Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN USAHA KESEHATAN GIGI SEKOLAH KELAS I

SDN SAMIRONO CATURTUNGGAL KECAMATAN DEPOK


KABUPATEN SLEMAN D.I. YOGYAKARTA

Oleh:
PLATI LARAS MAKARTI
12/328868/KG/09159
KELOMPOK 8

PROGRAM STUDI HIGIENE GIGI


FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2017

i
HALAMAN PENGESAHAN

LAPORAN PRAKTIKUM

USAHA KESEHATAN GIGI SEKOLAH (UKGS) KELAS I SDN


SAMIRONO CATURTUNGGAL KECAMATAN DEPOK
KABUPATEN SLEMAN D.I. YOGYAKARTA

Tanggal Pelaksanaan: 1 Juni 2016

Disusun Oleh :

Plati Laras Makarti

12/328868/KG/09159

Telah disetujui oleh dosen pembimbing

Yogyakarta, 12 Juni 2017

drg. Yuni Pamardiningsih, M. Kes

i
DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN..................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN........................................................................................1
A. Latar Belakang..............................................................................................1
B. Pengertian UKGS..........................................................................................3
C. Kegiatan UKGS............................................................................................3
D. Tahap-Tahap UKGS......................................................................................4
E. Tujuan UKGS...............................................................................................7
F. Sasaran UKGS..............................................................................................8
BAB II PELAKSANAAN UKGS TAHAP II..........................................................9
1. Pemeriksaan Gigi dan Mulut.........................................................................9
2. Penyuluhan .................................................................................................10
3. Sikat Gigi Massal......................................................................................111
BAB III HASIL PENGOLAHAN UKGS TAHAP II..........................................122
BAB IV DIAGNOSA DAN RENCANA PERAWATAN GIGI.............................17
BAB V PEMBAHASAN.......................................................................................19
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN.............................................................244
A. Kesimpulan...............................................................................................244
B. Saran..........................................................................................................255
DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................266

ii
DAFTAR TABEL

Tabel 1. Distribusi Sampel Berdasarkan Status Kebersihan Mulut Siswa SDN


Samirono Kelas 1 Bulan Juni Tahun 2016...........................................................122
Tabel 2. Distribusi Siswa Kelas 1 Berdasarkan Status Karies Gigi di SDN
Samirono pada Bulan Juni Tahun 2016...............................................................133
Tabel 3. Distribusi Siswa Kelas 1 Berdasarkan Kesehatan Gingiva di SDN
Samirono pada Bulan Juni Tahun 2016...............................................................153
Tabel 4. Distribusi Siswa Kelas 1 Berdasarkan Frekuensi Menyikat Gigi Sehari di
SDN Samirono pada Bulan Juni Tahun 2016......................................................154
Tabel 5. Distribusi Siswa Kelas 1 Berdasarkan Waktu Menyikat Gigi Sehari di
SDN Samirono pada Bulan Juni Tahun 2016......................................................154
Tabel 6. Distribusi Siswa Kelas 1 Berdasarkan Kebutuhan Perawatan Gigi di SDN
Samirono pada Bulan Juni Tahun 2016...............................................................155
Tabel 7. Distribusi Sampel Berdasarkan Rujukan Tindakan Perawatan Gigi Siswa
SDN Samirono Kelas 1 Bulan Juni Tahun 2016..................................................155
Tabel 8. Distribusi Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan Orang Tua dari Siswa
SDN Samirono Kelas 1 Bulan Juni Tahun 2016..................................................156
Tabel 9. Distribusi Sampel Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua dari Siswa SDN
Samirono Kelas 1 Bulan Juni Tahun 2016.............................................................16

iii
Tabel 10. Diagnosa dan Rencana Perawatan Siswa Kelas 1 di SDN Samirono
Bulan Juni Tahun 2016...........................................................................................17
BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Program Pembangunan Kesehatan Indonesia bertujuan untuk

meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang

agar terwujud derajat kesehatan yang optimal ditandai oleh penduduknya yang

hidup dengan berperilaku dan dalam lingkungan yang sehat, memiliki

kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu adil dan

merata (Depkes, 2009). Pembangunan di bidang kesehatan gigi merupakan bagian

integral dari pembangunan kesehatan secara umum (Suwelo, 1992 Sit. Alhamda,

S., 2011). Penyakit gigi dan mulut merupakan penyakit yang tersebar luas di

masyarakat Indonesia. Faktor penyebab dari penyakit gigi dan mulut dipengaruhi

oleh faktor lingkungan, perilaku dan pelayanan kesehatan gigi dan mulut (Depkes,

2006, Sit. Alhamda, S., 2011).

Kondisi kesehatan gigi dan mulut di Indonesia saat ini masih sangat

memprihatinkan, perlu perhatian serius dari tenaga kesehatan. Hasil studi

morbiditas Studi Kesehatan Rumah Tangga - Survei Kesehatan Nasional 2001,

dari prevalensi sepuluh kelompok penyakit yang dikeluhkan masyarakat, penyakit

gigi dan mulut di urutan pertama dengan prevalensi 61%, diderita oleh 90%

penduduk Indonesia dan 89% anak di bawah umur 12 tahun (Hidayat, dkk., 2011,

Hamrun N., dkk., 2009, Cit Setiawan, dkk., 2014). Sebesar 62,4% penduduk

1
terganggu sekolah nya karena sakit gigi selama rata-rata 3,86 hari per tahun

(Sriyono, 2009 Cit. Setiawan, dkk., 2014).

Upaya pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut serta pembinaan kesehatan

gigi terutama pada anak usia sekolah perlu mendapat perhatian khusus karena

pada usia ini anak sedang menjalani proses tumbuh kembang, dan pada masa usia

sekolah ini anak masih sangat bergantung kepada orang dewasa dalam hal

menjaga kesehatan dan kebersihan gigi, keadaan gigi sebelumnya akan

berpengaruh terhadap perkembangan kesehatan gigi selanjutnya seperti gigi susu

yang terkena karies akan memengaruhi pada pertumbuhan gigi permanen nantinya

(Mawuntu, dkk., 2015).


Pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah selain menjadi

kegiatan pokok kesehatan gigi dan mulut Puskesmas juga dapat diselenggarakan

secara terpadu dengan kegiatan pokok Usaha Kesehatan Sekolah (UKS) dalam

bentuk program Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) (Kementerian kesehatan

RI, 2012).Usaha Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) adalah upaya kesehatan

masyarakat yang ditujukan untuk memelihara, meningkatkan kesehatan gigi dan

mulut seluruh peserta didik di sekolah binaan yang ditunjang dengan upaya

kesehatan perorangan berupa upaya promotif dan preventif bagi peserta didik.

Status kesehatan gigi masyarakat yang optimal dapat dicapai dengan

meningkatkan upaya promotif-preventif sejak usia dini, sampai usia lanjut

(Kementerian Kesehatan RI, 2012).


Perawat gigi menjalankan tugas pokoknya lebih berorientasi pada

pelayanan asuhan kesehatan gigi dan mulut dengan mengutamakan upaya

2
promotive, preventif dan kuratif hanya pada tindakan medik terbatas sederhana.

Perawat gigi merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan upaya

kesehatan gigi untuk dapat menyelenggarakan pelayanan yang profesional. Salah

satu kewenangan Perawat gigi adalah melaksanakan manajemen mikro dalam

merencanakan, mempersiapkan, mengevaluasi program pelayanan asuhan

kesehatan gigi yang ada disekolah. Suatu upaya pelayanan perlu didukung oleh

manajemen yang baik sehingga tahapan kegiatan semua program dapat berjalan

efektif dan efisien. (Femala, dkk., 2012).


Oleh sebab itu, perlu dilakukan Unit Kesehatan Gigi Sekolah pada anak

Sekolah Dasar untuk memberi pengetahuan dalam menjaga kesehatan gigi dan

mulut.

B. Pengertian UKGS

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2012), Usaha

Kesehatan Gigi Sekolah (UKGS) adalah upaya kesehatan masyarakat yang

bertujuan untuk memelihara, meningkatkan kesehatan gigi dan mulut seluruh

peserta didik di sekolah binaan yang ditunjang dengan upaya kesehatan

perseorangan berupa upaya kuratif bagi individu (peserta didik) yang memerlukan

perawatan kesehatan gigi dan mulut.

C. Kegiatan UKGS

Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2012), kegiatan atau

ruang lingkup program UKGS sesuai dengan Tiga Program Pokok UKS (TRIAS

UKS) yang terdiri dari:

1. Penyelenggaraan pendidikan kesehatan gigi dan mulut meliputi:


a. Pemberian pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut.

3
b. Latihan atau demonstrasi cara memelihara kebersihan dan kesehatan gigi

dan mulut.
c. Penanaman kebiasaan pola hidup sehat dan bersih agar dapat

diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.


2. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan gigi dan mulut meliputi:
a. Pemeriksaan dan penjaringan kesehatan gigi dan mulut peserta didik.
b. Penyuluhan kesehatan gigi dan mulut perorangan.
c. Pencegahan/perlindungan terhadap penyakit gigi dan mulut.
d. Perawatan kesehatan gigi dan mulut.
e. Rujukan kesehatan gigi dan mulut.
3. Pembinaan lingkungan kehidupan sekolah kerjasama antara masyarakat

sekolah (guru, murid, pegawai sekolah, orang tua murid dan masyarakat).

D. Tahap-Tahap UKGS

UKGS menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2012) dibagi

menjadi beberapa tahap, yaitu:

1. Paket minimal UKGS (UKGS tahap I)

Pelayanan kesehatan gigi dan mulut untuk murid SD dan MI yang belum

terjangkau oleh tenaga dan fasilitas kesehatan gigi. Tim pelaksana UKS di SD

dan MI melaksanakan kegiatan yaitu:

a. Pelatihan guru pembina UKS dan dokter kecil tentang pengetahuan

kesehatan gigi dan mulut secara terintegrasi. Pelatihan dilaksanakan oleh

dinas pendidikan dengan narasumber tenaga kesehatan gigi.

b. Pendidikan dan penyuluhan kesehatan gigi dilaksanakan oleh guru

penjaskes/ guru pembina UKS/ dokter kecil sesuai dengan kurikulum yang

berlaku (buku pendidikan olahraga dan kesehatan) untuk semua murid

kelas 1-6, dilaksanakan minimal satu kali tiap bulan.

4
c. Pencegahan penyakit gigi dan mulut dengan melaksanakan kegiatan sikat

gigi bersama setiap hati minimal untuk kelas I, II dan III dibimbing oleh

guru dengan memakai pasta gigi yang mengandung fluor.

2. Paket Standar UKGS (UKGS Tahap II)

Pelayanan kesehatan gigi dan mlut untuk murid SD dan MI yang sudah

terjangkau oleh tenaga dan fasilitas kesehatan gigi yang terbatas.

Kegiatan yang dilakukan yaitu:

a. Pelatihan kepada guru/ pembina UKS dan dokter kecil tentang pengetahuan

kesehatan gigi dan mulut secara terintegrasi. Pelatihan dilaksanakan oleh

dinas pendidikan dengan nara sumber tenaga kesehatan gigi.

b. Pendidikan dan penyuluhan kesehatan gigi dilaksanakan oleh guru

penjaskes/guru pembina UKS/ dokter kecil sesuai dengan kurikulum yang

berlaku (buku pendidikan olahraga dan kesehatan) untuk semua murid kelas

1-6, dilaksanakan minimal satu kali tiap bulan.

c. Pencegahan penyakit gigi dan mulut dengan melaksanakan kegiatan sikat

gigi bersama setiap hari minimal untuk kelas I, II dan III dibimbing oleh

guru dengan memakai pasta gigi yang mengadung fluor.

d. Pengobatan darurat untuk menghilangkan rasa sakit oleh guru.

e. Penjaringan kesehatan gigi dan mulut untuk kelas I pada awal tahun ajaran

diikuti dengan pencabutan gigi sulung yang sudah waktunya tanggal,

dengan petunjuk tertulis (informed consent) dari orang tua dan tindakan

oleh tenaga kesehatan gigi.

