Anda di halaman 1dari 22

JENIS DATA DAN PENYAJIANNYA

MAKALAH
PENYAJI
UNTUK MEMENUHI TUGAS MATAKULIAH
Metodologi Penelitian Kuantitatif
Yang dibina oleh Ibu Dr. Siti Nurrochmah, M.Kes

OLEH
Mohammad Syamsul Anam
160614800921

UNIVERSITAS NEGERI MALANG


PROGRAM PASCASARJANA
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN OLAHRAGA
NOVEMBER 2016

1
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur penulis kepada Allah SWT atas limpahan rahmat,

taufik, hidayah serta inayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis

dalam bentuk makalah dengan judul “Jenis Data dan Penyajian Data”.

Makalah ini ditulis sebagai salah satu syarat dalam menyelesaikan mata kuliah

Statistik Olah Data Keseluruhan isi pada makalah ini yaitu membahas tentang konsep

data, dan klasifikasi jenis data penelitian.

Dalam pembuatan makalah ini kami menemukan hambatan karena terbatasnya

ilmu pengetahuan yang dimiliki oleh penulis mengenai konsep data, dan klasifikasi

jenis data penelitian. Oleh karena itu kami mengucapkan terima kasih kepada dosen

pembimbing matakuliah Statistik Olah Data yang telah membimbing dan mengarahkan

kami sehingga makalah ini dapat terselesaikan.

Saya sangat menyadari bahwa dalam struktur penulisan makalah ini terdapat

banyak kesalahan. Oleh karena itu, kami sangat mengharapkan adanya saran dan kritik

agar makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua dan dapat dijadikan acuan untuk

membuat makalah selanjutnya agar lebih sempurna dan harapannya makalah ini dapat

menjadi sumber informasi bagi kita semua yang akan menunjang kelancaran proses

pembelajaran kedepan dan dapat bermanfaat bagi pembaca makalah ini.

Semarang, 17 September 2019

Penulis

2ii
DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR............................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ................................................................. 3

B. Rumusan Masalah ............................................................. 4

C. Tujuan Penulisan ............................................................... 4

D. Manfaat ............................................................................. 5

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Data ................................................................. 6

B. Jenis Data .......................................................................... 7

C. Penyajian Data .................................................................. 12

D. Cara Penyajian Data .......................................................... 17

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ....................................................................... 21

B. Saran .................................................................................. 21

DAFTAR PUSTAKA .............................................................................. 22

3iii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Penelitian hakikatnya merupakan suatu kegiatan ilmiah untuk memperoleh
pengetahuan yang benar tentang suatu masalah. Pengetahuan yang diperoleh dari
penelitian dapat berupa fakta, konsep, generalisasi dan teori yang memungkinkan
manusia dapat memahami fenomena dan memecahkan masalah yang dihadapi. Masalah
masalah yang akan diselesaikan merupakan pusat perahatian dalam penelitian.
Aktivitas penelitian tidak akan terlepas dari keberadaan data yang merupakan bahan
baku informasi untuk memberikan gambaran spesifik mengenai obyek penelitian. Data
adalah fakta empirik yang dikumpulkan oleh peneliti untuk kepentingan memecahkan
masalah atau menjawab pertanyaan penelitian. Data penelitian dapat berasal dari
berbagai sumber yang dikumpulkan dengan menggunakan berbagai teknik selama
kegiatan penelitian berlangsung.
Menurut Lofland dalam Djaelani (2013:82) sumber data utama dalam penelitian
kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti
dokumen dan lainnya. Jika dalam penelitian kuantiatif yang menjadi titik perhatian
dalam pengumpulan data adalah sampel yang diperlakukan sebagai subyek penelitian,
sedangkan di dalam penelitian kualitatif tidak berbicara tentang sampel sebagaimana
penelitian kuantitatif, tetapi tentang informan dan aktor/pelaku, kata-kata dan tindakan
informan dan pelaku itulah yang dijadikan sumber data untuk diamati/diobservasi dan
diminta informasinya melalui wawancara/diskusi/dokumentasi.
Berdasarkan sumbernya, data penelitian dapat dikelompokkan dalam dua jenis
yaitu data primer dan data sekunder. Berdasarkan bentuk dan sifatnya, data penelitian
dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu data kualitatif (yang berbentuk kata-kata/kalimat)
dan data kuantitatif (yang berbentuk angka). Berdasarkan proses atau cara untuk
mendapatkannya, data kuantitatif dapat dikelompokkan dalam dua bentuk yaitu: Data
diskrit dan Data Kontinum.
Pemahaman peneliti terhadap jenis-jenis data penelitian tersebut di atas bermanfaat
untuk menentukan teknik analisis data yang akan digunakan. Terdapat sejumlah teknik
analisis data yang harus dipilih oleh peneliti berdasarkan jenis datanya. Teknik analisis
data kualitatif akan berbeda dengan teknik analisis data kuantitatif. Oleh karena itu
penulis ingin membahas mengenai jenis data dalam penelitian.

