Anda di halaman 1dari 21

Makalah mata kuliah perkembangan hewan

ORGANOGENESIS TURUNAN ENDODERM

Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas


Mata Kuliah Perkembangan Hewan

OLEH:
Nauratur raihan : 1708104010006
Nuri umaiza : 1708104010030
Visca meiduana : 1708104010048

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PEGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan karunia dan rahmat-
Nya kepada kita semua, karenanya dapatlah penulis menghimpun dan
menyelesaikan tugas mata kuliah perkembangan hewan sesuai dengan jadwal.
Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad Saw, beserta
keluarga dan sahabat dan orang-orang yang mengikuti jejak langkah beliau
samapai hari kiamat.
Pembuatan makalah ini bertujuan antara lain untuk memenuhi salah satu
tugas mata kuliah “Perkembangan Hewan”, Selain itu juga sebagai bahan untuk
menambah wawasan penulis tentang Organogenesis.
Harapan penulis pada makalah sederhana ini dapat berguna bagi pembaca
sebagai bahan tambahan dalam proses belajar mengajar di dalam ruang kuliah dan
lainya. Kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat penyusun harapkan
demi perbaikan makalah sederhana ini. Segala sesuatu yang benar itu datangnya
dari ALLAH SWT, dan yang salah adalah sifat manusia.

Darussalam, September 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
BAB I PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
B. RUMUSAN MASALAH
C. TUJUAN
BAB II TINJAUAN KEPUSTAKAAN
BAB III PEMBAHASAN
A. ORGAN ENDODERM
B. PROSES PEMBENTUKAN SALURAN PENCERNAAN
C. PEMBENTUKAN KELENJAR PENCERNAAN
D. PROSES PEMBENTUKAN SALURAN PERNAFASAN
BAB IV PENUTUP
A. KESIMPULAN
B. SARAN
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Organogenesis adalah suatu proses pembentukan organ yang berasal
dari tiga lapisan germinal embrio yang telah terbentuk terlebih dahulu pada tahap
gastrulasi. Masing- masing lapisan yaitu ektoderm, mesoderm dan endoderm akan
membentuk suatu bumbung yang akan berkembang menjadi sistem organ tertentu
yang berbeda namun berkaitan satu dengan yang lain. Pada organogenesis juga
terjadi tahap pertumbuhan akhir embrio yaitu penyelesaian secara halus bentuk
definitif menjadi ciri suatu individu.
Lapisan-lapisan tersebut berkembang menjadi turunan jaringan dan organ
masing-masing pada saat dewasa. Misalnya lapisan Ektoderm akan
berdiferensiasi menjadi cor (jantung), otak (sistem saraf), integumen (kulit),
rambut dan alat indera. Lapisan Mesoderm akan berdiferensiasi menjadi otot,
rangka (tulang/osteon), alat reproduksi (testis dan ovarium), alat peredaran darah
dan alat ekskresi seperti ren. Lapisan Endoderm akan berdiferensiasi menjadi alat
pencernaan, kelenjar pencernaan, dan alat respirasi seperti pulmo. Imbas
embrionik yaitu pengaruh dua lapisan dinding tubuh embrio dalam pembentukan
satu organ tubuh pada makhluk hidup. Contohnya : Lapisan mesoderm dengan
lapisan ektoderm yang keduanya mempengaruhi dalam pembentukan kelopak
mata. Lapisan Endoderm akan berdiferensiasi menjadi alat pencernaan, kelenjar
pencernaan, dan alat respirasi seperti pulmo. Imbas embrionik yaitu pengaruh dua
lapisan dinding tubuh embrio dalam pembentukan satu organ tubuh pada makhluk
hidup. Contohnya : Lapisan mesoderm dengan lapisan ektoderm yang keduanya
mempengaruhi dalam pembentukan kelopak mata.

