Anda di halaman 1dari 6

Ariel Gladus Nanuru (131)

Ni Luh Ketut Inggitarahayu Anggasemara (132)

Ni Kadek Monica Cahyani (133)

Ni Kadek Erina Diah Dwi Putri (134)

Stephen Matuaraja Hutagalung (135)

I Wayan Risal Andi Prayana (136)

Putu Adelia Febriana (137)

Dewi Annastasya Rizqianda Sinaim (138)

Dewa Putu Tubagus Adi Sanjaya (139)

Kadek Diah Sri Antari (140)

Rantau 1 Muara – A. Faudi

Ringkasan

Alif Fikri merupakan salah satu mahasiswa Unpad yang mendapat kesempatan ke Kanada
untuk menjadi Duta Muda mewakili FISIP. Setelah kepulangannya dari Kanada sebagai Duta
Muda, Alif kembali ke Bandung. Sesampainya di kamar kos, ibu kos datang membawakan surat-
surat yang selama ini dikirimkan ke tempat kos serta menyuruh Alif untuk membayar uang kos.
Surat tersebut berisi peringatan agar Alif segera menyelesaikan pendaftaran ulang dan membayar
uang kuliah. Alif pun terpaksa menelepon Bang Togar untuk meminjam uang.

Ketika menelepon Bang Togar, Bang Togar berkata bahwa banyak artikel yang dibuat Alif
dimuat oleh koran di Bandung. Mendengar hal tersebut Alif langsung pergi mengambil honor
untuk mengurus KRS. Karena sudah terlambat, Pak Wangsa menyuruh Alif untuk kembali pada
semester depan. Dengan memohon, ia pun diijinkan untuk mengurus KRS nya. Sejak banyak
tulisannya dimuat di koran, Alif menjadi dikenal oleh para redaktur koran dan tabloid Bandung..
Beberapa saat kemudian Alif mendapat beasiswa sebagai isiting student di The National
University of Singapore selama satu semester.
Kini Alif merasa kualifikasi dirinya lebih tinggi melompati orang seperantarannya.
Dibandingkan dengan teman-teman seangkatannya, Alif tidak terburu-buru mencari pekerjaan
yang tetap karena telah memiliki penghasilan yang cukup sebagai penulis. Hanya tempat kerja
yang sesuai dengan minatnya yang ia pilih, harus bisa keluar negeri, serta terlihat keren seperti
bekerja di organisasi internasional. Namun nasib berkata lain, pada saat itu Indonesia yang
dipimpin oleh Soeharto sedang mengalami masalah krisis ekonomi. Alif lah salah satu korban yang
harus di PHK. Karena profesinya sebagai penulis sedang macet, Alif sadar bahwa ia harus segera
melamar pekerjaan saat itu juga. Setelah dipecat ia mencoba untuk melamar pekerjaan tetapi tidak
ada yang menerimanya, ia malah diejek karena tidak memiliki pekerjaan.

Pada suatu pagi Alif didatangi oleh penagih uang. Namun setelah bernegosiasi
debtcollector pun memberikan Alif waktu tambahan untuk melunasi hutangnya. Setelah sang
debtcollector pergi tak lama kemudain datang lagi seseorang mengetuk pintu kos, ternyata itu
kiriman surat yang dibawa Pak Imin. Alif pun membuka suratnya yang ternyata surat panggilan
kerja di kantor berita Derap Jakarta. Ia pun pergi ke Jakarta memenuhi pemanggilan Derap. Disana
ia bertemu Sang Aji pendiri majalah terkenal dan Mas Malaka pemimpin Derap untuk mendengar
beberapa persyaratan serta pelatihan agar menjadi jurnalis di Derap.

Tugas pertama Alif adalah meliput rapat proyek pemerintah dan konferensi pers. Disana,
Alif bertemu lelaki yang menyodorkan amplop tebal berisi uang sogokan. Alif menerima amplop
tersebut, namun selama acara ia merasa tidak tenang. Setelah acara selesai Alif pun ingat sebelum
Alif berangkat ke tempat acara tersebut, ia sempat berbincang dengan Mas Malaka dan Mas Aji
jikalau wartawan itu harus berpihak pada kebenaran. Alif pun berniat untuk mengembalikan
amplop tersebut. Tiba-tiba pria lain menitah Alif untuk tidak mengembalikan amplop tersebut, Alif
disebut sebagai wartawan baru yang sok. Menghindari konflik tersebut Alif bertemu dengan Belle,
wartawan asing yang ikut meliput rapat tersebut.

Senin pagi diadakan rapat perencanaan redaksi. Disini semua usulan berita dari awak
redaksi akan dibatasi oleh awak redaksi lainnya. Saat itu Alif memeriksa usulan berita yang sudah
ia siapkan selama 3 hari. Matanya terus menatap layar komputer tapi pikirannya jauh melayang
memikirkan gadis yang duduk di dekat meja, Dida.

