Anda di halaman 1dari 34

PROPOSAL

HUBUNGAN PENGETAHUAN DENGAN PENERAPAN


PERILAKU CARING PERAWAT DI RUANG
PERAWATAN PUSKESMAS TIMAMPU
KABUPATEN LUWU TIMUR

Oleh :
RAHMATIA
NIM. 01.2017.041

PROGRAM STUDI STRATA SATU KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
KURNIA JAYA PERSADA PALOPO
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Semua fasilitas kesehatan akan mengupayakan pelayanan kesehatan

yang berkualitas dan hal tersebut merupakan hak setiap pasien. Hal ini

memacu para penyelenggara pelayanan kesehatan termasuk rumah sakit

untuk secara serius berupaya meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan.

Sekarang adalah zaman bahwa semboyan pasien atau konsumen adalah raja,

ini sudah benar-benar harus diwujudkan. Saat ini merupakan masa

keunggulan konsumen termasuk kesehatan harus berorientasi pada kepuasan

pasien atau konsumen. Aspek-aspek kepuasan pasien terdiri dari pelayanan

medis, informasi, makanan, fasilitas akomodasi, lingkungan, pelayanan

keperawatan, dan jadwal visit ke pasien (Gadalean & Cheptea, 2011).

Kepuasan pasien merupakan salah satu indikator yang menunjukkan

pelayanan rumah sakit yang bermutu dan perilaku caring perawat adalah

aspek yang terintegrasi dengan perawat dalam pemberian asuhan keperawatan

(Juwariyah, 2014). Caring merupakan tindakan keperawatan yang

mengedepankan kepedulian perawat terhadap klien. Selain itu, caring menjadi

inti dari asuhan keperawatan (Rahayu & Sulistiawati, 2018). Perilaku Caring

perawat sangat penting dalam memenuhi kepuasan pasien, hal ini menjadi

salah satu indikator kualitas pelayanan di sebuah rumah sakit/puskesmas

(Gurusinga, 2015). Hasil penelitian yang dilakukan oleh Kalsum (2016)

menyatakan bahwa dimensi perilaku caring perawat yang meliputi 5 dimensi


(assurance of human presence, respectful deference, professional knowledge

and skill, positive connectedness dan attentive to other’s experience)

berhubungan signifikan berhubungan dengan kepuasan pasien.

Menurut World Health Organization (WHO) perawat dan bidan

menyumbang hampir 50% dari tenaga kesehatan. Dari 43,5 juta petugas

kesehatan di dunia, diperkirakan bahwa 20,7 juta adalah perawat dan bidan,

namun 50% dari Negara Anggota WHO melaporkan memiliki kurang dari 3

personel keperawatan dan kebidanan per 1000 populasi (sekitar 25%

melaporkan memiliki kurang dari 1 per 1000) (WHO, 2016). Jumlah perawat

yang masih kurang tersebut akan menimbulkan berbagai persepsi bagi

masyarakat sebagai pengguna jasa pelayanan kesehatan baik di rumah sakit

maupun di puskesmas.

Persepsi pasien atau klien terhadap pelayanan kesehatan perlu

diperhatikan oleh pemberi pelayanan kesehatan karena masyarakat yang

menilai baik buruknya pelayanan di rumah sakit/puskesmas. Salah satu

umpan balik yang dapat diterima oleh perawat adalah penilaian pasien

terhadap perilaku caring yang dilakukan oleh perawat (Juwariyah, 2014).

Perilaku caring yang baik dapat dipengaruhi oleh pengetahuan dan sikap

perawat yang baik tentang caring. Perawat yang memiliki pengetahuan yang

baik menjadikan perilaku caring perawat menjadi baik pula (Rahayu &

Sulistiawati, 2018).

Pengetahuan adalah hasil tahu terhadap pengalaman, pengamatan dan

pembelajaran seseorang terhadap sesuatu. Pengetahuan merupakan hal yang

mendasari perawat dalam mengaplikasikan perilaku caring. Semakin tinggi


pengetahuan perawat terhadap caring maka harapannya perawat akan

semakin tahu sikap yang seperti apa yang bisa menunjukkan dirinya untuk

berperilaku caring terhadap klien (Rahayu & Sulistiawati, 2018). Hasil

penelitain yang dilakukan oleh Ramadhan (2017) yang menyataan bahwa ada

hubungan pengetahuan dan sikap caring dengan perilaku caring perawat.

Hasil observasi yang dilakukan peneliti di Puskesmas Timampu

mengenai perilaku caring perawat menunjukkan masih kurang maksimal.

Hasil observasi didapatkan perawat masih lebih banyak berfokus pada

penyembuhan penyakit pasien, sedangkan kebutuhan psikologis dan spiritual

pasien masih belum menjadi perhatian. Selain itu, hasil observasi juga

menemukan sikap perawat yang kurang ramah dengan pasien dan keluarga

pasien serta perawat yang kurang cepat dalam memberikan pelayanan

terhadap pasien. Hasil wawancara dengan 5 orang perawat sebanyak 3

perawat mampu mengetahui dan memahami caring, sedangkan 2 perawat

belum mampu mengetahui caring. Berdasarkan hal tersebut diatas, maka

peneliti tertarik melakukan penelitain tentang hubungan pengetahuan dengan

penerapan perilaku caring perawat di ruang Perawatan puskesmas Timampu

Kabupaten Luwu Timur.

B. Rumusan Masalah

Adapun rumusan maslaah dalam penelitian ini adalah apakah ada

hubungan pengetahuan dengan penerapan perilaku caring perawat di ruang

Perawatan puskesmas Timampu Kabupaten Luwu Timur?.


