Anda di halaman 1dari 9

UPEJ 2 (3) (2013)

Unnes Physics Education Journal


http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/upej

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 7E


UNTUK MENINGKATKAN HASIL BELAJAR SISWA SMP PADA POKOK
BAHASAN USAHA DAN ENERGI

Zulfani Aziz  , Ani Rusilowati, M. Sukisno

Jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Semarang,
Indonesia, 50229

Info Artikel Abstrak


________________ ___________________________________________________________________
SejarahArtikel: Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar pada aspek kognitif, afektif, dan
Diterima Maret 2013 psikomotorik siswa kelas VIII A SMP Negeri 9 Semarang pada materi Usaha dan Energi dengan
Disetujui Maret 2013 menggunakan model learning cycle 7E. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang
Dipublikasikan Mei 2013 terdiri atastiga siklus. Setiap siklus meliputi perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
________________ Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah metode dokumentasi, tes, dan observasi.
Keywords: Dalam penelitian ini digunakan tes bentuk objektif pilihan ganda untuk mengukur hasil belajar
7E learning cycle kognitif dan lembar observasi untuk mengukur hasil belajar afektif dan hasil belajar psikomotorik.
learning outcomes Hasil analisis datamenunjukan peningkatan hasil belajar siswa signifikan.Hasil analisis tersebut
work and energy. menunjukan bahwa penggunaan model learning cycle 7E dapat meningkatkan hasil belajar siswa
____________________ baik kognitif, afektif maupun psikomotorik secara signifikan.

Abstract
___________________________________________________________________
This study aimed to improve learning outcomes in the cognitive, affective, and psychomotor eighth grade
students of SMP Negeri 9 Semarangon a matter of work and energy by using a model7E learning cycle. This
research is a class act consisting of several cycles. Each cycle includes planning, execution, observation, and
reflection. Methods of data collection in this research is a method of documentation, testing, and observation.
This study used a test instrument with the form of multiple choice objective to measure cognitive learning and
observation sheet instruments to measure affective learning outcomes and psychomotor learning outcomes.
From the results of data analysis showed a significant increase in learning outcomes result. The analysis shows
that the model 7E learning cycle can improvestudent learning outcomes in cognitive, affective and psychomotor
significantly.

© 2013UniversitasNegeri Semarang


Alamatkorespondensi: ISSN 2252-6935
Gedung D7 Lantai 2 Kampus UNNES,Semarang, 50229
E-mail: zulfani.aziz@yahoo.co.id
Zulfani Aziz, dkk/ Unnes Physic Education Journal 2 (3) (2013)

