Anda di halaman 1dari 24

Makalah Right Issue

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Right Issue / Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dalam pasar modal
Indonesia adalah hak yang diperoleh para pemegang saham yang namanya telah terdaftar
dalam daftar pemegang saham suatu perseroan terbatas untuk menerima penawaran terlebih
dahulu apabila perusahaan sedang menjalani proses emisi atau pengeluaran saham-saham dari
saham portopel atau saham simpanan. Pada umumnya tujuan dilakukannya right issue adalah
untuk menghimpun dana segar yang akan digunakan untuk ekspansi usaha, membayar
pinjaman atau untuk modal kerja.
B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:
a. Pengertian Right Issue
b. Jenis Right Issue
c. Mekanisme Penawaran Right Issue
d. Prosedur dan Proses Pelaksanaan Right Issue
e. Tujuan Right Issue
f. Manfaat dan Keuntungan dari Right Issue
g. Right Issue Sebagai Sumber Pendanaan
h. Penelitian Para Ahli Tentang Right Issue
i. Dampak Right Issue
j. Risiko Investasi Right Issue
k. Nilai Right

C. Tujuan Penulisan
Makalah ini disusun dengan maksud sebagai berikut :
a. Untuk memnuhi tugas mata kuliah Manajemen Investasi
b. Agar mahasiswa dapat menjadikan pelajaran dari apa yang tersirat dalam makalah
Manajemen Investasi.
D. Manfaat Penulisan

a. Menambah wawasan dan ilmu pengetahuan dibidang mata kuliah Manajemen Investasi,
khususnya mengenai “Right Issue”.
b. Dapat diaplikasikan di kehidupan kita baik secara formal maupun secara informal yang dapat
menambah dinamika ilmu pengetahuan kita.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Right Issue

Kata right pada Right Issue adalah bahasa Inggris yang artinya adalah hak bukan
right yang berarti kanan bukan juga right, yang artinya benar, betul. Issue artinya
menerbitkan. Jadi kalau diterjemahkan kata per kata dari bahasa Inggris, Right Issue artinya
menerbitkan hak.
Right issue merupakan hak pembeli saham tambahan yang dilakukan oleh perusahaan
dengan cara memesan terlebih dahulu dengan harga yang telah ditentukan sebelumnya untuk
tanggal tertentu (www.e-bursa.com). Istilah right issue di Indonesia dikenal pula dengan
istilah Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD), karena emiten mengeluarkan saham
baru dalam rangka penambahan modal perusahaan dengan terlebih dahulu ditawarkan kepada
pemegang saham saat ini. Dengan demikian, pemegang saham memiliki preemptive right.
Preemptive right yaitu suatu hak untuk menjaga proporsi kepemilikan saham bagi pemegang
saham lama di suatu perusahaan sehubungan dengan akan dikeluarkannya saham baru.
Misalnya, perusahaan publik yang 51% sahamnya dimiliki oleh pemerintah, dengan
dikeluarkannya saham baru maka untuk mempertahankan proporsi kepemilikan 51% tersebut,
pemerintah sebagai pemegang saham lama mempunyai hak untuk membeli saham baru yang
akan dikeluarkan.
Right issue diterjemaahkan sebagai bukti right. Alat investasi merupakan produk
turunan dari saham. Kebijakan right issue merupakan upaya emiten untuk menambah saham
yang beredar, guna menambah modal perusahaan. Sebab, dengan pengeluaran saham baru
tersebut, berarti pemodal harus mengeluarkan uang untuk membeli saham yang berasal
dari right issue. Kemudian uang ini akan masuk ke modal perusahaan.
Rigths Issue / Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) dalam pasar modal
Indonesia adalah hak yang diperoleh para pemegang saham yang namanya telah terdaftar
dalam daftar pemegang saham suatu perseroan terbatas untuk menerima penawaran terlebih
dahulu apabila perusahaan sedang menjalani proses emisi atau pengeluaran saham-saham dari
saham portopel atau saham simpanan. Hak tersebut diberikan dalam jangka waktu 14 hari
terhitung sejak tanggal penawaran dilakukan dan jumlah yang berhak diambil seimbang
dengan jumlah saham yang mereka miliki secara proporsional.
Jadi Right issue dapat diartikan sebagai salah satu bentuk corporate action yang
dilakukan oleh perusahaan saat hendak melepaskan/menjual saham ke publik (Initial Public
Offering = IPO). Mekanismenya, perusahaan tersebut menjual hak beli kepada
publik/pemegang saham yang sudah ada, sehingga si pemegang hak beli tersebut pada
periode yang telah ditetapkan berhak melakukan pembelian saham sesuai dengan harga yang
telah ditetapkan.
 Istilah yang perlu diketahui seputar rights issue:
a. Persetujuan pemegang saham. Rights issue dilakukan atas dasar persetujuan rapat umum
pemegang saham. Setelah mendapatkan persetujuan, emiten harus menawarkan saham
barunya tersebut kepada kepada pemilik saham lama terlebih dahulu, sesuai dengan proporsi
kepemilikannya (preemptive rights).
b. Tujuan. Pada umumnya tujuan rights issue adalah untuk menghimpun dana segar yang akan
digunakan untuk ekspansi usaha, membayar pinjaman, atau untuk modal kerja. Beberapa
tujuan lainnya adalah untuk meningkatkan porsi kepemilikan pemegang saham, atau untuk
meningkatkan jumlah saham beredar sehingga lebih likuid perdagangannya.
c. Penjamin emisi, menjamin dana hasil rights issue diterima oleh emiten.
