Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS

Child Abuse dan Gizi Buruk tipe Marasmus Kwashiorkor


Maria Claudia Novitasari Ganggut, S.Ked
SMF ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD Prof. Dr. W. Z. Johannes Kupang
Fakultas Kedokteran Universitas Nusa Cendana Kupang
dr. Irene K.L.A Davidz, Sp.A, M.Kes; dr. Tjahyo Suryanto, Sp.A, M. Biomed

I. PENDAHULUAN
Child abuse didefinisikan sebagai suatu perbuatan disengaja yang dapat
menimbulkan kerugian atau bahaya terhadap anak-anak secara fisik ataupun
emosional. lstilah child abuse dapat mencakup berbagai macam bentuk tingkah laku,
dari tindakan ancaman fisik secara langsung oleh orangtua atau orang dewasa lainnya
sampai dengan penelantaran kebutuhan-kebutuhan dasar anak(1).
Child abuse dilaporkan terjadi hampir di seluruh dunia dengan prevalensi
yang cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Sebuah studi memperkirakan 25
hingga 50 persen anak di seluruh dunia mengalami kekerasan fisik, dan sekitar 20
persen wanita serta 5 hingga 10 persen lelaki mengalami kekerasan seksual. Angka
kejadian child abuse di Amerika Serikat mencapai angka 295.000 kasus pada tahun
2013 dan meningkat hingga 315.000 kasus pada tahun 2014. Berdasarkan data The
National Child Abuse and Neglect Data System (NCANDS), pada tahun 2014
sebanyak 50 negara di dunia melaporkan angka kejadian child abuse sebanyak 1.546
korban jiwa. Berdasarkan data tersebut, secara umum pada tahun 2014 angka
kejadian child abuse mencapai 2,13 anak per 100.000 anak dan rata-rata empat anak
meninggal setiap hari karena child abuse di seluruh dunia(1,2).
Child abuse di Indonesia telah dilaporkan terjadi hampir merata dari Sabang
hingga Merauke. Berdasarkan hasil survey oleh Kementrian Sosial, dan Kementrian
Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, dicatat sejumlah 7.061.946 anak
atau diperkirakan 1 dari 3 anak lelaki mengalami kekerasan fisik, emosional, maupun
seksual. Jumlah perempuan yang mengalami kejadian serupa dicatat sejumlah
2.603.770 anak, atau diperkirakan 1 dari 2 anak perempuan mengalami kekerasan.

1
Child abuse meliputi physical abuse (kekerasan fisik), sexual abuse (Kekerasan
seksual), emotional abuse (Kekerasan Emosional), dan Neglect (Penelantaran) (3,4).
Efek child abuse dapat berdampak pada perubahan fisik dan perilaku seorang
anak. Perubahan fisik dapat diakibatkan dari kekerasan fisik (memukul, menggigit,
mencekik dan lain sebagainya) yang mengakibatkan luka, kebiruan, trauma fisik yang
nyata. Dampak perilaku emosional dan kesulitan beradaptasi dengan lingkungan
merupakan salah satu wujud nyata dari efek jangka panjang child abuse.
Penelantaran menyebabkan malnutrisi, hygiene yang buruk dan adanya
penyakit-penyakit yang diabaikan oleh orang tua serta seorang anak tidak
mendapatkan haknya. Salah satu bukti yang dapat dilihat ketika seorang anak
mengalami gizi buruk(1).
Penatalaksanaan pada kasus child abuse adalah dengan pengobatan tanda
klinis, konseling dan pemeriksaan psikologi, pendampingan sosisal, pembuatan VeR,
bantuan hukum. Tanda klinis yang terjadi salah satunya adalah gizi buruk. Gizi buruk
dapat ditatalaksana dengan 10 langkah tatalaksana gizi buruk dan 5 kondisi
penatalaksanaan gizi buruk(7).

II. LAPORAN KASUS


Masuk Rumah Sakit tanggal 16 Juli 2019.
IDENTITAS
Nama : An. DDS
Jenis Kelamin : Perempuan
Tanggal lahir/Usia : 2 Juli 2019 / 2 tahun
Agama : Kristen Protestan
Alamat : Oenesu
No. MR : 51 62 56
Identitas orang tua :
Nama ayah : Tn. AS
Pekerjaan : -

2
Nama Ibu : EL
Pekerjaan : Penjual Sayur

Early Warning Scoring System :


Keadaan umum : Interaksi Biasa = 0
Kardiovaskular : tidak sianosis, CRT < 2 detik = 0
Respirasi : 26 kali/ menit tidak ada retraksi dinding dada = 0
Jumlah 0 = pasien dalam kondisi stabil, monitoring tiap 4 jam

ANAMNESIS
(Alloanamnesis dengan orang tua pasien tanggal 22 Juli 2019)
Keluhan Utama : Kaki patah
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien diantar oleh ibunya dengan keluhan kaki patah sejak 4 hari yang lalu SMRS.
keluhan kaki patah disebabkan karena trauma tumpul yang dilakukan oleh ayah
pasien di rumah saat ibu pasien sedang pergi bekerja di Pasar. Keluhan ini baru
diketahui saat ibu pasien mengantar anaknya ke Puskesmas dan melaporkan
suaminya ke polisi. Pasien lalu dibawa ke RS diantar oleh seorang dokter dan tokoh
masyarakat. Selain keluhan kaki patah pasien juga dikeluhkan mulut terkena luka
bakar yang disebabkan oleh trauma panas yang menurut ibunya merupakan perbuatan
ayah pasien. Luka kemerahan disekitar mulut dagu dan di bawah hidung. Luka
dibawah hidung tidak bertambah berat dan diperingan dengan apapun.
Riwayat penyakit dahulu:
Keluhan yang sama pernah juga dialami oleh pasien sekitar 10 bulan yang lalu
dimana terjadi trauma tumpul yang menyebabkan lengan atas tangan kiri pasien patah
namun pasien tidak pernah dibawa berobat dan hanya dibiarkan begitu saja. Dua
bulan yang lalu pasien pernah masuk RS karena gizi buruk dan diterapi hingga
mencapai target berat badannya dan saat ini pasien kembali dikeluhkan berat badan
yang menurun.

