Anda di halaman 1dari 9

ISSN : 2580-0078 Vol. 2 No.

2 (Oktober, 2018)

IMPLEMENTASI RENCANA STRATEGIS PELAYANAN


KEPERAWATAN DALAM PERSPEKTIF KEPEMIMPINAN KEPALA
RUANGAN BERBASIS BUDAYA ORGANISASI DI RUMAH SWASTA
(Implementation Of Strategic Planning For Nursing Services In The
Leadership Perspective Of The Head Of Room Based On Organizational
Culture In Private General Hospital)
M. Saubari Azhar N., Wahyudin, Machli Riyadi
Universitas Muhammadiyah Banjarmasin
Program Studi Magister Keperawatan

Email : muhammadsaubari1@gmail.com

ABSTRAK

Budaya organisasi yang didalamnya terdapat hubungan antara manusia dapat menyebabkan
mengapa suatu strategi dapat diimplementasikan pada suatu rumah sakit. Kepemimpinan sebagai
salah satu aspek hubungan antar manusia sangat menentukan rencana strategis yang menurut
yunus (2016) secara teknis kurang sempurna jika diimplementasikan dengan baik, maka akan
didapat hasil yang lebih baik dibandingkan dengan rencana strategis yang sempurna namun
hanya diatas kertas. Penelitian ini menggunakan studi etnografi untuk mengeksplorasi
implementasi rencana strategis pelayanan keperawatan dalam perspektif kepemimpinan kepala
ruangan berbasis budaya organisasi di Rumah Sakit Bunga Kota Citra. Pengambilan data
menggunakan indepth interview, observasi, dan dokumentasi. Fokus penelitian ini terbagi menjadi
subfokus prosedur, personalia, strategi atau metode, penataan staff, pengarahan, gaya
kepemimpinan, nilai, asumsi, artefak, dan ritual. Hasil penelitian ini menunjukan budaya organisasi
kurang kondusif disebabkan oleh anggota yang hanya menunggu instruksi dari pimpinan
mengakibatkan kepemimpinan kepala ruangan bergaya administrator. Sedangkan implementasi
rencana strategis tergantung kepada bagaimana sumber daya manusia yang ada di rumah sakit
itu menjalankannya terutama bagaimana kepemimpinannya.

Kata kunci: Implementasi rencana strategis, Kepemimpinan kepala ruangan, budaya organisasi.

ABSTRACT

Organizational culture in which there is a relationship between humans can cause why a strategy
can be implemented in a hospital. Leadership as one aspect of human relations determines a
strategic plan which, according to Yunus (2016), is technically imperfect if implemented properly, it
will get better results compared to a perfect strategic plan but only on paper. This study uses
ethnographic studies to explore the implementation of the strategic plan of nursing services in the
perspective of the leadership of the head of the room based on organizational culture at Bunga
Kota Citra Hospital. Data retrieval uses indepth interviews, observations, and documentation. The
focus of this research is divided into subfocus procedures, personnel, strategies or methods, staff
structuring, direction, leadership style, values, assumptions, artifacts, and rituals. The results of this
study indicate that the organizational culture is less conducive due to members who are just
waiting for instructions from the leadership resulting in the leadership of the head of the room in
administrator style. Whereas the implementation of the strategic plan depends on how the human
resources in the hospital carry it out, especially how the leadership.

Key words: Implementation of strategic plans, leadership of the head of the room, organizational
culture.

journal.umbjm.ac.id/index.php/caring-nursing 51
ISSN : 2580-0078 Vol. 2 No. 2 (Oktober, 2018)

