Anda di halaman 1dari 7

Aplikasi Kontrol Switch Menggunakan Silicon Controlled

Rectifier (SCR) Melalui Parallel Port


Dikdik Krisnandi
Pusat Penelitian Informatika Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Jl. Cisitu (Komplek LIPI) No.21/154 Bandung
Email: dikdik@informatika.lipi.go.id

Abstrak
Telah dilakukan pembuatan suatu aplikasi kontrol switch menggunakan Silicon
Controlled Rectifier (SCR) melalui parallel port. Menggunakan parallel port sebagai media
antarmuka, SCR sebagai switch elektronis, optocoupler sebagai pengisolasi elektris dan
bahasa pemograman yang digunakan Ezy Pascal. Dilakukan pengujian pada bagian output
parallel port, bagian tegangan input, penggerak SCR dan bagian beban. Sistim yang dibuat
membuktikan bahwa media parallel port dapat berfungsi sebagai media pengontrol SCR untuk
mengaktifkan atau menonaktifkan beban.

Kata kunci: kontrol, saklar, SCR, port paralel

port sebagai media koneksinya, penggunaan


1. Pendahuluan parallel port justru dapat menjadi nilai
tambah karena di negara kita masih banyak
Komputer, lebih tepatnya disebut komputer-komputer lama yang memiliki
Personal Computer (PC), memiliki banyak parallel port pada bagian belakang
fungsi. Salah satu fungsinya adalah dapat panelnya. Hal ini yang seharusnya
digunakan untuk melakukan pengontrolan dimanfaatkan secara maksimal
suatu sistim. Pada umumnya komputer penggunaannya karena selain menghemat
memiliki beberapa port yang dapat biaya karena tidak perlu membeli parallel
digunakan untuk akuisisi. Port tersebut port-nya lagi juga . Selain itu, parallel port
adalah serial port, parallel port dan memiliki kemudahan dari sisi pemrograman
Universal Serial Bus (USB) port. Dari port- dan antarmuka dengan hardware sehingga
port yang ada, pengguna komputer jarang dapat lebih dieksploitasi penggunaannya.
sekali menggunakan parallel port. Sebagian Bit-bit kontrol yang keluar melalui
besar pengguna komputer hanya parallel port akan diteruskan kepada switch
menggunakan parallel port sebagai media untuk dapat mengendalikan beban. Switch
untuk koneksi printer. Padahal, parallel port yang digunakan pada penelitian ini adalah
termasuk media yang handal jika digunakan Silicon Controlled Rectifier (SCR). SCR
pada suatu sistim kontrol. Keistimewaan mampu berfungsi dan bertindak sebagai
parallel port adalah penggunaannya pada switch untuk arus yang besar sehingga
sistim pengiriman data digital dimana komponen ini lebih banyak digunakan untuk
beberapa bit data dikirim sekaligus pada satu aplikasi tegangan AC (Alternating Current).
saat dengan menggunakan jalur terpisah ke Hal tersebut yang mendasari pemilihan SCR
tempat yang sama. Keunggulan lainnya untuk menggantikan transistor dan relay
adalah register yang dibutuhkan dalam sebagai driver output.
berkomunikasi dengan prosesor juga relatif Tujuan penelitian ini adalah membuat
lebih sedikit dibandingkan jika suatu aplikasi pengontrol beban dengan
menggunakan serial port. menggunakan Silicon Controlled Rectifier
Walaupun komputer yang ada sekarang (SCR) sebagai switch melalui media parallel
ini lebih mengutamakan penggunaan USB port yang ada pada komputer. Dalam
penelitian ini indikator beban yang Register status hanya sebagai read only
digunakan berupa lampu. Tulisan ini port. Data apa saja yang dituliskan ke
merupakan laporan hasil penelitian yang port ini akan diabaikan. Port status
telah direalisasikan dan dilakukan berasal dari lima masukan parallel port
pengujiannya. (pin 10, 11, 12, 13 dan 15), sebuah
register status IRQ (Interrupt Request)
2. Teori Dasar dan dua bit sebagai cadangan.
3. Register kontrol (base + 2)
2.1 Parallel Port Register kontrol hanya sebagai write only
port. Saat sebuah device (dalam hal ini
Parallel port adalah salah satu jenis soket printer) disambungkan pada parallel
pada PC untuk berkomunikasi dengan port maka dibutuhkan 4 kontrol yakni
peralatan luar. Parallel port biasanya Strobe (pin 1), Auto Linefeed (pin 14),
terletak pada salah satu port yang terletak Initialize (pin 16) dan Select Printer (pin
pada panel bagian belakang komputer. Arti 17).
istilah parallel yakni sistim pengiriman data
digital, dimana beberapa bit data dikirim Pada saat pertama kali PC dinyalakan,
sekaligus pada satu saat dengan Basic Input Output Service (BIOS) akan
