Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN PRAKTIKUM

STRUKTUR MORFOLOGI BATANG DAN MODEL ARSITEKTUR TANAMAN

untuk memenuhi tugas Matakuliah Struktur Perkembangan Tumbuhan II

yang dibimbing oleh

Dr. Sulisetojono, M.Si dan Umi Fitriyati,S.Pd., M.Pd

Disusun oleh :

Novan Adhi Nugroho (180342618044)

Offering I 2018

UNIVERSITAS NEGERI MALANG

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

SEPTEMBER 2019
A. TOPIK : Batang
HARI/TANGGAL : Kamis, 12 September 2019

B. TUJUAN
Menerapkan pengetahuan mengenai ciri-ciri batang, tunas, dengan pola percabangan,
serta menganalisis terbentuknnya atau terbangunnya arsitektur suatu pohon.
C. ALAT DAN BAHAN
a. Alat
1) Silet atau Pisau
2) Loupe
b. Bahan
1) Lombok (Capsicum annum)
2) Buntutbajing (Lycopodium clavatum)
3) Bayamduri (Amaranthu sspinosis)
4) Pepaya (Carica papaya)
5) Pegagan (Centella asiatica)
6) Teki(Cyperus rotundus)
7) Sansivera trifasciata
8) Iler (Coleus sp.)
9) Seledri (Apium graveolens)
10) Euphorbia sp.
11) Bougenville (Bougainvillea)
12) Jakang (Homalocladium platycladum)
13) Jahe (Zingiber officinale)
14) Asparagus (Asparagus officinalis)
D. HASIL DAN PEMBAHASAN
Perawakan Bentukirisa Permukaa Arahtumb Arahtumbuhca Polapercabanga
nmelintang n uhbatang bang n

Lombok Bulat Licin Tegak Condongkeatas Simpodial

Perdu
Buntutbajing Bulat Berkasdau Pendulus Terkulai Dikotom
n

Terna
Bayamduri Bulat Beralur Tegakluru Condongkeatas Simpodial
s

Terna
Pepaya Bulat Berkasdau Tegakluru - monopodial
n s

Terna
Pegagan Bulat Licin Tegakluru Mendatar Simpodial
s

Terna
Teki Tringularis Licin Tegakluru Mendatar Simpodial
s

Terna
Lidahmertua Bulat Licin Tegak Simpodial

Terna
Iler Segiempat Berusuk Tegakluru Condongkeatas Simpodial
s

Herba
Seledri Bulat Berusuk Tegak Condongkeatas Simpodial

Herba
Euphorbia

Bougenville Bersegi Berduri Tegakluru Terkulai Simpodial


s

Semak
Jakang Pipih Licin - Terkulai Simpodial

Semak
Jahe

Asparagus Pipih Licin Tegakluru Mendatar Simpodial


s

Perdu
MODEL ARSITEKTUR
N GAMBAR MODEL ARSITEKTUR
O
1 Agave Model Holltum

Lokasi: FMIPA UM
2 Lidah Buaya Model Holltum

Lokasi: FMIPA UM
3 Pepaya Model corner

Lokasi : Gedung O4 Biologi


4 Pinang Model corner

Lokasi : Belakang Gedung O4 Biologi

5 Palem Putri Model corner


Lokasi: FMIPA UM
6 Palem Raja Model corner

Lokasi: FMIPA UM
7 Palem Kuning Model Corner
Lokasi: Mojokerto

8 Pisang Model Tomlinson

Lokasi: Pamekasan

9 Jahe Model Tomlinson


Lokasi: Mojokerto
10 Bunga Pagoda Model Holtum

Lokasi: Malang
11 Jarak Model Leeuwenberg
Lokasi: Mojokerto
12 Kamboja Model Leeuwenberg