PENDAHULUAN strategis yang dimiliki, namun lebih disebabkan


Budaya sebagai identitas rumah sakit ini dapat karena efektivitas perusahaan dalam
menyebabkan mengapa suatu strategi dapat mengimplementasikan rencana strategis tersebut.
diimplementasikan pada suatu rumah sakit, (Yunus, 2016)
sedangkan pada rumah sakit lain gagal
diimplementasikan, kendati kedua rumah sakit Berdasarkan wawancara dengan Kabid
tersebut menghadapi kondisi yang relatif sama. keperawatan di Rumah Sakit Bunga mengatakan
Menurut Robbins (2010) makin banyak anggota yang bahwa rencana strategis sudah kami buat dan sudah
menerima nilai–nilai inti yang dianut rumah sakit dan ada beberapa yang kami implementasikan hanya saja
merasa sangat terikat padanya, maka akan semakin kadang terkendala dengan beberapa kepala ruangan
kuat budaya tersebut. Oleh karena itu dapat dikatakan yang tidak memahami implementasi rencana strategis
bahwa jika implementasi suatu strategi akan tersebut karena pendidikannya masih diploma. Dia
mengakibatkan suatu perubahan, dan langkah– mengatakan bahwa kami sudah berusaha agar
langkah untuk melakukan perubahan tersebut dalam Rumah Sakit bunga mempunyai beberapa strategi
praktiknya tidak sesuai dengan budaya rumah sakit yang membuatnya mampu bersaing dengan rumah
tersebut, maka ada kemungkinan akan timbul sakit lain tetapi kadang rencana tersebut terkendala
penolakan atau hambatan– hambatan. Karena itulah diatasan atau bawahan yang tidak paham dan mau
Hidayat (2016) dalam penelitiannya menempatkan melaksanakannya.
faktor budaya organisasi sebagai faktor yang paling
dominan mempengaruhi implementasi rencana Sedangkan wawancara dengan salah satu kepala
strategis di rumah sakit. ruangan di Rumah Sakit Bunga mengatakan bahwa
mereka terkendala dengan pemahaman yang kurang
Kepemimpinan sebagai salah satu indikator dari ilmu manajemen karena pendidikan mereka yang
kualitas sumber daya manusia dalam masih D3, sehingga membuat mereka sulit untuk
hubungannya dengan hubungan antar manusia melaksanakan rencana strategis yang telah dijelaskan
merupakan faktor yang sangat menentukan oleh kabid keperawatan. Padahal mereka ini adalah
pimpinan yang akan mengatur bagaimana
keberhasilan suatu organisasi seperti rumah
implementasi rencana strategis tersbut berjalan di
sakit. Banyaknya rumah sakit yang berdiri bawahnya lagi.
membuat kepemimpinan sebagai salah satu
indikator kualitas tersebut dihadapkan pada Kepemimpinan kepala ruangan Pelayanan
tantangan persaingan dengan rumah sakit lain keperawatan di Rumah Sakit Bunga ini terdapat
yang juga menyediakan jasa pelayanan realitas keberagaman yang kompleks dengan
kesehatan bagi masyarakat, baik rumah sakit identitas islamnya. Ini seharusnya menjadi ciri
milik pemerintah maupun milik swasta. khas yang berbeda dengan pelayanan
Persaingan tersebut menuntut rumah sakit harus keperawatan di Rumah Sakit yang lainnya.
memiliki keunggulan kompetitif untuk dapat Dalam hal ini lebih spesifik peneliti tertarik untuk
menjadi pilihan utama bagi masyarakat yang melakukan penelitian implementasi rencana
membutuhkan pelayanan kesehatan. strategis pelayanan keperawatan dalam
Kemampuan dalam menciptakan keunggulan perspektif kepemimpinan kepala ruangan
kompetitif ini pada akhirnya membuat tantangan berbasis budaya organisasi di Rumah Sakit
rumah sakit untuk mempunyai rencana strategis Bunga.
yang lebih baik.
METODE PENELITIAN
Rencana strategis yang secara teknis kurang Penelitian ini menggunakan studi kualitatif
sempurna jika diimplementasikan dengan baik, maka dengan pendekatan etnografi untuk mengeksplorasi
akan didapat hasil yang lebih baik dibandingkan implementasi rencana strategis pelayanan
dengan rencana strategis yang sempurna namun keperawatan dalam perspektif kepemimpinan kepala
hanya di atas kertas. Hal ini didukung sebuah hasil ruangan berbasis budaya organisasi pada salah satu
penelitian pada 31 industri manufaktur dimana Rumah Sakit di Kalimantan. Pengambilan data
hasilnya menunjukkan bahwa kinerja yang diperoleh menggunakan indepth interview, observasi, dan
perusahaan tidak sekedar ditentukan oleh rencana dokumentasi. Fokus penelitian ini terbagi menjadi

journal.umbjm.ac.id/index.php/caring-nursing 52
ISSN : 2580-0078 Vol. 2 No. 2 (Oktober, 2018)