4
B. Rumusan Masalah
Masalah atau topik pembahasan dalam makalah ini adalah sebagai berikut;
1. Apakah yang dimaksud dengan konsep data ?
2. Bagaimanakah klasifikasi jenis data ?
3. Apakah yang dimaksud dengan Penyajian Data?
4. Bagaimana cara menyajikan data?
C. Tujuan
Tujuan topik pembahasan dalam makalah ini adalah sebagai berikut;
1. Mengetahui, memahami dan mengerti tentang konsep data.
2. Mengetahui, memahami dan mengerti tentang klasifikasi jenis data.
3. Mengetahui, memahami dan mengerti tentang konsep penyajian data
4. Mengetahui, memahami dan mengerti tentang cara menyajikan data
D. Manfaat
Diharapkan dengan tersusunnya makalah ini mampu memberikan pengetahuan
mengenai konsep atau pengertian jenis data penelitia, klasifikasi jenis data yang
digunakan dalam suatu penelitian dan cara menyajikan data.

5
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Data
Definisi Data secara Etimologis merupakan bentuk jamak dari DATUM yang
berasal dari Bahasa Latin dan berarti "Sesuatu Yang Diberikan". Dalam pengertian
sehari-hari data dapat berarti fakta dari suatu objek yang diamati, yang dapat berupa
angka-angka maupun kata-kata. Sedangkan jika dipandang dari sisi Statistika menurut
Siswandari (2009) dalam Aditya (2013:1) Data merupakan fakta-fakta yang akan
digunakan sebagai bahan penarikan kesimpulan. Arikunto (2002:96) data adalah hasil
pencatatan peneliti, baik berupa fakta ataupun berupa angka. Bungin (2001:123) Data
adalah bahan keterangan tentang suatu objek penelitian. Definisi data sebenarnya
memiliki kemiripan dengan definisi informasi, hanya informasi lebih ditonjolkan dari
segi servis, sedangkan adata lebih ditonjolkan aspek materi. Jadi dapat disimpulkan
bahwa data merupakan kumpulan fakta (informasi) yang diperoleh dari suatu
pengukuran (angka).
Menurut Aditya (2013:2) agar data dapat dianalisis dan ditafsirkan dengan
Baik, maka harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut : (1) Obyektif, Data yang
diperoleh dari lapangan/hasil pengukuran, harus ditampilkan dan dilaporkan apa
adanya. (2) Relevan, Dalam mengumpulkan dan menampilkan Data harus sesuai
dengan permasalahan yang sedang dihadapi atau diteliti. (3) Up to Date (Sesuai
Perkembangan), Data tidak boleh usang atau ketinggalan jaman, karena itu harus selalu
menyesuaikan perkembangan. (4) Representatif, Data harus diperoleh dari sumber yang
tepat dan dapat menggambarkan kondisi senyatanya atau mewakili suatu kelompok
tertentu atau populasi.
Dari konsep yang demikian itu, dalam penelitian dilapangan , data lebih banyak
disinggung, baik itu jenisnya maupun teknik memperolehnya. Bahkan pada beberapa
penelitian tertentu, disinggung singgung bagaiman data tersebut sudah dapat dianalisi
dilapangan, sehingga betul betul dapat mencerminkan wajah dari sebuah fakta yang
utuh.

B. Jenis Data
Data memiliki beberapa ciri yang dapat diklasifikasikan menurut kekhususan
tertentu, sesuai dengan maksud penelitian atau sumber data yang digunakan. Oleh

6
karena itu data dapat diklasifikasikan sebagi berikut : Berdasarkan bentuk dan sifatnya,
data penelitian dapat dibedakan dalam dua jenis yaitu data kualitatif (yang berbentuk
kata-kata/kalimat) dan data kuantitatif (yang berbentuk angka).

1. Data kualitatif
Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka.
Data kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data misalnya
wawancara, analisis dokumen, diskusi terfokus, atau observasi yang telah dituangkan
dalam catatan lapangan (transkrip). Bentuk lain data kualitatif adalah gambar yang
diperoleh melalui pemotretan atau rekaman video. Menurut Bungin (2001:124) data
kualitatif diungkapkan dalam bentuk kalimat serta uraian uraian, bahkan dapat berupa
cerita pendek. Jenis data ini kebanyakan digunakan pada penelitian kualitatif.
Contohnya : “amat cantik”, “cantik”, “kurang cantik”, “tidak cantik”.
Data kualitatif amat bersifat subjektif, karenanya penelitian yang menggunakan
data kualitatif, sesungguhnya harus berusaha sedapat mungkin untuk menghindari sikap
subjektif yang dapat menghamburkan objektivitas data penelitian.

