Anda di halaman 1dari 28

ASUHAN KEPERAWATAN NYERI

PADA PASIEN DENGAN NEOPLASMA OVARIUM SOLID


(NOS)
DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT DR. KARIADI
SEMARANG

NAMA : FIRA DEWI CAHYANI


NIM : P1337420919075

PROGRAM STUDI SARJANA TERAPAN KEPERAWATAN


DAN PROFESI NERS

JURUSAN KEPERAWATAN SEMARANG – POLITEKNIK


KESEHATAN KEMENKES SEMARANG
2019
ABSTRAK

ASUHAN KEPERAWATAN ANSIETAS PADA KLIEN POST


OPERASI CRANIOTOMY DENGAN MENINGIOMA DI RSUP DR.
KARIADI SEMARANG

Fira Dewi Cahyani 1), Fitri Handayani 2), Sugih Wijayanti 2)


1)
Mahasiswa Program Studi S1 Terapan Keperawatan dan Profesi Ners Poltekkes Kemenkes
Semarang
2)
Pembimbing Klinik Ruang Rajawali 2A RSUP Dr. Kariadi Semarang
3)
Dosen Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Semarang
Peneliti : firawicak@gmail.com

Pendahuluan : Tumor meninges (Meningioma) merupakan tumor yang berasal


dari meningen, sel-sel mesotel, dan sel-sel jaringan penyambung araknoid dan
dura. Sebagian besar tumor bersifat jinak dan tidak menginfiltrasi jaringan
sekitarnya, tetapi agak menekan struktur yang berada dibawahnya. Pertumbuhan
tumor ini lambat sehingga gejala kurang diperhatikan dan dapat menyebabkan
diagnosis yang salah (Price & Wilson, 2005). Craniotomy adalah prosedur invasif
pembukaan tulang tengkorak untuk membuka akses langsung ke organ otak.
Cemas atau ansietas adalah perasaan was-was, khawatir, atau tidak nyaman
seakan-akan akan terjadi sesuatu yang dirasakan sebagai ancaman Ansietas
berbeda dengan rasa takut. Takut merupakan penilaian intelektual terhadap ssuatu
yang berbahaya, sedangkan ansietas adalah respon emosional terhadap penilaian
tersebut (Keliat, 2012)

Tujuan : Asuhan keperawatan ini bertujuan untuk mengurangi kecemasan pada


klien post operasi Craniotomy di Ruang Rajawali 2A RSUP Dr. Kariadi
Semarang.

Metode : Metode yang digunakan yaitu pendekatan studi kasus pada klien dengan
Meningioma yang sudah dilakukan Craniotomy.

Hasil : Setelah dilakukan asuhan keperawatan 3x24 jam pada pasien post op
dengan melakukan pendekatan dan di setiap pemberian asuhan adalah teratasi
sebagian.

Simpulan : Masalah keperawatan kecemasan pada pasien Meningioma teratasi


sebagian, sehingga memerlukan perawatan yang berkelanjutan agar kriteria hasil
dapat tercapai.

Kata kunci : Meningioma, Craniotomy, Cemas

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL....................................................................................... i
ABSTRAK ..................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................. iii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. iv
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
A. Latar Belakang ................................................................................... 1
B. Web of Causation ............................................................................... 2
BAB 2 LAPORAN KASUS KELOLAAN .................................................... 3
A. Pengkajian .......................................................................................... 3
B. Diagnose Keperawatan..................................................................... 12
C. Intervensi Keperawatan .................................................................... 14
D. Implementasi .................................................................................... 16
E. Evaluasi ............................................................................................ 19
BAB 3 PEMBAHASAN .............................................................................. 21
A. Analisa Kasus ................................................................................... 21
B. Analisa Intervensi Keperawatan ...................................................... 22
BAB 4 PENUTUP ....................................................................................... 23
A. Kesimpulan ...................................................................................... 23
B. Saran ................................................................................................. 23
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

iii
DAFTAR LAMPIRAN

Web of Causation ........................................................................................... v

