Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Pelayanan anestesiologi dan terapi intensif merupakan salah satu
bagian dari pelayanan kesehatan yang berkembang dengan cepat seiring
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Peningkatan
kebutuhan pelayanan anestesiologi dan terapi intensif ini masih belum
seimbang dengan jumlah dan distribusi dokter spesialis anestesiologi secara
merata.
Kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di
bidang kedokteran khususnya anestesiologi dan terapi intensif menjadi
dasar diperlukan pedoman nasional yang berkualitas dan dapat
dipertanggungjawabkan secara etis dan profesional. Acuan kerja ini dapat
menjadi pedoman nasional dalam memberikan pelayanan anestesiologi dan
terapi intensif kepada pasien.
Semua pasien yang akan menjalani prosedur yang memerlukan
pengawasan dokter anestesia maupun tindakan anestesia. Dalam pemberian
Anestesi diperlukan evaluasi pra anestesia dilakukan sebelum tindakan
induksi anesthesia, pedoman pengelolaan jalan nafas intra anestesi,
pemberian pengakhiran anestesi diberikan pasien akhir dalam anestesi atau
pasca anestesi. Pengakhiran anestesi yang menggunakan obat pelumpuh
otot diberikan obat penawar pelumpuh otot kecuali ada kontraindikasi.
(Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
Hk.02.02/Menkes/251/2015)

B. RUMUSAN MASALAH
Bagaimana pengakhiran anestesi dilakukan dana pa saya obat yang
digunakan?
C. TUJUAN
1. TUJUAN UMUM
Mengetahui jenis obat yang digunakan dalam pengakhiran anestesi
2. TUJUAN KHUSUS
a. Mengetahui jenis obat pengakhir anestsi
b. Mengetahui kapan pemberian obat pengakhir anestsi dilakukan
c. Mengetaui apa saja yang dilakukan selama menjalankan
pengakhiran anestesi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
Tindakan Anestesi adalah suatu tindakan medis, yang dikerjakan secara
sengaja pada pasien sehat ataupun disertai penyakit lain dengan derajat ringan
sampai berat bahkan mendekati kematian. Tindakan ini harus sudah
memperoleh persetujuan dari dokter Anestesi yang akan melakukan tindakan
tersebut dengan mempertimbangkan kondisi pasien, dan memperoleh
persetujuan pasien atau keluarga, sehingga tercapai tujuan yang diinginkan
yaitu pembedahan, pengelolaan nyeri, dan life support yang berlandaskan pada
“patient safety”.
Pengakhiran Anestesi adalah suatu tindakan yang dilakukan pada akhir
anestesi selesai untuk mendukung keadaan hemodinamik pasien pascaanestesi
dengan memberikan oksigen, obat reversal/pemulih pelumpuh otot, anakgesik,
antiematik dan monitoring tanda-tanda vital pasien.

B. Pengakhiran Anestesi pada Pasien Dewasa


Setelah pembedahan selesai, obat anestesi dihentikan pemberiannya.
Kemudian dilakukan tindakan pengakhiran Anestesi pada pasien:
1. Berikan oksigen murni 5-15 menit.
2. Bersihkan rongga hidung dan mulut dari lendir kalau perlu.
3. Jika menggunakan pelumpuh otot, kemudian berikan reversal (pemulih
pelumpuh otot) dapat dinetralkan.
4. Depresi napas oleh narkotika-analgetika
5. Ekstubasi dikerjakan jika napas spontannya adekuat, keadaan umumnya
baik dan diperkirakan tidak akan menimbulkan kesulitan pascaintubasi.
a. Ekstubasi dalam keadaan anestesi ringan, akan menyebab kan batuk-
batuk, spasme laring atau bronkus.
b. Ekstubasi dalam keadaan anestesi lebih dipilih karena kurang
traumatis.
C. Perawatan post Operasi pada Pasien Dewasa
Pada saat pasien tiba di ruang pemulihan, dilakukan evaluasi fungsi vital.
1. Dilakukan pemantauan secara periodik berdasarkan Aldrette Score.
2. Pasien dapat dipindahkan ke ruang perawatan apabila Aldrette Score >8.
(General Anestesi).
3. Pasien dapat dipindahkan ke ruang perawatan apabila Bromage Score >2.
(Spinal Anestesi).
4. Pemantauan pascaanestesi dicatat/didokumentasikan dalam rekam medik
pasien.

D. Pengakhiran Anestesi pada Pasien Pediatrik


Setelah pembedahan selesai, obat anestesi dihentikan pemberiannya.
Kemudian dilakukan tindakan pengakhiran Anestesi pada pasien Pediatrik:
1. Berikan oksigen murni 5-15 menit.
2. Bersihkan rongga hidung dan mulut dari lendir kalau perlu.
3. Jika menggunakan pelumpuh otot, kemudian berikan reversal (pemulih
pelumpuh otot) dapat dinetralkan dengan:
a. Prostigmin (0,04 mg/kg).
b. Neostigmine (0,05 mg/kg).
c. Atropin (0,02 mg/kg).
4. Depresi napas oleh narkotika-analgetika netralkan dengan nalokson 0,2-
0,4 mg secara titrasi.
5. Ekstubasi pada bayi dikerjakan kalau bayi sudah sadar benar, anggota
badan bergerak-gerak, mata terbuka, napas spontan adekuat. Dikerjakan
jika napas spontannya adekuat, keadaan umumnya baik dan diperkirakan
tidak akan menimbulkan kesulitan pascaintubasi.
a. Ekstubasi dalam keadaan anestesi ringan, akan menyebabkan batuk-
batuk, spasme laring atau bronkus.
b. Ekstubasi dalam keadaan anestesi lebih dipilih karena kurang
menimbulkan trauma.
E. Perawatan post Operasi Pediatrik
Tindakan keperawatan setelah operasi dilakukan untuk menstabilkan kondisi
pasien. Tindakan yang dapat dilakukan, antara lain:
1. Terapi oksigen dengan menggunakan masker atau nasal kanul sesuai
kebutuhan.
2. Pemantauan fungsi vital di ruang pulih sadar sampai tidak ada gangguan
fungsi vital.
3. Evaluasi nyeri, gelisah, perubahan tanda vital.
4. Atasi komplikasi yang terjadi.
5. Analgetik pascaoperasi.
6. Bila nyeri terjadi postoperasi dapat diberikan opioid. Bila sudah sadar baik
dapat diberikan oral parasetamol atau ibuprofen.
7. Pemberian obat antiemetik bila diperlukan.
8. Pemantauan penilaian pemulihan pascaanestesi pada anak dengan Steward
Score. Jika jumlah skore >5 pasien dapat dipindahkan.
9. Beberapa kasus tertentu membutuhkan perawatan lebih lanjut di
NICU/PICU dengan alat dan monitoring khusus sesuai dengan kondisi
penyulit penderita dan prosedur pembedahan.