a. Data Kasus
Ciri khas dari data kualitatif adalah menjelasakan kasus kasus tertentu. Data
kasus hanya berlaku untuk kasus tertentu serta tidak bertujuan untuk generalisaikan data
atau menguji hipotesis tertentu. Lebih memungkinkan data kasus mendalam dan
komprehensif dalam mengekspresikan suatu objek penelitian. Wilayah data kasus
tergantung pada seberapa luas penelitian kasus tertentu. Oleh karenanya data kasus bisa
seluas indonesia, provinsi, kabupaten, kecamatan, desa, dapat beberapa orang, bahkan
satu orang. Dapat juga lembaga tertentu, suatu pranata tertentu dan lain sebagainya.
b. Data Pengalaman Individu
Data ini adalah salah satu bentuk data kualitatif yang sering digunakan dalam
penelitian kualitatif. Data pengalaman individu dimaksud adalah bahwa keterangan
mengenai apa yang dialami oleh individu sebagai warga masyarakat tertentu yang
menjadi objek penelitian. Data pengalam pribadi ini sungguh sungguh sarat dengan
unsur unsur subjektif sehingga kadang kdang tidak sesuai dengan realita keadaan
masyarakat yang menjadi objek penelitia. Walaupun demikian subjektivitas tersebut
dapat dipakai sebagai bagian dari realita masyarakat yang diteliti dan bukan maksud
untuk menerangkan realita masyarakat yang diteliti.

7
Guna dari data semacam ini adalah si peneliti dapat memperoleh suatu
pandangan dari dalam melalui reaksi, tanggapan, interprestasi dan penglihatan para
warga subjek penelitian serta memperdalam pengertian secara kualitatif mengenai detail
yang tidak dapat diperoleh melalui wawancara ataupun observasi semata. Misalnya
seseorang yang sedang meneliti pemain sepakbola yang dialami masyarakat.
2. Data Kuantitatif
Data ini lebih mudah dimengerti bila dibandingkan dengan data kualitatif. Data
kuantitatif adalah data yang berbentuk angka atau bilangan. Sesuai dengan bentuknya,
data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis menggunakan teknik perhitungan
matematika atau statistika. Contoh data kuantitatif antara lain: tinggi badan, berat
badan, kecepatan lari, sepakbola dan sebagainya. Selanjutnya data kuantitatif bisa
dibedakan sebagai berikut:
a. Data Nominal
Data nominal atau sering disebut juga data kategori, data yang diperoleh melalui
pengelompokkan obyek berdasarkan kategori tertentu. Perbedaan kategori obyek hanya
menunjukan perbedaan kualitatif. Walaupun data nominal dapat dinyatakan dalam
bentuk angka, namun angka tersebut tidak memiliki urutan atau makna matematis
sehingga tidak dapat dibandingkan. Ukuran nominal adalah ukuran yang paling
sederhana, di mana angka yang diberikan kepada objek mempunyai arti sebagai label
saja dan tidak menunjukkan tingkatan apa-apa. Objek dikelompokkan dalam set-set dan
kepada semua anggota set diberikan angka. Set-set tersebut tidak boleh tumpang tindih
dan bersisa (mutually exclusive and exhaustive) (Nazir, 2005:130). Logika
perbandingan “>” dan “<” tidak dapat digunakan untuk menganalisis data nominal.
Operasi matematika seperti penjumlahan (+), pengurangan (-), perkalian (x), atau
pembagian (:) juga tidak dapat diterapkan dalam analisis data nominal.
Contoh data nominal antara lain: Jenis kelamin yang terdiri dari dua kategori
yaitu: ( 1 : Laki-laki), ( 2 : Perempuan). Angka (1) untuk laki-laki dan angka (2) untuk
perempuan hanya merupakan simbol yang digunakan untuk membedakan dua kategori
jenis kelamin. Angka-angka tersebut tidak memiliki makna kuantitatif, artinya angka (2)
pada data di atas tidak berarti lebih besar dari angka (1), karena laki-laki tidak memiliki
makna lebih besar dari perempuan. Terhadap kedua data (angka) tersebut tidak dapat
dilakukan operasi matematika (+, -, x, : ). Misalnya (1) = laki-laki, (2) = perempuan,
maka (1) + (2) ≠ (3), karena tidak ada kategori (3) yang merupakan hasil penjumlahan
(1) dan (2).

