Anda di halaman 1dari 30

29

BAB III

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan

studi kasus keperawatan yaitu satu metode untuk memahami individu yang

dilakukan secara komprehensip melalui proses keperawatan agar di peroleh

pemahaman yang mendalam tentang individu tersebut beserta masalah yang

dihadapinya serta dengan tujuan masalahnya dapat terselesaikan dan

memperoleh perkembangan diri yang baik.

B. Subjek Studi Kasus

Subjek dalam studi kasus ini adalah pasien yang mengalami Skizofrenia

dengan masalah halusinasi visual di RSKD Dadi Makassar. Subjek studi

kasus menggunakan dua kriteria, yaitu kriteria inklusi dan eksklusi.

1. Kriteria Inklusi

a. Pasien yang bersedia berpartisipasi dalam penelitian

b. Pasien Skizofrenia dengan masalah halusinasi visual

c. Dirawat di rumah RSKD Dadi Makassar dengan perawatan minilam 3

x 24 jam.

2. Kriteria Eksklusi

a. Pasien Skizofrenia yang rawat jalan

b. Pasien Skizofrenia dengan masalah halusinasi lain atau menunjukkan

gejala waham

c. Pasien skizohrenia di ruang perawatan krisis/akut

29
30

C. Fokus Studi Kasus

Kajian utama dari masalah yang akan dijadikan titik acuan dalam studi

kasus ini adalah pasien Skizofrenia dengan masalah halusinasi visual.

D. Definisi Operasional

1. Halusinasi visual adalah pasien yang di rawat dirumah sakit jiwa dengan

ciri sering melihat bentuk kilatan cahaya, gambar geometris, gambar

kartun, bayangan rumit atau kompleks.

2. Skizofrenia adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya gangguan

cara berpikir, kemauan, emosi, dan tindakan berdasarkan diagnose medik

dokter.

3. Asuhan keperawatan jiwa adalah memberikan layanan keperawatan secara

langsung kepada pasien halusinasi visual, mulai dari pengkajian,

merumuskan diagnosa, melakukan intervensi, implementasi, dan

mengevaluasi respon pasien.

4. Pasien adalah penerima jasa pelayanan kesehatan di RSKD Makassar

yang sesuai dengan krteria inklusi.

E. Tempat dan Waktu Penelitian

1. Tempat Penelitian

Penelitian ini dilakukan di RSKD Dadi Makassar.

2. Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 10-18 Juli 2019.

30
31

F. Pengumpulan Data

1. Instrument/alat pengumpulan data

Alat pengumpulan data menggunakan format asuhan keperawatan jiwa

yang terdiri dari pengkajian, diagnosa, intervensi, implementasi, dan

evaluasi.

2. Metode pengumpulan data

a. Wawancara

Suatu metode yang diperlukan untuk mengumpulkan data, dimana

peneliti mendapatkan data atau informasi secara lisan dari sasaran

penelitian (responden).

b. Observasi

Merupakan prosedur berencana, yang antara lain melihat, mendengar,

dan mencatat sejumlah taraf aktifitas tertentu atau situasi tertentu yang

ada hubungannya dengan masalah yang diteliti.

c. Studi Dokumentasi

Merupakan suatu cara yang dilakukan untuk menyediakan dokumen

dengan menggunakan bukti yang akurat dari pencatatan sumber

informasi khusus dari sebuah penelitian.

G. Penyajian Data

Dalam penelitian kualitatif, penyajian data dengan teks yang bersifat

naratif (Sugiyono, 2011). Penyajian data yang digunakan oleh peneliti adalah

data yang disajikan secara narasi dan disertai dengan ungkapan verbal dari

subjek penelitian.

31
32

H. Analisa Data

1. Mereduksi Data

Mereduksi data berarti merangkum hal-hal pokok kemudian

memfokuskan pada hal-hal penting dan tidak mengambil hal-hal yang

tidak diperlukan dalam penelitian. Dengan demikian data yang direduksi

dapat memberikan data yang lebih jelas dan mempermudah peneliti untuk

pengumpulan data selanjutnya.

2. Penyajian Data

Data yang sudah didapatkan dan didapatkan dalam proses asuhan

keperawatan pada pasien dengan masalah halusinasi akustik penyajian

data yang sudah didapatkan kemudian diuraikan dalam bentuk teks atau

dalam bentuk naratif.

3. Kesimpulan

Pada tahap ini peneliti menarik kesimpulan dan hasil analisa data

yang dilakukan. Penarikan kesimpulan dalam studi kasus ini dapat

menjawab rumusan masalah yang telah dirumuskan sejak awal, yaitu

bagaimanakah asuhan keperawatan jiwa pada pasien yang mengalami

Skizofrenia dengan masalah halusinasi visual Penarikan kesimpulan ini

diharapkan untuk mengmebngakan pendekatan suhan keperawatan pada

pasien halusinasi, terkhusus pada subjek yang diteliti dan seluruh pasien

halusinasi visual.

1. Etika Penelitian

Masalah etika penelitian merupakan masalah yang sangat penting dalam

penelitian, mengingat penelitian ini berhubungan langsung dengan manusia,

32
33

maka segi etika penelitian harus diperhatikan. Masalah etika yang harus

diperhatikan dalam penelitian ini, yaitu:

1. Lembar persetujuan menjadi responden (informed consent)

Peneliti menjelaskan maksud dan tujuan dari penelitian yang akan

dilakukan serta dampak yang mungkin terjadi selama dan sesudah

pengumpulan data. Jika calon responden bersedia diteliti, maka mereka

harus menandatangani persetujuan yang telah disiapkan. Bila calon

responden meenolak, maka peneliti tidak boleh memaksa dan tetap

menghormati haknya.