Lokasi: Mojokerto
13 Ketela Pohon

Model Leeuwenberg

Lokasi: Madura
14 Kamboja Jepang

Model Leeuwenberg

Lokasi: FMIPA UM
15 Pule

Lokasi: Malang Model Koriba


16 Bintaro

Lokasi: Malang Model Koriba


17 Sapium discolor

Lokasi: Coban Rondo, Malang

Model Koriba
18 Ketapang

Model Aubreville
Lokasi: Mataram
19 Elaeocarpus Model Stone
Lokasi: Mataram
20 Kepuh Model Aubreville

Lokasi: Bali

21 Pinusmerkusii Rauh
Lokasi: FMIPA UM
22 Turi Model Rauh

Lokasi: Tembelang, Jombang


23 Sawo Kecik Model rauh
Lokasi: Tembelang, Jombang
24 Randu Model massart

Lokasi: Tembelang, Jombang


25 Randu alas Model massart
Lokasi: Malang
26 Damar Model rauh

Lokasi: Kampus ITB, Jatinangor


27 Kopi Model Roux
Lokasi: Banyuwangi

28 Durian Model Roux

Lokasi: Malang

29 Sambucus nigra Model Champagnat


Lokasi: Pasuruan

30 Kembang merak Model Champagnat

Lokasi: Lamongan

31 Flamboyan Model Troll


Lokasi: Malang
32 Sirsak Model Troll

Lokasi: Lamongan

33 Belimbing Model Troll


Lokasi: Lamongan

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil praktikum tentang morfologi batang yang telah dilakukan, dapat
diketahui bahwa modifikasi pada batang berfungsi untuk adaptasi pada lingkungan. dari
hasil pengamatan, terdapat beberapa perbedaan dari ke empatbelas sampel batang tanaman.
Modifikasi tersebut dikelompokkan berdasarkan perawakan, bentuk irisan melintang,
permukaan, arah tumbuh batang, dan arah tumbuh cabang, serta tipe percabangan.
Pada pengamatan batang tumbuhan jakang. Jakang memiliki perawakan herba, karena
batangnya yang tidak keras, memiliki ruas yang nyata dan bentuk irisan melintangnya pipih,
bersifat filokladia dengan permukaan beralur. Arah tumbuh batangnya yaitu mengangguk.
Tipe percabangan pada tumbuhan jakang adalah monopodial dengan batang dan
percabangannya yang berwarna hijau. Hasil ini sesuai menurut Tjitrosoepomo (2009),
bahwa tanaman jakang memiliki bentuk irisan melintang batang yang berbentuk pipih,
bersifat filokladia karena amat pipih dan mempunyai pertumbuhan yang terbatas, arah
tumbuh batang jakang mengangguk sebab pada awalnya batang tumbuh lurus ke atas, tetapi
kemudian ujungnya membengkok kembali ke bawah. Menurut Hidajat (1994), tanaman
jakang memiliki tipe percabangan monopodial, dimana batang utama selalu tampak jelas,
tidak ada cabang yang tumbuh lebih besar dari batang utama. Menurut Campbell (2010),
tanaman jakang memiliki batang dan percabangan yang berwarna hijau sehingga memiliki
klorofil pada batang atau percabangannya, oleh karena itu memungkinkan terjadinya
fotosintesis, namun tidak semua bagian tumbuhan yang berwarna hijau dapat melakukan
fotosintesis
Kaktus (Fenocactus pilosus) merupakan tanaman dengan habitus atau perawakan
herba sebab batangnya lunak dan berair dengan tipe batang semu (herbaceous). Pada
batang kaktus berfungsi sebagai tempat peninbunan air maka dari itu kaktus dapat hidup
di tempat yang kekurangan air. Permukaan batang kaktud beralur, berduri dan juga
terdapat rambut-rambut. Duri yang melekat pada batang tersebut adalah modifikasi dari
daun. Bentuk irisian melintang batang tanaman yaitu kladodia (cladodium) berbentuk
pipih. Arah cabang pada tanaman ini tegak ke atas. Percabangan kaktus monopodial
dengan arah tumbuh batang tegak lurus serta batang dengan warna hijau, dengan jenis
batang mendong, serta organ tambahan dan adaptasi lingkungan berupa duri. Hal ini
sesuai menurut Tjitrosomo (1983), bahwa Phyllocladium atau cladodium merupakan batang