8
b. Data Diskrit
Data Diskrit adalah data dalam bentuk angka (bilangan) yang diperoleh dengan
cara membilang. Arikunto (2002:96) data dari variabel diskrit disebut data diskrit,
berupa frekuensi. Contoh data diskrit misalnya: (1) Jumlah Sekolah Dasar Negeri di
Kecamatan Klojen sebanyak 20. (2) Jumlah siswa laki-laki di SD 1 Penanggungan
sebanyak 67 orang. (3) Jumlah penduduk di Kabupaten Ponorogo sebanyak 246.867
orang. Karena diperoleh dengan cara membilang, data diskrit akan berbentuk bilangan
bulat (bukan bilangan pecahan).
c. Data kontinum
Data Kontinum adalah data dalam bentuk angka/bilangan yang diperoleh
berdasarkan hasil pengukuran. Arikunto (2002:96) data dari variabel kontinum disebut
data kontinum, berupa tingkatan, angka berjarak atau ukuran. Data kontinum dapat
berbentuk bilangan bulat atau pecahan tergantung jenis skala pengukuran yang
digunakan. Contoh data kontinum misalnya: (1) Tinggi badan Budi adalah 150,5
centimeter. (2) IQ Budi adalah 120. (3) Suhu udara di ruang kelas 24o Celcius. Data
kontinum juga dapat dipisah pisahkan seperti berikut:
1) Data Ordinal
Data ordinal adalah data yang berasal dari suatu objek atau kategori yang telah
disusun secara berjenjang menurut besarnya. Setiap data ordinal memiliki tingkatan
tertentu yang dapat diurutkan mulai dari yang terendah sampai tertinggi atau sebaliknya.
Namun demikian, jarak atau rentang antar jenjang yang tidak harus sama. Ukuran
ordinal adalah angka yang diberikan di mana angka-angka tersebut mengandung
pengertian tingkatan (Nazir, 2005:130). Himpunan tidak hanya dikategorikan pada
persamaan atau perbedaan, tetapi juga dari pernyataan lebih besar atau lebih kecil
(Saryono, 2011:39). Dibandingkan dengan data nominal, data ordinal memiliki sifat
berbeda dalam hal urutan. Terhadap data ordinal berlaku perbandingan dengan
menggunakan fungsi pembeda yaitu “>” dan “<”. Walaupun data ordinal dapat disusun
dalam suatu urutan, namun belum dapat dilakukan operasi matematika ( +, – , x , : ).
Contoh jenis data ordinal antara lain: Tingkat pendidikan yang disusun dalam
urutan sebagai berikut: (1) Taman Kanak-kanak (TK), (2) Sekolah Dasar (SD),
(3) Sekolah Menengah Pertama (SMP), (4) Sekolah Menengah Atas (SMA),
(5) Diploma, (6) Sarjana. Analisis terhadap urutan data di atas menunjukkan bahwa
SD memiliki tingkatan lebih tinggi dibandingkan dengan TK dan lebih rendah
dibandingkan dengan SMP. Namun demikian, data tersebut tidak dapat dijumlahkan,

9
misalnya SD (2) + SMP (3) ≠ (5) Diploma. Dalam hal ini, operasi matematika ( + , – ,
x, : ) tidak berlaku untuk data ordinal.
Peringkat (ranking) siswa dalam satu kelas yang menunjukkan urutan prestasi
belajar tertinggi sampai terendah. Siswa pada peringkat (1) memiliki prestasi belajar
lebih tinggi dari pada siswa peringkat (2).
2) Data Interval
Data interval adalah data hasil pengukuran yang dapat diurutkan atas dasar
kriteria tertentu serta menunjukan semua sifat yang dimiliki oleh data ordinal.
Kelebihan sifat data interval dibandingkan dengan data ordinal adalah memiliki sifat
kesamaan jarak (equality interval) atau memiliki rentang yang sama antara data yang
telah diurutkan. Karena kesamaan jarak tersebut, terhadap data interval dapat dilakukan
operasi matematika penjumlahan dan pengurangan ( +, – ). Namun demikian masih
terdapat satu sifat yang belum dimiliki yaitu tidak adanya angka Nol mutlak pada data
interval. Berikut dikemukakan tiga contoh data interval, antara lain:
a) Hasil pengukuran suhu (temperatur) menggunakan termometer yang dinyatakan
dalam ukuran derajat. Rentang temperatur antara 00 Celcius sampai 10 Celcius
memiliki jarak yang sama dengan 10 Celcius sampai 20 Celcius. Oleh karena itu
berlaku operasi matematik ( +, – ), misalnya 150 Celcius + 150 Celcius = 300
Celcius. Namun demikian tidak dapat dinyatakan bahwa benda yang bersuhu 15 0
Celcius memiliki ukuran panas separuhnya dari benda yang bersuhu 300 Celcius.
Demikian juga, tidak dapat dikatakan bahwa benda dengan suhu 00 Celcius tidak
memiliki suhu sama sekali. Angka 00 Celcius memiliki sifat relatif (tidak mutlak).
Artinya, jika diukur dengan menggunakan Termometer Fahrenheit diperoleh 00
Celcius = 320 Fahrenheit.
b) Kecerdasaran intelektual yang dinyatakan dalam IQ. Rentang IQ 100 sampai 110
memiliki jarak yang sama dengan 110 sampai 120. Namun demikian tidak dapat
dinyatakan orang yang memiliki IQ 150 tingkat kecerdasannya 1,5 kali dari urang
yang memiliki IQ 100.
c) Dalam banyak kegiatan penelitian, data skor yang diperoleh melalui kuesioner
(misalnya skala sikap atau intensitas perilaku) sering dinyatakan sebagai data
interval setelah alternatif jawabannya diberi skor yang ekuivalen (setara) dengan
skala interval, misalnya:
Skor (5) untuk jawaban “Sangat Setuju”
Skor (4) untuk jawaban “Setuju”