F. Obat Pelumpuh Otot


1. Definisi
Sebelum ditemukan obat penawar pelumpuh otot, penggunaan obat
pelumpuh otot sangat terbatas. Sejak ditemukan obat penawar pelumpuh
otot dan opioid, maka penggunaan pelumpuh otot dan opioid hampir rutin.
Anestesi tidak perlu dalam, hanya sekedar pasien tidak sadar, analgesik
dapat diberikan dosis tinggi, dan pemberian obat pelumpuh otot dapat
memberikan efek relaksasi pada otot lurik. Ketiga kombinasi ini dikenal
dengan istilah trias anestesi “the triad of anesthesia.”
Obat pelumpuh otot merupakan obat yang di gunakan untuk
melemaskan atau merileksasikan otot. Obat pelumpuh otot bukan
merupakan obat anestesi, tetapi obat ini sangat membantu dalam
membantu pelaksanaan anestesi umum, antara lain memudahkan dan
mengurangi cedera tindakan laringoskopi dan intubasi trakea serta
memberikan relaksasi otot yang dibutuhkan dalam pembedahan dan
ventilasi kendali.
2. Fisiologis Trasmisi Syaraf Otot
Transmisi rangsang syaraf ke otot terjadi melalui hubungan syaraf
otot. Hubungan ini terdiri atas bagian ujung syaraf motor yang tidak
brtlapis mielin dan membran otot. Ujung syraf motor merupakan gudang
pesendian kalsium, vesikel atau asetil kolin, mitokondria, dan retikulum
endoplasmik. Pada membran otot terdapat reseptor asetilkolin.
Asetilkolin merupakan bahan perangsang syaraf
(neurotransmiter) yang dibuat dalam ujung syaraf motor dan disimpan
dalam kantong atau gudang yang disebut vesikel. Ada 3 bentuk asetilkolin,
yaitu bentuk bebas, cadangan belum siap pakai, dan bentuk siap pakai.
Faktor-faktor yang memengaruhi pelepasan asetilkolin adalah kalsium,
magnesium, nutrisi, oksigenasi, suhu, analgetik lokal, antibiotik golongan
aminoglikosida.
Potensial membran ujung syaraf motor terjadi karena membran
bersifat permiabel terhadap ion kalium ekstrasel dari pada natrium. Pada
saat pelepasan asetilkolin (transmiter saraf) yang dipicu oleh kalsium,
membran tersebut menjadi lebih permiabel terhadap ion natrium dan
kalsium sehingga kalsium dan natrium masuk sedangkan kalium keluar
sel, maka terjadi reaksi depolarisasi. Bila depolarisasi ini cukup kuat maka
akan diikuti oleh kontraksi otot. Setelah itu akan terjadi repolarisasi
membran ujung syataf motor karena kerja asetilkolin cepat dihidrolisis
oleh asetilkolin-esterase menjadi asetil dan kolin.
3. Jenis Obat Pelumpuh Otot
a. Depolarisasi
Terjadi karena serabut otot mendapat rangsangan depolarisasi
yang menetap sehingga akhirnya kehilangan respon berkontraksi yang
menyebabkan kelumpuhan. Pulihnya fungsi syaraf otot sangar
tergantung pada kemampuan daya hidrolisis enzim kolinesterase.
Contoh obat pelumpuh otot Depolarisasi:
1) Suksinilkolin (diasetilkolin, sexamethonium)
Suksinilkolin terdiri dari 2 molekul asetilkolin yang
bergabung. obat ini memiliki onset yang cepat (30-60 detik)
dan duration of action yang pendek (kurang dari 10 menit).
Ketika suksinilkolin memasuki sirkulasi, sebagian besar
dimetabolisme oleh pseudo kolinesterase menjadi suksinil
monokolin. Proses ini sangat efisien, sehingga hanya fraksi kecil
dari dosis yang dinjeksikan yang mencapai neuro
muscular junction. Duration of action akan memanjang pada
dosis besar atau dengan metabolisme abnormal, seperti
hipotermia atau rendanya level pseudokolinesterase. Rendahnya
level pseudo kolinesterase ini ditemukan pada kehamilan,
penyakit hati, gagal ginjal dan beberapa terapi obat. Pada
beberapa orang juga ditemukan gen pseudo kolinesterase
abnormal yang menyebabkan blokade yang memanjang.
Untuk dosis karena onsetnya yang cepat dan duration of
action yang pendek, banyak dokter yang percaya bahwa
suksinilkolin masih merupakan pilihan yang baik untu intubasi
rutin pada dewasa. Dosis yang dapat diberikan adalah 1 mg/kg
IV.
Efek samping dan pertimbangan klinis Karena
risiko hiperkalemia, rabdomiolisis, dan cardiacarrest pada anak
dengan miopati tak terdiagnosis, suksinilkolin masih
dikontraindikasikan pada penanganan rutin anak dan remaja. Efek
samping dari suksinilkolin adalah:
a) Nyeri otot pascapemberian.
b) Peningkatan tekanan intraokular.
c) Peningkatan tekakan intrakranial.
d) Peningkatan tekakanan intragastrik.
e) Peningkatan kadar kalium plasma.
f) Aritmia jantung.
g) Salivasi.
h) Alergi dan anafilaksis.
2) Decamethonium
Decamethonium (Syncurine) adalah relaksan otot
depolarisasi atau agen penghambat neuromuskuler, dan
digunakan dalam anestesi untuk menginduksi kelumpuhan.
Decamethonium, yang memiliki waktu aksi singkat, mirip
dengan asetilkolin dan bertindak sebagai agonis parsial dari
reseptor asetilkolin nikotinik. Pada motor endplate, hal itu
menyebabkan depolarisasi, mencegah efek lebih lanjut pada
pelepasan asetilkolin normal dari terminal presinaptik, dan karena
itu mencegah stimulus saraf memengaruhi otot. Dalam proses
pengikatan, decamethonium mengaktifkan (mendepolarisasi)
motor endplate tetapi karena decamethonium itu sendiri tidak
terdegradasi, membran tetap terdepolarisasi dan tidak responsif
terhadap pelepasan asetilkolin normal.
Decamethonium tidak menghasilkan ketidaksadaran atau