3
Riwayat penyakit keluarga:
Keluhan yang sama juga dialami oleh kakak keenam pasien dimana kakaknya yang
berusia 5 tahun mengalami tindakan kekerasan yang dikatakan oleh ibunya akibat
perlakuan suaminya. Selain itu juga kakak pasien ini pernah mengalami gizi buruk 1
tahun yang lalu dimana perut dan kaki membengkak dan diterapi oleh sebuah LSM
hingga sembuh.
Riwayat pengobatan :
Pasien pernah mendapatkan terapi tatalaksana gizi buruk 2 bulan yang lalu.
Riwayat Imunisasi :
Pasien hanya mendapatkan imunisasi HB 0 saat lahir dan tidak pernah mendapatkan
imunisasi sampai sekarang.
Riwayat Makanan :
Pasien ASI selama 3 bulan kemudian berhenti karena ibunya lanjut bekerja dan
meninggalkan pasien sendiri di rumah. Pasien tidak pernah minum susu formula dan
pasien mulai makan bubur saat usia 3 bulan dan mulai makan makanan lunak usia 1
tahun dan makanan rumahan saat usia 1,5 tahun sampai sekarang. Namun menurut
pengakuan ibunya, pasien jarang diberikan makanan oleh ayahnya saat ibunya
berjualan di pasar. Pasien juga di rumah hanya makan nasi dan kuah sayur dan lauk
pauk jika tersedia.
Riwayat kehamilan :
Selama kehamilan ibu pasien memeriksakan kehamilan di PKM sebanyak 7 kali,
karena ibu pasien dulu sering berjualan di PKM dan akhirnya disuruh untuk
melakukan pemeriksaan kehamilan.
Riwayat persalinan :
Pasien merupakan anak ke 7 dari 7 bersaudara. Pasien dilahirkan di puskesmas
dibantu oleh bidan dan langsung menangis. Ibu pasien lupa berapa berat badan lahir
pasien saat lahir.

4
Riwayat perkembangan :
Sampai usia sekarang pasien belum bisa duduk tanpa bantuan dan hanya bisa
meyebutkan kata “Mama”

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum: tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
BB =5,4 kg PB =66 cm LK : 44,5 cm LP : 44 cm LLA : 9,6 cm
Status Gizi menurut Z-Score
BB/U : kurang dari – 3 SD
PB/U : kurang dari – 3 SD
BB/PB : kurng dari – 3 SD : gizi buruk
LK/U : 44,5 cm
Tanda vital :
 HR : 105 x/menit, reguler, kuat angkat
 RR : 30x/menit,
 Suhu : 37oC (aksila)
 SpO2 : 98%
Kulit : Pucat (-), Ikterus(-), Sianosis(-), terdapat bekas luka di daerah sekitar
mulut dagu dan dibawah hidung.
Kepala : LK :42 cm, UUB dan UUK sudah menutup, old man face (-)
Rambut : Hitam, lurus, tidak mudah tercabut
Mata : konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), mata cekung (+/+)
sekret (-/-), Pupil bulat, isokor 3 mm/ 3mm. RCL +/+ , RCTL +/+
Hidung : Rhinore (-/-), deviasi septum (-), /.pernapasan cuping hidung (-/-),
epistaksis (-/-).
Mulut : mukosa bibir lembab, warna merah muda, uvula di tengah, T1/T1
hiperemis (-), faring hiperemis (-)
Lidah : atrofi (-), kotor (-)

5
Telinga : Otore (-),
Leher : pembesaran kelenjar getah bening (-)
Paru
Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris bilateral, retraksi (-), iga
gambang (+)
Palpasi : tidak teraba massa, tidak teraba krepitasi, tidak ada nyeri tekan
Perkusi paru : Sonor pada lapang paru kanan dan kiri
Auskultasi :Suara napas vesikuler, ronchi basah halus (-/-), wheezing (-/-)
Jantung
Inspeksi :Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi :Teraba pulsasi ictus cordis pada ICS V linea midclavicular sinistra
Perkusi : Batas jantung normal
Auskultasi : Bunyi jantung I-II tunggalregular, gallop (-), murmur (-)
Abdomen
Inspeksi :Tampak cembung
Auskultasi :Peristaltik usus (+) kesan normal
Perkusi : timpani, tes Shifting dulness (-)
Palpasi :Nyeri tekan (-),supel, hepar dan lien tak teraba.
Anggota gerak :
- Ekstremitas atas : Akral hangat, CRT < 3 detik, deformitas lengan kiri (+) dan
teraba benjolan dilengan atas tangan kiri, keras, tidak berdungkul, atrofi otot (-/-)
- Ekstremitas bawah : Akral hangat, CRT < 3 detik, edema tungkai piting ( +/+),
tungkai kiri terpasang bidai, Baggy pants (+) di bokong pasien
Genital : Normal