10
Skor (3) untuk jawaban “Tidak Punya Pendapat”
Skor (2) untuk jawaban “Tidak Setuju”
Skor (1) untuk jawaban “Sangat Tidak Setuju”
Dalam pengolahannya, skor jawaban kuesioner diasumsikan memiliki sifat-sifat
yang sama dengan data interval.
3) Data rasio
Data rasio adalah data yang menghimpun semua sifat yang dimiliki oleh data
nominal, data ordinal, serta data interval. Data rasio adalah data yang berbentuk angka
dalam arti yang sesungguhnya karena dilengkapi dengan titik Nol absolut (mutlak)
sehingga dapat diterapkannya semua bentuk operasi matematik ( + , – , x, : ). Sifat-sifat
yang membedakan antara data rasio dengan jenis data lainnya (nominal, ordinal, dan
interval) dapat dilihat dengan memperhatikan contoh berikut:
a) Panjang suatu benda yang dinyatakan dalam ukuran meter adalah data rasio. Benda
yang panjangnya 1 meter berbeda secara nyata dengan benda yang panjangnya 2
meter sehingga dapat dibuat kategori benda yang berukuran 1 meter dan 2 meter
(sifat data nominal). Ukuran panjang benda dapat diurutkan mulai dari yang
terpanjang sampai yang terpendek (sifat data ordinal). Perbedaan antara benda yang
panjangnya 1 meter dengan 2 meter memiliki jarak yang sama dengan perbedaan
antara benda yang panjangnya 2 meter dengan 3 (sifat data interval). Kelebihan
sifat yang dimiliki data rasio ditunjukkan oleh dua hal yaitu: (1) Angka 0 meter
menunjukkan nilai mutlak yang artinya tidak ada benda yang diukur; serta (2)
Benda yang panjangnya 2 meter, 2 kali lebih panjang dibandingkan dengan benda
yang panjangnya 1 meter yang menunjukkan berlakunya semua operasi matematik.
Kedua hal tersebut tidak berlaku untuk jenis data nominal, data ordinal, ataupun
data interval.
b) Data hasil pengukuran berat suatu benda yang dinyatakan dalam gram memiliki
semua sifat-sifat sebagai data interval. Benda yang beratnya 1 kg. berbeda secara
nyata dengan benda yang beratnya 2 kg. Ukuran berat benda dapat diurutkan mulai
dari yang terberat sampai yang terringan. Perbedaan antara benda yang beratnya 1
kg. dengan 2 kg memiliki rentang berat yang sama dengan perbedaan antara benda
yang beratnya 2 kg. dengan 3 kg. Angka 0 kg. menunjukkan tidak ada benda (berat)
yang diukur. Benda yang beratnya 2 kg, 2 kali lebih berat dibandingkan dengan
benda yang beratnya 1 kg.

11
d. Data Primer
Data primer adalah data yang langsung dan segera diperoleh dari sumber data
oleh penyidik untuk tujuan yang khusus (Surakhmad, 1982:162). Maksudnya data yang
diperoleh atau dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Data
primer disebut juga sebagai data asli atau data baru yang memiliki sifat up to date.
Untuk mendapatkan data primer, peneliti harus mengumpulkannya secara langsung.
Teknik yang dapat digunakan peneliti untuk mengumpulkan data primer antara lain
observasi, wawancara, diskusi terfokus (focus grup discussion – FGD) dan penyebaran
kuesioner.
e. Data Sekunder
Data sekunder merupakan sumber yang tidak langsung memberikan data kepada
pengumpul data (Sugiyono, 2015:193). Maksudnya data yang diperoleh atau
dikumpulkan peneliti dari berbagai sumber yang telah ada (peneliti sebagai tangan
kedua). Data sekunder dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti Biro Pusat Statistik
(BPS), buku, laporan, jurnal, dan lain-lain. Pemahaman terhadap kedua jenis data di atas
diperlukan sebagai landasan dalam menentukan teknik serta langkah-langkah
pengumpulan data penelitian. Bungin (2001:128) data sekunder kemudian dikategorikan
menjadi dua yaitu:
1) Internal data, yaitu tersedia tertulis pada sumber data sekunder. Umpama kalau
pada perusahaan, dapat berupa faktur, laporan penjualan, pengiriman, hasil riset
yang lalu dan sebagainya.
2) Eksternal data, yaitu data yang diperoleh dari sumber luar. Umpamanya data sensus
dan data registrasi, serta data yang diperoleh dari badan atau lembaga yang
aktivitasnya menggumpulkan data atau keterangan yang relevan dengan/dalam
berbagai masalah.
C. Penyajian Data
Kegiatan pengumpulan data di lapangan akan menghasilkan data angka-angka
yang disebut ‘data kasar’ (raw data) yang menunjukkan bahwa data tersebut belum
diolah dengan teknik statistik tertentu. Jadi data tersebut masih berwujud sebagaimana
data itu diperoleh yang bisanya berupa skor dan relative banyak tidak beraturan. Dalam
pembuatan laporan penelitian, data termasuk yang harus dilaporkan. Agar dapat
memberikan gambaran yang bermakna, data-data itu haruslah disajikan ke dalam
tampilan yang sistematis dan untuk keperluan penganalisisan biasanya data itu disusun

12
dalam sebuah tabel. Penyajian data ini bertujuan memudahkan pengolahan data dan
pembaca memahami data.