anestesi, dan efeknya dapat menyebabkan tekanan psikologis
yang cukup. Sementara secara bersamaan membuat mustahil bagi
pasien untuk berkomunikasi. Untuk alasan ini, pemberian obat
kepada pasien yang sadar sangat disarankan, kecuali dalam situasi
darurat yang diperlukan.
Decamethonium telah digunakan secara klinis di Inggris
selama bertahun-tahun, tetapi sekarang hanya tersedia untuk
tujuan penelitian. Efek samping yang ditimbulkan pada
decamethonium sepert pada umumnya. Decamethonium dapat
menyebabkan nyeri otot, air liur berlebihan, hipertensi, hipotensi,
bradikardi, dan takikardi.
b. Blok non Depolarisasi
Terjadi karena aseptor asetilkolon diduduki oleh molekul-
molekul obat pelumpuh otot nondepolarisasi sehingga proses
depolarisasi membran otot tidak terjadi dan otot menjadi lumpuh
(lemas). Pemulihan fungsi syaraf otot kembali jika molekul obat yang
menduduki reseptor asetikolin telah berkutang, antara lain terjadi
karena terjadi eliminasi dan atau distribusi. Pemulihan dapat lebih
cepat dibantu dengan memberikan obat antikolineseterase
(neostigmin) yang menyebabkan peningkatan jumlah asetilkolin.
Contoh obat nonDepolarisasi:
1) Pavulon
Pavulon merupakan steroid sintetis yang banyak digunakan.
Mulai kerja pada menit kedua-ketiga untuk selama 30-40 menit.
Memiliki efek akumulasi pada pemberian berulang sehingga
dosis rumatan harus dikurangi dan selang waktu diperpanjang.
Dosis awal untuk relaksasi otot 0,08 mg/kgBB intravena pada
dewasa. Dosis perawatan setengah dosis awal. Dosis Intubasi
trakea 0,15 mg/kgBB intravena. Kemasan ampul 2 ml berisi 4 mg
pavulon.
2) Atracurium
Atracurium mempunyai struktur benzilisoquinolin yang
berasal dari tanaman Leontice Leontopeltalum. Keunggulannya
adalah metabolisme terjadi di dalam darah, tidak bergantung pada
fungsi hati dan ginjal, tidak mempunyai efek akumulasi pada
pemberian berulang.
Dosis 0,5 mg/kg IV, 30-60 menit untuk intubasi. Relaksasi
intraoperasi 0,25 mg/kg initial, laly 0,1 mg/kg setiap 10-20 menit.
Infus 5-10 mcg/kg/menit efektif menggantikan bolus. Tersedia
dengan sediaan cairan 10 mg/cc. Disimpan dalam suhu 2-8˚C,
potensinya hilang 5-10% tiap bulan bila disimpan pada suhu
ruangan. Digunakan dalam 14 hari bila terpapar suhu ruangan.
Efek samping Histamin pada dosis diatas 0,5 mg/kg.
3) Vekuronium
Vekuronium merupakan homolog pankuronium bromida
yang berkekuatan lebih besar dan lama kerjanya singkat Zat
anestesi ini tidak mempunyai efek akumulasi pada pemberian
berulang dan tidak menyebabkan perubahan fungsi
kardiovaskuler yang bermakna.
Metabolisme dan eksresi tergantung dari eksresi
empedu dan ginjal. Pemberian jangka panjang dapat
memperpanjang blokade neuromuskuler. Oleh karena akumulasi
metabolit 3-hidroksi, perubahan klirens obat atau terjadi
polineuropati.
Faktor risiko wanita, gagal ginjal, terapi kortikosteroid yang
lama dan sepsis. Efek pelemas otot memanjang pada pasien
AIDS. Toleransi dengan pelemas otot memperpanjang
penggunaan.
Dosis intubasi 0,08-0,12 mg/kg. Dosis 0,04 mg/kg diikuti
0,01 mg/kg setiap 15-20 menit. Drip 1-2 mcg/kg/menit. Umur
tidak memengaruhi dosis. Dapat memanjang durasi pada pasien
postpartum karena gangguan pada hepatic blood flow. Sediaan 10
mg serbuk. Dicampur cairan sebelumnya.
4) Rekuronium
Zat ini merupakan analog vekuronium dengan awal kerja
lebih cepat. Keuntungannya adalah tidak mengganggu fungsi
ginjal, sedangkan kerugiannya adalah terjadi gangguan fungsi
hati dan efek kerja yang lebih lama.
Eliminasi terutama oleh hati dan sedikit oleh ginjal. Durasi
tidak terpengaruh oleh kelainan ginjal, tapi diperpanjang oleh
kelainan hepar berat dan kehamilan, baik untuk infusan jangka
panjang (ICU). Pasien orang tua menunjukan prolong durasi.
Dosis Potensi lebih kecil dibandingkan relaksan steroid
lainnya. 0,45-0,9 mg/kg IV untuk intubasi dan 0,15 mg/kg bolus
untuk rumatan. Dosis kecil 0,4 mg/kg dapat pulih 25 menit setelah
intubasi. IM (1 mg/kg untuk infant; 2 mg/kg untuk anak kecil)
adekuat pita suara dan paralisis diafragma untuk intubasi. Tapi
tidak sampai 3-6 menit dapat kembali sampai 1 jam. Untuk drip
5-12 mcg/kg/menit. Dapat memanjang pada pasien orang tua.
Onset cepat hampir mendekati suksinilkolin tapi harganya mahal.
Diberikan 20 detik sebelum propofol dan thiopental.
Rocuronium (0,1 mg/kg) cepat 90 detik dan efektif untuk
prekurasisasi sebelum suksinilkolin. Ada tendensi vagalitik.
4. Pemilihan Pelumpuh Otot
a. Karakteristik pelumpuh otot ideal:
1) Nondepolarisasi.
2) Onset cepat.
3) Duration of action dapat diprediksi, tidak mengakumulasi dan
dapat diantagoniskan dengan obat tertentu.
4) Tidak menginduksi pengeluaran histamin.
5) Potensi.
6) Sifat tidak berubah oleh gangguan ginjal maupun hati dan metabolit
tidak memiliki aksi farmakologi.
b. Durasi pembedahan memengaruhi pemilihan pelumpuh otot:
1) Ultra-short acting, contoh: suxamethonium.
2) Short duration, contoh: vacurium.
3) Intermediate duration, contoh: atracurium, vecuronium,
rocuronium, cisatracurium.
4) Long duration, contoh: pancuronium, D-tubocurarine, doxacurium,
pipecuronium.

