Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pancasila sebagai sistem etika disamping merupakan way of life bangsa
Indonesia, juga merupakan struktur pemikiran yang disusun untuk
memberikan tuntunan atau panduan kepada setiap warga negara Indonesia
dalam bersikap dan bertingkah laku. Pancasila sebagai sistem etika
dimaksudkan untuk mengembangkan dimensi moralitas dalam diri setiap
individu sehingga memiliki kemampuan menampilkan sikap spiritualitas
dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Mahasiswa sebagai peserta didik termasuk anggota masyarakat ilmiah-
akademik yang memerlukan sistem etika yang orisinal dan komprehensif agar
dapat mewarnai setiap keputusan yang diambilnya dalam profesi ilmiah.
Mahasiswa berkedudukan sebagai makhluk individu dan sosial sehingga
setiap keputusan yang diambil tidak hanya terkait dengan diri sendiri, tetapi
juga berimplikasi dalam kehidupan sosial dan lingkungan. Pancasila sebagai
sistem etika merupakan moral guidance yang dapat diaktualisasikan ke dalam
tindakan konkrit, yang melibatkan berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu,
sila-sila Pancasila perlu diaktualisasikan lebih lanjut kedalam putusan
tindakan sehingga mampu mencerminkan pribadi yang shaleh, utuh, dan
berwawasan moral akademis. Dengan demikian, mahasiswa dapat
mengembangkan karakter yang Pancasilais melalui berbagai sikap yang
positif, seperti jujur, disiplin, tanggung jawab, mandiri, dan lainnya.
Mahasiswa sebagai insan akademis yang bermoral Pancasila juga harus
terlibat dan berkontribusi langsung dalam kehidupan berbangsa dan bernegara
sebagai perwujudan sikap tanggung jawab warga negara. Tanggung jawab
yang penting berupa sikap menjunjung tinggi moralitas dan menghormati
hukum yang berlaku di Indonesia. Untuk itu, diperlukan penguasaan
pengetahuan tentang pengertian etika, aliran etika, dan pemahaman Pancasila
sebagai sistem etika sehingga mahasiswa memiliki keterampilan menganalisis

1|PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA


persoalan-persoalan korupsi dan dekadensi moral dalam kehidupan bangsa
Indonesia.

B. Rumusan Masalah
1. Apa konsep Pancasila sebagai sistem etika dan teori etika ?
2. Apa pengertian nilai, norma dan moral ?
3. Apa saja aliran-aliran etika ?
4. Apa itu etika Pancasila ?
5. Apa alasan diperlukannya Pancasila sebagai sistem etika ?
6. Bagaimana sumber historis, sosiologis, politis tentang Pancasila sebagai
sistem etika ?
7. Bagaimana membangun argumen tentang dinamika dan tantangan
Pancasila sebagai sistem etika ?
8. Bagaimana esensi dan urgensi Pancasila sebagai sistem etika ?
9. Apa hubungan nilai, norma, dan moral ?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui konsep Pancasila sebagai sistem etika dan teori etika.
2. Untuk mengetahui pengertian nilai, norma dan moral.
3. Untuk mengetahui aliran-aliran etika.
4. Untuk mengetahui etika pancasila.
5. Untuk mengetahui alasan diperlukannya Pancasila sebagai sistem etika.
6. Untuk mengetahui sumber historis, sosiologis, politis tentang Pancasila
sebagai sistem etika.
7. Untuk mengetahui cara membangun argumen tentang dinamika dan
tantangan Pancasila sebagai sistem etika.
8. Untuk mengetahui esensi dan urgensi Pancasila sebagai sistem etika.
9. Untuk mengetahui hubungan nilai, norma dan moral.

2|PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA


BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Pancasila sebagai Sistem Etika dan Teori Etika


