Anda di halaman 1dari 59

Standar

3.8

Penyelenggaraan Rekam Medis

Puskesmas wajib menyelenggarakan rekam medis yang berisi data dan informasi asuhan pasien yang dibutuhkan untuk pelayanan pasien, dan dapat diakses oleh petugas kesehatan pemberian asuhan, manajemen dan pihak di luar organisasi yang diberi hak akses terhadap rekam medis untuk kepentingan pasien, asuransi, sesuai peraturan perundangan. (Lihat juga KMP : 1.6.11)

Kriteria

3.8.1

Ada pembakuan kode klasifikasi diagnosis, kode prosedur, simbol, dan istilah yang dipakai

Kriteria 3.8.1 Ada pembakuan kode klasifikasi diagnosis, kode prosedur , simbol, dan istilah yang dipakai

Pokok Pikiran

Standarisasi terminologi, definisi, kosa kata dan penamaan, memfasilitasi pembandingan data dan informasi di dalam maupun di luar Puskesmas termasuk FKRTL. Keseragaman penggunaan kode diagnosa dan kode prosedur/tindakan mendukung pengumpulan dan analisis data.

Singkatan dan simbol juga distandarisasi dan termasuk daftar “yang tidak boleh digunakan. Standarisasi tersebut konsisten dengan standar lokal, nasional, dan internasional.

“yang tidak boleh digunakan ” . Standarisasi tersebut konsisten dengan standar lokal, nasional, dan internasional.

Elemen Penilaian

1. Ditetapkan standarisasi/pembakuan kode klasifikasi diagnosis, kode klasifikasi tindakan, terminologi lain, singkatan-singkatan yang boleh dan tidak boleh digunakan dalam pelayanan klinis. (R)

2. Kode klasifikasi diagnosis, kode klasifikasi tindakan, terminologi lain, dan singkatan digunakan dalam pelayanan klinis sesuai dengan yang ditetapkan. (D)

Kriteria

3.8.2

Petugas memiliki akses informasi sesuai dengan kebutuhan dan tanggung jawab pekerjaan

Kriteria 3.8.2 Petugas memiliki akses informasi sesuai dengan kebutuhan dan tanggung jawab pekerjaan

Pokok Pikiran

Berkas rekam medis pasien adalah suatu sumber informasi utama mengenai proses asuhan dan perkembangan pasien, sehingga merupakan alat komunikasi yang penting. Agar informasi ini berguna dan mendukung asuhan pasien keberlanjutan, maka perlu tersedia selama pelaksanaan asuhan pasien dan setiap saat dibutuhkan, serta dijaga selalu diperbaharui (up to date).

Catatan medis keperawatan dan catatan pelayanan pasien lainnya tersedia untuk semua praktisi kesehatan pasien tersebut. Kebijakan Puskesmas mengidentifikasi praktisi kesehatan mana saja yang mempunyai akses ke berkas rekam medis pasien untuk menjamin kerahasiaan informasi pasien.

Privasi dan kerahasiaan data serta informasi wajib dijaga, terutama data dan informasi yang sensitif. Penggunaan data rekam medis untuk keperluan selain pelayanan pasien, misalnya untuk penelitian perlu diatur untuk menjaga kerahasian informasi rekam medis. ( Lihat juga KMP : 1.6.11)

Elemen Penilaian

1. Ditetapkan kebijakan, prosedur dan hak akses petugas terhadap informasi medis dengan mempertimbangkan tugas, tanggung jawab petugas, kerahasiaan dan keamanan informasi (R)

2. Akses petugas terhadap informasi dilaksanakan sesuai dengan kebijakan dan prosedur (D, O, W)

keamanan informasi (R) 2. Akses petugas terhadap informasi dilaksanakan sesuai dengan kebijakan dan prosedur (D, O,

Kriteria

3.8.3

Adanya sistem pengisian informasi klinis secara lengkap dan jelas didalam rekam medis

Pokok Pikiran

Kelengkapan isi rekam medis diperlukan untuk menjamin kesinambungan pelayanan, memantau kemajuan respons pasien terhadap asuhan yang diberikan.

