Anda di halaman 1dari 19

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN


A. HASIL

1. Pengkajian

Pengumpulan data menggunakan metode wawancara, observasi dan

emerikasaan fisik dengan menggunakan format pengkajian keperawatan

keluarga. Pengkajian dilaksanakan selama dua hari pada tanggal 19 sampai

denga 20 Januari 2019 di rumah Ny. N di Dusun Lura Desa Mandettte

Kecamatan Angeraja Kabupaten Enrekang.

Keluarga Ny. N (41 tahun) merupakan keluarga tunggal (janda)

tinggal bersama 4 orang anaknya yaitu Nn J (24 tahun) Nn. H (19 tahun),

Nn. S (17 tahun) dan Tn. I (13 tahun). Sejak berpisah dengan suaminya

maka peran kepala keluarga dilakukan oleh Ny. N yang sehari-hari bekerja

sebagai petani dengan pendidikan tidak tamat SD. Keluarga Ny. N

menganut agama Islam dengan suku bugis. Nn. J dan Nn. H sehari-hari

membantu ibunya dikebun sedangkan Nn. S dan Tn I adalah pelajar.

Menurut Ny. N pendapatan perbulan yang diperoleh dari hasil berkebun

tidak menentu jika dirata-ratakan sekitar Rp. 700.000 perbulan, tetapi tidak

menetap tergantung dari hasil panen dikebun sehingga kurang mampu

memenuhi kebutuhan harian keluarganya (penerima program keluarga

harapan). Menurut Ny. N keluarga memanfaatkan waktu luang dengan

berkumpul bersama sambil nonton TV pada malam hari, kegiatan reskreasi

bersama keluarga diluar rumah biasanya dilakukan setelah lebaran.

Tahap perkembangan keluarga Tn. S saat ini adalah keluarga dengan

keluarga dengan anak dewasa (pelepasan). Tugas perkembangan yang


belum terpenuhi adalah memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar

dan membantu anak untuk mandiri di masyarakat.

Ny. S mengalami dispepsia sejak 3 tahun yang lalu dan tidak

teridentifikasi adanya penyakit keturunan dalam keluarga. Keluarga Ny. S

jarang menggunakan sarana kesehatan akan tetapi anakanya telah

mendapatkan imunisasi dasar, menurut Ny. N jika ada anggota keluarganya

yang sakit diobati menggunakan ramuan tradisional yang diolah sendiri.

Menurut Tn. S kedua orang tuanya maupun orang tua istrinya meninggal

karena usia tua dan tidak ada penyakit spesifik yang pernah dialami.

Tn. S memiliki rumah sendiri, berbentuk rumah panggung. memiliki

luas 4 m x 6 m, lantai papan dan keadaan rumah tampak bersih dan rapih,

terdapat 1 ruang tamu, 1 kamar tidur, dan 1 ruang dapur. Pencahayaan dan

ventilasi rumah baik, jendela tidak berdebu, jendela kamar sering dibuka

sehingga siang hari tampak terang. Jamban dalam keadaan bersih, sumber

air keluarga berasal dari saluran pipa umum,. Air tidak berasa, tidak berbau,

dan tidak berwarna. Sumber penerangan memakai lampu listrik. Jarak dari

rumah ke puskesmas kurang lebih 5 kilometer, sedangkan mobilitas

keluarga menggunakan angkutan umum.

Ny. N mengatakan hubungan antar anggota keluarganya baik-baik

saja dan dapat bersosialisasi dengan baik dan selalu kerja sama dan saling

membantu dengan tetangganya karena mereka adalah kerabatnya.

Keluarga NY. N tidak pernah berpindah domisili, keluarga memiliki

kemudahan askes transfortasi dari rumah ke fasilitas publik dan pelayanan

kesehatan. Tidak ada perkumpulan keluarga yang khusus diikuti keluarga


Ny. N, akan tetapi pada saat acara hajatan keluarga maupun pengajian ibu-

ibu dikampung mereka ikut berpartsipasi. Sistem pendukung yang sering

dimanfaatkan untuk mengatasi masalah dalam keluarga adalah kerabat dan

tetangga.

