Anda di halaman 1dari 8

HIGEIA 3 (1) (2019)

HIGEIA JOURNAL OF PUBLIC HEALTH


RESEARCH AND DEVELOPMENT
http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/higeia

Faktor Ibu terhadap Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah

Aprillya Wibowo Putri1, Ayu Pratitis1, Lulu Luthfiya1, Sri Wahyuni1, Auly Tarmali 11

Program Studi S-1 Kesehatan Masyarakat, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ngudi Waluyo, Indonesia
1

Info Artikel Abstrak


________________ ___________________________________________________________________
Sejarah Artikel: Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) berkonstribusi sebanyak 60 hingga 80% dari seluruh kematian
Diterima 29 November neonatus dan memiliki risiko kematian 20 kali lebih besar dari bayi dengan berat normal.
2018 Persentase bayi berat lahir rendah (BBLR) di Jawa Tengah pada tahun 2017 sebesar 5,1 persen,
Disetujui 24 Januari 2019 lebih tinggi dibandingkan persentase BBLR tahun 2016 yaitu 3,9 persen. Tujuan penelitian ini
Dipublikasikan 31 adalah untuk mengetahui gambaran gambaran persentase karakteristik ibu yang menjadi penyebab
Januari 2019 BBLR. Ditinjau dari faktor ibu ada beberapa faktor yang mempengaruhi BBLR, diantaranya umur
________________ dan paritas. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan menggunakan
Keywords: desain deskriptif yaitu dengan menggunakan data sekunder. Hasil penelitian menunjukkan
Mother, Parity, LBW umumnya ibu yang melahirkan mempunyai umur yang tidak berisiko untuk melahirkan yaitu
____________________ sebanyak 144 orang (82,29%), 19 ibu (10,86%) dengan grandemultipara, dan 12 bayi BBLR
DOI: (6,86%) yang lahir di Klinik Bersalin Harmoni Ambarawa. Simpulan dari penelitian ini yaitu
https://doi.org/10.15294 sebagian besar ibu yang menjadi responden memiliki umur yang tidak berisiko untuk melahirkan
/higeia/v3i1/28692 dan ibu dengan multipara sehingga banyak bayi yang dilahirkan ibu memiliki berat badan normal.
____________________
Abstract
___________________________________________________________________
Low birth weight (LBW) contribute as much as 60 to 80% of all neonatal deaths and had a risk of death 20
times greater than normal weight babies. The percentage of low birth weight (LBW) in Central Java in 2017
was 5.1 percent, higher than the percentage of LBW in 2016 which was 3.9 percent. The purpose of this study
was to determine the description of the percentage of maternal characteristics that were the cause of LBW.
Judging from maternal factors there were several factors that influenced LBW, including age and parity. This
study used quantitative research methods with a descriptive design that is by using secondary data. The results
showed that the majority of mothers who gave birth were not at risk for childbirth as many as 144 people
(82.29%), 19 mothers (10.86%) with grandemultipara, and 12 LBW babies (6.86%) born at the Clinic
Maternity Harmony Ambarawa. This study concluded that most mothers who were respondents had an age
that was not at risk of giving birth and mothers with multipara so that many babies born to mothers had
normal weight.

© 2019 Universitas Negeri Semarang


Alamat korespondensi:
p ISSN 1475-362846
Jalan Diponegoro no. 186, Gedanganak
Ungaran Timur, Kab. Semarang 50519 e ISSN 1475-222656
E-mail: aprillya.putri@gmail.com

