Anda di halaman 1dari 33

MAKALAH FISIKA SEKOLAH

FLUIDA STATIS

Disusun oleh:

Kelompok 5 (Lima)
- ASTRI TAMARA (A1E016002)
- CLARA JESISCA (A1E016004)
- SINTA RITARI (A1E016010)
- AZIZ WIRANDA (A1E016051)

UNIVERSITAS BENGKULU
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
2018

A. Kompetensi Inti
KI1 : Menghayati dan mengamalkan ajaran yang dianutnya
KI2 : Menghayati dan mengamalkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli
(gotong royong, kerjasama, toleran, damai), santun responsive dan pro-aktif dan
menunjukkan sikap sebagai bagioan dari solusi atas berbagai permasalahan dalam
berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam serta dalam
menempatkan diri sebagai cerminan bangsa dalam pergaulan dunia.
KI3 : Memahami, menerapkan , menganalisis pengetahuan faktual, konseptual,
prosedural berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi,
seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan,
kenegaraan, dan peradaban terkait fenomena dan kejadian, serta menerapkan
pengetahuan prosedural pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan
minatnya untuk memecahkan masalah
KI4 : Mengolah, menalar, dan menyaji dalam ranah konkret dan ranah abstrak terkait
dengan pengembangan dari yang dipelajarinya disekolah secara mandiri, dan
mampu menggunakan metode sesuai kaidah keilmuan.
B. Kompetensi Dasar

3.3 Menerapkan hukum-hukum pada fluida statik dalam kehidupan sehari-hari


4.3 Merencanakan dan melaksanakan percobaan yang memanfaatkan sifat-sifat
fluida,berikut presentasi hasil dan makna fisisnya
C. Tujuan Pembelajaran

Melalui proses mengamati, menanya, mencoba, menalar dan mengomunikasikan, peserta


didik dapat:
1. Melalui proses menanya siswa diharapkan mampu menjelaskan tekanan
dengan tepat
2. melalui proses mencoba siswa dihapkan mampu Memformulasikan tekanan
dengan tepat
3. melalui proses diskusi siswa dihapkan mampu Menjelaskan tekanan
hidrostatik dengan tepat
4. melalui proses diskusi siswa diharapkan mampu Memformulasikan tekanan
hidrostatik dengan tepat
5. melalui proses mencoba siswa diharapkan mampu Menjelaskan hukum utama
hidrstatis dengan tepat
6. melalui proses diskusi siswa diharapkan mampu Menjelaskan hukum Pascal
dengan tepat
7. melalui proses diskusi siswa dihapkan mampuMenerapkan hukum
Pascal dalam kehidupan sehari-hari dengan tepat
8. melalui proses mencoba siswa diharapkan mampu Menjelaskan hukum
Archimedes
9. melalui proses mencoba siswa dihapkan Menerapkan hukum
Archimedes dalam kehidupan sehari-hari
A. Fluida Statis

Fluida adalah zat yang dapat mengalir dan


berubah bentuk (dapat dimampatkan) jika diberi
tekanan. Jadi, yang termasuk ke dalam fluida
adalah zat cair dan gas. Perbedaan antara zat cair
dan gas terletak pada kompresibilitasnya atau
ketermampatannya. Gas mudah dimampatkan,
sedangkan zat cair tidak dapat dimampatkan.

Gambar : 1
Ditinjau dari keadaan fisisnya, fluida terdiri atas
fluida statis atau hidrostatika, yaitu ilmu yang mempelajari tentang fluida atau zat alir yang
diam (tidak bergerak) dan fluida dinamis atau hidrodinamika, yaitu ilmu yang mempelajari
tentang zat alir atau fluida yang bergerak. Hidrodinamika yang khusus membahas mengenai
aliran gas dan udara disebut aerodinamika.

Sifat fisis fluida dapat ditentukan dan dipahami lebih jelas saat fluida berada dalam
keadaan diam (statis). Sifat-sifat fisis fluida statis yang akan dibahas pada subbab ini di
antaranya, massa jenis, tekanan, tegangan permukaan, kapilaritas, dan viskositas. Bahasan
mengenai massa jenis dan tekanan telah Anda pelajari di SMP sehingga uraian materi yang
disajikan dalam subbab ini hanya bertujuan mengingatkan Anda tentang materi tersebut.

Massa Jenis

Pernahkah Anda membandingkan berat antara kayu dan besi? Benarkah pernyataan
bahwa besi lebih berat daripada kayu? Pernyataan tersebut tentunya kurang tepat, karena
segelondong kayu yang besar jauh lebih berat daripada sebuah bola besi. Pernyataan yang
tepat untuk perbandingan antara kayu dan besi tersebut, yaitu besi lebih padat daripada kayu.

Anda tentu masih ingat, bahwa setiap benda memiliki kerapatan massa yang berbeda-
beda serta merupakan sifat alami dari benda tersebut. Dalam Fisika, ukuran kepadatan
(densitas) benda homogen disebut massa jenis, yaitu massa per satuan volume. Secara
matematis, massa jenis dituliskan sebagai berikut.
ρ=m/V .............................................................(1)

Keteranngan :
m = massa (kg atau g),
V = volume (m3 atau cm3), dan
ρ = massa jenis (kg/m3 atau g/cm3)

Jenis beberapa bahan dan massa jenisnya dapat dilihat pada Tabel 1. berikut.

Tabel 1. Massa Jenis atau Kerapatan Massa (Density)

Bahan Massa Jenis (g/cm3) Nama Bahan Massa Jenis (g/cm3)


Air 1,00 Gliserin 1,26
Aluminium 2,7 Kuningan 8,6
Baja 7,8 Perak 10,5
Benzena 0,9 Platina 21,4
Besi 7,8 Raksa 13,6
Emas 19,3 Tembaga 8,9
Es 0,92 Timah Hitam 11,3
Etil
0,81
Alkohol
Sumber : College Physics, 1980
1. Hukum Utama Hidrostatika

Perhatikanlah Gambar

Gambar . Tekanan di titik A, B, C, dan D


sama besar, serta tidak bergantung pada
bentuk penampang tempat fluida tersebut

.
Gambar tersebut memperlihatkan sebuah
bejana berhubungan yang diisi dengan fluida, misalnya air. Anda dapat melihat bahwa tinggi
permukaan air di setiap tabung adalah sama, walaupun bentuk setiap tabung berbeda.
Bagaimanakah tekanan yang dialami oleh suatu titik di setiap tabung? Samakah tekanan total
di titik A, B, C, dan D yang letaknya segaris? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Anda
harus mengetahui Hukum Utama Hidrostatis.

