Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

DAMPAK BULLY TERHADAP PSIKOLOGI

DEWI RATNA SUNDANI


C1C018125

UNIVERSITAS NEGERI BENGKULU


2019
BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Belakangan ini tindak kekerasan sering terjadi pada anak. Baik itu

terjadi di lingkungan sekolah, maupun rumah. Kekerasan yang diterima anak

ini bukan hanya dilakukan oleh pihak orang tua maupun guru saja, tetapi

justru kekerasan itu di terima anak dari teman sekitarnya. Dewasa ini, sering

kita temui berbagai bentuk kekerasan itu di lingkungan kita, yang kita kenal

dengan sebuta ‘bully’ atau ‘bullying’. Yang lebih memperihatinkan tindakan

ini dilakukan secara terus menerus dan menyebabkan anak yang menjadi

korban menjadi ketakutan.

Dalam Bahasa Indonesia, secara harfiah kata bully berarti penggertak,

orang yang mengganggu orang lemah. Contoh perilaku bullying antara lain

mengejek, menyebarkan rumor, menghasut,mengucilkan, menakut-nakuti

(intimidasi), mengancam, menindas, memalak, ataumenyerang secara fisik

(mendorong, menampar, atau memukul).

Sebagian masyarakat berpendapat bahwa bullying ini merupakan hal

yang biasa, pantas, sepele bahkan normal. Tapi pada kenyataannya perilaku

bullying ini tidak dapat dianggap sepele lagi, ini bukan merupakan tindakan

wajar. Jika bullying ini dilakukan secara terus menerus tentu akan

memberikan dampak yang buruk terhadap anak, bukan hanya kepada si

korban tetapi juga berdampak kepada si pelaku bullying ini. Dengan


kenyataan seperti ini, maka masyarakat seharusnya mulai memperhatikan

tingkah laku dan penangananya terhadap kasus bullying ini.

2. Rumusan Masalah

Berdasarkan pemaparan yang sudah disampaikan pada latar belakang

masalah di atas, maka rumusan masalah yang akan dikaji dalam makalah ini

adalah: pertama, apa yang dimaksud dengan ‘bully’? kedua,, apa penyebab

terjadinya tindakan ‘bully’? ketiga, apa dampak bully terhadap Psikologi

anak? Keempat bagaimana dampak bully terhadap cara belajar anak? Dan

kelima, bagaimana cara penanggulangan terhadap anak yang menerima

perilaku ‘bully’?

3. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah: pertama, untuk mengetahui

tentang pengertian ‘bully’, kedua,untuk mengetahui apa penyebab terjadinya

tindakan ‘bully’, ketiga, untuk memaparkan dampak apa saja yang akan terjadi

pada anak kerena ‘bully’, dan keempat, untuk mengetahu cara penanggulangan

tindakan ‘bully’ terhadap anak.


BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Bully

Nihaya (blogspot) menjelaskan, Bullying berasal dari kata Bully, yaitu

suatu kata yang mengacu pada pengertian adanya “ancaman” yang dilakukan

seseorang terhadap orang lain (yang umumnya lebih lemah atau “rendah” dari

pelaku), yang menimbulkan gangguan psikis bagi korbannya (korban disebut

bully boy atau bully girl) berupa stress (yang muncul dalam bentuk gangguan

fisik atau psikis, atau keduanya; misalnya susah makan, sakit fisik, ketakutan,

rendah diri, depresi, cemas, dan lainnya).

Definisi Bullying menurut PeKA (Peduli Karakter Anak) adalah

penggunaan agresi dengan tujuan untuk menyakiti orang lain baik secara fisik

maupun mental. Bullying dapat berupa tindakan fisik, verbal, emosional dan

juga seksual. Berikut ini adalah contoh tindakan yang termasuk kategory

bullying; pelaku baik individual maupun group secara sengaja menyakiti atau

mengancam korban dengan cara:

1. menyisihkan seseorang dari pergaulan,

2. menyebarkan gosip, mebuat julukan yang bersifat ejekan,

3. mengerjai seseorang untuk mempermalukannya,

4. mengintimidasi atau mengancam korban,

5. melukai secara fisik,

6. melakukan pemalakan/ pengompasan.


B. Penyebab Terjadinya Tindakan Bully

Thalib (2010:187) menjelaskan, psikologi didefinisikan sebagai studi

ilmiah tentang proses mental dan kekerasan psikologis seperti sikap yang

mengingkari persamaan hak dan kemanusiaan. Berkowitz, 1993a (dalam

Thalib, 2010:192) menggolongkan dua bentuk kategori utama agresi

berdasarkan tujuan perilaku agresi, yaitu agresi instrumental dan agresi

kebencian. Agresi instrumental adalah agresi untuk pencapaian tujuan,

keinginan atau harapan tertentu. Agresi kebencian adalah agresi yang

bertujuan untuk menyakiti, membunuh atau menghancurkan lawan.