C. Tujuan Penelitian

1. Tujuan Umum

Menganalisa hubungan pengetahuan dengan penerapan perilaku caring

perawat di ruang Perawatan puskesmas Timampu Kabupaten Luwu

Timur.

2. Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi pengetahuan perawat tentang caring di ruang

Perawatan puskesmas Timampu Kabupaten Luwu Timur

b. Mengidentifikasi penerapan perilaku caring perawat di ruang

Perawatan puskesmas Timampu Kabupaten Luwu Timur

c. Menganalisa hubungan pengetahuan dengan penerapan perilaku

caring perawat di ruang Perawatan puskesmas Timampu Kabupaten

Luwu Timur.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi masyarakat

Menjadi salah satu tempat menyalurkan aspirasi maupun kritik terkait

penerapan caring perawat dan pelayanan mutu keperawatan.

2. Bagi Puskesmas dan perawat

Menjadi bahan masukan bagi puskesmas untuk menilai penerapan caring

perawat demi pencapaian mutu pelayanan yang maksimal.

Menjadi bahan masukan bagi bidang keperawatan untuk menyusun

program pengembangan dalam meningkatkan perilaku caring perawat.

3. Bagi pendidikan
Menjadi bahan masukan pada pendidikan keperawatan untuk

meningkatkan pembelajaran mengenai perilaku caring pada pasien untuk

menunjang keberhasilan kesembuhan pasien.

4. Bagi peneliti selanjutnya

Hasil penelitian dapat menjadi dasar untuk pengembangan penelitian

tentang perilaku caring perawat dengan menggunakan pendekatan

metode yang berbeda.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Tinjauan umum tentang Caring

1. Pengertian

Caring adalah hubungan antara individu satu dengan individu

yang lain, yang saling mempengaruhi dan saling membantu dengan

adanya rasa peduli, hormat dan menghargai orang lain (Sulisno & Ulfa,

2015).

Konsep caring adalah proses interpersonal spesifik konten yang

ditandai dengan pengetahuan profesional, keterampilan, kematangan

pribadi, dan sensitivitas antar pribadi perawat, yang menghasilkan

perlindungan, dukungan emosional, dan pertemuan kebutuhan bio-psiko-

sosial pasien (Lenka Drahošová, 2016).

Caring mempengaruhi cara berpikir seseorang, perasaan dan

perbuatan seseorang. Caring juga mempelajari berbagai macam philosofi

dan etis perspektif. Caring adalah sentral untuk praktik keperawatan

karena caring merupakan suatu cara pendekatan yang dinamis, dimana

perawat bekerja untuk lebih meningkatkan kepeduliannya kepada klien

(Sartika & Nanda, 2011).

Pakar keperawatn Watson mendefinisikan caring sebagai “moral

ideal keperawatan yaitu perlindungan, peningkatan, dan pelestarian

manusia martabat. Caring pada sesama manusia melibatkan nilai-nilai,

kemauan, komitmen untuk peduli, pengetahuan, tindakan peduli, dan


konsekuensi. Semua kepedulian manusia terkait dengan respon manusia

antar subyektif terhadap penyakit-kesehatan; interaksi lingkungan-

pribadi; pengetahuan tentang proses perawatan perawat; pengetahuan

diri, pengetahuan seseorang keterbatasan daya dan transaksi” (Blasdell,

2017).

2. Asumsi Caring

Asumsi tentang perawatan manusia yang disampaikan oleh

Madeleine Leininger sebagai berikut:

a. Kepedulian manusia adalah fenomena universal, tetapi ekspresi,

proses dan pola bervariasi di antara budaya.

b. Setiap situasi asuhan keperawatan memiliki perilaku caring

transkultural, kebutuhan dan implikasi.

c. Tindakan dan proses caring sangat penting untuk perkembangan,

pertumbuhan dan kelangsungan hidup manusia.

d. Caring harus dianggap esensi dan menyatukan intelektual dan

dimensi praktik keperawatan profesional.

e. Caring memiliki biofisik, psikologis, budaya, sosial dan dimensi

lingkungan yang dapat dipelajari dan dipraktikkan untuk

memberikan perawatan holistik kepada orang-orang.

f. Perilaku, bentuk, dan proses kepedulian transkultural belum

diverifikasi dari beragam budaya;

g. Untuk memberikan asuhan keperawatan terapeutik, perawat harus

memiliki pengetahuan tentang nilai-nilai kepedulian, kepercayaan

dan praktik klien.


h. Perilaku dan fungsi kepedulian bervariasi dengan struktur sosial fitur

budaya yang dirancang.

i. Identifikasi masyarakat secara universal dan non-universal akan

perilaku, kepercayaan, dan praktik caring profesional akan terjadi

untuk memajukan keperawatan.

j. Terdapat perbedaan hasil antara esensi dan pengamatan dengan

perilaku dan proses pengobatan dari caring.

k. Tidak ada penyembuhan tanpa perawatan tetapi mungkin ada

perawatan tanpa pengobatan.

3. Bentuk perilaku caring perawat

a. Tersenyum.

b. Membuat kontak mata.

c. Menyamut dan memanggil pasien dengan namanya.

d. Duduk di kursi di sebelah pasien saat berbicara.

e. Mendengarkan dengan penuh perhatian tanpa mengganggu.

f. Melaksanakan permintaan.

g. Menanyakan kebutuhan pasien.

h. Menjawab pertanyaan (College, 2018)

B. Tinjauan umum tentang Perawat

1. Pengertian

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No 38 Tahun 2014

tentang keperawatan menjabarkan defenisi Perawat adalah seseorang

yang telah lulus pendidikan tinggi Keperawatan, baik di dalam maupun

di luar negeri yang diakui oleh Pemerintah sesuai dengan ketentuan


Peraturan Perundang-undangan. Keperawatan adalah kegiatan pemberian

asuhan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik

dalam keadaan sakit maupun sehat. Pelayanan Keperawatan adalah suatu

bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari

pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat Keperawatan

ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok, atau masyarakat, baik

sehat maupun sakit.