c. Pelumpuh otot yang disarankan:


1) Untuk induksi yang cepat suxamethonium, atau apabila
dikontraindikasikan dapat dipakai rocuronium.
2) Untuk stabilitas hemodinamika (hipovolemia atau penyakit jantung
parah) vecuronium.
3) Pada gagal ginjal dan hati, atracurium, vekuronium, cisatracurium,
atau vacurium.
4) Miastenia gravis: jika dibutuhkan dosis 1/10 atrakurium.
5) Kasus obstetrik: semua dapat diberikan kecuali gallamin.
d. Tanda-tanda kekurangan pelumpuh otot
1) Cegukan (hiccup).
2) Dinding perut kaku.
3) Ada tahanan pada inflasi paru.
5. Obat Penawar Pelumpuh Otot
Pemulihan dapat dipercepat dengan pemberian obat
Antikolinesterase bekerja dengan menghambat kolinesterase sehingga
asetilkolin dapat bekerja. Antikolinesterase yang bekerja meningkatkan
jumlah asetilkolin dan juga bekerja pada sambungan saraf otot mencegah
asetilkolin asterase bekerja, sehingga asetilkolin dapat bekerja dan paling
sering digunakan adalah neostigmin (dosis 0,04-0,08 mg/kgBB),
piridostigmin (dosis 0,1-0,4 mg/kgBB) dan edrophonium (dosis 0,5-1,0
mg/kgBB), dan fisostigmin yang hanya untuk penggunaan oral (dosis 0,01-
0,03 mg/kg). Penawar pelumpuh otot bersifat muskarinik sehingga
menyebabkan hipersalivasi, keringatan, bradikardi, kejang bronkus,
hipermotilitas usus dan pandangan kabur sehingga pemberiannya harus
disertai vagolitik seperti atropine (dosis 0,01-0,02 mg/kgBB) atau
glikopirolat (dosis 0,005-0,01 mg/kgBB sampai 0,2-0,3 mg pada dewasa)
G. Antiemetik
Antiemetik adalah obat-obatan yang digunakan dalam penatalaksanaan
mual dan muntah. Antiemetik biasanya diberikan untuk mengobati penyakit
mabuk kendaraan dan efek samping dari analgesik opioid, anestetik
umum dan kemoterapi terhadap kanker.
Obat-obatan tersebut bekerja dengan cara mengurangi hiperaktifitas
refleks muntah menggunakan satu dari dua cara: secara lokal, untuk mengurangi
respons lokal terhadap stimulus yang dikirim ke medula guna memicu terjadinya
muntah, atau secara sentral, untuk menghambat CTZ secara langsung atau
menekan pusat muntah. Antiemetik yang bekerja secara lokal dapat berupa
anastid, anestesi lokal, adsorben, obat pelindung yang melapisi mukosa GI, atau
obat yang mencegah distensi dan menstimulasi peregangan saluran GI. Agen ini
sering kali digunakan untuk mengatasi mual yang ringan.
Antiemetik yang bekerja secara sentral terbagi atas beberapa kelompok:
fenootiazin, nonfenotiazin, penyekat reseptor serotonin (5-HT3),
antikolinergik/antihistamin, dan kelompok yang bermacam-macam. Dua jenis
fenotiazin yang umum digunakan adalah proklorperazin (compazine) dan
prometazin (phenergan) keduanya memiliki awitan yang cepat dan efek
merugikan yang terbatas.
Agen lainnya adalah dronabinol (marinol), yang mengandung bahan aktif
kanabis (mariyuana), hidroksizin (generik) yang dapat menekan area kortikol
pada SSP dan trimetobenzamid (tigan), ini serupa dengan antihistamin dan tidak
menimbulkan sedeasi. Trimetobenzamid sering kasli merupakan obat pilihan
dalam kelompok ini karena tidak dikaitkan dengann sedadi yang berlebihan dan
sepresi SSP. Obat ini tersedian dalam bentuk oral,parenteral,dan surositoria.
Obat ini diabrsorpsi dengan cepat, di metabolisme dalam hati dan diekskresi
melalui urine. Obat ini menembus plasenta dan menembus ASI, dan digunakan
jika manfaatnya lebih besar pada ibu dari pada resiko potensial pada janin atau
neonatus.
Hidroksizin digunakan untuk mual dan muntah sebelum dan sesudah
pelahiran atau pembedahan obsterik. Obat ini diabsorpsi dengan cepat,
dimetabolisme dalam hati dan diekskresi melalui urine. Obat ini tidak dikaitkan
dengan masalah pada janin selama kehamilan dan diperkirakan tidak masuk ke
ASI. Sama halnya dengan semua jenis obat, kewaspadaan perlu digunakan
selama kehamilan dan laktasi.
Dronabinol disetujui untuk penatalaksanaan mual dan muntah yang
berkaitan dengan kemoterapi kanker jika pasien tidak berespons terhadap
pengobatan lain. Mekanisme kerja obat ini masih belum diketahui dengan cepat.
Obat ini merupakan zat yang dikendalikan kategori C-III, dan harus digunakan
di bawah pengawasan ketat karena adanya kemungkinan perubahan status
mental. Obat ini diabsobsi dengan mudah dan dimetabolisme dalam hati dengan
ekskresi melalui empedu dan urine.
1. Jenis – jenis antiemetik
a. Perfenazin (trilafon)
1) Pengertian
Perfenazin merupakan obat anitiemetik yang paling sering diresepkan
karena obat ini dapat diberikan peroral, intramuskular, dan per rektal.
2) Farmakokinetika
Absorpsi bentuk padat oral dari perfenazin tidak menentu, tetapi
bentuk cairnya lebih stabil dan laju absorpsinya lebih cepat.
Presentase peningkatan pada protein dan waktu paruhnya tidak
diketahui. Perfenazin dimetabolisme oleh hati dan mukosa
gastrointestinal dan kebanyakan dari obat diekskresikan ke dalam
urine.
3) Farmakodinamik
Perfenazin menghambat dopamin pada CTZ, sehingga mengurangi
perangsangan CTZ pada pusat muntah. Obat ini juga dipakai sebagai
antipsikotik. Mula kerja dari perfenazin oral bervariasi dari 2 sampai
6 jam, dan lama kerjanya dari 6 sampai 12 jam. Mula kerja dari
perferazin intravena dan intramuskular cepat, dan lama kerjanya sama
dengan preparat oral.
4) Khasiat
Untuk Skizofrenia kronis atau akut, ansites berat, ansietas yang