B. RUMUSAN MASALAH

1. Apa yang dimaksud dengan organogenesis ?


2. Bagaimana proses organogenesis ?
3. Bagaiman tahapan-tahapan dalam ektoderm, endoderm dan mesoderm ?
C. TUJUAN

1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan organogenesis


2. Mengetahui proses organogenesis turunan endoderm .
3. Mengatahui tahapan-tahapan dalam ektoderm, endoderm dan mesoderm.
BAB II
TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Organogenesis (organo-genesis berasal dari kata Yunani όργανον yaitu


dengan mana yang bekerja", dan γένεσις "asal, penciptaan, generasi") adalah
proses dimana ektoderm, endoderm, dan mesoderm berkembang menjadi organ-
organ internal organisme. Organ-organ internal memulai pembangunan pada
manusia dalam 3 sampai minggu ke-8 di dalam rahim. Lapisan dalam
organogenesis dibedakan menjadi tiga proses: lipatan, perpecahan, dan
kondensasi. Mengembangkan selama tahap awal pada hewan chordata adalah
tabung saraf dan notochord. Semua hewan vertebrata memiliki proses
pembentukan gastrula dengan cara yang sama. Vertebrata mengembangkan pial
neural yang membedakan ke dalam banyak struktur, termasuk beberapa tulang,
otot, dan komponen dari sistem saraf perifer(Surjono,2001).
Organogenesis adalah fase terakhir dimana akan terbentuk organ-organ
baru disetiap lapisan, yaitu;
1. Ektoderm berkembang menjadi saraf, otak, sumsum tulang belakang, kulit,
indera, rambut, kuku dan medula kelenjar adrenal.
2. Mesoderm berkembang menjadi organ tubuh, kulit dalam, otot tulang,
pembuluh darah, ginjal, ureter, testis, ovarium, oviduk, uterus, dan sistem
limfa.
3. Endoderm berkembang menjadi faring, esofagus, lambung, usus, hati,
pankreas, trakea, dan paru-paru (Purwanto, 2010).
Organogenesis adalah proses pembentukan organ tubuh atau alat tubuh,
mulai dari bentuk primitif (embrio) hingga menjadi bentuk definitif (fetus). Fetus
memiliki bentuk yang spesifik bagi setiap famili hewan. Artinya tiap bentuk fetus
hewan memiliki ciri khas tersendiri yang mencerminkan spesiesnya.
Organogenesis dimulai akhir minggu ke 3 dan berakhir pada akhir minggu ke 8.
Dengan berakhirnya organogenesis maka cirri-ciri eksternal dan system organ
utama sudah terbentuk yang selanjutnya embrio disebut fetus . Pada periode
pertumbuhan antara atau transisi terjadi transformasi dan diferensiasi bagian-
bagian tubuh embrio dari bentuk primitive sehingga menjadi bentuk definitif.
Pada periode ini embrio akan memiliki bentuk yang khusus bagi suatu spesies.
Pada periode pertumbuhan akhir, penyelesaian secara halus bentuk definitive
sehingga menjadi ciri suatu individu (Cahyadi, 2012).
Proses organogenesis merupakan suatu proses pembentukan macam-
macam organ yang berasal dari tiga lapisan germ layer yang telah terbentuk
terlebih dahulu pada tahap gastrulasi. Masing-masing lapisan yaitu ektoderm,
mesoderm dan endoderm akan membentuk suatu bumbung yang nantinya akan
berkemabng menjadi jaringan atau sistem organ tertentu yang berbeda namun
berkaitan satu dengan yang lain. Pada organogenesis juga terjadi tahap
pertumbuhan akhir embrio yaitu penyelesaian secara halus bentuk definitif
menjadi ciri suatu individu (Adnan 2008).
Organogenesis memiliki dua periode atau tahapan yaitu :
 Periode pertumbuhan antara (transisi) Pada periode ini terjadi transformasi
dan diferensiasi bagian – bagian tubuh embrio sehingga menjadi bentuk
yang definitif, yang khas bagi suatu spesies. Seperi pada katak adanya
tingkat berudu.
 Periode Pertumbuhan akhir Periode pertumbuhan akhir adalah periode
penyelesaian bentuk definitif menjadi suatu bentuk individu (pertumbuhan
jenis kelamin, roman / wajah yang khas bagi suatu individu)
(Athiroh,2014).
BAB III
PEMBAHASAN

