Anda di halaman 1dari 6

Mahasiswa Pergerakan dan senjatanya

Barangkali kita semua sepakat bahwa gerakan mahasiswa hari ini masih terlalu
identik dengan aksi turun ke jalan, dan dianggap masih terjebak dengan romantisme
era 1998 sehingga dianggap kurang terasa dampak nyatanya di masyarakat. Sekalipun
ada mengenai gerakan kreatif di sosial media, hal itu dirasa masih kurang dirasa
kehadirannya, terlalu monoton, kurang kreatif dalam pengemasan aksi digital, dan
juga dianggap sebagai “pemanis” belaka.

Dan bagaimanakah seharusnya mahasiswa mengemas pergerakannnya sehingga bisa


bertahan dan mampu menghadapi fenomena revolusi industri 4.0? Maka melalui
tulisan ini penulis akan mencoba menjawab terhadap kedua pertanyaan diatas.
Pemuda merupakan sector dan golongan yang berjumlah besar dalam masyarakat
Indonesia.Mereka berusia muda diantara 15-30 tahun, yang mempunyai ciri-ciri khusus yakni
dinamis, mobilitas yang tinggi, aktif dan cinta perubahan. Sebagai usia yang produktif, pemuda
memiliki masa depan untuk bisa mengembangkan dirinya untuk membangun di segala bidang
menuju kemajuan bersama masyarakat. Dilihat dari aspek usia, pemuda berjumlah 75 Juta orang
dari jumlah penduduk Indonesia sebesar 244,8 Juta orang 1. Pemuda tersebar sebagai pelajar dan
mahasiswa, buruh, tani. Persebaran yang ada di setiap sektor dan ciri-ciri khususnya menjadikan
kedudukan peran pemuda sangat penting sebagai tenaga produktif dalam suatu bangsa. Sejarah
menunjukkan peran penting pemuda dalam gerakan Indonesia, ditandai dengan perjuangan
pemuda yang gigih bersama rakyat sejak era pra kemerdekaan sampai dengan Gerakan Mei 1998
dan hingga saat ini. 2 Namun penghisapan dan penindasan oleh imperialisme, feodalisme serta
kapitalisme-birokrat, membuat pemuda tidak mempunyai kepastian untuk mengembangkan
kemamupuannya sebagai tenaga produktif.

MENURUT SARWONO [1978]

Mahasiswa merupakan setiap orang yang secara resmi telah terdaftar untuk mengikuti pelajaran di perguruan
tinggi dengan batas usia sekitar antara 18 – 30 tahun. Mahasiswa adalah suatu kelompok dalam masyarakat
yang memperoleh status karena memiliki ikatan dengan perguruan tinggi. Mahasiswa juga merupakan seorang
calon intelektual ataupun cendekiawan muda dalam suatu lapisan masyarakat yang sering kali syarat dengan
berbagai predikat dalam masyarakat itu sendiri

PERAN DAN FUNGSI MAHASISWA :

1. MENURUT GUARDIAN OF VALUE

Anda yang sudah dikatakan sebagai pelajar tingkat tinggi memiliki peran sebagai penjaga nilai-nilai
masyarakat yang kebenarannya mutlak, yakni menjunjung tinggi kejujuran, keadilan, gotong royong,
integritas, empati dan sifat yang dibutuhkan dalam kehidupan dalam masyarakat lainnya. Selain itu juga,
dituntut pula untuk mampu berpikir secara ilmiah tentang nilai-nilai yang mereka jaga. Bukan hanya itu saja,
Anda juga sebagai pembawa, penyampai, dan penyebar nilai-nilai serta ilmu-ilmu yang telahmereka pelajari.

2. MENURUT AGENT OF CHANGE

Mahasiswa juga bertindak sebagai penggerak yang mengajak seluruh masyarakat untuk dapat bergerak dalam
melakukan perubahan ke arah yang lebih baik lagi, dengan pertimbangan berbagai ilmu, gagasan, serta
pengetahuan yang mereka miliki. Bukan waktunnya lagi sebagai mahasiswa hanya diam dan juga tidak peduli
dengan permasalahan banggsa dan juga negarannya, karena dipundak merekalah (mahasiswa) titik kebangkitan
suatu negara atau bangsa diletakan.

3. MENURUT MORAL FORCE

Mahasiswa memiliki tingkat pendidikan yang paling tinggi, sehingga ‘diwajibkan’ untuk mereka memiliki
moral yang baik pula. Tingkat intelektual seorang mahasiswa akan disejajarkan dengan tingkat moralitasnya
dalam kehidupannya. Hail ini yang menyebabkan mengapa mahasiswa dijadikan kekuatan dari moral bangsa
yang diharapkan mampu menjadi contoh dan juga penggerak perbaikan moral pada masyarakat.