atau cabang yang mengambil alih fungsi daun karena daun itu mengalami reduksi yang
berubah menjadi duri. Bentuk batang meniru bentuk daun, menjadi pipih dan lebar seperti
pada tumbuhan kaktus lainnya. Kaktus memiliki bentuk irisan melintang batang yang
berbentuk pipih, bersifat kladodia disebabkan terus mengalami percabangan, arah tumbuh
batang kaktus tegak lurus dimana batang utama atau pangkal batang tegak lurus dengan
tanah. Tumbuhan kaktus memiliki tipe percabangan simpodial, yaitu batang utama sukar
ditemukan, karena dalam perkembangan selanjutnya terhenti pertumbuhannya atau kalah
besar dan kalah cepat tumbuhnya dengan cabangnya (Hidajat, 1994).
Iler adalah tanaman dengan habitus herba karena batangnya lunak dan berair dengan
tipe batang semu (herbaceous). Permukaan batang yang nampak jelas berusuk. Bentuk
irisian melintang batang tanaman berbentuk segi empat. Cabang pada tanaman ini
tumbuh condong ke atas. Tipe percabangannya simpodial dengan arah tumbuh batang
serong ke atas atau condong. Hal ini sesuai menurut Tjitrosoepomo (1983), bahwa Iler
memiliki perawakan herba dengan irisan melintang bersegi dengan bentuk segi empat dan
permukaan berusuk dimana terdapat rigi-rigi yang, arah tumbuh batang Iler serong ke atas
atau condong dimana pangkal batang seperti hendak berbaring, tetapi bagian lainnya lalu
membelok ke atas. Tumbuhan Iler memiliki tipe percabangan simpodial, dimana batang
utama sukar ditemukan, karena dalam perkembangan selanjutnya terhenti pertumbuhannya
atau kalah besar dan kalah cepat tumbuhnya dengan cabangnya (Hidajat, 1994).
Sansivera merupakan tanaman dengan habitus sukulen. Permukaan batang yang licin
dengan bentuk irisian melintang batang tanaman bulat. Percabangan pada tumbuhan
Sansivera mendatar. Tipe percabangannya simpodial dengan arah tumbuh batang
menjalar di dalam tanah. Hal ini sesuai menurut Tjitrosoepomo (1983), bahwa Sansivera
memiliki perawakan herba dengan irisan melintang berbentuk teres atau bulat dan
permukaan licin dan terdapat buku-buku, arah tumbuh batang Sansivera menjalar di bawah
tanah dimana batang berbaring dan pada buku-buku batang keluar akar. Menurut Endah &
Lentera (2013) sukulen adalah jenis tmbuhan yang memiliki karakteristik dimana batang
utamanya berfungsi menyimpan air. Tumbuhan Sansivera percabangannya mendatar karena
antara sudut batang dengan cabang kurang lebih 90 derajat, memiliki tipe percabangan
monopodial, dimana batang utama selalu tampak jelas, tidak ada cabang yang tumbuh lebih
besar dari batang utama (Hidajat, 1994).
Bayam duri adalah tanaman dengan habitus terna dengan tipe batang semu
(herbaceous). Permukaan batang tanaman ini beralur. Bentuk irisian melintang batang
tanaman ini bulat. Cabang pada tanaman ini tumbuh condong ke atas. Tipe percabangan
monopodial dengan arah tumbuh batang tegak lurus dengan permukaan tanah. Pada
batang bayam duri juga terdapat duri namun hanya beberapa, hanya terdapat pada
beberapa ketiak percabangan. Hal ini sesuai menurut Tjitrosoepomo (1983), bahwa bayam
duri memiliki perawakan terna dengan irisan melintang batang tanamanteres atau bulat dan
permukaan beralur, arah tumbuh batang Bayam duri tegak lurus antara pangkal batang
dengan permukaan tanah. Tumbuhan Bayam duri memiliki tipe percabangan monopodial,
dimana batang utama selalu tampak jelas, tidak ada cabang yang tumbuh lebih besar dari
batang utama (Hidajat, 1994).