2. Jenis perawat

Dalam Undang-Undang Republik Indonesia No 38 Tahun 2014

terdapat 2 jenis perawat yaitu:

a. Perawat profesi yaitu ners dan ners spesialis

b. Perawat vokasi

3. Tugas dan wewenang perawat

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No 38 Tahun 2014,

dalam menyelenggarakan Praktik Keperawatan, Perawat bertugas

sebagai:

a. Pemberi Asuhan Keperawatan;

b. Penyuluh dan konselor bagi Klien;

c. Pengelola Pelayanan Keperawatan;

d. Peneliti Keperawatan;

e. Pelaksana tugas berdasarkan pelimpahan wewenang; dan/atau

f. Pelaksana tugas dalam keadaan keterbatasan tertentu.

Dalam menjalankan tugas sebagai pemberi Asuhan Keperawatan

di bidang upaya kesehatan perorangan, Perawat berwenang:


a. Melakukan pengkajian Keperawatan secara holistik;

b. Menetapkan diagnosis Keperawatan;

c. Merencanakan tindakan Keperawatan;

d. Melaksanakan tindakan Keperawatan;

e. mengevaluasi hasil tindakan Keperawatan;

f. melakukan rujukan;

g. Memberikan tindakan pada keadaan gawat darurat sesuai dengan

kompetensi;

h. Memberikan konsultasi Keperawatan dan berkolaborasi dengan

dokter;

i. Melakukan penyuluhan kesehatan dan konseling; dan

j. Melakukan penatalaksanaan pemberian obat kepada Klien sesuai

dengan resep tenaga medis atau obat bebas dan obat bebas terbatas.

Dalam menjalankan tugas sebagai pemberi Asuhan Keperawatan

di bidang upaya kesehatan masyarakat, Perawat berwenang:

a. Melakukan pengkajian Keperawatan kesehatan masyarakat di tingkat

keluarga dan kelompok masyarakat;

b. Menetapkan permasalahan Keperawatan kesehatan masyarakat;

c. Membantu penemuan kasus penyakit;

d. Merencanakan tindakan Keperawatan kesehatan masyarakat;

e. Melaksanakan tindakan Keperawatan kesehatan masyarakat;

f. Melakukan rujukan kasus;

g. Mengevaluasi hasil tindakan Keperawatan kesehatan masyarakat;

h. Melakukan pemberdayaan masyarakat;


i. Melaksanakan advokasi dalam perawatan kesehatan masyarakat;

j. Menjalin kemitraan dalam perawatan kesehatan masyarakat;

k. Melakukan penyuluhan kesehatan dan konseling;

l. Mengelola kasus; dan m.melakukan penatalaksanaan Keperawatan

komplementer dan alternatif.

Dalam menjalankan tugas sebagai penyuluh dan konselor bagi

Klien, Perawat berwenang:

a. Melakukan pengkajian Keperawatan secara holistik di tingkat

individu dan keluarga serta di tingkat kelompok masyarakat;

b. Melakukan pemberdayaan masyarakat;

c. Melaksanakan advokasi dalam perawatan kesehatan masyarakat;

d. Menjalin kemitraan dalam perawatan kesehatan masyarakat; dan

e. Melakukan penyuluhan kesehatan dan konseling.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai pengelola Pelayanan

Keperawatan, Perawat berwenang:

a. Melakukan pengkajian dan menetapkan permasalahan;

b. Merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi Pelayanan

Keperawatan; dan

c. Mengelola kasus.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai peneliti Keperawatan,

Perawat berwenang:

a. Melakukan penelitian sesuai dengan standar dan etika;

b. Menggunakan sumber daya pada Fasilitas Pelayanan Kesehatan atas

izin pimpinan; dan


c. Menggunakan pasien sebagai subjek penelitian sesuai dengan etika

profesi dan ketentuan peraturan perundang-undangan

4. Hak dan Kewajiban Perawat

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No 38 Tahun 2014,

perawat dalam melaksanakan Praktik Keperawatan berhak:

a. Memperoleh pelindungan hukum sepanjang melaksanakan tugas

sesuai dengan standar pelayanan, standar profesi, standar prosedur

operasional, dan ketentuan Peraturan Perundangundangan;

b. Memperoleh informasi yang benar, jelas, dan jujur dari Klien

dan/atau keluarganya.

c. Menerima imbalan jasa atas Pelayanan Keperawatan yang telah

diberikan;

d. Menolak keinginan Klien atau pihak lain yang bertentangan dengan

kode etik, standar pelayanan, standar profesi, standar prosedur

operasional, atau ketentuan Peraturan Perundang-undangan; dan

e. Memperoleh fasilitas kerja sesuai dengan standar.

Perawat dalam melaksanakan Praktik Keperawatan berkewajiban:

a. Melengkapi sarana dan prasarana Pelayanan Keperawatan sesuai

dengan standar Pelayanan Keperawatan dan ketentuan Peraturan

Perundangundangan;

b. Memberikan Pelayanan Keperawatan sesuai dengan kode etik,

standar Pelayanan Keperawatan, standar profesi, standar prosedur

operasional, dan ketentuan Peraturan Perundang-undangan;


c. Merujuk Klien yang tidak dapat ditangani kepada Perawat atau

tenaga kesehatan lain yang lebih tepat sesuai dengan lingkup dan

tingkat kompetensinya;

d. Mendokumentasikan Asuhan Keperawatan sesuai dengan standar;

e. Memberikan informasi yang lengkap, jujur, benar, jelas, dan mudah

dimengerti mengenai tindakan Keperawatan kepada Klien dan/atau

keluarganya sesuai dengan batas kewenangannya;

f. Melaksanakan tindakan pelimpahan wewenang dari tenaga

kesehatan lain yang sesuai dengan kompetensi Perawat; dan

g. Melaksanakan penugasan khusus yang ditetapkan oleh Pemerintah.