55
Aprillya, W, P., dkk. / Faktor Ibu terhadap / HIGEIA 3 (1) (2019)

PENDAHULUAN Data Riskesdas tahun 2013 menunjukkan


bahwa prevalensi BBLR di Indonesia sebesar
Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) adalah 10,2 %, walaupun lebih rendah dibandingkan
bayi yang baru lahir dengan berat badan < 2500 tahun 2010 yaitu sebesar 11.1% namun
gram. BBLR merupakan salah satu indikator penurunan tidak begitu signifikan. Presentase
untuk melihat bagaimana derajat atau status BBLR tertinggi terdapat di Provinsi Sulawesi
kesehatan anak, sehingga berperan penting Tengah (16,8%) dan terendah di Sumatera
untuk memantau bagaimana status kesehatan Utara (7,2%) (Sistriani, 2008).
anak sejak dilahirkan, apakah anak tersebut Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan
status kesehatannya baik atau tidak. BBLR Provinsi Jawa Tengah Persentase bayi berat
menjadi masalah kesehatan masyarakat karena lahir rendah (BBLR) di Jawa Tengah pada
merupakan salah satu penyebab tingginya angka tahun 2017 sebesar 5,1 persen, lebih tinggi
kematian bayi (AKB) (Sistriani, 2008). Angka dibandingkan persentase BBLR tahun 2016
kematian bayi menjadi indikator pertama dalam yaitu 3,9 persen. Persentase BBLR cenderung
menentukan derajat kesehatan anak karena meningkat sejak tahun 2011 sampai tahun 2017
AKB merupakan cerminan dari status kesehatan meskipun tidak terlalu signifikan. Pada tahun
anak saat ini. Secara statistik, angka kesakitan 2017 terjadi peningkatan yang cukup tinggi
dan kematian pada nenonatus di negara dibandingkan tahun-tahun sebelumnya (Dinas
berkembang adalah tinggi, dengan penyebab Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2018).
utama adalah berkaitan dengan BBLR (Utama, Angka Kematian Neonatal di Kabupaten
2008). Semarang tahun 2017 sebesar 113 kasus. Kasus
BBLR menurut indikator data statistik kematian neonatal mendominasi kasus
WHO adalah bayi yang berat < 2500 g, terlepas kematian bayi di Kabupaten Semarang. Dari
dari usia kehamilan. BBLR termasuk faktor 142 kasus kematian bayi, 113 kasus adalah
utama dalam peningkatan mortalitas, kasus kematian neonatal. Penyebab terbesar
morbiditas dan disabilitas neonatus, bayi dan kasus kematian neonatal adalah karena BBLR
anak yang lahir dengan BBLR memberikan (57 kasus), asfiksia (31 kasus), kelainan
dampak jangka panjang terhadap kehidupannya kongenital (7 kasus), aspirasi (7 kasus), infeksi (4
di masa depan (Dewey, 2011). kasus), tetanus neonatorum (1 kasus) dan lain-
WHO melaporkan, bayi dengan berat lain (6 kasus). Angka Kematian Bayi di
lahir rendah berkonstribusi sebanyak 60 hingga Kabupaten Semarang tahun 2016 mengalami
80% dari seluruh kematian neonatus dan penurunan dibanding tahun 2015 yaitu (169
memiliki risiko kematian 20 kali lebih besar dari kasus) menjadi (142 kasus) di tahun 2016.
bayi dengan berat normal. Berdasarkan data Penyebab terbesar AKB adalah BBLR (40,14
WHO dan UNICEF, pada tahun 2013 sekitar %), Asfiksia (20,83 %) (Dinas Kesehatan
22 juta bayi dilahirkan di dunia, dimana 16% Provinsi Jawa Tengah, 2018).
diantaranya 2 lahir dengan Bayi Berat Lahir Berdasarkan data rekam medik RSUD
Rendah. Adapun persentase BBLR di negara Ambarawa tahun 2016 dari 295 persalinan, 187
berkembang adalah 16,5 % dua kali lebih besar orang (63,4%) melahirkan bayi normal
dari pada negara maju (7%). Indonesia adalah sedangkan yang melahirkan bayi dengan BBLR
salah satu negara berkembang yang menempati sebanyak 108 orang (36,6%) (Dinas Kesehatan
urutan ketiga sebagai negara dengan prevalensi Provinsi Jawa Tengah, 2018).
BBLR tertinggi (11,1%), setelah India (27,6%) Berat badan lahir merupakan indikator
dan Afrika Selatan (13,2%). Selain itu, penting kesehatan bayi, faktor utama bagi
Indonesia turut menjadi negara ke dua dengan kelangsungan hidup dan faktor untuk tumbuh
prevalensi BBLR tertinggi diantara negara kembang dan mental bayi di masa yang akan
ASEAN lainnya, setelah Filipina (21,2%). datang. Ditinjau dari faktor ibu ada beberapa
(Supiati, 2016) faktor yang mempengaruhi BBLR, diantaranya