menggunakan jalur terpisah. Parallel port menentukan jumlah port yang dimiliki.
terdiri atas 4 jalur kontrol, 8 jalur status dan Selanjutnya akan diberi label Line Printer
8 jalur data. Terminal (LPT). Alamat dasar LPT adalah
Parallel port mempunyai 3 buah standar $278 - $27F, $378 - $37F dan $3BC - $3BF.
yakni SPP (Standard Parallel Port), EPP Alamat ketiga register tersebut di atas dapat
(Enhanced Parallel Port) dan ECP ditentukan dengan menjumlahkan alamat
(Extended Capability Port). Tujuan dasar parallel port dengan bilangan desimal
standarisasi adalah untuk kompatibilitas tertentu. Misalnya jika ingin mengakses
antara satu device dengan lainnya. Pada PC, register data suatu parallel port LPT1,
konektor yang biasa digunakan adalah alamat register datanya sama dengan alamat
konektor DB-25 yang mempunyai jumlah dasar LPT yaitu $378. Sedangkan alamat
pin sebanyak 25 buah. register status sama dengan alamat register
2.2 Register-Register Parallel Port dasar + 1 atau $379 dan alamat register
kontrolnya sama dengan alamat register
Semua data, kontrol dan status parallel dasar + 2 atau $37A.
port berhubungan dengan register-register
yang ada di dalam komputer. Dengan 2.3 Optocoupler
mengakses langsung register-register Optocoupler merupakan piranti
tersebut, input dan output parallel port dapat elektronika yang berfungsi sebagai
diatur. Register-register pada parallel port pengisolasi elektris antara rangkaian power
adalah: dengan rangkaian kontrol jika terjadi arus
1. Register data (base + 0) balik dari tegangan jala-jala PLN menuju
Register data digunakan untuk komputer. Opto berarti optik dan coupler
mengeluarkan data pada jalur data berarti penggandeng. Optocoupler dapat
parallel port melalui pin 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8 berupa Light Emitting Diode (LED) yang
dan 9. Register ini normalnya hanya digandeng dengan foto transistor. Idenya
sebagai read only port. Jika mencoba adalah sebagai berikut, perubahan tegangan
membaca dari port ini akan didapatkan V S menghasilkan perubahan pada arus LED
byte terakhir yang terkirim. Jika port
dimana perubahan arus akan masuk ke foto
bersifat dua arah maka dapat juga
transistor. Di sisi lain hal tersebut akan
menerima alamat ini.
menghasilkan perubahan tegangan pada
2. Register status (base + 1)
terminal Collector-Emitter. Oleh sebab itu
tegangan sinyal akan digandeng dari Vin = VGT + I GT R (3)
rangkaian input ke rangkaian output. dimana VGT dan I GT adalah tegangan dan
Gambar 1 memperlihatkan rangkaian
optocoupler. arus pemicu gate.
Setelah SCR dalam kondisi ON maka
Vcc SCR akan tetap ON meskipun Vin dikurangi
RA
Collector menjadi nol. Satu-satunya cara untuk me-
VS reset SCR adalah dengan mengurangi VCC ke
OPT Emitter
VO nilai yang lebih rendah. Karena arus holding
RB ( I H ) mengalir melalui hambatan beban
( R L ) sehingga tegangan catu ( VCC ) untuk
Gambar 1 Optocoupler dengan LED dan foto kondisi OFF harus lebih kecil dari :
transistor VCC = 0,7 + ( I H RL ) (4)
Tegangan output VO bagian optocoupler dimana I H adalah arus holding yang
dapat dihitung dengan persamaan: mempertahankan SCR agar tetap ON.
VO = VCC − VCE (1)
3. Desain, Hasil dan Pembahasan
Dimana VCC adalah tegangan catu untuk
transistor dan VCE adalah tegangan transistor 3.1 Desain
dari collector ke emitter.
Secara keseluruhan rangkaian yang
Sedangkan besarnya arus yang mengalir
didesain sesuai dengan blok diagram seperti
melalui optocoupler LED adalah:
pada Gambar 3. Bagian Personal Computer
V − V LED (2)
I LED = S (PC) merupakan pusat pengendali alat. Di
RA dalam PC terdapat program yang dibuat
menggunakan bahasa pemograman Ezy
2.4 Silicon Controlled Rectifier Pascal dan berfungsi untuk mengaktifkan
atau menonaktifkan beban. Dengan program
Huruf Silicon Controlled Rectifier (SCR) yang dibuat, PC akan mengirimkan bit-bit
adalah komponen yang terbuat dari bahan kendali melalui parallel port kepada
semiconductor silicon dan mempunyai rangkaian switch sehingga beban dapat
fungsi sebagai pengendali ataupun sebagai dikendalikan. Untuk memudahkan
switch. SCR juga sering disebut thyristor. pengamatan maka pada bagian beban
Gambar 2 memperlihatkan rangkaian SCR dipasang 8 buah lampu pijar, masing-masing
dasar. lampu mempunyai daya 5 Watt dan
tegangan 220 Volt, yang digunakan sebagai
indikator beban.