5. Hak dan Kewajiban Klien

Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No 38 Tahun 2014,

dalam Praktik Keperawatan, Klien berhak:

a. Mendapatkan informasi secara, benar, jelas, dan jujur tentang

tindakan Keperawatan yang akan dilakukan;

b. Meminta pendapat Perawat lain dan/atau tenaga kesehatan lainnya;

c. Mendapatkan Pelayanan Keperawatan sesuai dengan kode etik,

standar Pelayanan Keperawatan, standar profesi, standar prosedur

operasional, dan ketentuan Peraturan Perundang-undangan;

d. Memberi persetujuan atau penolakan tindakan Keperawatan yang

akan diterimanya; dan

e. Memperoleh keterjagaan kerahasiaan kondisi kesehatannya.

C. Tinjauan umum tentang Pengetahuan

1. Pengertian
Pengetahuan dapat pengaruhi oleh pendidikan formal.

Pengetahuan sangat erat hubungannya dengan pendidikan, diharapkan

bahwa dengan pendidikan yang tinggi maka orang tersebut akan semakin

luas pengetahuannya. Akan tetapi perlu ditekankan bukan berarti

seseorang yang berpendidikan rendah mutlak berpengetahuan rendah

pula. Hal ini mengingat bahwa peningkatan pengetahuan tidak mutlak

diperoleh dari pendidikan formal saja. Akan tetapi dapat diperoleh

melalui pendidikan non formal (Wawan, 2011)

Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan ini dapat terjadi setelah

seseorang melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu.

Pengindraan terjadi melalui pancaindra manusia yakni indra penglihatan,

pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagain besar pengetahuan

manusia diperoleh melalui mata dan telinga (Notoatmojo, 2012)

2. Tingkat Pengetahuan

Pengetahuan atau ranah kognitif merupakan domain yang sangat

penting dalam membentuk tindakan seseorang. Pengetahuan yang

tercakup dalam domain kognitif mempunyai 6 tingkatan:

a. Tahu (know). Tahu diartikan sebagai mengingat suatu materi yang

telah dipelajari sebelumnya. Termasuk kedalam pengetahuan tingkat

ini adalah mengingat kembali sesuatu yang spesifik dan seluruh

bahan yang dipelajari atau rangsangan yang diterima. Oleh karena

itu, tahu merupakan tingkat pengetahuan yang paling rendah. Kata

kerja untuk mengukur bahwa orang tahu tentang apa yang dipelajari
antara lain dapat menyebutkan, menguraikan, mendefinisikan,

menyatakan dan sebagainya.

b. Memahami (comprehension). Memahami diartikan sebagai suatu

kemampuan untuk menjelaskan secara benar tentang objek yang

diketahui dan dapat menginterpresentasikan materi tersebut secara

benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau materi harus

dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,

meramalkan dan sebagainya terhadap objek yang dipelajari.

Misalnya dapat menjelaskan mengapa harus makanmakanan yang

bergizi.

c. Aplikasi (application). Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk

menggunakan materi yang telah dipelajari pada situasi atau kondisi

real (sebenarnya). Aplikasi di sini dapat diartikan sebagai

penggunaan hukum-hukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya

dalam konteks atau situasi yang lain. Misalnya dapat menggunakan

rumus statistik dalam perhitungan-perhitungan hasil penelitian, dapat

menggunakan prinsip-prinsip siklus pemecahan masalah (Problem

Solving Cycle) di dalam pemecahan masalah.

d. Analisis (analysis). Analisis adalah suatu kemampuan untuk

menjabarkan materi atau suatu objek ke dalam komponen-

komponen, tetapi masih di dalam satu struktur organisasi, dan masih

ada kaitannya satu sama lain. kemampuan analisis ini dapat dilihat

dari penggunaan kata kerja, seperti dapat menggambarkan (membuat


bagan), membedakan, memisahkan, mengelompokkan dan

sebagainya.

e. Sintesis (synthesis). Sintesis merujuk kepada suatu kemampuan

untuk meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam

suatu bentuk keseluruhan yang baru. Dengan kata lain sintesis adalah

suatu kemampuan untuk menyusun formulasi dari formulasi-

formulasi yang ada. Misalnya, dapat menyusun, dapat

merencanakan, dapat meringkaskan, dapat menyesuaikan. terhadap

suatu teori atau rumusan-rumusan yang telah ada

f. Evaluasi (evaluation). Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan

untuk melakukan justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau

objek. Penilaian-penilaian itu didasarkan pada suatu kriteria

ditentukan sendiri, atau menggunakan kriteria-kriteria yang telah

ada. Misalnya, dapat membandingkan antara anak yang cukup gizi

dengan anak yang kekurangan gizi, dapat menanggapi terjadinya

diare di suatu tempat, dapat menafsirkan sebab-sebab mengapa ibu-

ibu tidak mau ikut Keluarga Berencana (KB) dan sebagainya

(Soekidjo, 2012).

3. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan yaitu:

a. Faktor internal

1) Pendidikan. Pendidikan berarti bimbingan yang diberikan

seseorang terhadap perkembangan orang lain menuju kearah

cita-cita tertentu yang menentukan manusia untuk berbuat dan


mengisi kehidupan untuk mencapai keselamatan dan

kebahagiaan. Pendidikan diperlukan untuk mendapatkan

informasi misalnya hal-hal yang menunjang kesehatan sehingga

dapat meningkatkan kualitas hidup.