56
Aprillya, W, P., dkk. / Faktor Ibu terhadap / HIGEIA 3 (1) (2019)

kehamilan dan faktor janin. Faktor ibu meliputi Teknik pengambilan sampel yang dipakai
gizi saat hamil kurang, umur ibu (<20 tahun adalah accidental sampling. Dalam penelitian ini
dan > 35 tahun), jarak kehamilan terlalu dekat, kami menggunakan teknik pengambilan sampel
dan penyakit dari ibu itu sendiri. Faktor secara accidental sampling karena sampel yang
kehamilan seperti hidramnion dan kehamilan kami ambil berdasarkan jumlah kunjungan ibu
ganda. Faktor janin yang mempengaruhi BBLR bersalin selama bulan Januari sampai Oktober
misalnya cacat bawaan dan infeksi dalam lahir. 2017.
Faktor-faktor resiko lain diantaranya paritas, Pengumpulan data dilakukan dengan cara
status ekonomi, pendidikan dan pekerjaan ibu memeriksa data yang telah tersedia kemudian
(Sistriani, 2008). data yang telah tersedia diolah, ditinjau dari
Perbedaan penelitian ini dengan umur dan paritas ibu yang melahirkan di Klinik
penelitian sebelumnya adalah desain penelitian Bersalin Harmoni Ambarawa.
yang digunakan berupa deskriptif kuantitatif, Tahapan dalam penelitian ini adlah
dan belum pernah dilakukan penelitian di kegiatan menyusun rancangan awal penelitian
tingkat klinik, dalam hal ini Klinik Bersalin antara lain mencari informasi awal melalui
Harmoni Ambarawa. Tujuan penelitian ini dokumen-dokumen yang relevan seperti jurnal,
adalah untuk mengetahui gambaran gambaran berita, dan buku-buku. Setelah itu memilih
persentase karakteristik ibu yang menjadi tempat penelitian , di dalam memilih lapangan
penyebab BBLR. Ditinjau dari faktor ibu ada penelitian, kami memilih tempat berdasarkan
beberapa faktor yang mempengaruhi BBLR, data skripsi mahasiswa dan laporan dari salah
diantaranya umur dan paritas di Klinik Bersalin satu teman kelompok kami yang bertempat
Harmoni Ambarawa. tinggal di Ambarawa bahwa banyak kejadian
Bayi Berat Lahir Rendah di RSUD Ambarawa.
METODE Sehingga kami memilih tempat penelitian di
daerah Ambarawa yaitu Klinik Bersalin
Penelitian ini menggunakan metode Harmoni Ambarawa.
penelitian kuantitatif dengan menggunakan Kegiatan analisis data dalam penelitian
desain deskriptif. Desain deskriptif adalah salah ini menggunakan analisis deskriptif yaitu
satu jenis penelitian yang tujuannya untuk dilakukan dengan tahap melakukan editing
memperoleh gambaran tentang faktor ibu yang data, melakukan input data yang diperoleh dari
mempengaruhi Bayi Berat Lahir Rendah data sekunder yang tersedia, menghiting
(BBLR) di Klinik Bersalin Harmoni Ambarawa frekuensi data yang diperoleh, menyajikan data
dimana dilakukan dengan cara melihat data dalam bentuk tabel dan melakukan analisis data
rekam medik yang ada di Klinik Bersalin yang telah berbentuk tabel.
Harmoni Ambarawa.
Penelitian kami lakukan di Klinik HASIL DAN PEMBAHASAN
Bersalin Harmoni Ambarawa Kabupaten
Semarang. Variabel dalam penelitian ini Berdasarkan hasil penelitian gambaran
menggunakan variabel terkait yaitu Bayi Berat persentase faktor atau karakteristik ibu terhadap
Lahir Rendah dan variabel bebasnya adalah kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) di
umur dan paritas ibu. Klinik Bersalin Harmoni Ambarawa Kabupaten
Populasi dalam penelitian ini adalah Semarang didapatkan hasil distribusi frekuensi
seluruh ibu bersalin di Klinik Bersalin jumlah bayi yang lahir, umur ibu, dan riwayat
Ambarawa tahun 2018. Yang menjadi sampel paritas yang dapat dilihat pada tabel 1..
dalam penelitian ini sejumlah 175 orang. Fokus Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui
penelitian ini adalah bagaimana faktor ibu bahwa sebagian besar ibu bersalin di Klinik
terhadap kejadian Bayi Berat Lahir Rendah di Bersalin Harmoni tidak mengalami kejadian
Klinik Bersalin Harmoni Ambarawa. BBLR sejumlah 167 orang (93,14 %) sedangkan