5
f. Surface protection pada gigi molar tetap yang sedang tumbuh (dilakukan di

sekolah atau dirujuk sesuai kemampuan), bila pada penjaringan murid kelas

1dijumpai murid dengan gigi tetap ada yang karies atau bila gigi sulung

dengan karies lebih dari 8 gigi dilakukan fissure sealant pada gigi molar

yang sedang tumbuh.

g. Rujukan bagi yang memerlukan.

3. Paket Optimal UKGS (UKGS Tahap III)

a. Pelatihan kepada guru Pembina UKS dan dokter kecil tentang pengetahuan

kesehatan gigi dan mulut secara terintegrasi. Pelatihan dilaksanakan oleh

dinas pendidikan dengan narasumber tenaga kesehatan gigi.

b. Pendidikan dan penyuluhan kesehatan gigi dilaksanakan oleh guru

penjaskes/ guru pembina UKS/ dokter kecil sesuai dengan kurikulum yang

berlaku (buku pendidikan olahraga dan kesehatan) untuk semua murid

kelas I-VI, dilaksanakan minimal satu kali tiap bulan.

c. Pencegahan penyakit gigi dan mulut dengan melaksanakankegiatan sikat

gigi bersama setiap hari minimal untuk kelas I, II dan II dibimbing oleh

guru dengan memakai pasta gigi yang mengandung fluor.

d. Pengobatan darurat untuk menghilangkan rasa sakit oleh guru.

e. Penjaringan kesehatan gigi dan mulut untuk kelas I pada awal tahun ajaran

diikuti dengan pencabutan gigi sulung yang sudah waktunya tanggal,

dengan persetujuan tertulis (informed consent) dari orang tua dan tindakan

dilakukan oleh tenaga kesehatan gigi.

6
f. Surface protection pada gigi molar tetap yang sedang tumbuh pada murid

kelas 1 dan 2 atau dilakukan fissure sealant pada gigi molar yang sedang

tumbuh.

g. Pelayanan medik gigi dasar atas permintaan pada murid kelas I sampai

dengan kelas VI (care on demand).

h. Rujukan bagi yang memerlukan.

E. Tujuan UKGS

Tujuan dari UKGS menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia

(2012) dibedakan menjadi tujuan umum dan tujuan khusus, yaitu :

1. Tujuan umum

Tercapainya derajat kesehatan gigi dan mulut peserta didik yang optimal.

2. Tujuan khusus

a. Meningkatnya pengetahuan, sikap dan tindakan peserta didik

dalam memelihara kesehatan gigi dan mulut.

b. Meningkatnya peran serta guru, dokter kecil, orang tua dalam

upaya promotif- preventif.

c. Terpenuhinya kebutuhan pelayanan medik gigi dan mulut bagi

peserta didik yang memerlukan.

F. Sasaran UKGS

Sasaran pelaksanaan dan pembinaan UKGS menurut Kementerian

Kesehatan Republik Indonesia (2012), meliputi :

1. Sasaran primer

Peserta didik (murid sekolah) TK-SD-SMP-SMA dan sederajat.

7
2. Sasaran sekunder

Guru, petugas kesehatan, pengelola pendidikan, orang tua murid serta tim

pelaksana UKS disetiap jenjang.

3. Sasaran tersier

a. Lembaga penidikan mulai dari tingkat pra sekolah sampai pada sekolah

lanjutan tingkat atas, termasuk perguruan agama serta pondok pesantren

beserta lingkungannya.

b. Sarana kesehatan dan prasarana pendidikan kesehatan dan pelayanan

kesehatan.

c. Lingkungan yang meliputi lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.

BAB II

PELAKSANAAN UKGS

Lokasi : SDN Samirono

Tanggal pelaksanaan : 1 Juni 2016

Kegiatan :

8
1. Pemeriksaan Gigi dan Mulut

Kelas :I

Jumlah murid : 40 siswa

a. Tenaga pelaksana

1. Chatarina Indah puranti


2. Tirza ester Longkutoy
3. Nurul Setyo wulandari
4. Plati Laras Makarti
5. Bernike apfianita Damaris
6. Triyani
b. Alat dan bahan
Diagnostic set, bengkok, sarung tangan, masker, tisu, baskom,

minosep, alat tulis, meja, kursi, dan formulir pemeriksaan.


c. Hambatan
Tidak terdapat hambatan, pemeriksaan berjalan tertib dan lancar

karena dibantu oleh guru yang menjadi wali kelas 1 tersebut sehingga

siswa bisa lebih tertib di dalam kelas.

2. Penyuluhan

Kelas :1

Jumlah murid : 40 siswa

a. Materi penyuluhan

1. Pengenalan tentang bangunan yang ada di rongga

mulut. Memperkenalkan bangunan yang ada di rongga mulut dan

menyebabkan fungsi dari masing-masing bangunan yang ada di

dalam rongga mulut tersebut.


2. Informasi secara sederhana tentang bahaya penyakit

gigi yaitu gigi berlubang mencakup apa itu gigi sehat, apa itu gigi

berlubang, ciri-ciri gigi berlubang, dan penyebab gigi berlubang.

9
3. Pengenalan makanan sehat dan tidak sehat untuk

gigi. Memperkenalkan makananan yang baik untuk gigi,

karakteristik makanan yang baik untuk gigi, makanan yang tidak

sehat untuk gigi dan karakteristiknya.


4. Pentingnya teknik menyikat gigi yang baik dan

benar yaitu pengenalan tentang sikat gigi yang baik, waktu

menyikat gigi, cara menyikat gigi dan menggunakan pasta gigi yang

tepat.

b. Tenaga pelaksana

1. Chatarina Indah puranti


2. Tirza ester Longkutoy
3. Nurul Setyo wulandari
4. Plati Laras Makarti
5. Bernike apfianita Damaris
6. Triyani
c. Alat dan bahan : Poster, model gigi, dan sikat gigi.
d. Hambatan

Tidak terdapat hambatan, siswa mendengarkan penjelasan dengan

tertib.