d. Standby buyer, adalah investor yang siap membeli saham baru yang tidak terjual.Standby
buyer bisa berasal dari pemegang saham lama ataupun investor lain.
e. Harga. Umumnya harga rights issue lebih rendah dari harga pasar, hal ini sebagai insentif
bagi pemegang saham lama. Namun sebetulnya, harga per-saham dari total saham yang
dimiliki investor, tidak menjadi serendah harga rights issue. Pemilik saham harus melakukan
penyesuaian harga dengan menambahkan nilai saham lamanya dengan nilai saham baru, dan
kemudian dibagi dengan total jumlah saham. Harga penyesuaian akan menunjukkan harga
pasar yang terdilusi. Itulah sebabnya mengaparights issue ditawarkan kepada pemegang
saham lama terlebih dahulu.
 Bentuk lain rights issue:
a. Saham bonus, saham yang dibagikan secara cuma-cuma kepada pemilik saham lama.
b. Stock Dividend. Pembagian keuntungan emiten kepada investor dalam bentuk saham.
c. Stock split, memecah jumlah saham yang berakibat juga pada pemecahan harga per-saham.
d. Waran: suatu hak bagi investor yang memilkinya, untuk membeli saham pada harga dan pada
waktu yang telah ditentukan, umumnya 3-5 tahun ke depan.
B. Jenis Right Issue
a. Dengan HMETD
HMETD adalah singkatan dari Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu. Inti dari HMETD
adalah bahwa investor atau pemegang saham memiliki hak, yakni hak untuk memesan
terlebih dahulu efek atau saham baru yang diterbitkan oleh perusahaan publik atau emiten.
Dari sini tampak ada dua sisi kepentingan yang saling berkaitan, yakni emiten selaku
yang memberikan hak kepada investor dan investor sebagai pemegang saham yang menerima
hak. Hak di sini berkaitan dengan aksi korporasi emiten untuk menambah modal perusahaan.
Karena menambah modal, maka perusahaan harus menerbitkan dan menjual saham baru.
Prioritas pertama untuk membeli saham baru ini diberikan kepada pemegang saham. Emiten
tidak boleh menjual atau menawarkan saham baru tadi ke pihak luar sebelum menawarkan
terlebih dulu ke pemegang saham. Inilah yang disebut dengan Hak Memesan Efek Terlebih
Dahulu.
Dari sisi investor sebagai pemegang saham, ia memiliki hak untuk membeli saham baru
secara proporsional, sesuai dengan volume kepemilikannya. Misalnya satu saham lama
berhak memesan terlebih dahulu dua saham baru di harga RpXXX.
Artinya, jika investor itu mempunyai 20 lot saham atau 10 ribu lembar saham, maka ia
berhak memesan terlebih dahulu 40 lot atau 20 ribu lembar saham baru di harga yang sudah
ditentukan.
Perlu dipahami bahwa HMETD adalah hak yang memiliki jangka waktu tertentu. Karena
sifatnya adalah hak (right), maka investor bisa menggunakan haknya maupun tidak.
Berkaitan dengan itu, maka ada tiga kemungkinan yang bisa terjadi.
a) Apakah investor berminat untuk membeli atau tidak. Jika investor tertarik dengan saham
baru yang ditawarkan dan memiliki dana yang cukup untuk membeli, maka investor akan
membeli saham baru tersebut.
b) Jika pun investor berminat untuk membeli tapi jika ia tidak memiliki dana yang cukup untuk
membeli, maka bisa dipastikan bahwa investor tidak akan memesan saham baru tersebut.
c) Investor memang tidak berminat menggunakan haknya untuk membeli saham baru yang
ditawarkan.
Perlu dipahami bahwa dalam hal penerbitan dan penawaran saham baru dengan disertai
HMETD, jika investor atau pemegang saham tidak menggunakan haknya untuk membeli,
maka porsi kepemilikannya di emiten tersebut akan mengalami dilusi. Artinya, persentase
kepemilikan sahamnya akan turun secara signifikan. Jika semula kepemilikannya adalah
sebesar tiga persen, maka dengan diterbitkannya saham baru dengan perbandingan HMETD
1:2 dan investor tidak menggunakan haknya untuk membeli, maka porsi kepemilikannya
akan turun secara proporsional menjadi hanya 1,5 persen. Oleh karena itu, jika hak ini tidak
digunakan, maka investor atau pemegang saham tetap bisa menjualnya kepada pihak ketiga
di pasar.
Inilah yang disebut dengan istilah perdagangan bukti right. Jadi, HMETD ini sebenarnya
juga tergolong sebagai aset karena ia memiliki nilai. Lalu, berapa harga bukti right tersebut?
Harga bukti right sangat tergantung pada harga saham emiten di pasar dan harga saham baru
yang ditawarkan.
Dalam kondisi tertentu bukan tidak mungkin HMETD (yang semestinya punya nilai itu)
tidak bernilai sama sekali dan investor harus pasrah membiarkannya hingga kedaluwarsa. Hal
ini terjadi jika harga saham di pasar lebih rendah dibandingkan harga saham baru yang
ditawarkan. Misalnya saja harga saham baru tersebut ditawarkan dengan harga Rp3.000 per
lembar, tapi harga saham di pasar ditransaksikan di harga Rp2.900. Dengan logika sederhana,
investor jelas tidak akan membeli saham baru yang ditawarkan melalui HMETD karena
harganya lebih mahal dari harga pasar. Ada empat
alasan mengapa seorang pemegang saham lama mengabaikan haknya:
a)) Tidak mau membeli saham baru.
b)) Tidak tahu bahwa perusahaan melakukan right issue.
c)) Tidak mengerti mengenai right issue.
d)) Tidak memiliki dana untuk membeli saham baru.