Hukum Utama Hidrostatis menyatakan bahwa semua titik yang berada pada bidang datar
yang sama dalam fluida homogen, memiliki tekanan total yang sama. Jadi, walaupun bentuk
penampang tabung berbeda, besarnya tekanan total di titik A, B, C, dan D adalah sama.

Persamaan Hukum Utama Hidrostatis dapat diturunkan dengan memperhatikan Gambar 2.

Gambarr 2: Tekanan total di titik A dan B pada bejana U yang terisis fluida homogen
adalah sama besar,pA=pB

Misalkan, pada suatu bejana berhubungan dimasukkan dua jenis fluida yang massa
jenisnya berbeda, yaitu ρ1 dan ρ2.
Jika diukur dari bidang batas terendah antara fluida 1 dan fluida 2, yaitu titik B dan titik A,
fluida 2 memiliki ketinggia h2 dan fluida 1 memiliki ketinggian h1.

Tekanan total di titik A dan titik B sama besar. Menurut persamaan tekanan
hidrostatis, besarnya tekanan di titik A dan titik B bergantung pada massa jenis fluida dan
ketinggian fluida di dalam tabung. Secara matematis, persamaannya dapat dituliskan sebagai
berikut.

pA = pB
p0 + ρ1gh1 = p0 + ρ2gh2
ρ1 h1= ρ2 h2

keterangan:

h1 = jarak titik A terhadap permukaan fluida 1,


h2 = jarak titik B terhadap permukaan fluida 2,
ρ1 = massa jenis fluida satu, dan
ρ2 = massa jenis fluida dua.

Contoh Soal 3 :
Perhatikanlah gambar bejana di bawah ini.

Jika diketahui massa jenis minyak 0,8 g/cm3, massa


jenis raksa 13,6 g/cm3, dan massa jenis air
1 g/cm3, tentukanlah perbedaan tinggi permukaan
antara minyak dan air.
Solusi :
Diketahui: ρm = 0,8 g/cm3, ρr = 13,6, dan ρair = 1 g/cm3.

ρaha = ρmhm → ha = (ρm / ρa) hm = (0,8 g/cm3) / (1 g/cm3) x 15 cm3 = 12 cm.

Jadi, perbedaan tinggi permukaan minyak dan air = 15 cm – 12 cm = 3 cm.


Pengukur Tekanan Sederhana
Selanjutnya dalam sebuah sistem seperti gambar di bawah ini menunjukkan adanya
perbedaan tekanan udara dalam kolom udara dibandingkan tekanan udara di luar.....Tekanan
dalam kolom udara sesuai dengan rumus tekanan mutlak. Bila zat cair yang digunakan untuk
pengisi adalah air raksa (Hg) maka tekanan atmosfer yang ditambahkan dalam
satuan cmHg.

Gambar 3

(8)

praktikum
Tujuan : Mempelajari berlakunya Hukum Utama Hidrostatis dan penggunaannya untuk
mengukur kerapatan suatu zat air.

Alat dan bahan :


a. Bejana U 1 buah
b. Pipet 1 buah
c. Air secukupnya
d. Minyak tanah secukupnya
e. Minyak goring secukupnya

IV. Langkah Percobaan


1. Siapkan bejana U , air , minyak goreng , bensin.
2. Isilah pipa U dengan air secukupnya (kira-kira tinggi 10cm).
3. Tambahkan minyak goreng pada salah satu pipa dengan menggunakan pipet.
4. Ukur ketinggian masing-masing zat cair.
5. Hitung massa jenis minyak goreng.
6. Tambahkan lagi minyak goreng dan ukur kembali ketinggian masing-masing zat
cair serta di hitung kerapatannya. Lakukan penambahan dan perhitungan ini
hingga dua kali.
7. Lakukanlah langkah 2 sampai 6 dengan menggunakan bensin.
8. Masukkan data percobaan pada tabel yang telah disediakan, dan simpulkanlah
dari hasil percobaan yang telah Anda lakukan.

Tabel 1.1 (minyak goreng)


No. Jumlah h air h minyak  minyak
Tetesan (cm) (cm) goreng(kg/m3)
1.
2.

Tabel 1.2 (minyak tanah)


No. Jumlah h air h minyak  bensin (kg/m3)
Tetesan (cm) (cm)
1
2

jika sisi kanan / yang berhubungan dengan udara luar lebih tinggi dari sisi kiri / yang
berhubungan dengan ruang tertutup maka tekanan udara dalam ruangan tersebut = tekanan
udara luar ( Po ) + h. dan sebaliknya bila lebih rendah maka tekanan udara dalam ruang
tersebut = tekanan udara luar ( Po ) - h.

2. . Tekanan Hidrostatis

Masih ingatkah Anda definisi tekanan? Tekanan adalah gaya yang bekerja tegak lurus
pada suatu permukaan bidang dan dibagi luas permukaan bidang tersebut. Secara matematis,
persamaan tekanan dituliskan sebagai berikut.

p = F/A .....................................................(2)

keterangan:
F = gaya (N),
A = luas permukaan (m2), dan
p = tekanan (N/m2 = Pascal).
Persamaan (2) menyatakan bahwa tekanan p berbanding terbalik dengan luas
permukaan bidang tempat gaya bekerja. Jadi, untuk besar gaya yang sama, luas bidang yang
kecil akan mendapatkan tekanan yang lebih besar daripada luas bidang yang besar. Dapatkah
Anda memberikan beberapa contoh penerapan konsep tekanan dalam kehidupan sehari-hari?

