Anda di halaman 1dari 14

PRAKTIKUM KIMIA DASAR

IODINASI ASETON

I. Tujuan Percobaan :
 Menentukan orde reaksi.
 Menghitung energi aktivasi.
 Menghitung laju reaksi berdasarkan pengaruh konsentrasi dan temperatur dalam
suasana asam.

II. Bahan yang digunakan :


 Aseton 4M
 HCl 1M
 Iodium(L) 0,005M
 Aquadest
 Es (Sebagai pendingin)

III. Alat yang dipakai :


 Erlenmeyer 125 Ml 8 Buah
 Gelas Ukur 25 Ml 1 Buah
 Gelas Kimia 100Ml & 400 Ml 1+1 Buah
 Pipet Ukur 10 Ml & 25 Ml 1+1 Buah
 Pipet Gondok 5 Ml & 10 Ml 2+1 Buah
 Thermometer 100C 1 Buah
 Stop Watch 1 Buah
 Bola hisap 1 Buah
 Hot Plate 1 Buah
 Labu Semprot 1 Buah
 Selang Karet 1 Buah
IV. Dasar Teori :
Laju reaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain adalah :
 Sifat reaksi itu sendiri,
 Konsentrasi reaktan,
 Temperatur,
 Katalis,
 Luas permukaan sentuhan,
 Tekanan,
 Pengadukan.

Laju dinyatakan dengan persamaan :


Laju = k[a]m . k[B]n
Dimana m dan n tidak mutlak bilangan bulat. [A] dan [B] adalah konsentrasi A dan
B (dalam mol/L).
Jumlah m dan n disebut orde reaksi terhadap A dan b.
Jika m = 1, maka disebut reaksi berorde satu terhadap A,
Jika n = 2, maka disebut reaksi berorde dua terhadap B.
Orde total merupakan jumlah m dan n ( dlm contoh berorde 3)

Laju reaksi juga bergantung pada temperatur, sering terjadi bila temperatur naik
10C laju mendaji 2 kali lipat. Seperti pada konsentrasi, disini terdapat pula hubungan
kuantitafif antara laju reaksi dengan temperature, tetapi hubungannya agak rumit.
Hubungan ini didasarkan pada suatu ide bahwa reaktan harus mempunyai jumlah energi
minimum tertentu pada waktu reaktan bertumbukan pada tahap reaksi. Jumlah energi yang
minimum ini disebut energi aktivasi.

R adalah tetapan gas (8,31 J  M-1  K-1). Dengan menghitung K dalam temperatur
yang berbeda-beda, kemudian masukkan harga-harga K kedalam grafik, maka akan
didapatkan energi aktivasi reaksi.

Dalam percobaan ini kita pelajari kinetika reaksi Iod dan Aseton.
O O
CH3  C  CH3 + I2 CH3  C  CH2I + H+ + I-
Selain pada konsentrasi aseton dan iod, laju reaksi juga bergantung pada konsentrasi
ion hydrogen, dimana laju reaksinya :
Laju = K [Aseton]m  [I2]n  [H+]p
M,n,p merupakan orde reaksi terhadap aseton, iod dan ion hidrogen, K merupakan
konstanta laju reaksi. Laju reaksi dapat dinyatakan dengan perubahan konsentrasi iod [I 2]
dibagi dengan interval waktu [t] yang diperlukan untuk perubahan tersebut.

Reaksi iodinasi aseton mudah diamati karena :


 Iod berwarna, sehingga kita dapat mengamati perubahan konsentrasi secara visual .
 Reaksi berorde nol terhadap Iod. Hal ini berarti bahwa laju reaksi tidak tergantung pada
[I2], [I2]0 = 1

Oleh karena itu laju reaksi tidak tergantung pada Iod, maka kita dapat menggunakan
Iod sebagai reagent pembatas dengan jumlah aseton dan ion hidrogen berlebih. Kita dapat
mengukur waktu yang dibutuhkan untuk mereaksikan seluruh Iod yang ada dalam larutan.
Bila konsentrasi dari aseton dan ion hidrogen jauh lebih besar dari pada konsentrasi Iod,
maka konsentrasi mereka tidak akan berubah selama reaksi dan laju reaksi akan tetap,
sampai seluruh Iod habis bereaksi. Kemudian reaksi akan berhenti. Bila waktu yang
dibutuhkan untuk mereaksikan semua Iod (warnanya hilang) adalah t.