Dampak jika pemegang saham tidak menggunakan preemptive right yaitu:


 Dilusi, yakni berkurangnya jumlah proporsi kepemilikan pemegang saham yang tidak
menggunakan haknya.
 Mengurangi ROI (Return On Investment) dengan bertambahnya saham.
 Mengecilkan DPS (Divident Per Share) karena harus dibagikan kepada pemegang saham.

b. Tanpa atau non HMETD


Emiten langsung menjual atau menawarkan saham baru tadi ke pihak luar pemegang
saham. Dari sisi investor sebagai pemegang saham, ia tidak memiliki hak untuk membeli
saham baru secara proporsional, sesuai dengan volume kepemilikannya.

C. Mekanisme Penawaran Right Issue


Persyaratan dan tata cara penerbitan hak memesan efek terlebih dahulu diatur lebih
lanjut oleh Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM). Untuk itu, BAPEPAM
mengeluarkan beberapa peraturan untuk mengaturnya sebagai berikut:
a. Peraturan BAPEPAM No. Kep 57/PM/1996 Peraturan No. IX. D.I tentang Hak Memesan
Efek Terlebih Dahulu.
b. Peraturan BAPEPAM No. Kep 57/PM/1996 Peraturan No. IX. F.3 tentang Pedoman
Mengenai Penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu.
c. Peraturan BAPEPAM No. Kep. 57/PM/1996 Peraturan No. IX. B.I tentang Pedoman
Mengenai Bentuk dan Isi Prospektus dalam Rangka Penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih
Dahulu, dimana para pemegang saham menerima efek yang sama dan terdapat penambahan
modal disetor kurang dari 35% (tiga puluh lima persen).
d. Peraturan BAPEPAM No. Kep. 57/PM/1996 Peraturan No. IX. B.I tentang Pedoman
Mengenai Bentuk dan Isi Prospektus dalam Rangka Penerbitan Hak Memesan Efek Terlebih
Dahulu, dimana para pemegang saham menerima efek yang tidak sama atau terdapat
penambahan modal disetor kurang dari 35% (tiga puluh lima persen).
Sebagaimana diatur dalam peraturan Badan Pengawas Pasar Modal (BAPEPAM)
tersebut, kegiatan right issue harus disebarluaskan melalui prospektus lengkap dan
prospektus ringkas final. Prospektus lengkap berisikan informasi lengkap yang diringkas
dalam prospektus ringkas. Prospektus lengkap diterbitkan dalam bentuk buku untuk
disebarluaskan melalui media cetak.
Sesuai dengan UU Pasar Modal No. 81 1995 pasal 82 yang menyatakan diperlukan
persetujuan pemegang saham mayoritas dalam rangka penawaran umum terbatas (right
issue), maka perlu diadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa untuk
mempertimbangkan dan menyetujui rencana tersebut. Setelah mengadakan Rapat Umum
Pemegang Saham, perusahaan harus mengeluarkan beberapa pengumuman sebagaimana
yang telah ditentukan oleh keputusan Ketua BAPEPAM No. Kep 57/PM/1996 Peraturan
Nomor IX.D.I angka II yang berbunyi:
Persyaratan penting penawaran hak memesan efek terlebih dahulu yang harus
diumumkan setelah Rapat Umum Pemegang Saham meliputi antara lain:
a) Tanggal pencatatan pemegang saham yang mempunyai hak memesan efek terlebih dahulu
pada daftar pemegang saham atau nomor kupon untuk menentukan hak memesan efek
terlebih dahulu.
b) Uraian mengenai efek yang ditawarkan.
c) Rasio hak memesan efek terlebih dahulu.
d) Harga pemesanan saham baru.
e) Tata cara mengenai pelaksanaan-pelaksanaan pemesanan.
f) Tanggal berakhirnya hak memesan efek terlebih dahulu.
g) Tanggal dimulai dan berakhirnya perdagangan hak memesan efek terlebih dahulu.
Persyaratan di atas tidak dapat diubah kecuali untuk persayaratan dalam hal
perpanjangan waktu berlakunya hak tersebut dan persyaratan dalam hal pengurangan masa
perdagangan hak dimaksud apabila dapat dibuktikan hak tersebut telah dilaksanakan
sepenuhnya.
Dalam pelaksanaan right issue terdapat istilah cum right, yaitu tanggal berakhir
perdagangan saham perusahaan publik atau emiten yang di dalamnya terlekat bukti right.
Jadi, jika pemegang saham membeli saham perusahaan publik atau emiten sebelum
tanggal cum right, maka pada setiap saham yang dibeli akan terikat satu bukti right yang
berfungsi untuk membeli saham sesudah cum right, maka pada saham tersebut tidak
mempunyai hak untuk membeli saham baru dengan proporsi tertentu. Hari pertama
perdagangan saham tanpa bukti right. Sesudah cum right disebut ex right.
Setelah pemegang saham membeli saham selama masa sebelum ex right, maka
pemegang saham tersebut berhak untuk mendapatkan sertifikat bukti right. Untuk
mendapatkan sertifikat bukti right, maka saham yang dibeli harus didaftarkan sebagai
pemegang saham yang berhak, sebelum tanggal berakhir pencatatan dalam daftar pemegang
saham yang berhak. Tanggal ini disebut date of record.
Setelah mendaftarkan sahamnya sebelum date of record, maka pemegang saham
tersebut akan terdaftar sebagai pemegang saham yang berhak. Selanjutnya sertifikat bukti
right issue ini akan dikirimkan kepada pemegang saham yang terdaftar selama periode yang
sudah ditentukan.
Sertifikat Bukti Right yang diterima adalah satu lembar yang di dalamnya disebutkan
mewakili kolektif bukti right sesuai dengan banyaknya saham yang terdaftar. Setiap
pemegang saham yang berhak dan terdaftar, selalu akan diterbitkan satu Sertifikat Bukti
Right yang merupakan kolektif bukti right. Jika pemegang saham menginginkan supaya
Sertifikat Bukti Right. (SBR) ini dapat diperdagangkan, maka Sertifikat Bukti Right tersebut
harus dilakukan pemecahan ke dalam bentuk satuan yang terkecil yaitu lot SBR.
Penerbitan satu Sertifikat Bukti Right untuk setiap nama pemegang saham yang
terdaftar mempunyai asumsi dasar bahwa pemegang saham akan menggunakan haknya untuk
membeli saham baru. Namun jika pemegang saham ingin memecahkan SBR-nya ke dalam
kolektif yang lebih kecil, maka harus melakukannya selama masa pemecahannya, dan biaya
proses pemecahannya ditanggung oleh persero. Sedangkan permohonan pemecahan Sertifikat
Bukti Right sesudah masa pemecahan tersebut akan dikenakan biaya untuk setiap Sertifikat
Bukti Right baru hasil pemecahan yang diterbitkan yang besarnya tercantum dalam
prospektus (biasanya Rp 1000 per Sertifikat Bukti Right yang diterbitkan ditambah PPN
sebesar 10%).
Satu Sertifikat Bukti Right yang terkecil memuat 500 bukti right kolektif. Biasanya
tujuan pemecahan Sertifikat Bukti Right ini untuk diperdagangkan di Bursa Efek, karena
pemecahan Sertifikat Bukti Right yang berupa I lot bukti right (500 bukti right) dengan
mudah dapat diperdagangkan.
D. Prosedur dan Proses Pelaksanaan Right Issue
Prosedur yang harus dipenuhi dalam melakukan right issue antara lain, yaitu:
a. Direktur perusahaan harus minta izin mengajukan right issue saham baru dalam rapat resmi
perusahaan.
b. Diperlukan persetujuan para pemegang saham untuk melakukan right issue baru, dalam rapat
umum pemegang saham.
c. Pemanggilan pemegang saham, dilakukan dengan pengiriman surat khusus berupa
pernyataan izin disertai detail komplit keuangan yang diusulkan selanjutnya disiarkan dalam
koran sebelum pertemuan tersebut baik sebagai pemberitahuan maupun informasi tentang
proposal.
d. Akta keamanan tahun 1993 menyatakan bahwa right issue yang tidak bermasalah didaftarkan
di SEC sebelum penawaran umum.
e. Setelah right issue dilepas untuk dijual pada SEC, secepatnya dibuat surat persetujuan
pembayaran disesuaikan dengan tanggal yang berlaku oleh SEC.
f. Surat persetujuan dibuat dengan format berisi: jumlah right issue yang dipunyai, bagian
kosong untuk diisikan apakah pemegang saham bersedia membeli dan membayar saham baru
tersebut atau setuju untuk menjual right issue tersebut.
Jika setuju membeli, maka surat persetujuan tersebut disetor kepada perusahaan atau
agennya disertai sejumlah uang yang sudah ditentukan untuk membayar uang jaminan atau
keamanan. Jika mau menjualnya, pemegang saham bisa melakukan broker. Bagi pemegang
saham diberi kesempatan, kebebasan apakah akan membeli saham baru, tidak membeli atau
akan menjual rightnya. Keputusan bisa berdasarkan berbagai hal, seperti: dana investasinya,
nilai atau cadangan saham sebagai investasi atau spekulasi, biasanya peranan di perusahaan,
laba perkiraan, dan sebagainya.