3. Sikat Gigi Massal

Kelas :I

Jumlah murid : 40 siswa

a. Tenaga pelaksana

1. Chatarina Indah puranti

2. Tirza ester Longkutoy

3. Nurul Setyo wulandari

4. Plati Laras Makarti

10
5. Bernike apfianita Damaris

6. Triyani

b. Alat dan bahan


Sikat gigi anak, pasta gigi , model gigi, gelas kumur, air bersih, ember,

tisu.
c. Hambatan
Secara umum kegiatan dapat berjalan dengan lancar, siswa cukup tertib

tetapi siswa sudah tidak sabar ingin keluar saat baru selesai dan

istirahat.

BAB III

HASIL PENGOLAHAN UKGS TAHAP II

Rincian hasil pemeriksaan UKGS yang dilaksanakan adalah sebagai berikut:

Lokasi : SDN SAMIRONO

Tanggal pelaksanaan : 1 Juni 2016

Jumlah murid : 40 siswa

Jumlah siswa yang diperiksa : 7 siswa

Pemeriksaan yang dilakukan meliputi:

1. Status kebersihan mulut, diukur dengan Oral Hygiene Index Simplified

modifikasi Green dan Vermilion.

2. Status karies gigi, diukur dengan indeks def-t untuk gigi susu dan indeks

DMF-T untuk gigi tetap.

3. Status kesehatan gusi.

4. Frekuensi dan waktu menyikat gigi dalam sehari.

5. Diagnosis dan rencana perawatan yang sesuai.

11
Hasil pemeriksaan dapat dilihat pada tabel-tabel berikut :

Tabel 1. Distribusi Sampel Berdasarkan Status Kebersihan Mulut Siswa SDN


Samirono Kelas 1 pada Bulan Juni Tahun 2016
JUMLAH
No Status Kebersihan Mulut (OHI-S)
∑ %
1 Baik ( 0 – 1,2) 0 0
2 Cukup ( 1,3 – 3,0) 2 28,57
3 Kurang (3,1 – 6,0) 5 71,43
Jumlah 7 100

Dari tabel 1 terlihat bahwa dari 7 siswa yang diperiksa sebagian besar

mempunyai status kebersihan mulut kategori cukup yaitu 2 siswa (28,57 %),

kategori kurang yaitu 5 siswa (71,43 %) dan seluruh siswa kelas 1 tidak ada yang

memiliki status kebersihan mulut baik.

Tabel 2. Distribusi Siswa Kelas 1 Berdasarkan Status Karies Gigi di SD Negeri Samirono
pada Bulan Juni 2016
Status Karies Gigi Gigi Desidui Gigi Tetap
d/D 36 1
e/M 6 0
f/ 1 0
Jumlah 43 1
Rata-rata 6,14 0,14

Berdasarkan tabel 2 bahwa jumlah gigi yang mengalami karies dan masih

dapat ditambal (d atau D) memiliki hasil yang tinggi yaitu sebesar 36 gigi pada

gigi sulung dan 1 gigi pada gigi tetap. Pada gigi sulung terdapat 1 gigi yang sudah

dicabut atau gigi dengan indikasi pencabutan karena karies serta terdapat 1 gigi

sulung yang ditambal. Nilai rerata keseluruhan karies pada gigi sulung (def-t)

siswa kelas I adalah 6,14 artinya setiap 1 orang siswa pernah memiliki karies

sekitar 6,14 gigi. Nilai rerata karies pada gigi tetap (DMF-T) siswa kelas I adalah

0,14 berarti setiap 1 orang siswa pernah memiliki karies sebanyak 0,14 gigi.

12
Seluruh siswa yang telah diperiksa hanya terdapat 1 gigi desidui yang telah

ditumpat sedangakn gigi tetapnya 0 yang berarti masih kurannya kesadaran siswa

dalam melakukan perawatan gigi yang mengalami karies.

Tabel 3. Distribusi Siswa Kelas 1 Berdasarkan Status Kesehatan Gingiva di


SDN Samirono pada Bulan Juni Tahun 2016
Status Kesehatan Gingiva N %
Sehat 5 71,43
Gingivitis 1-3 segmen 0 0
Gingivitis 4-6 segmen 2 28,57
Jumlah 7 100

Tabel 3 menunjukkan bahwa sebagian dari siswa yang diperiksa tidak

mengalami gingivitis (sehat) (71,43%), mempunyai 1-3 segmen yang mengalami

gingivitis yaitu sebanyak 0 siswa (0 %), dan siswa yang mempunyai gingivitis

pada 4 sampai 6 segmen (71,43).

Tabel 4. Distribusi Siswa Kelas 1 Berdasarkan Frekuensi Menyikat Gigi


Sehari di SD Negeri samirono Bulan Juni Tahun 2016

Frekuensi Menyikat Gigi N %


1 kali sehari 1 14,28
2 kali sehari 3 42,86
3 kali sehari 3 42,86
Jumlah 7 100

Tabel 4, menunjukkan bahwa dari 7 siswa yang diperiksa, 1 siswa (14,28 %)

menyikat gigi 1 kali sehari, 3 siswa (42,86 %) menyikat gigi 2 kali sehari, dan 3

siswa (42,86 %) menyikat gigi 3 kali sehari.

Tabel 5. Distribusi Siswa Kelas 1 Berdasarkan Waktu Menyikat Gigi


Sehari Di SD Negeri Samirono pada Bulan Juni 2016

No. Kriteria Waktu Menyikat Gigi N %


1. Mandi pagi 1 14,29
2. Mandi pagi dan mandi sore 3 42,85

13
3. Mandi pagi dan malam 1 14,29
sebelum tidur
4. Mandi pagi, mandi sore dan 2 28,57
malam sebelum tidur
Jumlah 7 100

Tabel 5, menunjukkan bahwa sebanyak 7 siswa (100%) yang diperiksa tidak

tepat waktu menyikat giginya. Waktu yang tepat untuk menyikat gigi yaitu pagi

hari setelah sarapan pagi dan malam sebelum tidur.