Cabai merupakan tanaman dengan habitus semak dengan tipe batang semu
(herbaceous). Permukaan batangnya licin. Bentuk irisian melintang batang tanaman ini
bulat.Cabang pada tanaman ini tumbuh patens atau condong ke atas. Tipe
percabangannya simpodial dengan arah tumbuh batang tegak lurus dengan permukaan
tanah. Hal ini sesuai menurut Tjitrosoepomo (1983), bahwa Cabai memiliki perawakan
semak karena memiliki tinggi kurang dari 1.5 meter dengan irisan melintang batang
tanaman bulat dan permukaan beralur dimana pada bagian membujur batang terdapat alur-
alur yang jelas, arah tumbuh batang Cabai tegak lurus antara pangkal batang dengan
permukaan tanah. Tumbuhan Cabai memiliki tipe percabangan simpodial, dimana batang
utama sukar ditemukan, karena dalam perkembangan selanjutnya terhenti pertumbuhannya
atau kalah besar dan kalah cepat tumbuhnya dengan cabangnya (Hidajat, 1994).
Pepaya memiliki habitus terna, dengan bentuk irisan melintang bulat, pada permukaan
batang tampak bekas-bekas daun, batang tegak lurus dengan permukaan tanah, dan arah
tumbuh cabang bersifat mendatar dengan tipe percabangan monopodial. Pada kentang
memiliki perawakan batang basah atau herbaceous, dengan bentuk irisan melintang teres
atau bulat, pada permukaan batang licin, batang menjalar di dalam tanah, dan arah tumbuh
cabang bersifat geragih dengan tipe percabangan simpodial.
Pada rumput teki memiliki perawakan herba dan batang mendong, dengan bentuk irisan
segitiga pada permukaan batang berusuk, arah tumbuh batang bersifat menjalardan arah
tumbuh cabang bersifat geragihr dengan tipe percabangan simpodial. Pada pegagan
memiliki perawakan herba, dengan bentuk irisan melintang teres atau bulat, pada permukaan
licin, dengan tipe percabangan gerahih. Pada pegagan memiliki perawakan terna, dengan
bentuk irisan melintang teres atau bulat, pada permukaan batang licin, mek satu batang
tegak lurus dengan permukaan tanah, dan arah tumbuh cabang bersifat mendatar dengan tipe
percabangan simpodial Pada memiliki perawakan herba, dengan bentuk irisan melintang
teres atau bulat, pada permukaan batang jancu maeng, batang tegak lurus dengan permukaan
tanah, dan arah tumbuh cabang bersifat mendatar dengan tipe percabangan simpodial. Pada
buntut bajing memiliki perawakan herba, dengan bentuk irisan melintang teres atau bulat,
pada permukaan batang memperlihatkan bekas-bekas daun, batang tegak lurus dengan
permukaan tanah, dan arah tumbuh cabang bersifat mendatar dengan tipe percabangan
dikotom.
Pada pengamatan pohon pepaya muda, lengkuas, kentangm bayam, jakang, iler,
pegagang, dan sansivera, tipe batang yang diimilikinya adalah herba/terna. Batang tersebut
ditunjukkan dari teksturnya yang tidak terlalu keras tetapi mampu menahan dan menopang
tubuhnya. Pada batang herba, batang mengandung banyak air dan tidak berkayu. Pada
beberapa jenis pohon, juga batang berwarna hijau. Pada pengamatan tumbuhan cabai, ekor
bajing memiliki tipe batang perdu. Hal tersebut ditandai dengan batangnya yang tampak
seperti kayu namun tumbuhnya cabang berada di bawah dan hampir sejajar dengan
pertumbuhan batang utama. Selain itu juga, jenis batang perdu ditandai dengan pertumbuhan
batangnya yang relatif pendek dan tidak terlalu tinggi. Rumput teki memiliki spesialisasi
batang tersendiri, yaitu tipe rumput atau semak. Pada hal ini ditunjukkan dengan tipe
batangnya yang menjalar dan tumbuh tidak terlalu tinggi namun mampu membentuk seperti
pagar.

