Anda di halaman 1dari 11

SURVEI AMBANG BENDUNG COLO, SUKOHARJO

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Konstruksi Bangunan Air

Dosen Pembimbing:
Sukatiman, S.T., M.Si.

Disusun Oleh:
Darus Dwi Hartoko (K1514023)
Intan Devi Nataliasari (K1514039)
Prima Rama Dhana (K1514060)
Tabhita Kirani (K1514069)

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN TEKNIK BANGUNAN


FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
SURAKARTA
2018
BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengertian Bendung
Menurut standar tata cara perencanaan umum bendung, yang
diartikan dengan bendung adalah suatu bangunan air dengan kelengkapan
yang dibangun melintang sungai atau sudetan yang sengaja dibuat untuk
meninggikan taraf muka air atau untuk mendapatkan tinggi terjun.
Sehingga air dapat disadap dan dialirkan secara gravitasi ke tempat yang
membutuhkannya. Sedangkan bangunan air adalah setiap pekerjaan sipil
yang dibangun dibadan sungai untuk berbagai keperluan.
Definisi bendung menurut ARS Group, 1982, Analisa Upah dan
Bahan BOW (Burgerlijke Openbare Werken), Bandung adalah bangunan
air (beserta kelengkapannya) yang dibangun melintang sungai atau pada
sudetan untuk meninggikan taraf muka air sehingga dapat dialirkan secara
gravitasi ke tempat yang membutuhkannya.
Berdasarkan Standar Nasional Indonesia/SNI 03-2401-1991
tentang Pedoman Perencanaan Hidrologi Dan Hidrolik Untuk Bangunan
Di Sungai adalah bangunan ini dapat didesain dan dibangunan sebagai
bangunan tetap, bendung gerak, atau kombinasinya, dan harus dapat
berfungsi untuk mengendalikan aliran dan angkutan muatan di sungai
sedemikian sehingga dengan menaikkan muka airnya, air dapat
dimanfaatkan secara efisien sesuai dengan kebutuhannya.

B. Fungsi Bendung
Sebuah bendung memiliki fungsi, yaitu untuk meninggikan muka
air sungai dan mengalirkan sebagian aliran air sungai yang ada ke arah tepi
kanan dan tepi kiri sungai untuk mengalirkannya ke dalam saluran melalui
sebuah bangunan pengambilan jaringan irigasi. Fungsi bendung ini
berbeda dengan fungsi bendungan dimana sebuah bendungan berfungsi
sebagai penangkap air dan menyimpannya di musim hujan waktu air
sungai mengalir dalam jumlah besar dan yang melebihi kebutuhan.

C. Jenis-jenis Bendung
1. Berdasarkan cara pembendungannya
Pembendungan air dapat tidak hanya dengan puncak pelimpah yang
permanen saja, tetapi dapat juga dilengkapi dengan pintu pengatur
yang bekerja di atas puncak ambang bendung. Berdasarkan hal
tersebut, maka bendung dapat dibagi, yaitu
a. Bendung
Bila seluruh atau sebagian besar dari pembendungannya dilakukan
oleh sebuah puncak pelimpah yang permanen. Meskipun bendung
juga dilengkapi dengan pintu, tetapi bagian dari pintu ini lebih
kecil dalam pelaksanaan pembendungan air.
b. Baragge
Jika seluruh bendungan atau sebagian besar dari pembendungan
dilakukan oleh pintu. Pada baragge yang pembendungnya
dilakukan seluruhnya oleh pintu, maka pada waktu banjir pintu
tersebut dibuka sehingga peluapannya akan menjadi maksimum
atau berkurang.
2. Berdasarkan fungsinya
a. Bendung pengarah
Diversion Weir adalah suatu bangunan pelimpah dengan atau tanpa
pintu penutup dan terletak melintang atau memotong kedalaman
dasar sungai. Fungsinya adalah untuk membelokkan air sungai ke
saluran primer.
b. Bendung penahan
Fungsinya adalah untuk menyimpan air banjir atau manahan air
banjir pada saat banjir datang sebagai penahan atau pengontrol
banjir.
3. Berdasarkan bentuk dan material konstruksi
a. Masonary Weir With Vertical Drops.
Bendung tipe ini terdiri dari sebuah lantai horisontal dan sebuah
puncak ambang dari pasangan batu tembok dengan permukaan air
hampir tegak. Bendung tipe ini cocok untuk tanah dasar lempung
keras.
b. Rock Dry Stone Weir.
Bendung tipe ini adalah tipe yang sederhana, tipe ini cocok untuk
tanah dasar berpasir halus seperti tanah alluvial. Bendung tipe ini
juga membutuhkan jumlah batu yang sangat banyak, jadi bendung
tipe ini tidak banyak dipakai.