A. Organ endoderm
Sel endoderm akan membentuk lapisan dari banyak sistem organ tubuh
termasuk sistem pernapasan, sistem pencernaan, sistem saluran kemih, dan sistem
reproduksi.
 pencernaan
Lapisan epitel dalam dari sebagian besar saluran pencernaan berasal dari
endoderm. Saluran pencernaan adalah tabung sistem pencernaan Anda yang
meliputi mulut, faring (tenggorokan), esophagus (tabung yang mengarah ke
perut), perut, usus, dan anus. Lapisan mulut dan anus adalah bagian eksternal
yang paling dan benar-benar berasal dari lapisan ektoderm. Namun, sisa dari
lapisan gastrointestinal tidak dikembangkan dari endoderm.
 pernapasan
Saluran pernapasan berjalan dari hidung ke paru-paru Anda. Jaringan yang
melapisi bagian hidung bagian dalam Anda terbuat dari ektoderm, tapi sisa lapisan
saluran pernapasan berasal dari endoderm. Ini termasuk laring (kotak suara),
trakea (tenggorokan), tabung kecil yang mengarah ke paru-paru, dan permukaan
pernafasan dari paru-paru.
 Kemih
Bagian dari kandung kemih dan uretra dari sistem urin berasal dari
endoderm. Ini saluran kemih menyimpan kandung urine sampai uretra
melepaskannya di luar tubuh.
B. Proses Pembentukan saluran pencernaan
Saluran pencernaan primitif terbagi menjadi 3 bagian yaitu
(Oppenheimer,1980):
1) Usus depan: terbentuk oleh adanya pelipatan endodern atap arkenteron
bagian anterior, yang akan diikuti oleh mesoderm splanknik. Usus depan akan
menjadi rongga mulut, faring, esofagus, lambung dan duodenum.
2) Usus tengah: daerah arkenteron antara usus depan dan usus belakang.
Usus tengah akan menjadi yeyunum, ileum dan kolon.
3) Usus belakang: terbentuk oleh adanya pelipatan endodern atap arkenteron
bagian posterior, yang akan diikuti oleh mesoderm splanknik. Usus belakang akan
menjadi rektum dan kloaka atau anus .

Diagram pembentukan saluran pencernaan dan kelenjar pencernaan (hati &


pankreas)
Epitel saluran pencernaan terbentuk dari endoderm, kecuali epitel mulut dan
anus – dari ektoderm. Jaringan-jaringan/ struktur-struktur lain penyususn saluran
pencernaan dibentuk oleh mesoderm splanknik.
1) Mulut terbentuk pada bagian anterior usus depan. Invaginasi ektoderm (=
lekuk stomodeum) yang diikuti dengan evaginasi endoderm usus depan
menyebabkan terbentuknya keping oral. Keping oral makin lama makin menipis,
akhirnya pecah menjadi lubang mulut (Oppenheimer, 1980).
2) Anus terbentuk pada bagian posterior usus belakang. Invaginasi ektoderm
(= lekuk proktodeum)yang diikuti dengan evaginasi endoderm usus belakang
menyebabkan terbentuknya keping anal.Keping anal makin lama makin menipis,
akhirnya pecah → menjadi lubang anus (Oppenheimer, 1980).
C. Pembentukan Kelenjar Pencernaan
1) Kelenjar Ludah
Kelenjar ludah ialah kelenjar pencernaan yang pertama kali mencerna
makanan ketika makanan masuk ke dalam mulut. Kelenjar ludah menghasilkan
enzim ptialin yang berguna untuk mengubah zat tepung menjadi
gula. Pembentukan kelenjar ludah dimulai pada awal kehidupan fetus (4-12
minggu) sebagai invaginasi epitel mulut yang akan berdiferensiasi ke dalam
duktus dan jaringan asinar.
2) Lambung
Kelenjar lambung ialah kelenjar pencernaan yang menghasilkan enzim
asam klorida, renin, pepsin. Enzim pada lambung dihasilkan oleh dinding
lambung. Asam klorida (HCL) dipengaruhi oleh hormon gastrin dan gerak refleks
yang muncul ketika makanan masuk ke dalam lambung.
 Muncul sebagai hasil di latasi fusiform dari usus depan.
 Bentuk dan posisi berubah karena pertumbuhan diferensial dan perubahan
organ sekelilingnya.
 Lambung mengalami rotasi 90 derajat disekitar sumbu longitudinal.
 Sisi kiri menjadi permukaan anterior dan sisi kanan menjadi permukaan
posterior.
 Perbatasan kiri tumbuh lebih cepat dari pada sebelah kanan yang
menyebabkan pembentukan greater and lesser curvatures.
 Ujung pilorus pindah ke kanan dan ujung kardiak pindah ke kiri.