disertai depresi, depresi karena penyakit organis, antiemetic terutama
pasca operasi.
5) Kategori keamanan untuk ibu hamil
Perfenazine menurut kategori spesifik menurut rute pemberiannya
(rute administration atau ROA) adalah secara per oral. Dan keamanan
obat dalam kehamilan masuk kedalam KATEGORI C yaitu studi
terhadap binatang percobaan memperlihatkan adanya efek-efek
samping pada janin (teratogenik atau embriosidal atau lainnya) dan
tidak ada studi terkontrol pada wanita, atau belum ada studi terkontrol
pada wanita dan binatang percobaan. Obat hanya boleh digunakan jika
besar manfaat yang diharapkan melebihi besar risiko terhadap janin.
6) Efek Samping
Efek samping antiemetik penotiazin adalah sedasi sedang, hipotensi
gelaja ekstrapirmidal, yang seperti perkinsonisme, efek SSP
(kegelisahan, kelemahan, reaksi distonik, agitasi), dan gejala
antikoligenik ringan (mulut kering, retensi air kemih,konstipasi).
Karenan dosis obat ini untuk muntah lebih ringan daripada dosis
psikosis, maka efek samping yang ditimbulkan juga tidak seberat bila
dipakai untuk psikosis.
7) Interaksi Obat dan Interaksi Makanan
Perfenazin berinteraksi dengan banyak obat. Jika perfenazin dipakai
bersama alkohol, anthihipertensi, dan nitrat maka dapat terjadi
hipotensi. Dapat pula terjadi bertambah beratnya depresi susunan saraf
pusat (SSP) jika obat ni dipakai bersama dengan alkohol, narkotik,
hipnotik-sedatif, dan anestetik umum. Efek antikoligenik akan
menigkat jika perfenazin dikombinasikan dengan antihistamin,
antikoligenik seperti atripin, dan fenotiazin lainnya. Hasil
pemeriksaan laboraturium dapat menunjukkan penigkatan kadar
enzim hati dan jantung, kolesterol dan gula darah dalam serum.
8) Dosis
Dosis umum: 8-16 mg/hari PO dalam dosis terbagi; 5-10 mg IM untuk
pengontrolan yang cepat, setiap 6 jam; 5 mg IV dalam dosis terbagi,
secara perlahan.
2. Penggolongan obat antiemetik :
a) Antagonis reseptor 5-HT3 - obat ini akan menghambat
reseptor serotonin pada sistem saraf pusat dan saluran pencernaan.
Obat ini juga dapat digunakan untuk mengobati mual dan muntah
akibat pasca-operasi dan sitotoksik obat. Serotonin Antagonists
merupakan obat yang paling sering diberikan untuk mengatasi mual
muntah pasien kemoterapi, radiasi, dan bedah. Lima jenis obat dari
kelas ini yang digunakan sebagai antiemesis adalah granisetron,
ondansetron, dolasetron, tropisetron dan palonosetron. Serotonin
antagonis bekerja dengan menghambat serotonin di otak dan usus.
Obat ini bisa ditolerir dengan baik dan sangat efektif. Contoh nama
obat :
1) Dolasetron
2) Granisetron
3) Ondansetron
4) Tropisetron
b) Antagonis dopamin bekerja pada otak dan digunakan untuk mengatasi
rasa mual dan muntah dan dihubungkan dengan penyakit neoplasma,
pusing karena radiasi, opioid, obat sitotoksik, dan anestetik umum.
Obat yang bekerja pada area dopamine, yakni domperidone. Obat ini
merupakan dopamine antagonis yang tidak benar-benar masuk ke
sistem saraf pusat. Profil domperidone sebagai antiemesis mirip
dengan metoklorpamida, namun domperidone memiliki efek
ekstrapiramida yang lebih ringan. Domperidone diberikan dalam
bentuk oral maupun parenteral. Pada orang sehat, domperidone akan
mempercepat pengosongan cairan lambung dan meningkatkan
tekanan oesophageal sphincter bagian bawah. Domperidone efektif
menghilangkan gejala dispepsia postprandial dan mual serta muntah
karena berbagai sebab. Melalui beberapa studi obat ini lebih superior
dibandingkan metoklopramida. Domperidone juga memiliki efek baik
lainnya. Studi oleh Orlando dkk dari Departemen Pediatrik, Farmasi
dan Perawat dari University of Western Ontario and St. Joseph's
Health Care London, menunjukkan pemberian domperidone jangka
pendek bisa meningkatkan produksi ASI pada perempuan yang
memiliki kadar produksi ASI rendah.
c) Antihistamin (antagonis reseptor histamin H1), efektif pada berbagai
kondisi, termasuk mabuk kendaraan dan mabuk pagi berat pada masa
kehamilan. Antihistamin mencegah mual dan muntah dengan cara
menghambat histamin dalam tubuh. Namun untuk pasien kemoterapi
efeknya kurang kuat. Dari kelas benzamida misalnya metoklopramida,
adalah antiemesis yang bekerja dengan menghambat dopamin.
d) Kanabinoid digunakan pasien dengan kakeksia, mual sitotoksik, dan
muntah atau karena tidak responsif pada agen lainnya. Dari golongan
Cannabinoid, dronabidol merupakan antiemesis untuk pasien yang
menjalani kemoterapi. Obat ini efektif diberikan dalam bentuk oral.
Deksametason dan metilprednisolon adalah dua obat dari golongan
kortikosteroid yang biasa digunakan sebagai antiemesis.
e) Benzodiazepin Dari kelas obat Benzodiazepin, lorazepam dan
alprazolam adalah dua obat yang biasa digunakan sebagai antiemesis.
Obat ini bisanya digunakan untuk gangguan kecemasan. Sebagai
monoterapi, obat ini kurang efektif untuk mual dan muntah pasien
kemoterapi dan radioterapi. Bisanya dikombinasikan dengan
serotonin antagonis dan kortikosteroid. Obat-obat antipsikotik dari
kelas Butrirofenon seperti haloperidol dan inapsine juga bisa
digunakan sebagai antiemesis pasien kemoterapi. Cara kerja dua obat
ini juga menghambat dopamine.
3. Obat Antiemetik
a. Ondansetron
Nama Branded Generik Produsen

