Anda di halaman 1dari 10

ACCOUNTING FOR PENSIONS AND

POSTRETIREENT BENEFITS (PSAK 24)


TUGAS MATA KULIAH AKUNTANSI KEUANGAN III

OLEH :

MUH ADNANDA SUWARSYAH FIQRIH (A031171505)

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS


UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
SIFAT PROGRAM PENSIUN
Program pensiun (pension plan) adalah pengaturan dimana pemberi kerja
memberikan imbalan (pembayaran) kepada pensiunan karyawan atas jasa yang
diberikan selama bekerja. Akuntansi pensiun dapat dibagi dan diperlakukan
secara terpisah antara akuntansi untuk pemberi kerja dan akuntansi untuk dan
pensiun. Perusahaan atau pemberi kerja adalah organisasi yang mensponsori
program pensiun. Dana atau program pensiun adalah entitas yang menerima iuran
dari pemberi kerja, mengelola aset pensiun, dan melakukan pembayaran atas
imbalan kepada pensiunan karyawan (penerima pensiun). Dana pensiun harus
merupakan entitas hukum dan akuntansi yang terpisah.
Program pensiun didanai (funded) mengakumulasi aset dana pensiun dan
melakukan pembayaran kepada penerima sebagai imbalan pada saat jatuh tempo.
Program pensiun iuran (contributory) karyawan turut menanggung sebagian biaya
dan imbalan yang dinyatakan atau secara sukarela melakukan pembayaran untuk
meningkatkan imbalan mereka. Program lainnya non iuran (non contributiry)
pemberi pekerja menanggung keseluruhan biaya. Program yang menawarkan
manfaat pajak sering kali disebut program pensiun berkualifikasi (qualified pension
plans), program ini memungkinkan adanya pengurangan iuaran pemberi kerja
terhadap dana pensiun dan status bebas pajak penghasilan dari aset dana
pensiun

Program Iuran Pasti


Program iuran pasti (defined contribution plan), pemberi pekerja setuju
untuk memberikan iuran dalam jumlah tertentu kepada wali amanat pensiun setiap
periode, berdasarkan rumus yang ditetapkan. Rumus ini dapat
mempertimbangkan faktor faktor seperti usia, masa kerja karyawan, keuntungan
pemberi kerja, dan tingkat kompensasi. Program tersebut mendefinisikan hanya
iuran pemberi kerja dan tidak menetapkan imbalan yang akan dibayarkan kepada
karyawan pada saat pensiun.

Program Imbalan Pasti


Program imbalan pasti (defined benefit plan), menetapkan imbalan yang
akan diterima karyawan saat mereka pensiun. Imbalan ini biasanya merupakan
fungsi dari masa kerja karyawan dan tingkat kompensasi pada tahun tahun
menjelang pensiun. Untuk memenuhi komitmen imbalan pasti yang akan timbul
pada saat pensiun, perusahaan harus menentukan iuran yang harus diberikan
saat ini (nilai waktu perhitungan uang). Perusahaan mungkin menggunakan
berbagai pendekatan iuran yang berbeda. Namun, metode pendanaan harus
menyediakan cukup uang pada saat pensiun untuk memenuhi imbalan yang
ditentukan oleh program tersebut.

Peran Aktuaris dalam Akuntansi Pensiun


Aktuaris (actuaries) adalah individu yang dilatih melalui program sertifikasi
yang panjang dan ketat untuk menetapkan probabilitas kejadian masa depan dan
dampak keuangannya. Industri asuransi menggunakan aktuaris untuk menilai
resiko dan memberi saran mengenai penetapan premi dan aspek lain dari polis
asuransi. Pemberi kerja sangat bergantung pada aktuaris untuk mebantu dalam
mengembangkan, menerapkan, dan mendanai dan pensiun.

