Anda di halaman 1dari 242

Asuhan Gizi

Hipotiroid
Editor : Muflihah Isnawati, DCN., M.Sc

i
SAMBUTAN

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, akhirnya


buku dengan judul “Asuhan Gizi Hipotiroid“ telah terbit. Penyusunan
buku ini dilatarbelakangi masih sedikitnya informasi tentang asuhan
gizi untuk hipotiroid. Defisiensi mikronutrien masih menjadi salah
satu masalah gizi di Indonesia, salah satunya adalah defisiensi iodium
yang berujung pada kejadian hipotiroid. Seperti kita ketahui hipotiroid
berdampak pada berbagai aspek pertumbuhan dan perkembangan,
termasuk metabolisme dalam tubuh sehingga perlu dilakukan berbagai
upaya untuk membantu memperbaiki kondisi pasien hipotiroid.
Asuhan gizi sendiri dilakukan untuk membantu memecahkan masalah
gizi dengan mengatasi berbagai faktor yang mempunyai kontribusi
pada ketidakseimbangan atau perubahan status gizi.
Buku ini mencakup konsep dasar asuhan gizi, mengenal
hipotiroid, peran iodium dan zat gizi lain dalam membentuk hormon
tiroid, risiko malnutrisi penderita hipotiroid, pengaturan diet pada
penderita hipotiroid, asuhan gizi pada pasien hipotiroid di Klinik
Litbang GAKI Magelang, dan juga dilengkapi dengan menu sehat
penderita hipotiroid. Buku Asuhan Gizi Hipotiroid ini diharapkan
dapat membantu tenaga gizi dalam memberikan pemahaman tentang
hipotiroid sehingga dapat melakukan proses asuhan gizi yang tepat
kepada pasien hipotiroid.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak
yang telah membantu dalam penyusunan buku ini. Kami menyadari
masih banyak kekurangan dalam buku ini. Kami berharap ke depan
akan ada penerbitan buku lain yang dapat melengkapi buku ini.
Semoga buku ini bermanfaat bagi semua pihak. Terima kasih.

Kepala
Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Magelang

Dr. dr. Suryati Kumorowulan, M.Biotech

ii
PENGANTAR

Rasa syukur yang dalam kami panjatkan kehadirat Tuhan


Yang Maha Kuasa karena atas berkat dan karuniaNya, Buku Asuhan
Gizi Hipotiroid ini dapat diterbitkan. Kami menyambut baik dan
mengucapkan selamat kepada Tim Penulis dan Editor Buku Asuhan
Gizi Hipotiroid yang melibatkan partisipasi para penulis dari profesi
Ahli Gizi. Kami pun sangat bergembira, sebab dengan terbitnya buku
ini, maka menambah ketersediaan sumber informasi untuk
meningkatkan pengetahuan dan wawasan petugas gizi serta
pemerhati gizi di seluruh Indonesia.
Dalam pengelolaan pasien, asuhan gizi memegang peranan
penting sejajar dengan asuhan medik dan asuhan keperawatan.
Asuhan gizi adalah proses pelayanan gizi yang bertujuan untuk
memecahkan masalah gizi, meliputi kegiatan pengkajian/asesmen,
diagnosis, intervensi melalui pemenuhan kebutuhan zat gizi klien
sacara optimal, baik berupa pemberian makanan maupun konseling
gizi, serta monitoring dan evaluasi. Asuhan gizi yang baik akan
mempercepat proses penyembuhan penyakit. Buku ini diharapkan
dapat menjadi penuntun dalam pelaksanaan asuhan gizi dan
pencegahan malnutrisi pada pasien hipotiroid.
Harapan PERSAGI, buku ini dapat digunakan secara luas, baik
oleh petugas kesehatan maupun masyarakat umum yang
membutuhkannya. Akhir kata, kepada semua penulis, kontributor dan
editor kami ucapkan banyak terimakasih dan kami sampaikan
penghargaan yang setinggi-tingginya.

Ketua DPD PERSAGI Provinsi Jawa


Tengah

Bambang Supangkat, SKM, M.Si

iii
PENGANTAR EDITOR

Buku Asuhan Gizi Hipotiroid merupakan kumpulan tulisan


yang ditulis oleh tenaga gizi yang telah lama berkecimpung di klinik
Litbang GAKI Magelang. Klinik Litbang GAKI yang berdiri sejak
tahun 2001, telah melayani kasus-kasus yang terkait dengan gangguan
fungsi tiroid, hipotiroid maupun hipertiroid. Hipotiroid atau
kekurangan hormon tiroid merupakan kasus kekurangan gizi yang
telah lama menjadi permasalahan di Indonesia. Penurunan prevalensi
kejadiannya telah dicapai dengan adanya program-program
pemerintah seperti garam beriodium untuk semua, dan pemberian
kapsul iodium di daerah endemik GAKI. Akan tetapi tidak dapat
dipungkiri bahwa di beberapa daerah, baik yang merupakan daerah
endemik maupun daerah replete masih ditemukan kasus-kasus
hipotiroid baru, yang tentunya membutuhkan penanganan yang baik.
Berbagai permasalahan gizi yang disebabkan oleh adanya gangguan
metabolisme seringkali muncul menyertai kondisi hipotiroid. Hal ini
melatarbelakangi perlunya penyusunan buku tentang asuhan gizi
hipotiroid.
Kenyataan yang ada di masyarakat, hipotiroid bukanlah suatu
kondisi yang harus segera diatasi, bahkan seringkali masyarakat tidak
memahami bahwa kondisi hipotiroid ini berdampak pada kerbagai hal
dalam kehidupannya. Hal ini menunjukkan pentingnya peran tenaga
kesehatan untuk memberikan edukasi tentang penanganan kondisi
hipotiroid, sehingga dampak buruk yang diakibatkannya bisa
dikurangi.
Buku Asuhan Gizi Hipotiroid ini menguraikan tentang seluk
beluk hipotiroid, peran zat gizi iodium sebagai bahan baku sintesis
hormon tiroid serta interaksi zat gizi terhadap sintesis hormon tiroid,
berbagai resiko malnutrisi yang menyertai kondisi hipotiroid,
pengaturan diet untuk penderita hipotiroid, studi kasus hipotiroid
yang ada di Klinik Litbang GAKI Magelang dan dilengkapi dengan
berbagai resep makanan untuk mendukung perbaikan kondisi
hipotiroid.
Dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat untuk
memperbaiki kondisi hipotiroid yang dideritanya, maka harus
diimbangi dengan peningkatan peran tenaga kesehatan untuk

iv
melayani dan memberikan terapi yang terbaik, salah satunya dengan
meningkatkan pengetahuan tentang kondisi hipotiroid beserta
penanganannya. Dengan adanya buku Asuhan Gizi Hipotiroid ini
diharapkan dapat memberikan gambaran khususnya bagi tenaga gizi
dalam mengelola tindakan asuhan gizi yang harus diberikan kepada
penderita hipotiroid.
Buku ini masih jauh dari kata sempurna, sehingga tentunya
masih diperlukan terbitnya buku-buku lain yang dapat semakin
memperbanyak informasi yang bisa dimanfaatkan dalam mengelola
asuhan gizi untuk hipotiroid. Semoga buku ini bermanfaat bagi semua
pihak.

Editor

Muflihah Isnawati, DCN., M.Sc

v
DAFTAR ISI

SAMBUTAN
PENGANTAR
PENGANTAR EDITOR

BAB 1
KONSEP DASAR ASUHAN GIZI
Oleh :Muflihah Isnawati
Pendahuluan
Hipotiroid
Proses Asuhan Gizi Terstandar
Penutup
Daftar Pustaka

BAB 2
MENGENAL HIPOTIROID
Oleh :IsmiSetianingsih
Pendahuluan
Definisi Hipotiroid
Etiologi Hipotiroid
Besaran Masalah Hipotiroid
Dampak Hipotiroid Pada Kesehatan
Penutup
Daftar Pustaka

BAB 3
PERAN IODIUM DAN ZAT GIZI LAIN DALAM
MEMBENTUK HORMON TIROID
Oleh :Candra Puspitasari dan Cicik Harfana
Pendahuluan
Iodium Sebagai Bahan Baku Hormon Tiroid

vi
Peran Protein, Selenium, Seng, dan Besi Pada
Pembentukan Hormon Tiroid
Peran Hormon Tiroid Dalam Metabolisme Zat Gizi
Kecukupan Iodium Masyarakat Indonesia
Makanan Sumber Iodium
Penutup
Daftar Pustaka

BAB 4
RISIKO MALNUTRISI PENDERITA HIPOTIROID
Oleh :Hastin Dyah Kusumawardani
Pendahuluan
Obesitas dan Pendek (Short Statue)
Malnutrisi Gizi Makro
Malnutrisi Gizi Mikro
Penutup
Daftar Pustaka

BAB 5
PENGATURAN DIET PADA PENDERITA
HIPOTIROID
Oleh :Slamet Riyanto
Pendahuluan
Peran Zat Gizi Dalam Menjaga Fungsi Normal
Kelenjar Tiroid
Diet Untuk Penderita Hipotiroid
Kebutuhan Zat Gizi Untuk Penderita Hipotiroid
Interaksi Obat Dan Makanan Penderita Hipotiroid
Makanan/Minuman Yang Dianjurkan Dan Dibatasi
Penutup
Daftar Pustaka

vii
BAB 6
TATA LAKSANA GIZI PADA PASIEN HIPOTIROID
DI KLINIK LITBANG GAKI MAGELANG
Oleh :IsmiSetianingsih,Hastin Dyah Kusumawardhani,
Slamet Riyanto,Cicik Harfana,Candra Puspitasari,
Palupi Dyah Ayuni
Besaran Kasus Hipotiroid Di Klinik Litbang
Kesehatan Magelang
Karakteristik Pasien Di Klinik Litbang Kesehatan
Magelang
Proses Asuhan Gizi
Studi Kasus Hipotiroid
Lampiran Form
Daftar Pustaka

BAB 7
MENU SEHAT PENDERITA HIPOTIROID
Oleh :Palupi Dyah Ayuni
Prinsip Menu Sehat Penderita Hipotiroid
Contoh Menu Dan Resep Masakan Untuk Penderita
Hipotiroid

BAB 8
PENUTUP
Oleh :Muflihah Isnawati
Daftar Pustaka

Glosarium
Indeks
Biografi Penulis

viii
DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Skor Billewicz


Gejala dan Implikasi yang Mungkin Timbul
Tabel 2.2
pada Hipotiroid
Persentase Hasil Pemeriksaan TSH Berdasarkan
Tabel 2.3
Jenis Kelamin dan Kelompok Umur
Kasus Hipotiroid Kongenital di Beberapa
Tabel 2.4
Negara Asia
Angka Kecukupan Iodium Masyarakat
Tabel 3.1 Indonesia Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi
(AKG) dalam Permenkes Nomor 75 Tahun
2013
Tabel 3.2 Rekomendasi Asupan Iodium Menurut WHO
Tahun 2007
Tabel 3.3 Toleransi Batas Atas Asupan Iodium Menurut
Kelompok Umur
Kandungan Iodium dalam Bahan Pangan di
Tabel 3.4 Daerah Pantai Endemik dan Non Endemik
GAKI di Kabupaten Lamongan tahun 1998
dibandingkan dengan kajian lain
Tabel 3.5 Rata-Rata Kandungan Iodium dalam Kelompok
Bahan Makanan di Berbagai Letak Geografis
Konsentrasi Iodium dalam Sampel Bahan
Tabel 3.6 Makanan Terpilih Hasil Studi Diet Total
USFDA tahun 2003-2011
Kandungan Ioidum dalam Bahan Makanan Laut
Tabel 3.7
Hasil Skor Diet Total USFDA Tahun 2003-
2011
Rata-Rata Kandungan Iodium Kelompok Bahan
Tabel 3.8
Makanan Utama Hasil Survey DFID United
Kingdom tahun 2003

ix
Tabel 3.9 Iodium dalam Kelompok Bahan Makanan Hasil
Studi Haldimann di Swiss Tahun 1999-2001
Tabel 4.1 Kategori Status Gizi Anak Berdasarkan Z Score
Tabel 4.2 Kategori Status Gizi Berdasakan IMT
Tabel 5.1 Kadar Sianida pada Bahan Makanan Sebelum
dan Sesudah Berbagai Proses Pemasakan
Tabel 5.2 Bahan Makanan/ Minuman yang Dianjurkan/
Dibatasi untuk Pasien Hipotiroid
Tabel 6.1 Besaran Kasus Hipotiroid di Klinik Litbang
GAKI Magelang
Tabel 6.2 Jumlah Pasien Hipotiroid di Klinik Litbang
Kesehatan Magelang Berdasarkan Usia
Tabel 6.3 Jumlah Pasien Hipotiroid di Klinik Litbang
Kesehatan Magelang Berdasarkan Jeni Kelamin
Tabel 6.4 Jumlah Pasien di Klinik Litbang Kesehatan
Magelang berdasarkan Asal Daerah
Tabel 6.5 Form Skrining SNST

x
DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Model PAGT


Gambar 2.1 Kelenjar Tiroid
Gambar 2.2 Regulasi Hormon Tiroid
Gambar 2.3 Diagram Alir Intepretasi Hasil Pemeriksaan
Gambar 3.1 Peran Iodium pada Pembentukan Hormon
Tiroid pada Manusia
Gambar 3.2 Peran Selenium pada Pembentukan Hormon
Tiroid
Gambar 4.1 Efek Hipotiroid pada Metabolisme Glukosa
Gambar 6.1 Alur Pelayanan Pasien Baru di Klinik
Litbang GAKI Magelang
Gambar 6.2 Alur Asuhan Gizi di Klinik Litbang GAKI
Magelang

xi
Bab 1
Konsep Dasar Asuhan Gizi
oleh : Muflihah Isnawati

PENDAHULUAN
Makanan dan asupan zat-zat gizi merupakan unsur utama
terwujudnya kondisi kesehatan yang optimal pada seseorang.
Ketidak seimbangan asupan makanan dan zat-zat akan
berdampak timbulnya masalah kesehatan dan masalah gizi.
Ketidak seimbangan terjadi apabila asupan zat gizi tidak sesuai
dengan kebutuhan. Tubuh manusia memerlukan asupan zat gizi
yang adekuat sesuai dengan kondisi masing-masing individu.
Berbagai faktor yang berpengaruh terhadap kebutuhan gizi
seseorang, antara lain usia, jenis kelamin, aktifitas fisik, kondisi
lingkungan, serta kondisi khusus (masa kehamilan, menyusui,
pertumbuhan, kondisi sakit termasuk pada hipotiroidsme, dll). Di
sisi lain, pemenuhan kebutuhan zat-zat gizi sangat tergantung
kepada ketersediaan makanan, akses individu terhadap makanan,
serta pengetahuan individu terhadap makanan dan zat-zat gizi
(Kemenkes RI, 2014).

HIPOTIROID
Hipotiroid adalah suatu kondisi yang ditandai dengan
kurangnya produksi hormon tiroid yang diproduksi kelenjar
tiroid, sehingga menyebabkan timbulnya berbagai masalah klinis.
Hipotiroid menyebabkan terjadinya penurunan proses

1
metabolisme, sehingga cenderung menyebabkan terjadinya
kegemukan. Hipotiroid juga dapat menyebabkan munculnya
masalah kesehatan yang serius seperti terjadinya gangguan
kardiovaskular, gangguan neuromuskular, bahkan terjadinya
kematian (Academy of Nutrition and Dietetic, 2013). Hipotiroid
pada kehamilan dapat mengakibatkan bayi lahir dengan
gangguan retardasi mental, serta gangguan pertumbuhan (Teng
et al., 2013)
Kekurangan maupun kelebihan asupan iodium merupakan
salah satu etiologi hipotiroidisme. Asupan iodium melebihi
kebutuhan dapat meningkatkan angka kejadian hipotiroid
subklinis dan autoimun tiroiditis. Sedangkan kekurangan asupan
iodium berdampak terhadap sintesis hormon tiroid. Kekurangan
iodium dapat menyebabkan gondok, nodul tiroid, dan
hipotiroidisme (Chung, 2014). Konsekuensi paling parah dari
kekurangan iodium adalah kretinisme. Kretinisme didefinisikan
sebagai suatu sindrom karena kekurangan hormon tiroid dengan
manifestasi utama berupa retardasi mental dan hambatan
tumbuh kembang.

PROSES ASUHAN GIZI TERSTANDAR


Asuhan gizi merupakan serangkaian kegiatan yang
terstruktur yang memungkinkan untuk mengidentifikasi
kebutuhan gizi serta intervensi yang bisa dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan gizi tersebut. Kualitas asuhan gizi yang
baik yaitu apabila masalah gizi dapat teratasi secara efektif dan
efisien. Dalam upaya memberikan asuhan gizi yang efektif dan
efisien diperlukan pendekatan yang sistematis. Proses Asuhan

2
Gizi Terstandar (PAGT) merupakan suatu proses terstandar
sebagai upaya pemecahan masalah yang sistematis dalam
menangani problem gizi sehingga dapat memberikan asuhan gizi
yang aman, efektif dan berkualitas tinggi. Terstandar yang
dimaksud adalah memberikan asuhan gizi dengan proses
menggunakan struktur dan kerangka kerja yang konsisten
sehingga setiap pasien yang bermasalah gizi akan didekati
melalui 4 (empat) langkah proses asuhan gizi yaitu pengkajian
gizi, penetapan diagnosis gizi, pemberian intervensi gizi serta
monitoring dan evaluasi gizi (ADIME) (Swan et al., 2017).

Gambar 1.1 Model PAGT (Proses Asuhan Gizi Terstandar)

Langkah awal proses asuhan gizi adalah asesmen gizi yang


terdiri dari proses skrining gizi dan asesmen gizi lanjut. Skrining
gizi merupakan langkah awal untuk menilai apakah seorang
pasien berisiko malnutrisi atau tidak. Apabila dari hasil skrining
gizi diketahui berisiko malnlutrisi atau bahkan sudah mengalami
malnutrisi atau bermasalah gizi, maka akan dilanjutkan dengan

3
asesmen gizi lanjut untuk mengetahui masalah gizi yang
dihadapi, etiologi maupun tanda dan gejalanya. Masalah gizi
yang teridentifikasi beserta etiologi dan tanda serta gejalanya,
akan ditetapkan sebagai diagnosis gizi. Identifikasi penyebab/
etiologi suatu masalah gizi yang terjadi pada seorang pasien/
klien menjadi sangat penting, karena etiologi akan mengarahkan
intervensi yang akan diberikan untuk mengatasi masalah
tersebut.
Intervensi gizi merupakan tindakan yang sudah
direncanakan untuk mengatasi masalah gizi yang sudah
diidentifikasi, yang tertuang dalam diagnosis gizi (Cederholm et
al., 2017). Tindakan yang dilakukan dapat berupa 1) pemberian
makanan dan zat gizi, 2) edukasi gizi, 3) konseling gizi serta 4)
koordinasi asuhan gizi (Academy of Nutrition and Dietetic, 2013).
Selanjutnya untuk mengetahui keberhasilan intervensi gizi yang
dilakukan, perlu dilakukan pemantauan dan evaluasi terhadap
indikator keberhasilan pelayanan gizi. Langkah monitoring dan
evaluasi gizi ini merupakan langkah akhir proses asuhan gizi
terstandar. Apabila masalah gizi bisa diatasi dengan intervensi
yang diberikan, maka asuhan gizi dapat dihentikan. Namun
apabila masalah gizi belum teratasi, maka perlu dilakukan
asesmen ulang dan tindak lanjut melalui tahapan-tahapan dalam
proses asuhan gizi.

PENUTUP
Asuhan Gizi Hipotiroid ini menguraikan tentang konsep
dasar asuhan gizi, seluk beluk hipotiroid, peran zat gizi iodium
sebagai bahan baku sintesis hormon tiroid serta interaksi zat gizi

4
terhadap sintesis hormon tiroid, berbagai resiko malnutrisi yang
menyertai kondisi hipotiroid, pengaturan diet untuk penderita
hipotiroid, studi kasus hipotiroid yang ada di Klinik Litbang
GAKI Magelang dan dilengkapi dengan berbagai resep makanan
untuk mendukung perbaikan kondisi hipotiroid. Proses asuhan
gizi terstandar pada hipotiroid diharapkan dapat membantu
penderita untuk mengatasi masalah-masalah gizi yang dihadapi
serta membantu proses penyembuhan penyakit sehingga
penderita dapat tumbuh, berkembang, serta memiliki kualitas
hidup yang baik.

5
Daftar Pustaka

Academy of Nutrition and Dietetic (2013) ‘Nutrition Intervention


Terminology’, in International Dietetics & Nutritional
Terminology (IDNT) Reference Manual, Fourth edition, pp.
5–6.
Cederholm, T. et al. (2017) ‘ESPEN guidelines on definitions and
terminology of clinical nutrition’, ClinicalNutrition, 36(1),
pp. 49–64. doi: 10.1016/j.clnu.2016.09.004.
Chung, H. R. (2014) ‘Iodine and thyroid function’, AnnPediatr
Endocrinol Metab, 19119, pp. 8–12. doi:
10.6065/apem.2014.19.1.8.
Kemenkes RI (2014) Proses Asuhan Gizi Terstandar (PAGT),
Kemeterian Kesehatan Republik Indonesia.
Swan, W. I. et al. (2017) ‘Nutrition Care Process and model
update: Toward realizing people-centered care and
outcomes managment’, Journalof the Academy of Nutrition
and Dietetics. Academy of Nutrition and Dietetics, pp. 1–
12. doi: 10.1016/j.jand.2017.07.015.
Teng, W. et al.(2013) ‘Hypothyroidism in pregnancy’, The Lancet
Diabetes and Endocrinology. Elsevier Ltd, 1(3), pp. 228–237.
doi: 10.1016/S2213-8587(13)70109-8.

6
Bab 2
Mengenal Hipotiroid
oleh : Ismi Setianingsih

PENDAHULUAN
Kelenjar Tiroid
Tiroid merupakan kelenjar endokrin terbesar dalam tubuh
manusia, bentuknya menyerupai kupu-kupu dan terletak di
leher bagian depan. Kelenjar tiroid terdiri dari dua lobus yaitu
lobus kanan dan lobus kiri. Panjang setiap lobus kelenjar tiroid
sekitar 4 cm, lebar 2 cm dan memiliki tebal sekitar 1 cm pada
usia dewasa. Letaknya melintang di depan trachea dan berada di
bawah jakun. Lobus kanan dan lobus kiri dihubungkan oleh
isthmus. Kelenjar tiroid tersusun dari zat hasil sekresi bernama
koloid yang tersimpan dalam folikel-folikel tertutup yang
dibatasi oleh sel epitel kuboid. Koloid ini tersusun atas
tiroglobulin yang akan dipecah menjadi hormon tiroid oleh
enzim endopeptidase. Kemudian hormon ini akan disekresikan
ke sirkulasi darah untuk kemudian dapat berefek pada organ
target (Gardner & Shoback, 2011). Gambar kelenjar tiroid dapat
dilihat pada Gambar 2.1 di bawah ini :

7
Gambar 2.1 Kelenjar Tiroid
Sumber: https://medlineplus.gov/magazine/issues/spring12/articles/spring12pg22-23.html

Kelenjar tiroid berfungsi memproduksi hormon tiroid.


Hormon tiroid yang dihasilkan berupa T4 (Thyroxine) dan T3
(Tri-iodothyronine). Hormon tiroid memiliki peran yang sangat
penting dalam proses metabolisme di dalam tubuh manusia
(American Thyroid Association, 2017). Kekurangan maupun
kelebihan hormon tiroid dapat menganggu berbagai proses
metabolisme, yang nantinya dapat mengganggu proses fisiologis
di dalam tubuh manusia (Klein, 2001).

Sintesis dan Sekresi Hormon Tiroid


Iodium merupakan mikronutrien yang menjadi bahan
baku utama dalam pembentukan hormon tiroid (Dunn JT dan
Dunn AD, 2001). Iodium tidak dapat diproduksi sendiri oleh
manusia, oleh sebab itu manusia mendapatkan sumber iodium
dari luar tubuh. Sumber iodium didapatkan dari asupan
makanan dan minuman. Iodium yang diperoleh dari makanan

8
dan minuman berupa iodida atau iodit. Iodium yang dikonsumsi
akan diabsorbsi oleh saluran pencernaan khususnya di
duodenum (usus dua belas jari), kemudian akan dikonversi
menjadi iodida yang nantinya akan dipakai oleh kelenjar tiroid
untuk mensintesis hormon tiroid (Zimmermann, 2009).
Kelebihan iodium akan disekresikan oleh ginjal melalui urine.
Rekomendasi angka kecukupan iodium harian yang
dianjurkan bagi Bangsa Indonesia menurut Permenkes RI No. 75
Tahun 2013 adalah 90 µg bagi anak usia 0-6 bulan, 120 µg bagi
anak usia 7 bulan hingga 12 tahun, sedangkan pada anak usia di
atas 12 tahun dan dewasa dalam kondisi normal dianjurkan
mengonsumsi 150 µg iodium setiap harinya. Kecukupan iodium
harian yang dianjurkan pada wanita hamil dan menyusui
meningkat menjadi 220 µg dan 250 µg. Menurut WHO (2004),
ada 2 milyar orang atau sekitar sepertiga penduduk bumi yang
mengonsumsi iodium kurang dari 100 µg per hari. Ketika
konsumsi harian iodium kurang dari 50 µg maka kelenjar tiroid
dalam ukuran yang normal tidak akan dapat mempertahankan
produksi hormon tiroid dalam jumlah yang cukup.
Sintesis hormon tiroid (T4 dan T3) oleh kelenjar tiroid
melibatkan 6 tahapan utama (Gardner dan Shoback, 2011) :
1) Trapping (Perangkapan Iodida)
Iodida yang berasal dari makanan dan minuman dan
beredar dalam darah diangkut melintasi dasar membran
menuju sel tiroid melalui mekanisme transport aktif. Sel
tiroid memiliki sodium -iodida symporter (Na-I- symporter;
NIS) yang membentang di dasar membran sel tiroid dan
mekanisme ini secara aktif mengangkut iodida dari darah.

9
Kerja NIS pada sel tiroid distimulasi oleh Thyroid
Stimulating Hormone (TSH)
2) Organification (Oksidasi dan Pengorganisasian)
Iodida dioksidasi di dalam sel kelenjar tiroid menjadi
bentuk iodium yang lebih reaktif. Iodium akan bereaksi
dengan residu tirosin dan tersimpan dalam tiroglobulin
untuk membentuk T1=mono-iodothyrosil thyrogobuline
(Mono-iodothyrosine; MIT) dan T2=di-iodothyrosyl
thiroglobulin (Di-idotothyrosine; DIT). Enzim Thyroid
Peroxidase (TPO) bertugas mengkatalisasi proses oksidasi
iodida dan menghubungkan iodium dengan residu tirosin
dari tiroglobulin tersebut.
3) Coupling (Pemasangan)
Proses memasangkan atau menghubungkan molekul
iodotirosin menjadi T3 atau T4. T3 (Tri-iodothyronine)
adalah hasil pemasangan MIT dan DIT, sedangkan T4
(Thyroxin) adalah hasil pemasangan DIT dan DIT. Proses
ini juga dikatalisasi oleh TPO.
4) Pinocytosis & Proteolysis (Pinositosis & Proteolisis)
Terjadi proses pinositosis (proses minum sel)
kemudian terjadi proteolisis dari tiroglobulin dan pada saat
bersamaan terjadi pelepasan iodotironin bebas dan
iodotirosin ke dalam sirkulasi. Sekresi hormon tiroid
distimulasi oleh TSH dan dihambat oleh lithium dan iodida
dengan jumlah yang terlalu banyak.
5) Deiodination of Iodotyrosine (Deiodinasi Iodotirosin)
Proses deiodinasi pada sel tiroid memungkinkan
penggunaan kembali iodida bebas.

10
6) IntrathyroidalDeiodination (Deiodinasi Intratiroid)
Proses deiodinasi T4 menjadi T3.

Proses sintesis hormon tiroid membutuhkan kehadiran


NIS, thiroglobulin dan enzim TPO yang semuanya berfungsi
dengan baik dan tidak terhambat apapun. Sekresi hormon tiroid
diatur oleh TSH yang disekresikan oleh hipofisis anterior
(kelenjar pituitari). Sintesis dan sekresi TSH dipacu oleh
Thyrotropine Releasing Hormone (TRH) yang dihasilkan oleh
hipotalamus. Hormon tiroid memberikan feedback negatif pada
produksi TSH di pituitari dengan cara menurunkan reseptor
TRH pada tirotrop pituitari. Sintesis dan pelepasan TSH
dihambat oleh tingginya kadar hormon tiroid dan distimulasi
oleh rendahnya kadar hormon tiroid (Chiamolera dan
Wondisford, 2009). Regulasi sintesis hormon tiroid dapat dilihat
pada Gambar 2.2 di bawah ini :

Gambar 2.2 Regulasi Hormon Tiroid


Sumber :https://www.endocrineweb.com/conditions/thyroid-nodules/thyroid-gland-controls-bodys-
metabolism -how -it-works-symptoms-hyperthyroid

11
TSH memiliki banyak pengaruh pada sel tiroid (Kopp,
2001) diantaranya adalah :
1) Perubahan morfologi sel tiroid
2) Pertumbuhan sel tiroid
3) Stimulasi metabolisme iodium
4) Transkripsi mRNA dari tiroglobulin dan TPO
5) Meningkatkan pengambilan glukosa, konsumsi oksigen
dan oksidasi glukosa pada kelenjar tiroid.

Efek Fisiologis Hormon Tiroid


1) Efek hormon tiroid pada pembentukan janin
Jaringan tiroid pada janin usia 11 minggu sudah
mulai mengkonsentrasikan iodida dan TSH. Pada usia ini
hanya sedikit hormon bebas yang ditransfer dari ibu ke
janin melalui plasenta untuk proses pembentukan otak.
Saat janin menginjak usia 15-18 minggu, janin mulai bisa
mensekresikan sendiri hormon tiroidnya (Raymond dan
LaFranchi, 2010).
2) Efek hormon tiroid pada konsumsi oksigen, produksi
panas tubuh dan pembentukan radikal bebas
T3 meningkatkan konsumsi oksigen dan produksi
panas. Hal ini berkontribusi meningkatkan BasalMetabolic
Rate (BMR) dan meningkatkan sensitivitas tubuh terhadap
suhu (Yen, 2001). Hormon tiroid juga menstimulasi
mitokondriogenesis sehingga menambah kapasitas
oksidatif sel yang dapat membentuk radikal bebas
(Wrutniak, 2001).

12
3) Efek hormon tiroid pada sistem kardiovaskuler
T3 meningkatkan fungsi sistolik dan meningkatkan
relaksasi diastolik. T3 juga meningkatkan detak jantung
(Klein dan Danzi, 2007). Hormon tiroid juga
mempengaruhi produksi LDL (Capolla dan Ladenson,
2003).
4) Efek hormon tiroid pada organ simpatetis
Hormon tiroid meningkatkan jumlah reseptor ß-
adrenergic pada jantung, otot rangka, jaringan lemak dan
limfosit (Klein, 2001).
5) Efek hormon tiroid pada sistem pernafasan
Hormon tiroid menjaga respon ventilasi pernapasan
terhadap hipoksia dan hiperkapnia pada pusat pernafasan
di batang otak. Fungsi otot pernafasan juga diatur oleh
hormon tiroid. Selain itu, disfungsi tiroid juga terbukti
secara klinis berhubungan dengan pulmonary hypertention
(Li, Jonathan H. dkk, 2007).
6) Efek hormon tiroid pada sistem darah
Hormon tiroid dapat menaikkan atau menurunkan
kadar 2,3-diphosphoglycerate dari eritrosit. Hal ini dapat
menyebabkan peningkatan atau penurunan pemisahan
oksigen dari hemoglobin dan ketersediaan oksigen ke
jaringan. Hormon tiroid juga mempengaruhi jumlah total
darah yang beredar dalam tubuh (Kawa, Milozs P. dkk,
2010).
7) Efek hormon tiroid pada sistem pencernaan
Hormon tiroid mempengaruhi motilitas usus.
Kelebihan hormon tiroid dapat meningkatkan motilitas

13
usus dan pembuangan sisa pencernaan, sedangkan
kekurangan hormon tiroid justru menurunkan motilitas
usus sehingga dapat meningkatkan terjadinya konstipasi
(Daher, Ronald dkk, 2009).
8) Efek hormon tiroid pada tulang
Hormon tiroid dapat menstimulasi pergantian
tulang, meningkatkan resorpsi tulang dan mempengaruhi
pembentukan tulang. Jika kadar hormon tiroid berlebihan
maka dapat menyebabkan kehilangan mineral tulang
(Bassett dan Williams, 2016).
9) Efek hormon tiroid pada sistem saraf dan otot
Hormon tiroid sangat penting untuk pembentukan
dan menjaga fungsi susunan saraf pusat. Hormon tiroid
juga mempengaruhi simpanan protein pada otot rangka,
serta mempengaruhi kecepatan proses kontraksi dan
rileksasi otot (Duyff dkk, 2000).
10) Efek hormon tiroid pada metabolisme karbohidrat, lemak
dan protein
Hormon tiroid mempengaruhi semua jalur
metabolisme utama. Efek yang paling besar adalah
peningkatan pengeluaran energi basal yang diperoleh dari
hasil peningkatan metabolisme protein, karbohidrat dan
lemak. Hormon tiroid mempengaruhi sintesis, mobilisasi
dan degradasi lemak (Pucci dkk, 2000).
11) Efek hormon tiroid pada sistem endokrin
Hormon tiroid mengubah produksi, tingkat
responsif, klirens metabolik dari beberapa hormon yang
lain. Hormon yang dapat dipengaruhi misalnya, hormon

14
seksual dan hormon pertumbuhan (Gardner dan Shoback,
2011).

DEFINISI HIPOTIROID
Hipotiroid adalah kelainan fungsi kelenjar tiroid yang
ditandai dengan kurangnya produksi hormon tiroid yang
diproduksi oleh kelenjar tiroid. Hipotiroid adalah akibat dari
kerja kelenjar tiroid yang kurang aktif dalam memproduksi
hormon tiroid. Kekurangan hormon tiroid ini menyebabkan
penurunan proses metabolisme. Jika tidak diobati, dapat
menyebabkan munculnya masalah kesehatan yang serius dan
dapat berujung pada kematian. Karena tidak ada gejala yang
khusus dan spesifik, serta gejala yang muncul bisa sangat
bervariasi, maka definisi hipotiroid lebih berdasar pada hasil
pemeriksaan biokimia (Chaker dkk, 2017).
Cara untuk mendeteksi secara dini terjadinya hipotiroid
adalah dengan menggunakan indeks diagnostik hipotiroid.
Sebuah indeks diagnostik hipotiroid telah dirancang oleh
Billewicz, dkk (1969). Indeks/skor klinis ini dapat digunakan
untuk membantu dalam diagnosis disfungsi tiroid. Skor
Billewicz menggunakan 8 gejala dan 6 tanda klinis untuk
menduga terjadinya penyakit hipotiroid. Pedoman penilaian
skor Billlewicz dapat dilihat pada Tabel 2.1. Jika total skor ≥ +19
dapat disebut terindikasi hipotiroid, sedangkan jika total skor < -
24 eutiroid/normal dan jika total skor antara -24 – (+18) maka
termasuk suspek hipotiroid atau masih dianggap meragukan
(Billewicz dkk, 1969). Untuk penegakan diagnosa yang lebih

15
pasti tetap diperlukan bantuan pemeriksaan laboratorium untuk
memastikan fungsi tiroid.
Tabel 2.1 Skor Billewicz
No. Gejala & Tanda Klinis Skor
Ya Tidak
Gejala
1. Keringat Sedikit +6 -2
2. Kulit Kering +3 -6
3. Tidak Tahan Dingin +4 -5
4. Berat Badan Bertambah +1 -1
5. Susah Buang Air Besar +2 -1
6. Suara Serak +4 -6
7. Kesemutan +5 -1
8. Tuli +2 0
Tanda Klinis
1. Gerak Lambat +11 -3
2. Kulit Kasar +7 -7
3. Kulit Dingin +3 -2
4. Udem Periorbital +4 -6
5. Nadi <80x/menit +4 -4
6. Reflek Archiles Lambat +15 -6
Total

Fungsi tiroid dapat dilihat dari beberapa indikator, salah


satunya adalah TSH. Kadar TSH merupakan jumlah TSH yang
dihasilkan oleh kelenjar pituitari yang dapat menggambarkan
fungsi tiroid. Kadar TSH secara tunggal dapat digunakan untuk
menentukan apakah seseorang menderita kekurangan hormon
tiroid (hipotiroid) atau kelebihan hormon tiroid (hipertiroid).
Nilai normal TSH tergantung dari reagen atau kit yang
digunakan. Jika kadar TSH lebih dari kadar normal berarti orang
tersebut menderita hipotiroid.
Fungsi tiroid selain dari TSH juga bisa dilihat dari kadar
Free Thyroxine (fT4). Nilai fT4 menggambarkan jumlah hormon
tiroid (tiroksin) yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid. Hormon

16
tiroid ini (fT4) ini juga dapat digunakan untuk menentukan
seseorang menderita hipotiroid atau hipertiroid. Namun, tetap
memerlukan konfirmasi tolak ukur yang lain yaitu nilai TSH.
Apabila nilai fT4 kurang dari normal maka disebut
hipotiroxinemia.
Pemeriksaan lanjutan lain yang bisa dilakukan untuk
memastikan penyebab hipotiroid adalah dengan melakukan
pemeriksaan fT3, Thyroid Peroxidase Antibody (TPOAb),
Tyroglobulin Antibody (TGAb), Anti Thyroid Receptor Antibody
(TRAb). Diagam alir di bawah (Gambar 2.3) dapat digunakan
untuk mengintepretasikan hasil pemeriksaan laboratorium.

17
Gambar 2.3 Diagram Alir Intepretasi
Hasil Pemeriksaan
Sumber : Aw, Tarchoon dan Yap, Clementine, 2011

18
Faktor Risiko Hipotiroid
Menurut Purnamasari D. dan Subekti I. (2007), faktor yang
dapat mempertinggi risiko terjadinya hipotiroid :
1) Usia
Usia lebih dari 60 tahun semakin meningkatkan risiko
hipotiroid.
2) Jenis Kelamin
Wanita lebih berisiko mengalami hipotiroid dibandingkan
dengan pria.
3) Genetik
Genetik merupakan faktor pencetus utama terjadinya
penyakit autoimun.
4) Merokok
Nikotin dalam rokok dapat memacu peningkatan reaksi
inflamasi.
5) Stress
Stress berkorelasi dengan antibodi, termasuk antibodi
TSH-reseptor.
6) Riwayat autoimun dalam keluarga
Riwayat keluarga menderita kelainan autoimun
merupakan faktor risiko terjadinya hipotiroid karena
tiroiditis autoimun.
7) Obat-obatan
Penggunaan obat-obatan seperti amiodaron, lithium
karbonat, amino glutethimide, thalidomide, betaroxine,
stavudine.

19
8) Lingkungan
Faktor lingkungan seperti kandungan iodium dalam air,
tanah maupun kadar polutan seperti pestisida, obat anti
serangga juga dapat mempertinggi risiko hipotiroid.