1. Pengertian Etika
Istilah etika berasal dari bahasa Yunani, “Ethos” yang artinya tempat
tinggal yang biasa, padang rumput, kandang, kebiasaan, adat, watak,
perasaan, sikap, dan cara berfikir.
Secara etimologis, etika berarti ilmu tentang segala sesuatu yang biasa
dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan. Dalam arti ini, etika berkaitan
dengan kebiasaan hidup yang baik, tata cara hidup yang baik, baik pada diri
seseorang maupun masyarakat. Kebiasaan hidup yang baik ini dianut dan
diwariskan dari satu generasi kegenerasi yang lain. Dalam artian ini, etika
sama maknanya dengan moral.
Etika dalam arti yang luas adalah ilmu yang membahas tentang kriteria
baik dan buruk. Etika pada umumnya dimengerti sebagai pemikiran filosofis
mengenai segala sesuatu yang dianggap baik atau buruk dalam perilaku
manusia. Keseluruhan perilaku manusia dengan norma dan prinsip-prinsip
yang mengaturnya itu kerap kali disebut moralitas atau etika.
Etika sebagai ilmu dibagi dua, yaitu :
a. Etika umum
Membahas prinsip-prinsip umum yang berlaku bagi setiap tindakan
manusia. Dalam falsafah Barat dan Timur, seperti di Cina dan seperti
dalam Islam, aliran-aliran pemikiran etika beranekaragam. Tetapi pada
prinsipnya etika umum membicarakan asas-asas dari tindakan dan
perbuatan manusia, serta sistem nilai apa yang terkandung di dalamnya.
b. Etika khusus
Dibagi menjadi dua yaitu etika individual dan etika sosial.
Etika individual membahas kewajiban manusia terhadap dirinya
sendiri dan dengan kepercayaan agama yang dianutnya serta

3|PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA


panggilan nuraninya, kewajibannya dan tanggung jawabnya terhadap
Tuhannya.
Etika sosial membahas kewajiban serta norma-norma sosial yang
seharusnya dipatuhi dalam hubungan sesama manusia, masyarakat,
bangsa dan negara. Etika sosial meliputi cabang-cabang etika yang
lebih khusus lagi seperti etika keluarga, etika profesi, etika bisnis,
etika lingkungan, etika pendidikan, etika kedokteran, etika jurnalistik,
etika seksual dan etika politik. Etika politik sebagai cabang dari etika
sosial dengan demikian membahas kewajiban dan norma-norma
dalam kehidupan politik, yaitu bagaimana seseorang dalam suatu
masyarakat kenegaraan (yang menganut sistem politik tertentu)
berhubungan secara politik dengan orang atau kelompok masyarakat
lain.
Dalam melaksanakan hubungan politik itu seseorang harus mengetahui
dan memahami norma-norma dan kewajiban-kewajiban yang harus
dipatuhi. Dan Pancasila memegang peranan dalam perwujudan sebuah
sistem etika yang baik di negara ini. Disetiap saat dan dimana saja kita
berada kita diwajibkan untuk beretika disetiap tingkah laku kita. Seperti
tercantum di sila kedua “Kemanusian yang adil dan beradab” tidak dapat
dipungkiri bahwa kehadiran Pancasila dalam membangun etika bangsa ini
sangat berandil besar. Setiap sila pada dasarnya merupakan asas dan fungsi
sendiri-sendiri, namun secara keseluruhan merupakan suatu kesatuan yang
sistematik.

2. Teori Etika
Dalam mengkaji masalah, etika terdiri dari 2 teori :
a. Teori Konsekuensialis
Kelompok teori yang konsekuensialis yang menilai baik buruknya
perilaku manusia atau benar tidaknya sebagai manusia berdasarkan
konsekuensi atau akibatnya. Yakni dilihat dari apakah perbuatan atau
tindakan itu secara keseluruhan membawa akibat baik lebih banyak

4|PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA


daripada akibat buruknya atau sebaliknya. Teori ini mendasarkan diri atas
suatu keyakinan bahwa hidup manusia secara kodrati mengarah pada suatu
tujuan. Yang termasuk kedalam kelompok konsekuensalis dan teleologis
adalah teori egoisme, eudaimonisme, dan utilarisme. Sesuai dari kata
konsekuen yaitu etika tersebut sesuai dengan apa yang dikatakannya dan
diperbuatnya.
b. Teori Non Konsekuensialis
Teori ini menilai baik buruknya perbuatan atau benar salahnya tindakan
tanpa melihat konsekuensi atau akibatnya, melainkan dengan hukum atau
standar moral. Teori ini juga disebut dengan etika deontologist karena
menekankan konsep kewajiban moral yang wajib ditaati manusia.