3) Kelenjar Hati
Kelenjar hati ialah kelenjar pencernaan yang terletak pada rongga perut
sebelah kanan. Kelenjar hati ialah kelenjar pencernaan terbesar pada manusia
yang berwarna merah kecoklatan. Pada bagian depan hati terdapat kantung
empedu yang berguna untuk menampung cairan empedu sebelum disalurkan
untuk mencerna makanan. Empedu dibuat dari perombakan sel sel darah merah
yang telah mati atau rusak. Hati mampu memproduksi 0.5 liter cairan empedu
setiap harinya. Cairan empedu berguna untuk mengelmusikan lemak yaitu
mengubah ukuran lemak menjadi partikel partikel yang lebih kecil agar lebih
mudah diserap dan di edarkan oleh darah ke seluruh tubuh.
Tunas (divertikulum) hati timbul sebagai evaginasi ke arah ventaral dari
endoderm di antara bakal lambung dan duodenum. Tonjolan endoderm tersebut
dilapisi oleh mesenkim dan mesoderm splanknik. Tunas hati kemudian
bercabang-cabang membentuk hati, percabangan bagian distal membentuk sel-sel
parenkim sekretori, bagian proksimal membentuk sel-sel duktus hepatikus.
 Sel-sel hati (perenkim hati) dan sel-sel duktus hepatikus terbentuk dari
endoderm.
 Jaringan-jaringan lain dari hati dibentuk oleh mesenkim dan mesoderm
splanknik.
 Dari bagian akar tunas hati timbul tonjolan yang lain, yaitu tunas kantung
empedu.
4) Kelenjar Pankreas
Kelenjar pankreas ialah kelenjar pencernaan yang terletak di dalam rongga
perut dekat lambung dan usus halus. Pankreas menghasilkan enzim pencernaan
yang disalurkan ke dalam usus. Enzim yang dihasilkan oleh pankreas dipengaruhi
oleh hormon sekretin yang diproduksi oleh usus duabelas jari.
Pankreas tunggal berasal dari dua buah tonjolan endoderm di dekat tunas
hati (1 diventral dan 1 di dorsal). Kedua tonjolan tersebut kemudian bercabang-
cabang dan berfusi membentuk pankreas tunggal.
1) Sel-sel pankreas sekretori (asini pankreas) dan sel-sel duktus pankreatik
dibentuk dari sel-sell endodermal.
2) Pulau-pulau Langerhans dibentuk dari sel-sell endodermal. Pada awal
perkembangannya, kelompok sel-sel endodermal ini menjadi terpisah dan
terperangkap dalam mesoderm di antara asini pankreas. Kelompok-kelompok
tersebut termodifikasi menjadi sel-sel pulau Langerhans. Di dalam pankreas
manusia dewasa terdapat 200.000 sampai 1.800.000 pulau Langerhans.

5) Kelenjar Usus
Kelenjar usus pada manusia dibedakan menjadi usus duabelas jari dan
usus halus. Usus duabelas jari berfungsi menyalurkan enzim yang dihasilkan oleh
pankreas dan getah empedu dari hati ke dalam usus halus untuk melakukan proses
pencernaan. Usus halus juga menghasilkan enzim pencernaan.
Bagian usus depan memanjang dari membran buccopharyngeal ke diverti
kulum respirasi yang disebut pharyngeal gut / lengkung farinks.
 Bagian yang tersisa memanjang dari diverti kulum respiratoris ke kuncup
hati
 Esofagus – berkembang dari usus depan antara diverti kulum respiratoris
dan lambung.
 Dinding otot berkembang dari mesoderm splanchnic (1/3 bagian atas-
ototskelet, pertengahan 1/3-campuran dan 1/3 bagian terbawah otot polos).

D. Proses Pembentukan Saluran Pernafasan


Saluran pernapasan bagian atas terdiri atas hidung, sinus, faring, laring,
trakea, dan epiglotis. Saluran pernapasan bagian bawah terdiri dari bronkus,
bronkiolus, dan paru. Fungsi utama sistem pernapasan adalah untuk pertukaran
gas, yaitu sproses menukar oksigen ke darah di arteri dan membuang
karbondioksida dari darah di vena. Pertukaran gas normal terjadi dengan tiga
proses, yaitu:
1. Ventilasi adalah pergerakan gas dari lingkungan ke dalam dan ke luar
paru. Hal ini dicapai dengan mekanisme inspirasi dan ekspirasi.
2. Difusi merupakan pergerakan gas yang diinhalasi ke dalam alveoli dan
melewati membran kapiler alveolus.
3. Perfusi merupakan pergerakan darah yang teroksigenasi dari paru ke
jaringan.
Pengendalian pertukaran gas melibatkan proses kimiawi dan sistem saraf.
Sistem saraf terdiri dari tiga bagian yang berlokasi di pons, medula, dan korda
spinalis, dengan koordinasi irama pernapasan dan mengatur kedalaman
pernapasan. Proses kimiawi melibatkan beberapa fungsi penting seperti mengatur
ventilasi alveolus dengan mempertahankan tekanan normal gas darah dan
melindungi terhadap hiperkapnia serta hipoksi yang disebabkan penurunan
oksigen arteri, serta membantu mempertahankan pernapasan saat terjadi hipoksia.

