Anda di halaman 1dari 38

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN

DENGAN GANGGUAN PEMENUHAN


KEBUTUHAN TRANSPORTASI

OLEH :

1. LUTHFIANA EKWINA SAFIRA P07120217025


2. MILENIA RAMADHANI P07120217026
3. MIRA LUTFIANA P07120217027
4. MUHAMMAD NAUFAL FADHILAH P07120217028

D IV KEPERAWATAN
SEMESTER I
POLTEKKES KEMENKES YOGYAKARTA
2017/ 2018

1
DAFTAR ISI

Kata Pengantar .............................................................................................................. 2


Daftar Isi .................................................................................................................... 3
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang........................................................................................................... 3
Tujuan Penulisan ....................................................................................................... 3
Metode Penelitian ...................................................................................................... 3
BAB II TINJAUAN TEORI ....................................................................................... 4
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN .................................................................... 12

BAB IV PENUTUP ................................................................................................... 25

Daftar Pustaka ......................................................................................................... 27

2
KATA PENGANTAR

Pertama-tama kami mengucapkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha


Esa yang telah memberikan rahmat,hidayah,serta innayah-Nya kepada penyusun
sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini dibuat untuk
memenuhi tugas mata kuliah Kebutuhan Dasar Manusia. Penyusun juga ingin
mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu penyusun
dalam penyusunan makalah ini dan berbagai sumber yang telah penyusun pakai
sebagai data dan fakta dalam peyusunan makalah ini.Penyusun mengakui bahwa
penyusun memiliki banyak kekurangan dalam segala hal. Oleh karena itu makalah
yang peyusun selesaikan mungkin masih jauh dari kata sempurna.Tetapi penyusun
berusaha menyusun makalah ini dengan semaksimal mungkin dengan semua
kemampuan yang penyusun miliki.Maka dari itu, pennyusun berharap kritik dan
saran yang membangun dari bapak/ibu dosen. Penyusun akan menerima semua kritik
dan saran tersebut sebagai batu loncatan yang dapat memperbaiki makalah penyusun
di tugas tugas yang akan datang. Dengan menyelesaikan makalah ini penyusun
mengharapkan banyak manfaat yang dapat dipetik dan diambil dari makalah yang
penyusun buat ini.

Yogyakarta, 17 Oktober 2017

Penyusun

3
BAB 1

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Transportasi pasien saat ini mendapatkan sedikit perhatian dari sorang


perawat sebagai sebuah pelayanan kesehatan pasien.Pelayanan transportasi pasien
seringkali dilakukan tanpa ada dasar ilmu dan alasan medis yang dibenarkan. Perawat
menggunakan cara yang salah dan tanpa atura yang dibenarkan dalam melaksanakan
fungsi pelayanan transportasi pasien sesuai dengan kodisi medis pasien. Perawat
perlu memahami tata cara dan etika dalam memberikan pelayanan transportasi yang
benar dan tepat terutama terhadap pasien yang memiiki keterbatasan dalam mobilisasi
dan transpotasi. Pelayanan transportasi pasien perlu ditingkatkan untuk menjamin
kenyamanan dan keselamatan pasien tanpa menimbulkan sebuah cidera atau
menambah cidera yang telah di derita pasien. Tanpa adanya pelayanan transportasi
yang baik dan benar akan timbul ketidak puasan pasien terhadap pelayanan yang
diberikan seorang perawat.

B. Tujuan Penulisan

1. Mengetahui prinsip mekanika tubuh


2. Mengetahui konsep kesejajaran tubuh
3. Mengetahui tentang transportasi pasien
4. Mengetahui teknik pemindahan pada pasien

C. Metode penelitian

Dengan cara membaca buku buku tentang asuhan keperawatan gangguan


pemenuhan kebutuhan transportasi, jurnal jurnal penelitian, dan juga blog blog
asuhan keperawatan.

4
BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian Transportasi Pasien


Transportasi Pasien adalah sarana yang digunakan untuk mengangkut
penderita/korban dari lokasi bencana ke sarana kesehatan yang memadai
dengan aman tanpa memperberat keadaan penderita ke sarana kesehatan yang
memadai.
Seperti contohnya alat transportasi yang digunakan untuk memindahkan
korban dari lokasi bencana ke RS atau dari RS yang satu ke RS yang
lainnya.Pada setiap alat transportasi minimal terdiri dari 2 orang para medik
dan 1 pengemudi (bila memungkinkan ada 1 orang dokter). Prosedur untuk
transport pasien antaralain yaitu :
Prosedur Transport Pasien :
1. Lakukan pemeriksaan menyeluruh. Pastikan bahwa pasien yang sadar
bisa bernafas tanpa kesulitan setelah diletakan di atas usungan. Jika
pasien tidak sadar dan menggunakan alat bantu jalan nafas (airway).
2. Amankan posisi tandu di dalam ambulans.Pastikan selalu bahwa pasien
dalam posisI aman selama perjalanan ke rumah sakit.
3. Posisikan dan amankan pasien. Selama pemindahan ke ambulans, pasien
harus diamankan dengan kuat ke usungan.
4. Pastikan pasien terikat dengan baik dengan tandu. Tali ikat keamanan
digunakan ketika pasien siap untuk dipindahkan ke ambulans, sesuaikan
kekencangan tali pengikat sehingga dapat menahan pasien dengan aman.
5. Persiapkan jika timbul komplikasi pernafasan dan jantung.Jika kondisi
pasien cenderung berkembang ke arah henti jantung, letakkan spinal

5
board pendek atau papan RJP di bawah matras sebelum ambulans
dijalankan.
6. Melonggarkan pakaian yang ketat.
7. Periksa perbannya.
8. Periksa bidainya.
9. Naikkan keluarga atau teman dekat yang harus menemani pasien Naikkan
barang-barang pribadi.
10. Tenangkan pasien.

B. Teknik Pemindahan Pada Pasien


Teknik pemindahan pada klien termasuk dalam transport pasien, seperti
pemindahan pasien dari satu tempat ke tempat lain, baik menggunakan alat
transport seperti ambulance, dan branker yang berguna sebagai pengangkut
pasien gawat darurat.
1. Pemindahan klien dari tempat tidur ke brankar
Memindahkan klien dri tempat tidur ke brankar oleh perawat
membutuhkan bantuan klien.Pada pemindahan klien ke brankar
menggunakan penarik atau kain yang ditarik untuk memindahkan klien
dari tempat tidur ke branker.Brankar dan tempat tidur ditempatkan
berdampingan sehingga klien dapat dipindahkan dengan cepat dan mudah
dengan menggunakan kain pengangkat. Pemindahan pada klien
membutuhkan tiga orang pengangkat
2. Pemindahan klien dari tempat tidur ke kursi
Perawat menjelaskan prosedur terlebih dahulu pada klien sebelum
pemindahan.Kursi ditempatkan dekat dengan tempat tidur dengan
punggung kursi sejajar dengan bagian kepala tempat tidur.Emindahan
yang aman adalah prioritas pertama, ketika memindahkan klien dari
tempat tidur ke kursi roda perawat harus menggunakan mekanika tubuh
yang tepat.

6
3. Pemindahan pasien ke posisi lateral atau prone di tempat tidur
a. Pindahkan pasien dari ke posisi yang berlawanan
b. Letakan tangan pasien yang dekat dengan perawat ke dada dan
tangan yang jauh ari perawat, sedikit kedapan badan pasien
c. Letakan kaki pasien yang terjauh dengan perawat menyilang di atas
kaki yang terdekat.
d. Tempatkan diri perawat sedekat mungkin dengan pasien
e. Tempatkan tangan perawat di bokong dan bantu pasien
f. Tarik badan pasien
g. Beri bantal pada tempat yang diperlukan.

