Anda di halaman 1dari 5

1.

Ihsan
Ihsan berasal dari kata ََ‫سن‬ ُ ‫ َح‬yang artinya adalah berbuat baik, sedangkan bentuk masdarnya
adalah ‫ان‬ ْ
َ ‫س‬ ِ
َ ْ‫اح‬, yang artinya kebaikan. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur`an mengenai
hal ini.

Tiga Aspek Pokok Dalam Ihsan

Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah ibadah, muamalah,
dan akhlak. Ketiga hal ini lah yang menjadi pokok bahasan kita kali ini.

A. Ibadah

Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah,
seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan
syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya. Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan
oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi
dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga dengan kesadaran penuh bahwa
Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan
oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya,
karena dengan ini lah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan
sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan. Inilah maksud
dari perkataan Rasulullah saw yang berbunyi, “Hendaklah kamu menyembah Allah
seakan-akan engkau melihat-Nya, dan jika engkau tak dapat melihat-Nya, maka
sesungguhnya Dia melihatmu.”

B. Muamalah
Dalamَbabَmuamalah,َihsanَdijelaskanَAllahَSWTَpadaَsurahَanَNisaa’َayatَ36,َyangَ
berbunyi sebagai berikut : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu pun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat,
anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman
sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu…”
Kita sebelumnya telah membahas bahwa ihsan adalah beribadah kepada Allah dengan
sikap seakan-akan kita melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka Allah
melihat kita.

C. Akhlak
Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang
akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti
yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini,
yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya,
maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang
hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan
berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan
dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.

Ihsan dalam beribadah kepada Allah maknanya beribadah kepada Allah seolah-olah
melihat-Nya dalam arti merasa diawasi oleh-Nya. Sedangkan ihsan dalam berinteraksi
antar sesama makhluk adalah dengan menunaikan hak-hak mereka. Menunaikan hak dan
kewajiban antara sesama merupakan cerminan mereka yang berbuat ihsan dimulai dari
situasi yang terendah sampai kepada derajat yang tertinggi. Ihsan kepada makhluk ini
terbagi dua, yaitu yang wajib dan sunnah, yang bersifat wajib misalnya berbakti kepada
orang tua dan bersikap adil dalam berinterkasi sosial (bermuamalah). Sementara yang
bersifat sunat misalnya memberikan bantuan tenaga atau harta yang melebihi batas kadar
kewajiban seseorang.

2. Khawatir adalah sikap berpikir berlebihan atau terlalu cemas tentang suatu masalah
atau situasi. Kekhawatiran biasanya disertai dengan rasa tidak nyaman dan kecemasan.

3. 1. Al-Rubu’iyah;َ(‫)الربوبية‬, yaitu sifat “ketuhanan”َyang terdapat pada diri manusia yang


apabila telah menguasai diri manusia maka ia ingin menguasai, menduduki jabatan yang
tinggi, menguasai ilmu apa saja, suka memaksa orang lain dan tak mau direndahkan,
maunya hanya dipuji.

2. Al-Syaithaniyah; (‫)الشيطانية‬, yaitu sifat “kesetanan”َyang ada pada diri manusia yang
apabila telah menguasai dirinya ia akan suka merekayasa dengan tipu daya dan meraih
segala sesuatu dengan cara-cara yang jahat. Di sini mansia suka mengajak pada perbuatan
bid’ah,َkemunafikanَdanَberbagaiَkesesatanَlainnya.

3. Al-Bahimiyah; (‫)البهيمية‬, yaitu sifat manusia berupa “kehewanan”َyang apabila telah


menguasai dirinya ia akan rakus, tamak, suka mencuri, makan berlebihan, tidur berlebihan
dan bersetubuh berlebihan, suk berzina, berprilaku homoseks dan lain sebagainya.

4. Al-Sabu’iyah.َ(‫)السبوعية‬, yaitu sifat “kebuasan”َyang apabila menguasai diri manusia ia


akan suka bermusuhan, berkelahi, suka marah, suka menyerang, suka memaki, suka
berdemo, anarkis, cemburu berlebihan dan lain sebagainya.
Empat sifat tersebut di atas tidak tumbuh dan berkembang secara sekaligus tetapi melalui
tahapan-tahapan atau secara berangsur-angsur.

Pertama kali yang tumbuh adalah sifatَkehewananَ“al-bahimiyah”.َMelaluiَsifatَiniَ


manusia suka makan, tidur, seks agar dapat tumbuh sehat.

