Anda di halaman 1dari 30

ASUHAN KEPERAWATAN

KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH


“Demam Berdarah Dengue (DBD)“

KELOMPOK 7

Nama Anggota
1. Dasriany Ramadhina
2. Dian Rubiyanti
3. Nuraisyah Aeni
4. Rara Titanisya
5. Yayang Nurpadilah

2B – ILMU KEPERAWATAN

STIKes Medistra Indonesia


2018/2019

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 1


KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah,
Taufik dan Hinayahnya sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam
bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan
sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan


pengalaman bagi para pembaca, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun isi
makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan. Oleh kerena itu kami harapkan
kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk
kesempurnaan makalah ini.

Penyusun

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 2


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR................................................................................................................................... 2

BAB I ........................................................................................................................................................ 4

PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 4

1.1 Latar Belakang................................................................................................................................... 4

1.2 Rumusan Masalah ............................................................................................................................. 5

1.3 Tujuan ............................................................................................................................................... 5

1.4 Manfaat ............................................................................................................................................. 5

BAB II ....................................................................................................................................................... 6

PEMBAHASAN ......................................................................................................................................... 6

2.1 Pengertian ......................................................................................................................................... 6

2.2 Etiologi .............................................................................................................................................. 6

2.3 Tanda dan Gejala .............................................................................................................................. 7

2.4 Patofisiologi....................................................................................................................................... 8

2.5 Klasifikasi ........................................................................................................................................... 8

2.6 Komplikasi ......................................................................................................................................... 9

2.7 Pemeriksaan penunjang.................................................................................................................. 11

2.8. Penatalaksanaan medis ................................................................................................................. 13

2.9 Pathway........................................................................................................................................... 14

BAB III .................................................................................................................................................... 15

SEVEN JUMP .......................................................................................................................................... 15

KASUS DBD ............................................................................................................................................ 15

BAB IV ................................................................................................................................................. 30

PENUTUP ............................................................................................................................................ 30

4.1 Kesimpulan................................................................................................................................ 30

4.2 Saran ............................................................................................................................................... 30

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 3


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Saat ini penyakit bukanlah hal yang mudah untuk diketahui tanda – tandanya secara dini. Hal
itu disebabkan karena tanda satu penyakit dengan penyakit yang lain memiliki beberapa
kesamaan. Oleh sebab itu, banyak orang awam mengetahui tentang penyakit yang dideritanya
saat penyakit tersebut semakin berat. Orang awam ada baiknya mengetahui tanda dan gejala,
penyebab, dan cara pencegahan dari suatu penyakit agar tidak semakin banyak orang yang
terserang suatu penyakit tertentu. Ada banyak keuntungan bagi orang awam dalam
mengetahui tentang suatu penyakit, diantaranya adalah dapat mencegah suatu penyakit dan
dapat membedakan suatu penyakit yang memiliki tanda dan gejala yang sama.
Didalam makalah ini akan dijabarkan hal – hal yang perlu diketahui pembaca tentang suatu
penyakit khususnyaDengue Haemoragic Fever atau yang sering kita dengar adalah Demam
Berdarah (DBD). Menurut kementrian kesehatan RI, pada tahun 2016 bulan Januari –
Februari tercatat 8.487 orang yang terkena DBD dengan jumlah kematian 108 orang.
Golongan terbanyak yang terkena DBD ada pada usia 5 – 14 tahun dengan presentase
43,44% dan usia 15 – 44 tahun mencapai 33,25%. Pada tahun 2016 khususnya pada bulan
Januari – Februari mengalami penurunan dibeberapa wilayah, diantaranya adalah provinsi
Banten kabupaten Tangerang, provinsi Sumatera Selatan kota kota Lubuklinggau, dan
provinsi Bengkulu kota Bengkulu. Ketiga wilayah itu mengalami penurunan terhadap
penyakit DBD.
Meskipun mengalami penurunan, kita sebagai masyarakat perlu melakukan pencegahan dini
agar penyebaran penyakit DBD terus menurun. Oleh karena itu, kita harus memelajari
tentang penyakit DBD. Dengan memelajari mengenai penyakit DBD, kita dapat melakukan
pencegahan dan juga dapat mengatasi atau memberikan tindakan yang tepat dalam
menangani seseorang yang terkena DBD. Maka dari itu, makalah ini akan membahas lebih
dalam mengenai DBD dan berharap agar pembaca dapat mengerti dengan mudah mengenai
DBD.

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 4


1.2 Rumusan Masalah

1. Apa pengertian DHF ?


2. Apa saja etiologi DHF ?
3. Bagaimana tanda dan gejala DHF ?
4. Bagaimana patofisiologi DHF ?
5. Apa saja klasifikasi DHF ?
6. Apa komplikasi dari DHF ?
7. Apa saja pemeriksaan penunjang dari DHF ?
8. Bagaimana penatalaksanaan medis pada DHF ?