C. Jenis-Jenis dari Transportasi Pasien


1. Transportasi Gawat Darurat :
Setelah penderita diletakan diatas tandu (atau Long Spine Board bila
diduga patah tulang belakang) penderita dapat diangkut ke rumah
sakit.Sepanjang perjalanan dilakukan Survey Primer, Resusitasi jika
perlu.
a. Mekanikan saat mengangkat tubuh gawat darurat
Tulang yang paling kuat ditubuh manusia adalah tulang panjang
dan yang paling kuat diantaranya adalah tulang paha (femur).Otot-
otot yang beraksi pada tutlang tersebut juga paling kuat.
Dengan demikian maka pengangkatan harus dilakukan dengan
tenaga terutama pada paha dan bukan dengan membungkuk
angkatlah dengan paha, bukan dengan punggung.
b. Panduan dalam mengangkat penderita gawat darurat
1. Kenali kemampuan diri dan kemampuan pasangan kita. Nilai
beban yang akan diangkat secara bersama dan bila merasa tidak
mampu jangan dipaksakan.

7
2. Kedua kaki berjarak sebahu kita, satu kaki sedikit didepan kaki
sedikit sebelahnya
3. Berjongkok, jangan membungkuk, saat mengangkat.
4. Tangan yang memegang menghadap kedepan.
5. Tubuh sedekat mungkin ke beban yang harus diangkat. Bila
terpaksa jarak maksimal tangan dengan tubuh kita adalah 50 cm.
6. Jangan memutar tubuh saat mengangkat
7. Panduan diatas berlaku juga saat menarik atau mendorong
penderita
2. Transportasi Pasien Kritis :
Definisi: pasien kritis adalah pasien dengan disfungsi atau gagal pada
satu atau lebih sistem tubuh, tergantung pada penggunaan peralatan
monitoring dan terapi.
a. Transport intra hospital pasien kritis harus mengikuti beberapa
aturan, yaitu:
1. Koordinasi sebelum transport
 Informasi bahwa area tempat pasien akan dipindahkan telah
siap untuk menerima pasien tersebut serta membuat rencana
terapi
 Dokter yang bertugas harus menemani pasien dan
komunikasi antar dokter dan perawat juga harus terjalin
mengenai situasi medis pasien.
 Tuliskan dalam rekam medis kejadian yang berlangsung
selama transport dan evaluasi kondisi pasien
 Profesional beserta dengan pasien: 2 profesional (dokter atau
perawat) harus menemani pasien dalam kondisi serius.

8
 Salah satu profesional adalah perawat yang bertugas, dengan
pengalaman CPRatau khusus terlatih pada transport pasien
kondisi kritis.
 Profesioanl kedua dapat dokter atau perawat. Seorang dokter
harus menemanipasien dengan instabilitas fisiologik dan
pasien yang membutuhkan urgent action
2. Peralatan untuk menunjang pasien
 Transport monitor
 Blood presure reader
 Sumber oksigen dengan kapasitas prediksi transport, dengan
tambahan cadangan30 menit
 Ventilator portable, dengan kemampuan untuk menentukan
volume/menit, pressure FiO2 of 100% and PEEP with
disconnection alarm and high airway pressure alarm.
 Mesin suction dengan kateter suction
 Obat untuk resusitasi: adrenalin, lignocaine, atropine dan
sodium bicarbonate
 Cairan intravena dan infus obat dengan syringe atau pompa
infus dengan baterai
 Pengobatan tambahan sesuai dengan resep obat pasien
tersebut
3. Monitoring selama transport.
Tingkat monitoring dibagi sebagai berikut: Level 1=wajib,level
2=Rekomendasi kuat, level 3=ideal
 Monitoring kontinu: EKG, pulse oximetry (level 1)
 Monitoring intermiten: Tekanan darah, nadi, respiratory rate
(level 1 pada pasien pediatri, Level 2 pada pasien lain).
3. Transport Pasien Rujukan

9
Rujukan adalah penyerahan tanggung jawab dari satu pelayanan
kesehatan ken pelayanan kesehatan lainnya.
System rujukan upaya kesehatan adalah suatu system jaringan
fasilitas pelayanan kesehatan yang memungkinkan terjadnya penyerangan
tanggung jawab secara timbale-balik atas masalah yang timbul, baik
secara vertical maupun horizontal ke fasilitas pelayanan yang lebih
kompeten, terjangkau, rasional, dan tidak dibatasi oleh wilayah
administrasi.
a. Tujuan Rujukan
Tujuan system rujukan adalah agar pasien mendapatkan
pertolongan pada fasilitas pelayanan keseshatan yang lebih mampu
sehinngga jiwanya dapat terselamtkan, dengan demikian dapat
meningkatkan AKI dan AKB
b. Cara Merujuk
Langkah-langkah rujukan adalah :
1. Menentukan kegawatdaruratan penderita
 Pada tingkat kader atau dukun bayi terlatih ditemukan
penderita yang tidak dapat ditangani sendiri oleh keluarga
atau kader/dukun bayi, maka segera dirujuk ke fasilitas
pelayanan kesehatan yang terdekat,oleh karena itu mereka
belum tentu dapat menerapkan ke tingkat kegawatdaruratan
 Pada tingkat bidan desa, puskesmas pembatu dan
puskesmas.Tenaga kesehatan yang ada pada fasilitas
pelayanan kesehatan tersebut harus dapat menentukan
tingkat kegawatdaruratan kasus yang ditemui, sesuai dengan
wewenang dan tanggung jawabnya, mereka harus
menentukan kasus manayang boleh ditangani sendiri dan
kasus mana yang harus dirujuk.

10
2. Menentukan tempat rujukan
Prinsip dalam menentukan tempat rujukan adalah fasilitas
pelayanan yang mempunyai kewenangan dan terdekat termasuk
fasilitas pelayanan swasta dengan tidak mengabaikan kesediaan
dan kemampuan penderita.
3. Memberikan informasi kepada penderita dan keluarga
4. Mengirimkan informasi pada tempat rujukan yang dituju
 Memberitahukan bahwa akan ada penderita yang dirujuk
 Meminta petunjuk apa yang perlu dilakukan dalam rangka
persiapan dan selama dalamperjalanan ke tempat rujukan
 Meminta petunjuk dan cara penangan untuk menolong
penderita bila penderita tidak mungkin dikirim.
5. Persiapan penderita (BAKSOKUDA)
6. Pengiriman Penderita
7. Tindak lanjut penderita :
 Untuk penderita yang telah dikembalikan
 Harus kunjungan rumah, penderita yang memerlukan
tindakan lanjut tapi tidak melapor.
c. Jalur Rujukan
Alur rujukan kasus kegawatdaruratan :
1. Dari Kader
Dapat langsung merujuk ke :
 Puskesmas pembantu
 Pondok bersalin atau bidan di desa
 Puskesmas rawat inap
 Rumah sakit swasta / RS pemerintah.
2. Dari Posyandu
Dapat langsung merujuk ke :

11
 Puskesmas pembantu
 Pondok bersalin atau bidan di desa.

12
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian

Pengkajian adalahh sebuah proses untuk mengenal dan mengidentifikasi factor-factor


(baik positif maupun negatif), baik secar individual maupun kelompok yang
bermanfaat untuk mengetahui masalah dan kebutuhan klien, serta untuk
mengembangkan strategi promosi kesehatan. Aspek yang dikaji meliputi identitas
(nama, alamat, umur, jenis kelamin, dan lain lain), riwayat kesehatan (keluhan dalam
beberapa bulan terakhir, sakit yang diderita, dan lain-lain), status fisiologis (berat
badan, tinggi badan, tekanan darah, suhu, dan lain-lain). Pengkajian ini dapat
dilakukan dengan wawancara kepada pasien maupun keluarga pasien dan dengan
pemeriksaan langsung.Pengkajian ditujukan agar perawat mendapatkan data pasien.