Gambar 2 Rangkaian Silicon Controlled


Rectifier (SCR) dasar
Gambar 3 Blok diagram alat pengontrol
Tegangan input ( Vin ) yang dibutuhkan beban
untuk memicu (men-trigger) sebuah SCR
adalah :
Keterangan Pada penelitian ini, standar OPT tidak akan menyala, sehingga transistor
parallel port yang digunakan adalah pada OPT dalam keadaan cut off. Hal
Standard Printer Port (SPP), konektor DB- tersebut menyebabkan tidak ada arus yang
25 dengan label LPT1 yang beralamat $378 mengalir dari VCC ke ground. Pada keadaan
- $37F. Register data yang beralamat $378 ini VCC akan mempunyai tegangan sebesar 0
digunakan untuk mengeluarkan data pada
jalur data parallel port (pin 2 sampai dengan Volt.
pin 9) sehingga dapat mengkontrol 8 beban Tegangan output parallel port pada saat
sekaligus. Indikator beban menggunakan 8 high adalah sebesar 5 Volt, tegangan LED
buah lampu pijar sebagai indikator berfungsi ( V LED ) adalah sebesar 2,5 Volt dan resistor
atau tidaknya aplikasi sistem yang VLED bernilai 100 Ω, maka dari persamaan (2)
dirancang. Catu daya yang digunakan adalah akan diketahui arus yang mengalir melalui
catu DC (Direct Current) sebesar 5 Volt LED optocoupler adalah sebesar 0,025
digunakan untuk memberi catu kepada Ampere.
optocoupler dan kaki gate SCR sebagai Arus dari jala-jala PLN akan mengalir
trigger sedangan tegangan AC (Alternating apabila kaki gate SCR diberi trigger yang
Current) jala-jala PLN 220 Volt digunakan berasal dari VLED. Tegangan VLED merupakan
untuk memberi catu ke lampu melalui
anoda-katoda SCR. tegangan yang berasal dari output
Rangkaian switch terdiri atas Silicon optocoupler. Dengan VLED adalah tegangan
Controlled Rectifier (SCR) dan optocoupler. gate trigger yang besarnya 0,8 Volt dan VLED
SCR yang digunakan adalah jenis 2P4M dan
tipe optocoupler yang dipakai adalah 817B1. adalah arus gate trigger yang besarnya 200
Gambar 4 memperlihatkan rangkaian switch μ Ampere maka dari persamaan (3) besarnya
keseluruhan yang dibuat. Rangkaian switch tegangan input VLED yang dibutuhkan untuk
akan menerima data input dari PC melalui men-trigger SCR adalah sebesar 1 Volt
parallel port sebanyak 8 saluran dari D0 Setelah SCR ON maka SCR akan tetap
sampai D7 dan masing-masing saluran akan hidup meskipun tegangan VCC dikurangi
mengeluarkan level tegangan 1 (high) atau
level tegangan 0 (low). menjadi nol. Untuk me-reset SCR adalah
dengan cara mengurangi arusnya sehingga
lebih kecil dari pada arus holding VCC yang
biasanya dilakukan dengan mengurangi
tegangan jala-jala ke nilai yang rendah.
Besarnya arus holding adalah 3 mA dan VCC
sebesar 9.680 Ω . Dengan demikian
besarnya tegangan jala-jala yang dibutuhkan
untuk membuat SCR OFF sesuai dengan
Gambar 4 Rangkaian switch yang dibuat persamaan (4) adalah 29,74 Volt. Tegangan
jala-jala PLN sendiri berupa arus bolak-balik
Tegangan output bagian optocoupler Secara keseluruhan rangkaian yang didesain