Selanjutnyaَyangَkeduaَadalahَsifatَkebuasanَ“alsabu’iyah”َatauَyangَdisebutَdenganَ
nafsuَamarahَ“al-ghadabiyah”.َDenganَsifatَiniَmanusiaَdapatَmenolak sesuatu yang
dapat megancam dan merugikan dirinya seperti ingin menyerang, membunuh, memaki,
berkelahi dan lain sebagainya.

Yangَketigaَyangَtumbuhَadalahَsifatَkesetananَ“al-syaithaniyah”.َSifatَiniَtumbuhَpadaَ
diri manuia setelah tumbuh sifat kehewanan dan kebuasan. Bilamana kedua sifat tersebut
sudah ada pada diri manausia, maka setelah manusia mulai bisa berfikir (sekitar 7 tahun),
maka berbagai cara akan dilakukan untuk memenuhi nafsunya. Di sini manusia akan
melakukan tipu daya, makar, rekayasa demi mencapai apa yang diinginkannya.

Yangَterakhirَtumbuhَdanَberkembangَdalamَdiriَmanusiaَadalahَsifatَketuhananَ“al-
rububiyah”.َMelaluiَsifatَiniَmanusiaَinginَmenguasai,َmemilikiَsegalanya,َinginَ
berkuasa, menduduki jabatan setinggi-tingginya. Di sini manusia akan merasa berbangga
diri, sombong, ingin dipuji, merasa paling benar dan lain sebagainya.
Selain memberikan empat sifat atau karakter pada diri manusia, Allah Swt juga
menganugerahi manusia berupa akal. Fungi akal ini adalah untuk mengendalikan keempat
karakter (nafsu) tersebut. Menurut Sokrates, fungsi akal itu tidak lain adalah untuk
mencari kebenaran.

Denganَakal,َsifatَ“al-bahimiyah”َyangَadaَpadaَmanusia,َakanَdikendalikanَuntukَhal-
hal yang benar, seperti makan dan tidur secara teratur dan berhubungan seks setelah
menempuh pernikahan.

Denganَakal,َsifatَmanusiaَ“al-sabu’iyah”َakanَdikendalikanَmenjadiَpemberani,َ
membela kebenaran, menolak kebatilan demi kemaslahatan.

Denganَakal,َsifatَmanusiaَ“al-syaithaniyah”َakanَdikendalikanَmenjadiَberhati-hati,
waspada, mampu mengadakan penyelidikan, kritis, teliti, bisa bedakan yang jujur dan
bohong.

Denganَakal,َsifatَmanusiaَ“al-rububiyah”َakanَdikendalikanَmenjadiَseorangَpemimpin,َ
manajer dan pelayan bagi orang lain.

Akal, betapapun berfungsi dan bertujuan mencari kebenaran, ia memiliki keterbatasan.


Untuk meraih kebenaran yang sempurna, Allah memberikan petunjuk lagi berupa agama.
Petunjuk agama ini berupa al-Qur’anَdanَal-Sunnah.

Dalam hadits riwayat al-Hakim dari Ibn Abbas ra, Nabi Saw bersabda:

‫نبيه وسنة هللا كتاب أبدا تضلوا فلن به اعتصمتم إن ما فيكم تركت قد إني‬

Sesungguhnya aku telah meninggalkan kepadamu, apabila kamu berpegang teguh


dengannya, kamu tidak akan tersesat selamanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an)َdanَsunnahَ
nabiNya (al-Hadits).
Al-Albani menilai hadits tersebut sahih.