iv
1

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Ovarium mempunyai fungsi dan peranan yang penting sebagai
organ reproduksi khususnya bagi wanita , namun dalam fungsi dan
peranannya terdapat masalah yang patut untuk diperhatikan. Masalah
tersebut adalah kista ovarium, potensinya dapat menyerang kaum wanita
pada umumnya. Namun pada hegemoni sekarang ini kaum wanita kurang
atau bahkan tidak memperhatikan hal-hal yang berkaitan sehingga resiko
timbul kista ovarium menjadi tinggi. Demikian juga etiologi dari kista
ovarium juga sangat erat dengan aktifitas sehari-hari menjadi faktor
pendukung kerentanan individu terkena kista ovarium. (zakiah-
fkp11.web.unair.ac.id/artikel_detail-115145-Kep. Reproduksi-Asuhan
Keperawatan Kista Ovarium.html), diakses tanggal 1desember 2015.
Resiko yang paling ditakuti dari Kista Ovarium yaitu mengalami
degenerasi keganasan, disamping itu bisa mengalami torsi atau terpuntir
sehingga menimbulkan nyeri akut, perdarahan atau infeksi. Sehingga Kista
Ovarium memerlukan penanganan yang profesional dan multi disiplin.
(http://www.republika. co.id/cetak_detail.online), diakses tanggal 1
Desember 2015)
Angka kejadian tertinggi ditemukan pada negara maju, dengan
rata-rata 10 per 100.000, kecuali di Jepang (6,4 per 100.000). Insiden di
Amerika Selatan (7,7 per 100.000) relatif tinggi bila dibandingkan dengan
angka kejadian di Asia dan Afrika (WHO, 2010). Asia angka kejadian
Kista Ovarium semakin tinggi pada tahun 2010 sebanyak 60.113 penderita
yang meninggal 21.004 orang dan masih menderita sebanyak 39.109
(http://juwitamrm. blogspot.com/2012/12/kti_27.html), diakses tanggal 30
Agustus 2015). Di indonesia 25-50% kematian wanita usia subur
disebabkan oleh masalah yang berkaitan dengan kehamilan dan persalinan

1
2

serta penyakit sistem reproduksi misalnya kista ovarium. (Depkes RI,


2011)
Asal usul penyebab timbulnya Kista Ovarium belum ada
jawabannya secara pasti. Diduga terjadinya gangguan pembentukan
hormon pada hipotalamus, hipofise atau ovarium itu sendiri merupakan
faktor penyebab terjadinya Kista Ovarium. Kista indung telur/ovarium
timbul dari folikel yang tidak berfungsi selama siklus menstruasi
(gagalnya folikel berovulasi). (http://www.Portal.cbn.net.id. online,
diakses 30 November 2015).
Pengetahuan adalah hasil dari ”tahu” dan ini terjadi setelah orang
melakukan pengindraan terhadap suatu objek tertentu. (Notoatmodjo,
2007). Perlunya masyarakat mengetahui tentang kista ovarium adalah agar
tidak berubah ketingkat lanjut artau terlambat menangani serta bagi wanita
berusia 20-50 tahun rutin memeriksakan diri jika wanita tersebut
menderita kista ovarium agar dapat diberikan penanganan cepat dan tepat.(
Maharani, 2008). Prinsip bahwa tumor ovarium neoplastik memerlukan
operasi dan tumor non neoplastik tidak, jika menghadapi tumor ovarium
yang tidak memberikan gejala/keluhan pada penderita dan yang besarnya
tidak melebihi 5 cm diameternya, kemungkinan besar tumor tersebut
adalah kista folikel atau kista korpus luteum. Tidak jarang tumor tersebut
mengalami pengecilan secara spontan dan menghilang, sehingga perlu
diambil sikap untuk menunggu selama 2-3 bulan, jika selama waktu
observasi dilihat peningkatan dalam pertumbuhan tumor tersebut, kita
dapat mengambil kesimpulan bahwa kemungkinan tumor besar itu bersifat
neoplastik dan dapat dipertimbangkan untuk pengobatan operatif.
Tindakan operasi pada tumor yang tidak ganas ialah pengangkatan tumor
dengan mengadakan reseksi pada bagian ovarium yang mengandung
tumor (Wiknjosastro, 2005).
3