57
Aprillya, W, P., dkk. / Faktor Ibu terhadap / HIGEIA 3 (1) (2019)

Tabel 1. Distribusi Frekuensi Bayi yang Lahir, timbangan yang harganya cukup terjangkau,
umur ibu yang mempengaruhi BBLR dan mudah dilakukan, dan dapat dilakukan dalam
paritas yang mempengaruhi BBLR di Klinik waktu singkat. Berat badan bayi yang baru lahir
Bersalin Harmoni Ambarawa dapat dibedakan menjadi 2, yaitu Bayi Berat
Bayi yang Frekuensi Persentase Lahir Rendah (BBLR) dan Bayi Berat Lahir
Dilahirkan Normal (BBLN).
BBLR 12 6,86 Berat badan lahir merupakan indikator
Normal 167 93,14
penting kesehatan bayi, faktor utama bagi
Umur Frekuensi Persentase
Resiko <20 th 31 17,71 kelangsungan hidup dan faktor untuk tumbuh
atau >35 th kembang dan mental bayi di masa yang akan
Tidak berisiko 20–35 144 82,29 datang. Ditinjau dari faktor ibu ada beberapa
th faktor yang mempengaruhi BBLR, diantaranya
Paritas Frekuensi Persentase kehamilan dan faktor janin. Faktor ibu meliputi
Primipara 55 31,43
gizi saat hamil kurang, umur ibu (<20 tahun
Multipara 11 57,71
Grande multipara 19 10,86 dan > 35 tahun), jarak kehamilan terlalu dekat,
Jumlah 175 100,00 dan penyakit dari ibu itu sendiri. Faktor
kehamilan seperti hidramnion dan kehamilan
yang mengalami kejadian BBLR sejumlah 12 ganda. Faktor janin yang mempengaruhi BBLR
orang (6,86 %). misalnya cacat bawaan dan infeksi dalam lahir.
Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui Faktor-faktor resiko lain diantaranya paritas,
bahwa umum nya ibu yang melahirkan di status ekonomi, pendidikan dan pekerjaan ibu
Klinik Bersalin Harmoni Ambarawa (Sistriani, 2008).
mempunyai umur yang tidak berisiko untuk Berdasarkan tabel 1, frekuensi ibu yang
melahirkan yaitu sebanyak 144 orang (82,29 %). berisiko melahirkan Bayi Berat Lahir Rendah
Berdasarkan tabel 1 diatas dapat sebanyak 31 ibu. Ibu yang berisiko melahirkan
diketahui bahwa ada 55 ibu (31,43%) dengan bayi dengan BBLR sebagian besar adalah ibu
primipara, 101 ibu (57,71%) dengan multipara yang berumur <20 tahun dan >35 tahun dalam
dan 19 ibu (10,86%) dengan multipara yang penelitian tersebut presentasenya adalah
melahirkan di Klinik Bersalin Harmoni sebanyak 17,71%.
Ambarawa. Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah Menurut Sistriani (2008), umur yang baik
di Klinik Bersalin Harmoni didapatkan data bagi ibu untuk hamil adalah 20-35 tahun.
bahwa ibu yang tidak mengalami kejadian Kehamilan di bawah umur 20 tahun atau lebih
BBLR sejumlah 167 orang (93,14 %), sedangkan 30 tahun merupakan kehamilan yang berisiko
yang mengalami kejadian BBLR sejumlah 12 tinggi. Kehamilan pada usia muda merupakan
orang (6,86 %). faktor resiko karena pada umur < 20 tahun
Berat badan merupakan salah satu ukuran kondisi ibu masih dalam pertumbuhan sehingga
antropometrik yang sering digunakan pada asupan makanan lebih banyak digunakan untuk
setiap pemeriksaan kesehatan pada bayi, anak, mencukupi kebutuhan ibu. Sedangkan
bahkan orang dewasa. Berat badan merupakan kehamilan lebih dari 35 tahun organ reproduksi
hasil penjumlahan tulang, otot, lemak, cairan kurang subur serta memperbesar resiko
tubuh, dan sebagainya. Sampai saat ini berat kelahiran dengan kelainan kongenital dan
badan merupakan salah satu indicator terbaik berisiko untuk mengalami kelahiran prematur.
untuk mengetahui keadaan atau staus gizi pada Beberapa hasil penelitian menurut (Rizvi,
bayi (Salawati, 2012). 2007) mengatakan ada hubungan umur ibu dan
Untuk mengeahui kualitas dari bayi yang kejadian BBLR ternyata dapat diterima. Dengan
baru lahir, berat badan bayi ketika dilahirkan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa ada
sangatlah penting. Untuk mengukur berat badan hubungan antara umur ibu dengan kejadian
bayi yang baru lahir dapat menggunakan BBLR. Hasil tersebut dapat di interpretasikan