Ny. N sebagai kepala keluarga berperan utama sebagai pencari nafkah

dan pelindung bagi anak-anaknya sedangkan anak-anaknya turut

membantu menyiapkan kebutuhan harian keluarga seperti memasak,

mencuci dan berbelanja, dan anaknya yang masih pelajar disamping

melakukan aktivitas belajar sebagai anak sekolah juga pada hari-hari libur

ikut membantu ke kebun. Pola komunikasi cukup terbuka dimana setiap

anggota keluarga diberikan kebebasan menyampaikan pendapat meskipun

dalam pengambilan keputusan dilakukan oleh Ny. N sebagai kepala

keluarga. Ny. N mengatakan mampu mengarahkan dan mengawasi perilaku

anak-anaknya sebagaiamana nilai dan norma yang dianut keluarga dan

masyarakat sekitarnya.

Keluarga Ny. N adalah penerima Program Kleurga Harapan (PKH).

Tn. S mengatakan pendapatannya meskipun kurang mampu memenuhi

semua kebutuhan keluarganya akan tetapi masih mensyukuri karena masih

mampu memberikan makanan dan menyekolahkan anaknya.

Keluarga mengetahui bahwa Ny. N mengalami masalah kesehatan

yaitu sakit nyeri ulu hati, kadang-kadang mual dan muntah akan tetapi tidak

mengenal jenis penyakit dan penyebabnya, Keluarga mengatakan saat ini

yang dilakukan adalah menghindari makanan pedas dan istirahat jika

nyerinya hebat dan mengomsumsi ramuan tradisional kadang-kadang


minum obat mag yang dibeli bebas di warung. Menurut Ny.N meskipun

penyakitnya dirasakan sangat menganggu aktifitas hariannya akan tetapi

belum ada upaya untuk melakukan pemeriksaan kesehatan karena alasan

sibuk dan gejalanya akan sembuh sendiri menskipun memiliki jaminan

kesehatan (BPJS).

NY. N mengatakan saat ini hanya melakukan pembatasan makanan

pedas dan tidak mengetahui dampak yang dapat ditimbulkan apabila

penyakitnya tidak lakukan perawatan dengan benar.

Stresor jangka pendek yang dialami keluarga Ny. N adalah penyakit

dispepsia yang dialami Ny. N, sebagai kepala keluarga hal ini dirasakan

cukup berat karena sering menganggu perannya sebagai pencari nafkah

dalam keluarga Sedangkan stresor jangka panjang adalah pendapatan

keluarga yang makin berkurang dan penyakit Ny.N yang diderita sudah 3

tahun. Menurut Ny. N tidak banyak yang bisa dilakukan untuk

mengatasinya karena keterbatasan biaya yang dapat dilakukan hanya

berdo’a untuk kesembuhan.

Hasil pemeriksaaan kesehehatan keluarga Ny. N keadaan umum klien

tampak sakit sedang, kesadaran umum composmentis, tekanan darah 120/80

mmHg, respirasi 23x/menit, nadi 65x/menit, BB 39 kg tinggi badan 148 cm

(IMT 17.8) suhu 36,5 ºc, skala nyeri 5 (0-10). Pemeriksaan secara sistimatis

tidak dilakukan karea Ny. N menolak sedangkan pemeriksaan fokus Ny. N

mengatakan mengalami nyeri ulu hati rasanya seperti terbakar keluhan

bertambah saat terlambat makan atau makan-makanan pedas, upaya yang

dilakukan untuk mengasi dengan menghindari makanan pedas, kopi dan


minum obat mag. Skala nyeri sedang 5 (0-10), nyeri dirasakan pada ulu hati

dan dada, tampak meringis dan memagang area ulu hatinya. Mukosa mulut

kering, turgor kulit sedang.

2. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan hasil pengkajian dirumuskan dua masalah keperawatan

pada Tn.S yaitu :

a. Nyeri kronik pada Ny. N berhubungan dengan ketidakmampuan

mengenal masalah anggota keluarga yang mengalami dispepsia ditandai

dengan :

1) Data subjektif : Ny. N mengalami nyeri ulu hati rasanya seperti

terbakar keluhan bertambah saat terlambat makan atau makan-

makanan pedas, tidak mengenal jenis penyakit dan penyebabnya,

keluarga mengatakan saat ini yang dilakukan adalah menghindari

makanan pedas dan istirahat jika nyerinya hebat dan mengomsumsi

ramuan tradisional kadang-kadang minum obat mag yang dibeli

bebas di warung. Menurut Ny.N meskipun penyakitnya dirasakan

sangat menganggu aktifitas hariannya akan tetapi belum ada upaya

untuk melakukan pemeriksaan kesehatan karena alasan sibuk dan

gejalanya akan sembuh sendiri menskipun memiliki jaminan

kesehatan (BPJS). Skala nyeri sedang 5 (0-10), nyeri dirasakan pada

ulu hati dan dada.

2) Data Objektif : tampak meringis dan memagang area ulu hatinya


b. Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan pada Ny. S berhubungan

dengan ketidakmampuan keluarga melakukan pemenuhan nutiris pada

anggota keluarga mengalami dispepsia ditandai dengan :

1) Data subjektif : Ny N mengatakan jika magnya kambuh sering

mengalami mual dan muntah,

2) Data Objektif : mukosa mulut kering, turgor kulit sedang , BB 39 kg

tinggi badan 148 cm (IMT 17.8).

Berdasarkan perhitungan skoring masalah keperawatan utama

yang harus di prioritaskan adalah: nyeri kronik pada Ny. N (skor 4).

Penjelasan skoring prioritas masalah adalah sifat masalah adalah actual

dimana masalah nyeri dipersepsikan dan merupakan keluhan utama

pada Ny. N (3/3x1=1), Kemungkinan masalah dapat diubah: sebagian

dengan pembenaran keluarga merasa telah melakukan upaya mengatasi

nyeri dengan mneggunakan, diet makanan pedas, minum obat mag dan

ramuan tradisional dan mempunyai keinginan untuk sembuh dan ada

perawat yang memberikan informasi tentang penanganan nyeri (1/2x2=

1), Potensial masalah untuk dicegah: tinggi dengan pembenaran masalah

lebih lanjut belum terjadi, adanya keinginan klien untuk sembuh serta

adanya dukungan dari keluarga (3/3 x 1= 1) dan terakhir adalah

menonjolnya masalah: dirasakan, dengan pembenaran yaitu keluarga

merasakan sebagai masalah yang harus segera diatasi (2/2x1=1)

Pada diagnose keperawatan kedua adalah gangguan nutrisi

kurang dari kebutuhan pada Ny. S berhubungan dengan

ketidakmampuan keluarga melakukan pemenuhan nutiris pada anggota


keluarga mengalami dispepsia (skor 3). Penjelasan skoring prioritas

masalah adalah sifat masalah adalah sifat masalah adalah actual dimana

masalah gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan (3/3x1=1),

Kemungkinan masalah dapat diubah: sebagian dengan pembenaran Ny.

N mengatakan telah berusaha mengatasi penyakitnya tetapi sellu

kambuh meskipun mempunyai keinginan untuk sembuh dan ada

perawat yang memberikan informasi tentang penanganan dampak

gangguan nutrisi (1/2x2= 1), Potensial masalah untuk dicegah: tinggi

dengan pembenaran dengan memberikan pendidikan kesehatan dan

dukungan dari keluarga yang cukup adeuat (3/3x1= 1) dan terakhir

adalah menonjolnya masalah: tidak dirasakan, dengan pembenaran yaitu

keluarga tidak merasakan sebagai masalah yang harus segera diatasi

(0/2x1=0).

3. Rencana Keperawatan

Untuk mengatasi masalah keperawatan keluarga langkah selanjutnya

adalah menyusun rencana tindakan. Rencana tindakan ini disesuaikan

dengan tugas keluarga yang terganggu. Tugas kesehatan keluarga tersebut

adalah kemampuan keluarga mengenal masalah kesehatan, kemampuan

keluarga mengambil keputusan yang tepat, kemampuan keluarga dalam

merawat anggota keluarga yang sakit, kemampuan keluarga dalam

memodifikasi lingkungan rumah yang sehat, dan kemampuan keluarga

dalam memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan yang ada.

