Anda di halaman 1dari 25

Uji Toleransi Osmotik Terhadap Berbagai Tingkat Kepekatan Medium Pada

Eritrosit Hewan Poikilotermik (Rana sp.) dan Homoiotermik (Rattus rattus)


(Osmotic Tolerance Tests for Various Levels of Medium Concentration in
Poikilothermic (Rana sp.) and Homoiothermic (Rattus rattus) Animals)
Siti Anindya Putri
170210103095
Kelas C
Pendidikan Biologi
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Jember, Jl. Kalimantan No 37 Sumbersari Jember. Kode pos 68121.
E-mail: anindya608@gmail.com

ABSTRAK

Praktikum kali ini berjudul toleransi osmotik eritrosit hewan poikilotermik dan
homoitermik terhadap berbagai tingkat kepekatan medium dengan tujuan adalah untuk
mengetahui besarnya toleransi osmotik eritrosit hewan poikilotermik dan homoiotermik
terhadap berbagai tingkat kepekatan medium. Osmosis merupakan mengalirnya zat pelarut
dari daerah hiportonis zat terlarut ke daerah hipertonis zat terlarut . Proses osmosis
dipengaruhi oleh kadar zat terlarut, baik yang terlarut di dalam lingkungan sel
ataupun zat yang terlarut di dalam cairan sel, diantara kedua cairan tersebut
dipisahkan oleh membran sel yang bersifat semipermeable. Hewan poikilotermik
umumnya memiliki cairan eritrosit yang bersifat isotonis dengan uji 0,7% larutan garam
sedangkan hewan homoiotermik memiliki cairan eritroset yang bersifat isotonis dengan uji
0,9% larutan garam, 1% larutan garam, dan aquades. Terdapat 2 medium percobaan yaitu
medium hipotonis dan hipertonis. Dimana larutan hipotonis merupakan larutan yang
memiliki konsentrasi yang rendah sehingga mengakibatkan apabila, sel darah pada hewan di
masukkan ke dalam larutan ini akan mengakibatkan cairan masuk ke dalam sel dan akhirnya
karena terlalu penuh mengakibatkan sel lisis atau pecah. Kemudian, larutan hipertonis
merupakan larutan yang memiliki konsentrasi tinggi mengakibatkan air yang terdapat di
dalam sel menjadi keluar semua sehingga terjadi krenasi.

Kata kunci: Osmosis, poikilotermik, homoiotermik, krenasi.