58
Aprillya, W, P., dkk. / Faktor Ibu terhadap / HIGEIA 3 (1) (2019)

bahwa adanya faktor umur ibu yang berisiko umur yang berisiko (umur 20 tahun sampai
terbukti sebagai salah satu faktor resiko dengan umur 34 tahun).
terjadinya BBLR sampai 6 kali lebih besar Berdasarkan hasil penelitian dan teori
dibandingkan dengan umur ibu yang tidak yang telah dipaparkan tersebut maka kami
berisiko. Hasil penelitian memberikan gambaran berpendapat bahwa umur dapat mempengaruhi
bahwa ada hubungan antara umur ibu dengan ibu yang melahirkan bayi BBLR terjadi pada
kejadian BBLR di Rumah Sakit Ibu dan Anak saat umur ibu <20 tahun, karena masih
Banda Aceh. Hal ini dapat dilihat dari 37 ibu kurangnya pengetahuan ibu tentang kehamilan
dengan kategori umur berisiko terdapat 29 ibu dan persalinan, juga dari hasil pengumpulan
(24,6%) yang melahirkan bayi dengan BBLR. data ada ibu yang melahirkan pada usia 18
Sedangkan dari 81 ibu dengan kategori umur tahun dan 19 tahun, yang pada umur tersebut
tidak berisiko hanya 30 ibu (25,4%) yang wanita masih tergolong usia remaja (Riyadi,
melahirkan bayi dengan BBLR. 2001). Kemudian pada ibu yang melahirkan
Hasil penelitian ini sejalan dengan pada usia >35 tahun, juga berisiko untuk
(Salawati, 2012) Ibu hamil yang tidak berisiko melahirkan bayi BBLR karena ibu sudah lebih
sebanyak 93,0% tidak melahirkan bayi BBLR rentan mengalami penyakit degeneratif dan
sedangkan ibu hamil yang berisiko sebanyak kondisi tubuh ibu juga sudah menurun
75,0% melahirkan bayi BBLR. Data tersebut (Mayanda, 2017).
menunjukkan bahwa ibu hamil yang tidak Berdasarkan hasil penelitian di Klinik
berisiko cenderung untuk tidak melahirkan bayi Bersalin Harmoni Ambarawa terdapat 19 ibu
BBLR. Sebaliknya ibu hamil yang berisiko grande multipara dengan jumlah 10,86% hal ini
cenderung untuk melahirkan bayi BBLR. Hasil dapat menyebabkan terjadinya kejadian bayi
uji statistik menggunakan Chi Square pada CI BBLR. Semakin banyaknya jumlah anak yanag
95%, α = 0,05 menunjukkan bahwa nilai p = dilahirkan semakin besar resiko yang
0,005 (< 0,05), berarti bahwa terdapat hubungan melahirkan bayi dengan BBLR Jumlah anak
yang signifikan antara umur ibu dengan bayi lebih dari 3 dapat menimbulkan gangguan
BBLR di RSUDZA Banda Aceh, pada pertumbuhan janin sehingga melahirkan bayi
penelitian ini menunjukkan bahwa ibu yang dengan berat lahir rendah. Jumlah anak yang
melahirkan pada umur < 20 tahun dan > 35 dilahirkan lebih dari 3 orang dapat menurunkan
tahun mempunyai peluang untuk melahirkan kesehatan reproduksi dengan resiko antara lain:
bayi BBLR 10,7 kali dibandingkan ibu yang keguguran anemia, perdarahan hebat, dan
melahirkan pada umur 20-35 tahun (tidak melahirkan bayi dengan BBLR. Hal ini
berisiko). memberikan gambaran bahwa jumlah anak
Adanya hubungan tersebut sesuai seperti grandemultipara memiliki resiko melahirkan
yang diungkapkan oleh (Sistriani, 2008) yang bayi BBLR karena dapat menurunkan kesehatan
menyatakan bahwa Hasil uji statistik repoduksi pada ibu (Purwaningtyas, 2017).
didapatkan nilai p = 0,009 , berarti pada α = 5% Menurut penelitian yang dilakukan
dapat disimpulkan ada perbedaan yang (Salawati, 2012) menyatakan bahwa Ibu hamil
signifikan persentase BBLR antara ibu yang yang paritas tidak berisiko sebanyak 96,0% tidak
termasuk kategori umur yang berisiko dengan melahirkan bayi BBLR begitu juga dengan ibu
ibu yang termasuk kategori umur yang tidak hamil yang paritas berisiko sebanyak 77,3%
berisiko pada saat hamil dan melahirkan. tidak melahirkan bayi BBLR. Hasil uji statistik
Analisis faktor risiko umur didapatkan OR = menggunakan Fisher’s Exact pada CI 95%, α =
4,28 (95% CI:1,4-12,4) artinya ibu yang 0,05 diperoleh nilai p = 0,085 (>0,05), berarti
termasuk kategori umur berisiko (umur kurang bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan
dari 20 tahun dan umur lebih dari 34 tahun) antara paritas dengan bayi BBLR di RSUDZA
mempunyai peluang melahirkan BBLR 4,28 kali Banda Aceh, pada penelitian ini menunjukkan
dibandingkan ibu yang tidak termasuk kategori bahwa ibu yang melahirkan pada paritas 0 dan

