Anda di halaman 1dari 39

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yaitu setiap perbuatan terhadap
anggota keluarga, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atas penderitaan secara fisik,
seksual, psikologi, dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk
melakukan perbuatan, pemaksaan, dan perampasan kemerdekaan seseorang melawan
hukum dalam lingkungan rumah tangga. Ada beberapa faktor penyebab terjadinya
kekerasan dalam rumah tangga antara lain hidup dalam kemiskinan / himpitan ekonomi,
sejak kecil terbiasa melihat dan mengalami kekerasan dalam rumah tangga, pemabuk,
frustasi, kelainan jiwa, tidak adanya pengertian antara suami isteri mengenai hak dan
kewajiban dalam membina keluarga.1
KDRT merupakan bentuk kekerasan yang terbanyak dialami perempuan dari
tahun ke tahun.Catatan tahunan Komnas Perempuan sejak tahun 2001 sampai 2007
menunjukkan peningkatan pelaporan adalah sebanyak 5 kali lipat. Sebelum Undang-
Undang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT), dalam rentang
2001-2004, jumlah yang dilaporkan adalah sebanyak 9.662 kasus. Sejak
diberlakukannya UU PKDRT, terhimpun sebanyak 53.704 kasus KDRT yang dilaporkan
pada tahun 2005-2007.1
Indonesia memiliki UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan
Dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) yang kemudian mulai diberlakukan pada tahun
2005. Kehadiran UU PKDRT dengan tegas menyatakan tindakan kekerasan fisik,
psikologis, seksual dan penelantaran yang dilakukan di dalam lingkup rumah tangga
sebagai sebuah tindakan pidana. Bahkan Undang-Undang ini melindungi hak
perempuan untuk bebas dari marital rape atau perkosaan dalam perkawinan. Undang-
Undang ini tidak hanya dilengkapi dengan pengaturan sanksi tetapi juga tentang hukum
acaranya karena KDRT adalah isu yang membutuhkan penanganan khusus. Termasuk di
dalamnya adalah tentang kewajiban negara memberikan perlindungan segera kepada
korban yang melapor. Ini adalah sebuah terobosan hukum yang sangat penting bagi
upaya penegakan HAM pada umumnya, mengingat sampai hari ini pun belum ada lagi
sistem perlindungan untuk sanksi dan korban.1

1
1.2. Perumusan Masalah
Perumusan masalah yang diambil dalam pokok bahasan ini adalah:
 Apakah pengertian KDRT?
 Apa pengaruh KDRT dalam rumah tangga?
 Apa peran dokter dalam memberikan bantuan terhadap korban KDRT?

1.3. Tujuan
Tujuan penulisan referat ini adalah untuk menjelaskan pengertian KDRT,
pengaruhnya terhadap rumah tangga dan peran dokter dalam memberikan bantuan
terhadap korban KDRT.

1.4. Manfaat
Penulisan referat ini diharapkan dapat membantu mahasiswa dalam mengetahui
apa yang dimaksud dengan KDRT dan memahami peran dokter dalam memberikan
bantuan terhadap kasus KDRT.

BAB II

2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Sejarah UU PKDRT No.23 Tahun 2004


Kekerasan rumah tangga telah menjadi wacana tersendiri, perempuan dan juga
anak-anak merupakan korban utama dari kekerasan rumah tangga yang seharusnya
memperoleh perlindungan hukum. Salah satu persoalan yang mendapat perhatian serius
dari gerakan hak perempuan pada 5 tahun pertama dari era reformasi adalah kekerasan
dalam rumah tangga (KDRT) khususnya kekerasan yang dilakukan suami terhadap istri
dan oleh orang tua terhadap anak. Pada masa itu, kasus-kasus KDRT sulit untuk
diselesaikan secara hukum. Hukum pidana Indonesia tidak mengenla KDRT, bahkan
kata-kata kekerasan pun tidak ditemukan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP). Kasus-kasus pemukulan suami terhadap istri atau orang tua terhadap anak
diselesaikan dengan menggunaka pasal tentang penganiayaan, yang kemudian sulit
sekali dipenuhi unsure-unsur pembuktiannya, sehingga kasus yang diadukan, tidak lagi
ditindak lanjuti.1
Penanganan kasus KDRT ini memberikan inisiatif kepada LBH advokasi untuk
perempuan Indonesia dan keadilan (APIK) bersama dengan lembaga swadaya
masyarakat lainnya yang terganbung dalam Jaringan Kerja Advokasi Anti Kekerasan
Terhadap Perempuan (Jangka PKTP) untuk menyiapkan RUU anti KDRT. RUU anti
KDRT ini telah disiapkan oleh LBH APIK dan Jangka PKTP sejak tahun 1998 melalui
dialog public. Persiapan ini termasuk lama mengingat isu KDRT masih kurang dikenal
oleh masyarakat. 1
Tujuan adanya RUU ini diharapkan mampu menghilangkan atau meminimalisasi
tindak pidana KDRT. Dari data dan fakta dilapangan yang ditemukan, pihak yang sering
menjadi korban adalah perempuan dan anak-anak. Jumlah korban KDRT mengalami
peningkatan dari hari ke hari. Akan tetapi penegak hukum dalam pencapaian keadilan
bagi korban KDRT berbanding menunjukkan angka yang terbalik dengan jumlah
korban. Selain itu dengan adanya UU KDRT diharapkan anggota keluarga mampu
menghargai hak dan kewajiban masing-masing dan tidak bertindak yang semena-mena. 1
Persoalan KDRT merupakan fenomena gunung es yang hanya kelihatan
puncaknya sedikit tetapi tidak menunjukkan data yang valid. Padahal dalam kehidupan
sehari-hari kasus KDRT ini sering ditemukan. Dalam menangani kasus KDRT maka
Negara kita telah memiliki undang-undang No. 23 tahun 2004 tentang Penghapusan
Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang disahkan tanggal 22 September 2004. Dengan

3
undang-undang ini diharapkan terjadi penurunan kasus KDRT dan terlindunginya hak
dan kewajiban anggota keluarga. 1
Catatan tahunan komnas perempuan sejak tahun 2001 sampai dengan 2007
menunjukkan peningkatan laporan adalah sebanyak 5 kali lipat. Sebelum UUPKDRT,
yaitu dalam rentang 2001-2004, jumlah yang dilaporkan adalah atau sebanyak 9.662
kasus. Sejak diberlakukannya UUPKDRT, 2005-2007, terhimpun sebanyak 53.704
kasus KDRT yang dilaporkan. 1

2.2. Penjelasan UU PKDRT


Pengertian Kekerasan Dalam Rumah Tangga
Kekerasan dalam rumah tangga adalah setiap perbuatan terhadap
seseorang terutama perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau
penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan ataau penelantaran rumah
tangga termasuk ancaman untuk melaporkan perbuatan, pemaksaan atau
perampasan kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup rumah tangga
(Ps 1 angka 1). 2
Lingkup Rumah Tangga
Yang termasuk cakupan rumah tangga menurut pasal 2 UU-PKDRT adalah:
1. Suami, istri dan anak (termasuk anak angkat dan anak tiri)
2. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan orang sebgaimana
disebutkan diatas karena hubungan darah, perkawinan (misalnya mertua,
menantu, ipar, dan besan), persusuan, pengasuhan, dan perwalian, yang
menetap dalam rumah tangga dan atau
3. Prang yang bekerja membantu rumah tangga dan menetap dalam rumah
tangga tersebut, dalam jangka waktu selama berada dalam rumah tangga
yang bersangkutan (Ps 2 (2)).2
Asas Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Ps 3)
1. Penghormatan hak asasi manusia
2. Keadilan dan kesejahteraan gender, yakni suatu keadaan dimana perempuan
dan laki-laki menikmati status yang setara dan memiliki kondisi yang sama
untuk mewujudkan secara penuh hak-hak asasi dan potensinya bagi
keutuhan dan kelangsungan rumah tangga secara proporsional.

Tujuan Penghapuan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Ps 4)


1. Mencegah segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga
2. Melindungi korban kekerasan dalam rumah tangga
3. Menindak pelaku kekerasan dalam rumah tangga
4. Memelihara keutuhan rumah tangga yang harmonis dan sejahtera. 2

4
Bentuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga
1. Kekerasan fisik, yakni perbuatan yang mengakibatkan rasa sakit, jatuh sakit,
atau luka berat (Ps 5 jo 6)
2. Kekerasan psikis, yakni perbuatan yang mengakibatkan ketakutan, hilangnya
rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, rasa tidak berdaya,
dan atau penderitaan psikis berat pada seseorang (Ps 5 jo 7)
3. Kekerasan seksual, yakni setiap perbuatan yang berupa pemaksaan
hubungan seksuak, pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak wajar
dan atau tidak disukai, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain
untuk tujuan komersial dan dan atau tujuan tertentu (Ps 5 jo 8), yang
meliputi:
a. Pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang
menetap dalam lingkup rumah tangga tersebut
b. Pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang dalam lingkup
rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan atau
tujuan tertentu
4. Penelantaran rumah tangga, yakni perbuatan penelantaran orang dalam
lingkup rumah tangga, padahal menurut hukum yang berlaku bagi yang
bersangkutan atau karena persetujuan atau perjanjian ia wajib memberikan
kehidupan, perawatan atau pemeliharaan terhadap orang tersebut.
Penelantaran juga berlaku bagi setiap orang yang mengakibatkan
ketergantungan ekonomi dengan cara membatasi dan atau melarang untuk
bekerja yang layak didalam atau diluar rumah sehingga korban berada
dibawah kendali orang tersebut (ps 5 jo 9).2

Hak-Hak Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Ps 10)


1. Perlindungan dari pihak keluarga, kepolisian, kejaksaan, pengadilan,
advokat, lembaga sosial, atau pihak lainnya baik sementara maupun
berdasarkan penetapan pemerintah perlindungan dari pengadilan.
2. Pelayanan kesehatan sesuai dengan kebutuhan medis
3. Penanganan secara khusus berkaitan dengan kerahasiaan korban
4. Pendampingan oleh pekerja social dan bantuan hukum pada setiap tingkat
proses pemeriksaan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan
5. Pelayanan bimbingan rohani.2

