Anda di halaman 1dari 20

SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN

“Analisis Laporan Kinerja”

OLEH:

KELOMPOK 4:

NI LUH KARANG SRI MARYANI (12)


NABELA DESTANIA (15)
I MADE HERRY DHARMA WINATA (19)
NI KOMANG INDAH KRISTIANI (22)
RIZKY FAJAR RAMADHAN (24)
A.A ALIT PUTRA ADNYANA (29)
PUTU INDAH KRISTIARADEVI (36)

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS MAHASARASWATI
DENPASAR
2019

i
KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur saya haturkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah

memberikan kelancaran bagi kami. Sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang

berjudul “Analisis Laporan Kinerja” dengan baik dan tepat pada waktunya.

Makalah ini telah kami selesaikan dengan maksimal berkat kerjasama dari kelompok

kami. Diluar itu, kami sebagai manusia biasa menyadari sepenuhnya bahwa masih banyak

kekurangan dalam penulisan makalah ini, baik dari segi tata bahasa, susunan kalimat maupun

isi. Oleh sebab itu dengan segala kerendahan hati, kami selaku penyusun menerima segala

kritik dan saran yang membangun dari pembaca.

Demikian yang bisa saya sampaikan, semoga makalah ini dapat menambah wawasan

dan ilmu pengetahuan dan memberikan manfaat nyata untuk mahasiswa.

ii
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL..................................................................................... i

KATA PENGANTAR................................................................................... ii

DAFTAR ISI.................................................................................................. iii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................... 1

1.1 Latar belakang............................................................................... 1

1.2 Perumusan masalah....................................................................... 2

1.3 Tujuan............................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN............................................................................... 3

2.1 Perhitungan selisih....................................................................... 3

2.2 Analisis selisih dalam dunia praktik............................................ 7

2.3 Keterbatasan analisis selisih......................................................... 11

2.4 Informasi lain dalam analisis laporan kinerja............................... 11

2.5 Aspek perilaku dalam penilaian prestasi........................................ 12

BAB III PENUTUP......................................................................................... 15

3.1 Kesimpulan.................................................................................... 15

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................... 17

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Anggaran berbasis kinerja adalah penggunaan angggaran berdasarkan output yang

dihasilkan. Anggaran yang dijalankan dalam satu tahun anggaran bisa terjadi

penyimpangan dalam relisasinya. Penyimpangan tersebut bisa terjasi karena kesalahan

hitungan atau karena situasi dan kondisi pada saat dijalankannya program tersebut

berbeda dengan pada saat program tersebut ditetapkan. Jika terjadi penyimpangan maka

perlu dianalisis sebab-sebab terjadinya penyimpangan dan cara apa yang harus

dilakukan untuk masa yang akan datang. Untuk memperbaiki kesalahan atau

penyimpangan yang terjadi dimasa yang akan datang maka perlu dilakukan perhitungan

selisih yang di tetapkan dalam dunia praktik dengan memperhatikan keterbatasan

analisis serta informasi lain dan aspek perilaku penilaian prestasi untuk menunjang

keberhasilan dimasa yang akan datang.

1
1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka rumusan masalah

yang kami bahas adalah :

1. Bagaimana melakukan perhitungan selisih sebagai akibat kegiatan terkahir proses

pengendalian manajemen ?

2. Bagaimana menganalisis selisih dalam dunia praktik ?

3. Apa saja keterbatasan analisis selisih ?

4. Apa saja informasi lain atau tambahan dalam analisis laporan kinerja ?

5. Bagaimana aspek perilaku pada penilaian prestasi ?

1.3 Tujuan

Tujuan penyusunan makalah ini adalah :

1. Sebagai sarana pembelajaran dan peningkatan wawasan mengenai analisis laporan

kinerja.

2. Untuk mengetahui bagaimana melakukan perhitungan selisih sebagai akibat

kegiatan terkahir proses pengendalian manajemen.