subfokus prosedur, personalia, strategi atau metode, atau yang sudah lama bekerja disana tidak
penataan staff, pengarahan, gaya kepemimpinan, sesuai dengan junior yang melakukan kesalahan
nilai, asumsi, artefak, dan ritual. Pemilihan dan sampai akhirnya hukuman terberatnya
penentuan jumlah sumber data tidak hanya diberhentikan. Sedangkan pengambilan
didasarkan pada banyaknya responden, tetapi lebih
keputusan sangat bergantung kepada pimpinan
dibandingkan pada pemenuhan kebutuhan data,
sehingga sumber data di lapangan bisa berubah- diatasnya.
rubah sesuai dengan kebutuhan.
Gaya kepemimpinan tipe ini terkesan kurang
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN inovatif dan telalu kaku pada aturan, sikapnya
Analisis diperoleh dari hasil wawancara pada konservatif serta kelihatan sekali takut dalam
peneitian ini yang berfokus pada implementasi mengambil risiko dan mereka cenderung
rencana strategis, budaya organisasi, dan mencari aman. Model kepemimpinan seperti ini
kepemimpinan kepala ruangan prosedur. Fokus ini jika mengacu kepada analisis perubahan, hanya
terbagi lagi menjadi subfokus personalia, strategi atau cocok pada situasi Continuation, Routine
metode, penataan staff, pengarahan, gaya
change, serta Limited change. Continuation
kepemimpinan, nilai, asumsi, artefak, dan ritual
implementasi rencana strategis pelayanan adalah pola yang terjadi karena rumah sakit
keperawatan. mengulangi strategi yang sama dengan strategi
yang digunakan pada periode sebelumnya, tidak
Fokus 1: Kepemimpinan banyak membutuhkan kemampuan atau aktivitas
Kepemimpinan Kepala Ruangan di Rumah yang baru. Rutine change adalah perubahan
sakit dalam penelitian ini memiliki gaya yang dilakukan rumah sakit dalam teknik
kepemimpinan administrator. Kekuasaan dan marketingnya agar pasien lebih terpikat, tetapi
wewenang sebagian besar tetap berada pada tidak ada perubahan yang signifikan pada rumah
pimpinan. Penerimaan keluhan dan saran tetap sakit. Limted change adalah perubahan yang
diterima tapi dipilih lagi yang mana yang lebih dilakukan karena rumah sakit menawarkan
prioritas oleh atasan jika tidak prioritas maka sesuatu yang baru, maka ini akan membuat
saran belum bisa diterima. Pendiskusian format organisasi akan sedikit berubah.
masalah jarang dilakukan karena para bawahan (Yunus, 2016)
sebagian besar cenderung diam, walaupun
sering dilibatkan. Pemberian toleransi berlebihan Gaya kepemimpinan ini membuat pelayanan
kepada senior atau yang sudah lama bekerja keperawatan Rumah Sakit dalam penelitian ini
disana tidak sesuai dengan junior yang masih mengikuti periode sebelumnya saja.
melakukan kesalahan sampai akhirnya hukuman Padahal sekarang ini, setiap pemimpin harus
terberatnya diberhentikan. Sedangkan siap dan dituntut mampu untuk melakukan
pengambilan keputusan sangat bergantung transformasi terlepas pada gaya kepemimpinan
kepada pimpinan diatasnya. apa yang mereka anut. Pemimpin harus mampu
mengelola perubahan, termasuk di dalamnya
Kepemimpinan Kepala Ruangan di Rumah mengubah budaya organiasi yang belum sesuai
Sakit ini memiliki gaya kepemimpinan dengan visi misi organisasi. Pemimpin harus
administrator. Kekuasaan dan wewenang mempunyai visi yang tajam, pandai mengelola
sebagian besar tetap berada pada pimpinan. keragaman dan mendorong terus proses
Penerimaan keluhan dan saran tetap diterima pembelajaran karena dinamika perubahan
tapi dipilih lagi yang mana yang lebih prioritas lingkungan serta persaingan yang semakin ketat.
oleh atasan jika tidak prioritas maka saran belum (Yunus, 2016)
bisa diterima. Pendiskusian masalah jarang
dilakukan karena para bawahan sebagian besar Menurut Sirait, dkk (2017), Sukandi (2016)
cenderung diam, walaupun sering dilibatkan. dalam jurnalnya tentang gaya kepemimpinan
Pemberian toleransi berlebihan kepada senior mempengaruhi kinerja karyawan. Jika gaya

journal.umbjm.ac.id/index.php/caring-nursing 53
ISSN : 2580-0078 Vol. 2 No. 2 (Oktober, 2018)