Tekanan hidrostatis disebabkan oleh fluida tak bergerak. Tekanan hidrostatis yang
dialami oleh suatu titik di dalam fluida diakibatkan oleh gaya berat fluida yang berada di atas
titik tersebut. Perhatikanlah Gambar 4.

Gambar 4 : Dasar bejana yang terisi dengan fluida setinggi h


akan mengalami tekanan hidrostatis sebesar p.

Jika besarnya tekanan hidrostatis pada dasar tabung adalah p, menurut konsep
tekanan, besarnya p dapat dihitung dari perbandingan antara gaya berat fluida (F) dan luas
permukaan bejana (A).

p = F / A = gaya berat fluida / luas permukaan bejana

Gaya berat fluida merupakan perkalian antara massa fluida dengan p = (mfluida x g) / A.
Oleh karena m = ρV, persamaan tekanan oleh fluida dituliskan sebagai p = ρVg / A.

Volume fluida di dalam bejana merupakan hasil perkalian antara luas permukaan bejana (A)
dan tinggi fluida dalam bejana (h). Oleh karena itu, persamaan tekanan di dasar bejana akibat
fluida setinggi h dapat dituliskan menjadi :

p = ρ (Ah)g / A = ρhg

Jika tekanan hidrostatis dilambangkan dengan ph, persamaannya dituliskan sebagai berikut.

ph = ρ gh ..........................................................................(3)
dengan:
ph = tekanan hidrostatis (N/m2),
ρ = massa jenis fluida (kg/m3),
g = percepatan gravitasi (m/s2), dan
h = kedalaman titik dari permukaan fluida (m).

Semakin tinggi dari permukaan Bumi, tekanan udara akan semakin berkurang.
Sebaliknya, semakin dalam Anda menyelam dari permukaan laut atau danau, tekanan
hidrostatis akan semakin bertambah. Mengapa demikian? Hal tersebut disebabkan oleh gaya
berat yang dihasilkan oleh udara dan zat cair. Anda telah mengetahui bahwa lapisan udara
akan semakin tipis seiring bertambahnya ketinggian dari permukaan Bumi sehingga tekanan
udara akan berkurang jika ketinggian bertambah. Adapun untuk zat cair, massanya akan
semakin besar seiring dengan bertambahnya kedalaman. Oleh karena itu, tekanan hidrostatis
akan bertambah jika kedalaman bertambah.

Contoh Soal 1 :
1. Tabung setinggi 30 cm diisi penuh dengan fluida. Tentukanlah tekanan hidrostatis pada
dasar tabung, jika g = 10 m/s2 dan tabung berisi:
a. air,
b. raksa, dan
c. gliserin.

Gunakan data massa jenis pada Tabel .1.

Pembahasan :
Diketahui: h = 30 cm dan g = 10 m/s2.

a. Tekanan hidrostatis pada dasar tabung yang berisi air:

Ph = ρ gh = (1.000 kg/m3) (10 m/s2) (0,3 m) = 3.000 N/m2

b. Tekanan hidrostatis pada dasar tabung yang berisi air raksa:


Ph = ρ gh = (13.600 kg/m3) (10 m/s2) (0,3 m) = 40.800 N/m2

c. Tekanan hidrostatis pada dasar tabung yang berisi gliserin:

Ph = ρ gh = (1.260 kg/m3) (10 m/s2) (0,3 m) = 3.780 N/m2

Perhatikan Gambar

Gambar 5: Semakin dalam kedudukan sebuah titik dalam


fluida, tekanan hidrostatis di titik tersebut akan
semakin besar.

Pada gambar tersebut, tekanan hidrostatis di titik A, B, dan C berbeda-beda. Tekanan


hidrostatis paling besar adalah di titik C. Dapatkah Anda menjelaskan alasannya?
Prinsip tekanan hidrostatis ini digunakan pada alat-alat pengukur tekanan. Alat-alat pengukur
tekanan yang digunakan untuk mengukur tekanan gas, di antaranya sebagai berikut.

a. Manometer Pipa Terbuka

Manometer pipa terbuka adalah alat pengukur tekanan gas yang paling sederhana.
Alat ini berupa pipa berbentuk U yang berisi zat cair. Perhatikan Gambar 3.
Gambar 6. Manometer pipa terbuka.

Ujung yang satu mendapat tekanan sebesar p (dari gas yang hendak diukur
tekanannya) dan ujung lainnya berhubungan dengan tekanan atmosfir (p0).

Besarnya tekanan udara di titik y1 = p0, sedangkan tekanan udara di titik y2 = p.


y1 memiliki selisih ketinggian Δy1 = 0 dan y2 memiliki selisih ketinggian Δy2 = h.
Berdasarkan Persamaan (1–3) tentang besar tekanan hidrostatik, besarnya tekanan udara
dalam tabung pada Gambar 3. dinyatakan dengan persamaan berikut ini.

pgas = p – p0 = ρ gh ....................................................... (4)

dengan ρ = massa jenis zat cair dalam tabung.

3. Hukum Pascal
Bagaimana jika sebuah bejana U diisi dengan fluida homogen dan salah satu pipanya
ditekan dengan gaya sebesar F? Proses Fisika yang terjadi pada bejana U seperti itu
diselidiki oleh Blaise Pascal. Melalui penelitiannya, Pascal berkesimpulan bahwa
apabila tekanan diberikan pada fluida yang memenuhi sebuah ruangan tertutup,
tekanan tersebut akan diteruskan oleh fluida tersebut ke segala arah dengan besar
yang sama tanpa mengalami pengurangan. Pernyataan ini dikenal sebagai Hukum
Pascal yang dikemukakan oleh Pascal pada 1653.

Secara analisis sederhana, Hukum Pascal dapat digambarkan seperti pada Gambar 9.