Gejala Hipotiroid
Bila kadar hormon tiroid terlalu rendah, maka setiap
jaringan di tubuh tidak bisa mendapatkan hormon tiroid dalam
jumlah yang cukup. Hal ini menyebabkan seluruh proses
metabolisme dalam tubuh mulai melambat. Saat metabolisme
dalam tubuh melambat, penderita hipotiroid mungkin akan
merasakan beberapa gejala-gejala yang mungkin sangat
bervariasi dan tidak spesifik. Karena gejalanya sangat bervariasi
dan tidak spesifik, satu-satunya cara untuk mengetahui fungsi
tiroid dengan pasti adalah dengan melalui uji biokimia di
laboratorium. Gejala yang paling umum muncul pada orang
dewasa adalah mudah lelah, lesu, intoleran terhadap suhu
dingin, adanya penambahan berat badan, konstipasi (sembelit),
perubahan suara, dan kulit kering (Carle dkk, 2016). Gejala yang
muncul dapat sangat bervariasi, bergantung pada usia, jenis
kelamin, dan waktu antara onset dan diagnosis (Carle dkk,
2015). Berikut ini merupakan gejala-gejala yang mungkin
muncul jika menderita hipotiroid :

20
Tabel 2.2 Gejala dan Implikasi yang mungkin timbul pada
Hipotiroid
Presentasi Gejala dan Implikasi
Metabolisme Peningkatan berat badan Peningkatan IMT
Intoleran suhu dingin Laju metabolik menurun
Kelelahan Miksedema*
Hipotermia*
Kardiovaskular Kelelahan saat beraktivitas Dislipidemia
Nafas pendek Hipertensi diastolik
Lemah Tekanan nadi berkurang
Disfungsi endotel
Disfungsi diastol*
Neurosensori Suara Serak Neuropati
Penurunan indera pengecap, Disfungsi koklea, penurunan
penglihatan dan pendengaran fungsi dan sensitivitas indera
Neurologi dan Gangguan memori Gangguan fungsi kognitif
Psikiatrik Gangguan mood Relaksasi reflek tendon
Proses psikis melambat tertunda
Depresi*
Pikun*
Koma miksedema
Gastrointestinal Konstipasi Penurunan motilitas sistem
pencernaan
Endokrin Gangguan mentruasi Gondok
Gangguan Infertilitas Disregulasi metabolisme
glukosa
Infertilitas terganggu
Gangguan fungsi seksual
Peningkatan prolaktin
Muskuloskeletal Otot lemah Peningkatan kreatin
Kram otot fosfokinase
Kaku dan nyeri sendi Hoffman’s syndrome*
Osteoporosis
Hematologi Pendarahan Anemia ringan
Kelelahan Peningkatan distribusi darah
merah
Kulit dan Rambut Kulit kering Kulit kasar
Rambut rontok Kehilangan alis lateral
Keringat sedikit Telapak tangan kuning*
Alopecia areata*
Elektrolit dan Penurunan fungsi ginjal Penurunan laju filtrasi
Fungsi Ginjal glomerolus
Hiponatremia*
Retensi Cairan
Sumber : Chaker, dkk (2017) *jarang terjadi

21
ETIOLOGI HIPOTIROID
Hipotiroid dapat diklasifikasikan menurut onset waktu:
kongenital (bawaan) dan akibat proses, menurut level disfungsi
endokrin: primer, sentral (sekunder dan tersier), periferal dan
menurut tingkat keparahan klinis dan subklinis (Roberts dan
Ladenson, 2004).
Hipotiroid menurut level disfungsi endokrin dapat
diklasifikasikan menjadi :
1) Hipotiroid Primer (kekurangan hormon tiroid)
2) Hipotiroid Sekunder (kekurangan TSH pada
pituitari)
3) Hipotiroid Tersier (kekurangan TRH pada
hipotalamus)
4) Hipotiroid Periferal (resistensi perifer akibat dari
hormon tiroid) (Chaker dkk, 2017).
Ada banyak sekali penyebab kelenjar tiroid tidak mampu
memproduksi hormon tiroid dalam jumlah yang cukup. Berikut
beberapa etiologi dari hipotiroid :
 Hipotiroid Primer
1) Penyakit Autoimun Kronis
Penyebab umum dari kegagalan kelenjar tiroid untuk
memproduksi hormon tiroid dalam jumlah yang cukup
adalah karena penyakit autoimun. Sistem kekebalan tubuh
yang seharusnya melindungi tubuh dari penyerbuan infeksi,
justru menyerang kelenjar tiroid. Hal ini menyebabkan
inflamasi kronis pada kelenjar tiroid (tiroiditis). Akibat dari
serangan ini maka kelenjar tiroid tidak memiliki jumlah sel
tiroid dan enzim yang cukup untuk dibuat hormon tiroid

22
(Gardner dan Shoback, 2011). Kejadian autoimun ini lebih
sering terjadi pada wanita dibanding laki-laki. Autoimun
Tiroiditis bisa muncul tiba-tiba atau bisa juga berkembang
secara perlahan selama bertahun-tahun. Bentuk paling umum
dari tiroiditis ini adalah Hashimoto’s Tyroiditis.
Hashimoto’s Tyroiditis atau biasa disebut “Chronic
Lymphocytic Thyroiditis” merupakan penyebab paling umum
dari hipotiroid. Penyebab terjadinya Hashimoto’s Tyroiditis ini
belum diketahui secara pasti kecuali beberapa penelitian
membuktikan bahwa kejadian ini diturunkan secara genetik
dan faktor lain seperti kekurangan selenium dan vitamin D,
serta konsumsi alkohol (Wu dkk, 2015). Hashimoto’s Tyroiditis
banyak terjadi pada wanita usia lanjut, tetapi tidak menutup
kemungkinan juga bisa terjadi pada pria dan anak-anak
(Zaletel dan Gaberek, 2011).
2) Terapi Radioiodin
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa
hipotiroidisme merupakan efek samping pada pengobatan
atau terapi radioiodin (Vogelius dkk, 2011). Beberapa
penyakit yang diobati dengan terapi radioiodin ini dan
menimbulkan hipotiroid adalah penyakit Graves (Krohn dkk,
2014), goiter noduler (Kahraman dkk, 2012), atau kanker
sekitar leher dan kepala (Lee dkk, 2016). Terapi ini bertujuan
untuk menghancurkan sel kelenjar tiroid.
3) Tiroidektomi
Beberapa orang dengan nodul tiroid, kanker tiroid, atau
penyakit Graves perlu menjalani tindakan pengangkatan
sebagian atau seluruh kelenjar tiroidnya. Jika seluruh

23
kelenjar tiroidnya diangkat, maka kompensasi yang terjadi
adalah tiroid tidak dapat memproduksi hormon tiroid. Jika
hanya sebagian dari kelenjar itu yang diangkat, kelenjar
tiroid mungkin saja masih bisa memproduksi hormon tiroid
dalam jumlah yang cukup tergantung dari fungsi kelenjar
tiroid yang masih tersisa (Verloop, 2012).
4) Kelebihan asupan iodium
Sebuah studi di China (Teng dkk, 2011) menyebutkan
bahwa asupan iodium melebihi kebutuhan dapat
meningkatkan angka kejadian hipotiroid subklinis dan
autoimun tiroiditis.
5) Kekurangan asupan iodium
Iodium adalah komponen penting dari sintesis hormon
tiroid. Kekurangan iodium dapat menyebabkan gondok,
nodul tiroid, dan hipotiroidisme. Konsekuensi paling parah
dari kekurangan iodium adalah kretinisme. Kretinisme
didefinisikan sebagai suatu sindrom karena kekurangan
hormon tiroid dengan manifestasi utama berupa retardasi
mental dan hambatan tumbuh kembang (Sukandar dkk, 2016).
6) Hipotiroid Kongenital
Hipotiroid kongenital adalah keadaan menurun atau
tidak berfungsinya kelenjar tiroid yang didapat sejak lahir.
Hal ini terjadi karena kelainan anatomi atau gangguan
metabolisme pembentukan hormon tiroid atau defisiensi
iodium. Lebih dari 95% bayi dengan Hipotiroid Kongenital
tidak memperlihatkan gejala saat dilahirkan. Kalaupun ada,
gejala yang muncul akan sangat samar dan tidak khas. Jika
tanpa pengobatan, semakin lama gejala akan semakin

24
tampak dengan bertambahnya usia. Gejala dan tanda yang
dapat muncul: letargi (aktivitas menurun), ikterus (kuning),
makroglosi (lidah besar), hernia umbilikalis (bodong), hidung
pesek, konstipasi, kulit kering, skin mottling (cutis
marmorata)/burik, mudah tersedak, suara serak, hipotoni
(tonus otot menurun), ubun-ubun melebar, perut buncit,
mudah kedinginan (intoleransi terhadap dingin), miksedema
(wajah sembab), dan udem scrotum (Direktorat Bina
Kesehatan Anak Kemenkes RI, 2014).
Sesuai Permenkes No. 78 Tahun 2014, seluruh fasilitas
kesehatan wajib melakukan Skrining Hipotiroid Kongenital
(SHK). Pemeriksaan SHK dilakukan dengan cara memeriksa
kadar TSH pada bayi usia 2-6 hari menggunakan bercak
darah (blood spot) yang diteteskan sesuai aturan yang telah
ditetapkan pada kertas saring. Skrining lain yang dapat
digunakan untuk menjaring kasus hipotiroid kongenital yaitu
menggunakan alat bantu indeks Quebec atau Neonatal
Hypothyroid Index (NHI).
7) Efek obat-obatan
Obat-obatan seperti amiodaron (obat anti aritmia),
lithium (obat anti depresi), tyrosine kinase inhibitors (obat
kanker), interferon alfa (obat hepatitis, obat karsinoma, dll),
thalidomide (obat multiple karsinoma), monoclonalantibodies
(terapi imun), obat anti epilepsi (contoh: valproate), obat anti-
tuberkulosis dapat menyebabkan perubahan pada tes fungsi
tiroid (Bares dkk, 2016). Penyebab utamanya adalah melalui
mekanisme penghambatan aktivitas 5-deiodinase yang
mengakibatkan penurunan perubahan T3 dari T4 .

25
Sekitar 14-18% pasien yang mengonsumsi amiodaron
akan mengalami Amiodarone-Induced Thyrotoxicosis (AIT)
atau Amiodarone-Induced Hypothyroid (AIH). Obat yang
mengandung iodium tinggi ini disebut dapat menyebabkan
AIH dihubungkan dengan adanya kegagalan untuk
melepaskan diri dari efek Wolff Chaikof (Martino dkk, 2001).
Penggunaan lithium dalam jangka waktu yang panjang juga
dapat menyebabkan hipotiroidisme (Shine B dkk, 2015).

 Hipotiroid Sekunder
Hipotiroid Sentral (Hipotiroid sekunder dan tersier) jarang
terjadi dan angka kejadian pada laki-laki dan perempuan tidak
ada perbedaan. Kasus yang terjadi lebih sering diakibatkan oleh
gangguan atau kerusakan di kelenjar pituitari dibandingkan
dengan gangguan atau kerusakan di hipotalamus, walaupun
kadang diakibatkan oleh keduanya.
Hipotiroid sekunder diakibatkan oleh adanya gangguan
atau kerusakan di kelenjar pituitari. Kelenjar pituitari bertugas
mensekresi TSH. Sehingga jika ada gangguan pada kelenjar
pituitari, maka jumlah TSH yang disekresikan akan kurang.
Secara biokimia biasanya ditandai dengan kadar TSH kurang
dari normal sampai normal dan kadar fT4 yang cenderung
kurang. Penyebab yang lain adalah disfungsi kelenjar pituitari
yang disebabkan adenoma atau pembesaran kelenjar pituitari
(Persani L, 2012), cedera kepala (trauma kepala), aploplexy atau
pendarahan yang tidak terkontrol di kelenjar pituitari, Sheehan’s
syndrome, operasi, radioterapi dan juga genetik (Chaker dkk,
2017).

26
 Hipotiroid Tersier
Hipotiroid tersier diakibatkan oleh adanya gangguan atau
kerusakan di hipothalamus sehingga akan mempengaruhi
produksi TRH. Penyebab lain yang mungkin mengganggu fungsi
hipotalamus adalah pasca trauma atau cedera, terjadi resistensi
terhadap TRH dan TSH (Gunenwald dan Caron, 2015), serta
penggunaan obat seperti dopamine, somatostatin,
glucocorticosteroid dan retinoid (Gaeppi-Dullac dkk, 2014).

 Hipotiroid Periferal
Hipotiroid yang dapat muncul karena adanya resistensi
jaringan perifer terhadap aksi hormon tiroid. Hipotiroid
periferal disebabkan oleh penyimpangan ekspresi enzim
iodotironin-deiodinase tipe 3 yang menonaktifkan hormon tiroid
pada jaringan tumor (Huang dkk, 2000). Meski sangat jarang,
ekspresi berlebihan semacam itu dapat menyebabkan hipotiroid
yang parah. Pasien dengan sindrom genetik langka juga
terkadang menyebabkan berkurangnya tingkat sensitivitas
terhadap hormon tiroid. Penderita hipotiroid periferal biasanya
memiliki kadar TSH yang normal (Dumitrescu dan Refetoff,
2013).

BESARAN MASALAH HIPOTIROID


Gangguan tiroid menempati urutan kedua terbanyak
dalam daftar penyakit metabolik setelah Diabetes Mellitus.
Prevalensi hipotiroid di Indonesia belum diketahui secara pasti.
Riset Kesehatan Dasar Tahun 2007 melakukan pemeriksaan

27
kadar TSH sebagai salah satu penunjang pemeriksaan fungsi
tiroid. Dari hasil pemeriksaan tersebut, didapatkan sebanyak
2,7% laki-laki dan 2,2% perempuan memiliki kadar TSH yang
tinggi atau melebihi kadar normal. Hal ini menunjukkan
kecurigaan adanya masalah hipotiroid. Berikut hasil
pemeriksaan kadar TSH berdasarkan jenis kelamin dan
kelompok umur pada Riskesdas Tahun 2007 :
Tabel 2.3 Persentase Hasil Pemeriksaan TSH Berdasarkan Jenis
Kelamin dan Kelompok Umur
Kadar TSH
Jumlah Sampel Tinggi Normal Rendah
(>6 µIU/ml) (0,4-6 µIU/ml) (<0,4 µIU/ml)
Jenis Kelamin
Laki-Laki 11.721 2,7% 84,5% 12,8%
Perempuan 14.236 2,2% 83,1% 14,7%
Kelompok
Umur
(Tahun)
1–4 1.177 3,1% 80,4% 16,6%
5–9 2.152 4,3% 82,1% 13,7%
10 – 14 2.341 3,9% 83,8% 12,3%
15 – 19 2.362 2,4% 85,7% 11,9%
20 – 24 1.985 2,7% 85,7% 11,6%
25 – 29 2.295 1,5% 86,3% 12,2%
30 – 34 2.274 1,8% 84,7% 13,6%
35 – 39 2.423 1,9% 84,4% 13,7%
40 – 44 2.077 2,3% 84,3% 13,4%
45 – 49 1.839 1,8% 83,3% 14,8%
50 – 54 1.547 1,7% 83,8% 14,5%
55 – 59 1.031 1,4% 79,8% 18,8%
>60 2.470 2,2% 80,7% 17,1%
Indonesia 2,4% 83,8% 13,8%
Sumber : Badan Litbang Kesehatan, 2007

Di seluruh dunia, prevalensi hipotiroid kongenital


diperkirakan mendekati 1:3000 kelahiran dengan angka kejadian
yang sangat tinggi di daerah kekurangan iodium dengan rasio
1:900 kelahiran. Kasus hipotiroid kongenital lebih sering terjadi

28
pada perempuan dibandingkan dengan laki-laki, dengan
perbandingan 2:1.
Angka kejadian hipotiroid kongenital bervariasi antar
negara. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh faktor etnis dan ras
juga. Data menyebutkan prevalensi kasus hipotiroid kongenital
lebih tinggi pada keturunan Asia dan jarang terjadi pada
populasi kulit hitam. Berikut adalah angka kejadian hipotiroid
kongenital di sejumlah negara di Asia (Tabel 2.4) :
Tabel 2.4 Kasus Hipotiroid Kongenital di Beberapa Negara Asia
Angka Kejadian
No. Negara
(per jumlah kelahiran)
1. Jepang 1 : 7.600
2. Vietnam 1 : 5.502
3. Korea 1 : 4.300
4. Singapura 1 : 3.500
5. Filipina 1 : 3.460
6. Malaysia 1 : 3.026
7. Hongkong 1 : 2.404
8. Bangladesh 1 : 2.000
9. India 1 : 1.700
10. Taiwan 1 : 1.027
Sumber: Direktorat Bina Kesehatan Anak Kemenkes RI, 2014.

Indonesia sendiri belum memiliki data kasus hipotiroid


kongenital secara nasional. Data kasus hipotiroid kongenital di
Indonesia baru didapat dari RSUP Dr. Cipto Mangunkusomo
Jakarta dan RS Hasan Sadikin Bandung. Kejadian hipotiroid
kongenital tahun 2000 sampai September 2014, dari 213.669 bayi
baru lahir yang telah melakukan skrining hipotiroid kongenital,
didapatkan hasil positif menderita hipotiroid kongenital
sebanyak 85 bayi atau sekitar 1:2.513 kelahiran. Angka ini lebih
tinggi dari rasio global yang berada di angka 1:3.000 kelahiran
(Direktorat Bina Kesehatan Anak Kemenkes RI, 2014).

29
DAMPAK HIPOTIROID PADA KESEHATAN
1) Efek hipotiroid pada pembentukan janin
Jika hipotiroid terjadi pada ibu hamil, maka
pembentukan otak janin, beberapa organ dan proses
pematangan tulang akan terhambat. Jika bayi lahir tidak
segera dilakukan skrining hipotiroid kongenital sehingga
memungkinkan pemberian terapi obat dan penunjangnya
terlambat diberikan, maka akan berdampak pada
terjadinya kretinisme. Bayi kemungkinan akan tumbuh
dengan retardasi mental, gangguan pendengaran,
pertumbuhan dan perkembangannya terhambat, serta
penurunan IQ (Glinoer D, 2001). Hipotiroid juga telah
dikaitkan dengan peningkatan tingkat aborsi spontan,
persalinan prematur dan atau berat lahir rendah, tekanan
janin dalam persalinan, dan mungkin hipertensi yang
diinduksi kehamilan dan abrupsi/lepas plasenta dini
(Krassas GE dkk, 2010).
2) Efek hipotiroid pada konsumsi oksigen, produksi panas
tubuh dan pembentukan radikal bebas
Hipotiroid menyebabkan penurunan BasalMetabolic
Rate (BMR), sehingga produksi panas tubuh berkurang
(hipotermia), keringat sedikit, dan penderita hipotiroid
akan tidak toleran pada suhu dingin. Proses oksidatif di
dalam tubuh akan meningkat, sehingga pembentukan
radikal bebas di dalam tubuh juga akan meningkat (Chaker
dkk, 2017).
3) Efek hipotiroid pada sistem kardiovaskuler
Hipotiroid mempengaruhi jantung, sehingga

30
mengakibatkan tekanan darah diastolik meningkat,
tekanan nadi melemah dan tidak beraturan serta
penurunan curah jantung. Pasien penderita hipotiroid
akan mudah lelah, cenderung lesu dan lemah. Hipotiroid
juga meningkatkan risiko terjadinya atherosklerosis
dengan mekanisme peningkatan kadar LDL dalam darah
(Capolla dan Ladenson, 2003). Kondisi hipotiroid subklinis
dengan kadar TSH lebih dari 10 mIU/L juga berhubungan
dengan meningkatnya risiko gagal jantung (Rodondi N
dkk, 2010).
4) Efek hipotiroid pada organ simpatetis
Hipotiroid menyebabkan turunnya produksi keringat
pada kelenjar keringat. Hipotiroid juga menyebabkan
penurunan detak jantung, nadi menjadi lemah,
menurunkan laju filtrasi ginjal, memperlambat proses
pencernaan, memperlambat gerak peristaltik, dan
menurunkan sekresi ludah (Klein, 2011).
5) Efek hipotiroid pada sistem pernafasan
Pada penderita dewasa, hipotiroid memunculkan
gejala nafas pendek dan perlahan, gangguan respon
ventilasi terhadap hiperkapnia dan hipoksia, hipoventilasi,
sleep apnea dan efusi pleura. Disfungsi tiroid juga terbukti
secara klinis berhubungan dengan pulmonary hypertention
(Li, Jonathan H. dkk, 2007). Gagal nafas juga menjadi
masalah utama pada pasien dengan koma miksidema.
6) Efek hipotiroid pada sistem darah
Hipotiroid dapat menyebabkan peningkatan risiko
terjadinya anemia. Hal-hal yang dapat berkontribusi dalam

31
terjadinya kasus anemia pada orang dengan hipotiroid
adalah (a) Gangguan sintesis hemoglobin sebagai akibat
dari kekurangan hormon tiroid; (b) Kekurangan zat besi
yang bisa disebabkan oleh peningkatan kehilangan zat besi
yang disebabkan adanya gangguan penyerapan zat besi
dalam usus; (c) Kekurangan asam folat yang disebabkan
adanya gangguan penyerapan asam folat pada usus; (d)
Penurunan sel darah merah (Pernicious anemia) yang
terjadi ketika tubuh tidak dapat menyerap vitamin B12
dari saluran pencernaan dengan baik (Gardner dan
Shoback, 2011).
7) Efek hipotiroid pada sistem pencernaan
Gerak peristaltik usus pada penderita hipotiroid akan
melambat. Hal ini dapat berdampak pada terjadinya
konstipasi dan juga bisa menyebabkan obstruksi pada usus
sebagai akibat dari feses yang mengeras. Nafsu makan
penderita hipotiroid biasanya akan menurun, akan tetapi
angka kejadian peningkatan berat badan justru terjadi. Hal
ini disebabkan adanya retensi cairan. Penyerapan zat gizi
spesifik biasanya juga menjadi berkurang walaupun
kuantitas totalnya berjumlah tetap atau meningkat, hal ini
disebabkan masa transit hasil pencernaan di usus yang
menjadi lebih lama (Misra GC dkk, 1991).
8) Efek hipotiroid pada tulang
Hipotiroid menyebabkan penurunan aktivitas
osteoblas, mengganggu osteoid, dan menyebabkan periode
sekunder proses mineralisasi menjadi panjang. Proses
pergantian dan regenerasi tulang menjadi turun karena

32
aktivitas osteoklas dan penyerapan kembali mineral
menjadi rendah (Eriksen EF dkk, 1986). Hipotiroid juga
dapat menghambat pertumbuhan tulang, jika tidak
terdiagnosa sejak dini maka para penderita hipotiroid yang
tidak tertangani dalam jangka waktu yang lama akan
terganggu pertumbuhannya (Hüffmeier U dkk, 2007).
Penelitian juga menyebutkan bahwa kondisi hipotiroid
atau peningkatan kadar TSH meningkatkan risiko
terjadinya patah tulang menjadi 2-3x lipat (Vestergaard P
dkk, 2005).
9) Efek hipotiroid pada sistem saraf dan otot
Banyak pasien hipotiroid yang mengeluhkan
terjadinya gangguan pada sistem saraf dan otot. Keluhan
yang biasa muncul adalah kram otot yang parah,
parathesias (sensasi seperti terbakar, kebas, geli dan gatal
yang menjalar pada kulit tubuh) dan lemah otot (Duyff RF
dkk, 2000). Permasalahan yang juga mungkin terjadi pada
penderita hipotiroid adalah kelelahan kronis, mudah
mengantuk, mudah lelah, lamban dan sulit untuk
berkonsentrasi. Penderita hipotiroid biasanya akan cukup
tenang tetapi juga bisa sangat depresif atau bahkan sangat
gelisah.
10) Efek hipotiroid pada metabolisme lemak dan protein
Hormon tiroid mempengaruhi semua jalur
metabolisme utama. Efek dari hipotiroid adalah penurunan
pengeluaran energi basal yang diperoleh dari hasil
penurunan metabolisme protein, karbohidrat dan lemak.

33
Hormon tiroid mempengaruhi sintesis, mobilisasi dan
degradasi lemak (Pucci dkk, 2000).
11) Efek hipotiroid pada sistem reproduksi
Pada wanita, hipotiroid merusak proses konversi
prekusor estrogen menjadi estrogen yang menghasilkan
perubahan sekresi FSH dan LH. Hipotiroid juga dapat
menyebabkan gangguan ovulasi (bisa terjadi
anovulatoar/tidak terjadi ovulasi), haid berlebihan bahkan
dapat menganggu kesuburan. Pada pria, hipotiroid dapat
menyebabkan penurunan libido dan disfungsi ereksi
(Gardner dan Shoback, 2011).

PENUTUP
Hipotiroid menyebabkan munculnya berbagai masalah
kesehatan. Etiologi terjadinya hipotiroid bisa terjadi karena
banyak hal. Besaran kasus hipotiroid di Indonesia mencapai 2,4%.
Gejala yang muncul pada penderita hipotiroid tidak spesifik dan
bisa berbeda-beda pada setiap orang. Hasil pemeriksaan
laboratorium dapat dijadikan dasar yang lebih akurat dalam
menetapkan adanya gangguan fungsi tiroid.
Penanganan gangguan fungsi tiroid sebaiknya dilakukan
kasus per kasus karena masing-masing pasien akan mengalami,
keluhan, gejala dan efek yang berbeda-beda. Pemeriksaan yang
menyeluruh diperlukan agar penanganan kasus hipotiroid yang
akan dilakukan pada masing-masing pasien tepat sehingga dapat
meningkatkan kualitas kesehatan penderita hipotiroid.

34
Daftar Pustaka

American Thyroid Association. 2017. Hypothyroidism . ATA.


https://www.thyroid.org/hypothyroidism/. Diakses 18
Januari 2018 (13:55 WIB).
Aw, Tarchoon dan Yap, Clementine YF. 2011. Thyroid Function
Test. Proceedings of Singapore Healthcare 20 (2): 132-137.
Badan Litbang Kesehatan Kementerian Kesehatan Republik
Indonesia. 2007. Laporan RISKESDASTahun 2007 Bidang
Biomedis. Badan Litbang Kesehatan. Jakarta.
Bares R, dkk. 2016. Hypothyroidism Durineg Second-Line
Treatment Of Multidrug-Resistant Tuberculosis: A
Prospective Study. International Journal Tuberculosis And
Lung Disease 20(7): 876–881.
Basset, JH Duncan dan Williams, Gaham R. 2016. Role of Thyroid
Hormones in Skeletal Development and Bone Maintenance.
Endocrine Reviews 37: 135-187.
Billewicz BZ, dkk. 1969. Statistical Method Applied To The
Diagnosis of Hypothyroidism.Quarterly Journalof Medicine,
New Series XXXVIII, No. 150: 255-266.
Carle A, dkk. 2015. Gender differences in symptoms of
hypothyroidism:a population­based DanThyr study.Clinical
Endocrinology 83: 717–25.
Carle A, dkk. 2016. Hypothyroid symptoms failto predict thyroid
insufficiency in old people: a population­based case ­control
study.American JournalMedicine 129: 1082–92.

35
Chaker, Layal, dkk. 2017. Seminar: Hypothyroidism .
www.thelancet.com http://dx.doi.org/10.1016/S0140-
6736(17)30703-1.
Chiamolera, MI dan Wondisford, FE. 2009. Minireview:
Thyrotropin-Releasing Hormone and The Thyroid Hormone
Feedback Mechanism.Endocrinology 150: 1091.
Copolla, Anne R dan Ladenson, Paul W. Hypothyroidism and
Atherosclerosis. The Journal of Clinical Endocrinology &
Metabolism 88 (6): 2438-2444.
Daher, Ronald, dkk. 2009. Consequences of dysthyroidism on the
digestive tract and viscera. World J Gastroenterol 15 (23):
2834-2838.
Direktorat Bina Kesehatan Anak Kementerian Kesehatan
Republik Indonesia. 2014. Pedoman Skrining Hipotiroid
Kongenital. Kemenkes RI. Jakarta.
Dumitrescu AM dan Refetoff S. 2013. The Syndromes Of Reduced
Sensitivity To Thyroid Hormone. Biochim Biophys Acta
1830: 3987–4003.
Dunn, JT dan Dunn, AD. 2001. Update on Intrathyroidal Iodine
Metabolism.Thyroid 11: 407.
Duyff, Ruurd F, dkk. 2000. Neuromuscular findings in thyroid
dysfunction: a prospective clinical and electrodiagnostic
study.J NeurolNeurosurg Psychiatr y 68: 750–755
Eriksen EF, dkk. 1986. Kinetics Of Trabecular Bone Resorption
And Formation In Hypothyroidism:Evi-Dence For A Positive
Balance Per Remodeling Cycle. Bone 7: 101–108.

36
Gardner, David G dan Shoback, Dolores. 2011. Geenspan’s,Basic
& Clinical Endocrinology 9th edition. Lange McGaw Hill.
China.
Glinoer, Daniel. 2001. Potential Consequences of Maternal
Hypothyroidism on The Offspring; Evidence and
Implications.Hormone Research 55:109-114.
Gaeppi­Dulac J, dkk. 2014. Endocrine S
ide ­Effects Of Anti
­Cancer Drugs: The Impact Of Retinoids On The Thyroid
Axis.European JournalEndocrinology 170: R253–262.
Gunenwald S, dan Caron P. 2015. Central Hypothyroidism In
Adults: Better Understanding For Better Care. Pituitary 18:
169–75.
Huang SA, dkk. 2000. Severe Hypothyroidism Caused By Type 3
Iodothyronine Deiodinase In Infantile Hemangiomas. N Engl
J Med 343: 185–189.
Hüffmeier U, dkk. 2007. Severe Skeletal Dyspla-Sia Caused By
Undiagnosed Hypothyroidism . Eur J Med Genet 50: 209 –
215.
Kahraman D, dkk. 2012. Development Of Hypothyroidism Durineg
Long-Term Follow -Up Of Patients With Toxic Nodular Goitre
After Radioiodine Therapy.Clin Endocrinol76: 297–303.
Kawa, Milozs P, dkk. 2010. Clinical Relevance of Thyroid
Dysfunction in Human Haematopoiesis: Biochemical and
Molecular Studies. European Journal of Endocrinology 162:
295–305.
Klein, I. 2001. Clinical, Metabolic, and Organ Specific Indices of
Thyroid Function.EndocrinalMetab Clin North Am 30: 415.

37
Klein, I dan Danzi. 2007. Thyroid Disease and The Heart.
Circulation 116: 1725.
Kopp, P. 2001. The TSHReceptor and Its Role in Thyroid Disease.
CellMolLife Sci 58 : 1301.
Krohn T, dkk. 2014. Maximum Dose Rate Is A Determinant Of
Hypothyroidism After 131I Therapy Of Gaves’ Disease But
The Total Thyroid Absorbed Dose Is Not. Journal Clinical
Endocrinology Metabolisme 99: 4109–4115.
Krassas GE, dkk. 2010. Thyroid Function and Human Reproductive
Health.Endocrine Reviews 31: 702–755
Lee V, dkk. 2016. Dosimetric Predictors Of Hypothyroidism After
Radical Intensity ­Modulated Radiation Therapy For
Non­Metastatic Nasopharyngeal Carcinoma. Clinical
Oncology (RCollRadiol); 28: e52–60.
Li, Jonathan H, dkk. 2007. Pulmonary Hypertension and Thyroid
Disease.CHEST132: 793-797.
Martino E, dkk. 2001. The Effects of Amiodarone on The Thyroid.
Endocrine Reviews 22(2): 240 –254
Misra GC, dkk. 1991. Malabsorption In Thyroid Dysfunctions.
J Indian Med Assoc 89: 195-197
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 75 tahun
2013 tentang Angka Kecukupan Gizi yang Dianjurkan Bagi
Bangsa Indonesia. Lembaran Negara Republik Indonesia.
Jakarta.
Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No. 78 tahun
2014 tentang Skrinning Hipotiroid Kongenital. Lembaran
Negara Republik Indonesia. Jakarta.

38
Persani L. 2012. Clinical Review: Central Hypothyroidism:
Pathogenic,Diagnostic,And Therapeutic Challenges.Journal
ClinicalEndocrinology And Metabolism 97: 3068–3078.
Pucci, E dkk. 2000. Thyroid and Lipid Metabolism.IntJObes Relat
Metab Disord 24 Suppl2:S109-12.
Purnamasari D dan Subekti I. 2007.Penyakit Tiroid. Pusat
Penerbit Ilmu Penyakit Dalam FKUI. Jakarta. Interna
Publishing.
Pusdatin Kemenkes RI. 2015. Situasi dan Analisis PenyakitTiroid,
International Thyroid Awareness Week: Bebaskan dirimu
dari gangguan tiroid. Infodatin Pusat Data dan Informasi
Kementerian Kesehatan RI. ISSN: 2442-7659.
Raymond, J dan Lafranchi, SH. Fetal and Neonatal Thyroid
Function:Review and Summary of Significant New Findings.
Curr Opin EndocrinalDiabetes Obes 17 (1) : 1.
Robert, Caroline GP dan Ladenson, Paul W. 2004. Seminar:
Hypothyroidism . Lancet 2004; 363:793–803
Rodondi N, dkk. 2010. Subclinical Hypothyroidism And The Risk
Of Coronary Heart Disease And Mortality. JAMA 304:
1365–1374.
Shine B, dkk. 2015. Long-Term Effects Of Lithium On Renal,
Thyroid,and Parathyroid Function:A Retrospective Analysis
Of Laboratory Data.Lancet 386: 461-468.
Sukandar, Prihatin B dkk. 2016. Kretin. Pustaka Pelajar.
Yogyakarta.
Teng X, dkk. 2011. More Than Adequate Iodine Intake May
Increase Subclinical Hypothyroidism And Autoimmune
Thyroiditis: A Cross­Sectional Study Based On Two Chinese

39
Communities With Different Iodine Intake Levels. European
JournalEndocrinology 164: 943–50.
Verloop H, dkk. 2012. Risk Of Hypothyroidism Following
Hemithyroidectomy: Systematic Review And Meta­Analysis
Of Prognostic Studies.J Clin EndocrinolMetab 97: 2243–55.
Vestergaard P, dkk. 2005. Influence Of Hyper And
Hypothyroidism, And The Effects Of Treatment With
Antithyroid Drugs And Levothyroxine On Fracture Risk.Cal-
Cif Tissue Int 77: 139 –144.
Vogelius IR, dkk. 2011. Risk Factors For Radiation­Induced
Hypothyroidism: A Literature ­Based Meta­Analysis. Cancer
117: 5250–5260.
WHO. 2004. Iodine Status worldwilde, WHO Global Database on
Iodine Deficiency. WHO. Geneva.
Wrutniak, Cabello C. 2001. Thyroid Hormone Action in
Mitochondria.J MolEndocrinol26: 67.
Wu Q, dkk. 2015. Low Population S
elenium S
tatus Is Associated
With Increased Prevalence Of Thyroid Disease. J Clin
EndocrinolMetab 100: 4037–4047.
Yen, PM. 2001. Physiological and Molecular Basis of Thyroid
Hormones.PhysiolRev 81: 1097.
Zimmerman, Michael B. 2009. Iodine Deficiency. Endocrine
Review 30 (4): 376-408.

40
Bab 3
Peran Iodium dan Zat
Gizi Lain Dalam
Membentuk Hormon Tiroid
oleh : Candra Puspitasari, Cicik Harfana

PENDAHULUAN
Hormon tiroid mempunyai peranan penting dalam
mengatur pertumbuhan dan perkembangan tubuh manusia.
Hormon tiroid mampu merangsang metabolisme sampai 30
persen dan mengontrol kecepatan pelepasan energi dari zat gizi.
Kerja hormon tiroid dapat berjalan optimal didukung dengan
ketersediaan komponen penyusun yang cukup jumlahnya.
Komponen penyusun hormon tiroid yang menjadi bahan baku
utama adalah iodium. Bahan lain yang dibutuhkan dalam
pembentukan hormon tiroid adalah protein, selenium, seng dan
besi. Lebih lanjut terkait peran masing-masing zat gizi dalam
pembentukan hormon tiroid akan dijelaskan pada sub bab tiga
ini. Dalam bab ini juga dibahas tentang peranan hormon tiroid
dalam metabolisme berbagai zat gizi yaitu pada metabolisme
karbohidrat, protein, lipid, fosfor, kalsium, magnesium, dan
vitamin. Konsep peran iodium dan selenium dalam
pembentukan hormon tiroid pada manusia disajikan dalam
diagram alur proses.
Kecukupan iodium masyarakat Indonesia dipaparkan
dalam bab ini untuk mengetahui seberapa besar kebutuhan

41
asupan iodium rerata orang sehat agar hormon tiroid dapat
menjalankan fungsi vital di dalam tubuh dengan baik.
Pemenuhan asupan iodium dalam tubuh dapat diperoleh dari
konsumsi makanan dan minuman sumber iodium. Dalam bab
ini ditampilkan beberapa tabel rata-rata kandungan iodium
bahan makanan di berbagai wilayah, yang dapat digunakan
sebagai gambaran dalam memilih bahan makanan sumber
iodium terbaik untuk memenuhi kecukupan iodium.

IODIUM SEBAGAI BAHAN BAKU HORMON TIROID


Iodium merupakan komponen utama hormon tiroid.
Sumber utama iodium berasal dari asupan makanan.
Metabolisme iodium berperan penting pada pembentukan
hormon tiroid. Hormon tiroid berupa 3,5,30,5'- tetraiodotironin
atau tiroksin (T4) dan 3,5,3'- triiodotironin (T3) mengandung
atom iodium pada sebagai bagian dari strukturnya, dan
sintesisnya terjadi pada struktur unik yang disebut folikel
tiroid. Iodida mencapai sel tiroid melalui aliran darah yang
memasuki membran basolateral. Kelenjar tiroid terdiri dari
beberapa folikel yang dilapisi oleh sel folikel yang terletak pada
dasar membran. Folikel berisi bahan kental yang disebut koloid.
Koloidnya berupa glikoprotein yang disebut tiroglobulin
(Carvalho, 2017).
Koloid yang mengandung tiroksin iodinamik mengalami
endositosis (endositosis adalah transpor makromolekul dan
materi yang sangat kecil ke dalam sel dengan cara membentuk
vesikula baru dari membran plasma), dimana koloid ditangkap
dari lumen folikel oleh sel epitel. Enzim protease membantu

42
mencerna molekul tiroglobulin yang melepaskan T4, T3, DIT
dan MIT ke dalam sitoplasma. Sementara T4 dan T3 berdifusi
melalui permukaan basal ke dalam aliran darah, MIT dan DIT
cepat didapat dengan deiodinasi oleh enzim deiodinase.
Mekanisme ini membantu mengambil iodida untuk didaur ulang
bersama dengan tirosin untuk didaur ulang agar fungsi tiroid
tetap normal (Khurana, 2006).
Dalam aliran darah, T4 dan T3 dapat beredar dalam bentuk
terikat atau bebas; 99 persen T4 dan T3 beredar dalam bentuk
terikat, kurang dari 1 persen beredar dalam bentuk bebas.
Protein pengikat meliputi globulin pengikat tiroksin/thyroxine
binding globulin (TBG), prealbumin pengikat tiroid/thyroxine
binding pre albumin (TBPA) dan albumin pengikat
tiroid/thyroxine binding albumin (TBA) (Khurana, 2006).
Sekresi tiroid diatur oleh kelenjar pituitari melalui Thyroid
Stimulating Hormone (TSH) yang beroperasi pada mekanisme
umpan balik yang disetel ke tingkat T4 dalam darah. Penurunan
tingkat T4 merangsang kelenjar di bawah otak untuk
meningkatkan sekresi TSH-nya yang pada gilirannya
merangsang kelenjar tiroid untuk melepaskan T4 dalam sirkulasi
untuk mempertahankan tingkat hormon dalam darah agar tetap
normal (Khurana, 2006).
Kelenjar tiroid mengeluarkan 80 mikrogam iodium dalam
bentuk hormon T3 dan T4 per hari; 40 mikrogam iodium yang
disekresi muncul dalam cairan ekstraselular/ekstra celuler fluid
(ECF) per hari. Metabolisme T3 dan T4 di hati melepaskan
sekitar 60 mikrogam iodium ke ECF dan 20 mikrogam iodium ke
dalam empedu yang akan diekskresikan dalam tinja. Rata-rata,

43
480 mikrogam iodium diekskresikan dalam urine dan 20
mikrogam diekskresikan dalam tinja per hari (Pal, 2007).
Meskipun iodida adalah substrat yang diperlukan untuk
produksi hormon tiroid, kelebihan iodida dapat memiliki dua
efek yang berlawanan. Dalam efek Wolff-Chaikoff, kelebihan
iodium menghambat pelepasan hormon tiroid dari kelenjar
dengan menghalangi perangkap iodida dan iodinasi tiroglobulin.
Hambatan ini bersifat sementara, biasanya hanya berlangsung
beberapa hari. Beban iodida dapat menyebabkan hipertiroidisme
(efek Jod-Basedow) pada beberapa pasien dengan gondok
multinodular dan penyakit Gaves (Thiessen, 2018).
Terdapat enam tahap yang diperlukan dalam
pembentukan hormon tiroid (T3 dan T4) yang djelaskan sebagai
berikut :
a. Perangkapan / akumulasi iodida
-
Perangkapan iodida (I ) adalah langkah pertama dalam
metabolisme iodium (tanda nomor 1). Proses dimulai dengan
pengambilan iodida (I-) dari kapiler ke dalam sel folikel
kelenjar oleh sistem transport aktif dengan bantuan protein
simbal natrium iodium atau natrium iodine symporter (NIS)
yang terletak di membran basolateral sel folikel tiroid; energi
yang dibutuhkan oleh proses ini didapat dari pompa Na++ PP
yang bergantung pada enzim ATPase. Peningkatan sekresi
TSH meningkatkan pengambilan iodida ke dalam sel folikel.
Pengangkutan iodida ke kelenjar tiroid juga dipengaruhi oleh
kadar iodida serum; Defisiensi iodida meningkatkan aktivitas
pompa, dan kelebihan iodida menghambat serapan iodida
(Khurana, 2006).