PENDAHULUAN
Eritrosit adalah sel dasar yang suhu yang sedemikian stabil hingga suhu
berbentuk berupa piringan yang tubuhnya kalah bervariasi daripada suhu
mencekung di bagian bagian tegah tubuh endoterm seperti manusia dan
dikedua sisi, bentuknya menyerupai donat mamalia lain (Campbell,2004 : 16).
dengan bagian tengah menggepeng bukan Hewan poikilotermik dan
berlubang (yaitu, eritrosit atau sel darah homoiotermik umunya memiliki fakto-
merah adalah piringan bikonkaf dengan faktor untuk dapat melihat tekanan
garis tengah berukuran sekitar 8 osmotiknya. Dalam hal ini investigasi,
mikrometer, ketebalan 2 mikrometer di morfometri komparatif dari berbagai jenis
tepi luar, dan ketebalan 1 mikrometer di sel darah dari beberapa hewan diambil
bagian tengah) (Sherwood, 2009 : 423). untuk pertimbangan sehubungan
Jumlah sel darah merah tiap per mm3 keterkaitan dengan jenis kelamin, spesies,
untuk setiap jenis hewan berbeda-beda. dan habitat (Acharya, dkk, 2019). Karena
Perbedaan ini dapat pula terjadi kapiler tertanam di dalamnya neuropil
dikarenakan faktor fisiologis, antara lain ; yang mengonsumsi O2 (Wei, dkk, 2016).
usia hewan tersebut, jenis kelamin Sifat selektif dari membran sel
hewan,berat badan, tinggi badan, dan memungkinkan gerakan beberapa zat
habitat hewan tersebut. Sel darah merah terlarut dan mencegah gerakan orang lain.
hewan homoiotermik lebih banyak Ini memiliki konsekuensi penting untuk
jumlahnya daripada hewan poikilotermik volume sel dan integritas sel dan, sebagai
(Winatasasmita, 1986 : 40). hasilnya, sangat penting secara klinis,
Hewan dapat memiliki suhu tubuh misalnya dalam pemberian infus intravena
yang sangat bervariasi atau konstan . isotonik. Konsep-konsepnya osmolaritas
Hewan yang suhu tubuhnya bervariasi di dan tonisitas sering dikacaukan oleh siswa
seluruh lingkungan di sebut poikiloterm karena zat terlarut isosmotik impulsan
(dari kata yuanani poikilos, bervariasi) seperti NaCl juga isotonik; namun, zat
sebaliknya , homoeterm memiliki suhu terlarut isosmotik seperti urea sebenarnya
tubuh yang pasti antara sumber panas dan hipotonik karena sifat permeant dari
stabilitas suhu tubuh. Misalnya, membran (Goodhead, dkk, 2017).
kebanyakan ikan laut dan vertebrata Fitur transformasi eritrosit dinamika
ektotermik menghuni perairan dengan (kerapuhan osmotik, tingkat hemolisis dan
rasio bentuk sel yang berbeda ditentukan
oleh indeks bola) terungkap dalam hetero-
hamster emas (Mesocricetus auratus) dan
homoiothermic pada tikus putih (Rattus METODE PENELITIAN
norvegicus) hewan di bawah alami Lokasi dan waktu penelitian
(hibernasi) dan buatan (ditangguhkan
Penelitian tentang tekanan osmotik
animasi) keadaan hipometabolik,
eritrosit hewan poikilotermik dan
hipotermia kranioserebral dan imersi
homoiotermik terhadap berbagai tingkatan
(Lomako, dkk, 2015).
kepekatan medium yang dilakukan di
Transport aktif primer ditandai
Laboratorium Pendidikan Biologi.
dengan penggunaan ATP, sedangkan
Penelitian dimulai pada hari Senin,
mekanisme yang tersisa tidak.
tanggal 16 September 2019. Pengamatan
Transportasi aktif sekunder dan difusi
tekanan osmotik eritrosit hewan
yang difasilitasi (yang menggunakan
poikilotermik dan homoiotermik terhadap
protein membran) sangat efisien pada
berbagai tingkatan kepekatan medium
konsentrasi rendah dari zat yang diangkut,
dilakukan selama 2 jam 40 menit dengan
tetapi mereka menunjukkan saturasi pada
metode sahli dan alat bantu hamometer
konsentrasi tinggi karena kapasitas
untuk melihat kadar hemoglobin pada
transportasi dibatasi oleh jumlah molekul
probandus dengan fakto-faktor tertentu.
transporter di membran seluler. Akhirnya,
dalam difusi sederhana, pengangkutan Metode Pengujian
hanya tergantung pada gradien antara
Pengamatan tekanan osmotik
bagian luar dan dalam membran sel dan,
eritrosit hewan poikilotermik dan
akibatnya, paling tidak pada awalnya,
homoiotermik terhadap berbagai tingkatan
proporsional dengan konsentrasi senyawa
kepekatan medium diperlukan beberapa
yang diangkut di luar sel (Blanco, dkk,
alat dan bahan yang digunakan. Alat yang
219).
digunakan dalam percobaan ini yaitu Sell
darah merah Mus muculus dan Rana sp,
Kaca benda, Kacat penutup, mikroskop,
pipet tetes, alat seksio, papan seksio,
jarum pentul. Bahan yang digunakan yaitu dan ditahan tiap-tiap kaki katak dengan
darah Aquades, klorofrom, larutan garam jarum pentul lalu mencari kapiler darah
0,7%, larutan garam 0,9%, larutan garam yang besar pada bagian jantungnya dan
1%. menusuk kapiler darahnya lalu ambil
Parameter pengamatan darah dengan menggunakan pipet tetes
dan meneteskan di atas kaca benda, lalu
Prosedur kerja penentuan tekanan
beri 4 perlakukan yaitu pertama di tetesi
osmotik eritrosit hewan poikilotermik dan
dengan aquades, kedua tetesi dengan
homoiotermik terhadap berbagai tingkatan
larutan garam 0,7%, ketiga tetesi larutan
kepekatan medium pada percobaan kali
garam 0,9%, dan keempat tetesi dengan
ini, dimulai dengan membunuh tikus
larutan garam 1%. Hasilnya untuk melihat
dengan menggunakan dislokasi leher dan
perilaku atau konidisi sel darah merah jika
pembiusan klorofrom hingga mencit
di berikan beberapa perlakuan tadi.
menjadi mati kemudian, pastikan tikus
HASIL DAN PEMBAHASAN
sudah dalam keadaan tidak bernyawa.
Lalu membelah bagian tengah badan tikus Penelitian ini bertujuan untuk

dengan menggunakan alat seksio di papan mengetahui besarnya tekanan osmotik


seksio. Melihat bagian jantungnya dan eritrosit hewan poikilotermik dan
menusuk bagian pembuluh darah yang homoiotermik terhadap berbagai tingkatan

besar di tikus tersebut. Setelah itu, kepekatan medium.