B. Konsep Dasar Kista Ovarium


Kistoma ovari merupakan suatu tumor, baik yang kecil maupun
yang besar, kistik atau padat, jinak atau ganas. Dalam kehamilan tumor
ovarium yang di jumpai yang paling sering adalah dermonal, kista atau
kista lutein, tumor ovarium yang cukup besar dapat disebabkan kelainan
letak janin dalam rahim atau dapat menghalang-halangi masuknya kepala
dalam panggul. ( Winjosastro.et.all 2011 dalam Nurarif dan Kusuma,
2015). Kista ovarium merupakan penyakit yang banyak menyerang kaum
wanita. Kista sendiri merupakan benjolan yang berisi cairan yang berada
di indung telur. penyakit kista ini sebenarnya merupakan penyakit tumor
jinak karena kebanyakan penanganannya tidak melalui operasi besar.
Penyakit kista antara lain adanya dioksin dari asap pabrik dan pembakaran
gas bermotor yang dapat menurunkan daya tahan tubuh manusia, serta
faktor makanan, lemak yang berlebih yang dapat meningkatkan hormon
testosteron akan membantu tumbuhnya kista. (Agustina, 2014). Kista
ovarium adalah pertumbuhan sel yang berlebihan / abnormal pada ovarium
yang membentuk seperti kantong (Agusfarly, 2008).

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas maka rumusan masalahnya adalah:
bagaimana asuhan keperawatan pada pasien kista ovarium ?
D. Tujuan
1. Tujuan umum
Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pada pasien kista
ovarium
2. Tujuan khusus
Mahasiswa mampu :
a. Menyusun pengkajian asuhan keperawatan pada pasien kista
ovarium
b. Merumuskan diagnosa asuhan keperawatan pada pasien kista
ovarium
4

c. Menyusun perencanaan asuhan keperawatan pada pasien kista


ovarium
E. Manfaat
1. Mampu memahami konsep dasar kista ovarium
2. Mampu memahami konsep asuhan keperawatan pada kista ovarium
F. WOC (terlampir)
BAB II
LAPORAN KASUS KELOLAAN

A. PENGKAJIAN
Tanggal pengkajian: 9 September 2019
Waktu : 19.30 WIB
Ruang : Rajawali 4A
Tanggal masuk : 2 September 2019
Jam : 11.00
a. Biodata
1. Identitas klien
Nama Klien : Ny. S
Umur : 58 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Suku/bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Serabutan
Alamat : Grobogan
No. Rekam Medis : C770069
Diagnosa Medis : Neoplasma Ovarium Solid (NOS)
2. Penanggung Jawab
Nama : Ny. S
Umur : 67 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Suku/bangsa : Jawa
Agama : Islam
Pendidikan : SD
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Nyurungan
Hubungan dengan klien : Kakak Kandung ke 3

5
6

b. Keluhan Utama
Ny.S mengeluh merasa perutnya membesar seperti kembung dan nyeri.
c. Riwayat Keperawatan
a. Riwayat Keperawatan Sekarang
Sejak awal bulan Juli 2019 lalu Ny.S mengeluhkan perutnya terasa
kembung, mengeras dan sakit untuk mengatasi keluhan klien tersebut
klien memeriksakan dirinya ke RSUD Purwodadi. Disini klien dirawat
selama 13 hari dan pada tanggal 12 Agustus 2019 klien dirujuk ke RSI
Sultan Agung Semarang. Dari RSI Sultan Agung klien dirujuk ke
RSUP Dr. Kariadi Semarang pada tanggal 26 Agustus 2019, melalui
daftar online di poli kandungan dan kebidanan. Klien ke RSDK pada
tanggal 2 September 2019 dan langsung di rawat inap karena Hb Klien
rendah yaitu 4. Selama di RSDK klien melakukan pemeriksaan rontgent
thoraks dan melakukan tes hematologi yang menunjukkan adanya
massa di uterus klien. Saat pengkajian klien sudah melakukan
pemeriksaan USG dan menunggu hasil dan tindakan yang akan datang,
tidak terpasang selang infus. TD : 130/90 mmHg; HR 86x/m; T 36,5oC;
RR 20 x/m. P : nyeri karena ada massa; Q : nyeri dirasakan seperti
ditekan; R : perut regio bawah; S : skala 5; T : hilang timbul.
b. Riwayat Keperawatan Dahulu
Ny.S mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit serupa, memiliki
riwayat penyakit Diabetes Melitus, tidak memiliki penyakit kelainan
jantung maupun Hipertensi.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
Dari orang tua Ny.S mempunyai penyakit genetik Diabetes Melitus.
Klien tidak memiliki penyakit keturunan .lain seperti hipertensi dan
jantung.
7

d. Genogram :

Keterangan :

