Anda di halaman 1dari 14

Tugas Pendidikan Kewarganegaraan

“Pengertian Filsafat”

Nama : Siti Nur Aisyah

NIM : 1910035060

Dosen PA : Drs. Demsy Salindeho, M.Si.

PRODI DIII KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
2019

Tugas Pendidikan Kewarganegaraan

“Pengertian Filsafat”

Nama : Siti Nur Aisyah

NIM : 1910035060

Dosen PA : Drs. Demsy Salindeho, M.Si.

PRODI DIII KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MULAWARMAN
2019

A. Sejarah Filsafat

Filsafat, terutama Filsafat Barat muncul di Yunani semenjak kira-kira abad ke 7

S.M.. Filsafat muncul ketika orang-orang mulai berpikir-pikir dan berdiskusi akan

keadaan alam, dunia, dan lingkungan di sekitar mereka dan tidak lagi

menggantungkan diri kepada dogma agama untuk mencari jawaban atas yang

pertanyaan-pertanyaan yang muncul .

Phytagoras dianggap sebagai orang pertama yang membawa filsafat ke Yunani.

Namun demikian, orang pertama yang digelari filosof adalah Thales (sekitar abad ke-

6 S.M) dari Mileta karena dia-lah yang pertama kali menjelaskan asal-usul dunia

yang terlepas dari kepercayaan akan mitos-mitos kuno. Kemudian, muridnya

Aneximander (610-546 S.M) menjelaskan lebih dalam tentang asal-usul dunia dan

alam semesta yang kemudian dikenal dengan teori kosmologi. Selain itu juga ada

beberapa filosof lain seperti Xenophanes dari Colophon (560-478 S.M) yang

berargumentasi tentang satu tuhan sebagai penguasa alam semesta yang kekal,

Permenides dari Elea (lahir sekitar tahun 515 S.M), Heraklitus dari Ephesus (540-480

S.M), Anaxagoras dari Clazomenae (500–428 S.M), dan Democritus (460–370 S.M).
Dalam banyak literatur filsafat para filosof ini dikelompokkan sebagai filosof pra-

Sokrates.

Fase berikutnya dalam filsafat barat adalah fase Sokrates (470-399 S.M).

Pemikirannya telah mempengaruhi filsafat barat dari dahulu sampai sekarang.

Walaupun Socrates tidak menulis apapun, namun dia melakukan dialog-dialog

dengan di kumpulan-kumpulan kecil orang-orang yang mengaguminya seperti Plato

dan Xenophon. Diskusi-diskusinya membahas topik-topik kritis seperti mitos-mitos

klasik, pemerintahan dan kehidupan sosial, Dia dianggap sebagai pembangkang dan

kemudian dihukum dengan meminum racun. Pemikiranpemikirannya kemudian

dilanjutkan oleh murid-muridnya, salah satunya adalah Plato (427-347 S.M) yang

mebahas tentang estetika, politik, teologi, epeistimologi, dan filsafat bahasa.

Pemikiran-pemikirannya tertuang dalam bukubuku seperti Phaedo dan Repblic.

Muridnya yang paling terkenal adalah Aristoteles (384-322) yang mendirikan sekolah

Lyceum sebagai pusat penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan. Bersama

gurunya Plato, Aristotels menjadi figur yang paling berpengaruh dalam filsafat barat.

Setelah Aristotels, filsafat berkembang pesat sehingga menghasilkan berbagai

penemuan-penmuan dan pengembangan-pengembangan ilmu pengetahuan di

berbagai bidang.

Walaupun kata filsafat berasal dari bahasa Yunani dan telah menjadi tradisi

bangsa Yunani kuno sejak abad ke-7 S.M, tidak berarti hanya bangsa Yunani-lah

yang berfilsafat. Di berbagai belahan dunia lain juga telah berkembang berbagai
pemikiran-pemikiran falsafi. Di Cina muncul filosof seperti Konfusius (551 – 479

S.M), Lao Tse (sekitar abad ke-6 S.M), Mau Tsu (497 – 438 S.M). Di India sejak

1000 tahun sebelum masehi muncul pemikir-pemikir yang disebut sebagai Brahmana,

kemudian pada abad ke-6 muncul Sidharta Gautama dengan membawa ajaran Budha.

Di Persia juga telah ada ajaran Zoroaster yang muncul pada abad ke-7 sebelum

masehi.

Setelah kematian Aristoteles, filsafat menyebar luas diberbagai penjuru dunia.

Filsafat yunani kemudian berbenturan dengan sistem pemikiran yang berbeda, seperti

di timur filsafat yunani berbenturan dengan agama Budha, di Persia filsafat Yunani

berbenturan dengan Zoroaster, dan di Palestina mereka berhadapan dengan Yahudi,

Dari benturan-benturan pemikiran ini, maka terjadilah asimilasi pemikiran yang

kemudian memunculkan pemikiran-pemikiran baru hasil sintesa filsafat yunani

dengan filsafat lain.