AKUNTANSI PENSIUN
Pengukuran Liabilitas Pensiun
Sebagian besar program pensiun memerlukan beberapa tahun masa kerja
minimum sebelum karyawan memperoleh status vested. Perusahaan menghitung
kewajiban imbalan yang vested (vested benefit obligation) dengan hanya
menggunakan imbalan yang telah menjadi hak pada tingkat gaji terkini. Cara lain
untuk mengukur kewajiban adalah dengan menggunakan masa kerja yang vested
atau belum vested. Atas dasar ini, perusahaan menghitung jumlah kompensasi
tangguhan untuk semua tahun masa kerja karyawan vested ataupun belum vested
dengan tingkat gaji terkini. Pengukuran kewajiban pensiun ini disebut akumulasi
kewajiban imbalan (accumulated benefit obligation). Perhitungan ketiga
mendasarkan kepada pada jumlah kompensasi yang ditangguhkan pada masa
kerja yang vested atau belum vested dengan menggunakan gaji dimasa depan.
Pengukuran kewajiban pensiun ini disebut kewajiban imbalan pasti (defined
benefit obligation). Karena gaji masa depan diperkirakan lebih tinggi dari gaji
terkini, maka pendekatan ini menghasilkan pengukuran kewajiban pensiun
terbesar.

Kewajiban (Aset) Imbalan Pasti Neto


Liabilitas (aset) imbalan pasti neto (net defined benefit liabillity (asset))
disebut juga status pendanaan (funded status) adalah defisit atau surplus yang
terkait dengan program pensiun pasti. Defisit atau surplus tersebut diukur sebagai
berikut :
Kewajiban imbalan pasti – Nilai wajar aset program (jika ada)

Jika kewajiban imbalan pasti lebih besar dari aset program, maka program
pensiun mengalami defisit dan sebaliknya.

Pelaporan Perubahan Kewajiban (Aset) Imbalan Pasti


IFRS mensyaratkan bahwa semua perubahan kewajiban imbalan pasti dan
aset program pada periode berjalan diakui dalam laba rugi komprehensif. IFRS
mewajibkan perusahaan melaporkan perubahan yang timbul dari berbagai elemen
liabilitas dan aset pensiun dibagian yang berbeda dalam laporan laba rugi
komprehensif, tergantung pada sifatnya. Laporan tersebut menyediakan
segmentasi tambahan komponen biaya pensiun (components of pension cost)
yang memberikan transparasi tambahan tentang sifat biaya ini. Ketiga komponen
tersebut adalah sebagai berikut :
 Biaya jasa (service cost). Terdiri dari biaya jasa kini dan biaya jasa lalu.
Biaya jasa kini adalah kenaikan nilai kini kewajiban imbalan pasti yang
berasal dari jasa karyawan dalam periode berjalan. Biaya jasa lalu adalah
perubahan nilai kini kewajiban imbalan pasti atas jasa karyawan pada
periode sebelumnya.
 Bunga neto. Dihitung dengan mengalikan tingkat diskonto dengan status
pendanaan program (kewajiban imbalan pasti dikurangi aset program).
Jika program tersebut memiliki kewajiban imbalan pasti neto pada akhir
periode, perusahaan melaporkan beban bunga. Sebaliknya, jika memiliki
aset imbalan pasti neto, laporan tersebut melaporkan pendapatan bunga.
Bunga Neto = (Kewajiban imbalan pasti x Tingkat diskonto) – (Aset program x
Tingat diskonto)
 Pengukuran kembali. Pengukuran kembali adalah keuntungan dan
kerugian sehubungan dengan kewajiban imbalan pasti (perubahan tingkat
diskonto atau asumsi aktuarial lainya) dan keuntungan atau kerugian pada
nilai wajar dari aset program (imbal hasil aktual dikurangi pendapatan
bunga yang dimasukkan dalam kompenen keuangan). Komponen ini
dilaporkan dalam penghasilan komprehensif lain, setelah dikurangi pajak.
Keuntungan atau kerugian pengukuran kembali ini memengaruhi laba rugi
komprehensif, tetapi bukan laba neto.
Aset Program dan Imbal Hasil Program
Aset program (plan assets) pensiun biasanya merupakan investasi pada
saham, obligasi, efek lain, dan real estat yang dimiliki perusahaan untuk
mendapatkan tingkat imbal hasil yang wajar. Aset program dilaporkan sesuai nilai
wajarnya. Imbal hasil program aset aktual (actual return on plan assets) adalah
kenaikan aset dana pensiun yang berasal dari bunga, deviden dan perubahan
nilai wajar dari aset program yang telah direalisasi atau belum direalisasi.
Imbal Hasil Aktual = (Saldo akhir aset program – Saldo awal aset program) –
(Iuran – Imbalan yang dibayarkan)

