Anda di halaman 1dari 53

KEPERAWATAN KOMUNITAS II

ASUHAN KEPERAWATAN KOMUNITAS PADA KELOMPOK ANAK


USIA SEKOLAH

DOSEN PEMBIMBING:
Eka Misbahatul Mar’ah Has, S.Kep., Ns., M.Kep.

KELOMPOK 3 A2-2017
Sesi Putri Arisandi 131711133014
Rizky Nur Rochmawati 131711133029
Novianti Lailiah 131711133032
Rizka Amalia Setiaputri 131711133092
Annisa Fitria 131711133094
Alvira Eka Nadia W 131711133107
Ismatulloh Jihan Alim 131711133111
Della Yolina 131711133148

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN

FAKULTAS KEPERAWATAN

UNIVERSITAS AIRLANGGA

SURABAYA, 2019

i
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmat-Nya,
sehingga kami dapat menyelesaikan makalah “Asuhan Keperawatan Komunitas
Pada Kelompok Anak Usia Sekolah” dengan baik. Dan kami ucapkan terimakasih
kepada Ibu Eka Misbahatul Mar’ah Has, S.Kep., Ns., M.Kep. yang telah
membimbing kami dalam menyelesaikan makalah ini. Serta teman-teman angkatan
2017 yang senantiasa mendukung kami, khususnya kelas A2.

Harapan kami semoga makalah ini bermanfaat dan dapat menambah


pengetahuan serta pengalaman bagi para pembaca. Untuk ke depannya dapat
memperbaiki bentuk maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.
Karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman kami, kami yakin masih
memiliki banyak kekurangan dalam makalah ini. Oleh karena itu, kami sangat
mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi
kesempurnaan makalah ini.

Surabaya, 11 September 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

Kata Pengantar ........................................................................................................ ii


Daftar Isi ................................................................................................................ iii
BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 4
1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 4
1.3 Tujuan ..................................................................................................... 4
BAB II Tinjauan Pustaka
2.1 Definisi Anak Usia Sekolah ..................................................................... 6
2.2 Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Sekolah .................. 6
2.3 Perkembangan Anak Usia Sekolah .......................................................... 8
2.4 Perilaku Menyimpang ............................................................................ 16
2.5 Masalah Anak Usia Sekolah .................................................................. 29
2.6 Konsep Anak Usia Sekolah Sehat .......................................................... 31
2.7 Program Pemerintah Untuk Anak Usia Sekolah .................................... 33
2.8 Tinjauan Asuhan Keperawatan .............................................................. 34
BAB III Studi Kasus
3.1 Kasus ...................................................................................................... 40
BAB IV Penutup
4.1 Kesimpulan ............................................................................................ 52
4.2 Saran ...................................................................................................... 52
Daftar Pustaka ....................................................................................................... 53

iii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Keperawatan komunitas ditujukan untuk mempertahankan kesehatan, serta
memberikan bantuan melalui intervensi keperawatan sebagai dasar keahliannya
dalam membantu individu, keluarga, kelompok dan masyarakat dalam
mengatasi berbagai masalah keperawatan kesehatan yang dihadapinya dalam
kehidupan sehari-hari. Perawat sebagai orang pertama dalam tatanan pelayanan
kesehatan, melaksanakan fungsi-fungsi yang sangat relevan dengan kebutuhan
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Sehat secara social merupakan
hasil dari interaksi positif di dalam komunitas (Efendi, 2015)
Situasi kesehatan anak usia sekolah dan remaja pada saat ini berdasarkan
data Riskesdas dan GSHS pada anak usia SD kondisi kesehatan lebih terkait
pada PHBS dan gizi, diantaranya stunting, kurus, gemuk, anemia, kecacingan,
sarapan dengan mutu rendah, kurang makan sayur dan buah, tidak menggosok
gigi minimal 2 kali sehari, makan makanan berpenyedap, tidak mencuci tangan
pakai sabun dan BAB tidak di jamban. Sedangkan situasi kesehatan di usia
remaja di tingkat SMP sampai SMA lebih terkait pada gizi, PHBS dan mental
emosional. Data tersebut diantaranya kurus, stunting, gemuk, anemia, konsumsi
makanan siap saji, konsumsi softdrink, terpapar rokok, masalah mental
emosional remaja seperti merasa orang tua tidak mengerti serta merasa kesepian
dan khawatir (Kemenkes, 2017).