2. Tanpa nama (anonimity)

Kerahasiaan responden harus selalu terjaga menjaga kerahasiaan tersebut,

peneliti tidak akan mencantumkan nama responden, pada lembar

pengumpulan. Untuk data dan lembar kuisioner, cukup diberikan kode-

kode tertentu sebagai identifikasi subjek

3. Kerahasiaan (confidentiality)

Masalah ini merupakan masalah etika dengan memberikan jaminan

kerahasiaan hasil penelitian, baik informasi maupun masalah-masalh

lainnya. Semua informasi yang telah dikumpulkan dijamin kerahasiaan

oleh peneliti. Hanya kelompok data tertentu yang dilaporkan.

33
34

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil

1. Pengkajian

Pada tahap ini penulis mengumpulkan data yang didapat dari pasien,

perawat ruangan, catatan medis dan observasi selama melakukan asuhan

keperawatan. Pengkajian dilaksanakan pada tanggal 10 Juli 2019 selama

empat kali interkasi dengan metode wawancara,observasi dan penusuran

rekam medik dan informasi dari perawat ruangan.

Nama pasien Tn N, umur 55 tahun, status menikah, agama Islam,

suku Makassar, pendidikan terakhir SMA, alamat Jl. Muhammadya Kassi-

Kassi Kota Makassar, pasien mulai dirawat di ruang Sawit RSKD

Makassar pada tanggal 06 Juli 2019, dengan diagnosa medis skizofrenia

simpleks.

Pasien mengatakan dibawa RSKD Makassar oleh keluarganya, pada

saat itu pasien mengatakan melihat bayangan wanita yang selalu

menganggunya, sehingga sering marah dan mengamuk. Pasien

mengatakan sebelumnya pernah dirawat di rumah sakit jiwa pada tahun

2018, pasien mengatakan sejak dipulangkan pengobatannya tidak rutin,

pernah mengalami penganiayaan fisik yaitu diikat dan dipukuli

dirumahnya, tidak teridentifikasi gangguan jiwa dalam keluarga pasien.

Hasil pemeriksaan fisik tekanan Darah; 110/70mmHg, Nadi

70x/menit, pernafasan 18x/ menit, suhu 36,2º, Tinggi Badan 158cm, Berat

Badan 41. Kg, pasien mengatakan tidak mengalami keluhan fisik apapun.

34
35

Pasien mengatakan ia anak ke pertama dari lima bersaudara, ia tinggal

dengan istri dan tiga orang anaknya.

Pasien mensyukuri bentuk tubuhnya karena dapat berfungsi dengan

baik, menyadari bahwa ia adalah kepala keluarga dan saat ini

keinginannya adalah dapat sembuh sehingga dapat mencari nafkah bagi

keluarganya. Pasien mengatakan sejak sakit ia tidak lagi dihargai baik oleh

keluarga maupun teman-temannya, mengatakan telah gagal sebagai kepala

keluarga karena saat ini tidak mampu menafkahi keluarganya.

Pasien mengatakan orang terdekat dirumahnya adalah anaknya yang

ke ketiga yang masih menghargai dan sering membantunya. Pasien

mengatakan selama dirumah tidak pernah mengikuti kegiatan

dilingkungannya karena malas. Pasien megatakan malas bergaul dengan

orang lain, karena lingkungan sosialnya mengucilkan dan menganggunya.

Penampilan pasien tampak tidak rapih, rambut pasien tampak kusut,

rambut tampak kotor, kulit tampak kotor,dari badan pasien tercium bau.

Pasien mengatakan biasanya mandi, gosok gigi sekali sehari dan jarang

ganti pakaian. Pembicaran pasien meskipun kadang-kadang bloking tetapi

masih dapat dipahami, pasien tampak lesu, alam perasaan sedih, afek

sesuai dengan stimulus, pasien mampu melakukan kontak mata selama

wawancara akan tetapi pergerakan mata cepat dan cukup kooperatif

meskipun kemampuan konsentarsi menurun, pasien hanya dapat focus

pada pembicaraan 5-10 menit.

Pasien mengatakan sering melihat bayang perempuan yang

menganggunya sehingga pasien ketakutan, biasanya bayangan muncul 6-8

35
36

kali sehari khususnya saat sendiri, saat melihat bayangan pasien berteriak

dan mengomel. Hasil observasi saat pasien sendiri, tampak terseyum,

mulut komat-komit dan mengoceh seperti mengusir seseorang.

Pasien tidak menunjukkan gangguan isi pikir, saat berbicara kadang-

kadang bloking tapi masih mampu menyelesaikan pembicaraanya,

kesadaran composmentis, mampu mengenal waktu,-tempat dan orang

dengan baik. Pasien mengalami gangguan daya ingat jangka Panjang

misalnya lupa kapan menikah atau kapan tamat SMA. Pasien mengalami

gagguan penilaian tingkat ringan yaitu mengalami kesulitan mengambil

keputusan sederhana dengan bantuan penulis.

Kebutuhan perencanaaan pulang masih membutuhkan bantuan

minimal seperti makan, eliminasi, berpakaian dan pengguanan obat. Pasien

mengatakan selalu ingin tidur, pola tidur tidak teratur dan sering

terbangun. Mekenisme koping dalam mnegtasi masalah adalah regresi dan

defensif, pasien mengalami sering berdebat dan memperhakankan

pendapatnya dan mengatakan jika punya masalah biasanya marah-marah.

Saat ini pasien mendapatkan program terapi antipsikotik yaitu :

haloperidol mg (3x1), trihexypenidil 2 mg (2 x 1) dan clorpromazine 100

mg (0-0-1).

2. Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan hasil analisa data dengan membandingkan

membandingkan hasil pengkajian dengan standart setelah melakukan

validitas data. Pada Kasus Tn. N, dirumukan masalah keperawatan sebagai

berikut :

36
37

a. Gangguan persepsi sesori, halusinasi visual, dengan karakteristik :

Data subjektif : pasien mengatakan sering melihat bayang perempuan

yang menganggunya sehingga pasien ketakutan, biasanya bayangan

muncul 6-8 kali sehari khususnya saat sendiri, saat melihat bayangan

pasien berteriak dan mengomel

Data objektif : saat pasien sendiri, tampak terseyum, mulut komat-

komit dan mengoceh seperti mengusir seseorang, pergerakan mata

cepat.

b. Harga diri rendah , dengan karakteristik :

Data subjektif : pasien mengatakan sejak sakit ia tidak lagi dihargai

baik oleh keluarga maupun teman-temannya, mengatakan telah gagal

sebagai kepala keluarga karena saat ini tidak mampu menafkahi

keluarganya

Data objektif : ekpresi wajah sedih, kemampuan konsentrasi 5-10

menit, sering bloking dan tampak lesu.

3. Perencanaan keperawatan

Untuk membantu pasien mengtasi masalahnya selanjutnya disusun

rencana keperawatan mengacu pada standar asuhan keperawatan jiwa yang

ditetapkan pada tanggal 11 Juli 2019. Pada diagnosa keperawatan utama

yaitu perubahan persepsi sesori, halusinasi visual ditetapkan tujuan yang

ingin dicapai adalah pasien mampu: membina hubungan saling

percaya,mengenal halusinasi dan mampu mengontrol halusinasi dengan

menghardik,mengontrol halusinasi dengan enam benar minum obat,

37
38

mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap dan mengontrol halusinasi

dengan melakukan aktifitas sehari-hari.

Mengacu pada prinisp interaksi pada pasien gangguan jiwa maka

dalam perencanaan diawali dengan membina hubungan saling percaya.

Untuk membantu pasien mengenal halusinasi dan mampu mengontrol

halusinasi dengan menghardik maka disusun perencanaan tindakan yaitu

diskusikan tentang halusinasi, menjelaskan cara-cara mengontrol

halusinasi dan mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara

pertama: menghardik halusinasi. Tujuan ini diharapkan dapat tercapai

setelah melakukan interaksi selama 3 kali pertemuan

Untuk membantu pasien mampu mengontrol halusinasi penglihatan

dengan memanfaatkan obat secara benar maka ditetapkan rencanan

keperawatan yaitu evaluasi jadwal kegiatan harian pasien, jelaskan

pentingnya penggunaan obat pada gangguan jiwa akibat bila obat tidak

digunakan sesuai program dan bila putus obat, Jelaskan cara mendapatkan

obat dan jelaskan cara menggunakan obat dengan prinsip 6 benar (benar

obat, benar pasien, benar cara, benar waktu, benar dosis dan kontinuitas.

Tujuan ini diharapkan dapat tercapai setelah melakukan interaksi selama 2

kali pertemuan.

Intervensi untuk membantu pasien mampu mengontrol halusinasi

penglihatan dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain yaitu evaluasi

ke jadwal harian, melatih pasien mengendalikan halusinasi dengan cara

bercakap-cakap dengan orang lain dan memasukan kegiatan ke jadwal

38
39

kegiatan harian pasien. Tujuan ini diharapkan dapat tercapai setelah

melakukan interaksi selama 2 kali pertemuan.

Intervensi untuk membantu pasien mampu mengontrol halusinasi

penglihatan dengan cara melakukan kegiatan adalah evaluasi jadwal

kegiatan harian, melatih pasien mengontrol halusinasi dengan cara

melakukan kegiatan yang mampu pasien lakukan dan menganjurkan

pasien memasukan kegiatan ke jadwal kegiatan sehari-hari pasien. Tujuan

ini diharapkan dapat tercapai setelah melakukan interaksi selama 3 kali

pertemuan.

Selain perancanaan kepada pasien, juga disusun rencana

keperawatan keluarga sehingga pada saat pasien dipulangkan kerumah

keluarganya mampu melakukan perawatan untuk mendukung pasien

mengontrol halusiansinya. Adapun rencana keperawatan pada keluarga

adalah berikan pendidikan kesehatan tentang pengertian, jenis, tanda dan

gejala dan cara-cara merawat pasien halusinasi, kemudian latih keluarga

praktek merawat pasien langsung dihadapan pasien dan perencanaan

pulang pasien bersama keluarga.

4. Implementasi Keperawatan

Setelah menyusun rencana keperawatan langkah selanjutnya adalah

melakukan implementasi baik secara mandiri maupun kolaborasi.

Implemenetasi mulai dilakukan pada tanggal 12 Juli 2019, pukul 09.00-

09.30 diawali dengan melakukan hubungan saling percaya dengan

mengucapkan salam dengan pasien, memperkenalkan diri dengan

menyebutkan nama dan nama panggilan yang perawat sukai, serta

39
40

menanyakan nama dan nama panggilan yang disukai pasien, menanyakan

perasaan dan keluhan pasien saat ini, membuat kontrak asuhan yang akan

lakukan bersama, menjelaskan bahwa perawat akan merahasiakan

informasi yang diperoleh untuk kepentingan terapi dan menunjukan

perhatian atas pemenuhan kebutuhan dasar pasien dengan menanyakan

bagaiamana istirahatnya, pemenuhan makan dan personal hygine. Respon

pasien cukup kooperatif, melakukan kontak mata, duduk berhadapan

meskipun pasien nampak gelisah. Sehingga disimpulkan pasien

menunjukkan adanya hubungan saling percaya.