B. Pengertian Nilai, Norma dan Moral


1. Nilai
Nilai (value) adalah kemampuan yang dipercayai yang ada pada suatu
benda untuk memuaskan manusia. Sifat dari suatu benda yang
menyebabkan menarik minat seseorang atau kelompok. Jadi nilai itu pada
hakikatnya adalah sifat dan kualitas yang melekat pada suatu obyeknya.
Dengan demikian, maka nilai itu adalah suatu kenyataan yang tersembunyi
dibalik kenyataan-kenyataan lainnya.
Menilai berarti menimbang, suatu kegiatan manusia untuk
menghubungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain kemudian untuk
selanjutnya diambil keputusan. Keputusan itu adalah suatu nilai yang dapat
menyatakan berguna atau tidak berguna, benar atau tidak benar, baik atau
tidak baik, dan seterusnya. Penilaian itu pastilah berhubungan dengan unsur
indrawi manusia sebagai subjek penilai, yaitu unsur jasmani, rohani, akal,
rasa, karsa dan kepercayaan.
Dengan demikian, nilai adalah sesuatu yang berharga, berguna,
memperkaya bathin dan menyadarkan manusia akan harkat dan
martabatnya. Nilai bersumber pada budi yang berfungsi mendorong dan
mengarahkan (motivator) sikap dan perilaku manusia. Nilai sebagai suatu

5|PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA


sistem merupakan salah satu wujud kebudayaan di samping sistem sosial
dan karya. Oleh karena itu, Alport mengidentifikasikan nilai-nilai yang
terdapat dalam kehidupan masyarakat ada enam macam, yaitu : nilai teori,
nilai ekonomi, nilai estetika, nilai sosial, nilai politik dan nilai religi.
Menurut Max Scheler nilai-nilai dapat dikelompokkan dalam empat
tingkatan yaitu :
1. Nilai kenikmatan adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan indra yang
memunculkan rasa senang, menderita atau tidak enak.
2. Nilai kehidupan yaitu nilai-nilai penting bagi kehidupan yakni : jasmani,
kesehatan serta kesejahteraan umum.
3. Nilai kejiwaan adalah nilai-nilai yang berkaitan dengan kebenaran,
keindahan dan pengetahuan murni,
4. Nilai kerohanian yaitu tingkatan ini terdapatlah modalitas nilai dari yang
suci.

Sementara itu, Notonagoro membedakan menjadi tiga, yaitu :


1. Nilai material yaitu segala sesuatu yang berguna bagi jasmani manusia.
2. Nilai vital yaitu segala sesuatu yang berguna bagi manusia untuk
mengadakan suatu aktivitas atau kegiatan.
3. Nilai kerohanian yaitu segala sesuatu yang bersifat rohani manusia yang
dibedakan dalam empat tingkatan sebagai berikut :
a. Nilai kebenaran yaitu nilai yang bersumber pada rasio, budi, akal atau
cipta manusia.
b. Nilai keindahan/estetis yaitu nilai yang bersumber pada perasaan
manusia.
c. Nilai kebaikan atau nilai moral yaitu nilai yang bersumber pada unsur
kehendak manusia.
d. Nilai religius yaitu nilai kerohanian tertinggi dan bersifat mutlak.

Dalam pelaksanaannya, nilai-nilai dijabarkan dalam wujud norma,


ukuran dan kriteria sehingga merupakan suatu keharusan anjuran atau

6|PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA


larangan, tidak dikehendaki atau tercela. Oleh karena itu, nilai berperan
sebagai pedoman yang menentukan kehidupan setiap manusia. Nilai
manusia berada dalam hati nurani, kata hati dan pikiran sebagai suatu
keyakinan dan kepercayaan yang bersumber pada berbagai sistem nilai.
Etika selalu terkait dengan masalah nilai sehingga perbincangan tentang
etika, pada umumnya membicarakan tentang masalah nilai (baik atau
buruk). Frondizi menerangkan bahwa nilai merupakan kualitas yang tidak
real karena nilai itu tidak ada untuk dirinya sendiri, nilai membutuhkan
pengemban untuk berada (2001:7). Misalnya, nilai kejujuran melekat pada
sikap dan kepribadian seseorang. Istilah nilai mengandung penggunaan yang
kompleks dan bervariasi. Lacey menjelaskan bahwa paling tidak ada enam
pengertian nilai dalam penggunaan secara umum, yaitu sebagai berikut:
a. Sesuatu yang fundamental yang dicari orang sepanjang hidupnya.
b. Suatu kualitas atau tindakan yang berharga, kebaikan, makna atau
pemenuhan karakter untuk kehidupan seseorang.
c. Suatu kualitas atau tindakan sebagian membentuk identitas seseorang
sebagai pengevaluasian diri, penginterpretasian diri, dan pembentukan diri.
d. Suatu kriteria fundamental bagi seseorang untuk memilih sesuatu yang
baik di antara berbagai kemungkinan tindakan.
e. Suatu standar yang fundamental yang dipegang oleh seseorang ketika
bertingkah laku bagi dirinya dan orang lain.
f. Suatu “objek nilai”, suatu hubungan yang tepat dengan sesuatu yang
sekaligus membentuk hidup yang berharga dengan identitas kepribadian
seseorang. Objek nilai mencakup karya seni, teori ilmiah, teknologi, objek
yang disucikan, budaya, tradisi, lembaga, orang lain, dan alam itu sendiri.
(Lacey, 1999: 23).
Dengan demikian, nilai sebagaimana pengertian butir kelima (5), yaitu
sebagai standar fundamental yang menjadi pegangan bagi seseorang dalam
bertindak, merupakan kriteria yang penting untuk mengukur karakter
seseorang. Nilai sebagai standar fundamental ini pula yang diterapkan

7|PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA


seseorang dalam pergaulannya dengan orang lain sehingga perbuatannya
dapat dikategorikan etis atau tidak.