3. Untuk mengetahui bagaimana menganalisis selisih dalam dunia praktik.

4. Untuk mengetahui keterbatasan analisis selisih.

5. Untuk mengetahui informasi lain atau tambahan dalam analisis laporan kinerja.

6. Untuk mengetahui bagaimana aspek perilaku pada penilaian prestasi.

7. Sebagai syarat pemenuhan tugas kelompok dalam mata kuliah sistem pengendalian

manajemen.

2
BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Perhitungan Selisih


Kegiatan terakhir dari proses pengendalian manajemen adalah menilai kinerja

manajer pusat pertanggungjawaban. Prestasi kerja pada intinya bisa dilihat dari efisien

dan efektif tidaknya suatu pusat pertanggungjawaban menjalankan tugas yang menjadi

tanggung jawabnya. Evaluasi dilakukan dengan cara membandingkan antara realisasi

anggaran dengan anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya.

Kegiatan perbandingan tersebut dilakukan oleh unit usaha ataupun juga

perusahaan secara keseluruhan dengan menggunakan basis bulanan (beberapa

diantaranya dengan menggunakan periode kuartalan). Beberapa perusahaan hanya

melaporkan secara sederhana jumlah selisih yang terjadi selama periode tertentu tanpa

melaporkan penyebab terjadinya selisih tersebut.

Laporan kinerja yang tidak dapat menunjukkan sebab-sebab terjadinya selisih

yang terjadi selama periode tertentu tidak akan memberikan manfaat di masa yang akan

datang, bahkan mungkin akan membingungkan. Laporan yang baik seharusnya

menguraikan sebab-sebab terjadinya selisih dan bagaimana dampaknya terhadap laba,

sehingga selisih harus diuraikan dari tingkat tertinggi yaitu selisih laba, sampai dengan

tingkatan paling bawah sebagai penyebab terjadinya selisih.

Selisih yang disusun secara hierarkis dapat dilihat pada gambar di halaman

selanjutnya. Dari gambar tersebut dapat diketahui, pertama kali ditentukan kinerja unit

usaha secara keseluruhan, yang merupakan selisih antara laba sesungguhnya yang

dicapai dengan anggaran laba. Kemudian selisih ini dibagi ke dalam selisih pendapatan

dan selisih biaya. Selisih pendapatan dibagi menjadi dua selisih yaitu selisih volume

dan selisih harga jual, untuk unit usaha secara keseluruhan dan untuk pusat pendapatan

3
dari unit usaha. Selisih volume dapat dibagi lagi menjadi dua selisih yaitu selisih pangsa

pasar dan selisih volume industri. Selisih pendapatan dapat juga dianalisis berdasarkan

daerah penjualan. Sedangkan selisih biaya dibagi menjadi dua, yaitu biaya produksi dan

biaya non produksi. Selisih biaya produksi dibagi ke dalam pabrik atau bagian dalam

pabrik, sehingga memungkinkan untuk mengidentifikasi setiap selisih dengan manajer

yang bertanggungjawab secara individual.

Selisih Total

Biaya Non Biaya


Penjualan
Produksi Produksi

Penelitian & Biaya


Administrasi Pemasaran Pengembangan
Biaya Tetap Volume Harga Jual
Variabel

Overhead Volume
Bahan Baku Tenaga Kerja Pangsa Pasar
Variabel Industri

Kerangka kerja untuk melakukan analisis selisih yang terjadi menggunakan ide-ide sebagai

berikut :

1) Menentukan faktor penyebab kunci yang mempengaruhi laba.

2) Pecah seluruh selisih laba berdasarkan faktor-faktor kunci penyebab tersebut.

3) Memfokuskan pada pengaruh laba dari selisih yang disebabkan oleh masing-

masing faktor penyebab.

4) Berusaha menghitung pengaruh yang spesifik dari tiap faktor penyebab dengan

hanya mengubah faktor yang bersangkutan sementara faktor yang lain konstan.

5) Menambah kompleksitas secara berurutan, satu lapis pada suatu waktu, dimulai

dengan tingkatan yang paling umum.

4
6) Menghentikan proses apabila penambahan kompleksitas pada tingkatan tertentu

tidak menambah kejelasan mengenai faktor-faktor yang mendasari selisih laba

secara keseluruhan.