Walaupun laju reaksi tetap pada kondisi yang kita atur, kita dapat mengubah-ubah
konsentrasi aseton dan ion hidrogen. Bila konsentrasi ion hidrogen dan Iod dibuat tetap
sama seperti pada campuran awal, sedangkan konsentrasi aseton dibuat menjadi 2 kali
konsentrasi semula, maka persamaan laju menjadi :
Laju 2 = K [2A]m  [I2]n  [H+]p
Laju 1 = K [2A]m  [I2]n  [H+]p

Setelah menghitung laju 2 dan laju 1, maka kita memperoleh angka yang
mempunyai harga yang sama dengan 2m. Berarti kita dapat memperoleh harga m melalui
logaritma. M merupakan orde reaksi terhadap aseton.
V. Prosedur kerja :
 Penentuan Orde reaksi
Percobaan A
 Pipet 10 Ml aseton 4M, masukkan kedalam erlenmeyer 125 Ml
 Pipet 10 Ml HCl 1 M, masukkan kedalam erlenmeyer yang berisi aseton.
 Tambahkan 20 Ml aquadest kedalam campuran tersebut
 Pipet 10 Ml larutan Iod dengan pipet gondok 10 Ml.
 Masukkan kedalam campuran tersebut (serentak jalankan stop watch)
 Setelah warna Iod menghilang, segera hentikahn stop watch.
 Lalu ukur tenperarur campuran tersebut.

Percobaan B
 Ulangi percobaan A dengan mengubah konsentrasi aseton, yaitu dengan memasukkan 5
ml aseton kedalam gelas kimia dan ditambahkan 25 Ml aquadest. Konsentrasi ion
hidrogen dan Iod dibiarkan tetap.

Percobaan C
 Ulangi percobaan A dengan mengubah konsentrasi HCl, yaitu dengan memasukkan 5
ml HCl kedalam erlenmeyer 125 Ml dan ditambahkan 25 Ml aquadest. Konsentrasi
aseton dan Iod dibiarkan tetap.
Percobaan D
 Ulangi percobaan A dengan mengubah konsentrasi Iod, yaitu dengan memasukkan 5 ml
Iod kedalam gelas kimia dan ditambahkan 25 Ml aquadest. Konsentrasi aseton dan HCl
dibiarkan tetap. Percobaan diatas dilakukan 2 kali percobaan
 Tentukan laju reaksi, orde reaksi untuk masing-masing reaktan dan tetapan laju reaksi.

Penentuan Orde reaksi


 Melakukan percobaan A, tetapi dengan temperatur 10C dan 40C. Tentukan tetapan
laju reaksi dan energi pengaktifan.

VI. Data pengamatan :


 Data laju reaksi
Vol Vol Vol. Vol. waktu Temp
Lr
Aseton HCl Iod Air Perc 1 31C
1 10 Ml 10 Ml 10 Ml 20 Ml 129 dt 31C
2 5 Ml 10 Ml 10 Ml 25 Ml 194 dt 31C
3 10 Ml 5 Ml 10 Ml 25 Ml 239 dt 31C
4 10 Ml 10 Ml 5 Ml 25 Ml 339 dt 31C

 Penentuan Orde Reaksi terhadap Aseton dan Iodium

Lr Aseton [H+] [I2] Laju Orde Reaksi


1 0,8 M 0,2 M 0,001 M 7,8  10-6 M/dt
2 0,4 M 0,2 M 0,001 M 3,4  10-6 M/dt
3 0,8 M 0,1 M 0,001 M 4,2  10-6 M/dt
4 0,8 M 0,2 M 0,0005 M 2,9  10-6 M/dt

 Bagi laju 2 dengan laju 1 ; maka m = 1,2


 Bagi laju 3 dengan laju 1 ; maka p = 0,9
 Bagi laju 4 dengan laju 1 ; maka n = 1,392

 Penentuan energi Aktivasi


 Waktu untuk reaksi pada 10C ; 168 dtk ; temp 31C
 Waktu untuk reaksi pada 40C ; 20 dtk ; temp 31C
 Waktu untuk reaksi pada suhu ruang ; 82 dtk ; temp 31C

VII. Perhitungan :
 Perhitungan Konsentrasi
 Konsentrasi Aseton 4 M
 Volume 10 Ml [ camp 1,3,4 ] V1  M1 = V2  M2
10  4 = 50  M2 V1  M1 = V2  M2