Pada pukul 11.00-11.20 WITA, interaksi dilanjutkan dengan

melakukan diskusi tentang halusinasi, menjelaskan cara-cara mengontrol

halusinasi dan mengajarkan pasien mengontrol halusinasi dengan cara

pertama: menghardik halusinasi. Respon subjektif pasien mengatakan

sering melihat bayangan wanita yang membuatnya ketakutan, biasanya

muncul 6-8 kali dan biasanya saat duduk sendiri, pasien ketakutan saat

melihat. Respon objektinya : gelisah dan menolak latihan menghardik,

sehingga rencana tindak lanjutnya adalah latih pasien mengontrol

halusinasi dengan cara pertama: menghardik halusinasi. Pada pukul 13.00-

13.20 WITA, dilanjutkan implementasi dengan melatih pasien mengontrol

halusinasi dengan cara pertama: menghardik halusinasi. Respon subjektif

adalah pasien dapat menjelaskan cara menghardik dan mengakatan akan

melakukannya saat bayangan itu muncul. Respon objektifnya pasien

mendemontrasikan cara menghardik dengan benar. Analisa data subjektif

dan objektif pasien dapat mengenal halusinasinya dan mampu mengontrol

40
41

dengan cara menghardik, sehingga intervensi berikutnya dalah membantu

pasien menggunakan obat dengan benar.

Pada tanggal 13 Juli 2019, pukul 08.00-08.10 WITA implementasi

dilakukanuntuk membantu pasien mengontrol halusinasi penglihatan

dengan memanfaatkan obat secara benar diawali dengan melakukan

evaluasi jadwal kegiatan harian pasien yaitu menghardik halsinasinya,

kemudian menjelaskan penggunaan obat, cara mendapatkan obat dan

prinsip dasar menggunakan obat dengan prinsip 6 benar. Respn subjektif

pasien mengatakan sudah mencoba cara menghardik akan tetapi bayangan

itu tetap muncul, akan minum obat secara teratur. Berdasarkan respon

pasien maka disimpulkan pasien mampu mengenal pentingnya

pemanfaatan obat dengan baik dan benar, shingga intervensi selanjutnya

adalah membantu pasien mampu mengontrol halusinasi penglihatan

dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain.

Pada tanggal 14 Juli 2019, pukul 09.00-08.20 WITA implementasi

dilakukan untuk membantu pasien mampu mengontrol halusinasi

penglihatan dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain dengan

melakukan evaluasi pelaksanaan jadwal harian yaitu pengguaan obat,

kemudian menjelaskan bahwa dengan bercakap-cakap dengan orang lain

atau ketika halusinasi muncul dengan mengajak orang lain bincang-

bincang akan mengendalikan halusinasi dan mengnajurkan pasien untuk

tidak sering menyendiri diruangan atau ketika dirumah. Respon subjektif

pasien mengatatkan sudah minum obat pada malam dan pagi hari, lebih

suka saat sendiri, tidak ingin diganggu pasien lain, orang lain tidak

41
42

menyukainya. Respon objektif pergerakan mata cepat, diluar interkasi

pasien menyendiri. Analisis dari respon pasien adalah pasien belum

mampu mengontrol halusinasi penglihatan dengan cara bercakap-cakap

dengan orang lain, sehingga intervensi ini dilanjutkan.

Pada pukul 11.00-01.20 WITA dilanjutkan pertemuan dengan

pasien dengan melakukan implementasi memotivas pasien untuk

melakukan interaksi dengan pasien lain atau dengan perawat dan

melaporkan kepada orang lain ketika berhalusinasi. Respon subjektif

pasien mengatakan akan bergaul dengan temannya dan melaporkan pada

perawat jika bayangan itu muncul. Respon objektif kontak mata baik,

dilaur interaksi pasien mulai duduk dengan pasien lainnya. Analisisnya

adalah pasien mampu mengontrol halusinasi penglihatan dengan cara

bercakap-cakap dengan orang lain, sehingga intervensi selanjutnya adalah

membantu pasien mampu mengontrol halusinasi penglihatan dengan cara

melakukan kegiatan adalah evaluasi jadwal kegiatan harian.

Pada tanggal 14 Juli 2019, pukul 10.00-10.20 WITA implementasi

dilakukan untuk membantu pasien mampu mengontrol halusinasi

penglihatan dengan cara melakukan kegiatan sehari-hari. Hal ini dilakukan

dengan berdiskusi dengan pasien kegiatan atau hobby sebelum masuk

rumah sakit, kemudian bersama pasien membuat jadual kegiatan dan

melatih pasien melakukan satu kegiatan secara bertahap. Respon subjektif

pasien mengatakan bayangan itu jarang muncul sejak mulai bincang-

bincang dengan temannya, ia bisa menyapu, mandi, membersihkan tempat

tidur dan halaman, memerbaiki rumah, dan hobby main domino, tetapi saat

42
43

ini malas melakukan kegitan itu lagi. Respon objektif kontak mata baik

dan kooperatif. Analisisnya adalah pasien belum mampu mengontrol

halusinasi penglihatan dengan cara melakukan kegiatan sehari-hari,

sehingga intervensi ini dilanjutkan.

Pada tanggal 15 Juli 2019, pukul 08.00-08.20 WITA membimbing

pasien melakukan kegiatan yang telah dijadualkan dengan melatih pasien

menyapu dan membersihkan tempat tidur hasilnya pasien dapat melakukan

aktifitas tersebut dengan baik. Kemudia pada pukul 10.00-10.15 WITA

menjelaskan tentang cara mandi yang baik dan mesmukkan dalam

kegiatan harian. Respon subjektif pasien mengatakan akan melakukan

kegaitan asal dibimbing lagi. Respon objektif kontak mata baik dan

kooperatif. Analisisnya adalah pasien belum mampu mengontrol

halusinasi penglihatan dengan cara melakukan kegiatan sehari-hari,

sehingga intervensi selanjutnya adalah intervensi ini dilanjutkan.

Pada tanggal 16 Juli 2019, pukul 10.00 10.15 WITA menanyakan

kegiatan yang telah dilakukan pada pagi hari memotivasi pasien

melakukan kegiatan yang telah dilatih sesuai jadual. Respon subjektif

pasien mengatakan malas melakukan kegiatan, nanti di rumah saja.