1.2 Rumusan Masalah


Bagaimana asuhan keperawatan kesehatan komunitas pada kelompok anak
usia sekolah?

1.3 Tujuan
a) Tujuan umum:

4
Mengetahui dan memahami mengenai asuhan keperawatan komunitas pada
kelompok anak usia sekolah.
b) Tujuan khusus
 Untuk memahami konsep dan pengertian anak usia sekolah.
 Untuk mengetahui tindakan promotive dan preventif dalam melakukan
intervensi keperawatan komunitas pada kelompok anak usia sekolah.

5
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Anak Usia Sekolah


Anak usia sekolah merupakan anak yang sedang berada pada periode usia
pertengahan yaitu anak yang berusia 6-12 tahun (Santrock, 2017), sedangkan
menurut (Yusuf, 2016) anak usia sekolah merupakan anak usia 6-12 tahun yang
sudah dapat mereaksikan rangsang intelektual atau melaksanakan tugas-tugas
belajar yang menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif
(seperti: membaca, menulis, dan menghitung).
Umumnya pada permulaan usia 6 tahun anak mulai masuk sekolah, dengan
demikian anak mulai mengenal dunia baru, anak-anak mulai berhubungan
dengan orang-orang di luar keluarganya dan mulai mengenal suasana baru di
lingkungannya. Hal-hal baru yang dialami oleh anak-anak yang sudah mulai
masuk dalam usia sekolah akan mempengaruhi kebiasaan makan mereka.
Anak-anak akan merasakan kegembiraan di sekolah, rasa takut akan terlambat
tiba di sekolah, menyebabkan anak-anak ini menyimpang dari kebiasaan makan
yang diberikan kepada mereka (Moehji, 2009).
Karakteristik anak usia sekolah menurut Hardinsyah dan Supariasa yaitu
anak usia sekolah (6-12 tahun) yang sehat memiliki ciri di antaranya adalah
banyak bermain di luar rumah, melakukan aktivitas fisik yang tinggi, serta
beresiko terpapar sumber penyakit dan perilaku hidup yang tidak sehat. Secara
fisik dalam kesehariannya anak akan sangat aktif bergerak, berlari, melompat,
dan sebagainya. Akibat dari tingginya aktivitas yang dilakukan anak, jika tidak
diimbangi dengan asupan zat gizi yang seimbang dapat menimbulkan beberapa
masalah gizi yaitu di antaranya adalah malnutrisi (kurang energi dan protein),
anemia defisiensi besi, kekurangan vitamin A dan kekurangan yodium
(Supariasa & Hardiansyah, 2016).

2.2 Tahap-Tahap Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Sekolah


Tahapan tumbuh kembang anak secara garis besar dibagi menjadi dua,
yaitu:

6
1. Tahap tumbuh kembang usia 0-6 tahun, terdiri atas masa pranatal mulai
embrio (mulai konsepsi -8 minggu) dan masa fetus (9 minggu sampai
lahir), serta masa pascanatal mulai dari masa neonatus (0-28 hari), masa
bayi (29 hari-1 tahun), masa anak (1-2 tahun), dan masa prasekolah (3-
6 tahun).
2. Tahap tumbuh kembang usia 6 tahun ke atas, terdiri atas masa sekolah
(6-12 tahun) dan masa remaja (12-18 tahun).
3. Tahapan tumbuh kembang anak usia sekolah
Tahapan ini dimulai sejak anak berusia 6 tahun sampai organ-organ
seksualnya masak. Kematangan seksual ini sangat bervariasi baik antar jenis
kelamin maupun antar budaya berbeda. Berdasarkan pembagian tahapan
perkembangan anak, ada dua masa perkembangan pada anak usia sekolah,
19 yaitu pada usia 6-9 tahun atau masa kanak-kanak tengah dan pada usia
10-12 tahun atau masa kanak-kanak akhir. Setelah menjalani masa kanak-
kanak akhir, anak akan memasuki masa remaja. Pada usia sekolah, anak
memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-anak yang usianya lebih
muda. Perbedaan ini terlihat dari aspek fisik, mental-intelektual, dan sosial-
emosial anak. Pertumbuhan fisik pada anak usia sekolah tidak secepat pada
masamasa sebelumnya. Anak akan tumbuh antara 5-6 cm setiap tahunnya.
Pada masa ini, terdapat perbedaan antara anak perempuan dan anak laki-
laki. Namun, pada usia 10 tahun ke atas pertumbuhan anak laki-laki akan
menyusul ketertinggalan mereka. Perbedaan lain yang akan terlihat pada
aspek fisik antara anak laki-laki dan perempuan adalah pada bentuk otot
yang dimiliki. Anak laki-laki lebih berotot dibandingkan anak perempuan
yang memiliki otot lentur (Gunarsa, 2016).
Pada masa pertengahan dan akhir anak-anak merupakan periode
pertumbuhan fisik yang lambat dan relatif seragam sampai mulai terjadi
perubahan-perubahan pubertas, kira-kira dua tahun menjelang anak menjadi
matang secara seksual, pada masa ini pertumbuhan berkembang pesat. Oleh
karena itu, masa ini sering disebut juga sebagai “periode tenang” sebelum
pertumbuhan yang cepat menjelang masa remaja, meskipun merupakan

7
masa tenang, tetapi hal ini tidak berarti bahwa pada masa ini tidak terjadi
proses pertumbuhan fisik yang berarti.

2.3 Perkembangan Anak Usia Sekolah


Antara usia 7 sampai 12 tahun, yaitu pada tahapan operasianal konkret,
anak-anak menguasai berbagi konsep konservasi untuk melakukan manipulasi
logis lainya. Misalnya, mereka dapat menyusun benda berdasarkan dimensi,
seperti tinggi dan berat. Mereka juga dapat membentuk penyajian mental
mengenai serangkain tindakan. Anak-anak yang berumur lima tahun dapat
mencari jalaqn sendiri ke rumah temenya tetapi tidxak dapat menunjukkan
kepada anda atau menelusuri rute atau menelusuri dengan kertas dan pensil.
Mereka dapat mencari jalan karena mereka tahu harus membelok pada tempat-
tempat tertentu, tetapi mereka tidak mempunnyai gambaran rute secara
keseluruhan. Sebaliknya anak-anak berumur 8 tahun sanggup menggambarkan
peta rute itu.
Pieget menamakan masa ini tahapan operasional konkret: meskipun anak-
anak memakai istilah abstrak, mereka hanya memakai dalam hubungannya
dengan objek yang konkret. Sebelum mencapai tahapan akhir perkembangan
kogniti, pada tahapan operasional formal, yang dimulai sekitar usia 11 sampai
12 tahun, anak-anak sanggup berfikir logis dengan berbagai istilah simbolik
murni (Dharma & Andryanto, 2010).
Stadium pemahaman moral pieget ketiga dimulai pada sekitar waktu ini.
Anak mulai menghargai bahwa beberapa peraturan adalah kebiasaan sosial-
persetujuan bersama yang dapat sekehandak hati diputuskan dan di ubah jikan
semua setuju. Realismemoral anak moral anak juga menyatakan: saat membuat
pertimbangan moral, anak sekarang memberikan bobot pada pertimbangan
“subjektif” seperti maksuk seseorang, dan mereka memandang hukuman
sebagai keputusan manusia, bukan retribusi dari kekuatan yang lebih tinggi.
Awal stadium operasional formal juga timbul bersamaan dengan stadium
keempat dan terakhir pada pemahaman anak tentang peraturan moral. Anak
kecil menumjukkan minatnya dalam membuat peraturan bahkan untuk
menghadapi situasi yang belum yang belum pernah mereka jumpai. Stadium ini