Pengertian kebutuhan transportasi

Dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia dan asuhan keperawatan, salah
satu tugas perawat adalah memenuhi kebutuhan transportasi dimana saat itu pasien
tidak memiliki kemampuan atau pasien mempunyai kemampuan yang lemah untuk
melakukan perpindahan secara mandiri. Kebutuhan transportasi berkaitan erat dengan
hal immobilitas atau immobilisasi yang merupakan keadaan dimana seseorang tidak
dapat bergerak secara bebas karena kondisi yang mengganggu pergerakan (aktivitas),
misalnya karena mengalami trauma tulang belakang, cidera otak berat disertai fraktur
karena kecelakan , orang yang terkena stroke, orang yang patah tulang (fraktur)
karena kecelakaan, orang yang sudah mengalami usia lanjut dan lain sebagainya.
Maka dari itu, seseorang yang mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan
transportasi akan diberikan suatu tindakan keperawatan yang diberikan kepada pasien
untuk membantu pasien dalam berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain
maupun dari posisi tertentu ke posisi yang lain dengan mengggunakan alat bantu

13
seperti walker, kruk, tongkat, brankart, kursi roda, dan lain-lain dengan bimbingan
perawat. Sehingga pasien diharapkan dapat melakukan perpindahan dari suatu tempat
atau posisi ke tempat atau posisi yang lain secara mandiri tanpa menggunakan alat
bantu (brankart, kruk, walker, tongkat, kursi roda, dan lain lain).

Penyebab
Biasanya pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan transportasi adalah pasien
yang mengalami penurunan kekuatan otot dan patah tulang pada anggota gerak
bawah serta gangguan keseimbangan. Sehingga pasien menggunakan alat bantu jalan
untuk memudahkan pasien dalam berjalan maupun berpindah posisi agar terhindar
dari resiko cidera dan juga menurunkan ketergantunganpada orang lain. Alat bantu
jalan (kruk, kursi roda, walker, tongkat, brankart, dan lain-lain) biasanya digunakan
oleh pasien yang mengalami immobilisasi (kemampuan dimana pasien tidak mampu
bergerak) yang terjadi karena beberapa hal, diantaranya faktor usia lanjut dimana
sering sekali mengalami gangguan pada tulang dan sendi (biasanya pada tulang
belakang dan pinggang) sehingga sulit untuk berpindah tempat atau posisi. Kemudian
pasien yang terkena stroke dimana beberapa sistem saraf termasuk anggota geraknya
terganggu sehingga kemampuan dalam berjalan maupun berpindah tempat agak
menyulitkan penderita.Yang ketiga pada pasien pasca amputasi kaki sangat sulit
bergerak sehingga perlu kaki palsu, kruk, maupun kursi roda.Yang keempat karena
hemiparese dan parapanese.Hemiparese adalah kondisi dimana terjadinya kelemahan
pada sebelah atau sebagian kanan atau kiri tubuh (lengan, tungkai, dan wajah) yang
berlawanan dengan lesi (jaringan abnormal pada tubuh) yang terjadi di otak.Secara
umum disebabkan karena adanya tumor, infeksi, head injury atau trauma capitis,
congenital (kelainan bawaan), dan stroke. Parapamese adalah terjadinya gangguan
antara kedua anggota gerak tubuh bagian bawah yang terjadi karena adanya efek
antara sendi facet superior dan inferior (pars interar tikularis). Yang kelima pasien
yang mengalami fraktur pada ekstremitas bawah, saat terpasang gips dan pasca
pemasangan gips. Yang keenam pasien dengan paralegra, yaitu hilangnya

14
kemampuan untuk menggerakkan anggota ubuh bagian bawah yang menyebabkan
penderita tidak bisa menggerakkan otot-otot pada kedua tungkai kaki, dan terkadang
panggul serta beberapa anggota tubuh bagian bawah lainnya.Gangguan pemenuhan
kebutuhan transportasi tidak hanya disebabkan oleh penyakit dan kelainan bawaan,
melainkan juga digunakan pada pelaksaan prosedur tindakan seperti pengambilan
foto rontgen, pasien diantar keruang operasi, dan lain sebagainya.
B. Diagnosa Keperawatan

Dari hasil konferensi NANDA ke-9 tahun 1990 cit Doenges 2000, istilah
diagnose keperawatan digunakan sebagai verba dan nomina. Istilah nomina dalam
kaitan dengan karya NANDA, yaitu sebuah label yang disetujui oleh NANDA
yang mengidentifikasi masalah atau kebutuhan pasien yang spesifik, merupakan
masalah yang menggambarkan masalah kesehatan yang dapat ditangani oleh
perawat, dapat berupa masalah fisik; sosiologis; dan psikologis.

Intervensi aktivitas berhubuungan dengan pasien yang mengalami bedrest


(tirah baring) dalam waktu yang tidak menentu, anggota gerak kesulitan untuk
bergerak sehingga terganggulah pemenuhan kebutuhan transportasinya, pasien
yang imobilitas (tidak mampu bergerak), kelemahan tubuh secara umum, dan
respon abnormal terhadap aktivitas seperti ketidaknyamanan dan dyspnoe.
Misalnya dari masalah fisik, pasien dengan gangguan pemenuhan kebutuhan
trasnportasi mengalami fraktur pada ekstremitas bagian bawah atau mengalami
amputasi kaki akibat kecelakaan.

C. Intervensi
Intervensi riwayat penyakit yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan
transportasi yaitu :
1. Pasien yang lanjut usia dan penderita stroke
Pasien dengan usia lanjut (lansia) biasanya sudah kehilangan keseeimbangan
dalam berjalan. Misal pasien dengan kondisi osteoarthritis yng sudah kronis,

15
yaitu dimana lutut atau pergelangan kakai sangat nyeri jika digunakan untuk
berjalan. Biasanya psien menggunakan walker (kerangka terbuat dari bahan
logam atau alumunium yang memiliki bentuk ergonomis dan ringan yang
dilengkapi dengan dua gagang sebagai tempat pegangan serta mempunyai
empat kaki sebagai penumpunya) dengan membutuhkan bantuan dari orang
lain. Selain walker, juga menggunakan stick (tongkat kaki yang dapat dilipat
menjadi pendek yang terbuat dari besi yang kuat namun juga ringan)
2. Pasien dengan masalah fraktur, amputasi, kesusahan anggota gerak bagian
bawah pasien dalam berjalan maupun berpindah tempat. Hal ini bertujuan
untuk mencegah kali menumpu di lantai atau menapak. Banyak digunakan
oleh pasien pasca operasi orthopaedi saat kaki belum diizinkan menumpu
berat badan
3. Pasien dengan penyakit kelainan bawaan
Seperti pada penderita hemipamese dan parapamese yang telah dijelaskan
sebelumnya, dimana terjadi kelemahan pada sebelah atau sebagian kanan atau
kiri tubuh yang terjadi di otak dan terjadinya gangguan antara kedua anggota
gerak tubuh bagian bawah sehingga pasien dapat dipindahkan dengan cepat
dan mudah dengan menggunakan kain pengangkat.Pasien harus dipersiapkan
untuk pemindahan dan minta bantuan jika memungkinkan.Contoh, dengan
melipat lengan diatas dada.Lingkungan harus bebas dari penghalang dan alat-
alat yang tida dibutuhkan harus dipindahkan.Brankart ditempatkan di sebelah
tempat tidur, sehingga saat penarikan atau penggeseran pasien berlangsung
cepat dan mudah.
Membantu klien berjalan juga membutuhkan persiapan. Perawat mengkaji
toleransi aktivitas, kekuatan, nyeri, koordinasi, dan keseimbangan klien untuk
mencoba berjalan, siapa yang membantu, kapan akan dilakukan, dan mengapa itu
penting. Perawat juga menentukan berapa banyak kemandirian klien dapat diberikan
dan dipastikan lingkungan dalam keadaan bekas dan aman. Perawat mengkaji, alat
bantu berjalan apa yang akan digunakan oleh klien.

16
1. Tongkat

Alat yang ringan, dapat dipindahkan, setinggi pinggang, dan terbuat dari kayu
atau logam. Ada tiga tipe, yaitu tongkat standar yang berbentuk lurus dengan
panjang 91 cm, tongkat kaki tiga, dan tongkat kaki empat. Syarat tongkat
meliputi : ujung tongkat yang mengenai lantai diberi karet setebal 3,75 cm
untuk memberi stabilitas optimal, ukuran tongkat setinggi pangkal paha, siku
klien dapat defleksi (pembelokan) diatas tongkat ± 25°-300°.
Suatu tindakan keperawatan yang diberikan pada pasien untuk membantu
pasien berjalan menggunakan tongkat dengan bimbingan perawat.
Tujuan :

a. Membantu mobilitas pasien untuk melatih otot dan sendi


b. Memberikan rasa nyaman pada pasien
c. Memenuhi kebutuhan konsultasi ke ruangan bagian lain
d. Memenuhi kebutuhan transportasi pasien.

