Anda di halaman 1dari 16

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil dan studi kasus

1. Pengkajian

Pasien inisial Tn. “S” umur 18 tahun berasal dari Makassar masuk RSKD

pada tanggal 20 juni 2019. Pasien dirawat di ruangan Nyiur dengan nomor register

medik 161641. Pasien mulai dikaji oleh penulis pada tanggal 13 Juli 2019, data

diperoleh dari pasien, status dan perawat di ruangan. Alasan pasien dirawat di RSKD

karena pasien mengamuk dirumah dan memukul adiknya. Keluhan utama pada saat

pengkajian pasien mengatakan jengkel dan marah setiap keinginannya tidak

dipenuhi.

Pasien mengatakan sudah 2 kali masuk di RS dengan masalah yang sama,

pernah mendapat pengobatan rawat jalan tetapi obat yang di konsumsi putus karena

pasien tidak mau lagi mengkonsumsi obat. Pasien mengatakan pernah di aniaya fisik

oleh ibu kandungnya sendiri, pasien mengatakan ada angggota keluarganya yang

mengalami gangguan jiwa yaitu pamannya. Pengalaman yang tidak menyenangkan

pada masa lalu yakni pasien pernah dianiaya oleh ibu kandungnya sendiri.

Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan pasien tidak mengeluhkan keluhan

fisiknya dan tanda-tanda vital : tekanan dara h 110/70 mmHg, nadi 82 x/menit, suhu

36,5 º C, dan pernafasan 20 x/menit, tinggi badan 158 cm dan berat badan 45kg.

Pasien mendapat terapi medic : Haloperidol 2,5 mg / 8 jam, Trihexyphenedil 2 mg

/12 jam, lorazepam 2mg .


Pada pemeriksaan status mental teridentifikasi data subjektif pasien : pasien

mengatakan mandi, gosok gigi dan ganti pakaian hanya satu kali sehari. Sejak sakit

dijauhi oleh keluarganya, pasien merasa kecewa pada keluarganya, pasien berharap

keluarganya menjenguknya, mersa tidak dihargai lagi. Jika menghadapi masalah ia

suka marah-marah dan tidak dapat menceritakan masalahnya kepada orang lain

meskipun itu keluarganya. Sedangkan data objektif yang ditemukan adalah : pasien

saat interaksi sering berdebat, nampak tegang, sesekali mengepal tangannya, agitasi

dan tremor, bicara cepat dan keras serta kontak mata tajam, nampak sedih saat

menceritakan keluarganya, berpakaian tidak rapi dan kusut, tidak memakai sandal,

kuku panjang dan kotor dan berbau.

2. Diagnosa keperawatan

Berdasarkan hasil analisa data teridentifikasi diganosa keperawatan utama

(core problem)

a. Perilaku kekerasan didukung oleh data subjektif : klien mengatakan sering marah-

marah, mengamuk, merusak barang-barang dirumahnya, dan memukul adiknya

sendiri. Data objektif saat interaksi sering berdebat, nampak tegang, sesekali

mengepal tangannya, agitasi dan tremor, bicara cepat dan keras serta kontak mata

tajam..

b. Gangguan konsep diri : harga diri rendah dengan data subjektif sejak sakit klien

merasa dijauhi oleh keluarganya, pasien merasa kecewa pada keluarganya, pasien

berharap keluarganya menjenguknya, Data objektif : pasien nampak sedih.


c. Defisit perawatan diri dengan data subjektif pasien mengatakan mandi, gosok gigi

dan ganti pakaian hanya satu kali sehari, data objektif: berpakaian tidak rapi dan

kusut, tidak memakai sandal, kuku panjang dan kotor dan berbau.

3. Rencana keperawatan

Pada kasus Tn S intervensi keperawatan difokuskan pada masalah

keperawatan utama yaitu perilaku kekerasan dengan tujuan agar pasien dapat

mengontrol perilaku kekerasan.Intervensi keperawatan dilakukan mengacu pada

standar asuhan keperawatan pasien perilaku kekerasan yang dilaksanakan selama 7

hari.