Kewajiban Pemerintah

5
Pemerintah (cq. Menteri Pemberdayaan Perempuan) bertanggung jawab
dalam upaya pencegahan kekerasan dalam rumah tangga (Ps11). Oleh
karenanya, sebagai pelaksanaan tanggung jawab tersebut, pemerintah (Ps 12):
1. Merumuskan kebijakan penghapusan kekerasan dalam rumah tangga
2. Menyelenggarakan komunikasi, informasi dan edukasi tentang kekerasan
dalam rumah tangga
3. Menyelenggarakan advokasi dan sosialisasi tentang kekerasan dalam rumah
tangga.
4. Menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan sensitive gender dan isu
kekerasan dalam rumah tangga serta menetapkan standard dan akreditasi
pelayanan yang sensitive gender.2
Selanjutnya menurut pasal 13, untuk penyelenggaraan pelayanan terhadap
korban kekerasan dalam rumah tangga, pemerintah dan pemerintah daerah
sesuai dengan fungsi dan tugasnya masing-masing dapat melakukan upaya:
1. Penyediaan ruang pelayanan khusus (RPK) di kantor kepolisian
2. Penyediaan aparat, tenaga kesehatan, pekerja sosial dan pembimbing rohani
3. Pembuatan dan pegembangan sistem dan mekanisme kerja sama program
pelayanan yang melibatkan pihak yang mudah diakses oleh korban
4. Memberikan perlindungan bagi pendamping, saksi, keluarga, dan teman
korban.
Dalam penyelenggaraan upaya-upaya tersebut, pemerintah dan pemerintah
daerah dapat melakukan kerja sama dengan masyarakat atau lembaga sosial
lainnya (ps 14).
Kewajiban Masyarakat (Ps 15)
Sesuai batas kemampuannya,setiap orang yang mendengar, melihat, atau
mengetahui terjadinya kekerasan dalam rumah tangga wajib melakukan upaya
untuk :
1. mencegah berlangsungnya tindak pidana
2. memberikan perlindungan pada korban
3. memberikan pertolongan darurat
4. membantu proses pengajuan permohonan penetapan perlindungan

Pelaporan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (Ps 26)


Korban berhak melaporkan secara langsung atau memberikan kuasa pada
keluarga atau orang lain tentang kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya
kepada kepolisian, baik ditenpat korban berada atau ditempat kejadian perkara.
Dalam hal korban adalah seoranv anak,laporan dapat dilakukan oleh orang
tua,wali, pengasuh atau anak yang bersangkutan (ps 27)

6
Bentuk Perlindungan/Pelayanan Bagi Korban KDRT
KEPOLISIAN
1. Dalam waktu 1x24 jam terhitung sejak mengetahui atau menerima laporan
KDRT, polisi wajib segera memberikan perlindungan sementara pada korban
(ps 16 (1)).
2. Dalam waktu 1x24 jam terhitung sejak pemberian perlindungan sementara
kepolisian wajib meminta surat penetapan perintah perlindungan dari
pengadilan (ps (16 (3)).
3. Kepolisian wajib memberikan keterangan pada korban tentang hak korban
untuk mendapat pelayanan dan pendampingan (ps 18)
4. Kepolisian wajib segera melakukan penyelidikan setelah mengetahui atau
menerima laporan tentang terjadinya KDRT (Ps 19)
5. Kepolisian segera menyampaikan pada korban tentang:
1. identitas petugas untuk pengenalan pada korban
2. KDRT adalah kejahatan terhadap martabat kemanusiaan
3. kewajiban kepolisian untuk melindungi korban (ps 20)

TENAGA KESEHATAN (ps 21(1)):


1. Memeriksa kesehatan korban sesuai standar profesi
2. Membuat laporan tertulis hasil pemeriksaan terhadap korban dan visum et
repertum atas permintaan penyidik kepolisian atau surat keterangan medis yang
memiliki kekuatan hukum yang sama sebagai alat bukti. pelayanan kesehatan
dilakukan disarana kesehatan milik pemerintah, pemerintah daerah, atau
masyarakat (ps 21 (2)).

PEKERJA SOSIAL (ps 22 (2)):


Melakukan konseling untuk menguatkan dan memberikan rasa aman bagi
korban.
1. Memberikan informasi mengenai hak-hak korban untuk mendapatkan
perlindungan dari kepolisian dan penetapan perintah perlindungan dari
pengadilan
2. Mengantarkan kotban ke rumah aman atau tempat tinggal alternatif
3. Melakukan koordinasi yang terpadu dalam memberikan layanan kepada
korban dengan pibak kepolisian,dinas sosial, lembaga sosial yang dibutuhkan
korban. Pelayanan pekerja sosial dilakukan di rumah milik
pemerintah,pemerintah daerah atau masyarakat (ps 22(2)).

RELAWAN PENDAMPING (Ps 23):

7
Relawan pendamping aalah orang yang mempunyai keahlian untuk
melakukan konseling, terapi, dan advokasi guna penguatan dan pemulihan diri
korban kekerasan. Bentuk pelayanannya adalah:
1 Menginformasikan pada korban akan haknya untuk mendapat seorang atau
beberapa orang pendamping
1 Mendampingi korban di tingkat penyidikan, penuntutan atau tingkat
pemeriksaan pengadilan dengan membimbing korban untuk secara objektif
dan lengkap memaparkan kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya.
2 Mendengarkan secara empati segala penuturan korban sehingga korban
merasa aman didampingi oleh pendamping.
3 Memberikan dengan aktif penguatan secara psikologis dan fisik pada
korban.

PEMBIMBING ROHANI (ps 24):


Memberikan penjelasan mengenai hak,kewajiban,dan memberikan penguatan
iman dan taqwa pada korban.

ADVOKAT (Ps 25):


1. Memberikan konsultasi hukum yang mencakup informasi mengenai hak-hak
korban dan proses peradilan
2. Mendampingi korban di tingkat penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan
dalam sidang pengadilan dan membantu korban untuk secara lengkap
memaparkan kekerasan dalam rumah tangga yang dialaminya
3. Melakukan koordinasi dengan sesama penegak hukum, relawan pendamping,
dan pekerja sosial agar proses peradilan berjalan sebagaimana mestinya

PENGADILAN
1 Ketua pengadilan dalam tenggang waktu 7 hari sejak diterimanya
permohonan wajib mengeluarkan surat penetapan yang berisi perintah
perlindungan bagi korban dan anggota keluarga lain, kecuali ada alasan yang
patut (ps 28).
2 permohonan korban atau kuasanya, pengadilan dapat mempertimbangkan
untuk (ps 31 (1)):
a.menetapkan suatu kondisi khusus, yakni pembatasan gerak pelaku,
larangan memasuki tempat tinggal bersama, larangan membuntuti,
mengawasi atau mengintimidasi korban. atau membatalkan suatu.kondisi
khusus dari perintah perlindungan.
Pertimbangan pengadilan dimaksud dapat diajukan bersama dengan proses

8
pengajuan perkara kekerasan dalam rumah tangga (ps 31 (2)).
3. Pengadilan dapat menyatakan satu atau lebih tambahan perintah perlindungan
(ps 33 (1)). Dalam pemberian tambahan perintah perlindungan,pengadilan wajib
mempertimbangkan keterangan dari korban, tenaga kesehatan, pekerja sosial,
relawan pendamping dan atau pembimbing rohani (ps 33 (2)).
4. Pertimbangan bahaya yang mungkin timbul, pengadilan dapat menyatakan
satu atau lebih tambahan kondisi dalam perintah perlindungan dengan kewajiban
mempertimbangkan keterangan dari korban, tenaga kesehatan, pekerja sosial,
relawan pendamping, dan atau pembimbing rohani (ps 34).

Pelanggaran Perintah Perlindungan


1. Kepolisian dapat menangkap untuk selanjutnya melakukan penahanan tanpa surat
perintah terhadap pelaku yang diyakini telah melanggar perintah perlundungan,
walaupun pelanggaran tersebut tidak dilakukan ditempat polisi itu bertugas (ps 35
(1)).
2. Untuk memberikan perlindungan kepada korban, kepolisian dapat menangkap
pelaku dengan bukti permulaan yang cukup karena telah melanggar perintah
perlibdungan (ps 36 (1)).
3. Penangkapan dapat dilanjutkan dengan penahanan yang disertai surat perintah
penahanan dalam waktu 1x24 jam (ps 36 (2)).
4. Korban, kepolisian, atau relawan pendamping dapat mengajukan laporan secara
tertulis tentang adanya dugaaan pelanggaran erhadap perintah perlindungan (ps 37
(1)). Bilamana pengadilan mendapat laporan tertulis tentang danya dugaan
pelanggaran erhadap perintah perlindungan ini, pelaku diperintahkan menghadap
dalam waktu 3x24 jam guna dilakukan pemerikaaan,ditempat pelaku pernah tinggal
bersama dengan korban paa waktu pelanggaran diduga terjadi (ps 37 (2) (3)).
5. Apabila pengadilan mengetahui bahwa pelaku telah melanggar perintah
perlindungan. dan diduga akan melakukan pelanggaran lebih lanjut, maka
Pengadilan dapat mewajibkan pelaku untuk membuat pernyataan tertulis yang
isinya bwrupa kesanggupan untuk mematuhi perintah perlindungan (ps 38 (1)).
Bilamana tap tidak mengindahkan surat pernyataan ertulis tersebut, pengadilan
dapat menahan (dengan surat pwrintah penahanan) pelaku paling lama 30 hari (ps
38 (2)).