:Laki-laki :Perempuan meninggal

:Perempuan :Laki-laki meninggal

:Pasien

e. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
- Kesadaran : Composmentis
- GCS : E4V5M6 (total : 15)
- TTV :
TD : 130/90 mmHg
HR : 86x/m
T : 36,5oC
RR : 20 x/m
b. Rambut : rambut Ny. S tampak sedikit beruban dan lembab.
c. Kepala : pada kepala Ny.S tidak terdapat luka maupun
massa.
8

d. Telinga
- Daun telinga : simetris antara kanan dan kiri.
- Fungsi pendengaran : tidak ada gangguan pendengaran
yang dialami klien.
- Lubang Telinga : lubang telinga tengah bersih tidak
ada penumpukan serumen yang terlalu banyak, tidak ada
radang telinga.
e. Mata
Mata simetris kanan kiri, terjadi penurunan fungsi
penglihatan (mata tua), tidak juling, kelopak mata tidak ada
lingkaran hitam.
- Konjungtiva : anemis.
- Sclera : tidak icteric.
- Pupil : normal berbentuk bulat.
f. Hidung
Hidung simetris, tidak ada massa (tonjolan) dalam hidung,
tidak ada penumpukan kotoran atau sekret yang bersarang dalam
lubang hidung klien dan tidak ada pernafasan cuping hidung.

g. Mulut
- Gigi : bersih, tidak ada karies gigi, gigi belum ada yang
tanggal.
- Mulut : bersih, berwana sedikit pucat, tidak berbau, bibir
berwarna sedikit pucat dan lembab.
h. Paru-paru
- Inspeksi : pergerakan dada sewaktu inspirasi dan
ekspirasi sama, iramanya sama, tidak ada cuping hidung,
tidak terjadi cyanosis di perifer, kadang-kadang klien batuk
produktif dengan sedikit sputum.
9

- Palpasi : Tactile fremitus bergetar sama kuat di


kanan dan kiri pada apek intercosta 1 sampai basal
intercosta 6.
- Perkusi : Sonor pada apek intercosta 1 sampai basal
intercosta 6.
- Auskultasi : Vesikuler pada apek intercosta 1 sampai
basal intercosta 6 dan terdapat suara ronchi di trakhea.
i. Abdomen
- Inspeksi : perut tampak sedikit besar di regio tengah
bawah, asites.
- Auskultasi : bissing usus terdengar 8x/ menit
- Palpasi :ada nyeri tekan di regio bawah, teraba
massa.
- Perkusi : suara timpani di seluruh area.
j. Jantung
- Inspeksi : ictus cordis tidak tampak pada intercosta
IV-V pada mid clavicula.
- Palpasi : Ictus cordis teraba pada intercosta IV-V
pada mid clavicula sedikit 2 cm medial sinistra.
- Perkusi : terdengar suara redup diseluruh lapang
jantung : Batas atas : pada ICS III; Batas bawah : pada ICS
V; Batas kiri : pada midclavicularis atau 4 jari dari
midsternum; Batas kanan : sejajar sisi sternum kanan atau
1½ jari dari midsternum.
- Auskultasi : Suara jantung I (S1) : terdengar bunyi
“lub” pada ruang ICS V sebelah kiri sternum di atas apeks
jantung; Suara jantung II (S2) : terdengar bunyi “dub” pada
ICS II sebelah kanan sternum; Suara jantung III (S3) : tidak
terdengar; Suara jantung IV (S4) : tidak terdengar.
k. Genitalia
Alat kelamin bersih, tidak memakai popok dan tidak terpasang DC.
10

l. Ekstremitas
A. Ekstermitas Atas
1. Inspeksi : tidak terdapat luka pada tangan klien, tidak
terpasang infus.
2. Palpasi : tidak ada nyeri tekan.
3. Motorik : tangan kanan dan kiri klien normal dapat
digerakkan, kekuatan otot 5
4. Sensorik : Klien dapat merasakan nyeri sentuhan,
temperatur
B. Ekstermitas Bawah
1. Inspeksi : kaki kanan dan kiri klien tidak terdapat
luka
2. Palpasi : tidak ada nyeri, akral hangat, turgor
kembali kurang dari 2 detik
3. Motorik : kaki kanan dan kiri klien dapat digerakkan
dengan kekuatan otot 5.
4. Sensorik : klien dapat merasakan nyeri sentuhan,
temperature.