Frazon Ferron

Narfoz Pharos

Kliran Bernofarm

Ondarin Yarindo Farmatama

Ondavell Novell Pharma


Trovensis Sanbe

Vomceran Kalbe Pharma

Vometraz Dexa Medica

Vometron Mahakam Medika Farma

b. Granisetron

Nama Branded Generik Produsen

Gramet Pharos

Granon Dexa Medica

Kytril Roche

c. Palonesetro

Nama Branded Generik Produsen

Paloxi Kalbe Farma


Sifat Obat Golongan Antagonis Serotonin

Obat Kimia Alam Antagonis Waktu Dosis

Reseptor Paruh

Ondansetron Carbazole Antagonis 3,9 jam 0,15 mg/ kg


resptor 5-HT3
derivatif
lemah 5-HT4
Granisetron Indazole Antagonis 9-11,6 jam 10 mg/ kg
dan antagonis
reseptor 5-
HT3
Dolasetron Indole Antagonis 7-9 jam 0,6-3 mg/
reseptor 5-
kg
HT3
Palonosetron Isoquinolone Antagonis 40 jam 0,25 mg x 1
reseptor 5-
dosis
HT3
(Goodman and Gilman, 2011)

H. Penanganan Nyeri post Anestesi


Operasi merupakan tindak pengobatan yang umumnya dilakukan dengan
memasukkan suatu alat kedalam tubuh dengan cara menampilkan bagian tubuh
yang akan ditangani (Sjamsuhidajat R, 2010). Proses perawatan pada pasien yang
telah melakukan operasi dikenal sebagai pascaoperasi. Dalam tindakan
perawatannya akan menimbulkan berbagai keluhan dan gejala, di mana yang
paling dominan adalah rasa nyeri.
Nyeri merupakan pengalaman sensoris dan emosional yang tidak
menyenangkan yang disertai oleh kerusakan jaringan secara potensial dan aktual.
Nyeri sering diasosiasikan dengan kerusakan jaringan, akan tetapi nyeri dapat saja
timbul tanpa adanya kerusakan, di mana nyeri timbul tanpa berhubungan dengan
sumber yang dapat diidentifikasikan. Berdasarkan mekanismenya, nyeri
melibatkan persepsi dan respon terhadap nyeri tersebut. Persepsi merupakan
proses yang subjektif, di mana tidak hanya berkaitan dengan proses fisiologis atau
anatomi saja, tetapi juga meliputi kognisi dan memori (Ardinata, 2007).
Analgesik terbagi atas dua golongan, yaitu analgesik opioid dan analgesik
nonopioid/NSAID (nonSteroid Anti Inflammatory Drug). Golongan opioid dapat
menghambat nyeri lebih kuat daripada NSAID dengan mengaktifkan reseptor μ
yang tersebar di berbagai tempat di otak, sehingga sinyal nosiseptif dihambat
secara sentral (Hargreavers K, 2006).
Sedangkan, NSAID bekerja di perifer yang secara spesifik menghambat
enzim siklooksigenase (COX), yang merupakan enzim penting dalam jalur asam
arakidonat untuk menghasilkan prostaglandin. Ketika ada stimulus, membran
fosfolipid akan menghasilkan fosfolipase-A2 yang kemudian menstimulasi asam
arakidonat untuk menghasilkan enzim COX dan membantu endoperoksida untuk
menghasilkan prostaglandin, prostasiklin, dan tromboksan.
Kelompok obat NSAID terbagi atas tiga kelas, yaitu analgesik sederhana,
NSAID nonselektif, dan inhibitor selektif COX-2. Analgesik sederhana seperti
parasetamol.
1. Analgesik non Opioid
Obat-obatan analgesik nonopioid yang paling umum digunakan
diseluruh dunia adalah aspirin, paracetamol, dan OAINS, yang merupakan
obat-obatan utama untuk nyeri ringan sampai sedang.
Aspirin adalah analgesik yang efektif dan tersedia secara luas di seluruh
dunia. Obat ini dikonsumsi per oral dan bekerja cepat karena segera
dimetabolisme menjadi asam salisilat yang memiliki sifat analgesik dan,
mungkin, anti-inflamasi. Dalam dosis terapeutik, asam salisilat memiliki
waktu paruh hingga 4 jam. Eksresinya tergantung oleh dosis, sehingga dosis
tinggi akan mengakibatkan obat diekskresi lebih lambat. Durasi kerja aspirin
dapat berkurang apabila diberika bersama-sama dengan antasida. Dosis
berkisar dari minimal 500 mg, per oral, setiap 4 jam hingga maksimum 4 g,
per oral per hari. Aspirin memiliki efek samping yang cukup besar pada
saluran pencernaan, menyebabkan mual, gangguan dan perdarahan
gastrointestinal akibat efek antiplateletnya yang irreversibel. Karena alasan
ini, penggunaan aspirin untuk pain relief pascaoperasi harus dihindari apabila
masih tersedia obat-obatan alternatif lainnya.
Obat Anti Inflamasi Non Steroid (OAINS) memiliki dua efek,
analgesik dan antiinflamasi. Mekanisme kerjanya didominasi oleh inhibisi
sintesis prostaglandin oleh enzim cyclo-oxygenase yang mengkatalisa
konversi asam arakidonat menjadi prostaglandin yang merupakan mediator
utama peradangan. Semua OAINS bekerja dengan cara yang sama dan
karenanya tidak ada gunanya memberi lebih dari satu OAINS pada satu waktu.
OAINS pada umumnya, lebih berguna bagi rasa sakit yang timbul dari
permukaan kulit, mukosa buccal, dan permukaan sendi tulang.
Pilihan OAINS harus dibuat berdasarkan ketersediaan, biaya dan
lamanya tindakan. Jika rasa sakit tampaknya akan terus-menerus selama
jangka waktu yang panjang maka dipilih obat dengan waktu paruh yang
panjang dan efek klinis yang lama. Namun, obat-obatan kelompok ini
memiliki insiden tinggi untuk efek samping penggunaan jangka panjang dan
harus digunakan dengan hati-hati. Semua OAINS mempunyai aktivitas
antiplatelet sehingga mengakibatkan pemanjangan waktu perdarahan. Obat-
obatan ini juga menghambat sintesis prostaglandin dalam mukosa lambung
dan dengan demikian menghasilkan pendarahan lambung sebagai efek
samping.
Kontraindikasi relatif untuk penggunaan OAINS, antara lain: setiap
riwayat ulkus peptikum, perdarahan gastrointestinal; operasi yang
berhubungan dengan kehilangan darah yang banyak, asma, gangguan ginjal
sedang hingga berat, dehidrasi dan setiap riwayat hipersensitif untuk OAINS
atau aspirin. Ibuprofen merupakan obat pilihan jika rute oral tersedia. Obat ini
secara klinis efektif, murah, dan memiliki profil efek samping yang lebih
rendah dibandingkan dengan OAINS dan asam mefenamat. Apabila rute oral
tidak tersedia obat dapat diberikan dengan rute lain seperti supositoria, injeksi
atau topikal. Aspirin dan sebagian besar OAINS tersedia sebagai supositoria
dan diserap dengan baik.