a. Proses Pembentukan Pernapasan Sesuai Tumbuh Kembang


Usia Jumlah Struktur dan Fungsi
Pernapasan

Perkembangan - Lengkung laringotrakea pada minggu


janin keempat gestai tampak menutup diikuti
dengan perkembangan laring dan trakea.
Perkembangan cabang bronkus pada
minggu ke-5 dan ke-16 gestasi. Pada
minggu ke-6 sampai ke-12 terjadi
pertumbuhan pembuluh darah dan lumina
terjadi dalam bronkus dan brokiolus.

Bayi 30-35 Pada saat lahir, paru mengandung cairan.


Cairan akan digantikan oleh udara ketika
bayi mulai bernapas. Saluran pernapasan
bayi masih kecil dan tidak tahan terhadap
infeksi. Permukaan alveolus terbatas
untuk pertukaran gas.

Todler 20-30 Volume paru meningkat dan kerentanan


terhadap infeksi menurun

Usia Sekolah 18-21 Sistem pernapasan mencapai kematangan


seperti orang dewasa. Frekuensi
pernapasan berkurang karena peningkatan
jumlah pertukaran udara ketika bernapas.
Kapasitas paru lebih proporsional.

Remaja 16-20 Laki-laki memiliki kapasitas vital lebih


tinggi karena ukuran dada yang lebih
besar.

Dewasa 16-20 Volume paru mencapai tingkat maksimal.


Kerentanan terhadap penyakit menurun.

Lansia 16-25 Fungsi pernapasan mengalami penurunan


secara bertahap yang dimulai dari masa
dewasa pertengahan. Alveoli mengurangi
area permukaan yang tersedia untuk
pertukaran oksigen dan karbon dioksida.