2) Pekerjaan. Pekerjaan adalah kegiatan yang harus dilakukan

terutama untuk menunjang kehidupannya dan kehidupan

keluarga. Pekerjaan bukanlah sumber kesenangan, tetapi lebih

banyak merupakan cara mencari nafkah yang membosankan,

berulah dan banyak tantangan. Sedangkan bekerja umumnya

merupakan kegiatan yang menyita waktu.

3) Umur. Tingkat kematangan dan kekuatan seseorang akan lebih

matang dalam berfikir dan bekerja. Dari segi kepercayaan

masyarakat seseorang yang lebih dewasa dipercaya dari orang

yang belum tinggi kedewasaannya. Hal ini akan sebagai dari

pengalaman dan kematangan jiwa (Wawan, 2011).

b. Faktor eksternal

1) Faktor lingkungan. Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang

ada disekitar dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi

perkembangan dan perilaku orang atau kelompok.

2) Sosial budaya. Sistem sosial budaya yang ada pada masyrakat

dapat mempengaruhi dari sikap dalam menerima informasi.

3) Informasi akan memberikan pengaruh pada pengetahuan

seseorang. Meskipun seseorang memiliki pendidikan yang

rendah tetapi jika ia mendapatkan informasi yang baik dari


berbagai media misalnya TV, radio atau surat kabar maka hal itu

akan dapat meningkatkan pengetahuan seseorang (Wawan,

2011).

D. Tinjuan umum tentang hubungan pengetahuan dengan penerapan perilaku

caring perawat
BAB III

KERANGKA KONSEP DAN HIPOTESIS PENELITIAN

A. Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

Penerapan perilaku
Pengetahuan
caring perawat

Keterangan :

: variabel independem (variabel bebas yang diteliti)

: variabel dependen (variabel terikat) yang diteliti

B. Hipotesis

Hipotesis yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah hipotesis

alternatif (Ha) atau terdapat hubungan pengetahuan dengan penerapan

perilaku caring perawat di ruang Perawatan puskesmas Timampu Kabupaten

Luwu Timur.
BAB IV

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Metode penelitian merupakan salah satu cara yang ditempuh untuk

mencapai suatu tujuan, sedangkan tujuan dari penelitian adalah

mengungkapkan, menggambarkan, menyimpulkan hasil pemecahan masalah

melalui cara tertentu sesuai dengan prosedur penelitiannya (Sugiyono, 2014).

Metode penelitian akan mengarahkan penelitian pada tujuan penelitian.

Penelitian yang dilakukan di puskesmas Timampu ini menggunakan metode

penelitian kuantitatif. Metode kuantitatif dapat diartikan sebagai metode

penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme digunakan untuk

meneliti populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan

instrumen penelitian analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan

untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2014). Sedangkan

rancangan penelitian yang digunakan adalah cross sectional karena

pengumpulan data variabel bebas dan variabel terikat dilakukan dalam waktu

bersamaan pada satu waktu (Nursalam, 2011). Penelitian ini akan meneliti

tentang hubungan pengetahuan dengan penerapan perilaku caring perawat di

ruang Perawatan puskesmas Timampu Kabupaten Luwu Timur.

B. Populasi, Sampel dan Sampling

Populasi dalam penelitian ini adalah perawat yang merawat pasien

rawat inap, pasien dewasa yang telah menjalani perawatan di ruang rawat

inap puskesmas selama 2 hari atau lebih. Sampel yang diperoleh dalam
penelitian ini sebanyak 30 orang perawat. Teknik sampling yang digunakan

pada penelitian ini adalah total sampling.

C. Variabel Penelitian

1. Variabel independen yaitu pengetahuan perawat

2. Variabel dependen yaitu perilaku caring perawat

D. Definisi Operasional

Variabel Defenisi Alat ukur dan Hasil ukur Skala ukur


operasional cara ukur
Pengetahuan Pemahaman Kuisioner Baik jika nominal
perawat yang skor jawaban
tentang menggunakan 10-18
perilaku skala guttman Kurang jika
caring yang terdiri skor jawaban
dari 18 0-9
pertanyaan
Perilaku Perilaku Menggunakan Non Caring ordinal
caring perawat skala likert, Behavior jika
perawat ketika terdiri dari 36 skor jawaban
memberikan item responden ≤
asuhan pertanyaan 72.
keperawatan
kepada caring
pasien behavior jika
skor jawaban
responden ≥
73-144

E. Tempat Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan di Puskesmas Timampu Kabupaten

Luwu Timur.

F. Waktu Penelitian

Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Agustus tahun 2019.

G. Instrumen Penelitian
Instrument penelitian yang digunakan dalam penelitian ini

menggunakan instrument penelitian yang telah divalidasi dan digunakan oleh

Ramadhan (2017). Intrumen penelitian terdiri dari 3 bagian kuisioner yaitu:

1. Identitas responden yang terdiri atas inisial responden, usia dan lama

kerja.

2. Kuisioner pengetahuan caring terdiri atas 18 pertanyaan dengan pilihan

jawaban benar dan salah. Kuisioner menggunakan skala guttman.

Masing-masing jawaban akan diberi nilai 1 untuk jawaban yang benar

dan nilai 0 untuk jawaban yang salah.

3. Kuisioner perilaku caring perawat terdiri atas 36 pertanyaan dengan

pilihan jawaban Tidak Pernah (TP), Kadang-Kadang (KK), Sering (SR),

Selalu (SL). Masing masing jawaban akan diberi nilai 0, 1, 2 dan 3 untuk

pertanyaan positif dan nilai 3,2,1 dan 0 untuk pertanyaan negatif.