Rencana keperawatan pada masalah keperawatan utama : Nyeri kronik

pada Ny. N, tujuan umum yang ingin dicapai dalam rencana keperawatan
adalah setelah dilakukan perawatan selama 8 hari keluarga mampu

melakukan perawatan nyeri pada anggota keluarga dengan dispepsia.

Rencana keperawatan untuk mencapai tujuan khusus pertama

membantu keluarga mengenal nyeri akibat dispepsia yang diharapkan dapat

dicapai setelah setelah dilakukan pertemuan dengan keluarga selama 1 x 30

menit adalah : kaji tingkat pegetahuan keluarga tentang nyeri pada

dispepsia, berikan pendidikan kesehatan tentang nyeri dan dispepsia dengan

bahasa sederhana dan gunakan lifleat tentang pengertian,factor penyebab ,

tanda dan gejala dan penatalaksanaan dispepsia. Lakukan evaluasi tingkat

pengetahuan keluarga dan berikan reinforcemen positif. Kriteria

pencapaian tindakan keperawatan di evaluasi secara verbal yaitu keluarga

mampu menyebutkan pengertian (kumpulan gejala yang muncul dan dapat

menimbulkan ketidaknyaman pada perut bagian atas atau dada), penyebab

( ulkus lambung, efek samping kafein, alkohol, atau obat, ketidakmampuan

mencerna susu dan makanan berbahan susu, kanker lambung) , tanda dan

gejala ( asa nyeri pada perut, perut terasa kembung, merasa tidak nyaman

setelah makan, muntah dan mual, nafsu makan hilang, terasa perih di perut

atau dada, adanya makanan yang kembali ke atas) dan pentalaksanaan nyeri

(kengonsumsi makanan kecil di antara waktu makan besar, setelah makan,

tunggu 2-3 jam sebelum berbaring, hindari camilan tengah malam,hindari

makanan pedas dan makanan asam (seperti tomat dan jeruk) serta kopi,

tegakkan badan (posisikan duduk di tempat tidur) atau tambahkan bantal

tambahan dan hindari menggunakan baju ketat.


Rencana keperawatan untuk mencapai tujuan khusus kedua membantu

keluarga mengambil keputusan dalam mengatasi masalah nyeri pada

dispepsia yang diharapkan dapat dicapai setelah setelah dilakukan

pertemuan dengan keluarga selama 1 x 10 menit adalah : diskusikan dengan

keluarga dampak/ komplikasi dispepsia, memberikan motivasi pada

keluraga untuk berdiskusi dalam pengambilan keputusan dan berikan

reinforcemen atas keputusan yang benar. Kriteria pencapaian tindakan

keperawatan di evaluasi secara verbal yaitu keluarga mampu menyebutkan

dampak yang terjadi jika nyeri dan dispepsia tidak dilakukan penanganan

dengan baik dan menetapkan keputusan yang tepat dalam penanganannya.

Rencana keperawatan untuk mencapai tujuan khusus ketiga untuk

membantu keluarga melakukan perawatan nyeri pada anggota keluarga

yang mengalami dispepsia yang diharapkan dapat dicapai setelah setelah

dilakukan pertemuan dengan keluarga selama 1 x 30 menit, dengan

intervensi : jelaskan pada keluarga tentang: proses terjadinya nyeri pada

dispepsia, factor pencetus nyeri, pencegahan serangan nyeri. Diskusikan

dengan keluarga penanganan nyeri gout atritis : relaksasi nafas dalam dan

tegakkan badan (posisikan duduk di tempat tidur) atau tambahkan bantal

tambahan dan hindari menggunakan baju ketat. Kaji kemampuan keluarga

dalam penanganan nyeri : membuat daftar menu recall 24 jam,

mendemonstrasikan teknik relaksasi nafas dalam dan mendemonstrasikan

pengaturan posisi. Kriteria pencapaian tindakan keperawatan di evaluasi

secara psikomotor yaitu keluarga mampu menyusun daftar diet dengan


benar, mendemonstrasikan penanganan nyeri dengan teknik relaksasi nafas

dalam, mendemonstrasikan peengaturan posisi tegakkan badan (posisi

duduk di tempat tidur) atau tambahkan bantal tambahan dan hindari

menggunakan baju ketat.