Tabel NSAID
Drug name Forms available Daily dose Half life (h)
range
Ibuprofen Tablet, syrup 600- 1200 mg 1-2
Diclofenac Tablet, suppository, injection, 75- 150 mg 1-2
cream
Naproxen Tablet, suspension, suppository 500- 1000 mg 14
Piroxicam Capsule, suppository, cream, 10- 30 mg 35+
injection
Ketorolac Tablet, injection 10- 30 mg 4
Indomethacin Capsule, suspension, suppository 50- 200 mg 4
Mefenamic Tablet, capsule 1500 mg 4
acid

2. Opioid Lemah
a. Codeine
Merupakan opioid lemah yang berasal dari opium alkaloid (seperti
morfin). Codeine kurang aktif daripada morfin, memi liki efek yang
dapat diprediksi bila diberikan secara oral dan efektif terhadap rasa sakit
ringan hingga sedang. Codeine dapat dikombinasikan dengan
parasetamol tetapi harus berhati-hati untuk tidak melampaui
maksimum dosis yang dianjurkan bila menggunakan kombinasi
parasetamol tablet. Dosis berkisar antara 15-60 mg setiap 4 jam dengan
maksimum 300 mg setiap hari. Dextropropoxyphene secara struktural
berkaitan dengan metadon tetapi memiliki sifat analgesik yang relatif
miskin. Hal ini sering dipasarkan dalam kombinasi dengan parasetamol
dan kewaspadaan yang sama seperti Codeine harus diawasi. Dosis
berkisar dari 32.5 mg (dalam kombinasi dengan parasetamol) sampai 60
mg setiap 4 jam dengan maksimum 300 mg setiap hari. Kombinasi opioid
lemah dan obat-obatan yang bekerja di perifer sangat berguna dalam
prosedur pembedahan kecil di mana rasa sakit yang berlebihan tidak
diantisipasi sebelumnya atau untuk rawat jalan digunakan: Parasetamol
500 mg/codeine 8 mg tablet, 2 tablet setiap 4 jam sampai maksimum 8
tablet per hari. Apabila analgesia tidak mencukupi. Parasetamol 1 g secara
oral dengan Codein 30-60 mg setiap 4-6 per jam sampai maksimum 4
dosis dapat digunakan.
b. Tramadol
Tramadol (tramal) adalah analgesik sentral dengan afinitas rendah
pada reseptor mu dan kelemahan analgesiknya 10-20 % dari morfin.
Tramal dapat diberikan secara oral dan dapat diulang setiap 4-6 jam
dengan dosis maksimal 400 mg per hari.