6
Pemeriksaan penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
Pemeriksaan Hasil Satuan Rujukan
HEMATOLOGI
Darah Rutin 16/ 7/ 2019 17/7/2019

Hemoglobin 11,7 10,3 g/dL 10.8 – 12.8


Jumlah eritrosit 4,69 4,16 10^6/uL 3.50 – 5.20
Hematokrit 36,4 32,9 % 35.0 – 43.0
MCH, MCHC
MCV 77,6 79,1 fL 73.0 – 101.0
MCH 24,9 24,8 Pg 23.0 – 31.0
MCHC 32,1 31,3 g/L 26.0 – 34.0
RDW-CV 13,7 13,7 % 11.0 – 16.0
RDW-SD 39,1 39,6 fL 37 – 54
Jumlah Lekosit 15,28 11,76 10^3/ul 5.0-14.50
Hitung Jenis
Eosinofil 6,3 5,9 % 1-5
Basofil 0,7 0,9 % 0-1
Neutrofil 19,5 19,9 % 25-60
Limfosit 63,9 61,9 % 25-50
Monosit 9,6 11,4 % 1-6
Jumlah eosinofil 0,97 0,69 10^3/ul 0.00-0.40
Jumlah basofil 0.10 0,11 10^3/ul 0.00-0.10
Jumlah neutrofil 2,97 2,34 10^3/ul 1.50-7.00

7
Jumlah limfosit 9,77 7,28 10^3/ul 1.00-3.70
Jumlah monosit 1,47 1,34 10^3/ul 0.00-0.70
Jumlah Trombosit 405 390 10^3/ul 229-553
PDW 97,3 6,9 fL 9.0-17.0
MPV 98,1 8,0 fL 9.0-13.0
P-LCR 10,0 8,5 % 13.0-43.0
PCT 0,33 0,31 % 0.17-0,35
Albumin 3,0 Mg/dl 3.5 – 5.2

2. Pemeriksaan Apusan darah tepi (17 Juli 2019)


Eritrosit : Mayoritas Normokrom Normositik
Leukosit : kesan jumlah normal, atypical limfosit (+), blast (-)
Trombosit : Kesan jumlah normal
Kesimpulan : Kesan gambaran anemia normokrom normositik
3. Pemeriksaan Radiologi ( 16 Juli 2019)

8
Hasil ditemukan Foto thorax:
• Cor tidak membesar, bentuk normal
• Mediastinum superior melebar ec Thymus
• Corakan vesicular paru normal
• Hilus kiri suram, hilus kanan tersuperposisi thymus
• Sinus kostofrenikus dan diafragma normal
Kesan :
• Cor dan paru dalam batas normal.
Hasil temuan Foto Femur sinistra et dextra AP- Lateral :
- Densitas tulang menurun
- Terdapat post fraktur pada sepertiga tengah os femur bilateral dengan
malalignment segmen tulang dan tampak adanya kallus.
Kesan : Osteoporosis dan post fraktur os femur bilateral dengan deformitas tulang ec
malalignment tulang tetapi telah terbentuk kallus.
Hasil foto Humerus sinistra AP- Lateral :
- Densitas os humerus serta os ulna dan os radius proximal menurun.
- Tampak post fraktur os humerus kiri pada sepertiga tengah, dengan angulasi
segmen tulang, telah terbentuk kalus, cenderung telah menjadi union tulang
- Tidak dapat menilai lesi fokal pada os radius ulna

9
- Sulit menilai shoulder joint
Kesan : post fraktur os humerus pada sepertiga tengah, menyebabkan deformitas
tulang ec terdapat angulasi tulang sedangkan telah terbentuk kallus dan union segmen
tulang tersebut. Osteoporosis curiga ec disuse extremitas.
Kesan keseluruhan : Multiple fraktur lama pada tulang- tulang ekstremitas,
curiga child Abuse

10
Pemeriksaan tumbuh kembang

11
F
F

F
F C

F C

F C
F

F
F
F
F
F F
F F
F
F
C
F F
F
F
F F
F
F
p
F
p
F
p
F
p
F
F F

F F

F F
F
F
F
P
F C
P
F
C
P
F
C F
F
P C
F F
P
F
F
F
F C
F
F
P
F
C
P F
P
F
P
F
F
P
F
P
F
P
F
P
F
P
F
P

P
F
P
P F

P
P
P

P
P

12
Resume
Seorang anak perempuan usia 2 tahun datang dengan keluhan kaki kiri patah
sejak 1 minggu lalu. keluhan ini diakibatkan oleh trauma tumpul yang sering
dilakukan ayah pasien. Keluhan ini juga disertai keluhan luka kemerahan pada daerah
wajah sekitar mulut hidung dan dagu yang disebabkan trauma panas yang dilakukan
oleh ayah pasien menggunakan rokok. Kejadian ini sering dialami pasien. 10 bulan
lalu lengan atas tangan kiri pasien mengalami fraktur namun tidak pernah berobat ke
fasilitas kesehatan. Pasien juga dikeluhkan mengalami penurunan berat badan
kehuhan ini juga pernah dialami pasien 2 bulan lalu dan dilakukan pengobatan gizi
buruk. Keluhan ini diakibatkan pasien jarang diberi makan. Pasien juga sampai usia 2
tahun belum bisa untuk duduk tanpa bersandar dan belum bisa bicara, pasien hanya
mampu mengucapkan kata “mama”. Pasien juga hanya mendapatkan HB0 saat di
puskesmas setelah lahir dan tidak pernah mendapatkan imunisasi.
Keadaan Umum: tampak sakit sedang
Kesadaran : Compos mentis
BB =5,4 kg PB =66 cm LK : 44,5 cm LP : 44 cm LLA : 9,6 cm