1.3 Tujuan

Tujuan umum :
Makalah ini disusun dengan tujuan agar pembaca dapat mengetahui apa itu penyakit DHF.
Tujuan khusus :
1. Pembaca dapat mengetahui pengertian DHF/ DBD
2. Pembaca dapat melakukan pencegahan terhadap penyakit DHF/DBD
3. Pembaca dapat mengetahui tanda dan gejala dari DHF/DBD
4. Pembaca dapat mengetahui proses perjalanan DHF/DBD
5. Pembaca dapat mengetahui klasifikasi dari DHF/DBD
6. Pembaca dapat mengetahui komplikasi dari DHF/DBD
7. Pembaca dapat mengetahui pemeriksaan apa saja yang diperlukan pada penyakit
DHF/DBD
8. Pembaca dapat melakukan tindakan penyembuhan DHF/DBD

1.4 Manfaat

Manfaat dari makalah ini adalah untuk memberikan tindakan pencegahan terhadap penyakit
DHF sehingga frekuensi penyakit DHF/DBD dapat menurun.

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 5


BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pengertian

Penyakit DHF (Dengue Homorrahage Fever ) atau Penyakit DBD


( Demam Berdarah Dengue ) adalah penyakit yang ditandai dengan demam tinggi mendadak
tanpa sebab yang jelas dan berlangsung terus menerus selama 2 – 7 hari, manifestasi
perdarahan termasuk uji tourniquet positif, trombositopenia (jumlah trombosit 00.000/µ 1),
hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit ≤ 20%), disertai atau tanpa pembesaran hati
(hepatomegali). (Depkes RI, 2005)
Penyakit DHF adalah penyakit infeksi virus dengue akut disebabkan oleh virus dengue,
virus dengue ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti atau nyamuk aedes albopictus, yang
masuk kedalam tubuh melalui gigitannya. (Ronald H Sitorus, 1996).
Penyakit DHF adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan
oleh nyamuk Aedes Aegypti, yang ditandai dengan demam mendadak 2 – 7 hari tanpa
penyebab yang jelas, lemah/lesu, perdarahan, lebam/ruam. Terkadang mimisan, bercak darah,
muntah darah, dan kesadaran menurun atau shock. (Depkes RI, 2000).
DHF adalah penyakit dalam akut yang disebabkan oleh empat serotipe virus dengue dan
ditandai dengan empat gejala klinis utama yaitu demam tinggi, manifestasi perdarahan,
hepatomegali, dan tanda kegagalan sirkulasi sampai timbul renjatan (syndrome renjatan
dengue) sebagai akibat dari kebocoran plasma yang dapat menyebabkan kematian.
DHF adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk
species aides. Penyakit ini sering menyerang anak, remaja, dan dewasa yang ditandai dengan
demam, nyeri otot, dan sendi.
Jadi, DHF adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh suatu virus dengue yang ditularkan
melalui gigitan nyamukAedes Aegypti, dan gejala yang paling umum terjadi adalah demam
tinggi yang mendadak selama 2 – 7 hari, lemah/lesu, perdarahan, lebam/ruam. Dan penyakit
ini sering menyerang anak, remaja, dan dewasa.

2.2 Etiologi

Penyakit DHF disebabkan oleh virus dengue yang termasuk ke golongan B Arthopod Borne
Virus (Arboviruses) yang sekarang dikenal dengan Flavivirus, famili Flaviviricae, dan
mempunyai 4 jenis serotipe yaitu : DEN – 1, DEN – 2, DEN – 3, DEN – 4. Serotipe DEN – 3
ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 6
merupakan serotipe yang dominan dan diasumsikan banyak yang menunjukan manifestasi
klinik yang berat (Hadinegoro, 2001).

2.3 Tanda dan Gejala

Terdapat 2 jenis tanda dan gejala yaitu berdasarkan diagnosa klinis dan diagnosa laboratorius.
Tanda dan gejala berdasarkan diagnosa klinis diantaranya :
a. Demam tinggi mendadak 2 – 7 hari (38 – 40oC)
b. Manifestasi perdarahan dengan bentuk : uji tourniquet positif, petekie (bitnik merah
pada kulit), purpura (perdarahan kecil didalam kulit), ekimosis, perdarahan konjungtiva
(perdarahan pada mata), epitaksis (perdarahan pada hidung), perdarahan gusi, hematemesis
(muntah darah), melena (BAB darah), dan hamatusi (adanya darah dalam urin)
c. Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bitnik – bitnik merah pada kulit akibat
pecahnya pembuluh darah
d. Pembesaran hati (hepatomegali)
e. Rejan (syok), tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang, tekanan sistolik
sampai 80 mmHg atau lebih rendah
f. Anoreksia (hilangnya nafsu makan), lemah, mual, muntah, sakit perut, diare, dan sakit
kepala.
Tanda dan gejala berdasarkan diagnosa laboratorius :
a. Trombositopenia pada hari ke – 3 sampai ke – 7 ditemukan penurunan trombosit
hingga 100.000/mmHg
b. Hemokosentrasi, meningkatnya hemotokrit sebanyak 20% atau lebih
Menurut WHO, tanda dan gejala DHF diantaranya adalah :
a. Demam akut, yang tetap tinggi selama 2 – 7 hari, kemudian turun secara lisis. Demam
disertai gejala tidak spesifik, seperti anoreksia, malaise, nyeri pada punggung, tulang,
persendian, dan kepala
b. Manifestasi perdarahan, seperti uji tourniquet positif, petekie, purpura, ekimosis,
epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis, dan melena
c. Pembesaran hati dan nyeri tekan tanpa icterus
d. Dengan / tanpa renjatan. Renjatan yang terjadi pada saat demam biasanya mempunyai
prognosis buruk
e. Kenaikan nilai Ht/hemokonsentrasi, yaitu sedikitnya 20%.