Indikasi : Penurunan kekuatan kaki.

Langkah kerja :

a. Mengucapkan salam kepada pasien


b. Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dengan bahasa yang jelas
c. Menjelaskan tujuan dari tindakan yang dilakukan dan lamanya tindakan

17
d. Menciptakan lingkungan terapeutik : singkirkan rintangan yang mengganggu,
berikan privasi, penerangan cukup
e. Mencuci tangan
f. Mengukur tanda-tanda vital
g. Menempatkan tongkat pada sisi tubuh yang kuat
h. Menempatkan 15-25 cm di depan dan jaga berat badan pada kedua kaki
pasien
i. Menggerakkan kaki yang terlemah maju dengan tongkat sehingga berat badan
dibagi antara tongkat dan kaki yang terkuat
j. Menggerakkan kaki yang terkuat maju setengah tongkat sehingga berat badan
disokong oleh tongkat dan kaki terlemah
k. Mengajarkan pasien mengulang tahap g-i terus menerus
l. Mengajarkan pasien bahwa kedua titik penopang seperti 2 buah kaki atau satu
kaki dan tongkat akan muncul setiap saat
m. Mengevaluasi respon pasien selama latihan dan mengukur vital sign
n. Merapikan peralatan dan lingkungan
o. Mencuci tangan
p. Kontrak waktu untuk latihan berikutnya
q. Mencatat hasil tindakan sesuai prinsip dokumentasi.
2. Kruk

18
Tongkat atau alat bantu jalan, digunakan secara berpasangan biasanya untuk
mengatur keseimbangan saat berjalan. Kruk aksila lebih aman digunakan.Pengukuran
kruk meliputi 3 area : tinggi klien, jarak antara bantalan kruk dan aksila, dan sudut
fleksi siku. Dilakukan dengan satu dari dua metode berikut, dengan klien berada pada
posisi supine atau berdiri.Pada posisi telentang ˗ ujung kruk berada 15 cm di smaping
tumit klien.Tempatkan ujung pita pengukur dengan lebar 3-4 jari (4-5 cm) dari aksila
dan ukur sampai tumit klien. Berdiri posisi kruk dengan ujung kruk berada 14-15 cm
di samping dan 14-15 cm di depan kaki klien. Dengan metode lain, siku harus
difleksikan 15°-30°. Fleksi siku diperiksa dengan menggunakan goniometer.Lebar
bantalan kruk harus 3-4 lebar jari (4-5 cm) di bawah aksila.

Suatu tindakan keperawatan yang diberikan pada pasien untuk membantu


pasien berjalan menggunakan kruk secara bergantian melalui bimbingan perawat.

Tujuan :

a. Membantu mobilisasi pasien untuk melatih otot dan sendi


b. Memberikan rasa nyaman pada pasien
c. Memenuhi kebutuhan transportasi pasien.

Indikasi :

a. Pasien yang mengalami hemiplegi bawah (permanen)


b. Pasien yang mengalami kerusakan ligament di lutut (sementara)
c. Pasca amputasi kaki
d. Hemiparese
e. Parapese
f. Pemasangan gibs pada kaki.

Kontra Indikasi :

a. Penderita febris dengan suhu tubuh > 37°C

19
b. Penderita dalam keadaan bedrest.

Langkah kerja :

a. Mengucapkan salam kepada pasien


b. Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dengan bahasa yang jelas
c. Menjelaskan tujuan dari tindakan yang dilakukan dan lamanya tindakan
d. Menciptakan lingkungan terapeutik : singkirkan rintangan yang mengganggu,
berikan privasi, penerangan cukup
e. Mencuci tangan
f. Mengukur tanda-tanda vital
g. Sebelum berjalan : anjurkan pasien berdiri dengan posisi tripod yaitu
menempatkan kruk 15 cm di depan dan 15 cm di samping setiap kaki pasien,
berat badan tidak boleh ditahan di aksila (dapat melukai saraf radialis). Pasien,
siku sedikit fleksi
h. Mengajarkan pasien salah satu dari 3 cara berjalan :

 Gaya berjalan 4 titik bergantian (penopang berat badan di setiap kruk dan
setiap kaki) :

 Kruk kanan dipindahkan ke depan 10-15 cm


 Kaki kiri ke depan usahakan sejajar dengan posisi kruk kiri
 Kruk kiri dipindahkan ke depan
 Kaki kanan ke depan
 Ulangi dengan kruk dan kaki yang lain.

 Gaya berjalan 3 titik bergantian (penopang berat badan di 1 tungkai yang


kuat) :

20
 Topang berat badan pasien pada tungkai yang kuat
 Pindahkan kruk ke depan kemudian topang berat badan di kedua kruk
 Ulangi kegiatan di atas.

 Gaya berjalan 2 titik bergantian (penopang berat badan bersamaan pada 1


kaki dan kruk) :

 Gerakkan setiap kruk bersamaan dengan kaki yang berlawanan


sehingga gerakan kruk sama dengan gerakan lengan saat berjalan
normal
 Ulangi kegiatan di atas.

i. Mengevaluasi respon pasien selama latihan dan mengukur vital sign


j. Merapikan peralatan dan lingkungan
k. Mencuci tangan
l. Kontrak waktu untuk latihan berikutnya
m. Mencatat hasil tindakan sesuai prinsip demokrasi.

3. Walker

Walker ditujukan bagi klien yang membutuhkan lebih banyak bantuan dari
yang bisa diberikan tongkat.Tipe standar walker terbuat dari aluminium yang telah

21
dihaluskan .walker mempunyai 4 kaki dengan ujung dilapisi karet dan pegangan
tangan yang dilapisi plastik. Walker standar membutuhkan kekuatan parsial pada
kedua tangan dan pergelangan tangan, ekstensor siku yang kuat, dan depressor bahu
yang kuat pula.Selain itu, klien juga harus mampu menahan setengah berat badan
pada kedua tungkai.Walker dengan 4 roda atau walker beroda tidak perlu diangkat
ketika hendak bergerak, namun walker jenis ini kurang stabil dibandingkan dengan
walker jenis standar.Beberapa jenis walker beroda mempunyai tempat duduk pada
bagian belakang sehingga klien dapat duduk untuk istirahat jika diinginkan.

Perawat mungkin harus menyesuaikan tinggi walker sehingga penyangga


tangan berada di bawah pinggang klien dan siku klien agak fleksi.Walker yang terlalu
rendah dapat menyebabkan klien membungkuk, sementara yang terlalu tinggi dapat
membuat klien tidak dapat meluruskan lengannya.

Suatu tindakan keperawatan yang diberikan pada pasien untuk membantu


pasien berjalan menggunakan walker dengan bimbingan perawat.

Tujuan :

a. Membantu mobilitas pasien untuk melatih otot dan sendi


b. Memberikan rasa nyaman pada pasien
c. Memenuhi kebutuhan pasien

Indikasi : Pasien yang memerlukan alat bantu jalan.

Langkah kerja :

a. Mengucapkan salam kepada pasien


b. Menjelaskan tindakan yang akan dilakukan dengan bahasa yang jelas
c. Menjelaskan tujuan dari tindakan yang dilakukan dan lamanya tindakan
d. Menciptakan lingkungan terapeutik : singkirkan rintangan yang mengganggu,
berikan privasi, penerangan cukup

22
e. Mencuci tangan
f. Mengukur tanda-tanda vital
g. Menyesuaikan tinggi walker sehingga pegangan tangan tepat di bawah
pinggang pasien, siku sedikit fleksi
h. Memegang pemegang tangan pada batang di bagian atas
i. Memindahkan walker sekitar 15 cm ke depan sementara berat tubuh ditahan
kedua tungkai
j. Menggerakkan kaki kanan menuju walker sementara berat tubuh ditahan di
tungkai kiri dan kedua lengan
k. Memindahkan walker lebih lanjut dan melangkah lagi
l. Mengembalikan pasien ke posisi yang nyaman
m. Mengevaluasi respon pasien selama latihan dan mengukur vital sign
n. Merapikan peralatan dan lingkungan
o. Cuci tangan
p. Kontrak waktu untuk latihan berikutnya
q. Mencatat hasil tindakan sesuai prinsip dokumentasi.

