Anda di halaman 1dari 12

LEARNING OBJECTION

YESITA NURDIASTI (04174544)


1. Pengertian:
a. Autis
Menurut Yuwono (2009:26) autis merupakan gangguan perkembangan
neurobiologis yang sangat kompleks/berat dalam kehidupan yang panjang, yang
meliputi gangguan pada aspek interaksi sosial, komunikasi dan bahasa dan perilaku
serta gangguan emosi dan persepsi sensori bahkan pada aspek motoriknya. Gejala
autistik muncul pada usia sebelum 3 tahun.
Autisme bukan suatu penyakit tetapi berupa sindroma (kumpulan gejala)
terjadi penyimpangan perkembangan sosial, gangguan kemampuan berbahasa dan
kepedulian terhadap sekelilingnya sehingga anak seperti hidup dalam dunianya
sendiri. Dengan kata lain pada anak autisme terjadi kelainan emosi, perilaku,
intelektual, dan kemauan (Yatim, 2007).
b. GPPH
Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) atau Gangguan Pemusatan
Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) adalah suatu kondisi medis yang ditandai oleh
ketidakmampuan memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas, yang
terjadi pada lebih dari satu situasi, dengan frekuensi lebih sering dan intensitas lebih
berat dibandingkan dengan anak-anak seusianya (Kementerian Kesehatan RI, 2011).
c. Retardasi Mental
retardasi mental adalah suatu kedaan gangguan fungsi intelektual yang dapat
diukur dengan menggunakan kriteria IQ sehingga mempengaruhi kemampuannya
dalam bersosialisasi (Lumbantobing,2006).
2. Penyebab
a. Autis
Menurut Veskariyanti (2008), autisme disebabkan karena kondisi otak yang
secara struktural tidak lengkap, atau sebagian sel otaknya tidak berkembang
sempurna, ataupun sel-sel otak mengalami kerusakan pada masa
perkembangannya. Penyebab sampai terjadinya kelainan atau kerusakan pada
otak belum dapat dipastikan, namun ada beberapa faktor yang diduga sebagai
penyebab kelainan tersebut, antara lain faktor keturunan (genetika), infeksi
virus dan jamur, kekurangan nutrisi dan oksigenasi, obat-obatan serta akibat
polusi udara, air, dan makanan;banyak mengandung Monosodium
Glutamate (MSG), pengawet atau pewarna.
Salah satu penyebab autis adanya kelainan pada otak, berhubungan dengan jumlah
sel syaraf, baik selama kehamilan maupun setelah persalinan, disebabkan adanya
infeksi Rubella, Herpez Simplex Enchepalitis, Cytomegalovirus Infection
(Geretsegger, 2015
b. GPPH
c. Ratardasi Mental
faktor genetik / heredokonstitusional dan faktor lingkungan. Adapun yang di
maksud dengan faktor lingkungan disini adalah suasana yang tersedia selama proses
tumbuh kembang anak tersebut. Faktor – faktor tersebut akan saling berkaitan untuk
memenuhi kebutuhan dasar anak seperti kebutuhan asuh (fisis - biomedis) yang
berupa sandang, pangan, papan, perawatan kesehatan dasar, kesegaran jasmani ;
kebutuhan asih atau kasih sayang dari kedua orang tuanya; serta kebutuhan asah atau
stimulasi mental yang merupakan cikal bakal proses pembelajaran mental dan
motorik. Adanya gangguan interaksi antar individu dan lingkungan yang
menyebabkan tidak terpenuhinya kebutuhan dasar akan mengakibatkan kelainan
tumbuh kembang, yang akan berdampak pada morbiditas dan mortalitas anak,
termasuk didalamnya adalah retardasi mental (Sularyo,2000).
3. Tanda dan gejala
a. Autisme
Menurut (Veskarisyanti, 2008 : 18) Ada beberapa gangguan pada anak

penyandang autisme:

1. Komunikasi

Munculnya kualitas komunikasi yang tidak normal, ditunjukkan dengan


(1) Kemampuan wicara tidak berkembang atau mengalami keterlambatan (2)

Pada anak tidak tampak usaha untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar

(3 )Tidak mampu untuk memulai suatu pembicaraan yang

melibatkan komunikasi dua arah dengan baik (4) Bahasa yang tidak lazim yang

selalu diulang-ulang atau stereotipik.