Isi rekam medis disepakati bersama

Kegiatan Penyelenggaraan rekam medis:

Registrasi pasien

Pendistribusian rekam medis

Pengisian informasi klinis

Pengolahan data dan pengkodean

Klaim pembiayaan

Penyimpanan rekam medis

Penjaminan mutu

Pelepasan informasi kesehatan

Pemusnahan rekam medis

• Penyimpanan rekam medis • Penjaminan mutu • Pelepasan informasi kesehatan • Pemusnahan rekam medis

Pokok Pikiran

Rekam medis diisi oleh setiap Dokter, Dokter gigi, dan/atau Tenaga Kesehatan yang melaksanakan pelayanan kesehatan perseorangan

Apabila terdapat lebih dari satu tenaga Dokter, Dokter gigi dan/atau Tenaga Kesehatan dalam satu fasilitas kesehatan, maka rekam medis dibuat secara terintegrasi

Dokter gigi dan/atau Tenaga Kesehatan dalam satu fasilitas kesehatan, maka rekam medis dibuat secara terintegrasi

Pokok Pikiran

Isi Informasi klinis pada rawat jalan di FKTP, paling sedikit meliputi :

Identitas pasien

Tanggal dan waktu

Hasil anamnesis

Hasil pemeriksaan

Diagnosis

Rencana penatalaksanaan

Pengobatan dan atau tindakan

Persetujuan dan penolakan tindakan jika diperlukan

Nama dan tanda tangan Dokter, Dokter gigi dan atau Tenaga Kesehatan yang memberikan pelayanan kesehatan

diperlukan • Nama dan tanda tangan Dokter, Dokter gigi dan atau Tenaga Kesehatan yang memberikan pelayanan

Pokok Pikiran

Dalam hal pasien rawat inap atau perawatan 1 (satu) hari isi rekam medis sebagaimana pada rawat jalan ditambahkan dengan :

Lembaran monitoring untuk pasien rujukan sebelum masuk ruang rawat inap

surat rujukan untuk pasien rujukan;

catatan perjalanan perawatan pasien mulai dari dirawat inap sampai pasien pulang

salinan resume medis

Rekam Medis untuk pasien gawat darurat, ditambahkan :

Hasil pemeriksaan triase

Identitas dan nomor kontak pengantar pasien

Sarana transportasi yang digunakan untuk mengantar pasien

Pokok Pikiran

Resume Medis pasien paling sedikit terdiri dari :

Identitas Pasien

Diagnosis Masuk dan indikasi pasien dirawat

Ringkasan hasil pemeriksaan fisik dan penunjang, diagnosis akhir, pengobatan dan rencana tindaklanjut pelayanan kesehatan

Nama dan tanda tangan Dokter atau Dokter gigi yang memberikan pelayanan kesehatan

Resume Medis yang diberikan kepada pasien saat pulang dari rawat inap terdiri dari :

Data umum pasien

Anamnesis (riwayat penyakit dan pengobatan)

Pemeriksaan

Terapi, tindakan dan atau anjuran

Elemen Penilaian

1. Ditetapkan kebijakan dan prosedur pengisian rekam medis mencakup diagnosis, pengobatan, hasil pengobatan, dan kontinuitas asuhan yang diberikan (R, D)

2. Rekam Medis diisi secara lengkap oleh Dokter, Dokter Gigi dan atau Tenaga Kesehatan yang melaksanakan pelayanan kesehatan perseorangan (D, O, W)

3. Koreksi dan penambahan data pada Rekam Medis dilakukan sesuai dengan peraturan yang berlaku (D, O, W)

4. Dilakukan evaluasi dan tindak lanjut terhadap kelengkapan isi rekam medis (D, W)

Kriteria

3.8.4

Adanya sistem yang memandu penyimpanan dan pemrosesan rekam medis

Kriteria 3.8.4 Adanya sistem yang memandu penyimpanan dan pemrosesan rekam medis

Pokok Pikiran

Kebijakan yang menjadi pedoman penyimpanan/retensi berkas rekam medis pasien dan data serta informasi lainnya.