Kuisioner menggunakan skala likert.

H. Prosedur Pengumpulan Data

Setelah mendapat surat persetujuan penelitian dari ketua program

studi S1 keperawatan, kemudian melanjutkan rencana penelitian ke

kesbangpol kabupaten Luwu Timur. Setelah izin penelitian dikeluarkan

bagian kesbangpol peneliti melakukan koordinasi dengan kepala puskesmas.

Sebelum melakukan penelitian peneliti memberi penjelasan tentang

tujuan, manfaat penelitian dan penelitian tidak berdampak negatif bagi

responden. Selanjutnya peneliti memberikan lembaran pernyataan persetujuan

sebagai bukti kesediaan sebagai responden dalam penelitian. Setelah

responden memahami penjelasan yang diberikan oleh peneliti, maka


selanjutnya dilakukan penanda tanganan lembar persetujuan menjadi

responden (lampiran 2). Selanjutnya responden akan mengisi kuisioner yang

diberikan. Masing-masing responden akan mengisi kuisioner sekitar 10-15

menit.

I. Analisa Data

1. Univariat Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui secara

deskriptif variabel yang diteliti ke dalam tabel distribusi frekuensi untuk

mengetahui karakteristik dan distribusi data.

2. Bivariat Untuk mengetahui hubungan pengetahuan dengan penerapan

perilaku caring perawat. Analisis dilakukan dengan uji statistik dengan

menggunakan uji Chi Square (χ²) dengan tingkat kemaknaan p>0,05. Uji

asumsi Chi square dapat dilakukan bila variabel dependen dan variabel

independen terdiri dari 2 kategori ( 2 x 2 ),jika expected (harapan) kurang

dari 5, maka yang digunakan Fisher Exact Test , jika tidak ada nilai E

(Expected)

J. Etika Penelitian

Sebelum melakukan penelitian, peniliti akan memberikan

memberikan penjelasan kepada responden dalam penelitian ini bahwa mereka

dilindungi dari berbagai aspek dalam penelitian yaitu:

a. Self Determination yaitu peneliti memberi kesempatan kepada responden

untuk menentukan apakah bersedia atau tidak bersedia menjadi

responden;

b. Privacy yaitu peneliti meyakinkan responden bahwa data yang terkumpul

tidak akan disebarluaskan oleh peneliti:


c. Anonimity yaitu peneliti menjaga kerahasiaan identitas responden dengan

memberikan kode pada setiap instrumen;

d. Confidentality yaitu peneliti berjanji merahasiakan informasi yang

didapatkan dan data yang terkumpul hanya digunakan untuk penelitian;

e. Protection from discomfort yaitu peneliti mengupayakan kenyamanan

responden tidak terganggu;

f. Referred yaitu mengadakan rujukan jika diperlukan responden yang

memperlihatkan tanda-tanda keluhan psikososial yang diakibatkan

kuesioner;

g. Informed Consent yaitu responden menyetujui maka responden diminta

untuk menandatangani surat pertujuan.


DAFTAR PUSTAKA

Blasdell, N. D. (2017). The Meaning of Caring in Nursing Practice. Int J Nurs


Clin Pract 4: 238. doi: https://doi.org/10.15344/2394-4978/2017/238,
diakses pada tanggal 29 Juni 2018 dari
https://www.graphyonline.com/archives/archivedownload.php?pid=IJNCP
-238.

College, N. S. (2018). Importance of Care in Nursing. Importance of Care in


Nursing, diakses pada tanggal 29 Juni 2019 dari
https://online.nsc.edu/articles/rn-bsn/importance-of-care-in-nursing.aspx.

Gadalean, I., & Cheptea, M. d. (2011). Evaluation of patient satisfaction. Applied


medical informatics, Vol. 29 No 4/2011, diakses pada tangga 29 Juni 2019
dari
https://pdfs.semanticscholar.org/ce51/5d22dda99c61238636d69800c52c18
9d06ec.pdf.

Gurusinga, R. (2015). Perilaku Caring Perawat dan Kepuasan Pasien Rawat Inap.
University of Sumatera Utara Institutional Repository (USU-IR), diakses
pada tanggal 28 Juni 2019 dari
http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/46338.

Juwariyah, J. (2014). Hubungan Perilaku Caring Perawat Dengan Tingkat


Kepuasan Pasien Di Poli VCT Rsud Gambiran Kota Kediri Berdasarkan
Teori Watson. Jurnal Ners dan Kebidanan, Volume 1, Nomor 3, diakses
pada tanggal 29 Juni 2019 dari
https://media.neliti.com/media/publications/232668-relationship-between-
caring-behavior-of-8ec568e7.pdf.

Kalsum, U. (2016). Hubungan Perilaku Caring Perawat dengan Kepuasan Pasien


di Ruang Perawatan Teratai Rumah Sakit Umum Pusat Fatmawati tahun
2016. Skripsi, Universitas Islam Negeri Jakarta, Fakultas Kedokteran Dan
Ilmu Kesehatan Program Studi Kesehatan Masyarakat, diakses pada
tanggal 29 Juni 2019 dari
http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/32964/1/UMI%
20KALSUM-FKIK.

Lenka Drahošová, D. J. (2016). Concept Caring In Nursing. Cent Eur J Nurs


Midw 2016;7(2):453-460 doi: 10.15452/CEJNM.2016.07.0014, diakses
pada tanggal 29 Juni 2019 dari
http://periodicals.osu.eu/cejnm/5_116_concept-caring-in-nursing.html.
Notoatmojo. (2012). Promosi kesehatan dan Perilaku Kesehatan. Jakarta: Rineka
Cipta.