Tabel 6. Distribusi Siswa Kelas 1 Berdasarkan Kebutuhan Perawatan


Gigi di SD Negeri Samirono pada Bulan Juni Tahun 2016

Kebutuhan Perawatan Gigi N %


Ya 7 100
Tidak 0 0
7 100

Berdasarkan tabel 6 diketahui bahwa sebanyak 7 siswa yang diperiksa

memerlukan rujukan tindakan keperawatan gigi sebanyak 100%.

Tabel 7. Distribusi Sampel Berdasarkan Rujukan Tindakan Perawatan Gigi


Siswa SDN Samirono Kelas 1 Bulan Juni Tahun 2016
No. Kebutuhan Rujukan ∑ %
1 Restorasi 3 42,86
2 Restorasi dan observasi 1 14,28
3 Restorasi dan ekstraksi 3 42,86
Jumlah 7 100
Berdasarkan tabel 7 menunjukkan bahwa terdapat 100% dari jumlah siswa

yang diperiksa membutuhkan perawatan berupa ekstraksi, observasi dan resorasi.

Tabel 8. Distribusi Sampel Berdasarkan Tingkat Pendidikan Orang Tua dari


Siswa SDN Samirono Kelas 1 Bulan Juni Tahun 2016
Tingkat Pendidikan Jumlah

14
Tidak
Orang SD SMP SMA AK PT
sekolah
Tua
∑ % ∑ % ∑ % ∑ % ∑ % ∑ % ∑ %
Ayah 0 0 0 0 0 0 5 71,43 0 0 2 28,57 7 100
Ibu 0 0 1 14,29 0 0 4 57,14 0 0 2 28,57 7 100

Berdasarkan tabel 8, menunjukkan bahwa 7,15% orang tua siswa adalah

lulusan SD, 33,33% lulusan SD, 64,29% lulusan SMA, dan 28,57% lulusan

perguruan tinggi negeri.

Tabel 9. Distribusi Sampel Berdasarkan Pekerjaan Orang Tua dari Siswa


SDN Samirono Kelas 1 Bulan Juni Tahun 2016
Orang Jenis Pekerjaan
Tua Tidak Wiraswasta Karyawan Buruh Jumlah
Bekerja Swasta
∑ % ∑ % ∑ % ∑ % ∑ %
Ayah 0 0 5 71,43 2 28,57 0 0 7 100
Ibu 2 28,57 3 42,86 2 28,57 0 0 7 100

Berdasarkan tabel 9, menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua siswa

mempunyai mata pencaharian sebagai wiraswasta, dengan persentase 57,14%.

Orang tua dengan pekerjaan sebagai pegawai swasta sebanyak 28,57%, dan tidak

bekerja sebanyak 28,57 %.

15
BAB IV

DIAGNOSA DAN RENCANA PERAWATAN GIGI

Berdasarkan data yang diperoleh dari pemeriksaan di kelas 1 SDN

Samirono, didapatkan hasil diagnosa dan rencana perawatan sebagai berikut:

Tabel 10. Diagnosa dan Rencana Perawatan Siswa Kelas 1 di SDN Samirono
Jenis Umur Rencana
No Nama Elemen Diagnosis
Kelamin (tahun) Perawatan
55 Karies distal Penumpatan
65 Sisa akar Ekstraksi
Radith arjun 82 persistensi Ekstraksi
1 L 7
Niagara 42 Erupsi sebagian -
83 Karies distal Penumpatan
84 Sisa akar Ekstraksi
54 Sisa akar Ekstraksi
64 Sisa akar Ekstraksi
65 Karies oklusal Penumpatan
2 75 Karies oklusal Penumpatan
Sydneytria Putri
P 7 74 Karies oklusal Penumpatan
Nugroho
73 Karies bukal Penumpatan
83 Sisa akar Ekstraksi
Karies oklusal
85 penumpatan
dan distal
64 Karies oklusal penumpatan
3 Yahya Zulkarnain L 7 75 Karies oklusal Penumpatan
74 Karies oklusal Penumpatan
4 L 7 55 Karies lingual Penumpatan

16
54 Karies lingual Penumpatan
64 Karies oklusal penumpatan
65 Karies lingual Penumpatan
Firdaus Abraham
75 Karies oklusal Penumpatan
Esa
74 Karies oklusal Penumpatan
84 Karies oklusal penumpatan
85 Karies oklusal penumpatan
64 Karies oklusal Penumpatan
75 Sudah ditambal -
5 Tito arnanto L 7 83 Luksasi Observasi
Karies oklusal
46 Penumpatan
dan distal
55 Karies oklusal Penumpatan
54 Karies oklusal Penumpatan
53 Karies lingual Penumapatan
63 Karies lingual Penumpatan
Michael Indiana
6. L 7 64 Karies oklusal Penumpatan
three Jones
65 Karies oklusal Penumpatan
74 Karies oklusal Penumpatan
84 Karies oklusal Penumpatan
85 Karies oklusal Penumpatan
55 Karies mesial Penumpatan
Karies pada
52 Penumpatan
bagian mesial
Karies pada
51 bagian mesial dan Penumpatan
Valentino viki
7 L 7 distal
vibriansyah
Karies interdental
61 Ekstraksi
dan luksasi
62 Karies mesial Penumpatan
Karies mesial dan
75 Penumpatan
oklusal
74 Karies distal Penumpatan
Karies pada
84 Penumpatan
bagian distal
Karies pada
85 Penumpatan
bagian mesial

17
BAB V

PEMBAHASAN

Kegiatan UKGS yang dilaksanakan pada tanggal 1 Juni 2016 di SDN

Samirono merupakan kegiatan UKGS Tahap II. Pelaksanaan kegiatan UKGS di

SDN Samirono mencakup pemeriksaan kondisi gigi dan mulut (screening),

penyuluhan kesehatan gigi dan mulut, dan sikat gigi bersama. Pemeriksaan

kesehatan gigi dan mulut yang dilakukan meliputi pemeriksaan status kebersihan

mulut menggunakan indeks OHI-S, status karies gigi menggunakan indeks DMF-

T untuk gigi tetap dan indeks def-t untuk gigi sulung, pemeriksaan kesehatan gusi

menggunakan Gingival Index (GI), serta waktu dan frekuensi menggosok gigi.