Rencana keperawatan diawali dengan bina hubungan saling percaya dengan

pasien. Perencanaan selanjatnya adalah membantu pasien mengenal perilaku

kekerasannya dengan diskusikan bersama pasien penyebab rasa marah/perilaku

kekerasan saat ini dan yang lalu, diskusikan tanda-tanda pada pasien jika terjadi

perilaku kekerasan (tanda dan gejala perilaku kekerasan secara fisik, psikologis,

social, spiritual dan intelektual) , diskusikan bersama pasien perilaku kekerasan yang

biasa dilakukan pada saat marah secara: (Verbal, terhadap orang lain, diri sendiri

dan lingkungan),diskusikan bersama pasien akibat perilakunya. Jelaskan cara

mnegontrol perilaku kekerasan (secara fisik, obat, verbal dan spiritual), latih pasien

mengontrol perilaku kekerasa secara fisik dengan tarik nafas dalam.

Untuk membantu pasien mengontrol perilaku kekerasannya dengan cara patuh

minum obat ditetapkan intervensi : evaluasi jadwal kegiatan harian pasien untuk cara

mencegah marah yang sudah dilatih, latih pasien minum obat secara teratur dengan

prinsip lima benar (benar nama pasien, benar nama obat, benar cara minum obat,
benar waktu minum obat, dan benar dosis obat) disertai penjelasan guna obat dan

akibat berhenti minum obat dan susun jadual minum obat secara teratur.

Untuk membantu pasien mengontrol perilaku kekerasannya secara verbal

ditetapkan intervensi : evaluasi jadwal harian untuk dua cara fisik, latihan

mengungkapkan rasa marah secara verbal: menolak dengan baik, meminta dengan

baik, mengungkapkan perasaan dengan baik dan susun jadwal latihan

mengungkapkan marah secara verbal.

Untuk membantu pasien mengontrol perilaku kekerasannya secara verbal

ditetapkan intervensi : diskusikan hasil latihan mengontrol perilaku kekerasan secara

fisikdan sosial/verbal, latihan sholat/berdoa dan buat jadual latihan sholat/berdoa.

Untuk mendukung pemecaham masalah pasien perlu didukung oleh keluarga,

sehingga ditetapkan rencana keperawatan pada keluarga yaitu memberikan

penyuluhan kepada keluarga tentang cara merawat klien perilaku kekerasan di

rumah, diskusikan masalah yang dihadapi keluarga dalam merawat pasien,

diskusikan bersama keluarga tentang perilaku kekerasan (penyebab, tanda dan gejala,

perilaku yang muncul dan akibat dari perilaku tersebut), diskusikan bersama keluarga

kondisi-kondisi pasien yang perlu segera dilaporkan kepada perawat, seperti

melempar atau memukul benda/orang lain. Melatih keluarga melakukan cara-cara

mengontrol kemarahan, anjurkan keluarga untuk memotivasi pasien melakukan

tindakan yang telah diajarkan oleh perawat, ajarkan keluarga untuk memberikan

pujian kepada pasien bila pasien dapat melakukan kegiatan tersebut secara tepat dan

diskusikan bersama keluarga tindakan yang harus dilakukan bila pasien

menunjukkan gejala-gejala perilaku kekerasan.


4. Tindakan keperawatan

Berdasarkan rencana keperawatan yang telah ditetapkan untuk mengatasi

masalah keperawatan utama yaitu perilaku kekerasan selanjutnya dilakukan

implementasi.

Pada hari kamis, tanggal 15 juli 2019 pukul 09. 00-09.30 WITA, penulis

melakukan pendekatan individual untuk membina hubungan saling percaya dengan

berkenalan dengan pasien, menjelaskan tujuan interaksi dan lamanya melakukan

perawatan.

Selanjutnya pada pukul 10.00-10.20 WITA, melakukan intervensi dengan

melakukan mengenal perilaku kekerasannya dengan melakukan diskusi dengan

pasien sekaligus menjelaskan tentang perilaku kekerasannya, penyebab rasa

marah/perilaku kekerasan saat ini dan yang lalu, tanda-tanda pada pasien jika terjadi

perilaku kekerasan, perilaku kekerasan yang biasa dilakukan pada saat marah, akibat

perilakunya dan menjelaskan cara mengontrol perilaku kekerasan (secara fisik, obat,

verbal dan spiritual). Pada pukul 11.00-11.10 WITA melatih pasien mengontrol

perilaku kekerasa secara fisik dengan tarik nafas dalam Respon subjektif pasien

mampu menjelaskan perilaku kekerasannya biasanya akibat permintaannya teidak

dipenuhi, saat marah biasanya mengomel, mengamuk dan mengatakan setelah marah

masalahnya tidak teratasi, pasien mengatakan mau belajar cara megontrol marah

yang baik.. Respon objektifnya adalah pasien dapat melakukan latihan nafat dalam,

volume suara kadang-kadang keras, gelisah dan sering berdebat.