2. Norma
Kesadaran manusia yang membutuhkan hubungan yang ideal akan
menumbuhkan kepatuhan terhadap suatu peraturan atau norma. Hubungan
ideal yang seimbang, serasi dan selaras itu tercermin secara vertikal
(Tuhan), horizontal (masyarakat) dan alamiah (alam sekitarnya).
Norma adalah perwujudan martabat manusia sebagai mahluk budaya,
sosial, moral dan religi. Norma merupakan suatu kesadaran dan sikap luhur
yang dikehendaki oleh tata nilai untuk dipatuhi. Oleh karena itu, norma
dalam perwujudannya dapat berupa norma agama, norma filsafat, norma
kesusilaan, norma hukum dan norma sosial. Norma memiliki kekuatan
untuk dipatuhi karena adanya sanksi.
Norma-norma yang terdapat dalam masyarakat antara lain :
a) Norma agama adalah ketentuan hidup masyarakat yang bersumber pada
agama.
b) Norma kesusilaan adalah ketentuan hidup yang bersumber pada hati
nurani, moral atau filsafat hidup.
c) Norma hukum adalah ketentuan-ketentuan tertulis yang berlaku dan
bersumber pada Undang-Undang suatu Negara tertentu.
d) Norma sosial adalah ketentuan hidup yang berlaku dalam hubungan
antara manusia dalam masyarakat.

3. Moral
Moral berasal dari kata mos (mores) yang sinonim dengan kesusilaan,
tabiat atau kelakuan. Moral adalah ajaran tentang hal yang baik dan buruk,
yang menyangkut tingkah laku dan perbuatan manusia.
Seorang pribadi yang taat kepada aturan-aturan, kaidah-kaidah dan
norma yang berlaku dalam masyarakatnya, dianggap sesuai dan bertindak

8|PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA


benar secara moral. Jika sebaliknya yang terjadi maka pribadi itu dianggap
tidak bermoral.
Moral dalam perwujudannya dapat berupa peraturan dan atau prinsip-
prinsip yang benar, baik terpuji dan mulia. Moral dapat berupa kesetiaan,
kepatuhan terhadap nilai dan norma yang mengikat kehidupan masyarakat,
bangsa dan negara.

C. Aliran-Aliran Etika
Ada beberapa aliran etika yang dikenal dalam bidang filsafat, meliputi :
 Etika Keutamaan atau Etika Kebajikan
Adalah teori yang mempelajari keutamaan (virtue), artinya
mempelajari tentang perbuatan manusia itu baik atau buruk. Contoh watak
yang terkandung dalam nilai keutamaan adalah baik hati, ksatria, belas
kasih, terus terang, bersahabat, murah hati, dan lain-lain.
 Etika Teleologis
Adalah teori yang menyatakan bahwa hasil dari tindakan moral
menentukan nilai tindakan atau kebenaran tindakan dan dilawankan
dengan kewajiban. Contohnya adalah seseorang yang mungkin berniat
sangat baik atau mengikuti asas-asas moral yang tertinggi, akan tetapi
hasil tindakan moral itu berbahaya atau jelek, maka tindakan tersebut
dinilai secara moral sebagai tindakan yang tidak etis. Etika teleologis ini
menganggap nilai moral dari suatu tindakan dinilai berdasarkan pada
efektivitas tindakan tersebut dalam mencapai tujuannya. Etika teleologis
ini juga menganggap bahwa di dalamnya kebenaran dan kesalahan suatu
tindakan dinilai berdasarkan tujuan akhir yang diinginkan (Mudhofir,
2009: 214). Aliran-aliran etika teleologis, meliputi eudaemonisme,
hedonisme, utilitarianisme.
 Etika Deontologis
Adalah teori etis yang bersangkutan dengan kewajiban moral sebagai
hal yang benar dan bukan membicarakan tujuan atau akibat. Kewajiban
moral bertalian dengan kewajiban yang seharusnya, kebenaran moral atau