1. Macam-Macam Penyajian Data dalam Bentuk Tabel


Pada dasarnya banyak cara untuk menyajikan data sehingga ia dapat
dipahami dan digunakan secara tepat oleh pengolah data. Namun untuk
menghasilkan gambaran data yang komunikatif, harus diingat untuk menyajikan
sesuai kebutuhan. Dalam hal ini, penyajian data dalam bentuk tabel bertujuan untuk
memberikan informasi dan gambaran mengenai jumlah secara terperinci sehingga
memudahkan pengolah data dalam menganalisis data tersebut. Macam – macam
penyajian data dalam bentuk tabel antara lain:
a. Tabel Baris Kolom
Tabel yang lebih tepat disebut tabel baris kolom ini adalah tabel-
tabel yang dibuat selain dari tabel kontingensi dan distribusi frekuensi yaitu
tabel yang terdiri dari baris dan kolom yang mempunyai ciri tidak terdiri dari
faktor-faktor yang terdiri dari beberapa kategori dan bukan merupakan data
kuantitatif yang dibuat menjadi beberapa kelompok.
Contoh, tabel daftar ip seorang mahasiswa pendidikan matematika
No Semester IP
1 I 3,12
2 II 3,00
3 III 3,39
4 IV 3,37
5 V 2,9
6 VI 3,3
7 VII 3,4
Tabel 1. Baris kolom

b. Tabel Kontingensi
Tabel kontingensi merupakan bagian dari tabel baris kolom, akan
tetapi tabel ini mempunyai ciri khusus, yaitu untuk menyajikan data yang
terdiri atas dua faktor atau dua variabel, faktor yang satu terdiri atas b
kategori dan lainnya terdiri atas k kategori, dapat dibuat daftar kontingensi
berukuran b x k dengan b menyatakan baris dan k menyatakan kolom.

13
Contoh Banyak Murid Sekolah Di Daerah Inderalaya Menurut Tingkat
Sekolah Dan Jenis Kelamin Tahun 2006
JENIS JUMLAH
KELAMIN TINGKAT SEKOLAH
SD SMP SMA
Laki – laki 4756 2795 1459 9012
Perempuan 4032 2116 1256 7404
Jumlah 8790 4911 2715 16416
Tabel 2. Tabel kontingensi
c. Tabel Silang
Data hasil penelitian yang berupa perhitungan frekuensi pemunculan
data juga dapat disajikan ke dalam bentuk tabel silang. Tabel silang dapat
hanya terdiri dari satu variable tetapi dapat juga terdiri dari dua variable.
Tergantung pertanyaan atau keadaan yang ingin dideskripsikan. Dengan
demikian, pemilihan penyajian data ke dalam tabel silang satu atau dua
variable akan tergantung dari data yang diperoleh.( (Burhan Nurgiyantoro,
2004:42)
Tabel silang satu variable digunakan untuk menggambarkan data dengan
menampillkan satu karakteristiknya saja. Misal jumlah keseluruhan.
Sementara tabel silang dua variable digunakan untuk menggambarkan data
dengan menampilkan dua karakteristiknya. Misalnya jumlah keseluruhan
dan jumlah per gender.
Contoh:

Dalam suatu penelitian angket pada 34 siswa kelas XI.A tentang mata
pelajaran MIPA yang disukai, diperoleh hasil data sebagai berikut:

No. Mata Pelajaran Jumlah


1 Matematika 11
2 Kimia 10
3 Fisika 7
4 Biologi 6
Tabel 2.1 Penyajian Data dalam bentuk tabel silang satu variable

14
No. Mata Pelajaran Siswa Yang Menyukai Jumlah
Siswa Laki – Siswa
Laki Perempuan
1 Matematika 8 3 11
2 Kimia 4 6 10
3 Fisika 5 2 7
4 Biologi 2 4 6
Tabel 2.2 Penyajian Data dalam bentuk tabel silang dua variable