5 5
5 5
Klien mampu menggerakan seluruh ekstremitasnya dengan
kekuatan otot penuh.
f. PENGKAJIAN POLA FUNGSIONAL GORDON
a. Pola Persepsi Kesehatan
Klien tidak tahu tentang kondisinya klien terkini karena klien
mengatakan tidak pernah sakit sampai mondok di RS. Klien
mengatakan pasrah kepada Tuhan atas kondisinya saat ini. Klien dapat
menceritakan dengan runtut perjalanan penyakitnya.
11

b. Pola Kebutuhan Nutrisi


- Sebelum Sakit : Ny. S makan 1-2 kali/hari nasi 1/2 porsi habis
karena merasa mual dan muntah.
- Selama Sakit : Ny.S makan makanan yang disediakan yaitu bubur
1/2 porsi habis setiap makan, klien merasa mual dan kadang-kadang
muntah.
Antropometri
BB : 34 kg
TB : 145 cm
IMT = BB/(TBxTB)
= 36/(1.45 x 1.45)
= 17 (kurus)
Biochemical
Hb : 10,7 g/dL
Ht : 31.5 %
Trombosit : 522 103/ uL
Leukosit : 13.1 103/ uL
RDW : 15.7 %
Laboratorium PA
Ureum : 111 mg/dL
Kreatinin : 3,7 mg/dL
Hasil USG
Kesan :
- Nodul solid dengan kistik disertai nekrotik dan kalsifikasi bentuk
lobulated batas tak tegas tepi irreguler pada adneksa (ukuran +
9.30 x 9.58 x 5.43 cm) -> kistoma ovary cenderung malignant.
- Proses kronis ginjal (sesuai brenbridge I) disertai moderate
hidronefrosis dan hidroureter proksimal kanan kiri ec?
- Ascites
12

Clinical Sign
Kesadaran klien composmentis, sedikit lemah dan lemas,
conjungtiva palpebral anemis.
Dietary History
Selama di rawat, klien diberikan menu diit lunak dan diberi
minuman tambahan seperti teh, susu, dan jus. Klien mengalami
gangguan pada saat makan yaitu mual.
c. Pola Eliminasi
Sebelum sakit :
BAB BAK
Warna Kuning kecoklatan Kuning khas
Konsistensi Lembek -
Bau Khas Khas
Frekuensi 1x/3 hari 5-6 x/hari
Keluhan Tidak ada keluhan Tidak ada keluhan
Selama sakit :
BAB BAK
Warna Kuning kecoklatan Kuning khas
Konsistensi Sedikit keras -
Bau Khas Khas
Frekuensi 2x/minggu 8 x/minggu
Keluhan Tidak ada keluhan Tidak ada keluhan

d. Aktivitas dan latihan


Indeks barthel
Factor Skor Factor ketergantungan skor
ketergantungan
Personal hygiene 5 Memakai pakaian 10
Mandi 5 Control BAB 10
Makan 10 Control BAK 15
13

Toileting 10 Ambulasi 5
Menaiki tangga 10 Transfer kursi-tempat 15
tidur
Skor total 100 (MANDIRI)
Criteria skor :
Ketergantungan total (0-24)
Ketergantungan berat (25-49)
Ketergantungan sedang (50-74)
Ketergantungan ringan (75-90)
Ketergantungan mandiri (91-100)

e. Istirahat dan tidur


- Sebelum sakit : Ny.S mengeluh kesulitan tidur saat sakit perutnya
muncul, hanya tidur selama 4 jam pada malam hari dan sering
terbangun karena sakit perut.
- Selama sakit: Ny.S mengatakan dapat beristirahat namun tidak
nyenyak, lama tidur 6 jam karena lingkungannya terkadang berisik.
f. Pola Kognitif Perseptual
Klien mengatakan menyerahkan semuanya kepada Tuhan atas
kondisinya dan tindakan yang akan dijalaninya nanti, klien mengikuti
terapi yang diberikan kepadanya.
g. Pola Persepsi Diri
Klien mampu menerima kondisi tubuhnya dengan penyakit yang
dideritanya saat ini. Dan selama ini klien tidak merasa minder dengan
kondisi fisik klien.
h. Pola Peran-Hubungan
Klien dapat menyesuaikan diri sehingga tidak muncul masalah dalam
hubungannya dengan anggota keluarganya.
14

i. Pola Seksualitas – Reproduksi


Klien berusia 58 tahun P1A0 menarche pada usia + 12 tahun, sudah
memiliki suami sampai sekarang, menikah pada usia 12 tahun. Dari
hasil perkawinannya klien mengatakan mempunyai 1 orang anak
namun anaknya meninggal pada usia 5 tahun.
j. Pola Koping – Toleransi stress
Klien tidak mengalami stres baik emosional maupun fisik. Emosi stabil.
k. Pola Nilai Kepercayaan
Klien mengatakan sudah menyerahkan segalanya kepada Tuhan dan
tetap berikhtiar untuk mencari kesembuhannya.
g. Terapi Farmakologi
Oral :
Bicnat 500mg/8 jam
Asam Folat 1mg/24 jam
KSR 600 mg/8 jam
15