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 7


Adapun gambaran klinis lain yang tidak khas dan biasa dijumpai pada penderita DHF
menurut (Mansjoer, 2000) adalah :
a. Keluhan pada saluran pernapasan seperti batuk, pilek, sakit waktu menelan.
b. Keluhan pada saluran pencernaan: mual, muntah, anoreksia, diare, konstipasi.
c. Keluhan sistem tubuh yang lain: nyeri atau sakit kepala, nyeri pada otot, tulang dan
sendi, nyeri otot abdomen, nyeri ulu hati.
d. Temuan-temuan laboratorium yang mendukung adalah thrombocytopenia (kurang atau
sama dengan 100.000 mm3) dan hemokonsentrasi (peningkatan hematokrit lebih atau sama
dengan 20%).

2.4 Patofisiologi

Virus dengue pertama kali masuk kedalam tubuh manusia melalui gigitan nyamuk aedes dan
menginfeksi pertama kali memberi gejala DF. Pasien akan mengalami gejala viremia seperti
demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemia ditenggorok,
timbulnya ruam, dan kelainan yang mungkin terjadi pada RES seperti pembesaran kelenjar
getah bening, hati, dan limfa.
Setelah masuk ke dalam tubuh manusia, virus de-ngue akan menuju organ sasaran yaitu sel
kuffer hepar, endotel pembuluh darah, nodus limpaticus, sumsum tulang serta paru-paru.
Beberapa penelitian menunjukkan, sel monosit dan makrofag mempunyai peran pada infeksi
ini, dimulai dengan menempel dan masuknya genom virus ke dalam sel dengan bantuan
organel sel dan membentuk komponen perantara dan komponen struktur virus. Setelah
komponen struktur dirakit, virus dilepaskan dari dalam sel.7 Infeksi ini menimbulkan reaksi
immunitas protektif terhadap serotipe virus tersebut tetapi tidak ada cross protective terhadap
serotipe virus lainnya.

2.5 Klasifikasi

Menurut WHO, DHF dibagi menjadi 4 yaitu :


a. Derajat I
Demam disertai gejala tidak khas, terdapat manifestasi perdarahan, uji tourniquet positif,
panas selama 2 – 7 hari
b. Derajat II

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 8


Sama dengan derajat I ditambah gejala perdarahan spontan seperti ptechiae, ekimosis,
hematemesis, melena dan perdarahan gusi
c. Derajat III
Kegagalan sirkulasi darah, nadi cepat dan lemah, tekanan darah menurun 20 mmHg, kulit
dingin, lembab, dan gelisah
d. Derajat IV
Nadi tak teraba, tekanan darah tidak teratur, anggota gerak teraba dingin, berkeringat dan
kulit tampak biru.

2.6 Komplikasi

Komplikasi DHF menurut Smeltzer dan Bare (2002) :


a. Perdarahan
Pendarahan pada DHF disebabkan adanya perubahan vaskuler, penurunan jumlah trombosit
(trombositopenia) <100.000/mm3 dan koagulopati, trombositopenia, dihubungkan dengan
meningkatnya megakariosit muda dalam sumsum tulang dan pendeknya masa hidup
trombosit. Tendesi pendarahan terlihat pada uji torniquet positif, petekie, purpura, ekimosis,
dan pendarahan saluran cerna, hematemesis dan melena
b. Kegagalan sirkulasi
DSS (Dengue Syok Sindrom) biasanya terjadi sesudah hari ke 2-7, disebabkan oleh
peningkatan permeabilitas vaskuler sehingga terjadi kebocoran plasma, efusi cairan serosa ke
rongga pleura dan peritoneum, hipoproteinemia, hemokonsentrasi dan hipovolemi yang
mengakibatkan berkurangnya aliran balik vena, preload, miokardium, volume sekuncup dan
curah jantung, sehingga terjadi disfungsi atau kegagalan sirkulasi dan penurunan sirkulasi
jaringan. DSS juga disertai dengan kegagalan hemostatis mengakibatkan perfusi miokard dan
curah jantung menurun, sirkulasi darah terganggu dan terjadi iskemia jaringan dan kerusakan
fungsi sel secara progresif dan irreversibel, terjadi kerusakan sel dan organ sehingga pasien
akan meninggal dalam 12-24 jam
c. Hepatomegali
Hati umumnya membesar dengan perlemahan yang berhubungan dengan nekrosis karena
pendarahan, yang terjadi pada lobulus hati dan sel-sel kapiler. Terkadang tampat sel neutrofil
dan limfosit yang lebih besar dan lebih banyak dikarenakan adanya reaksi atau kompleks
virus antibodi
d. Efusi pleura