Suatu kali Alif ditelepon Belle, ia mengajaknya untuk berbincang-bincang dengan jurnalis
asing di Menteng Tavern. Disana ia Alif dan Pasus, salah satu jurnalis asing mulai membincangkan
gaji yang Belle dan Sapta dapatkan sebagai jurnalis media asing. Ia pun mulai memikirkan masa
depannya terkait menjadi wartawan di Derap.

Perbincangan saat makan malam itupun masih terngiang-ngiang di kepala Alif, bagaimana
nasibnya kedepannya? Apakah mengikuti passion dengan tetap menjadi wartawan di Derap atau
mencari pekerjaan lain yang memilik gaji yang lebih tinggi. Saat dirinya gundah akibat perkataan
Sapta, performa Alif dalam kegiatan wawancara menurun. Mas Malaka dengan cepatnya
menyadari penurunan performa Alif dan mengajak bicara empat mata. Disana Alif diberi tugas
mewawancarai Jenderal Broro, jenderal yang dituntut tentang pelanggaran hak asasi manusia di
bagian timur.

Keberhasilan Alif menjadi journalist of the week pada wawancaranya kali ini dibarengi
dengan kedatangan reporter baru bernama Dinara. Dinara adalah teman dekat dari Raisa, yang juga
teman dekat Alif. Karena sudah dekat dengan Raisa, maka Alif mengumpulkan banyak informasi
mengenai Dinara melalu teman karibnya. Suatu saat, Dinara dan Alif mendapat kesempatan untuk
menjaga piket bersama pada saat pemilu 48 partai. Terjadilah kedekatan diantara mereka,
ditambah pula dengan insiden kerusakan mesin diesel mengakibatkan semua komputer tidak bisa
dinyalakan. Alif mulai memanfaatkan kesempatan untuk memberi makan seluruh rasa ingin
tahunya, mulai bertanya dari A hingga Z seluk beluk dari Dinara.

Hari demi hari berlalu kedekatan Alif dan Dinara semakin dekat. Apalagi setelah
mengetahui bahwa Alif berencana mengambil beasiswa, Dinara mulai membawakan banyak soal-
soal TOEFL untuk Alif. Lalu sampailah ia di hari pengisian formulir beasiswa fullbright, selang
lama menunggu surat balasan untuk mengikuti wawancara pun datang. Semua perjuangan telah ia
lakukan dari awal, mulai belajar TOEFL, GRU, hingga melakukan latihan wawancara bersama
Dinara. Setelah menunggu dengan kekhawatiran, ada sebuah email balasan yang menyatakan
bahwa Alif Fikri adalah seorang penerima beasiswa fullbright. Meskipun demikian ia juga harus
tetap belajar untuk melakukan pendaftaran di universitas-universitas Amerika. Dengan senang
hati, Alif pergi ke rumah Amak untuk meminta izin dan ke Derap untuk meminta izin cuti selama
2 tahun. Awalnya, Mas Aji keberatan. Namun setelah beberapa pertimbangan ia diizinkan dengan
syarat Alif bersedia menjadi koresponden Derap di Amerika Serikat.

Walaupun menerima beasiswa, Alif juga menerima surat yang menyatakan Alif tidak lulus
karena latar pendidikan yang kurang cocok. Terinspirasi dari kemenangan Manchester United
melawan Bayern Munich yang menang di injury time, Alif pun tidak akan menyerah untuk menulis
aplikasi ke universitas lain. Akhirnya ia terpilih di George Washington University. Namun,
semakin dekat ia dengan impiannya ke Amerika, semakin jauh pula pujaan hatinya, Dinara. Waktu
berlalu, setelah ia berpamitan dengan teman-temannya Alif memulai perjalanan pendidikannya ke
Amerika.

Sesampainya di Amerika, Alif bertemu dengan Garuda. Orang Indonesia yang ternyata
juga merupakan orang yang satu kampung dengannya tepatnya di Diponegoro. Garuda pun
menawarkan diri untuk membagi tempat tinggalnya dengan Alif. Terbongkar juga bahwa tempat
yang Alif tempati merupakan apartemen yang disewakan oleh Mas Nanda dan Mbak Hilda, pasutri
dari Indonesia. Garuda juga mengajak Alif untuk makan malam bersama dengan Mas Nanda dan
Mbak Hilda. Setelah beberapa hari kegiatan perkuliahan di GWU pun dimulai dan Alif sering
melakukan kegiatan pembelajan dengan Profesor Deutsch.

Namun berat hatinya juga untuk meninggalkan Indonesia karena akan meninggalkan
Dinara, gadis yang ia sukai. Dengan banyak pertimbangan pada akhirnya Alif memutuskan untuk
pergi ke Amerika melanjutkan studi S-2 nya. Karena tambatan hatinya masih di Indonesia dan ia
belum menyatakan perasaannya, ia meminta tolong pada temannya yang bernama Mas Garuda
untuk berbicara pada Dinara. Pada akhirnya Dinara menerima lamaran Alif dan memutuskan untuk
menikah di Bandung. Setelah pernikahan, mereka melanjutkan kembali hidupnya di Amerika
untuk melanjutkan studi Alif, dan Dinara mengikuti sang suami.