Karena ada efek antara sendi faced superior dan inferior (pars interartikularis)
bisa digunakan alat bantu jalan kursi roda pada pasien. Hal ini disebabkan karena
lemahnya atau berkurangnya kemampuan pasien untuk menopang berat badannya
sendiri, kekakuan pada otot atau bahkan matinya syaraf pada anggota gerak sehingga
tubuh tidak mampu berjalan, atau tidak mampu berdiri tegak dengan sempurna.

4. Pasien dalam pemeriksaan atau ingin dilakukan operasi (pembedahan)

Pasien yang akan dilakukan pemeriksaan fisik seperti foto rontgen pada
bagian tubuh, pasien yang akan dilakukan tindakan pemberian gibs karena terjadi
fraktur (patah tulang), pasien yang akan menjalankan operasi atau pembedahan
tertentu,pasien yang kan melakukan tes laboratorium, maka digunakan alat bantu
berupa brankar (kereta dorong) atau biasa juga dengan menggunakan kursi roda.

23
Pasien dengan menggunakan brankar apabila pasien tersebut tidak bisa atau lemah
untuk berada dalam posisi duduk, atau dikhawatirkan nantinnya saat dipindahkan
jatuh karena mengalami ketidakseimbangan. Sedang pada pasien dengan kursi roda,
apabila pasien tersebut masih atau bahkan mampu untuk berada dalam posisi duduk
dan tidak dikhwatirkan terjatuh saat proses pemindahan pasien berlangsung.

Pada dasarnya, semua tergantung pada kebutuhan pasien. Sampai seberapa


mampu pasien dapat melakukan gerak (mobilitas) maka kemungkinan kecil pasien
tersebut mengalami gangguan pemenuhan kebutuhan transportasi. Intervensi perawat
dalam hal pemenuhan kebutuhan transportasi pada pasien yaitu merencanakan atau
menyusun tindakan agar kebutuhan transportasi pada pasien dapat terpenuhi. Misal
dengan memberikan alat bantu sesuai kebutuhan, ukuran, dan kemampuan pasien
serta memberikan asuhan keperawatan yang berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan
transportasi pada pasien.

D. IMPLEMENTASI

Pelaksanaan tindakan keperawatan pada pasien dengan gangguan pemenuhan


kebutuhan transportasi diarakan untuk memelihara kemampuan fungsional, mencegah
terjadinya komplikasi dan meningkatkan kemandirian dalam aktivitas sehari-hari.

Perawat harus memberi perawatan pada klien immobilisasi yang arus di ubah
psisis, dipindahkan di atas tempat tidur dan harus dipindahkan dari tempat tidur ke
kursi roda atau ke brankar.Mekanika sesuai memungkinkan perawat untuk
menggerakkan,, mengangkat, atau memindahkan klien dengan aman dan juga
melindungi perawat dari cidera musculoskeletal. Perawat yang melakukan teknik
memindahkan atau menggerakkan klien untuk pertama kalinya harus memint
pertolongan untuk menngurangi resiko cedera bagi klien dan perawat.Perawat juga
harus mengetahui kekuatan dirinya dan keterbatasannya.Memindahkan klien
immobilisasi sendiriaan merupakan hal yang sulit dan berbahaya.Memindahkan klien
dari tempat tidur ke kursi roda oleh perawat membutuhkan bantuan klien dan tidak

24
dilakukan pada klie yang tidak dapat membantu.Perawat menjelaaskan prosedur pada
klien sebelum pemindahan.Lingkungan juga dipersiapkan dengan memindahkan
penghalang jalan. Ini merupakan suatu kegiatan yang dilakukan pada klien dengan
kelemahan kemampuan fungsional unnntuk berpindah dari tempat tidur ke kursi roda
(Firmansyah, Memidahkan Pasien ke Kursi, 2009). Sebelum membantu pasien untuk
berpindah ke kursi roda, perawat melakukan kekuatan otot, mobilitas sendi pavalies
atau panesis, hipotesis, tingkat kesadaran, tingkat kenyamanan, dan kemampuan klien
untuk mengikuti instruksi. Tujuannya yaitu:

a. Melatih otot skelet untuk mencegah kontraktur atau sindrom diruse


b. Mempertahankan kenyamanan pasien
c. Mempertahankan control diri pasien
d. Memindahkan pasien untuk pemeriksaan (diagnostic, fisik, dll)
e. Memungkinkan pasien untuk bersosialisasi
f. Memberikan aktivitas pertama (latihan pertama) pada pasien yang tirah baring

Persiapan

 Kaji kekuatan otot pasien


 Mobilisasi
 Toleransi aktivitas
 Tingkat aktivitas
 Tingkat kenyamanan
 Kemampuan untuk mengikuti instruksi
 Selalu kunci rem pada kedua roda sebelum Anda memindahkan pasien ke
kursi roda. Naikkan sanggaan kaki sehingga pasien dapat duduk di kursi
roda.Turunkan sanggaan kaki ketika pasien berada di atas kursi roda.

25
BAB IV

PENUTUP

“PENGARUH MOBILISASI TERHADAP PENGURANGAN RESPON


NYERI PADA PASIEN PASCA RECTIO CASEREA DI RUMAH SAKIT
ADVENT BANDAR LAMPUNG TAHUN 2009”

Purbianto

Dwi Agustanti

Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjungkarang

e-mail:prb_ners@yahoo.com

Abstrack : The Effect Mobilization on Redicing Paint Respons for Post Caesarea
Sectio in Bandar Lampung Advent Hospirtals. Sectio surgery Caesarea, Which is
an action to remove the baby from the womb of the mother by making incisions in the
abdomen and the mother’s womb. Caesarea sectio surgery in 2007 at the Advent
Hospital (RSA) Bandar Lampung is 107 people or 54.9% of total deliveries, whereas
in hospital Abdul Moelock Lampung Province the figure was 476 people in 2008, in
Bandar Lampung RSA action Caesarea sectio increased to 117 or 55,7% of total
deliveries, whereas in hostitals AbdulMoeloek Lampung Province to 556 people.
Complications that may arise post sectio Caesarea is intraparturn infection, bleeding,
other complications such as bledder injury or pulmonarty embolism and uterine
repture in subsequent pregnancies. One effort of reduce postoperative complications
is to perform early postoperative mobilization, but in implementing the early
postoperative mobilization of the problem often encountered is pain. Based on the
above description of this study to determine the effect of mobilization on reducing the
pain response. This study uses a cohort study design, data collection tool used
observation sheet pain scale mobilization and NSR (Numaric Rating Scale).
Population inthis study were patients with post-surgerysectio Caesarea. The reserch
sample used non random slamping technique that is acidental sampling, and obtained
35 samples with the details of 22 respondents who perform postoperative
mobilization and the 13 people who did not perform postoperative early mobilization.
Having performed the statitical analysis of obtained results a significant difference in

26
the reduction of pain responses among postoperative patients who mobilized early
with patient who did not perform postoperative early mobilization with a value of p
value 0.0002. Based on these findings, it is recomended to the nurse or midewife
related to patients with post sectioCaesarea to motivate patients tomobilize early as
esrly as possible in order to minimize the occurrence of postoperative complications
sectio Caesarea.