Pemulihan Korban

9
Untuk kepentingan pemulihan, korban dapat memperoleh pelayanan dari:
1 Tenaga kesehatan; Tenaga kesehatan wajib memeriksa korban sesuai dengan standar
profesi dan dalam hal korban memerlukan perawatan, tenaga kesehatan wajib
memulihkan dan merehabilitasi kesehatan korban
2 Pekerja sosial
3 Relawan pendamping
4 Pembimbing rohani
Pekerja sosial, relawan pendamping dan atau pembimbing rohani wajib memberikan
pelayanan kepada korban dalam bentuk pemberian konseling untuk menguatkan dan
atau memberikan rasa aman bagi korban.

2.3. Aspek Hukum KDRT


Ketentuan Pidana
KEKERASAN FISIK DELIK ANCAMAN SANKSI
a. Kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga yaitu penjara paling lama 5
(lima) tahun; atau denda paling banyak Rp 15 juta.
b. Kekerasan fisik yang mengakibatkan korban mendapat jatuh sakit atau luka
berat yaitu penjara paling lambat 10 (sepuluh tahun)
c. Kekerasan fisik yang mengakibatkan matinya korban yaitu penjara paling
lama15 (lima belas) tahun atau denda paling banyak Rp 45 juta
d. Kekerasan fisik yang dilakukan suammi terhadap isteri atau sebaliknya yang
tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan
jabatan atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari yaitu penjara paling
lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp 3 juta.

KEKERASAN SEKSUAL DELIK ANCAMAN SAKSI


a. Kekerasan seksual yaitu penjara paling lama 12 tahun atau denda paling
banyak Rp 36 juta
b. Memaksa orang yang menetap dalam rumah tangganya melakukan hubungan
seksual yaitu penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 15 tahun atau
denda paling sedikit Rp 12 juta dan paling banyak Rp 300 juta
c. Mengakibatkan korban mendapat luka yang tidak memberi harapan akan
sembuh sama sekali, mengalami gangguan daya pikir atau kejiawaan
sekurang-kurangnya selama 4 minggu terus menerus atau 1 tahun tidak
berturut-turut, gugur atau matinya janin dalam kandungan, atau
mengakibatkan tidak berfungsinya alat reproduksi yaitu penjara paling
singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun atau denda paling sedikit 25 juta
dan paling banyak 500 juta.

10
PENELANTARAN RUMAH TANGGA DELIK ANCAMAN SAKSI
Menelantarkan orang lain dalam lingkup rumah tangga; atau menelantarkan
orang lain yang berada dibawah kendali yaitu penjara paling lama 3 tahun atau
denda paling banyak 15 juta.
Pidana Tambahan
Selain ancaman pidana penjara dan/atau denda tersebut diatas, hakim dapat
menjatuhkan pidana tambahan berupa:
a. Pembatasan Gerak perilaku baik yang bertujuan untuk menjauhkan pelaku
dari korban dalam jarak dan waktu tertentu maupun pembatasan hak-hak
tertentu dari pelaku
b. Penetapan pelaku mengikuti program konseling dibawah pengawasan
lembaga tertentu.

2.4. Macam-Macam Kekerasan Dalam Rumah Tangga


2.4.1. Kekerasan Terhadap Istri
2.4.1.1. Pendahuluan
Tindak kekerasan di dalam rumah tangga (domestic violence)
merupakan jenis kejahatan yang kurang mendapatkan perhatian dan
jangkauan hukum. Tindak kekerasan di dalam rumah tangga pada
umumnya melibatkan pelaku dan korban diantara anggota keluarga di
dalam rumah tangga, sedangkan bentuk tindak kekerasan bisa berupa
kekerasan fisik dan kekerasan verbal (ancaman kekerasan). Pelaku dan
korban tindak kekerasan di dalam rumah tangga bisa menimpa siapa saja,
tidak dibatasi oleh strata, status sosial, tingkat pendidikan, dan suku
bangsa.4
Pelaporan Kasus KDRT Pasca Undang-Undang PKDRT
2004 2005 2006 2007 Jumlah
Istri 1.782 4.886 1.348 17.772 25.788
Pacar 251 421 552 469 1.693
Anak 321 635 816 776 2.548
Pembantu 71 87 73 236 467
Dari tabel di atas, diketahui bahwa korban terbanyak dalam kasus
KDRT adalah istri, atau mencapai 85% dari total korban. Anak
perempuan adalah korban terbanyak ketiga terbanyak setelah pacar. Pada
kasus kekerasan dengan korban anak, ada juga kasus dimana pelakunya
adalah perempuan dalam statusnya sebagai ibu. Menurut pengamatan
Komnas Perlindungan Anak, sebagian besar ibu yang menjadi pelaku
11
KDRT adalah sudah terlebih dahulu menjadi korban kekerasan oleh
suaminya, atau berada dalam tekanan ekonomi yang luar biasa akibat
pemiskinan yang dialami oleh kebanyakan anggota masyarakat tempat ia
tinggal.4
Tindak kekerasan pada istri dalam rumah tangga merupakan
masalah sosial yang serius, akan tetapi kurang mendapat tanggapan dari
masyarakat dan para penegak hukum karena beberapa alasan, pertama :
ketiadaaan statistik kriminal yang akurat, kedua : tindak kekerasan pada
istri dalam rumah tangga memiliki ruang lingkup sangat pribadi dan
terjaga privacynya berkaitan dengan kesucian dan keharmonisan rumah
tangga (sanctitive of the home), ketiga : tindak kekerasan pada istri
dianggap wajar karena hak suami sebagai pemimpin dan kepala keluarga,
keempat : tindak kekerasan pada istri dalam rumah tangga terjadi dalam
lembaga legal yaitu perkawinan.4
Sebagian besar perempuan sering bereaksi pasif dan apatis
terhadap tindak kekerasan yang dihadapi. Ini memantapkan kondisi
tersembunyi terjadinya tindak kekerasan pada istri yang diperbuat oleh
suami. Kenyataan ini menyebabkan minimnya respon masyarakat
terhadap tindakan yang dilakukan suami dalam ikatan pernikahan. Istri
memendam sendiri persoalan tersebut, tidak tahu bagaimana
menyelesaikan dan semakin yakin pada anggapan yang keliru, suami
dominan terhadap istri. Rumah tangga, keluarga merupakan suatu
institusi sosial paling kecil dan bersifat otonom, sehingga menjadi
wilayah domestik yang tertutup dari jangkauan kekuasaan publik.4

2.4.1.2. Insidensi
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rifka Annisa Womsis Crisis
Centre (RAWCC, 1995) tentang kekerasan dalam rumah tangga terhadap
262 responden (istri) menunjukkan 48% perempuan (istri) mengalami
kekerasan verbal, dan 2% mengalami kekerasan fisik. Tingkat
pendidikan dan pekerjaan suami (pelaku) menyebar dari Sekolah Dasar
sampai Perguruan Tinggi (S2); pekerjaan dari wiraswasta, PNS, BUMN,

12
ABRI. Korban (istri) yang bekerja dan tidak bekerja mengalami
kekerasan termasuk penghasilan istri yang lebih besar dari suami.5
Hasil penelittian kekerasan pada istri di Aceh yang dilakukan
oleh Flower (1998) mengidentifikasi dari 100 responden tersebut ada 76
orang merespon dan hasilnya 37 orang mengatakan pernah mengalami
tindak kekerasan dalam rumah tangga, kekerasan berupa psikologis (32
orang), kekerasan seksual (11 orang), kekerasan ekonomi (19 orang),
kekerasan fisik (11 orang). Temuan lain sebagian responden tidak hanya
mengalami satu kekerasan saja. Dari 37 responden, 20 responden
mengalami lebih dari satu kekerasan, biasanya dimulai dengan perbedaan
pendapat antara istri (korban) dengan suami lalu muncul pernyataan-
pernyataan yang menyakitkan korban, bila situasi semakin panas maka
suami melakukan kekerasan fisik.5
Dari penelitian ini terungkap bahwa sebagai suami yang
melakukan tindak kekerasan kepada istri meyakini kebenaran
tindakannya itu, karena perilaku istri dianggap tidak menurut kepada
suami, melalaikan pekerjaan rumah tangga, cemburu, pergi tanpa pamit.
Hal ini diyakini oleh pihak istri, sehingga mereka mengalami kekerasan
dari suaminya dan cenderung diam tidak membantah.5

2.4.1.3. Bentuk kekerasan terhadap istri


Adapun faktor-faktor terjadinya kekerasan terhadap perempuan
dalam rumah tangga khususnya yang dilakukan oleh suami terhadap istri
sebagai berikut:5
1. Adanya hubungan kekuasaan yang tidak seimbang antara
suami dan istri.
Anggapan bahwa suami lebih berkuasa dari pada istri telah
terkonstruk sedemikian rupa dalam keluarga dan kultur serta
struktur masyarakat. Bahwa istri adalah milik suami oleh
karena harus melaksanakan segala yang diinginkan oleh yang
memiliki. Hal ini menyebabkan suami menjadi merasa
berkuasa dan akhirnya bersikap sewenang-wenang terhadap
istrinya. Jika sudah demikian halnya maka ketimpangan