Analisis dari hasil intervensi setelah membandingkan respon subjektif dan

objektif pasien adalah pasien mengenal perilaku kekerasan dan mampu


mendemeonstrasikan latihan fisik berua nafas dalam sehingga implementasi

dilanjutkan untuk membant pasien mengontrol marah dengan menggunakan obat

dengan benar.

Pada hari Jumat, tanggal 16 juli 2019 pukul 10. 00-10.20 WITA,

implementasi diawali dengan mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien untuk cara

mencegah marah yang sudah dilatih, kemudian pasien dilatih memanfaatkan obat

secara teratur dengan prinsip lima benar (benar nama pasien, benar nama obat, benar

cara minum obat, benar waktu minum obat, dan benar dosis obat) disertai penjelasan

guna obat dan akibat berhenti minum obat. Respon subjektif seteleh melakukan

implementasi adalah pasien mengatakan sudah melakukan latihan nafas dalam saat

mulai jengkel, mengatakan obat tidak dapat menyembuhkan. Respon objektifnya

adalah pasien gelisah dan berdebat saat diskusi tentang obat, muka merah dan suara

keras. Analisis respon pasien disimpulkan bahwa belum mampu memanfaatkan obat

dengan benar untuk mengontrol halsinasinya. Sehingga rencana tindak lanjut adalah

mengevaluasi jadwal kegiatan harian pasien untuk cara mencegah marah yang sudah

dilatih, kemudian pasien diskusikan ulang tentang pemanfaatan obat dalam

mengontrol perilaku kekerasan.

.
implementasi SP1.P selanjutnya dilakukan evaluasi (SOAP). Pada evaluasi

subjektif (S): pasien mengatakan sering mengamuk dan merusak barang-barang

dirumahnya, pasien memukul adiknya, menyebutkan tanda dan gejala marah yaitu

mata melotot, muka merah, mengepalkan tangan dan otot tegang. Evaluasi objektif

(O): pasien belum mampu mengontrol pk dengan cara latihan nafas dalam dengan

baik. Berdasarkan evaluasi subjektif dan evaluasi objektif disimpulkan bahwa pasien

belum mampu menyelesaikan SP1.P (A) SP1 belum tercapai (P) lanjutkan intervensi

SP 1 yaitu. Pengontrol pk dengan cara latihan napas dalam dilanjutkan pada hari

senin 15 juli 2019.

SP1.P di laksanakan pada hari senin 15 juli 2019 kamis pukul 09 00-09.30 WIB,

dimulai dengan mengajarkan pasien cara mengontrol pk dengan cara tarik napas dalam,
Selanjutnya dilakukan evaluasi (SOAP) pada evaluasi subjektif (S): pasien

mengatakan setiap muncul keinginan untuk marah dia memperaktekkan cara tarik

napas dalam, evaluasi objektif (O): pasien mampu melakukan cara mengontrol pk

dengan cara tarik napas dalam, Hasil implementasi dapat disimpulkan bahwa pasien

dapat menyelesaikan SP1, sehingga intervensi selanjutnya,(P) SP2 yaitu mengajarkan

pasien cara mengontrol pk dengan cara minum obat yang benar.

Lanjutkan pasien memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya yaitu kemampuan

SP1.P.kemudian diilanjutkan mengajarkan pasien cara minum obat yang benar ,dan

membimbing pasien memasukan kedalam jadwal kegiatan harian pasien.

Berdasarkan implementasi SP2.P selanjutnya dilakukan evaluasi (SOAP).Pada

Evaluasi Subjektif (S): klien mengatakan setiap muncul keinginan untuk marah dia

mempraktekkan cara nafas dalam. Evaluasi Objektif (O): Pasien belum bisa mengontrol

marah dengan cara minum obat. Hasil implementasi dapat disimpulkan bahwa pasien

belum bisa mengontrol marah dengan minum obat yang benar, intervensi selanjutnya (P)

adalah SP2 .P yaitu mengevaluasi kemampuan pasien mengontrol PK dengan cara minum

obat yang benar. pada hari rabu 17 juli 2019.