Gambar 7: Tekanan F1 di pipa satu sama besar dengan gaya angkat di pipa dua.
Tekanan oleh gaya sebesar F1 terhadap pipa 1 yang memiliki luas penampang pipa A1 , akan
diteruskan oleh fluida menjadi gaya angkat sebesar F2 pada pipa 2 yang memiliki luas
penampang pipa A2 dengan besar tekanan yang sama. Oleh karena itu, secara matematis
Hukum Pascal ditulis sebagai berikut.

p1 = p2

F1 / A 1 = F2 / A 2 (9)

dengan:

F1 = gaya pada pengisap pipa 1,


A1 = luas penampang pengisap pipa 1,
F2 = gaya pada pengisap pipa 2, dan
A2 = luas penampang pengisap pipa 2.

Contoh Soal 4 :

Alat pengangkat mobil yang memiliki luas pengisap masing-masing sebesar 0,10 m2 Cerdas
dan 4 × 10–4 m2 digunakan untuk mengangkat mobil seberat 2 × 104 N. Berapakah besar gaya
yang harus diberikan pada pengisap yang kecil?

Kunci Jawaban :

Diketahui: A1 = 4 × 10–4 m2, A2 = 0,1 m2, dan F2 = 2 × 104 N.

F1 =80N.

Dengan demikian, gaya yang harus diberikan pada pengisap yang kecil adalah 80 N.

Contoh Soal 5 :

Sebuah pompa hidrolik berbentuk silinder memiliki jari-jari 4 cm dan 20 cm. Jika pengisap
kecil ditekan dengan gaya 200 N, berapakah gaya yang dihasilkan pada pengisap besar?

Kunci Jawaban :

Diketahui: r2 = 20 cm, r1 = 4 cm, dan F1 = 200 N.

F2 = 5.000 N

Contoh Soal 6 :
Sebuah pipa berdiameter 9 cm dialiri air berkecepatan 5 m/s, kemudian terhubung dengan
pipa berdiameter 3 cm. Kecepatan air pada pipa yang berdiameter 3 cm adalah ....

a. 3 m/s
b. 9 m/s
c. 18 m/s
d. 27 m/s
e.45m/s

Kunci Jawaban :

Hukum Pascal dimanfaatkan dalam peralatan teknik yang banyak membantu pekerjaan
manusia, antara lain dongkrak hidrolik, pompa hidrolik, mesin hidrolik pengangkat mobil,
mesin pres hidrolik, dan rem hidrolik. Berikut pembahasan mengenai cara kerja beberapa alat
yang menggunakan prinsip Hukum Pascal.

a. Dongkrak Hidrolik
Dongkrak hidrolik merupakan salah satu aplikasi sederhana dari Hukum
Pascal. Berikut ini prinsip kerja dongkrak hidrolik. Saat pengisap kecil diberi gaya
tekan, gaya tersebut akan diteruskan oleh fluida (minyak) yang terdapat di dalam
pompa. Akibatnya, minyak dalam dongkrak akan menghasilkan gaya angkat pada
pengisap besar dan dapat mengangkat beban di atasnya.

Gambar 8

4. Hukum Archimedes
Anda tentunya sering melihat kapal yang berlayar di laut, benda-benda yang terapung di
permukaan air, atau batuan-batuan yang tenggelam di dasar sungai. Konsep terapung,
melayang, atau tenggelamnya suatu benda di dalam fluida, kali pertama diteliti oleh
Archimedes.

Menurut Archimedes, benda yang dicelupkan sebagian atau seluruhnya ke dalam fluida,
akan mengalami gaya ke atas. Besar gaya ke atas tersebut besarnya sama dengan berat fluida
yang dipindahkan oleh benda. Secara matematis, Hukum Archimedes dituliskan sebagai
berikut.

Bunyi Hukum Archimedes

“Sebuah benda yang tenggelam seluruhnya atau sebagian dalam suatu fluida diangkat ke
atas oleh sebuah gaya yang sama dengan berat fluida yang dipindahkan.”

Hukum Archimedes dirumuskan sebagai berikut.

............(10)
Keterangan :
FA = gaya ke atas (N)
ρF = massa jenis fluida (kg/m3)
g = percepatan gravitasi (m/s2)
VF = volume fluida yang dipindahkan atau volume benda yang tercelup (m3)

Berdasarkan Persamaan (10) dapat diketahui bahwa besarnya gaya ke atas yang dialami
benda di dalam fluida bergantung pada massa jenis fluida, volume fluida yang dipindahkan,
dan percepatan gravitasi Bumi.

Percobaan Fisika Sederhana 1 :


Menguji Teori Archimedes
Alat dan Bahan

1. Dua buah bejana yang identik

2. Neraca sama lengan

3. Neraca pegas

4. Beban

5. Air

Prosedur

1. Gantunglah beban pada neraca pegas.

2. Catatlah nilai yang ditunjukkan oleh neraca pegas sebagai berat beban
tersebut.

3. Isilah salah satu bejana dengan air, kemudian timbanglah beban di dalam air.
Catatlah angka yang ditunjukkan oleh neraca pegas sebagai berat beban di dalam air.

4. Bandingkanlah berat beban saat ditimbang di udara dengan berat beban saat
ditimbang di dalam air. Apakah yang dapat Anda simpulkan dari kegiatan tersebut?

5. Letakkan kedua bejana identik ke setiap lengan neraca sama lengan.


6. Isilah kedua bejana identik dengan air sampai penuh. Kemudian, secara
perlahan masukkan beban ke dalam salah satu bejana, sambil menampung air yang
tumpah dari dalam bejana.

7. Amatilah posisi neraca sama lengan setelah beban berada di dalam salah satu
bejana.

8. Hitunglah volume beban yang digunakan, kemudian bandingkan volume


tersebut dengan volume air yang dipindahkan ketika beban dimasukkan ke dalam air.

9. Apakah yang dapat Anda simpulkan?

10. Diskusikanlah bersama teman kelompok dan guru Fisika Anda.

Anda telah mengetahui bahwa suatu benda yang berada di dalam fluida dapat terapung,
melayang, atau tenggelam. Agar Anda dapat mengingat kembali konsep Fisika dan
persamaan yang digunakan untuk menyatakan ketiga perisiwa tersebut, pelajarilah uraian
berikut.

a. Terapung
Benda yang dicelupkan ke dalam fluida akan terapung jika massa jenis benda lebih
kecil daripada massa jenis fluida (ρb < ρf). Massa jenis benda yang terapung dalam fluida
memenuhi persamaan berikut.