13
hubungan kekuasaan antara suami dan istri akan selalu
menjadi akar dari perilaku keras dalam rumah tangga.
2. Ketergantungan ekonomi
Faktor ketergantungan istri dalam hal ekonomi kepada suami
memaksa istri untuk menuruti semua keinginan suami
meskipun ia merasa menderita. Bahkan, sekalipun tindakan
keras dilakukan kepada ia tetap enggan untuk melaporkan
penderitaannya dengan pertimbangan demi kelangsungan
hidup dirinya dan pendidikan anak-anaknya. Hal ini
dimanfaatkan oleh suami untuk bertindak sewenang-wenang
kepada istrinya.
3. Kekerasan sebagai alat untuk menyelesaikan konflik
Faktor ini merupakan faktor dominan ketiga dari kasus
kekerasan dalam rumah tangga. Biasanya kekerasan ini
dilakukan sebagai pelampiasan dari ketersinggungan atau
kekecewaan karena tidak dipenuhinya keinginan, kemudian
dilakukan tindakan kekerasan dengan tujuan istri dapat
memenuhi keinginannya dan tidak melakukan perlawanan.
Hal ini didasari oleh anggapan bahwa jika perempuan rewel
maka harus diperlakukan secara keras agar ia menjadi
penurut. Anggapan di atas membuktikan bahwa suami sering
menggunakan kelebihan fisiknya dalam menyelesaikan
problem rumah tangganya.
4. Persaingan
Jika di muka telah diterangkan mengenai fakor pertama
kekerasan dalam rumah tangga adalah ketimpangan hubungan
kekuasaan antara suami dan istri. Maka disisi lain,
perimbangan antara suami dan istri, baik dalam hal
pendidikan, pergaulan, penguasaan ekonomi baik yang
mereka alami sejak masih kuliah, dilingkungan kerja, dan
lingkungan masyarakat dimana mereka tinggal dapat
menimbulkan terjadinya kekerasan dalam rumah tangga.
Bahwa di satu sisi suami tidak mau kalah, sementara di sisi
lain istri juga tidak mau terbelakang dan dikekang.
5. Frustasi

14
Terkadang pula suami melakukan kekerasan terhadap istrinya
karena merasa frustasi tidak bisa melakukan sesuatu yang
semestinya menjadi tanggung jawabnya. Hal ini biasanya
terjadi pada pasangan yang belum siap kawin, suami belum
memiliki pekerjaan dan penghasilan tetap yang mencukupi
kebutuhan rumah tangga dan masih serba terbatas dalam
kebebasan karena masih menumpang pada orang tua atau
mertua.Dalam kasus ini biasanya suami mencari pelarian
kepada mabuk-mabukkan dan perbuatan negatif lain yang
berujung pada pelampiasan terhadap istrinya dengan
memarahinya, memukulnya, membentaknya dan tindakan lain
yang semacamnya.
6. Kesempatan yang kurang bagi perempuan dalam proses
hukum
Pembicaraan tentang proses hukum dalam kasus kekerasan
dalam rumah tangga tidak terlepas dari pembicaraan hak dan
kewajiban suami istri. Hal ini penting karena bisa jadi laporan
korban kepada aparat hukum dianggap bukan sebagai
tindakan kriminal tapi hanya kesalahpahaman dalam
keluarga. Hal ini juga terlihat dari minimalnya KUHAP
membicarakan mengenai hak dn kewajiban istri sebagai
korban, karena posisi dia hanya sebagai saksi pelapor atau
saksi korban. Dalam proses sidang pengadilan, sangat minim
kesempatan istri untuk mengungkapkan kekerasan yang ia
alami.
Banyak pihak yang masih belum mau mengakui adanya praktek
pemaksaan hubungan seksual dalam perkawinan. Memang kasus ini
tidak banyak terangkap karena korban lebih sering menyembunyikan
penderitaan yang dialaminya. Menganggap apa yang dialaminya adalah
hal yang tabu untuk diketahui orang lain.6
Sebagian masyarakat masih berpendapat bahwa tidak ada yang
namanya perkosaan dalam perkawinan. Menurut mereka, setiap
hubungan seksual yang berlangsung antara suami istri, terlebih dalam

15
ikatan yang sah secara hukum dan agama adalah suatu kewajaran dan
rutinitas yang memang sudah seharusnya dilakukan. Anggapan lain di
masyarakat yang tidak tepat adalah istri tidak boleh menolak ajakan
suami untuk berhubungan seksual. Kuatnya anggapan tersebut
menyebabkan ketika suami melakukan pemaksaan dan kekerasan seksual
terhadap istri, kecenderungan masyarakat adalah justru menyalahkan
istri. Apalagi jika istri menolak, mereka akan dipandang sebagai istri
yang melawan suami. Bagi mereka, istri harus selalu siap melayani
kapanpun suami menginginkan hubungan seksual. Padahal, adakalanya
istri sedang tidak bergairah, sedang menstruasi atau tertidur karena
kelelahan sesudah beraktivitas seharian, baik itu di luar ataupun di dalam
rumah.6
Tidak jarang pula ada suami yang memaksa melakukan variasi
hubungan seksual dengan gaya atau cara yang tidak ingin dilakukan oleh
si istri karena istri menganggapnya di luar kewajaran. Sebagai
perempuan yang memiliki tubuhnya sendiri, istri tentu memiliki hak
untuk mengatakan tidak dan menolak setiap bentuk hubungan seksual
yang tidak diinginkannya. Dengan demikian, penting untuk dicamkan
bahwa perkosaan dalam perkawinan adalah setiap hubungan seksual
dalam ikatan perkawinan yang berlangsung tanpa persetujuan bersama,
dilakukan dengan paksaan, dibawah ancaman atau dengan kekerasan.6
Sehingga, jika ada suami yang memaksa istrinya untuk
melakukan hubungan seksual padahal istri tidak menginginkannya, maka
itu termasuk tindak perkosaan.7
Berikut adalah beberapa variasi kasus pemaksaan hubungan
seksual yang kerap terjadi maupun kasus-kasus yang pernah ditangani
oleh LBH APIK Jakarta:7
1. Pemaksaan hubungan seksual sesuai selera seksual suami.
Istri dipaksa melakukan anal seks (memasukkan penis ke
dalam anus), oral seks (memasukkan penis ke dalam mulut)
dan bentuk-bentuk hubungan seksual lainnya yang tidak
dikehendaki istri.
2. Pemaksaan hubungan seksual saat istri tertidur

16
3. Pemaksaan hubungan seksual berkali-kali dalam satu waktu
yang sama sementara istri tidak menyanggupinya
4. Pemaksaan hubungan seksual oleh suami yang sedang mabuk
atau menggunakan obat perangsang untuk memperpanjang
hubungan intim tanpa persetujuan bersama dan istri tidak
menginginkannya
5. Memaksa istri mengeluarkan suara rintihan untuk menabah
gairah seksual. Pemaksaan hubungan seksual saat istri sedang
haid/menstruasi.
6. Pemaksaan hubungan seksual dengan menggunakan
kekerasan psikis seperti mengeluarkan ancaman serta caci
maki
7. Melakukan kekerasan fisik atau hal-hal yang menyakiti fisik
istri seperti memasukkan benda-benda ke dalam vagina istri,
mengoleskan balsem ke vagina istri, menggunting rambut
kemaluan istri dan bentuk kekerasan fisik lainnya.
Mengenai hukuman bagi pelaku, ditegaskan dalam pasal 46 UU
PKDRT ini yang menyatakan para pelaku pemaksaan hubungan seksual
dalam rumah tangga diancam hukuman pidana penjara paling lama 12
(dua belas) tahun atau denda paling banyak Rp 36.000.000 (tiga puluh
enam juta rupiah).7

2.4.1.4. KDRT terhadap istri


Karena kekerasan sebagaimana tersebut di atas terjadi dalam
rumah tangga, maka penderitaan akibat kekerasan ini tidak hanya dialami
oleh istri saja tetapi juga anak-anaknya. Adapun dampak kekerasan
dalam rumah tangga yang menimpa istri adalah :8
- Kekerasan fisik langsung atau tidak langsung dapat
mengakibatkan istri menderita rasa sakit fisik dikarenakan
luka sebagai akibat tindakan kekerasan tersebut.
- Kekerasan seksual dapat mengakibatkan turun atau bahkan
hilangnya gairah seks, karena istri menjadi ketakutan dan
tidak bisa merespon secara normal ajakan berhubungan seks.

17
- Kekerasan psikologis dapat berdampak istri merasa tertekan,
shock, trauma, rasa takut, marah, emosi tinggi dan meledak-
ledak, kuper, serta depresi yang mendalam.
- Kekerasan ekonomi mengakibatkan terbatasinya pemenuhan
kebutuhan sehari-hari yang diperlukan istri dan anak-
anaknya.
Kekerasan terhadap istri juga d menimbulkan dampak jangka
panjang, terutama pada kekerasan yang berulang dan berlangsung lama
seperti pada kekerasan dalam rumah tangga. Dampak tersebut dapat
berupa ketidakharmonisan keluarga yang berakibat kepada terganggunya
pertumbuhan dan perkembangan anak, child abuse, “cycle of violence”,
gangguan perkembangan mental dan perilaku seksual dll.9

2.4.2. Kekerasan Terhadap Anak


2.4.2.1. Pendahuluan
Secara umum kekerasan didefinisikan sebagai suatu tindakan
yang dilakukan satu individu terhadap individu lain yang mengakibatkan
gangguan fisik dan atau mental. Yang dimaksud dengan anak ialah
individu yang belum mencapai usia 18 tahun. Oleh karena itu, kekerasan
pada anak adalah tindakan yang dilakukan seseorang/individu pada
mereka yang belum genap berusia 18 tahun yang menyebabkan kondisi
fisik dan atau mentalnya terganggu. Seringkali istilah kekerasan pada
anak ini dikaitkan dalam arti sempit dengan tidak terpenuhinya hak anak
untuk mendapat perlindungan dari tindak kekerasan dan eksploitasi.
Kekerasan pada anak juga seringkali dihubungkan dengan lapis pertama
dan kedua pemberi atau penanggung jawab pemenuhan hak anak, yaitu
orang tua (ayah dan ibu) dan keluarga. Kekerasan yang disebut terakhir
ini dikenal dengan perlakuan salah terhadap anak atau child abuse yang
merupakan bagian dari kekerasan dalam rumah tangga (domestic
violence). 10,11
Bentuk kekerasan terhadap anak tentunya tidak hanya berupa
kekerasan fisik saja, seperti penganiayaan, pembunuhan, maupun

