Anda di halaman 1dari 10

Korosi Logam

Ishaq
05 33 059 / I G

I. TUJUAN
 Setelah melakukan percobaan ini kita dapat menentukan laju korosi logam Fe
dan logam Cu.

II. PERINCIAN KERJA


 Membuat larutan garam sebanyak 500 ml dengan menambahkan NaCl 10 gr
kedalam aquadest.
 Membuat larutan garam sebanyak 500 ml dengan menambahkan NaCl 1gr
kedalam aquadest.
III. ALAT yang DIPAKAI
 Gelas kimia 1000 ml 3 Buah

 Jangka Sorong 1 Buah

 Pengaduk 3 Buah

 Selang Karet dan selang kaca 1+1 Buah

 Plat Cu dan Fe 3 Buah

 Kertas Lakmus dan Kartu petunjuk 1+1 Buah

 Tutup Gelas Kimia 3 Buah


IV. BAHAN yang DIGUNAKAN
 NaCl

 Plat Cu dan Fe 3 Buah

 Aquadest
V. Dasar Teori :
Korosi adalah mekanisme dimana logam dan oksigen mencapai kesetimbangan.
Beberapa logam teroksidasi pada laju yang begitu rendah sehingga tidak dapat
dideteksi, tetapi ada juga logam yang terkorosi pada laju yang tinggi. Semua itu

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2005


Korosi Logam
Ishaq
05 33 059 / I G

membutuhkan membutuhkan media ionisasi dan kecepatan korosi akan berubah dengan
kondisi lingkungan.

Mekanisme Korosi :

Korosi dapat terjadi karena adanya sinar, debu, bakteri dan beberapa faktor yang lain.
Tetapi hal ini bukan merupan hal yang utama.dari teori Kimia-elektro dinyatakan bahwa
“Jika suatu logam dimasukkan kedalam suatu elektrolit, maka berat logam akan
berkurang karena korosi”.

Contoh :

 Sepotong besi akan teroksidasi dalam larutan CuSO4


Fe + CuSO4 FeSO4 + Cu

Besi akan teroksidasi oleh tembaga dan membentuk lapisan tipis pada
permukaanya. Lapisan ini disebut “Copper Plating”.

 Jika besi dimasukkan kedalam air murni, maka besi akan terkikis.
2H2 + O2 2H2O

Fe2+ + 2H2O Fe(OH)2 + H2

(Fe logam terkorosi) (Fe2+ larutan terkorosi)

Metal H2 secara perlahan melapisi besi tersebut sebagai lapisan tipis.

Seperti contoh diatas dimana besi yang dimasukkan kedalam air, laju korosinya
dipengaruhi oleh sejumlah oksigen terlarut. Oksigen ini dapat bereaksi dengan dua cara

1. Bergabungnya oksigen dan film hidrogen untuk membuka


permukaan besi yang terlindungi oleh lapisan.
2. Bergabungnya oksigen dan Ferro hidroksida yang terlarut
membentuk Ferry Hidroksida yang terlarut, karena itu Ferry oksida yang terbentuk
lebih banyak.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2005


Korosi Logam
Ishaq
05 33 059 / I G

Kecepatan Korosi :

Kecepatan korosi dapat dihitung dengan menggunakan persamaan :

Wl
Cr 
At

Dimana : Cr = Corrosion rate, oz/ft2day atau gr/m2hari.

Wl = Weigth loss = berat logam terkorosi, oz atau gram

A = Luas Permukaan logam. ft2 atau m2

t = Waktu yang dibutuhkan, day atau hari.

Faktor-faktor yang mempengaruhi Korosi :

Faktor-faktor yang mempengaruhi korosi dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor Primer
yang disebabkan oleh material itu sendiri dan faktor Sekunder yang dipengaruhi oleh
lingkungan (sebab dari luar).

Faktor Primer meliputi :

a. Potensial elektrode dari logam dalam larutan.


b. Kelebihan tegangan dari hidrogen pada logam.
c. Keserbasamaan permukaan logam physic & chemis.
d. Ketahanan dan permeabilitas dari film oksida.

Faktor Sekunder :
 pH

 Fluida korosi yang berdekatan.

 Kecepatan alir dari larutan.

 Kecepatan alir dari larutan.

 Kecendrungan dari lingkungan untuk membentuk film pelindung.

 Temperatur.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2005


Korosi Logam
Ishaq
05 33 059 / I G

 Penekanan (strees)

 Sentuhan dengan metal yang tidak sama atau material lain yang
mempengaruhi korosi yang dilokalisir.
Korosi yang disebabkan oleh pengaruh air garam
Oksigen yaqn terlrut dalam air yang bereaksi dengan hidrogen ditas nya pada
mumnya menembah laju korosi, pengecualian bila suatu metal dan campuranya mempunyai
kethana korosi dengan terbentknya filem oksida pada permuakaannya. Sebagai contoh
untuk hal ini adalah Aluminium dan stainless steel.
Larutan garam akan menambah kecepatan korosi karena penambahan kecepatan
korosi karena penambahan sejumlah ion dan karenaya menambah sifat kelektrolitanya.
VI. PROSEDUR PENGERJAAN
 Mencuci tiga buah plat Cu dan Fe dengan menggunakan HCl pekat. Kemudian
membilasnya dan mengeringkannya didalam oven.
 Setelah dikeringkan kemudian didinginkan.
 Menimbang ke tiga sampel, kemudian mengukur luas permukaan dari sampel.
 Membuat larutan Garam dengan menambahkan NaCl sebanyak 10 gr dalam 500
ml aquadest didalam gelas kimia 1000 ml.
 Membuat larutan Garam dengan menambahkan NaCl sebanyak 1gr dalam 500 ml
aquadest didalam gelas kimia 1000 ml.
 Memasang ke tiga buah sampel masing-masing pada tutup gelas kimia, kemudian
memasukkannya kedalam larutan Garam, dan aquadest
 Membiarkan sistem berjalan sampai 7 hari.
 Mengangkat sampel setelah 7 hari kemudian mencucinya sampai bersih lalu
mengeringkannya didalam oeven.
 Menimbang ketiga sampel kering