Dengan agama, manusia akan dapat mengendalikan diri, dapat terbimbing pada kehidupan
yang benar bahkan bisa menjadi seoang manusia yang wara.
Dalam hadits riwayat Malik, al-Tirmidzi dan Ibn Majah dari Abu Hurairah, Nabi Saw
bersabda:
4. Secara bahasa mujahadah artinya bersungguh-sungguh, sedangkan an-nafs artinya jiwa,
nafsu, diri.
Jadi mujahadah an-nafs artinya perjuangan sungguh-sungguh melawan hawa nafsu
atau bersungguh-sungguh menghindari perbuatan yang melanggar hukum-hukum Allah
SWT.
Mujahadah an nafs sering disebut juga dengan kontrol diri, yaitu perjuangan sungguh-
sungguh atau jihad melawan ego atau nafsu pribadi. Kontrol diri seringkali diartikan
sebagai kemampuan untuk menyusun, membimbing, mengatur dan mengarahkan bentuk
perilaku yang dapat membawa kearah konsekuensi positif, kontrol diri pun merupakan
salah satu potensi yang dapat dikembangkan dan digunakan individu selama proses-proses
dalam kehidupan.
Jika kita menilik secara hakiki, nafsu diri atau disebut sebagai hawa nafsu
merupakan poros kejahatan. Karena, nafsu diri memiliki kecenderungan untuk mencari
berbagai kesenangan. Inilah kenapa Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa jihad
melawan nafsu lebih dahsyat daripada jihad melawan musuh.
1.Menunaikan shalat 5 waktu tepat pada waktunya
2.Menunaikanَshalatَberjama’ahَseseringَmungkin
3.Mendirikan shalat dengan khusyuk
4.Berbuat baik kepada orang tua, baik yang masih hidup atau sudah meninggal
5.Menjadi rahmat di lingkungan sosial
6.Membersihkan hati dari rasa sombong, ria, dendam, dan dengki
7.Memelihara lisan dari perkataan bohong, guningan, dan berbantah-bantahan.
8.Membersihkan usaha dan makanan dari yang haram
9.Bertaubat kepada Allah SWT dengan sebenar-benarnya taubat

5. Macam2 Nafsu
1) Nafsu Ammarah, yaitu nafsu yang mendorong manusia kepada keburukan
Jika berbuat kejahatan, dia berbangga diri dengan kejahatannya. Jika ada
orangَyangَmengingatkannyaَtentangَkejahatannya,َdiaَakanَmenjawab,َ“Siapaَsajaَ
yang mencoba untuk mengalangi tindakanku akan menanggungَakibatnya!”َ
Bayangkanlah, kalau orang seperti ini menjadi pemimpin dan berkuasa.

2) Nafsu Lawwamah, yaitu nafsu yang menyesali setiap perbuatan buruk


Orang yang memiliki nafsu Lawwamah ini memiliki jiwa menyesali perbuatan
salah yang dilakukannya dan berinisiatif untuk kembali ke landasan yang benar.

Contohnya semalam melakukan dosa dan perkara maksiat yang dilarang di sisi agama.
Hari ini dia sadar akan kesalahannya karena terlalu mengikut nafsu, lalu ia insaf dan
bertekad untuk tidak mengulanginya lagi.

3) Nafsu Muthmainnah, yaitu nafsu yang tenang


Orang yang memiliki Nafsu Mutmainnah dapat mengawal Nafsu Syahwatnya
dengan baik dan senantiasa cenderung melakukan kebaikan. Dan Juga mereka mudah
dan selallu bersyukur dan Qonaah di mana segala kesenangan hidup tidak akan
membuat dia lupa diri, menerima Anugerah Ilahi seadanya dan kesusahan yang
dialaminya pula tidak menjadikan dirinya Gelisah. Ini disebabkan hatinya ada ikatan
yang kuat kepada Allah. Mereka juga mudah reda dan sabar dengan ketetapan dan ujian
Allah.

- Tawwabin : orang-orang yang bertaubat


- Mukhlisin : dalah orang beribadah kepada Allah, hanya mengaharapkan ridho-
Nya, bukan karena mengharapkan pujian, sanjungan, pangkat dan lain-lain; akan
tetapi sungguh-sungguh ikhlas
- Muttaqin : adalah akar kata taqwa : takut , secara istilah adalah : adalah orang
melaksanakan perintah Allah secara sempurna, dan menjauhkan larangan Allah Swt.

6. Dzikir dan Wirid


- Dzikir :
upaya yang dilakukan seorang hamba untuk mendekatkan diri kpda Tuhan.
Pendekatan itu dilakukan melalui penyebutan nama-nama atau kalimat-kalimat
mulia, seperti membaca nama-nama mulia Tuhan (al-asma al-husna), dan trmasuk
membaca Al-Quran. Trmasuk dlm pengertian zikir ialah merenung sambil
menghayati keagungan dan kebesaran Allah SWT.
- Wirid
Pengertian Wirid dengan Zikir hampir sama. Perbedaanya :
Wirid ada pengaturan tata cara, jumlah, dan waktu pembacaan zikir. Pengamalan
Wirid diatur tatacaranya, misalnya berapa kali harus dibaca, apakakah dibaca di pagi
hari atau di sore hari atau dalam keadaan tertentu.

Anda mungkin juga menyukai