13
Status Gizi menurut Z-Score3
BB/U : kurang dari – 3 SD
PB/U : kurang dari – 3 SD
BB/PB : kurng dari – 3 SD : gizi buruk
LK/U : 44,5 cm
Tanda vital :
 HR : 105 x/menit, reguler, kuat angkat
 RR : 30x/menit,
 Suhu : 37oC (aksila)
 SpO2 : 98%
Pada pemeriksaan fisik didapatkan kepala mikrocepal, bekas luka pada daerah
mulut, di bawah hidung dan dagu, adanya deformitas lengan kiri pasien dan kaki kiri
yang dipasang bidai. Pada pasien juga terlihat sangat kurus dan didapatkan iga
gambang, baggy pants serta edema tungkai. Pada pemeriksaan penunjang radiologi
terdapat multiple fraktur lama pada tulang- tulang ekstremitas, curiga child Abuse dan
pada pemeriksaan laboratorium didapatkan hipoalbuminemia dengan kadar albumin 3
mg/ dl. pada pemeriksaan skrining perkembangan menggunakan KPSP ditemukan
anak mengalami keterlambatan perkembangan dimana jawaban “YA” kurang dari 6
dan pada pemeriksaan denver II terdapat lebih dari 1 keterlambatan dan lebih dari 2
caution.

DIAGNOSIS KERJA
Multiple fraktur ekstremitas ec Child Abuse
Gizi Buruk tipe marasmus kwashiorkor
Global Development Delay
Hipoalbuminemia
TERAPI
- Traksi femur
- D10% hangat 50 cc / oral ( hari 1 perawatan)

14
- Cotrimoksasol 2 x ½ cth
- Vit A 200.000 IU ( Hari pertama perawatan)
- Paracetamol infuse 50 mg/kali bila nyeri ( diberikan H-1 sampai H- 4
perawatan)
- Vit B Complex 3 x ½ tab ( Hari pertama perawatan)
- Asam folat 1 x o,3 mg ( Hari pertama perawatan)
- Vitamin C 1 x 15 mg ( Hari pertama perawatan)
- Zink 1 x 20 mg selama 10 hari
- F- 75 sesuai berat badan (sampai hari 2 perawatn)
- F- 100 sesuai berat badan
- Vip albumin 1x 1 caps ( diberikan sampai hari ke 7 perawatan)
- Elkana 1 x 1 cth ( hari perawatan ke 2)
- Kenalog in oral base salf oleskan pada luka di sekitar mulut, hidung dan dagu
FOLLOW UP
23/07/2019- 25/07/2019 26/ 07/2018 27/07/2018
S Hari perawatan Ke- 7, 8, 9 Perawatan H- 10 Hari perawatan ke -11
Tidak ada keluhan Tidak ada keluhan Tidak ada keluhan
O Tanda vital : Tanda vital : Tanda vital :
HR : 105 x/menit, reguler, kuat HR : 100 x/menit, reguler, HR : 103 x/menit, reguler,
angkat kuat angkat kuat angkat
RR : 27x/menit, RR : 25x/menit, RR : 29x/menit,
Suhu : 36,8oC (aksila) Suhu : 36,7oC (aksila) Suhu : 36,9oC (aksila)
SpO2 : 98% SpO2 : 98% SpO2 : 98%
BB : 5,9 kg BB : 6,2 kg BB : 6,2 kg
Kulit : Pucat (-), Ikterus(-) Kulit : Pucat (-), Ikterus(-) Kulit : Pucat (-), Ikterus(-)
Sianosis(-), terdapat bekas luka Sianosis(-), terdapat bekas Sianosis(-), terdapat bekas
di daerah sekitar mulut dagu luka di daerah sekitar mulut luka di daerah sekitar mulut
dan di bawah hidung. dagu dan di bawah hidung. dagu dan di bawah hidung.
Kepala : LK :44,5 cm, UUB Kepala : LK :44,5 cm, UUB Kepala : LK :44,5 cm, UUB
dan UUK sudah menutup dan UUK sudah menutup dan UUK sudah menutup

Paru Paru Paru


Inspeksi: Pergerakan dinding Inspeksi: Pergerakan Inspeksi: Pergerakan dinding
dada simetris bilateral, retraksi dinding dada simetris dada simetris bilateral,
(-), iga gambang (+) bilateral, retraksi (-), iga retraksi (-), iga gambang (+)