Dari semua jenis batang yang telah diamati, hampir semuanya memiliki bentuk
penampang bulat apabila diiris secara melintang, kecuali pada batang jakang yang memiliki
tipe penampang melintang filoklodia, tanaman iler yang memiliki tipe penampang bersegi
(segiempat), rumput teki memiliki tipe penampang bersegi (segitiga), dan kaktus yang
memiliki tipe penampang melintang kladodia. Semua tipe penampang melintang batang
dapat diketahui dengan meraba permukaan batang setelah batang dipotong atau dipatahkan.

E. JAWABAN DISKUSI
1. Prosistem berkembang menjadi sistem epidermal, prokambium berkembang menjadi
jaringan pengangkut, dan meristem dasar berkembang menjadi jaringan dasar/parenkim,
sklerenkim, korteks, empulur, kolenkim, dan korteks (Kusdianti, 2012).

2. Model arsitektur tanaman Lombok: Leeuwenberg

Model arsitektur buntut bajing:

Model arsitektur bayam duri:

3. Percabangan ketapang merupakan plagiotrop, cabang tumbuh ketika batang utama/primer


berhenti untuk tumbuh sementara model arsitekturnya Aubreville.
4
Tumbuhan Percabangan Arah tumbuh cabang
Ketapang Monopodial Plagiotrop
Lycopodium Simpodial Plagiotrop
Pepaya Monopodial Ortotrop
F. KESIMPULAN
Batang dapat disebut pula sebagai sumbu tubuh dari tumbuhan. Sifat-sifat batang yaitu
berbentuk silinder (panjang bulat) atau berbentuk lain dan selalu bersifat aktinomorf (dengan
beberapa bidang dapat dibagi menjadi dua bagian yang setangkup). Memiliki ruas-ruas yang
masing-masing dibatasi oleh buku-buku. Pada buku-buku inilah terdapat daun-daunnya.
Tumbuhnya menuju matahari atau cahaya. Jadi, bersifat heliotrop atau fototrop. Selalu
bertambah panjang pada bagian ujungnya sehingga mempunyai pertumbuhan yang tidak
terbatas. Mengadakan percabangan, yang tidak pernah digugurkan kecuali kadang-kadang
cabang yang kecil atau ranting. Warna batang tidak hijau, kecuali tumbuhan yang berumur
pendek atau pada waktu batang masih muda.

Pola percabangan batang digolongkan atas, percabangan monopodial yaitu batang selalu
tampak jelas, karena lebih besar dan lebih panjang, contohnya papaya, jahe, dan ketapang.
Pada percabangan simpodial batang pokok sukar ditentukan, contohnya pada tanaman
lombok, bayam duri, sawo kecik, dan sebagainya. Percabangan dikotom, yaitu setiap kali
bercabang terjadi dua cabang yang sama besarnya, contohnya buntut bajing. Cabang besar
yang biasanya langsung keluar dari batang pokokn disebut dahan (ramus) sedang cabang –
cabang yang kecil dinamakan ranting (ramulus).

Model arsitektur pohon tertentu memperoleh transformasi air hujan menjadi laju aliran
batang, air tembus tajuk, infiltrasi dan laju aliran permukaan pada suatu area yang terkait
dengan peranan vegetasi dalam mengurangi laju erosi permukaan tanah dan erosi bencana
banjir. Perbedaan model arsitektur pohon akan memberikan dampak bagi variasi persentasi
curah hujan yang ditransformasikan menjadi aliran batang, curahan tajuk, atau intersepsi
selama hujan berlangsung. Arsitektur pohon merupakan khas bagi setiap spesies untuk yang
menunjukkan dikontrol oleh genetik. Meskipun demikian juga dipengaruhi oleh kondisi
lingkungan luar seperti cahaya, temperatur, kelembaban, dan ketersediaan nutrient. Model
arsitektur pohon mempengaruhi nilai aliran batang (stemflow ) dan curah tajuk (through fall),
selanjutnya aliran batang dan curah tajuk menentukan besarnya nilai aliran permukaan dan
erosi tanah yang akan menimbulkan kerusakan pada tanah tempat tersebut.