dapat dihitung dari persamaan (1). Apabila sesuai dengan blok diagram seperti pada
D0 bernilai 1 (high) maka LED pada Gambar 3. Bagian Personal Computer (PC)
optocoupler (OPT) akan menyala, sehingga merupakan pusat pengendali alat. Di dalam
transistor pada OPT akan saturasi. Hal ini PC terdapat program yang dibuat
akan menyebabkan arus mengalir dari VCC menggunakan bahasa pemograman Ezy
Pascal dan berfungsi untuk mengaktifkan
ke ground melalui RB , maka besarnya atau menonaktifkan beban. Dengan program
tegangan output VO akan menjadi 5 Volt. yang dibuat, PC akan mengirimkan bit-bit
Apabila D0 bernilai 0 (low) maka LED pada kendali melalui parallel port kepada
rangkaian switch sehingga beban dapat
dikendalikan. Untuk memudahkan
pengamatan maka pada bagian beban
dipasang 8 buah lampu pijar, masing-masing
lampu mempunyai daya 5 Watt dan
tegangan 220 Volt, yang digunakan sebagai
indikator beban.
Gambar 4 Rangkaian switch yang dibuat
Tegangan output VO bagian optocoupler
dapat dihitung dari persamaan (1). Apabila
D0 bernilai 1 (high) maka LED pada
optocoupler (OPT) akan menyala, sehingga
transistor pada OPT akan saturasi. Hal ini
Gambar 3 Blok diagram alat pengontrol akan menyebabkan arus mengalir dari VCC
beban
ke ground melalui RB , maka besarnya
Keterangan Pada penelitian ini, standar tegangan output VO akan menjadi 5 Volt.
parallel port yang digunakan adalah
Standard Printer Port (SPP), konektor DB- Apabila D0 bernilai 0 (low) maka LED pada
25 dengan label LPT1 yang beralamat $378 OPT tidak akan menyala, sehingga transistor
- $37F. Register data yang beralamat $378 pada OPT dalam keadaan cut off. Hal
digunakan untuk mengeluarkan data pada tersebut menyebabkan tidak ada arus yang
jalur data parallel port (pin 2 sampai dengan mengalir dari VCC ke ground. Pada keadaan
pin 9) sehingga dapat mengkontrol 8 beban ini VO akan mempunyai tegangan sebesar 0
sekaligus. Indikator beban menggunakan 8 Volt.
buah lampu pijar sebagai indikator berfungsi Tegangan output parallel port pada saat
atau tidaknya aplikasi sistem yang high adalah sebesar 5 Volt, tegangan LED
dirancang. Catu daya yang digunakan adalah ( VLED ) adalah sebesar 2,5 Volt dan resistor
catu DC (Direct Current) sebesar 5 Volt
digunakan untuk memberi catu kepada R A bernilai 100 Ω, maka dari persamaan (2)
optocoupler dan kaki gate SCR sebagai akan diketahui arus yang mengalir melalui
trigger sedangan tegangan AC (Alternating LED optocoupler adalah sebesar 0,025
Current) jala-jala PLN 220 Volt digunakan Ampere.
untuk memberi catu ke lampu melalui Arus dari jala-jala PLN akan mengalir
anoda-katoda SCR. apabila kaki gate SCR diberi trigger yang
Rangkaian switch terdiri atas Silicon berasal dari Vin . Tegangan Vin merupakan
Controlled Rectifier (SCR) dan optocoupler. tegangan yang berasal dari output
SCR yang digunakan adalah jenis 2P4M dan optocoupler. Dengan VGT adalah tegangan
tipe optocoupler yang dipakai adalah 817B1.