Respon objektif pergerakan mata cepat dan gelisah. Analisisnya adalah

pasien belum mampu mengontrol halusinasi penglihatan dengan cara

melakukan kegiatan sehari-hari, sehingga intervensi selanjutnya adalah

intervensi ini dilanjutkan.

Pada tanggal 17 Juli 2019, pukul 09.00 09.15 WITA melakukan

evaluasi kegiatan yang telah dilakukan dan memotivasi pasien melakukan

43
44

kegiatan yang telah dilatih sesuai jadual. Respon subjektif pasien

mengatakan masih melihat bayangan itu tetapi sudah jarang muncul (3-4

kali sehari) dan saat menghardik bayangan itu hilang, masih suka duduk

sendiri, sudah mandi dan merapikan tempat tidur, pasien mengatakan mau

pulang ke rumah. Respon objektif pasien tamak tenang, kontak mata baik.

Analisisnya adalah pasien belum mampu mengontrol halusinasi

penglihatan dengan cara melakukan kegiatan sehari-hari, sehingga

intervensi selanjutnya adalah intervensi ini dilanjutkan.

5. Evaluasi Keperawatan

Untuk mengevaluasi efektivitas implementasi yang telah dilakukan

pada diagnosa keperawatan utama pada kasus Tn N yaitu gangguan

sensori persepsi halusinasi penglihatan selanjutkan dilakukan evaluasi

hasil pada tanggal 18 Juli 2019, pukul 11.00- 11.25 WITA. Evaluasi akhir

adalah pasien belum mampu mengontrol halusinasinya ditandai dengan

pasien masih mengalami halusinasi dengan frekuensi berkurang, sudah

melakukan cara menghardik, mampu memanfaatkan obat dengan

bimbingan, mulai melakukan interaksi dengan pasien lain tetapi belum

mampu melakukan katifitas yang dijadualkan. Pada saat dilakukan

observasi diluar interaksi pasien kadang-kadang masih mengomel dan

menunjuk-nunjuk seperti berbicara dengan seseorang.

B. Pembahasan

1. Pengkajian Keperawatan

Pengkajian sebagai tahap awal proses keperawatan meliputi

pengumpulan data, analisis data, dan perumusan masalah pasien. Data

44
45

yang dikumpulkan adalah data pasien secara holistik, meliputi aspek

biologis, psikologis, sosial, dan spiritual. Seorang perawat jiwa diharapkan

memiliki kesadaran atau kemampuan tilik diri (self awareness),

kemampuan mengobservasi dengan akurat, berkomunikasi secara

terapeutik, dan kemampuan berespons secara efektif (Stuart dan Sundeen,

1998) karena hal tersebut menjadi kunci utama dalam menumbuhkan

hubungan saling percaya dengan pasien.

Berdasarkan teori faktor predisposisi halusinasi adalah faktor risiko

yang menjadi sumber terjadinya stres yang memengaruhi tipe dan sumber

dari individu untuk menghadapi stres baik yang biologis, psikososial, dan

sosiokultural. Secara bersama-sama, faktor ini akan memengaruhi

seseorang dalam memberikan arti dan nilai terhadap stres pengalaman

stres yang dialaminya. Faktor presipitasi adalah stimulus yang mengancam

individu. Faktor presipitasi memerlukan energi yang besar dalam

menghadapi stres atau tekanan hidup dapat bersifat biologis, psikologis,

dan sosiokultural. (Keliat, 2005).

Pada kasus Tn.N factor predispoisi kekambuhan adalah pengobatan

yang tidak teratur. Sedangkan factor presipitasi adalah ketegangan hidup

sbegai akibat dari beban sebagai kepala keluarga dimana Tn. P dituntut

untuk memenuhi kebutuhan keluarga sedangkan pasien tidak memiliki

pekerjaan tetap. Hal ini sesuai penelitian Carolina (2008) yang

menyimpulkan fator predispoisi pasien halusinasi yang diamati adalah

disfungsi keluarga. Pendapat (Keliat, 2009) bahwa stres dapat meningkat

karena kondisi kronis yang meliputi ketegangan keluarga yang terus-

45
46

menerus, ketidakpuasan kerja, dan kesendirian. Beberapa ketegangan

hidup yang umum terjadi adalah perselisihan yang dihubungkan dengan

hubungan perkawinan, perubahan orang tua yang dihubungkan dengan

remaja dan anak-anak, ketegangan yang dihubungkan dengan ekonomi

keluarga, serta overload yang dihubungkan dengan peran.

Selanjutnya berdasarkan tanda dan gejala yang ditemukan sebagai

karakteritik untuk diganosa gangguan persepsi halusinasi adalah pasien

mengatakan sering melihat bayang perempuan yang menganggunya

sehingga pasien ketakutan, biasanya bayangan muncul 6-8 kali sehari

khususnya saat sendiri, saat melihat bayangan pasien berteriak dan

mengomel. tampak terseyum, rentang perhatian 5-10 menit, mulut komat-

komit dan mengoceh seperti mengusir seseorang, pergerakan mata cepat.