PENGGUNAAN KERTAS KERJA PENSIUN


Perusahaan sering menggunakan kertas kerja untuk mencatat informasi
terkait pensiun. Seperti namanya, kertas kerja adalah sebuah alat kerja. Kertas
kerja bukan catatan akuntansi permanen (ini bukan jurnal atau bagian dari buku
besar). Kertas kerja hanya sebagai alat untuk memudahkan penyusunan jurnal
dan laporan keuangan. Kolom jurnal umum dikertas kerja (didekat sisi kiri)
menentukan jurnal untuk dicatat dalam akun buku besar formal. Kolom catatan
neto (disisi kanan) mencatat saldo kewajiban imbalan pasti dan aset program.
Selisih antara kewajiban imbalan pasti dengan nilai wajar aset program adalah
aset / liabilitas pensiun (pension assets / liabillity), yang disajikan dalam laporan
posisi keuangan. Jika kewajiban imbalan pasti lebih besar dari aset program, maka
liabilitas pensiun akan muncul. Jika kewajiban imbalan pasti lebih kecil dari aset
program, maka aset pensiun akan muncul. Saldo akhir dikolom aset / liabilitas
pensiun harus sama dengan saldo neto dalam catatan memo.

Biaya Jasa Lalu


Biaya jasa lalu (past service cost) adalah perubahan nilai kini kwajiban
imbalan pasti yang diakibatkan oleh amendemen program atau kutailmen.
Biaya Jasa Lalu
(Beban Pada Periode Berjalan)
Amendemen Program : Kurtailmen :
 Pengenalan program Pengurangan yang signifikan dalam
 Penarikan program jumlah karyawan yang ditanggung
 Perubahan pada program pada program tersebut.
Rekonsiliasi (reconciliation) adalah rumus yang membuat kertas kerja
benar benar berkerja dengan baik. Rekonsiliasi menghubungkan satu komponen
akuntansi pensiun, baik yang dicatat maupun tidak tercatat, dengan komponen
yang lain.

Pengukuran Kembali
Perhatian besar bagi perusahaan yang memiliki program pensiun adalah
perubahan beban pensiun yang tidak terkendali dan tidak terduga yang dapat
diakibatkan oleh perubahan nilai wajar aset program secara mendadak dan
substansial serta perubahan asumsi aktuarial yang mempengaruhi jumlah
kewajiban imbalan pasti. Perubahan ini disebut sebagai pengukuran kembali
(remeasurements). Pengukuran kembali umumnya terbagi dari dua jenis, yaitu :
 Keuntungan dan kerugian atas aset program (asset gains and losses)
adalah selisih antara tingkat imbal hasil aktual dengan pendapatan bunga
yang dihitung dalam menentukan bunga neto.
 Keuntungan dan kerugian atas kewajiban imbalan pasti (liabillity gains and
losses). Perusahaan melaporkan keuntungan liabilitas (akibat penurunan
saldo liabilitas yang tidak terduga) dan kerugian liabilitas (akibat kenaikan
saldo liabilitas yang tidak terduga).

PELAPORAN PROGRAM PENSIUN DALAM LAPORAN KEUANGAN


Perusahaan melaporkan aset / liabilitas pensiun sebagai aset atau liabilitas
dalam laporan posisi keuangan pada akhir periode pelaporan. Klasifikasi sebagai
tidak lancar atau lancar mengikuti pedoman umum yang digunakan untuk
klasifikasi aset atau liabilitas lainnya. Pada laporan laba rugi (atau catatan terkait),
perusahaan harus melaporkan jumlah beban pensiun untuk periode yang
bersangkutan. Selain itu, keuntungan atau kerugian aktuarial yang dibebankan
atau dikreditkan kepenghasilan komprehensif lain harus dilaporkan dalam laporan
laba rugi komprehensif. Dalam catatan atas laporan keuangan, perusahaan
diwajibkan untuk mengungkapkan informasi yang :
 Menjelaskan karakteristik dalam program imbalan pasti dan resikonya.
 Mengidentifikasi dan menjelaskan jumlahnya dalam laporan keuangan
yang timbul dalam program imbalan pasti.
 Menggambarkan bagaimana program imbalan pasti dapat memengaruhi
jumlah, waktu, dan ketidakpastian arus kas masa depan perusahaan.
Imbalan Pasca Kerja Lain
Perusahaan sering memberikan jenis imbalan pascakerja nonpensiun
lainnya, seperti asuransi jiwa di luar program pensiun, perawatan medis dan jasa
hukum dan pajak. Akuntansi untuk jenis pascakerja lain adalah sama yang
digunakan untuk pelaporan program pensiun. Perusahaan dengan program
pensiun dan program imbalan pascakerja lain harus secara terpisah
mengungkapkan perincian program bila program tersebut memiliki resiko yang
berbeda secara material.