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2005


Korosi Logam
Ishaq
05 33 059 / I G

VII. DATA PENGAMATAN


 Tembaga bengkok I untuk pH 4
Ukuran : Tebal = 0,1 cm
Lebar = 1,2 cm
Panjang I = 1,7 cm
Panjang II = 3,5 cm
Panjang keseluruhan = 5,2 cm
Berat awal = 7,8862 gr
Berat akhir = 7,8712 gr
Kehilangan berat = 0,0150 gr

 Tembaga bengkok I untuk pH 7


Ukuran : Tebal = 0,1 cm
Lebar = 1,2 cm
Panjang I = 2,0 cm
Panjang II = 3,4 cm
Panjang keseluruhan = 5,4 cm
Berat awal = 7,1946 gr
Berat akhir = 7,1837 gr
Kehilangan berat = 0,0109 gr

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2005


Korosi Logam
Ishaq
05 33 059 / I G

 Tembaga bengkok I untuk pH 9


Ukuran : Tebal = 0,1 cm
Lebar = 1,2 cm
Panjang I = 1,6 cm
Panjang II = 3,6 cm
Panjang keseluruhan = 5,2 cm
Berat awal = 7,9985 gr
Berat akhir = 7,9746 gr
Kehilangan berat = 0,0239 gr
VIII. PERHITUNGAN
 Menghitung luas permukaan tembaga bengkok
 Untuk logam Tembaga pH 4
A = 2(pxl) + 2(pxt) + 2(lxt)

= 2 ( 5,2 x 1,2 ) cm + 2 (5,2 x 0,1) cm + 2 (1,2 x 0,1 ) cm

= 13,76 cm2

 Untuk logam Tembaga pH 7


A = 2(pxl) + 2(pxt) + 2(lxt)

= 2 ( 5,4 x 1,2 ) cm + 2 (5,4 x 0,1) cm + 2 (1,2 x 0,1 ) cm

= 14,28 cm2

 Untuk logam Tembaga pH 9


A = 2(pxl) + 2(pxt) + 2(lxt)

= 2 ( 5,2 x 1,2 ) cm + 2 (5,2 x 0,1) cm + 2 (1,2 x 0,1 ) cm

= 13,76 cm2

 Menghitung kecepatan korosi

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2005


Korosi Logam
Ishaq
05 33 059 / I G

 Untuk logam pH 4
Dik : W = 0,0150 gr

A = 13,76 cm2

t = 4 hari  96 jam

W 0,0150 gr gr
Laju Korosi = A  t  = 1,13554 x 10-5 cm 2 jam
13,76 cm 2 x 96 jam

 Untuk logam pH 7
Dik : W = 0,0109 gr

A = 14,28 cm2

t = 4 hari  96 jam

W 0,0109 gr gr
Laju Korosi = A  t  = 0,79511 x 10-5 cm 2 jam
14,28 cm 2 x 96 jam

 Untuk logam pH 9
Dik : W = 0,0239 gr

A = 13,76 cm2

t = 4 hari  96 jam

W 0,0239 gr gr
Laju Korosi = A  t  2 = 1,80929 x 10-5 cm 2 jam
13,76 cm x 96 jam

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2005


Korosi Logam
Ishaq
05 33 059 / I G

IX. PEMBAHASAN HASIL PERCOBAAN


Korosi merupakan reaksi kimia antara logam dan lingkungannya yang berakibat
mengalirnya arus listrik. Selain dapat terjadi di air, korosi ini juga dapat terjadi
dilingkungan kering. Keberadaan air dan bahan ionik saling menunjang, arus hanya
dapat diangkut melalui air oleh ion-ion bebas, sementara air menyebabkan terurainya
padatan ionik menjadi ion-ion bebas yang dibutuhkan.

Percobaan ini bertujuan untuk menentukan laju korosi dari logam. Kalaumenutut
teori bahwa larutan yang mempunyai tingkat consentrasi garam tinggi akan
menyebabkan lebih banyak terjadi korosi, sebaliknya larutan dengan sifat garam yang
rendahkorosi yang terjadi lebih sedikit, dan sesuai apa yang di hasilkan dari hasil
pengujian dan pengamatan yang kami lakukan .

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2005


Korosi Logam
Ishaq
05 33 059 / I G

Hasil tingkat korosinya dalam bentuk grafik dapat dilihat sebagai berikut :

X. KESIMPULAN
Setelah melakukan percobaan ini maka kami dapat menyimpulkan bahwa :

gr
 Kecepatan korosi Cu bengkok pada pH 4 = 1,13554 x 10-5
cm 2 jam

gr
 Kecepatan korosi Cu bengkok pada pH 7 = 0,79511 x 10-5
cm 2 jam

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2005


Korosi Logam
Ishaq
05 33 059 / I G

gr
 Kecepatan korosi Cu bengkok pada pH 9 = 1,80929 x 10-5
cm 2 jam

XI. DAFTAR PUSTAKA


 Petunjuk praktikum Kimia Fisika untuk jurusan Teknik Kimia Politeknik
Negeri Ujung Pandang.

Teknik Kimia Politeknik Negeri Makassar 2005