kepemimpinan ini baik maka akan berbanding dokumen dan lain-lain. Ini disebabkan karena
lurus dengan kinerja karyawan. Hasil penelitian mereka pun belum terpapar tentang
ini mendukung hasil penelitian yang telah pengetahuan itu. Pendidikan yang seharusnya
dilakukan sebelumnya oleh Tampi (2014) memang didik untuk kerja dilapangan saja,
dengan judul Pengaruh Gaya Kepemimpinan sangat mempengaruhi hal tersebut. Oleh sebab
Dan Motivasi Terhadap Kinerja Karyawan pada itulah penting bagaimana seharusnya
PT. Bank Negara Indonesia, TBK (Regional manajemen memikirkan hal ini karena mau tidak
Sales Manado). Dimana gaya kepemimpinan mau mereka dituntut untuk bisa memikirkan dari
berpengaruh positif terhadap kinerja, baik secara hal terbesar sampai hal terkecil diruangan.
simultan maupun secara parsial. (Tampi, 2014) Semua itu jika tidak dilakukan maka menurut
Ini membuktikan jika gaya kepemimpinan kurang Sechein (2010) mereka akan tetap melakukan
baik maka akan berdampak dengan pimpinan kesenangan mereka yang menghasilkan asumsi
yang dibawahnya dengan kinerja yang kurang yang negatif tadi.
baik juga.
Nilai-nilai yang berhubungan dengan
Fokus 2: Budaya Organisasi Implementasi Renstra Pelayanan Keperawatan
Artefak yang berhubungan dengan Rumah sakit dalam penelitian ini adalah nilai
Implementasi Renstra Pelayanan Keperawatan kebersamaan. Kerjasama dan koordinasi yang
Rumah sakit dalam penelitian ini adalah kuat antara informan membuat mereka
ditemukannya Standar Prosedur Operasional mempunyai nilai kebersamaan yang cukup
(SPO), wewenang, tugas pokok, tanggung tinggi. Bahkan koordinasi ini juga bisa dilakukan
jawab, renstra, dan job description. Semua ini melalui what’s app. Terbukti dengan
dibuat untuk kepentingan akreditasi rumah sakit. terlaksannya rapat rutin mereka setiap bulan.
Setelah membuat semua dokumen tersebut Nilai keagresifan dan keberanian dalam tindakan
disosialisasikan sesuai implementasi rencana berisiko serta nilai inovatif hanya sebatas
strategis yang telah dibuat bekerja sama dengan mengikuti instruksi dari pimpinan diatasnya.
semua komponen rumah sakit. Sedangkan Nilai keinisiatifan juga masih
tergantung kepada instruksi dari pimpinan
Menurut Schein (2010), Artefak merupakan diatasnya dengan memberikan peluang kepala
hasil budaya yang kasat mata dan mudah ruangan mengelola ruangannya sendiri.
diobservasi oleh seseorang atau kelompok orang
baik dalam maupun orang luar organisasi. Qurtubi (2016) dalam jurnalnya yang
Berikut ini adalah contoh artefak dalam berjudul perancangan dan pengukuran kinerja
implementasi rencana strategis pelayanan program inisiatif perspektif proses bisnis internal,
keperawatan Rumah Sakit Bunga Kota Citra mengatakan bahwa nilai-nilai inisiatif ini
yang masuk kategori fisik seperti logo Rumah berpengaruh terhadap kemajuan dan target
Sakit Bunga Kota Citra , bentuk bangunan/ perusahaan. Berdasarkan monitoring dan
dekorasi, cara berpakaian /tampilan seseorang, evaluasi program-program inisiatif nilai key
tata letak (layout) bangunan, desain organisasi., performance indikator berklasifikasi baik
visi misi, program kerja, dan format askep. sehingga target perusahaan berpotensi akan
tercapai. Ini sejalan juga dengan Dessler (2006)
Berdasarkan studi observasi ternyata menyatakan bahwa pendidikan dan latihan,
artefak implementasi rencana strategis ini baru inisiatif, dan pengalaman kerja mencerminkan
ada setelah proses akreditasi terdahulu. Padahal ketrampilan kerja karyawan. Pernyataan tersebut
peniggalan ini pun merupakan bagian yang dibuktikan oleh (Ranupandoyo dan Husnan
penting dalam membentuk suatu budaya 2002) yang menyatakan bahwa kemampuan
organisasi. Artefak ini baru ada karena mereka kerja identik dengan ketrampilan kerja (skill)
belum mengetahui tentang harus adanya

journal.umbjm.ac.id/index.php/caring-nursing 54
ISSN : 2580-0078 Vol. 2 No. 2 (Oktober, 2018)