2.2.1 Selisih Pendapatan


Pada bagian ini, diuraikan bagaimana menghitung selisih harga jual, selisih

volume, dan selisih campuran. Perhitungan dibuat untuk masing-masing lini

produk, dan hasil dari lini produk tersebut kemudian dikumpulkan untuk

menghitung selisih totalnya. Selisih positif menunjukkan laba

(menguntungkan) karena laba sesungguhnya melebihi laba yang dianggarkan,

dan selisih negative menunjukkan rugi (tidak menguntungkan).

A. Selisih Harga Jual (Selling Price Variance)

Selisih harga jual dihitung dengan mengalikan perbedaan antara harga

sesungguhnya dan harga standar dengan volume sesungguhnya atau dapat

dinyatakan dalam rumus :

Selisih Harga Jual = ((Harga Sesungguhnya – Harga Standar) x Volume Sesungguhnya

B. Selisih Campuran dan Volume (Mix and Volume Variance)


Besarnya selisih campuran dan volume dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan berikut :

Selisih Campuran dan Volume = (Volume Sesungguhnya – Volume Dianggarkan) x


(Kontribusi yang Dianggarkan Per Unit)

Selisih volume terjadi akibat penjualan sesungguhnya lebih besar

dibandingkan dengan penjualan yang dianggarkan. Sedangkan selisih campuran

diakibatkan karena komposisi produk yang dihasilkan berbeda dengan

komposisi produk yang dianggarkan.

5
C. Selisih Campuran (Mix Variance)

Selisih campuran untuk masing-masing produk dihitung dengan

menggunakan persamaan :

Selisih Campuran = ((Total Volume Sesungguhnya x Proporsi yang Dianggarkan) –


(Volume Penjualan Sesungguhnya)) x (Kontribusi yang Dianggarkan Per Unit)

D. Selisih Volume (Volume Variance)

Besarnya selisih volume dapat dicari dengan mengurangkan selisih volume dan

selisih campuran dengan selisih campuran. Perhitungan selisih volume juga dapat

dihitung dengan menggunakan persamaan :

Selisih Volume = ((Total Volume Penjualan Sesungguhnya) x (Persentase yang


Dianggarkan)) – ((Penjualan yang Dianggarkan) x (Kontribusi yang Dianggarkan Per
Unit))

E. Analisis Pendapatan yang lain

Jika tersedia informasi penjualan berdasarkan produk, selisih pendapatan dapat

dianalisis lebih lanjut berdasarkan produk.

F. Penetrasi Pasar Dan Volume Industri.

Analisis pendapatan diperluas untuk memisahkan selisih volume dan campuran

menjadi jumlah yang disebabkan oleh perbedaan pangsa pasar dan yang disebabkan

oleh perbedaan volume industri. Prinsipnya adalah manajer unit usaha bertanggung

jawab terhadap pangsa pasar tapi tidak bertanggung jawab terhadap volume

industri, karena volume industri ini dipengaruhi oleh keadaan ekonomi secara luas.

Persamaan berikut digunakan untuk memisahkan pengaruh penetrasi pasar dari

volume industri atas selisih volume dan campuran:

Volume industri atas selisih volume dan campuran:


selisih pangsa pasar = [(penjualan sesungguhnya) - (volume industri) x penetrasi
pasar dianggarkan] x (unit kontribusi dianggarkan)

Selisih volume industri = (volume industri sesungguhnya – volume industri


dianggarkan) x penetrasi pasar dianggarkan x unit kontribusi dianggarkan

6
2.2.2 Selisih Biaya (Expense Variance )
A. Biaya Tetap

Biaya tetap adalah biaya yang jumlah totalnya tidak dipengaruhi oleh

besarnya volume penjualan maupun volume produksi. Sesuai dengan sifat biaya

ini, maka selisih yang terjadi dihitung dengan cara membandingkan antara biaya

tetap menurut anggaran dengan biaya tetap sesungguhnya.

B. Biaya Variable

Biaya variabel adalah biaya yang berubah secara langsung dan proporsional

dengan volume. Biaya variabel yang dianggarkan harus disesuaikan dengan

volume produksi sesungguhnya.