2. Macam – macam Penyajian Data dalam Bentuk Grafik

Selain dapat disajikan ke dalam bentuk tabel sebagaimana dikemukakan di atas,


data-data angka juga dapat disajikan ke dalam bentuk grafik, atau lengkapnya grafik
frekuensi. Pembuatan grafikfrekuensi pada hakikatnya merupakan kelanjutan dari
pembuatan tabel distribusi frekuensi karena pembuatan grafik itu haruslah didasarkan
pada tabel distribusi frekuensi. Dengan kata lain, pembuatan tabel distribusi
frekuensi harus tetap dilakukan baik kita bermaksud maupun tidak bermaksud
membuat grafik frekuensi. Penyajian data angka ke dalam grafik biasanya dipandang
lebih menarik karena data-data itu tersaji dalam bentuk visual. Gambar grafik
frekuensi yang banyak dipergunakan dalam metode statistik adalah histogram,
polygon, kurve dan garis. (Burhan Nurgiyantoro, 2004:43-44)

a. Grafik Histogram / Batang


Histogram merupakan grafik dari distribusi frekuensi suatu
variable. Tampilan histogram berupa petak-petak empat persegi panjang.
Sebagai sumbu horizontal boleh memakai tepi-tepi kelas, batas-batas kelas
atau nilai variabel yang diobservasi, sedang sumbu vertical menunjukkan
frekuensi. Untuk distribusi bergolong atau berkelompok yang menjadi absis
adalah nilai tengah dari masing-masing kelas. (Drs. Ating Somantri,
2006:113)

15
FREKUENSI
10
9
8
7
6
5
FREKUENSI
4
3
2
1
0
51 – 57 58 – 64 65 – 71 72 – 78 79 – 85 86 – 92 93 – 99

b. Grafik Poligon
Poligon merupakan grafik distribusi dari distribusi frekuensi bergolong suatu
variable. Tampilan polygon berupa garis-garis patah yang diperoleh dengan
cara menghubungkan puncak dari masing-masing nilai tengah kelas. Jadi
absisnya adalah nilai tengah dari masing-masing kelas. (Drs. Ating
Somantri, 2006:114)
c. Grafik Kurve
Kurve merupakan perataan atau penghalusan dari garis-garis polygon.
Gambar polygon sering tidak rata karena adanya perbedaan frekuensi data
skor dan data skor itu sendiri mencerminkan fluktuasi sampel. Pembuatan
kurve dilakukan dengan meratakan garis gambar polygon yang tidak rata dan
terlihat tidak beraturan sehingga menjadi rata. (Burhan Nurgiyantoro,
2004:49)

16
& FREKUENSI
25

20

15

& FREKUENSI
10

0
0 2 4 6 8

d. Grafik Garis
Grafik garis dibuat biasanya untuk menunjukkan perkembangan suatu
keadaan. Perkembangan tersebut bias naik bias turun. Hal ini akan Nampak
secara visual melalui garis dalam grafik. Dalam grafik terdapat garis vertical
yang menunjukkan jumlah dan yang mendatar menunjukkan variable
tertentu yang ditunjukkan pada gambar dibawah, yang perlu diperhatikan
dalam membuat grafik adalah ketepatan membuat skala pada garis vertical
yang akan mencerminkan keadaan jumlah hasil observasi. (Dr. Sugiyono,
2002:34)
Contoh : Perkembangan nilai ujian matematika Adit semester 1 tahun ajaran
2012/2013 sebagai berikut:
Ujian Semester ke Nilai
1 80
2 95
3 60
4 100
5 85

17
NILAI
120

100

80

60
NILAI
40

20

0
1 2 3 4 5
Ujian Semester ke

E. Diagram Lingkaran

Cara lain untuk menyajikan data hasil penelitian adalah dengan diagram
lingkaran. Diagram lingkaran digunakan untuk membandingkan data dari berbagai
kelompok. (Dr. Sugiyono, 2002:37)
Contoh : Dari hasil penelitian mengenai pelajaran matematika dengan sampel 50 siswa
di smp negeri 24 prabumulih diperoleh data sebagai berikut:
No Penilaian Jumlah
1 Sangat Suka 12
2 Suka 13
3 Tidak Suka 19
4 Sangat Tidak Suka 6

Penyajian data tersebut dalam diagram lingkaran adalah sebgai berikut:


1. Cari persentase masing-masing data tersebut.
12
 Sangat Suka = 50 𝑥100% = 24%
13
 Suka = 50 𝑥100% = 26%
19
 Tidak Suka = 50 𝑥100% = 38%
6
 Sangat Tidak Suka = 50 𝑥100% = 12%

18
2. Cari Luas sudut yang dibutuhkan untuk setiap data.
24
 Sangat Suka = 100 𝑥360𝑜 = 86,4𝑜
26
 Suka = 100 𝑥360𝑜 = 93,6𝑜
38
 Tidak Suka = 100 𝑥360𝑜 = 136,8𝑜
12
 Sangat Tidak Suka = 100 𝑥360𝑜 = 43,2𝑜

3. Selanjutnya luas-luas kelompok data tersebut digambarkan ke dalam bentuk


lingkaran.