Berdasarkan tanda dan gejala menunjukkan pasien mengalami halusasi

fase III (kontroling) sebagaimana dalam teori karakteristik pasien

menyerah untuk melawan pengalaman halusinasi dan membiarkan

halusinasi menguasai dirinya, isi halusinasi dapat berupa permohonan,

individu mungkin mengalami kesepian jika pengalaman tersebut berakhir

(Psikotik), Perilaku yang teramati: lebih cenderung mengikuti petunjuk

yang diberikan oleh halusinasinya dari pada menolak. kesulitan

berhubungan dengan orang lain. Rentang perhatian hanya beberapa menit

atau detik, berkeringat, tremor, ketidakmampuan mengikuti petunjuk

Berdasarkan perbadingan tanda dan gejala antara teori dan kasus

terdapat kesenjangan yaitu pada kasus tidak ditemukan data pasien

berkeringat, tremor, ketidakmampuan mengikuti petunjuk. Menurut

46
47

penelitian tidak ditemukannya data berkeringat, tremor, ketidakmampuan

mengikuti petunjuk karena pasien sebelumnya telah mendapatkan

perawatan untuk mengontrol halusinasi dari perawat ruangan dan

keefetivan obat yang dikomsumsi. Hal ini sesuai dengan pendapat Keliat

(2005), bahwa perubahan perilaku pada pasien halusinasi berkembang

sejalan dengan keberhasilan intervensi keperawatan. Penelitian Satrio

(2015) dalam penelitiannya mengungkapkan manifestasi klinik pada

pasien halusinasi dapat diidentifikasi pada saat pasien sedang

berhalusinasi.

2. Diagnosa Keperawatan

Menurut Carpenito (1998), diagnosis keperawatan adalah penilaian

klinis tentang respons aktual atau potensial dari individu, keluarga, atau

masyarakat terhadap masalah kesehatan/proses kehidupan. Perumusan

diagnosis keperawatan jiwa mengacu pada pohon masalah yang sudah

dibuat. Dalam keperawatan jiwa rumusan diagnosis keperawatan yang

menggunakan typology single diagnosis, maka rumusan diagnosis adalah

menggunakan etiologi saja.

Berdasarkan teori (Keliat, 2005) pada pasien halusinasi umumnya

dicetuskan . perilaku isolasi social sedangkan efeknya adalah resiko

perilaku kekerasan. Sedangkan pada kasus Tn. N masalah keperawatan

yang ditemukan adalah gangguan persepsi sesori, halusinasi visual,

dibuktikan dengan pasien mengatakan sering melihat bayang perempuan

yang menganggunya sehingga pasien ketakutan, biasanya bayangan

muncul 6-8 kali sehari khususnya saat sendiri, saat melihat bayangan

47
48

pasien berteriak dan mengomel dan data objektif : saat pasien sendiri,

tampak terseyum, mulut komat-komit dan mengoceh seperti mengusir

seseorang, pergerakan mata cepat.

Diagnosa keperawatan kedua adalah harga diri rendah , dibuktikan

dengan pasien mengatakan sejak sakit ia tidak lagi dihargai baik oleh

keluarga maupun teman-temannya, mengatakan telah gagal sebagai kepala

keluarga karena saat ini tidak mampu menafkahi keluarganya dan data

objektif : ekpresi wajah sedih, kemampuan konsentrasi 5-10 menit, sering

bloking dan tampak lesu

Bardasarkan perbandingan diagnosa keperawatan disimpulkan

terdapat kesenjangan dimana pada kasus yang menjadi etiologi adalah

harga diri rendah. Menurut peneliti halusinasi dapat disebabkan oleh harga

diri rendah merupakan penilaian negative pada diri sendiri yang

merupakan stressor internal yang dapat menyebabkan peningkatan

kecemasan pasien. Hal ini sejalan dengan pendapat Asizah, dkk (2016)

bahwa gangguan konsep diri yang kronik merupakan salah satu pencetus

halusinasi.

3. Rencana Keperawatan

Rencana tindakan keperawatan terdiri atas empat komponen, yaitu

tujuan umum, tujuan khusus, rencana tindakan keperawatan, dan rasional.

Tujuan umum berfokus pada penyelesaian masalah (P). Tujuan ini dapat

dicapai jika tujuan khusus yang ditetapkan telah tercapai. Tujuan khusus

48
49

berfokus pada penyelesaian etiologi (E). Tujuan ini merupakan rumusan

kemampuan pasien yang harus dicapai. Pada umumnya kemampuan ini

terdiri atas tiga aspek, yaitu sebagai berikut (Stuart dan Sundeen, 1998).

Rencana keperawatan pada kasus Tn N dengan masalah utama

gangguan persepsi sensori berpedoman pada standar asuhan keperawatan

jiwa. Standar keperawatan menyatakan terdapat empat macam tindakan

keperawatan, yaitu (1) asuhan mandiri, (2) kolaboratif, (3) pendidikan

kesehatan, dan (4) observasi lanjutan.Rencana keperawatan terdiri dari

rencana keperawatan pada pasien dan keluarga sebagaimana dipaparakan

pada bagian hasil studi kasus.

Rencana keperawayan pada Tn. N terdiri dari fase orientasi

menggambarkan situasi pelaksanaan tindakan yang akan dilakukan,

kontrak waktu dan tujuan pertemuan yang diharapkan. Fase kerja berisi

beberapa pertanyaan yang akan diajukan untuk pengkajian lanjut,

pengkajian tambahan, penemuan masalah bersama, dan/atau penyelesaian

tindakan. Fase terminasi merupakan saat untuk evaluasi tindakan yang

telah dilakukan, menilai keberhasilan atau kegagalan, dan merencanakan

untuk kontrak waktu pertemuan berikutnya

Jadi dapat disimpulkan tidak ada kesenjangan rencana tindakan

antara teori dengan kasus pada tahap rencana keperawatan yang digunakan

di tatanan kesehatan kesehatan jiwa disesuaikan dengan standar asuhan

keperawatan jiwa Indonesia.

4. Implmentasi Keperawatan

49
50

Sebelum tindakan keperawatan diimplementasikan perawat perlu

memvalidasi apakah rencana tindakan yang ditetapkan masih sesuai

dengan kondisi pasien saat ini (here and now). Perawat juga perlu

mengevaluasi diri sendiri apakah mempunyai kemampuan interpersonal,

intelektual, dan teknikal sesuai dengan tindakan yang akan dilaksanakan.