SP2.P di laksanakan pada hari rabu 17 juli 2019 pukul 09.45-10.00 WIB,

mengevaluasi SP2.P, memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya.Melatih pasien cara

mngontrol pk dengan minum obat. Evaluasi Subjektif (S): pasien mengatakan belum bisa

mengontrol pk dengan cara minum obat yang benar. Evaluasi Objektif (O): latihan

minum obat belum tercapai. Berdasarkan evaluasi subjektif dan evaluasi objektif

disimpulkan bahwa pasien belum bisa mengontrol pk dengan cara minum obat (A)
sehingga intervensi dilanjutkan (P) adalah SP2.P yaitu malatih pasien mengontrol

perilaku kekerasan dengan cara minum obat yang benar 18 juli 2019.

SP2.P di laksanakan pada hari kamis 18 juli 2019 pukul 10.30-10.45 WIB,

mengevaluasi SP1, dan SP2 Pasien, memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya.

Melatih pasien mengontrol pk dengan tarik napas dalam, Membimbing pasien

memasukan kedalam jadwal kegiatan harian pasien. Evaluasi Subjektif (S): klien

mengatakan belum bisa mengontrol pk dengan cara minum obat yang benar,

jika menghadapi masalah ia suka marah-marah sering mengamuk dan memukul

istri dan anaknya, menyebutkan tanda dan gejala marah yaitu mata melotot, muka merah,

mengepalkan tangan dan otot tegang. Evaluasi Objektif (O): pasien mampu mengontrol

marah dengan cara tarik napas dalam, Berdasarkan evaluasi subjektif dan evaluasi

objektif disimpulkan bahwa pasien mampu menyelesaikan SP1.P, sehingga intervensi

selanjutnya (P) adalah intervensi dilanjutkan yaitu mengajarkan pasien mengontrol PK

dengan cara minum obat pada hari jumat 19 juli 2019

SP2.P di laksanakan pada hari jumat 19 juli 2019 pukul 11.00.30-11.20 WIB,

mengevaluasi SP2.P memvalidasi masalah dan latihan sebelumnya. Melatih pasien

mengontrol marah dengan cara minum obat, (S): pasien mengatakan belum bisa

mengontrol marah dengan cara minum obat, (O): pasien belum memahami nama-nama

obatnya, belum bisa mengontrol marah dengan cara minum obat.sehingga intervensi

dilanjutkan (A): latihan minum obat belum teratasi, evaluasi SP2.P (P): pasien belum bisa

mengontrol marah dengan cara minum obat.

5. Evaluasi
Evaluasi umum tindakan keperawatan pada Tn S dengan masalah keperawatan

perilaku kekerasan setelah dilaksanakan asuhan keperawatan selama 7 hari

menunjukkan pasien mampu mencapai SP1.P yaitu mengidentifikasi penyebab dan

tanda perilaku kekerasan, menyebutkan jenis perilaku kekerasan, menyebutkan akibat

perilaku kekerasan yang dilakukan, dan menyebutkan cara mengontrol perilaku

kekerasan dan melakukan tindakan mengontrol perilaku kekerasan secara fisik yaitu

latihan nafas dalam pada pertemuan pertama pada tanggal 13 juli 2019, Pasien belum

mampu melakukan SP2 P yaitu mengevaluasi kegiatan yang lalu, melakukan latihan

fisik dengan memukul bantal ketika marah dan membimbing pasien memasukan

kedalam jadwal kegiatan harian pasien pada hari kedua pada tanggal 15 juli 2019.

B. Pembahasan

1.Pengkajian

Pada tahap pengkajian teridentifikasi faktor presipitasi yang ditemukan pada kasus
perilaku kekerasaan yang diperoleh melalui wawancara dan observasi yaitu pada
pengkajian identifikasi faktor perilaku kekerasaan yaitu pasien pernah memukul adiknya,
hal tersebut membuat afek pasien mudah labil karena perasaan emosi yang kemudian
terpendam serta terjadi kebiasaan pasien melakukan perilaku kekerasaan pada
keluarganya.