59
Aprillya, W, P., dkk. / Faktor Ibu terhadap / HIGEIA 3 (1) (2019)

> 4 mempunyai peluang untuk melahirkan bayi Dalam penelitian ini tidak ada responden
BBLR 5,6 kali dibandingkan ibu yang yang pernah melahirkan ataupun hamil lebih
melahirkan pada peluang paritas 1-4 (tidak dari 5 kali sehingga hasil yang di temukan tidak
berisiko). ada pengaruh yang signifikan antara kejadian
Usia ibu hamil tidak berisiko secara BBLR pada ibu yang baru pertama hamil
signifikan terhadap kejadian BBLR, dimana dengan ibu yang hamil kesekian kalinya dalam
baik ibu yang hamil di usia reproduksi (20-35 hal ini tidak lebih dari 5x. Hasil penelitian ini
tahun) maupun ibu hamil di usia resiko tinggi pun memberikan gambaran, semen gencar di
(>35 tahun) memiliki peluang yang sama canangkan keluarga berencana. Hasil penelitian
melahirkan bayi dengan Bayi Berat Lahir ini sesuai dengan teori yang terdapat dalam
Rendah. Secara teoretis faktor-faktor yang (Sistriani, 2008) yang menyatakan bahwa
menyebabkan BBLR adalah bila di pandang paritas yang berisiko melahirkan BBLR adalah
dari segi usia ibu adalah dimana ibu yang hamil paritas 0 yaitu bila ibu pertama kali hamil dan
di usia yang sangat muda (Mahmudah, 2011). mempengaruhi kondisi kejiwaan serta janin yng
Usia muda dalam penelitian ini adalah dikandungnya, dan paritas lebih dari 4 yang
usia dibawah 20 tahun, hal tersebut bisa dapat berpengaruh pada kehamilan berikutnya
dikarena kesiapan baik fisik maupun mental ibu kondisi ibu belum pulih jika hamil kembali.
yang belum siap, sang ibu masih dalam tahap Paritas yang aman ditinjau dari sudut kematian
pertumbuhan sehingga kebutuhan nutrisi akan maternal adalah paritas 1-4.
semakin besar bila ibu tersebut juga Berdasarkan hasil penelitian dan teori
mengandung. Kehamilan di usia <20 tahun yang telah dipaparkan diatas maka dapat
secara biologis belum optimal secara mental diketahui bahwa ada hubungan antara paritas
sehingga mudah mengalami keguncangan yang dengan kejadian BBLR. Paritas 1 dan umur
mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap muda berisiko karena ibu belum siap secara
pemenuhan gizi bagi ibu dan janin selama medis (organ reproduksi) maupun secara
kehamilannya (Purwaningtyas, 2017). mental, sedangkan paritas di atas 4 dan umur
Dapat disimpulkan bahwa ibu hamil baik tua, secara fisik ibu mengalami kemunduran
di usia reproduktif (20-35 tahun) atau di usia untuk menjalani kehamilan.
resiko tinggi (>35 tahun) memiliki peluang Menurut Supiati (2016), ada banyak
yang sama melahirkan bayi BBLR namun bila faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang
ibu hamil di usia kurang dari 20 tahun secara janin, yaitu faktor janin, faktor etnik dan ras
teoretis memiliki peluang yang lebih besar yang bisa dipengaruhi oleh faktor genetik, faktor
melahirkan bayi dengan Bayi Berat Lahir kongenital. Perilaku ibu yang suka merokok
Rendah. Penelitian ini juga menemukan riwayat maupun mengkonsumsi obat-obatan akan
kehamilan atau gravida tidak berisiko secara berdampak pada janin. Janin yang terkena
signifikan terhadap kejadian BBLR, baik ibu pajanan asap rokok, alkohol dan obat-obatan
yang hamil pertama kali maupun ibu hamil akan berisiko lahir dalam kondisi kurang berat
kesekian kali memiliki peluang yang sama badan (BBLR). Menurut beberapa penelitian,
melahirkan bayi dengan Bayi Berat Lahir angka kejadian bayi BBLR pada ibu yang
Rendah. Secara teoretis menurut Mahmudah perokok sebesar dua kali lebih tinggi daripada
(2011) grande multipara dapat menyebabkan ibu yang bukan perokok. Penggunaan obat-
terjadinya BBLR, karena ibu yang sering obatan pada ibu hamil juga dapat menyebabkan
melahirkan lebih dari 5 kali lebih rentan beberapa efek yang dapat mengganggu tumbuh
mengalami anemia yang berakibat pada kembang janin. Selain itu konsumsi obat-obatan
pertumbuhan dan perkembangan bayi di dalam juga berisiko untuk melahirkan bayi dalam
kandungan dan ibu dengan grande multipara kondisi cacat kongenital (Utama, 2008).
lebihrentan melahirkan bayi kurang bulan yang Paparan dan radiasi zat-zat berbahaya
pasti memiliki berat badan bayi rendah. dapat mempengaruhi keadaan janin, karena hal