yang terbentuk dari pendidikan dan latihan, merasakan. Asumsi dasar seperti sebuah teori
inisiatif serta pengalaman kerja. yang digunakan, tidak dapat didebatkan, dan
sulit untuk dirubah. (Schein, 2010)
Hendry (2014) mengatakan bahwa modal
budaya penelitian ini dari semula sudah tumbuh Berdasarkan teori itulah asumsi ini juga
dalam masyarakat, tapi terjadi secara sporadis penting untuk diperhatikan di implementasi
sebagai tradisi yang diwariskan secara turun pelayanan keperawatan Rumah Sakit Bunga
temurun, Ketika terjadinya konflik sosial, maka Kota Citra . Asumsi ini membuat mereka merasa
terjadi upaya penguatan atau revitalisasi modal dan berpikir sesuai asumsi tersebut menurut
budaya tersebut menjadi modal sosial terjadinya schein (2010). Ini lah yang mempuat penting
integrasi sosial dalam masyarakat. Ini juga untuk diperhatikan. Menurut Beer (2000) Asumsi
diperkuat dalam jurnal arif (2016) dengan judul dasar (basic assumption), merupakan bagian
analisis faktor integrasi sosio-kultural-historis penting dari budaya organisasi. Asumsi ini
pada masyarakat multikultural yang mengatakan merupakan reaksi yang dipelajari yang bermula
bahwa salah satu faktor integrasi adalah dari nilai-nilai yang didukung karena merupakan
persahabatan yang terus menerus. keyakinan yang dianggap sudah ada oleh
anggota suatu organisasi seperti kepercayaan,
Dalam jurnal Hafizh (2016) dengan judul persepsi ataupun perasaan yang menjadi
inovasi pelayanan public, studi deskriptif tentang sumber nilai dan tindakan. (Beer, 2000) Budaya
penerapan layanan e-health dalam organisasi tingkat ketiga ini menetapkan cara
meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan di yang tepat untuk melakukan sesuatu dalam
puskesmas pucangsewu kota Surabaya sebuah organisasi yang seringkali dilakukan
menyatakan bahwa inovasi akan membentuk lewat asumsi yang tidak diucapkan. (Beer, 2000)
pelayanan public yang baik. Sejalan dengan
Anggraeny (2013) dengan judul inovasi Ritual dalam implementasi rencana strategis
pelayanan kesehatan dalam meningkatkan pelayanan keperawatan di Rumah sakit dalam
kualitas pelayanan di puskesmas jagir kota penelitian ini dimulai dari mendoakan secara
Surabaya menyatakan bahwa inovasi ini sangat menyeluruh ke semua orang yang ada di Rumah
penting untuk meningkatkan kualitas pelayanan sakit dalam penelitian ini. Kemudian dilanjutkan
di puskesmas jagir kota surabaya. untuk masuk ke ruangan-ruangan rawat inap
untuk memberikan nasehat. cara bagaimana
Asumsi yang berhubungan dengan rohaniawan mengajarkan ibadah untuk orang
Implementasi Renstra Pelayanan Keperawatan sakit adalah ciri khas dan membuat pasien haru
Rumah sakit dalam penelitian ini adalah karena tidak pernah ada di Rumah Sakit lain.
pekerjaan masih belum semuanya didasarkan Fungsi rohaniawan yang kedua adalah
pada Standar Prosedur Operasional (SPO) tapi pelayanan untuk karyawan yang dirasa sangat
pada kebiasaan dulu yang ada, program kerja sulit karena terhalang oleh tidak setujunya
berdasarkan mutu yang dalam hal ini akreditasi, pimpinan dan karyawan itu sendiri dalam
dan sebagian besar bekerja untuk kepentingan melakukan pembaharuan.
pribadi. Asumsi mereka pada keperluan
akreditasi untuk meningkatkan mutu Rumah Berdasarkan studi dokumentasi ternyata
Sakit merupakan semangat mereka untuk Rumah Sakit Bunga Kota Citra ini adalah rumah
merubah Rumah Sakit ke arah lebih baik. sakit yang didirikan oleh organisasi
Muhammadiyah. Organisasi ini adalah organisasi
Asumsi dasar bisa dikatakan asumsi yang Islam tertua yang terang-terangan bertujuan
tersirat yang membimbing bagaimana organisasi menciptakan Islam yang sebenar-benarnya.
bertindak, dan berbagi kepada anggota Maka dari itu pantaslah Rumah Sakit Bunga
bagiamana mereka melihat, berfikir, dan Kota Citra ini berasaskan Islam sesuai

journal.umbjm.ac.id/index.php/caring-nursing 55
ISSN : 2580-0078 Vol. 2 No. 2 (Oktober, 2018)