Keywords:Mobilization, pain

Salah satu jenis perbedaan yang saat ini angkanya mulai meningkat adalah sectio
caesarea yaitu suatu tindakan untuk mengeluarkan bayi dari rahim ibu dengan cara
membuat sayatan di perut dan rahim ibu. Tindakan pembedahan sectio caesarea pada
tahun 2007 di Rumah Sakit Advent (RSA) Bandar Lampung adalah 107 orang atau
54,9% dari total persalina, sedangkan di RSUD Abdul Moeloek Provinsi Lampung
angkanya adalah 476 orang. Pada tahun 2008, di RSA Bandar Lampung tindakan
sectio caesarea meningkat menjadi 117 atau 55,7% dari total persalinan, sedangkan
di RSUD Abdul Moeloek Provinsi Lampung menjadi 556 orang.

Risiko dari tindakan pembedahan adalah munculnya komplikasi pasca


operasi. Komplikasi yang mungkin muncul pasca sectio caesariaadalah infeksi
intrapartum, pendarahan komplikasi-komplikasi lain seperti luka kandung kemih atau
embolisme paru-paru dan reptura uteri pada kehamilan berikutnya (Wiknjosastro,
1994).

Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk mempersiapkan klien


baik secara fisik maupun psiskis (Rondhianto, 2007).

Salah satu upaya untuk mengurangi komlikasi pasca operasi tersebut adalah dengan
melakukan mobilisasi dini pasca operasi. Mobilisasi dini merupakan rangkaian
kegiatan yang dilakukan pada pasien pasca operasi yang dapat membantu dalam
pemulihan dan dapat menghindari komplikasi pasca operasi (Potter & Perry, 1997).
Salah satu bentuk mobilisasi adalah segera setelah menjalani sectio caesaria, ibu
dianjurkan untuk berjalan guna mencegah terjadinya emboli paru (penyumbatan arteri
paru oleh bekuan darah yang berasal dari tungkai atau panggul). Kendala yang
biasanya dihadapi oleh pasien pasca sectio caesarea untuk melakukan mobilisasi dini
adalah rasa nyeri. Rasa nyeri yang timbul setelah sectio caesarealebih hebat
dibandingkan dengan nyeri akibat persalinan melalui vagina (Wiknjosastro, 1991).

27
Pasien pasca operasi biasanya akanmengalami cemas untuk melakukan
mobilisasi/pergerakan. Mobilisasi adalah kemampuan seseorang untuk dapat bergerak
secara bebas dan dapat melakukan aktivitas dengan baik. Mobilisasi dini merupakan
rangkaian kegiatan yang dilakukan pada pasien pasca operasi yang dapat membantu
dalam pemulihan dan menghindari komplikasi pasca operasi (Potter & Perry).

Pasien yang baru melakukan pembedahan harus melakukan mobilisasi dini


dengan tujuan unyuk mengurangi komplikasi pasca operasi. Pada pasien pasca
operasi dianjurkan untuk meninggalkan tempat tidur atau bergerak kurun waktu 24-
48 jam pasac operasi. Selain itu dengan melakuakan mobilisasi dini pasca operasi,
maka sirkulasi darah akan lancar sehingga dapat mempercepat penyembuhan. Tetapi
didalam pelaksanaan mobilisasi aktif pasca operasi masih terdapat banyak kendala.
Banyak survey menyebutkan bahwa banyak pasien pasca operasi tidak mau
melakukan pergerakan dini secara mandiri ataupun terpadu setelah menjalani operasi,
sehingga dampaknya hari rawat pasien menjadi lama dan dapat timbul komplikasi
yang tidak diinginkan. Pasien pasca operasi enggan melakukan mobilisasi dini,
karena pasien merasa takut terjadi sesuatu terhadap luka jahitan mereka, pendarahan
atau nyeri.

Berdasarkan pra survei yang dilakukan oleh peneliti di beberapa rumah sakit
di Bandar Lampung diperoleh bahwa, semua yang menjalani operasi khususnya
Sectio Caesarea mengalami nyeri setelah pembedahan, tetapi hampir semuanya
masih mengendalikan analgetik sebagai terapi. Pasien pasca Sectio Caesarea
mempunyai kecenderungan untuk lebih mengandalkan obat-obat penghilang rasa
sakit dan kurang memahami teknik relaksasi/mobilisasi, distraksi dan panduan
imaginasi. Hal ini sesuai dengan hasil survei awal yang dilakukan terhadap 15 orang
klien pasca Sectio Caesarea didapatkan hanya 3 orang (20%) yang melakukan
mobilisasi berupa miring kanan dan miring kiri serta berjalan di sekitar tempat tidur,
sedangkan 12 orang (80%) lainnya tidak melakukan mobilisasi. Data lebih lanjut
yang didapatkan dari 12 orang tersebut menyebutkan alasan tidak melakukan
mobilisasi dini karena tidak tahu sebanyak 20% takut jahitannya robek 30% dan takut
nyeri 50%.

Berdasarkan fenomena tersebut di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan


penelitian yang berjudul: “Pengaruh Mobilisasi terhadap Pengurangan Respon Nyeri
Pasca Sectio Caesarea”.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh mobilisasi terhadap


pengurangan respon nyeri pasca Sectio Caesarea.

28
Penelitian ini diharapkan bermanfaat untuk menjadi salah satu dasar bagi
pelayanan keperawatan melakukan mobilisasi dini pada pasca Sectio Caesarea untuk
meminimalkan terjadinya komplikasi pasca operasi Sectio Caesarea.

METODE

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah observasional


dengan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kohort.

Dalam penelitian ini kausa yang akan diamati adalah mobilisasi yang akan
dilakukan oleh pasien pasca Sectio Caesarea yang sebelum operasi sudah diberi
penjelasan atau petunjuk mobilisasi yang harus dilakukan setelah pasca operasi. Efek
yang akaan diamati atau diukur dalam penelitian ini adalah respon nyeri yang akan
diukur setiap kali selesai melakukan mobilisasi dini.

Dalam penelitian ini, pengamatan atau pengukuran untukmelihat efek dari


mobilisasi akan dilakukan selama tiga hari. jenis data yang akan dikumpulkan untuk
variaabel independen adalah aktivitas pasien pasca operaasi dan alat ukur yang
digunakan adalah lembar observasi pelaksanaan mobilisasi. Pada variabel dependen
data yang dikumpulkan adalah respon nyeri menggunakan NSR (Numeric Rating
Scale).

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien pasca operasi Sectio
Caesarea yang ada di rumah sakit Advent Bandar Lampung.

Sampel diambil dengan metode non random sampling dengan teknik


accidental sampling. Adapun kriteria sampel sebagai berikut : 1) Pasien pasca operasi
Sectio Caesarea terjadwal, 2) Bersedia menjadi responden , 3) Sudah mendapat
penjelasan tentang mobilisasi pasca Sectio Caesarea. Sedangkan kriteria eksklusifnya
dalah 1) muncul tanda tanda inflamasi atau komplikasi dalam masa pengamatan, 2)
mendapat analgetik diluar program pengobatan.

Penelitian dilaksanakan selama satu bulan dari taanggal 01-31 Desember


2009. Sampel yang didapat selama masa penelitian berjumlah 35 responden yang
melakukan mobilisasi sebanyak 22 responden, sedangkan responden yang tidak
melakukan mobilisasi sebanyak 13 responden.

Analisis univariat pada variabel independen yang berskala katagorik


(nominal), akan digunakan adalah distribusi frekuensi dengan ukuran persentase.

29
Pada variabel dependen yang berskala numerik (interval), maka nilai yang akan
digunakan adalah mean, dan standar deviasi.

Analisis bivariat digunakan uji T Independent dengan tingkat kemaknaan 0,05


dan CI 95%.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil

Karakteristik responden pada penelitian ini meliputi umur, tingkat,


pendidikan, urutan tindakan operasi, jumlah anak yang dilahirkan.

Tabel 1. Karakteristik Responden

Karakteristik Jumlah %
Umur Responden
<25 9 26
25-35 24 68
>35 2 6
Pendidikan 8 23
Responden
Pendidikan Dasar 26 74
Pendidikan Menengah 1 3
Pendidikan Tinggi
Frekuensi Operasi 25 71
Satu Kali 7 20
Dua Kali 3 9
Lebih Dari Dua Kali
Frekuensi Kelahiran 19 54
Anak
Pertama 10 29
Kedua 5 14
Ketiga 1 3
Lebih Dari Tiga
Pelaksanaan 22 63
Mobilisasi
Mobilisasi 13 37
Tidak Mobilisasi

Analisa Univariat

30
Analisa univariat pada penelitian ini, karena sebaran dataa terdistribusi secara
normal, maka data yang ditampilkan adalah nilai mean dan standar deviasi skala
nyeri dari masing masing kondisi.

