik.
e) Sebelumnya teridentifikasi sebagai IFG.
f) Hipertensi.
g) Tidak terkontrol kolesterol dan HDL.
h) Riwayat DM pada Kehamilan.
i) Sindroma polikistik ovarium.
2) Faktor risiko lainnya :
a) Faktor nutrisi.
b) Konsumsi alkohol.
c) Kebiasaan mendengkur.
d) Faktor stress.
e) Kebiasaan merokok.
f) Jenis kelamin.
g) Lama tidur.
h) Intake zat besi.
i) Konsumsi kopi dan kafein.
j) Paritas.
k) Intake zat besi

F. Komplikasi DM
1) Impoten atau disfungsi ereksi dan kesemutan dikaki penderita, mampu
merusak jaringan saraf dan pembuluh darah baik pada kemaluan maupun
kaki, sehingga dapat menyebabkan impoten dan kesemutan.
2) Kerusakan ginjal.
3) Ganggren (infeksi berat pada kaki hingga membusuk).
4) Kebutaan.
5) Serangan stroke.
6) Serangan jantung koroner.
7) Hipoglikemia
8) Kematian mendadak.(Soeparman, 1987)

G. Pengobatan Diabetes

1) Pengaturan pola makan


Pasien diabetes diharuskan untuk mengatur pola makan dengan
memperbanyak konsumsi buah, sayur, protein dari biji-bijian, serta
makanan rendah kalori dan lemak.

2) Meningkatkan aktivitas
Untuk membantu mengubah gula darah menjadi energi dan meningkatkan
sensitivitas sel terhadap insulin, orang diabetes dianjurkan untuk
berolahraga secara rutin, setidaknya 10-30 menit tiap hari. olahraga yang
dapat dilakukan yaitu senam diabetes selama 150 menit setiap minggunya,
yoga, senam tai chi, jalan kaki, berenang, serta dansa atau menari.

3) Terapi insulin
Pada diabetes tipe 1, pasien akan membutuhkan terapi insulin untuk
mengatur gula darah sehari-hari. Selain itu, beberapa pasien diabetes tipe 2
juga disarankan untuk menjalani terapi insulin untuk mengatur gula darah.
Insulin tambahan tersebut akan diberikan melalui suntikan, bukan dalam
bentuk obat minum.

4) Operasi transplantasi pankreas


Pada kasus diabetes tipe 1 yang berat, dokter dapat merekomendasikan
operasi pencangkokan (transplantasi) pankreas untuk mengganti pankreas
yang mengalami kerusakan. Pasien diabetes tipe 1 yang berhasil menjalani
operasi tersebut tidak lagi memerlukan terapi insulin, namun harus
mengonsumsi obat imunosupresif secara rutin.

5) Obat oral
Pada pasien diabetes tipe 2, dokter akan meresepkan obat-obatan, salah
satunya adalah metformin, obat minum yang berfungsi untuk menurunkan
produksi glukosa dari hati. Selain itu, obat diabetes lain yang bekerja
dengan cara menjaga kadar glukosa dalam darah agar tidak terlalu tinggi
setelah pasien makan, juga dapat diberikan.

6) Kontrol gula darah


Pasien diabetes harus mengontrol gula darahnya secara disiplin melalui
pola makan sehat agar gula darah tidak mengalami kenaikan hingga di atas
normal. Selain mengontrol kadar glukosa, pasien dengan kondisi ini juga
akan diaturkan jadwal untuk menjalani tes HbA1C guna memantau kadar
gula darah selama 2-3 bulan terakhir serta pemeriksaan Gula darah acak,
gula darah puasa dan gula darah 2 jam pp

H. Pencegahan Diabetes
Diabetes tipe 1 tidak dapat dicegah karena pemicunya belum diketahui.
Sedangkan, diabetes tipe 2 dan diabetes gestasional dapat dicegah, yaitu
dengan pola hidup sehat. Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk
mencegah diabetes, di antaranya adalah:
1) Mengatur frekuensi dan menu makanan menjadi lebih sehat.

2) Menjaga berat badan ideal.

3) Rutin berolahraga.

4) Rutin menjalani pengecekan gula darah, setidaknya sekali dalam


setahun

I. Pencegahan Luka DM
Pencegahan kejadian luka DM merupakan upaya yang masih sulit
dilakukan oleh penderita DM, hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya
dukungan dari orang sekitar penderita termasuk keluarga (Citra,2016).
Oleh karena itu perlunya pemberian edukasi kepada penderita DM dan
keluarganya mengenai beberapa upaya yang dapat dilakukan untuk
mencegah terjadinya luka pada penderita DM, antara lain :