Arsitektur pohon terdiri dari Model Troll merupakan model arsitektur pohon dengan ciri
batang simpodium. Contohnya turi, flamboyan, sirsak, dan belimbing. Model Aubreville
merupakan model arsitektur pohon dengan ciri batang monopodium yang tumbuh ritmis,
sehingga mengakibatkan cabang plagoitrop tersusun dalam lapisan terpisah, contohnya
ketapang. Model Koriba merupakan model arsitektur pohon yang memiliki ciri batang
simpodium. Kuncup terminal terhenti karena jaringan meristem apeks berdiferensiasi
menjadi parenkim. Kuncup aksilar yang berkembang dekat di bawahnya, membentuk
koulomner yang semula identik namun terjadi perbedaan. Satu menjadi koulomner batang
dan yang lain menjadi koulomner cabang, contohnya Gerbera manga. Model Champagnat
merupakan model yang memiliki ciri batang berupa simpodium, setiap koulomner
melengkung karena terlalu berat dan tidak mendukung oleh jaringan penyokong yang cukup.
Filotaksis spiral terdapat pada sumbu yang tidak banyak berbeda morfologi ujung dan
pangkalnya, contohnya Kembang merak. Model Leeuwenberg merupakan model arsitektur
yang memiliki ciri batang berupa simpodium, namun setiap koulomner menghasilkan lebih
dari satu koulomner anak di ujungnya yang menempati ruang yang ada, contohnya kamboja,
ketela pohon. Model Corner merupakan model arsitektur pohon yang memiliki ciri batang
monopodium dengan perbungaan lateral dan tidak bercabang, karena posisi perbungaannya
yang lateral maka meristem apical dapat tumbuh terus, contohnya pinang. Model Raux
merupakan model arsitektur yang memiliki cirri batang monopodium ortrotop dan
simpodium namun lebih sering monopodium. Cabang kontinu atau tersebar dan filotaksis
batang adalah spiral Model rauh merupakan model arsitektur pohon yang memiliki cirri
batang monopodium ortrotp. Pertumbuhan ritmis mengakibatkan cabang tersusun dalam
karangan, cabang juga bersifat ortotrop sumbu dapat tumbuh tidak terbatas, contohnya pinus.
Model Tomlinson merupakan model arsitektur pohon yang memiliki ciri batang yang
bersumbu ortrotop dan membentuk cabang ortotrop dari kuncup ketiak di bagian batang di
bawah tanah, contohnya pisang. Model Massart merupakan model percabangan batang yang
memiliki ciri batang monopodium ortotrop, pertumbuhan ritmis mengakibatkan cabang
tersusun dalam karangan. Filotaksis pada batang adalah spiral. Cabang bersifat plagiotrop
dengan filotaksis distrik atau cenderung distrik. Cabang dapat bersifat simpodial atau
monopodial, contohnya pada pohon randu.
DAFTAR RUJUKAN

Campbell. 2010. Biologi Jilid 5. Jakarta: Erlangga


Endah, Joesi & Lentera, T. 2012. Tanaman Hias Ruangan. Jakarta: Brilio
Hidajat, Estiti. 1994. Morfologi Tumbuhan. Bandung: Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan
Mulyani, Sri. 2006. Anatomi Tumbuhan. Jakarta: Erlangga
Rahmat, A., Diana, S. & Kusdianti, R. (2012). Pengembangan Model Praktikum
Morfologi Tumbuhan untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep, Keterampilan
Proses dan Kemampuan Berpikir Mahasiswa. Laporan Penelitian RUTIN
FPMIPA IKIP Bandung. Tidak dipublikasi.
Rosanti, D. 2013. Morfologi Tumbuhan. Jakarta: Erlangga
Trjitrosoepomo, Gembong. 2009. Morfologi Tumbuhan. Yogyakarta: Gadjah Mada
University Press

Anda mungkin juga menyukai