PENDAHULUAN dokumentasi nilai ulangan Gayakelas VIII A


SMP 9 Semarang, hanya ada lima siswa yang
Pendidikan sains menekankan pada tuntas, sedangkan 23 yang lain tidak tuntas.
pemberian pengalaman langsung untuk Kelas yang lain relatif lebih baik. Oleh sebab itu
mengembangkan kompetensi agar siswa mampu perlu dicari upaya agar kelas VIII A memiliki
menjelajahi dan memahami alam sekitar secara kemampuan yang sama dengan kelas lain, yaitu
ilmiah. Oleh karena itu, pendekatan yang dengan pembelajaran yang bermakna. Hal ini
diterapkan dalam menyajikan pembelajaran sesuai dengan tujuan kurikulum 2006 (KTSP)
sains adalah memadukan antara pengalaman bahwa pembelajaran yang dilaksanakan adalah
proses sains dan pemahaman produk sains melibatkan aktivitas siswa yang menjadikan
dalam bentuk pengalaman langsung (Depdiknas, belajar lebih bermakna. Agar belajar lebih
2003). bermakna dalam proses pembelajaran fisika,
Dalam tujuan tersebut tercakup siswa harus mempunyai pengalaman fisik (aspek
kompetensi dasar yang harus dimiliki siswa psikomotor) sebagai upaya untuk
yaitu memupuk sikap ilmiah, mengembangkan dapatmenemukan gagasan/ide dan terbentuk
pengalaman dan menguasai konsep dan prinsip sebuah konsep, sehingga konsep-konsep fisika
fisika. Kompetensi-kompetensi tersebut tidak lagi merupakan konsep yang abstrak
berkenaan dengan hasil belajar fisika siswa yang dengan menghafal rumus-rumus. Oleh sebab itu,
mencakup aspek kognitif, afektif dan diharapkan dari suatu kegiatan belajar mengajar
psikomotorik.Untuk dapat mewujudkan hal yang dilakukan berpusat pada siswa dan dapat
tersebut dibutuhkan pendekatan yang mampu meningkatan hasil belajar yang mencakup
memberikan pengalaman langsung pada siswa peningkatan pada aspek kognitif, afektif dan
dalam pembelajaran sains.Akan tetapipada psikomotor.
kenyataannya yang terjadi di lapangan masih Model pembelajaran yang dapat
belum sesuai dengan yang diharapkan. Sebagian dijadikan alternatif adalah model pembelajaran
besar siswa belum mampu mencapai kompetensi learning cycle7E. Model pembelajaran learning
individual yang diperlukan untuk mengikuti cycle 7E dikembangkan oleh Eisenkraft
pelajaran lanjutan. Siswa baru mampu (2003),terdiri atas tujuh fase yang terorganisir
mempelajari (baca: menghafal) fakta, konsep, dengan baik, yaitu Elicit, Engage, Explore,
prinsip, hukum, teori, dan gagasan inovatif Explain, Elaborate, Evaluate dan Extend.
lainnya pada tingkat ingatan, mereka belum Berdasarkan uraian di atas, peneliti
dapat menggunakan dan menerapkannya secara melakukan penelitian dengan tujuan untuk
efektif dalam pemecahan masalah sehari-hari mengetahuipeningkatan hasil belajar siswa kelas
yang kontekstual (Depdiknas, 2003). VIII A SMP 9 Semarang setelah menggunakan
Hal tersebut terjadi dikarenakan proses model pembelajaran Learning Cycle 7E pada
pembelajaran fisika lebih cenderung pokok bahasan Usaha dan Energi.
menempatkan ilmu fisika sebagai sejumlah
informasi yang harus disampaikan dan METODE PENELITIAN
dihafalkan siswa. Guru cenderung sebagai pusat
informasi yang seakan dan bertugas Penelitian ini merpakan penelitian
menginformasikan rumus-rumus dan hukum- tindakan kelas (Classroom Action Research),
hukum fisika kepada para siswanya.Hasil yang dilaksanakan dalam tiga siklus. Setiap
observasi menunjukan bahwa kecenderungan siklus terdiri atas empat tahap kegiatan, yaitu
pembelajaran fisika umumnya masih berpusat perencanaan (planning), pelaksanaan (action),
pada guru. Siswa cenderung pasif dan rasa ingin pengamatan (observation), dan refleksi
tahunya rendah. Hal ini menunjukkan bahwa (reflection). Metode pengumpulan data
aspek afektif dan psikomotorik siswa kurang menggunakan metode dokumentasi, tes, dan
diberdayakan.Hasil pengumpulan data berupa observasi.Instrumen yang digunakan dalam
32
Zulfani Aziz, dkk/ Unnes Physic Education Journal 2 (3) (2013)

penelitian ini adalah tes bentuk objektif pilihan secaraindividual dan 85% secara klasikal maka
ganda untuk mengukur hasil belajar kognitif dan pembelajaran berhasil, untuk penilaian aspek
lembar observasi untuk mengukur hasil belajar afektif dan aspek psikomotorik, seorang siswa
afektif dan hasil belajar psikomotorik.Menurut dikatakan tuntas belajar jika hasil belajar siswa
Mulyasa (2002: 99), keberhasilan pembelajaran mencapai 75% secara individual dan 75% secara
untuk aspek kognitif siswa dapat diketahui dari klasikal (Mulyasa 2002: 101-102). Secara ringkas
hasil tes. Jika hasil belajar siswa mencapai KKM prosedur penelitian disajikan pada Gambar 1.