Dari pemaparan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa bully dapat

terjadi karena adanya rasa ingin memiliki sesuatu atau adanya rasa ingin

berkuasa.

Berdasarkan penelitian, remaja pelaku bullying mempunyai kepribadian

otoriter, ingin dipatuhi secara mutlak dan kebutuhan kuat untuk mengontrol

dan mengusai orang lain. Karakter bullying seringkali dikaitkan dengan

preman, gang jalanan atau gang motor.Ciri-ciri seorang bully, antara lain:

Mencoba untuk menguasai orang lain. Hanya peduli dengan keinginannya

sendiri. Sulit melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain dankurang ber-

empaty terhadap perasaan orang lain. Pola perilakunya impulsif,

agresif,intimidatif dan suka memukul.Motivasi seseorang untuk melakukan

bullying bisa berdasarkan kebencian, perasaan iri dan dendam. Bisa juga

karena untuk menyembunyikan rasa malu dan kegelisahan,atau untuk


mendorong rasa percaya diri dengan mennganggap orang lain tidak ada

artinya.

C. Dampak Bully terhadap Psikologi Anak

Walgito (2010:10) menjelaskan bahwa perilaku atau aktivitas yang ada

pada individu atau organisasi itu timbul dengan sendirinya, tetapi sebagai

akibat dari adanya stimulus atau rangsangan yang mengenai individu ata

organisasi itu. Perilaku atau aktivitas itu merupaka jawaban atau respon

terhadap stimulus yang mengenainya.

Perilaku dapat terbentuk dari kebiasaan dan pengaruh dari lingkungan.

Perilaku yang baik terhadap seorang individu maka akan menghasilkan

individu yang berperilaku baik juga, sebaliknya individu yang memperoleh

perilaku jelek akan menimbulkan kepribadian yang tidak baik.

Sesuai dengan penjelasan di atas, perilaku seseorang dapat menjadi

alasan dalam pembetukan pribadi seseorang. Bully yang merupakan suatu

perbuatan yang akan menimbulkan rasa takut dan cemas juga mempengaruhi

perilaku seseorang. Gejala Psikologis yang akan terjadi pada anak korban

bully seperti Gelisah, depresi, Kelelahan, rasa harga diri berkurang, sulit

konsentrasi, murung, menyalahkan diri sendiri, gampang marah, hingga

pemikiran bunuh diri.

Nihaya (blogsot) mengutip pendapat Coloroso yang mengemukakan

bahayanya jika bullying menimpa korban secara berulang-ulang. Konsekuensi

bullying bagi para korban, yaitu korban akan merasa depresi dan marah, Ia
marah terhadap dirinya sendiri, terhadap pelaku bullying, terhadap orang-

orang di sekitarnya dan terhadap orang dewasa yang tidak dapat atau tidak

mau menolongnya. Hal tersebut kemudian mulai mempengaruhi prestasi

akademiknya. Berhubung tidak mampu lagi muncul dengan cara-cara yang

konstruktif untuk mengontrol hidupnya, ia mungkin akan mundur lebih jauh

lagi ke dalam pengasingan.

Perilaku bullying yang tidak ditangani dengan baik pada masa anak-

anak justru dapat menyebabkan gangguan perilaku yang lebih serius di masa

remaja dan dewasa, seperti: pelecehan seksual, kenakalan remaja, keterlibatan

dalam geng kriminal, kekerasan terhadap pacar/teman kencan, pelecehan atau

bullying ditempat kerja, kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan/kekerasan

terhadap anak, kekerasan terhadap orang tua sendiri.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa perilaku

bullying dapat berdampak terhadap fisik maupun psikis pada korban, Dampak

fisik seperti sakit kepala, sakit dada, cedera pada tubuh bahkan dapat sampai

menimbulkan kematian. Sedangkan dampak psikis seperti rendah diri, sulit

berkonsentrasi sehingga berpengaruh pada penurunan nilai akademik, trauma,

sulit bersosialisasi, hingga depresi.

D. Tampak Bully Terhadap Cara Belajar Anak

Bully tidak hanya berpengaruh terhadap psikologi dan fisik siswa, tetapi

juga berpengaruh terhadap cara belajar anak. Berikut beberapa dampak bully

terhadap cara belajar anak:


a. Anak akan merasa takut berangkat sekolah karena perlakuan bully

yang diterimanya.

b. Anak akan ketinggalan materi pelajaran

c. Anak akan merasa malas dan tidak berkeinginan untuk belajar

d. Anak akan kehilangan konsentrasi dalam belajar

e. Setelah anak merasa takut untuk berangkat kesekolah, ketinggalan

materi dan sebagainya maka anak akan mengalami penurunan

prestasi di sekolah.