Setelah tidak ada hambatan lagi, maka tindakan keperawatan bisa

diimplementasikan.

Pada kasus Tn N implementasi keperawatan dilaksanakan

berpedoman pada rencana yang telah ditetapkan sebelumnya. Pada saat

memulai untuk implementasi t keperawatan, penulis mengawali dengan

membuat kontrak dengan pasien dengan menjelaskan apa yang akan

dikerjakan dan peran serta pasien yang diharapkan. Kemudian selama

melakukan tindakan selalu memperhatikan standar tindakan yang telah

ditentukan dan aspek legal yaitu mendokumentasikan apa yang telah

dilaksanakan.

Implementasi keperawatan yang menunjukkan keberhasilan dan

perkembangan pasien sesuai dengan tujuan khusus adalah pasien

mengidetifikasi halusinasinya dan melakukan cara menghardik untuk

mengontrol halusinasi, menggunakan obat melalui bimbingan perawat,

melakukan interkasi terbatas dengan pasien lain dan mulai melakukan

beberapa aktifitas. Hasil penelitian ini sesuai dengan Satrio (2015) setelah

setelah dilakukan asuhan keperawatn selama 3 x 24, klien dapat membina

hubungan saling percaya, mau belajar cara menghardik, mengerti akan

pentingnya obat bagi kesembuhan penyakit klien, dan mampu membuat

50
51

jadwal harian untuk mengurangi frekuensi munculnya halusinasi itu

sendiri.

Kekuatan darai pelaksanaan tindakan keperawatan pada Tn. N

adalah sebelum melkaukan tindakan penulis membuat Strategi

Pelaksanaan (SP), yang berisi tentang proses keperawatan dan strategi

pelaksanaan tindakan yang direncanakan. Proses keperawatan dimaksud

adalah uraian singkat tentang satu masalah yang ditemukan, terdiri atas

data subjektif, objektif, penilaian (assessment), dan perencanaan

(planning) (SOAP). Satu tindakan yang direncanakan dibuatkan strategi

pelaksanaan (SP), yang terdiri atas fase orientasi, fase kerja, dan terminasi.

Kelemahan dari pelaksanaaan asuhan keperawatan pada Tn. N

adalah keterbatasan sarana dan fasilitas untuk melatih pasien melakukan

kegiatan sesuai hobby dan kemmampuan sebelumnya, disamping itu

kondisi ruangan yang belum ideal untuk mendukung perawatan pasien dan

hambatan karena tidak ada dukungan keluarga sehingga implementasi

pada keluarga tidak dilakukan.

Pada tahap ini dapat disimpulkan bahwa implmentasi yang dilakukan

mengacu pada prinsip-prinsip implementasi keperawatan pada pasien

gangguan jiwa

5. Evaluasi Keperawatan

Evaluasi merupakan proses yang berkelanjutan untuk menilai efek

dari tindakan keperawatan pada pasien. Evaluasi ada dua macam, yaitu (1)

evaluasi proses atau evaluasi formatif, yang dilakukan setiap selesai

melaksanakan tindakan, dan (2) evaluasi hasil atau sumatif, yang

51
52

dilakukan dengan membandingkan respons pasien pada tujuan khusus dan

umum yang telah ditetapkan.

Mengacu pada konsep evaluasi diatas maka dalam evaluasi pasien

juga menggunakan evaluasi proses dan evaluasi hasil. evaluasi pada Tn. N

digambarkan pada kemampuan pasien mengungkapkan isi halusinasi yang

dialaminya ,menjelaskan waktu dan frekuensi halusinasi yang dialami,

menjelaskan situasi yang mencetuskan halusinasi menjelaskan

perasaannya ketika mengalami halusinasi, menerapkan 4 cara mengontrol

halusinasi: menghardik halusinasi, mematuhi program pengobatan,

bercakap dengan orang lain di sekitarnya bila timbul halusinasi, menyusun

jadwal kegiatan dari bangun tidur di pagi hari sampai mau tidur pada

malam hari seminggu dan melaksanakan jadwal tersebut secara mandiri

dan menilai manfaat cara mengontrol halusinasi dalam mengendalikan

halusinasi. Hasil penelitian mendukung penelitian Carolina (2008)

menunjukkan bahwa dengan penerapan asuhan keperawatan yang sesuai

standar dapat membantu menurunkan tanda dan gejala halusinasi sebesar

14%. Kemampuan kognitif pasien meningkat 47% serta kemampuan

psikomotor sebanyak 48%. Sulastri (2010) dalam penelitiannya terhadap

30 responden didapatkan bahwa penerapan asuhan keperawatan dapat

mengontrol gejala halusinasi pasien.

Sehingga disimpulkan bahwa pada tahap evaluasi pada kasus

dilakukan mengagacu pada konsep teori. Hal ini tergambar pada evaluasi

pada kasus dilakukan dengan pendekatan SOAP, S : respons subjektif

pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan.O : respons

52
53

objektif pasien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan. A

: analisis terhadap data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah

masalah masih tetap ada, muncul masalah baru, atau ada data yang

kontradiksi terhadap masalah yang ada P : tindak lanjut berdasarkan hasil

analisis respons pasien.

C. Keterbatasan Penelitian

Keterbatasan penelitian ini adalah karena studi kasus hanya dilakukan

pada satu kasus sehingga belum dapat dijadikan sebagai karakteristik dari

asuhan keperawatan pada pasien halusinasi sehingga studi kasus ini lebih

bersifat individual pada kasus yang diamati. Kelemahan lainnya adalah

informasi yang diperoleh dari pasien tidak dapat divalidasi dengan keluarga

karena selama asuhan dilakukan keluarga tidak melakukan kunjungan ke

rumah sakit. Meskipun demikian studi kasus ini dapat menjadi rujukan dalam

penatalaksanaan ashan keperawatan pada pasien halusinasi.