15
Palpasi:tidak teraba massa, gambang (+) Palpasi:tidak teraba massa,
tidak teraba krepitasi, tidak ada Palpasi:tidak teraba massa, tidak teraba krepitasi, tidak
nyeri tekan tidak teraba krepitasi, tidak ada nyeri tekan
Perkusi : Sonor pada lapang ada nyeri tekan Perkusi : Sonor pada lapang
paru kanan dan kiri Perkusi : Sonor pada lapang paru kanan dan kiri
Auskultasi :Suara napas paru kanan dan kiri Auskultasi :Suara napas
vesikuler, ronchi basah halus Auskultasi :Suara napas vesikuler, ronchi basah halus
(-/-), wheezing (-/-) vesikuler, ronchi basah (-/-), wheezing (-/-)
Jantung halus (-/-), wheezing (-/-) Jantung
Inspeksi :Ictus cordis Jantung Inspeksi :Ictus cordis
tidak terlihat Inspeksi :Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi :Teraba pulsasi ictus tidak terlihat Palpasi :Teraba pulsasi ictus
cordis pada ICS V linea Palpasi :Teraba pulsasi ictus cordis pada ICS V linea
midclavicular sinistra cordis pada ICS V linea midclavicular sinistra
Perkusi : Batas jantung normal midclavicular sinistra Perkusi : Batas jantung
Auskultasi : Bunyi jantung I-II Perkusi : Batas jantung normal
tunggal regular, gallop (-), normal Auskultasi : Bunyi jantung I-
murmur (-) Auskultasi : Bunyi jantung II tunggal regular, gallop (-),
Abdomen I-II tunggal regular, gallop murmur (-)
Inspeksi:Tampak cembung (-), murmur (-) Abdomen
Auskultasi:Peristaltik usus (+) Abdomen Inspeksi:Tampak cembung
kesan normal Inspeksi:Tampak cembung Auskultasi:Peristaltik usus (+)
Perkusi: timpani, tes Shifting Auskultasi:Peristaltik usus kesan normal
dulness (-) (+) kesan normal Perkusi: timpani, tes Shifting
Palpasi :Nyeri tekan (-),supel, Perkusi: timpani, tes dulness (-)
hepar dan lien tak teraba. Shifting dulness (-) Palpasi :Nyeri tekan (-),supel,
Anggota gerak : Palpasi :Nyeri tekan (- hepar dan lien tak teraba.
- Ekstremitas atas : Akral ),supel, hepar dan lien tak Anggota gerak :
hangat, CRT < 3 detik, teraba. - Ekstremitas atas : Akral
deformitas lengan kiri (+) dan Anggota gerak : hangat, CRT < 3 detik,
teraba benjolan dilengan atas - Ekstremitas atas : Akral deformitas lengan kiri (+) dan
tangan kiri, keras, tidak hangat, CRT < 3 detik, teraba benjolan dilengan atas
berdungkul, atrofi otot (-/-) deformitas lengan kiri (+) tangan kiri, keras, tidak
- Ekstremitas bawah : Akral dan teraba benjolan berdungkul, atrofi otot (-/-)
hangat, CRT < 3 detik, edema dilengan atas tangan kiri, - Ekstremitas bawah : Akral
tungkai piting ( +/+), tungkai keras, tidak berdungkul, hangat, CRT < 3 detik,
kiri terpasang bidai, Baggy atrofi otot (-/-) edema tungkai piting ( +/+),
pants (+) di bokong pasien - Ekstremitas bawah : tungkai kiri terpasang bidai,
Akral hangat, CRT < 3 Baggy pants (+) di bokong
detik, edema tungkai piting pasien
( +/+), tungkai kiri
terpasang bidai, Baggy

16
pants (+) di bokong pasien
A Multiple fraktur ekstremitas ec Multiple fraktur ekstremitas Multiple fraktur ekstremitas
Child Abuse ec Child Abuse ec Child Abuse
Gizi Buruk tipe marasmus Gizi Buruk tipe marasmus Gizi Buruk tipe marasmus
kwashiorkor kwashiorkor kwashiorkor
Global Development Delay Global Development Delay Global Development Delay
Hipoalbuminemia Hipoalbuminemia Hipoalbuminemia
P F100 6 x 135- 200 cc Naikan F100 6 x 135- 200 cc F100 6 x 135- 200 cc Naikan
10 cc/ kali tidak boleh > 200 Naikan 10 cc/ kali tidak 10 cc/ kali tidak boleh > 200
cc boleh > 200 cc cc
Kenalog in oral base Kenalog in oral base Kenalog in oral base
Elkana 1 x ½ cth Elkana 1 x ½ cth Elkana 1 x ½ cth
Cotrimoksasol 2 x ½ cth Cotrimoksasol 2 x ½ cth Makanan lumat 3 x 1
Makanan Lumat 3 x1 / 24 Pasien pulang
jam

III. DISKUSI
Child abuse adalah segala suatu perbuatan disengaja yang dapat menimbulkan
kerugian atau bahaya terhadap anak-anak dalam bentuk penyiksaan fisik, emosional,
pelecehan seksual, atau kelalaian terhadap anak. lstilah child abuse dapat mencakup
berbagai macam bentuk tingkah laku, dari tindakan ancaman fisik secara langsung
oleh orangtua atau orang dewasa lainnya sampai dengan penelantaran kebutuhan
dasar anak(1).
Berdasarkan World Health Organization 2016, 1 dari 4 orang dewasa
melaporkan pernah mengalami kekerasan pada saat usia anak sampai remaja. Satu
dari lima perempuan dan 1 dari 13 anak laki laki pernah mengalami kekerasan
seksual saat remaja. Kejadian kekerasaan pada anak sering dialami usia 2 – 17
tahun(2). Pada laporan kasus didapatkan seorang anak perempuan berusia 2 tahun.
Beberapa faktor resiko yang menyebabakan terjadinya kekerasan pada anak
adalah Immaturity ( ketidakdewasaan) yang biasa terjadi pada orang tua dengan usia
muda dan tidak siap untuk membesarkan anak, unrealistic expectation dimana orang
tua yang memiliki keinginan tidak wajar dan tidak mengetahui perkembangan dan
pertumbuhan anak sehingga sering kali frustasi dan penerapan disiplin yang sangat