44
b. Sintesis dan Pelepasan hormon tiroid
Sintesis dan sekresi tiroglobulin adalah langkah kedua.
Hal ini terjadi oleh proses lain di dalam sel folikel. Sintesis
dimulai pada retikulum endoplasma kasar sebagai unit
peptida dengan berat molekul 330.000 (produk terjemahan
utama pembawa pesan RNA). Kemudian unit-unit ini
digabungkan menjadi dimer, diikuti oleh penambahan bagian
karbohidrat, setelah itu molekul bergerak ke badan Golgi.
Molekul tiroglobulin yang telah selesai mengandung sekitar
140 residu tirosin, yang berfungsi sebagai substrat untuk
sintesis hormon tiroid. Tiroglobulin terdapat pada vesikula
kecil yang kemudian bergerak menuju permukaan apikal
membran plasma sebelum dilepaskan ke lumen folikel
(Khurana, 2006).
c. Oksidasi iodida
Langkah ketiga adalah oksidasi iodida. Iodida di dalam
sel folikel bergerak menuju permukaan apikal membran
plasma, untuk masuk ke dalam lumen folikel. Transportasi
dilakukan oleh transporter iodida/klorida bebas yang disebut
-
pendrin. Iodida (I ) kemudian segera dioksidasi menjadi atom
iodium (Io) (Khurana, 2006).
d. Iodinasi tirosin
Langkah keempat adalah iodinasi tirosin dengan
pengaturan tiroglobulin, dimana iodinasi cincin benzen residu
tirosil terjadi di dalam molekul tiroglobulin. Iodinasi terikat
pada posisi 3 membentuk monoiodotirosin (MIT) dan pada
posisi 5 membentuk diioditirosin (DIT) (Khurana, 2006).

45
e. Penggandengan antar DIT dan dengan MIT
Langkah kelima adalah reaksi penggandengan, dimana
dua molekul DIT dipasangkan membentuk hormon
tetraiodotironin atau tiroksin (T4); dan satu molekul MIT
dipasangkan dengan satu molekul DIT membentuk hormon
Triiodotironin (T3). Reaksi dikatalisis oleh enzim tiroid
peroksidase (TPO) (Khurana, 2006).
f. Penyimpanan hormon tiroid
Hormon tiroid disimpan di dalam folikel tiroid sebagai
koloid selama beberapa bulan. Hormon yang tersimpan bisa
memenuhi kebutuhan tubuh hingga 3 bulan.

46
Gambar 3.1
Peran Iodium pada Pembentukan Hormon Tiroid pada manusia
(adaptasi http://www.handwrittentutorials.com )

47
PERAN PROTEIN, SELENIUM, SENG, DAN BESI PADA
PEMBENTUKAN HORMON TIROID
Fungsi hormon tiroid adalah memengaruhi metabolisme
sel dengan meningkatkan tingkat metabolisme basal (Basal
Metabolism Rate/BMR). Hormon tiroid memiliki peran dalam
sintesis protein dan bersama dengan hormon lain diperlukan
untuk pertumbuhan dan perkembangan normal. Hormon tiroid
berupa 3,5,30,5'-tetraiodotironin atau tiroksin (T4) dan 3,5,3'-
triiodotironin (T3) meningkatkan ekspresi dan sensitivitas
reseptor β-adrenergik dan secara dramatis meningkatkan
respons terhadap katekolamin endogen (Thiessen, 2018). Proses
sintesis hormon tiroid memerlukan beberapa mikronutrien
seperti protein, iodium, selenium, seng, dan zat besi.
Mikronutrien tersebut ada yang berperan sebagai pengikat
hormon tiroid (thyroid binding globulin/TBG), sebagai bahan
baku hormon tiroid, dan ada pula yang berperan sebagai enzim
aktivasi hormon tiroid. Lebih mendalam akan dibahas bertahap
pada sub bab ini sebagai berikut :
1. Protein
Lebih dari 99,5% hormon tiroid terikat protein dalam
serum yang berupa globulin pengikat tiroksin (thyroid
binding globulin/TBG) (Thiessen, 2018). Sumber hormon
tiroid adalah tiroglobulin (Tg), sebuah iodoprotein, yang
diproduksi oleh sel folikular. Tiroglobulin adalah bagian
utama dari koloid intraluminal dan merupakan protein yang
paling penting dari kelenjar tiroid (Wilson, 2016).

48
2. Selenium (Se)
Asupan selenium dari makanan yang tidak adekuat
dapat menyebabkan gangguan pembentukan hormon tiroid.
Konsumsi selenium dan iodium yang tidak adekuat
berkontribusi terhadap patogenesis dari kretinisme
miksedema. Selenoprotein terlibat dalam antioksidan seluler
pada sistem pertahanan dan kontrol redoks, seperti glutation
peroksidase (GPx) dan keluarga thioredoxin reduktase
(TxnRd) sebagai perlindungan kelenjar tiroid dari kelebihan
hidrogen peroksida dan spesies oksigen reaktif yang
dihasilkan oleh folikel biosintesis hormon tiroid. Selain itu,
ketiga enzim kunci tersebut terlibat dalam aktivasi dan
inaktivasi hormon tiroid. Iodotironin deiodinase adalah
selenoprotein dengan pengembangan, pola ekspresi terkait
sel dan patologi. Sementara suplai nutrisi Se biasanya cukup
untuk gambaran fungsional yang memadai dengan Enzim
DIO fungsional kecuali parenteral nutrisi jangka panjang dan
penyakit tertentu yang mengganggu penyerapan
gastrointestinal. Senyawa selenium untuk perlindungan
fungsi kelenjar tiroid dan sintesis beberapa seleno protein
yang melimpah dari enzim glutation peroksidase dan
keluarga thioredoksin reduktase mungkin membatasi
gambaran yang tepat di bawah kondisi patofisiologis (Kohrle,
2009).
Kelenjar tiroid normal mempertahankan konsentrasi
selenium tinggi bahkan pada saat di bawah kondisi pasokan
selenium yang tidak adekuat dan mengekspresikan banyak
selenosistein yang diketahui mengandung protein. Di antara

49
selenoprotein ini adalah enzim glutation peroksidase,
deiodinase, dan thioredoksin reduktase. Nutrisi selenium
yang adekuat mendukung sintesis dan metabolisme hormon
tiroid yang efisien serta melindungi kelenjar tiroid dari
kerusakan akibat paparan iodium berlebihan (Zimmermann,
2002)
Unit fungsional untuk sintesis hormon tiroid adalah
folikel, struktur yang terdiri dari kelompok tirosit. Folikel
menyintesis protein tiroksin dengan berat molekul tinggi,
yang kemudian diekspor dan disimpan sebagai koloid dalam
lumen folikular. Sintesis hormon tiroid memerlukan iodinasi
residu tirosil pada tiroglobulin dan kopling selanjutnya dari
turunan iodinasi ini. Reaksi ini terjadi di dalam lumen
folikular pada permukaan membran apikal dan tidak di dalam
tirosfer1-5. Iodinasi residu tirosil pada tiroglobulin
memerlukan pembangkitan hidrogen peroksida dalam
konsentrasi tinggi dan juga aksi dari tiroid peroksidase,
enzim yang terletak di sisi luminal membran apikal. Generasi
H2O2 mungkin penting untuk mengendalikan sintesis
hormon tiroid dan diatur oleh jaringan kompleks untuk
berinteraksi dengan sistem messenger kedua. Oleh karena itu
tirosit terpapar dengan konsentrasi tinggi H2O2 dan
akibatnya adalah lipid hidroperoksida toksik. Namun,
ketersediaan H2O2 dan kerusakan peroksidatif selanjutnya
menurun dengan sistem selenoenzim di tirosit yang mungkin
terlibat dalam mengatur sintesis hormon. Glutation
peroksidase ekstraselular disekresikan oleh tirosit ke dalam
lumen folikular dan dapat mengatur ketersediaan H2O2 untuk

50
peroksidase tiroid pada membran apikal. Glutation
peroksidase intraselular dapat mendetoksifikasi H2O2 dan
hidroperoksida lipid dalam tirosit dan melindungi kelenjar
dari kerusakan oksidatif.
Peran selenium dalam sintesis hormon tiroid dapat
digambarkan secara ringkas pada beberapa tahap berikut:
a. Proses iodinasi tirosin oleh enzim tiroperoksidase butuh
lebih banyak H2O2 (reaksi oksidatif)
b. Selenium bahan baku utama pembentukan enzim
glutation peroksidase
c. Selenium mengatur aktivitas sintesis enzim deiodinase
yang penting dalam konversi Hormon T4 menjadi T3
d. Hormon tiroid siap digunakan dalam jaringan
e. Enzim glutation peroksidase yang berlaku sebagai
antioksidan mampu mengubah reaksi oksidatif yang
menghasilkan hidrogen peroksida (H2O2) menjadi air
(H2O).

51
Gambar 3.2
Peran Selenium Pada Pembentukan Hormon Tiroid
(adaptasi dari http://www.handwrittentutorials.com)

52
3. Seng (Zn)
Peneliti yang bernama Arthur dalam artikel berjudul
“Thyroid Function” yang dimuat dalam British Medical
Bulletin mengindikasikan bahwa seng juga penting untuk
homeostasis tiroid normal. Peran seng rumit dan mampu
mencakup efek pada sintesis dan cara kerja hormon tiroid.
Hormon tiroid berpengaruh pada faktor transkripsi yang
mengikat, yang penting untuk modulasi ekspresi gen,
mengandung seng terikat residu sistein. Namun, tidak
diketahui apakah pengaturan makanan pada defisiensi seng
memiliki efek langsung pada metabolisme hormon tiroid.
Pada sel kultur, seng sebagai chelators sangat kuat
diperlukan untuk memengaruhi pengikatan faktor transkripsi
ke DNA. Penelitian yang lebih kompleks dengan gabungan
selenium, iodium dan seng, menunjukkan adanya interaksi
antara defisiensi selenium dan seng pada sel folikel tiroid
arsitektur, yang kompatibel dengan apoptosis. Seng juga
terkait dengan metabolisme tiroid pada manusia. Banyak
pasien dengan Sindrom Down memiliki kadar seng serum
rendah yang dikaitkan dengan diare dan malabsorpsi seng.
Pasien tersebut juga mengalami peningkatan kadar TSH
plasma dan auto antibodi terhadap tiroglobulin. Saat pasien
dengan Down Syndrom e ditambahkan dengan seng, kadar
TSH plasma menurun menjadi T3 terbalik normal dan plasma
meningkat menjadi normal. Penelitian lain menyatakan
bahwa status seng rendah dikaitkan dengan penurunan status
hormon tiroid (Arthur, 1999).

53
4. Zat Besi (Fe)
Kekurangan zat besi dapat merusak sintesis hormon
tiroid dengan mengurangi aktivitas enzim tiroid peroksidase
yang bergantung pada zat besi heme (zat besi yang bersumber
dari protein hewani) (Zimmermann, 2002).

PERAN HORMON TIROID DALAM METABOLISME ZAT


GIZI
Hormon tiroid memiliki efek sistemik pada peningkatan
Basal Metabolisme Rate (BMR), peningkatan pemakaian oksigen
pada semua jaringan dan produksi panas. Hormon tiroid juga
meningkatkan sekresi hormon pertumbuhan dan memiliki peran
dalam pertumbuhan dan perkembangan. Hormon tiroid
mempromosikan pematangan pusat pertumbuhan epifisis dalam
tulang. Hormon tiroid memengaruhi produksi insulin-like gowth
factor 1 (IGF-1) di hati dan diperlukan untuk pertumbuhan dan
perkembangan normal gigi, rambut dan kulit. Hormon tiroid
sangat penting dalam pertumbuhan dan perkembangan sistem
saraf, terutama pada awal kehidupan ketika kekurangan hormon
tiroid yang mengakibatkan gangguan mental yang parah.
Hormon tiroid juga memengaruhi kewaspadaan mental dan
memengaruhi kecepatan konduksi saraf (Campbell, 2014).
Hormon tiroid juga memengaruhi metabolisme beberapa
zat gizi yang akan dijelaskan lebih detail di bawah ini :
1. Metabolisme Karbohidrat
Hormon tiroid menstimulasi proses glukoneogenesis
dan glikogenolisis dengan mengurangi sensitifitas hormon
insulin dan meningkatkan metabolisme insulin. Selain itu

54
hormon tiroid meningkatkan penyerapan karbohidrat pada
bagian usus (Summers, 2017). Hormon tiroid mengontrol laju
sintesis dan kerusakan glikogen, dan oksidasi heksosa (Hoch,
1968).
2. Metabolisme Protein
Hormon tiroid berperan dalam proses katabolisme di
otot (Summers, 2017). Hormon tiroid mengontrol sintesis dan
kerusakan protein. Efek pemberian hormon tiroid tergantung
pada status tiroid seseorang. Dosis tiroksin yang rendah
merangsang sintesis protein, sedangkan dosis tinggi
menekannya. Hormon T3 yang rendah akan menurunkan
sintesis protein pada seseorang dengan status eutiroid.
Namun dosis yang sama menaikkan tingkat sintesis protein
dari rendah ke tingkat normal pada pasien miksedema (Hoch,
1968).
3. Metabolisme Lipid
Hormon tiroid menstimulasi lipolisis dan beta oksidasi
asam lemak. Selain itu hormon tiroid juga mampu
mengurangi kadar kolesterol serum dan trigliserida
(Summers, 2017). Hormon tiroid mengendalikan sintesis,
oksidasi dan mobilisasi lipid. Hormon tiroid juga mengontrol
konsentrasi asam lemak di jaringan melalui tingkat mobilisasi
asam lemak dari jaringan adiposa, bersamaan dengan
tindakan hormon lainnya (Hoch, 1968).
4. Metabolisme Fosfor (P)
Metabolisme fosfor sangat dipengaruhi oleh status
hormon tiroid. Pasien hipertiroid biasanya memiliki
keseimbangan fosfor negatif. Pasien hipotiroid

55
mengeksresikan jumlah fosfat yang besar segera setelah
pemberian dari hormon tiroksin, hal ini dimungkinkan
karena meningkatnya hidrolisis fosfokreatin. Kandungan
fosfatnya tinggi, dan kandungan ATP rendah, di jaringan
lunak hewan tirotoksik. Esterifikasi fosfat berlangsung
lambat dalam jaringan. Dalam tulang pasien hipertiroid,
fosfat itu berbalik menjadi tidak normal dengan cepat
mungkin bersamaan dengan perubahan-perubahan status
kalsium. (Hoch, 1968).
5. Metabolisme Kalsium (Ca)
Hormon tiroid secara langsung menstimulasi resorpsi
tulang pada kultur organ. Proses ini dimediasi oleh reseptor
triiodotironin (T3) nuklir yang ditemukan pada tikus dan
jalur sel osteoblas manusia dan pada osteoklas yang berasal
dari osteoklastoma. Dengan demikian, hormon tiroid dapat
memengaruhi metabolisme kalsium tulang baik melalui
tindakan langsung terhadap osteoklas, atau dengan bertindak
pada osteoblas yang pada gilirannya memediasi resorpsi
tulang osteoklastik. Studi eksperimental pada tikus yang
kekurangan reseptor tiroid atau β, menunjukkan bahwa
kehilangan tulang dimediasi oleh reseptor tiroid. Thyroid
stimulating hormone (TSH) juga dapat memiliki efek
langsung pada pembentukan tulang dan resorpsi tulang,
dimediasi melalui reseptor TSH pada osteoblas dan prekursor
osteoklas. Namun, keropos tulang tampak independen dari
kadar TSH dalam percobaan dengan tikus yang kekurangan
isoforms TR spesifik (Reddy et all., 2011).

56
Metabolisme kalsium juga mengalami perubahan pada
pasien dengan penyakit tiroid. Perputaran kalsium pada
tulang dipercepat pada pasien hipertiroid, dan menjadi
normal dengan keadaan tiroid saat pengobatan. Akumulasi
kalsium lebih banyak dipakai di hati daripada di tulang tikus
yang diobati dengan hormon tiroksin; kapasitas mitokondria
++
hati untuk menyimpan Ca dapat dilibatkan. Dalam tikus
hipotiroid, penggabungan kalsium pada ulang menurun. Tapi
hipotiroid pada manusia, hormon tiroid tidak meningkatkan
ekskresi kalsium dengan cepat, meski meningkatkan ekskresi
fosfat mungkin karena hormon bertindak langsung pada
metabolisme fosfat (Hoch, 1968).
6. Metabolisme Magnesium (Mg)
Metabolisme magnesium bergantung pada keadaan
++
tiroid, dan sebaliknya. Mg dan hormon tiroid berperan
antagonis in vivo dan in vitro ketika fungsi mitokondria
diukur. Pasien mixedema mengekskresikan sejumlah besar
Mg++ di urin segera setelah pemberian hormon. Kandungan
magnesium dalam plasma rendah pada hipertiroid dan tinggi
pada hipotiroid; keseimbangan Mg positif dalam hipertiroid
++
dan negatif hipotiroid; total dan seluler Mg dapat
ditukarkan sangat rendah dalam hipotiroid tapi normal pada
hipertiroid. Efek pemberian garam magnesium pada
tirotoksikosis adalah kontroversial, beberapa ditemukan
penurunan BMR dan denyut jantung, yang lain tidak
menemukan penurunan BMR ataupun perubahan dalam
keseimbangan nitrogen dan fosfat negatif (Hoch, 1968).

57
7. Metabolisme Vitamin
Hormon tiroid (seperti hormon triiodotironin dan
hormon tiroksin) mengendalikan penggunaan vitamin larut
dalam air dan sintesisnya menjadi koenzim. Langkah sintetis
vitamin menjadi koenzim yang berpengaruh biasanya
membutuhkan kondensasi dan fosforilasi energi. Sebagian
besar informasi tersedia pada subjek tirotoksik, yang
dikondisikan ada kekurangan vitamin. Asupan vitamin yang
normal disertai gejala kekurangan karena kebutuhan yang
meningkat atau pemanfaatan yang tidak tepat.
Kebutuhan tiamin meningkat pada pasien hipertiroid.
Jumlah vitamin dalam darah dan hati subnormal, dan
ekskresinya lebih tinggi dari biasanya. Kandungan jaringan
kokarboksilase lebih rendah pada tikus hipertiroid; dan
meningkat setelah tiamin disuntikkan, Tapi kemudian turun
lebih cepat daripada hewan eutiroid, dan menghasilkan
kerusakan yang cepat. Ketersediaan piridoksin terbatas pada
jaringan hewan hipertiroid. Kandungan piridoksal-5-fosfat
rendah karena fosforilasi yang rusak; Sebaliknya, menjadi
tinggi setelah tiroidektomi. Kandungan vitamin B12 rendah
pada jaringan tirotoksik tikus dan tikus betina hipotiroid;
pemberian intervensi hormon tiroksin pada tikus hipotiroid
dapat meningkatkan Vitamin B12 pada ginjal sampai normal,
dan pada tikus eutiroid menjadi diatas normal. Kandungan
asam askorbat menjadi rendah dalam darah dan jaringan
subjek tirotoksik. Asam pantotenat dan metabolisme CoA
telah dibahas dalam 'metabolisme lemak', dan mengikuti pola
umum seperti vitamin larut dalam air lainnya (Hoch, 1968).

58
Hormon tiroid juga mengendalikan sintesis vitamin
larut dalam lemak. Sintesis vitamin A membutuhkan hormon
tiroid. Pasien hipotiroid dan hipertiroid memiliki adaptasi
gelap yang buruk. Dalam hipotiroidisme serum vitamin A
menurun karena karoten tidak diubah menjadi vitamin;
pengobatan menggunakan hormon tiroksin sintesis
melancarkan sintesis. Pada hewan eutiroid, hormon tiroksin
meningkatkan sintesis vitamin A, tapi intervensi hormon
berkepanjangan menghasilkan resisten berat terhadap
kekurangan vitamin A, ini merupakan contoh pengaruh
hormon bifasik (Hoch, 1968).

KECUKUPAN IODIUM MASYARAKAT INDONESIA


Kecukupan iodium masyarakat Indonesia tergambar
dalam Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang diatur dalam
Permenkes Nomor 75 Tahun 2013. AKG adalah angka
kecukupan zat gizi yang dapat memenuhi kebutuhan gizi sehari-
hari (97,5%) pada rerata orang sehat, menurut golongan umur,
jenis kelamin, ukuran tubuh dan aktivitas untuk mencegah
terjadinya kekurangan ataupun kelebihan gizi dan mencapai
derajat kesehatan yang optimal. AKG merupakan istilah untuk
Recomm ended Dietary Allowances (RDA) yang digunakan di
Indonesia. Satuan kecukupan iodium dalam AKG adalah
mikrogram (µg). Berdasarkan kelompok umur dan jenis kelamin,
angka kecukupan iodium masyarakat Indonesia tersaji dalam
Tabel 3.1.

59
Tabel 3.1 Angka Kecukupan Iodium Masyarakat Indonesia
Berdasarkan Angka Kecukupan Gizi (AKG) dalam Permenkes
Nomor 75 Tahun 2013
Kelompok
Iodium (µg) Kelompok Umur Iodium (µg)
Umur
Bayi/Anak Perempuan
0 - 6 bulan 90 10-12 tahun 120
7 – 11 bulan 120 13-15 tahun 150
1-3 tahun 120 16-18 tahun 150
4-6 tahun 120 19-29 tahun 150
7-9 tahun 120 30-49 tahun 150
Laki-laki 50-64 tahun 150
10-12 tahun 120 65-80 tahun 150
13-15 tahun 150 80 + tahun 150
16-18 tahun 150 Hamil (+an)
19-29 tahun 150 Trimester 1 + 70
30-49 tahun 150 Trimester 2 + 70
50-64 tahun 150 Trimester 3 + 70
65-80 tahun 150 Menyusui (+an)
80 + tahun 150 6 bln pertama + 100
6 bln kedua + 100

Daftar AKG iodium terbagi menurut kelompok bayi/anak,


laki-laki, perempuan, serta ibu hamil dan ibu menyusui.
Kecukupan iodium untuk bayi 0-6 bulan adalah 90 µg/hari, dan
meningkat menjadi 120 µg/hari untuk bayi 7 bulan hingga anak
usia 12 tahun. Laki-laki dan perempuan dari usia remaja hingga
lanjut usia memiliki kecukupan iodium sebanyak 150 µg/hari.
Tambahan iodium diperlukan untuk ibu hamil dan menyusui
sehingga kecukupan iodiumnya meningkat menjadi berturut-
turut 220 µg/hari dan 250 µg/hari. Kebutuhan iodium pada ibu
hamil dan ibu menyusui meningkat karena iodium digunakan
untuk mengatur pertumbuhan dan perkembangan bayi sejak

60
dalam kandungan, dan berperan dalam sintesis protein, absorpsi
karbohidrat dalam saluran cerna serta sintesis kolesterol darah.
Jika ibu hamil kekurangan iodium, maka akan berdampak
terhambatnya perkembangan otak dan sistem saraf bayi
terutama menurunkan IQ dan meningkatkan risiko kematian
bayi (Kementerian Kesehatan RI, 2014).
Selain itu, Organisasi Kesehatan Dunia atau dikenal
dengan WHO (World Health Organization), telah menentukan
rekomendasi nilai asupan iodium menurut usia atau kelompok
populasi. Tabel 3.2 menunjukkan rentang asupan iodium sehari-
hari yang direkomendasikan adalah dari 90 µg untuk anak-anak
usia 0-5 tahun dan 150 µg untuk kelompok populasi dewasa.
Sedangkan ibu hamil/menyusui membutuhkan asupan iodium
lebih banyak lagi yaitu mencapai 250 µg dalam sehari.
Tabel 3.2 Rekomendasi Asupan Iodium Menurut WHO Tahun
2007
Asupan Iodium
No Usia atau Kelompok Populasi
(µg/hari)
1 Anak (0-5 tahun) 90
2 Anak (6-12 tahun) 120
3 Dewasa > 12 tahun 150
4 Ibu Hamil 250
5 Ibu Menyusui 250

Iodium telah diteliti secara menyeluruh selama lebih dari


setengah abad karena kaitannya yang penting dengan fungsi
tiroid. Sejak tahun 1930-an, persyaratan asupan telah
dipublikasikan berdasarkan hasil studi keseimbangan dan pada
perhitungan rata-rata kehilangan urine harian. Jumlah minimum
kebutuhan iodida untuk mencegah gondok diperkirakan

61
mencapai 50 sampai 75 µg/hari, dan belum berubah secara
signifikan selama ini. RDA iodium untuk orang dewasa adalah
150 µg/hari dan berlaku sama untuk kedua jenis kelamin.
Namun kebutuhan iodium menjadi lebih tinggi selama
kehamilan dan menyusui yaitu: 220 µg/hari dan 290 µg/hari
(Gopper dan Jack L. Smith, 2013).
RDA iodium untuk orang dewasa sebanyak 150 µg/hari
diperlukan untuk mempertahankan serapan dan omset iodida
yang adekuat oleh kelenjar tiroid. Nilai harian yang digunakan
untuk label makanan dan suplemen untuk iodium juga 150
µg/hari (Wardlaw dan Jeffrey S.Hampl, 2007).
Asupan iodium yang tidak sesuai dengan rentang
kecukupan iodium, baik kekurangan maupun kelebihan, dapat
menimbulkan dampak negatif pada tubuh manusia. Di suatu
daerah dengan asupan iodium yang kurang dari 50 µg/hari
dalam waktu lama menyebabkan terjadinya gondok endemik.
Kekurangan iodium tingkat berat dan berkepanjangan
menyebabkan hipotiroidisme yang dapat menyebabkan
kretinisme pada bayi dan balita serta miksedema pada
anak/remaja dan dewasa. Sedangkan dampak dari paparan
kelebihan iodium adalah keracunan dan gangguan pada tubuh
termasuk diantaranya tiroiditis, hipertiroidisme, gondok dan
juga hipotiroidisme (Kartono, D, 2012).
Institute of Medicine, 2001 dalam Kartono, D (2012), telah
menetapkan toleransi batas atas untuk asupan iodium menurut
kelompok umur yang dapat digunakan sebagai acuan dalam
menentukan batas konsumsi makanan sumber iodium yang
aman dalam sehari-hari.

62
Tabel 3.3 Toleransi Batas Atas Asupan Iodium Menurut
Kelompok Umur
Kelompok Umur Asupan Iodium (µg/hari)
1-3 tahun 200
4-6 tahun 300
7-10 tahun 300
11-14 tahun 300
15-17 tahun 900
Dewasa 1100
Ibu hamil > 19 tahun 1100

Dari Tabel 3.3 dapat diketahui bahwa batas asupan


iodium menurut kelompok umur berada dalam rentang nilai 200
µg/hari untuk usia 1-3 tahun hingga 1100 µg/hari untuk dewasa
dan ibu hamil yang berusia lebih dari 19 tahun.
Sebagian besar (90%) iodium yang terserap di dalam
tubuh, akan dikeluarkan kembali melalui urine, atau disebut
dengan istilah ekskresi iodium dalam urine (EIU). EIU dapat
menggambarkan asupan iodium harian dalam diet yang sangat
terkini. Pada individu, kadar EIU dapat bervariasi dari hari ke
hari dan bahkan dalam satu hari tertentu. Namun, variasi ini
juga terdapat dalam populasi. Kecukupan asupan iodium
masyarakat dapat dinilai dengan mengukur kadar EIU setelah
urine dikumpulkan selama 24 jam (urine tampung). Distribusi
kadar EIU dapat digunakan untuk menilai asupan iodium dan
status iodium populasi. Menurut WHO, nilai normal median EIU
adalah 100-199 µg/L, sehingga daerah dengan nilai median
populasi dibawah 100 µg/L, menunjukkan bahwa daerah
tersebut kekurangan iodium (WHO, 2007).
Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2013, pada

63
kelompok populasi rentan yaitu anak usia 6-12 tahun, wanita
usia subur (WUS), ibu hamil dan ibu menyusui, memiliki nilai
median EIU berturut-turut 215 µg/L, 187 µg/L, 163 µg/L dan 164
µg/L. Nilai median EIU ini menunjukkan bahwa asupan iodium
di Indonesia sudah cukup untuk kelompok populasi rentan.
Namun hasil Riskesdas 2013 juga menunjukkan terdapat 30,4%
anak usia 6-12 tahun; 24,9% WUS; 21,3% ibu hamil dan 18,1% ibu
menyusui yang berisiko kelebihan iodium karena memiliki nilai
median EIU ≥300 µg/L (Badan Litbang Kesehatan RI, 2013).

MAKANAN SUMBER IODIUM


Iodium terdapat dalam tubuh manusia dewasa sehat dalam
jumlah yang sangat sedikit, yaitu sebanyak 15-23 mg atau
0,00004 % dari total berat badan. Sebanyak 75 % iodium berada
dalam kelenjar tiroid dan sisanya ada di dalam jaringan lain
seperti kelenjar ludah, payudara, lambung, ginjal dan darah. Di
dalam kelenjar tiroid, iodium digunakan sebagai bahan baku
sintesis hormon tiroid yang berfungsi untuk mengatur
pertumbuhan dan perkembangan, metabolisme, suhu tubuh,
reproduksi, pembentukan sel darah merah serta fungsi otot dan
saraf (Almatsier, 2006 dan Anderson, John J.B, 2004). Hormon ini
juga berperan penting selama proses perkembangan embriologis
manusia (Brody, 1999).
Menurut Djokomoeljanto dalam Gunanti dkk (1999), tubuh
manusia tidak dapat membuat unsur iodium bebas sendiri
namun harus mendapatkan iodium secara alamiah dari luar
tubuhnya melalui proses penyerapan iodium yang berasal dari
makanan dan minuman. Iodium dalam makanan sebagian besar

64
terdapat dalam bentuk iodida dan sebagian kecil berikatan
dengan asam amino secara kovalen (Brody, 1999). Bentuk
iodium yang mudah diabsorpsi oleh tubuh adalah iodida
(Almatsier, 2006 dan Anderson, John J.B, 2004). Iodida cepat
diserap oleh usus dan diasimilasi oleh kelenjar tiroid untuk
digunakan dalam memproduksi hormon tiroid. Iodium yang
terbentuk berikatan dengan asam amino, yaitu sebagai tirosin,
kurang terserap dengan baik oleh tubuh (Brody, 1999).
Air laut memiliki kandungan jumlah total iodium terbesar,
berasal dari iodium tanah yang hilang pada waktu banjir dan
mengalir bersama air banjir ke dalam sungai dan akhirnya
bermuara ke laut (Ellizar dalam Gunanti dkk, 1999). Konsentrasi
iodium dalam air laut sekitar 50 µg/L (Zimmermann, 2012).
Makanan sumber iodium yang sangat baik adalah bahan
makanan yang berasal dari laut berupa ikan, udang, kerang,
minyak ikan dan rumput laut (Almatsier, 2006 dan Fordyce,
2003). Ikan air asin mengandung iodium sebanyak 30 sampai 300
µg/100 g, sedangkan pada ikan air tawar sebanyak 2 sampai 4
µg/100 g, namun masih menjadi sumber iodium yang bagus
(Anderson, John J.B, 2004). Garam laut bukanlah sumber yang
bagus karena iodida di dalamnya mudah hilang selama
pemrosesan (Wardlaw dan Jeffrey S.Hampl. 2007).
Bahan makanan lain memiliki kandungan iodium yang
sangat bervariasi, karena hal ini mencerminkan kandungan
unsur tanah setempat yang tergantung dari unsur, jumlah dan
sifat pupuk yang digunakan dalam budidaya tanaman.
Kandungan iodium dari biji-bijian, sayuran, dan buah-buahan
bervariasi tergantung kandungan iodium di dalam tanah

65
(Gopper dan Jack L. Smith, 2013).
Tanaman yang tumbuh di tanah yang kaya iodium akan
memiliki kandungan iodium yang tinggi (Haldimann M, dkk,
2005). Tanaman yang tumbuh di daerah pantai mengandung
banyak iodium karena air dan tanah di daerah pantai memiliki
kandungan iodium yang tinggi. Tanah yang semakin jauh dari
pantai, akan mengandung semakin sedikit iodium sehingga
tanaman yang tumbuh di daerah tersebut, termasuk yang
dimakan oleh hewan, sedikit sekali atau bahkan tidak
mengandung iodium (Almatsier, 2006).
Kandungan iodium dalam daging tergantung pada iodium
tanah dan tanaman yang dimakan oleh hewan ternak (Gopper
dan Jack L. Smith, 2013). Kandungan Iodium dalam susu sapi dan
telur ditentukan oleh kandungan iodida yang tersedia dalam
makanan hewan (Anderson, John J.B, 2004).
Bahan pangan mentah memiliki kandungan iodium lebih
tinggi daripada bahan pangan yang sudah diolah. Hal ini
berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Pudjirahaju A dkk
(2012) tentang pengaruh pengolahan terhadap kadar protein,
iodium dan zinc bahan pangan lokal Jawa Timur. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa selama proses pengolahan
semua jenis pangan yang dianalisis mengalami kehilangan atau
penurunan kadar iodium. Proses pengolahan dengan cara
pemanasan (goreng, pindang-goreng, presto-goreng, dan
pengasapan) menurunkan kadar iodium bahan pangan hingga
80,25 %. Sedangkan proses perebusan (masak-bening) pada
sayuran menurunkan kadar iodium sebesar 1,06 % (Pudjirahaju
A dkk, 2012).

66
Iodium juga memasuki rantai makanan melalui iodofen,
yang digunakan sebagai desinfektan dalam pengolahan susu,
pewarna, dan pengembang adonan. Sumber ini menambah
jumlah iodium yang besar ke dalam makanan (Anderson, John
J.B, 2004). Adonan oksidator atau pengembang mengandung
iodat (IO3-) sebagai bahan tambahan makanan untuk
memperbaiki keterkaitan silang gluten. Iodium biasanya
ditambahkan ke dalam garam sebagai kalium iodat atau iodin.
Iodium dalam suplemen vitamin / mineral diberikan sebagai
potassium atau sodium iodida (Gopper dan Jack L. Smith, 2013).
Beberapa hasil studi/penelitian menunjukkan, dalam jenis
bahan makanan yang sama dapat memiliki kandungan iodium
yang berbeda-beda. Oleh karena itu, rata-rata kandungan iodium
dalam bahan makanan pada satu wilayah, tidak dapat digunakan
untuk memperkirakan asupan iodium pada penduduk di wilayah
lain secara universal (Haldimann M, dkk, 2005). Dengan
demikian, suatu daftar bahan makanan yang kaya iodium di
suatu daerah, kurang memiliki arti bagi daerah lain (Gunanti
dkk, 1999).
Berikut ini beberapa tabel yang berisi rata-rata kandungan
iodium dalam bahan makanan yang merupakan hasil studi atau
penelitian.
Tabel 3.4 adalah hasil penelitian Gunanti dkk yang
menganalisis kandungan iodium dari 63 (enam puluh tiga) jenis
bahan makanan di Laboratorium Gizi Masyarakat dan
Sumberdaya Keluarga, IPB pada bulan Juli-Agustus 1998. Hasil
analisis Gunanti dkk dibandingkan dengan kajian Purwaningsih
(1997).

67
Tabel 3.4 Kandungan Iodium dalam Bahan Pangan
di Daerah Pantai Endemik dan Non Endemik GAKI di Kabupaten
Lamongan Tahun 1998 dibandingkan dengan Kajian Lain*
Kajian Peneliti 1998 Purwaningsih 1997
Daerah Daerah Daerah Daerah
Pantai Pantai Pegunungan Pegunungan
No Jenis Pangan Endemik Non Endemik Non Endemik
Endemik
(µg/100 g (µg/100 g (µg/100 g (µg/100 g
bahan) bahan) bahan) bahan)
1 Pangan Hewani :
Ikan Layur segar 116,1 118,6 - -
Ikan Tenggiri segar 107, 4 107, 3 - -
Ikan Kuningan segar 102, 1 106, 6 - -
Ikan Tongkol segar 100, 0 103, 3 - -
Ikan Juwi segar 99, 0 - - -
Ikan Juwi panggang 88, 8 - - -
Ikan Layang pindang 88, 5 - - -
Ikan Banyar panggang 85, 5 - - -
Udang segar 82, 4 81, 9 - -
Ikan Dodok asin - 283, 2 - -
Ikan Kuningan asin - 249, 1 - -
Ikan Kakap segar - 108, 9 - -
Ikan Dodok segar - 93, 7 - -
Ikan Layang segar - 91, 3 - -
Ikan Kembung segar - 91, 1 - -
Telur ayam 42, 3 38, 3 - -
Daging ayam 1, 3 - 201, 2 617, 2
Ikan air tawar - - - 14, 5
2 Makanan Pokok :
Beras 2, 6 2, 6 - -
Nasi 1, 2 1, 8 1, 1 1, 2
3 Kacang-kacangan :
Kacang tanah 3, 5 3, 2 - -
Tempe kedelai 2, 6 2, 6 0,01 12, 9
Tahu 1, 1 1, 1 1, 3 13, 3
4 Sayuran :
Wortel 12, 8 - - -
Kacang panjang 3, 7 3, 2 12, 0 16, 9

68
Kangkung 2, 5 3, 1 0, 01 14, 7
Taoge 2, 1 2, 2 12, 0 16, 6
Bayam 1, 6 1, 9 13, 5 29, 9
Daging kelapa muda 1, 5 1, 3 - -
Kol 0, 9 - 7, 2 39, 1
5 Buah-buahan :
Pepaya 1, 7 1, 9 0,01 14, 5
Pisang 1, 4 - 0,01 0,01
6 Jajanan :
Family Jelly 4, 2 - - -
Kue Palapa 2, 7 - - -
Bongkok 1, 4 - - -
Topten 1, 3 - - -
Kue Miraos 1, 1 - - -
Kue Apem 0, 9 - - -
Kue Bikang - 2, 5 - -
Camilan Bawang - 1, 7 - -
Kue Merk SPM - 1, 7 - -
Surya Snack - 1, 1 - -
Kacang Atom Garuda - 0, 9 - -
Kue Orem-orem - 0, 8 - -
7 Serba-serbi : -
Gula Jawa 1, 4 1, 7 10, 4 13, 7
Keterangan :* dianalisis dalam keadaan mentah.