1) Pemeriksaan kaki
Pemeriksaan rutin setiap saat pada kaki penderita DM mengenai
tanda-tanda perlukaan seperti gatal, benjolan seperti mata ikan dan
kapalan. Penting untuk melakukan pemeriksaan kaki setiap 3-6 bulan
sekali ke tenaga kesehatan profesional untuk menurunkan risiko
komplikasi pada luka.
2) Pengobatan DM secara rutin
Penderita DM melakukan pemeriksaan rutin terkait penyakitnya di
fasilitas kesehatan yang ada, untuk mengkontrol kadar gula darahnya
serta pengambilan obat-obatan yang harus dikonsumsi setiap harinya.
3) Perawatan kaki
Pada perawatan kaki ini meliputi kuku, telapak kaki, punggung kaki,
mata kaki, dll. beberapa cari yang dapat dilakukan untuk melakukan
perawatan kaki, antara lain :
- Menggunakan pelembap atau lotion untuk mengatasi kulih pecah
atau kering
- Potong kuku jangan terlalu di batas kulit dan kuku, cukup diatasnya
- Cuci kaki secara teratur serta menyeluruh hingga sela-sela jari dan
dikeringkan
- Menggunakan alas kaki yang longgat untuk melancarkan peredaran
darah dan mencegah luka
J. Perawatan Luka DM
Perawatan luka ini dapat dilakukan melalui debridemen, mengurangi
beban tekanan, kontrol infeksi dengan antibiotik yang sesuai dan
penggantian balutan serta tindakan operasi atau bedah untuk mencegah
komplikasi dan mempercepat penyembuhan (Sigh, 2013).

1) Debridemen
Debridemen berfungsi untuk menghilangkan jaringan mati/nekrotik
dan benda asing serta dapat mengoptimalkan lingkungan sekitar luka.
Metode ini dilakukan menggunakan balutan basah- kering,
menggunakan enzim seperti salep.
2) Balutan/Dressing
Tindakan dresing merupakan salah satu komponen penting dalam
mempercepat penyembuhan luka. Prinsipnya adalah menciptakan
suasana keadaan lembab sehingga dapat meminimalisir trauma. Faktor
yang harus diperhatikan dalam memilih dressing yang akan digunakan
yaitu tipe ulkus, ada atau tidaknya eksudat, ada tidaknya infeksi,
kondisi kulit sekitar dan biaya. Beberapa jenis dressing diantara lain :
3) Penatalaksanaan dengan operasi
- Penutupan luka (skin graft) merupakan tindakan memindahkan
sebagian atau selluruhnya tebalnya kulit dari satu tempat ke
tempat lin dan dibutuhkan revaskularisasi untuk menjamin
kelangsungan hidup kulit yang dipindahkan
- Pembedahan revaskularisasi merupakan upaya untuk
menurunkan risiko amputasi pada klien dengan iskemik perifer.
Metode ini meliputi bypass grafiting atau endovascular
technique.
- Amputasi merupakan tindakan yang paling terakhir jika berbagai
macam telah gagal dan tidak menunjukkan perbaikan. Amputasi
ini dilakukan pada penderita DM dengan ulkus kaki 40-60% pada
ekstremitas bawah. Amputasi menyebabkan seseorang menjadi
cacat dan kehilangan kemandiriannya (Wounds International,
2013). Indikasi amputasi meliputi :
a) Iskemik jaringan yang tidak dapat diatasi dengan tindakan
revaskularisasi
b) Infeksi kaki yang mengancam dengan perluasan infeksi yang
tidak terukur
c) Terdapat ulkus yang semakin memburuk sehingga tindakan
pemotonan menjadi lebih baik untuk keselamatan pasien.
K. Hipoglikemi
Glukosa darah (gula darah) yang rendah dikenal sebagai hipoglikemia
(glukosa darah < 60 mg/dl). Penyebab dari hipoglikemia adalah apabila
anda mengkonsumsi obat penurun gula darah golongan sulfonilurea atau
menggunakan insulin dan kemudian melakukan salah satu aktivitas di
bawah ini:
1) Terlambat makan atau tidak makan
2) Makan dengan karbohidrat (roti, nasi, kentang) yang kurang

3) Latihan jasmani yang terlalu keras dan terlalu lama

4) Dalam keadaan sakit

5) Minum alkohol saat perut kosong

6) Dosis obat ataupun insulin terlalu banyak

L. Gejala Hipoglikemi

1) Gelisah dan gemetar


2) Mual

3) Lapar

4) Berkeringat

5) Cemas dan bingung

6) Mata kabur, sulit bicara

7) Lemah, mengantuk, sulit berpikir

8) Penurunan kesadaran, kejang, koma, dan hipotermia (suhu badan


rendah) pada hipoglikemia berat
M. Penanganan Hipoglikemi

Menurut Kedia (2011), pengobatan hipoglikemia tergantung pada


keparahan dari hipoglikemia. Hipoglikemia ringan mudah diobati dengan
asupan karbohidrat seperti minuman yang mengandung glukosa, tablet
glukosa, atau mengkonsumsi makanan ringan. Dalam Setyohadi (2011),
pada minuman yang mengandung glukosa, dapat diberikan larutan glukosa
murni 20- 30 gram, diantaranya :
1) Teh manis dengan 2 sendok makan gula pasir (bukan gula diet)
2) 3-4 buah permen yang terbuat dari gula