17
keras, Stress terjadi pada keluarga dengan pendapatan menengah ke bawah, rumah
tangga yang tidak stabil, perceraian dan pengangguran memiliki resiko yang lebih
besar terjadinya kekerasan pada anak, substance use atau penggunaan zat mempunyai
efek samping dan membuang waktu dan uang sehingga orang tua yang menggunakan
zat adiktif kurang mampu mengurus anak, intergenerational trauma dimana orang
tua yang juga pernah mengalami kekerasan saat masa anak- anak atau remaja dan
melakukan hal yang sama terhadap anaknya, dan isolation dimana orang tua ingin
memberikan pola asuh efektif namun tidak mampu karena tidak adanya pasangan,
keluarga maupun lingkungan yang mendukung(6). Pada laporan kasus didapatkan dari
anamnesis kekerasan fisik dilakukan oleh ayah pasien yang merupakan seorang
pengangguran dan hanya tinggal dirumah. Selain itu keadaan ekonomi dimana ibu
pasien yang seorang penjual sayuran di pasar serta sering mendapatkan perilaku
kekerasan dan keadaan keluarga yang tidak mendukung merupakan faktor resiko
terjadinya kekerasan pada anak dan penelantaran anak pada laporan kasus ini.
Child abuse meliputi physical abuse (kekerasan fisik), sexual abuse
(kekerasan seksual), emotional abuse (kekerasan emosional), neglect (penelantaran).
Efek child abuse dapat berdampak pada perubahan fisik dan perilaku seorang anak.
Perubahan fisik dapat diakibatkan dari kekerasan fisik (memukul, menggigit,
mencekik dan lain sebagainya) yang mengakibatkan luka, kebiruan, trauma fisik yang
nyata sedangkan penelantaran menyebabkan malnutrisi, hygiene yang buruk dan
adanya penyakit-penyakit yang diabaikan oleh orang tua serta seorang anak tidak
mendapatkan haknya.(1,4,6) Berdasarkan anamnesis dilaporkan anak datang dengan
keluhan kaki dan tangan patah. Keluhan ini disebabkan oleh trauma tumpul yang
dilakukan ayah pasien. Selain itu adanya keluhan luka bakar pada daerah bawah
hidung dan sekitar mulut pasien yang disebabkan oleh trauma panas yang juga
disebabkan oleh ayah pasien. Berdasarkan pemeriksaan fisik ditemukan benjolan
lengan atas tangan kiri pasien dan adanya deformitas dimana ini menuntukan adanya
kelainan tulang yang lama dan sudah terbentuk kalus dan ditemukan kaki kiri yang
tertutup bidai pada penanganan patah tulang, bekas luka yang mengering di daerah

18
bawah hidung dan sekitar mulut dan dagu. Selain itu juga pada laporan kasus
berdasarkan anamnesis didapakan riwayat pemberian makanan buruk dimana pasien
hanya diberi ASI sampai usia 3 bulan dan tidak diberikan susu formula dan kadang
tidak diberi makan. Selain itu pada pemeriksaan fisik didapatkan status gizi buruk
dimana BB/PB < - 3 SD dan klinis gizi buruk yaitu perut cembung, iga gambang,
baggy pants dan adanya edema dikedua tungkai serta pada pemeriksaan penunjang
didapatkan hipoalbuminemia dengan kadar albumin 3 mg/ dl. Selain dari pemeriksaan
fisik terjadinya malnutrisi ditemukan juga adanya keterlambatan perkembangan pada
pasien dimana usia 2 tahun pasien belum mampu duduk tanpa sandaran dan hanya
bisa mengucapkan kata “mama”.
Perhatian dan pemeriksaan menyeluruh diperlukan jika beberapa bukti fisik
terlihat, hematoma dan goresan pada wajah, bibir / mulut atau di area lain dari tubuh.
hematoma atau goresan atau bekas penyembuhan. Pola hematoma atau goresan bisa
mengungkap objek yang digunakan untuk melakukan kekerasan. Abrasi dan laserasi
pada mulut, bibir,mata, telinga, lengan, tangan, alat kelamin, cedera gigitan di area
lain dari tubuh, cedera baru atau cedera berulang dapat ditemukan. Fraktur terjadi
anak di bawah 3 tahun, terutama jika fraktur multiple,harus diperiksa dengan cermat
kemungkinan adanya kekerasan fisik. Patah tulang baru atau kalus yang dapat
ditemukan pada saat yang sama. Luka bakar, di tangan, kaki atau bokong karena
bersentuhan dengan benda panas seperti rokok. Pola cedera yang khas sepadan
dengan bentuk luka bakar. Cedera kepala seperti hematoma subkutan dan subdural
yang dapat digambarkan dengan sinar-x, cedera lainnya seperti dislokasi bahu dan
panggul sendi, dan tanda-tanda cedera berulang(4). Pada pasien ini ditemukan fraktur
multiple yaitu fratur 1/3 media os femur sinistra dan fraktur lama pada os humerus
sinistra disertai kalus serta adanya bekas luka akibat trauma panas pada daerah bawah
hidung, mulut dan sekitar dagu pasien. Selain itu adanya deformitas pada lengan
tangan kiri pasien .
Pemeriksaan penunjang yang berguna untuk menentukan trauma yang
terabaikan pada child abuse adalah dengan pemeriksaan radiology. X-ray dapat