9|PANCASILA SEBAGAI SISTEM ETIKA


kelayakan, kepatutan. Pertimbangan tentang kewajiban moral lebih
diutamakan daripada pertimbangan tentang nilai moral. Konsep-konsep
nilai moral (yang baik) dapat didefinisikan berdasarkan pada kewajiban
atau kelayakan rasional yang tidak dapat diturunkan dalam arti tidak dapat
dianalisis.
Aliran Orientasi Watak Nilai Keterangan
Etika Keutamaan Disiplin, Moralitas yang
Keutamaan atau kejujuran, belas didasarkan pada agama
kebajikan kasih, dan lain- kebanyakan menganut
lain. etika keutamaan.
Teleologis Konsekuensi Kebenaran dan Aliran etika yang
atau akibat kesalahan berorientasi pada
didasarkan pada konsekuensi atau hasil
tujuan akhir. seperti: Eudaemonisme,
Hedonisme,
Utilitarianisme.
Deontologis Kewajiban Kelayakan, Pandangan etika yang
atau kepatutan, mementingkan kewajiban
keharusan kepantasan seperti halnya pemikiran
Immanuel Kant yang
terkenal dengan sikap
imperatif kategoris,
perbuatan baik dilakukan
tanpa pamrih.

D. Etika Pancasila
Adalah cabang filsafat yang dijabarkan dari sila-sila Pancasila untuk
mengatur perilaku kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara di
Indonesia. Oleh karena itu, dalam etika Pancasila terkandung nilai-nilai
ketuhanan, kemanusian, persatuan, kerakyatan, dan keadilan. Kelima nilai

10 | P A N C A S I L A S E B A G A I S I S T E M E T I K A
tersebut membentuk perilaku manusia Indonesia dalam semua aspek
kehidupannya.
a. Sila ketuhanan mengandung dimensi moral berupa nilai spiritualitas yang
mendekatkan diri manusia kepada Sang Pencipta.
b. Sila kemanusiaan mengandung dimensi humanus, yang artinya
menjadikan manusia lebih manusiwi yaitu upaya meningkatkan kualitas
kemanusiaan dalam pergaulan antar sesama.
c. Sila persatuan mengandung dimensi nilai solidaritas, rasa kebersamaan,
cinta tanah air.
d. Sila kerakyatan mengandung dimensi nilai berupa sikap menghargai
orang lain.
e. Sila keadilan mengandung dimensi nilai mau peduli pada nasib orang lain.

E. Alasan Diperlukannya Pancasila Sebagai Sitem Etika


Alasan mengapa Pancasila sebagai sistem etika itu diperlukan dalam
penyelenggaraan kehidupan bernegara di Indonesia, meliputi :
a. Dekadensi moral yang melanda kehidupan masyarakat, terutama generasi
muda sehingga membahayakan kelangsungan hidup bernegara. Generasi
muda yang tidak mendapat pendidikan karakter yang memadai
dihadapkan pada pluralitas nilai yang melanda Indonesia sebagai akibat
globalisasi sehingga mereka kehilangan arah. Dekadensi moral itu terjadi
ketika pengaruh globalisasi tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila,
tetapi justru nilai-nilai dari luar lebih dominan. Contohnya : narkoba,
kebebasan tanpa batas, rendahnya rasa hormat kepada orang tua,
menipisnya rasa kejujuran, tawuran dikalangan pelajar. Oleh karena itu,
Pancasila sebagai sistem etika diperlukan sejak dini, terutama dalam
bentuk pendidikan karakter di sekolah-sekolah.
b. Korupsi akan semakin merajalela karena para penyelenggara negara tidak
memiliki rambu-rambu normatif dalam menjalankan tugasnya.
c. Kurangnya rasa perlu berkontribusi dalam pembangunan melalui
pembayaran pajak. Pancasila sebagai sistem etika akan dapat