2.2.3 Ringkasan Selisih

Selisih yang terjadi beserta penyebabnya kemudian dilaporkan kepada

manajemen sebagai dasar untuk melakukan penyempurnaan.

2.2 Analisis Selisih Dalam Dunia Praktik

Beberapa perbedaan dalam praktik diuraikan berikut ini:

2.2.1 Perbandingan Periode Waktu

Dalam contoh sebelumnya perbandingan antara laba sesungguhnya

dengan laba yang dianggarkan dilakukan secara bulanan. Beberapa perusahaan

menggunakan kinerja untuk tahun ke tanggal sebagai dasar perbandingan.

Sebagai ilustrasi, untuk periode yang berakhir 30 Juni, akan digunakan jumlah

yang sesungguhnya dan dianggarkan selama enam bulan yang berakhir 30

Juni. Perusahaan lain membandingkan anggaran dan realisasinya selama satu

tahun. Jumlah sesungguhnya untuk laporan yang dipisahkan pada 30 Juni

terdiri dari jumlah sesungguhnya untuk enam bulan pertama ditambah estimasi

penjualan dan biaya untuk enam bulan berikutnya.

7
Perbandingan anggaran sesungguhnya dengan harapan kinerja

sesungguhnya untuk tahun tersebut menunjukkan bagaimana dekatnya

manajer unit usaha mengharapkan untuk mencapai target laba tahunan. Jika

prestasi untuk tahun ke tanggal lebih buruk dari pada anggaran untuk tahun ke

tanggal memungkinkan deficit atas prestasi yang dicapai bisa diatasi untuk

bulan-bulan berikutnya. Di lain pihak kekuatan yang menyebabkan kinerja

sesungguhnya atas anggaran yang rendah untuk tahun ke tanggal bisa saja

diharapkan berlanjut untuk tahun yang tersisa, dimana akan menghasilkan

jumlah yang berbeda dari jumlah yang dianggarkan.

Manajer puncak membutuhkan estimasi realistik dari laba untuk tahun

tersebut, baik karena disebabkan kebutuhan akan perubahan kebijakan

deviden, memenuhi kas tambahan, atau mengubah tingkat pengeluaran biaya

kebijakan dan juga karena estimasi saat ini dari kinerja tahun tersebut kerap

dilengkapi untuk analis keuangan dari pihak luar lainnya.

2.2.2 Memfokuskan Pada Laba Kotor


Pada banyak perusahaan perubahan harga ataupun faktor lain

diharapkan akan membawa perubahan harga jual, dan tugas manajer

pemasaran adalah untuk memperoleh laba kotor yang dianggarkan. Kebijakan

seperti itu khususnya penting pada periode terjadinya inflasi. Analisis selisih

pada sistem seperti itu tidak akan menghasilkan selisih tentang harga jual.

Juga, aka ada selisih laba kotor; laba kotor per unit berbeda antara harga jual

dan harga pokok produk.

Hal ini dilakukan dengan mensubstitusi laba kotor untuk perbedaan

antara harga jual sesungguhnya dengan harga pokok standar. Harga pokok

standar hendaknya memasukkan perhitungan tersebut ke harga pokok produksi

yang disebabkan oleh perubahan harga bahan baku dan tenaga kerja. Standar
8
ini, lebih dari sesungguhnya, biaya yang digunakan atas ketidakefisienan

produksi tidak memperhitungkan organisasi pemasaran.

2.2.3 Standar Evaluasi


Ada tiga jenis standar untuk menilai aktivitas sesungguhnya suatu unit

usaha dalam sistem pengendalian manajemen yakni :

1) Standar atau Anggaran Yang Ditetapkan Sebelumnya.

Jika standar atau anggaran ini disusun secara hati-hati dan

dikoordinasikan dengan baik, maka standar ini sangat bagus. Standar

ini merupakan kinerja sesungguhnya yang dipakai pada kebanyakan

perusahaan. Jika anggaran tersebut disusun dengan cara tidak hati-

hati, cara ini tidak layak menjadi dasar perbandingan.