3) 3 buah krekers

4) ½ gelas jus buah

Pada hipoglikemia berat membutuhkan bantuan eksternal, antara lain


(Kedia, 2011) :
1) Dekstrosa Untuk pasien yang
tidak mampu menelan glukosa oral karena pingsan, kejang, atau
perubahan status mental, pada keadaan darurat dapat pemberian
dekstrosa dalam air pada konsentrasi 50% adalah dosis biasanya
diberikan kepada orang dewasa, sedangkan konsentrasi 25% biasanya
diberikan kepada anak-anak.
2) Glukagon Sebagai hormon
kontra-regulasi utama terhadap insulin, glukagon adalah pengobatan
pertama yang dapat dilakukan untuk hipoglikemia berat. Tidak seperti
dekstrosa, yang harus diberikan secara intravena dengan perawatan
kesehatan yang berkualitas profesional, glucagon dapat diberikan oleh
subkutan (SC) atau intramuskular (IM) injeksi oleh orang tua atau
pengasuh terlatih. Hal ini dapat mencegah keterlambatan dalam
memulai pengobatan yang dapat dilakukan secara darurat.

Lakukan pemeriksaan glukosa darah bila anda memiliki alat pengukur


glukosa darah
N. Pencegahan Hipoglikemi

Tips Untuk Mengatasi Hipoglikemia


1) Makan sesuai dengan aktivitas yang kita lakukan
2) Konsumsi obat sesuai dosis dan waktu yang telah ditentukan

3) Konsultasikan pada dokter apabila terdapat peningkatan aktivitas


sehari-hari atau bepergian jauh

4) Hindari minum-minuman keras.

5) Pantau kadar gula secara berkala.

6) Kenali gejala-gejala hipoglikemai yang muncul.

7) Selalu siapkan makanan atau obat-obatan Pereda gejala dimana pun


anda berada.

8) Orang lanjut usia akan lebih mudah mengalami hipoglikemia bila


tidak makan atau bila fungsi hati dan ginjal terganggu. Bila terjadi
hipoglikemia, hentikan sementara pemakaian obat ataupun insulin
anda, dan selanjutnya konsultasikan ke dokter anda.

O. Hiperglikemi

Jika Anda menderita diabetes dan memiliki tanda gula darah yang
tinggi, pemeriksaan dan uji gula darah perlu dilakukan. Selain pengobatan
medis atau obat, Anda juga perlu memperhatikan beberapa hal berikut
untuk mengurangi dampak hiperglikemia bagi kesehatan.

1) Minum air putih lebih banyak. Hal ini dapat membantu


menghilangkan kadar gula yang berlebihan dalam darah dan keluar
melalui urin serta membantu menghindari dehidrasi

2) Berolahraga. Dengan melakukan aktivitas fisik atau olahraga, tubuh


akan terbantu dalam menurunkan kadar gula darah. Tetapi hal tersebut
juga dapat berlaku sebaliknya, terutama jika dilakukan secara
berlebihan
3) Atur pola makan. Memperhatikan dan mengatur pola makan juga
menjadi salah satu kunci mengatasi peningkatan kadar gula darah.
Batasi asupan karbohidrat dan makanan manis yang Anda konsumsi

P. Pencegahan Hiperglikemi

Untuk mengendalikan kadar gula darah dan menghindari hiperglikemia,


Anda dapat memperhatikan kembali gaya hidup yang Anda jalani. Selain
itu, perhitungan jumlah asupan makanan yang snda konsumsi dan
pemeriksaan tes gula darah serta berolahraga secara teratur.
13. Lampiran 2
DAFTAR PUSTAKA

ADA. 2007. Clinical Practise Recommendation : Report of the Expert Committee


on the Diagnosis and Classifications of Diabetes Mellitus Diabetes Care.
USA : ADA, 2-24.

ADA. 2009. Clinical Practise Recommendation : Report of the Expert Committee


on the Diagnosis and Classifications of Diabetes Mellitus Diabetes Care.
USA : ADA, 2-24.

Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. 2001. Keperawatan Medikal


Bedah 2, Edisi 8. Jakarta:EGC

Tandra, Hans. (2008) Segala Sesuatu Yang Harus Anda Ketahui Tentang Diabetes
Melitus. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

Ditjen Bina Farmasi dan Alkes. (2005). Pharmaceutical Care Untuk Penyakit
Diabetes Mellitus. Jakarta: Departemen Kesehatan RI. Hal. 37- 49.

Direktorat jenderal pencegahan dan pengendalian penyakit Kemekes RI. 2018.


Tips untuk mengatasi Hipoglikemia. Jakarta.

Kedia, nitil. 2011. Treatment Severe Diabetic Hypoglycemia with glucagon: an


Underutilized Therapeutic Appoach. Dove Press Journal.

Setyohadi, Bambang. 2011. Kegawatdaruratan Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat


Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam.

Citra. 2016. Pengaruh Program Edukasi Perawatan Kaki Berbasis Keluarga


terhadap Perilaku Perawatan Kaki pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2.
JKP-Volume 4 Nomor 3 Desember 2016

Singh, S ., Pai., & Yuhhui. Diabetic Foot Ulcer – Diagnosis and management.
Clinical Research on Foot & Ankle 1 : Doi : 10.4172/2329-910X.1000120