8
ditandai oleh model ideologis penalaran moral, yang menjawab masalah sosiol
yang lebih luas ketimbang hanya situasi personal dan interpersonal.
1. Perkembangan Intelektual
Pada usia sekolah dasar (6-12 tahun) anak sudah dapat mereaksi
rangsangan intelektuan, atau melaksnakan tugas-tugas belajar yang
menuntut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif (seperti:
membaca, menulis dan menghitung).
Sebelum masa ini, yaitu masa prasekolah, daya pikir anak masih
bersifat imajinatif, berangan-angan (berkhayal), sedangkan pada usia
SD daya pikirnya sudah berkembang kearah berfikir konkret dan
rasional (dapat diterima akal). Pieget menamakannya sebagai masa
operasi konkrit. Pieget menamakannya sebagai masa operasi konkret,
masa berakhirnya berfikirn khayal dan mulai befikir konkret (berkaitan
dengan dunia nyata).
Periode ini ditandai dengan tiga kemampuan atau kecakapan baru,
yaitu mengklasifikasiakn (mengkelompokkan), menyusun, atau
mengasiosikan (menghubungkan atau manghitung) angka-angka atau
bilangan. Kemampuan yang berkaitan dengan perhitungan (angka),
seoerti menambah, mengurangi, mengalikan, dan membagi. Di samping
itu, pada masa ini anak sudah memiliki kemampuan memecahkan
masalah (problem solving) yang sedarhana.
Kemampuan intelektual pada masa ini sudah cukup untuk menjdi
dasardiberikannya berbagai kecakapan yang dapat mengembangkan
pola pikir atau daya nalarnya. Kepada anak sudah dapat diberikan dasar-
dasar keilmuan, seprti membaca, menulis dan berhitung. Di sampin itu,
kepada anak diberikan juga pengetahuan-pengetahuan tentang
manusian, hewan lingkungan alam sekitar dan sebagainya. Untuk
mengembangkan daya nalarnya dengan melatih anak untuk
mengungkapkan pendapat,gagasan atau penilaiannya terhadap berbagai
hal, baik yang dialaminya maupun peristiwa yang terjadi
dilingkunganya.

9
Dalam rangka mengembangkan kemampuan anak, maka sekolah
dalam hal ini guru seyogyanya memberikan kesempatan kepada anak
untuk mengemukakan pertanyaan, memberikan komentar atau
pendapatnya tentang materi pelajaaran yang dibacanya atau yang
dijelaskan guru, membuat karangan, menyusun laporan (hasil study tour
atau diskusi kelompok).
2. Perkembangan Bahasa
Bahasa adalah sarana komunikasi denagan dengan orang lain.
Dalam pewngertian ini mencakup semua cara untuk berkomunikasi,
dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan, lisan,
isyarat, atau gerak menggunakan kata-kata, kalimat bunyi, lambang,
tuilsan. Denagan bahasa, semua manusia, alam sekitar, ilmu
pengetahuan, dan nilai-nilai moral atau agama.
Usia sekoalah dasar ini merupakan msa perkembangan pesatnya
kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata
(vocabulary). Pada awal masa ini, anak suadah menguasai sekitar 2.500
kata, dan pada masa akhir (usia 11-12 tahun) telah dapat menguasai
sekitar 50.000 kata. Dengan dikuasainya keterampilan membaca dan
berkomunikasi dengan orang lain, anak suadah gemar membaca atau
mendengarkan cerita yang bersifat kritis (tentang perjalanan /
petualagan, riwayat para pahlawan, dsb). Pada masa ini tingkat berfikir
anak suadah lebih maju, dia banyak menanyakan soal waktu dan sebab
akibat. Oleh karena itu, kata tanya yang dipergunakan pun yang semula
hanya “apa”, sekarang sudah diikuti dengan pertanyaan :”dimana”,
“darimana”, “kemana”,”mengapa”, dan “bagaimana”.
Terdapat dus faktor penting yang mempemgaruhi perkembangan
bahasa, yaitu sebagai berikut:
a. Proses menjadi matang, dengan perkataan lain anak itu menjadi
matang (organ-organ suara/bicara sudah berfungsi ) untuk berkata-
kata.