Berkas rekam medis klinis pasien, serta data dan informasi lainnya disimpan (retensi) untuk suatu jangka waktu yang cukup dan mematuhi peraturan dan perundang-undangan yang berlaku guna mendukung asuhan pasien, manajemen, dokumentasi yang sah secara hukum, riset dan pendidikan.

Kebijakan tentang penyimpanan (retensi) konsisten dengan kerahasiaan dan keamanan informasi tersebut. Ketika periode retensi yang ditetapkan terpenuhi, maka berkas rekam medis klinis pasien dan catatan lain pasien, data serta informasi dapat dimusnahkan dengan semestinya kecuali ringkasan pulang dan persetujuan tindakan medik dalam jangka waktu tertentu sesuai peraturan yang berlaku.

Elemen Penilaian

1. Ditetapkan kebijakan dan prosedur penyimpanan berkas rekam medis dengan kejelasan masa retensi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. (R)

2. Puskesmas mempunyai rekam medis bagi setiap pasien dengan metode identifikasi sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan. (D, W)

3. Sistem pengkodean, penyimpanan, dan dokumentasi dilakukan sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan. (D, O, W)

Standar

3.9

Pelayanan Laboratorium dilaksanakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan.

Pelayanan Laboratorium Tersedia Tepat Waktu untuk Memenuhi Kebutuhan Pengkajian Pasien, serta Mematuhi Standar, Peraturan Perundangan yang Berlaku.

Tepat Waktu untuk Memenuhi Kebutuhan Pengkajian Pasien, serta Mematuhi Standar, Peraturan Perundangan yang Berlaku .

Kriteria

3.9.1

Ditetapkan Kebijakan, jenis-jenis dan prosedur pemeriksaan laboratorium

Kriteria 3.9.1 Ditetapkan Kebijakan, jenis - jenis dan prosedur pemeriksaan laboratorium

Pokok Pikiran

Jenis-jenis pemeriksaan laboratorium yang bisa dilayani

Regulasi pelayanan laboratorium perlu disusun sebagai acuan, yang meliputi kebijakan dan pedoman, serta prosedur-prosedur pelayanan laboratorium yang mengatur tentang:

jenis-jenis pelayanan laboratorium yang disediakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan kemampuan Puskesmas

waktu penyerahan hasil pemeriksaan laboratorium

pemeriksaan laboratorium yang berisiko tinggi

proses permintaan pemeriksaan, penerimaan specimen, pengambilan, dan penyimpanan specimen

pelayanan pemeriksaan di luar jam kerja pada Puskesmas rawat inap atau puskesmas yang menyediakan pelayanan di luar jam kerja

proses pemeriksaan laboratorium

kesehatan dan keselamatan kerja dalam pelayanan laboratorium

penggunaan alat pelindung diri

pengelolaan reagen

Prosedur rujukan pemeriksaan laboratorium

Elemen Penilaian

1. Ditetapkan kebijakan, prosedur, dan jenis-jenis pelayanan laboratorium di Puskesmas sesuai kebutuhan masyarakat dan kemampuan Puskesmas (R)

2. Pemeriksaan laboratorium dilakukan oleh analis/petugas yang kompeten (R. D. O)

3. Ada prosedur rujukan spesimen dan pasien, jika pemeriksaan laboratorium tidak dapat dilakukan di Puskesmas (D, O)

Kriteria

3.9.2

Hasil pemeriksaan laboratorium selesai dan tersedia dalam waktu sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan

Kriteria 3.9.2 Hasil pemeriksaan laboratorium selesai dan tersedia dalam waktu sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan

Pokok Pikiran

Penetapan jangka waktu yang dibutuhkan untuk melaporkan hasil tes laboratorium.

Hasil dilaporkan dalam kerangka waktu berdasarkan kebutuhan pasien, pelayanan yang ditawarkan, dan kebutuhan petugas pemberi pelayanan klinis.

Ketentuan tentang Pemeriksaan pada gawat darurat dan di luar jam kerja serta pada akhir minggu

Hasil pemeriksaan yang segera (urgent), seperti dari unit gawat darurat diberikan perhatian khusus.

Bila pelayanan laboratorium dilakukan bekerja sama dengan pihak luar, laporan hasil pemeriksaan juga harus tepat waktu sesuai dengan kebijakan yang ditetapkan atau yang tercantum dalam kontrak.