2. Interaksi Sosial

Timbulnya gangguan kualitas interaksi sosial yaitu (1) anak mengalami

kegagalan untuk bertatap mata, menunjukkan wajah yang tidak berekspresi (2)

ketidakmampuan untuk secara spontan mencari teman untuk berbagi

kesenangan dan melakukan sesuatu bersama-sama (3) ketidakmampuan anak

untuk berempati, dan mencoba mambaca emosi yang dimunculkan oleh orang

lain.

3. Perilaku

Aktivitas, perilaku dan ketertarikan anak terlihat sangat terbatas.

Banyak pengulangan terus-menerus dan stereotipik seperti: adanya suatu

kelekatan pada rutinitas atau ritual yang tidak berguna, misalnya kalau mau

tidur harus cuci kaki dulu, sikat gigi, pakai piyama, menggosokkan kaki di

keset, baru naik ke tempat tidur. Bila ada satu dari aktivitas di atas yang

terlewat atau terbalik urutannya, maka ia akan sangat terganggu dan menangis

bahkan berteriak-teriak minta diulang.

4. Gangguan sensoris

Sangat sensitive terhadap sentuhan (seperti tidak suka dipeluk), bila

mendengar suara keras langsung menutup telinga, senang mencium-cium,

menjilat mainan atau benda-benda dan tidak sensitive terhadap rasa sakit dan

rasa takut.
b. GPPH
Sikap kurang memperhatikan sekeliling atau mudah terganggu, sikap menurut
kata hati. Dan hiperaktifitas. ( flanagen 2005)
c. Retardasi Mental