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 9


Efusi pleura karena adanya kebocoran plasma yang mengakibatkan ekstravasasi aliran
intravaskular sel, hal tersebut dapat dibuktikan dengan adanya cairan dalam rongga pleura
bila terjadi efusi pleura akan terjadi dispnea, sesak napas.
Selain itu, komplikasi DHF yang lainnya adalah :
a. DHF pada kelainan ginjal
Kelainan ginjal pada DHF tidak mudah untuk didiagnosis. Kesulitan diagnosis dan
pengobatan CKD (Chronic Kidney Disease) disebabkan karena kemiripan tanda dan gejala
diantara DHF dengan CKD. Kelainan ginjal pada penderita DHF yang mengalami syok
disebabkan karena hipoperfusi ginjal, azotemia pre renal, dan nekrosis tubuler akut. Gagal
ginjal akut pada umumnya terjadi pada fase terminal syok yang tidak teratasi.
b. DHF pada kelainan hati
DHF dengan gagal hati dan ensefalopati merupakan kejadian langka, dan umumnya oleh
infeksi sekunder. Deteksi serotipe dengan PCR dapat menetapkan diagnosis postmortem
gagal hati sekunder yang disebabkan oleh DHF.
c. DHF dengan sirosis hati
DHF dengan sirosis hati perlu diperhatikan pemberian cairan, terutama pada sirosis hepatitis
C. Cairan yang berlebih akan menambah beratnya asites yang sudah ada, sebaliknya bila
kurang dapat menyebabkan sindrom hepatorenal.
d. Ensefalopati dengue
Ensefalopati dengue merupakan komplikasi DHF yang sangat sulit perawatannya.
Penatalaksanaan ensefalopati dengue dilakukan untuk mencegah naiknya tekanan
intracranial.
e. DHF dengan syok dan perdarahan spontan
DHF dengan syok dan perdarahan spontan (DSS) merupakan komplikasi DHF yang perlu
diwaspadai, karena angka kematiannya 10 kali lipat dibandingkan DHF tanpa syok. Pada hal
ini, pemeriksaan laboratorium yang perlu dilakukan adalah darah fosfat lengkap, hemostasis,
analisis gas darah, kadar elektrolit (natrium, kalium, klorida) serta ureum dan kreatini

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 10


2.7 Pemeriksaan penunjang

Pemeriksaan hemostasis yang penting pada awal sakit adalah rumple leed. Rumple leed
adalah salah satu cara yang paling mudah dan cepat untuk menentukan apakah terkena
demam berdarah atau tidak. Rumple leed adalah pemeriksaan bidang hematologi dengan
melakukan pembendungan pada bagian lengan atas selama 10 menit untuk uji diagnostik
kerapuhan vaskuler dan fungsi diagnostik. Untuk mengetahui langkah – langkah melakukan
rumple leed :
1) Pasang ikatan sfigmonanometer pada lengan atas dan pump sampai tekanan 100 mmHg
(jika tekanan sistolik klien < 100 mmHg, pump sampai tekanan ditengah – tengah nilai
sistolik dan diastolik)
2) Biarkan tekanan itu selama 10 menit (jika test ini dilakukan sebagai lanjutan dari test
IVY, 5 menit sudah mencukupi)
3) Lepas ikatan dan tunggu sampai tanda – tanda statis darah hilang kembali. Statis darah
telah berhenti jika warna kulit pada lengan yang telah diberi tekanan tadi kembali lagi seperti
warna kulit sebelum diikat atau menyerupai warna kulit pada lengan yang telah yang satu
lagi.
4) Cari dan hitung jmlah pteciae yang timbul dalam lingkaran bergaris tengah 5 cm kira –
kira 4 cm distal dari fossa cubiti.
Saat melakukan rumple leed, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, diantaranya adalah :
1) Jika ada > 10 pteciae dalam lingkaran bergaris tengah 5cm kira – kira 4cm distal dari
fossa cubiti, test rumple leed dikatakan positif
2) Warna merah didekat bekas ikatan tensi mungkin bekas jepitan, tidak ikut dihitung
sebagai peteki
3) Pasien yang tekanan darahnya tidak diketahui, tensimeter dapat dipakai pada tekanan
80mmHg
4) Pasien tidak boleh diulang pada lengan yang sama dalam waktu 1 minggu
Selain rumple leed, ada beberapa pemeriksaan penunjang yang wajib dilakukan :
1) Pemeriksaan darah :
a. Leukositopenia/lekositosis (Normal : 5000 – 10000 µl)
Cara hitung leukosit dengan larutan turk :
a) Hisap darah EDTA dengan pipet Leukosit → sampai tanda 0,5
b) Hapus kelebihan darah dengan kertas tissue
c) Hisap larutan Turk sampai tanda 11