Gerakan mahasiswa juga harus belajar dari perjuangan gerakan mahasiswa pada masa
sebelumnya. Mereka harus bersikap tegas dengan berbagai kajian dan tidak hanya riuh
dengan selebrasi politik. Tidak hanya bergerak dalam dunia maya seperti dengan
gerakan petisi online, akan tetapi bergerak dalam aksi nyata. Mahasiswa di Chile
berhasil mendorong kebijakan kuliah gratis yang dibiayai dari pajak korporasi, karena
mereka turun ke jalan-jalan untuk aksi massa dengan tuntutan-tuntutan yang menekan
penguasa sejak tahun 2006 melalui apa yang dinamai Penguin Revolution.

Artinya, gerakan mahasiswa selain berkutat dengan teori, mereka harus turun ke massa
rakyat melalui strategi live-in dengan melakukan aktivitas sosial-politik demi
menciptakan kesadaran politik pada massa dan keyakinan atas kekuatannya.
Melakukan berbagai kajian dan membentuk media propaganda seperti Koran menjadi
penting untuk memperkuat argumen dan memperluas kesadaran massa. Kebijakan
pemerintah yang masih terjerat dalam politik neoliberal, membuat terus terjadinya
berbagai konflik yang melibatkan rakyat dengan pemerintah atau swasta serta dengan
keduanya. Di sana mereka dapat turut membantu perjuangan rakyat dengan
membentuk blok historis. Dan hal utama adalah untuk menghidupkan kembali
“perjuangan menyelesaikan revolusi nasional Indonesia”.

Dalam sejarah Indonesia, mahasiswa Indonesia beserta elemen masyarakat lainnya mampu
menjatuhkan dua orde diktator, orde lama dan orde baru. Tragedi Tritura pada tahun 1966
dikenal sebagai salah satu peristiwa sejarah paling heroik bagi para mahasiswa. Mahasiswa pada
saat itu bersatu padu untuk melawan PKI yang ingin mengganti dasar negara. Klimaks pun
terjadi saat mahasiswa berbondong-bondong menuntut tiga tuntutan rakyat (tritura).

Kondisi perpolitikan nasional yang semakin memanas mendorong Bung Karno untuk
memberikan tahtanya kepada Soeharto. Terlepas dari berbagai kontroversi yang terjadi,
mahasiswa angkatan '66 telah membuktikan dan memberikan sumbangsih yang cukup besar
terhadap jalan panjang Republik ini yaitu dengan menyuarakan hati dan tuntutan rakyat kepada
penguasa di kala itu.

Peristiwa sejarah heroik lainnya adalah Reformasi tahun 1998. Mahasiswa pada era itu kembali
turun ke jalan untuk menuntut perubahan kepada Presiden Soeharto. Korupsi merajalela, krisis
moneter yang merambat menjadi krisis ekonomi, dan berbagai macam bentuk penyelewengan
kekuasaan (abuse of power) menjadi alasan utama mahasiswa dan berbagai elemen masyarakat
lainnya untuk menjatuhkan rezim orde baru. Puncaknya terjadi ketika ribuan bahkan mungkin
puluhan ribu mahasiswa berbondong-bondong menduduki Gedung DPR/MPR. Situasi semakin
tak terkendali. Akhirnya, Presiden Soeharto menyatakan mundur pada bulan Mei tahun 1998.

Sayangnya, pasca tragedi '98 gerakan mahasiswa seolah mengalami mati suri. Gerakan
mahasiswa menjadi kehilangan tajinya sendiri. Gamang menghadapi perubahan fundamental
yang terjadi di negeri ini. Terlebih gerakan mahasiswa saat ini seolah tak mengetahui kemana
arah tujuan gerakan mahasiswa, siapa musuh utama gerakan mahasiswa, dan apa sebenarnya
tugas pergerakan mahasiswa ke depannya nanti. Inilah pertanyaan-pertanyaan krusial yang harus
ditemukan jawabannya oleh para aktivits pergerakan mahasiswa.

Empat Tugas Utama

Dalam tulisan kali ini, saya ingin memberikan sepercik pemikiran saya tentang beberapa tugas
utama yang harus dilakukan oleh semua elemen gerakan mahasiswa. Hal ini penting karena
mulai nampak terlihat gerakan mahasiswa mulai melupakan tugas-tugas utama mereka ini.
Setidaknya ada empat tugas utama dari pergerakan mahasiswa : gerakan moral, intelektual,
pemberdayaan masyarakat, dan pengkaderan.