4. Dampak
a. Autisme
Dampak keberadaan anak autis membawa perubahan besar dalam kehidupan
keluarga. Bagaimana orangtua harus mampu menyesuaikan dengan kondisi yang
dialami, bagaimana pengasuhan pada anak autis dan saudara sekandungnya. Dengan
keberadaan anak autis, waktu dan perhatian orangtua lebih terfokus pada anak
autisnya, sehingga muncul kecemburuan pada saudara sekandung dari anak autis.
Saudara sekandung tentunya merasakan dampak dengan mempunyai saudara autis.
Selain kehilangan perhatian dari orangtua, juga kesulitan berkomunikasi dan
berinteraksi dengan saudara autisnya. Apabila orangtua mampu membagi waktu
untuk anak autis dan saudara autisnya dengan melibatkan saudara sekandung anak
autis dan berusaha memberikan pengertian, maka saudara autisnya lebih dapat
menerima (Ambarini, 2006).
Mereka akan semakin terisolir dari dunia luar dan hidup dalam dunianya sendiri
dengan berbagai gangguan mental serta perilaku yang semakin mengganggu. Tentu
semakin banyak pula dampak negatif yang akan terjadi (Veskariyanti, 2008).
5. Pencegahan
a. Autis
6. Penanganan
7. ASKEP
 AUTIS
a. Pengkajian autis
Asuhan Keperawatan Pada Anak Autisme.
1) Riwayat gangguan psikiatri/jiwa pada keluarga.
2) Riwayat keluarga yang terkena autisme.
3) Riwayat kesehatan ketika anak dalam kandungan.
4) Sering terpapar zat toksik, seperti timbal
5) Cedera otak
b. Intervensi
a) Kelemahan interaksi sosial berhubungan denganketidakmampuan untuk
percaya pada orang lain.Tujuan : Klien mau memulai interaksi dengan
pengasuhnyaIntervensi:
1) Batasi jumlah pengasuh pada anak.
2) Tunjukan rasa kehangatan/keramahan dan penerimaan padaanak
3) Tingkatkan pemeliharaan dan hubungan kepercayaan
4) Motivasi anak untuk berhubungan dengan orang lain.
5) Pertahankan kontak mata anak selama berhubungan denganorang lain.
6) Berikan sentuhan, senyuman, dan pelukan untukmenguatkan sosialisasi.
b) Hambatan komunikasi verbal dan non verbal berhubungandengan ransangan
sensori tidak adekuat, gangguan keterampilanreseptif dan ketidakmampuan
mengungkapkan perasaan.Tujuan : Klien dapat berkomunikasi dan
mengungkapkan perasaan kepada orang lain.Intervensi :
1) Pelihara hubungan saling percaya untuk memahamikomunikasi anak.
2) Gunakan kalimat sederhana dan lambang/maping sebagaimedia.
3) Anjurkan kepada orang tua/pengasuh untuk melakukan tugassecara
konsisten.
4) Pantau pemenuhan kebutuhan komunikasi anaksampai anakmenguasai.
5) Kurangi kecemasan anak saat belajar komunikasi.
6) Validasi tingkat pemahaman anak tentang pelajaran yangtelah diberikan.
7) Pertahankan kontak mata dalam menyampaikan ungkapannon verbal.
8) Berikan reward pada keberhasilan anak.
9) Bicara secara jelas dan dengan kalimat sederhana.
10) Hindari kebisingan saat berkomunikasi
c) Risiko tinggi cidera : menyakiti diri berhubungan dengankurang
pengawasan.Tujuan : Klien tidak menyakiti diriya.Intervensi :
1) Bina hubungan saling percaya.
2) Alihkan prilaku menyakiti diri yang terjadi akibat respondari peningkatan
kecemasan.
3) Alihkan/kurangi penyebab yang menimbulkan kecemasan.
4) Alihkan perhatian dengan hiburan/aktivitas lain untukmenurunkan tingkat
kecemasan.
5) Lindungi anak ketika prilaku menyakiti diri terjadi.
6) Siapkan alat pelindung/proteksi.
7) Pertahankan lingkungan yang aman.d.
d) Kecemasan pada orang tua behubungan dengan perkembanganak.Tujuan :
Kecemasan berkurang/tidak berlanjut.Intervensi :
1) Tanamkan pada orang tua bahwa autis bukan aib/penyakit.
2) Anjurkan orang tua untuk membawa anak ke tempat terapiyang
berkwalitas baik serta melakukan secara konsisten.
3) Berikan motivasi kepada orang tua agar dapat menerimakondisi anaknya
yang spesial.
4) Anjurkan orang tua untuk mengikuti perkumpulan orang tuadengan anak
autis, seperti kegiatan Autis AwarenessFestifal.
5) Berikan informasi mengenai penanganan anak autis.
6) Beritahukan kepada orang tua tentang pentingnyamenjalankan terapi
secara konsisten dan kontinue
 GPPH
a. Pengkajian
Menurut Videbeck (2008) pengkajian anak yang
mengalami AttentionDeficytHiperactivityDisorder (ADHD) antara
lain:
 Pengkajian riwayat penyakit
1) Orang tua mungkin melaporkan bahwa anaknya rewel dan
mengalami masalah saat bayi atau perilaku hiperaktif hilang
tanpa disadari sampai anak berusia todler atau masuk sekolah
atau daycare.
2) Anak mungkin mengalami kesulitan dalam semua bidang
kehidupan yang utama, seperti sekolah atau bermain dan
menunjukkan perilaku overaktif atau bahkan perilaku yang
membahayakan di rumah.
3) Berada diluar kendali dan mereka merasa tidak mungkin
mampu menghadapi perilaku anak.
4) Orang tua mungkin melaporkan berbagai usaha mereka untuk
mendisplinkan anak atau mengubah perilaku anak dansemua
itu sebagian besar tidak berhasil.
 Penampilan umum dan perilaku motorik
1) Anak tidak dapat duduk tenang di kursi dan mengeliat dan
bergoyang-goyang saat mencoba melakukannya.
2) Anak mungkin lari mengelilingi ruang dari satu benda ke
benda lain dengan sedikit tujuan atau tanpa tujuan yang
jelas.
3) Kemampuan anak untuk berbicara terganggu, tetapi ia
tidak dapat melakukan suatu percakapan, ia menyela,
menjawab pertanyaan sebelum pertanyaan berakhir dan
gagal memberikan perhatian pada apa yang telah