1. Janin
Pada janin sistem pernapasan berasal dari suatu tonjolan ventral lantai
faring primitive, pada bagian anterior usus depan. Penonjolan tersebut meluas ke
bawah dan membagi diri menjadi benih bronkial kanan dan bronkial kiri, dan
masing-masing lagi bercabang secara dikotom. Penonjolan primer menjadi trakea,
tiap-tiap benih bronkial sebagai bronkus utama, dan cabang-cabang selanjutnya
sebagai bronkus kecil, bronkiolus dan alveol terminalis. Jadi jaringan yang
membatasi seluruh sistem berasal dari endoderm, karena berasal dari usus depan.
Pada mulanya jaringan paru nampak menyerupai kelenjar yakni alveoli yang
dilapisi epitel yang terendap di dalam mesoderm kemudian bagian mesoderm
menyusun selubung tambahan dari sistem lainnya misalnya jaringan ikat dan otot.
Lengkung laringotrakea pada minggu keempat gestasi tampak menutup
diikuti dengan perkembangan laring dan trakea. Perkembangan cabang bronkus
terjadi pasa minggu ke-5 dan ke-16 gestasi. Pada minggu ke-6 dan ke-12, terjadi
pertumbuhan pembuluh darah dan lumina terjadi dalam bronkus dan bronkiolus.
Produksi surfaktan (kompleks protein fosfolipid yang mengurangi tekanan
permukaan alveolus, akan menurunkan kolaps alveoli selama ekspirasi) terjadi
pasa sekitar minggu ke-24 gestasi. Dua substansi penurunan tekanan permukaan,
yaitu lesitin dan sfingomelin, dapat dideteksi dalam cairan amniotik dan berguna
untuk memprediksi kematangan paru, rasio lesitinin atau sfingomielin yaitu 1
banding 2 yang memandakan kematangan paru janin. Pendeteksian
fosfatidilgliserol dalam cairan amnion juga mengindikasikan kematangan paru
janin.
2. Bayi
Proses dimulainya respirasi merupakan penyesuaian fisiologis yang paling
mendesak bagi bayi. Proses ini terlaksana melalui reaksi terhadap stimulas pusat
pernafasan dalam medula oblongata oleh kadar karbondioksida yang tinggi.
Faktor lain yang membantu onset respirasi adalah dinding dada yang tadinya
terpampat jalan lahir, kemudian secara mendadak mengembang sehingga
membuat udara mengalir masuk ke dalam dada, suhu yang berubah atau syok
akibat penanganan yang dilakukan pada dirinya dapat menyebabkan bayi tersebut
menarik napas dengan cepat (gasping).
Penyesuaian paling kritis yang harus dialami bayi baru lahir ialah
penyesuaian sistem pernapasan. Paru – paru bayi cukup bulan mengandung
sekitar 20 ml cairan/kg. Udara harus diganti oleh cairan yang mengisi traktus
respiratorius sampai alveoli. Pada kelahiran pervaginam normal, sejumlah kecil
cairan keluar dari trakea dan paru – paru bayi. Pernapasan abnormal dan
kegagalan paru untuk mengembang dengan sempurna mengganggu aliran cairan
paru janin dari alveoli dan interstisial ke sirkulasi pulmoner. Retensi cairan akan
mengganggu kemampuan bayi memperoleh oksigen cukup.
Tarikan napas pertama, disebabkan reflek yang dipicu oleh perubahan
tekanan, pendinginan, bunyi, cahaya, dan sensasi lain yang berkaitan dengan
proses kelahiran. Diperhitungkan bahwa beberapa tarikan napas pertama
memerlukan upaya lima kali lebih berat daripada upaya yang dibutuhkan untuk
bernapas biasa.
Tekanan oksigen arteri menurun dari 80 menjadi 15 mmHg, tekanan
karbondioksida meningkat dari 40 menjadi 70 mmHg, dan pH arteri menurun
sampai dibawah 7,35. Kebanyakan kasus timbul reaksi pernapasan yang berlebih
dalam satu menit setelah bayi lahir, sehingga bayi mulai menarik napas pertama
dan menangis.
Pola pernapasan tertentu menjadi karakteristik bayi baru lahir normal
cukup bulan. Setelah pernapasan mulai berfungsi, napas bayi menjadi dangkal dan
tidak teratur, bervariasi dari 30 sampai 60 kali per menit, disertai apnea singkat
(kurang dari 15 detik). Lingkaran dada berukuran kurang lebih 30 sampai 33 cm
saat bayi lahir. Auskultasi dada bayi baru lahir akan menghasilkan bunyi napas
yang bersih dan keras, bunyi terdengar sangat dekat karena jaringan pada dinding
dada masih tipis. Tulang iga bayi berartikulasi dengan tulang dada secara
horisontal, bukan membentuk sudut ke bawah. Akibatnya, rongga dada bayi tidak
mengembang sebaik orang dewasa saat paru inspirasi.
3. Anak
Menurut Kadar S.K., dkk (2002) karakteristik sistem pernafasan pada bayi
dan anak kecil meliputi:
a. Pernafasan perut yang berlanjut hingga anak berusia 5 tahun.
b. Retraksi lebih sering terlihat pada penyakit pernafasan karena
meningkatnya komplians dinding dada. Insufisiensi pernapasan bisa timbul
dengan cepat pada anak-anak.
c. Diameter jalan napas yang lebih kecil meningkatkan resiko obstruksi.
d. Bayi dan anak-anak menelan sputum pada saat diproduksi. Rongga toraks
anak tersusun lebih banyak kartilago dibandingkan tulang, karena kurangnya
jaringan subkutan menyebabkan temuan palsu, pergerakan dinding dada harus
lebih terlihat selama bernapas. Bayi dan anak-anak sering menunjukkan
pernapasan perut atau pernapasan paradoksikal. Pernapasan paradoksikal, yang
terjadi ketika dada dan abdomen tidak bekerja bersamaan untuk berekspansi dan
berkontraksi selamain spirasi dan ekspirasi, yang disebabkan oleh belum
matangnya pusat pernapasan anak dan lemahnya otot-otot dada. Bayi dan toddler
mempunyai permukaan dada yang kecil (Kurnianingsih, 1997).
4. Remaja
Oksigenasi tidak adekuat terjadi pada saat sistem pernapasan mengalami
pertumbuhan yang lambat dalam proporsi dengan keseluruhan anggota tubuh.
Laki-laki memiliki kapasitas vital lebih tinggi karena ukuran dada yang lebih
besar dan kapasitas paru mengalami pematangan lebih lama dibandingkan
perempuan yang telah mencapai kapasitas dewasa pada usia 17-18 tahun.
Biasanya pada anak usia remaja sering terpapar pada infeksi pernapasan
disebabkan oleh faktor lingkungan dan faktor resiko pernapasan, biasanya karena
menghirup asap rokok dan merokok. Anak sehat biasanya tidak akan mengalami
masalah dan efek merugikan akibat infeksi pernapasa. Namun, pada individu yang
mulai merokok mengalami peningkatan resiko penyakit kardipulmonar dan
kanker paru.
5. Dewasa
Sistem pernapasan mencapai tingkat kematangan. Volume paru mencapai
tingkat maksimal kapasitasnya. Kerentanan terhadap penyakit akan menurun.
Individu usia dewasa akan lebih banyak terpapar pada banyak faktor resiko
kardiopulmonar seperti diet yang tidak sehat, kurang latihan fisik, obat-obatan,
dan merokok.
6. Lansia
Pada lansia, fungsi pernapasan mengalami penurunan secara bertahap
yang dimulai dari masa dewasa pertengahan. Perubahan yang terjadi adalah
alveoli mengurangi area permukaan yang tersedia untuk pertukaran oksigen dan
karbon dioksida. Pada usia 50 tahun, alveoli mulai kehilangan elastisitasnya,
penebalan kelenjar bronkial juga meningkat sejalan dengan pertambahan usia.
Selain itu, silia hilang dan surfaktan berkurang di kantung alveoli; produksi
mukosa meningkat.
Kapasitas vital paru-paru mencapai tingkat maksimal saat berusia 20-25
tahun, kemudian menurun seiring dengan pertambahan usia dan hilangnya
mobilitas dada sehingga membatasi aliran tidal udara.. jumlah ruang rugi
pernapasan meningkat dan mengakibatkan penurunan kapasitas difusi oksigen
sehingga menghasilkan oksigen rendah dalam dalam sirkulasi arteri.
Perubahan ini menyebabkan penurunan toleransi terhadap aktivitas yang
yang berkepanjangan atau olahraga yang berlebihan dan mungkin membutuhkan
istirahat setelah beraktivitas yang lama dan berat.
BAB IV
PENUTUP