2) Standar Historis.

Cara ini merupakan catatan kinerja sesungguhnya pada masa lalu.

Kelemahan catatan kinerja sesungguhnya pada masa lalu.

Kelemahan mendasar dari standar ini adalah : pertama, keadaan

sekarang mungkin sudah berubah antara dua periode yang

dibandingkan. Kedua, kinerja periode sebelumnya belum tentu dapat

diterima.

3) Standar Eksternal.

Standar ini diperoleh dari pusat pertanggung jawaban atau

perusahaan lain. Kinerja dari suatu kantor cabang berbeda dengan

kinerja kantor cabang lainnya. Jika kondisi pada dua pusat

pertanggung jawaban ini sama, perbandingan seperti ini mungkin

menjadi dasar evaluasi kerja.

9
2.2.4 Full-Cost System
Jika perusahaan menggunakan sistem biaya penuh (full-cost system),

maka baik biaya variable maupun biaya tetap dimasukkan sebagai elemen

persediaan pada biaya standar per unit. Jika persediaan akhir lebih besar dari

pada persediaan awal, beberapa biaya overhead tetap yang terjadi pada periode

tersisa pada persediaan lebih dari mengalirkan ke harga pokok penjualan.

Sebaliknya, jika persediaan menurut selama periode tersebut, lebih banyak

biaya overhead tetap dikurangkan pada harga pokok penjualan dari pada

jumlah sesungguhnya yang terjadi pada periode tersebut.

Jika tingkat persediaan berubah, dan jika volume produksi

sesungguhnya berbeda dari yang dianggarkan, bagian dari selisih volume

produksi dimasukkan dalam persediaan. Juga, jumlah selisih volume produksi

ini harus di hitung dan dilaporkan. Selisih ini merupakan perbedaan biaya tetap

produksi yang sesungguhnya dan biaya produksi tetap standar pada volume

bersangkutan.

Jika perusahaan tersebut menggunakan sistem biaya variable, biaya

produksi tetap tidak dimasukkan dalam persediaan sehingga tidak ada selisih

volume produksi. Selisih biaya produksi tetap secara sederhana merupakan

perbedaan jumlah yang dianggarkan dengan jumlah sesungguhnya.

2.2.5 Biaya Teknik Dan Kebijakan


Selisih menguntungkan pada biaya teknik biasanya memberikan

indikasi kinerja yang baik, yakni makin rendah biaya maka lebih baik

kinerjanya. Sebaliknya, kinerja pusat biaya kebijakan biasanya dinilai atas

dasar kepuasan jika biaya sesungguhnya sama dengan yang dianggarkan.

10
2.3 Keterbatasan Analisis Selisih
Walaupun analisis selisih merupakan cara yang bagus, tetapi ia mempunyai

keterbatasan.

1) Walaupun cara ini menunjukkan dimana selisih itu terjadi tapi ia tidak

menjelaskan alasan terjadinya selisih dan tidak menjelaskan tindakan yang

perlu dilakukan sebagai tindakan-lanjutnya.

2) Tidak memberikan penjelasan apakah selisih yang terjadi tersebut penting atau

tidak.

3) Karena laporan kinerja merupakan kumpulan laporan, maka manajer menjadi

lebih tergantung pada keterangan dan ramalan.

4) Laporan analisis selisih hanya menunjukkan apa yang telah terjadi tidak

menunjukkan apa pengaruh dimasa mendatang terhadapa tindakan yang telah

dilakukan manajer.

2.4 Informasi Lain

Disamping menerima laporan selisih terhadap anggaran dan data sesungguhnya,

manajer unit usaha tertentu juga menerima informasi dari sumber lainnnya.

2.4.1 Variabel Kunci

Sebelumnya sudah dibahas pentingnya penentuan dan pelaporan

variabel kunci tertentu yang memerlukan tindakan segera. Variabel-variabel

ini merupakan indikator penting atas kesuksesaan perusahaan. Yang

terpenting adalah informasi atas variabel kunci harus menjadi perhatian

utama manajer unit usaha.