Elemen Penilaian

1. Pimpinan Puskesmas menetapkan waktu pelaporan hasil pemeriksaan laboratorium. (R)

2. Dilakukan evaluasi dan tindak lanjut terhadap ketepatan waktu pelaporan hasil pemeriksaan. (D, W)

laboratorium. (R) 2. Dilakukan evaluasi dan tindak lanjut terhadap ketepatan waktu pelaporan hasil pemeriksaan. (D, W)

Kriteria

3.9.3

Reagensia esensial dan bahan lain yang diperlukan sehari-hari selalu tersedia dan dievaluasi untuk memastikan akurasi dan presisi hasil.

dan bahan lain yang diperlukan sehari -hari selalu tersedia dan dievaluasi untuk memastikan akurasi dan presisi

Pokok Pikiran

Reagensia dan bahan-bahan lain yang selalu harus ada untuk pelayanan laboratorium bagi pasien harus diidentifikasi dan ditetapkan.

Suatu proses yang efektif untuk pemesanan atau menjamin ketersediaan reagensia esensial dan bahan lain yang diperlukan.

Semua reagensia disimpan sesuai pedoman dari produsen atau instruksi penyimpanan yang ada pada kemasan.

Evaluasi periodik dilakukan terhadap ketersediaan dan penyimpanan semua reagensia untuk memastikan akurasi dan presisi hasil pemeriksaan.

Kebijakan dan prosedur untuk memastikan pemberian label yang lengkap dan akurat untuk reagensia dan larutan yang digunakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

Elemen Penilaian

1. Ditetapkan reagensia esensial dan bahan lain yang harus tersedia, termasuk proses untuk menyatakan jika regen tidak tersedia. (R)

2. Reagensia tersedia, diberi label, dan disimpan sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan. (D, O,W)

(R) 2. Reagensia tersedia, diberi label, dan disimpan sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan.

Kriteria

3.9.4

Ditetapkan rentang nilai normal dan rentang nilai rujukan yang digunakan untuk interpertasi dan pelaporan hasil laboratorium

rentang nilai normal dan rentang nilai rujukan yang digunakan untuk interpertasi dan pelaporan hasil laboratorium

Pokok Pikiran

Penetapan rentang nilai normal dan rentang nilai rujukan untuk setiap pemeriksaan yang dilaksanakan.

Nilai normal dan rentang nilai rujukan harus tercantum dalam catatan klinis, sebagai bagian dari laporan atau dalam dokumen terpisah

laporan hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh laboratorium luar juga harus dilengkapi dengan rentang nilai. Jika terjadi perubahan metoda atau peralatan yang digunakan untuk melakukan pemeriksaan, atau perubahan terkait perkembangan ilmu dan tehnologi, harus dilakukan evaluasi dan revisi bila perlu terhadap ketentuan tentang rentang nilai pemeriksaan laboratorium.

Elemen Penilaian

1. Kepala Puskesmas menetapkan nilai normal dan rentang nilai rujukan untuk setiap pemeriksaan yang dilaksanakan dan disertakan dalam laporan hasil pemeriksaan laboratorium. (R. D)

2. Rentang nilai normal dan rentang nilai rujukan dievaluasi secara berkala dan direvisi jika diperlukan. (D,W)

(R . D) 2. Rentang nilai normal dan rentang nilai rujukan dievaluasi secara berkala dan direvisi

Kriteria

3.9.5

Pemantapan mutu dilakukan, ditindaklanjuti dan didokumentasi untuk setiap pemeriksaan laboratorium

Pokok Pikiran

Untuk menjamin mutu pelayanan laboratorium maka perlu dilakukan upaya pemantapan mutu internal maupun eksternal di Puskesmas. Pemantapan mutu dilakukan sesuai dengan jenis dan ketersediaan peralatan laboratorium yang digunakan dan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Puskesmas wajib mengikuti Pemantaban Mutu Eskternal (PME) secara periodik yang diselenggarakan oleh institusi yang ditetapkan oleh pemerintah

Uji silang adalah kegiatan untuk menilai mutu dan kesesuaian hasil pemeriksaan secara periodik dan berkesinambungan dengan mengirimkan sampel yang sama ke laboratorium lain/ rujukan.