B. DIAGNOSE KEPERAWATAN
TGL/ TANGGAL
NO DATA FOKUS MASALAH TTD
JAM TERATASI
1. 9-9-19 DS : Nyeri b.d agen
20.30 Klien mengatakan sakit cidera biologis
pada perutnya dan merasa
kembung
P : nyeri karena ada massa
Q : nyeri dirasakan seperti
ditekan
R : perut regio bawah
S : skala 5
T : hilang timbul
DO:
TD : 130/90 mmHg
HR : 86x/m
RR : 20 x/m
2. 9-9-19 DS: Ketidakseimbangan
20.30 Klien mengatakan sering nutrisi : kurang dari
mual dan kadang muntah kebutuhan b.d
saat makan. faktor biologis
DO:
- TD : 130/90 mmHg
HR 86 x/m.
- IMT : 17 (Kurus)
- Hb : 10,7 g/dL
- Ht : 31.5 %
- Trombosit : 522 103/
uL
16

- Leukosit : 13.1 103/


uL
- RDW : 15.7 %

C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa
No Tanggal Tujuan Intervensi Ttd
keperawatan
1 9-9-19 Nyeri b.d Setelah dilakukan 1. Lakukan pengkajian
tindakan selama 3x24 nyeri secara
21.00 agen cidera
jam pasien dapat komprehensif termasuk
biologis lokasi, karakteristik,
memenuhi kebutuhan
durasi, frekuensi,
perawatan diri dengan kualitas dan faktor
kriteria hasil : presipitasi
Pain Level, 2. Observasi reaksi
Pain control, nonverbal dari
Comfort level ketidaknyamanan
Kriteria Hasil : 3. Gunakan teknik
- Mampu mengontrol komunikasi terapeutik
nyeri (tahu penyebab untuk mengetahui
nyeri, mampu pengalaman nyeri pasien
menggunakan teknik 4. Kaji kultur yang
nonfarmakologi untuk mempengaruhi respon
mengurangi nyeri, nyeri
mencari bantuan) 5. Evaluasi pengalaman
- Melaporkan bahwa nyeri masa lampau
nyeri berkurang dengan 6. Evaluasi bersama pasien
menggunakan dan tim kesehatan lain
manajemen nyeri tentang ketidakefektifan
- Mampu mengenali kontrol nyeri masa
nyeri (skala, intensitas, lampau
frekuensi dan tanda 7. Bantu pasien dan
nyeri) keluarga untuk mencari
- Menyatakan rasa dan menemukan
nyaman setelah nyeri dukungan
berkurang 8. Pilih dan lakukan
- Tanda vital dalam penanganan nyeri
rentang normal (farmakologi, non
(dewasa tua/lansia farmakologi dan inter
muda) : personal)
TD : 150/80-90 mmHg 9. Ajarkan tentang teknik
T : 36oC - 36,9 oC non farmakologi
17

HR : 70-80 x/mnt 10. Berikan analgetik untuk


RR : 16-20 x/mnt mengurangi nyeri
11. Evaluasi keefektifan
kontrol nyeri
12. Tingkatkan istirahat
13. Kolaborasikan dengan
dokter jika ada keluhan
dan tindakan nyeri tidak
berhasil
14. Monitor penerimaan
pasien tentang
manajemen nyeri
2 9-9-19 Ketidakseim Setelah dilakukan 1. Kaji adanya alergi
makanan
21.00 bangan tindakan selama 2x24
2. Anjurkan pasien untuk
nutrisi : jam diharapkan nyeri meningkatkan intake Fe.
3. Anjurkan pasien untuk
kurang dari dapat teratasi dengan
meningkatkan protein
kebutuhan Kriteria Hasil : dan vitamin C.
4. Berikan substansi gula.
b.d faktor Nutritional Status : food
5. Yakinkan diet yang
biologis and Fluid Intake dimakan mengandung
tinggi serat untuk
Kriteria Hasil :
mencegah konstipasi.
- Adanya peningkatan 6. Berikan makanan yang
terpilih (sudah
berat badan sesuai
dikonsultasikan dengan
dengan tujuan. ahli gizi)
7. Monitor jumlah nutrisi
- Berat badan ideal
dan kandungan kalori
sesuai dengan tinggi 8. Berikan informasi
tentang kebutuhan nutrisi
badan : 39-53 kg.
9. Kaji kemampuan pasien
- Mampu untuk mendapatkan
nutrisi yang dibutuhkan
mengidentifikasi
10. Monitor jika adanya
kebutuhan nutrisi penurunan berat badan
11. Monitor tipe dan jumlah
- Tidak ada tanda tanda
aktivitas yang biasa
malnutrisi : tidak dilakukan
12. Monitor interaksi anak
anemis
atau orangtua selama
- Tidak terjadi makan
13. Monitor kekeringan,
penurunan berat badan
rambut kusam, dan
yang berarti mudah patah
18