E. Penanganan Terhadap Masalah Bully

Sholihat (dalam wordpress ) menjelaskan bahwa untuk menangani

masalah bully ini ada beberapa cara yang harus dilakukan guru, yaitu :

1. Usahakan mendapat kejelasan mengenai apa yang terjadi. Tekankan

bahwa kejadian tersebut bukan kesalahannya.

2. Bantu anak mengatasi ketidaknyamanan yang ia rasakan, jelaskan apa

yang terjadi dan mengapa hal itu terjadi. Pastikan anda menerangkan

dalam bahasa sederhana dan mudah dimengerti anak. jangan pernah

menyalahkan anak atas tindakan bullying yang ia alami.

3. Mintalah bantuan pihak ketiga (guru atau ahli profesional) untuk

membantu mengembalikan anak ke kondisi normal, jika dirasakan perlu.

Untuk itu bukalah mata dan hati Anda sebagai orang tua. Jangan tabu

untuk mendengarkan masukan pihak lain.


4. Amati perilaku dan emosi anak anda, bahkan ketika kejadian bully yang ia

alami sudah lama berlalu (ingat bahwa biasanya korban menyimpan

dendam dan potensial menjadi pelaku di kemudian waktu). Bekerja

samalah dengan pihak sekolah (guru). Mintalah mereka membantu dan

mengamati bila ada perubahan emosi atau fisik anak anda. Waspadai

perbedaan ekspresi agresi yang berbeda yang ditunjukkan anak anda di

rumah dan di sekolah (ada atau tidak ada orang tua / guru / pengasuh).

5. Binalah kedekatan dengan teman-teman anak anda. Cermati cerita mereka

tentang anak anda. Waspadai perubahan atau perilaku yang tidak biasa.

6. Minta bantuan pihak ke tiga (guru atau ahli profesional) untuk menangani

pelaku.

Korban bully juga harus mendapat penanganan khusus untuk

memperkecil kemungkinan bully terus terjadi. Adapun cara-caranya adalah

sebagai berikut:

1. Bekali anak dengan kemampuan untuk membela dirinya sendiri, terutama

ketika tidak ada orang dewasa/ guru/ orang tua yang berada di dekatnya.

Ini berguna untuk pertahanan diri anak dalam segala situasi mengancam

atau berbahaya, tidak saja dalam kasus bullying. Pertahanan diri ini dapat

berbentuk fisik dan psikis.

2. Bekali anak dengan kemampuan menghadapi beragam situasi tidak

menyenangkan yang mungkin ia alami dalam kehidupannya.


3. Upayakan anak mempunyai kemampuan sosialisasi yang baik dengan

sebaya atau dengan orang yang lebih tua. Dengan banyak berteman,

diharapkan anak tidak terpilih menjadi korban bullying.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan

Bullying dapat berupa tindakan fisik, verbal, emosional dan juga seksual.

Berikut ini adalah contoh tindakan yang termasuk kategory bullying; pelaku

baik individual maupun group secara sengaja menyakiti atau mengancam

korban. Tindakan bully ini akan memberikan berbagai dampak kepada sang

korban, baik secara fisik maupun psikis. Korban dapat menjadi merasa

ketakutan, merasa disisihkan, kehilangan rasa percaya diri, hilang semangat

belajar, bahkan merasa takut yang berlebihan.

Untuk memperkecil kemungkinan terjadinya tindakan bully secar

berulang-ulang, maka perlu dilakukan berbagai pendekatan oleh guru terutama

terhadap anak yang menjadi korban bully. Bekalilah anak kemampuan untuk

membela diri, tumbuhkan rasa percaya diri terhadap anak dan ajarkan anak

cara bersosialisasi dengan orang sekitar.


KEPUSTAKAAN

Nihaya, Harun. 2011. “Bullying dan Solusinya” (online).


(http://harunnihaya.blogspot.com/2011/12/bullying-dan-solusinya.html.
diakses 10-05-2015).

Sholihat. 2014. “Cara Mengahadapi Bullying”. (online).


(https://nsholihat.wordpress.com/tag/cara-mengatasi-bullying/. Di akses 10-
05-2015)

Thalib, Syamsul Bachri. 2010. Psikologi Pendidikan Berbasis Analisis Empiris


Aplikatif. Jakarta:Kencana.

Walgito, Bimo. 2010. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta:Penerbit Andi.

Beri Nilai