Perencanaan Tindakan I:
-observasi identifikasi masalah
-Menganalisis KTSP mata pelajaran fisika kelas VIII
-menyusun skenario, perangkat dan instrumen untuk sub Pelaksanaan Tindakan I:
pokok bahasan energi dan perubahan bentuk energi
-melaksanakan skenario pembelajaran pada sub
-Validasi perangkat pembelajaran dan instrumen oleh dosen
pokok bahasan energi dan perubahan bentuk energi
pembimbing dan dosen ahli
-uji coba soal dan analisis soal sesuai model learning cycle 7E

Refleksi Tindakan I:
Pengamatan Tindakan I:
-menganalisis jawaban post-test
Mengamati dan merekam segala peristiwa yang
-menganalisis hasil observasi
-hasil analisi menunjukan hasil belajar siswa belum terjadi selama tindakan untuk memantau sejauh mana
memenuhi indikator keberhasilan sehingga perlu efek tindakan pembelajaran dengan menggunakan
perbaikan untuk siklus selanjutnya model learning cycle 7E

Perencanaan Tindakan II: Pelaksanaan Tindakan II:


-identifikasi masalah berdasarkan refleksi I -melaksanakan skenario pembelajaran pada sub
-menyusun skenario, perangkat dan instrumen untuk pokok bahasan energi potensial, energi kinetik, dan
energi mekanik sesuai model learning cycle 7E
sub pokok bahasan energi potensial, energi kinetik,
dan energi mekanik

Refleksi Tindakan II: Pengamatan Tindakan II:


-menganalisis jawaban post-test Mengamati dan merekam segala peristiwa yang
-menganalisis hasil observasi
terjadi selama tindakan untuk memantau sejauh mana
-hasil analisi menunjukan hasil belajar siswa belum
memenuhi indikator keberhasilan sehingga perlu perbaikan
efek tindakan pembelajaran dengan menggunakan
untuk siklus selanjutnya model learning cycle 7E

Perencanaan Tindakan III:


Pelaksanaan Tindakan III:
-identifikasi masalah berdasarkan refleksi II
-melaksanakan skenario pembelajaran pada pokok
-menyusun skenario, perangkat dan instrumenuntuk
bahasan usaha, hubungan usaha dan energi, dan daya
sub pokok bahasan usaha, hubungan usaha dan
sesuai model learning cycle 7E
energi, dan daya

Refleksi Tindakan III:


Pengamatan Tindakan III:
-menganalisis jawaban post-test
Mengamati dan merekam segala peristiwa yang
-menganalisis hasil observasi
-hasil analisis post-test dan hasil observasi menunjukan terjadi selama tindakan untuk memantau sejauh mana
bahwa indikator keberhasilan telah tercapai sehingga siklus efek tindakan pembelajaran dengan menggunakan
berhenti model learning cycle 7E

Gambar 1. Prosedur Penelitian


Tahap awal dalam penelitian adalah dilakukan pada tahap ini adalah observasi awal
tahap perencanaan (planning). Kegiatan yang untuk mengidentifikasi masalah yang dihadapi
33
Zulfani Aziz, dkk/ Unnes Physic Education Journal 2 (3) (2013)

