Anda di halaman 1dari 5

Lima Versi Pelaku Peristiwa G30S

Banyak penelitian yang mengungkap bahwa pelaku peristiwa G30S tidak tunggal sebagaimana versi
Orde Baru yang menyebut PKI sebagai satu-satunya dalang di balik peristiwa berdarah itu.

Oleh Randy Wirayudha

Presiden Sukarno menerima Batalyon 454 pada perayaan veteran pembebasan Irian Barat di
Istana Negara, 19 Januari 1963. Di belakang Sukarno Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto dan Mayor
Untung, komandan Batalyon 454.

BEBERAPA kali warganet mention ke akun twitter Historia menyoal mengapa tidak mencantumkan /PKI
pada G30S. Sejak Reformasi, selain penghentian penayangan film Pengkhianatan G30S/PKI, kurikulum
tahun 2004 juga tidak lagi mencantumkan /PKI. Hal ini karena banyak penelitian yang mengungkapkan
bahwa pelaku peristiwa G30S tidak tunggal, sebagaimana versi Orde Baru yang menyebut PKI sebagai
satu-satunya dalang di balik peristiwa berdarah itu.

“Sukarno sendiri dalam Pidato Nawaksara mengatakan bahwa peristiwa G30S merupakan pertemuan
tiga sebab, yaitu pimpinan PKI yang keblinger, subversi nekolim dan oknum yang tidak bertanggung
jawab. Jadi, dalangnya tidak tunggal dan merupakan perpaduan unsur dalam negeri dengan pihak
asing,” kata Asvi Warman Adam, sejarawan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia.

Dari berbagai penelitian, setidaknya ada lima versi tentang pelaku G30S yaitu PKI, konflik internal
Angkatan Darat, Sukarno, Soeharto, dan unsur asing terutama CIA (Dinas Intelijen Amerika Serikat).

PKI
Ini merupakan versi rezim Orde Baru. Literatur pertama dibuat sejarawan Nugroho Notosusanto dan
Ismael Saleh bertajuk Tragedi Nasional Percobaan Kup G30S/PKI di Indonesia (1968). Intinya menyebut
skenario PKI yang sudah lama ingin mengkomuniskan Indonesia. Buku ini juga jadi acuan pembuatan
film Pengkhianatan G30S/PKI garapan Arifin C. Noer.

BACA JUGA: Kekecewaan sutradara Arifin C. Noer terhadap film Pengkhianatan G30S/PKI

Selain itu, rezim Orde Baru membuat Buku Putih yang dikeluarkan oleh Sekretariat Negara dan Sejarah
Nasional Indonesia suntingan Nugroho Notosusanto yang diajarkan di sekolah-sekolah semenjak
Soeharto berkuasa. Oleh karena itu, versi Orde Baru ini mencantumkan “/PKI” di belakang G30S. Para
pelaku sendiri menamai operasi dan menyebutkannya dalam pengumuman resmi sebagai “Gerakan 30
September” atau “G30S”.

Sebagai bagian dari propaganda Orde Baru, gerakan ini pernah disebut sebagai Gestapu (Gerakan
September Tigapuluh). Penamaan ini adalah bagian dari propaganda untuk mengingatkan orang kepada
Gestapo, polisi rahasia Nazi Jerman yang terkenal kejam. Presiden Sukarno mengajukan penamaan
menurut versinya sendiri, yakni “Gerakan Satu Oktober” atau “Gestok.” Menurutnya, Gestok jauh lebih
tepat menggambarkan peristiwanya karena kejadian penculikan para jenderal dilakukan lewat tengah
malam 30 September yang artinya sudah memasuki tanggal 1 Oktober dini hari.

Penyebutan G30S/PKI sebagai bagian propaganda untuk menegaskan bahwa satu-satunya dalang di
balik peristiwa penculikan dan pembunuhan para jenderal Angkatan Darat adalah PKI. Penamaan
peristiwa ini selama bertahun-tahun digunakan dalam pelajaran sejarah sebagai satu-satunya versi yang
ada. Penamaan tersebut menutup kemungkinan munculnya versi lain yang memiliki sudut pandang
berbeda atas peristiwa yang terjadi. Kesimpulan tersebut diambil tanpa terlebih dahulu melewati
sebuah penyelidikan.

Sejarawan John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal: Gerakan 30 September dan Kudeta
Suharto mengemukakan bahwa PKI sama sekali tidak terlibat secara kelembagaan. Sebagaimana
semestinya sebuah keputusan resmi partai yang harusnya diketahui oleh semua pengurus, rencana
gerakan Untung hanya diketahui oleh segelintir orang saja. Struktur kepengurusan partai mulai dari
Comite Central (CC) sampai dengan Comite Daerah Besar (CDB) tak mengetahui sama sekali adanya
rencana itu.