18
perkosaan, melainkan juga kekerasan nonfisik seperti, kekerasan
ekonomi, psikis.
1. Fisik (dianiaya di luar batas: dipukul, dijambak, ditendang, diinjak,
dicubit, dicekik, dicakar, dijewer, disetrika, disiram air panas, dsb)
2. Psikis (dihina, dicaci maki, diejek, dipaksa melakukan sesuatu yang
tidak dikehendaki, dibentak, dimarahi, dihardik, diancam, dsb)
3. Seksual (diperkosa, disodomi, diraba-raba alat kelaminnya, diremas-
remas payudaranya, dicolek pantatnya, diraba-raba pahanya, dipaksa
melakukan oral seks, dijual pada mucikari, dipaksa menjadi pelacur,
dipaksa bekerja di warung remang-remang dan pelecehan seksual
lainnya.
4. Ekonomi (dipaksa bekerja menjadi pemulung, dipaksa mengamen,
dipaksa menjadi pembantu rumah tangga, dipaksa mengemis, dsb)
Kekerasan pada anak atau perlakuan salah pada anak adalah suatu
tindakan semena-mena yang dilakukan oleh seseorang yang seharusnya
menjaga dan melindungi anak (caretaker) pada seorang anak baik secara
fisik, seksual, maupun emosi. Pelaku kekerasan disini karena bertindak
sebagai caretaker, maka mereka umumnya merupakan orang terdekat di
sekitar anak. Ibu dan bapak kandung, ibu dan bapak tiri, kakek, nenek,
paman, supir pribadi, guru, tukang ojek pengantar ke sekolah, tukang
kebon, dan seterusnya.12
Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002
tentang Perlindungan Anak, Unicef, Indonesia. Banyak teori yang
berusaha menerangkan bagaimana kekerasan ini terjadi, salah satu
diantaranya teori yang berhubungan dengan stres dalam keluarga (family
stress). Stres dalam keluarga tersebut bisa berasal dari anak, orang tua,
atau situasi tertentu.12
Stres berasal dari anak misalnya anak dengan kondisi fisik,
mental, perilaku yang terlihat berbeda dengan anak pada umumnya. Bayi
dan usia balita, serta anak dengan penyakit kronis atau menahun juga
merupakan salah satu penyebab stress.
1. Stres yang berasal dari orang tua misalnya orang tua dengan
gangguan jiwa (psikosis atau neurosa), orang tua sebagai korban

19
kekerasan di masa lalu, orang tua terlampau perfek dengan harapan
pada anak terlampau tinggi, orang tua terbiasa dengan sikap disiplin.
2. Stres berasal dari situasi tertentu, misalnya terkena PHK (pemutusan
hubungan kerja) atau pengangguran, pindah lingkungan, dnakeluarga
sering bertengkar.12
Dengan adanya stres dalam keluarga dan faktor sosial budaya
yang kental dengan ketidaksetaraan dalam hak dan kesempatan, sikap
permisif terhadap hukuman badan sebagai bagian dari mendidik anak,
maka para pelaku makin merasa sah untuk mendera anak. Dengan sedikit
faktor pemicu, biasanya berkaitan dengan tangisan tanpa henti dan
ketidakpatuhan para pelaku, terjadilah penganiayaan pada anak yang
tidak jarang membawa malapetaka bagi anak dan keluarganya.12

2.4.2.2. Insidensi
Pada saat ini di Indonesia berbagai masalah seakan tidak pernah
berhenti, mulai dari krisis ekonomi yang berkepanjangan, krisis politik
yang berkelanjutan, kerusuhan hingga perseteruan di antara kelompok,
golongan maupun aparat negara yang saat ini sedang marak. Masalah
sosial sudah menjadi topik yang hangat dibicarakan, misalnya masalah
kemiskinan, kejahatan, dan juga kesenjangan sosial, begitu pula dengan
berbagai kasus kekerasan yang kerap terjadi belakangan ini. Setiap
bulannya terdapat 30 kasus kekerasan yang diadukan oleh korbannya
kepada lembaga konseling Yayasan Kesejahteraan Anak Indonesia.
Sebanyak 60% merupakan korban kekerasan ringan, berupa kekerasan
verbal atau caci maki, sedangkan 40% sisanya mengalami kekerasan
fisik hingga seksual. Kasus kekerasan terhadap pria, wanita, maupun
anakpun sering menjadi headline di berbagai media. Namun, banyak
kasus yang belum terungkap karena kasus kekerasan ini dianggap
sebagai suatu hal yang tidak penting, terutama masalah kekerasan yang
terjadi pada anak-anak. Begitu banyak kasus kekerasan yang terjadi pada
anak tetapi hanya sedikit kasus yang ditindaklanjuti. Padahal, seorang
anak merupakan generasi penerus bangsa. Kehidupan masa kecil anak

20
sangat berpengaruh terhadap sikap mental dan moral anak ketika dewasa
nanti.13
Kenyataannya, masih banyak anak Indonesia yang belum
memperoleh jaminan terpenuhinya hak-haknya, antara lain banyak yang
menjadi korban kekerasan, penelataran, eksploitasi, perlakuan salah,
diskriminasi, dan perlakuan tidak manusiawi. Semua tindakan kekerasan
kepada anak-anak direkam dalam bawah sadar mereka dan dibawa
sampai kepada masa dewasa, dan terus sepanjang hidupnya. Tindakan-
tindakan di atas dapat dikatagorikan sebagai child abuse atau perlakuan
kejam terhadap anak-anak. Child abuse itu sendiri berkisar sejak
pengabaian anak sampai kepada pemerkosaan dan pembunuhan. Terry E.
Lawson, psikiater anak membagi child abuse menjadi empat macam,
yaitu emosional abuse, terjadi ketika si ibu setelah mengetahui anaknya
memeinta perhatian, mengabaikan anak itu. Si ibu membiarkan anak
basah atau lapar karena ibu terlalu sibuk atau tidak ingin diganggu pada
waktu itu. Si ibu boleh jadi mengabaikan kebutuhan anak untuk dipeluk
atau dilindungi.13
Anak akan mengingat semua kekerasan emosional jika kekerasan
emosional itu berlangsung konsisten. Verbal abuse terjadi ketika si ibu
setelah mengetahui anaknya meminta perhatian, menyuruh anak itu
untuk “diam” atau “jangan menangis”. Jika si anak mulai berbicara, ibu
terus-menerus menggunakan kekerasan verbal, seperti ,”kamu bodoh”,
“kamu cerewet”, “kamu kurang ajar”, dan seterusnya. Physical abuse
terjadi ketika si ibu memukul anak dengan tangan atau kayu, kulit, atau
logam akan diingat anak itu. Sexual abuse, biasanya tidak terjadi selama
delapan belas bulan pertama dalam kehidupan anak. Walaupun ada
beberapa kasus ketika anak perempuan menderita kekerasan seksual
dalam usia enam bulan.13
Bedasarkan data yang didapat dari Yayasan Kesejahteraan Anak
Indonesia melalui Center for Tourism Research and Development
Universitas Gajah Mada, mengenai berita tentang child abuse yang
terjadi dari tahun 1992-2002 di 7 kota besar, yaitu Medan, palembang,

21
Jakarta, Semarang, Surabaya, Ujung Pandang, dan Kupang, ditemukan
bahwa ada 3969 kasus dengan rincian sexual abuse 65.8%, physical
abuse 19.6%, emotional abuse 6.3%, dan child neglect 8.3%.14

Berdasarkan kategori usia korban:


1. Kasus sexual abuse: persentase tertinggi usia 6-12 tahun (33%) dan
terendah 0-5 tahun (7,7%)
2. Kasus physical abuse: persentase tertinggi usia 0-5 tahun (32.3%)
dan terendah usia 13-15 tahun (16.2%)
3. Kasus emotional abuse: persentase tertinggi usia 6-12 tahun (28.8)
dan terendah usia 16-18 tahun (0.9%). Jurnal pendidikan Penabur-
No.03/Th.III/ Desember 2004 131 Tindakan Kekerasan pada Anak
dalam Keluarga.
4. Kasus child neglect: persentase tertinggi usia 0-5 tahun (74.7%) dan
terendah usia 16-18 tahun (6.0%)
Berdasarkan tempat terjadinya kekerasan:
1. Kasus sexual abuse: rumah (48.7%), sekolah(4.6%), tempat umum
(6.1%), tempat kerja (3.0%), dan tempat lainnya-diantaranya motel,
hotel, dll (37.6%)
2. Kasus physical abuse: rumah (25.5%), sekolah(10.0%), tempat
umum (22.0%), tempat kerja (5.8%), dan tempat lainnya (36.6%)
3. Kasus emotional abuse: rumah (30.1%), sekolah (13.0%), tempat
umum (16.1%), tempat kerja (2.1), dan tempat lainnya (38.9%)
4. Kasus child neglect: rumah (18.8%), sekolah (1.9%), tempat umum
(33.8%), tempat kerja (1.9%), dan tempat lainnya (43.5%)
Tindakan kekerasan adalah salah satu problem sosisal yang besar
pada masyarakat modern. Problem sosial adalah pola perilaku
masyarakat atau sejumlah besar anggota masyarakat yang secara meluas
tidak dikehendaki masyarakat tetapi disebabkan oleh faktor-faktor sosial
dan diperlukan tindakan soisal untuk menghadapinya. Tanpa kita sadari,
child abuse sering terjadi di sekitar kita, seperti anak-anak kecil yang
bekerja di jalan raya, pantai, pabrik, atau tempat berbahaya lainnya juga
perkelahian antar pelajar, atau mungkin hal tersebut terjadi pada salah
seorang anggota keluarga kita. Ada satu jawaban atas semua pertanyaan
di atas yaitu bahwa kekerasan pada anak-anak memang sudah menjadi

22
problem sosial di negeri ini. Karena itulah tulisan ini mencoba untuk
lebih menyadarkan masyarakat terhadap kekerasan pada anak-anak.14