Kegiatan UKGS di SDN Samirono kelas 1 diawali dengan melakukan

pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut. Untuk menjaga ketertiban siswa di dalam

kelas ketika menunggu giliran diperiksa siswa diawasi oleh wali kelasnya. Setelah

semua siswa selesai diperiksa, rangkaian kegiatan UKGS dilanjutkan dengan

kegiatan penyuluhan kesehatan gigi dan mulut. Materi penyuluhan meliputi peran

pengenalan bangunan yang ada di dalam rongga mulut, bahaya penyakit gigi

terutama gigi berlubang mencakup tanda gigi berlubang, penyebab, dan proses

terjadinya, pengenalan makanan sehat dan tidak sehat untuk gigi, serta pentingnya

18
teknik menyikat gigi yang baik dan benar. Kegiatan UKGS di SDN Samirono

kelas 1 kemudian diakhiri dengan kegiatan sikat gigi bersama.

Berdasarkan hasil pengolahan data pemeriksaan gigi dan mulut kelas 1 SDN

Samirono, pada tabel 1 diketahui bahwa dari 7 siswa yang diperiksa, 2 siswa

(28,57%) memiliki status kebersihan mulut antara 1,3 hingga 3, sehingga

termasuk dalam kategori cukup dan 5 siswa (71,43%) memiliki status kebersihan

3,1 hingga 6 sehingga termasuk dalam kategori kurang (Basuni, dkk., 2014). Hasil

pemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang belum

mengetahui cara menjaga kebersihan gigi dan mulut serta kurangnya kesadaran

masyarakat terutama pada anak usia sekolah untuk menjaga kebersihan gigi dan

mulut.

Tabel 2 menjelaskan nilai rata-rata status karies gigi sulung siswa kelas 1

(def rata-rata=6,14) lebih tinggi daripada nilai rata-rata status karies gigi tetap

(DMF rata-rata=0,14). Baik pada gigi sulung maupun gigi permanen memiliki

resiko terkena karies gigi, namun proses kerusakan gigi sulung lebih cepat

menyebar, meluas dan lebih parah dari gigi permanen. Hal tersebut terjadi karena

perbedaan struktur email gigi dimana gigi sulung mempunyai struktur email yang

kurang padat dan lebih tipis, morfologi lebih tidak beraturan, dan kontak antara

gigi merupakan kontak bidang pada gigi sulung (Suwelo, 1992 cit. Susi, dkk.

2012). Selain itu, Banyaknya jajanan yang ada di sekolah, dengan jenis makanan

dan minuman yang manis, sehingga mengancam kesehatan gigi anak. Peningkatan

frekuensi konsumsi makanan kariogenik akan menyebabkan keberadaan pH yang

19
rendah di dalam mulut dipertahankan sehingga terjadi peningkatan demineralisasi

dan penurunan remineralisasi (Arisman, 2007 cit. Rosidi, 2013).

Tabel 3 menunjukkan bahwa dari 7 siswa yang diperiksa, 5 siswa (71,43%)

memiliki status gingiva yang sehat, tidak ada siswa yang mengalami gingivitis 1

sampai 3 segmen, dan 2 siswa ( 28,57%) yang mengalami gingivitis 4 sampai 6

segmen. Gingivitis adalah suatu inflamasi pada gingiva yang biasanya disebabkan

oleh akumulasi plak (Retnoningrum, 2006 cit. Hartati, dkk., 2011). Secara klinis

gingivitis seringkali ditandai dengan adanya perubahan warna, perubahan bentuk,

dan perubahan konsistensi(kekenyalan), perubahan tekstur, dan perdarahan pada

gusi (Retnoningrum, 2006 cit. Hartati, dkk., 2011). Masa usia sekolah dasar

adalah masa pertumbuhan gigi permanen yang menyebabkan perubahan pada

gingiva sehingga meningkatkan resiko terjadinya inflamasi pada gingiva (Karim,

dkk., 2013). Apabila kebersihan gigi dan mulut tidak terjaga, dapat meningkatkan

resiko terjadinya inflamasi gingiva (Karim, dkk.,2013). Hal ini dapat dihubungkan

dengan hasil pemeriksaan OHI-S yang masuk dalam kategori cukup dan kurang.

Pada tabel 4 menunjukkan bahwa terdapat 1 siswa (14, 28%) menyikat gigi

satu kali sehari, 3 siswa (42,86 %) menyikat gigi dua kali sehari, dan 3 siswa

(42,86 %) menyikat gigi tiga kali sehari. Menurut Sriyono (2011), terdapat 5 hal

yang harus dipertimbangkan dalam menyikat gigi agar efektif dalam pembersihan

plak yaitu: (1) tepat memilih sikat gigi, (2) tepat cara menyikat gigi, (3) tepat

waktu menyikat gigi, (4) tepat lama menyikat gigi, (5) teliti sehingga semua

bagian gigi bersih dari plak. Pada tabel 5 menunjukkan waktu menyikat gigi siswa

sebanyak 100% belum tepat waktu sehingga berpengaruh pada nilai kebersihan

20
gigi dan mulut yaitu masih terdapat siswa (42,86%) menyikat gigi pada saat

mandi pagi dan sore dan terdapat 1 (14,28%) siswa yang menyikat gigi 1 kali

sehari yaitu pada saat Mandi pagi. Kebiasaan menyikat gigi yang kurang tepat ini

bisa terjadi karena kurangnya pengetahuan akan pentingnya pemeliharaan gigi dan

mulut (Fankari, 2004 cit. Sari, dkk.).