BACA JUGA: Meringkus Brigjen Supardjo di hari lebaran

“Karena dia (Roosa) menggunakan sumber-sumber yang sangat kuat. Misalnya, keterangan pengakuan
Iskandar Subekti, orang yang menulis pengumuman-pengumuman G30S di (Pangkalan) Halim. Dia juga
menggunakan keterangan pengakuan Brigjen Supardjo. Artinya orang-orang yang betul-betul terlibat
secara meyakinkan dalam kejadian tanggal 30 September 1965 sampai paginya itu,” kata Asvi.

Konflik Internal Angkatan Darat

Sejarawan Cornell University, Benedict ROG Anderson dan Ruth McVey mengemukakan dalam A
Preliminary Analysis of the October 1 1965, Coup in Indonesia atau dikenal sebagai Cornell Paper (1971),
bahwa peristiwa G30S merupakan puncak konflik internal Angkatan Darat.

BACA JUGA: Ben Anderson, pakar Asia Tenggara penutur banyak bahasa
Dalam Army and Politics in Indonesia (1978), sejarawan Harold Crouch mengatakan, menjelang tahun
1965, Staf Umum Angkatan Darat (SUAD) pecah menjadi dua faksi. Kedua faksi ini sama-sama anti-PKI,
tetapi berbeda sikap dalam menghadapi Presiden Sukarno.

Kelompok pertama, “faksi tengah” yang loyal terhadap Presiden Sukarno, dipimpin Letjen TNI Ahmad
Yani, hanya menentang kebijakan Sukarno tentang persatuan nasional karena PKI termasuk di dalamnya.
Kelompok kedua, “faksi kanan” bersikap menentang kebijakan Ahmad Yani yang bernafaskan
Sukarnoisme. Dalam faksi ini ada Jenderal TNI A.H. Nasution dan Mayjen TNI Soeharto.

Peristiwa G30S yang berdalih menyelamatkan Sukarno dari kudeta Dewan Jenderal, sebenarnya
ditujukan bagi perwira-perwira utama “faksi tengah” untuk melapangkan jalan bagi perebutan
kekuasaan oleh kekuatan sayap kanan Angkatan Darat. Selain mendukung versi itu, W.F. Wertheim
menambahkan, Sjam Kamaruzaman yang dalam Buku Putih terbitkan Sekretariat Negara disebut sebagai
Kepala Biro Chusus Central PKI adalah “agen rangkap” yang bekerja untuk D.N. Aidit dan Angkatan
Darat.

BACA JUGA: Alasan Sarwo Edhie Memimpin Operasi Pembunuhan Massal PKI

Sukarno

Setidaknya ada tiga buku yang menuding Presiden Sukarno terlibat dalam peristiwa G30S: Victor M.
Fic, Anatomy of the Jakarta Coup, October 1, 1965 (2004); Antonie C.A. Dake, The Sukarno File, 1965-67:
Chronology of a Defeat (2006) yang sebelumnya terbit berjudul The Devious Dalang: Sukarno and So
Called Untung Putsch: Eyewitness Report by Bambang S. Widjanarko (1974); dan Lambert
Giebels, Pembantaian yang Ditutup-tutupi, Peristiwa Fatal di Sekitar Kejatuhan Bung Karno.

Menurut Asvi ketiga buku tersebut “mengarah kepada de-Sukarnoisasi yaitu menjadikan presiden RI
pertama itu sebagai dalang peristiwa Gerakan 30 September dan bertanggung jawab atas segala
dampak kudeta berdarah itu.”

BACA JUGA: Maulwi Saelan bersaksi bahwa Sukarno tak terlibat G30S

Ketika buku Dake terbit di Indonesia dengan judul Sukarno File (2005), keluarga Sukarno protes keras
dan menyebutnya sebagai pembunuhan karakter terhadap Sukarno. Untuk menyanggah buku-buku
tersebut, Yayasan Bung Karno menerbitkan buku Bung Karno Difitnah pada 2006. Cetakan kedua
memuat bantahan dari Kolonel CPM Maulwi Saelan, wakil komandan Resimen Tjakrabirawa.

Soeharto

Komandan Brigade Infanteri I Jaya Sakti Komando Daerah Militer V, Kolonel Abdul Latief dalam Pledoi
Kolonel A. Latief: Soeharto Terlibat G30S (1999) mengungkapkan bahwa dia melaporkan akan adanya
G30S kepada Soeharto di kediamannya di Jalan Haji Agus Salim Jakarta pada 28 September 1965, dua
hari sebelum operasi dijalankan.

Bahkan, empat jam sebelum G30S dilaksanakan, pada malam hari 30 September 1965, Latief kembali
melaporkan kepada Soeharto bahwa operasi menggagalkan rencana kudeta Dewan Jenderal akan
dilakukan pada dini hari 1 Oktober 1965. Menurut Latief, Soeharto tidak melarang atau mencegah
operasi tersebut.