Diagram 1. Kecenderungan Rata-Rata Penurunan Respon Nyeri

Berdasarkan diagram 5.1 diatas dapat dilihat bahwa, semakin lama pasien
pasca Sectio Caesarea melakukan mobilisasi penurunan respon nyerinya semakin
cepat dibandingkan dengan pasien pasca operasi pasca Sectio Caesarea yang tidak
melakukan mobilisasi.

Tabel 1. Distribusi Respon Nyeri Pasien Pasca Operasi Sectio Caesarea Di


Rumah Sakit Advent Bandar Lampung

Mobilisasi N Mean Std.


Deviation
Tidak 13 1,46 0,776
mobilisasi
mobilisasi 22 2,77 1,307

Berdasarkan tabel di atas dapat diketahui respon nyeri pasien pasca operasi
Sectio Caesarea yang tidak melakukan mobilisasi dini di Rumah Sakit Advent
Bandar Lampung Tahun 2008 mempunyai rata rata penurunan respon nyeri 1,46
dengan standar deviasi 0,78, sedangkan pasin pasca operasi Sectio Caesarea yang
melakukan mobilisasi dini mempunyai rata-rata penurunan respon nyeri 2,77 dengan
standar deviasi 1,31.

Analisa Bivariat

31
Dalam penelitian ini untuk menguji validitas item dan komparatif antar faktor
digunakan Uji T, dengan taraf kesalahan 5% Ho ditolak jika nilai p <0,05, dan Ho
gagal ditolak jika nilai p value >0,05. Digunakn Uji T (t-test) karena skala ukur dalam
penelitian ini adalah katagorik (nominal)dan numerik (interval).

Tabel 2. Distribusi Rata Rata Respon Nyeri Pasien Pasca Operasi Sectio
Caesarea Menurut Pelaksanaan Mobilisasi Di Rumah Sakit Advent Bandar
Lampung

P
Mobilisasi Mean SD SE N
value
Mobilisasi 2,77 1,31 0,215 22
0,002
Immobilisasi 1,46 0,78 0,279 13

Berdasarkan tabel diatas diketahui bahwa rata-rata penurunan respon nyeri


pasien pasca operasi Sectio Caesarea yang melakukan mobilisasi dini adalah 2,77
dengan standar deviasi 1,31, sedangkan pada pasien pasca operasi Sectio Caesarea
yang tidak melakukan mobilisasi dini , rata-rata penurunan respon nyerinya adalah
1,46 dengan standar deviasi 0,78. Berdasarkan hasil analisis uji statistik dengan
menggunakan Uji T didapaat p-value = 0,002 (p-value < α), sehingga dapat
disimpulkan bahwa pada alfa 5% terlihat aada perbedaan yang signifikan rata-rata
penurunan respon nyeri antara pasien pasca operasi Sectio Caesarea yang melakukan
mobilisasi dini dengan yang tidak melakukan mobilisasi dini dengan yang tidak
melakukan mobilisasi dini Rumah Sakit Advent Bandar Lampung Tahun 2009.

Pembahasan

Keterbatasan penelitian

Berbagai keterbatasan penelitian yang dialami oleh peneliti antara lain 1)


Penggunaan Alat Ukur, instrumen observasi yang digunakan dalam penelitian ini
dirancang sendiri oleh peneliti. Sebenarnya instrumen ini sudah cukup lengkap dan
baik untuk mengukur skala nyeri dan observasi mobilisasi. Kesalahan penggunaan
alat mungkin dapat terjadi pada saat melakukan pengukuran nyeri , karena nyeri
merupakan keluhan yang sangat subjektik sehingga kemungkinan pasien pasca
operasi Sectio Caesarea kurang tepat menyebut atau menunjuk skala nyeri kurang
tepat. 2) Jumlah Kasus, peneliti merasakan adanya keterbatasan jumlah kasus yang
akan dijadikan subjek penelitian. Selama pelaksanaan penelitian mulai tanggal 1
Desember 2009 sampai dengan tanggal 31 Desember 2009, didapatkan 47 kasus

32
tindakan operasi Sectio Caesarea. Dari 47 kasus, yang memenuhi kriteria hanya 35
kasus, 12 kasus lainnya tindakan operasinya dengan kategori cyto (segera) sehingga
tidak memenuhi kriteria inklusi untuk menjadi responden. 3) Kurang kontrol
terhadap faktor perancu, pada penelitian ini, ada beberapa faktor perancu yang
tidak dapat di kontrol terhadap faktor-faktor yang dapat mempengaruhi respon nyeri.
Secara teori, nyeri dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti etnik dan nilai cultural,
tahapan tumbuh kembang, lingkungan dan dukungan orang dekat, pengalaman nyeri
masa lalu dan stress dan kecemasan. Faktor-faktor tersebut diatas, dalam penelitian
ini tidak dikontrol dengan baik.

Univariat

1. Umur, umur responden kurang dari 25 tahun ada sebanyak 9 (25,7%) dan
sebagian besar berumur 25-35 tahun ada sebanyak 24 (68,6%).
Umur pasien sangat mempengaruhi pengurangan respon nyeri pada pasien
Sectio Caesarea, pada pasien yang berusia lebih muda akan lebih cepat dalam
melakukan mobilisasi dan mengurangi respon nyeri yang muncul setelah
dilakukan Sectio Caesarea dibandingkan dengan pasien yang berumur lebih
tua.
2. Jumlah Kelahiran, jumlah kelahiran responden yang melakukan operasi
Sectio Caesarea di Rumah Sakit Advent Bandar Lampung tahun 2009,
sebagian besar adalah kelahiran aanak pertama yaitu 19 (54,3%).
Jumlah kelahiran pada pasien Sectio Caesarea berpengaruh terhadap
pengurangan respon nyeri. Responden yang telah melakukan persalinan lebih
dari satu kali dan mempunyai pengalaman sebelumnya akan lebih beradaptasi
dengan respon nyeri yang muncul.
3. Frekuensi Melakukan Sectio Caesarea,frekuensi melakukan persalinan
dengan operasi Sectio Caesarea di Rumah Sakit Advent Bandar Lampung
tahun 2009, sebagian besar adalah yang pertama kali yaitu 25 (71,4%).
Frekuensi melakukan persalinan dengan cara operasi Sectio Caesarea
berpengaruh terhadap pengurangan respon nyeri. Responden yang telah
melakukan persalinan dengan cara operasi Sectio Caesarea lebih dari satu kali
akan mempunyai pengalaman sebelumnya dan akan lebih beradaptasi
terhadap respon nyeri yang muncul.