19
melihat sekitar 80% fraktur yang terabaikan pada anak anak usia 1 tahun. Fraktur
pada anak-anak biasanya ditangani tidak tepat atau dibiarkan(4,5). Pada pemeriksaan
radiologi foto humerus sinistra AP/ lateral didapatkan kesan post fraktur os humerus
sinistra pada sepertiga tengah menyebabkan deformitas tulang ec terdapat angulasi
tulang sedangkan telah terbentuk kalus dan union segmen tulang tersebut.
Osteoporosis curiga ec disuse extremitas dan pada pemeriksaan foto femur AP/
Lateral didapatkan kesan Osteoporosis dan post fraktur os femur bilateral dengan
deformitas tulang ec malalignment tulang tetapi telah terbentuk kallus. Sehingga
kesimpulan dari foto radiologinya adalah multiple fraktur lama pada tulang- tulang
ekstremitas, curiga child abuse.
Penegakan diagnosis pada kasus child abuse dapat melalui anamnesis riwayat
pasien, fisik dan radiologi. Riwayat pasien dan keluarga membantu ahli radiologi
untuk menentukan kekerasan fisik. Pada kasus berdasarkan anamnesis dimana pasien
sering mendapatkan tindakan kekerasan dari ayahnya serta pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan radiologi ditemukan terdapat tanda klinis gizi buruk serta adanya fraktur
multiple menandakan pasien dapat didiagnosis dengan child abuse dan gizi
buruk(2,4,5).
Alur penanganan pasien dengan korban child abuse adalah dengan anamnesis
dimana ditanyakan penyebab, jenis kekerasan, pelaku kekerasan, alat yang
digunakan, jumlah kejadian, waktu serta lokasi kejadian. Pemeriksaan fisik dan
pemeriksaan penunjang seperti lab, rontgen, dan usg jika diperlukan(2,4). Pada kasus
didapatkan pasien sering mengalami tindakan kekerasan akibat faktor stres dan
lingkungan yang tidak mendukung yang dilakukan oleh ayah kandung pasien yang
sering memukul pasien menggunakan tangan, dan kadang menggunakan api rokok
yang mengakibtakan adanya fraktur dan luka pada daerah wajah pasien serta adanya
bukti bahwa pasien ditelantarkan dilihat dari adanya tanda klinis gizi buruk serta
adanya keterlambatan tumbuh kembang pasien dimana pada pemeriksaan skrining
KPSP sesuai usia jawaban “YA” kurang dari 6 dan pada pemeriksaan denver II
ditemukan lebih dari 1 keterlambatan dan lebih dari 2 caution.

20
Penatalaksanaan pada kasus child abuse adalah dengan pengobatan tanda
klinis, konseling dan pemeriksaan psikologi, pendampingan sosisal, pembuatan VeR,
bantuan hukum. Pada pasien ini pengobatan yang dilakukan adalah traksi sehingga
dipasang bidai pada fraktur serta pengobatan tatalaksana gizi buruk(2).
Diagnosa gizi buruk dapat dilakukan pada anak dengan satu atau lebih tanda
berikut yaitu terlihat sangat kurus, edema minimal pada kedua punggung tangan/
kaki, BB/PB < - 3 SD, LILA < 11,5 cm. pada pasien didapatkan anak terlihat sangat
kurus dengan adanya edema pitting pada kedua punggung kaki pasien, kemudian
pada pemeriksaan antopometri didapatkan BB/PB < -3SD dan LILA 9,6 cm (< 11,5
cm)(7). Pada pasien berdasarkan skoring McLaren merupakan gizi buruk tipe
marasmus kwashiorkor dengan skor 5.
Penanganan gizi buruk rawat inap adalah dengan penerapan 10 langkah dan 5
kondisi tatalaksana anak gizi buruk. Sepuluh langkah tatalaksana gizi buruk adalah
mencegah dan mengatasi hipoglikemia, mencegah dan mengatasi hipotermia,
mencegah mengatasi dehidrasi, memperbaiki gangguan keseimbangan elektrolit,
mengobati infeksi, memperbaiki kekurangan zat gizi mikro, memberikan makanan
untuk stabilisasi dan transisi, memberikan makanan untuk tumbuh kejar, memberikan
stimulasi untuk tumbuh kembang, dan mempersiapkan untuk tindak lanjut di rumah.
sedangkan 5 kondisi anak gizi buruk adalah kondisi I – kondisi V tergantung ada
tidaknya tanda bahaya. Pada pasien ini ditatalaksana dengan tatalaksana gizi buruk
kondisi V dimana tidak ditemukannya tanda bahaya seperti syok, letargi, diare /
muntah/ dehidrasi. Pada pasien gizi buruk sering juga terkena hipoglikemia, untuk
mengatasi hipoglikemia pasien mendapatkan terapi larutan D10% 50 cc oral pada
hari pertama. Untuk makanan stabilisasi dan transisi pasien juga mendapatkan terapi
F-75 sesuai berat badan dimulai dengan dosis ¼ dosis sesuai berat badan yaitu 15 cc
setiap 30 menit dalam 2 jam setelah pemberian D10% dan 10 jam berikutnya pasien
mendapatkan F- 75 60 cc setiap 2 jam, dan kemudian perawatan hari ke-3 pasien
mendapatkan F- 75 90 cc/ 3 jam dan pada hari ke-4 perawatan mendapatkan F- 75
120 cc/ 4 jam . Pasien menghabiskan F- 75 pada dosis maksimal dan diganti menjadi