Pada Tabel 3.4 dapat dilihat kadar iodium bahan makanan


di daerah pantai endemik umumnya lebih rendah daripada
daerah pantai non endemik. Kisaran perbedaan kandungan
iodium kelompok sayuran dan buah-buahan adalah 0,025 – 0,59
µg/100 g bahan. Apabila dibandingkan dengan hasil kajian
Purwaningsih (1997), kandungan iodium bahan makanan selain
hasil perikanan laut, baik di daerah pantai endemik maupun
pantai non endemik di Kabupaten Lamongan, hasilnya lebih
rendah daripada daerah pegunungan non endemik. Hal ini
diduga karena sumber bahan makanan kecuali ikan, umumnya

69
bukan berasal dari daerah setempat namun dari daerah lain yang
kemungkinan kadar iodium tanah dan airnya memang sudah
rendah (Gunanti dkk, 1999).
Tabel 3.5 berisi hasil penelitian mengenai kandungan
iodium dalam kelompok bahan makanan di berbagai letak
geogafis yaitu di daerah pantai, dataran rendah, dataran tinggi
dan pegunungan. Kabupaten Wonosobo mewakili daerah
dataran tinggi dan pegunungan, sedangkan Kabupaten Bantul
mewakili daerah dataran rendah dan pantai. Sampel diambil dari
bahan makanan yang biasa dikonsumsi masyarakat setempat,
terdiri atas sayuran, serealia, umbi, ikan, telur dan unggas,
selanjutnya dianalisis kandungan iodiumnya di Laboratorium
Biokimia BP2GAKI Magelang.
Tabel 3.5 Rata-rata Kandungan Iodium dalam Kelompok Bahan
Makanan di Berbagai Letak Geogafis*
Dataran Dataran
Bahan Pantai Pegunungan
No Rendah Tinggi
Makanan
(µg/100 g) (µg/100 g) (µg/100 g) (µg/100 g)
1 Sayuran daun 108 126 196 80
2 Sayuran buah 96 146 125 96
3 Serealia 409 182 120 225
4 Umbi 97 126 260 73
5 Telur 177 131 97 189
6 Unggas 289 - 69 297
7 Ikan air tawar 112 - 113 42
8 Susu 989 - - -
9 Daging sapi 920 - - -
Keterangan :*dianalisis dalam keadaan mentah

Berdasarkan Tabel 3.5 di atas, bahan makanan di daerah


pantai dan dataran rendah cenderung memiliki kandungan

70
iodium lebih tinggi daripada bahan makanan dari daerah dataran
tinggi dan pegunungan karena daerah pantai dan dataran
rendah dekat dengan laut yang merupakan sumber utama
iodium. Kandungan iodium tertinggi berturut-turut terdapat
dalam susu dan daging sapi dari daerah pantai yaitu sebesar 989
µg/100 g dan 920 µg/100.
Tingginya kandungan iodium dalam susu berasal dari
penambahan dan kontaminasi desinfektan iodiofor atau
makanan ternak yang diberikan (Kartono, D, 2012). Makanan
untuk ternak dalam industri susu biasanya diberikan
suplementasi iodium. Penambahan iodium dalam pakan dengan
mudah dapat memperkaya kandungan iodium dalam susu,
namun tidak begitu berpengaruh dalam daging sapi, sehingga
kandungan iodium daging sapi lebih rendah daripada susu
(Haldimann, 2005). Kandungan iodium dalam kelompok sayuran
daun, sayuran buah, umbi dan serealia bervariasi tergantung
dari kondisi iodium dalam tanah, intensitas pertukaran air, dan
perpindahan iodium dalam tanah dan air (Kusumawardani, HD
dkk, 2017).
Kementerian Pertanian Amerika Serikat (United States
Department of Agiculture) atau USDA, telah bekerja secara
independen untuk menentukan kandungan iodium dari
makanan dan suplemen makanan melalui kegiatan Studi Diet
Total (SDT) selama tahun 2003-2011. USDA menghasilkan
database online yang dapat digunakan untuk memperkirakan
asupan iodium dari makanan di populasi Amerika. Hasil SDT
dapat dilihat pada Tabel 3.6.

71
Tabel 3.6 Konsentrasi Iodium Dalam Sampel Bahan Makanan
Terpilih hasil Studi Diet Total US FDA Tahun 2003-2011
No Jenis Bahan Makanan Rata-rata
Kandungan Iodium
(µg/100 g)
1 Kue dengan lapisan putih 141
2 Serbat rasa buah 133
3 Cairan pengganti makanan semua rasa 122
4 Kue coklat dengan lapisan gula 78
5 Roti putih difortifikasi 74
6 Keju swiss alami 69
7 Permen coklat susu 67
8 Es krim vanilla (ringan) 62
9 Orak arik telur 58
10 Nugget ikan di oven 53
11 Keju Amerika diproses 51
12 Telur rebus 51
13 Es krim vanilla biasa 51
14 Keju cheddar alami (tajam/ringan) 49
15 Bagel tawar dipanggang 48
16 Milk shake coklat cepat saji 48
17 Es loli rasa buah 47
18 Biskuit gula 46
19 Krim keju 43
20 Susu skim cair 42
21 Susu coklat rendah lemak, cair 41
22 Susu rendah lemak (2%), cair 41
23 Susu cair 41
24 Yogurt rendah lemak, rasa buah 41

Hasil SDT menunjukkan konsentrasi iodium tertinggi


sebesar 141 µg/100 g terdapat dalam kue putih dengan lapisan
gula. Serbat rasa buah dan cairan pengganti makanan semua
rasa menduduki urutan kedua dan ketiga kandungan iodium
tertinggi yaitu 133 µg/100 g dan 122 µg/100 g.
Nugget ikan mengandung lebih banyak iodium daripada
salmon, udang, atau tuna (tersaji dalam Tabel 3.7). Nugget ikan
memiliki konsentrasi iodium lebih tinggi daripada sampel ikan

72
laut mentah karena iodium tambahan dapat diperoleh dari
bahan adonannya (termasuk susu, telur, dan tepung
mengandung iodat) serta zat tambahan makanan lain yang
mengandung iodium. Terdapat perbedaan kandungan iodium
yang besar dalam tiga kelompok makanan laut yang dijadikan
sampel (ikan sirip, krustasea, dan moluska). Ikan haddock pada
kelompok ikan sirip, memiliki konsentrasi iodium tertinggi yaitu
227 µg/ 100 g. Diantara jenis krustasea, lobster memiliki lebih
banyak iodium daripada kepiting biru atau udang. Tiram
memiliki konsentrasi iodium tertinggi di antara sampel moluska
(Pehrsson, Pamela R dkk, 2016).
Tabel 3.7 Kandungan Iodium dalam Bahan Makanan Laut Hasil
Studi Diet Total US FDA Tahun 2003-2011
Kelompok Bahan Makanan Laut Kandungan Iodium
(µg/100 g)
Krustasea :
Lobster, disiapkan 185
Kepiting biru, disiapkan 38
Udang, disiapkan 24
Moluska :
Tiram, disiapkan 109
Remis, kalengan 66
Kerang, mentah <10
Ikan sirip (mentah) :
Haddock 227
Ikan kod 94
Pollock 44
Ikan todak 20
Tuna 18
Salmon 14
Ikan batu 14
Ikan flounder 12
Ikan laut perch 11
Ikan pecak <10

73
Laporan hasil survei The UK Department for International
Development (DFID) yang dipublikasikan oleh British Geological
Survey (BGS) pada tahun 2003,menggambarkan database hasil
kandungan iodium dalam makanan dan diet. Database ini
digunakan dalam sebuah proyek yang menyelidiki "Pengaruh
Lingkungan dalam Gangguan Akibat Kekurangan Iodium /
GAKI”. Hasil tinjauan tersebut menunjukkan rata-rata
kandungan iodium kelompok bahan makanan utama (Tabel 3.8).
Ikan laut adalah sumber iodium alami terbesar dalam kelompok
bahan makanan utama. Sayuran berdaun mengandung
konsentrasi iodium lebih tinggi daripada sayuran lainnya.
Tabel 3.8 Rata-rata Kandungan Iodium Kelompok Bahan
Makanan Utama Hasil Survey DFID United Kingdom Tahun
2003
No Jenis Makanan Kandungan Iodium
(µg/ 100 g)
1 Ikan laut 145, 59
2 Garam 59, 19
3 Ikan air tawar 10,28
4 Kacang-kacangan 9, 97
5 ASI (µg/ 100 ml) 9, 39
6 Sayuran berdaun 8, 88
7 Susu (µg/ 100 ml) 8, 39
8 Sayuran lainnya 8, 01
9 Daging 6, 84
10 Bumbu/Rempah-rempah 6, 17
11 Sereal 5, 63
12 Minyak dan Lemak 3, 64
13 Buah Segar 3, 06
14 Permen 2, 33
15 Roti 1, 70
16 Air (µg/100 ml) 0, 64

74
Hasil survey juga menyoroti pentingnya pengolahan
makanan karena hal ini dapat memberikan sumber iodium
tambahan dalam makanan. Menurut survey ini, sumber utama
iodium dalam diet orang barat berasal dari sumber adventif
seperti iodofor di industri susu, pewarna makanan merah dan
pengembang dalam sereal, roti, daging dan permen.
Mengabaikan komponen ini agar sesuai dengan diet negara
berkembang, dimana orang sering bergantung pada makanan
pokok dari biji-bijian seperti beras, menunjukkan asupan turun
di bawah 100 µg/hari. Tanpa bahan makanan tinggi iodium yang
bersifat adventif atau makanan laut, kebanyakan pengaturan
makan akan gagal memberikan asupan harian iodium yang
direkomendasikan sebanyak 150 µg/hari.
Asupan tidak hanya bergantung pada kandungan iodium
makanan tetapi juga pada komposisi makanan. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa makanan menyumbang lebih dari 90%
paparan iodium manusia dalam kebanyakan keadaan dengan air
dan udara yang memberikan masukan minimal. Namun, pada
populasi subsisten yang minum air tanah dengan iodium tinggi,
air dapat memberi kontribusi lebih banyak 20% asupan makanan
(Fordyce, 2003).

75
Tabel 3.9 Iodium dalam Kelompok Bahan Makanan hasil Studi
Haldimann di Swiss Tahun 1999-2001
No Kelompok Bahan Makanan Rata-rata Kandungan Iodium
dalam sampel berat kering
(µg/ 100 g)
1 Daging dan Sumber
Protein
Ikan laut 211,2
Telur 162,5
Kuning telur 141,3
Ikan air tawar 37,5
Daging olahan 33,5
Putih telur 21,9
Alternatif vegetarian 10,9
Unggas 6,6
Daging merah 5,9
2 Sereal dan Biji-bijian
Roti 39,3
Nasi 33,3
Kembang gula panggang 24,5
Pasta 7,9
Sereal sarapan 4,2
Gandum 3,5
Kentang 1,6
3 Produk Susu
Susu 69,0
Yogurt 67,0
Keju 47,3
4 Buah dan Sayuran
Sayuran beku atau kalengan 120,3
Sayuran berdaun (salad) 23,6
Kacang-kacangan 21,8
Jamur 21,1
Sayuran untuk makan malam 13,0
Sayuran segar 4,7
Buah segar 1,8

76
Tabel 3.9 adalah hasil penelitian Haldiman terhadap
sampel produk makanan yang dibeli dari gerai ritel di Bern
(Swiss) selama tahun 1999-2001, yaitu bahan makanan yang
biasa dikonsumsi seperti sereal, daging, produk susu, buah dan
sayuran (Nestle, 2000). Tujuan penelitian Haldimann adalah
untuk mendapatkan informasi tentang kandungan iodium aktual
dalam makanan dan nutrisi iodium dengan cara
mengidentifikasi sumber utama diet iodium.
Dari semua kelompok bahan makanan, sumber iodium
alami terkaya terdapat dalam ikan laut yaitu sebesar 211,2
µg/100 g. Di urutan selanjutnya adalah telur dan kuning telur
dengan kandungan iodium masing-masing sebesar 162, 5 µg/100
g dan 141,3 µg/100 g .
Sayuran beku dan kalengan cenderung dikemas dengan
garam beriodium, sehingga memiliki rata-rata kandungan
iodium relatif tinggi yaitu sebesar 120,3 µg/100 g. Seperti
kebanyakan produk tanaman lainnya, butiran gandum tidak
menghasilkan banyak iodium dari tanah. Namun, produk yang
dipanggang seperti roti, memiliki kadar iodium tinggi terutama
berasal dari penambahan garam beriodium ke dalam adonan.
Sebagian besar iodium yang ditemukan dalam makanan
dengan kandungan iodium tinggi adalah karena penggabungan
dari penggunaan garam beriodium dalam proses pembuatan atau
dengan melakukan fortifikasi pada pakan ternak. Sekitar 70%
garam untuk produksi makanan industri Swiss diiodisasi (20
µg/g) (Pennington dkk., 1995 dalam Haldimann, 2005).

77
PENUTUP
Pembentukan hormon tiroid (T3 dan T4) dibagi dalam
enam tahap yaitu perangkapan iodida, sintesis dan pelepasan
hormon tiroid, oksidasi iodida, iodinasi tirosin, penggandengan
DIT dan MIT, dan penyimpanan hormon tiroid. Iodium sebagai
bahan baku komponen penyusun pembentukan hormon tiroid
harus dipenuhi dalam jumlah yang cukup dari makanan.
Konsumsi makanan sumber iodium yang berlebihan dapat
menghambat pelepasan hormon tiroid yang digambarkan
sebagai efek Wolff-Chaikoff. Selain iodium, makanan sumber
protein, selenium, seng dan besi juga diperlukan dalam rangka
pembentukan hormon tiroid. Peran hormon dalam metabolisme
karbohidrat diperlukan dalam meningkatkan penyerapan
karbohidrat pada bagian usus. Hormon tiroid berperan dalam
mengendalikan proses sintesis glikogen, sintesis protein, lipid,
fosfor, kalsium, magnesium dan vitamin larut lemak.
Di dalam tubuh manusia, iodium sangat erat kaitannya
dengan fungsi tiroid sehingga perlu diperhatikan asupan iodium
yang cukup sesuai dengan kebutuhan. Kecukupan iodium
masyarakat Indonesia terdapat pada AKG yang telah diatur
dalam Permenkes Nomor 75 Tahun 2013. Sedangkan dalam
lingkup dunia, WHO telah merekomendasikan nilai asupan
iodium menurut usia dan kelompok populasi. Asupan iodium
yang tidak sesuai dengan rentang kecukupan, baik kekurangan
maupun kelebihan, dapat menimbulkan dampak negatif pada
tubuh manusia. Untuk mencegah terjadi gondok, jumlah
minimum kebutuhan iodium diperkirakan mencapai 50 sampai
75 µg/hari. Kecukupan iodium untuk orang dewasa sebanyak

78
150 µg/hari diperlukan untuk mempertahankan serapan dan
omset iodida yang adekuat oleh kelenjar tiroid. Di samping itu,
pembatasan konsumsi makanan sumber iodium perlu dilakukan
untuk mencegah terjadinya kelebihan iodium. Institute of
Medicine telah menetapkan toleransi batas atas untuk asupan
iodium menurut kelompok umur yang aman dalam sehari-hari
yaitu dalam rentang 200 µg/hari untuk usia 1-3 tahun hingga
1100 µg/hari untuk dewasa dan ibu hamil yang berusia lebih dari
19 tahun.
Tubuh manusia dapat memperoleh iodium melalui
penyerapan iodium dari makanan dan minuman yang
dikonsumsi. Bahan makanan dari laut merupakan sumber
iodium yang sangat baik karena air laut memiliki kandungan
jumlah total iodium terbesar. Sedangkan bahan makanan lain
seperti biji-bijian, sayuran, buah-buahan memiliki kandungan
iodium yang bervariasi tergantung kandungan unsur tanah
setempat. Kandungan susu sapi dan telur tergantung dari
kandungan iodida dalam makanan hewan. Beberapa bahan
makanan olahan juga mengandung iodium yang berfungsi
sebagai bahan tambahan makanan.
Beberapa hasil penelitian menunjukkan, dalam satu jenis
bahan makanan yang sama dapat memiliki kandungan iodium
yang berbeda-beda, sehingga rata-rata kandungan iodium dalam
bahan makanan pada satu wilayah tidak dapat digunakan untuk
memperkirakan asupan iodium penduduk di wilayah lain, dan
daftar bahan makanan yang kaya iodium di suatu daerah kurang
memiliki arti bagi daerah lain. Dengan begitu, sebaiknya
masyarakat Indonesia menggunakan pedoman daftar rata-rata

79
kandungan iodium dalam bahan makanan dari hasil penelitian
yang dilakukan di Indonesia.
Gizi seimbang dalam makanan yang dikonsumsi sehari-
hari perlu diterapkan agar kebutuhan tubuh dalam hal ini
terutama untuk sintesis hormon tiroid dapat dipenuhi. Gizi
seimbang dapat diterapkan dengan cara mengonsumsi makanan
beraneka ragam yang telah dirancang untuk memenuhi
kecukupan gizi manusia Indonesia dalam sehari. Gizi seimbang
dalam hal ini adalah pemenuhan akan zat gizi karbohidrat,
protein, lemak, vitamin dan mineral terutama iodium dengan
cara menerapkan porsi makan ‘isi piringku’ yaitu makanan
pokok sebesar 2/3 bagian, lauk-pauk sebesar 1/3 bagian, sayur
dan buah-buahan sebesar 1 bagian dari separuh porsi sekali
makan. Diharapkan dengan penerapan program ‘isi piringku’
sekali makan dalam kehidupan sehari-hari mampu memenuhi
kecukupan gizi manusia Indonesia dalam hal ini salah satunya
termasuk pemenuhan zat gizi sebagai komponen yang berperan
dalam sintesis hormon tiroid.

80
Daftar Pustaka

Almatsier, Sunita. 2006. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. PT Gamedia


Pustaka Utama. Jakarta.
Anderson, John J.B. 2004. ‘Minerals’, dalam Mahan, L. Kathleen
dan Sylvia Escott-Stump (eds). Krauses’s Food,Nutrition &
th
Diet Therapy,11 edn.Chapter 5.Elsevier : USA.
Arthur, JR dan Beckett, GJ. 1999. Thyroid Function. British
Medical Bulletin, 55(3):658-668
nd
Brody, Tom. 1999. Nutrirional Biochemistry, 2 edn. Academic
Press. Inc. USA.
Campbell, I. 2014. Thyroid, Parathyroid Hormones and Calcium
Homeostasis.Anaesthesia And Intensive Care Medicine,
15:10:483
Carvalho, DP & Dupuy C. 2017. Thyroid Hormone Biosynthesis
and Release. Journal Molecular and Cellular
Endocrinology Elsevier, 458:6-15
Direktorat Jenderal Bina Gizi dan KIA. 2014. Pedoman Gizi
Seimbang. Kementerian Kesehatan RI. Jakarta.
Fordyce, F.M. 2003. ‘Database of the Iodine Content of Food and
Diets Populated with Data From Published Literature’.
British Geological Survey Commissioned Report,
CR/03/84N.50pp.
Gopper, Sareen S. dan Jack L. Smith. 2013. Advanced Nutrition
th
and Human Metabolism 6 Edition. Cengage Learning.
Canada.

81
Gunanti, Inong Retno et al. 1999. ‘Kandungan Iodium Pada
Beberapa Bahan Makanan di Daerah Pantai Endemik dan
Nonendemik’. Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, Vol 3
No 1 hh.1-15.
Haldimann M, Blancc AA & Blondeau K. 2005. ‘Iodine Content
of Food Goups. Journalof Food Composition and Analysis.
18 .hh 461-471.
Hoch, FL. 1968. Biochemistry of Hyperthyroidism and
Hypothyroidism .Postgad. med. J, 44:347-362
Kartono, D. 2012. ‘Fortifikasi Bahan Makanan, Suplementasi dan
Obat yang Mengandung Iodium serta Dampaknya pada
GAKI”. Jurnal Gangguan Akibat Kekurangan Iodium
Indonesia,Vol1 No 2.Hh 62-74.
Khurana, I, 2006. Textbook of Medical Physiology. India: Reed
Elsevier, Endrocinal System, 710-715
Kohrle J, Gartner R. 2009. Selenium and Thyroid.Best Practice &
Research Clinical Endocrinology & Metabolism, 23:815–
827
Kusumawarani, HD, Mussodaq MA & Puspitasari C. 2017.
‘Kandungan Iodium dalam Kelompok Bahan Makanan di
Daerah Pegunungan dan Pantan’. Jurnal Media Gizi
Mikro Indonesia Vol. 8 No 2. dilihat 5 Februari 2018.
http://dx.doi.org/10.22435/mgmi.v8i2.8113.79-88.
Pal GK, 2007. Textbook of Medical Physiology. India: Ahuja
Publishing House, Endocrine Physiology. 346
Pehrsson, Pamela R et al. 2016. ‘Iodine in food-and dietary
supplement-composition databases’. The American
Journalof ClinicalNutrition.104. 868 S-876 S.

82
Permenkes No. 75 Tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi
yang dianjurkan bagi Bangsa Indonesia.
Pudjirahaju A, Bakri B, Tanu IN, Tapriadi. 2012. ‘Pengaruh
Pengolahan terhadap Kadar Protein, Iodium dan Zinc
Bahan Pangan Lokal Jawa Timur’. Jurnal Gangguan
Akibat Kekurangan Iodium Indonesia 1 (2).90-105.
Reddy PA, Harinarayan CV, Sachan A, Suresh V, Rajagopal G.
2011. Bone Disease in Thyrotoxicosis. Indian J Med Res,
135:277-286
Summers, R dan Macnab, R. 2017. Thyroid,Parathyroid Hormones
and Calcium Homeostasis. Anaesthesia And Intensive
Care Medicine, 18:10:524
Thiessen, MEW. 2018. Thyroid and Adrenal Disorders. Rosen's
Emergency Medicine: Concepts and Clinical Practice,
Ninth Edition, Chapter 120, 1557-1571.
Wardlaw, Gordon M. dan Jeffrey S.Hampl. 2007. Perspectives in
th
Nutrition 7 Edition.McGaw-Hill. New York.
Wilson, GA dan Ali, MS. 2016. Endocrinology :Chapter Thyroid
Disorder.Textbook of Family Medicine, page 35, 828
Zimmermann, Michael B and Köhrle J. 2002. The Impact of Iron
and Selenium Deficiencies on Iodine and Thyroid
Metabolism: Biochemistry and Relevance to Public Health.
Thyroid, 10(12)
Zimmermann, Michael B. 2012. “Iodine and iodine Deficiency
Disorder” dalam John W. Erdman, Ian A. Mcdonald,
Steven H. Zeisel (eds). Present Know ledge in Nutrition
tenth edn. International Life Science Institute :
Switzerland. 554-567.

83
Bab 4
Risiko Malnutrisi
Penderita Hipotiroid
oleh : Hastin Dyah Kusumawardhani

PENDAHULUAN
Kelenjar tiroid adalah kelenjar yang terletak di leher, di
bawah laring. Kelenjar tiroid mempunyai tugas penting yaitu
mensintesis hormon tiroid, yang disekresikan ke dalam darah
dan dibawa ke setiap jaringan tubuh. Hormon utama yang
disintesis oleh kelenjar tiroid adalah tiroksin (T4) karena
mengandung empat molekul iodium dan triiodotironin (T3)
yang mengandung tiga molekul iodium. Hormon tiroid
membantu setiap sel dan jaringan tubuh dapat berfungsi dengan
baik. Hormon tiroid mengatur metabolisme basal, termogenesis
dan berperan penting dalam metabolisme lemak dan glukosa,
asupan makanan dan oksidasi lemak.
Hipotiroid merupakan permasalahan dalam sistem
endokrin yang disebabkan oleh pasokan hormon tiroid dalam
tubuh yang tidak adekuat. Hal ini disebabkan karena adanya
gangguan sekresi hormon tiroid yang berhubungan dengan
Thyroid Stimulating Hormone (TSH) dari kelenjar hipofisis atau
karena gangguan pelepasan Thyrotropin Releasing Hormone
(TRH) dari hipotalamus. Hipotiroid yang tidak ditangani dengan
baik, akan menimbulkan permasalahan yang lebih parah seperti
hiperkolesterolemia, permasalahan pada jantung, obesitas, nyeri
sendi dan otot, terjadi gangguan pendengaran secara bertahap,

84
gangguan sistem reproduksi, depresi, masalah periodontal, dan
diabetes (Rowe et al., 2016; Syahbudin, 2009).
Hipotiroid berkaitan erat dengan komposisi tubuh.
Malnutrisi, baik over nutrition maupun under nutrition muncul
pada kondisi hipotiroid. Hipotiroid menyebabkan penurunan
thermogenesis, penurunan laju metabolisme, dan juga telah
terbukti berkorelasi dengan tingginya indeks massa tubuh (BMI)
dan peningkatan prevalensi obesitas. Selain itu, pada umumnya
kadar vitamin D dan ferritin juga rendah. Kelelahan yang
merupakan salah satu gejala kekurangan vitamin B12 juga
muncul pada pasien hipotiroid (Sanyal and Raychaudhuri, 2016,
Rowe et al., 2016).
Malnutrisi secara umum seringkali diartikan sebagai “gizi
salah” yang terkait dengan over nutrition maupun under
nutrition. Malnutrisi dapat juga dikatakan suatu kondisi tubuh
dimana terjadi ketidakseimbangan antara asupan makanan
dengan kebutuhan gizi untuk mempertahankan kesehatan.
Penyebab malnutrisi dibedakan menjadi penyebab langsung
(immediate cause), penyebab tidak langsung (underlying cause),
dan penyebab dasar (basic cause). Kurangnya asupan makan dan
adanya penyakit merupakan penyebab langsung malnutrisi.
Penyebab tidak langsung adalah kurangnya ketahanan pangan
keluarga, kualitas perawatan ibu dan anak, pelayanan kesehatan
serta sanitasi lingkungan. Penyebab dasarnya adalah kebijakan
dari lembaga pemerintah dan non pemerintah tentang sumber
daya manusia dan ekonomi (WFP, 2005).
Resiko malnutrisi pada hipotiroid disebabkan gangguan
dalam metabolisme tubuh. Malnutrisi yang jelas terlihat adalah
kegemukan (obesitas) dan gangguan metabolisme zat gizi baik
makro maupun mikro. Perlu dipahami resiko malnutrisi yang

85
terjadi pada kondisi hipotiroid, sehingga dapat dilakukan
penanganan yang tepat yang mendukung perbaikan kondisi
hipotiroid.

OBESITAS DAN PENDEK (SHORT STATURE)


Obesitas
1. Etiologi
Obesitas dan hipotiroid merupakan kondisi klinis
yang berkaitan sangat erat. Perubahan hormon tiroid,
terutama peningkatan kadar TSH dan penurunan T3 dan
T4, akan berdampak pada penurunan energy expenditure.
Pada kondisi hipotiroid, Rest Energy Expenditure (REE)
menurun hingga 15 persen, yang menyebabkan terjadinya
hipometabolisme dan berdampak pada penambahan berat
badan meskipun asupannya berkurang (Mullur et al., 2014;
Al-Adsani., et al, 2006). Akumulasi lemak telah ditemukan
pada kondisi menurunnya T4 bebas (fT4) dan peningkatan
TSH, hal ini menghasilkan korelasi positif antara TSH dan
peningkatan berat badan seiring berjalannya waktu
(Sanyal and Raychaudhuri, 2016).
2. Tanda – tanda Fisik
Pada penderita hipotiroid terjadi penurunan metabolisme
tubuh, yang menyebabkan obesitas.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui status gizi
penderita hipotirod yaitu dengan pengukuran
antropometri dan penentuan status gizi.

86
a. Pengukuran Antropometri
Pengukuran antropometri meliputi tinggi badan, dan
berat badan. Pengukuran antropometri menggunakan
alat ukur yang terstandar.
b. Penentuan Status Gizi
Penentuan status gizi disesuaikan dengan usia pasien.
Untuk kasus dewasa menggunakan Indeks Masa Tubuh
(IMT), sedangkan untuk kasus anak-anak menggunakan
indikator BB/U dan BB/TB atau IMT anak.
Tabel 4.1 Status Gizi Anak berdasarkan Z-Score
Indikator Status Gizi Z-Score

BB/U Gizi Buruk < -3 SD


Gizi Kurang - 3 SD s/d < -2 SD
Gizi Baik -2 SD s/d 2 SD
Gizi Lebih > 2 SD
TB/U Sangat Pendek < -3 SD
Pendek - 3 SD s/d < -2 SD
Normal ≥ -2 SD
BB/TB Sangat Kurus < -3 SD
Kurus - 3 SD s/d < -2 SD
Normal -2 SD s/d 2 SD
Gemuk > 2 SD
Sumber : Kementerian Kesehatan RI, 2018

Tabel 4.2. Kategori Status Gizi Berdasarkan IMT


Status Gizi IMT (kg/m2)
Underweight < 18,5
Normal 18,5 - ≤ 22,9
Overweight ≥23 - < 23,5
Berisiko 23,5 - < 25
Obesitas I 25 - < 30
Obesitas II ≥ 30
Sumber : Supariasa, 2001

87
c. Anamnesa Gizi
Anamnesa meliputi kebiasaan makan, jenis bahan
makanan yang biasa dikonsumsi, frekuensi makan
sehari dan porsi makan, asupan makan sehari,
pantangan makanan, riwayat aktivitas fisik.

Pendek (Short Stature)


1. Etiologi
Malnutrisi ini seringkali terjadi pada anak-anak.
Hipotiroid kongenital (bawaan) apabila tidak tertangani
sedini mungkin menyebabkan gangguan pertumbuhan fisik
pada penderita hipotiroid akibat terjadinya keterlambatan
prekositas seksual yang berujung pada perawakan pendek
(Ghaemi et al, 2015, Sneha et al., 2013 ). Seperti kita ketahui
bahwa hormon tiroid sangat penting untuk pertumbuhan dan
perkembangan tulang yang normal, terkait peran hormon
tiroid dalam merangsang aktivitas osteoblas dan osteoklas.
Kegagalan pertumbuhan karena defisiensi hormon tiroid
biasanya merupakan manifestasi dari hipofungsi pituitari.
Pertumbuhan tubuh tidak akan berjalan normal tanpa adanya
hormon tiroid, meskipun hormon pertumbuhan mencukupi.
Kejadian kekurangan hormon tiroid setelah tiga hingga
empat tahun tidak lagi menyebabkan keterbelakangan
mental, akan tetapi menunda pertumbuhan tulang linier
(Saranac et al., 2013).
2. Pemeriksaan Penunjang
Penatalaksanaan kasus pendek (Short Stature) dapat
dilakukan dengan anamnesa gizi dan pengukuran
antropometri serta penentuan status gizi.

88
a. Pengukuran Antropometri
Pengukuran antropometri meliputi pengukuran tinggi
badan dan berat badan. Pengukuran antropometri
hendaknya menggunakan alat ukur yang terstandar.
b. Penentuan Status Gizi
Penentuan status gizi yang digunakan adalah tinggi
badan menurut umur.

MALNUTRISI GIZI MAKRO


Hiperkolesterolemia
1. Etiologi
Hormon tiroid berperan utama dalam merangsang
metabolisme, yang pada umumnya meningkatkan
metabolisme lemak, protein dan karbohidrat. Peningkatan
kadar kolesterol pada hipotiroid disebabkan meningkatnya
kadar Low Density Lipoprotein (LDL). Pada beberapa
penelitian dilaporkan juga terjadi peningkatan kadar Very
Low Density Lipoprotein (VLDL) dan High Density Lipoprotein
(HDL). Peningkatan kadar LDL pada hipotiroid akibat dari
ekpresi reseptor LDL yang berperan dalam penyerapan
kolesterol lebih tinggi dibandingkan efek penurunan sintesis
kolesterol hepatik. Sedangkan peningkatan VLDL lebih
disebabkan pada penurunan aktivitas enzim lipoprotein
lipase. Peningkatan kadar HDL kolesterol disebabkan
penurunan konsentrasi Cholesteryl Ester Transfer Protein
(CETP) plasma. CETP berfungsi menurunkan kolesterol dari
HDL ke LDL dan VLDL. Peningkatan kadar LDL pada
penderita hipotiroid, menyebabkan peningkatan oksidasi
LDL. LDL yang teroksidasi akan diambil oleh makrofag di

89
dinding arteri membentuk sel busa, yang merupakan faktor
resiko aterosklerosis (Jin and Tang, 2014).
2. Tanda – tanda Fisik
Tanda-tanda fisik hiperkolesterolemia biasanya tidak muncul,
kecuali dengan pemeriksaan laboratorium.
3. Pemeriksaan Penunjang
Untuk mengetahui status lipid dilakukan pemeriksaan
laboratorium dengan beberapa indikator :
a. Kolesterol total, dengan rentang nilai normal ≤ 200
mg/dl
b. Kolesterol LDL, dengan rentang nilai normal ≤ 100
mg/dl
c. Kolesterol HDL, dengan rentang nilai normal pria 35-55
mg/dl, wanita 45-65 mg/dl.
d. Trigliserida, dengan rentang nilai normal sampai
dengan 150 mg/dl.

Gangguan Metabolisme Karbohidrat


1. Etiologi
Hormon tiroid merangsang hampir semua aspek
metabolisme karbohidrat, termasuk kecepatan penggunaan
glukosa oleh sel, meningkatkan glikolisis, meningkatkan
glukogenesis, menekan glukoneogenesis, meningkatkan
kecepatan absorbsi dari saluran cerna, dan bahkan juga
meningkatkan sekresi insulin (Guyton, 2007). Hipotiroid
ditandai dengan adanya gangguan penyerapan glukosa dari
saluran gastrointestinal, oksidasi glukosa dan sintesis
glikogen menurun. Pada overt hipotiroid, ketidakmampuan
insulin dalam mempertahankan pemanfaatan glukosa oleh
otot menyebabkan resistensi insulin. Resistensi insulin

90
menyebabkan pelepasan glukosa menurun, sementara sekresi
glukosa meningkat (Duntas et al., 2011). Penurunan jumlah
insulin akan mengganggu peran insulin dalam memelihara
metabolisme tubuh, diantaranya adalah metabolisme
karbohidrat. Insulin juga berperan dalam menurunkan kadar
glukosa darah dalam plasma, sehingga pada penderita
hipotiroid seringkali ditemukan tingginya kadar glukosa
darah.

Gambar 4.1. Efek Hipotiroid pada Metabolisme Glukosa


Sumber : Duntas et al., 2011

2. Tanda-tanda Fisik
Tanda fisik terkait gangguan metabolisme karbohidrat pada
penderita hipotiroid adalah adanya peningkatan berat badan
dan cenderung menjadi obesitas. Obesitas merupakan salah
satu faktor resiko terjadinya peningkatan kadar glukosa
darah.

91
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan yang terkait dengan gangguan metabolisme
karbohidrat pada kasus hipotiroid adalah pemeriksaan
glukosa darah dengan kategori :
Untuk kadar gula darah puasa 70-110 mg/dl dan gula darah 2
jam setelah makan < 140 mg/dl/2 jam

Gangguan Metabolisme Protein


1. Etiologi
Protein merupakan salah satu zat gizi makro yang
sangat penting bagi tubuh. Kekurangan protein akan
menyebabkan tubuh kehilangan elemen struktur esensial dan
merusak fungsinya. Tanda dan gejala kekurangan protein
berbeda-beda pada setiap individu, tergantung pada cadangan
tubuh dan komponen proteinnya (Fahmida and Dillon, 2007).
Hormon tiroid menstimulasi siklus metabolisme lemak,
glukosa, serta katabolisme dan anabolisme protein (Mullur et
al., 2014). Pada penelitian yang dilakukan pada tikus
hipotiroid, melaporkan bahwa sintesis protein berjalan lebih
lambat, disebabkan dalam mitokondria tikus hipotiroid hanya
mengandung separo sitokrom dari yang seharusnya ada
dalam mitokondria, kurangnya katalis flavoprotein, dan
tingginya kadar enzim nukleotida piridin (Hoch, 1968).
2. Tanda- tanda Fisik
Pada kasus hipotiroid, kekurangan protein ditandai dengan
otot-otot tubuh yang lemah.
3. Parameter Laboratorium
Parameter laboratorium yang digunakan untuk mengetahui
kadar protein dalam tubuh yaitu :

92
a. Total protein serum
Merupakan indeks status protein yang tidak sensitif,
nilainya akan terlihat menurun bila kadar serum
albumin juga turun. Nilai normal serum protein adalah
60-78 g/L.
b. Serum albumin
Menggambarkan perubahan nilai protein dalam
intravaskuler. Nilai normal serum albumin adalah 35-54
g/L.

MALNUTRISI GIZI MIKRO


Defisiensi Iodium
1. Etiologi
Asupan iodium harian yang dianjurkan untuk dewasa
adalah 150 µg, untuk wanita hamil dan menyusui setidaknya
200-250 µg sedangkan untuk anak 70-120 µg dan neonatus 40
µg (Triggiani et al., 2009). Asupan iodium ini berasal dari
makanan sumber iodium seperti ikan laut, garam beriodium
dan makanan yang difortifikasi iodium. Kekurangan asupan
iodium bisa disebabkan orang tinggal di daerah yang miskin
iodium dalam tanahnya seperti daerah pegunungan, atau
kurang mengkonsumsi bahan makanan sumber iodium,
vegetarian atau non vegetarian yang menghindari garam,
ikan laut dan rumput laut. Penyebab lain adalah konsumsi
bahan penghambat penyerapan iodium yang disebut dengan
goitrogenik, sehingga keberadaan bahan makanan ini
sebaiknya dihindari atau dikurangi. Beberapa penelitian
menunjukkan bahwa goitrogenik hanya akan berpengaruh
terhadap kejadian hipotiroid apabila disertai dengan
kekurangan iodium (Zimmerman et al., 2008).

93
2. Tanda – tanda Fisik
Beberapa tanda fisik muncul pada penderita hipotiroid seperti
pembesaran kelenjar gondok, kretin, mental retardasi, berat
badan lahir rendah untuk bayi.
3. Pemeriksaan Penunjang
Status iodium dapat diketahui dengan melakukan
pemeriksaan :
a. Serum tiroksin (T4) dan triiodotironin (T3), dengan
rentang nilai normal untuk T4 adalah 58-154 nmol/L
dan 1.0-3.4 nmol/L untuk serum T3.
b. Serum Thyroid Stimulating Hormon (TSH), dengan
rentang nilai normal 0,4-4,0 mIU/L

Defisiensi Selenium
1. Etiologi
Selenium dan iodium merupakan mineral yang penting
dalam pembentukan hormon tiroid. Selenium diserap dan
dicerna tubuh dalam bentuk selenit, selenat, dan
selenomethyonine. Glutation peroksidase (GPx) yang
mengandung selenium dan berada dalam jaringan tiroid,
bekerjasama dengan katalase peroksisomal berperan dalam
degradasi hidrogen peroksida (H2O2) dan melindungi sel dari
serangan radikal bebas. Sebuah studi menyebutkan bahwa
pada kasus hipotiroid kongenital terjadi penurunan kadar
selenium, tiroglobulin, peningkatan konsentrasi T3 dan TSH.
Defisiensi selenium akan menyebabkan penumpukan iodium
dalam tiroid karena menurunnya katabolisme tiroksin
sehingga konversi T3 terganggu (Triggiani et al., 2009).
Bahan makanan kaya selenium diantaranya adalah
daging dan seafood. Untuk bahan makanan nabati,

94
kandungan selenium tergantung tanah tempat tumbuhnya.
Beberapa suplemen selenium seperti sodium selenate dan
natrium selenite juga tersedia. Asupan yang
direkomendasikan berkisar antara 20-40 µg/hari untuk bayi
hingga usia 55 tahun. Sedangkan untuk wanita hamil dan
menyusui 60 dan 70 µg/hari (Triggiani et al., 2009). Resiko
defisiensi selenium biasanya terjadi pada penduduk yang
tinggal di daerah yang tanahnya miskin selenium, kurang
asupan selenium, penderita gangguan pencernaan, dan orang
yang sedang menjalani dialisis.
2. Tanda-tanda Fisik
Kekurangan selenium pada penderita hipotiroidisme akan
menyebabkan mudah lelah.
3. Pemeriksaan Penunjang
Untuk mengetahui status selenium dilakukan pemeriksaan
laboratorium yaitu plasma selenium, dengan nilai normal
110-160 µg/L.

Defisiensi Besi
1. Etiologi
Pada kondisi hipotiroid, jumlah asam lambung yang
disekresi akan mengalami penurunan (achlorhydria)
sehingga dapat mengganggu absorbsi zat-zat gizi termasuk Fe
(Rafsanjani, 2002; Zimmerman, 2006). Selain itu, kondisi
hipotiroid juga dapat mengakibatkan gangguan sintesis
hemoglobin akibat kurangnya hormon tiroksin. Hipotiroid
mengakibatkan penurunan ketebalan lapisan mukosa dan
vili-vili usus halus, pematangan sel epitel dan enzim-enzim di
usus halus, sehingga terjadi kegagalan usus untuk
mengabsorbsi besi (Greenspan et al., 2004). Sekitar 25 persen

95
sampai 50 persen dari keadaan hipotiroidisme ditemukan
adanya anemia. Biasanya jenis anemianya normositik
normokrom dan memiliki cadangan besi yang normal,
sumsum tulang yang hiposeluler dengan diferensiasi sel
darah merah yang normal. Kekurangan zat besi kadang-
kadang dapat terlihat, terutama pada wanita premenopause
yang mengalami menorrhagia karena hipotiroidismenya.
Kadang-kadang ditemukan anemia pernisiosa dan defisiensi
vitamin B12 yang dapat memberikan gambaran makrositik
(Sumual and Langi, 2007). Menurut Rafsanjani (2002),
hipotiroid akan menyebabkan anemia defisiensi besi karena
kegagalan sintesis hemoglobin dan malabsorpsi zat besi. Pada
penderita hipotiroid dengan anemia, peningkatan konsentrasi
besi serum terjadi seiring dengan peningkatan Thyroxin (T4).
Sebuah penelitian tentang hubungan status gondok
dengan pola menstruasi dan kejadian anemia pada wanita
usia subur (WUS) di daerah endemik Gangguan Akibat
Kekurangan Iodium (GAKI), WUS yang gondok mempunyai
peluang 3 kali mengalami anemia dibandingkan WUS yang
tidak gondok setelah dikontrol variabel IMT, paritas, lama
menstruasi dan tingkat pendidikan (Enardi et al, 2014).
Penelitian lain menyebutkan bahwa dari hasil pengukuran
hemoglobin pada kasus hipotiroid terjadi penurunan kadar
hemoglobin dengan rata-rata 10,96 g/dL dan secara statistik
terdapat hubungan yang signifikan (Sirichand et al., 2009).
2. Tanda – tanda fisik
Beberapa tanda fisik pada penderita hipotiroid akibat
kekurangan zat besi diantanya adalah mudah lelah, lemah,
dan mempunyai suhu tubuh yang rendah.