Penerbitan
suatu right issue
harus
memperhatikan
beberapa hal
penting,
diantaranya wajtu,
harga, dan rasio.
Bagi investor,
informasi waktu
sangatlah penting
untuk mengambil keputusan apakah dia akan melaksanakan haknya untuk membeli right
issue atau tidak, sebab right issue mempunyai masa berlaku yang singkat. Berikut ini proses
pelaksanaan right issue:
Sumber: Pusat Informasi Pasar Modal

Keterangan:
a) Announcement date merupakan tanggal dimana perusahaan akan melakukan right issue.
b) Cum date merupakan tanggal terakhir seorang investor dapat meregistrasikan sahamnya
untuk mendapatkan corporate action.
c) Ex date merupakan tanggal dimana investor sudah tidak mempunyai hak lagi akan suatu
corporate action.
d) DPS (Dividen per Stock) date merupakan tanggal pengumuman daftar pemilik saham yang
berhak atas corporate action.
e) Tanggal pelaksanaan dan akhir right issue merupakan periode pelaksanaan right issue
tersebut dicatatkan di bursa dan periode berakhirnya right issue.
f) Allotment date merupakan tanggal menentukan jatah investor yang mendapatkan right issue
dan berapa besar tambahan saham baru akibat right issue.
g) Exercise date merupakan tanggal penambahan saham akibat right issue tersebut didaftarkan
di bursa efek.
E. Tujuan Right Issue
Tujuan dilakukannya aksi korporasi adalah untuk meningkatkan modal perusahaan,
membayar hutang yang telah jatuh tempo, ekspansi usaha, meningkatkan likuiditas
perdagangan saham serta tujuan lainnya. Salah satu aksi korporasi (corporate action) yang
dilakukan para emiten untuk mendapatkan dana segar untuk tujuan-tujuan di atas adalah
dengan melakukan penerbitan saham baru (right issue).
Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2001:134), right issue diterbitkan dengan tujuan
untuk memperoleh dana tambahan dari pemodal dan untuk ekspansi usaha. Menurut Ghozali
dan Solichin (2003) ada dua alasan bagi perusahan melakukan penerbitan saham baru (right
issue), yaitu dengan penerbitan saham baru (right issue) dapat mengurangi biaya karena
emiten tidak harus membayar fee untuk jasa penjamin (underwriter) dan penerbitan saham
baru (right issue) menyebabkan jumlah saham perusahaan bertambah sehingga diharapkan
dengan langkah tersebut akan dapat meningkatkan frekuensi perdagangan, yang berarti
meningkatkan likuiditas saham.
Dengan adanya hak memesan efek terlebih dahulu (preemptive right), para investor
lama dapat mempertahankan proporsi kepemilikan mereka. Apabila para investor lama tidak
menggunakan haknya tersebut, maka mereka dapat menjual right yang dimilikinya kepada
pihak lain. Beberapa tujuan lainnya adalah untuk meningkatkan porsi kepemilikan pemegang
saham atau meningkatkan jumlah saham yang beredar. Jadi dengan adanya right issue,
kapitalisasi pasar saham akan meningkat dalam jumlah yang lebih kecil dari pada presentase
jumlah lembar saham yang beredar. Umumnya diharapkan penambahan jumlah lembar
saham di pasar akan meningkatkan frekuensi perdagangan saham tersebut atau dengan kata
lain dapat meningkatkan likuiditas saham.
F. Manfaat dan Keuntungan dari Right Issue
a. Manfaat Right Issue
Manfaat right issue, menurut Darmadji dan Fakhruddin (2001:8), yaitu dengan membeli
saham right issue, berarti investor telah melakukan pembelian saham seperti biasanya yang
menghasilkan return yang sama yaitu dividen atau capital gain. Adapun manfaat lain dari
Right Issue adalah:
a) Investor memiliki hak istimewa untuk membeli saham baru pada harga yang telah ditetapkan
dengan menukarkan Right yang dimilikinya. Hal ini memungkinkan investor untuk
memperoleh keuntungan dengan membeli saham baru dengan harga yang lebih murah.
b) Right dapat diperdagangkan pada Pasar Sekunder sehingga investor dapat menikmati Capital
Gain ketika harga jual Right lebih besar daripada harga belinya.
c) Pengumuman penerbitan saham baru (right issue) merupakan berita yang disampaikan oleh
pihak manajemen perusahaan yang selanjutnya akan mempengaruhi nilai perusahaan.
Investor akan merespon informasi tersebut sebagai sinyal terhadap adanya peristiwa (event)
tertentu yaitu berupa sinyal positif (good news) atau berupa sinyal negatif (bad news).
Apabila dana dari penerbitan saham baru (right issue) digunakan untuk ekspansi usaha atau
perbaikan struktur modal, maka kinerja perusahaan akan lebih baik di masa depan. Sehingga
informasi yang dihasilkan memberikan sinyal positif bagi investor yang selanjutnya akan
meningkatkan harga saham perusahaan.Tetapi jika dana dari penerbitan saham baru (right
issue) akan digunakan untuk tujuan perluasan investasi yang mempunyai nilai sekarang
bersih (net present value) nol atau negatif dan untuk membayar utang yang telah jatuh tempo
sehingga menyebabkan kondisi laba di masa depan menurun, maka informasi yang diperoleh
investor memberi sinyal yang negatif. Sinyal tersebut akan direspon oleh investor yang
tercermin dengan perubahan harga saham dan tingkat likuiditas saham di seputar
pengumuman penerbitan saham baru (right issue) yang dilakukan oleh perusahaan.
b. Keuntungan Right Issue
Keuntungan dengan adanya right issue bagi perusahaan antara lain:
a) Sebagai salah satu sumber dana bagi perusahaan.
b) Tidak memerlukan prosedur dan aturan yang ketat, seperti halnya dengan penawaran umum
perdana atau go public.
c) Right issue dapat dikombinasikan dengan derivatif efek lainnya.
G. Right Issue Sebagai Sumber Pendanaan
Sebagai sumber dana perusahaan, maka right issue dilakukan pada berbagai cara:
a. Initial Public Offering (Penawaran Umum)
Penawaran saham perusahaan kepada masyarakat dapat dilakukan dengan menggunakan
prospektus. Apabila ini dilakukan untuk pertama kali, maka disebut Initial Public Offering
(IPO). Penawaran ini biasanya dengan menggunakan penjamin emisi (underwriter).
Penetapan harga saham pada saat IPO lebih rumit dibandingkan dengan saat menambah
menjual saham baru dari perusahaan yang sahamnya sudah diperdagangkan di bursa efek.
Penilaian dapat didasarkan pada industri atau dengan prakiraan atas perusahaan secara
individual.
b. Penawaran Terbatas