2.4.2.3. Hak Anak dan Instrumen Hukum serta Pasal


Konvensi Hak Anak
Telah terdapat banyak hukum yang tujuan utamanya untuk
melindungi anak-anak. Pada tahun 1224 melapisi anggaran dasar dari
Winchester membatasi wanita untuk membawa balita di tempat tidur
bersamanya. Pembunuhan balita masih dianggap kejahatan kecil
dibandingkan pembunuhan, namun pembunuhan pada tahun pertama
kehidupan masih 5-10 kali lebih tinggi daripada tingkat usia lainnya
dengan rata-rata 66 per 1.000.000.000 penduduk.14
Undang-undang nomor 23 tahun 2003 Tentang Perlindungan
Anak, pasal 4 menyebutkan bahwa: “setiap anak berhak untuk dapat
hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara wajar sesuai
dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan
dari kekerasan dan diskriminasi.”
Kebanyakan negara memiliki hukum yang melarang incest.
Incest menjadi kejahatan kriminal di Inggris pada tahun 1908, walaupun
ini sudah jelas merupakan kejahatan kriminal dari tahun 1650 sampai
1660. Terutama pada tahun 1909 kejahatan ini dihukum dengan
pengadilan Gereja Kristen.14
Umur legal yang diperhitungkan bervariasi dari negara satu
dengan negara yang lain dan antara negara bagian di Amerika. Di Inggris
berlaku umur 16 tahun dan secara teori ditujukan untuk mengurangi
penganiayaan seksual dan eksploitasi. Mrazek (1982) mencatat bahwa
ahli antropologi sudah mendokumentasikan bahwa semua golongan
masyarakat memiliki pandangan yang serupa tentang tabu terhadap
incest dengan atau tanpa saksi atau hukuman kriminal yang formal. Ini
memberikan gambaran bahwa semua golongan masyarakat memiliki
kecenderungan unutk menghadapi masalah incest.14
Lebih banyak hukum dan hukum gabungan yang baru dalam the
Children Act (1989) saat ini adalah berdasarkan berbagai pengalaman

23
dalam praktek perawatan anak pada tengah abad terakhir ini. Beberapa
cara pemeriksaan untuk memeriksa kasus kematian Maria Colwell
(DHSS 1974) telah menyebabkan perubahan dalam praktek dan
perundang-undangan
Hak setiap anak adalah:
1. Untuk dilahirkan, untuk memiliki nama dan kewarganegaraan
2. Untuk memiliki keluarga yang menyayangi dan mengasihi
3. Untuk hidup dalam komunitas yang aman, damai, dan lingkungan
yang sehat
4. Untuk mendapatkan makanan yang cukup dan tubuh yang sehat dan
aktif
5. Untuk mendapatkan pendidikan yang baik dan mengembangkan
potensinya
6. Untuk diberikan kesempatan bermainan waktu santai
7. Untuk dilindungi dari penyiksaan, eksploitasi, penyia-siaan,
kekerasan, dan dari marabahaya
8. Untuk dipertahankan dan diberikan bantuan oleh pemerintah.

Konvensi Hak Anak


Pasal 2
Negara-negara peserta akan menghormati dan menjamin hak-hak
yang ditetapkan dalam konvensi ini dan setiap anak dalam wilayah
hukum mereka tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun, tanpa
memandang ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pandangan
politik, atau pandangan lain, asal usul bangsa, asal-usul etnik, atau sosial,
kekayaan, ketidakmampuan, kelahiran, atau status lain atau anak, atau
dan orang tua anak atau walinya yang sah menurut hukum.
Pasal 3
1. Dalam semua tindakan yang menyangkut anak-anak, baik yang
dilakukan oleh lembaga-lembaga kesejahteraan sosial pemerintah
atau swasta, lembaga peradilan, lembaga pemerintahan, maupun
badan legislatif, kepentingan terbaik dan anak-anak harus menjadi
pertimbangan utama

24
2. Negara-negara peserta berupaya untuk menjamin adanya
perlindungan dan perawatan sedemikian rupa yang diperlukan untuk
kesejahteraan anak.
Pasal 6
1. Negara-negara Peserta mengakui bahwa setiap anak memiliki hak
kodrati atas kehidupan.
2. Negara-negara Peserta semaksimal mungkin akan menjamin
kelangsungan hidup dan tumbuh kembang anak
Pasal13
Anak mempunyai hak atas kebebasan untuk menyatajan
pendapat; hak ini mencakup kebebasan untuk mencari, menerima, dan
memberi segala macam informasi dan gagasan terlepas dari batas
wilayah, baik secara lisan, tertulis atau cetakan, dalam bentuk karya seni
maupun melalui media lain sesuai dengan pilihan anak yang
bersangkutan.
Pasal 19
Negara-Negara Peserta akan mengambil langkah legislatif,
administratif, sosial, dan pendidikan yang layak guna melindungi anak
dan semua bentuk kekerasan fisik atau mental, cedera atau
penyalahgunaan, pengabaian atau tindakan penelantaran, perlakuan
salah, atau eksploitasi, termasuk penyalahgunaan seksual, sementara
mereka berada dalam pengasuhan orang tua, wali yang sah atau setiap
orang lain yang merawat anak.
Pasal 23
Negara-negara Peserta mengakui bahwa anak-anak yang cacat
fisik atau mental hendaknya menikmati kehidupan penuh dan layak,
dalam kondisi-kondisi yang menjamin martabat, meningkatkan percaya
diri dan mempermudah peran aktif anak dalam masyarakat.
Pasal 28
Negara-negara Peserta mengakui hak atasw anak pendidikan, dan
untuk mewujudkan hak ini secara bertahap dan berdasarkan kesempatan
yang sama, Negara-negara Peserta secara khusus akan:

25
a. Membuat pendidikan dasar suatu kewajiban dan tersedia secara
Cuma-Cuma untuk semua anak;
b. Mendorong pengembangan bentuk-bentuk pendidikan menengah
yang berbeda, termasuk pendidikan umum dan kejuruan,
menyediakan pendidikan tersebut untuk setiap anak, dan mengambil
langkah – langkah yang tepat seperti penerapan pendidikan cuma-
cuma dan menawarkan bantuan keuangan bila diperlukan;
Pasal 29
a. Negara-negara Peserta sependapat bahwa pendidikan anak akan
diarahkan pada;
b. Pengembangan kepribadian anak, bakat dan kemampuan mental dan
fisik hingga mencapai potensi mereka sepenuhnya;
c. Pengembangan penghormatan atas hak-hak azasi manusia dan
kemerdekaan hakiki, serta terhadap prinsip-prinsip yang diabadikan
dalam Piagam PBB.
d. Pengembangan rasa hormat kepada orangtua, identitas budaya,
bahasa dan nilai-nilainya, nilai-nilai kebangsaan dan negara tempat
anak tersebut bertempat tinggal, berasal, dan kepada peradaban-
peradaban yang berbeda dan peradabannya sendiri.
e. Persiapan anak untuk kehidupan yang bertanggung jawab dalam
suatu masyarakat yang bebas, dalam semangat saling pengertian,
perdamaian, toleransi, persamaan jenis kelamin, dan persahabatan
antara sesama, kelompok-kelompok etnik, bangsa dan agama dan
orang-orang pribumi.
f. Pengembangan rasa hormat kepada lingkungan alam
Pasal 30
Di negara-negara dimana terdapat kelompok-kelompok minoritas
suku bangsa, agama atau pribumi seperti itu tidak akan disangkal haknya
dalam bermasyarakat dengan anggota-anggota lain dan kelompoknya,
untuk menikmati budayanya sendiri, untuk melaksanakan ajaran
agamanya sendiri, atau menggunakan bahasanya sendiri.
Pasal 32
Negara-negara Peserta mengakui hak anak untuk dilindungi dan
eksploitasi ekonomi dan dari pelaksanaan setiap pekerjaan yang mungkin

26
berbahaya atau mengganggu pendidikan anak, atau membahayakan
kesehatan atau perkembangan fisik, mental, spiritual, moral atau sosial
anak.
Pasal 34
Negara-negara Peserta berusaha untuk melindungi anak dan
semua bentuk eksploitasi seksual dan penyalahgunaan seksual. Untuk
tujuan ini, Negara-negara Peserta secara khusus akan mengambil
langkah-lamgkah nasional, bilateral dan multilateral untuk mencegah :
a. Bujukan atau pemaksaan terhadap anak untuk melakukan kegiatan
seksual yang tidak sah;
b. Penggunaan anak secara eksploitstif dalam pelacuran atau praktek-
praktek seksual lain yang tidak sah;
c. Penggunaan anak secara eksploitatif dalam pertunjukkan-
pertunjukkan dan bahan-bahan pornografis.

2.4.2.4. Dampak kekerasan terhadap anak


1. Dampak jangka pendek
Umumnya dampak jangka pendek kekerasan adalah cedera fisik
yang diderita oleh korban (luka-luka, patah tulang, kehilangan fungsi alat
tubuh atau indera, dll), gejala sisa di bidang kesehatan dan psikologis,
serta dampak terhadap pendidikan dan pertumbuhan anak terutama bila
dalam kasus kekerasan rumah tangga.
2. Dampak jangka panjang
Banyak penelitian yang telah membuktikan bahwa anak-anak
yang tumbuh dari keluarga yang biasa dengan kekerasan terhadap
perempuan atau juga terhadap anak, akan melakukan perbuatan yang
sama pada saat mereka menjadi dewasa dan berumahtangga sendiri.
Anak laki-laki belajar dari ayahnya dalam melakukan kekerasan terhadap
istrinya, sedangkan anak perempuan belajar dari ibunya untuk menjadi
korban kekerasan. Masyarakat luas telah menerima teori bahwa
kekerasan adalah perilaku yang diperoleh dari belajar dan bersifat siklik.
Jaffe dkk mengatakan bahwa anak laki-laki yang tumbuh dari
keluarga dengan kekerasan akan lebih mungkin mengalami kesulitan
penyesuaian dan manifestasi menjadi masalah perilaku. Bahkan Fischer
yang melakukan studi longitudinal selama 30 tahun mengatakan bahwa

27
adanya pertengkaran dan kekerasan yang dilakukan orang tuanya selama
ia kanak-kanak merupakan prediksi yang bermakna untuk timbulnya
kejahatan terhadap orang pada saat ia dewasa kelak, seperti penyerangan,
percobaan perkosaan, perkosaan, percobaan pembunuhan, penculikan
dan pembunuhan, tetapi tidak prediktif untuk kejahatan terhadap barang.