siswa maupun guru. Identifikasi masalah siswa perbaikan untuk kegiatan belajar selanjutnya.
yaituhasil ulangan harian mata pelajaran fisika Hail dari tahap refleksi ini digunakan untuk
materi sebelumnya. Identifikasi masalah yang menyusun kegiatan pada tahap perencanaan
dihadapi guru yaitu mengenai metode tindakan di siklus selanjutnya.
pembelajaran yang biasa dilakukan, motifasi dan Pada tahap refleksi di pembelajaran
minat siswa terhadap fisika dan situasi ketiga diperoleh hasil bahwa hasil belajar siswa
pembelajaran di kelas. Kegiatan selanjutnya telah mencapai indikator keberhasilan, sehingga
adalah menyusun skenario pembelajaran sesuai siklus dihentikan.
dengan tahapan pembelajaran learning cycle
7Edan menyusun perangkat pembelajaran HASIL DAN PEMBAHASAN
seperti silabus dan sistem penilaian, rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan lembar Kegiatanpenelitian ini dilaksanakan di
kegiatan siswa (LKS) pada pokok bahasan yang kelasVIII A SMP 9 Semarang. Kelas ini dipilih
disesuaikan dengan KTSP. Kemudian karena dari hasil observasi sebelum penelitian
menyiapkan instrumen penelitian berupa soal kelas ini merupakan kelas yang paling ramai,
tes beserta kisi-kisi dan lembar observasi beserta paling susah untuk diatur, dan nilai rata-rata
rubrik penilaiannya. Sebelum instrumen tes kelas yang lebih rendah dari pada kelas
digunakan terlebih dahulu diujicobakan pada lain.Pada ulangan pokok bahasan Gaya, dari 28
kelas VIII D. siswa hanya ada 5 siswa yang tuntas. Sebelum
Tahap kedua adalah tahap pelaksanaan kegiatan penelitian dilaksanakan, peneliti
(acting).Kegiatan pada tahap ini adalah terlebih dahulu berkoordinasi dengan dosen
melaksanakan skenario pembelajaran yang pembimbing untuk menentukan materi
disesuaikan dengan tahapan pembelajaran pelajaran dan subpokok bahasan, rencana
learning cycle 7E. Tindakan yang dilakukan pelaksanaan pembelajaran (RPP), menyusun
guru adalah orientasi siswa pada masalah, LKS, menyusun lembar observasi, menyusun
mengorganisasikan siswa untuk belajar, soal-soal uji coba, dan mengujicobakan soal
membimbing penyelidikan individual maupun tersebut. Dari soal yang diujicobakan tersebut,
kelompok, mengembangkan dan menyajikan diambil soal yang mempunyai daya beda cukup
hasil karya, menganalisis dan mengevaluasi atau baik untuk digunakan sebagai alat evaluasi
proses pemecahan masalah. Di setiap akhir hasil belajar kognitif siswa berupa soal post-tes.
siklus, guru memberikan tes untuk mengetahui Sebelum diujicobakan, soal terlebih dahulu
hasil belajar kognitif siswa. Pada saat yang dikonsultasikan dengan dosen pembimbing dan
bersamaan peneliti bertindak sebagai pengamat dosen ahli untuk diuji validitasnya.
(observer) yang melakukan observasi terhadap Kegitan penelitian ini dilaksanakan
hasil belajar afektif dan psikomotorik siswa. dengan menggunakan model learning cycle
Tahap ketiga adalah tahap pengamatan 7Epada pokok bahasan Usaha dan Energi.
(observing).Kegiatan pada tahap ini adalah Model ini terdiri atas 7 fase yaitu fase elicit,
mengamati dan merekam segala peristiwa yang engege, explore, explain, elaborate, evaluate,
terjadi selama tindakan untuk memantau sejauh dan extend. Penyusunan RPP disesuaikan
mana efek tindakan pembelajaran dengan dengan model pembelajaran learning cycle 7E.
menggunakan modellearning cycle 7Eterhadap Setiap akhir siklus dilakukan perbaikan yang
hasil belajar siswa. Tahap keempat adalah tahap disesuaikan dengan refleksi setelah tindakan
refleksi (reflecting).Kegiatan pada tahap ini dilaksanakan.
adalah menganalisis jawaban dari post-test hasil Dalam proses pembelajaran pada setiap
belajar kognitif, menganalisi hasil observasi hasil siklus dilakukan dengan metode praktikum dan
belajar afektif dan psikomotorik. Apabila hasil diskusi, baik diskusi kelompok maupun diskusi
belajar yang diperoleh siswa belum mencapai kelas. Dalam melaksanakan praktikum dan
indikator keberhasilan maka dibuat rencana diskusi,siswadibagi menjadi tujuh kelompok
34
Zulfani Aziz, dkk/ Unnes Physic Education Journal 2 (3) (2013)