11 | P A N C A S I L A S E B A G A I S I S T E M E T I K A
mengarahkan wajib pajak untuk secara sadar memenuhi kewajiban
perpajakannya dengan baik.
d. Pelanggaran hak-hak asasi manusia (HAM) dalam kehidupan bernegara
di Indonesia di tandai dengan melemahnya penghargaan seseorang
terhadap hak pihak lain. Kasus-kasus pelanggaran HAM yang dilaporkan
diberbagai media, seperti KDRT ( kekerasan dalam rumah tangga ).
Kasus tersebut terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap
nilai-nilai Pancasila sebagai sistem etika. Oleh karena itu, diperlukan
penjabaran sistem etika ke dalam peraturan perundang-undangan tentang
HAM.
e. Kerusakan lingkungan yang berdampak terhadap berbagai aspek dalam
kehidupan manusia, seperti kesehatan, kelancaran penerbangan, nasib
generasi yang akan datang, global warming dan lain-lain. Contoh :
Pembakaran hutan. Kegiatan ini terjadi karena masyarakat Indonesia
cenderung memutuskan tindakan berdasarkan sikap emosional, mau
menang sendiri, tanpa memikirkan dampak yang ditimbulkan dari
perbuatannya. Oleh karena itu, Pancasila sebagai sistem etika perlu
diterapkan kedalam peraturan perundang-undangan yang menindak tegas
para pelaku pembakaran hutan, baik pribadi maupun perusahaan dan
memberi penghargaan kepada para pemerhati lingkungan.

F. Sumber Historis, Sosiologi, Politis Pancasila Sebagai Sistem Etika.


1. Sumber Historis
Pada zaman Orde Lama, Pancasila sebagai sistem etika masih berbentuk
sebagai Philosofische Grondslog artinya nilai Pancasila belum di tegaskan
kedalam sistem etika, tetapi nilai-nilai moral telah terdapat dalam
pandangan hidup dalam masyarakat. Masyarakat dalam masa Orde Lama
telah mengenal nilai-nilai kemandirian bangsa yang oleh Presiden Soekarno
disebut dengan istilah berdikari (berdiri di atas kaki sendiri).
Pada zaman Orde Baru, Pancasila sebagai sistem etika disosialisasikan
melalui penataran P-4. Pada era reformasi, Pancasila sebagai sistem etika

12 | P A N C A S I L A S E B A G A I S I S T E M E T I K A
tenggelam dalam hiruk pikuk perebutan kekuasaan yang menjurus kepada
pelanggaran etika politik. Contohnya penyalahgunaan kekuasaan dan
kewenangan yang menciptakan korupsi.

2. Sumber Sosiologis
Pancasila sebagai sistem etika dapat ditemukan dalam kehidupan
masyarakat di berbagai etnik di Indonesia. Misalnya, orang Minangkabau
dalam bermusyawarah memakai prinsip “bulat air dalam pembuluh, bulat
kata oleh mufakat”.

3. Sumber Politis
Pancasila sebagai sistem etika terdapat dalam norma-norma dasar sebagai
sumber penyusunan berbagai peraturan perundang-undangan di Indonesia.
Etika politik memiliki tiga dimensi yaitu tujuan, sarana, dan aksi politik.

G. Membangun Argumen tentang Dinamika dan Tantangan Pancasila


Sebagai Sistem Etika

1. Argumen tentang Dinamika Pancasila sebagai Sistem Etika


a. Pada zaman Orde Lama, pemilu diselengarakan dengan semangat
demokrasi yang diikuti banyak partai politik, tetapi dimenangkan empat
partai politik yaitu: Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Muslimin
Indonesia (PARMUSI), Partai Nahdhatul Ulama (PNU), dan Partai
Komunis Indonesia (PKI). Tidak dapat dikatakan bahwa pemerintahan di
zaman Orde Lama mengikuti sistem etika Pancasila, bahkan ada tudingan
dari pihak Orde Baru bahwa pemilu pada zaman Orde Lama dianggap
terlalu Liberal karena pemerintahan Soekarno menganut sistem demokrasi
terpimpin, yang cenderung otoriter.
b. Pada zaman Orde Baru muncul konsep manusia Indonesia seutuhnya
sebagai cerminan manusia yang berperilaku dan berakhlak mulia sesuai
nilai-nilai Pancasila.

13 | P A N C A S I L A S E B A G A I S I S T E M E T I K A
c. Sistem etika Pancasila pada era reformasi tenggelam dalam euforia
demokrasi. Namun seiring berjalannya waktu, disadari bahwa demokrasi
tanpa dilandasi sistem etika politik akan menjurus pada penyalahgunaan
kekuasaan, dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan
(Machiavelisme).

2. Argumen Tantangan Pancasila sebagai Sistem Etika.


a. Tantangan sistem etika Pancasila pada zaman orde lama berupa sikap
otoriter dalam pemerintahan sebagaimana yang tercermin dalam
penyelenggaraan negara yang menerapkan sistem demokrasi terpimpin.
Hal tersebut tidak sesuai dengan sistem etika Pancasila yang lebih
menonjolkan semangat musyawarah untuk mufakat.
b. Tantangan sistem etika Pancasila dalam zaman Orde Baru yang terkait
dengan masalah KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme) yang merugikan
negara. Hal itu tidak sesuai dengan keadilan sosial karena KKN hanya
menguntungkan segelintir orang atau kelompok tertentu.
c. Tantangan terhadap sistem etika Pancasila pada era Reformasi berupa
euforia kebebasan berpolitik sehingga mengabaikan norma-norma moral.
Misalnya, munculnya anarkisme yang memaksakan kehendak dengan
mengatasnamakan kebebasan berdemokrasi.