Rencana keperawatan untuk mencapai tujuan khusus keempat untuk

membantu keluarga memodifikasi lingkungan rumah untuk mendukung

perawatan nyeri pada anggota keluarga yang mengalami dispepsia yang

diharapkan dapat dicapai setelah setelah dilakukan pertemuan dengan

keluarga selama 1 x 15 menit adalah : diskusikan dengan keluarga tentang

pengaruh lingkungan yang bising dengan respon nyeri dan menganjurkan

keluarga untuk menghindari kebisingan saat klien istitarahat dan tidur.

Kriteria pencapaian tindakan keperawatan di evaluasi secara verbal dan

psikomotor yaitu menyebutkkan factor lingkungan sebagai pencetus nyeri

dan mendemonstrasikan menciptakan ketenangan pada saat klien istirahat

pada saat kunjungan diluar renacana.

Rencana keperawatan untuk mencapai tujuan khusus kelima untuk

membantu keluarga memanfaatkan sarana kesehatan untuk mengatasi nyeri

pada anggota keluarga yang mengalami dispepsia yang diharapkan dapat

dicapai setelah setelah dilakukan pertemuan dengan keluarga selama 1 x 20

menit adalah : diskusikan dengan keluarga sarana kesehatan yang dapat

dimanfaatkan untuk mengatasi nyeri pada anggota keluarga yang

mengalami dispepsia. Mengidentifikasi faktor penghambat dan pendukung

keluarga untuk menggunakan sarana kesehatan. Menjelaskan cara dan

prosedur penggunaan sarana kesehatan khusunya bagi penguna jaminan


kesehatan. Memotivasi keluarga memanfaatkan saran kesehatan dan

menjelaskan tentang pentingnya penggunaan obat dengan prinisp 5 benar.

Kriteria pencapaian tindakan keperawatan di evaluasi secara verbal dan

psikomotor yaitu menyebutkan sarana kesehatan yang tersedia di

masyarakat, menyebutkan cara dan proses mendapatkan pelayanan pada

sarana kesehatan dan keluarga memanfaatkan sarana kesehatan dibuktikan

dengan dokumentasi buku control dan obat-obatan yang diberikan.

Selanjutnya rencana keperawatan pada masalah keperawatan kedua:

gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan pada Ny. S berhubungan dengan

ketidakmampuan merawat anggota keluarga mengalami dispepsia, tujuan

umum yang ingin dicapai adalah setelah dilakukan perawatan selama 8 hari

keluarga mampu melakukan perawatan pemenuhan nutrisi pada anggota

keluarga dengan dispepsia.

Rencana keperawatan untuk mencapai tujuan khusus keluarga mampu

medemonstrasikan perawatan pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anggota

keluarga yang mengalami dispepsia yang diharapkan dapat dicapai setelah

setelah dilakukan pertemuan dengan keluarga selama 1 x 40 menit adalah :

Diskusikan dengan keluarga tentang masalah gangguan nutrisi pada Ny. N

mencakup pegertian, penyebab, tanda dan gejala. menjelaskan pola

pemenuhan nutrisi dengan diet dispepsi, bantu keluarga menyusun diet

dispepsia, dan berikan reinforcemen atas kemampuan keluarga. Kriteria

pencapaian tindakan keperawatan di evaluasi secara verbal keluarga mampu

menjelaskan tentang ganguan nutrisi mencakup pengertian yaitu

ketidakcukupan asupan nutiris sesuai dengan kebutuhan tubuh,


penyebabnya adalah mul, muntah, anoreksia, asupan makanan yang kurang,

tanda dan gejalanya adalah penurunan berat badan (kurus), keletihan fisik,

mukosa mulut kering) , psikomotor yaitu mendemonstrasikan pemenuhan

diet dispepsia sesuai jadual menu yang ditetapkan.

Rencana keperawatan untuk mencapai tujuan khusus keempat yaitu

keluarga mampu memodifikasi lingkungan rumah untuk pemenuhan

kebutuhan nutrisi pada anggota keluarga yang mengalami dispepsia adalah

yang diharapkan dapat dicapai setelah setelah dilakukan pertemuan dengan

keluarga selama 1 x 20 menit adalah diskusikan dengan keluarga tentang

pentingnya lingkungan rumah yang nyaman terhadap, dan mencegah lantai

licin khusunya kamar mandi. Kriteria pencapaian tindakan keperawatan di

evaluasi secara verbal dan psikomotor yaitu menyebutkkan pentingnya

lingkungan yang terapeutik untuk mendukung kenyamanan aktifitas sehari-

hari dan mendemonstrasikan pengaturan rumah yang memberikan

kebebasan dan keamanan klien melakukan aktivitas.