pendirinya, ritual-ritual Islam pun berdasarkan program dan menyusun anggaran. Di pelayanan
wawancara dan studi observasi mereka keperawatan Rumah Sakit Bunga Kota Citra ini
dibimbing oleh rohaniawan yang beragama Islam belum terlalu memperhatikan pembuatan
dengan doa sebelum melakukan kegiatan, shalat prosedur sebelum melakukan sosialisasi. Tetapi
berjamaah, dan memperingati hari-hari besar mereka langsung melakukan sosialisasi tentang
Islam. Ritual ini sesuai menurut Robbins (2010) program tersebut dan melakukan pelatihan
ritual adalah tatacara pertemuan, terencana dan tentang program tersebut baik itu pelatihan dari
spontan, yang diadakan untuk merayakan luar maupun dari dalam sehingga ini pun
peristiwa penting dan pencapaian kinerja tinggi. menyangkut anggaran yang sering
Ritual ini terus dikembangkan oleh informan dikoordinasikan dengan bagian pelatihan Rumah
sehingga tidak hanya pasien sasarannya tetapi Sakit Bunga Kota Citra. Memang tidak ditemukan
karyawan dan pimpinan. Hal ini dilakukan untuk anggaran dalam implementasi rencana strategis
mencapai tujuan dari muhammadiyah itu sendiri pelayanan keperawatan ini karena untuk
dengan harapan dari kegiatan-kegiatan tersebut anggaran biasanya pelayanan keperawatan
kinerja karyawan akan lebih tinggi. Tetapi berkoordinasi langsung dengan atasan dan
setelah program kerja diajukan ke tingkat bagian lain menyangkut itu.
pimpinan masih belum bisa disetujui dengan
alasan belum siap menerima perubahan itu. Penataan Staff dalam Implementasi Renstra
Pelayanan Keperawatan Rumah Sakit Bunga
Fokus 3 Implementasi rencana strategis Kota Citra yaitu memberikan pelatihan kepada
Prosedur dan langkah-langkah implementasi para staff. Pendidikan belum merupakan hal
rencana strategis pelayanan keperawatan di yang utama dalam mengangkat kepala ruangan,
Rumah Sakit Bunga Kota Citra ini terdiri dari 4 berdasarkan studi dokumentasi kepala ruangan
tahapan yang meliputi pertama menjelaskan boleh berpendidikan D3. Sedangkan pada
rencana strategis apa yang akan dilakukan; diploma tiga ini belum ada pengetahuan tentang
kedua menjelaskan kepada siapa rencana manajemen yang menjadi dasar implementasi
strategis ini ditunjukan; ketiga membuat rencana strategis pelayanan keperawatan.
prosedur tentang rencana strategis tersebut;
keempat disusunlah anggaran sesuai program Ini membuat penataan staff pelayanan
yang akan dijalankan tersebut. keperawatan ini adalah hanya memberikan
pelatihan kepada staff-staff.
Personalia yang terlibat dalam Implementasi
Renstra Pelayanan Keperawatan Rumah Sakit Pengarahan dalam Implementasi Renstra
Bunga Kota Citra yaitu manajer tingkat bawah Pelayanan Keperawatan Rumah Sakit Bunga
kepala ruangan dan fungsionalnya ketua tim, Kota Citra yaitu kepemimpinan dari pihak
perawat pelaksana, prakarya, dan cleaning manajemen. Sebagian besar informan masih
service. Semua komponen dan pembantu berpendidikan D3 yang belum terlalu memahami
pelayanan keperawatan ini dilibatkan dalam proses manajemen. Kepala ruangan banyak
implementasi rencana strategis, tapi tetap yang hanya mengikuti instruksi dari pimpinan
berkoordinasi dengan bidang-bidang lain dalam diatasnya tanpa mengetahui fungsi kenapa jadi
pembuatan rencana strategis pelayanan instruksi itu ada.
keperawatan ini. Bidang tersebut yang
disebutkan adalah bidang pelatihan di Rumah Dalam yunus (2016) ternyata yang menjadi
Sakit Bunga Kota Citra. masalah dalam implementasi rencana strategis
ini adalah budaya organisasi SDM yang terlibat
Strategi dan metode dalam Implementasi dalam implementasi strategi hanya mengikuti
Renstra Pelayanan Keperawatan Rumah Sakit periode sebelumnya. Sejalan dengan penelitian
Bunga Kota Citra yaitu mengembangkan ini ternyata pendidikan untuk orang-orang yang

journal.umbjm.ac.id/index.php/caring-nursing 56
ISSN : 2580-0078 Vol. 2 No. 2 (Oktober, 2018)

menjalankan implementasi rencana strategis manajemen karena pendidikan mereka masih