PSAK 24
Secara umum PSAK 24 adalah mengatur pernyataan akuntansi tentang imbalan
kerja di perusahaan. Latar belakang Penerapan PSAK 24 tentang Imbalan Kerja
adalah: Undang-Undang Ketenagakerjaan (UUK) Nomor 13 Tahun 2003 mengatur
secara umum mengenai tatacara pemberian imbalan-imbalan di perusahaan,
mulai dari imbalan istirahat panjang sampai dengan imbalan Pemutusan
Hubungan Kerja (PHK). Imbalan-imbalan di UUK tersebut dapat diatur lebih lanjut
di Peraturan Perusaaan (PP) atau di Perjanjian Kerja Bersama (PKB) antara
Perusahaan dan Serikat Pekerja dan tentu saja merujuk kepada ketentuan di UUK.
Dengan berlakunya UUK ini mengakibatkan perusahaan akan dibebani dengan
jumlah pembayaran pesangon yang tinggi terutama untuk perusahaan yang
memiliki jumlah karyawan ribuan orang. Oleh karena itu, untuk mengantisipasi
kemungkinan terganggunya cash flow perusahaan akibat dari ketentuan dalam
UU No. 13 tahun 2003 tersebut, maka PSAK No. 24 mengharuskan perusahaan
untuk membukukan pencadangan atas kewajiban pembayaran pesangon/imbalan
kerja dalam laporan keuangannya. Pernyataan ini mengharuskan pemberi kerja
(entitas) untuk mengakui:
 Liabilitas, jika pekerja telah memberikan jasanya dan berhak memperoleh
imbalah kerja yang akan dibayarkan di masa depan; dan
 Beban, jika entitas menikmati manfaat ekonomis yang dihasilkan dari jasa
yang diberikan oleh pekerja yang berhak memperoleh imbalan kerja.

Apa yang dimaksud Imbalan Kerja?


Imbalan kerja (employee benefits) adalah seluruh bentuk imbalan yang
diberikan suatu entitas dalam pertukaran atas jasa yang diberikan oleh pekerja
atau untuk pemutusan kontrak kerja. Jika dilihat dari jenis imbalan kerja yang
termasuk kedalam definisi imbalan kerja di PSAK-24 adalah sebagai berikut:

 Imbalan Kerja Jangka Pendek: Yaitu imbalan kerja yang jatuh temponya
kurang dari 12 bulan. Contoh dari Imbalan Kerja Jangka Pendek ini adalah;
Gaji, iuran Jaminan Sosial, cuti tahunan, cuti sakit, bagi laba dan bonus
(jika terutang dalam waktu 12 bulan pada periode akhir pelaporan), dan
imbalan yang tidak berbentuk uang (imbalan kesehatan, rumah, mobil,
barang dan jasa yang diberikan secara cuma-cuma atau memalui subsidi).
 Imbalan Pasca Kerja: Yaitu imbalan kerja yang diterima pekerja setelah
pekerja sudah tidak aktif lagi bekerja. Contoh dari Imbalan Pasca Kerja ini
adalah : Imbalan Pensiun, Imbalan asuransi jiwa pasca kerja, imbalan
kesehatan pasca kerja. Jika dikaitkan dengan penjelasan diawal tulisan ini,
imbalan pasca kerja yang tercantum di perundangan ketenagakerjaan
adalah; Imbalan Pensiun, Meninggal Dunia, Disability/cacat/medical unfit
dan mengundurkan diri.
 Imbalan Kerja Jangka Panjang: Yaitu imbalan kerja yang jatuh temponya
lebih dari 12 bulan. Contoh dari Imbalan Jangka Panjang ini adalah: Cuti
besar/cuti panjang, penghargaan masa kerja (jubilee) berupa sejumlah
uang atau berupa pin/cincin terbuat dari emas dan lain-lain.
 Imbalan Pemutusan Kontrak Kerja (PKK): Yaitu imbalan kerja yang
diberikan karena perusahan berkomitmen untuk: (1) Memberhentikan
seorang atau lebih pekerja sebelum mencapai usia pensiun normal, atau
(2) Menawarkan pesangon PHK untuk pekerja yang menerima penawaran
pengunduran diri secara sukarela (golden shake hand). Imbalan ini
dimasukan kedalam pernyataan PSAK-24, jika dan hanya jika perusahaan
sudah memiliki rencana secara jelas dan detail untuk melakukan PKK dan
kecil kemungkinan untuk membatalkannya.