11
2.4.2 Tujuan Non Keuangan

Disamping tujuan keuangan yang harus dicapai maka tujuan non

keuangan perlu juga dicapai karena perlu untuk menganalisis kinerja

sebagai tambahan informasi pada anggaran laba.

2.4.3 Informasi Informal

Manajer memperoleh informasi bisa dari komunikasi dengan orang lain,

memo, rapat, dan sumber informasi lainnya. Kepentingan relative informasi

informal, dibandingkan dengan laporan formal yang telah diuraikan,

berbeda dengan yang diinginkan oleh manajer.

2.4.4 Tindakan Manajemen

Bagaimanapun juga keseimbangan antara informasi formal dan

informal, prinsip yang terpenting adalah laporan laba bulanan seharusnya

tidak berisi banyak kejutan. Informasi yang signifikan hendaknya

dikomunikasikan secara cepat segera setelah informasi tersebut dikertahui.

Manfaat utama dari laporan formal adalah:

1) Laporan ini menyediakan tekanan yang diperlukan pada manajer

tingkat bawah untuk mengambil tindakan perbaikan atas inisitatif

mereka sendiri.

2) Informasi informal bisa saja tidak lengkap atau salah arti.

3) Jumlah dalam laporan formal menyediakan informasi yang lebih

akurat.

4) Laporan formal bisa mengkonfirmasi atas informasi dari pihak luar.

2.5 Aspek Perilaku Pada Penilaian Prestasi

Kebanyakan perusahaan menggunakan teknik yang sama dalam penyusunan

dan mereview anggaran laba dan dalam laporan yang berurutan terhadap anggaran yang

12
disetujui. Inilah yang disebut aspek teknik dalam sistem penyusunan anggaran formulir

yang digunakan untuk menyusun anggaran, format selisih biaya dan realisasinya,

frekuensi laporan, dan lain-lain sama pada banyak perusahaan,. Namaun perbedaannya

adalah cara menggunakan informasi yang dihasilkan oleh system penganggaran

tersebut.

2.5.1 Pengawasan Ketat (Tigh controls)

Pengawasan ketat didasarkan atas filosofi bahwa manager bawahan

bekerja secara efektif jika mereka hanya di tagetkan untuk jangka pendek

saja, dan manajer puncak bisa membantu bawahan dalam mengatasi

masalah harian. Dengan pengawasan ketat, tujuan laba suatu manajer unit

usaha di pertimbangkan sesuai komitmen perusahan dimana ia diukur dan

kemudian di evaluasi. Jadi sistem pengawasan ketat merupakan suatu sistem

dimana kinerja manajer dievaluasi terutama berdasarkan kemampuannya

mencapai target yang telah ditetapkan.

2.5.2 Pengawasan Longgar

Pengawasan longgar didasarkan pada filosofi manajeman yang

diilustrasikan dengan pernyataan ‘saya menyewa seseorang dan saya

membiarkannya untuk melakukan pekerjaannya sendiri. Dengan

pengawasan longgar, anggaran tersebut pada dasarnya merupakan alat

perencanaan dan komunikasi.

2.5.3 Pengaruh Perilaku Pengawasan Ketat dan Longgar

Sistem pengawasan memilki beberapa keuntungan yaitu :

1) Pengawasan ketat cendrung mencegah manajer untuk bersikap tidak

efisien ataupun membuang-buang waktu.

13
2) Tekanan yang konsisten memotivasi manajer untuk mencari jalan yang

lebih untuk menjalankan operasional perusahaan seperti saat ini.

Kelamahan pengawasan ketat adalah :

1) Manajer lebih memfokuskan pada tindakan jangka pendek daripada

kepantingan jangka panjang perusahaan.

2) Untuk memenuhi laba jangka pendek, manajer unit usaha tidak

melakukan tindakan yang bermanfaat untuk jangka panjang.

3) Kegunaan laba yang dianggarkan sebagai tujauan yang akan dicapai,

bisa mengubah komunikasi antara manajer unit usaha dengan puncak.

4) Pengawasan yang ketat mendorong manajer untuk memanifulasi data.