60
Aprillya, W, P., dkk. / Faktor Ibu terhadap / HIGEIA 3 (1) (2019)

tersebut dapat menyebabkan mutasi gen, yang dengan umur kehamilan 37 sampai 42 minggu.
akhirnya dapat menjadikan kelainan kongenital Paritas primipara mempunyai daya protektif
pada janin. Beberapa komponen lingkungan 1,32 kali lebih besar untuk terjadi BBLR. Paritas
dapat mempengaruhi kemungkinan terjadinya yang berisiko tinggi untuk melahirkan BBLR
BBLR. Faktor lingkungan tersebut diantaranya adalah paritas nol dan paritas lebih dari empat.
apabila ibu bertempat tinggal di dataran tinggi Hal ini terjadi terutama jika karena kondisi
atau pegunungan. Kadar oksigen yang rendah rahim ibu belum pulih untuk hamil kembali.
dapat menyebabkan suplai oksigen terhadap Paritas nol adalah ibu yang baru pertama kali
janin menjadi terganggu. Apabila keadaan hamil. Jarak kehamilan juga merupakan salah
tersebut berlangsung selama-berbulan-bulan, satu faktor risiko medis ibu yang mempengaruhi
maka akan meningkatkan risiko terjadinya kejadian BBLR. Semakin pendek jarak antara
hipoksia pada janin, yang akhirnya dapat dua kelahiran, akan semakin berisiko untuk
menyebabkan asfiksia neonatorum. Gangguan melahirkan BBLR. Hal tersebut disebabkan
oksigenisasi atau kadar oksigen yang lebih karena adanya komplikasi perdarahan
rendah di udara sangat mempengaruhi keadaan antepartum, partus prematur, serta anemia berat
janin dan dapat menyebabkan bayi lahir dalam (Rizvi, 2007; Riyadi, 2001).
kondisi BBLR (Utama, 2008). Pada studi prospektif yang dilakukan oleh
Faktor kongenital yang berat dapat Salawati (2012), didapatkan hasil bahwa
menjadikan retardasi pertumbuhan, sehingga interval persalinan mempunyai hubungan
berat bayi lahirnya rendah. Faktor maternal bermakna dengan kejadian BBLR. Jarak
yang dapat mengganggu tumbuh kembang bayi kehamilan yang sangat pendek atau jarak
adalah konstitusi ibu, diantaranya kehamilan kehamilan yang sangat panjang dapat menjadi
ganda atau tunggal, serta faktor lingkunga ibu. faktor risiko terjadinya bayi dengan kondisi
Selain itu, faktor plasenta yang mempengaruhi BBLR. Ibu yang hamil dengan primipara
tumbuh kembang janin diantaranya berat dan mempunyai risiko relatif 1,32 untuk terjadinya
besar plasenta, tempat melekatnya plasenta bayi dengan BBLR dan risiko relatif 1,48 pada
pada uterus, tempat insersi tali pusat, serta ibu yang mempunyai interval kehamilan lebih
kelainan plasenta. Kelainan plasenta bisa terjadi dari 6 tahun. Bayi yang mempunyai berat lahir
karena plasenta tidak dapat berfungsi dengan rendah terjadi apabila ibu mengalami gangguan
baik. Bila plasenta tidak dapat berfungsi dengan atau komplikasi selama periode kehamilan,
baik, dapat mengakibatkan gangguan sirkulasi misalnya hiperemesis gravidarum, yaitu
oksigen ke janin. Apabila sebagian plasenta komplikasi dimana ibu mengalami mual dan
terlepas dari perlekatannya dan posisi tali pusat muntah pada saat hamil muda. Apabila
tidak sesuai dengan lokasi pembuluh darah yang keadaan ini berlangsung secara terus menerus,
ada di plasenta, maka hal tersebut dapat dapat menyebabkan terjadinya dehidrasi,
mengakibatkan gangguan aliran darah dari sehingga cadangan karbohidrat dan lemak habis
plasenta ke bayi (Sistriani, 2008). terpakai untuk keperluan energi. Terjadinya
Keadaan medis ibu sebelum hamil yang mual ini bisa disebabkan karena kadar estrogen
dapat mempengaruhi keadaan janin antara lain meningkat.
paritas, berat badan yang kurang dari 40 kg, Ada beberapa faktor yang dapat
tinggi badan ibu yang kurang dari 145 cm, cacat mempengaruhi berat badan janin saat
bawaan, pernah melahirkan BBLR, abortus dilahirkan. Faktor-faktor tersebut adalah jangka
spontan, serta faktor genetik. Paritas adalah waktu kehamilan, gizi ibu, keadaan ekonomi
jumlah anak yang pernah dikandung oleh ibu, keluarga, urutan kelahiran, ukuran keluarga,
atau yang pernah dilahirkan oleh ibu, baik serta kegiatan janin. Pada bayi yang postmatur,
dalam kondisi hidup maupun mati. Paritas akan mempunyai ukuran yang lebih panjang,
primipara adalah ibu yang pernah melahirkan lebih berat, dan lebih terisi daripada mereka
bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram, yang lahir pada umur yang lengkap. Bagi bayi