Perbandingan pendapat siswa


mengenai matematika

12%
24% Sangat Suka
Suka
Tidak Suka
38%
26% Sangat Tidak Suka

19
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Data merupakan fakta-fakta yang akan digunakan sebagai bahan penarikan
kesimpulan. Data merupakan Kumpulan fakta yang diperoleh dari suatu pengukuran
(angka).
Data primer disebut juga sebagai data asli atau data baru yang memiliki sifat up
to date. Untuk mendapatkan data primer, peneliti harus mengumpulkannya secara
langsung. Data Sekunder adalah data yang diperoleh atau dikumpulkan peneliti dari
berbagai sumber yang telah ada (peneliti sebagai tangan kedua). Data sekunder dapat
diperoleh dari berbagai sumber seperti Biro Pusat Statistik (BPS), buku, laporan, jurnal,
dan lain-lain.
Data kualitatif adalah data yang berbentuk kata-kata, bukan dalam bentuk angka.
Data kualitatif diperoleh melalui berbagai macam teknik pengumpulan data misalnya
wawancara, analisis dokumen, diskusi terfokus, atau observasi yang telah dituangkan
dalam catatan lapangan (transkrip). Data kuantitatif adalah data yang berbentuk angka
atau bilangan. Sesuai dengan bentuknya, data kuantitatif dapat diolah atau dianalisis
menggunakan teknik perhitungan matematika atau statistika. Contoh data kuantitatif
antara lain: tinggi badan, berat badan, kecepatan lari, sepakbola dan sebagainya.
Data kuantitatif dapat dikelompokan menjadi beberapa yaitu: data nominal, data
diskrit, data kontinum. kemudian data kontinum dibedakan lagi menjadi beberapa
sebagai berikut : data ordinal, data interval, dan data rasio.
Data statistika tidak hanya cukup dikumpulkan dan diolah, tetapi juga perlu
disajikan dalam bentuk yang mudah dibaca dan di mengerti oleh pengambil keputusan.
Penyajian data ini bisa dalam bentuk tabel atau grafik/diagram. Ada beberapa jenis
tabel, yaitu antara lain : tabel biasa, tabel distribusi frekuensi, tabel distribusi frekuensi
relatif, , tabel distribusi frekuensi kumulatif, tabel distribusi frekuensi relatif-kumulatif.
Sedangkan grafik terdiri atas : grafik garis (line chart), grafik batangan (bar chart/
histogram), grafik lingkaran (pie chart), grafik gambar, dan grafik berupa
peta(cartogram).
1. Penyajian data dengan grafik dikatakan lebih komunikatif karena dalam waktu
singkat seseorang akan dapat dengan mudah memperoleh gambaran dan
kesimpulan mengenai suatu keadaan.

20
2. Dengan membaca data pada tabel dan grafik, para eksekutif akan dengan cepat dan
mudah mengetahui situasi dan kondisi perusahaannya sehingga dapat diambil
tindakan-tindakan atau keijakan-kebijakan yang tepat.
B. Saran
Semoga dengan adanya makalah ini diharapkan mahasiswa lebih mengetahui jenis
data dalam penelitian. Adapun saran yang penulis sampaikan adalah agar pembaca
dapat menggunakan pemecahan masalah secara statistik, lebih tepat jika mengikuti
tahapan yang ilmiah. Data yang baik tentu saja harus yang mutakhir, cocok (relevan),
dengan masalah penelitian dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, lengkap
akurat, objektif dan konsisten. Pengumpulan data sedapat mungkin di peroleh dari
tangan pertama. Data yang baik sangat di perlukan dalam penelitian, sebab
bagaimanapun canggihnya suatu analisis data jika tidak di tunjang oleh data yang baik,
maka hasilnya kurang dapat di pertanggungjawabkan.

21
DAFTAR PUSTAKA
Herrhyanto Nar dan H.M. Akib Hamid. 2007. Statistika Dasar. Jakarta:
Universitas Terbuka.

Hasan, Iqbal. 2010. Analisis Data Penelitian Dengan Statistika. Jakarta: PT Bumi
Aksara

Johanes, Kastolan dan Sulasim. 2007. Kompetensi Matematika Program IPA


SMA Kelas XI Semester Pertama. Jakarta: Yudistira.

Nurgiyantoro Burhan, dkk.. 2004. Statistik Terapan untuk Penelitian Ilmu-ilmu


Sosial. Yogyakarta: Gajahmada University Press.

Sugiyono. 2006. Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV Alfabeta.

Usman Husaini dan R. Purnomo Setiady Akbar. 2000. Pengantar Statistika.


Jakarta: PT Bumi Aksara.

Supranto, Johanes. 2008. Statistika : Teori Dan Aplikasi, jilid 1, Edisi Ketujuh. Jakarta:
PT Erlangga
Sudijono, Anas. 2010. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers

Usman, Husaini dan R. Purnomo Setiady Akbar. 2011. Pengantar Statistika. Jakarta :
Bumi Aksara

http://perpustakaancyber.blogspot.com/2013/04/penyajian-data-statistik-dalam-bentuk-
dalam-bentuk-tabel-diagram-batang-garis-lingkaran-tabel-distribusi-frekuensi-
relatif-kumulatif-histogram-poligon-frekuensi-ogive-contoh-soal.html

http://rianhafitsjp.blogspot.com/2011/07/kelebihan-kekurangan-diagram.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Histogram

http://recha-seprina.blogspot.com/2011/06/penyajian-data-statistik.html

22