Right issue adalah penawaran saham baru yang terbatas kepada para pemegang saham
lama (pemegang saham yang sudah ada, sebab sebelumnya perusahaan telah pernah
melakukan IPO). Sebagai pemilik, pemegang saham lama memiliki hak beli atau call option
atas saham perusahaan pada harga tertentu, selama periode tertentu di masa yang akan
datang. Biasanya besarnya adalah proporsi tertentu dari jumlah saham yang dimiliki
pemegang saham lama, misalnya satu saham untuk lima rights.
Di dalam rights, sudah diatur secara pasti syarat-syarat berupa harga exercise, tanggal
jatuh tempo (maturity date), dan apakah right boleh diperdagangkan atau dialihkan pada
pihak lain. Oleh karena itu, pemegang saham lama boleh saja menjual rights, tidak harus
membeli saham baru yang ditawarkan perusahaan untuk menambah modal.
c. Private Placement
Penjualan saham secara pribadi dapat dilakukan kepada lembaga-lembaga keuangan
(seperti kepada perusahaan asuransi) atau kepada nasabah perusahaan efek. Namun,
kebanyakan adalah kepada investor lembaga. Penambahan ekuiti baru dengan cara ini
mempunyai tiga keuntungan, yaitu:
a) Penjualan dapat dilaksanakan jauh lebih cepat dibanding right issue. Private Placement dapat
dilaksanakan dalam beberapa hari, sedangkan rught issue paling tidak membutuhkan dua
bulan.
b) Harga saham baru yang diterima perusahaan dari private placement biasanya lebih tinggi
dari harga right issue.
c) Saham dapat ditempatkan pada investor lembaga secara bersahabat, sehingga mengurangi
risiko pengambilalihan.
Kerugian dari private placement ini adalah bahwa pemegang saham lama akan
menderita dilusi keuntungan perusahaan di masa yang akan datang.
d. Share Options
Dengan share options, itu berarti para pemegang option berhak membeli saham
perusahaan dengan harga yang telah ditetapkan, selama periode tertentu di masa yang akan
datang. Sebagai pemilik option, pemegang saham tidak wajib membeli saham baru. Pemilik
option pembeli saham hanya jika harga saham di pasar melebihi harga yang telah ditetapkan.
H. Penelitian Para Ahli Tentang Rigth Issue
Pengumuman penerbitan saham baru (right issue) yang dilakukan perusahaan, secara
teoritis dan empiris telah menyebabkan harga saham bereaksi secara negatif, dan ini
merupakan kejadian yang diakibatkan oleh risiko sistematik (systematic risk). Risiko
sistematik (systematic risk) adalah bagian risiko yang tidak dapat dihilangkan dengan
melakukan diversifikasi atas portofolionya (Ghozali dan Solichin, 2003).
Beberapa temuan empiris mengenai right issue adalah: Scholes (1972) yang menulis
artikel klasik pertama kali tentang right issue, Marsh (1979), Asquith dan Mullins (1986),
Masulis dan Korwar (1986), Myers dan Majluf (1984), Barclay dan Litzenberger (1988),
Mikkelson dan Partch (1986). Temuan empiris tersebut menunjukkan bahwa nilai pasar
saham perusahan turun sampai 3% pada saat pengumuman right issue (Budiarto dan
Baridwan, 1999).
Penelitian ini adalah untuk menguji kandungan informasi dari peristiwa penerbitan
saham baru (right issue). Apakah peristiwa itu mempunyai kandungan informasi yang cukup
kuat untuk membuat pasar bereaksi yang ditunjukkan dengan perubahan harga saham dari
sekuritas yang bersangkutan. Reaksi ini biasanya akan diukur dengan menggunakan return
sebagai nilai perubahan harga atau dengan menggunakan abnormal return (Hartono, 1998:
318) dan trading volume activity sebagai nilai perubahan volume perdagangan saham. Jika
suatu peristiwa memiliki kandungan informasi maka akan memberikan abnormal return
kepada pasar. Sebaliknya jika suatu peristiwa tidak mempunyai kandungan informasi maka
tidak akan memberikan abnormal return kepada pasar.
Beberapa penelitian yang telah dilakukan, menunjukkan hasil yang berbeda-beda,
bahkan menunjukkan hasil yang kontroversial. Hal ini terlihat dari penelitian yang dilakukan
oleh Smith (1977), Marsh (1979), Myers dan Maljuf (1984) serta Healey dan Palepu (1990),
dimana hasil penelitiannya menunjukkan bahwa setelah pengumuman penerbitan saham
baru (right issue) terjadi penurunan terhadap harga saham atau dengan kata lain pasar
memberikan respon negatif terhadap pengumuman penerbitan saham baru (right issue).
Sementara penelitian yang dilakukan oleh Loderer dan Zimmerman (1988), Goyal dkk
(1994), Dhatt dkk (1996) dan Bohren dkk (1997), justru menunjukkan hasil yang berlawanan
yakni pasar melakukan reaksi positif dan signifikan (Kurniawati dan Winarso, 2005).
Di Indonesia penelitian mengenai peristiwa penerbitan saham baru (right issue) telah
dilakukan oleh Budiarto dan Baridwan (1999), Ghozali dan Solichin (2003) serta Rahman
dan Kustono (2003). Hasil dari penelitian tersebut menyimpulkan bahwa informasi peristiwa
penerbitan saham baru (right issue) di BEJ tidak memiliki kandungan informasi yang cukup,
yang dapat menyebabkan terjadinya perbedaan preferensi investor yang dicerminkan dalam
perubahan harga saham dan aktivitas volume perdagangan saham.
I. Dampak Right Issue
a. Bagi Perusahaan
Akan meningkatkan jumlah modal perusahaan yang nantinya digunakan untuk melakukan
ekspansi usaha, bisa dalam bentuk pembangunan pabrik, mengakuisisi dan lain sebagainya.
Namun ada perusahaan yang menggunakan aksi ini untuk membayar hutang perusahaan.
b. Bagi Investor
Pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya untuk membeli saham baru tersebut,
maka kepemilikan saham terhadap perusahaan akan terdilusi.
Bagi investor, right issue berdampak positif kalau tidak berpengaruh terhadap harga
saham. Sebaliknya, berdampak negatif kalau menyebabkan menurunnya harga. Secara
umum, dampak right issue bisa dirasakan oleh semua pemodal. Right issue merupakan hak
bagi pemodal untuk membeli saham baru yang dikeluarkan oleh emiten. Karena merupakan
hak, maka investor tidak terikat harus membelinya. Investor boleh mengabaikan haknya
dengan konsekuensi berkurangnya kepemilikan saham atas emiten tersebut. Hal ini, karena
pada dasarnya perusahaan menawarkan right sama dengan mengeluarkan saham baru.
Akibatnya akan mempengaruhi presentase kepemilikan bila tidak membeli secara
proporsional.
J. Risiko Investasi Right Isuue