Tabel 6 menunjukkan bahwa semua siswa kelas I SD Negeri Samirono yang

diperiksa memerlukan rujukan tindakan perawatan gigi. Berdasarkan rujukan

tindakan perawatan gigi untuk siswa SDN Samirono kelas 1 paling tinggi yaitu

restorasi 36 gigi (83, 72%), ekstraksi sebanyak 6 gigi (13, 95%) dan 1 siswa

(2,33%) observasi . Tingginya rujukan restorasi didukung dengan tingginya nilai

decay pada def-t maupun DMF-T. Karies gigi adalah penyakit infeksi yang telah

dikenal sejak dulu. Penyakit ini merusak struktur gigi dan menyebabkan gigi

berlubang (Sumini, dkk., 2014). Perawatan gigi berlubang yaitu dengan

melakukan penumpatan atau restorasi. Restorasi diperlukan jika permukaan gigi

menjadi berlubang dan bahan restorasi yang dipilih yang dapat menggantikan

dalam hal estetik dan fungsi (Sasmita I.S., dan Pertiwi A.S.P., 2009). Pada masa

tubuh kembang anak, fungsi gigi sulung antar lain sebagai penyedia ruangan gigi

tetap, merangsang tumbuh kembang rahang, pengunayahan dan estetika.

Kehilangan gigi sulung yang terlalu dini, yakni bila benih gigi tetap belum

menempati posisinya dan dalam pembentukan mahkota, maka keadaan ini akan

mengganggu proses tumbuh kembang rahang. Penyempitan rahang akibat

gangguan tersebut menyebabkan erupsi gigi tetap tidak pada tempatnya sehingga

terjadi maloklusi (Budiardjo, 1995).

21
Berdasarkan tabel 7 terdapat 3 siswa (42, 86%) membutuhkan perawatan

berupa restorasi, 3 Siswa (42, 86%) membutuhkan perawatan restorasi dan

ekstraksi, dan 1 siswa (14,28%) membutuhkan perawatan observasi dan restorasi.

Tindakan restorasi gigi merupakan suatu tindakan untuk memperbaiki gigi yang

rusak dengan cara membuang jaringan karies pada gigi dan meletakkan bahan

restorasi pada gigi yang mengalami kerusakn tersebut (Sumolang, dkk., 2013).

Tindakan Pencabutan gigi yaitu suatu tindakan pengeluaran gigi dari soketnya dan

dilakukan pada gigi yang sudah dapat dilakukan perawatan lagi (Lande, dkk.,

2015).

Tabel 8 dan 9 menunjukan status sosial ekonomi dan tingkat pendidikan

orang tua siswa kelas 1 SD Negeri Samirono. Sebagian besar orang tua siswa

(71,43%) memiliki pekerjaan sebagai pagawai wiraswata dan memiliki

pendidikan terakhir yang bervariasi yaitu 71,43% adalah lulusan SMA dan

28,57% lulusan perguruan tinggi negeri. Sebagian besar siswa memiliki gigi yang

karies dan perlu perawatan restorasi. Sariningrum dan Irdawati (2009)

menyatakan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan tingkat pendidikan

orang tua dengan kejadian karies pada anak. Hal tersebut dikarenakan faktor yang

mempengaruhi kualitas kesehatan gigi seseorang tidak terlepas dari 3 aspek

berikut ini yaitu aspek fisik (keadaan kesehatan gigi mulutnya sendiri, misalnya

keaadan gigi yang berjejal), aspek mental (kepercayaan dan keyakinan seseorang

yang akan mempengaruhi perilaku mereka, misalnya tidak percaya dengan

pelayanan kesehatan) dan aspek sosial (nilai budaya yag berkembang

22
didaerahnya) (Herijulianti, dkk., 2002). Sehingga, tidak bisa berpedoman pada

pekerjaan ataupun pendidikan orang tua saja.

BAB VI

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan pengolahan data dan pembahasan di atas mengenai kegiatan

UKGS yang dilaksanakan tanggal 1 Juni 2016 di SDN Samirono pada siswa kelas

I dapat diambil kesimpulan :

1. Status kebersihan mulut siswa menunjukkan sebagian besar memiliki

status kurang dan tidak ada siswa yang mempunyai status kebersihan

mulut baik.

2. Rata-rata karies gigi sulung siswa kelas 1 (def-t) lebih tinggi dibandingkan

karies gigi tetap (DMF-T) anak.

3. Status kesehatan gusi menunjukkan sebagaian besar siswa mempunyai

gusi yang sehat, hanya terdapat dua siswa mengalami gingivitis 4 sampai

6 segmen, dan tidak terdapat siswa yang mengalami gingivitis 4 sampai 6

segmen.

4. Frekuensi menyikat gigi sebagian besar siswa adalah 2 kali sehari dan

sebagian besar lagi 3 kali sehari dan hanya satu orang yang menyikat gigi

1 kali, tetapi waktu menyikat gigi masih belum tepat.

23
5. Sebagian besar siswa membutuhkan rencana perawatan restorasi gigi

berupa penumpatan pada gigi yang mengalami karies.

6. Masih rendahnya kesadaran untuk melakukan perawatan pada gigi yang

telah berlubang karena karies. Hal ini dapat dilihat dari pemeriksaan yang

menunjukkan bahwa hanya terdapat 1 gigi yang ditumpat.

7. Status sosial ekonomi dan tingkat pendidikan orang tua siswa yang

bervariasi tidak berpengaruh terhadap status rongga mulut siswa SDN

Samirono kelas 1.

B. Saran

1. Para siswa kelas I SDN Samirono perlu diberi pemahaman lebih tentang

pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut.

2. Para siswa kelas I SDN Samirono perlu melakukan perawatan pada gigi

yang mengalami masalah, sesuai dengan rencana perawatan yang

direncanakan.

3. Orang tua siswa dan guru diharapkan berperan aktif dalam memonitor

pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut anak.