Nursalam. (2011). Konsep dan penerapan metodologi penelitian ilmu


keperawatan, pedoman skripsi, tesis dan instrumen penelitian. Jakarta:
Salemba Medika.

Rahayu, & Sulistiawati. (2018). Hubungan Pengetahuan dan Sikap dengan


Perilaku Caring Perawat di Rumah Sakit. Faletehan Health Journal, 5 (2)
(2018), diakses pada tanggal 29 Juni 2019 dari
https://media.neliti.com/media/publications/278503-hubungan-
pengetahuan-dan-sikap-dengan-pe-1953da02.pdf.

Ramadhan, I. N. (2017). Hubungan Pengetahuan Dan Sikap Caring Dengan


Perilaku Caring Perawat Pada Pasien Di Ruang Rawat Inap Kelas III
Bangsal Barokah Dan Inayah RS PKU Muhammadiyah Gombong. Skripsi,
Program Studi S1 Keperawatan, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan
Muhammadiyah Gombong, diakses pada tanggal 29 Juni 2019 dari
http://elib.stikesmuhgombong.ac.id/709/1/ISNAENI%20NUR%20RAMA
DHAN%20NIM.%20A11300970.pdf.

Sartika, & Nanda. (2011). Konsep caring. pedoman news, diakses pada anggal 29
Juni 2019 dari www.pedomannews.com.

Simatupang, D. (2015). Hubungan Beban Kerja Perawat Pelaksana dengan


Perilaku Caring Perawat di ICU Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam
Malik Medan. University of Sumatera Utara Institutional Repository
(USU-IR), diakses pada tanggal 28 Juni 2019 dari
http://repository.usu.ac.id.

Sugiyono. (2014). Statistika Untuk Kesehatan. Bandung: Alfabeta.

Sulisno, M., & Ulfa, I. H. (2015). Interaksi Caring Mahasiswa Keperawatan


Tingkat I, II Dan III. Jurnal Managemen Keperawatan . Volume 3, No. 1.

UURI. (2014). Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Keperawatan No 38


tahun 2014. Retrieved Juli 16, 2018, from Kemenko PMK:
https://www.kemenkopmk.go.id/sites/default/files/produkhukum/UU%20
Nomor%2038%20Tahun%202014.pdf

Wawan, D. d. (2011). Teori dan Pengukuran Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku


Manusia. Yogyakarta: Nuha Medika.

WHO. (2016). Health workforce: Nursing and midwifery - WHO Global Strategic
Directions for Strengthening Nursing and Midwifery 2016–2020. World
Health Organization, diakses pada tanggal 29 Juni 2019 dari
https://www.who.int/hrh/nursing_midwifery/nursing-midwifery/en/.
Lampiran 1

LEMBAR PENJELASAN TENTANG PENELITIAN (KLIEN)

Kepada Yth :

Calon Responden

Bapak/Ibu/Sdra/i yang Bertugas di Puskesmas Timampu

Dengan hormat,

Saya Rahmatia, mahasiswa Program S1 Keperawatan Stikes Kurnia Jaya

Persada bermaksud mengadakan penelitian tentang hubungan pengetahuan dengan

penerapan perilaku caring perawat di ruang Perawatan puskesmas Timampu

Kabupaten Luwu Timur. Peneliti menjamin bahwa penelitian ini tidak akan

menimbulkan sesuatu yang berdampak negatif terhadap Bapak/Ibu/Sdra/i. Peneliti

sangat menghargai hak-hak responden dengan cara menjamin kerahasiaan

identitas dan informasi yang Bapak/Ibu/Sdra/i berikan, akan dijaga dan hanya

digunakan untuk kepentingan penelitian ini.

Untuk itu peneliti sangat mengharapkan partisipasi Bapak/Ibu/Sdra/i

dalam penelitian ini dan sebagai tanda persetujuan responden, mohon

kesediaannya menandatangani lembar persetujuan dan mengisi kuesioner yang

peneliti bagikan.

Atas kesediaan serta bantuannya peneliti ucapkan terima kasih.

Timampu,……… 2019

Rahmatia
Lampiran 2

LEMBAR PERSETUJUAN MENJADI RESPONDEN

Saya yang bertandatangan dibawah ini setelah membaca dan memahami

penjelasan tentang penelitian, saya menyatakan bersedia menjadi responden yang

dilakukan oleh Rahmatia selaku mahasiswa Stikes Kurnia Jaya Persada, yang

akan melakukan penelitian dengan judul: “hubungan pengetahuan dengan

penerapan perilaku caring perawat di ruang Perawatan puskesmas Timampu

Kabupaten Luwu Timur”.

Saya memahami bahwa keikutsertaan saya sebagai responden dalam

penelitian ini bermanfaat bagi peningkatan kualitas pelayanan keperawatan di

Puskesmas Timampu.

Saya mengerti bahwa penelitian ini tidak berdampak negatif kepada saya.