H. Mendeskripsikan Esensi Dan Urgensi Pancasila Sebagai Sistem Etika


1. Esensi Pancasila sebagai Sistem Etika
a. Hakikat sila ketuhanan terletak pada keyakinan bangsa Indonesia bahwa
Tuhan sebagai penjamin prinsip moral. Artinya, setiap perilaku warga
negara harus didasarkan atas nilai-nilai moral yang bersumber pada norma
agama. Setiap prinsip moral yang berlandaskan pada norma agama, maka
memiliki kekuatan (force) untuk dilaksanakan oleh pengikut-pengikutnya.
b. Hakikat sila kemanusiaan pada actus humanus, yaitu tindakan manusia
yang mengandung implikasi dan konsekuensi moral yang dibedakan
dengan actus homini, yaitu tindakan manusia yang biasa. Tindakan

14 | P A N C A S I L A S E B A G A I S I S T E M E T I K A
kemanusian yang mengandung implikasi moral diungkapkan dengan cara
dan sikap yang adil dan beradab sehingga menjamin tata pergaulan
antarmanusia dan antarmakhluk yang bersendikan nilai-nilai kemanusiaan
yang tertinggi, yaitu kebajikan dan kearifan.
c. Hakikat sila persatuan terletak pada kesediaan untuk hidup bersama
sebagai warga bangsa yang mementingkan masalah bangsa di atas
kepentingan individu atau kelompok.
d. Hakikat sila kerakyatan terletak pada prinsip musyawarah untuk mufakat.
e. Hakikat sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia merupakan
perwujudan dari sistem etika yang tidak menekankan pada kewajiban
semata (deontologis) atau menekankan pada tujuan belaka (teleologis),
tetapi lebih menonjolkan keutamaan (Virtue Ethics) yang terkandung
dalam nilai keadilan itu sendiri.

2. Urgensi Pancasila sebagai Sistem Etika


Pentingnya Pancasila sebagai sistem etika terkait dengan problem yang
dihadapi bangsa Indonesia, sebagai berikut :
a. Banyaknya kasus korupsi yang melanda negara Indonesia sehingga dapat
melemahkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara.
b. Masih terjadinya aksi terorisme yang mengatasnamakan agama sehingga
dapat merusak semangat toleransi dalam kehidupan antara umat
beragama,dan meluluhlantakkan semangat persatuan atau mengancam
disintegrasi bangsa.
c. Masih terjadinya pelanggaran HAM dalam kehidupan bernegara.
d. Kesenjangan antara kelompok masyarakat kaya dan miskin masih
menandai kehidupan masyarakat Indonesia.
e. Ketidakadilan hukum yang masih mewarnai proses peradilan di Indonesia.
f. Banyaknya orang kaya yang tidak bersedia membayar pajak dengan benar.

15 | P A N C A S I L A S E B A G A I S I S T E M E T I K A
Hal-hal penting yang sangat urgen bagi pengembangan Pancasila sebagai
sistem etika meliputi hal-hal sebagai berikut:
a. Meletakkan sila-sila Pancasila sebagai sistem etika berarti menempatkan
Pancasila sebagai sumber moral dan inspirasi bagi penentu sikap,
tindakan, dan keputusan yang diambil setiap warga negara.
b. Pancasila sebagai sistem etika memberi guidance bagi setiap warga negara
sehingga memiliki orientasi yang jelas dalam tata pergaulan baik lokal,
nasional, regional, maupun internasional.
c. Pancasila sebagai sistem etika dapat menjadi dasar analisis bagi berbagai
kebijakan yang dibuat oleh penyelenggara negara sehingga tidak keluar
dari semangat negara kebangsaan yang berjiwa Pancasilais.
d. Pancasila sebagai sistem etika dapat menjadi filter untuk menyaring
pluralitas nilai yang berkembang dalam kehidupan masyarakat sebagai
dampak globalisasi yang memengaruhi pemikiran warga negara.