24
DAFTAR PUSTAKA

Alhamda, Syukra, 2011, Status Kebersihan Gigi dan Mulut dengan Status Karies
Gigi (Kajian pada Murid Kelompok Umur 12 Tahun di Sekolah Dasar
Negeri Kota Bukittinggi), Berita Kedokteran Masyarakat, 27 (2): 108-115.

Basuni, Cholil, Putri Deby K.T., 2014, Gambaran Indeks Kebersihan Mulut
Berdasarkan Tingkat pendidikan Masyarakat di Desa Guntung Ujung
Kabupaten Banjar, Dentino Jurnal Kedokteran Gigi, II (1): 18-23.

Budiardjo, Sarworini Bagio, 1995, Perawatan Pulpektomi Secara Singkat pada


Gigi Sulung Nekrotik (Laporan Kasus), Jurnal Kedokteran Gigi Universitas
Indonesia (JDUI), 11(2): 40-49.

Departemen Kesehatan, 2009, Profil Kesehatan Indonesia, Jakarta.

Femala, Dian, Shaluhiyah Zahroh, dan Cahyo Kusyogo, 2012, Perilaku Perawat
Gigi dalam Pelaksanaan Program UKGS di Kota Pontianak, Jurnal promosi
Kesehatan Indonesia, 7 (2):145-152.

Hartati, Rusmini, Waluyo B. T., 2011, Analisis factor-faktor yang berhubungan


dengan Kejadian Gingivitis pada Ibu Hamil di Wilayah Kerja Puskesmas
Talang Tegal, Jurnal Ilmiah Keperawatan, 7(3):170-189.

Herijulianti, E., Indriani T. S., Artini S., 2002, Pendidikan Kesehatan Gigi,
Jakarta: EGC.

Karim, Cindra A.A., Gunawan P., Wicaksono D.A., 2013, Gambaran Status
Gingiva pada Anak Usia Sekolah Dasar di SD GMIM Tonsea Lama,
http://ejournal.unsrat.ac.id/index.php/egigi/article/download/3227/2771diun
duh tanggal 29 juli 2016.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia., 2012, Pedoman Usaha Kesehatan


Gigi Sekolah, Direktorat Jenderal Bina Upaya Kesehatan, Jakarta,
http://perpustakaan.depkes.go.id

25
Lande, R., Kepel B. j., Siagian K. V., 2015. Gambaran faktor resiko dan
Komplikasi Pencabutan Gigi di RSGM PSPDG- FK UNSRAT, Jurnal e-
GiGi, 3, (2): 476-481.

Mawuntu, Maureen M., Pangemanan Damajanty H. C., dan Mintjelunga Christiy,


2015, Gambaran Status Kesehatan Mulut Siswa SD Katolik ST. Agustinus
Kawangkoan, Jurnal e-GiGi (eG), 3(2):252-256.

Nurhidayat, O., Eram, T.P., dan Bambang, W., 2012, Perbandingan Media Power
Point dengan Flip Chart dalam Meningkatkan Pengetahuan Kesehatan
Gigi dan Mulut, Unnes Journal of Public Health, 1(01): 31-35.

Rosidi, A., Haryani S., dan Adimayanti E., 2013, Hubungan antara Konsumsi
Makanan Kariogenik dengan Kejadian Karies Gigi pada Anak SDN
Gogodalem, Kec. Bringin, Kabupaten Sleman, Yogyakarta.

Sari, E.K., Ulfiana E., dan Dian P., Pengaruh Pendidikan Gosok Gigi dengan
Metode Permainan Simulasi Ular Tangga terhhadap Perubahan
Pengetahuan, Sikap dan Aplikasi Tindakan Gosok Gigi Anak Usia Sekolah
di SD Wilayah Paron Ngawi, Fakultas keperawatan Universitas Airlangga.

Sariningrum, E., dan Irdawati, 2009. Hubungan Tingkat Pendidikan, Sikap dan
Pengetahuan Orang Tua Tentang Kebersihan Gigi dan Mulut Pada Anak
Balita 3-5 Tahun dengan Tingkat Kejadian Karies di Paud Jatipurno,
Berita Ilmu Keperawatan ISSN, 2(3): 119-124

Sasmita I. S., dan Pertiwi A. S. P., 2009, Identifikasi, pencegahan, dan Restorasi
Sebagai Penatalaksanaan Karies Gigi pada Anak.

Setiawan, R., Adhani R., Sukmana B.I., dan Hadianto B., 2014, Hubungan
Pelaksanaan UKGS dengan Status Kesehatan Gigi dan Mulut

Sriyono, N.W, 2011, Pengantar Ilmu Kedokteran Gigi Pencegahan, Yogyakarta,


MEDIKA Fakultas Kedokteran UGM, hal 58 dan 74

Sumini, Amikasari B., dan Nurhayati D., 2014, Hubungan Konsumsi Makanan
Manis dengan Kejadian Karies Gigi pada Anak Prasekolah di TK B RA
Muslimat PSM Tegalrejodesa Semen Kecamatan Nguntoronadi Kabupaten
Magelang, Jurnal Delima Harapan 3(2): 20-27.

Sumolang, M., Wicaksono, D. A., Abidjulu J., 2013, Gambaran Penggunaan resin
Komposit dan Semen Ionomer Kaca sebagai Bahan Restorasi di Rumah
sakit Gunung Maria Tomohon Tahun 2012,
http://www.nature.com/ijos/Journal/v4/n3/pdf/ijos201234a.pdf diunduh
tanggal 15 Oktober 2016.

26
Susi, Bachtiar, H., dan Azmi, U., 2012, Hubungan Status Sosial Ekonomi Orang
Tua dengan Karies Pada Gigi Sulung Anak Umur 4 dan 5 Tahun,
Majalah Kedokteran Andalas, 36 (01): 96-105

Tjahja, I. dan Gani, L., Status Kesehatan Gigi dan Mulut Ditinjau dari Faktor
Individu Pengunjung Puskesmas DKI Jakarta Tahun 2007, Buletin
Penelitian Kesehatan, 38(02): 52-66

27