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 11


d) Kocok darah dan larutan ± 2 – 3 menit
e) Buang larutan 3 – 4 tetes → masukan kedalam kamar hitung
f) Hitung leukosit yang terdapat dalam keempat bidang besar di sudut dengan mikroskop,
kalikan 50
b. Trombositopenia
c. Hematokrit
Cara Hitung Hematokrit dengan Mikrometode :
a) Sampel darah dimasukkan ke dalam tabung kapiler sampai 2/3 volume tabung
b) Salah satu ujung tabung ditutup dengan dempul (clay)
c) Sentrifus selama 5 menit dengan kecepatan 16.000 rpm.
d) Tinggi kolom eritrosit diukur dengan alat pembaca hematokrit
d. Hemoglobin
e. Hiponatremia
f. Hipokloremia
g. SGPT/SGOT
h. Ureum
i. pH
2) Pemeriksaan urin yaitu albuminuria
3) Pemeriksaan serologis :
a. Uji hemaglutinasi inhibisi (HI test) adalah test yang dapat mengukur kemampuan
antigen yang terlarut untuk menghambat aglutinasi antara antigen dengan eritrosit oleh
antibody
b. Uji komplemen fiksasi (CF test) didasarkan pada adanya antibodi penambatan
komplemen didalam serum. Tujuannya adalah untuk menentukan ada atau tidaknya antibodi
spesifik didalam serum\
c. Uji neutralisasi (Nt Test)
d. IgM ELISA (Mac ELISA)
e. IgM terdeteksi mulai hari ke 3 – 5, meningkat sampai minggu ke 3, menghilang setelah
60 – 90 hari
f. IgG ELISA
IgG pada Infeksi primer terdeteksi mulai hari ke 14, pada infeksi sekunder terdeteksi mulai
hari ke 2

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 12


2.8. Penatalaksanaan medis

Penatalaksanaan medis pada DHF disesuaikan dengan jenis DHF, yaitu :


a. DHF tanpa Rejatan
a) -Beri minum banyak (1 – 2 liter/hari)
b) Obat anti piretik untuk menurunkan panas, dapat juga dilakukan kompres
c) Jika kejang maka dapat diberi luminal (antionvulsan)
Anak < 1th dosis 50 mg IM
Anak > 1th dosis 75 mg IM
d) Jika 15 menit kejang belum teratasi, beri lagi luminal dengan
Dosis 3 mg/kgBB untuk anak < 1th
Dosis 5 mg/kgBB untuk anak > 1th
e) Berikan infus jika muntah dan hematokrit meningkat
b. DHF dengan Rejatan
Pasang infus RL
Jika dengan infus tidak ada respon maka berikan plasma expander (20-30 ml/KgBB
Transfusi jika Hb dan Ht turun

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 13


2.9 Pathway

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 14


BAB III

SEVEN JUMP

KASUS DBD

Kasus Pemicu

Selama di rumah Ny.N sudah mengalami panas badan sudah lebih dari 3 hari terutama pada
malam hari, dan mengalami mual, karena sudah mengalami panas lebih dari 3 hari, keluarga
memutuskan untuk di bawa ke RS Bhayangkara Sartika Asih Bandung klien langsung dibawa
ke poli umum, di poli umum dokter langsung melakukan pemeriksaan Observasi TTV yaitu
TD: 100/60mmHg, N:78x/menitR: 20x/menit,S: 38,5˚C karena klien sudah mengalami panas
lebih dari 3 hari, klien di suruh ke laboratorium untuk di ambil darah setelah di ambil darah
klien kembali ke poli dan dokter memeriksa HASIL LABORATORIUM: Hb:15,5 g/dl,
Leukosit: 3,500/mm, Pcv: 40%, Trombosit: 3,1000/mm, sesudah melihat hasil lab, dokter
mengatakan trombosit turun maka klien harus di rawat, klien di bawa ke Ruang Fajar dan
perawat langsung melakukan tindakan infus RL 30gtt/menit dan di kasih obat oral yaitu
paracetamol, maka klien di rawat di ruangan fajar kamar 4 bed 1.

1. Cari Kata-Kata atau Istilah Sulit


o Leukosit
o Trombosit
o PCV
o RL
o Obat oral

2. Arti Kata-Kata atau Istilah Sulit


o Leukosit : Leukosit atau sel darah putih berasal dari sumsum tulang dan
beredar di seluruh aliran darah. Mereka merupakan bagian penting dalam
sistem kekebalan tubuh kita
o Trombosit : Trombositosis adalah kondisi di mana jumlah trombosit
dalam darah menjadi tinggi
o PCV : imunisasi PCV adalah untuk merangsang pembentukan
imunitas atau kekebalan terhadap infeksi kuman Streptococcus

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 15


o Pneumoniae atau kuman Pneumokokus yang dapat menular melalui
udara

3. Pertanyaan
1. Apa yang dimaksud DBD ?
2. Apa tanda dan gejala DBD ?
3. Bagaimana cara penularan DBD ?
4. Bagaimana proses DBD ?