I. Hubungan Nilai, Norma, Dan Moral


Nilai, norma dan moral langsung maupun tidak langsung memiliki
hubungan yang cukup erat, karena masing-masing akan menentukan etika
bangsa ini. Hubungan antarnya dapat diringkas sebagai berikut :
a. Nilai adalah kualitas dari suatu yang bermanfaat bagi kehidupan manusia
(lahir dan batin).
 Nilai bersifat abstrak hanya dapat dipahami, dipikirkan, dimengerti dan
dihayati oleh manusia. Nilai berkaitan dengan harapan, cita-cita,
keinginan, dan segala sesuatu pertimbangan batiniah manusia.
 Nilai dapat juga bersifat subyektif bila diberikan oleh subyek, dan bersifat
obyektif bila melekat pada sesuatu yang terlepas dari penilaian manusia.
b. Norma adalah wujud konkrit dari nilai, yang menuntun sikap dan tingkah
laku manusia. Norma hukum merupakan norma yang paling kuat
keberlakuannya, karena dapat dipaksakan oleh suatu kekuasaan eksternal,
misalnya penguasa atau penegak hukum.

16 | P A N C A S I L A S E B A G A I S I S T E M E T I K A
Nilai dan norma senantiasa berkaitan dengan moral dan etika.
Makna moral yang terkandung dalam kepribadian seseorang akan tercermin
pada sikap dan tingkah lakunya. Norma menjadi penuntun sikap dan
tingkah laku manusia. Moral dan etika sangat erat hubungannya.
Keterkaitan nilai, norma dan moral merupakan suatu kenyataan yang
seharusnya tetap terpelihara di setiap waktu pada hidup dan kehidupan
manusia. Keterkaitan itu mutlak di garis bawahi bila seorang individu,
masyarakat, bangsa dan negara menghendaki pondasi yang kuat tumbuh
dan berkembang. Sebagaimana tersebut di atas maka nilai akan berguna
menuntun sikap dan tingkah laku manusia bila dikonkritkan dan
diformulakan menjadi lebih obyektif sehingga memudahkan manusia untuk
menjabarkannya dalam aktivitas sehari-hari.
Dalam kaitannya dengan moral maka aktivitas turunan dari nilai dan
norma akan memperoleh integritas dan martabat manusia. Derajat
kepribadian itu amat ditentukan oleh moralitas yang mengawalnya.
Sementara itu, hubungan antara moral dan etika kadang-kadang atau
seringkali disejajarkan arti dan maknanya. Namun demikian, etika dalam
pengertiannya tidak berwenang menentukan apa yang boleh dan tidak boleh
dilakukan seseorang. Wewenang itu dipandang berada di tangan pihak yang
memberikan ajaran moral.

17 | P A N C A S I L A S E B A G A I S I S T E M E T I K A
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Pendukung dari Pancasila sebagai sistem etika adalah Pancasila
memegang peranan dalam perwujudan sebuah sistem etika yang baik di
negara ini. Di setiap saat dan dimana saja kita berada kita diwajibkan untuk
beretika disetiap tingkah laku kita. Seperti yang tercantum di sila ke dua
pada Pancasila, yaitu “Kemanusian yang adil dan beradab” sehingga tidak
dapat dipungkiri bahwa kehadiran Pancasila dalam membangun etika
bangsa ini sangat berandil besar. Dengan menjiwai butir-butir Pancasila
masyarakat dapat bersikap sesuai etika baik yang berlaku dalam masyarakat
maupun bangsa dan negara.

B. Saran
Saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis perlukan dari
pembaca untuk memperbaiki makalah ini yang jauh dari kata sempurna.

18 | P A N C A S I L A S E B A G A I S I S T E M E T I K A
DAFTAR PUSTAKA

Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset,


Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. 2016. Pendidikan Pancasila, Jakarta.
Departemen Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia
RISTEKDIKTI : Pendidikan Pancasila 2000
RISTEKDIKTI : Pendidikan Pancasila 2003
Prof. Dr. Nanat Fatah Natsir, M.S. 2010. Moral dan Etika Elite Politik.
Yogyakarta : Pustaka Pelajar
http://123789adt.blogspot.com/2016/09/makalah-pancasila-sebagai-sistem-
etika.html
https://saepudinonline.wordpress.com/2010/12/12/pancasila-sebagai-sistem-etika/
https://yuniversitas.blogspot.com/2018/09/makalah-tentang-pendidikan-pancasila-
sebagai-sistem-etika.html
https://www.academia.edu/34850797/MAKALAH_PANCASILA_SEBAGAI_SI
STEM_ETIKA

19 | P A N C A S I L A S E B A G A I S I S T E M E T I K A

Anda mungkin juga menyukai