mengambil darah dengan menggunakan Kelompok 1
Katak 1
pipet tetes lalu teteskan pada kaca benda Larutan NaCl
lalu beri 4 perlakukan yaitu pertama di 0,7 %
tetesi dengan aquades, kedua tetesi dengan
larutan garam 0,7%, ketiga tetesi larutan
garam 0,9%, dan keempat tetesi dengan
Perbesaran: 10x10
larutan garam 1%. Begitu juga pada katak,
Larutan NaCl
katak dimatikan dengan menggunakan 0,9 %
klorofrom, pastikan katak dalam keadaan
mati ketika akan dibedah bagian perutnya
dengan menggunakan alat seksio di papan Perbesaran: 10x10

seksio dan sebelumnya telah dibentangkan


Larutan NaCl 1 Katak 3
% Larutan NaCl
0,7 %

Perbesaran: 10x10
Aquadest

Perbesaran: 100x10
Larutan NaCl
0,9 %

Perbesaran: 10x10
Kelompok 2
Perbesaran: 100x10
Katak 2
Larutan NaCl 1
Larutan NaCl
%
0,7 %

Perbesaran: 100x10
Perbesaran: 40x10 aquadest
Larutan NaCl
0,9 %

Perbesaran: 100x10
Kelompok 4
Perbesaran: 100x10 Katak 4
Larutan NaCl 1 Larutan NaCl
% 0,7 %

Perbesaran: 100x10
Perbesaran: 100x10 Larutan NaCl
aquadest 0,9 %

Perbesaran: 100x10

Perbesaran: 100x10
Kelompok 3
Larutan NaCl 1 Kelompok 6
% Tikus 2
Larutan NaCl
0,7 %

Perbesaran:100x10
Aquadest

Perbesaran: 100x10
Larutan NaCl
Perbesaran: 100x10 0,9 %
Kelompok 5
Tikus 1
Larutan NaCl
0,7 %

Perbesaran: 100x10
Larutan NaCl 1
%
Perbesaran: 100x10
Larutan NaCl
0,9 %

Perbesaran: 100x10
aquadest

Perbesaran: 100x10
Larutan NaCl 1
%

Perbesaran: 100x10
Kelompok 7
Tikus 3
Larutan NaCl
Perbesaran: 100x10 0,7 %
aquadest