masih berpendidikan D3 yang tentunya masih D3.
belum terpapar tentang apa itu manajemen.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi
Sejalan dengan jurnal oleh hidayat (2016) implementasi strategi. Kaplan dan Norton (2001)
ditemukan faktor-faktor yang mempengaruhi menyampaikan bahwa beberapa hambatan
implementasi rencana strategis diatas budaya dalam implementasi strategi, antara lain: visi dan
organisasi yang didalamnya banyak kepala strategi tidak actionable, strategi tidak terhubung
ruangan berpendidikan D3 yang dididik tentu ke alokasi sumber daya perusahaan dan strategi
hanya untuk menjalankan suatu tindakan, tidak terhubung dengan tim departemen dan
merupakan faktor penentu proses implementasi individu. Sedangkan, Rajesekar (2014) dalam
rencana strategis. Hal inilah yang berdasarkan penelitiannya menyampaikan ada 7 (tujuh) faktor
wawancara dengan informan yang mengatakan yang mempengaruhi efektivitas implementasi
bahwa ini merupakan fokus utama kami untuk strategi, yaitu: leadership, ketersediaan dan
memberikan mereka pelatihan dan sekolah keakuratan informasi, ketidakpastian, struktur
kejenjang yang lebih tinggi. organisasi, budaya organisasi, sumber daya
manusia dan teknologi. Sejalan dengan tesis
Dalam tahapan implementasi rencana hubungan budaya organisasi dan gaya
strategis pelayanan keperawatan ini, ditemukan kepemimpinan kepala ruangan dengan kinerja
satu tahapan yang kurang yaitu belum adanya perawat di ruang rawat inap rumah sakit daerah
prosedur yang dilakukan ketika akan raden mattaher Jambi oleh sari (2009) yang
menjalankan rencana strategis tersebut. menyatakan adanya hubungan antara budaya
Kurangnya tahapan ini disebabkan oleh organisasi dan gaya kepemimpinan dengan
pengetahuan dari pengambil keputusan kinerja.
pelayanan keperawatan ini yang masih kurang.
Hidayat (2016) dalam jurnal faktor-faktor yang Budaya organisasi yang didalamnya terdapat
mempengaruhi efektifitas implementasi rencana nilai, asumsi, artefak dan ritual memaksa gaya
strategis adalah salah satunya kesiapan SDM. kepemimpinan diimplementasi rencana strategis
Menurut penelitian ini kesiapan SDM merupakan pelayanan keperawatan itu harus bergaya
salah satu faktor yang mempengaruhi efektifitas kepemimpinan administrator dengan ciri-ciri dari
implementasi rencana strategis karena SDM nilai-nilai yang mereka anut. Ini membuktikan
belum siap menerima rencana strategis bahwa budaya organisasi ini sangat
pelayanan keperawatan ini dengan budaya mempengaruhi gaya kepemimpinan suatu
organisasi yang mereka anut. organisasi dan akhirnya berdampak pada
tahapan implementasi rencana strategis yang
Penataan staff dan pengarahan adalah dilakukan. Sesuai dengan teori diatas ternyata
suatu tahapan dalam implementasi rencana leadership yang salah satu komponennya adalah
strategis pelayanan keperawatan penelitian ini. gaya kepemimpinan sangat mempengaruhi dari
Penetapan syarat pengalaman kerja dan efeketifitas tahapan implementasi rencana
pendidikan D3 atau diatasnya sebagai syarat strategis tersebut. Penelitian ini pun meneliti
kepala ruangan dan kepala bidang keperawatan lebih dalam tentang gaya kepemimpinan itu dan
merupakan hal yang membuat penataan staff didapatlah budaya organisasi yang berupa nilai-
dan pengarahan ini harus mengambil metode nilai hanya mengikuti instruksi pimpinan
melatih staff yang sudah ada dan metode diatasnya.
kepemimpinan dari pihak manajemen. Hal ini
dibuktikan dalam studi wawancara yang SIMPULAN
sebagian besar belum terlalu memahami Budaya organisasi kurang kondusif
disebabkan oleh anggota yang hanya menunggu

journal.umbjm.ac.id/index.php/caring-nursing 57
ISSN : 2580-0078 Vol. 2 No. 2 (Oktober, 2018)

instruksi dari pimpinan dan jika ada anggota Hidayat, Muhammad. 2016. faktor-faktor yang
yang menyarankan pembaharuan untuk mempengaruhi efektivitas implementasi
kebaikan ditolak oleh pimpinan mengakibatkan strategi studi kasus pada pt. bosowa
kepemimpinan kepala ruangan bergaya propertindo. Tesis.
administrator. Sedangkan implementasi rencana
strategis tergantung kepada bagaimana sumber Kaplan, Robert, S., & Norton, David, P. 2001 :
daya manusia yang ada di rumah sakit itu “The Strategy Focused Organization: How
menjalankannya terutama bagaimana Balanced Scorecard Companies Thrive in
kepemimpinannya. the NewBusiness Environment”,
Massachusetts, Harvard Business School
Press.