dengan setiap kelompok terdiri atas empat orang aspek afektif siswadilakukan selama proses
siswa. Kelompok dengan jumlah ganjil pembelajaran berlangsung dari awal hingga
dimaksudkan agar dalam diskusi kelas dapat akhir. Kesimpulan yang diperoleh dari
tercapai suatu keputusan jika ada perbedaan praktikum dapat berupa konsep, prinsip, dan
pendapat antar kelompok. Kelompok ini hukum. Setelah kesimpulan diperoleh, peneliti
kemudian digunakan pada kegiatan praktikum memberikan contoh penerapan dari konsep dan
dan diskusi pada siklus berikutnya. Pada tahap prinsip tersebut dalam kehidupan sehari-hari
mempresentaikan hasil praktikum dan diskusi serta fenomena-fenomena yang berhubungan
setiap kelompok diberi kesempatan untuk dengan konsep dan prinsip tersebut.Tahapan
menunjuk salah satu anggota untuk mewakili dalam setiap siklus diakhiri dengan tahap
kelompoknya. Untuk kelompok dengan hasil evaluasi. Dalam tahap ini siswa diberi soal
praktikum dan diskusi yang terbaik pilihan ganda dengan materi yang disesuaikan
mendapatkan penghargaan sebagai simbol nilai padasetiap siklus. Untuk siswa dengan nilai
plus. Pada tahap diskusi kelas untuk tertinggi akan diberi penghargaan sebagai
merumuskan kesimpulan dari praktikum dan penguatan bagi siswa tersebut dan bagi siswa
diskusi yang telah dilaksanakan, semua siswa yang lainnya untuk mendapatkan hasil ulangan
diberi kesempatan untuk mengemukakan yang lebih baik.Hasil belajar siswa mencapai
pendapatnya dengan terlebih dahulu indikator keberhasilan hasil belajar setelah
mengangkat tangan. Pada tahap ini setiap siswa pembelajaran dilaksanakan sebanyak tiga siklus.
yang aktif memberi pendapat akan mendapatkan Sehingga setelah siklus ketiga
penghargaan sebagai motivasi bagi siswa untuk tindakandihentikan.
lebihberani berpendapat. Selama tahap Berikut ini disajikan data hasil belajar
praktikum dan diskusi dalam kelompok, kognitif siswa pada Tabel 1untuk setiap siklus
kemampuan psikomotorik siswa dinilai sebagai dan peningkatannya setelah diterapkan model
hasil belajar psikomotorik, sedangkan observasi learning cycle 7E.

Tabel1. Hasil Belajar Kognitif Siswa


Keterangan Siklus I Siklus II Siklus III Kriteria
Nilai tertinggi 91.67 91.67 100.00
Nilai terendah 50.00 50.00 61.54
Nilai rata-rata 71.73 74.40 80.49
Jumlah siswa tuntas 17 20 24
Jumlah siswa tidak tuntas 11 8 4
Ketuntasan klasikal 60.71 71.43 85.71
ttabel pada taraf signifikansi 5% 1,703
Gain <g> siklus I ke siklus II 0,095 Rendah
Gain <g> siklus II ke siklus III 0,238 Rendah
Gain <g> siklus I ke siklus III 0,3101 Sedang
thitung siklus I ke siklus II 1,611 Tidak signifikan
thitung siklus II ke siklus III 4,712 Signifikan
thitung siklus I ke siklus III 4,097 Signifikan

Berdasarkan Tabel 1 diketahui bahwa siklus II yang dipelajari adalah tentang energi
hasil belajar kognitif siswa mengalami potensial, energi kinetik dan kekekalan energi
peningkatan di setiap siklus. Pada siklus I materi mekanik. Di siklus II hasil yang diperoleh lebih
yang dipelajari adalah bentuk energi, perubahan baik dari siklus I tetapi masih belum mencapai
bentuk energi, dan hukum kekekalan energi. Di indikator keberhasilan. Dari siklus I ke siklus II
siklus I hasil yang diperoleh masih rendah dan terjadi peningkatan walaupun masih rendah dan
belum mencapai indikator keberhasilan. Pada tidak signifikan. Hal ini dapat disebabkan karena
35
Zulfani Aziz, dkk/ Unnes Physic Education Journal 2 (3) (2013)

beberapa faktor, salah satunya karena materi indikator keberhasilan. Dari siklus II ke siklus
energi potensial, energi kinetik, dan energi III terjadi peningkatan yang signifikan walaupun
mekanik memiliki tingkat kesulitan yang relatif masih rendah. Dari siklus I ke siklus III terjadi
tinggi dibandingkan dengan materi peningkatan yang signifikan dengan kategori
bentukenergi, perubahan bentuk energi, dan sedang.
hukum kekekalan energi di siklus I. Pada siklus Berikut ini disajikan data hasil belajar
III materi yang dipelajari adalah usaha, afektif siswa pada Tabel 2 untuk setiap siklus
hubungan usaha dan energi, dan daya. Di siklus dan peningkatannya setelah diterapkan model
III hasil yang diperoleh sudah mencapai learning cycle 7E.