4. Menjawab pertanyaan
1. Penyakit DHF (Dengue Homorrahage Fever ) atau Penyakit DBD
( Demam Berdarah Dengue ) adalah penyakit yang ditandai dengan demam
tinggi mendadak tanpa sebab yang jelas dan berlangsung terus menerus selama
2 – 7 hari, manifestasi perdarahan termasuk uji tourniquet positif,
trombositopenia (jumlah trombosit 00.000/µ 1), hemokonsentrasi (peningkatan
hemotokrit ≤ 20%), disertai atau tanpa pembesaran hati (hepatomegali). (Depkes
RI, 2005).
2. a. Demam tinggi mendadak 2 – 7 hari (38 – 40oC)
b. Manifestasi perdarahan dengan bentuk : uji tourniquet positif, petekie (bitnik
merah pada kulit), purpura (perdarahan kecil didalam kulit), ekimosis, perdarahan
konjungtiva (perdarahan pada mata), epitaksis (perdarahan pada hidung),
perdarahan gusi, hematemesis (muntah darah), melena (BAB darah), dan
hamatusi (adanya darah dalam urin)
c. Rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bitnik – bitnik merah pada kulit
akibat pecahnya pembuluh darah
d. Pembesaran hati (hepatomegali)
e. Rejan (syok), tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau kurang,
tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih rendah
f. Anoreksia (hilangnya nafsu makan), lemah, mual, muntah, sakit perut,
diare, dan sakit
3. a. Gigitan nyamuk Aedes Aegypty betina untuk memperoleh asupan protein yang
diperlukannya untuk memproduksi telur.
b. Nyamuk bersifat diurnal atau aktif pada pagi hari (09.00-12.00) hingga sore hari
(15.00-17.00).

4. a. Nyamuk menggigit orang yang terkena virus dengue


b. Nyamuk menelan darah yang terkena virus dengue

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 16


c. Nyamuk yang terinfeksi menggigit orang lain.
d. Orang tersebut terkena demam setelah 4-13 hari

Fase demam dengue :


1. Fase demam
- 3 hari pertama suhu 40 C
2. Fase Kritis
- Hari ke 4-5 suhu 37 C
3. Fase penyembuhan
- Hari ke 6-7 sudah tidak mengalami panas

5. LO : Demam Berdarah Dengue (DBD)

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 17


Asuhan Keperawatan Pada Ny. N dengan Kasus DBD

Data Demografi
1. Identitas Klien
o Nama : Ny.N
o Umur : 20 thn
o Jenis Kelamin : Perempuan
o Pendidikan : Kuliah
o Pekerjaan :-
o Agama : Islam
o Suku/Bangsa : Sunda/Indonesia
o Status Perkawinan : Belum Menikah
o Alamat : Kp.Cisaranten Rt03/01
o Tanggal Masuk : 25 September 2018
o Tanggal Pengkajian : 26 September 2018
o Diagnosa Medis : DBD

2. Identitas Penanggung Jawab


o Nama : Tn.W
o Umur : 39 Tahun
o Pekerjaan : Wiraswasta
o Pendidikan : SMA
o Jenis Kelamin : Laki-Laki
o Agama : Islam
o Alamat : Kp.Cisaranten Rt03/01
o Hubungan Dengan Klien : Ayah

Riwayat Kesehatan
1. Riwayat Kesehatan Sekarang
 Klien mengeluh demam, tidak nafsu makan, mual dan lemah, sejak 5 hari yang
lalu klien di minumkan obat penurun panas namun tidak ada perbaikan

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 18


Keluhan Utama Saat Masuk Rumah Sakit
 Klien mengeluh sudah 1 minggu panas badan tidak turun
keluhan Utama Saat Dikaji
 Klien mengatakan bahwa klien mengeluh panas, serasa di siram air panas dan
di rasakan di seluruh tubuh S: 38˚C pada malam hari

2. Riwayat Kesehatan Dahulu


Keluarga klien mengatakan bahwa sebelumnya klien tidak pernah mengalami
penyakit seperti yang di deritanya

3. Riwayat Kesehatan Keluarga


Keluarga klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang lain yang mengalami
penyakit seperti yang di derita klien

III. Pola Aktivitas Sehari-hari

No Aktivitas Sebelum Sakit Sesudah Sakit


1 NUTRISI
MAKAN
Frekuensi 2x/hari 3x/hari
Porsi Makan 1 porsi ¾ porsi
Jenis Nasi, lauk pauk Bubur, sayur
Keluhan Tidak ada Mual
2 MINUM
Frekuensi 8 gelas/hari 5 gelas/hari
Jenis Air putih, susu, teh Air putih, susu
Keluhan Tidak ada Tidak ada
3 ELIMINASI
BAK
Frekuensi Tidak terhitung 3x/hari
Konsistensi Cair Cair
Warna Kuning urine Kuning urine