96
3. Pemeriksaan Penunjang
Status besi dapat diketahui dengan mengukur kadar
hemoglobin, dengan rentang nilai normal untuk pria adalah
13-17 g/dL, dan untuk wanita 12-16 g/dL.

Defisiensi Kalsium
1. Etiologi
Gangguan fungsi tiroid berdampak buruk pada
metabolisme kalsium dan fosfor, mineral yang digunakan
sebagai indeks resorpsi tulang. Hormon tiroid berperan dalam
merangsang resorpsi tulang (Ashmaik, 2013). Rendahnya
turnover massa tulang terjadi pada kasus hipotiroid, hal ini
disebabkan oleh terganggunya mobilisasi kalsium ke dalam
tulang yang berakibat penurunan kalsium dalam darah.
Hipotiroid juga menyebabkan gangguan penyerapan kalsium
pada retikulum sitoplasmik dan penekanan aktivitas dari
myosin ATP-ase yang memberikan pengaruh terhadap
kontraktilitas miokard (Ashmaik, 2013; Stathatos and
Wartofsky, 2003). Selain terjadi penurunan kadar kalsium
serum, pada kasus hipotiroid terjadi peningkatan kadar fosfor
dalam serum, yang disebabkan adanya peningkatan produksi
kalsitonin yang dapat meningkatkan reabsorpsi fosfat tubular
dan mempengaruhi ekskresi kalsium tubular. Tiroksin
mengatur kadar kalsium darah dengan melepaskan kalsium
ekstra seluler, sehingga berkurangnya tiroksin seperti pada
hipotiroid menyebabkan penurunan pelepasan kalsium ekstra
seluler (Sridevi et al., 2016).

97
2. Tanda – tanda Fisik
Seperti halnya vitamin D, pada penderita hipotiroid kalsium
berperan dalam menjaga pertumbuhan tulang. Pada penderita
hipotiroid biasanya mudah terjadi fraktur pada tulang.
3. Pemeriksaan Penunjang
Untuk mengetahui status kalsium dilakukan pemeriksaan
serum kalsium. Kadar kalsium dalam darah yang rendah,
mengindikasikan kondisi patologis dibandingkan asupan
kalsium yang tidak adekuat. Kadar kalsium serum normal
adalah 8-10 mg/dL.

Defisiensi Vitamin A
1. Etiologi
Vitamin A sebagian besar ada dalam hati, sebagai
tempat penyimpanan utama. Berbagai bentuk vitamin A
terkait dengan fungsi dalam tubuh yaitu retinal, retinol, dan
asam retinoat, berada dalam jaringan epitel sistem organ
yang berbeda-beda.
Hormon tiroid berperan dalam konversi betakaroten
menjadi vitamin A, sehingga kekurangan hormon tiroid
menyebabkan terjadinya defisiensi vitamin A. Sebaliknya,
kekurangan vitamin A dapat meningkatkan nilai TSH,
tiroglobulin dan ukuran gondok pada orang yang kekurangan
iodium tingkat berat (Hoch, 1968).
2. Tanda-tanda Fisik
Defisiensi vitamin A pada penderita hipotiroid secara fisik
dapat dilihat pada kulit. Biasanya kulit pada penderita
hipotiroid kering dan kasar. Pada penderita hipotiroid, terjadi
adaptasi gelap yang kurang baik yang disebabkan rendahnya
kadar vitamin A dalam serum (Hoch, 1968).

98
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan Laboratorium yang sering digunakan untuk
mengetahui status vitamin A adalah serum retinol.
Konsentrasi adekuat apabila mencapai ≥1.05 µmol/L.

Defisiensi Vitamin D
1. Etiologi
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa pada
penderita hipotiroid, terutama usia anak-anak, terjadi
gangguan pertumbuhan dan perkembangan tulang, massa
otot, serta gangguan sistem kekebalan tubuh. Hal ini
disebabkan pada penderita hipotiroid terjadi defisiensi
vitamin D. Hasil penelitian menyebutkan bahwa faktor
genetik yang terjadi adalah polimorfisme gen Vitamin D
Reseptor (VDR) pada anak dengan hipotiroid kongenital
menyebabkan VDR kehilangan afinitas terhadap vitamin D
aktif (Mackawy et al., 2013). Hal ini sejalan dengan penelitian
lain yang menunjukkan pada subyek anak dengan hipotiroid
kongenital mempunyai kadar vitamin D yang lebih rendah
dibandingkan anak sehat (Tamara et al, 2016).
2. Tanda-tanda Fisik
Pada penderita hipotiroid proses perombakan tulang berjalan
lambat, sehingga terjadi meningkatnya resiko fraktur
(Cardoso et al., 2014).
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui status vitamin
D adalah serum 25-hydroxy vitamin D. Pemeriksaan ini
menggambarkan total suplai vitamin D dari kulit dan asupan
makan. Normal konsentrasi vitamin D yaitu 20 – 130 nmol/L.

99
Defisiensi Vitamin B12
1. Etiologi
Kekurangan vitamin B12 dapat menyebabkan
gangguan neurologis, psikiatri, hematologi, dan
gastrointestinal. Penyebab paling umum dari kekurangan
vitamin B12 adalah pada gangguan penyerapan Vitamin B12
karena adanya atrofi gastritis. Sebuah penelitian
menyebutkan terjadi peningkatan prevalensi defisiensi
vitamin B12 pada kasus gangguan fungsi tiroid, terutama
pada gangguan fungsi tiroid yang disebabkan oleh autoimun.
Hal ini terjadi karena pada kasus gangguan tiroid yang
disebabkan autoimun, ditemukan kondisi atrofi gastritis yang
berpotensi menyebabkan defisiensi vitamin B12 (Sworczak
and Wiśniewski, 2011). Kenaikan kadar asam amino
homosistein pada kondisi hipotiroid merupakan penanda
adanya defisiensi vitamin B12 yang artinya meningkatkan
resiko penyakit jantung (Fahmida and Dillon, 2007; Biondi
and Klein, 2004)
2. Tanda-tanda Fisik
Defisiensi vitamin B12 pada penderita hipotirod
menyebabkan beberapa tanda fisik seperti mudah lelah,
palpitasi, dan lemah.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui status vitamin
B12 yaitu pemeriksaan serum vitamin B12, dengan rentang
nilai normal 111-295 pmol/L dan serum homosistein dengan
rentang nilai normal 4-17 µmol/L.

100
PENUTUP
Munculnya kasus-kasus hipotiroid dan kretin baru di
daerah endemik maupun daerah replete menunjukkan bahwa
masalah kekurangan zat gizi mikro perlu mendapatkan
perhatian yang serius. Hipotiroid merupakan permasalahan
dalam sistem endokrin, yang apabila tidak ditangani dengan
baik akan menimbulkan dampak yang lebih buruk bagi
penderitanya. Keterkaitan hipotiroid dengan resiko malnutisi
disebabkan oleh adanya penurunan laju metabolisme yang
mengakibatkan gangguan metabolisme zat gizi makro
(karbohidrat, protein, lemak) dan zat gizi mikro (vitamin dan
mineral).
Interaksi beberapa zat gizi baik makro maupun mikro
dalam sintesis hormon tiroid dan kondisi malnutrisi akibat
hipotiroid harus diketahui, yang akan menjadi dasar dalam
penanganan kasus hipotiroid yang berkualitas. Beberapa kondisi
malnutrisi yang terkait dengan hipotiroid dapat terlihat tanda
dan gejalanya, akan tetapi ada pula yang harus dipastikan
dengan pemeriksaan laboratorium. Hasil pemeriksaan
laboratorium selanjutnya dapat dijadikan dasar dalam
memberikan intervensi gizi yang mendampingi proses
pengobatan hipotiroid.

101
Daftar Pustaka

Al-Adsani H, Hoffer LJ, Silva JE. 2006. Resting Energy


Expenditure is Sensitive to Small Dose Changes in Patients
on Chronic Thyroid Hormone Replacement. J Clin
EndocrinolMetab; 82: 1118-1125
Ashmaik AS, Gabra HM, Elzein AO, Ashrif NE. Hassan EE. 2013.
Assesment of Serum Levels of Calcium and Phosphorus in
Sudanese Patients with Hypothyroidism. Asian Journalof
Biomedicaland PharmaceuticalSciences; 3(25) : 21-26.
Biondi B and Klein I. Hypothyroidism as a Risk factor for
Cardiovascular Disease. Endocrine. 24(1) : 1-13
Cordosa LF, Maciel LM, Paula FJ. 2014. The Multiple Effects of
Thyroid Disorders on Bone and Mineral Metabolism. Arq
Bras Endocrinol Metab. 58(5) : 452-463
Duntas LH, Orgiazzi J, Brabant G. 2011. The Interface between
Thyroid and Diabetes Mellitus.ClinicalEndocrinology; 75:1-
9
Enardi OP, Widodo US, Nurdiati DS. 2014. Status Gondok
Berhubungan dengan Pola Menstruasi dan Kejadian
Anemia pada Wanita Usia Subur di Daerah Endemik
GAKY . Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia 2 (1):23-31
Fahmida U and Dillon DH. 2007. Nutritional Assessment.
Handbook. Seameo-Tropmed RCCN. University of
Indonesia.
Greenspan, Francis S., Cooper, D.S.& Ladenson, P.W. 2004. The
Thyroid Gland. Dalam: Greenspan’s Basic & Clinical
Enocrinology. Eighth Edition. New York : McGraw Hill

102
Medical
Guyton. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Alih bahasa Ken
Ariata Tengadi. Edisi 7 Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta
Hoch, FL. 1968. Biochemistry of Hyperthyroidism and
Hypothyroidism. Postgrad.Med.J; 44: 347-362
Jin T and Tang X. 2014. Update on Lipid Metabolism and
Thyroid Disorders. Journal of Endocrinology, Diabetes &
Obesity.2(3) : 1-7
Kemenkes RI. 2018. Buku Saku Pemantauan Status Gizi. Jakarta
Mackawy AMH, Al-ayed BH, Al-rashidi BM.2013. Vitamin D
Deficiency and Its Association with Thyroid Disease. IntJ
Healt Sci; 7:14-8.
Rafsanjani, F. N., Saleh Z., Mohammad K. G. Naseri, dan
Vahedian, J. 2002. Effect of Thyroid Hormones on
Distensioninduced Gastric Acid and Pepsin Secretions In
Rats. Annals of Saudi Medicine; 22(5-6):308-311
Rowe M. Hoermann R, Warmingham P. 2016. The Diagnosis and
Treatment of Hypothyroidism : A Patient’s Perspective.
Sanyal D and Raychadhuri M. 2016. Hypothyroidism and
Obesity : An Integriting Link. Indian Journal of
Endocrinology and Metabolism. 20(4) : 554-557
Saranac L, Stamenkovic H, Stankovic T, Marcovic I, Zivakovic S,
Djuric Z. 2013. Growth in Children with Thyroid
Disfunction. Current Topics in Hypothyroidism with
Focus on Development.

103
Sirichand, P. Devrajani, B., Abbasi, R., Shah, S., Devrajani, T. &
Bibi, I. 2009. Impaired Thyroid Function in Patients with
Menstrual Disturbances. World Applied Sciences
Journal.;7(4):538-542.
Sridevi D, Dambal AA, Sidrah, Challa AS, Padaki SK. 2016. A
Study of Serum Magnesium, Calcium and Phosphorus in
Hypothyroidism. Journal of Clinical Biochemistry and
Research; 3(2) : 236-239.
Stathatos N, Wartofsky L. 2003. Perioperative Management of
Patients with Hypothyroidism. Department of Medicine,
The Washington Hospital center. Washington. Endocrinol
Metab Clin NAm .; 32: 503-518
Sumual AR, Langi Y. 2007. Hipotiroidisme. Dalam:
Djokomoeljanto, editor. Buku Ajar Tiroidologi Klinik.
Badan penerbit Universitas Diponegoro. Semarang. 295-
317
Supariasa. 2001. Penilaian Status Gizi. Penerbit Buku
kedokteran. Jakarta.
Sworczak K, Wisniewski P. 2011. The Role of Vitamins in the
Prevention and Treatment of Thyroid Disorders. Polish
Journalof Endocrinology; 62(4): 340-344.
Syahbuddin S. 2009. Diagnosis dan Pengobatan Hipotiroidisme.
Dalam: Djokomoeljanto R, Darmono, Suhartono T, GD
Pemayun T, Nugroho KH,editors. The 2nd Thyroidologi
Update. Badan penerbit Universitas Diponegoro.
Semarang. 197-205

104
Tamara L, Dida A. Gurnida, R.M.Ryadi Fadil. 2016. Perbedaan
Kadar Vitamin D antara Hipotiroid Kongenital dan Anak
Sehat. Sari Pediatri; 18(4):304-307
Triggiani V, Tafaro E, Giagulli VA, Sabba C, Resta F, Licchelli B,
Guastamacchia E. 2009. Role of Iodine, Selenium and Other
Micronutrients in Thyroid Function and Disorders.
Endocrine, Metabolism & Immune Disorders-Drug Target
9 (1) : 277-294
World Food Programme. 2005. A Manual: Measuring and
Interpreting Malnutrition and Mortality. Roma.
Zimmermann MB. 2006. The Influence of Iron Status on Iodine
Utilization and Thyroid Function. Annu Rev.Nutr; 26 : 367-
389.
Zimmermann MB, Jooste PL, Pandav CS. 2008. Iodine-Deficiency
Disorder. The Lancet. (372). Pp 1251-1262

105
Bab 5
Pengaturan Diet Pada
Penderita Hipotiroid
oleh : Slamet Riyanto

PENDAHULUAN
Kelenjar tiroid merupakan salah satu kelenjar endokrin
penting yang terletak di leher dan sebagai penghasil hormon
tiroid. Hormon tiroid merupakan messenger kimia yang nantinya
akan berinteraksi dengan reseptor pada tingkat sel tubuh untuh
mempertahankan fungsi biologis tertentu (Curley 2009). Proses
produksi hormon ini dikontrol oleh hypothalamus-pituitary
dengan adanya umpan balik negatif. Bahan baku utama dalam
sintesis kelenjar tiroid adalah iodium yang berasal dari
makanan, air, atau bahan dari luar yang kita konsumsi. Selain
itu biosintesis hormon tiroid juga membutuhkan tiroglobulin
sebagai protein utama di kelenjar tiroid, thyroid peroxidase
(TPO), dan peroksida (H2O2). Kelenjar tiroid mensekeresikan
tiroksin (T4) dan triiodothyronin (T3). T3 merupakan hormon
yang aktif sedangkan T4 berperan sebagai pro hormon. Sebagian
besar T3 berasal dari deiodinasi T4 dari organ perifer seperti hati
dan ginjal (Kumar et al.2014).
Hormon tiroid memiliki peran yang sangat penting dalam
sistem tubuh manusia. Seluruh aktivitas metabolisme tubuh
dipengaruhi oleh hormon tiroid. Selain itu hormon ini juga
mengatur pompa sodium/potasium, sekresi kolesterol empedu,

106
denyut jantung, kekuatan jantung, tekanan darah, respirasi, laju
metabolisme basal (BMR), pencernaan, metabolisme lipid,
karbohidrat, protein, fungsi sistem saraf pusat, dan aktivitas
kelenjar endokrin lain. Fungsi seksual juga dipengaruhi oleh
sekresi hormon tiroid (Curley 2009). Hormon tiroid bersama
dengan hormon pertumbuhan, insulin, glukokortikoid, insuline-
like gowth factor-1 (IGF-1), dan hormon lain mengatur aktivitas
tubuh yang terkait pertumbuhan dan perkembangan (Tarım
2011).

PERAN ZAT GIZI DALAM MENJAGA FUNGSI NORMAL


KELENJAR TIROID
Zat gizi baik makro maupun mikro memiliki peran penting
dalam menjaga fungsi normal kelenjar tiroid. Zat gizi berperan
mulai dari proses sintesis, sekresi, metabolisme, hingga
fungsional hormon tiroid. Energi dibutuhkan untuk seluruh
aktivitas tubuh termasuk aktivitas kelenjar dan hormon tiroid.
Sebuah studi menunjukkan anak dengan kekurangan gizi kronis
karena ketidakcukupan asupan energi dan protein memiliki
kadar T3 dan T4 yang rendah dibanding dengan anak normal
(Pankaj Abrol 2001) (Sandeep & Krishnamurthy 2016).
Kekurangan energi protein akan berakibat pada menurunnya
fungsi kelenjar tiroid.
Selain zat gizi makro, zat gizi mikro juga memiliki peranan
yang penting dalam metabolisme normal hormon tiroid.
Beberapa mineral penting yang berperan dalam proses tersebut
diantaranya iodum, besi, selenium, dan seng. Iodium merupakan
mineral esensial sebagai bahan baku hormon tiroid. Sumber

107
utama iodium berasal dari iodium lingkungan seperti tanah, air,
produk susu, makanan laut, dan telur. Garam beriodium dan
beberapa tablet multivitamin juga merupakan sumber iodium.
Defisiensi zat besi akan berdampak pada sintesis hormon tiroid
melalui mekanisme penurunan aktivitas heme-dependent thyroid
peroxidase. Selain itu, suplementasi zat besi juga dapat
meningkatkan efikasi suplementasi iodium. Risiko defisiensi
selenium tinggi terutama pada orang dengan pemberian asupan
secara parenteral dalam waktu yang lama, diet phenylketonurea,
cystic fibrosis, anak dengan kondisi kurang gizi, dan lansia. Pada
daerah dengan kondisi kekurangan selenium dan iodium,
pemberian suplementasi kedua zat gizi tersebut mampu
meningkatkan aktivitas glutation peroxidase (GPx) dan deiodinase
iodothyronin (Hari Kumar & Baruah 2012).

DIET UNTUK PENDERITA HIPOTIROID


Gangguan tiroid secara umum dibagi menjadi empat
sindrom diantaranya hipotiroid, hipertiroid, pembengkakan
kelenjar tiroid, dan kangker tiroid (Kumar et al. 2014). Dari
empat jenis gangguan ini tentu akan berdampak pada
metabolisme dan fungsi tubuh. Salah satu gangguan yang sering
terjadi adalah gangguan fungsi tiroid berupa hipotiroid.
American Thyroid Association (2017) menyebutkan bahwa
hipotiroid merupakan kondisi dimana kelenjar tiroid tidak dapat
menghasilkan hormon tiroid dalam jumlah cukup untuk
menjaga kondisi normal tubuh.
Penyebab umum gangguan tiroid di seluruh dunia adalah
kekurangan iodium yang berkembang menjadi gondok dan

108
konsekuensi lain yang diakibatkan oleh kurangnya asupan
iodium. Diperkirakan lebih dari 30% anak usia sekolah
mengalami kekurangan iodium. Pada daerah dengan cukup
iodium, hipotiroid lebih banyak disebabkan karena autoimun
tiroiditis kronik atau kerusakan akibat terapi hipertiroid.
Prevalensi hipotiroid spontan diperkirakan pada kisaran 1
hingga 2% dari populasi. Kondisi ini lebih banyak terjadi pada
wanita dengan usia lanjut dan juga lebih sering terjadi pada
wanita dibanding dengan laki-laki (Simundic et al. 2009).
Penyebab lain dari hipotiroid diantaranya adanya operasi
kelenjar tiroid, pengobatan, gangguan kongenital, kehamilan,
dan gangguan pituitari (Khanam 2018).
Hipotiroid atau rendahnya aktivitas kelenjar tiroid akan
menyebabkan munculnya berbagai gejala dan memiliki efek
pada fungsi tubuh. Gejala hipotiroid bervariasi antar orang satu
dengan yang lain. Gejala yang timbul akibat hipotiroid
diantaranya merasa mudah lelah, penambahan berat badan,
tidak tahan terhadap dingin, nyeri sendi dan otot, konstipasi,
kulit kering, rambut kering dan tipis, susah berkeringat,
menstruasi tidak teratur, gangguan kesuburan, depresi, dan
denyut jantung yang melambat. Pada hipotiroid dengan
penyakit Hashimoto gejala yang spesifik adalah adanya
pembesaran kelenjar gondok dan merasa penuh di tenggorokan.
Dalam kondisi ini beberapa penderita akan merasa mengalami
kesulitan menelan makanan (NIDDK (National Institute of
Diabetes and Digestif and Kidney Desease) US 2013). Pasien
dengan disfungsi tiroid memilki peningkatan risiko terhadap
penyakit kardiovaskuler, osteoporosis, kelebihan berat badan,

109
celiac desease (CD) dan diabetes (Kawicka & Regulska-ilow 2015).
Melihat dampak dan risiko dari hipotiroid dengan berbagai
faktor penyebab, selain dengan terapi farmakologis, terapi diet
memiliki peran yang penting baik dalam mencegah atau saat
masa penyembuhan dari gangguan fungsi tiroid ini. Penurunan
metabolisme dalam tubuh akibat hormon tiroid yang tidak
cukup akan memperburuk kondisi penderita karena akan
berakibat terjadinya risiko gizi salah. Risiko peningkatan berat
badan akibat kondisi hipotiroid dapat diketahui melalui riwayat
peningkatan berat badan ataupun dari perhitungan status gizi
pasien. Tujuan utama pengaturan diet pada penderita hipotiroid
adalah untuk membantu mengurangi gejala penyakit, menjaga
status gizi agar tetap normal, dan memenuhi asupan zat gizi
sesuai dengan kebutuhan tubuh untuk mencegah kondisi gizi
salah (Kawicka & Regulska-ilow 2015). Pada pasien yang disertai
dengan penyakit lain, pengaturan diet perlu disesuaikan.
Edukasi dan konseling perlu dilakukan pada pasien untuk
merubah pola makan terutama setelah proses pengobatan.
Zat gizi yang perlu diperhatikan dalam diet penderita
hipotiroid diantaranya karbohidrat, lemak, protein, serta zat gizi
mikro seperti iodium, selenium, seng, dan vitamin terkait
metabolisme energi. Hal lain yang penting untuk diperhatikan
juga adalah asupan serat, cairan, bahan makanan dengan
kandungan zat goitrogenik, interaksi makanan dengan obat
yang dikonsumsi penderita, dan aktivitas fisik.

110
KEBUTUHAN ZAT GIZI UNTUK PENDERITA
HIPOTIROID
Kebutuhan gizi pada penderita hipotiroid bersifat
individual. Beberapa zat gizi yang perlu diatur untuk memenuhi
asupan diantaranya:
1. Energi
Kebutuhan energi bersifat individual dan dapat
bervariasi karena bergantung pada usia, jenis kelamin, berat
badan, aktivitas fisik, serta kondisi fisiologis lain yang perlu
untuk dipertimbangkan (Grodner et al. 2012). Sumber energi
berasal dari makanan sumber karbohidrat, protein, dan lemak
yang dikonsumsi setiap hari. Energi memegang peran penting
dalam seluruh aktivitas tubuh manusia. Salah satu hormon
yang mengatur metabolisme energi adalah hormon tiroid
yang dihasilkan oleh kelenjar tiroid.
Pasien hipotiroid biasanya lebih mudah mengalami
kenaikan berat badan, sehingga kelebihan berat badan
ataupun obesitas berisiko terjadi pada pasien ini. Hal ini
dikarenakan hormon tiroid berperan pada sekitar 30% dari
resting energy expenditure harian (Kawicka & Regulska-ilow
2015). Meskipun demikian beberapa sumber menyebutkan
bahwa kenaikan berat badan pada pasien hipotiroid tidak
selalu dikarenakan penumpukan massa lemak tubuh tetapi
juga akibat penumpukan cairan dan garam karena adanya
gangguan keseimbangan cairan (American thyroid
Assosiation 2015). Namun demikian, status gizi pasien tetap
harus dihitung untuk menentukan kebutuhan energi. Status
gizi dapat ditentukan dengan menggunakan Indeks Masa

111
Tubuh (IMT) atau dengan metode antropometri yang lain
sesuai dengan kondisi dan usia. Komposisi tubuh dapat
diketahui dengan menggunakan alat seperti Bioelectric
Impedance Analyzer (BIA) (Kawicka & Regulska-ilow 2015).
Sebuah penelitian dengan menggunakan BIA untuk
menganalisis komposisi tubuh pada wanita penderita
hipotiroid menunjukkan bahwa Total Body Fat (TBF)
responden lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok
kontrol. Pada penelitian ini juga menunjukkan indikator
komposisi tubuh lain seperti kadar air dan fat free mass
secara signifikan lebih rendah pada pasien hipotiroid
(Miyakawa et al. 1999). Terkait pengaturan kebutuhan energi
pada pasien dengan hipotiroid salah satu yang perlu
dipertimbangkan adalah status gizi dari pasien tersebut. Jika
pasien merupakan pasien yang mengalami obesitas atau
kelebihan berat badan maka perlu adanya pengurangan nilai
energi. Salah satunya dengan menggunakan berat badan ideal
dalam menentukan kebutuhan energi. Akan tetapi jika pasien
memilki status gizi normal dan tidak memiliki riwayat
peningkatan berat badan secara drastis selama mengalami
hipotiroid atau beberapa waktu sebelum didiagnosa
hipotiroid maka energi yang diberikan adalah cukup. Kondisi
ini berbeda untuk setiap pasien.
Salah satu rumus untuk menentukan kebutuhan energi
adalah dengan rumus Harris Benedict. Rumus ini digunakan
untuk menentukan Resting Energy Expenditure (REE)
(kkal/hari). Rumus ini dikembangkan di Amerika dengan
menggunakan subjek yang sehat. Kemudian rumus ini

112
dikembangkan oleh para peneliti agar dapat
merepresentasikan kondisi pasien di rumah sakit dengan
memperhitungkan faktor aktivitas dan faktor stress (Ferrie &
Ward 2007). Hal ini dikarenakan kedua faktor tersebut dapat
mempengaruhi kebutuhan energi.
Selain menggunakan rumus Harris Benedict, ada
berbagai rumus yang dapat digunakan untuk menentukan
kebutuhan energi. Rumus-rumus tersebut diantaranya rumus
Schofield, FAO/WHO/UNU, Henry and Rees, Ireton-Jones,
Miffin-St Jear, Owen-Owen dan lainnya (Pinheiro Volp et al.
2011). Kebutuhan energi juga dapat ditentukan dengan
menggunakan kebutuhan energi (kkal) per kilogam berat
badan. Pada individu normal dapat menggunakan estimasi 25-
30 kkal/kg/hari, 30-35 kkal/kg/hari untuk pasien dengan sakit
atau cidera sedang, atau pasien dengan malnutrisi, dan 35-49
kkal/kg/hari untuk pasien dengan sakit atau cidera berat
(Collins 2002).
2. Karbohidrat
Karbohidrat merupakan penyumbang energi utama
dalam diet manusia. Sebagian besar penduduk di negara
berkembang 75 persen kebutuhan energinya dicukupi dengan
mengonsumsi makanan sumber karbohidrat. Masyarakat
dengan makanan utama padi-padian merupakan masyarakat
dengan konsumsi karbohidrat tertinggi (Webb 2012). Setiap
gram karbohidrat menyumbang sekitar 4 kkal energi.
Terkait dengan kondisi hipotiroid, maka asupan
karbohidrat merupakan zat gizi yang perlu diatur baik dari
segi jumlah maupun jenisnya. Gangguan fungsi tiroid juga

113
akan berdampak pada gangguan metabolisme karbohidrat
(Messina & Redmond 2006). Beberapa studi menunjukkan
hipotiroid dapat berdampak pada keseimbangan glukosa
dalam darah dan resistensi hormon insulin (Mullur et al.
2014). Prinsip pemenuhan karbohidrat pada penderita
hipotiroid adalah dengan mengonsumsi karbohidrat cukup.
Jenis karbohidrat yang dikonsumsi sebaiknya adalah sumber
karbohidrat kompleks seperti beras, kentang, jagung, sagu,
gandum utuh. Sedangkan sumber karbohidrat sederhana
seperti gula, sirup, atau bahan dengan kandungan gula
sederhana harus dibatasi.
Bahan Makanan sumber karbohidrat dikonsumsi untuk
memenuhi 50-60 persen kebutuhan energi total. Pada pasien
hipotiroid akibat Gangguan Akibat Kekurangan Iodium
(GAKI) perlu memperhatikan beberapa bahan makanan
sumber karbohidrat yang mengandung zat goitrogenik. Zat
goitrogenik merupakan zat yang dapat menghambat
penggunaan iodium oleh tubuh sebagai contoh adalah
sianida. Singkong, ubi, kentang merupakan bahan makanan
pokok yang mengandung sianida. Pada penderita hipotiroid
akibat GAKI bahan makanan tersebut perlu dilakukan
pengolahan. Beberapa penelitian menyebutkan perebusan
dapat mengurangi kadar sianida pada bahan makanan hingga
100 persen (Ningtyias et al.2015).
3. Protein
Protein memiliki peranan penting dalam masa
penyembuhan pasien hipotiroid. Protein diperlukan sekitar
20-25 persen dari kebutuhan energi. Asupan protein ini

114
diharapkan dapat mendukung pemulihan pasien. Sumber
protein dapat berasal dari protein hewani seperti daging,
telur, susu, dan ikan serta protein nabati yang berasal dari
kacang-kacangan. Sumber protein hewani dari laut
dianjurkan selain untuk memenuhi kebutuhan protein juga
untuk menambah asupan mineral seperti iodium. Konsumsi
protein disarankan untuk bervariasi tidak hanya berasal dari
satu sumber saja terutama sumber protein dari makanan laut.
Konsumsi makanan sumber iodium yang tinggi secara terus
menerus dapat memperburuk fungsi tiroid pasien hipotiroid.
Konsumsi protein nabati terutama dari produk kedelai
perlu dibatasi berdasarkan berbagai hasil penelitian.
Kandungan zat non gizi isoflavon disebutkan akan
mempengaruhi fungsi tiroid pasien hipotiroid. Pada seorang
dengan fungsi tiroid normal dan cukup iodium, isoflavon ini
diketahui tidak memilki pengaruh terhadap penurunan fungsi
tiroid. Pada pasien hipotiroid dengan pengobatan dapat
mengonsumsi makanan berbahan dasar kedelai enam jam
sebelum atau setelah mengonsumsi obat terkait hipotiroid.
Pada bayi dengan hipotiroid konsumsi produk kedelai perlu
dibatasi juga kecuali pada bayi yang mengalami intoleransi
laktosa melalui pengaturan jeda dengan pengobatan (Messina
& Redmond 2006).
4. Lemak
Rendahnya kadar hormon tiroid dapat menyebabkan
peningkatan profil lipid, tekanan darah, asam amino
homosistein, dan marker inflamasi C-Reaktif Protein (CRP).
Pada kondisi hipotiroid klinis maupun sub klinis kondisi ini

115
merupakan predisposisi terjadinya atherosklerosis (Kawicka
& Regulska-ilow 2015). Salah satu karakteristik dari
hipotiroid adalah dengan adanya penurunan sintesis dan
katabolisme lipoprotein. Sebuah studi menunjukkan kadar
kolesterol total serum, trigliserid, dan Low Density Lipoprotein
(LDL) secara signifikan meningkat akibat penurunan aktivitas
lipase hati dan konsentrasi High Density Lipoprotein (HDL)
pada pasien hipotroid klinik dibandingkan dengan pasien
eutiroid (Shashi, A., Sharma 2012).
Pengaturan konsumsi lemak dianjurkan sekitar 15-25
persen dari kebutuhan energi total. Sumber lemak untuk
dapat diperbanyak dari sumber lemak tidak jenuh seperti
minyak nabati (minyak biji bunga matahari, minyak wijen,
minyak kedelai, olive oil), dan ikan laut. Sedangkan sumber
lemak jenuh seperti minyak kelapa sawit, lemak hewan
ruminansia harus dibatasi. Sumber makanan tinggi kolesterol
terutama jerohan dan kuning telur juga harus dibatasi dalam
pengaturan diet penderita hipotiroid.
5. Serat
Buah dan sayur merupakan bahan makanan tinggi
serat. Pasien hipotiroid dianjurkan untuk mengonsumsi serat
dengan jumlah yang cukup. Fungsi serat pada kondisi ini
dapat membantu menstabilkan kadar glukosa dan profil lipid
tubuh yang mengalami gangguan. Selain itu serat juga
bermanfaat untuk mengurangi gejala hipotiroid yaitu
konstipasi. Konsumsi serat yang dianjurkan sekitar 25 gram
per hari. Berdasarkan pedoman gizi seimbang Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia dianjurkan untuk

116
mengonsumsi buah dan sayur sekitar 5 porsi per hari atau
sekitar 400-500 gram per hari dengan sekitar dua per tiga-nya
adalah sayur (Kemenkes 2014).
Beberapa jenis sayuran memilki kandungan zat
goitrogenik seperti sianida. Zat non gizi ini dianggap dapat
menghambat penggunaan iodium oleh tubuh terutama pada
pasien dengan defisiensi iodium. Sehingga konsumsi sayur
seperti pada Tabel 5.1 harus diolah. Pasien hipotiroid tidak
disarankan untuk mengonsumsi sayur mentah. Beberapa
jenis proses pemasakan seperti perebusan dan penumisan
dapat menurunkan kadar sianida dalam bahan makanan
tersebut. Berikut merupakan tabel penurunan kadar sianida
dalam bahan makanan dengan proses pemasakan. Selain
proses pemasakan, buah dan sayuran perlu dicuci sebelum
dikonsumsi. Kandungan pestisida juga dapat menganggu
absorbsi iodium.

117
Tabel 5.1 Kadar Sianida pada Bahan Makanan Sebelum dan
Sesudah Berbagai Proses Pemasakan (Murdiana & Saidin 2001)
No Nama Bahan Kadar Cianida
Mentah Rebus Tumis
1 Bayam 3,84 1,87 0,65
2 Bunga Kol 5,64 4,50 4,03
3 Sawi hijau 2,52 0.41 4,03
4 Cabe hijau 3,99 0,62 0,55
5 Daun kacang panjang 9,32 0,0 0,78
6 Daun bawang merah 5,45 2,24 3,33
7 Daun bawang bakung 8,47 5,40 8,09
8 Daun melinjo 12,97 6,67 7,83
9 Daun singkong 1,64 0,00 0,90
10 Daun pepaya 9,18 0,00 8,69
11 Jagung muda 5,89 0,73 3,54
12 Kulit tangkil 19,58 14,90 14,90
13 Kol 12,09 3,95 4,28
14 Kangkung 6,85 0,00 0,97
15 Koro 2,54 1,35 0,67
16 Sawi putih 4,75 1,96 0,36
17 Seledri 3,66 0,00 3,27
18 Buncis 6,42 3,70 2,11
19 Gambas 5,11 0,00 0,00
20 Pare 6,15 0,37 2,99
21 Selada Air 18,54 6,74 8,58
22 Terong ungu 4,09 1,09 3,56
23 Ubi 3,88 1,04 2,80
24 Singkong 7,80 0,20 1,38
25 Ganyong 5,58 1,75 2,28
26 Gatot 5,22 2,02 2,57
27 Talas 4,68 0,37 2,54

Pada pasien hipotiroid dengan pengobatan levotiroksin,


asupan serat perlu diatur. Beberapa studi menunjukkan
bahwa serat dapat mengurangi biovailibilitas levotiroksin
pada pasien hipotiroid. Konsumsi makanan atau minuman
tinggi serat dianjurkan untuk dikonsumsi tidak berbarengan
dengan saat meminum levotiroksin akan tetapi dapat
mengonsumsi satu jam sebelum atau setelah konsumsi obat
(Vinagre & Souza 2011).

118
6. Vitamin
Risiko defisiensi berbagai jenis vitamin seperti vitamin
B kompleks dan vitamin D yang berperan sebagai antioksidan
diketahui terjadi pada pasien dengan gangguan tiroid akibat
autoimun. Defisiensi vitamin antioksidan pada kondisi ini
disebabkan oleh stress oksidatif yang juga dapat
menyebabkan kerusakan sel baik fungsional maupun
strukturalnya. Reactive Oxygen Species (ROS) diketahui
merupakan radikal bebas yang dapat merusak fungsi kelenjar
tiroid. Masyarakat yang memiliki pola makan rendah vitamin
A dan iodium memiliki insidensi kasus hipotiroid yang lebih
tinggi dibandingkan dengan kelompok yang hanya
mengalami defisiensi iodium. Suplementasi vitamin A dan
iodium juga diketahui menurunkan risiko kejadian gondok
(Kawicka & Regulska-ilow 2015).
Pengaturan kebutuhan vitamin pada penderita
hipotiroid diberikan secara cukup sesuai dengan angka
kecukupan gizi. Pemberian suplementasi tidak diperlukan
pada pasien yang tidak memilki indikasi kekurangan vitamin
tertentu akan tetapi dengan memberikan diet yang beragam
pada sumber makanan karbohidtrat, protein, lemak, sayur,
dan buah dapat mencukupi kebutuhan harian vitamin.
7. Mineral
Kebutuhan mineral juga perlu diperhatikan pada
penderita hipotiroid. Mineral-mineral tersebut diantaranya
iodium, selenium, zink, dan besi. Iodium merupakan bahan
baku hormon tiroid. Pada daerah dimana kandungan air dan
tanahnya miskin iodium risiko terjadi kekurangan hormon

119
tiroid meningkat jika tidak diimbangi dengan asupan iodium
yang cukup. Hasil pertanian dan ternak di daerah tersebut
miskin iodium sehingga diperlukan bahan makanan sumber
iodium dari luar daerah tersebut.
Dalam tubuh manusia mengandung kurang lebih 15
hingga 20 mg iodium, dimana 80 persennya terakumulasi di
kelenjar tiroid. Pada orang dewasa rata-rata membutuhkan
150 µg iodium setiap hari. Kebutuhan ini meningkat pada
wanita hamil dan menyusui yang membutuhkan sekitar 220-
290 µg per hari dari makanan yang diasup. Sumber utama
iodium adalah susu beserta produknya, telur, dan ikan laut
(Kawicka & Regulska-ilow 2015). Rumput laut juga
merupakan bahan makanan dengan kandungan iodium yang
tinggi. Pada daerah yang sulit mendapatkan bahan makanan
sumber iodium, maka harus menggunakan garam beriodium
sebagai bumbu memasak ataupun garam meja. Meskipun
iodium diperlukan pada penderita hipotiroid, konsumsi bahan
makanan dengan kandunga iodium yang sangat tinggi seperti
produk laut harus diatur dengan pola diet yang baik.
Konsumsi iodium yang berlebihan dapat memicu kondisi
hipertiroid (Kumar et al.2014).
Konsentrasi tinggi selenium salah satunya berada di
kelenjar tiroid. Zat gizi ini memilki peran yang penting dalam
pembentukan hormon tiroid dan mencegah kerusakan
kelenjar tiroid akibat radikal bebas maupun kelebihan asupan
iodium (Ventura et al. 2017). Bahan makanan tinggi protein
biasanya mengandung banyak selenium seperti daging, ikan,
susu, dan telur. Sumber selenium pada produk nabati

120
bergantung pada kandungan selenium pada tanah di daerah
setempat. Konsumsi produk hewani yang cukup diharapkan
mampu mencukupi kebutuhan selenium harian. Suplementasi
selenium dibutuhkan jika pasien tidak mampu mengonsumsi
makanan sumber protrin hewani dalam jangka waktu yang
lama dan dalam jumlah yang tidak cukup. Angka kecukupan
gizi harian selenium untuk orang dewasa sekitar 30 mcg.
Selain selenium, zink, dan zat besi juga perlu untuk
diperhatikan pada diet penderita hipotiroid. Kecukupan
asupan makanan dari protein hewani juga diharapkan
mampu mencukupi kebutuhan harian dari zat gizi tersebut.