Tabel2. Hasil Belajar Afektif Siswa


Keterangan Siklus I Siklus II Siklus III Kriteria
Nilai tertinggi 85,71 89,29 96,43
Nilai terendah 50.00 50.00 57,14
Nilai rata-rata 72,70 76,19 82,28
Jumlah siswa tuntas 16 18 23
Jumlah siswa tidak tuntas 12 10 5
Ketuntasan klasikal 57,14 64,29 82,14
ttabel pada taraf signifikansi 5% 1,703
Gain <g> siklus I ke siklus II 0,128 Rendah
Gain <g> siklus II ke siklus III 0,256 Rendah
Gain <g> siklus I ke siklus III 0,346 Sedang
thitung siklus I ke siklus II 3,453 Signifikan
thitung siklus II ke siklus III 5,157 Signifikan
thitung siklus I ke siklus III 8,204 Signifikan

Berdasarkan Tabel 2 diketahui bahwa siklus III hasil belajar afektif siswa mencapai
hasil belajar afektif siswa mengalami indikator keberhasilan. Peningkatan hasil belajar
peningkatan di setiap siklus. Dari siklus I ke afektif siswa dapat dianalisis dari peningkatan
siklus II terjadi peningkatan yang signifikan setiap indikator hasil belajar afektif yang diteliti
walaupun masih rendah. Dari siklus II ke siklus yaitu indikator kehadiran di kelas, tanggung
III terjadi peningkatan yang siginifikan juga jawab, menghargai pendapat orang lain,
masih rendah. Dari siklus I ke siklus III terjadi kerapian pakaian, menyampaikan pendapat,
peningkatan yang signifikan dengan kategori memperhatikan pelajaran, dan bekarjasama
sedang.Hasil belajar afektif siswa pada siklus I dalam kelompok. Setelah dilakukan analisis,
dan siklus II belum mencapai indikator diperoleh data seperti ditujukan pada Tabel 3.
keberhasilan. Namun setelah pembelajaran pada

Tabel 3. Peningkatan Tiap Indikator Hasil Belajar Afektif Tiap Siklus


Indikator Siklus I Siklus II Siklus III <g>I-II Kriteria <g>II-III Kriteria <g>I-III Kriteria
Kehadiran di kelas 80.36 80.36 84.82 0 Tidak 0.227 Rendah 0,227 Rendah
meningkat
Tanggung jawab 84.82 86.61 91.96 0.118 Rendah 0.400 Sedang 0,471 Sedang
Menghargai 61.61 62.5 72.32 0.023 Rendah 0.262 Rendah 0,279 Rendah
pendapat orang lain
Kerapian pakaian 94.64 94.64 96.43 0 Tidak 0.333 Sedang 0,333 Sedang
meningkat
Menyampaikan 41.07 50.89 61.61 0.167 Rendah 0.218 Rendah 0,348 Sedang
pendapat
Memperhatikan 62.50 68.75 72.32 0.167 Rendah 0.114 Rendah 0,262 Rendah
36
Zulfani Aziz, dkk/ Unnes Physic Education Journal 2 (3) (2013)

pelajaran
Bekerjasama dalam 83.93 89.29 95.54 0.333 Sedang 0.583 Sedang 0,722 Tinggi
kelompok
Rata-rata 72.70 76.15 81.51 0.128 Rendah 0.29 Rendah 0,378 Sedang

Berdasarkan Tabel 3 diketahui bahwa disebabkan karena siswa belum aktif dalam
pada indikator kehadiran di kelas dan kerapian bertanya dan berpendapat. Pada siklus II dan
pakaian tidak meningkat dari siklus I ke siklus siklus III siswa sudah aktif bertanya dan
II, sementara indikator yang lain meningkat. berpendapat, tetapi dalam bertanya dan
Akan tetapi pada siklus III semua indikator berpendapat masih kurang jelas dan masih
mengalami peningkatan. Dari semua indikator, belum benar.
indikator kerapian pakaian selalu mendapatkan Berikut ini disajikan data hasil belajar
nilai tertinggi sedangkan indikator psikomotorik siswa pada Tabel 4 untuk setiap
menyampaikan pendapat selalu mendapatkan siklus dan peningkatannya setelah diterapkan
nilai terendah untuk setiap siklus walalupun model learning cycle 7E.
selalu mengalami peningkatan. Pada siklus I