Timampu,………2019

Responden

(…………………….)
KUISIONER

A. Identitas Responden
1. Inisial :
2. Kode responden :
3. Umur :
4. Jenis Kelamin :
5. Lama kerja :
B. Kuisioner pengetahuan
Petunjuk:
1. Mohon bantuan dan ketersediaan Bapak/Ibu?saudara/i untuk menjawab
semua pertanyaan yang ada.
2. Berilah tanda checklist ( √ ) pada kolom (Benar) apabila pernyataan
dibawah ini benar dan pada kolom (Salah ) apabila pernyataan salah.
3. Sebelum mengumpulkan kuesioner dimohon memeriksa kebali jawaban
anda, dimohon tidak mengosongkan satu pernyataan pun

No Pertanyaan Benar Salah


1 Caring adalah kemampuan berdedikasi bagi orang
lain, pengawasan dengan waspada, menunjukan
perhatian atau kepedulian, perasaan empati kepada
orang lain dengan perasaan cinta atau
menyayangi.
2 Caring merupakan inti terpenting dalam praktek
keperawatan
3 Caring adalah suatu cara pemeliharaan
berhubungan dengan menghargai orang lain yang
tidak disertai perasaan memiliki dan tanggung
jawab
4 Pelayanan keperawatan dengan caring sangat
penting karena menghasilkan hal yang positif
terhadap kesehatan dan kesejahteraan klien
5 Kesembuhan pasien juga dipengaruhi oleh caring
perawat dalam melakukan asuhan keperawatan
6 Sikap perawat dalam praktik keperawatan yang
berhubungan dengan caring adalah dengan
kehadiran perawat sendiri, sentuhan kasih sayang,
pendengar yang baik dan memahami klien
7 Sikap caring diberikan melalui kejujuran,
kepercayaan, dan niat baik
8 Lebih mementingkan kepentingan diri sendiri
dahulu sebelum kepentingan pasien
9 Perawat juga harus ikut membantu pasien dalam
membantu mencapai atau mempertahankan
kesehatan
10 Sentuhan caring merupakan bentuk komunikasi
non verbal
11 Mendengarkan keluhan klien tanpa memberikan
solusi
12 Yang dapat mempengaruhi kenyamanan dan
keamanan, meningkatkan harga diri klien, serta
memperbaiki orientasi tentang kenyataan tanpa
komunikasi merupakan kelebihan sentuhan caring
13 Perilaku caring merupakan suatu sikap, rasa
peduli, hormat dan menghargai orang lain dalam
bertindak
14 Seorang perawat memerlukan kemampuan
(competence) untuk memperhatikan orang lain,
keterampilan intelektual, teknikal dan
interpersonal yang tercermin dalam perilaku
caring atau kasih sayang
15 Kasih sayang, kemampuan, penuh percaya diri,
suara hati dan komitmen merupakan dimensi
perilaku caring
16 Umur, pengalaman, pendidikan dan kesadaran diri
bukan faktor yang mempengaruhi perilaku caring
perawat
17 Pengukuran perilaku caring dapat dijadikan bahan
evaluasi diri yang bertujuan untuk
mengembangkan pengetahuan konsep caring
perawat
18 Perilaku caring perawat tidak mempengaruhi
kepuasan pada klien
SKOR

C. Kuisioner Perilaku Caring


Petunjuk Pengisian
1. Bacalah baik-baik stiap item pernyataan.
2. Berilah tanda checklist (√) pada jawaban yang sesuai dengan pengalaman
anda dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien yaitu: Tidak
Pernah (TP), Kadang-Kadang (KK), Sering (SR), Selalu (SL).
TP KK SR SL
No Perilaku Caring Perawat
1 Tidak pilih kasih antara pasien satu
dengan yang lain
2 Memberikan penkes kepada pasien dan
keluarga
3 Berbicara sopan
4 Merasa puas jika dapat memebesikan
asuhan keperawatan pada pasien dengan
baik
5 Menanamkan kepercayaan dan harapan
akan keberhasilan pengobatan
6 Memberi semangat pasien dan
menyakinkan bahwa pasien dapat sembuh
7 Memberi semangat jika pasien merasa
putus asa
8 Memfasilitasi pasien dan keluarga untuk
alternatif pengobatan yang tepat
9 Menghargai perasaan pasien
10 Merasakan apa yang dirakasan pasien
11 Mendorong pasien dan keluarga untuk
mengungkapkan perasaan
12 Memperkenalkan diri kepada pasien dan
keluarga
13 Memberikan perhatian kepada pasien
ketika sedang berbicara
14 Memberikan respon secara verbal
terhadap panggilan atau keluhan pasien
dan keluarga
15 Menjawab pertanyaan pasien dan
keluarga dengan baik dan jujur
16 Tidak menyembunyikan kesalahan dalam
melakukan perawatan pada pasien
17 Menerima ekspresi positif dan negatif
pasien atau keluarga
18 Memberikan waktu atau mendengarkan
keluhan pasien
19 Menyusun jadwal kegiatan pasien sesuai
dengan kemampuanya
20 Mendiskusikan masalah yang terjadi
kekawatiran pasien
21 Memberikan solusi akan keluhan maupun
perasaan pasien
22 Mengidentifikasi masalah yang dihadapai
pasien
23 Menetapkan masalah berdasarkan
indentifikasi yang ditemukan
24 Menetapkan rencana tindak lanjut dari
penyelesaian masalah
25 Memberikan informasi yang jelas
mengenai perawatan yang dilakukan
26 Membantu pasien menyelaikan masalah
27 Membantu pasien untuk melakukan
tindakan dengan mempraktikannya
28 Memberikan penjelasan atau pengajaran
untuk memepukan pasien dalam
memenuhi kebutuhanya
29 Memfasilitasi pasien agar dapat
melakukan hal-hal yang dapat dikerjakan
30 Memfasilitasi pasien untuk bersosialisasi
dengan lingkungan
31 Memberikan tindakan yang memeberikan
rasa aman dan nyaman
32 Menjaga lingkungan agar tetap nyaman
dan nyaman
33 Mengenali kebutuhan pasien
34 Membantu pasien dalam pemenuhan
kebutuhan, makan, minum, personal
hygine sehari-hari yang tidak dapat
dilakukan
35 Memberikan kebebasan pada pasien untuk
beribadah menurut agama dan
kepercayaanya
36 Memberikan bimbingan rohani pada
pasien sesuai kepercayaanya dan
mensyukuri apa yang saat ini dimiliki
SKOR