dikatakan.
4) Percakapan anak melompat-lompat secara tiba-tiba dari
satu topik ke topik yang lain. Anak dapat tampak imatur
atau terlambat tingkat perkembangannya
 Mood dan afek
1) Mood anak mungkin labil, bahkan sampai marah-marah
atau tempertantrum.
2) Ansietas, frustasi dan agitasi adalah hal biasa.
3) Anak tampak terdorng untuk terus bergerak atau berbicara
dan tampak memiliki sedikit kontrol terhadap perilaku
tersebut.
4) Usaha untuk memfokuskan perhatian anak dapat
menimbulkan perlawanan dan kemarahan.
 Proses dan isi pikir
1) Secara umum tidak ada gangguan pada area ini meskipun sulit
untuk mempelajari anak berdasarkan tingkat aktivitas anak dan
usia atau tingkat perkembangan.
 Sensorium dan proses intelektual
1) Anak waspada dan terorientasi, dan tidak ada perubahan
sensori atau persepsi seperti halusinasi.
2) Kemampuan anak untuk memberikan perhatian atau
berkonsentrasi tergangguan secara nyata.
3) Rentang perhatian anak adalah 2 atau 3 detik pada ADHD yang
berat 2 atau 3 menit pada bentuk gangguan yang lebih ringan.
4) Mungkin sulit untik mengkaji memori anak, ia sering kali
menjawab, saya tidak tahu, karena ia tidak dapat memberi
perhatian pada pertanyaan atau tidak dapat berhenti
memikirkan sesuati.
5) Anak yang mengalami ADHD sangat mudah terdistraksi dan
jarang yang mampu menyelesaikan tugas.
 Penilaian dan daya tilik diri
1) Anak yang mengalami ADHD biasanya menunjukkan penilaian
yang buruk dan sering kali tidak berpikir sebelum bertindak
2) Mereka mungkin gagal merasakan bahaya dan melakukan
tindakan impulsif, seperti berlari ke jalan atau melompat dari
tempat yang tinggi.
3) Meskipun sulit untuk mempelajari penilaian dan daya tilik pada
anak kecil.
4) Anak yang mengalami ADHD menunjukkan kurang mampu
menilai jika dibandingkan dengan anak seusianya.
5) Sebagian besar anak kecil yang mengalami ADHD tidak
menyadari sama sekali bahwa perilaku mereka berbeda dari
perilaku orang lain.
6) Anak yang lebih besar mungkin mengatakan, “tidak ada yang
menyukaiku di sekolah”, tetapi mereka tidak dapat
menghubungkan kurang teman dengan perilaku mereka sendiri.
 Konsep diri
1) Hal ini mungkin sulit dikaji pada anak yang masih kecil,
tetapisecara umum harga diri anak yang mengalami ADHD
adalah rendah.
2) Karena mereka tidak berhasil di sekolah, tidak dapat memiliki
banyak teman, dan mengalami masalah dalam mengerjakan
tugas di rumah, mereka biasanya merasa terkucil sana merasa
diri mereka buruk.
3) Reaksi negatif orang lain yangmuncul karena perilaku mereka
sendiri sebagai orang yang buruk dan bodoh
 Peran dan hubungan
1) Anak biasanya tidak berhasil disekolah, baik secara akademis
maupun sosial.
2) Anak sering kali mengganggu dan mengacau di rumah, yang
menyebabkan perselisihan dengan saudara kandung dan orang
tua.
3) Orang tua sering meyakini bahwa anaknya sengaja dan keras
kepala dan berperilaku buruk dengan maksud tertentu sampai
anak yang didiagnosis dan diterapi.
4) ecara umum tindakan untuk mendisiplinkan anak memiliki
keberhasilan yang terbatas pada beberapa kasus, anak menjadi
tidak terkontrol secara fisik, bahkan memukul orang tua atau
merusak barang-barang miliki keluarga.
5) Orang tua merasa letih yang kronis baik secara mental maupun
secara fisik.
6) Guru serungkali merasa frustasi yang sama seperti orang tua
dan pengasuh atau babysister mungkin menolak untuk
mengasuh anak yang mengalami ADHD yang meningkatkan
penolakan anak.
 Pertimbangan fisiologis dan perawatan dirI
1) Anak yang mengalami ADHD mungkin kurus jika mereka
tidak meluangkan waktu untuk makan secara tepat atau mereka
tidak dapat duduk selama makan. Masalah penenangan untuk
tidur dan kesulitan tidur juga merupakan masalah yang
terjadi. Jika anak melakukan perilaku ceroboh atau berisiko,
mungkin juga ada riwayat cedera fisik.
 Pemeriksaan fisik
Pemeriksaan fisik yang biasanya ditemukan pada anak dengan gangguan
hiperaktif mencakup :
1. Rambut yang halus
2. Telinga yang salah bentuk
3. Lipatan-lipatan epikantus
4. Langit-langit yang melengkung tinggi serta
5. Kerutan-kerutan telapak tangan yang hanya tunggal saja
6. Terdapat gangguan keseimbangan, astereognosis, disdiadokhokinesis serta
permasalahan-permasalahan di dalam koordinasi motorik yang halus.
 Pemeriksaan penunjang
Tidak ada pemeriksaan laboratorium yang akan dapat menegakan diagnosis
gangguan hiperaktif. Anak yang mengalami hiperaktivitas dilaporkan
memperlihatkan jumlah gelombang lambat yang bertambah banyak pada
elektroensefalogram (EEG). Suatu EEG yang dianalisis oleh komputer akan
dapat membantu di dalam melakukan penilaian tentang ketidakmampuan
belajar pada anak.
b. INTERVENSI
Kerusakan interaksi sosial berhubungan dengan disabilitas perkembangan
(hiperaktivitas).
NOC : Ketrampilan interaksi social
Tujuan : Pasien mampu menunjukan interaksi social yang baik.
Kriteria Hasil :
1) Menunjukan perilaku yang dapat meningkatkan atau memperbaiki
interaksi social
2) Mendapatakan atau meningkatkan ketrampilan interaksi social
(misalnya: kedekatan, kerja sama, sensitivitas dan sebagainya).
3) Mengungkapkan keinginan untuk berhubungan dengan orang lain.
NIC : Peningkatan sosialisasi, aktivitas keperawatan :