Mengacu pada faktor predisposisi perilaku kekerasaan berdasarkan konsep teori


menunjukkan adanya kesusaian dengan faktor predisposisi yang ditemukan pada kasus,
meskipun pada kasus faktor predisposisi pasien pernah mengalami penyakit pisik yaitu
aniaya, sedangkan data pasien lain yang terkait dengan masalah riwayat penyakit masalalu
dan riwayat psikososial sesuai dengan yang ditemukan pada kasus.

Menurut penulis bahwa faktor predisposisi pada pasien perilaku kekerasaan


ditemukan oleh faktor pengobatan sebelumnya dan riwayat penyakit keluarga, pasien
memiliki riwayat pengobatan rawat jalan setelah berjalan beberapa bulan pasien kembali
kambuh dan dibawah ke RSJ dekarenakan berhenti minum obat. Hal ini terjadi pada
riwayat penyakit keluarga yang mana pamannya, pasien juga pernah mengalami gangguan
jiwa. Hal tersebut mendasari bahwa penyimpangan yang terjadi disebabkan faktor
herediter.

Menurut riadi dan purwanto (2009) ada tiga faktor predisposisi perilaku kekerasaan
diantaranya adalah faktor biologis, faktor psikologis dan faktor sosial cultural. Faktor
predisposisi yang ada pada Tn. ‘’S‘’yaitu faktor biologis, dimana faktor biologis inin
sesuai teori instinctualdrif( teori dorongan naluri) mengemukakan bahwa perilaku
kekerasaan disebabkan oleh mukah marah, pandangan tajam otot tegang nada suara
tinggi,menunjukkan tanda dan gejala yang ditemukan berbeda dengan teori yang ada.

Menurut penulis bahwa terjadi terjadi kesenjangan pada faktor presispitasi pasien,
faktor presipitasi pada pasien perilaku kekerasaan mengacu pada stressor yang
mengakibatkan perasaan amarah pasien dapak meluak. Adapun pengaruh prilaku padoen
yakni stressor yang berasal dari dalam, yang mana dapat memicu perilaku kekerasaan.
Sedangkan stressor dari dalam tidak dipengaruh terhadap pasien tersebut dapat mendasari
bahwasanya tidak menyimpan yang terjadi.

2. Diagnosa keperawatan

Menurut penulis bahwa terjadi kesenjangan pada diagnosa keperawatan pasien yang
mana muncul diagnosa yang tidak terjadi pada teori yakni defisit perawatan diri, walaupun
demikian defisit perawatan diri merupakan causa dari perilaku kekerasaan, demikian ada
beberapa diagnosa.

Berdasarkan analisa pada tahap perumusan diagnosa terindetifikasi diagnose


keperawatan utama (core problem) pada Tn S yaitu : perilaku kekerasaan didukung okeh
data subjektif: bicara cepat, dan serta kontak mata tajam, sesekali mengepal tangannya,
agitasi dan tremor, emosi yang labil. Diagnose kedua `adalah gangguan konsep diri harga
diri rendah dengan data subjektif sejak sakit pasien dijauhi oleh keluarganya, pasien
mengatakan sangat kecewa kepada keluarganya. Diagnose ketiga defisit perawatan diri
dengan data subjektif :pasien mengatakan mandi hanya 1x sehari, pasien mengatakan
gosok gigi hanya 1x sehari dan pakaian pun diganti 1x sehari.
Data-data diatas secara jelas menunjukkan adanya kesenjangan perilaku kekerasaan
sebagaimana dijelaskan Wati (2007) bahwasanya diagnosa keperawatan yang bisa muncul
adalah resiko mencederai diri orang lain dan lingkungan, resiko cedera, harga diri rendah,
perubahan pada diagnose keperawatan perilaku kekerasaan berdasarkan konsep diri
menunjukkan adanya perbedaan dengan diagnose keperawatan yang ditemukan dikasus
yang mana pada diagnose keperawatan pada teori terdiri dari resiko mencederai diri dan
orang lain dan lingkungan, resiko cedera, perubahan sensori presepsi: halusinasi dan
koping individu tidak efektif sedangkan pada diagnose kasus yang muncul diagnose yang
sebelumnya tidak terdapat pada teori, yang muncul pada kasus dan juga teori diantaranya
harga diri rendah, resiko mencederai diri.