2.4.2.5. Pola Penanganan Kasus Kekerasan Anak


Prinsip penanganan kasus kekerasan anak sesuai KHA yaitu non
diskriminasi, kepentingan terbaik anak, menghormati pendapat anak, dan
mengutamakan hak anak demi kelangsungan hidup dan tumbuh
kembang.
Indikator keberhasilan penanganan kekerasan bagi anak:
1. Sembuhnya trauma anak, baik fisik maupun psikis
2. Penempatan anak dalam keluarga sendiri, keluarga asuh, keluarga
angkat atau panti sosial asuhan anak berdasar pada kepentingan yang
terbaik untuk anak
3. Terpenuhinya semua kebutuhan fisik, mental dan sosial secara
optimal
4. Semakin meningkatnya kemampuan anak untuk berinteraksi dengan
lingkungan sosialnya.
Seperti halnya dalam penanganan kekerasan dalam rumah tangga
pada umumnya, dokter dan paramedis berperan dalam penanganan
korban yang mengalami trauma baik fisik, seksual ataupun psikis yang
memerlukan bantuan baik secara medis maupun konseling. Selain
sebagai penyedia layanan medis, dan menghadirkan bukti medis melalui
pembuatan visum et repertum. Rumah sakit merupakan bagian penting
dalam proses penyidikan kekerasan yang terjadi.

2.4.3. Kekerasan terhadap Pembantu Rumah Tangga


2.4.3.1. Pendahuluan
Jika terjadi kekerasan emosional/psikologikal atau kekerasan
akibat finansial dan peristiwa tersebut belum mempunyai tanda seperti
kekerasan fisik. Di samping itu juga korban belum memperoleh
advokasi. Laju biduk perkawinan merupakan hasil kerja sama antara

28
suami dan istri serta anak-anak. Pada akhirnya ketergantungan
merupakan sikap umum perempuan. Suatu sikap yang ingin dilindungi
dan dipelihara.15
Perlu diketahui bahwa batasan pengertian Penghapusan
Kekerasan Dalam Rumah Tangga (PKDRT) yang terdapat di dalam
Undang-Undang No.23 tahun 2004 adalah ; “setiap perbuatan terhadap
seseorang terutama perempuan, yang berak ibat timbulnya
kesengsaraan, atau penderitaan secara fisik, seksual psikologis, dan/ atau
penelantaran rumah tangga, termasuk ancaman untuk melakukan
perbuatan, pemaksaan, atau perampasan kemerdekaan secara melawan
hukum dalam lingkungan rumah tangga” (pasal 1 ayat 1).15
Mengingat UU tentang KDRT merupakan hukum publik yang di
dalamnya ada ancaman pidana penjara atau denda bagi yang
melanggarnya, maka masyarakat luas khususnya kaum lelaki, dalam
kedudukan sebagai kepala keluarga sebaiknya mengetahui apa itu
kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Adapun tentang siapa saja yang termasuk dalam lingkup rumah
tangga adalah :
1. Suami, istri, dan anak, termasuk anak angkat dan anak tiri
2. Orang-orang yang mempunyai hubungan keluarga dengan suami,
istri yang tinggal menetap dalam rumah tangga, seperti : mertua,
menantu, ipar, dan besan
3. Orang yang bekerja membantu di rumah tangga dan menetap tinggal
dalam rumah tangga tersebut, seperti pembantu rumah tangga16

2.4.3.2. Bentuk-bentuk Kekerasan


Kekerasan Fisik
a. Kekerasan Fisik Berat, berupa penganiyaan berat seperti menendang,
memukul, menyudut, melakukan percubaan pembunuhan atau
pembunuhan dan semua perbuatan lain dengan mengakibatkan :
 Cedera berat
 Tidak mampu menjalankan tugas sehari-hari
 Pingsan
 Luka berat pada tubuh korban dan atau luka yang sulit
disembuhkan atau yang menimbulkan bahaya mati

29
 Kehilangan salah satu panca indra
 Mendapat cacat
 Menderita sakit lumpuh
 Terganggu daya pikir selama 4 minggu lebih
 Gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan
 Kematian korban
b. Kekerasan Fisik Ringan, berupa menampar, menjambak, mendorong,
dan perbuatan lainya yang mengakibatkan :
 Cedera ringan
 Rasa sakit dan luka fisik yang tidak termasuk kategori berat
Melakukan repetisi kekerasan fisik ringan dapat dimasukkan ke
dalam jenis kekerasan fisik berat.

Kekerasan Psikis
a. Kekerasan Psikis Berat, berupa tindakan pengendalian, manipulasi,
eksploitasi, kesewenangan, perendahan dan penghinaan, dalam
bentuk pelarangan, pemaksaan dan isolasi sosial; tindakan atau
ucapan yang merendahkan atau menghina; penguntitan; kekerasan
dan atau ancaman kekerasan fisik, seksual dan ekonomis; yang
masing-masing bisa mengakibatkan penderitaan psikis berat berupa
salah satu atau beberapa hal berikut :
 Gangguan tidur atau gangguan makan atau ketergantungan
obat atau disfungsi seksual yang salah satu atau dua
 Kesemuanya berat dan atau menahun
 Gangguan stress paska trauma
 Gangguan fungsi tubuh berat (seperti tiba-tiba lumpuh atau
buta tanpa indikasi medis)
 Deperesi berat atau destruksi diri
 Gangguan jiwa dalam bentuk hilangnya kontak dengan
realitas seperti skizofrenia dan atau bentuk psikotik lainnya
 Bunuh diri
b. Kekerasan Psikis Ringan, berupa tindakan pengendalian, manipulasi,
eksploitasi, kesewenangan, perendahan dan penghinaan, dalam
bentuk pelanggaran, pemaksaan dan isolasi sosial; tindakan dan atau
ucapan yang merendahkan atau menghina; penguntitan; ancaman
kekerasan fisik, seksual dan ekonomis yang masing-masing bisa
mengakibatkan penderitaan psikis ringan, berupa salah satu atau
beberapa hal di bawah ini :

30
 Ketakutan dan perasaan terteror
 Rasa tidak berdaya, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya
kemampuan untuk bertindak
 Gangguan tidur atau gangguan makan atau disfungsi seksual
 Ganggan fungsi tubuh ringan (misalnya sakit kepala,
gangguan pencernaan tanpa indikasi medis)
 Fobia atau depresi temporer

Kekerasan Seksual
a. Kekerasan Seksual Berat, berupa :
 Pelecehan seksual dengan kontak fisik, seperti meraba,
menyentuh organ seksual, mencium secara paksa, merangkul
serta perbuatan lain yang menimbulkan rasa muak/ jijik,
terteror, terhina dan merasa dikendalikan. Pemaksaan
hubungan seksual tanpa persetujuan korban atau pada saat
korban tidak menghendaki.
 Pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai,
merendahkan, dan atau menyakitkan
 Pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan
pelacuran dan atau tujuan tertentu
 Terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan
posisi ketergantungan korban yang seharusnya
 Dilindungi
 Tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa
bantuan alat yang menimbulkan sakit, luka, atau cedera
b. Kekerasan Seksual Ringan, berupa pelecehan seksual secara verbal
seperti komentas verbal, gurauan, gurauan porno, siulan, ejekan dan
julukan dan atau secara nonverbal, seperti ekspresi wajah, gerakan
tubuh atau pun perbuatan lainnya yang meminta perhatian seksual
yan tidak dikehendaki oleh korban bersifat melecehkan dan atau
menghina korban

Kekerasan Ekonomi
a. Kekerasan Ekonomi Berat, yakni tindakan eksploitasi, manipulasi
dan pengendalian lewat sarana ekonomi berupa :
a) Memaksa korban bekerja dengan cara eksploitatif termasuk
pelacuran

31
b) Melarang korban bekerja tapi menelantarkannya
c) Mengambil tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan
korban, merampas dan atau memanipulasi harta benda
korban.
b. Kekerasan Ekonomi Ringan, berupa melakukan upaya-upaya sengaja
yang menjadikan korban tergantung atau tidak berdaya secara
ekonomi atau tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya16

2.5. Anamnesa, Catatan Medis dan Pelaporan


2.5.1. Anamnesa dan Catatan Medis
Sebelum memeriksa korban, dokter atau perawat, bidan atau
tenaga medis lain yang telah berpengalaman dengan banyak mengenal
kasus KtP dan KtA harus menjelaskan kepada korban tentang prinsip dan
tujuan pemeriksaan, tatalaksana dan interpretasi hasil pemeriksaan; serta
kemudian meminta persetujuan dalam berkas rekam medis.
Korban yang telah berusia 21 tahun ke atas atau telah pernah
menikah, sadar diri tidak mempunyai gangguan jiwa (psikosis atau
retardasi mental) harus menandatangani sendiri lembar persetujuan.
Korban yang tidak memenuhi kriteria di atas harus didampingi oleh
orang tua/ wali/ keluarga terdekatnya (ditanda tangani bersama).
Di bawah ini ditunjukkan serangkaian model prosedur
pemeriksaan yang dapat dijadikan acua, yang dapat disesuaikan model
proedur pemeriksaan yang dapat dijadikan acuan, yang dapat disesuaikan
dengan situasi dan kondisi setempat, serta kemampuan dan tenaga medis
setempat. Namun demikian, alangkah baiknya apabila setiap sarana
kesehatan berupaya untuk melaksanakannya.

2.5.1.1. Anamnesis
a. Upayakan anamnesis diperoleh secara cermat, baik dari pengantar
maupun dari korban sendiri.
b. Nilai kejanggalan sikap istri, suami atau pengantar lain.
c. Nilai kejanggalan keterangan yang diberikan.