Elemen Penilaian

1. Ditetapkan kebijakan dan prosedur pemantapan mutu pelayanan laboratorium (R)

2. Terdapat bukti dilakukan pemantapan mutu internal dan pemantapan mutu eksternal terhadap pelayanan laboratorium sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan dilakukan perbaikan jika terjadi penyimpangan (D,O,W)

laboratorium sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan dan dilakukan perbaikan jika terjadi penyimpangan (D,O,W)

Standar

3.10

Manajemen obat dan bahan medis habis pakai dikelola sesuai kebijakan dan prosedur yang ditetapkan.

Obat, dan bahan medis habis pakai tersedia dan dikelola sesuai ketentuan untuk memenuhi kebutuhan pasien

ditetapkan. Obat, dan bahan medis habis pakai tersedia dan d ikelola sesuai ketentuan untuk memenuhi kebutuhan

Kriteria

3.10.1

Berbagai jenis obat dan bahan medis habis pakai yang sesuai dengan kebutuhan tersedia

Kriteria 3.10.1 Berbagai jenis obat dan bahan medis habis pakai yang sesuai dengan kebutuhan tersedia

Pokok Pikiran

Puskesmas menetapkan jenis dan jumlah obat, dan bahan medis habis pakai berdasarkan kebutuhan.

Puskesmas dalam menyusun daftar obat (formularium) mengacu formularium yang ditetapkan. Contoh: formularium nasional, formularium kabupaten/kota

Formularium Puskesmas merupakan daftar obat terpilih yang dibutuhkan dan harus tersedia di Puskesmas.

Dalam hal ruang farmasi Puskesmas belum dapat melakukan pelayanan obat Program Rujuk Balik (PRB), maka obatnya disediakan oleh Apotek yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan

Pemilihan obat adalah suatu proses kerja sama/kolaboratif yang mempertimbangkan baik kebutuhan dan keselamatan pasien maupun kondisi ekonomisnya. Kadang-kadang terjadi kehabisan obat karena terlambatnya pengiriman, kurangnya stok nasional atau sebab lain yang tidak diantisipasi dalam pengendalian inventaris yang normal. Ada suatu proses untuk mengingatkan para dokter/dokter gigi tentang kekurangan obat tersebut dan saran untuk penggantinya.

Pokok Pikiran

Rantai manajemen pengadaan obat adalah suatu rangkaian kegiatan yang meliputi proses perencanaan dan pemilihan, pengadaan, penerimaan, penyimpanan, pendistribusian, dan penggunaan obat. ( lihat juga KMP : 1.1.2 dan UKM : 2.1.1)

Kebijakan, pedoman, dan prosedur-prosedur pelayanan farmasi harus disusun sebagai acuan dalam pelayanan, meliputi:

kebijakan dan pedoman pelayanan farmasi

kebijakan dan prosedur perencanaan kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai

kebijakan dan prosedur pengadaan, penyediaan dan penggunaan obat, alat kesehatan dan bahan medis habis pakai

kebijakan dan prosedur yang mengatur: proses peresepan, pemesanan, dan pengelolaan obat

kebijakan dan prosedur penggunaan obat-obatan pasien rawat inap, yang dibawa sendiri oleh pasien/ keluarga pasien

kebijakan dan prosedur untuk menjaga tidak terjadinya pemberian obat yang kedaluwarsa kepada pasien

kebijakan dan prosedur jika terjadi kekosongan obat

perbaikan dan pengendalian pengadaan, penyediaan dan penggunaan obat

pengelolaan rantai distribusi dan pengadaan obat

ketersediaan formularium obat

Elemen Penilaian

1. Ditetapkan Kebijakan dan prosedur Pelayanan Farmasi di Puskesmas. (R)

2. Disusun rencana kebutuhan obat dan bahan medis habis pakai berdasarkan kebutuhan pelayanan. (R)

3. Dilakukan pengelolaan rantai distribusi dan pengadaan obat sesuai dengan ketentuan peraturan perundangan. (D,O,W)

4. Tersedia pelayanan farmasi selama tujuh hari dalam seminggu dan 24 jam pada Puskesmas yang memberikan pelayanan gawat darurat. (O)