Rencana keperawatan untuk mencapai tujuan khusus kelima yaitu

keluarga mampu memanfaatkan sarana kesehatan untuk mengatasi masalah

resiko deformitas sendi pada anggota keluarga yang mengalami dispepsia

yang diharapkan dapat dicapai setelah setelah dilakukan pertemuan dengan

keluarga selama 1 x 30 menit adalah : diskusikan dengan keluarga jenis

perawatan yang dibutuhkan untuk mencegah deformitas sendi, menjelaskan

pentingnya memanfatkan sarana kesehatan untuk mencagah deformitas

sendi dan menjelaskan tentang pentingnya penggunaan obat dengan prinisp

5 benar. Kriteria pencapaian tindakan keperawatan di evaluasi secara verbal


dan psikomotor yaitu keluarga mampu mengidentifikasi kebutuhan

perawatan untuk mencegah deformitas sendi : fisioterapi, pengobatan medis

dan keluarga memanfaatkan sarana kesehatan dibuktikan dengan

dokumentasi buku control dan obat-obatan yang diberikan.

4. Implementasi

Berdasarkan masalah keperawatan tersebut penulis melakukan

implementasi dengan melibatkan keluarga sebagai sasaran unit pelayanan

kesehatan. Implementasi keperwatatan pada keluarga Tn S dilakukan

selama 7 hari mulai dari tanggal 27 Januari sampai dengan 2 Pebruari 2019.

Pada hari pertama tanggal 27 Januari 2019 selama 60 menit dilakukan

serangkaian implementasi untuk mencapai tujuan khusus pertama

membantu keluarga mengenal nyeri akibat dispepsia dengan melakukan

pengkajian tingkat pengetahuan keluarga tentang nyeri pada dispepsia,

hasilnya keluarga tidak mampu menjelaskan tentang nyeri akibat dispepsia

selanjutnya melakukan pendidikan kesehatan tentang nyeri dan dispepsia

dengan bahasa sederhana dan gunakan lifleat. Pendidikan kesehatan diikuti

oleh Tn.S dan Ny. S dan berperan aktif selama penyuluhan diberikan.

Untuk mengetahui hasil penyuluhan dilakukan evaluasi tingkat

pengetahuan keluarga pada tahap ini keluarga mampu memahami dengan

menjelaskan pengertian , penyebab tanda gelaja serta penatalaksanaan

menggunakan bahasa sederhana dan dengan bantuan penulis dan diakhiri

dengan memberikan penguatan diberikan reinforcemen positif.

Pada hari kedua tanggal 28 Januari 2019 dilakukan diskusi selama 10

menit untuk membantu keluarga mengambilan keputsan yang tepat untuk


mengatasi nyeri pada anggoat keluarga yang mengalami gout atritis dengan

melakukan diskusi dengan keluarga dampak/ komplikasi dispepsia hasil

yang diperoleh adalah keluarga dapat mengidentifikasi bahwa jika masalah

tidak ditasi dengan benar adapat menimbulkan kekakuan sensi, menganggu

aktivitas sehari-hari dan menyebabkan penyakit ginjal, kemudia dilanjutkan

dengan memberikan motivasi pada keluraga untuk berdiskusi dalam

pengambilan keputusan pada tahap ini kleuarga menyatakan akan mengikuti

saran yang diberikan dengan melakukan perawatan dan control ke

puskesmas dan diakhiri dengan memberikan reinforcemen positif atas

keputusan keluarga dalam mengatasi masalah.