Perkembangan filsafat barat juga tidak bisa dilepaskan dari perkembangan

peradaban Islam yang member kontribusi yang sangat besar terhadap kemajuan ilmu

pengetahuan. Islam yang berkembang pada abad ke 7 di jazirah arab menyebar

dengan cepat ke berbagai penjuru. Pada masa awal perkembangan islam belum

dikenal istilah filsafat islam. Namun, seiring dengan perkebangan islam dan

kebutuhan akan pemahaman keislaman, banyak ulama-ulama islam yang mulai

menggali aspek-aspek filsafat, terutama filsafat Plato dan Aristoteles.


Diantara filosof islam generasi awal seperti Al-Kindi (800-870 M), Al-Farabi (870-

950 M), Ar-Razi (925 M). Kemudian muncul filosof generasi berikutnya seperti Ibnu

Sina (980-1037 M), Ibnu Miskawayh (w. 1030), Al-Ghazali (w. 1111), Ibnu Rushd

(1126-1198), Fakhruddin Ar-Razi (w.1209), Suhrawardi (w.1193), Ibnu Arabi

(w.1240).

Sejarah Filsafat Barat bisa dibagi menurut pembagian berikut: Filsafat Klasik,

Abad Pertengahan, Modern dan Kontemporer.

a. Klasik (600 S.M – 500 M) Pra Sokrates”: Thales, Anaximander, Anaximenes,

Pythagoras, Xenophanes, Parmenides, Zeno, Herakleitus, Empedocles,

Democritus, Anaxagoras. Zaman Keemasan: Sokrates, Plato, Aristoteles

Helenisme: Epecureanisme, Stoikisme, dan Skeptisisme.

b. Abad pertengahan (500-1500) Pada abad pertengahan filsafat yang

berkembang banyak membicarakan permasalahan teologis dan alam. Diatara

filosof abad pertengahan adalah: Boethius, Maximus, Peter Damian, Thomas

Aquinas

c. Moderen Filsafat barat modern dimulai pada tahun 1500 yang dapat

dikelompokkan kedalam beberapa periode, yaitu:

Renaisans (1500–1600): pada periode ini tema-tema pemikiran para filosof

pada saat itu berkisar pada masalah humanisme, sosial dan politik. Diantara

filosof pada fase ini adalah: Niccòlo Machiavelli, Sir Francis Bacon, Thomas

Hobbes.
Periode modern awal (1600–1700):, Pada periode ini didominasi oleh

pemikiran empiris dan rational. Filosof pada periode ini diantaranya: René

Descartes, Nicolaus Copernicus, Johannes Kepler, Galileo Galilei, Leonardo

da Vinci, Jean-Jacques Rousseau, Benedict de Spinoza, Immanuel Kant.

Periode Pencerahan (1700-1900): Pada periode ini filsafat didominasi

pemikiran bertemakan Tuhan, Akal, Alam dan kemanusiaan. Diantara filosof

periode ini adalah: John Locke, George Berkeley, David Hume, John Stuart

Mill, Henry Sidgwick, Karl Marx, Charles Darwin, Georg Wilhelm Friedrich

Hegel, Auguste Comte, Charles Sanders Peirce, Friedrich Nietzsche.

d. Kontemporer (1900–present). Filsafat pada abad ke-20 di tandai dengan

pemisahan dua tradisi pemikiran, yaitu, analisa logis yang di perkenalkan oleh

Locke and Hume, dengan analisa Spekulatif oleh Heggel. Para filosof pada

periode ini seperti; Michel Foucault, Martin Heidegger, Karl Popper, Bertrand

Russell, Jean-Paul Sartre, Albert Camus, Jurgen Habermas, Richard Rotry,

Feyerabend, Jacques Derrida, Mahzab Frankfurt Seriing dengan sejarah

panjang filsafat, muncul banyak filosof-filosof dari berbagai penjuru dunia.

Baik filsafat barat ataupun filsafat timur saling mengisi dan saling menkoreksi

satu sama lain yang menghasilkan sintesa dan pemahaman baru bagi manusia

dalam memahami diri dan alam sekitaranya. Selama manusia masih berfikir,

maka selama itulah filsafat itu ada.

B. Jenis-Jenis Filsafat
Sejalan dengan perkembangan peradaban manusia, filsafat berkebang

luas dan mencakup hamper seluruh sendi-sendi kehidupan. Aristoteles

membagi filsafat menjadi, logika, etika, estetika, psikologi, politik, fisika, dan

metafisika.