M2 
40 5 4 = 50  M2
50
20
 0,8 M M2 
50
 Volume 5 Ml [ camp 2 ]  0,4 M

 Konsentrasi HCl 1 M
 Volume 10 Ml [ camp 1,2,4 ]  Volume 5 Ml [camp 3 ]
V1  M1 = V2  M2 V1  M1 = V2  M2
10  1 = 50  M2 5 1 = 50  M2
10 5
M2  M2 
50 50
 0,2 M  0,1 M

 Konsentrasi Iodium 0,005 M


 Volume 10 Ml [ camp 1,2,3 ]  Volume 5 Ml [ camp 4 ]
V1  M1 = V2  M2 V1  M1 = V2  M2
10  0,005 = 50  M2 5  0,005 = 50  M2
0,05 0,025
M2  M2 
50 50
 0,001 M  0,0005 M

 Perhitungan Laju reaksi


 Konsentrasi Iodium 0,001 M
M ( Iod ) 0,001 M
Laju I :   7,752 10 6 M / dtk
Dtk 1 129 dtk

M ( Iod ) 0,001 M
Laju II :   3,401 10  6 M / dtk
Dtk 2 294 dtk

M ( Iod ) 0,001 M
Laju III :   4,184 10  6 M / dtk
Dtk 3 239 dtk

M ( Iod ) 0,001 M
Laju IV :   2,950 10 6 M / dtk
Dtk 4 339 dtk

Mensubtitusikan konsentrasi dan laju pada tabel diatas sehingga diperoleh :


Laju I : 7,752 10 6 M / dtk
Laju II : 3,401 10 6 M / dtk
Laju III : 4,184 10 6 M / dtk
Laju IV : 2,950 10 6 M / dtk

Bagi laju 2 dengan laju 1, maka diperoleh harga m.


Laju 2   A 2  m
  
Laju 1   A 1 
3,401  10 6  0,4  m
  
7,752  10 6  0,8 
0,439  0,5 m
lon 0,439  m  lon 0,5
 0,823  m  (  0,693 )
 0,823
m   1,2
 0,693

Bagi laju 3 dengan laju 1, maka diperoleh harga p.


Laju 3   HCl  3 
  
p

Laju 1   HCl  1 
4,184  10 6  0,1 
  p
7,752  10 6  0,2 
0,540  0,5 p
lon 0,540  p  lon 0,5
 0,616  p  (  0,693 )
 0,616
p   0,9
 0,693

Bagi laju 2 dengan laju 1, maka diperoleh harga n.


Laju 4   Iod  4  n
  
Laju 1   Iod  1 
2,950  10  6  0,0005  n
  
7,752  10 6  0,001 
0,381  0,5 n
lon 0,381  n  lon 0,5
 6,965  n  (  0,693 )
 6,965
n   1,392
 0,693
 Perhitungan Tetapan Laju Reaksi
Dengan menggunakan rumus :
Laju = k [A]m  [I2]n  [H]p
Maka akan diperoleh harga ketapan k
Untuk k1
laju 1
k1  m p n
[A]1 [ H ]1 [ I 2 ]1
7,752  10 6

[0,8]1, 2 [0,2]0 ,9 [0,001]1,392

7,752  10 6

0,765  0,235  6,69 5
7,752  10 6
  0,646
1,2  10 5

Untuk k 2
laju 2
k2  m p n
[A]2 [ H ]2 [ I 2 ]2
3,4  10 6

[0,4]1, 2 [0,2]0 ,9 [0,001]1,392

3,4  10 6

0,33  0,235  6,69 5
3,4  10  6
  0,646
5,19  10  6

Untuk k 3
laju 3
k3 
m
[A] 3 [ H ]3 p [ I 2 ]3 n
6
4 ,2  10

[0,8] 1,2 [ 0 ,1 ] 0 ,9 [ 0 ,001 ] 1,392
6
4 ,2  10

0 ,765  0 ,126  6 ,69 5
6
4 ,2  10
  6 ,651
6
6 ,448 10
Untuk k 4
laju 4
k 4 m p n
[A]4 [ H ]4 [ I 2 ]4
2,9  10  6

[0,8]1, 2 [0,1]0,9 [0,0005]1,392
2,9  10 6

0,765  0,126  2,541 5
2,9  10 6
  0,635
4,568  10  6

 Penentuan Energi Aktivasi


Waktu untuk reaksi pada suhu 10C ; 168 dtk ; temp 31C
Waktu untuk reaksi pada suhu 40C ; 20 dtk ; temp 31C
Waktu untuk reaksi pada suhu 31C ; 82 dtk ; temp 31C