Perbesaran: 40x10

Perbesaran: 100x10
Larutan NaCl Pada kelompok 2 dengan percobaan
0,9 %
yaitu menggunakan katak dengan darah
kataknya diberi perlakuan tetesan aquades
menunjukkan hasil sel darah merahnya
Perbesaran: 40x10 mengalami isotonis, perlakuan kedua
Larutan NaCl 1 darah katak diberi tetesan larutan garam
%
0,7% menunjukkan hasil sel darah
merahnya mengalami isotonis, perlakuan
ketiga sel darah merah diberi tetesan
Perbesaran: 40x10 larutan garam 0,9% menunjukkan hasil
aquadest
bahwa sel darah merahnya krenasi dan
perlakuan terakhir dengan ditetesin larutan
garam 1% menunjukkan hasil bahwa sel
darah mengalami isotonis.
Perbesaran: 40x10
Pada kelompok 3 dengan percobaan
Berdasarkan hasil praktikum kali ini yaitu menggunakan katak dengan darah
pada kelompok 1 dengan percobaan yaitu kataknya diberi perlakuan tetesan aquades
menggunakan katak dengan darah menunjukkan hasil sel darah merahnya
kataknya diberi perlakuan tetesan aquades mengalami homolisis, perlakuan kedua
menunjukkan hasil sel darah merahnya darah katak diberi tetesan larutan garam
mengalami lisis atau pecah, lalu darah 0,7% menunjukkan hasil sel darah
katak diberi tetesan larutan garam 0,7% merahnya mengalami isotonis, perlakuan
menunjukkan hasil sel darah merahnya ketiga sel darah merah diberi tetesan
mengalami krenasi, perlakuan selanjutnya larutan garam 0,9% menunjukkan hasil
sel darah merah diberi tetesan larutan bahwa sel darah merahnya mengalami
garam 0,9% menunjukkan hasil bahwa sel krenasi dan perlakuan terakhir dengan
darah merahnya isotonik dan perlakuan ditetesin larutan garam 1% menunjukkan
terakhir dengan ditetesin larutan garam hasil bahwa sel darah mengalami isotonis.
1% menunjukkan hasil bahwa sel darah Pada kelompok 4 dengan percobaan
mengalami homolisis. yaitu menggunakan katak dengan darah
kataknya diberi perlakuan tetesan aquades
menunjukkan hasil sel darah merahnya katak diberi tetesan larutan garam 0,7%
mengalami krenasi, perlakuan kedua darah menunjukkan hasil sel darah merahnya
katak diberi tetesan larutan garam 0,7% mengalami krenasi, perlakuan ketiga sel
menunjukkan hasil sel darah merahnya darah merah diberi tetesan larutan garam
mengalami isotonis, perlakuan ketiga sel 0,9% menunjukkan hasil bahwa sel darah
darah merah diberi tetesan larutan garam merahnya mengalami homolisis dan
0,9% menunjukkan hasil bahwa sel darah perlakuan terakhir dengan ditetesin larutan
merahnya isotonis dan perlakuan terakhir garam 1% menunjukkan hasil bahwa sel
dengan ditetesin larutan garam 1% darah mengalami homolisis.
menunjukkan hasil bahwa sel darah Pada kelompok 7 dengan percobaan
mengalami isotonis. yaitu menggunakan tikus dengan darah
Pada kelompok 5 dengan percobaan tikusnya diberi perlakuan tetesan aquades
yaitu menggunakan tikus dengan darah menunjukkan hasil sel darah merahnya
tikusnya diberi perlakuan tetesan aquades mengalami isotonisah, perlakuan kedua
menunjukkan hasil sel darah merahnya darah katak diberi tetesan larutan garam
mengalami lisis atau pecah, perlakuan 0,7% menunjukkan hasil sel darah
kedua darah katak diberi tetesan larutan merahnya mengalami krenasi, perlakuan
garam 0,7% menunjukkan hasil sel darah ketiga sel darah merah diberi tetesan
merahnya mengalami lisis atau pecah, larutan garam 0,9% menunjukkan hasil
perlakuan ketiga sel darah merah diberi bahwa sel darah merahnya mengalami
tetesan larutan garam 0,9% menunjukkan krenasi dan perlakuan terakhir dengan
hasil bahwa sel darah merahnya ditetesin larutan garam 1% menunjukkan
mengalami krenasi dan perlakuan terakhir hasil bahwa sel darah mengalami krenasi.
dengan ditetesin larutan garam 1% Menggunakan tikus sebagai bahan
menunjukkan hasil bahwa sel darah utama percobaan kali ini dikarenakan
mengalami krenasi. tikus merupakan hewan homoiotermik,
Pada kelompok 6 dengan percobaan homoiotermik adalah hewan berdarah
yaitu menggunakan tikus dengan darah panas. Pada hewan homoiterm suhunya
tikusnya diberi perlakuan tetesan aquades lebih stabil, hal ini dikarenakan adanya
menunjukkan hasil sel darah merahnya reseptor dalam otaknya sehingga dapat
mengalami krenasi, perlakuan kedua darah mengatur suhu tubuh. Hewan yang dapat
menjaga suhu tubuhnya, pada suhu-suhu sehingga menyebabkan sel pecah atau lisis
tertentu yang konstan biasanya lebih dan tidak berfungsi kembali.
tinggi dibandingkan lingkungan Larutan hipertonik adalah larutan
sekitarnya. dengan konsentrasi zat terlarut lebih tinggi
Menggunakan katak sebagai bahan (tekanan osmotik yang lebih tinggi) dari
utama percobaan kali ini dikarenakan pada yang lain sehingga air bergerak ke
hewan yang suhu tubuhnya kira-kira sama luar sel. Dalam lingkungan hipertonik,
dengan suhu lingkungan sekitarnya tekanan osmotik menyebabkan air
.
Poikiloterm suhu tubuhnya dipengaruhi mengalir keluar sel. Jika cukup air
oleh lingkungan. Suhu tubuh bagian dalam dipindahkan dengan cara ini, sitoplasma
lebih tinggi dibandingkan dengan suhu akan mempunyai konsentrasi air yang
tubuh luar. sedikit sehingga sel tidak berfungsi lagi.
Pada hewan poikilotermik dan Larutan isotonik adalah larutan
homoiternik terdapat perbedaan toleransi yang mempunyai konsentrasi zat terlarut
osmotik. Pada hewan poikilotermik lebih yang sama (tekanan osmotik yang sama)
toleran terhadap larutan yang lebih encer seperti larutan yang lain, sehingga tidak
dari garam fisiologi. Sedangkan hewan ada pergerakan air. Larutan isotonik
yang lebih toleran terhadap larutan yang dengan larutan pada sel tidak melibatkan
lebih pekat dari garam fisiologi adalah pergerakan jaringan molekul yang
hewan homoitermik. melewati membran biologis tidak
Tekanan osmotik adalah gaya sempurna.
volumetrik yang menolak proses alami Perbedaan utama antara larutan
osmosis. Larutan hipotonik adalah suatu hipotonik isotonik dan hipertonik adalah
larutan dengan konsentrasi zat terlarut bahwa larutan isotonik adalah larutan
lebih rendah (tekanan osmotiknya lebih yang memiliki tekanan osmotik yang sama
rendah) dari pada yang lain sehingga air dan larutan hipotonik adalah larutan yang
bergerak masuk ke dalam sel. Dengan memiliki tekanan osmotik lebih rendah
menempatkan sel dalam lingkungan sedangkan larutan hipertonik adalah
hipotonik, tekanan osmotik menyebabkan larutan dengan tekanan osmotik tinggi.
jaringan mengalirkan air ke dalam sel, Variabel bebas pada praktikum kali
ini yaitu tetesan kapiler darah yang diberi
tetesan aquades. Variabel kontrol yaitu dalam suhu ruang. Ketika akan
tetesan darah katak dan tikus yang diberi mencampurkan darah hewan dengan
tetesan larutan garam 0,7%, 0,9%, dan antikoagulan dilakukan secara perlahan
1%. Variabel terikat yaitu perubahan agar tidak merusak sel darah yang akan
bentuk sel darah merah akibat perbedaan diamati.
pemberian perlakuan.
Memberi aquades pada tetesan sel
darah merah karena aquades bersifat
DAFTAR PUSTAKA