INTERAKSI OBAT DAN MAKANAN PENDERITA


HIPOTIROID
Sejak tahun 1960-an, levotiroksin yang merupakan L-
isomer tiroksin (LT4) menjadi gold standard untuk pengobatan
hipotiroidisme. Terapi biasanya diberikan dalam bentuk tablet
dengan dosis kecil (mikrogram). Proses absorbsi pada saluran
pencernaan merupakan proses penting penentu efek
farmakologis dari obat ini. LT4 oral diserap terutama di jejenum
dan ileum (Skelin et al.2017).
Makanan merupakan salah satu faktor penting yang
memiliki efek yang signifikan dalam proses absorbsi obat oral.
Efek makanan pada bioavailibilitas obat juga bergantung pada
jenis makanan yang dikonsumsi. Makanan tinggi lemak
memiliki efek fisiologis yang besar pada sistem pencernaan,
dimana dapat memperlambat pengosongan lambung dan
meningkatkan sekresi dari empedu dan pankreas. Selain

121
komposisi makanan, jarak waktu makan dengan konsumsi obat
juga penting untuk diatur dalam meningkatkan bioavailibilitas
obat tersebut (Skelin et al.2017).
Terkait pengaturan makan dan konsumsi obat, beberapa
penelitian menunjukkan LT4 lebih efektif ketika dikonsumsi
dalam kondisi lambung kosong setengah hingga satu jam
sebelum sarapan. Sekitar 10 pasien yang diberi LT4 bersamaan
dengan sarapan menunjukkan kadar Thyroid Stimulating
Hormone (TSH) yang tetap meningkat. Perubahan pola
pemberian obat dengan mengonsumsinya 45-60 menit sebelum
makan selama 2 bulan menunjukkan hasil yang signifikan
dengan penuruhan TSH dan kenaikan kadar tiroid bebas. Dalam
penelitian ini juga terbukti pemberian obat 15 menit sebelum
makan tidak dapat menghindari interaksi antara LT4 dengan
makanan (Skelin et al.2017).
Selain jadwal konsumsi obat dan makanan yang
mempengaruhi bioavailibilitas, beberapa jenis bahan makanan
juga perlu diperhatikan karena juga mempengaruhi hal tersebut.
Berikut merupakan bahan makanan yang perlu diperhatikan :
1. Serat
Beberapa penelitian terkait pengaruh serat terhadap
absorbsi LT4 menunjukkan hasil yang berbeda. Sehingga
konsumsi LT4 juga disarankan untuk dilakukan 30 menit
hingga satu jam sebelum makan termasuk makanan tinggi
serat seperti buah dan sayur (Skelin et al.2017).
2. Kacang kedelai dan produknya
Penelitian pada 78 bayi yang mengalami hipotiroid
kongenital menunjukkan adanya interaksi antara produk

122
kedelai dengan LT4. Dengan asumsi mengalami intoleransi
laktosa makan bayi diberi makanan yang mengandung bahan
kedelai. Setelah satu jam pemberian makanan jenis tersebut
kemudian bayi diberi LT4. Meskipun diberi dosis besar yaitu
15 µg/kg/hari, kadar TSH tetap meningkat secara signifikan.
Setelah mengganti dengan makanan berbahan dasar susu
sapi, kadar TSH menurun secara signifikan dalam 3 minggu
dan diikuti dengan penurunan dosis (Skelin et al.2017).
Beberapa penelitian retrospektif juga menunjukkan hal
yang sama pada kondisi adanya kontaminasi produk kedelai
saat mengonsumsi LT4 dapat menurunkan tingkat
penyerapan obat. Konsekuensi dari kondisi tersebut adalah
dengan menaikkan dosis untuk mencapai nilai target TSH
(Skelin et al.2017).
3. Kopi
Kopi juga memiliki interaksi dengan LT4. Sebuah
penelitian menunjukkan pemberian LT4 bersamaan dengan
kopi berdampak pada kondisi hipotiroid yang makin parah.
Kondisi tersebut dapat diperbaiki dengan mengonsumsi obat
minimal setengah jam sebelum minum kopi. Hasil yang sama
juga tercatat pada 7 kasus yang sama dan menunjukkan
interaksi antara kopi dengan obat secara invitro. Studi kasus
pada 8 pasien menunjukkan adanya pengaruh bentuk obat
terhadap interaksi dengan LT4. Obat dalam bentuk kapsul
softgel tidak berinteraksi dengan kopi dibanding dalam
bentuk tablet (Skelin et al.2017).

123
4. Jeruk Bali Merah (Gapefruit)
Gapefruit memiliki interaksi dengan obat-obatan
diantaranya LT4. Studi kasus pada pasien yang diberi dosis
LT4 100 µg/hari bersamaan dengan jus gapefruit dalam
jumlah yang banyak menunjukkan adanya peningkatan kadar
TSH. Meskipun dosis obat dinaikkan hingga 150 µg/hari tidak
memberikan efek pada penurunan TSH. Dokter dari pasien
tersebut menyarankan untuk berhenti mengonsumsi jus
gapefruit dan tetap mengonsumsi obat hingga kadar hormon
normal. Hal tersebut menunjukkan bahwa jus gapefruit dapat
menghambat penyerapan LT4 (Skelin et al.2017).
5. Vitamin C
Sebuah penelitian menyatakan peningkatan PH
lambung dapat berakibat pada penurunan absorbsi LT4.
Berdasarkan penemuan tersebut dilakukan studi lanjut pada
pasien untuk mengetahui efek Vitamin C terhadap absorbsi
LT4. Pada 28 pasien yang mengalami hipotiroid dan
mengalami gangguan respon terhadap LT 4 dimana pasien
memilki dosis LT4 >1,7 µg/hari. Pada pasien tersebut
mendapatkan perlakuan pemberian obat dan vitamin C
sebanyak satu gram yang dilarutkan dalam air putih. Terapi
tersebut menjadi standar terapi dalam beberapa hari.
Pemberian vitamin C mampu menurunkan PH hingga 3 poin.
Hasil menunjukkan adanya penurunan kadar TSH secara
signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa vitamin C dapat
meningkatkan absorbsi LT4 (Skelin et al.2017).

124
MAKANAN/MINUMAN YANG DIANJURKAN DAN
DIBATASI
Berikut merupakan beberapa jenis bahan makanan dan
minuman yang dianjurkan dan dibatasi dalam tata laksana
pasien hipotiroid. Meskipun demikian, kondisi pasien bersifat
personal sehingga tidak dapat disamakan. Kondisi tertentu
seperti adanya alergi ataupun penyakit penyerta yang lain,
kebiasaan, kesukaan, dan budaya perlu dipertimbangkan.
Tabel 5.2 Bahan Makanan/Minuman yang Dianjurkan/Dibatasi
untuk Pasien Hipotiroid
Kategori Dianjurkan Dibatasi
Makanan pokok Nasi, roti,mie Singkong, ubi, jagung,
makanan instan
Lauk hewani Sea food, telur, daging Jeroan, lauk hewani
ayam tanpa lemak, daging awetan/kaleng
sapi
Lauk nabati Tahu, tempe, kacang-
kacangan
Sayur-sayuran Sayuran yang telah diolah Kol, brokoli, sayuran
mentah (lalapan)
Buah-buahan Pepaya, pisang, jeruk, Manisan buah
mangga, dll
Minuman Air putih, jus buah segar Minuman berenergi, soda,
sirup, kopi, gapefruit

Selain hal-hal diatas ada beberapa kebiasaan sehat yang


perlu dilaksanakan oleh penderita hipotiroid, diantaranya :
1. Menghindari asap rokok
Sebuah meta analisis (Gutaj et al. 2013) menyebutkan
bahwa kadar TSH pada perokok meningkat dan berisiko
terjadinya hipotiroid. Kondisi ini juga terjadi pada perokok
pasif. Asap rokok juga dapat mempengaruhi fungsi tiroid

125
pada janin dan bayi. Penderita hipotiroid diharapkan untuk
berhenti merokok dan menghindari asap rokok.
2. Menggunakan alat pelindung diri jika sedang menyemprot
pestisida pada tanaman
Residu pestisida merupakan salah satu zat kimia
yang dapat menghambat produksi hormon tiroid. Paparan
pestisida secara terus menerus dapat memperparah kondisi
penderita hipotiroid. Penelitian yang dilakukan pada
pekerja formulasi pestisida menunjukkan adanya
peningkatan kadar TSH dan penurunan kadar T3 secara
signifikan. Durasi paparan menentukan keparahan kondisi
tersebut. Pada pekerja dengan tingkat paparan pestisida
tinggi seperti petani dapat menggunakan alat pelindung
diri seperti masker, sarung tangan, penutup kepala, dan
sepatu pada saat beraktivitas menyemprot atau kegiatan
lain di sawah.
3. Memastikan menggunakan garam beriodium
Progam fortifikasi iodium pada garam merupakan satu-
satunya progam pemerintah terkait GAKI yang masih ada
hingga saat ini. Iodium dibutuhkan oleh orang sehat maupun
penderita hipotiroid. Garam beriodium merupakan salah satu
sumber iodium yang murah dan mudah didapat. Diharapkan
penderita hipotiroid menggunakan garam beriodium baik
untuk bumbu memasak, maupun garam meja yang dapat
ditambahkan dalam makanan. Mengingat iodium pada garam
mudah hilang atau menguap ada beberapa hal yang perlu
diperhatikan dalam penggunaannya.

126
• Proses pembelian : membeli garam dengan label
beriodium, tidak membeli garam krosok, membeli
dalam jumlah yang cukup (untuk kebutuhan 1-2
minggu), kemasan tidak rusak.
• Proses penyimpanan : menyimpan dalam wadah
tertutup dan tidak transparan, menghindari terkena
cahaya matahari langsung, menyimpan tidak
berdekatan dengan sumber panas/perapian.
• Proses penggunaan : digunakan untuk menghaluskan
bumbu hanya sedikit, ditambahkan pada proses akhir
pemasakan, digunakan sebagai garam meja.
4. Mencuci buah dan sayur dengan air mengalir sebelum
dikonsumsi.
Hal ini berkaitan dengan residu pestisida yang
kemungkinan masih menempel pada sayur dan buah.
Diharapkan sayur dan buah dicuci dengan air mengalir
sebelum dikonsumsi atau diolah.
5. Beraktivitas fisik secara teratur, minimal 30 menit selama 3
kali per minggu.

PENUTUP
Penderita hipotiroid berisiko mengalami masalah gizi.
Salah satu kerangka intervensi dalam penanganan masalah gizi
adalah pengaturan diet atau asupan. Pada kasus hipotiroid
pengaturan diet dilakukan sesuai dengan masah gizi yang
ditemukan. Pengaturan ini penting dilakukan untuk mencegah
status gizi lebih buruk dan mengoptimalkan status gizi yang
baik. Pengaturan diet bersifat individu sesuai dengan masalah

127
pasien. Pengaturan diet memperhatikan asupan zat gizi makro,
mikro termasuk iodium, interaksi obat dengan makanan, serta
didukung dengan aktivitas fisik.

128
Daftar Pustaka

American Thyroid Assosiation, 2015. Hypothyroidism |


American Thyroid Association. https://www.thyroid.org/wp-
content/uploads/patients/brochures/Thyroid_and_Weight.pdf.
Available at: http://www.thyroid.org/hypothyroidism/.
Collins, N., 2002. Estimating caloric needs to promote wound
healing. Advances in skin & wound care, 15(3), pp.140–141.
Curley, P.A., 2009. Dietary and Lifestyle Interventions to
Support Functional Hypothyroidism. Inquiries
Journal/Student Pulse, 1(12).
Ferrie, S. & Ward, M., 2007. Back to basics: Estimating energy
requirements for adult hospital patients. Nutrition and
Dietetics, 64(3), pp.192–199.
Grodner, M., Roth, S.L. & Walkingshaw, B.C., 2012. Nutrition &
Medication and Metabolic Stress. Nutritional Foundations
and ClinicalApplications, pp.341–356.
Gutaj et al., 2013. Influence of cigarette smoking on thyroid
gland — an update. Endokrynologia Polska, 64(6), pp.480–
493.
Hari Kumar, K.V.S. & Baruah, M., 2012. Nutritional endocrine
disorders. Journal of Medical Nutrition and Nutraceuticals,
1(1), p.5. Available at:
http://www.jmnn.org/text.asp?2012/1/1/5/94627.
Kawicka, A. & Regulska-ilow, B., 2015. Metabolic disorders and
nutritional status in autoimmune thyroid diseases. Postepy
Hig Med Dosw (online),, 69, pp.80–90.
Kemenkes, 2014. Pedoman gizi seimbang.
Khanam, S., 2018. Impact of zinc on thyroid metabolism. , 5(1),
pp.1–2.
Kumar, K.V.S.H., Sharma, R. & Bharti, S., 2014. Diet and thyroid
- myths and facts. Journal of Medical Nutrition and
Nutraceuticals, 3(2), p.180. Available at:

129
http://www.jmnn.org/text.asp?2014/3/2/180/131954.
Messina, M. & Redmond, G., 2006. Effects of soy protein and
soybean isoflavones on thyroid function in healthy adults
and hypothyroid patients: a review of the relevant
literature. Thyroid : official journal of the American Thyroid
Association, 16(3), pp.249–258. Available at:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/16571087.
Miyakawa et al., 1999. Serum leptin levels and bioelectrical
impedance assessment of body composition in patients with
Graves’ disease and hypothyroidism. , 46(5), pp.665–673.
Available at:
http://ovidsp.ovid.com/ovidweb.cgi?T=JS&CSC=Y&NEWS=
N&PAGE=fulltext&D=emed4&AN=1999409150.
Mullur, R., Liu, Y.-Y. & Brent, G.A., 2014. Thyroid Hormone
Regulation of Metabolism. Physiological Reviews, 94(2),
pp.355–382. Available at:
http://physrev.physiology.org/cgi/doi/10.1152/physrev.0003
0.2013.
Murdiana, A. & Saidin, S., 2001. Kadar Slanlda Dalam Sayuran
Dan Umbi-Uh8ian Dl Daerah Gangguan Aklbat Kurang
Yodium (Gaky). Penelitian Gizi dan Makanan, 24(3), pp.33–
37.
NIDDK (National Institute of Diabetes and Digestif and Kidney
Desease) US, 2013. Hypothyroidism. NIH Publication (US),
(No. 13–6180). Available at: www.endocrine.niddk.nih.gov.
Ningtyias, F.W. et al., 2015. Raw Food, Goitrogenic and IDD.
Buletin Penelitian Sistem Kesehatan, 18(1), pp.105–110.
Pankaj Abrol, A.V. and H. 8. H., 2001. Thyroid Hormone Status
in Protein Energy Malnutrition in Indian Children. Indian
Journalof OinicalBiochemistry, 16(2), pp.221–223.
Pinheiro Volp, a C. et al., 2011. Energy expenditure: components
and evaluation methods. Nutricion hospitalaria : organo
oficial de la Sociedad Espanola de Nutricion Parenteral y
Enteral, 26(3), pp.430–440.

130
Sandeep, M. & Krishnamurthy, B., 2016. Thyroid hormone status
in children with protein energy malnutrition. International
Journalof Contemporary Pediatrics, 3(1), pp.193–199.
Shashi, A., Sharma, N., 2012. Lipid profile abnormalities in
hypothyroidism. InternationalJournalof Science and Nature,
3(2), pp.354–360.
Simundic, A.-M. et al., 2009. Thyroid Diseases: Epidemiology,
Pathophysiology And Classification. In New Trends In
Classification, Diagnosis And Management Of Thyroid
Diseases Handbook. p. 11. Available at:
https://www.eflm.eu/files/efcc/9th_EFCC_Handbook.pdf.
Skelin, M. et al., 2017. Factors Affecting Gastrointestinal
Absorption of Levothyroxine: A Review. Clinical
Therapeutics, 39(2), pp.378–403.
Tarım, Ö., 2011. Thyroid Hormones and Growth in Health and
Disease - Review. journal of Clinical Research in Pediatric
Endocrinology, 3(2), pp.51–55. Available at:
http://cms.galenos.com.tr/FileIssue/1/379/article/51-55.pdf.
Ventura, M., Melo, M. & Carrilho, F., 2017. Selenium and thyroid
disease: From pathophysiology to treatment. International
Journalof Endocrinology, 2017.
Vinagre, A.L.M. & Souza, M.V.L. de, 2011. Levothyroxine
absorption and difficult management of hypothyroid
patients in the intensive care unit: two case reports and a
literature review Interferências. Revista Brasileira de Terapia
Intensiva, 23(2), pp.242–248. Available at:
Webb, G.P., 2012. Nutrition Maintaining and Improving Health
4th ed., London: Hodder Arnold an Hacchette UK
Company.

131
Bab 6
Asuhan Gizi Pasien
Hipotiroid di Klinik
Litbang GAKI Magelang
oleh :
Ismi Setianingsih, Hastin Dyah Kusumawardhani,
Slamet Riyanto, Cicik Harfana, Candra Puspitasari,
Palupi Dyah Ayuni

BESARAN KASUS HIPOTIROID DI KLINIK LITBANG


GAKI MAGELANG
Klinik Litbang GAKI Magelang merupakan implementasi
dari riset berbasis pelayanan. Pelayanan yang dilakukan adalah
dalam rangka riset untuk memenuhi kebutuhan data penelitian.
Klinik Litbang GAKI Magelang juga telah dilengkapi izin dari
Dinas Kesehatan Kabupaten Magelang dengan Nomor:
188.45/598/21/2014. Terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan
dalam rangka penelitian, meliputi :
1. Penyampaian informed consent kepada pasien (sebagai
responden)
2. Wawancara terkait identitas responden, riwayat
keluarga dan kondisi kesehatan lingkungan
3. Pemeriksaan dan konsultasi klinis
4. Pelayanan dan konsultasi gizi
5. Pelayanan dan konsultasi psikologi
6. Pelayanan dan konsultasi fisioterapi

132
7. Pelayanan farmasi/pengobatan
8. Dokumentasi pasien yang disertai informed consent
9. Pemeriksaan laboratorium
10. Manajemen data yang mengelola data klinik untuk
dimanfaatkan dalam penelitian
Berikut adalah besaran kasus hipotiroid di Klinik Litbang
GAKI Magelang yang diagnosanya ditegakkan berdasarkan hasil
pemeriksaan biokimia :
Tabel 6.1 Besaran Kasus Hipotiroid di Klinik Litbang GAKI
Magelang
Tahun Jumlah Pasien Persentase
Hipotiroid
2013 49 6,19%
2014 53 11,69%
2015 37 8,13%
2016 33 8,00%
Sumber : Balai Litbang GAKI, 2013-2016

KARAKTERISTIK PASIEN DI KLINIK LITBANG GAKI


MAGELANG
Pasien yang berkunjung ke klinik Litbang GAKI Magelang
terdiri dari pasien baru dan pasien lama. Pasien baru adalah
pasien yang baru sekali berkunjung ke Klinik Litbang GAKI
Magelang sedangkan pasien lama adalah pasien yang
berkunjung ulang untuk memantau perkembangan hasil terapi
yang telah diberikan. Pasien dewasa lebih banyak dibandingkan
pasien anak-anak. Tabel 6.2 berikut ini menunjukkan jumlah
pasien berdasarkan usia.

133
Tabel 6.2 Jumlah Pasien Hipotiroid di Klinik Litbang GAKI
Magelang berdasarkan Usia
Tahun Dewasa Anak
2013 60,47% 39,53%
2014 61,91% 38,09%
2015 69,57% 30,43%
2016 72,22% 27,78%
Sumber : Balai Litbang GAKI, 2013-2016

Pasien di Klinik Litbang Kesehatan Magelang lebih dari


separuh berjenis kelamin perempuan. Hal ini sesuai dengan
penelitian yang ada bahwa prevalensi hipotiroid pada
perempuan sepuluh kali lebih banyak ditemukan dibandingkan
pada laki-laki. Perbedaan prevalensi ini timbul karena pada
perempuan, terjadi peningkatan sintesis tiroglobulin di sel hepar
yang dipicu oleh estrogen (Mazzaferri, 1997). Tabel 6.3 berikut
ini jumlah pasien Klinik Litbang Kesehatan Magelang
berdasarkan jenis kelamin.
Tabel 6.3 Jumlah Pasien Hipotiroid di Klinik Litbang GAKI
Magelang berdasarkan Jenis Kelamin
Tahun Laki-laki Wanita
2013 30,23% 69,77%
2014 20,63% 79,37%
2015 21,74% 78,26%
2016 20,37% 79,63%
Sumber : Balai Litbang GAKI, 2013-2016

Pasien yang berasal dari Magelang hampir sama dengan


pasien yang berasal dari luar Magelang. Pasien yang berasal dari
luar Magelang meliputi kota-kota seperti Temanggung,
Wonosobo, Purworejo, Yogyakarta, dan lainnya. Tabel 6.4
menunjukkan jumlah pasien berdasarkan asalnya.

134
Tabel 6.4 Jumlah Pasien hipotiroid di Klinik Litbang GAKI
Magelang berdasarkan Asal Daerah
Tahun Magelang Luar Magelang
2013 51,16% 48,84%
2014 33,33% 66,67%
2015 30,43% 69,57%
2016 27,78% 72,22%
Sumber : Balai Litbang GAKI, 2013-2016

PROSES ASUHAN GIZI


Klinik Litbang GAKI Magelang merupakan klinik riset
berbasis pelayanan. Riset berbasis pelayanan merupakan salah
satu tugas dari Balai Litbang Kesehatan Magelang sesuai dengan
PMK No. 65 tahun 2017. Pelayanan utama di klinik ini meliputi
penanganan pasien dengan Gangguan Akibat Kekurangan
Iodium (GAKI) dan masalah terkait fungsi tiroid lain seperti
hipertiroid. Sehingga secara umum klinik ini adalah klinik
khusus yang hanya menerima pasien sesuai dengan kriteria
inklusi dalam protokol penelitian.
Pelayanan di Klinik Litbang GAKI Magelang sesuai dengan
prinsip dan kaidah penelitian. Pasien diminta persetujuanya
sebagai responden penelitian dengan menandatangani inform
consent setelah diberi penjelasan oleh petugas terkait kegiatan
riset berbasis pelayanan. Jika pasien menyetujui sebagai
responden penelitian maka kegiatan pelayanan akan dilanjutkan
sesuai dengan alur yang ada.
Penegakan diagnosis pasien didasarkan pada hasil
pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui fungsi tiroid
dengan indikator TSH dan fT4. Diagnosis ditegakkan oleh
dokter dan dalam penangananya didukung oleh asuhan

135
kesehatan yang lain meliputi gizi, keperawatan, farmasi,
psikologi, dan fisioterapi. Integrasi pelayanan ini selain
dimaksudkan untuk melihat kondisi pasien dari berbagai sudut
pandang dalam rangka kebutuhan penelitian, juga diharapkan
mampu meningkatkan efektifitas terapi .Secara umum berikut
merupakan bagan kegiatan riset berbasis pelayanan Klinik Balai
Litbang Kesehatan Magelang :

136
Pasien Pendaftaran Pasien baru :
• Penyampaian naskah
penjelasan
• Tanda tangan informed
consent
• Wawancara kuesioner
penelitian

Anamnesa

Pemeriksaan Klinis

Suspect gangguan Non gangguan fungsi


Rujukan sesuai
fungsi tiroid tiroid
Kelainan

Pelayanan Diagnosis Klinis


Pelayanan Lab
Psikologi

Pelayanan Gizi
Pelayanan
Fisioterapi Pelayanan Farmasi

137
Gambar 6.1 Alur Pelayanan Pasien Baru di Klinik Litbang GAKI Magelang

138
Asuhan Gizi merupakan salah satu kegiatan penting di
Klinik Litbang GAKI Magelang. Beberapa kondisi hipotiroid
sangat erat kaitanya dengan gizi mulai dari asupan, metabolism,
hingga status gizi Pelayanan gizi secara umum ditujukan untuk
mendapatkan data sesuai dengan variabel penelitian terkait gizi
sekaligus memberikan pelayanan asuhan gizi pasien rawat jalan
terkait masalah fungsi tiroid.
Terdapat empat langkah dalam asuhan gizi terstandar
yaitu asesmen gizi, diagnosis gizi, intervensi gizi, dan
monitoring serta evaluasi gizi. Asuhan gizi bertujuan untuk
menstandarkan proses asuhan gizi serta memperjelas outcome
dari pasien dengan indikator yang terukur. Pendokumentasian
kegiatan asuhan gizi menggunakan form asuhan gizi pada
pasien dewasa dan anak yang dikembangkan oleh tenaga gizi di
Klinik Litbang GAKI Magelang. Berikut merupakan langkah-
langkah asuhan gizi terutama untuk pasien hipotiroid di Klinik
Litbang GAKI Magelang.
Pasien Skrining Gizi

Risiko Malnutrisi ↑ Risiko Malnutrisi ↓

Asesmen Gizi
Kunjungan I Kunjungan II

Diagnosis Gizi Diagnosis Gizi

Intervensi Gizi Intervensi Gizi

Tujuan Tidak Tercapai Monitoring &


Tujuan
/ Masalah baru Evaluasi
Kunjungan berikutnya

Gambar 6.2. Alur Asuhan Gizi di Klinik Litbang GAKI Magelang

139
Skrining Gizi
Kondisi gizi seseorang dapat memengaruhi terjadinya
berbagai penyakit. Selain itu, kondisi penyakit tertentu juga
dapat berdampak pada status gizi pada penderitanya. Skrining
gizi dilakukan untuk mengidentifikasi risiko malnutrisi pada
pasien (Neelemaat et al. 2008). Pasien dengan risiko malnutrisi
tinggi perlu segera dilakukan tindakan gizi agar status gizi tidak
semakin memburuk. Pasien yang tidak memiliki risiko
malnutrisi dapat di screening kembali satu minggu kemudian.
Ada berbagai alat skrining yang dikembangkan dan
digunakan oleh tenaga kesehatan di seluruh dunia. Experts of the
European Society for Clinical Nutrition and Metabolism (ESPEN)
menyatakan bahwa alat skrining harus berbasis bukti dan dapat
di validasi. Alat skrining juga harus mudah dan cepat
digunakan. Setidaknya terdapat tiga elemen yaitu Indeks Massa
Tubuh (IMT) saat ini, penurunan berat badan yang tidak
diharapkan, dan riwayat asupan sebelumnya. Beberapa contoh
alat skrining yang digunakan secara internasional diantaranya
NutritionalRisk Index (NRI), Subjective GlobalAssessment (SGA),
Mini Nutritional Assessment (MNA), Malnutrition Screening Tool
(MST), Nutritional Risk Screening (NRS 2002), Malnutrition
Universal Screening Tool (MUST), Short Nutritional Assessment
Questionnaire (SNAQ), dan lain-lain (Neelemaat et al. 2008).
Pasien hipotiroid memiliki risiko untuk mengalami
malnutrisi. Di Klinik Litbang GAKI proses skrining dilakukan
untuk menentukan prioritas penanganan asuhan gizi. Pasien
yang mengalami risiko malnutrisi tinggi akan ditindaklanjuti
dengan asesmen, diagnosis, dan intervensi gizi pada kunjungan

140
pertama meskipun indikator laboratorium belum dimiliki oleh
pasien. Indikator laboratorium akan disertakan pada asesmen
berikutnya pada kunjungan berikutnya.
Salah satu tantangan melakukan skrining di Klinik Litbang
GAKI adalah masih rendahnya kepedulian masyarakat terhadap
pemantauan berat badan dan terkadang pasien kurang sensitif
terhadap perubahan pada dirinya termasuk asupan. Di Klinik
Litbang GAKI mengadopsi skrining Simple Nutrition Screening
Tool (SNST) yang dikembangkan oleh Susetyowati (2013).
Berikut merupakan form skrining SNST :
Tabel 6.5. Form skrining SNST (Susetyowati 2014)
Jawaban (√) Skor
No Pertanyaan Ya = 1
Ya Tidak
Tidak = 0
1 Apakah pasien terlihat kurus?
2 Apakah pakaian anda terasa lebih
longgar ?
3 Apakah akhir-akhir ini Anda
kehilangan berat badan secara tidak
sengajan (3-6 bulan terakhir) ?
4 Apakah Anda mengalami penurunan
asupan makan selama 1 minggu
terakhir?
5 Apakah Anda merasakan lemah, loyo,
dan tidak bertenaga ?
6 Apakah Anda menderita suatu
penyakit yang mengakibatkan adanya
perubahan jumlah atau jenis makanan
yang Anda makan?
Total Skor
Kriteria Skor 0-2 : Tidak Berisiko Malnutrisi
Skor ≥3 : Berisiko Malnutrisi
Tidak Berisiko
Kesimpulan (√) Malnutrisi Berisiko Malnutrisi

Asesmen Gizi
Menurut British Dietetic Association (BDA) 2012, asesmen
gizi merupakan proses yang sistematis dalam pengumpulan dan

141
interpretasi informasi untuk membuat keputusan terkait
masalah gizi dan penyebabnya pada individu. Kegiatan asesmen
berbeda dengan skrining karena skrining hanya menentukan
risiko terjadinya malnutrisi secara singkat sedangkan asesmen
menggali data lebih mendalam secara terstruktur. Asesmen yang
terstruktur akan menghasilkan data yang mudah dianalisis dan
disimpulkan setelah dibandingkan dengan standar yang ada Hal
tersebut juga akan mempermudah dalam proses monitoring dan
evaluasi dikarenakan adanyanya indikator yang jelas, spesifik,
dan terukur.
Pada tahapan asesmen, tenaga gizi dituntut untuk berfikir
kritis dalam menentukan asesmen yang tepat bagi pasien.
Kemampuan berfikir kritis yang dibutuhkan dalam kegiatan ini
diantaranya dalam menentukan data yang tepat untuk
dikumpulkan, menentukan informasi tambahan yang
dibutuhkan, memilih alatpenilaian dan prosedur yang sesuai
dengan situasi serta kondisi pasien, menggunakan metode
penilaian yang valid dan reliabel, mampu memilih data yang
relevan dan tidak relevan, serta mampu memvalidasi data.
Di Klinik Litbang GAKI Magelang, kegiatan asesmen
dilakukan oleh tenaga gizi pada kunjungan pertama pasien baru
dan setiap kali kunjungan untuk pasien lama. Kunjungan ulang
pasien baru sekitar 1-2 minggu setelah kunjungan pertama,
sedangkan pasien lama sekitar 2 minggu hingga 1 bulan sesuai
dengan anjuran dokter. Asesmen dilakukan dengan beberapa
metode baik dengan pengukuran, pemeriksaan/observasi,
wawancara, dan melihat data di rekam medis pasien. Berikut
merupakan data yang dikumpulkan pada asesmen pasien:

142
a. Riwayat Makanan/ Gizi
Penggalian data jenis makananan yang sering
dikonsumsi melalui wawancara menggunakan form Food
Frequency (FFQ) Semi-Quantitative. Penggalian data ini
meliputi makanan sumber karbohidrat, protein, lemak,
sumber iodium, sumber zat goitrogenik, dan makanan
berisiko lain. Pasien diminta untuk mengingat kembali
mengenai kebiasaan makan beserta kuantitasnya dalam dua
minggu terakhir. Jika pasien tidak mengonsumsi dalam dua
minggu terakhir maka ditanyakan kembali pada rentang
waktu sebulan terakhir. Pertimbangan penggunaan metode
ini dirasa mampu menggambarkan pola konsumsi pasien
beserta kuantitas setiap bahan makananya. Kekurangan dari
metode ini tidak dapat mengetahui kecukupan asupan gizi
pasien dikarenakan tidak semua bahan makanan terdapat
pada daftar yang ditanyakan.
Data hasil FFQ didukung dengan wawancara reiwayat
kebiasaan makan dengan menanyakan beberapa hal
diantaranya frekuensi makan dalam sehari, kebiasaan
makanan selingan, kebiasaan mengonsumsi sayur dan buah,
konsumsi minuman padat gizi, konsumsi suplemen dan obat,
kakses makanan, pengetahuan dan praktik mengenai gizi,
serta aktivitas fisik. Kepercayaan/budaya terkait makan serta
diet yang sedang dijalani juga dapat dijadikan data riwayat
makanan/gizi. Data kemudian diringkas dan dicantumkan
pada form yang tersedia.

143
b. Antropometri
Data antropometri yang dikumpulkan meliputi data
berat badan, tinggi badan, usia, riwayat berat badan
sebelumnya, dan status gizi. Status gizi untuk pasien dewasa
ditentukan menggunakan Indeks Masa Tubuh (IMT)
sedangkan untuk anak-anak menggunakan indikator Z-score
BB/TB, TB/U, dan BB/U. Pada balita juga diminta membawa
KMS (Kartu Menuju Sehat) pada pertemuan berikutnya untuk
mengetahui pola pertumbuhan bayi tersebut. Riwayat berat
badan digunakan untuk mengetahui kenaikan atau
penurunan berat badan dalam waktu terdekat. Perubahan
berat badan yang tidak direncanakan lebih dari 5 persen pada
3-6 bulan terakhir merupakan salah satu indikator malnutrisi
yang perlu diwaspadai. Pada wanita hamil status gizi
ditentukan dengan mengukur Lingkar Lengan Atas (LiLA).
Guna menjaga kualitas data seluruh alat ukur berat
badan dikalibrasi setiap tahun. Standar Operational Prosedur
kegiatan pengukuran antropometri juga perlu ditetapkan
untuk menyamakan persepsi antar pengukur sehingga dapat
menghasilkan data yang sama.
c. Biokimia
Data biokimia yang didapatkan berupa data biokimia
untuk menunjukkan fungsi tiroid pasien yaitu dengan
indikator TSH dan fT4. Meskipun indikator tersebut tidak
terlalu kuat untuk menunjukkan status iodium individu,akan
tetapi masih dapat digunakan sebagai pertimbangan
penentuan risiko masalah gizi. Pemeriksaan dilakukan di

144
Laboratorium Biokimia Balai Litbangkes Magelang yang telah
terakreditasi.
d. Fisik/Klinis
Data fisik klinis diperoleh dari pemeriksaan oleh
perawat dan wawancara. Data meliputi tekanan darah,
kemampuan menelan makanan akibat pembesaran kelenjar
gondok, kemampuan mengunyah, dan data lain yang relevan
dan terkait permasalahan gizi pasien. Pada kondisi hipotiroid
kondisi klinis yang mungkin terjadi seperti susah buang air
besar (konstipasi), tidak tahan dingin, adanya oedema,
kesulitan menelan, nadi yang lemah, dan tidak tahan
terhadap dingin. Kondisi tersebut penting diketahui untut
merumuskan masalah gizi terkait kondisi klinis paien.
e. Riwayat Pasien
Riwayat personal pasien yang ditanyakan diantaranya
mengenai sosial ekonomi, pendidikan, riwayat penyakit, dan
riwayat pengobatan.

Data yang telah dikumpulkan kemudian diidentifikasi


kembali untuk menentukan ada tidaknya masalah pada setiap
bagian asesmen yaitu berdasarkan data antropometri, fisik/klinis,
riwayat makanan/gizi, dan riwayat personal. Identifikasi akan
memudahkan dalam penentuan diagnosis gizi pasien.

Diagnosis Gizi
Diagnosis gizi berbeda dengan diagnosis medis. Pada
tahapan ini diperlukan kecermatan tersendiri dari ahli gizi agar
tidak terjebak dalam diagnosis medis. Tujuan adanya diagnosis

145
gizi ini adalah menentukan masalah gizi yang spesifik dan
terukur berdasarkan hasil asesmen yang mampu diselesaikan
oleh ahli gizi. Dalam proses asuhan gizi penentuan diagnosis
menjadi hal yang kritis karena sebagai jembatan antara asesmen
gizi dan intervensi. Keberhasilan intervensi juga bergantung
pada ketepatan diagnosis gizi yang ditentukan.
Terminologi problem diagnosis gizi sesuai dengan
International Dietetic and Nutrition Terminology (IDNT).
Penulisan diagnosis menggunakan pernyataan PES (Problem,
Etiology, Signs/Symtoms) yaitu “label problem gizi berkaitan
dengan _________ ditandai oleh __________”. Beberapa
kemungkinan problem gizi yang ditemui pada kasus hipotiroid
diantaranya :
1. Domain Asupan (NI)
• Asupan energi tidak adekuat (NI-1.4)
Pada kasus hipotiroid di Klinik Litbang GAKI kondisi
asupan energi yang tidak adekuat ditunjukkan dengan
pola makan sumber energi berdasarkan FFQ-SQ dan
riwayat makan yang tidak sesuai dengan gambaran
kebutuhan pasien. Beberapa kemungkinan penyebabnya
adalah kurangnya pengetahuan mengenai gizi dan
makanan, kurangnya akses terhadap makanan bergizi, dan
rasa malas untuk makan akibat penyakit yang diderita.
Kondisi ini dapat ditandai dengan penurunan berat badan,
status gizi yang kurang, pola makan tidak teratur, dan
pengetahuan yang kurang mengenai makanan bergizi.

146
• Kelebihan asupan energi (NI-1.5)
Selain asupan energi yang tidak adekuat, pada
kondisi hipotiroid pasien juga dimungkinkan mengalami
kelebihan asupan energi. Kondisi ini dapat dilihat
berdasarkan pola makan hasil FFQ-SQ dan riwayat
makannya yang menggambarkan kulaitas dan kuantitas
yang melebihi kebutuhan tubuh. Hal ini dapat diakibatkan
karena adanya penurunan laju metabolisme tubuh,
kurangnya pengetahuan tentang makanan dan gizi,
kurangnya akses terhadap makanan sehat. Kondisi ini
dapat ditandai kenaikan berat badan yang tidak
diharapkan, status gizi kelebihan berat badan-obesitas,
pengetahuan terkait makanan bergizi kurang, dan pola
konsumsi yang lebih banyak makanan/minuman tinggi
energi.
• Kelebihan asupan zat bioaktif (NI-4.2)
Pada penderita hipotiroid salah satu zat aktif yang
perlu diperhatikan adalah zat yang bersifat goitrogenik
karena dapat menghambat metabolisme iodium. Kondisi
kelebihan asupan dapat diketahui dari hasil FFQ-SQ dan
riwayat makan. Kondisi ini kemungkinan disebabkan oleh
ketidaktahuan terkait pengaturan makan pada penderita
hipotiroid. Tanda dan gejala yang mungkin ditimbulkan
yaitu dengan banyaknya makanan sumber zat goitrogenik
yang dikonsumsi dan indikator laboratorium fungsi tiroid
yang tidak membaik.