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 19


Keluhan Tidak ada Tidak ada
BAB
Frekuensi 2x/hari 1x/hari
Konsistensi Padat Padat
Warna Kuning feses Kuning kecoklatan
Keluhan Tidak ada Tidak ada
4 ISTIRAHAT DAN TIDUR
Tidur siang Tidak pernah 1-2jam/hari
Tidur malam 8jam/hari 6jam/hari
Keluhan Tidak ada Gangguan tidur
5 PERSONAL HYGIENE
MANDI
Frekuensi 2x/hari Diseka 1x/hari
Keluhan Tidak ada Tidak ada
KERAMAS
Frekuensi 3xseminggu Tidak pernah
Keluhan Tidak ada Tidak ada
GOSOK GIGI
Frekuensi 2x/hari 1x/hari
Keluhan Tidak ada Tidak ada
6 POLA KEBIASAAN
AKTIVITAS Bersekolah, Bermain Berbaring di tempat
tidur
Keluhan Tidak ada Klien merasa bosan

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 20


Pemeriksaan Fisik

1. Keadaan Umum Klien :


Penampilan : Composmentis
Tanda Tanda Vital:
o TD : 100/60 mmHg
o Suhu : 38,5˚C
o Respirasi : 20x/menit
o Nadi : 78x/menit

2. Kulit
o Kepala dan Rambut
o Kepala
o Bentuk : Bulat, Simetris
o Rambut
o Warna : Hitam
o Kebersihan : Bersih
o Rontok : Tidak rontok

3. Wajah dan Leher


o Wajah
o Bentuk :Simetris
o Warna : Kemerahan
o Lesi : Tidak ada
o Bekas trauma : Tidak ada
o Leher : Simetris tidak ada benjolan

4. Mata
o Bentuk kedua mata : Simetris
o Kongjungtiva : Pucat
o Pupil : Baik
o Sklera : Warna putih

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 21


5. Mulut
o Bentuk bibir : Simetris
o Keadaan bibir : Kering, pecah-pecah
o Gigi : Lengkap jumlah 32 Buah
o Lidah : Bersih

6. Dada
o Bentuk : Simetris
o Bunyi nafas paru : Vesikuler (bernada rendah)
o Perkusi paru : Resonant (suara perkusi paru yang normal)
o Pola nafas : Regular (teratur)
o Ekspansi paru : Seimbang
o Irama Jantung : Reguler (teratur)

7. Abdomen
o Bentuk : Simetris
o Nyeri tekan : Tidak ada
o Bising usus : 14x/menit
o Lesi : Tidak ada

V. Data Psikologis

1) Status
1. Emosi : Emosi klien tampak stabil, terbukti klien selalu tenang
2. Kecemasan : Klien tampak sedikit cemas
3. Koping : Klien mengatakan menyerahkan sepenuhnya kepada tim
medis tentang kondisi penyakitnya. Dalam mengatasi masalah klien sering meminta bantuan
orang lain
4. Gaya Komunikasi : Klien bisa berkomunikasi dengan baik
5. Konsep Diri
A. Gambaran Diri : Klien tampak sabar dalam menerima sakit yang di derita
B. Harga Diri : Klien ingin cepat pulang agar dapat berkumpul kembali
dengan keluarga dan temannya
C. Peran : Klien berperan sebagai anak ke 1 dari 2 bersaudara

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 22


D. Identitas Diri : Klien berjenis kelamin laki-laki, klien merasa tidak berdaya
E. Ideal Diri : Klien dapat berinteraksi dengan perawat mahasiswa
F. Data Sosial : Klien mengatakan ingin cepat sembuh agar bisa sekolah
seperti biasanya

VI. Data Spiritual


o Pelaksanaan ibadah : Selamadi rawat klien melakukan ibadah
ditempat tidur
o Kepercayaan/Keagaamaan : Yakin (Klien banyak berdoa)

VII. Data Penunjang

No Jenis Pemeriksaan Hasil Normal Satuan


1 Hemoglobin 15,5 g/dl L: 14-17, P: 12-16 g/dl
2 Leukosit 3,500/mm Dewasa: 4.000-10.000 /mm
3 Pcv 40% 40-50% %
4 Trombosit 31.000/mm 150.000-450.000 /mm

Terapi medis
Cairan Infus Ringer Laktat 30gtt/menit
Ceftriaxone (termasuk golongan sefalosporin/antibiotika belaktam) injeksi 2x1 gr(iv)

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 23


VII. Data Fokus

Nama : Ny.N No Rm : 005


Usia : 20 tahun

Data Subjektif Data Objektif


 Klien mengatakan sudah mengalami  TTV :
panas badan sudah lebih dari 3 hari o TD : 100/60mmHg
 Klien mengatakan sering mual pada o N :78x/menit
malam hari o R : 20x/menit
o S : 38,5˚C
 HASIL LABORATORIUM:
o Hb:15,5 g/dl
o Leukosit: 3,500/mm
o Pcv: 40%
o Trombosit: 3,1000/mm

VIII. ANALISA DATA

Nama : Ny.N No Rm : 005


Usia : 20 tahun

No Data Interpretasi (penyebab) Masalah


1 Ds: - DS : Gangguan rasa nyaman
Klien mengeluh panas b.d peningkatan suhu
pada bagian badan Suhu tubuh meningkat tubuh
DO:
- Suhu klien 38,5˚C
- Klien tampak lemas