14. Monitor mual dan


muntah
15. Monitor kadar albumin,
total protein, Hb, dan
kadar Ht.
16. Monitor pucat,
kemerahan, dan
kekeringan jaringan
konjungtiva.
17. Monitor kalori dan
intake nutrisi.
18. Catat jika lidah berwarna
magenta, scarlet

D. IMPLEMENTASI
Kode TINDAKAN
NO. TGL/JAM RESPON PASIEN TTD
Diagnosa KEPERAWATAN
1. Mengkaji nyeri DS :
2. Mengobservasi reaksi
- P : massa NOS (agen
nonverbal dari
ketidaknyamanan biologis); Q : nyeri
3. Mengkaji kultur yang
dirasakan seperti
mempengaruhi respon nyeri
4. Mengevaluasi pengalaman ditekan; R : perut
nyeri masa lampau
regio bawah; S : skala
5; T : hilang timbul.
- Klien mengatakan
11-9-19
1. 1 sebelumnya belum
21.00
pernah merasakan
sakit seperti ini.
DO :
- Klien tampak sesekali
meringis menahan
sakitnya.
- TD : 130/70 mmHg
- HR : 86 x/m
19

2. 11-9-19 1 1. Melakukan penanganan DS :


nyeri : Kompres Hangat
05.00 - Klien mengatakan
2. Mengajarkan tentang teknik
non farmakologi : nafas bersedia untuk
dalam.
dilakukan kompres
3. Evaluasi keefektifan kontrol
nyeri hangat di sekitar
4. Menganjurkan untuk
perutnya.
meningkatkan istirahat
5. Kolaborasikan dengan - Klien bersedia untuk
dokter jika ada keluhan dan
diajarkan teknik nafas
tindakan nyeri tidak berhasil
6. Memonitor penerimaan dalam untuk
pasien tentang manajemen
mengontrol nyeri.
nyeri
- P : massa NOS (agen
biologis); Q : nyeri
dirasakan seperti
ditekan; R : perut
regio bawah; S : skala
4; T : hilang timbul.
- Klien mengatakan
sudah berusaha untuk
selalu istirahat.
DO :
- Klien tampak rileks
saat dilakukan
kompres hangat.
- Klien mampu
mengikuti dengan
baik teknik nafas
dalam.
- Klien terkadang
tampak menahan
sakit.
20

4. 11-9-19 2 1. Mengkaji adanya alergi S:


makanan
06.00 - Klien mengatakan
2. Menganjurkan pasien untuk
meningkatkan intake. tidak memiliki alergi
3. Menganjurkan pasien untuk
terhadap makanan.
meningkatkan protein dan
vitamin C. - Klien mengatakan
4. Menganjurkan kepada
masih mual namun
keluarga untuk memberikan
makanan yang terpilih sudah tidak muntah
(sudah dikonsultasikan
- Keluarga menyuapi
dengan ahli gizi)
5. Memonitor jika adanya klien selama makan.
penurunan berat badan
- Klien habis ½ porsi
6. Memonitor interaksi
keluarga selama makan - Berat badan klien
7. Monitor mual dan muntah
tetap.
O:
- Klien tampak lemas
- Belum ada hasil lab
terbaru
- Keluarga selalu
membantu klien dan
memberikan
dukungan untuk
meningkatkan intake.
5. 12-9-19 2 1. Memonitor kadar albumin, DS :
total protein, Hb, dan kadar
09.30 - Klien mengatakan
Ht.
2. Memonitor pucat, sudah tidak mual
kemerahan, dan kekeringan
- Klien mengatakan
jaringan konjungtiva.
3. Memonitor kalori dan sudah bisa makan
intake nutrisi.
DO :
4. Mencatat jika lidah
berwarna magenta, scarlet - Klien tampak bahagia
- Klien tampak segar
21