1. Gerakan Mahasiswa sebagai Gerakan Moral

Mahasiswa dikenal dengan sekelompok manusia yang memiliki nilai idealisme sangat tinggi.
Idealisme saat mahasiswa konon katanya sedang berada di level teratas. Hal ini wajar karena
mahasiswa memiliki posisi yang diuntungkan. Di satu sisi, mereka telah memiliki kemandirian
dalam sisi menentukan pilihan dan bertindak, namun di sisi lain mahasiswa sedikit-banyak masih
didukung secara finansial oleh orang tuanya sehingga permasalahan "dapur" tidak terlalu
menjadi permasalahan bagi mereka. Berbeda ketika orang yang sudah bekerja terlebih-lebih
berkeluarga. Bagi orang yang telah berkeluarga, perhatian utamanya pasti diberikan untuk
keluarga dia sendiri, sedangkan mahasiswa lebih bebas untuk bergerak sehingga energi untuk
memberikan manfaat bagi masyarkat sekitar cukup besar.
Selain itu, salah satu yang harus disadari adalah mahasiswa adalah insan pembelajar. Proses
belajar pasti sering mengalami pasang-surut. Tidak selamanya dalam proses pembelajaran
mahasiswa akan berjalan mulus. Pastilah ada beberapa kejadian yang membuat manusia belajar
lebih dalam, yaitu belajar dari kesalahan. Jadi, adalah wajar jika mahasiswa berbuat salah karena
memang sebagai seorang pembelajar berbuat kesalahan adalah suatu hal yang lumrah.

Kesalahan terkadang justru menjadi pemebelajaran paling efektif dalam hidup kita. Hanya saja
yang perlu diingat adalah jangan sampai ketika kita membuat kesalahan, kita justru membuat
kesalahan yang serupa. Jika hal itu terjadi, kita bukanlah seorang pelajar tetapi tidak jauh
berbeda dengan keledai dungu yang jatuh ke dalam lubang yang sama.

Itulah mengapa pergerakan mahasiswa itu harus bersifat idealisme-moral. Gerakan mahasiswa
harus berdasarkan nilai-nilai luhur. Nilai-nilai ideal yang harus terjadi di masyarakat. Memang
terkesan dan terdengar normatif tetapi memang gerakan mahasiswa harus menuntut hal-hal yang
bersifat normatif atau belum sesuai dengan keadaan yang ideal? Kenapa? Karena yang harus
dipahami oleh para aktivis mahasiswa adalah bahwa mahasiswa bukanlah seorang policy maker.
Seorang policy maker harus dihadapkan pada kondisi real dan tuntutan ideal.

Lalu dimana peran mahasiswa? Peran mahasiswa di sini adalah sebagai kontrol sosial atau watch
dog terhadap berbagai kebijakan Pemerintah, terutama kebijakan yang tidak pro rakyat banyak.
Gerakan ini penting untuk terus menjaga agar kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah tidak
merugikan masyarakat luas. Lantas muncul pertanyaan, berarti gerakan mahasiswa tidak
memecahkan permasalahan? Untuk menjawab pertanyaan ini akan dielaborasi lebih lanjut pada
pembahasan gerakan mahasiswa sebagai gerakan intelektual.

2. Gerakan Mahasiswa sebagai Gerakan Intelektual

Sebagai golongan intelektual sudah sepatutnya setiap gerakan mahasiswa berdasarkan


intelektualitas. Salah satu potensi yang harus dimaksimalkan oleh para mahasiswa adalah dengan
memanfaatkan segala macam intelektualitasnya untuk menemukan solusi dari berbagai macam
permasalahan yang ada di masyarakat.

Seperti yang dibahas sebelumnya, sejatinya memang gerakan mahasiswa adalah gerakan
idealisme-moral. Gerakan mahasiswa menuntut terciptanya berbagai kondisi yang ideal di
masyarakat. Gerakan idealisme-moral ini pun harus didukung oleh intelektualitas yang matang.
Hal ini penting karena sebagai insan cendekia mahasiswa diharapkan dapat memberikan solusi
atas berbagai permasalahan bangsa. Solusi yang diberikan pun harus berdasarkan pemikiran yang
jernih, logika yang sehat, dan rasionalitas tinggi. Jika gerakan mahasiswa didasarkan pada emosi,
lemah fakta dan data maka jangan heran jika gerakan mahasiswa dicap sebagai gerakan utopis
yang menuntut hal-hal yang tidak realistis.

Salah satu perbedaan mendasar antara mahasiswa dengan golongan masyarakat lainnya adalah
mahasiswa diajarkan untuk berpikir secara logis, rasional, dan sistematis. Logis berarti
berdasarkan pertimbangan sebab-akibat yang benar alias tidak keliru dalam berpikir dan
mengambil kesimpulan. Rasional berarti telah melalui pertimbangan berbagai aspek, terutama
aspek untung rugi (Cost-Benefut Analysis). Sistematis berarti gerakan mahasiswa harus disusun
dengan rapi dan tertata baik dari pemikiran maupun aksi nyata. Inilah konsep dasar gerakan
mahasiswa sebagai gerakan intelektual.