(11)
atau

(12)
dengan :

Vbf = volume benda yang tercelup dalam fluida (m3),


Vb = volume benda (m3),
hbf = tinggi benda yang tercelup dalam fluida (m),
hb = tinggi benda (m),
ρb = massa jenis benda (kg/m3), dan
ρf = massa jenis fluida (kg/m3).
b. Melayang
Benda yang dicelupkan ke dalam fluida akan melayang jika massa jenis benda sama
dengan massa jenis fluida (ρb = ρf). Dapatkah Anda memberikan contoh benda-benda yang
melayang di dalam zat cair?

c. Tenggelam
Benda yang dicelupkan ke dalam fluida akan tenggelam jika massa jenis benda lebih
besar daripada massa jenis fluida (ρb > ρf). Jika benda yang dapat tenggelam dalam fluida
ditimbang di dalam fluida tersebut, berat benda akan menjadi
wbf = w – FA (13)

atau

wbf = (ρb – ρf) Vbg (14)

keterangan :
wbf = berat benda dalam fluida (N), dan
w = berat benda di udara (N).

Contoh Soal 7 :
1. Sebuah batu memiliki berat 30 N Jika ditimbang di udara. Jika batu tersebut
ditimbang di dalam air beratnya = 21 N. Jika massa jenis air adalah 1 g/cm 3,
tentukanlah:
a. gaya ke atas yang diterima batu,
b. volume batu, dan
c. massa jenis batu tersebut.

Penyelesaian :
Diketahui: w = 30 N, wbf = 21 N, dan ρair = 1 g/cm3.

ρ air = 1 g/cm3 = 1.000 kg/m3


a. wbf = w – FA

21 N = 30 N – FA
FA = 9 N

b. FA = ρ air V batu g
9 N = (1.000 kg/m3) (Vbatu) (10 m/s2)
Vbatu = 9 × 10–4 m3

c.
ρ batu = 3.333,3 kg/m3.

Contoh Soal 9 :

2. Sebuah benda memiliki volume 20 m3 dan massa jenisnya = 800 kg/m3. Jika
benda tersebut dimasukkan ke dalam air yang massa jenisnya 1.000 kg/m 3,
tentukanlah volume benda yang berada di atas permukaan air.

Penyelesaian :

Diketahui: Vbenda = 20 m3, ρbenda = 800 kg/m3, dan ρair = 1.000 kg/m3.
Volume air yang dipindahkan = volume benda yang tercelup
FA = ρ air V air-pindah g = berat benda
FA = ρ air V bagian tercelup g = mg
ρ air V bagian tercelup = ρ benda V benda
(1 kg/m3) (Vbagian tercelup) = (800 kg/m3) (20 m3)
Vbagian tercelup = 16 m3
Vmuncul = 20 m3 – 16 m3 = 4 m3.
Aplikasi Hukum Archimedes

Hukum Archimedes banyak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, di antaranya


pada hidrometer, kapal laut, kapal selam, balon udara, dan galangan kapal. Berikut ini prinsip
kerja alat-alat tersebut.

a. Hidrometer

b. Kapal Laut dan Kapal Selam

c. balon udara

4. Tegangan Permukaan dan Miniskus

Pernahkah Anda memerhatikan bentuk cairan obat yang keluar dari penetes obat atau
bentuk raksa yang diteteskan di permukaan meja? Jika Anda perhatikan, tetesan cairan obat
yang keluar dari alat penetesnya berbentuk bola-bola kecil. Demikian juga dengan bentuk air
raksa yang diteteskan di permukaan meja.

Gambar 9

Mari kita amati sebatang jarum atau sebuah silet yang kita buat terapung di
permukaan air sebagai benda yang mengalami tegangan permukaan. Tegangan permukaan
disebabkan oleh interaksi molekul-molekul zat cair dipermukaan zat cair. Di bagian dalam
cairan sebuah molekul dikelilingi oleh molekul lain disekitarnya, tetapi di permukaan cairan
tidak ada molekul lain dibagian atas molekul cairan itu. Hal ini menyebabkan timbulnya gaya
pemulih yang menarik molekul apabila molekul itu dinaikan menjauhi permukaan, oleh
molekul yang ada di bagian bawah permukaan cairan. Sebaliknya jika molekul di permukaan
cairan ditekan, dalam hal ini diberi jarum atau silet, molekul bagian bawah permukaan akan
memberikan gaya pemulih yang arahnya ke atas, sehingga gaya pemulih ke atas ini dapat
menopang jarum atau silet tetap di permukaan air tanpa tenggelam. Gaya ke atas untuk
menopang jarum atau silet agar tidak tenggelam merupakan perkalian koefisien tegangan
permukaan dengan dua kali panjang jarum. Panjang jarum disini adalah permukaan yang
bersentuhan dengan zat cair. Jadi dapat kita simpulkan bahwa pengertian dari tegangan
permukaan adalah kecenderungan permukaan zat cair untuk menegang, sehingga
permukaannya seperti ditutupi oleh suatu lapisan elastis.

Tetesan zat cair atau fluida cenderung untuk memperkecil luas permukaannya. Hal
tersebut terjadi karena adanya tegangan permukaan. Apakah tegangan permukaan itu? Agar
dapat memahami tentang tegangan permukaan zat cair, lakukanlah kegiatan Percobaan 2.
berikut.

Percobaan Fisika Sederhana

Tujuan : Mengamati Tegangan Permukaan Zat Cair

Alat dan Bahan :

1. Klip kertas atau silet

2. Bejana

3. Sabun cair

Prosedur :
Gambar 19. Tegangan permukaan menyebabkan air yang jatuh pada daun membentuk
permukaan sekecil mungkin. Peristiwa tersebut disebabkan adanya gaya kohesi antarmolekul
air lebih besar daripada gaya adhesi antara air dan daun.