BACA JUGA: Setelah peristiwa G30S, Soeharto tak kunjung pulang, Ibu Tien bikin sesajen
Menurut Asvi, fakta bahwa Soeharto bertemu dengan Latief dan mengetahui rencana G30S namun tidak
melaporkannya kepada Ahmad Yani atau AH Nasution, menjadi titik masuk bagi analisis “kudeta
merangkak” yang dilakukan oleh Soeharto. Ada beberapa varian kudeta merangkak, antara lain
disampaikan oleh Saskia Wierenga, Peter Dale Scott, dan paling akhir Soebandrio, mantan kepala Badan
Pusat Intelijen (BPI) dan menteri luar negeri.

Dalam Kesaksianku tentang G30S (2000) Soebandrio mengungkapkan rangkaian peristiwa dari 1
Oktober 1965 sampai 11 Maret 1966 sebagai kudeta merangkak yang dilakukan melalui empat tahap:
menyingkirkan para jenderal pesaing Soeharto melalui pembunuhan pada 1 Oktober 1965;
membubarkan PKI, partai yang memiliki anggota jutaan dan pendukung Sukarno; menangkap 15
menteri yang loyal kepada Presiden Sukarno; dan mengambilalih kekuasaan dari Sukarno.

CIA

Sebagai konsekuensi dari Perang Dingin tahun 1960-an, Amerika Serikat dan negara-negara Barat seperti
Australia, Inggris, dan Jepang berkepentingan agar Indonesia tidak jatuh ke tangan komunis. Amerika
Serikat menyiapkan beberapa opsi terkait situasi politik di Indonesia.

Menurut David T. Johnson dalam Indonesia 1965: The Role of the US Embassy, opsinya adalah
membiarkan saja, membujuk Sukarno beralih kebijakan, menyingkirkan Sukarno, mendorong Angkatan
Darat merebut pemerintahan, merusak kekuatan PKI dan merekayasa kehancuran PKI sekaligus
menjatuhkan Sukarno. Opsi terakhir yang dipilih.

BACA JUGA: Soeharto menugaskan seorang jenderal untuk meminta bantuan CIA

Keterlibatan Amerika Serikat melalui operasi CIA (Dinas Intelijen Amerika Serikat) dalam peristiwa G30S
telah terang benderang diungkap berbagai sumber. Peter Dale Scott, profesor dari University of
California, menulis US and the Overthrow of Sukarno 1965-1967 yang diterbitkan dengan judul CIA dan
Penggulingan Sukarno (2004). Menurut Dale, CIA membangun relasi dengan para perwira Angkatan
Darat dalam Seskoad (Sekolah Staf Komando Angkatan Darat). Salah satu perwiranya adalah Soeharto.

Sumber lain Di Balik Keterlibatan CIA: Bung Karno Dikhianati (2001) karya wartawan Belanda Willem
Oltmans. Juga buku Bung Karno Menggugat: Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal ’65 hingga
G30S (2006) karya sejarawan Baskara T. Wardaya.

Sejarawan John Roosa juga mengungkap bahwa pada akhir 1965 Amerika Serikat memberikan perangkat
komunikasi radio lapangan yang sangat canggih ke Kostrad. Antenanya dipasang di depan markas besar
Kostrad. Wartawan investigasi, Kathy Kadane dalam wawancaranya dengan para mantan pejabat tinggi
Amerika Serikat di akhir 1980-an menemukan bahwa Amerika Serikat telah memantau komunikasi
Angkatan Darat melalui radio-radio tersebut.

BACA JUGA: Benarkah Adam Malik agen CIA?

CIA memastikan frekuensi-frekuensi yang akan digunakan Angkatan Darat sudah diketahui oleh National
Security Agency (Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat). NSA menyadap siaran-siaran radio itu di
suatu tempat di Asia Tenggara, dan sesudah itu para analis menerjemahkannya. Hasil sadapan itu
kemudian dikirim ke Washington. Dengan demikian Amerika Serikat memiliki detil bagian demi bagian
laporan tentang penyerangan Angkatan Darat terhadap PKI, misalnya, mendengar “komando-komando
dari satuan-satuan intelijen Soeharto untuk membunuh tokoh-tokoh tertentu di tempat-tempat
tertentu.”

Amerika Serikat juga memberikan bantuan dana sebesar Rp50 juta (sekitar $10.000) untuk membiayai
kegiatan KAP (Komite Aksi Pengganyangan Gerakan September Tiga Puluh) Gestapu. Selain itu, CIA juga
memberikan daftar nama-nama tokoh PKI kepada Angkatan Darat

Anda mungkin juga menyukai