53
54

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

1. Pada tahap pengkajian menunjukkan pasien Tn. N mengalami halusasi

fase III (kontroling) dengan karakteristik pasien menyerah untuk melawan

pengalaman halusinasi, sering melihat bayang perempuan yang

menganggunya sehingga pasien ketakutan, biasanya bayangan muncul 6-8

kali sehari khususnya saat sendiri, saat melihat bayangan pasien berteriak

dan mengomel. tampak terseyum, rentang perhatian 5-10 menit, mulut

komat-komit dan mengoceh seperti mengusir seseorang, pergerakan mata

cepat, dan tidak ditemukan data pasien berkeringat, tremor,

ketidakmampuan mengikuti petunjuk

2. Pada tahap diagnosa keperawatan terdapat kesenjangan dimana pada kasus

yang menjadi etiologidai masalah utama yaitu halusinasi visual adalah

harga diri rendah, sedangkan dalam konsep teori adalah isolasi social;

54
55

3. Pada tahap perencanaan keperawatan ditetapkan mengacu pada standar

asuhan keperawatan pada pasien halunsinsi baik rencana pada pasien

maupun keluargan;

4. Pada tahap implementasi keperawatan dilakukan mengacu pada prinsip-

prinsip implementasi keperawatan pada pasien gangguan jiwa dengan

keterbatasan pada tidak dilakukannya implementasi pada keluarga.

5. Evaluasi keperawatan menunjukkan pasien belum mampu mengontrol

halusinasinya ditandai dengan pasien masih mengalami halusinasi dengan

frekuensi berkurang, sudah melakukan cara menghardik, mampu

memanfaatkan obat dengan bimbingan, mulai melakukan interaksi dengan

pasien lain tetapi belum mampu melakukan aktifitas yang dijadualkan.

B. Saran

1. Kepada keluarga pasien diharapkan meningkatkan dukungan dalam

perawatan pasien halusinasi dengan melakukan kunjungan sehingga

mendapatkan edukasi penatalaksaan keperawatan pada pasien di rumah. .

2. Rumah sakit diharapkan meningkatkan sarana dan prasarana untuk

mendukung perawatan pasien khususnya berakitan dengan fasilitan untuk

melatih pasien melakukan kegiatan sehingga pasien mendapat

keterampilan kerja

3. Kepada perawat jiwa diharapkan mengaplikasi standar asuhan

keperawatan dengan baik sehingga hasil asuhan keperawatan menjadi

lebih optimal.

4. Bagi peneliti selanjutnya kiranya melakukan studi kasus dengan

menggunakan sampel perbandingan sehingga hasilnya lebih komprehensif.

55
56

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Nasir, Muhith. (2015) Dasar-Dasar Keperawatan Jiwa Pengantar Dan

Teori. Jakarta : Salemba Medika.

Azizah, Lilik Ma’rifatul, Imam Zainuri & Amar Akbar. (2016). Buku Ajar

Keperawatan Kesehatan Jiwa: Teori dan Aplikasi Praktik Klinik.

Yogyakarta: Indomedia Pustaka.

Carolina (2008), Pengaruh Penerapan Standar Asuhan Keperawatan Halusinasi

Terhadap Kemapuan Pasien Mengontrol Halusinasi di RSJ Dr. Soeharto

Heerdjan Jakarta diakses pada 19/6/2019 pada

http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/2016-10/20437411-Carolina.pdf

56
57

Ghifrano Yusuf Satrio (2015) Kajian Asuhan Keperawatan Pada Tn. I Dengan

Gangguan Persepsi Sensori: Halusinasi Pendengaran Di Bangsal Sadewa

RSJD Surakarta diakses pada 19/6/2019 pada

http://Eprints.Ums.Ac.Id/35035/1/Naskah%20publikasi.Pdf

Hawari, Dadang. (2014). Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia.

FKUI: Jakarta.

Isnaeni, J., Wijayanti, R., Upoyo, S.A. (2008). Efektivitas Terapi Aktivitas

Kelompok Stimulasi Persepsi Halusinasi terhadap Penurunan Kecemasan

Pasien Halusinasi Pendengaran di Ruang Sakura RSUD Banyumas. Jurnal

Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing), Volume 3

No. 1 Maret 2008, diakses pada 19/6/2019 pada http://download.

garuda.ristekdikti.go.id

Iyus Yosep, (2009) Keperawatan Jiwa, Bandung. PT Refika Aditama

Keliat, B.A. (2011). Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa.:Edisi 2. Jakarta: EGC

Keliat, B.A & Akemat (2011). Keperawatan Kesehatan Jiwa Komunitas (CMHN

- Basic Course). Jakarta: EGC

Khasanah, Arifah Nur. (2011). Tutor Community Mental Health Nursing

(CMHN). .

Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) (2018). Badan Penelitian dan Pengembangan

Kesehatan Kementerian RI tahun 2018.

http://www.depkes.go.id/resources/download/infoterkini /materi_

rakorpop_20 18/Hasil%20Riskesdas%202018.pdf – Diakses Agustus 2018

Stuart, G. W. (2006). Buku saku keperawatan jiwa.Edisi 5. Editor Pamilih

EkoKaryuni ; alih bahasa. Jakarta : EGC

57
58

Sulastri (2010), Upaya Penurunan Intensitas Halusinasi Dengan Cara

Mengontrol Halusinasi Di RSJD Arif Zainudin Surakarta., diakses pada

19/6/2019 http://eprints. ums.ac.id/44466/5/naskah%20publikasi.pdf

Tutu April Ariani, (2010) Sistem Neurobehavior, Jakarta, Penerbit Salemba

Medika

Yosep ,I. (2009). Keperawatan Jiwa: Jakarta: EGC

58