Kaji pola interaksi antara pasien dan orang lain


Anjurkan pasien untuk bersikap jujur dalam berinteraksi dengan orang lain
dan menghargai hak orang lain.

Identifikasi perubahan perilaku yang spesifik.

Bantu pasien meningkatkan kesadaran akan kekuatan dan keterbatasan


dalam berkomunikasi dengan orang lain.

Berikan umpan balik yang positif jika pasien dapat berinteraksi dengan
orang lain.

Perubahan proses pikir berhubungan dengan gangguan kepribadian.

NOC : Konsentrasi

NIC : Pengelolaan Konsentrasi, aktivitas keperawatan :

Berikan pada anak yang membutuhkan ketrampilan dan perhatian


Kurangi stimulus yang berlebihan terhadap orang-orang dan lingkungan
dan orang/bebda-benda disekitarnya.
Berikan umpan balik yang positif dan perilaku yang sesuai.
Bantu anak untuk mengidentifikasikan benda-benda disekitarnya seperti,
memberikan permainan-permainan yang dapat merangsang pusat
konsentrasi.
Kolaborasi medis dalam pemberian terapi obat stimulan untuk anak
dengan gangguan pusat konsentrasi.
Resiko perubahan peran menjadi orang tua berhubungan dengan anak
dengan gangguan pemusatan perhatian hiperaktivitas.
NOC : Menjadi orang tua
NIC : Peningkatan Perkembangan, aktivitas keperawatan :
Berikan informasi kepada orang tua tentang bagaimana cara mengatasi
perilaku anak yang hiperaktif.
Ajarkan pada orang tua tentang tahapan penting perkembangan normal dan
perilaku anak.
Bantu orang tua dalam mengimplementasikan program perilaku anak yang
positif.
Bantu keluarga dalam membuat perubahan dalam lingkungan rumah yang
dapat menurunkan perilaku negative anak.
Resiko cedera berhubungan dengan psikologis (orientasi tidak efektif)
NOC : Pengendalian Resiko
NIC : Mencegah Jatuh, aktivitas keperawatan :
Identifikasikan factor yang mempengaruhi kebutuhan keamanan,
misalnya: perubahan status mental, keletihan setelah beraktivitas, dll.
Berikan materi pendidikan yang berhubungan dengan strategi dan tindakan
untuk mencegah cedera.
Berikan informasi mengenai bahaya lingkungan dan karakteristiknya
(misalnya : naik tangga, kolam renang jalan raya, dll )
Hindarkan benda-benda disekitar pasien yang dapat membahayakan dan
menyebabkan cidera.
Ajarkan kepada pasien untuk berhati-hati dengan alat permainannya dan
intruksikan kepada keluarga untuk memilih permainan yang sesuai dan
tidak menimbulkan cedera.
Resiko keterlambatan perkembangan berhubungan dengan. penyakit
mental (hiperaktivitas), kurang konsentrasi.