Gambar 4 memperlihatkan rangkaian switch gate trigger yang besarnya 0,8 Volt dan I GT
keseluruhan yang dibuat. Rangkaian switch adalah arus gate trigger yang besarnya 200
akan menerima data input dari PC melalui μ Ampere maka dari persamaan (3) besarnya
parallel port sebanyak 8 saluran dari D0
tegangan input Vin yang dibutuhkan untuk
sampai D7 dan masing-masing saluran akan
mengeluarkan level tegangan 1 (high) atau men-trigger SCR adalah sebesar 1 Volt
level tegangan 0 (low). Setelah SCR ON maka SCR akan tetap
hidup meskipun tegangan Vin dikurangi
menjadi nol. Untuk me-reset SCR adalah
dengan cara mengurangi arusnya sehingga
lebih kecil dari pada arus holding I H yang 3.3 Pengaktifan Bit-Bit Parallel Port
biasanya dilakukan dengan mengurangi Pengendalian aktif atau non aktif beban
tegangan jala-jala ke nilai yang rendah. pada rangkaian switch dilakukan oleh
Besarnya arus holding adalah 3 mA dan R L program yang terdapat pada PC. Program
sebesar 9.680 Ω . Dengan demikian akan mengirimkan data yang akan
besarnya tegangan jala-jala yang dibutuhkan mengaktifkan bit-bit pada register data
untuk membuat SCR OFF sesuai dengan parallel port dari D0 sampai dengan D7.
persamaan (4) adalah 29,74 Volt. Tegangan Menggunakan program yang dibuat dalam
jala-jala PLN sendiri berupa arus bolak-balik bahasa pemograman Ezy Pascal, pengaktifan
sehingga untuk membuat SCR OFF adalah bit-bit register data dilakukan dengan
dengan cara memberikan tegangan input perintah : port[$378]:=$nilai;
Vin lebih kecil dari pada 1 Volt. Port[$378] adalah alamat untuk parallel
port LPT1, sedangkan $nilai merupakan
3.2 Flowchart Program sebuah nilai dalam format heksadesimal.
Tabel 1 menunjukkan hubungan antara
Program dimulai dari blok start yang beban yang akan diaktifkan dengan nilai
artinya program dalam keadaan dieksekusi. heksadesimal yang akan diberikan untuk
Selanjutnya program akan menghapus pengaktifan bit-bit parallel port.
semua data dalam buffer parallel port
dengan cara memberikan nilai $00 kepada Tabel 1. Pengaktifan bit-bit register data
parallel port. Keadaan ini akan parallel port
mengakibatkan semua beban dalam keadaan Beban
D7 : D0 Heksadesimal
OFF. Berikutnya adalah memberikan (lampu)
variabel data dengan nilai $00 dan variabel 1 0000:0001 01
L1 samapai dengan L2 dengan nilai OFF. 2 0000:0010 02
Setelah semua data dalam kondisi awal 3 0000:0100 04
selanjutnya program akan menampilkan 4 0000:1000 08
menu pilihan. Menu pilihan dibuat untuk 5 0001:0000 10
panduan dalam layar monitor sehingga 6 0010:0000 20
proses untuk mematikan atau menghidupkan 7 0100:0000 40
beban menjadi lebih mudah. Gambar 4 8 1000:0000 80
menunjukkan flow chart aplikasi program
yang telah dilaksanakan. Berdasarkan flowchart yang dibuat,
langkah pertama adalah membuat kondisi
beban dalam keadaan non aktif (reset)
setelah menjalankan atau mematikan
program. Bagian ini disebut bagian clear