61
Aprillya, W, P., dkk. / Faktor Ibu terhadap / HIGEIA 3 (1) (2019)

yang lahir premature, maka umumnya mereka peneliti selanjutnya yaitu agar meneliti seberapa
kurang lemaknya, sehingga mereka akan besar pengaruh faktor-faktor yang menyebabkan
tampak lebih kurus dan terlihat lemah (Dewey, kejadian BBLR.
2011).
Terdapat hubungan yang kuat antara gizi DAFTAR PUSTAKA
ibu pada saat hamil dengan bayi yang akan
dilahirkan. Hal tersebut terutama pada bulan- Dewey, K.G., & Mayers, D.R. 2011. Early Child
bulan terakhir kehamilan. Apabila gizi ibu Growt : How Do Nutrition and Infection
kurang, maka akan berisiko melahirkan bayi Interact?. Maternal and Child Nutrition, 7(3).
yang gurang gizi dan BBLR (Sistriani, 2008). Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. 2018. Profil
Kesehatan Provinsi Jawa Tengah, 2017.
Keadaan sosial ekonomi keluarga juga
Semarang: Dinas Kesehatan Provinsi Jawa
dapat mempengaruhi gizi bayi yang akan
Tengah.
dilahirkan, karena sosial ekonomi keluarga Mahmudah, U., Widya, H.C., & Anik, S.W., 2011.
sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas Faktor Ibu dan Bayu yang Berhubungan
gizi ibu, terutama pada bulan-bulan terakhir dengan Kejadian Kematian Perinatal. Jurnal
kehamilan. Bila gizi ibu buruk, maka berisiko Kesehatan Masyarakat, 7(1): 41-50.
melahirkan bayi yang berat dan panjangnya Mayanda, V., 2017. Hubungan Status Gizi Ibu Hamil
kurang (Salawati, 2012). Dengan Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
Urutan kehamilan juga dapat RSIA Mutia Sari Kecamatan Mandau,
Menara Ilmu, 11(1): 229-236.
mempengaruhi keadaan bayi yang akan
Purwaningtyas, M. L., Prameswari, G. N. 2017.
dilahirkan. Sebagian besar bayi yang lahir
Faktor Kejadian Anemia pada Ibu Hamil.
pertama memiliki berat yang kurang, serta lebih HIGEIA (Journal of Public Health Research and
pendek daripada bayi yang lahir berikutnya, Development, 1(3): 43-54.
pada keluarga yang sama. Bayi yang lahir dalam Riyadi, 2001. Studi tentang Status gizi Pada Rumah
keluarga besar, terutamaapabila mempunyai Tangga Miskin dan Tidak Miskin. Jurnal
jarak kelahiran yang cukup dekat dengan anak Indonesia Food, 29 (1): 82 -91.
sebelumnya, cenderung akan mempunyai Rizvi, S.A., Hatcher, J., Jehan, I., Qureshi, R., 2007.
ukuran yang lebih kecil daripada anak-anak Maternal Risk Factors Associated With Low
Birth Weight In Karachi: a Case-control
yang lahir sebelumnya (Mayanda, 2017). Hal ini
Study, Eastern Mediterranean Health Journal, 13
dapat terjadi karena pegaruh kondisi kesehatan
(6):1343-1352.
ibunya. Salawati, L., 2012. Hubungan Usia Paritas dan
Pekerjaan Ibu Hamil dengan Bayi Berat Lahir
PENUTUP Rendah. Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, 12(3).
Sistriani, C., 2008. Faktor Maternal dan Kualitas
Hasil penelitian menunjukkan umumnya Pelayanan Antenatal yang Berisiko terhadap
ibu yang melahirkan mempunyai umur yang Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) Studi
pada Ibu yang Periksa Hamil Ke Tenaga
tidak berisiko untuk melahirkan yaitu sebanyak
Kesehatan dan Melahirkan di RSUD Banyumas.
144 orang (82,29%), 19 ibu (10,86%) dengan
Tesis FKM. Semarang: Universitas
grandemultipara, dan 12 bayi BBLR (6,86%) Diponegoro.
yang lahir di Klinik Bersalin Harmoni Supiati., 2016. Karakteristik Ibu kaitanyya dengan
Ambarawa. Simpulan dari penelitian ini yaitu Kejadian Bayi Berat Lahir Rendah. Jurnal
sebagian besar ibu yang menjadi responden Kebidanan dan Kesehatan Tradisional, 1(1): 1-99.
memiliki umur yang tidak berisiko untuk Utama, S.Y., 2008. Faktor Risiko Yang Berhubungan
melahirkan dan ibu dengan multipara sehingga Dengan Kejadian Preeklampsia Berat Pada
banyak bayi yang dilahirkan ibu memiliki berat Ibu Hamil di RSD Raden Mattaher Jambi
Tahun 2007. Jurnal Ilmiah Universitas
badan normal.
Batanghari Jambi, 8(2): 71-79.
Penelitian ini hanya memberikan
gambaran secara deskriptif sehingga saran untuk

62