Salah satu ketentuan di UUK adalah mengenai imbalan pasca kerja, yaitu
imbalan yang harus diberikan perusahaan kepada karyawan ketika karyawan
sudah berhenti bekerja (pasca kerja=setelah kerja). Imbalan-imbalan Pasca Kerja
tersebut secara akuntansi harus di cadangkan dari saat ini, karena imbalan-
imbalan pasca kerja tersebut termasuk ke dalam salah satu konsep akutansi yaitu
accrual basis. Ada 4 (empat) imbalan pasca kerja yang dihitung untuk di
cadangkan dalam PSAK-24, yaitu:
 Imbalan Pasca Kerja Karena Karyawan Pensiun;
 Imbalan Pasca Kerja Karena Karyawan Sakit Berkepanjangan/Cacat;
 Imbalan Pasca Kerja Karena Karyawan Meninggal Dunia;
 Imbalan Pasca Kerja Karena Karyawan Mengundurkan Diri.

Keempat imbalan kerja di atas harus dihitung oleh perusahaan, karena ke-
empat imbalan kerja tersebut termasuk dalam prinsip akutansi imbalan kerja
yaitu on going concern (berkelanjutan). Alasan kenapa perusahaan harus
menerapkan PSAK-24 adalah:
 Adanya prinsip akutansi accrual basis. Penerapan PSAK-24 pada
perusahaan adalah sesuai prinsip akutansi accrual basis, yaitu perusahaan
harus mempersiapkan (mencadangkan/mengakui) utang (liability), untuk
imbalan yang akan jatuh tempo nanti.
 Tidak ada kewajiban yang tersembunyi. Artinya jika didalam laporan
keuangan tidak ada account untuk imbalan pasca kerja (melalui PSAK 24),
maka secara tidak langsung perusahaan sebenarnya “menyembunyikan”
kewajiban untuk imbalan pasca kerja.
 Berkaitan dengan arus kas, jika ada karyawan yang keluar karena pensiun
dan perusahaan memberikan manfaat pesangon pensiun kepada
karyawan tersebut, maka pada periode berjalan perusahaan harus
mengeluarkan sejumlah uang yang mengurangi laba perusahaan. Jika dari
awal perusahaan sudah mencadangkan imbalan pensiun ini (imbalan
pasca kerja), maka imbalan pensiun yang dibayarkan tersebut tidak akan
secara langsung mengurangi laba, akan tetapi akan mengurangi
pencadangan/accrual/kewajiban atas imbalan pasca kerja yang telah di
catatkan perusahaan di laporan keuangan.

Apa Keterkaitan Profesi Auditor (Kantor Akuntan Publik) dengan PSAK 24?
Pihak yang terkait dalam proses perhitungan beban imbalan kerja PSAK
24 adalah auditor, biasanya eksternal auditor (Kantor Akuntan Publik-KAP).
Seperti yang telah diketahui setiap perusahaan akan menyusun laporan keuangan
di akhir tahun buku, maka pihak KAP akan melakukan audit diperusahaan. Pada
proses audit tersebut lah hasil laporan PSAK 24 yang telah dihitung akan di cek
validasi nya. Apakah sudah sesuai dengan PSAK 24 yang di keluarkan oleh
DSAK-IAI atau belum. Kadang kala mereka juga melakukan cross check terhadap
hasil perhitungan dengan meminta contoh perhitungan. Oleh karena itu penerapan
PSAK 24 dianjurkan kepada perusahaan, Kalau tidak menerapkan PSAK ini, maka
auditor akan memberikan pendapat wajar dengan pengecualian PSAK 24. Artinya,
semua akun di laporan keuangan adalah wajar, bebas dari salah saji material,
kecuali salah satu akun sehubungan dengan PSAK 24, karena perusahaan tidak
mengikuti Standar Akuntansi Keuangan (SAK) yang berlaku di Indonesia. Apa
yang dilakukan auditor sudah sesuai dengan Standar Profesional Akuntan Publik
(SPAP).