147
• Malnutrisi energi-protein kronis (NI-5.2)
Kondisi ini terjadi akibat kekurangan asupan energi
dan protein dalam jangka waktu yang lama sehingga
tubuh akan kehilangan masa lemak dan atau otot. Kondisi
kekurangan asupan ini juga dapat meningkatkan risiko
kurangnya asupan iodium dan gangguan metabolism
iodium yang berdampak pada hipotiroid. Malnutrisi
energi-protein kronis dapat diakibatkan oleh adanya
penyakit tertentu seperti infeksi, kurangnya akses
terhadap makanan, pola asuh terhadap anak yang tidak
baik, pengetahuan mengenai gizi yang kurang. Hal
tersebut dapat ditandai dengan status gizi kurus, stunting,
IMT < 18,5, berat badan turun >10% dalam waktu 6 bulan,
gagal tumbuh pada anak, asupan energi dan protein yang
tidak sesuai dengan kebutuhan, serta tingkat pengetahuan
dan pola asuh yang rendah.
• Asupan protein-energi tidak adekuat (NI-5.3)
Asupan protein-energi yang tidak adekuat dapat
diakibatkan oleh kurangnya pengetahuan, kondisi tubuh
yang membutuhkan banyak asupan energi dan protein
dikarenakan sakit tertentu, dan akses terhadap makanan
bergizi yang kurang. Kondisi ini dapat ditandai dengan
adanya penurunan berat badan yang tidak diinginkan 5-7
persen dalam waktu tiga bulan, kurus, gagal tumbuh pada
anak-anak, berat badan kurang dan laian-lain.
• Asupan serat tidak adekuat (NI-5.8.5)
Salah satu efek hipotiroid diantaranya pasien
mengalami konstipasi atau susah buang air besar. Kondisi

148
ini dapat diperparah jika pasien juga kurang asupan serat.
Hal ini dapat terjadi akibat kurangnya pengetahuan, akses
makanan tinggi serat yang rendah, dan kesulitan
mengunyah,menelan makanan berserat. Asupan serat
yang tidak adekuat ditandai dengan konsumsi serat yang
tidak sesuai dengan rekomendasi (<25 gram per hari) dan
konstipasi.
• Asupan mineral (iodium) tidak adekuat (NI-5.10.1)
Iodium merupakan bahan baku utama dalam
pembentukan hormon tiroid. Iodium sendiri merupakan
zat gizi mikro yang tidak dapat disintesis oleh tubuh
sehingga dibutuhkan sumber iodium dari luar tubuh
diantaranya dari makanan atau minuman yang diasup.
Kondisi kekurangan asupan iodium diantaranya
diakibatkan karena pasien tinggal di daerah yang miskin
iodium sehingga produk ternak dan kebun sedikit
mengandung iodium, kurangnya pengetahuan mengenai
makanan sumber iodium, dan kurangnya akses terhadap
bahan makanan sumber iodium. Kekurangan asupan
iodium dapat ditandai dengan kadar hormon tiroid yang
kurang serta pola asupan yang tidak menggambarkan
adanya sumber iodium dalam diet sehari-hari.
2. Domain Klinis
• Kesulitan menelan (NC-1.1)
Kesulitan terjadi terutama pada pasien dengan
pembesaran kelenjar tiroid. Beberapa pasien mengeluh
sakit ketika menelan makanan dan minuman serta merasa

149
leher penuh. Tanda yang dapat diketahui diantaranya
penurunan asupan makanan.
• Kesulitan mengunyah (NC-1.2)
Kesulitan mengunyah sering terjadi pada pasien usia
lanjut yang sudah tidak memiliki gigi. Salah satu tanda
yang dapat diketahui juga menurunya asupan makanan
dan kecukupan zat gizi
• Interaksi obat-makanan (NC-2.3)
Interaksi obat dan makanan mungkin terjadi pada
jenis obat yang diberikan pada penderita hipotiroid.
Ketidaktahuan pasien akan interaksi tersebut menjadi
salah satu penyebabnya. Kondisi ini dapat ditandai dengan
nilai laboratorium fungsi tiroid yang tidak membaik serta
tergambar dari asupan beberapa jenis makanan dan
minuman yang berdekatan atau bersamaan dengan
konsumsi obat.
• Kenaikan berat badan tidak diharapkan (NC-3.4)
Kondisi ini dimungkinkan terjadi pada pasien
hipotiroid karena mengalami penurunan laju metabolisme
tubuh. Masalah ini ditandai dengan adanya kenaikan berat
badan yang tidak diinginkan sekitar 10 persen atau lebih
selama 6 bulan terakhir.
3. Domain Perilaku/Lingkungan
• Pengetahuan kurang terkait makanan dan gizi (NB-1.1)
Sebagian besar penderita hipotiroid atau orang tua
anak penderita hipotiroid yang dating di Klinik Litbang
GAKI memiliki pendidikan hanya sampai Sekolah Dasar.
Kondisi ini berpengaruh terhadap pengetahuan pasien

150
mengenai makanan dan gizi yang baik untuk penderita
hipotiroid. Pasien mengandalkan informasi-informasi dari
lingkungan yang terkadang tidak benar misalnya seperti
dilarang mengkonsumsi makanan berminyak dan es pada
penderita hipotiroid dengan pembesaran kelenjar gondok.
Terkadang pasien juga mencari informasi sendiri di
internet dengan penjelasan yang tidak utuh. Masalah ini
bisa ditandai dengan pola makan pasien yang tidak baik
dan tidak sesuai dengan kebutuhan serta kondisi pasien.
• Ketidaksiapan untuk diet/perubahan gaya hidup (NB-1.3)
Ketidaksiapan perubahan untuk diet dan gaya hidup
lebih sering disebabkan karena ketidaktahuan pasien akan
pentingnya perubahan tersebut. Pasien merasa sulit
berubah misalnya dengan menambah frekuensi makanan
sumber iodium dan menggunakan garam beriodium.
Faktor ekonomi dan kebiasaan juga dapat menjadi
penyebab kondisi tersebut. Masalah ini dapat ditandai
dengan kondisi pasien yang tidak kunjung membaik dan
masih menggunakan pola makan yang sebelumnya.
• Kurangnya aktivitas fisik (NB-2.1)
Pada beberapa pasien meningkatkan aktifitas fisik
menjadi masalah. Pasien sudah nyaman dengan pola
aktifitas sehari-hari dan menganggap bahwa penyakit
yang diderita saat ini tidak berhubungan dengan dengan
aktifitasnya. Pada kondisi tertentu misalnya pekerja
pabrik, pegawai, dan pedagang toko sulit meluangkan
waktu untuk berolahraga karena bekerja dari pagi hingga
sore. Masalah ini diantaranya dapat ditandai dengan

151
aktifitas sehari-hari yang lebih banyak duduk dan jarang
berolahraga.
• Keterbatasan akses makanan (NB-3.2)
Sebagian pasien hipotiroid berasal dari daerah
pegunungan, sehingga terkadang mengalami kesulitan
akses terhadap makanan sumber iodium. Keterbatasan
ekonomi juga menjadi salah satu penyebab kurangnya
asupan protein hewani.

Berdasarkan kemungkinan masalah gizi di atas, tidak


menutup adanya masalah gizi yang lain mengingat diagnosis
gizi bersifat individual dan sesuai dengan kondisi pasien yang
bersangkutan. Dalam satu kasus penanganan pasien hipotiroid
bisa dimungkinan muncul beberapa diagnosis gizi, sehingga
diperlukan prioritas diagnosis yang akan ditangani. Penentuan
prioritas diagnosis didasarkan pada kemampuan sumber daya
dan pengaruhnya terhadap status gizi pasien.

Intervensi Gizi
Intervensi gizi adalah fase ketiga dari asuhan gizi setelah
dilakukan asesmen dan diagnosis gizi. Secara umum intervensi
gizi merupakan kegiatan yang terencana yang dimaksudkan
untuk memperbaiki status gizi secara umum berdasarkan
diagnosis prioritas yang telah ditetapkan. Hal-hal kritis yang
perlu diperhatikan dalam tahapan ini diantaranya dalam
menentukan tujuan dan prioritas, mendefinisikan perencanaan
diet, menggalang hubungan interdisipliner, intervensi perilaku
awal dan hal terkait gizi lainnnya, memadukan strategi

152
intervensi gizi dengan kebutuhan pasien, diagnosis gizi, dan
nilai nilai pasien, serta menentukan waktu dan frekuensi asuhan
Pada tahapan ini tenaga gizi di Klinik Litbang GAKI
memerlukan kerjasama terutama dengan pasien itu sendiri.
Intervensi yang diberikan sebaiknya merupakan kesepakatan
bersama antara tenaga gizi dan pasien. Kondisi ini akan
mempermudah pencapaian target dari intervensi gizi.
Komponen dari intervensi gizi diantaranya adalah perencanaan
dan implementasi. Jenis intervensi yang diberikan dengan
memberikan asupan makanan, edukasi, konseling, dan
kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain.
Berikut merupakan jenis intervensi gizi yang dilakukan di
Klinik Litbang GAKI Magelang :
a. Pemberian Makanan dan/atau Zat Gizi (ND)
Intervensi yang diberikan secara spesifik adalah
pemberian suplemen makanan (ND-3) berupa biskuit tinggi
iodium. Biskuit dipilih karena produk tersebut tahan lama
dan disukai pasien. Pembuatan biskuit dilakukan di
Laboratorium Teknologi Pangan Balai Litbangkes Magelang.
Biskuit dibuat dari bahan-bahan seperti tepung terigu, tepung
kacang hijau, tepung beras merah, tepung tuna, tepung
wortel, tepung tempe, mentega, kuning telur, gula halus,
tepung maizena, dan susu skim. Bahan baku utama
pembuatan biskuit adalah tepung terigu, tepung ikan tuna,
tepung tempe, tepung wortel, tepung beras merah dan tepung
kacang hijau. Sementara bahan pendukung biskuit adalah
tepung maizena, tepung susu skim, gula halus dan margarin.

153
Modifikasi PMT yang diberikan diberi nama biskuit
Bintang Empat. Dalam 1 keping biskuit (5 gram) mengandung
Kalori : 269, 45 Kkal; Protein; 0,43 g; Lemak 1,52 g; Vitamin A
26,07 µg; Vitamin C 27,3 Mg; Kalsium 13,75 g; Iodium 390, 25
µg; Gula total 2,32 g.
Dalam 5 gram biskuit mengandung 390, 25 ppm atau
390, 25 µg/g iodium. Sementara itu kebutuhan Iodium
menurut WHO adalah pada anak 50-120 µg, dewasa 150 µg
serta ibu hamil dan ibu menyusui 250 µg. Apabila pasien
hipotiroid anak mengkonsumsi 1 keping biskuit (5 gram) per
4 (empat) hari, maka asupan iodium yang berasal dari biskuit
saja rata-rata sebesar 97,5 µg/hari, angka ini sudah memenuhi
kebutuhan iodium dalam sehari pada kategori anak. Pasien
hipotiroid dewasa harus mengonsumsi 1 keping biskuit per 3
(tiga) hari, sehingga asupan iodium dari biskuit rata-rata 130
µg/hari. Oleh karena itu, diharapkan dengan dietary
treatment berupa pemberian biskuit ini dapat secara
signifikan membantu proses pengobatan pasien hipotiroid di
Klinik Litbang GAKI Magelang.
Biskuit diberikan kepada pasien hipotiroid sejak awal
pengobatan hingga pengobatan berikutnya sesuai dengan
jadwal kunjungan atau kontrol pasien setiap bulannya. Setiap
kali kunjungan atau kontrol, pasien hipotiroid diberi 1
bungkus biskuit berisi 7 keping biskuit dengan berat masing-
masing 5 gram untuk satu bulan. Apabila berdasarkan hasil
laboratorium pasien hipotiroid telah dinyatakan sembuh,
maka konsumsi biskuit tinggi iodium ini dihentikan.

154
Perhitungan kebutuhan energi secara umum tetap
dilakukan sebagai bahan edukasi kepada pasien. Diharapkan
perencanaan diet dapat diaplikasikan sendiri oleh pasien
dirumah.
b. Edukasi Gizi (E)
Edukasi gizi yang diberikan berupa edukasi gizi
awal/singkat (E-1) dan edukasi gizi komprehensif (E-2).
Edukasi gizi awal diberikan kepada setiap pasien baru terkaiit
dengan pentingnya pengaturan makan dan gizi terhadap
status gizi penderita hipotiroid. Termasuk di dalamnya adalah
mengenai pentingnya iodium dan sumber makanan yang
mengandung iodium. Edukasi gizi komprehensif diberikan
kepada pasien yang telah memiliki pengetahuan dasar yang
baik dan berusaha mempraktikan di rumah. Materi edukasi
komprehensif diantaranya mengenai pengaturan menu
sehari-hari, cara memilih bahan makanan sumber iodium,
cara penyimapanan dan penggunaan garam beriodium, dan
cara pengolahan bahan makanan sumber zat goitrogenik.
c. Konseling Gizi (C)
Diharapkan dengan adanya konseling gizi terjalin
kolaborasi antara tenaga gizi dalam merubah perilaku dan
kebiasaan pasien sesuai dengan tujuan yang disepakati
bersama.
d. Koordinasi Asuhan Gizi (RC)
Di Klinik Litbang GAKI tenaga gizi sering berkoordinasi
dengan tenaga kesehatan lain dinataranya dokter, psikolog,
perawat, tenaga farmasi, dan fisioterapi. Hal ini untuk
mendukung perbaikan kondisi pasien mengingat pada

155
beberapa kondisi tenaga gizi tidak dapat menyelesaikan
masalah yang dihadapi pasien misalnya kecemasan yang
tinggi, stress dan lain-lain.

Monitoring dan Evaluasi


Monitoring dan evaluasi dilakukan setiap kunjungan ulang
pasien dan didokumentasikan pada form asuhan gizi di Klinik
Litbang GAKI Magelang. Pada tahapan ini hal-hal kritis yang
perlu diperhatikan oleh tenaga gizi diantaranya memilih
indikator pengukuran yang tepat, menggunakan standar
pembanding yang tepat, mendefinisikan keberhasilan outcome
pasien yang diharapkan, mampu menjelaskan jika terdapat
perbedaan dai hasil yang diharapkan, menentukan faktor yang
membantu ataupun menghambat perkembangan pasien, dan
menentukan kapan harus berhenti ataupun melanjutkan proses
asuhan gizi.

STUDI KASUS HIPOTIROID


Studi Kasus pada Pasien Hipotiroid Subklinis
Gambaran Kasus
Ny. TR datang ke Klinik Litbang GAKI Magelang tanggal
01 Mei 2018 setelah dirujuk dari Puskesmas Purworejo karena
adanya keluhan benjolan di leher dan kemudian disarankan
untuk menjalani pemeriksaan laboratorium setelah melalui
skrining di bagian pendaftaran dan konsultasi dengan dokter
jaga Klinik. Pada tanggal 17 Mei 2018, hasil laboratorium keluar
dan Ny. TR kembali ke Klinik untuk mengambil hasil
pemeriksaan sekaligus berkonsultasi.. Berikut hasil skrining dan
pemeriksaan biokimia darah di Litbang GAKI Magelang.

156
Identitas Pasien
No. Register : XXXXXX
Nama Pasien : Ny. TR
TTL : Jakarta, 14 November 1969
Usia : 48 tahun
Jenis Kelamin : Perempuan
Alamat Domisili : Dusun Dukuh, Kecamatan Purwodadi,
Kabupaten Purworejo
Pendidikan : Tamat SMA
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Saudara : Anak ke 3 dari 5 bersaudara
Status : Menikah
Nama Suami : Tn. SD
Pendidikan : Tamat Sarjana
Pekerjaan : PNS
Jumlah ART : 5 orang

Riwayat Status Pasien


a. Riwayat kontrasepsi : Pernah menggunakan KB hormonal
yaitu pil KB selama 6 bulan dan suntik 3 bulanan selama 5
tahun, tetapi sekarang sudah tidak lagi. KB non hormonal lain
yang digunakan: kondom.
b. Riwayat kehamilan & persalinan : hamil 4 kali, lahir hidup 3
orang, abortus (keguguran) 1 kali. Jarak kelahiran terdekat 2
tahun. Usia ibu saat kehamilan anak terakhir 35 tahun.
c. Riwayat penyakit yang pernah diderita : Tidak ada riwayat
penyakit gondok/tiroid dalam keluarga, tidak pernah
menderita penyakit lain seperti penyakit jantung, diabetes
mellitus, kejiwaan, dll. Tidak pernah mengonsumsi kapsul
yodiol. Seumur hidup pasien tidak memiliki riwayat
menderita penyakit.

157
Kondisi Saat Ini
a. Keluhan utama : adanya benjolan di leher
b. Riwayat penyakit sekarang : Sudah pernah berobat ke RSUD
Purworejo dan didiagnosa hipertiroid. Minum obat yang
diberikan RSUD Purworejo 3x sehari lebih kurang selama 0,5
bulan (nama obat pasien lupa). Keadaan umum cukup.
Tekanan darah 116/63 mmHg, nadi 78x/menit. Pemeriksaan
c. status generalis menunjukkan kondisi pasien sebagian besar
dalam batas normal. Hasil palpasi menunjukkan adanya
pembesaran kelenjar tiroid grade I. Hasil skinning
menggunakan Skor Billewicz menunjukan pasien pada
kondisi eutiroid.
d. Hasil Pemeriksaan Laboratorium
Tanggal pengambilan sampel darah 17/05/2018
Nilai Normal Hasil
TSH Bloodspot 0,7 - 34,0 µIU/ mL -
TSH serum 0,3 - 4,0 µIU/ mL 7,85 µIU/mL
T3
- Laki-laki 4,4 - 10,8 mg/dl -
- Perempuan 4,8 - 11,6 mg/dl -
FT4 0,8 - 2,0 ng/ dL 0,96 ng/dL

e. Hasil Pengukuran Antropometri


Umur BB TB LILA IMT Status
Tanggal
(tahun) (kg) (cm) (cm) (kg/m2) Gizi
01/05/2018 47 56,55 150,8 31,2 24,87 Gemuk
17/05/2018 47 58,60 150,8 31,2 25,77 Gemuk

158
f. Hasil Skrining Gizi
Jawaban (√) Skor
No Pertanyaan Ya = 1
Ya Tidak
Tidak = 0
1 Apakah pasien terlihat kurus? √ 0
2 Apakah pakaian anda terasa lebih √ 0
longgar ?
3 Apakah akhir-akhir ini Anda √ 0
kehilangan berat badan secara tidak
sengajan (3-6 bulan terakhir) ?
4 Apakah Anda mengalami penurunan √ 0
asupan makan selama 1 minggu
terakhir?
5 Apakah Anda merasakan lemah, loyo, √ 1
dan tidak bertenaga ?
6 Apakah Anda menderita suatu √ 0
penyakit yang mengakibatkan adanya
perubahan jumlah atau jenis makanan
yang Anda makan?
Total Skor 1
Kriteria Skor 0-2 : Tidak Berisiko Malnutrisi
Skor ≥3 : Berisiko Malnutrisi
Tidak Berisiko
Kesimpulan (√) √ Malnutrisi Berisiko Malnutrisi

Proses Asuhan Gizi Terstandar


1. Asesmen Gizi
Domain Hasil

Riwayat Pasien - Pengetahuan terkait gizi terbatas


- Pemilihan bahan makanan terbatas terkait
kondisi ekonomi yang kurang
- KB hormonal dalam jangka panjang dapat
mempengaruhi kelenjar tiroid
- Domisili dekat pantai, tapi prioritas
pemilihan bahan makanan sumber iodium
masih sangat terbatas
- Kurang aktivitas fisik terutama kebiasaan
olahraga
- Obat : Thyrax 100µg 1x½ selama ½ bulan
- Jarak waktu minum obat thyrax dengan
makanan yang berasal dari kedelai sangat
dekat (<30 menit)

159
Riwayat - Ada penurunan frekuensi makan yang
Makanan/ Gizi dahulu 2-3x/hr menjadi 1x/hari dalam 2
mgg terakhir dikarenakan pasien
(Standar pembanding:
PMK No. 75 Tahun membatasi makanan
2013 tentang AKG) - Makanan sumber karbohidrat, protein,
lemak : Nasi 1x/hari @150 gr, Telur
3x/minggu @60 gr, Ayam 3x/bulan @100
gr, Tahu 1x/hari @50 gr, Tempe 1x/hari
@50 gr
- Sumber iodium : garam krosok 1x
masak/hari @15 gr untuk 5 ART (@3
gr/orang) (Kurang asupan iodium)
- Makanan sumber goitrogenik : Daun
melinjo 3x/minggu, Kol 2x/minggu, Jarang
sayur dan buah lainnya (1-2x/bulan) yang
masing-masing dikonsumsi sebanyak ± 5
sdm (50 gr) sekali makan
- Bahan Makanan berisiko : MSG 1x/hari @1
sachet (7 gr) untuk hidangan keluarga (5
orang)
- Asupan cairan : Air putih 4x250 ml/hari,
Teh 1x200 ml/minggu, Kopi 1x50
ml/minggu
Antropometri - BB sebelum = 56,55 Kg
- BB aktual = 58,60 Kg
(Standar pembanding:
WHO, 2004 tentang - Kenaikan BB = 3,62% (dalam waktu 2
Standar BMI/IMT minggu)
untuk Orang Asia
Pasifik)
- IMT = 25,77 Kg/m2
- Status Gizi berdasarkan IMT = kelebihan
berat badan (obesitas)
Biokimia - TSH = 7,85 µIU/mL, FT4 = 0,96 ng/dL
- Diagnosa Klinis : Hipotiroid Sub Klinik
Fisik/Klinis - Struma Nodusa Grade I
- Tensi 116/63 mmHg, Nadi 78x/menit
- Nafsu makan ↑
- BAB 3 hari 1x
- Tidak ada gangguan menelan

160
2. Diagnosis Gizi
Berdasarkan hasil asesmen dan identifikasi masalah
Diagnosis gizi kasus 1 adalah sebagai berikut:
a. Asupan mineral iodium tidak adekuat yang berkaitan
dengan kurangnya pengetahuan mengenai makanan
sumber iodium yang ditandai dengan pola konsumsi
makanan sumber iodium yang kurang (garam krosok);
TSH=7,85 µIU/mL (NI 5.10.1)
b. Interaksi makanan bersumber kedelai dan obat thyrax
yang berkaitan dengan kurangnya pengetahuan gizi terkait
interaksi obat dan makanan yang ditandai dengan
TSH=7,85 µIU/mL; jarak waktu minum obat thyrax
dengan makanan yang berasal dari kedelai sangat dekat
yaitu <30 menit (NC 2.3)
c. Kenaikan berat badan yang tidak diharapkan yang
berkaitan dengan kondisi Hipotiroid Subklinis
(kemungkinan laju metabolisme turun) dan kurangnya
aktivitas fisik yang ditandai dengan berat badan naik 3,62%
2
walau hanya makan 1x/hari; IMT = 25,77 Kg/m , status gizi
gemuk (NC 3.4)

Berkaitan dengan ketiga diagnosis tersebut ditentukan


diagnosis prioritas NC.3.4. Penentuan prioritas di dasarkan
pada faktor yang dimungkinkan memberikan kontribusi
terbesar dalam mencapai status gizi optimal pasien. Selain itu
sumber daya dan kemampuan pasien juga menjadi
pertimbangan dalam memilih prioritas diagnosis.

161
3. Diagnosis gizi prioritas, intervensi, dan rencana monitoring evaluasi

Diagnosis Gizi Intervensi Gizi Rencana Monitoring


(NC 3.4) Kenaikan berat (E-2) Edukasi gizi komprehensif tentang diet • Pengetahuan
badan yang tidak diharapkan 1500 kalori, karbohidrat, lemak, protein, Pasien mengetahui terkait
yang berkaitan dengan iodium cukup (sesuai perhitungan), termasuk pengaturan diet yang perlu
kondisi Hipotiroid Subklinis aktivitas fisik, dan jadwal makan tidak diterapkan dirumah (oral post
(kemungkinan laju bersamaan dengan minum obat (waktu 30 test sesaat setelah kegiatan
metabolisme turun) dan menit dengan media leaflet dan print out edukasi dan pada kunjungan
kurangnya aktivitas fisik kebutuhan gizi harian serta contoh menu) berikutnya
yang ditandai dengan berat Tujuan : • Asupan
badan naik 3,62% walau 1) Meningkatkan pengetahuan pasien Asupan sesuai dengan
hanya makan 1x/hari; IMT = dalam mengatur diet harian sesuai perencanaan dan peningkatan
25,77 Kg/m2, status gizi kesepakatan bersama variasi makanan sumber
gemuk 2) Penurunan berat badan sebesar 2 kg iodium dengan metode riwayat
pada pertemuan berikutnya (1 bulan) diet (dietary history)
melalui penerapan diet termasuk • Antropometri : Berat badan
aktifitas fisik turun 2 kg pada pertemuan
berikutnya (1 bulan)
• Biokimia : TSH dan fT4 normal

162
4. Hasil Monitoring dan Evaluasi
Asesmen Sebelum Re Asesmen Setelah
Domain Target Tindak Lanjut
Intervensi Intervensi
Pengetahuan Pasien mengetahui Pasien tidak Sesaat setelah edukasi: Asesmen ulang
terkait pengaturan mengetahui diet Pasien mampu lebih untuk
diet yang perlu yang perlu menyebutkan pola makan menggali kesulitan
diterapkan dirumah diterapkan dirumah, yang baik untuk dirinya, pasien dalam
pasien makan seperti mengetahui sumber menerapkan
pola makan biasa makanan iodium, cara informasi yang
(tidak teratur, tidak mengolah bahan makanan telah didapat.
seimbang, jarang goitrogen, dan porsi makan
konsumsi sumber yang dibutuhkan.
iodium)
Setelah 1 bulan :
Pasien mengaku lupa
beberapa informasi terkait
porsi makanan yang harus
diasup dan merasa
kesulitan menerapkanya.
Antropometeri Berat badan turun 2 • BB : 58,60 kg • BB : 59,10 kg Target tidak
kg (penimbangan) • TB : 150,8 cm, • TB : 150,8 cm dicapai perlu
• IMT : 25,8 (status • IMT : 25,98 (status gizi : assesmen kembali
gizi : kelebihan kelebihan berat badan) untuk mengetahui
berat badan) penyebabnya

163
Biokimia TSH dan fT4 normal • TSH = 7,85 • TSH = 2,39 µIU/mL Target berhasil
(data lab) µIU/mL (tinggi) (normal) dicapai, perlu
• FT4 = 0,96 ng/dL • FT4 = 1,24 ng/dL dipantau secara
(normal) (normal) berkala
Asupan Asupan cukup • Pembatasan • Makan melebihi Perlu asesmen
sesuai dengan asupan (makan kebutuhan sebanyak ulang lebih lanjut
perencanaan yaitu 1x/hari) 1900 kalori (terlalu untuk mengetahui
1500 kalori (dietary • Jarang banyak mengonsumsi penyebab target
histori), pola makan mengonsumsi makanan sumber tidak tercapai
sumber iodium lebih makanan sumber lemak)
variatif (ffq) iodium • Belum ada variasi
• Menggunakan asupan bahan makanan
garam kerosok sumber iodium
• Sudah menggunakan
garam beriodium

5. Kesimpulan
Proses asuhan gizi yang dilakukan kepada Ny. TR belum bisa menyelesaikan masalah gizi utama dari
pasien. Berdasarkan hal tersebut proses asuhan gizi masih perlu dilanjutkan dengan melakukan asesmen
ulang. Kajian lebih lanjut dilakukan untuk menggali kembali permasalahan dan etiologi yang dihadapi
oleh pasien termasuk pemberian intervensi yang lebih detail dan spesifik.

164
Studi Kasus pada Pasien Anak dengan Hipotiroid

Gambaran Kasus
An. ER dibawa ke Klinik Litbang GAKI Magelang pada tanggal
12 Juni 2018 oleh Ibunya yang bernama Ny. ST karena adanya
keluhan belum bisa bicara dan berjalan. Setelah melalui skrining
di bagian pendaftaran dan konsultasi dengan dokter jaga di
Klinik Litbang GAKI Magelang, An. ER kemudian disarankan
untuk menjalani pemeriksaan laboratorium untuk mengetahui
fungsi tiroidnya. Pada tanggal 21 Juni 2018, hasil laboratorium
keluar dan Ny. ST kembali membawa An. ER ke Klinik Litbang
GAKI Magelang. Berikut hasil skrining dan pemeriksaan
biokimia darah di Klinik Litbang GAKI Magelang.

Identitas Pasien
No. Register : XXXXXX
Nama Pasien : An. ER
TTL : Temanggung, 25 Desember 2013
Usia : 4 tahun 5 bulan (53 bulan)
Jenis Kelamin : Perempuan
Status : Anak Kandung
Saudara : Anak ke 2 dari 2 bersaudara
Alamat Domisili : Temanggung
Nama Ibu : Ny. ST
Usia Ibu : 32 Tahun
Pendidikan Ibu : Tamat SD
Pekerjaan Ibu : Buruh Tani
Nama Ayah : Tn. NG
Usia Ayah : 41 Tahun
Pendidikan Ayah : Tidak Sekolah
Pekerjaan Ayah : Buruh Tani

165
Riwayat Status Pasien
a. Riwayat kehamilan ibu : Usia Ibu saat hamil An. ER adalah 27
tahun. Ibu mengonsumsi jamu-jamuan ketika hamil.
Kenaikan berat badan saat hamil tidak diketahui oleh Ibu
pasien. Ibu pernah menggunakan KB Suntik selama 9 tahun
dan keguguran 1x sebelum hamil An. ER.
b. Riwayat persalinan dan kelahiran : Usia kehamilan ibu saat
melahirkan An. ER 32 minggu. Ibu melahirkan secara normal
dan tidak ada riwayat trauma kelahiran. Kondisi bayi
langsung menangis saat dilahirkan. Berat badan lahir 2500
gam dengan panjang badan 45,3 cm.
c. Riwayat penyakit yang pernah diderita : Tidak ada riwayat
penyakit gondok/tiroid dalam keluarga. Tidak ada anak
kandung lain yang menderita penyakit serupa. Imunisasi
dasar lengkap diberikan sesuai jadwal imunisasi.

Kondisi Saat Ini


a. Keluhan utama : belum bisa berjalan dan bicara
b. Riwayat penyakit sekarang : Pemeriksaan status generalis
menunjukkan kondisi pasien dalam batas normal. Hasil
palpasi menunjukkan tidak adanya pembesaran kelenjar
tiroid. Hasil skinning menggunakan Skor Billewicz
menunjukan pasien pada kondisi hipotiroid.
c. Hasil Pemeriksaan Laboratorium

Tanggal pengambilan sampel darah 12/06/2018


NILAI NORMAL HASIL
TSH serum 0,3 - 4,0 µIU/ mL 30,64 µIU/mL
FT4 0,8 - 2,0 ng/ dL 0,20 ng/dL

d. Hasil Pengukuran Antropometri


Umur BB PB LILA LIKA
Tanggal
(Bulan) (kg) (cm) (cm) (cm)
12/06/2018 53 12,45 93,20 14,2 47,5
21/06/2018 53 12,50 93,20 - -

166
e. Hasil Skrining
Jawaban (√) Skor
No Pertanyaan Ya = 1
Ya Tidak
Tidak = 0
1 Apakah pasien terlihat kurus? √ 1
2 Apakah pakaian anda terasa lebih √ 1
longgar ?
3 Apakah akhir-akhir ini Anda √ 1
kehilangan berat badan secara tidak
sengajan (3-6 bulan terakhir) ?
4 Apakah Anda mengalami penurunan √ 1
asupan makan selama 1 minggu
terakhir?
5 Apakah Anda merasakan lemah, loyo, √ 0
dan tidak bertenaga ?
6 Apakah Anda menderita suatu √ 1
penyakit yang mengakibatkan adanya
perubahan jumlah atau jenis makanan
yang Anda makan?
Total Skor 5
Kriteria Skor 0-2 : Tidak Berisiko Malnutrisi
Skor ≥3 : Berisiko Malnutrisi
Tidak Berisiko
Kesimpulan (√) Malnutrisi √ Berisiko Malnutrisi

Proses Asuhan Gizi Terstandar


1. Asesmen Gizi
Domain Hasil
Riwayat - Pengetahuan gizi dan makanan terkait
Pasien penyakit kurang
- Akses makanan terbatas terkait kendala
ekonomi yang kurang
- Domisili pegunungan, kemungkinan bahan
makanan mengandung sedikit iodium
- Obat : Thyrax 100µg 1x½
Riwayat - Frekuensi makan: 3x/hari
Makanan/ - Makanan sumber karbohidrat, protein,
Gizi lemak : Nasi 3x/hari @50 g, Singkong
2x/minggu @ 25 g, Telur 1x/minggu @30 g,
Ayam 1x/bulan @25 g, Tahu 3x/minggu @25
g, Tempe 3x/minggu @25 g, Minyak Goreng
2x/hari @2,5 g, Santan 1x/minggu @25 g

167
- Makanan Sumber Iodium : garam krosok,
sumber lain jaran dikonsumsi
- Makanan sumber goitrogenik : Kol
9x/minggu, Sawi Putih 6x/minggu, Sawi
Hijau 6x/minggu, Singkong 2x/minggu,
Bayam 9x/minggu
- Tidak pernah konsumsi buah
- Bahan Makanan berisiko : MSG 1x/hari @1
sachet, Jajanan kemasan 3x/minggu
- Asupan cairan : Air putih 2x200 ml/hari, Teh
1x250 ml/hari
Antropometri - BB sblm = 12,45 Kg
- BB aktual = 12,50 Kg
- BB Ideal = 12,9 – 22,9 Kg (Median 17,0 Kg)
- Kenaikan BB = 0,4% (dalam waktu 1 mgg)
- PB = 93,2 cm
- BB/U = -2,32 SD (Gizi Kurang)
- PB/U = -3,00 SD (Pendek)
- BB/PB = -0,67 SD
- IMT/U = -0,46 SD
Biokimia - TSH = 30,64 µIU/mL, fT4 = 0,20 ng/dL
- Diagnosa Klinis : Hipotiroid
Fisik/Klinis - Non Struma
- Kulit kering
- Nafsu makan ↓
- BAB 3 hari 1x
- Belum bisa bicara
- Belum bisa berjalan

2. Diagnosis Gizi
Berdasarkan hasil asesmen dan identifikasi masalah
Diagnosis gizi kasus 2 adalah sebagai berikut:
a. Kurang asupan energi dan protein dalam waktu yang lama
yang berkaitan dengan kurangnya pengetahuan terkait
makanan dan gizi yang ditandai dengan status gizi
berdasarkan BB/U = gizi kurang; TB/U = pendek (NI 1.4)

168
b. Asupan mineral iodium tidak adekuat yang berkaitan
dengan kurangnya pengetahuan mengenai makanan
sumber iodium dan akses makanan terbatas terkait
kendala ekonomi yang kurang yang ditandai dengan pola
konsumsi makanan sumber iodium kurang; penggunaan
garam krosok sebagai sumber iodium; asupan bahan
makanan goitrogenik > bahan makanan sumber iodium;
TSH = 30,64 µIU/mL, fT4 = 0,20 ng/dL (NI 5.10.1)

169
3. Diagnosis gizi prioritas, intervensi, dan rencana monitoring evaluasi

Diagnosis Gizi Intervensi Gizi Rencana Monitoring


(NI 1.4) Kurang asupan (E-2) Edukasi gizi komprehensif tentang • Pengetahuan
energi dan protein dalam diet 1700 kalori, protein tinggi, Keluarga pasien mengetahui
waktu yang lama yang karbohidrat, lemak, iodium cukup (sesuai terkait pengaturan diet yang
berkaitan dengan perhitungan dengan media leaflet dan perlu diterapkan dirumah (oral
kurangnya pengetahuan print out kebutuhan gizi harian serta post test sesaat setelah kegiatan
terkait makanan dan gizi contoh menu) edukasi dan pada kunjungan
yang ditandai dengan Tujuan : berikutnya)
status gizi berdasarkan 1) Meningkatkan pengetahuan • Asupan
BB/U = gizi kurang; TB/U keluarga pasien tentang diet Asupan cukup sesuai dengan
= pendek hipotiroid, makanan sumber perencanaan (dietary histori),
iodium pola makan sumber iodium
2) Peningkatan berat badan sebesar 2 lebih variatif (ffq), form
kg pada pertemuan berikutnya kepatuhan diet
• Antropometri : Berat badan
(ND-3.1.4) Suplemen makanan medis naik 2 kg (penimbangan)
Tujuan : Meningkatkan asupan iodium
• Biokimia : TSH dan fT4 normal
pasien
(data lab)

170
171
4. Hasil Monitoring dan Evaluasi
Asesmen Sebelum Re Asesmen Setelah
Domain Target Tindak Lanjut
Intervensi Intervensi
Pengetahuan Keluarga pasien Keluarga pasien Sesaat setelah edukasi : Asesmen ulang
mengetahui terkait tidak mengetahui Keluarga pasien mampu lebih mendalam
pengaturan diet diet yang perlu menyebutkan bahan lagi terkait
yang perlu diterapkan di makanan sumber iodium, kesulitan pasien
diterapkan pada rumah, tidak cara mengolah bahan dalam menerapkan
pasien di rumah mengetahui bahan makanan goitrogenik, dan informasi yang
makanan sumber porsi makan yang telah didapat.
iodium dan bahan dibutuhkan oleh pasien.
makanan
goitrogenik Setelah 1 bulan :
Keluarga pasien mengaku
lupa beberapa informasi
terutama porsi makanan
yang harus diasup oleh
pasien.
Antropometri Berat badan naik 2 • BB = 12,50 kg • BB = 13,30 kg Target belum
kg (penimbangan) • PB = 93,2 cm • PB = 93,7 cm, tercapai perlu
• BB/U = -2,32 • BB/U = -1,84 SD reassesmen
SD (Gizi Kurang) (Gizi Normal) kembali untuk
• PB/U = -3,00 • PB/U = -2,89 SD mengetahui
SD (Pendek) (Pendek) penyebabnya

172
Biokimia TSH dan fT4 normal • TSH = 30,64 • TSH = 15,20 µIU/mL Target belum
(data lab) µIU/mL (tinggi) (tinggi) berhasil dicapai,
• FT4 = 0,20 ng/dL • FT4 = 0,9 ng/dL perlu dipantau
(rendah) (normal) secara berkala
Asupan Asupan cukup • Jarang • Asupan pasien 95% Target belum
sesuai dengan mengonsumsi kebutuhan berhasil dicapai
perencanaan yaitu makanan sumber • Sudah menggunakan perlu re assesmen
1700 kalori (dietary iodium garam halus ulang untuk
histori), pola makan • Menggunakan beriodium mengetahui
sumber iodium lebih garam krosok • Bahan makanan asupan pasien
variatif (ffq), biskuit • pola makan iodium lainnya belum hingga target
tinggi iodium pasien kurang variatif semua tercapai
dikonsumsi sesuai energi dan • Biskuit tinggi iodium
anjuran protein, tidak sudah dikonsumsi
seimbang, sesuai anjuran

5. Kesimpulan
Proses asuhan gizi yang dilakukan kepada An. ER belum bisa menyelesaikan masalah utama dari
pasien. Berdasarkan hal tersebut proses asuhan gizi masih perlu dilanjutkan dengan melakukan asesmen
ulang. Kajian lebih lanjut dibutuhkan untuk mengetahui masalah utama dari pasien.

173
A. Lampiran Form

174
175
176
177
178
179
180
181
182
183
184
185
186
187
188
Daftar Pustaka

Balai Litbang GAKI. 2017. ProfilBalai Litbang GAKI. BP2GAKI.