5. Tersedia daftar formularium obat Puskesmas.(D)

6. Dilakukan evaluasi dan tindak lanjut kesesuaian peresepan dan ketersediaan obat dibandingkan dengan formularium Puskesmas. (D,W)

Kriteria

3.10.2

Peresepan, pemesanan dan pengelolaan obat dipandu kebijakan dan prosedur

Pokok Pikiran

Pemberian obat untuk mengobati seorang pasien membutuhkan pengetahuan dan pengalaman yang spesifik. Puskesmas bertanggung jawab untuk mengidentifikasi petugas dengan pengetahuan dan pengalaman sesuai persyaratan dan yang juga diizinkan berdasarkan lisensi, sertifikasi, undang-undang atau peraturan untuk pemberian obat.

Dalam situasi emergensi, perlu diidentifikasi petugas tambahan yang diizinkan untuk memberikan obat.

Untuk menjamin agar obat tersedia dengan cukup dan dalam kondisi baik, tidak rusak, dan tidak kedaluwarsa, maka perlu ditetapkan dan diterapkan kebijakan pengelolaan obat mulai dari proses analisis kebutuhan, pemesanan, pengadaan, pendistribusian, pelayanan peresepan, pencatatan dan pelaporan.

Pokok Pikiran

Apabila persyaratan petugas yang diberi kewenangan dalam penyediaan obat tidak dapat dipenuhi, petugas tersebut mendapat pelatihan khusus tentang penyediaan obat.

Untuk Puskesmas rawat inap penggunaan obat oleh pasien/pengobatan sendiri, baik yang dibawa ke Puskesmas atau yang diresepkan atau dipesan di Puskesmas, diketahui dan dicatat dalam rekam medis. Harus dilaksanakan pengawasan penggunaan obat, terutama obat-obat psikotropika sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

Obat yang perlu diwaspadai adalah obat yang mengandung risiko yang meningkat bila kita salah menggunakan dan dapat menimbulkan kerugian besar pada pasien.

Pokok Pikiran

Obat yang perlu diwaspadai (high alert) terdiri atas :

obat risiko tinggi, yaitu obat yang bila terjadi kesalahan (error) dapat menimbulkan kematian atau kecacatan seperti, insulin, heparin, atau kemoterapeutik;

obat yang nama, kemasan, label, penggunaan klinik tampak/kelihatan sama (look alike), bunyi ucapan sama (sound alike), seperti Xanax dan Zantac atau hydralazine dan hydroxyzine atau disebut juga nama obat rupa ucapan mirip (NORUM);

Elemen Penilaian

1. Ditetapkan kebijakan tentang petugas yang berhak memberikan resep dan petugas yang berhak memberikan obat termasuk penggunaan obat pasien rawat inap yang dibawa sendiri oleh pasien. (R)

2. Peresepan dan pemberian obat dilakukan sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang ditetapkan. (D, O, W)

3. Dilakukan tindak lanjut terhadap rekomendasi pengawasan penggunaan dan pengelolaan obat yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan daerah Kabupaten/Kota. (D, W)

Kriteria

3.10.3

Ada jaminan kebersihan dan keamanan dalam penyimpanan, penyiapan, dan penyampaian obat kepada pasien serta penatalaksanaan obat kedaluwarsa/ rusak/out of date/substitusi

Pokok Pikiran

Agar obat layak dikonsumsi oleh pasien, maka kebersihan dan keamanan terhadap obat yang tersedia harus dilakukan mulai dari proses pengadaan, penyimpanan, pendistribusian, dan penyampaian obat kepada pasien serta penatalaksanaan obat kedaluwarsa dan/atau rusak/out of date/substitusi.

Puskesmas menetapkan kebijakan dan prosedur dalam penyampaian obat kepada pasien agar pasien memahami indikasi, dosis, cara penggunaan obat, dan efek samping yang mungkin terjadi.