Tabel4. Hasil Belajar Psikomotorik Siswa


Keterangan Siklus I Siklus II Siklus III Kriteria
Nilai tertinggi 83,33 87,50 87,50
Nilai terendah 54,17 58,33 62,50
Nilai rata-rata 74,11 77,53 80,95
Jumlah siswa tuntas 19 20 23
Jumlah siswa tidak tuntas 9 8 5
Ketuntasan klasikal 67,86 71,43 82,14
ttabel pada taraf signifikansi 5% 1,703
Gain <g> siklus I ke siklus II 0,132 Rendah
Gain <g> siklus II ke siklus III 0,152 Rendah
Gain <g> siklus I ke siklus III 0,264 Rendah
thitung siklus I ke siklus II 6,491 Signifikan
thitung siklus II ke siklus III 4,420 Signifikan
thitung siklus I ke siklus III 6,072 Signifikan

Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa psikomotorik siswa dapat dianalisis dari


hasil belajar psikomotorik siswa mengalami peningkatan setiap indikator hasil belajar afektif
peningkatan di setiap siklus secara signifikan yang diteliti yaitu indikator memeprsiapkan alat
walaupun masih rendah. Hasil belajar dan bahan, keterampilan merangkai alat dan
psikomotorik siswa pada siklus I dan siklus II bahan, keterampilan dalam melaksanakan
belum mencapai indikator keberhasilan. Namun percobaan, kesungguhan dalam mengamati
setelah pembelajaran pada siklus III hasil belajar percobaan, kerapian dan kebersihan praktikum,
psikomotorik siswa mencapai indikator dan efektifitas waktu. Setelah dilakukan analisis,
keberhasilan. Peningkatan hasil belajar diperoleh data seperti ditujukan pada Tabel 5.

Tabel5. Peningkatan Tiap Indikator Hasil Belajar Psikomotorik Tiap Siklus


Indikator Siklus I Siklus II Siklus III <g>I-II Kriteria <g>II- Kriteria <g>I- Kriteria
III III
Mempersiapkan alat 84.82 86.61 91.96 0.118 Rendah 0.4 Sedang 0,471 Sedang
dan bahan
Merangkai alat dan 71.43 71.43 75 0 Tidak 0.125 Rendah 0,125 Rendah
bahan meningkat
37
Zulfani Aziz, dkk/ Unnes Physic Education Journal 2 (3) (2013)

Melaksanakan 66.96 66.96 69.64 0 Tidak 0.081 Rendah 0,081 Rendah


percobaan
Kesungguhan 65.18 66.07 66.96 0.026 Rendah 0.026 Rendah 0,051 Rendah
mengamati
percobaan
Kerapian dan 84.82 88.39 92.86 0.235 Rendah 0.385 Sedang 0,529 Sedang
kebersihan alat
praktikum
Efektifitas waktu 71.43 85.71 89.29 0.5 Sedang 0.25 Rendah 0,625 Sedang
Rata-rata 74.11 77.53 80.95 0.146 Rendah 0.211 Rendah 0,314 Sedang