Diagnosa keperawatan yang ditemukan pada kasus pasien dengan perilaku kekerasan
berdasarkan teori yaitu: perilaku kekerasan, resiko mencederai diri sendiri, orang lain dan
lingkungan serta gangguan konsep diri: harga diri rendah. Sedangkan diagnose
keperawatan yang ditemukan pada Tn.S yaitu perilaku kekerasaan, harga diri rendah,
defisit perawatan diri, dan sekian banyak diagnosa keperawatan yang ditemukan pada
kasus Tn S. akan tetapi masalah utamanya adalah perilaku kekerasan: didalamnya
menentukan masalah utama, penulis tidak menemukan kesulita karena dari dari
pengkajian banyak data yang mengarah ke perilaku kekerasan, sedangkan diagnose
keperaatan defisit perawatan diri sebagai efek masalah utama, sementara harga diri rendah
sebagai etiologi masalah utama.

3. Rencana keperawatan
Menurut Direja (2011) perencanaan terdiri dari tiga aspek, yaitu tujuan umum, tujuan
khusus, dan rencana tindakan keperawatan. Tujuan umum bervokus pada penyelesaian
permasalahan dari diagnose tertentu, tujuan umum jika serangkaian tujuan khusus telah
tercapai.

Intervensi yang dilakukan penulis bina hubungan saling percya, menidentifikasi


penyebab perilaku kekerasaan mengidentifikasi perlaku kekerasaan, mengidentifikasi cara
konstruksi dalam mengungkapkan kemarahan, ajarkan cara mengontrol marah, ajarkan
keluarga untuk merawat pasien dengan perilaku kekerasaan, anjurkan pada pasien
menggunakan obat yang benar, criteria hasil yang diharapkan adalah pasien dapat
membina hubungan saling percaya pasien dapat mengidentifikasi penyebab perilaku
kekerasaan yang dilakukannya, pasien dapat mengidentifikasi akibat perilaku kekerasan
konstruksi dalam mengungkapkan kemarahan,.
Berdasarkan intervensi yang penulis lakukan, terdapat kesamaan antara konsep dasar
teori dengan pembahasaan pada kasus Tn S karena penulis mengacu pada teori yang ada,
dimana tahapan-tahapan perencanaan yang ada pada kasus Tn S sesuai dengan keadaan
dan kondisi pasien, dan sesuai strategi pelaksanaan yang penulis buat tetapi karena
keterbatasan waktu dan kemampuan pasien, penulis hanya menyelesaikan SP1 dan SP2.

Pada perencanaan penulis menemukan kesulitan atau hambatan karena dalam


menyusun rencana asuhan keperawatan dengan masalah utama perilaku kekerasan penulis
mengacu pada pedoman asuhan keperawatan jiwa yang sudah ada, tetapi kenyataannya di
dalam pelaksanaan perlu dipertimbngkan kondisi pasien, sedangkan faktor pendukungnya
adalah pasien bersedia diajak berbincang-bincang dan adanya kerjasama dari perawat
ruangan.

4. Tindakan keperawatan

Implementasi adalah tahap dimana perawat memulai kegiatan dan melakukan


tindakan- tindakan keperawatan dalam mengatasi masalah pasien, tugas perawat pada saat
ini adalah melaksanakan kegiatan yang telah direncanakan pada tahap pra interaksi dan
melanjutkan tahap tahap orientasi, implementasi yang dilakukan penulis untuk mengatasi
perilaku kekerasaan pada Tn S selama tanggal 13 sampai 15 juli 2019 adalah membina
hubungan saling percaya, melakukan pengkajian mualai dari identitas pasien, alasan
masuk, faktor predisposisi, pemeriksaan fisik, konsep diri, masalah psikososial, dan
lingkungan, mellakukan proses keperawatan SP 1 sampai SP 5 yaitu bina hubungan saling
percaya, mengidentifikasi perilaku kekerasaan, mengidentifikasi jenis perilaku
kekerasaan, mengidentifikasi akibat dari perilaku kekerasaan, mengidentifikasi cara
konstruktif dalam mengungkapkan marah, ajarkan cara mengontrol perilaku kekerasaan,
anjurkan pada pasien menggunakan obat yang benar, mengajarkan cara mengontrol marah
denfgan teknik tarik napas dalam,.