Menurut Jogiyanto (2001:361), ada risiko yang harus dipikul oleh investor, baik
investor yang merealisasikan, maupun yang tidak. Risiko yang harus ditanggung tersebut
adalah penurunan dividen dan harga saham. Penurunan dividen terjadi jika penambahan
jumlah saham yang beredar tidak diikuti dengan perbaikan kinerja perusahaan setelah right
issue. Sedangkan penurunan harga saham yang dimaksud adalah penurunan yang lebih tajam
dari harga teoritisnya. Jadi, pada dasarnya Investasi Right Issue memiliki beberapa resiko,
antara lain:
a. Jika harga saham pada periode pelaksanaan jatuh dan menjadi lebih rendah daripada harga
pelaksanaan maka investor tidak akan mengonversikan right tersebut, sementara itu investor
akan mengalami kerugian atas harga beli right. Contohnya, Seorang investor membeli right di
Pasar Sekunder pada harga Rp200,00 dengan harga pelaksanaan Rp1.500,00. Pada periode
pelak-sanaan, harga saham turun menjadi Rp1,200,00 per saham. Investor tersebut tentunya
tidak akan menukarkan right yang dimilikinya karena jika ia melakukannya maka ia harus
membayar Rp1.700,00 (Rp1.500,00 harga pelaksanaan + Rp200,00 harga right). Apabila
pemegang saham tidak menukar right tersebut maka akan terjadi dilusi pada kepemilikan atau
jumlah saham yang dimiliki akan berkurang secara proporsional terhadap jumlah total saham
yang diterbitkan perusahaan. Sementara itu jika ia tidak menukarkan right yang dimilikinya
maka ia mengalami kerugian Rp200,00 atas harga right tersebut.
b. Right dapat diperdagangkan pada pasar sekunder, sehingga investor dapat mengalami
kerugian (capital loss) ketika harga jual dari Right tersebut lebih rendah daripada harga
belinya.
K. Nilai Right
Ciri khas right adalah harga saham penawaran baru biasanya ditetapkan di bawah
harga yang tercatat di bursa saat ini. Apalagi harga saham baru ditawarkan dengan harga
saham yang sama dengan harga saham lama, maka para pemodal akan berpikir untuk dapat
membeli saham baru di pasar perdana kalau dapat membeli saham yang sama pula di pasar
sekunder. Hal itulah yang menyebabkan harga saham baru akan lebih rendah dari kurs yang
tercatat. Suatu right akan ada nilainya apabila harga emisi saham tersebut lebih rendah dari
kurs yang tercatat. Hal ini berarti, jika harga perdana pada suatu emisi right lebih tinggi
daripada kurs saham yang bersangkutan di bursa, maka harga right tidak akan laku kecuali
diambil sendiri oleh pemegang saham utama untuk memperbesar persentase kepemilikan.
Harga pelaksanaan right issue merupakan harga pelaksanaan yang harus dibayar
investor untuk mengkonversikan haknya tersebut ke dalam saham. Umumnya harga
pelaksanaan right issue di bawah harga saham yang berlaku. Hal ini, dimungkinkan sebagai
tarikan agar investor mau membelinya. Right itu sendiri mempunyai harga di pasar, harga
terbentuk dari penawaran yang terjadi. Harga pelaksanaan ditentukan di bawah harga pasar
sahamnya saat itu. Tujuannya untuk menarik pemegang saham membeli saham baru hasil
right issue. Karena harga pelaksanaan lebih rendah dari harga pasarnya maka bukti right yang
ditawarkan memiliki nilai. Nilai bukti right sangat tergantung pada jumlah bukti right yang
dibutuhkan untuk membeli satu saham (rasio pelaksanaan) dan harga hak pelaksanaannya.
Secara teoritis nilai right sama antara masa cum right dan ex-right. Dalam prakteknya nilai
pasar right dapat berbeda dengan nilai teoritisnya.
Formula menghitung harga teoritis atau nilai right, dapat dilakukan saat right on atau
ex right, dengan rumus sebagai berikut:
a. Masa right-on/cum-right

VR =

Keteragan :
Vr = nilai right
Po = harga saham saat right
Ps = harga penawaran saham baru /harga corporate action
# = jumlah right yang dibutuhkan untuk mendapatkan hak membeli satu saham baru yang
ditawarkan.

b. Masa ex-right

VR =

Keterangan :
Vr = nilai right
Po = hargasaham saat exright
Ps = harga penawaran saham baru /harga corporate action
# = jumlah right yang dibutuhkan untuk mendapatkan hak membeli satu saham baru
Atau

Harga Teoritis =

Keterangan :
RSL = rasio saham lama
HPSSRI = Harga Pasar Saham sebelum right issue
RSB = Rasio Saham baru
HPRI = Harga pelaksanaan right issue
Informasi penting lainnya adalah rasio dari pelaksanaan right issue, penentuan rasio
ini sangat ditentukan dari berapa besar dana yang dibutuhkan dan kemampuan investor lama
memenuhinya. Jadi, rasio ini merupakan komposisi berapa besar hak pemegang saham lama
mendapatkan kesempatan memesan efek terlebih dahulu. Right ratio yang biasanya
digunakan di Indonesia adalah 2 : 1 yang berarti bahwa dua saham lama mendapatkan hak
memesan satu saham baru.
Konsekuensi penambahan saham akibat kebijakan penerbitan right ini mempengaruhi
kepemilikan pemegang saham lama yang tidak melakukan konversi rightnya. Penurunan nilai
ini terjadi karena harga pasar biasanya terkoreksi dengan adanya kebijakan ini. Untuk
mengukur berapa besar koreksi yang timbul kita harus memperhatikan informasi waktu,
harga, dan rasio penerbitan right tersebut.
Aplikasi
PT. Bhakti Persada mendapat persetujuan dari para pemegang saham untuk menarik
dana sebesar Rp 1,0 miliar untuk membiayai rencana ekspansi usaha perusahaan. Untuk
memenuhi kebutuhan dana tersebut dilakukan right issue sebanyak 1 juta lembar dengan
harga pelaksanaan right issue Rp 1.000 per lembar, dengan rasio tiga lembar saham lama
untuk satu lembar saham baru. Saham tersebut di bursa diperdagangkan dengan harga Rp
1.500 per lembar. Secara teoritis harga saham setelah right issue dapat dihitung sebagai
berikut:

Harga Teoritis =

Artinya secara teoritis harga pasar akan menyesuaikan dari Rp 1.500 per lembar
menjadi Rp 1.375 per lembar, sehingga terjadi dilusi harga pasar sebesar Rp 125 per lembar.
Satu keuntungan yang dapat diperoleh pemegang saham apabila right issue diikuti
oleh dilusi harga saham adalah jika emiten yang bersangkutan membayar dividen per lembar
dengan jumlah yang sama besarnya, sebelum dan setelah dilakukan right issue. Namun
apabila jumlah dividen per lembar yang dibayarkan menurun, maka akan menimbulkan
dampak psikologis yang negatif, yaitu dimungkinkan minat investor untuk membeli saham
tersebut berkurang. Pada akhirnya akan mengurangi permintaan, sehingga harga saham akan
turun. Yang harus diperhatikan saat para investor ingin mengumumkan akan melakukan right
issue antara lain:
a. Waktu berlakunya rights.
b. Harga pelaksanaan right issue.
c. Rasio penerbitan right
 CONTOH KASUS 1

1. Untuk melihat cara kerja HMETD, kami memakai contoh HMETD yang dilakukan oleh
UNTR. Dalam Penawaran Umum Terbatas IV yang dilakukan UNTR, skema rasio nya
adalah 33:4 yang artinya setiap pemegang 33 saham yang namanya tercatat dalam Daftar
Pemegang Saham PT United Tractors Tbk berhak atas 4 HMETD dan setiap satu HMETD
memberikan hak kepada pemegangnya hak untuk membeli 1 (satu) saham baru dengan harga
penawaran Rp 15.050,-/saham. Dengan harga penawaran tersebut, menarik bagi investor
karena saat tulisan ini dibuat, harga saham UNTR di pasar saham adalah Rp 23.750,-/saham.

Supaya pemegang saham memperoleh hak untuk mendapat HMETD, maka pemegang saham
harus memiliki saham UNTR paling lambat pada tanggal 9 Mei, yaitu cum date di mana
merupakan tanggal terakhir perdagangan saham yang melekat HMETD. Jika investor baru
membeli saham UNTR pada tanggal 10 mei, maka investor ini tidak memiliki hak untuk
mendapat HMETD (ex-date).

Jadwal Penawaran Umum Terbatas IV Dengan HMETD PT United


Tractors Tbk
Jadwal Tanggal Keterangan
Cum HMETD 9-May-11 Tanggal terakhir perdagangan saham
(pasar Reguler) dengan HMETD
Ex HMETD (pasar 10-May-11 Tanggal terakhir perdagangan saham
Reguler) tanpa HMETD
Periode 16 – 30 May - Periode di mana HMETD
perdagangan 11 diperdagangkan melalui BEI atau di
sertifikat bukti luar bursa. Pemegang HMETD yang
HMETD memilih untuk tidak menggunakan
hak nya untuk membeli saham dalam
HMETD ini dapat menjual haknya
kepada pemegang saham lain atau
pihak ketiga melalui BEI atau di luar
bursa. Pemegang saham yang tidak
menggunakan HMETD ini akan
mengalami dilusi terhadap persentase
kepemilikan saham nya
Periode 16 – 30 May - Periode di mana pemegang HMETD
pelaksanaan 11 dapat menebus rights untuk membeli
HMETD saham baru UNTR dengan harga
Rp 15.050,-
Sumber : Prospektus Penawaran Umum Terbatas IV Dengan HMETD

Untuk pemegang saham yang memiliki saham UNTR pada tanggal 9 Mei tersebut dan
memilih untuk tidak menggunakan haknya untuk menebus HMETD, dapat
memperdagangkan HMETD pada periode 16 hingga 30 Mei, melalui Bursa atau di luar
bursa.

Mari kita lihat mekanismenya. Katakan Anda memiliki 20 lot saham UNTR pada tanggal 9
Mei 2011 (20 x 500 = 10.000 saham). UNTR akan menerbitkan saham baru sebanyak
403,2juta saham melalui HMETD ini dengan rasio 33 saham lama mendapat 4 HMETD dan
1 HMETD dapat membeli 1 saham baru dengan harga Rp 15.050/saham. Dengan 10.000
saham, berarti Anda memliki 1.212,12 HMETD untuk membeli 1.212,12 saham baru atau 2
lot dan 210 saham.

Sebagai pemegang saham, Anda memiliki 3 pilihan : 1) menebus semua HMETD; 2) tidak
menggunakan hak untuk menebus HMETD; 3) menjual HMETD kepada orang
lain. Sekarang kita lihat apa hasil dari masing-masing pilihan:

1. Menebus semua HMETD


Dengan menebus HMETD, berarti Anda harus menyiapkan dana sebanyak Rp 15.050,- x
1.212,12 saham = Rp 18.242.406,-. Satu hal yang penting untuk diperhatikan, adalah harga
pasar saham UNTR paska dilakukannya HMETD. Harga saham UNTR berpotensi
mengalami penurunan paska HMETD. Harga saham UNTR saat ini akan terdilusi karena
jumlah lembar saham yang beredar dengan adanya HMETD akan bertambah. Kita dapat
menghitung harga teoritis atau harga ex-rights dari saham UNTR. Caranya sebagai berikut:

(Rp 23.700 x 10.000 saham) + (Rp 15.050 x 1.212,12 saham) = Rp 22.765


(10.000 + 1.212,12)
Dengan asumsi harga saham UNTR pada cum date sebesar Rp 23.700,- maka, harga ex-rights
nya diperoleh Rp 22.765,-

2. Tidak menebus HMETD sama sekali

Opsi ini dapat dipilih jika Anda tidak memiliki dana yang cukup untuk membeli saham baru
hasil HMETD. Namun risiko yang akan Anda dapat adalah turunnya harga saham.