Pada hari hari yang sama tanggal 28 Januari 2019 dilakukan perawatan

keluarga selama 60 menit untuk membantu keluarga melakukan perawatan

nyeri pada anggota keluarga dengan dispepsia. Implementasi diawali

dengan menjelaskan pada keluarga tentang: proses terjadinya nyeri pada

dispepsia, factor pencetus nyeri, pencegahan serangan nyeri, hasilnya

kelaurga memahami bahwa nyeri akibat penumpukan makanan tinggi purin

sehingga dicegah dengan melakukan diet tinggi purin seperti menghindari

sayur bayam, kcang-kacangan dan cumi-cumi. Kemudian dilanjutkan

berdiskusi dengan keluarga penanganan nyeri gout atritis :diet rendah purin,

relaksasi nafas dalam dan kompres angat jahe dan gunakan pakaian tebal

atau selimut pada malam hari. Setelah dilakukan demontrasi keluarga

mampua melakukan redemontrsai dengan bantuan yaitu keluarga mampu

menyusun daftar diet rendah purin dengan benar, mendemonstrasikan

penanganan nyeri dengan teknik relaksasi nafas dalam, mendemonstrasikan


kompres hangat dengan jahe dan mengatkaan akan menggunakan selimut

dan pakaian tebal pada malam hari.

Pada hari ketiga tanggal 29 Januari 2019 dilakukan diskusi selama 10

dilakukan kunjungan untuk membantu keluarga memodifikasi lingkungan

rumah untuk mendukung perawatan nyeri pada anggota keluarga yang

mengalami dispepsia dengan menjelaskan pengaruh lingkungan yang

bising dengan respon nyeri dan menganjurkan keluarga untuk menutup

lubang angin dan ventilasi pada sore dan malam hari. Hasilnya keluarga

memahami pentingnya suasana yang tenang dan akan menutup lubang

angina dan ventilasi rumah pada malam hari.

Pada hari yang sama tanggal 29 Januari 2019 dilakukan diskusi selama

20 menit dilakukan implementasi untuk mencapai tujuan khusus kelima

untuk membantu keluarga memanfaatkan sarana kesehatan untuk mengatasi

nyeri pada anggota keluarga yang mengalami dispepsia yang diharapkan

dapat diawali dengan melkaukan diskusi dengan keluarga tentang sarana

kesehatan masyarakat, keluarga dapat mengidentifikasi bahwa sarana yang

terdekat adalah polindes dan puskesmas. Selanjutnya keluarga dilakukan

diskusi unuk mengidentifikasi faktor penghambat dan pendukung keluarga

untuk menggunakan sarana kesehatan, keluarga mengatakan sibuk dikebun

dan tidak pengurusan jaminan berobat rumit, sehingga penulis menjelaskan

cara dan prosedur penggunaan sarana kesehatan khusunya bagi penguna

jaminan kesehatan serta memotivasi keluarga memanfaatkan saran

kesehatan, keluarga megatakan akan berusaha memanfaatkan sarana

kesehatan.
Pada hari ketiga tanggal 29 Januari 2019 dilakukan diskusi selama 10

dilakukan kunjungan untuk membantu mengenal masalah deformitas sendi

selama 40 menit dengan memberikan pendidikan kesehatan tentang resiko

deformitas sendi pada dispepsia tentang (pengertian, penyebab, tanda dan

gejala dan cara pencegahan), lakukan evaluasi tingkat pemahaman keluarga

tentang deformitas sendi dan berikan reinforcemen positif jika keluarga

mampu memahami dengan baik. Kriteria pencapaian tindakan keperawatan

di evaluasi secara verbal yaitu yaitu keluarga mampu menyebutkan

pengertian, faktor penyebab, tanda dan gejala dan pentalaksanaan

pencegahan deformitas sendi.

Lanjutkan ranto implementasi dx keperawatan ke 2 dengan mnegikuti

pola dx keperawatan 1…edit kata yang salah.