 Cara mencari laju reaksi


M ( Iod ) 0,001 M
Laju I :   5,952 10 6 M / dtk
Dtk 10C 168 dtk

M ( Iod ) 0,001 M
Laju II :   5 10 5 M / dtk
Dtk 40C 20 dtk

M ( Iod ) 0,001 M
Laju III :   1,22 10 5 M / dtk
Dtk 31 82 dtk

 Cara memperoleh konsentrasi


Untuk 10 C
laju 10C
k1  m p n
[A]1 [ H ]1 [ I 2 ]1
5,952  10 6

[0,8]1, 2 [0,2]0 ,9 [0,001]1,392
6
5,952  10
 5
0,765  0,235  6,69
6
5,952  10
 5
 0,496
1,2  10
Untuk 40 C
laju 40C
k2  m p n
[A]1 [ H ]1 [ I 2 ]1
5  10  5

[0,8]1, 2 [0,2]0, 9 [0,001]1,392

5  10 5

0,765  0,235  6,69 5
5  10 5
  0,417
1,2  10 5

Untuk 31 C
laju 31C
k3  m p n
[A]1 [ H ]1 [ I 2 ]1
1,22  10  5

[0,8]1, 2 [0,2]0 ,9 [0,001]1, 392

1,22  10 5

0,765  0,235  6,69 5
1,22  10 5
  0,101
1,2  10 5

1
 Cara memperoleh {K }
T
1 1
Untuk temp 10C : 
T  273K 
10C  
 1C 
1
  3,533  10  3 K
283K
1 1
Untuk temp 40C : 
T  273 K 
 40C  
 1C 
1
  3,195  10 3  K
313 K
1 1
Untuk temp 31C : 
T  273 K 
 31C  
 1C 
1
  4,902  10 3  K
304 K
1
 Cara memperoleh (k )
t
Untuk 10 C
1 1
10C 
t 273K
10C 
1C
1

10  273K
1
  3,533  10  3 K
283 K

Untuk 40 C
1 1
40C 
t 273K
40C 
1C
1

40  273K
1
  3,195  10  3 K
313K

Untuk 31 C
1 1
31C 
t 273K
31C 
1C
1

31  273K
1
  3,29  10  3 K
304K
 Cara memperoleh Log k
- log k
Untuk 10°C = - Log 0,496 = 0,305
Untuk 40°C = - Log 0,417 = 0,380
Untuk 31°C = - Log 0,101 = 0,996
 Cara memperoleh Slope
 Ea
Log k 
2,303 R
Log k 10C
 Ea 
2,303 R
0,305

2,303  8,31
0,305
  0,016
19,13793

 Ea
Log k 
2,303 R
Log k 40C
 Ea 
2,303 R
0,380

2,303  8,31
0,380
  0,02
19,13793

 Ea
Log k 
2,303 R
Log k 31C
 Ea 
2,303 R
0,996

2,303  8,31
0,996
  0,052
19,13793

Gambar kurva Slope


VIII. Pembahasan :
 Laju reaksi bergantung pula pada temperatur, sering terjadi bila temperatur naik 10°C
maka laju menjadi 2 kali lipat, tetapi pada kenyataan praktek yang kami lakukan
malahan laju reaksinya makin turun.
 Didalam penambahan Iodium kia harus memakai pipet 10 Ml, karena dalam
penambahan Iodium harus dilakukan sekaligus, hal ini disebabkan Iodium akan
langsung bereaksi dengan Aseton dan HCl dengan tanda warna larutan Iodium akan
berubah menjadi bening.

IX. Kesimpulan :
Laju reaksi itu dipengaruhi oleh beberapa faktor penunjang antara lain : sifatnya,
konsentrasi reaktan, temperatu, katalis, luas bidang sentuhan, tekanan dann pengadukan.
Ternyata Iodinasi Aseton itu mudah kita amati, karena kita tinggal melihat kapan perubahan
warna itu telah selesai terjadi (hilangnya warna Iod menjadi bening)
Bahwa urutan laju reaksi mulai dari yang paling besar dimiliki oleh Iod ; Aseton ; HCl.

X. Daftar pustaka :
Emil j. Slowinsky, Wayne wolsey, William L. Masterton, Chemical principle in the
laboratory with qualitatives analisis, Japan, Holt-saunders Int.ed.