1. Isilah bejana dengan air.

2. Letakkanlah klip kertas atau silet dengan perlahan-lahan di

3. permukaan air.

4. Amatilah apa yang terjadi pada klip kertas atau silet tersebut.

5. Selanjutnya, tuangkanlah sabun cair ke dalam bejana yang berisi air dan klip
kertas atau silet.

6. Amatilah apa yang terjadi dengan klip kertas atau silet.

7. Bandingkanlah hasil pengamatan Anda pada langkah 5 dengan langkah 3.


Apakah yang dapat Anda simpulkan dari kegiatan tersebut?

8. Dapatkah Anda menjelaskan pengaruh sabun cair terhadap tegangan


permukaan?

9. Diskusikanlah dengan teman sekelompok dan guru Fisika Anda.


Formulasi Tegangan Permukaan
Pada pembahasan sebelumnya, kita telah mempelajari konsep tegangan permukaan
secara kualitatif (tidak ada persamaan matematis). Kali ini kita tinjau tegangan permukaan
secara kuantitatif. Untuk membantu kita menurunkan persamaan tegangan permukaan, kita
tinjau sebuah kawat yang dibengkokkan membentuk huruf U. Sebuah kawat lain yang
berbentuk lurus dikaitkan pada kedua kaki kawat U, di mana kawat lurus tersebut bisa
digerakkan (lihat gambar di bawah).

Jika kawat ini dimasukan ke dalam


larutan sabun, maka setelah dikeluarkan akan
terbentuk lapisan airsabun pada permukaan kawat tersebut. Mirip seperti ketika bermain
gelembung sabun. Karena kawat lurus bisa digerakkan dan massanya tidak terlalu besar,
maka lapisan air sabun akan memberikan gaya tegangan permukaan pada kawat lurus
sehingga kawat lurus bergerak ke atas (perhatikan arahpanah). Untuk mempertahankan
kawat lurus tidak bergerak (kawat berada dalam kesetimbangan), maka diperlukan gaya total
yang arahnya ke bawah, di mana besarnya gaya total adalah F = w + T. Dalam
kesetimbangan, F = gaya tegangan permukaan yang dikerjakan oleh lapisan air sabun pada
kawat lurus.
Misalkan panjang kawat lurus adalah l. Karena lapisan air sabun yang menyentuh
kawat lurus memiliki dua permukaan, maka gaya tegangan permukaan yang ditimbulkan oleh
lapisan air sabun bekerja sepanjang 2l. Tegangan permukaan pada lapisan sabun merupakan
perbandingan antara GayaTegangan Permukaan (F) dengan panjang permukaan di mana
gaya bekerja (d). Untuk kasus ini, panjang permukaan adalah 2l. Secara matematis, ditulis :
F
γ=
d
dalam kasus ini d=2l, sehingga
F
γ=
2l
Keterangan :
γ = Tegangan permukaan
F = Gaya tegangan permukaan
Karena tegangan permukaan merupakan perbandingan antara Gaya tegangan
permukaan denganSatuan panjang, maka satuan tegangan permukaan adalah Newton per
meter (N/m) atau dyne per centimeter (dyn/cm). 1 dyn/cm = 10-3 N/m = 1 mN/m.
Berikut ini beberapa nilai Tegangan Permukaan yang diperoleh berdasarkan
percobaan.
Zat cair yang Suhu Tegangan permukaan
kontak dengan udara (oc) (x 10-3 N/m)
Air 0 75,6
Air 25 72,0
Air 80 62,6
Etil alkohol 20 22,8
Aseton 20 23,7
Gliserin 20 63,4
Raksa 20 435
Sumber : Contemporary Collage Physic, Jones/Childers.
Berdasarkan data Tegangan Permukaan, tampak bahwa suhu mempengaruhi nilai
tegangan permukaanfluida. Umumnya ketika terjadi kenaikan suhu, nilai tegangan
permukaan mengalami penurunan (Bandingkan nilai tegangan permukaan air pada setiap
suhu. Lihat tabel). Hal ini disebabkan karena ketika suhu meningkat, molekul cairan bergerak
semakin cepat sehingga pengaruh interaksi antar molekul cairan berkurang. Akibatnya nilai
tegangan permukaan juga mengalami penurunan.

Meniskus
Raksa dituangkan ke dalam suatu tabung kaca dan air pada tabung kacalainnya,
kemudian akan didapatkan bentuk kedua permukaan seperti yang digambarkan di bawah ini.
Gambar sebelah kiri adalah air yang membasahi dinding kaca, sedangkan gambar
sebelah kanan adalah air raksa yang tidak membasahi dinding kaca.

Jika pada lengkungan air dan raksa ditarik garis lurus, maka garis itu akan
membentuk sudut Ө terhadap dinding vertikal tabung kaca. Sudut Өtersebut dinamakan sudut
kontak. Sudut kontak adalah sudut yang dibentuk antara permukaan zat cair dengan
permukaan dinding pada titik persentuhan zat cair dengan dinding.

Peristiwa tersebut terjadi akibat adanya gaya kohesi lebih besar daripada gaya adhesi
antara partikel air dengan partikel kaca FK. Sehingga resultan kedua gaya tersebut arahnya
keluar. Agar tercapai keadaan yang seimbang, permukaan air yang menempel pada dinding
kaca harus melengkung ke atas.

Kelengkungan permukaan suatu zat cair di dalam tabung disebut meniskus. Karena
bentuknya cekung maka meniskus air dalam bejana kaca dinamakan meniskus cekung. Besar
sudut kontak untuk meniskus cekung lebih kecil dari 90o Sedangkan, kelengkungan
permukaan raksa dalam tabung merupakan gaya kohesi antara partikel-partikel raksa. Gaya
kohesiFA lebih kecil daripada gaya adhesi antara partikel raksa dengan partikel kaca Fk,
sehingga resultan kedua gaya mengarah ke dalam. Agar tercapai keseimbangan, maka
permukaan raksa yang menempel pada dinding kaca harus tegak lurus terhadap gaya
resultan FR. Akibatnya, permukaan kaca melengkung kebawah dan disebut sebagai meniskus
cembung yang sudutnya lebih besar dari 90o.