10
b. Proses belajar, yang berati bahwa anak yang telah matang untuk
berbicara lalu mempelajari bahasaorang lain dengan jalan
mengimitasikan atau meniru ucapa/kata-kata yang didengarnya.
Di sekolah, diberikan pelajaran bahasa yang didengan sengaja
menambah pembendaharaan katanya,mengajar menyusun struktur
kalimat, peribahasa, kesusastraan dan keterampilan mengarang. Dengan
dibekali pelajaran bahasa ini, diharapkan peserta didik dapat menguasai
dan mempergunakan sebagai alat untuk:
a. Berkomunikasi dengan orang lain,
b. Menyatakan isi hatinya (perasaannya),
c. Memahami keterampilan mengolah informasi yang diterimanya,
d. Berfikir (menyatakan gagasan atau pendapat),
e. Mengembangkan kepribadiannya, seprti menyatakan sikap
dan kenyakinan.
3. Perkembangan sosial
Maksud perkembengan sosial disni adalah pencapai kematangan
dalam hubungan sosial. Dapat juga dikatakan sebagai proses belajar
untuk menyesuaikan diri dengan norma-norma kelompok, tradisi dan
moral (agama). Perkembangan sosial pada anak-anak sekolah dasar
ditandai dengan adanya perluasan hubungan, di samping dengan
keluarga juga dia mulai membentuk ikatan baru dengan teman sebaya
(peer group) atau teman sekelas, sehingga ruang gerak hubungan
sosialnya telah tembah luas.
Pada usia ini, anak mulai memiliki kesanggupan menyesuaikan diri-
sendri (egosentris) kepada sikap yang kooperatif (bekerja sama) atau
sosiosentris (mau memperhatiakn kepentingan orang lain). Anak dapat
berminat terhadapat kegiatan-kegiatan teman sebayanya, dan bertambah
kuat keinginannya untuk diterima menjadi anggota kelompok (gang),
dia merasa tidak senang apabila tidak diterima dalam kelompoknya.
Berkat perkembangan sosil, anak dapat menyesuaikan dirinya
dengan kelompok teman sebayanya maupun dengan lingkungan
masyarakat sekitarnya. Dalm proses belajar di sekolah, kematangan

11
perkembangan sosial ini dapat dimanfaatkan atau dimaknai dengan
memberikan tugas-tugas kelompok, baik yang membutuhkan tenaga
fisik (seperti: membersihkan kelas dan halaman sekolah), maupun tugas
yang membutuhkan pikiran (seperti: merencanakan kegiatan camping,
membuat rencana study tour).
4. Perkembangan Emosi
Menginjak usia sekolah, anak mulai menyadari bahawa
pengungkapan emosi secara kasar tidaklah diterima di masyarakat. Oleh
karena itu, dia mulai belajar untuk mengendalikan dan mengontrol
ekspresi emosinya. Kemampuan mengontrol emosi diperoleh anak
melalui peniruan dan latihan (pembiasan). Dalam proses
peniruan, kemampuan orang tua daal mengendalikan emosinya sangat
berpengaruh. Emosi-emosi yang secara dialami pada tahap
perkembangan usia sekolah ini adalah marah, takut, iri hati, kasih
sayang, rasa ingin tahu, dan kegembiraan (rasa senagng, nikmat, atau
bahagia).
Emosi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi tingkah laku
individu, dalam hal ini termasuk pula perilaku belajar. Emosi yang
positif, seperti perasaan senang, bergairah, bersemangt atau rasa ingin
tahu akan mempengaruhi individu untuk mengonsentrasikan dirinya
terhadap aktivitas belajar, seperti memperhatikan penjelasan guru,
membaca buku,aktif dalam diskusi, mengerjakan tugas, dan disiplin
dalam belajar.
5. Perkembangan Moral
Anak mulai mengenal konsep moral (mengenal benar sah atau baik-
buruk) pertama kali dari lingkungan keluarga. Pada mulanya, mungkin
anak tidak mengerti konsep moral ini, tetapi lambat laun anak akan
memahaminya. Usaha menanamkan konsep moral sejak usia dini
(prasekolah) merupakan hal yang seharusnya, karena informasi yang
diterima anak mengenai benar- salah atau baik-buruk akan menjadi
pedoman pada tingkah lakunya di kemudian hari.