isotonik atau netral sehingga mudah untuk Campbell, J. B. Reece, L. G dan Mitchell.
membuat pembandingan dengan yang 2004. Biologi Edisi kelima Jilid 3.
Jakarta : Penerbit Erlangga.
diberi tetesan perlakuan yang berbeda
pada tetesan darah lain dengan 2 hewan Gayatri Acharya, and Prafulla Kumar
Mohanty. 2019. Comparative
berbeda. cytomorphometry of red blood cells
Penggunaan NaCl dalam percobaan of some fishes. Af.J.Bio.Sc. Vol. 1(1):
22-32.
kali ini dapat membantu untuk menguji sel
darah merah pada 2 hewan tersebut Winatasasmita, Djamhur. 1986. Fisiologi
Hewan dan Tumbuhan. Jakarta :
apakah mengalami perubah bentuk seperti
Universitas Terbuka Jakarta.
isotonik, lisi atau pecah, krenasi, atau
Juan Blanco, Helena Martín, Carmen
homolisis.
Marino, and Araceli E. Rossignoli.
KESIMPULAN
2019. Simple Diffusion as the
Dari percobaan diatas dapat
Mechanism of Okadaic Acid
disimpulkan bahwa seharusnya kisaran
toleransi tekanan osmotik eritrosit Uptake by the Mussel Digestive
hewan poikiloterm yaitu larutan NaCl Gland. Toxic Journal. Vol. 11(395):
dengan konsentrasi 0,7% dan hewan 1-11.
homoioterm 0.9%.
Lauren K. Goodhead and Frances M.
Sebaiknya menggunakan pipet tetes
MacMillan. 2017. Measuring
yang yang bersih agar tidak mengubah osmosis and hemolysis of red
blood cells. Adv Physiol Educ. Vol.
konsentasi dalam NaCl ketika percobaan
1(41): 298-305.
sedang berlangsung. Dalam pengambilan
sampel darah hewan dilakukan dengan
cepat karena darah akan mudah membeku
Lomako, V. V., A. V. Shilo, I. F. Andre Francis Palmer, Chris Xu,
Kovalenko, and G. A. Babiichuk. Jiandi Wan, and Maiken
2015. Erythrocytes of Hetero and Nedergaard. 2016. Erythrocytes Are
Homoiothermic Animals under Oxygen-Sensing Regulators of the
Natural and Artificial Cerebral Microcirculation. Neuron
Hypothermia. Journal of Journal. Vol. 1(91): 851-862.
Evolutionary Biochemistry and
Physiology. Vol. 51(1): 58-66.

Sherwood L .2009. Fisiologi Manusia


edisi ke 6. Jakarta : Penerbit buku
kedokteran EGC.

Wei, Helen Shinru, Hongyi Kang, Izad-


Yar Daniel Rasheed, Sitong Zhou,
Nanhong Lou, Anna Gershteyn,
Evan Daniel McConnell, Yixuan
Wang, Kristopher Emil Richardson,
LAMPIRAN