32
d. Lengkapi rekam medis dengan menanyakan kembali tentang
identitasnya.
e. Tanyakan tentang proses terjadinya kekerasan secara rinci, termasuk :
1) Urutan kejadiannya
2) Apa yang menjadi pemicu (penyebab)
3) Penderaan apa yang telah terjadi
4) Oleh siapa
5) Kapan
6) Dimana
7) Dengan menggunakan apa atau bagaimana terjadinya
8) Berapa kali
9) Apa akibatnya pada si korban
10) Orang-orang yang ada di sekitar pada saat kejadian
11) Waktu jeda (time lag) antara saat kejadian dan saat menerima
pertolongan medis
12) Apa yang dilakukan korban setelah kejadian
13) Apa yang dilakukan pelaku setelah kejadian
f. Peroleh pula informasi tentang :
1) Keadaan kesehatannya sebelum trauma
2) Pernahkah trauma seperti ini sebelumnya
3) Adakah riwayat penyakit dan perilaku sebelumnya
4) Adakah faktor-faktor sosial, budaya, ekonomi yang
berpengaruh pada perilaku dalam keluarga
5) Bagaimanakah pertumbuhan fisik, perkembangan (terutama
motorik) dan psikis anak-anaknya
6) Apakah anaknya juga mengalami kekerasan
g. Keterangan pasien atau korban untuk setiap kelainan fisik yang
ditemukan harus dicatat.
j. Anamnesis seharusnya dilakukan secara terpisah dari suami atau
pengantanya(private setting), setelah itu dibandingkan dengan
keterangan versi pengantar atau suami.

33
2.5.1.2 Rekam Medis
a. Lengkapi rekam medis dengan identitas dokter pemeriksa, pengantar
korban, tanggal, tempat dan waktu pemeriksaan serta jati diri korban,
terutama umur dan perkembangan seksnya (menarche dan seks sekunder)
serta kegiatan seksual terakhir, siklus haid, haid terakhir dan apakah
masih haid saat kejadian.
b. Selanjutnya rekonfirmasi tentang kekerasan sebelum kejadian, rincian
kejadian, waktunya, lokasinya, terjadi atau tidaknya penetrasi dan apa
yang telah dilakukan setelah terjadinya kekerasan seksual tersebut
(mencuci diri, ganti baju, mandi, dll).

2.5.2. Pencatatan dan Pelaporan


Meliputi beberapa hal :
1. Desentralisasi/Otonomi
2. Demokrasi
3. Kualitas data
4. Sederhana
5.Pengembangan jejaring
6. Bermanfaat dan dapat dipercaya
7. Dapat dimonitor perkembangannya
Pencatatan dan pelaporan tindak kekerasan terhadap perempuan
dan anak menghimpun keterangan-keterangan yang sangat terkait dan
bermanfaat untuk melakukan pemantauan dan evaluasi kebijakan
perlindungan terhadap tindak kekerasan perempuan dan anak, serta
upaya pengembangannya. Keterangan yang dikumpulkan meliputi :
1. Identitas korban
a. Nama
b. Alamat
c. Umur
d. Pendidikan
e. Agama
f. Status perkawinan

34
g. Pekerjaan
h. Jenis kelamin
i. Kebangsaan
2. Identitas Pelaku
3. Jenis Kekerasan
a. Fisik
b. Psikis
c. Perkosaan
d. Pencabulan
e. Penelantaran
4. Tempat kejadian
5. Jenis Pelayanan
a. Pendampingan
b. Pelayanan kesehatan
c. Konseling
d. Pelayanan hukum
e. Rehabilitasi
f. Penempatan korban di Rumah Aman
6. Potensi Unit Pelayanan
a. Nama dan alamat unit pelayanan
b. Jumlah dan kualifikasi SDM
c. Jenis pelayanan yang tersedia pada unit pelayanan
tersebut
Hambatan
Meskipun telah ada perkembangan yang baik dalam jumlah
kebijakan dan lembaga yang menangani korban dan koordinasi lintas
instansi, tidak serta merta kualitas pelayanan dan penanganan sudah
memenuhi kebutuhan korban KDRT atas kebenaran, keadilan dan
pemulihan baik yang dialami korban dan/atau pelapor. Hamabatannya
muncul dalam berbagai lapisan, termasuk di antara adalah kapasitas dari
lembaga-lembaga layanan.
a. Kendala Budaya

35
Sekalipun sudah dijamin di dalam UU PKDRT, tidak
semua permpuan merasa yakin untuk melaporkan kasusnya
karena masih merasa malu, bersalah atas kekerasan yang
menimpa dan juga kuatir akana dipersalahkan oleh keluarga dan
masyarakat sekelilingnya. Adanya pula keraguan korban untuk
melanjutkan proses hukum karena takut akan kehancuran
keluarga Pertimbangan serupa juga mendasari korban yang telah
melaporkan kasusnya kemudian menarik pengaduannya. Catatan
RPK UUP sejak tahun 2005 menunjukkan bahwa sekitar 50 %
dari total kasus yang dilaporkan dicabut kembali oleh korban dan
berarti proses hukum tidak diteruskan.
b. Kendala Hukum
Dari segi substansi hukum, UU PKDRT bukan
merupakanproduk hukum yang sempurna, meski UU PKDRT
merupakan terobosanyang progresif dalam sistem hukum dan
perundang-undangan kita terkait dengan upaya perlindungan
hukum terhadapa koban KDRT. Berikut hambatan yang terkait
dengan substansi hukum yang ada.
1) Payung kebijakan di bawah undang-undang, seperti
peraturan-peraturan pelaksanaan dan alokasi anggaran
negara, masih jauh dari memadai sehingga mempersulit
penanganan yang sesuai dengan apa yang dimandatkan
dalam Undang-undang no 23 tahun 2004. Hal ini terutama
terjadi pada tahap awal penanganan yang melibatkan
polisi, lembaga layanan kesehatan dan pendamping
korban.
2) Ancaman hukum alternatif berupa kurungan atau
denda, ancaman hukuman terlalu ringan untuk kasus
tindak kejahatan/kekerasan yang terencan dan kasus yang
korbannya meninggal, kekerasan seksual dan psikis yang
dilakukan suami terhadapa istri, merupakan delik aduan.

36
3) UU PKDRT lebih menitikberatkan proses penanganan
hukum pidana dan penghukuman dari korban. Di satu sisi
UU ini dapat terjadi alat untuk menjerakan pelaku dan
represi terhadap siaa yang akan melakukan tindakan
KDRT. Di sisi lain, penghukuman suami masih dianggap
bukan jalan yang utama bagi korban, khususnya istri,
yang mangalami KDRT.

37
BAB III
KESIMPULAN

Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) adalah setiap perbuatan terutama


terhadap seorang perempuan, yang berakibat timbulnya kesengsaraan atas penderitaan
secara fisik, seksual, psikologi dan atau penelantaran rumah tangga termasuk ancaman
untuk melakukan perbuatan, pemaksaan dan perampasan kemerdekaan seseorang
melawan hukum dalam lingkungan rumah tangga.
Faktor penyebab terjadinya kekerasan dalam rumah tangga antara lain hidup
dalam kemiskinan/himpitan ekonomi, sejak kecil terbiasa melihat dan mengalami
kekerasan dalam rumah tangga, pemabuk, frustasi, kelainan jiwa, tidak adanya
pengertian antara suami isteri mengenai hak dan kewajiban dalam membina keluarga.
Macam kekerasan dalam rumah tangga dapat berupa kekerasan terhadap isteri,
kekerasan terhadap anak, dan kekerasan terhadap pembantu rumah tangga. Bentuk
KDRT dapat dalam bentuk kekerasan fisik, kekerasan psikis, kekerasan seksual
(pemaksaan hubungan seksual yang dilakukan terhadap orang yang menetap dalam
lingkup rumah tangga tersebut dan pemaksaan hubungan seksual terhadap salah seorang
dalam lingkup rumah tangganya dengan orang lain untuk tujuan komersial dan tujuan
tertentu), dan penelantaran rumah tangga.

38
DAFTAR PUSTAKA

1. Bittner S, Newberger EH: Pediatric understanding of child abuse and neglect.


Pediatr Rev 2:198, 1981.
2. Ginott H. Between parents and child 2001. Jakarta : P.T. Gramedia pustaka utama.
3. Gunarsa SD et al. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja. Jakarta: P.T. BPK
Gunung Mulia.
4. Farouk U. Tindak Pidana Kekerasan Dalam Rumah Tangga 2006.
5. Hamzah A. Tinjauan Sosial dan Hukum Terhadap Kekerasan Dalam Rumah Tangga
(Menuju Formalisaasi Hukum Isklam Tentang Penyelesaian KDRT) 2007.
6. Hasbianto EN. Kekerasan Dalam Rumah Tangga. Potret Muram Kehidupan 1996
7. Hobbs CJ et al. Child Abuse and Neglect A Clinician’s Handbook. Ed ke-2.
Churchill Livingstone, London 1999.
8. Keumalahayati. Kekrasan Pada Istri Dalam Rumah Tangga Berdampak terhadap
Kesehatan Reproduksi 2007.
9. LBH APIK. Pemaksaan Hubungan Seksual dalam Perkawinan adalah Kejahatan
Perkosaan. 2007.
10. Lubis S. Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT). 2002
11. Materi TOT bagi petugas kesehatan dalam pelayanan korban tindak kekerasan
terhadap perempuan dan anak di Jawa Tengah, Dinas Kesehatan Propinsi Jawa
Tengah. 2005
12. Refleksi reformasi Undang-Undang KDRT.
13. Sampurna B. Peranan Ilmu Forensik dalam Penegakan Hukum. Jakarta 2003
14. Sunusi M. Tatalaksana Komprehensif dan Dampak Kekerasan Pada Anak. 2003
15. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak. Unicef, Indonesia.
16. Veny R. Kekerasan Dalam Rumah Tangga. LBH APIK Jakarta 2003.

39