21
F-100 dengan dosis maksimal F-75 yaitu 120 cc/4 jam, hari ke 5 diberikan dosis F-
100 135- 200 cc dan dinaikan tiap 10 cc tiap pemberian sampai hari ke – 10
perawatan. Pada anak ini tidak didapatkan adanya hipotermia dan dehidrasi, dan
gangguan keseimbangan elektrolit, pengobatan infeksi diberikan kotrimoksasol
peroral ( 25 mg sulfametoksasol + 5 mg trimetropin/ kg bb) setiap 12 jam selama 5
hari. Pada pasien diberikan kotrimoksasol sirup 2 x ½ cth ( 27 mg trimetropin). Untuk
memperbaiki zat gizi mikro pasien diberikan Vitamin A 200.000 IU, Vitamin
Bcomplex 3 x ½ tab, Asam folat 1 x 0,3 mg, vitamin C 1x 13 mg, dan zink 1 x 20 mg
selama 10 hari. Untuk simulasi tumbuh kembang dapat diberikan kasih sayang,
lingkungan yang ceria, terapi bermain yang terstruktur 15- 30 menit/ hari, aktifitas
fisik segera setalah sembuh dan keterlibatan ibu seperti memberi makan, bermain,
dan sebagainya. Dan penatalaksanaan yang terakhir adalah untuk tindak lanjut di
rumah. Pasien juga diberikan Vip albumin 1x1 capsul selama 7 hari untuk penangan
hipoalbuminemia.
Kriteria pemulangan anak gizi buruk dari rawat inap adalah edema sudah
berkurang atau hilang, anak sadar dan aktif, BB/PD >- 3 SD, komplikasi teratasi, ibu
mendapat konseling gizi dan adanya kenaikan BB 50 g/kg/ minggu selama 2 minggu
berturut-turut dan selera makan sudah membaik serta dapat dihabiskan. Pada pasien
edema tungkai sudah berkurang, BB/PB diantara – 2SD dan – 3 SD dan didapatkan
penambahan berat badan sebanyak 800 gr ( > 50 g/kgbb/minggu).
Pencegahan kasus kekerasan pada anak harus melibatkan anak, keluarga,
dan lingkungannya. Pencegahan tingkat pertama (primary prevention) meliputi
pendidikan kesehatan untuk anak dan keluarga, dan perlindungan pada anak dengan
membantu keluarga mengantisipasi hal yang dapat menimbulkan kekerasan pada
anak. Salah satu contoh upaya pencegahan primer adalah pada kasus jumlah balita
yang banyak dalam satu keluarga dapat menjadi faktor risiko kekerasan pada anak.
Program Keluarga Berencana (KB) berperan penting untuk mencapai kelangsungan
hidup anak agar mencapai tumbuh kembang yang optimal. Konsep kelangsungan
hidup anak ini dikembangkan menjadi konsep Kelangsungan Hidup, Perkembangan

22
dan Perlindungan Anak. Perlindungan anak dianggap perlu ditambahkan karena
menyangkut pengakuan hak anak, terutama dalam penanganan secara utuh golongan
‘anak dalam situasi teramat sulit’ (children in especially difficult situations).
Sehingga perlu edukasi pada keluarga untuk mengikuti program KB.
Secondary prevention atau pencegahan tingkat kedua meliputi deteksi dini
anak dengan kekerasan, konseling pada anak dan keluarga, dan perawatan anak
korban kekerasan dengan memenuhi kebutuhan fisik dan psikologis.
Pencegahan tingkat tersier, antara lain membantu pemulihan kesehatan anak,
dan membantu anak untuk kembali ke lingkungannya dengan percaya diri(3).

KESIMPULAN
Telah dilaporkan satu laporan kasus anak perempan berusia 2 tahun dengan
diagnosis multiple fraktur ekstremitas ec child abuse, gizi buruk tipe marasmus
kwashiorkor, global development delay dan hipoalbuminemia. Dari kasus di atas,
pendekatan dalam menegakkan diagnosis dilakukan melalui anamnesis, pemeriksaan
fisik, pemeriksaan laboratorium, dan radiologis dimana hasil-hasil dari pemeriksaan
bermanfaat sebagai penuntun terapi.

23
DAFTAR PUSTAKA
1. Ardinata A, Soetjiningsih, Windiani IAT, Adnyana ANS, Alit IBP. Karakteristik
anak yang mengalami child abuse dan neglect di RSUP Sangla, Denpasar,
Indonesia tahun 2015- 2017. Intisari Sains Medis. Volume 10. Bali : Discoversys.
2019.
2. Mardina R. Kekerasan Terhadap Anak dan Remaja. Pusat Data dan Informasi
Kementrian Kesehatan RI. Jakarta : Departemen Kesehatan RI. 2017
3. Medise BE, Sekartini R. Child Abuse and Neglect : Kecurigaan dan Tatalaksana.
Pendidikan Dokter Berkelanjutan Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta : Ikatan
Dokter Anak Indonesia. 2014.
4. Widiastuti D, Sekartini R. Deteksi Dini, Factor Resiko, dan Dampak Perlakuan
Salah pada Anak. Sari Pediatri. Volume 7. Jakarta : 2005. p105-112
5. Lubis AMT, Hadi SA. Child Abuse, A case Report. Medical Journal Indonesia.
Volume 13. Jakarta: 2004
6. U.S. Department of Health and Human Services, Administration for Children and
Families, Administration on Children, Youth and Families Children’s Bureau.
Protecting Children Understanding Child Abuse and Neglect. 2019 Prevention
Resource Guide. Wangshiton : FRIENDS National Center for Community-Based
Child Abuse Prevention. 2019.
7. Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Bagan Tatalaksana Gizi Buruk. Buku
I. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2013

24