DAFTAR PUSTAKA Qurtubi. 2016. Perancangan Dan Pengukuran


Anggraeny, Cindy. 2013. Inovasi Pelayanan Kinerja Program Inisiatif Perspektif Proses
Kesehatan Dalam Meningkatkan Kualitas Bisnis Internal. JITI, Vol.15 (1), Jun 2016, 79
Pelayanan Di Puskesmas Jagir Kota – 86.
Surabaya. Kebijakan Dan Manajemen
Public. ISSN 2303 – 341X Volume 1 Nomor Rajasekar, J. 2014. Factor Affecting Effective
1. Strategy Implementation In A Service
Industry: A Study Of Electricity Distribution
Arif, Muhamad. 2016. Analisis Faktor Integrasi Companies In The Sultanate Of Oman.
Sosio-Kultural-Historis Pada Masyarakat International Journal of Business and Social
Multikultural. Social Science Education Science. Vol. 5 No. 91
Journal, Vol. 3 No.2.
Ranupandojo, H., dan Suad Husnan,. 2002.
Beer, M., & Nohria, N. 2000. Cracking The Code Manajemen Personalia, Yogyakarta: BPFE.
of Change. USA: Harvard Business Review.
Robbins, Stephen P., dan Coulter, Mary. 2010.
Dessler, Gary. 2006. Manajemen Sumber Daya Manajemen edisi kesepuluh. Jakarta:
Manusia, Jilid II, Jakarta: PT. Indeks. Erlangga.

Hafizh, Delza Abdul. 2016. Inovasi Pelayanan Sari, Mila triana. 2009. Hubungan Budaya
Publik, Studi Deskriptif Tentang Penerapan Organisasi dan Kepemimpinan Kepala
Layanan E-Health Dalam Meningkatkan Ruangan dengan Kinerja Perawat
Kualitas Pelayanan Kesehatan Di Pelaksana di Ruang Rawat Inap Rumah
Puskesmas Pucangsewu Kota Surabaya. Sakit Daerah Raden Mattaher Jambi. Tesis
Kebijakan Dan Manajemen Publik Issn 2303
- 341x Volume 4, Nomor 3 Schein, Edgar H. 2010. Organizational Culture
and Leadership. Fourth Edition.Jossey-Bass.
Hendry, Eka Ar., Dkk. 2013. Integrasi Sosial A Wiley Imprint, Market Street. San
Dalam Masyarakat Multi Etnik. Walisongo, Fransisco CA.
Volume 21, Nomor 1.
Sirait, Ade Irmaya Sari, Sastra Tamami, Edwin
Hidayat, Muhammad. 2016. faktor-faktor yang Agung Wibowo. 2017. pengaruh Gaya
mempengaruhi efektivitas implementasi Kepemimpinan, Motivasi Dan Kepuasan
strategi studi kasus pada pt. bosowa Kerja Terhadap Kinerja Karyawan Pada Pt.
propertindo. Tesis. Citra Shipyard Batam. Jurnal BENING Vol 4,
No 2.

journal.umbjm.ac.id/index.php/caring-nursing 58
ISSN : 2580-0078 Vol. 2 No. 2 (Oktober, 2018)

Sukandi, Pipin,. Eric Toberico. 2016. Pengaruh


Gaya Kepemimpinan Terhadap Kinerja
Pegawai (Studi Kasus Gaya Kepemimpinan
Situasional Di Kantor Pelayanan Pajak
Pratama Bandung Cibeunying). Conference
On Management And Behavioral Studies
Issn No: 2541-3400, E-Issn No: 2541-2850.

Tampi, Bryan Johannes. 2014. Pengaruh Gaya


Kepemimpinan Dan Motivasi Terrhadap
Kinerja Karyawan Pada Pt. Bank Negara
Indonesia,Tbk (Regional Sales Manado).
Journal “Acta Diurna” Volume III. No.4.
Tahun 2014.

Yunus, Edy. 2016. Manajemen Strategis. Andi:


Yogyakarta.

journal.umbjm.ac.id/index.php/caring-nursing 59