3. Gerakan Mahasiswa sebagai Gerakan Pemberdayaan Masyarakat

Kata pemberdayaan (empowerment) itu memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada
membantu (help). Membantu belum tentu memberdayakan tetapi memberdayakan sudah pasti
membantu. Membantu identik dengan filosofi "memberi ikan" yang berarti membantu tanpa
mendidik masyarakat agar mandiri, sedangkan memberdayakan menggunakan filosofi
"memberikan kail" yaitu membantu masyarakat sekaligus mendidik mereka agar dapat hidup
mandiri ke depannya nanti.

Bukan berarti saya tidak setuju dengan gerakan yang berupa memberikan bantuan secara
langsung. Namun, akan lebih baik jika gerakan mahasiswa lebih bersifat memberdayakan
dibandingkan membantu karena nilai kebermanfaatnya akan jauh lebih lama.

Hal penting dalam memberdayakan masyarakat adalah bagaimana membangun budaya positif
dan etos kerja di masyarakat. Budaya seperti pantang menyerah, kemandirian, dan kreativitas
adalah beberapa hal penting yang harus ditanamkan kepada masyarakat Indonesia. Karena
sejatinya adalah pembangunan Indonesia adalah pembangunan manusia Indonesia, pembangunan
masyarakat Indonesia yang berkualitas dan bermartabat.

Selain itu, memberikan pelatihan-pelatihan kemampuan teknis juga penting. hal-hal sederhana
seperti memberikan kursus menjahit, memasak, dll sangat diperlukan oleh masyarakat,
khususnya bagi masyarakat yang tidak memiliki keahlian. Berbekal keahlian ini diharapkan
masyarakat nanti dapat berdikari sehingga mereka dapat berkarya dan menghidupi kehidupan
dirinya pribadi dan keluarga.

4. Gerakan Mahasiswa sebagai Gerakan Pengkaderan

Setiap perjuangan pasti akan menghadapi zamannya masing-masing. Masalah dan realita yang
dihadapi pun pasti akan berbeda karena kehidupan terus dinamis seiring bertambahnya waktu.
Setiap masa pasti milik generasinya masing-masing dan setiap generasi pasti menghadapi
permasalahan yang berbeda dengan para pendahulunya. Di sinilah peran penting pengkaderan,
yaitu menjamin agar rantai perjuangan tidak pernah putus dan roda perjuangan untuk
memperjuangkan kebenaran dan melawan kebatilan harus terus berlangsung.

Setiap organisasi atau gerakan mahasiswa pasti memiliki pemimpinnya masing-masing.


Pemimpin yang baik tidak hanya dilihat seberapa besar prestasi yang diraihnya, namun
pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mampu mencetak kader-kader penerusnya yang
tidak kalah hebat dari dirinya. Inilah pemimpin sejati yaitu pemimpin yang mampu melahirkan
pemimpin lainnya sehingga proses regenerasi dapat terus terjadi. Hidup terus berputar dan
kehidupan terus berjalan.

Prinsip dasar pengkaderan sangatlah mudah. Yang tua membimbing yang muda dan yang muda
terus berkarya. Yang tua menanamkan nilai-nilai mulia dan yang muda terus mengembangkan
kebaikan yang sudah ada, memperbaiki kesalahan yang tercipta, dan menciptakan inovasi-
inovasi. Jika pergerakaan mahasiswa memegang teguh prinsip dasar pengkaderan diatas, Insya
Allah pergerakan mahasiswa tidak akan kekurangan SDM yang berkualitas. Justru generasi yang
dilahirkan adalah generasi yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Karena pengkaderan dalam
pergerakan mahasiswa adalah kawah candradimuka negeri kita. Baik pengkaderannya, baik pula
negeri kita. Buruk pengkaderannya, semakin terpuruk lah negeri kita.

Itulah empat tugas utama dari organisasi mahasiswa. Ke depan, empat tugas ini sebaiknya benar-benar
dihayati oleh siapapun yang merasa sebagai aktivis mahasiswa. Tanpa pengamalan empat tugas pokok
ini, gerakan mahasiswa akan kehilangan wibawanya dihadapan masyarakat luas. Hidup terus berputar
dan kehidupan terus berjalan. Teruslah bergerak wahai mahasiswa karena ketika kau berhenti bergerak
maka pada saat itu juga sesungguhnya kau mati.

Anda mungkin juga menyukai