6. kapilaritas
adalah peristiwa naik atau turunnya zat cair di dalam pipa kapiler (pipa sempit).
Kapilaritas dipengaruhi oleh adanya gaya kohesi dan adhesi antara zat cair dengan
dinding kapiler. Karena dalam pipa kapiler gaya adhesi antara partikel air dan kaca lebih
besar daripada gaya kohesi antara partikel-partikel air, maka air akan naik dalam pipa
kapiler. Sebaliknya raksa cenderung turun dalam pipa kapiler, jika gaya kohesinya lebih
besar daripada gaya adhesinya.
Advertisment
(a) Jika sudut kontak kurang dari 90°, maka permukaan zat cair dalam pipa kapiler naik
(b) jika sudut kontak lebih besar dari 90°, maka permukaan zat cair dalam pipa kapiler turun.
Kenaikan atau penurunan zat cair pada pipa kapiler disebabkan oleh adanya tegangan
permukaan (γ) yang bekerja pada keliling persentuhan zat cair dengan pipa.
Mengapa permukaan zat cair bisa naik atau turun dalam permukaan pipa kapiler? Gambar
diatas menunjukkan zat cair yang mengalami meniskus cekung. Tegangan permukaan
menarik pipa ke arah bawah karena tidak seimbang oleh gaya tegangan permukaan yang lain.
Sesuai dengan hukum III Newton tentang aksi reaski, pipa akan melakukan gaya yang sama
besar pada zat cair, tetapi dalam arah berlawanan. Gaya inilah yang menyebabkan zat cair
naik. Zat cair berhenti naik ketika berat zat cair dalam kolam yang naik sama dengan gaya ke
atas yang dikerjakan pada zat cair.

Beberapa manfaat dari adanya gaya kapilaritas

1. Naik nya minyak kompor pada kompor minyak


2. Meresapnya air melalui dinding
3. Naik nya zat hara dan air pada tumbuh tumbuhan
4. Menyebar nya tinta di permukaan kertas
5. Air yang tergenang dapat diserap dengan spon,kain pel, dll

Dari peristiwa kapilaritas ini juga dapat memberikan manfaat untuk manusia, hewan, dan
tumbuhan :

1. Pada manusia
Hemoglobin akan mengambil oksigen dari paru paru & akan dilepaskan pada saat sel
darah merah (eritrosit) melewati pembuluh kapiler

2. Pada ikan
Filamen pada pembuluh darah insang mengandung pembuluh kapiler untuk
memudahkan proses pertukaran oksigen & karbondioksida.

3. Pada tumbuhan
Rambut akar & batang tumbuhan terdiri dari pembuluh kapiler sehingga air dan zat
hara dari dalam tanah akan naik menuju batang, dahan, & ranting tumbuhan.

Bagaimana kapilaritas ini bisa terjadi ?


Penyabab kapilaritas ini adalah karena ada tegangan permukaan. Tegangan
permukaan tersebut bekerja pada zat cair dengan dinding pipa kapiler. Kapilaritas juga di
pengaruhi gaya adhesi dan kohesi. Suatu zat cair akan naik ke dalam pipa kapiler apabila zat
cair tersebut membasahi tabung, yaitu pada saat gaya adhesi zat cair lebih besar dari pada
gaya kohesi.

Hal ini dikarenakan gaya tegangan permukaan sepanjang dinding tabung bekerja ke
arah atas. Ketinggian maksimum terjadi pada saat gaya tegangan permukaan setara atau sama
dengan berat zat cair yang berada dalam pipa kapiler. Permukaan zat cair akan turun jika zat
cair tidak membasahi tabung, yakni pada saat gaya kohesi lebih besar daripada gaya adesi.
Ketika permukaan zat cair naik dalam pipa kapiler sudut kontak yang terbentuk kurang dari
90 derajat & ketika permukaan zat cair turun dalam pipa kapiler maka sudut kontak yang
terbentuk lebih dari 90 derajat. Sudut kontak ialah sudut yang terbentuk oleh lengkungan.
Kohesi ialah gaya tarik menarik antara molekul-molekul dalam zat sejenis. Adesi ialah gaya
tarik-menarik antara molekul-molekul zat yang tidak sejenis.

w=F

Jika massa jenis zat cair adalah ρ, tegangan permukaan γ, sudut kontak
θ, kenaikan zat cair setinggi h, dan jari-jari pipa kapiler adalah r, maka berat zat cair yang
naik dapat ditentukan melalui persamaan berikut.

w=mg
w=ρVg
w = ρ π r2 h g

Komponen gaya vertikal yang menarik zat cair sehingga naik setinggi h adalah:

F =(γ cos θ) (2 π r) = F = 2 π rγ cos θ

Jika nilai F kita ganti dengan ρ π r2 h g, maka persamaannya menjadi seperti berikut.
Keterangan:

h : kenaikan/penurunan zat cair dalam pipa (m)


γ: tegangan permukaan N/m
θ: sudut kontak (derajat)
ρ : massa jenis zat cair (hg/m3)
r : jari-jari pipa (m)

Gejala kapilaritas banyak dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya,


naiknya minyak tanah melalui sumbu kompor, pengisapan air oleh tanaman (naiknya air dari
akar menuju daun-daunan melalui pembuluh kayu pada batang) dan peristiwa pengisapan air
oleh kertas isap atau kain. Selain menguntungkan gejala kapilaritas ada juga yang merugikan
misalnya ketika hari hujan, air akan merambat naik melalui pori-pori dinding sehingga
menjadi lembap. Dinding yang lembab terjadi karena gejala kapilaritas.