Cristian Wolff membagi bidang filsafat menjadi: logika, filsafat pertama,

ontologi, teologi, kosmologi, psikologi rasional, etika dan teiri pengetahuan.

Ia kemudian mengelompokkan bidangi-bidang tersebut menjadi 3 bagian,

yaitu teoritis, praktis dan kriteriologis. Secara umum maka filsafat dapat

dikelompokkan menjadi:

1. Metafisika: filsafat tentang hakekat yang ada di balik fisika, tentang

hakekat yang bersifat transenden, di luar atau di atas jangkauan

pengalaman manusia.

Dibagi menjadi 2: Metafisika Umum (Ontologi) dan Metafisika Khusus.

– Metafisika Umum: membahas realitas secara keseluruhan, sekaligus.

– Metafisika Khusus: terdiri atas Kosmologi, Teologi metafisik, dan

Filsafat Antropologi. Kosmologi: membahas alam/dunia dan keteraturan

yang fundalmental dari realitas. Teori metafisik: membahas eksistensi dan

peran Allah, terlepas dari agama dan kepercayaan. Filsafat Antropologi:

membahas eksistensi manusia dan semua yang berhubungan dengan

eksistensi itu

2. Logika: filsafat tentang pikiran benar dan salah


3. Etika: filsafat tentang perilaku baik dan buruk filsafat mengenai nilai-

nilai moral. Terdiri dari etika deskriptif, etika normatif, dan metaetika

4. Estetika: filsafat tentang kreasi indah dan jelek. filsafat mengenai seni

dan keindahan. Terdiri dari estetika deskriptif, dan estetika normatif

5. Epistemologi: filsafat tentang ilmu pengetahuan membicarakan teori

pengetahuan. contoh pertanyaan yang dibahas: apakah pengetahuan itu?

apa yang menjadi sumber pengetahuan, akal budikah atau pengalaman?

adakah pengetahuan yang benar-benar pasti?.

C. Aliran-Aliran Filsafat

Sedangkan aliran filsafat pada awal hanya dikenal 3 aliran, yaitu:

1. Metafisika: mengkaji hakikat dibalik fisik. Beberapa objek kajiannya

adalah, realitas benda, kosmologi, antropologi, dan teologi.

2. Rasionalis: filsafat yang bersumberkan pada rasio/akal.

3. Empiris: Filsafat yang bersumberkan pada pengalaman yang

ditangkap oleh indra manusia.

Dalam perkembangannya, filsafat berkembang pesat dan membentuk

aliran-aliran pemikiran,sesuai dengan instrumen dan landasan yang menjadi

sarana dalam memperoleh pengetahuan, diantara:

1. Materialisme adalah paham yang memahami bahwa esensi kenyataan


termasuk esensi manusia bersifat material atau fisik.
2. Idealisme adalah kebalikan dari materialisme yaitu lebih menekankan
pada "idea" dunia roh. Menurut aliran ini, kenyataan sejati adalah bersifat
spiritual.

3. Dualisme adalah ajaran yang menyatakan realitas itu terdiri dari dua
substansi yang berlainan dan bertolak belakang. Masing-masing substansi
bersifat unik dan tidak dapat direduksi, misalnya substansi adi kodrati
dengan kodrati, Tuhan dengan alam semesta, roh dengan materi, jiwa
dengan badan dan lain-lain.

4. Eksistensialisme aliran filsafat yang menyatakan bahwa cara berada


manusia dan benda lain tidaklah sama.

5. Strukturalisme adalah aliran filsafat yang hendak memahami masalah


yang muncul dalam sejarah filsafat.

6. Empirisme aliran ini berpedoman pada kepercayaan yang telah dilalui


melalui pengalaman.

7. Humanisme merupakan aliran yang bersifat individu lebih


mengutamakan dan memberikan kemerdekaan dalam berpikir.

8. Rasionalisme akal merupaka satu-satunya sumber pengetahuan yang bisa


dijadikan landasan dalam bertindak dan menentukan segala sesuatu.

9. Kritisme merupakan aliran yang menjadi penghubung antara pandangan


rasionalisme dan pandangan empirisme.

10. Konstruktivisme menyatakan bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang


bisa diperoleh hanya dengan bersikap pasif namun harus dibangun secara
aktif.

Sering dengan perkembangan ilmu pengetahuan, filsafat menjadi dasar pada

setiap cabang-cabang ilmu pengetahuan. Konsekuensinya hampir seluruh

bidang ilmu memiliki filsafat, dan membentuk cabang filsafat tersendiri, maka

munculah filsafat antropologi, filsafat biologi, filsafat seni, filsafat

pendidikan,cfilsafat hukum, dan filsafat-filsafat lainnya.