Magelang.
Balai Litbang GAKI. 2017. Laporan Tahunan Balai Litbang GAKI
Tahun 2016. BP2GAKI. Magelang.
Balai Litbang GAKI. 2016. Laporan Tahunan Balai Litbang GAKI
Tahun 2015. BP2GAKI. Magelang.
Balai Litbang GAKI. 2015. Laporan Tahunan Balai Litbang GAKI
Tahun 2014. BP2GAKI. Magelang.
Balai Litbang GAKI. 2014. Laporan Tahunan Balai Litbang GAKI
Tahun 2013. BP2GAKI. Magelang.
Depkes RI. 2010. Perhitungan Berat Badan Ideal.
http://www.depkes.go.id
Depkes RI. 1996. Kategori Tingkat Konsumsi.
http://www.depkes.go.id
Grodner, M., Roth, S.L. dan Walkingshaw, B.C., 2012. Nutrition &
Medication and Metabolic Stress. Nutritional Foundations
and ClinicalApplications, p.341–356.
Kemenkes RI. 2013. Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No.75 Tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi
yang Dianjurkan Bagi Bangsa Indonesia. Jakarta: Kemenkes
RI.
Kemenkes RI. 2011. Bagan Tatalaksana Anak Gizi Buruk,Buku I.
Direktorat Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta:
Kemenkes RI.
Kemenkes RI. 2010. Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia No. 1995/Menkes/SK/XII/2010 tentang Standar

189
Antropometri Penilaian Status Gizi Anak. Jakarta:
Kemenkes RI.
Neelemaat, F. et al., 2008. Screening Malnutrition In Hospital
Outpatients. Can the SNAQ malnutrition screening tool also
be applied to this population?,
Susetyowati, 2014. (SNST) Simple-Nutrition-Screening-Tools.
Prodi Gizi FK UGM.
WHO. 2011. WHO Anthro (version 3.2.2) and Macros. Diperoleh
dari : http://www.who.int/childgrowth/software/en/
WHO Expert Consultation. 2004. Approriate Body-Mass index for
Asian Populations and Its Implication for Policy and
Intervention Strategies. Lancet vol. 363: p. 157-163.
WHO. 1983. Measuring Change In Nutritional Status: Guidelines
For Assessing The Nutritional Impact Of Supplementary
Feeding Programmes For Vulnerable Group. Geneva: WHO.
Diperoleh dari: http://apps.who.int/iris /handle/10665/38768

190
Bab 7
Menu Sehat untuk
Penderita Hipotiroid
oleh : Palupi Dyah Ayuni

PRINSIP MENU SEHAT PENDERITA HIPOTIROID


Pengaturan makan pasien memiliki dampak positif dalam
mendukung proses pengobatan penderita hipotiroid. Dalam bab
ini akan dibahas mengenai prinsip singkat dalam menyusun
menu dan contoh resep yang dapat diaplikasikan di rumah.
Pengaturan menu antar individu berbeda tergantung pada
kebutuhan gizi dan kondisi pasien seperti adanya penyakit
penyerta dan lain-lain. Berikut merupakan prinsip-prinsip
penyusunan menu secara umum pada penderita hipotiroid :
1. Menu sesuai dengan kebutuhan gizi individu
2. Menu bervariasi terutama pada menu sayuran dan lauk
nabati
3. Memasukkan menu dengan bahan makanan sumber
iodium
4. Mengurangi menu tinggi kolesterol dan mengandung gula
sederhana tinggi
5. Mengonsumsi buah dan sayur dalam jumlah hingga lima
sajian per hari
6. Tidak mengonsumsi sayur mentah/lalapan
7. Menggunakan garam beriodium dalam mengolah
makanan atau sebagai garam meja

191
CONTOH MENU DAN RESEP MASAKAN UNTUK
PENDERITA HIPOTIROID

Menu Hari ke-1

Waktu
Menu Bahan Makanan
Makan
Makaroni
Tofu
Pagi Pasta Udang Tofu
Udang
Minyak
Selingan Buah Pisang Raja
Nasi Putih Nasi
Telur
Telur Dadar
Minyak
Buncis
Siang
Buncis Kuah Udang Rebon Udang rebon
Gula Merah
Tempe Bawang Cabe Tempe
Garam (Tempe 3 Rasa) Minyak
Selingan Buah Semangka
Nasi Putih Nasi
Ikan Layang
Homemade Sarden
Minyak
Tahu
Malam
Sayuran
Nugget Tahu Sayur Telur
Tepung Terigu
Minyak

192
Menu Hari ke-2

Waktu
Menu Bahan Makanan
Makan
Kentang
Sayuran
Pagi Sup Ayam Tofu Dada Ayam
Minyak
Tofu
Pisang
Selingan Pisang Bakar Coklat
Margarin
Nasi Putih Nasi
Tongkol Woku Tongkol
Siang
Ca Kapri Bawang Kapri
Putih Minyak
Yoghurt Tanpa Lemak
Selingan Strawberry Smoothies Strawberry
Gula Pasir
Nasi Putih Nasi
Kerang
Kerang Saus Tiram
Minyak
Malam Tempe
Tempe Gongso
Minyak
Bayam
Bening Bayam
Minyak

193
Menu Hari ke-3

Waktu
Menu Bahan Makanan
Makan
Jagung
Daging Ayam
Pagi Sweet Corn Chicken Soup
Telur Ayam
Wortel
Pepaya
Mango Porridge Topping
Selingan Mangga
Papaya
Oat
Nasi Putih Nasi
Ikan Bakar Ikan Nila
Kangkung
Plecing Kangkung
Siang Tauge
Tempe
Tempe Jeletot Tepung Terigu
Minyak
Selingan Buah Jeruk
Nasi Putih Nasi
Oyong
Sup Oyong
Malam Telur
Tempe
Kering Tempe
Minyak

194
Menu Hari ke-4

Waktu
Menu Bahan Makanan
Makan
Nasi
Dada Ayam
Pagi Nasi Tim Ayam Jamur
Jamur Tiram
Minyak
Buah Naga
Selingan Puding Naga Merah
Gula Pasir
Nasi Putih Nasi
Daging Sapi
Toppalada Daging Sapi
Minyak
Siang Tempe
Orek Tempe
Minyak
Sayuran
Capcay Sayur
Minyak
Yoghurt Tanpa Lemak
Wortel
Selingan Orange Smoothies Pisang
Mangga
Air Jeruk
Nasi Putih Nasi
Telur Ayam
Tahu
Semur
Malam Tempe
Minyak
Brokoli
Brokoli Saus Tiram
Minyak

195
Menu Hari ke-5

Waktu
Menu Bahan Makanan
Makan
Bubur Beras
Pagi Bubur Ayam Homemade Dada Ayam
Minyak
Pisang
Selingan Banana Oatmilk Oat
Susu skim cair
Ikan
Tepung Sagu
Siang Tekwan Ikan Telur
Minyak
Bihun
Selingan Sayur Asem Sayuran
Nasi Putih Nasi
Pepes Ikan Ikan
Malam
Tempe
Tempe Penyet
Minyak

196
Menu Hari ke-6

Waktu
Menu Bahan Makanan
Makan
Daging Ayam
Tauge
Pagi Soto Ayam Homemade Telur Rebus
Nasi
Bihun
Selingan Buah Pepaya
Nasi Kunyit (Nasi Kuning
Nasi
Tanpa Santan)
Telur
Telur Masak Habang
Siang Minyak
Kacang Panjang
Tumis Kacang panjang
Tempe
Tempe
Minyak
Jus Buah Mangga
Selingan
Madu
Mi Goreng Sayur Mie Basah
Jamur
Wortel
Timun & tomat
Ayam
Malam
Telur
Minyak
Tempe Mendoan Tempe
Tepung Terigu
Minyak

197
Menu Hari ke-7

Waktu
Menu Bahan Makanan
Makan
Nasi Putih Nasi
Tumis Tauge Ikan Asin Tauge
Pagi Ikan Asin
Minyak
Pepes Tahu Tahu
Kcg Hijau
Selingan Setup Kacang Hijau Labu Gula Merah
Labu Kuning
Mie Ayam Homemade Mie Basah
Ayam
Siang
Minyak
Jamur tiram
Selingan Buah Melon
Nasi Putih Nasi
Teri Kukus Tahu Tahu
Teri
Malam
Telur
Tumis Sayur Sayur
Minyak

198
Aneka Resep Masakan
LAUK HEWANI

199
Sup Ikan Tuna
Tongkol Woku (Untuk 1 porsi)

Nilai Gizi per sajian

Energy (Kkal) Karbohidrat (g)


121,7 1,2
Protein (g) Lemak (g) www.instagram.com/p/BdrU5f2gNvf

23,4 2,8

Bahan :
• 100 gram ikan tuna • 2 buah cabe merah rawit
• 200 ml air utuh
• ¼ buah jeruk nipis • ½ sendok makan air jeruk
• ½ batang sereh geprek nipis
• ½ ruas jahe geprek • ¼ sdt kunyit bubuk
• 1 lembar daun jeruk • ¼ batang daun bawang
• ½ lembar daun pandan potong sesuai selera
• ½ ikat daun kemangi • Garam secukupnya
• ¼ buah tomat, dibelah

Bumbu yang diiris : 2 siung bawang merah


1 siung bawang putih
1/8 buah bawang bombay
½ buah cabe merah besar

Cara membuat :
1. Potong ikan sesuai selera, bersihkan, kemudian cuci
bersih, rendam dengan perasan air jeruk nipis (1/4 buah
jeruk nipis) agar tidak amis, lalu sisihkan
2. Rebus air, masukkan sereh, daun pandan, daun jeruk, jahe,
kunyit, dan bahan yang diiris masak hingga mendidih
kemudian masukkan ikan, masukkan garam, kaldu, air
jeruk, aduk dan cicip
3. Masukkan cabe rawit utuh, tomat, daun bawang, dan daun
kemangi masak sebentar sekitar 2 menit lalu matikan
kompor. Angkat dan sajikan dengan irisan daun bawang.

200
Tongkol Woku (Untuk 1 porsi)

Nilai Gizi per sajian

Energy (Kkal) Karbohidrat (g)


114 0,7
Protein (g) Lemak (g)
24 1
www.instagram.com/p/BblDT2BlzSg/

Bahan :
• 100 gr ikan tongkol • ¼ ikat daun kemangi
• 1 sdt air jeruk nipis • ½ batang daun bawang,
• ¼ sdt garam potong-potong
• 2 lembar daun jeruk • ¼ buah tomat, potong-
• ¼ lembar daun pandan potong
• ¼ lembar daun kunyit • 200 ml air
• ¼ batang sereh, geprek • Garam, gula, dan kaldu
secukupnya

Bumbu yang diiris : 1 butir bawang merah


1 butir kemiri
1 cm kunyit
1 buah cabe merah
1 buah cabe rawit merah

Cara membuat :
1. Lumuri ikan tongkol dengan air jeruk nipis dan garam.
Diamkan 15 menit
2. Masak bumbu halus bersama air, daun jeruk, daun pandan,
daun kunyit, dan sereh sampai mendidih
3. Kecilkan api, masukkan kaldu, garam, dan gula, aduk rata
lalu koreksi rasa
4. Masukkan ikan, masak hingga matang. Terakhir masukkan
kemangi, daun bawang, dan tomat. Masak sebentar lalu
angkat dan sajikan.

201
Sempol
Ikan Bandeng
(Untuk 6 porsi)
Nilai Gizi per sajian

Energy (Kkal) Karbohidrat (g)


119,6 7
https://kokidol.blogspot.com
Protein (g) Lemak (g)
10,5 5,4

Bahan :
• 150 gr Kentang • Garam & merica
• 300 gr Ikan bandeng secukupnya
tanpa duri • Stik es krim
• 100 gr Wortel diiris tipis • 2 Butir Telur
• 4 siung Bawang merah • Minyak secukupnya
• 3 siung Bawang putih

Cara membuat :
1. Kukus wortel dan kentang yang sudah dikupas dan
dipotong-potong.
2. Haluskan bawang merah dan putih, tambahkan sedikit
garam & merica, lalu tumis hingga harum, masukkan ikan
bandeng tanpa duri yang sudah dicincang. Tumis sampai
matang.
3. Lumat/haluskan kentang yang sudah dikukus, tambahkan
wortel kukus dan tumisan ikan bandeng, aduk sampai rata.
Buat adonan berbentuk lonjong lalu tusukkan stik es krim
ke adonan tersebut.
4. Kocok lepas telur, balur adonan tadi kedalam kocokan
telur. Goreng adonan hingga matang.

202
Aneka Resep Masakan
LAUK NABATI

203
Teri Kukus Tahu
(Untuk 10 porsi)

Nilai Gizi per sajian

Energy (Kkal) Karbohidrat (g)


73,5 2,2
Protein (g) Lemak (g)
http://www.kuilmu.com
7,6 4,4

Bahan :
• 2 potong tahu putih • 1/4 sdt lada bubuk
• 50 gr teri nasi segar • 1/4 sdt garam
• 1 btg wortel iris kotak • Sejumput kaldu jamur
halus non msg
• 2 btg seledri cincang • 1 btr putih telur (bisa
halus diganti 2 sdm tepung
• 3 siung bawang putih tapioka)
• 4 siung bawang merah

Cara membuat :
1. Haluskan tahu, campur dengan teri nasi dan bumbu halus
aduk rata.
2. Masukkan bahan lainnya, aduk rata
3. Masukkan ½ butir putih telur, aduk rata. Jika tdk mau
putih telur, bisa diganti 2 sdm tepung tapioka
4. Masukkan dalam cetakan sesuai selera
5. Masukkan dalam kukusan dan kukus selama 20-30 menit.
Angkat dinginkan, siap dihidangkan
6. Beri jarak waktu antara konsumsi olahan kedelai dengan
minum obat Hipotiroid paling sedikit 4 (empat) jam

204
Rolade Tempe (Untuk 9 porsi)

Nilai Gizi per sajian

Energy (Kkal) Karbohidrat (g)


173 12,5
www.instagram.com/p/BdHTHdxHBAv/
Protein (g) Lemak (g)
13,8 8,3

Bahan :
• 500 gram tempe, kukus • 1 sdm saus tiram
kemudian haluskan • ½ sdt lada bubuk
• ½ buah wortel, cincang • 1 butir telur utuh
halus • 1 sdm tepung
• 1 siung bawang putih, tapioka/sagu/maizena
haluskan • 1 sdt parsley/seledri/daun
• ¼ siung bawang bombay, bawang, iris halus
haluskan • 1 sdm minyak goreng
• 1 sdt garam
• 1 sdm kaldu bubuk
(optional)

Bahan kulit :
• 3 kuning telur & 2 putih telur
• 2 sdm tepung terigu
• 100 ml air
• ½ sdt garam

Cara membuat :
1. Tumis bawang bombay dan bawang putih hingga harum,
lalu tambahkan cincangan wortel. Aduk rata, masak
sebentar lalu angkat
2. Campur tempe yang sudah dihaluskan dengan tumisan
wortel dan bahan isi lainnya. Sisihkan

205
3. Dalam wadah lain, campur semua bahan kulit. Aduk rata
kemudian saring. Kemudian buat dadar telur.
4. Balikkan pan berisi kulit dadar ke atas wadah datar
sehingga bagian kasar berada di atas. Ratakan 1/3 porsi
adonan tempe diatas permukaan kulit menggunakan
sendok makan, sisakan sedikit bagian tepinya agar bisa
ditekuk.
5. Lipat kulit bagian sisi kanan dan kirinya, kemudian gulung
kulit berisi adonan tempe sambil agak ditekan. Ulangi
2
proses ini untuk /3 sisa adonan hingga selesai
6. Bungkus rolade dengan aluminium foil dan kukus di
dandang selama 20 menit
7. Setelah matang potong-potong sesuai selera
8. Goreng dengan minyak panas lalu sajikan selagi hangat
9. Beri jarak waktu antara konsumsi olahan kedelai dengan
minum obat Hipotiroid paling sedikit 4 (empat) jam

206
Tempe Tiga Rasa
(Untuk 5 porsi)

Nilai Gizi per sajian

Energy (Kkal) Karbohidrat (g)


133 14,4
Protein (g) Lemak (g)
8,6 5,2
www.instagram.com/p/BeU5IGAA8Xx/

Bahan :
• 1 papan tempe (potong • 8 buah cabai rawit
dadu kecil) merah (cincang halus)
• tepung goreng serbaguna • daun bawang
• 8 siung bawang putih secukupnya (cincang
(cincang halus) halus)
• sejumput garam
• minyak goreng

Cara membuat :
1. Goreng tempe dengan tepung goreng serbaguna, angkat
sisihkan.
2. Panaskan minyak dengan api kecil. Masukkan bawang
putih, aduk2 sampai kecoklatan
3. Masukkan cabai rawit, daun bawang, sejumput garam.
Aduk rata.
4. Masukkan tempe goreng, aduk rata.
5. Beri jarak waktu antara konsumsi olahan kedelai dengan
minum obat Hipotiroid paling sedikit 4 (empat) jam

207
Aneka Resep Masakan
SAYURAN

208
Buncis Kuah Udang Rebon (Untuk 2 porsi)

Nilai Gizi per sajian

Energy (Kkal) Karbohidrat (g)


118,3 8,2
Protein (g) Lemak (g)
9,0 6,1

www.instagram.com/p/Bk-DcttFeGV/

Bahan :
• 200 gr buncis • 1 sdm kaldu jamur
• 1 butir telur bubuk
• 1 sdm udang rebon • Sedikit merica bubuk
(cuci bersih) • Minyak goreng
• 1 siung bawang merah, iris secukupnya
• 1 siung bawang putih, iris • Air secukupnya

Cara membuat :
1. Panaskan minyak, tumis bawang merah dan bawang putih
hingga harum
2. Pecahkan telur dan orak-arik
3. Masukkan udang rebon dan merica
4. Terakhir, masukkan buncis dan kaldu jamur bubuk.
Tambahkan air secukupnya. Masak hingga buncis matang
dan lunak
5. Masukkan garam saat masakan hampir matang lalu segera
angkat. Sebaiknya gunakan garam meja beriodium

209
Sup Oyong Telur (Untuk 2 porsi)

Nilai Gizi per sajian

Energy (Kkal) Karbohidrat (g)


135,0 5,0
Protein (g) Lemak (g)
8,5 9,2

www.instagram.com/p/BSa61SxFbYl/

Bahan :
• 2 buah oyong • Secukupnya daun
• 2 buah telur bawang, daun salam,
• 2 buah bawang putih lengkuas, merica
• 2 buah bawang merah • Garam dan gula
sesuai selera
• Minyak untuk
menumis

Cara membuat :
1. Haluskan bawang putih dan bawang merah, lalu tumis
hingga harum
2. Tambahkan air, lalu masukkan telur jika sudah mendidih
3. Masukkan oyong, daun bawang, daun salam, lengkuas,
merica, dan gula
4. Masukkan garam saat masakan hampir matang lalu segera
angkat. Sebaiknya gunakan garam meja beriodium

210
Plecing Kangkung
(Untuk 2 porsi)

Nilai Gizi per sajian

Energy (Kkal) Karbohidrat (g)


42,5 6,4
Lemak (g)
Protein (g)
www.instagram.com/p/BeM9ERLlD8I/
4,0 1,1

Bahan : Bahan Sambal (uleg) :


• 1/2 ikat kangkung, • 3 buah cabai rawit merah
siangi • 3 buah cabai merah keriting
• 1 genggam kecambah • 1 buah tomat
• Air secukupnya • 1 bungkus terasi ukuran
untuk merebus kecil, bakar
• 1/2 sdm gula pasir / gula
merah
• 1/2 sdt garam
• 1 buah jeruk limau

Cara membuat :
1. Rendam kangkung dengan air garam minimal 30 menit,
cuci bersih.
2. Rebus kangkung dan kecambah hingga matang, tiriskan.
Siram dengan air es untuk memberhentikan kematangan,
tiriskan kembali
3. Uleg semua bahan sambal, kecuali jeruk limau. Kemudian
kucuri sambal dengan air jeruk limau, koreksi rasa.
4. Campur rebusan sayur dengan sambal. Sajikan.
5. Utamakan menyajikan sayur yang diolah dengan cara
direbus hingga matang.

211
Aneka Resep Masakan
MINUMAN & KUDAPAN

212
Timun Serut
(Untuk 2 porsi)

Nilai Gizi per sajian

Energy (Kkal) Karbohidrat (g)


116,0 30,0
Protein (g) Lemak (g)
1,0 0,2

www.instagram.com/p/BhqwS5ohU3_/

Bahan :
• Timun, pilih yang muda
• Gula pasir secukupnya
• Jeruk nipis sesuai selera (sebagian untuk diperas, sebagian
diiris)

Cara membuat :
1. Belah timun menjadi 2, buang bijinya
2. Parut timun dengan lubang parutan halus/sedang
3. Peras jeruk nipis dan taburi gula secukupnya kedalam
parutan timun, aduk rata, sambil diremas pelan, biarkan
sekejap hingga timun mengeluarkan air
4. Tambahkan air dingin dan tambahkan potongan jeruk
nipis
5. Koreksi rasa, masukkan kulkas biarkan 5-6 jam hingga
timun menyerap jeruk nipis dan gula
6. Timun serut siap dinikmati

213
Salad Buah (Untuk 4 porsi)

Nilai Gizi per sajian

Energy (Kkal) Karbohidrat (g)


75,0 18,0
Protein (g) Lemak (g)
1,0 0,4 www.asianfoodchannel.com

Bahan :
• 2 potong semangka • Madu
• 2 potong melon • Susu evaporasi / susu
• 2 potong pepaya skim cair
• ½ buah jeruk mandarin • Air jeruk
• 8 buah anggur
• 8 buah kelengkeng

Cara membuat :
1. Kupas lalu potong semua buah dengan bentuk
sesuai selera
2. Campur semua buah menjadi satu dalam wadah
3. Tuangkan madu, susu evaporasi/susu skim cair
dan air jeruk ke dalam campuran buah.Aduk rata.
4. Salad buah lebih nikmat disajikan dingin

214
Setup Kacang Hijau Labu (Untuk 6 porsi)

Nilai Gizi per sajian

Energy (Kkal) Karbohidrat (g)


89,0 21,0
Protein (g) Lemak (g)
1,4 0,3

https://yudithmangiri.wordpress.com/2013/07/10/s
etup-kacang-hijau-labu-ala-sc/

Bahan :
• 75 gram kacang hijau, • 100 gram gula merah,
cuci bersih, tiriskan serut 2 butir cengkeh,
• 200 gram labu kuning, cuci bersih
kupas, buang biji, potong • 1 batang kayu manis,
kotak panjang kurleb 5 cm
• 500 ml air matang • 1/4 sdt garam
• 2 lembar daun pandan

Cara membuat :
1. Tuang kacang hijau beserta air rendaman ke panci,
masukkan daun pandan, jahe, dan gula pasir.
2. Rebus kacang hijau dan labu dengan api sedang hingga
mendidih, biarkan 10 menit setelah mendidih. Angkat.

Saran Penyajian :
1. Bisa polosan atau disiram dengan susu skim cair
2. Lebih nikmat jika ditambahkan es batu atau es serut
3. Labu kuning / umbi-umbian sebaiknya diiris tipis lalu
direbus hingga matang untuk menghilangkan zat
goitrogen

215
Limun Serai
(Untuk 2 porsi)

Nilai Gizi per sajian

Energy (Kkal) Karbohidrat (g)


205,0 53,0
Protein (g) Lemak (g)
1,9 0,5

www.instagram.com/p/BkebDzpgca5/

Bahan :
• 1 cangkir gula pasir • Sedikit garam
• 2 batang serai, geprek dan • 2 gelas es
potong menjadi 1,5 cm • 1 lemon, iris tipis
• 3 gelas air (opsional, untuk
• 1 cangkir jus lemon segar (dari hiasan)
sekitar 3 buah lemon besar) • 2 batang serai,
• 1/2 cangkir air jeruk nipis potong 4 batang
segar (dari sekitar 2 jeruk (opsional, untuk
nipis) hiasan)

Cara membuat :
1. Dalam panci kecil, campurkan gula, potongan serai, dan
air, lalu didihkan. Aduk untuk melarutkan gula.
2. Kecilkan api dan didihkan selama 20 menit. Matikan api,
lalu biarkan selama sekitar satu jam / hingga dingin
3. Saring ke dalam teko kaca. Sesaat sebelum disajikan,
tambahkan jus lemon, air jeruk nipis, dan garam. Aduk
rata dan tambahkan es. Sajikan dalam gelas tinggi dengan
lebih banyak es. Hiasi dengan irisan lemon dan batang
serai.

216
Bab 8
Penutup
oleh : Muflihah Isnawati

Sebagai penutup dapat dikemukakan bahwa hipotiroid


dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan termasuk
malnutrisi (Rowe M., Hoermann R., Warmingham P., 2016). Pada
anak-anak, hipotiroid dapat mengakibatkan timbulnya
gangguan pertumbuhan dan perkembangan, yaitu anak menjadi
pendek serta gangguan kecerdasan. Pada ibu hamil, hipotiroid
akan menyebabkan gangguan pertumbuhan janin, sedangkan
pada orang dewasa menyebabkan penurunan kualitas hidup
(Teng et al., 2013). Gangguan gizi makro dan gizi mikro dapat
pula terjadi pada setiap level kehidupan, mulai dari janin hingga
dewasa.
Iodium sebagai bahan baku utama produksi hormon tiroid
harus dipenuhi. Kecukupan iodium harus dipenuhi sesuai
anjuran kecukupan yang telah ditentukan dan tidak pula
melebihi batas atas yang telah ditetapkan (Kartono D., 2012).
Iodium dapat diperoleh dari berbagai sumber, mulai dari air,
bahan makanan maupun fortifikasi atau suplemen yang
ditambahkan demi tujuan memenuhi kebutuhan iodium.
Walaupun kondisi hipotiroid dapat diatasi dengan
pemberian obat-obatan, namun masalah gizi yang lain masih

217
dapat terjadi. Masalah asupan serta keterbatasan pengetahuan
tentang pengaturan makan yang sesuai perlu ditangani dengan
pemberian asuhan gizi yang tepat. Proses asuhan gizi terstandar
yang dilakukan oleh tenaga gizi merupakan proses sistematis
yang dilakukan untuk memecahkan masalah gizi yang terjadi
(Kemenkes RI, 2014). Fokus dari asuhan gizi pada penderita
hipotiroid ini adalah mengatasi masalah gizi yang terjadi sebagai
akibat dari adanya hipotiroid.
Studi kasus yang dibahas diharapkan dapat menjadi
gambaran bagi para petugas gizi dalam menangani masalah
hipotiroid. Studi kasus ini membantu para ahli gizi untuk
berpikir secara sistematis dan terstruktur dalam memecahkan
masalah gizi khususnya yang terkait hipotiroid. Proses asuhan
gizi yang terstandar diharapkan dapat membantu memecahkan
masalah gizi penderita hipotiroid, sehingga pelayanan gizi
menjadi lebih efektif, efisien dan berkualitas tinggi.

218
Daftar Pustaka

Kartono, D. 2012. ‘Fortifikasi Bahan Makanan, Suplementasi dan


Obat yang Mengandung Iodium serta Dampaknya pada
GAKI”. Jurnal Gangguan Akibat Kekurangan Iodium
Indonesia,Vol1 No 2.Hh 62-74.
Kemenkes RI. 2014. Pedoman Proses Asuhan Gizi Terstandar
(PAGT). Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Rowe M., Hoermann R, Warmingham P. 2016. The Diagnosis and
Treatment of Hypothyroidism :A Patient’s Perspective.
Teng, W. et al. 2013. ‘Hypothyroidism In Pregnancy’. The Lancet
Diabetes and Endocrinology. Elsevier Ltd, 1(3), pp. 228–237.
doi: 10.1016/S2213-8587(13)70109-8.

219
Glosarium

ATP Adenosin Tri Phospat, suatu nukleotida (satuan


molekular) dalam bentuk energi yang digunakan
sel untuk pertukaran energi intraselular;
menyimpan dan mentranspor energi kimia
dalam sel serta sintesis asam nukleat.
BMR Basal Metabolic Rate, dalam bahasa Indonesia
sering disebut Laju Metabolisme Basal,
Kebutuhan energi minimal yang dibutuhkan
tubuh untuk menjalankan proses tubuh yang
penting seperti pernafasan, peredaran darah,
pekerjaan ginjal, pankreas, organ tubuh yang
lain, proses metabolisme di dalam sel-sel dan
untuk mempertahankan suhu tubuh, yang
dinyatakan dalam satuan kilo kalori per kilo
gram berat badan per jam.
++
Ca Kalsium, salah satu zat gizi mikro, mineral
esensial yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah
yang relatif banyak, berperan untuk mengatur
fungsi sel, seperti transmisi saraf, kontraksi otot,
penggumpalan darah, menjaga permeabilitas
membran sel, mengatur kerja hormon-hormon
dan faktor pertumbuhan.

220
CETP Cholesterylester Transfer Protein, adalah protein
yang mengangkut kolesterol ke seluruh tubuh
dan memacu tingkat kolesterol HDL. CETP
mengatur pengendalian kadar LDL dan VLDL
dalam darah.
CoA Koenzim-A Asetil, molekul yang penting
perannya dalam metabolisme tubuh, mengatur
keseimbangan metabolisme karbohidrat dan
lemak, menyediakan sejumlah atom karbon yang
berada dalam gugus asetil ke dalam siklus asam
sitrat untukdioksidasi sehingga
memperoleh energi.
Diet Aturan makanan khusus untuk kesehatan dan
sebagainya.
DIO Enzim Deiodinase, enzim yang mengatur
regulasi aktivitas hormon tiroid yaitu dalam
pengaktifan prekusor hormon tiroid dalam
bentuk tiroksin (T4) menjadi bentuk aktif
triiodotironin (T3), melalui pengurangan gugus
spesifik iodium dari molekul prekusor T4. Selain
itu juga berperan dalam inaktivasi hormon tiroid
dengan mengubah hormon T3 menjadi bentuk
reverse T3 (rT3) apabila jumlah di dalam tubuh
sudah mulai berlebih.
DIT Diiodotirosin, merupakan tirosin yang sudah
teriodinasi oleh dua unsur I (Ioidum), merupakan
molekul yang mengalami suatu kondensasi

221
oksidatif membantu T4 dengan pengeluaran
rantai sisi alanin dari molekul yang membentuk
cincin luar.
DNA Deoxyribo Nucleic Acid, molekul asam nukleat
yang memiliki fungsi diantaranya membawa
informasi genetik, membentuk RNA, dan
mengontrol aktivitas sel baik secara langsung
maupun tidak langsung serta berperan penting
dalam proses sintesis protein.
ECF Extra Celuler Fluid, dalam bahasa Indonesia
sering disebut cairan ekstra seluler, cairan yang
terletak di luar sel, menyediakan nutrisi sel dan
membersihkan sisa metabolisme sel, merupakan
medium transport substansi kimia atau transmisi
impuls dari satu sel ke sel yang lain.
GAKI Gangguan Akibat Kekurangan Iodium,
merupakan sekumpulan gejala yang timbul
sebagai akibat tubuh kekurangan iodium dalam
waktu yang lama.
Goitrogen Senyawa yang mengganggu kemampuan tubuh
menyerap atau menggunakan iodium.
GPx Glutation Peroksidase, merupakan antioksidan
enzimatik mampu mendetoksifikasi hidrogen
peroksida dan lipid hidroperoksida dengan
mereduksi glutation, serta mencegah
pembentukan radikal bebas baru, atau mengubah
radikal bebas yang telah terbentuk menjadi
molekul yang kurang reaktif.

222
Hipotiroid Kelainan fungsi kelenjar tiroid yang ditandai
dengan kurangnya produksi hormon tiroid yang
diproduksi oleh kelenjar tiroid.
IGF-1 Insulin-Like Growth Factor 1, hormon yang
diproduksi oleh hati dan otot rangka serta
jaringan lainnya sebagai respon terhadap
stimulasi growth hormone (GH), berperan dalam
membantu mempromosikan perkembangan dan
pertumbuhan tulang serta jaringan lain yang
normal.
IMT Indeks Massa Tubuh, metriks standar yang
digunakan untuk menentukan kondisi berat
badan seseorang normal atau tidak..
MIT Monoiodotirosin, merupakan tirosin yang sudah
teriodinasi oleh satu unsur I (Iodium) .
NIS Natrium Iodide Symporter, protein membran
yang terlibat dalam pengambilan iodida dan
berperan penting dalam metabolisme iodium
Tiroid Kelenjar endokrin terbesar dalam tubuh
manusia, bentuknya menyerupai kupu-kupu dan
terletak di leher bagian depan

223
Indeks
A C
Adenoma, 27 Cutis marmorata, 25
American Thyroid
Assosiation, 8, 107, D
109 Deiodinasi iodotirosin, 11,
Anemia pernisiosa, 94 43, 105
Anti Thyroid Receptor Diagnosis gizi, 3-4, 135,
Antibody (TRAb), 17 141-142, 148-149,
Antibodi, 19, 25, 53 157, 159, 167-168,
Antioksidan, 49, 51, 117, 217
221 Duodenum, 9
Aploplexy, 27
Asesmen gizi, 4, 135, 137- E
139, 141-142, 149,
Edukasi gizi, 4, 151-152,
156-157, 160-162,
159, 168, 217
166-167, 169, 171,
Endemik, 62, 67-69, 94
217
Endokrin, 7, 15, 21-22, 81-
Asuhan gizi, 2-5, 129, 132-
82, 104-105, 222
133, 135-136, 142,
Endopeptidase, 8
149, 152-153, 156,
Endositosis, 43
162, 166, 171, 217
Energy expenditure, 83,
Aterosklerosis, 32, 87, 114
109-110
Atrofi gastritis, 98
Epitel kuboid, 8
Autoimun, 2, 19, 22, 24,
Eritrosit, 14
98, 107, 117
Etiologi, 2, 4, 21-22, 83,
85-86, 88, 90-93, 95-
B 98, 162
Billewicz, 16, 155, 164 Eutiroid, 16, 55, 58-59,
Bioavailibilitas, 119-120 114, 155
Evaluasi gizi, 3-4, 135, 217

224
F 133, 154
Fisiologis, 8, 12, 49, 109, Hipoksia, 13, 32
119 Hipometabolisme, 83
Folikel, 8, 43, 45-46, 49- Hipotalamus, 11, 22, 26-
50, 53 27, 82
Fortifikasi, 72, 77, 91, 124 Hipotiroid tersier, 22, 26-
Free Thyroxine (ft4), 17, 27
27, 83, 133, 140, 155, Hipotiroid kongenital, 24-
157, 159, 161, 165, 25, 29-31, 85, 92, 97-
167-168, 170 98, 120
Hipotiroid periferal, 22, 27-
G 28
Hipotiroid primer, 22
Glikolisis, 88
Hipotiroid sekunder, 22, 26
Glukogenesis, 88
Hipotiroid subklinis 2, 24,
Glukoneogenesis, 54, 88
32, 158-159
Goitrogenik, 91, 108, 112,
Hipotiroid, 7, 15-17, 19-35,
115, 139, 143, 152,
37, 39, 56-59, 62, 81-
156, 160, 166-167,
85, 87-98, 102, 104,
169, 214, 220
106-124, 129-132,
Graves, 23
135-136, 141-151,
153, 157-159, 163-
H
164, 167-168, 189-
Harris Benedict, 110-111
191, 203, 205-206,
Hashimoto’s Tyroiditis, 23,
216-217, 221
107
Hipotiroxinemia, 17
Hemoglobin, 14, 33, 93-95
Hipotoni, 25
Hernia umbilikalis, 25
Hormon tiroid, 2, 8-9, 11-
High Density Lipoprotein
15, 17, 20, 22, 24,
(HDL), 87-88, 114,
27-28, 33-35, 42-59,
219
64-65, 81-83, 86, 88,
Hiperkapnia, 13, 32
90, 92, 95-96, 104-
Hipertiroid, 17, 44, 56-59,
109, 113, 118, 124,
62, 106-107, 118,
145, 219, 221

225
Hypothalamus-pituitary, L
104 Letargi, 25
Lipoprotein, 87, 114
I Lobus, 7-8
Ikterus, 25 Low Density Lipoprotein
Ileum, 119 (LDL), 13, 32, 87,
Informed consent, 120, 134 114, 219
Intervensi gizi, 3-4, 135,
137, 149-150, 159, M
168, 217 Makroglosi, 25
Intoleransi laktosa, 113, Makrositik, 94
121 Malnutrisi, 4, 81-83, 85,
Intratiroid, 11 111, 135-138, 140,
Isthmus, 8 144, 167-168, 216-
217
J Manifestasi, 24, 86
Jejenum, 119 Menorrhagia, 94
Metabolisme, 2, 8, 12, 15,
K 20-21, 24, 34-35, 43-
Kardiovaskular, 2, 21 45, 48, 50, 53-59, 64,
Kelenjar tiroid, 2, 7-10, 12, 82-84, 86, 88-90, 95,
15, 17, 22-24, 43-45, 105-109, 112, 143,
48-50, 62, 64-65, 81, 147, 158-159, 216,
104-107, 109, 117- 218-220, 222
118, 146, 155-156, Mikronutrien, 9, 48
164, 217, 221 Miksedema, 21, 25, 49, 55,
Koloid, 8, 43, 46, 48, 50 62
Konseling gizi, 4, 152, 217
Konstipasi, 14, 20-21, 25, N
33, 107, 114, 141, Neuromuskular, 2
145 Nodul, 2, 12, 23-24, 44
Kretinisme, 2, 24, 31, 49,
62

226
O Sindrom Down, 53
Obesitas, 82-85, 89, 109- Sintesis, 2, 9, 11, 15, 24,
110, 143, 157 33, 35, 43, 45, 48-51,
Obstruksi, 33 53-55, 58-59, 61, 64,
Oedema scrotum, 25 81, 87-88, 90, 93-94,
Oedema, 141 104-106, 114, 131,
Overweight, 85 145, 218, 220
Skrining gizi, 4, 135-136,
P 155
Palpasi, 154, 164 Status gizi, 84-86, 108-110,
Palpitasi, 99 135-136, 140, 143-
Parathesias, 34 144, 149, 151, 155,
Periferal, 22, 27-28 157-159, 161, 167-
Pernicious anemia, 33 168
Pinositosis, 10-11 Stress oksidatif, 117
Pituitari, 11, 17, 22, 26-27,
44, 86, 107 T
Proteolisis, 10-11 Thyroid Peroxidase, 10,
Pulmonary hypertention, 105-106
14, 32 Thyroid Peroxidase
Antibody (TPOAb),
Q 17
Quebec, 25 Thyroidectomy, 23
Thyroxine (T4), 8, 43-44
R Tiroglobulin, 8, 10-12, 43-
46, 48, 50, 53, 92, 97,
Radikal bebas, 31, 92, 117-
105, 131
118, 221
Tiroiditis, 2, 19, 22-24, 62,
Resistensi, 22, 27, 88, 112
107
Retardasi, 2, 24, 31, 92
Trachea, 8
Tri-iodothyronine (T3), 8-
S 11, 13, 26, 43-46, 48,
Sheehan’s syndrome, 27 51, 53, 55-56, 82-83,
Sianida, 112, 115-116

227
92, 105-106, 124, V
155, 219 Very Low Density
Turnover, 95 Lipoprotein (VLDL),
Tyroglobulin Antibody 87, 219
(TGAb), 17
W
U Wolff Chaikof, 26
Underweight, 85
Z
Z-score, 85, 140

228
BIOGRAFI PENULIS

Muflihah Isnawati, DCN., M.Sc lahir di


Cilacap, 5 Februari 1968, menyelesaikan
pendidikan Diploma 3 Gizi dari Akademi Gizi
Yogyakarta, pada tahun 1989. Setelah lulus dari
D3 Gizi, bekerja sebagai staf di Sekolah Pembantu
Ahli Gizi (SPAG) Pekalongan. Pada tahun 1995,
dengan mendapat dukungan dana dari Bank
Dunia, melanjutkan pendidikan di Diploma IV
Gizi FKUI dengan status tugas belajar dan lulus pada tahun 1996. Pada
tahun 1998, dengan beasiswa dari CHN3 Project Kementerian
kesehatan RI, melanjutkan pendidikan S2 (Master of Clinical
Nutrition) di University of Surrey Roehampton London, lulus tahun
2000. Pekerjaan sehari hari adalah dosen di Jurusan Gizi Poltekkes
Kemenkes Semarang, dengan minat utama adalah ilmu gizi dan
dietetik.

Hastin Dyah Kusumawardani, SKM.,


M.Sc. Lahir di Magelang, 30 maret 1977,
menyelesaikan pendidikan dasar dan
menengah di Magelang, Jawa Tengah.
Menempuh pendidikan Diploma 3 Gizi di
Akademi Gizi Depkes RI Semarang lulus
tahun 1998. Melanjutkan pendidikan
kesehatan masyarakat di Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas
Diponegoro lulus tahun 2007, dan menempuh pendidikan strata 2
jurusan ilmu dan teknologi pangan di Fakultas Teknologi Pangan
Universitas Gadjah Mada lulus tahun 2016. Bekerja di Balai Litbangkes
Magelang sejak tahun 2001.

229
Ismi Setianingsih, S.Gz. Lahir di
Semarang, 26 Maret 1987, menyelesaikan
pendidikan dasar dan menengahnya di
Kota Semarang, Jawa Tengah. Menempuh
pendidikan S1 Ilmu Gizi di Fakultas
Kedokteran Universitas Brawijaya Malang,
lulus tahun 2013. Tahun 2014 hingga saat
ini bekerja sebagai Peneliti di Balai Litbang
Kesehatan Magelang.

Slamet Riyanto,S.Gz. Lahir di Magelang


pada tanggal 10 September 1989;
menyelesaikan pendidikan pada Program
Studi S1 Ilmu Gizi Fakultas Kedokteran
Universitas Diponegoro Semarang (2007 –
2011). Saat ini bekerja sebagai Peneliti di
Balai Litbang Kesehatan Magelang (2015 –
Sekarang).

Candra Puspitasari, S.TP. Lahir di


Magelang pada tanggal 30 Maret 1984;
menyelesaikan pendidikan D3 Gizi di
Poltekkes Depkes Yogyakarta (2002 - 2005);
dan melanjutkan pendidikan S1 di Prodi
Ilmu dan Teknologi Pangan, Fakultas
Pertanian, Universitas Sebelas Maret (UNS)
Surakarta (2012 – 2014). Saat ini bekerja
sebagai Litkayasa di Balai Litbang
Kesehatan Magelang (2010 – Sekarang).

230
Cicik Harfana. Lahir pada tanggal 31 Juli
1987 di Magelang; menyelesaikan
pendidikan D3 Jurusan Gizi di Poltekkes
Kemenkes RI Semarang (2007-2010).
Bekerja di Balai Litbang Kesehatan
Magelang sejak tahun 2011 dan menjadi
Teknisi Litkayasa mulai tahun 2015 -
sekarang. Memiliki pengalaman mengelola
majalah semipopuler: menjadi sekretaris
redaksi pelaksana majalah semipopuler
IODIKES (tahun 2016-saat ini).

Palupi Dyah Ayuni, S.Gz. Lahir di


Purbalingga, 17 Juni 1989. Menempuh
pendidikan D3 Ilmu Gizi di Politeknik
Kesehatan Kemenkes Semarang lulus tahun
2010, kemudian melanjutkan pendidikan S1
Ilmu Gizi di Fakultas Kedokteran Universitas
Brawijaya Malang selesai tahun 2016. Mulai
bekerja di Balai Litbang Kesehatan Magelang
sebagai Teknisi Litkayasa dari tahun 2011
hingga saat ini.

231