D. Klasifikasi Bendung
Dari berbagai klasifikasi bendung yang ada secara umum, bendung
diklasifikasikan menjadi 3, antara lain:
1. Bendung Saringan Bawah
Bendung saringan bawah pada umumnya dibangunan di daerah
hulu di mana lokasi ini banyak mengangkut batuan besar dan
permukaan air sungai relatif tinggi. Sehingga dibuat bendung yang
renah.
Bendung ini dilengkapi dengan pasir terbuka, di atasnya diberi
kisi-kisi penyaring dari baja untuk mencegah masuknya batuan ke
dalam parit.
Bendung Saringan Bawah dapat dipertimbangkan jika :
a. Kemiringan sungai relatif besar, biasanya di pegunungan.
b. Butir sedimen sedang kecil dan konsentrasi sedimen sangat tinggi.
c. Mengandung bongkahan batu.
d. Debit pengambilan jauh lebih kecildari debit sungai.
e. Tidak cocok untuk sungai yang fluktuasi bahan angkutannya
besar. Misalnya di daerah gunung berapi muda.
f. Dasar sungai yang rawan gerusan memerlukan fondasi yang
cukup dalam.
g. Bendung harus dirancang seksama agar aman terhadap rembesan.
h. Konstruksi saringan hendaknya sederhana, tahan benturan batu,
mudah dibersihkan jika tersumbat.
i. Bangunan harus dilengkapi dengan kantong lumpur/pengelak
sedimen yang cocok dengan kapasitas tampung memadai dan
kecepatan aliran cukup untuk membilas partikel. Satu di depan
pintu pengambilan dan satu di awal saluran primer.
j. Harus dibuat pelimpah yang cocok di saluran primer untuk
menjaga jika terjadi kelebihan air.
2. Bendung Ambang/ Mercu Tetap
Berfungsi untuk menaikkan permukaan air sungai agar air
sungai dapat dialirkan ke daerah irigasi. Dan untuk menaikkan
permukaan air sungai diatur dengan ambang tetap atau permanen.
Umumnya mercu bendung berbentuk bulat atau Ogee. Kedua bentuk
ini cocok untuk beton atau pasangan batu kali.
Mercu berbentuk Ogee adalah berbentuk lengkung memakai
persamaan matematis, sedikit rumit dilaksanakan, tetapi memberikan
sifat hiraulis yang baik, bentuk gemuk dan kekar, menambah stabilitas.
3. Bendung Gerak
Berfungsi untuk meninggikan muka air sungai, sehingga air
sungai dapat dialirkan ke daerah irigasi. Untuk mengatur permukaan
air sungai digunakan pintu gerak (dapat dibuka dan ditutup). Bendung
gerak cocok dibangun di sungai bagian hilir, di daerah ini kemiringan
sungai datar dan tebing sungai rendah. Pada saat banjir pintu dibuka,
sehingga air sungai tidak meluap ke tebing kanan dan kiri.Bendung
Gerak dapat dipertimbangkan jika :
a. Kemiringan sungai kecil atau relatif datar.
b. Daerah genangan luas dan harus dihindari.
c. Debit banjir besar, kurang aman dilewatkan pada bendung tetap.
d. Pondasi untuk pilar harus betul-betul kuat kalau tidak pintu
terancam macet.
E. Jenis-jenis Ambang
1. Berdasarkan bentuknya:
a. Ambang sekat dengan takik berbentuk empat persegi panjang
b. Ambang dengan takik berbentuk trapesium (cipoletti weir)
c. Ambang dengan takik berbentuk segitiga
2. Berdasarkan bentuk puncaknya:
a. Ambang yang puncaknya tajam (sharp crested weir)
b. Ambang yang puncaknya bulat (ogee weir)
c. Ambang lebar (broad crested weir)
Jika ambang mempunyai lebar > 0,5H maka disebut ambang lebar.
d. Ambang sempit (narrow crested weir)
Jika ambang mempunyai lebar < 0,5H maka disebut ambang
sempit.
3. Ambang dengan kontraksi/ penguncupan ujung (weir with end
contraction = contracted weir)
Jika panjang puncak ambang kurang dari lebar saluran, aliran air
akan dipengaruhi oleh sisi samping ambang, sehingga akan terjadi
kontraksi.
4. Ambang tanpa kontruksi ujung (weir without end contraction =
supressed weir)
Jika panjang puncak ambang = lebar saluran, tidak akan terjadi
kontraksi.
F. Perhitungan Debit di Atas Ambang