Tegangan Permukaan pd Sebuah Bola

7. Viskositas dan Hukum Stokes

Fluida, baik zat cair maupun zat gas yang jenisnya berbeda memiliki tingkat kekentalan
yang berbeda.Pernah lihat zat cair yang jenisnya berbeda? misalnya sirup dan air. Sirup
biasanya lebih kental dari air. Atau air susu, minyak goreng, oli, darah. Tingkat kekentalan
setiap zat cair tersebut berbeda-beda. Pada umumnya, zat cair lebih kental dari zat gas.
Viskositas alias kekentalan sebenarnya merupakan gaya gesekan antara molekul-
molekul yangmenyusun suatu fluida (fluida zat yang dapat mengalir, dalam hal ini zat cair
dan zat gas. Viskositas adalah gaya gesekan internal fluida (internal = dalam). Jadi molekul-
molekulyang membentuk suatu fluida saling gesek-menggesek ketika fluida tersebut
mengalir. Pada zatcair, viskositas disebabkan karena adanya gaya kohesi (gaya tarik menarik
antara molekul sejenis).Sedangkan dalam zat gas, viskositas disebabkan oleh tumbukan
antara molekul.
Fluida yang lebih cair biasanya lebih mudah mengalir, contohnya air. Sebaliknya,
fluida yang lebih kentallebih sulit mengalir, contohnya minyak goreng, oli, madu dan lainnya.
Anda bisa membuktikan denganmenuangkan air dan minyak goreng di atas lantai yang
permukaannya miring. Pasti air ngalir lebih cepatdaripada minyak goreng atau oli. Tingkat
kekentalan suatu fluida juga bergantung pada suhu. Semakintinggi suhu zat cair, semakin
kurang kental zat cair tersebut. Misalnya ketika ibu menggoreng paha ikandi dapur, minyak
goreng yang awalnya kental menjadi lebih cair ketika dipanaskan. Sebaliknya, semakintinggi
suhu suatu zat gas, semakin kental zat gas tersebut.

a. Hukum Stokes untuk Fluida Kental


Pada suatu fluida ideal (fluida tidak
kental) tidak ada viskositas yang
menghambat lapisan – lapisan fluida
tersebut menggeser satu atas lainnya. Pada
suatu pipa dengan luas penampang
seragam (serbasama), setiap lapisan fluida
ideal bergerak dengan kecepatan yang
sama. Namun, ketika kekentalan
(viskositas ) hadir, kecepatan lapisan-
lapisan fluida tidak seluruhnya sama.
Fluida yang tedekat dengan dinding pipa
bahkan sama sekali tidak bergerk ( v=0),
sedangkan lapisan fluida pada pusat pipa
memiliki kecepatan terbesar.
Gambar menunjuka kecepatan lapisan-lapisan
fluida tidak seluruhnya sama pada fluida kental
Viskositas pada aliran fluida kental sama saja dengan gesekan pada gerak benda padat.
Untuk fluida ideal, viskositas η = 0, sehingga kita selalu menganggap benda yang bergerak
dalam fluida ideal tidak mengalami gesekan yang disebabkan oleh fluida. Tetapi, jika benda
tersebut bergerak dengan kelajuan tertentu dalam fluidakental, gerak benda akan dihambat
oleh gaya gesekan fluida pada benda tersebut. Besar gaya gesekan fluida dirumuskan
Ff = k η v
Koefisien k bergantung pada bentuk geometri benda. Untuk benda yang memiliki
bentuk geometris berupa bolandengan jari jari r, dari perhitungan laboratorium diperoleh
k = 6πr
dengan memasukan nilai k ini dalam persamaan kita peroleh
Hukum Stokes
Ff = 6π ηr v
Dengan ηadalah koefisien fiskositas yang dinyatakan dalam kg/ms atau Pa s. Persamaan
diatas pertama kali dinyatakan oleh Sir George Stokes pada tahun 1845, sehingga persamaan
ini dikenal sebagai hukum Stokes.

b. Kecepatan Terminal
Perhatikan kelereng yang dilepaskan jatuh bebas dalam fuida kental. Jika hanya gaya
gravitasi yang bekerja pada kelereng, kelereng akan bergerak di percepat dengan
percepatan sama dengan percepatan gravitasi. Ini berarti jarak antara dua kedudukan
kelereng dalam selang waktu yang sama haruslah makin besar. Hasil eksperimen
menyatakan hal yang berbeda. Mula-mula jarak antara dua kedudukan kelereng dalam
waktu yang sama makin besar. Tetapi, mulai saat tertentu dalam selang waktu yang sama
jarak antara dua kedudukan kelereng sama besar. Dari hasil eksperimen in menunjukan
bahwa benda yang dijatuhkan bebas dalam fluida kental, kecepatannya makin besar
sampai mencapai suatu kecepatan terbesar yang tetap. Kecepatan terbesar terbesar yang
tetap ini dinamakan kecepatan terminal.
Pada suatu benda yang jatuh bebas dalam fluida kental, selama geraknya, pada benda
tersebut bekerja tiga buah gaya, yaitu gaya berat w= mg, gaya ketas yang dikerjakan
fluida Fa, dan gesekan yang dikerjakan fluida
Ff, seperti pada gambar dibawah ini.
Seperti yang telah dinyatakan benda akan bergerak makin cepat sampai mencapai
kecepatan terminal yang konstan. Pada saat kecepatan terminal vTtercapai, gaya gaya
yang bekerja pada benda adalah seimbang.
F=¿ 0
∑¿
+ mg – Fa - Ff = 0
Ff= mg– Fa (*)
Jika massa jenis benda = ρb, massa jenis fuida = ρf dan volume benda = Vb, gaya keatas Fa
= Vbρf g
berat benda mg = (ρb Vb)g
gaya gesekan Ff = 6π ηr vT (benda dianggap berbentuk bola)
dengan memasukan besar ketiga gaya tersebut kedalam (*) kita peroleh
6π ηr vT = ρb Vbg - Vb ρf g
= g Vb (ρb- ρf)
Kecepatan terminal dalam fluida kental
g V b( ρb−ρ f )
vT =
6 π ηr
untuk benda berbentuk bola dengan jari jari r, volume benda
4
Vb= πr3, sehingga
3
4
g πr 3 (ρ b− ρ f )
vT = 3
6 π ηr
kecepatan terminal dalam fluida kental
2
2r g
vT = (ρb- ρf)
9 η