Saat di Amerika, Dinara tidak bekerja. Tetapi ada suatu hari yang membuat Dinara berpikir
ingin bekerja dan dia mengutarakan itu kepada sang suami, Alif. Lalu suatu hari Alif mendapatkan
tawaran mewawancarai seorang mantan CIA yang pernah bertugas di Jakarta tentang keterlibatan
CIA dalam dunia politik Indonesia, dan itu membuat Alif berpikir bahwa ini kesempatan untuk
mengajak sang istri untuk bekerja bersama dengan dia. Mereka di sana hidup berhemat, namun hal
tersebut tidak berlangsung lama karena Alif dan Dinara sudah diterima bekerja di Kantor Berita
ABN. Alif pun mendapat telfon dari Mas Malaka yang menugaskan dirinya untuk mewawancarai
orang penting lainnya di Amerika.

Tidak lama kemudian, terjadi peristiwa tragedi WTC pada 11 September 2001 di Amerika.
Tragedi yang menewaskan 3000 jiwa itu membuat Alif sangat terpukul karena Mas Garuda dan
Mas Nanda sedang berada di WTC saat tragedi itu berlangsung. Mereka berdua adalah salah satu
orang yang sangat penting bagi Alif karena telah banyak membantunya sejak awal kedatangannya
di Amerika. Alif dan Dinara pun pergi dengan tujuan utama mencari Mas Nanda dan Mas Garuda
dengan beralibi sebagai wartawan. Sayangnya, Alif hanya bisa menemukan Mas Nanda yang
terbaring lemah di rumah sakit dekat WTC.

Dua tahun berlalu, Alif terus terpuruk karena tidak ada tanda-tanda ditemukannya Mas
Garuda. Sebagai istri, Dinara pun terus menghibur Alif untuk mengikhlaskan Mas Garuda. Melihat
kesedihan yang juga tersirat dari raut muka Dinara, akhirnya Alif kembali senyum dan berusaha
membangkitkan kembali semangatnya yang telah kendor 2 tahun belakangan ini. Setelah semua
itu berlalu, keinginan Dinara untuk pulang ke Jakarta muncul kembali dan merayu Alif lagi untuk
mengikuti keinginannya. Waktu itu, Rupanya Alif mulai luluh dan sepertinya akan mengikuti
keinginan Dinara dalam waktu dekat. Tidak lama kemudian, Alif mengiyakan keinginan Dinara
untuk pulang ke Jakarta dan menetap di sana serta meninggalkan fasilitas yang serba berkecukupan
di sini. Meskipun banyak ketidakpastian yang akan Alif dan Dinara hadapi di Jakarta, namun itu
akan dipikirkannnya nanti

Pada saat itu, mereka berdua mengajukan surat resign kepada kantor berita ABN. Teman-
teman Dinara dan Alif di ABN merasa sangat terkejut dan menyayangkan keputusan mereka.
Namun keputusan mereka sudah cukup bulat. Kemudian di saat yang bersamaan, ada hal yang
menggoyahkan iman Alif untuk pulang ke Jakarta. Surat penerimaan kami bekerja di Kantor berita
EBC di London tiba-tiba menghampiri apartemen Alif dan Dinara. Mereka baru ingat bahwa
mereka sempat mengirim surat lamaran ke EBC di London, namun karena tidak ada tanggapan
dan ABN sudah terlanjur menerima mereka, akhirnya mereka tidak ingat dengan EBC. Namun,
ternyata EBC muncul di saat yang tidak tepat dan membuat Alif berpikir dua kali. Namun pihak
EBC semakin gencar mempengaruhi Alif dengan mengatakan bahwa Alif akan memiliki posisi
yang sangat strategis di EBC jika menerima tawaran ini. Tawaran itu semakin membuat Alif
bimbang untuk pulang kampung. Namun setelah berdiskusi lagi dengan Dinara, Alif pun akhirnya
tidak menerima tawaran dari EBC dengan perasaan sedikit kurang rela.

Keputusan Alif untuk menolak EBC bukan kesalahan yang besar, karena Alif mendapatkan
kejutan yang tidak pernah dia sangka. Kantor berita ABN tidak begitu saja melepas Alif dan
Dinara. Mereka ditawarkan menjadi special representative ABN di Jakarta dengan nilai
pendapatan yang sama seperti yang mereka peroleh di Amerika. Mendengar hal itu, Alif dan
Dinara menerima tawaran itu dengan senang hati. Tawaran tersebut sangat disyukuri oleh Dinara
dan Alif. Nikmat Tuhan mana lagi yang harus didustakan.

Kembali ke Indonesia adalah hal yang sangat tepat karena mereka bisa membangun
hubungan yang baik bersama keluarga besar. Kepulangan mereka, dirayakan dengan farewell
party oleh teman-teman di ABN dengan spanduk besar berisi kata-kata "Till We Meet Again." Dari
raut wajah mereka, Alif dan Dinara paham bahwa mereka akan merindukan kami nantinya dan
belum rela berpisah. Alif dan Dinara pun demikian. Namun, mereka percaya sebenarnya mereka
dengan teman-teman mereka di ABN telah berjalan beriringan, namun di jalan yang berbeda.