Berdasarkan Tabel 4 diketahui bahwa


dari siklus I ke siklus II indikator kemampuan SIMPULAN
merangkai alat dan bahan tidak meningkat
sementara indikator lainnya meningkat. Akan Berdasarkan hasil penelitian, dapat
tetapi dari siklus II ke siklus III setiap indikator diambil simpulan bahwa pembelajaran dengan
mengalami peningkatan. Dari semua indikator, model lerning cycle 7Edapat meningkatkan hasil
indikator kerapian alat praktikum selalu belajar siswa pada pokok bahasan Usaha dan
mendapatkan nilai tertinggi sedangkan indikator Energi. Peningkatan hasil belajar siswa tersebut
melaksanakan percobaan dan kesungguhan signifikan walaupun masih rendah, sehingga
mengamati percobaan selalu mendapatkan nilai model lerning cycle 7Eperlu untuk digunakan
terendah untuk semua siklus walaupun pada pembelajaran fisika dengan pokok bahasan
mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan yang telah disesuaikan. Pada penelitian sejenis
karena siswa kurang serius, tidak bersungguh- disarankan untuk melakukan penelitian dengan
sungguh, dan kurang teliti dalam melaksanakan tujuan selain hasil belajar siswa dan pada pokok
praktikum. bahasan yang lain.
Berdasarkan hasil penelitian, kegiatan
pembelajaran menggunakan model learning DAFTAR PUSTAKA
cycle 7E dapat meningkatkan hasil belajar
kognitif, afektif, dan psikomotorik siswa. Hasil Bybee, R.W., J.A. Taylor, A. Gardner, P.V. Scotter,
penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian J.C. Powell, A. Wesbrook, & N. Landes.
sebelumnya yang telah dilakukan oleh Kanli & 2006. “The BSCS 5E Instructional model:
Yagbasan (2007) yang menyimpulkan bahwa Origin, Effectivenes, and Application”
(Online). Tersedia:
terjadi peningkatan keterampilan proses dan
http://www.bscs.org/pdf/bscs5e
penguasaan konsep siswa, serta senang
execsummary.pdf. (20 Juni 2012).
terhadap pengelolaan laboratorium dengan Demirdag, B., B. Feyzioglu, A.A.I. Cobanoglu, & E.
model learning cycle 7E. Hasil penelitian juga Altun. 2011. “Developing Instructional
sesuai dengan penelitian Demirdag et.al(2011) Activities Based On constructivist 7E
yang menyimpulkan bahwa penggunaan model Model: Chemistry Teachers’ Perspective”.
learning cycle7E memberikan kontribusi positif Journal of Turkish Science Education. 8 (1),
pada pembelajaran inquiri yang penting bagi 19-26.
pendidikan sains.Dalam pelaksanaannya, setiap Depdiknas. 2003. Kegiatan Belajar Mengajar Yang
Efektif. Jakarta: Depdiknas.
siswa yang aktif akan mendapatkan
Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Standar Kompetensi
penghargaan berupa nilai plus, dan siswa yang
Mapel Sains. Jakarta: Depdiknas.
mendapat nilai ulangan tertinggi akan mendapat Depdiknas. 2007. Peraturan Menteri Pendidikan
penghargaan khusus. Dengan cara ini terbukti Nasional Republik Indonesia No.22
bahwa siswa menjadi lebih termotivasi untuk Tahun2007 Tentang Standar Isi Untuk Satuan
lebih aktif dan lebih giat belajar sehingga hasil Pendidikan Dasar Dan Menengah.Jakarta:
belajar yang diperoleh lebih baik. Depdiknas.
38
Zulfani Aziz, dkk/ Unnes Physic Education Journal 2 (3) (2013)

Dorlince. 2008. “Pembelajaran Model Siklus Belajar University, (online).Tersedia:


(Learning Cycle)”.Jurnal Kewarganegaraan http://www.coe.ilstu.edu/scienceed/lorsb
10(01): 62-70. ach/257/ircy.html.(20 Juni 2012).
Eisenkraft, A. 2003. Expanding the 5E model. The Kanli & Yagbasan. 2007. The Effects of a Laboratory
Sciences Teacher70 (6). 56-59. (online), Based on the 7E Learning Cycle Model and
Tersedia:http://its-about- Verification Laboratory Approach on the
timr.com/htmls/ap/eisenkraft.pdf.(20Juni Development of Students’ Science Process Skills
2012). and Conceptual Achievement. (online).
Fajaroh & Dasna 2009. Pembelajaran Dengan Model Tersedia:www.usca.edu/essays/specialedi
Siklus Belajar (Learning Cycle). (online). tion/UKanlìandRYagbasan.pdf (20 Juni
Tersedia:http://www.sahaka.multiply.co 2012).
m/journal/item/29/pembelajaran_dengan Karplus & Thier. 1967. A New Look at Elementary
_model siklus_belajar_learning_cycle. School Science. Chicago: Rand McNally.
(20Juni 2012). Mulyasa, E. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi.
Hake, R. 1998. Interactive-Engagement Vs Traditional Bandung: Remaja Rosdakarya.
Methods: A Six-Thousand Student Survey Of Mulyasa, E. 2009. Praktik Penelitian Tindakan
Mechanics Test Data For Introductory Physics Kelas.Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Courses. (online). Tersedia di Yuliana & Murniati. 2009. Upaya Meningkatkan Minat
http://physics.indiana.edu/sdi/ajpv3i.pdf Siswa Pada Pembelajaran Fisika Berperspektif
(20 Juni 2012). Crc (Children Rights Convention) Dengan
Huang. 2008. Embedding mobile technology to outdoor Menggunakan Pendekatan Kontekstual.
natural science learning based on the 7E (Online).Tersedia: http://e-
learning cycle. Institute of Graduate Institute of jurnal.ikippgrismg.ac.id/index.php/JP2F/
Learning & Instruction, National Central article/download/120/106 (20 Juni 2012).

39