buffer port. Perintah proses menghapus
parallel port adalah :
port[$378] :=data_awal;
Ini berarti memberikan nilai $00 kepada
parallel port sehingga seluruh beban dalam
keadaan non aktif.
3.4 Hasil Pengujian
Pengujian bagian parallel port
dimaksudkan untuk mengetahui output
tegangannya. Untuk mengetahui output
tegangan tersebut dilakukan dengan cara
Gambar 4. Flowchart program mengeksekusi program dan kondisi alat
terpasang. Dari hasil pengukuran didapatkan beban yang berupa lampu dapat dinyalakan
bahwa pada saat diberi logika 1 (high) maka atau dimatikan sesuai dengan perintah
setiap port yang diukur (D0 – D7) program yang dibuat. Untuk pengembangan
menghasilkan tegangan sebesar 4,42 Volt. penelitian selanjutnya perlu dilakukan
Sedangkan saat diberi logika 0 (low) maka pengujian dengan meningkatkan panjang
setiap port yang diukur (D0 – D7) kabel hingga jarak jangkauan aplikasi
menunjukkan tegangan sebesar 0 Volt. maksimumnya dapat diketahui dan dicari
Pengujian catu daya (DC) menunjukkan solusi pemecahannya.
output tegangan sebesar 4,38 Volt. Pada
rangkaian switch menggunakan SCR 5. Daftar pustaka
memiliki tegangan input sebagai
penggeraknya, hasil pengukuran tegangan [1] Fitzgerald A.E, Higginbotham, David
input menunjukkan bahwa pada saat diberi E, Grabel, Arvin., Basic Electrical
Engineering. 5td ed, McGraw-Hill,
logika 1 (high), tegangan Vin pada setiap Auckland, 1981.
saluran port masing-masing akan [2] Malvino, A.P, Electronic Principles, 5td
menunjukkan tegangan sebesar 4,36 Volt. ed, Glencoe, Macmillan, New York,
Sedangkan jika diberi logika 0 (low), 1993.
tegangan Vin pada setiap saluran port [3] Thompson and Cooser P, A Hardware
Programming with Pascal,
masing-masing akan menunjukkan tegangan
Telemechanics, USA, 2003.
sebesar 0 Volt.
[4] www.ezypascal.com
Untuk mengetahui program yang telah
dibuat berfungsi sesuai dengan yang
diharapkan maka dilakukan pengujian dalam
2 kondisi. Kondisi pertama adalah saat
semua indikator beban (lampu) dalam
keadaan OFF. Kondisi ini untuk menguji
apakah pilihan untuk mengaktifkan beban
dapat bekerja dengan baik. Pengertian baik
di sini adalah bahwa indikator yang berupa
lampu dapat menyala ketika mendapat
perintah aktif. Hasilnya adalah semua beban
dapat diaktifkan (ON). Kondisi kedua adalah
saat semua indikator beban (lampu) dalam
keadaan ON atau artinya dalam kondisi
lampu menyala. Kondisi ini untuk menguji
apakah pilihan untuk menonaktifkan beban,
program dapat bekerja dengan baik yang
ditunjukkan dengan indikator lampu yang
menjadi mati. Hasil pengujian menunjukkan
semua beban dapat dinonaktifkan (OFF)
atau semua lampu dapat dimatikan

4. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan fakta
yang diperoleh dari pengujian maka dapat
disimpulkan bahwa aplikasi yang dibuat
dapat melakukan fungsinya sebagai kontrol
switch yang mampu mengendalikan beban
dengan baik atau dengan kata lain indikator

Beri Nilai