Elemen Penilaian

1. Ditetapkan persyaratan penyimpanan obat dan dilaksanakan sesuai dengan persyaratan tersebut. (R,D,O,W)

2. Ditetapkan kebijakan dan prosedur penanganan obat yang kadaluarsa/ rusak/ ditarik dari peredaran. (R)

3. Pemberian obat kepada pasien disertai dengan label obat yang jelas:

nama, dosis, waktu, cara pemakaian obat, dan tanggal kadaluwarsa.(O,W)

4. Pemberian obat disertai dengan informasi penggunaan obat, kemungkinan efek samping dan efek yang tidak diharapkan, serta petunjuk penyimpanan obat di rumah dengan bahasa yang dapat dimengerti oleh pasien/keluarga pasien.(O,W)

5. Obat kadaluarsa/rusak/ditarik dari peredaran dikelola sesuai kebijakan dan prosedur.(D,W)

Kriteria 3.10.4 Dilakukan dokumentasi dalam rekam medis tentang efek obat dan efek samping yang terjadi

Kriteria

3.10.4

Dilakukan dokumentasi dalam rekam medis tentang efek obat dan efek samping yang terjadi akibat pemberian obat-obat yang diresepkan atau riwayat alergi terhadap obat-obatan tertentu

Pokok Pikiran

Pasien, dokternya, perawat dan petugas kesehatan yang lain bekerja bersama untuk memantau pasien yang mendapat obat. Tujuan pemantauan adalah untuk mengevaluasi efek pengobatan terhadap gejala pasien atau penyakitnya dan untuk mengevaluasi pasien terhadap kejadian efek samping obat.

Berdasarkan pemantauan, dosis atau jenis obat bila perlu dapat disesuaikan dengan memperhatikan pemberian obat secara rasional. Sudah seharusnya dilakukan pemantauan secara ketat respons pasien terhadap dosis pertama obat yang baru diberikan kepada pasien. Pemantauan dimaksudkan untuk mengidentifikasi respons terapetik yang diantisipasi maupun reaksi alergik, interaksi obat yang tidak diantisipasi, untuk mencegah risiko bagi pasien. Memantau efek obat termasuk mengobservasi dan mendokumentasikan setiap kejadian salah obat (medication error).

Perlu disusun kebijakan tentang identifikasi, pencatatan dan pelaporan semua kejadian salah obat (medication error) yang terkait dengan penggunaan obat, misalnya: salah peresepan obat, salah penyerahan obat, salah pelabelan obat, salah dosis, salah rute pemberian, salah frekuensi pemberian, memberikan obat salah orang.

Elemen Penilaian

1. Ditetapkan kebijakan dan prosedur untuk mencatat, memantau efek obat, dan melaporkan bila terjadi efek samping penggunaan obat. (R)

2. Efek obat, efek samping obat, dan kejadian alergi ditindak lanjuti serta didokumentasikan dalam rekam medis. (D)

2. Efek obat , efek samping obat , dan kejadian alergi ditindak lanjuti serta didokumentasikan dalam

Kriteria

3.10.5

Obat-obatan emergensi tersedia, dipantau dan aman bilamana disimpan di luar farmasi.

Kriteria 3.10.5 Obat- obatan emergen si tersedia, dipantau dan aman bilamana disimpan di luar farmasi.

Pokok Pikiran

Bila terjadi kegawatdaruratan pasien, akses cepat terhadap obat emergensi yang tepat adalah sangat penting. Perlu ditetapkan lokasi penyimpanan obat emergensi di tempat pelayanan dan obat-obat emergensi yang harus disuplai ke lokasi tersebut. Untuk memastikan akses ke obat emergensi bilamana diperlukan, perlu tersedia prosedur untuk mencegah penyalahgunaan, pencurian atau kehilangan terhadap obat dimaksud.

Prosedur ini memastikan bahwa obat diganti bilamana digunakan, rusak atau kedaluwarsa.

Keseimbangan antara akses, kesiapan, dan keamanan dari tempat penyimpanan obat emergensi perlu dipenuhi.