A. KESIMPULAN

1. Organogenesis mencangkup proses transformasi atau perubahan


bentuk serta proses diferensiasi proses yang terjadi secara terus menerus
pada sel, jaringan untuk membentuk struktur yang spesifik.
2. Diferensiasi sel terjadi melalui interaksi sel yang diperantarai oleh molekul
signalling yang bervariasi.
3. Proses Organogenesis ada dua yaitu Pertumbuhan antara dan Pertumbuhan
akhir
4. Tahapan dalam Ektoderm, Endoderm dan Mesoderm
5. Endoderm meliputi, pembentukan saluran pencernaan, pembentukan hati,
pembentukan pancreas, pembentukan trakea dan paru-paru, pembentukan
kandung kemih, pembentukan uretra, dan pembentukan alat reproduksi.

B. SARAN

Pembahasan tentang Organogenesis dalam makalah ini, masih sangatlah jauh


dari kesempurnaan. Oleh karena itu jika ada kesalahan dan kekurangannya,
penulis memohon untuk di benarkan, karena penulis sangat membutuhkan saran
yang membantu penulis demi kemajuan dan keluasan ilmu pengetahuan dan untuk
perbaikan penulisan makalah kedepannya.
DAFTAR PUSTAKA

Adnan. 2008. Embriologi. Biologi FMIPA Universitas Bandar Lampung,


Lampung.
Athiroh, N. 2014. Buku Petunjuk Praktikum Struktur dan Perkembangan Hewan
II (Embriologi). FMIPA Biologi Universitas Islam Malang, malang.
Cahyadi, 2012. Organogenesis. Textbook of Vertebrates Embryology . Edisi
kelima.Tata McGraw Hill,New Delhi.
Kadar, S.K. dkk. 2002. Diagnosis Keperawatan Aplikasi Pada Praktik Klinis, E/9.
Jakarta: EGC
Kurnianingsih. 1997. Biologi Reproduksi. Yogyakarta : Nusa Medika
Purwanto, Rudi, 2010. Biologi. Wahyumedia. Jakarta.
Surjono, T.W. 2001. Perkembangan Hewan. Universitas Terbuka. Jakarta.