- Hasil lab tanggal


12/9/19 :
- Hb : 10 g/dL
- Ht : 31 %
BAB III
PEMBAHASAN

A. ANALISA KASUS
Ny.S usia 48 tahun status sudah menikah didiagnosis Meningioma
sejak Juli 2018. Awalnya sejak 1 tahun yang lalu Ny.S mengeluhkan sakit
kepala, untuk mengatasi sakit kepala tersebut klien hanya membeli obat di
warung (Bodrex dan Paramex). Namun hanya hilang sementara waktu
hingga sakitnya kambuh dengan tidak tertahankan. Keluarga membawa
klien ke praktek klinik dokter di dekat rumahnya dan mendapatkan obat
pereda nyeri serta suplemen vitamin. Setelah itu sakit kepala klien kambuh
lagi dan sejak bulan Mei 2019 klien mengeluhkan sakit gigi, namun tidak
diperiksakan. Sejak bulan Mei tersebut klien mulai mengeluh ekstremitas
lemah dan pandangan menjadi kabur. Sehingga klien mendapatkan rujukan
dari Klinik Dokter tersebut untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut di
RSUP Dr. Kariadi Semarang. Klien melakukan pemeriksaan CT-Scan,
rontgent thoraks dan melakukan tes hematologi yang menunjukkan adanya
massa di dalam selaput meningen klien. Saat pengakajian klien sudah
melakukan operasi Craniotomy H+4, terpasang selang drain di kepalanya
dan terpasang DC.
Pengkajian dilakukan pada tanggal 19 Agustus 2019 dengan hasil
TD : 119/71 mmHg; HR 71x/m; T 36,7oC; RR 21 x/m. Saat ditanya
keluhan pasien, klien mengatakan rasanya berat di kepalanya dan bertanya
ada apa di kepalanya.
Tumor meninges (Meningioma) merupakan tumor yang berasal
dari meningen, sel-sel mesotel, dan sel-sel jaringan penyambung araknoid
dan dura. Sebagian besar tumor bersifat jinak dan tidak menginfiltrasi
jaringan sekitarnya, tetapi agak menekan struktur yang berada
dibawahnya. Pertumbuhan tumor ini lambat sehingga gejala kurang
diperhatikan dan dapat menyebabkan diagnosis yang salah (Price &

27
28

Wilson, 2005). Craniotomy adalah prosedur invasif pembukaan tulang


tengkorak untuk membuka akses langsung ke organ otak.
Dengan keluhan kepala terasa berat dan pertanyaan klien tersebut
maka diambil diagnose keperawatan berupa cemas berhubungan dengan
kurangnya pengetahuan tentang penyakit. Cemas adalah respon emosional
terhadap penilaian pasien tentang kondisinya.

B. ANALISA INTERVENSI KEPERAWATAN


Upaya tindakan yang dilakukan yaitu mencegah terjadinya cemas
pada klien. Dengan klien mampu mengontrol kecemasannya dengan
pemahaman yang cukup. Oleh karena itu intervensi yang dilakukan
menyesuaikan dengan NIC dan keadaan klien yaitu : menggunakan
komunikasi terapeutik dalam proses pemberian asuhan, dan penjelasan
dalam pemberian informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan
prognosis dalam proses pemberian asuhan keperawatan.
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan pembahasan yang sudah dipaparkan penulis
mengenai diagnose cemas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan
tentang penyakit. Implementasi yang dilakukan yaitu menggunakan
komunikasi terapeutik dalam proses pemberian asuhan, dan penjelasan dalam
pemberian informasi faktual mengenai diagnosis, tindakan prognosis dalam
proses pemberian asuhan keperawatan. Manajemen kecemasan secara
farmakologis yaitu dengan memberikan obat psikoterapi. Obat yang
digunakan dalam kasus ini yaitu obat Chlorpromazine p.o 25 mg/8 jam.

B. SARAN
Diharapkan tindakan pemberian obat psikoterapi diberikan dengan
memperhatikan prinsip 6 benar dan dalam pemberian penjelasan tentang
informasi pastikan klien dan keluarga sudah paham.

29