D. Pengertian Filsafat

Secara bahasa, kata filsafat berasal dari kata philo dan sofia. Philo artinya

cinta, sophia artinya hikmah, kebijakan. Jadi filsafat dapat diartikan sebagai

cinta kebijakan (the love of wisdom).

Banyak filosof yang telah mendefenisikan filsafat, diantaranya:

1. Plato (427–347 S.M) mendefinisikan filsafat sebagai penemuan

kenyataan atau kebenaran mutlak . Filsafat merupakan pengetahuan

yang mencoba untuk mencapai pengetahuan tentang kebenaran yang

asli

2. Aristoteles (384-322 S.M) menyatakan filsafat menyelidiki sebab dan

asas segala benda. ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang

di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika , logika, retorika, etika,

ekonomi, politik, dan estetika

3. Neoplatoisme berpendapat bahwa filsafat adalah bersekutu dengan

ilahi.

4. Hegel (1770–1831) berpendapat bahwa filsafat bertugas untuk

mendeduksi kategori-kategori untuk menemukan hakikat semua hal

5. Dalam Kamus Filsafat (Bagus, 2005: 242) secara istilah filsafat dapat

diartaikan sebagai:
a. Upaya spekulatif untuk mengkaji suatu pandangan sistematik serta

lengkap tentang seluruh realitas.

b. Upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar serta nyata.

c. Upaya untuk menentukan batas-batas dan jangkauan pengetahuan;

sumbernya, hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya.

d. Penyelidikan kritis tentang pengandaian-pengandaian dan

peryataanpernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang.

Selain itu definisi dari filsafat banyak dicetuskan oleh para ahli filsafat

atau filsuf seperti Cicero yang berpendapat bahwa filsafat adalah sebagai "ibu

dari semua seni" atau "the mother of all the art" ia juga mendefinisikan

filsafat sebagai ars vitae yang berarti seni kehidupan.. Menurut Descrates,

filsafat merupakan semua pengetahuan di mana Tuhan, alam, manusia

menjadi pokok penyelidikan.

Ibnu Sina yang merupakan filsuf islam mengemukakan bahwa filsafat

adalah pengetahuan otonom yang perlu ditimba oleh manusia, sebab manusia

telah di karuniai akal oleh Allah. Oleh karena itu, banyak dari penulis

cenderung mendefinisikan filsafat adalah merupakan ilmu pengetahuan yang

menyangkut atau mengenai segala sesuatu dengan cara memandang sebab-

sebab atau asal-usul terdalam.


Dalam tulisan ini, penulis mengutip pendapat Blocker (1999:3)

menggunakan pendekatan teknis yang mendefenisikan filsafat sebagai refleksi

kritis tentang pertanyaan-pertanyaan normatif dasar dan umum yang dapat

dipertahankan secara logis dan sistematis untuk menjawab

pertanyaanpertanyaan mendasar. (Philosophy is critical reflection on basic

and general normative questions with the aim to providing defensible and

systematic answers to some very fundamental questions). Dari defenisi diatas

terdapat 5 sifat penting, yaitu refleksif (reflective), normatif (normative), kritis

(critical), rasional (rational), sistematis (systematic). Refleksif berarti filsafat

menelaah asumsi dasar tentang budaya. Normatif berarti filsafat berhubungan

dengan muatan nilai, seperti benar dan salah, baik dan buruk, dan sebagainya.

Filsafat bersifat kritis maksudnya adalah filsafat tidak didapat begitu saja,

namun melalui tantangan terhadap kepercayaankepercayaan tradisional.

Filsafat adalah sesuatu yang rational maksudnya filsafat membutuhkan alasan-

alasan untuk mempercayai sebuah teori dari teori lainnya. Terakhir, filsafat

bersifat bersifat sistematis yaitu bagaimana melihat segala sesuatu saling

berhubungan.
Daftar Pustaka

Audi, Robert. 1999. The Cambridge Dictionary of Philosophy (Second Edition).

Cambridge University Press: Cambridge. Bagus, Loren. 2005. Kamus Filsafat.

Gramedia:Jakarta.

Duignan, Brian (Ed). 2011. Ancient Philosophy: from 600 BCE to 500 CE. Britanica

Educational Publisshing: New York.

______. 2011. Modern Philosophy : from 1500 CE to the Present. Britanica

Educational Publisshing: New York.

______. 2011. Medieval Philosophy : from 500 to 1500 CE. Britanica Educational

Publisshing: New York. Ianonne, A.

Pablo. 2001. Dictionary of World Philosophy. Rutledge: New York. Kartanegara,

Mulyadi. Gerbang Kearifan. Lentera hati: Jakarta. 2006.

Kenny, Anthony John Patrick. 2006. An Illustrated Brief History of Western

Philosophy. Blackwell: Australia.

Leaman, Oliver. 1999. Key Concepts of Eastern Philosophy. Rutledge: New York.