Q = 2/3 Cd . L √2g H2/3


Dimana :
Q = Debit (m3/s)
Cd = Koefisien debit (0,72 untuk ambang sempit dan 1,03 untuk
ambang lebar)
L = Lebar ambang (m)
g = Percepatan gravitasi (9,81 m/s2)
H = Tinggi air dari atas sampai permukaan air (m)
BAB II
PEMBAHASAN

A. Bendung Colo
Informasi teknis Bendung Colo diuraikan sebagai berikut:
Nama bendung : Bendung Colo
Alamat : Ds. Pengkol, Kec. Nguter, Sukoharjo
Jenis : Sederhana
Kewenangan : Pemerintah Pusat
Sumber air : Air sungai dan air hujan
Peta lokasi :

Sumber : Google Maps


Luas fungsional : 23.200 Ha
Debit air rata-rata : 246 lt/dtk

B. Hasil Survey dan Perhitungan Debit di Atas Ambang Bendung


JlJendralSudirman
Rumus :
Q = 2/3 Cd . L √2g H2/3

Diketahui :
Qr = 246 lt/s
= 250 / 1000
= 0,246 m3/s
Cd = 1,03 (ambang lebar)
L = 26 m
g = 9,81 m/s2
H = 109,20 cm
Penyelesaian :
Qr = 2/3 Cd L √2g. H3/2
0,246 = 2/3 1,03 .26 √2. 9,81. 1,093/2
0,246 = 0,69 . 26 . 13,87. 1,14
0,246 < 283,66 m3/s

Debit di atas ambang yang terjadi di Bendung Colo, Sukoharjo


adalah 283,66 m3/s.

C. Gambar Bendung
Terlampir

D. Dokumentasi Survei

Gambar 2.1 Bendung Colo Sukoharjo


BAB III

KESIMPULAN

Dari survey yang telah dilakukan, menurut kami bending dan pintu air
yang berada di Bendung Colo, Sukoharjo dapat menampung debit air sampai
283,66 m3/s. Sehingga ketika hujan turun, air tidak akan meluap ke daratan. Bisa
dilihat dari hasil perhitungan di atas.
DAFTAR PUSTAKA

https://www.scribd.com/doc/91360587/Pengertian-Bendung

https://totobolacrot.wordpress.com/2011/08/30/var-adfly_id-811511-var-
adfly_advert-int-var-frequency_cap-5-var-frequency_delay-5-var-init_delay-3/

http://putriana-civilengineering.blogspot.co.id/2013/03/ambang-lebar.html

http://putusukmakurniawan.blogspot.co.id/2010/08/bendung-dan-bagian-
bagiannya.html

https://www.google.co.id/search?dcr=0&q=bendung+colo+kecamatan+sukoharjo
+jawa+tengah