Studi empiris yang pernah diakukan hopwood mengemukakan bahwa

pengawasan ketat akan menjadikan:

1) Hubungan kerja yang tidak harmonis.

2) Jelek hubungan dengan atasan.

3) Jeleknya hubungan dengan rekan kerja.

4) Kecendrungan manipulasi laporan akuntansi.

2.5.4 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pemilihan Pengawasan Ketat dan

Longgar

1) Besarnya keleluasaan bagi manajer unit usaha untuk melakukan uji

coba.

2) Tingkat dimana variable kinerja secara kritis bisa di pengaruhi oleh

manajer unit usaha.

3) Tingkat ketidakpastian yang melekat pada operasional perusahaan.

4) Rentang waktu pengaruh keputusan manajer yang dibuatnya.

14
BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Perhitungan selisih
Kerangka kerja untuk melakukan analisis selisih yang terjadi menggunakan ide-ide
sebagai berikut :
1) Menentukan faktor penyebab kunci yang mempengaruhi laba.
2) Pecah seluruh selisih laba berdasarkan faktor-faktor kunci penyebab tersebut.
3) Memfokuskan pada pengaruh laba dari selisih yang disebabkan oleh masing-
masing faktor penyebab.
4) Berusaha menghitung pengaruh yang spesifik dari tiap faktor penyebab dengan
hanya mengubah faktor yang bersangkutan sementara faktor yang lain konstan.
5) Menambah kompleksitas secara berurutan, satu lapis pada suatu waktu, dimulai
dengan tingkatan yang paling umum.
6) Menghentikan proses apabila penambahan kompleksitas pada tingkatan tertentu
tidak menambah kejelasan mengenai faktor-faktor yang mendasari selisih laba
secara keseluruhan.
2. Analisis Selisih Dalam Dunia Praktik
Beberapa perbedaan dalam praktik diuraikan berikut ini:
1) Perbandingan Periode Waktu
2) Memfokuskan Pada Laba Kotor
3) Standar Evaluasi
4) Full-Cost System
5) Biaya Teknik Dan Kebijakan
3. Keterbatasan Analisis Selisih
1) Selisih dan tidak menjelaskan tindakan yang perlu dilakukan sebagai tindaka-
lanjutnya.
2) Tidak memberikan penjelasan apakah selisih yang terjadi tersebut penting atau
tidak.
3) Selisih hanya menunjukkan apa yang telah terjadi,tidak menunjukkan apa pengaruh
dimasa mendatang terhadapa tindakan yang telah dilakukan manajer

15
4. Informasi Lain
Manfaat utama dari laporan formal adalah:
1) Laporan ini menyediakan tekanan yang diperlukan pada manajer tingkat bawah
utnuk mengambil tindakan perbaikan atas inisitatif mereka sendiri.
2) Informasi informal bisa saja tidak lengkap atau salah arti.
3) Jumlah dalam laporan formal menyediakan informasi yang lebih akutat.
4) Laporan formal bisa mengkonfirmasi atas informasi dari pihak luar.
5. Aspek Perilaku Pada Penilaian Prestasi
1) Pengawasan ketat ( Tigh controls )
2) Pengawasan longgar
3) Pengaruh perilaku pengawasan ketat dan longgar
4) Faktor-faktor yang mempengaruhi pemilihan pengawasan ketat dan longgar.

16
DAFTAR PUSTAKA

[1] Abdul Halim, Achmad Tjahjono & Muh Fakhri Husein,” Sistem Pengendalian

Manajemen”, edisi Revisi, UPP STIM YKPN, Yogyakarta 2009.

[2] Anthony Robert N, Vijay Govindrajan, 2005. Management Control System. Sistem

Pengendalian Manajemen. Diterjemahkan Oleh Kurniawan Tjakrawala, Edisi Sebelas,

Salemba Empat : Jakarta.

[3] Anthony, Dearden, Bedford,” SPM (Management Control Systems), Agus Maulana,

Edisi ke V, Erlangga, Jakarta 1993.

[4] Mulyadi, Sistem Pengendalian Manajemen, BPFE, Yogyakarta, 2000.

17