5. Evaluasi

Berdasarkan tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien, penulis


melakukan evaluasi tindakan, dengan menggunakan metode SOAP, S:
Subjektif, O: Objektif, A: Analisis, dan P: Planning atau rencana.
Evaluasi yang dilakukan selama 5 hari pada diagnosa pertama hari
pertama tanggal 15 juni 2016 jam: 13.00 WIB dengan masalah Nyeri akut
berhubungan dengan agen pencedera, distensi jaringan oleh akumulasi
cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi. Evaluasi dengan data subjektif
klien mengatakan nyeri berkurang dan tidak ada keluhan nyeri, data objektif
klien tampak lebih rileks, skala nyeri 5 (0-10). Analisa masalah belum
teratasi. Planing pada evaluasi anjurkan pasien untuk menjaga kesehatannya
untuk memeriksa kesehatannya dilayanan kesehatan. Anjurkan untuk
melakukan kompres dingin di daerah nyeri.
Evaluasi pada diagnosa kedua hari pertama tanggal 15 juni 2016 jam :
13.00 WIB dengan masalah kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan
penurunan kekuatan otot. Evaluasi dengan data subjektif klien mengatakan
sudah bisa beraktivitas yang berat, data objektif klien tampak segar, cepat
lelah berkurang, mampu berjalan lama. Analisa masalah belum teratasi.
Planning pada evaluasi anjurkan pasien banyak istirahat, tidak boleh
beraktivitas yang berat.
Evaluasi pada diagnosa kedua hari pertama tanggal 15 juni 2016 jam :
13.00 WIB dengan masalah resiko jatuh behubungan dengan gangguan
keseimbangan. Evaluasi dengan data subjektif klien mengatakan
mengetahui penyebab dari resiko jatuh, data objektif Klien tampak
kooperatif, klien lebih berhati-hati dalam melakukan aktivitas. Analisa
masalah belum teratasi. Planning pada evaluasi anjurkan pasien untuk
berhati-hati dalam berjalan, harus memperhatikan keadaan lingkungan yang
aman.
Evaluasi pada diagnosa pertama hari kedua tanggal 16 juni 2016 jam :
13.00 WIB dengan masalah Nyeri akut berhubungan dengan agen
pencedera, distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi,
destruksi sendi. Evaluasi dengan data subjektif klien mengatakan nyeri
berkurang dan tidak ada keluhan nyeri, data objektif klien tampak lebih
rileks, skala nyeri 4 (0-10). Analisa masalah belum teratasi. Planing pada
evaluasi anjurkan pasien untuk menjaga kesehatannya untuk memeriksa
kesehatannya dilayanan kesehatan. Anjurkan untuk melakukan kompres
dingin di daerah nyeri
Evaluasi pada diagnosa pertama hari ketiga tanggal 17 juni 2016 jam :
13.00 WIB dengan masalah Nyeri akut berhubungan dengan agen
pencedera, distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi,
destruksi sendi. Evaluasi dengan data subjektif klien mengatakan nyeri
berkurang dan tidak ada keluhan nyeri, data objektif klien tampak lebih
rileks, skala nyeri 3 (0-10). Analisa masalah belum teratasi. Planing pada
evaluasi anjurkan pasien untuk menjaga kesehatannya untuk memeriksa
kesehatannya dilayanan kesehatan. Anjurkan untuk melakukan kompres
dingin di daerah nyeri.
Evaluasi pada diagnosa pertama hari keempat tanggal 18 juni 2016 jam:
13.00 WIB dengan masalah Nyeri akut berhubungan dengan agen
pencedera, distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi,
destruksi sendi. Evaluasi dengan data subjektif klien mengatakan nyeri
berkurang dan tidak ada keluhan nyeri, data objektif klien tampak lebih
rileks, skala nyeri 2 (0-10). Analisa masalah belum teratasi. Planing pada
evaluasi anjurkan pasien untuk menjaga kesehatannya untuk memeriksa
kesehatannya dilayanan kesehatan. Anjurkan untuk melakukan kompres
dingin di daerah nyeri.
Evaluasi pada diagnosa pertama hari ketiga tanggal 19 juni 2016 jam : 13.00

WIB dengan masalah Nyeri akut berhubungan dengan agen pencedera,

distensi jaringan oleh akumulasi cairan/ proses inflamasi, destruksi sendi.

Evaluasi dengan data subjektif klien mengatakan nyeri berkurang dan tidak

ada keluhan nyeri, data objektif klien tampak lebih rileks, skala nyeri 1 (0-

10). Analisa masalah belum teratasi. Planing pada evaluasi anjurkan pasien

untuk menjaga kesehatannya untuk memeriksa kesehatannya dilayanan

kesehatan. Anjurkan untuk melakukan kompres dingin di daerah nyeri.

B. PEMBAHASAN