Elemen Penilaian

1. Ditetapkan kebijakan pengelolaan obat emergensi. (R)

2. Obat emergensi tersedia pada unit-unit dimana akan diperlukan atau dapat terakses segera untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat emergensi. (O)

3. Obat emergensi dipantau dan diganti secara tepat waktu sesuai kebijakan Puskesmas setelah digunakan atau bila kadaluwarsa atau rusak atau ditarik dari peredaran. (D,W)

Standar

3.11

Pelayanan Radiodiagnostik dilaksanakan sesuai peraturan perundangan.

Pelayanan radiodiagnostik disediakan sesuai kebutuhan pasien, dilaksanakan oleh tenaga yang kompeten, dan mematuhi persyaratan perundangan yang berlaku

sesuai kebutuhan pasien, dilaksanakan oleh tenaga yang kompeten, dan mematuhi persyaratan perundangan yang berlaku

Kriteria

3.11.1

Pelayanan radiodiagnostik disediakan untuk memenuhi kebutuhan pasien, dan memenuhi standar nasional, peraturan perundangan yang berlaku.

disediakan untuk memenuhi kebutuhan pasien, dan memenuhi standar nasional, peraturan perundangan yang berlaku.

Pokok Pikiran

Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan pada masyarakat di wilayah kerja, dan kebutuhan pemberi pelayanan klinis, dapat disediakan pelayanan radiodiagnostik sebagai upaya untuk meningkatkan ketepatan dalam menetapkan diagnosis.

Pelayanan radiodiagnostik tersebut harus dilaksanakan sesuai dengan ketentuan dan peraturan perundangan yang berlaku untuk menjaga keselamatan pasien, masyarakat dan petugas.

Elemen Penilaian

1. Ditetapkan kebijakan dan prosedur pelayanan radiodiagnostik sebagaimana dimaksud pada pokok pikiran. (D, O, W)

2. Pelayanan radiodiagnostik dilakukan sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan. (D, O, W)

(D, O, W) 2. Pelayanan radiodiagnostik dilakukan sesuai dengan kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan. (D,

Kriteria

3.11.2

Staf yang kompeten dan memiliki kewenangan melaksanakan pemeriksaan radiodiagnostik, menginterpretasi hasil, dan melaporkan hasil pemeriksaan tepat waktu sesuai ketentuan yang ditetapkan

radiodiagnostik, menginterpretasi hasil, dan melaporkan hasil pemeriksaan tepat waktu sesuai ketentuan yang ditetapkan

Pokok Pikiran

Kepala Puskesmas menetapkan petugas pemberi pelayanan radiodiagnostik untuk melakukan pemeriksaan diagnostik, menginterpretasi hasil atau memverifikasi dan membuat laporan hasil pemeriksaan.

Petugas tersebut mendapat peningkatan kompetensi dapat melalui pelatihan/inhouse training/on the job training.

Jika tidak tersedia tenaga yang kompeten, maka dapat dilakukan kerjasama dengan fasilitas kesehatan yang memiliki kewenangan tersebut.

Jangka waktu pelaporan hasil pemeriksaan radiologi diagnostik perlu ditetapkan. Hasil yang dilaporkan dalam kerangka waktu didasarkan pada kebutuhan pasien, pelayanan yang ditawarkan, dan kebutuhan pemberi pelayanan klinis. Kebutuhan tes untuk pelayanan gawat darurat, pemeriksaan diluar jam kerja serta akhir minggu termasuk dalam ketentuan ini.

Hasil pemeriksaan radiologi yang cito untuk pasien gawat darurat harus diberi perhatian khusus dalam proses pengukuran mutu. Hasil pemeriksaan radiodiagnostik yang dilaksanakan dengan kontrak pelayanan oleh pihak di luar Puskesmas dilaporkan sesuai dengan kebijakan atau ketentuan dalam kontrak.

Elemen Penilaian

1. Kepala Puskesmas menetapkan tentang waktu pelaporan hasil pemeriksaan.(R)

2. Pemeriksaan radiodiagnostik, interpretasi hasil, dan pelaporan hasil pemeriksaan dilaksanakan sesuai dengan kebijakan yang telah ditetapkan (D,W)

3. Ketepatan waktu pelaporan hasil pemeriksaan diukur, dipantau , dan ditindaklanjuti. (D,W)