Analisa Bivariat

1. Pengaruh Mobilisasi Terhadap Pengurangan Respon Nyeri

33
Hasil uji statistik menggunakan Uji T didapatkan p-value = 0,002 (p-value <
α), sehingga dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan dalam
pengurangan respon nyeri pada pasien pasca operasi Sectio Caesarea antara
yang melakukan mobilisasi dengan yang tidaak melakukan mobilisasi di
Rumah Sakit Advent Bandar Lampung tahun 2009.
Hasil penelitiana ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan
Prahmawati (2003) yang meneliti tentang pengaruh penurunan respon nyeri
pasca operasi sebesar 17% yang berarti bila seorang pasien pasca operasi bila
diberikan tindakan tekilik relaksasi akaan berkurang sebesar 17%.
Study Klasik dari Wells (1982) mengatakan efek latihan relaksasi/mobilisasi
pasca operasi pada penderita Cholecystectomy. Latihan relaksasi dapat
menurunkan ketidaknyamanan psikologik saat nyeri sedang berlangsung
tetapi tidak terjadi perubahan fisik, tekanan darah dan nadi. Efek teknik
relaksasi, latihan otot imaginasi, latiha nafas, dan modifikasi dpat dipakai
sebagai evaluasi oleh peneliti Hyman (1989).
Data lebih lanjut yang didapatkan adalah pasien pasca Sectio Caesarea yang
melakukan mobilisasi rata-rata tidak mengalami komplikasi dan membantu
penyembuhan pasien, sedangkan pasien yang tidak melakukan mobilisasi
rata-rata mempunyai hari rawat inap yang lebih lama.
Melzack dan Gate (1965) mengusulkan suatu teori mengenai mekanisme rasa
nyeri yang dinamakan Teori Gate. Secara anatomis, Gate terletak di
substansia sentral yang pertama adalah sel T, yang memberikan informasi
sensoris ke sentrum yang lebih sesudah melalui Gate. Informasi sensoris juga
ditransmisikan dalam kolumna dorsalis secara sentral dan sesudah diproses
dapat mempengaruhi Gate melalui traktus desenden, yaitu traktus
kortikospinalis dan retikulospinalis. Hal ini merupakan mekanisme kontrol
sentral.
Rasa nyeri dihantarkan oleh kelompok serabut saraf besar dan kecil. Serabut
tersebut bersinap dengan interneuron dalm substansia gelatinosa transmisi
neuron/sel T. Sel T ini bersinap dengan neuron dari traktus spinotalamikus
lateralis 3, 4, 5. Secara anatomis, Gate terletak di substansia gelatinosa yang
secara normal terbuka oleh aktivitas oleh aktivitas tonik dalam serabut-serabut
kecil yang bekerja terus menerus walaupun tidak ada rangsangan. Rasa nyeri
dapat dihasilkan tanpa rangsangan nyeri atau penyakit, misalnya pada faktor
sentral seperti ras cemas atau depresi pada Gate. Serabut besar dan kecil
bekerja pada sel T. Serabut-serabut tersebut juga memiliki cabang-cabang ke
substansia gelatinosa. Serabut yang berasal dri serabut besar bersifat eksitasi,

34
dan yang dari serabut kecil bersifat inhibasi. Sel-sel dari substansia gelatinosa
menginhibisi serabut terminal, eferen dari sel T. Inhibisi ini tumbuh dengan
aktivitas serabut besar dan berkurang dengan aktivasi serabut kecil. Pelepasan
muatan akhir dari sel T dikontrol oleh aktivitas relatif serabut besar dan kecil.
Bila suatu rangsang mengaktivasi terutama serabut besar, maka impuls akan
merangsang sel T dan menyebabkan nyeri. Di samping itu, impuls juga secar
parsial menutup Gate dengan meningkatkan aktivitas inhibisi dari sel sel
substansia gelatinosa di sel T, sehingga memotong pendek pelepasan muatan
sel T dan rasa nyeri. Mobilisasi seperti vibrasi, menggosok-gosok, dan
menggaruk-garuk diperkirakan dapat meninggikan pelepasan muatan serabut
besar, sehingga mengurangi rasa nyeri. Bila mencapai ambang yang kritis,
rangsangan sel T diperkirakan mengaktifkan sistem aksi. Kesadaran akan rasa
nyeri seperti halnya pada menggosok dan menggaruk, refleks menghindar,
menjerit, menggoyangkan kepala dan mata untuk melihat lesi, serta reaksi
otonom fight dan flight juga teraktivasi.
Berdasarkan uraian di atas maka dapat dinyatakan bahwa mobilisasi
merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan pada pasien post operasi yang
dapat membantu dalam pemulihan dan menghindari komplikasi pasca operasi.
Seorang ibu yang sudah melahirkan melalui Sectio Caesarea dianjurkan untuk
belajar duduk selama sehari, belajar berjalan kemudian berjalan sendiri, pada
hari ke 3 sampai 5 hari setelah operasi. Mobilisasi secara teratur dan bertahap
serta diikuti dengan istirahat dapat membantu penyembuhan ibu dan
mengurangi resiko komplikasi paasca operasi walaupun dalam melakukan
mobilisasi akan menimbulkan nyeri pada pasien.

SIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan maka dapat diambil beberapa kesimpulan
sebagai berikut:

1. Pengurangan respon nyeri pasien pasca section caesarea yang tidak melakukan
mobilisasi di Rumah Sakit Advent Bandar Lampung tahun 2009 rata rata 1,46
setelah 5 hari pengamatan.
2. Pengurangan respon nyeri pasien pasca Sectio Caesarea yang melakukan
mobilisasi di Rumah Sakit Advent Bandar Lampung tahun 2008 rata rata 2,77
setelah 3 hari tindakan.

35
3. Ada perbedaan yang signifikan terhadap pengurangan respon respon nyeri pada
pasien pasca Sectio Caesarea antara yang melakukan mobilisasi dengan yang
tidak melakukan mobilisasi di Rumah Sakit Advent Bandar Lampung tahun
2009.
4. Saran yang dapat peneliti berikan antara lain adalah pada perawat untuk secara
dini menganjurkan pasien pasca operasi Sectio Caesarea untuk melakukan
mobilisasi sedini mungkin dan pasien pasca Sectio Caesarea harus segera
dilakukan mobilisasi sedini mungkin untuk meminimalkan terjadinya komplikasi
post operasi Sectio Caesarea. Respon nyeri yang muncul akibat pergerakan
mobilisasi akan berkurang ketika seseorang semakin sering melakukan gerakan
atau mobilisasi.

36
DAFTAR PUSTAKA

http://makalahtransportpasien0928.blogspot.co.id/

https://www.wikihow.com/images_en/thumb/6/61/Walk-on-Crutches-Step-7-
Version-2.jpg/v4-728px-Walk-on-Crutches-Step-7-Version-2.jpg

https://www.wikihow.com/images/thumb/2/29/Walk-on-Crutches-Step-
16.jpg/aid43282-v4-728px-Walk-on-Crutches-Step-16.jpg

http://www.alatkesehatanjogja.com/image-product/img592-1477015357.gif

Arikunto, Suharsini. (1998). Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan


Praktek.Cetakan Kesebelas Edisi Revisi IV.PT. Rineka Cipta Jakarta.

Burnner, (1992), The Book of Medical Nursing, JB Lippin Cott Company. Jakarta.

Brunner & Sudadart (2002), Keperawatan Medical Bedah, Penerbit Buku


Kedokteran EGC, Jakarta.

Barbara, Long, (1996), Keperawatan Medical Bedah Suatu pendekatan Proses


Keperawatan, Yayasan IAPK Padjajaran Bandung, Bandung.

Gary & Norman, Alih Bahasa Kuswadi Sudjoko, (1993), Prinsip – Prinsip Teknik
Bedah, Hak Cipta Terjemahan Indonesia, Jakarta.

Hanifa Wiknjosastro, (2002), Ilmu Kebidanan, Yayasan Bina PustakaSarwono


Prawirohardjo, Jakarta.

Hugh Dudley AF, (1992), Hamilton Bailey Ilmu Bedah Gawat Darurat Edisi
Kesebelas, Penerbit Gadjah Mada University Pres, Yogyakarta.

Donna Ignatavacius, (1998), Medical Surgical Nursing, By Philadelphia, WB.


Saunders Company.

37
Kozier, Erb, (1995), Fundamental Of Nursing Concept Processand Practice, By
Missouri Mosby Company.

Long, (1990), Fisiotherapi, Penerbit Bina Rupa, Jakarta.

Notoatmojo, (2002), Metodologi Penelitian Kesehatan, Penerbit Rineka Cipta,


Jakarta.

Potter & Perry, (1997), Fundamental Of Nursing Concepts Process and Practice,
By Missouri Mosby Company.

Rosemary, (2003), Nyeri Persalinan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Siti Rokhani, (2003), Hubungan Teknik Relaksasi Napas Dalam Dengan


TingkatNyeri Pada Penderita Fraktur, Skripsi tidak dpublikasikan.

Wolf, et.al, (1996), Rencana Asuhan Keperawatan Medikal Bedah Volume 3,


Penerbit EGC, Jakarta.

38

Anda mungkin juga menyukai