Berdasarkan implementasi yang penulis lakukan terdapat kesamaan antara konsep


dasar teori dengan pembahsaan pada kasus Tn S sesuai dengan keadaan dan kondisi
pasien, dan dengan strategi pelaksanaan yang penulis buat, penulis hanya dapat
menyelesaiakn SP 2.

Pelaksanaan tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai dengan interfensi yang


ada dan secara bertahap berdasarkan tingkat percapaian pada tiap diagnosa yang
ditemukan. Pada tahap tindakan keperawatan ini, beberapa rencana keperawatan tidak
dapat diimplementasi karena keterbatasaan waktu yang ada dan ketidakhadiran keluarga
pasien pada saat pelaksanaan tindakan keperawatan, jadi tindakan keperawatan yang dapat
dilakukan hanya mengacu pada masalah utama.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan pada tahap
pelaksanaan yaitu ditekankan pada keselamatan, keamanan dan kenyamanan pasien,serta
pencegahan komplikasi. Walaupun bnyak hambatan yang ditemukan selama pelaksanaan
studi kasus ini, tetapi penulis dapat mengatasi hambatan ini berkat adanya kerjasama dari
pasien dan perawat yang ada diruangan. Tersedianya fasilitas yang dapat digunakan untuk
melaksanakan tindakan sesuai dengan konsep teori yang ada.

5. Evaluasi keperawatan

Evaluasi adalah proses berkelanjutan untuk nilai efek dari tindakan pada pasien,
evaluasi dilakukan terus menerus pada respon pasien terhadap tindakan yang telah
dilaksanakan. Evaluasi dapat dibagi menjadi 2, yaitu evaluasi proses atau formatif
dilakukan setiap selesai melakukan tindakan,evaluasi hasil atau sumatif dilakukan dengan
membandingkan respon pada tujuan khusus yang telah ditentukan( fitria, 2009).

Hasil evaluasi yang didapat dari Tn S adalah data subjektif dan data objektif antara
lain data subjektif: pasien mengatakan sering mengamuk dan memukul adiknya. Data
objektif: terdapat data pasien tampak marah, kontak mata tajam, bicara kasar, pasien
mengatakan mau diajari cara mengontrol marah dengan cara fisik pertama( tarik napas
dalam) cara fisik kedua yaitu ( minum obat yang benar) cara fisik ketiga ( pukul bantal/
kasur) pasien hanya mampu memperaktekan sampai SP2
BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Hasil pengkajian pada Tn. “S teridentifikasi keluhan utama adalah mengatakan

jengkel dan marah setiap keinginannya tidak dipenuhi, sering berdebat, mudah

tersinggung, bicara cepat dan keras serta kontak mata tajam, sesekali mengepal

tangannya, agitasi dan tremor.

2. Diganosa keperawatan pada Tn. “S adalah resiko perilaku kekerasan yang

dicetuskan harga diri rendah dan efeknya adalah defisit perawatan diri.

3. Pada tahap perencanaan keperawatan ditetapkan mengacu pada standar asuhan

keperawatan pada pasien perilaku kekerasan baik rencana pada pasien maupun

keluargan;

4. Pada tahap implementasi keperawatan dilakukan mengacu pada prinsip-prinsip

implementasi keperawatan pada pasien perilaku kekerasan dengan keterbatasan

pada tidak dilakukannya implementasi pada keluarga.

5. Evaluasi keperawatan menujukkan pasien belum mampu mengontrol perilaku

kekerasannya ditandai dengan pasien masih namak tegang, mudah marah, gelisah

tetapi sudah mampu mengenal perilaku kekerasannya, mengontrol cara fisik

latihan nafas dalam dan pukul bantal, menggunakan obat, belum mampu

mnegontrol cara verbal dan spiritual.

B. Saran

1. Tingkatkan lagi kerja sama antara perawat dengan tenaga kesehatan yang

lainnya.
2. Tingkatkan kembali ilmu pengetahuan dan ketrampilan perawat dengan

tenaga kesehatan lainnya guna untuk meningkatkan mutu dan pelayanan pada

masyarakat.

3. Tingkatkan kembali kerja sama antara perawat dan keluarga pasien dengan

memberi motivasi kepada keluarga pasien agar memperhatikan dan

mengunjungi pasien guna untuk membantu proses penyembuhan pasien yang

mengalami gangguan pada jiwanya.