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 24


2 Ds: - DS : Resiko defisit volume b.d
Klien mengeluh lemas Perpindahan cairan dari dalam cairan tubuh
pembuluh darah ke intertitas
Do: jaringan
- Turgor kulit jelek
TD: 100/60mmHg
N: 78x/menit
R: 20x/menit
S: 38,5˚C

IX. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Nama : Ny.N No Rm : 005


Usia : 20 tahun

No Dignosa Keperawatan Tanggal ditemukan Paraf


1 Gangguan rasa nyaman b.d 25-09-2018
peningkatan suhu tubuh
2 Resiko defisit volume b.d cairan 25-09-2018
tubuh

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 25


X. INTERVENSI

Nama : Ny.N No Rm : 005


Usia : 20 tahun

No Diagnosa Keperawatan Intervensi


Tujuan Tindakan Rasional
1 Gangguan rasa nyaman Setelah dilakukan Observasi TTV Untuk mengetahui
b.d peningkatan suhu tindakan keperawatan Anjurkan klien keadaan umum klien
tubuh diharapkan suhu tubuh minum extra 200cc Untuk memlatasikan
normal dengan kriteria setiap kenaikan suhu pembuluh darah sehingga
: 1˚C bisa dengan mudah
suhu klien 36˚C-37˚C Anjurkan untuk terjadi penguapan
kompres hangat Agar dapat menyerap
Anjurkan untuk keringat dengan baik
memakai baju yang dan mempermudah
tipis dan mudah proses penguapan
menyerap keringat
2 Resiko defisit volume b.d Setelah dilakukan Observasi TTV Untuk mengetahui
cairan tubuh perawatan diharapkan keadaan umum klien
kebutuhan cairan Anjurkan untuk Agar cairan tubuh dapat
tubuh terpenuhi ekstra minum terpenuhi
dengan kriteria : Observasi tetesan Untuk mengganti cairan
Turgor kulit baik infus elektrolit yang hilang
TD normal diastol agar tidak terjadi
100-140mmHg, sistol dehidrasi
60-100mmHg
Suhu normal 36˚C-
37˚C
Respirasi 16-
24x/menit
Nadi 60-100x/menit

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 26


XI. IMPLEMENTASI

Nama : Ny.N No Rm : 005


Usia : 20 tahun

No Tanggal dan Diagnosa Tindakan (Evaluasi Formatif) Paraf


jam ke
1 Jum’at DP ke 1 Mengobservasi TTV
25-09-2018 Hasil :
Jam 08:00 TD : 100/60mmHg
R : 20x/menit
N : 78x/menit
S : 38,3˚C
Menganjurkan klien untuk ekstra minum
Hasil :
Klien mau mengikuti anjuran perawat

Memberikan kompres hangat pada


Jumat DP ke 1 bagian prontal dan axilla
25-09-2018 Hasil :
Jam 01.00 Suhu klien turun sedikit

Menganjurkan klien untuk memakai baju


yang tipis dan mudah menyerap keringat
Hasil :
Klien berkeringat
2 Sabtu DP ke 2 Mengobservasi TTV
26-09-2018 Hasil :
Jam 09:00 TD : 100/60mmHg
R : 20x/menit
N : 78x/menit
S : 38˚C

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 27


Menganjurkan klien untuk ekstra
Hasil :
Klien mau mengikuti anjuran perawat
Mengobservasi tetesan infus
Hasil :
Sabtu DP ke 2 Mengetahui kebutuhan cairan dan
26-09-2018 elektrolit, jika infus macet perawat dapat
Jam 11.00 mengatasinya
Kolaborasi dengan tim medis
Hasil :
Klien mengatakan mau kolaborasi
dengan tim medis

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 28


XII. EVALUASI

Nama : Ny.N No Rm : 005


Usia : 20 tahun

Hari/Tanggal Diagnosa Perkembangan Paraf


Jum’at DP 1 S : Klien mengatakan suhu tubuh
25-09-2018 berkurang
O : Suhu tubuh 37,3˚C
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi
DP 2 S : Klien mengeluh panas
O : Turgor kulit masih jelek
A : Masalah teratasi sebagian
P : Lanjutkan intervensi

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 29


BAB IV
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Penyakit DHF (Dengue Homorrahage Fever ) atau Penyakit DBD
( Demam Berdarah Dengue ) adalah penyakit yang ditandai dengan demam tinggi
mendadak tanpa sebab yang jelas dan berlangsung terus menerus selama 2 – 7 hari,
manifestasi perdarahan termasuk uji tourniquet positif, trombositopenia (jumlah
trombosit 00.000/µ 1), hemokonsentrasi (peningkatan hemotokrit ≤ 20%), disertai
atau tanpa pembesaran hati (hepatomegali). (Depkes RI, 2005)

4.2 Saran
Sebagai perawat harus selalu sigap dalam penanganan penyakit DBD karena akan
menjadi fatal jika terlambat menanganinya. Selain itu perawat juga memberi health
education kepada klien dan keluarga agar mereka faham dengan myocarditis dan
bagaimana pengobatannya.

ASUHAN KEPERAWATAN “DBD” Page 30