3. Menjual HMETD kepada orang lain

Anda dapat menjual hak Anda untuk memperoleh HMETD kepada pemegang saham lain
atau investor lainnya melalui BEI atau di luar bursa. Berapa harga dari 1 (satu) hak tersebut,
secara teori dapat dihitung sebagai berikut :

Harga teoritis – harga penebusan saham baru


Rp 22.765,- – Rp 15.050,- = Rp 7.715,-
Secara teori, harga 1 (satu) HMETD dapat diperjualbelikan dengan harga Rp
7.715/hak. Dengan menjual HMETD yang Anda miliki, Anda memperoleh capital gain.

 CONTOH KASUS 2
Pelaksanaan HMETD PT Bank Mandiri (Persero)Tbk (BMRI) yang dilakukan pada
Tahun 2011
Rasio pembagian HMETD BMRI adalah setiap 8.985 (delapan ribu sembilan ratus delapan
puluh lima) saham yang dimiliki akan mendapatkan 1.000 (seribu) HMETD, dimana setiap
pemegang 1 (satu) HMETD berhak untuk membeli 1 (satu) saham baru dengan nilai nominal
NO. KEGIATAN TANGGAL

1 Tanggal perdagangan bursa yang memuat 7-Feb-11


Rp500,-
HMETD (Cum HMETD) di Pasar Reguler dan Pasar
setiap saham
Negosiasi
dengan harga
2 Tanggal perdagangan bursa tidak memuat HMETD 8-Feb-11 pelaksanaan
(Ex HMETD) di Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi Rp5.000,-
(lima ribu
3 Tanggal perdagangan bursa yang memuat HMETD 10-Feb-11
Rupiah) per
(Cum HMETD) di Pasar Tunai
saham.Beriku
4 Tanggal perdagangan bursa tidak memuat HMETD 11-Feb-11 t jadwal
(Ex HMETD) di Pasar Tunai kegiatan
HMETD
5 Tanggal Penentuan Pemegang Rekening yang berhak 10-Feb-11
Bank
menerima HMETD di dalam rekening Efek
Mandiri :
(Recording Date)

6 Periode distribusi HMETD. 11-Feb-11


7 Tanggal Pencatatan HMETD di Bursa 14-Feb-11
BMRI akan
8 Periode Perdagangan HMETD 14-21 Feb
mengeluarka
2011
n saham dari
9 Periode Pelaksanaan HMETD 14-21 Feb portapel
2011 maksimal
2.336.838.59
10 Periode Penyerahan Saham Hasil Pelaksanaan 17-23 Feb
1 saham
HMETD 2011
biasa atas
11 Tanggal Terakhir Pembayaran Pemesanan Saham 23-Feb-11 nama seri B
Tambahan setara dengan
10,015
12 Tanggal Penjatahan Efek Tambahan 24-Feb-11
persen.
13 Tanggal Pengembalian Uang Pemesanan Pembelian 28-Feb-11 Harga
Saham Tambahan yang tidak memperoleh penjatahan penutupan
saham
tanggal 7 Februari 2011 (Cum date) Rp 6.000
Perhitungan Right Issue
Harga Teoritis Right Issue tanggal 8 Februari 2011 (Ex-date

Jadi, tanggal 8 Februari 2011, Harga Saham awal perdagangan (Previous) pada harga Rp
5.900, bukan Rp 6.000.
Jumlah Dana yang diperoleh oleh perusahaan :
2.336.838.591x Rp 5000 = Rp 11.684.192.955.000
Dampak Right Issue pada saham BMRI yang lain adalah :
(menggunakan data akhir tahun 2010)
Jumlah Saham Beredar bertambah setelah Right Issue
Total saham beredar sebelumnya + jumlah saham Right Issue = 20.996.494.742 +
2.336.838.591 = 23.333.333.333
Jumlah Ekuitas bertambah setelah Right Issue
Jumlah Ekuitas 31 Des 2010 + Jumlah Dana hasil Right Issue = 41.542.808.000.000 +
11.684.192.955.000 = 53.227.000.955.000
Book Value sebelum Right Issue
Jumlah Ekuitas / Jumlah Saham beredar = 41.542.808.000.000/20.996.494.742 = 1.978.56
Book Value bertambah setelah Right Issue
Jumlah Ekuitas / Jumlah Saham beredar = 53.227.000.955.000/23.333.333.333 = 2.281,16
Dampak lain yang perlu diperhatikan dalam keuangan adalah laba persaham dan ROE,
apakah dengan melakukan Right issue mampu meningkatkan laba persaham dengan jumlah
saham yang lebih banyak. dan apakah laba bersih setelah right issue mampu menjaga tingkat
ROE atau menaikkan tingkat ROE karena jumlah ekuitas bertambah.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Right issue dapat diartikan sebagai salah satu bentuk corporate action yang dilakukan
oleh perusahaan saat hendak melepaskan/menjual saham ke publik (Initial Public Offering =
IPO). Mekanismenya, perusahaan tersebut menjual hak beli kepada publik/pemegang saham
yang sudah ada, sehingga si pemegang hak beli tersebut pada periode yang telah ditetapkan
berhak melakukan pembelian saham sesuai dengan harga yang telah ditetapkan. Secara
umum terdapat due jenis right issue, yakni dengan HMETD dan tanpa atau non-HMETD.
DAFTAR PUSTAKA
http://googleweblight.com/?lite_url=http://ekonomisku.blogspot.com/2014/07/pengertian-
manfaat-dan-resiko-right.html&ei=beJNZLPs&lc=id-
ID&s=1&m=585&ts=1447322576&sig=APONPFlGai7yn6EqsiZKcCW-PMWA3WbkDg
http://terusbelajarsaham.blogspot.co.id/2012/06/arti-right-issue-bursa-saham-
indonesia.html?m=1
http://googleweblight.com/?lite_url=http://infodatabroker.blogspot.com/2012/04/memahami-
rigths-issue-dalam-pasar-modal.html&ei=ZX_nWte0&lc=id-
ID&s=1&m=211&ts=1448161662&sig=ALL1Aj7gzDfwO7oUVR7acHdeg04MnODKIQ
http://googleweblight.com/?lite_url=http://nanangbudianas.blogspot.com/2013/02/pengertian
-right-issue.html?m%3D1&ei=3xU7PZxx&lc=id-
ID&s=1&m=211&ts=1448161927&sig=ALL1Aj7HxvSc0iqo0tlF4ZoRbE8mlM_lag
Sunariyah, Pengantar Pengetahuan Pasar Modal, h.150