3. Opioid Kuat
Nyeri hebat yang berasal dari organ dalam dan struktur viseral
membutuhkan opioid kuat sebagai analgesianya. Rute oral mungkin tersedia
pada pasien yang telah sembuh dari pembedahan mayor sehingga opioid kuat
seperti morfin dapat digunakan karena morfin sangat efektif per oral. Bila
pasien tidak dapat mengkonsumsi obat melalui rute oral cara pemberian lain
harus dilakukan.
Tabel Opioid Kuat
Drug name Route of Dose Length of
delivery ( mg) Action (h)
Morphine Intramuscular/ 10-15 2-4
subcutaneous
Methadone Intramuscular 7.5-10 4-6
Pethidine/Meperidine Intramuscular 100- 1-2
150
Buprenorphine Sublingual 0.2-0.4 6-8
(Intravenous - half the IM dose slowly over 5 minutes)
a. Morfin
Morfin paling larut dalam air dibandingkan golongan opioid
lainnya dan kerja analgesinya cukup panjang (long acting). Morfin
memiliki dua sifat yang memengaruhi sistem saraf pusat (SSP), yaitu
depresi (analgesi, sedasi, perubahan emosi, dan hipoventilasi alveolar)
dan stimulasi (stimulasi parasimpatis, miosis, mual muntah, hiperaktif
refleks spinal, konvulsi, dan sekresi hormon anti diuretik/ADH). Morfin
juga menyebabkan hipotensi ortostatik. Kontraindikasi pemakaian morfin
pada kasus asma dan bronkitis kronis karena efek bronko kontriksinya.
Efek sampingnya juga menyebabkan pruritus, konstipasi, dan retensio
urin. Morfin dapat diberikan secara sub kutan, intra muskular, intra vena,
epidural, dan intra tekal. Dosis anjuran untuk mengurangi nyeri sedang
adalah 0,1-0,2 mg/kgBB secara sub kutan, intra muskular dan dapat
diulang tiap 4 jam. Untuk nyeri hebat dewasa dapat diberikan 1-2 mg intra
vena dan diulang sesuai kebutuhan. Untuk megurangi nyeri dewasa paska
bedah dan nyeri persalinan digunakan dosis 2-4 mg epidural atau 0,05-
0,2 mg intra tekal, dan ini dapat diulang antara 6-12 jam.
b. Petidin
Petidin (meperidin, Demerol) adalah zat sintetik yang formulanya
sangat berbeda dengan morfin, tetapi memiliki efek klinik dan efek
samping yang mendekati asma. Perbedaan dengan morfin adalah sebagai
berikut:
1) Petidin lebih larut dalam lemak dibandingkan dengan morfin yang
lebih larut dalam air.
2) Metabolisme oleh hepar lebih cepat dan menghasilkan normeperidin,
asam meperidinat dan asam normeperidinat.
3) Petidin bersifat seperti atropin menyebabkan kekeringan mulut,
kekaburan pandangan, dan takikardi.
4) Seperti morfin, dapat menyebabkan konstipasi, tetapi efek terhadap
sfingter Oddi lebih ringan.
5) Petidin cukup efektif untuk menghilangkan gemetar pascabedah yang
tidak ada hubungan dengan hipotermi dengan dosis 20-25 mg iv pada
dewasa. Sedangkan morfin tidak.
6) Lama kerja petidin lebih pendek daripada morfin.
c. Fentanil
Fentanil adalah zat sintetik seperti petidin dengan kekuatan 100 kali
morfin, lebih larut dalam lemak dan menembus sawar jaringan dengan
mudah. Efek depresi nafas lebih lama dibandingkan dengan efek
analgesiknya. Dosis 1-3 µg/kgBB analgesiknya berlangsung kira-kira 30
menit, karena itu hanya digunakan untuk anestesi pembedahan dan tidak
untuk pascabedah.
4. Anestesi Lokal
Respirasi dan kardiovaskuler pasien terkait dengan berkurangnya
perdarahan dan nyeri yang teratasi dengan baik. Ada beberapa teknik anestesi
lokal sederhana yang dapat dilanjutkan ke periode pasca-operasi untuk
memberikan pain relief yang efektif.
Infiltrasi luka dengan obat anestesi lokal berdurasi panjang seperti
Bupivacaine dapat memberikan analgesia yang efektif selama beberapa jam.
Apabila nyeri berlanjut, dapat diberikan suntikan ulang atau dengan
menggunakan infus. Blokade pleksus atau saraf perifer akan memberikan
analgesia selektif di bagian-bagian tubuh yang terkait oleh pleksus atau saraf
tersebut.
Anestesi lokal yang digunakan untuk nyeri akut
Agent % Duratio Max. % Comments
solution n single solution
for (hour) dose for
analgesic mg/kg. infusion
blocks
Lignocaine
Infiltration 0.5-1 1-2 7 - Rapid onset.
Epidural 1-2 1-2 (500) 0.3-0.7 Dense motor block.
Plexus or 0.75-1.5 1-3 0.5-1.0
nerve
Mepivacaine
Infiltration 0.5-1 1.5-3 7 - Rapid onset.
Epidural 1-2 1.5-3 (500) 0.3-0.7 Dense motor block.
Plexus or 0.75-1.5 2-4 0.5-1.0 Longer action than
nerve lignocaine.
Prilocaine
Infiltration 0.5-1 1-2 8.5 - Rapid onset.
Epidural 2-3 1-3 (600) 0.5-1 Dense motor block.
Plexus or 1.5-2 1.5-3 0.75-1.25 Least toxic amide agent.
nerve Methaema- globinaemia
>600 mg
Bupivacaine
Infiltration 0.125-0.25 1.5-6 3.5 - Avoid 0.75% in
Epidural 0.25-0.75 1.5-5 (225) 0.0625- obstetrics. Mainly
0.125 sensory block at low
Plexus or 0.25-0.5 8-24+ 0.125- concen- trations.
nerve 0.25 Cardiotoxic after rapid
IV injection.
Chloroprocaine
Infiltration 1 0.5-1 14 - Lowest systemic toxicity
of all agents. Motor /
sensory deficits may
follow intrathecal
injection.

5. Manajemen non Farmakologi


Selain menggunakan terapi farmakologi, dalam penanganan nyeri juga dapat
dilakukan dengan terapi nonfarmakologi. Berikut ini merupakan tabel yang
menyajikan terapi nonfarmakologi yang sering dipakai
DAFTAR PUSTAKA

Latief, Said A., dkk. 2002. Buku Praktis Anestiologi, Bagian Anestiologi dan
Terapi Intensif. Jakarta: FKUI.

Mangku, dr, Sp. An. KIC & Senapathi, dr, Sp. An. 2010. Buku Ajar Ilmu Anestesi dan
Reanimasi. Jakarta: PT. Indeks.

http://www.scribd.com/agustina_agus, diakses tanggal 24 Agustus 2019.