12
Pada usia sekolah dasar, anak sudah dapat mengikuti pertautan atau
tuntutan dari orang tua atau lingkungan sosialnya. Pada akhir usia ini,
anak sudah dapat memahami alasan yang mendasari suatu peratuaran.
Di samping itu , anak sudah dapat mengasosiakan satiap bentuk perilaku
dengan konsep benar-benar atau baik-buruk. Misalnya, dia memandang
atau menilai bahwa perbuatan nakal, berdusta, dan tidak hormat kepada
orang tua merupakan suatu yang salah atau buruk. Seadangkan
perbuatan jujur, adil, dan sikap hormat kepada orang tua dan guru
merupakan suatu yang benar/baik.
6. Perkembangan Penghayatan Keagamaan
Pada masa ini, perkembangan penghayatan keagamaan ditandai
dengan ciri-cirisebagai berikut:
a. Sikap keagamaan bersifat reseptif disertai pengertian.
b. Pandangan dan paham ketuhanan diperolehnya secara rasional
berdasarkan kaiadah-kaidah logika yang berpedoman pada indikator
alam semesta sebagai manifestasi dari keagungan-Nya.
c. Penghayatan secara rohaniah semakin mendalam, pelaksanaan
kegiatan ritual diterimanya sebagai keharusan moral.
Periode usia sekolah dasar merupakan masa pembentukan nilai-nilai
agama sebagai kelanjutan periode sebrelumnya. Kualitas keagamaan
anak akan sangat dipengaruhi oleh proses pembetukan atau pendidikan
yang diterimanya. Berkaitan denag hal tersebut, pendidikan disekolah
dasar mempunyai peranan yang sangat penting. Oleh karena itu,
pendidikan agama (pengajaran, pembiasan, dan penanaman nilai-nilai)
di sekolah dasar harus menjadi perhatian semaua pihak yang terlibat
dalam pendidikan di SD, bukan hanya guru agama tetapi kepala sekolah
dan guru-guru yang lainnya. Apabila semua pihak yang terlibat.
7. Perkembangan Motorik
Seiring perkembangan fisiknya yang beranjak matang, maka
perkembangan motorik anak sudah dapat terkodinasi dengan baik.
Setiap gerakannya sudah selaras dengan kebutuhan atau minatnya. Pada
masa ini ditandai dengan kelebihan gerak atau aktivitas motorik yang

13
lincah. Oleh karena itu, usia ini merupakan masa yang ideal untuk
belajar keterampilan yang berkaitan dengan motorik ini, seperti menulis,
menggambar, melukis, mengetik (komputer), berenamg, main bola, dan
atletik.
Perkembangan fisik yang normal merupakan salah satu faktor
penentu kelancaran proses belajar, baik dalam bidang pengetahuan
maupun keterampilan. Oleh karaena itu, perkembangan motorik sanagat
menunjang keberhasilan belajar peserta didik. Pada masa usia sekolah
dasar kematangan perkembangan motorik ini pada umumnya
dicapainya, karaena itu mereka sudah siap menerima pelajaran
keterampilan (Yusuf, 2016).
Sesuai perkembangan fisik (motorik ) maka di kelas-kelas
permulaan sangat tepat diajarkan :
a. Dasar-dasar keterampilan untuk menulis dan menggambar.
b. Keteramilan dalam mempergunakan alat-alat olahraga (menerima,
menendang, dan memukul).
c. Gerakan-gerakan untuk meloncat, berlari, berenang, dan
sebagainya.
d. Baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan,
ketertiban, dan kedisiplinan.
8. Perkembangan fisik
Perkembangan fiusik cenderung lebih stabil atau tenang sebelum
memasuki masa remaja yang pertumbuhannya sangat cepat. Masa yang
tenang ini diperlukan oleh anak untuk belajar berbagai kemampuan
akademik. Anak lebih tinggi, lebih berat, lebih kuat serta belajar
berbagai keterampilan. Kenikan tinggi dan berat badan bervariasi antara
anak satu dengan yang lain. Peran kesehatan dan gizi sangat penting
dalam pertumbuhan dan perkembangan anak.
9. Perkembangan Bicara
Berbicara merupakan alat komunikasi terpenting dalam
berkelompok. Anak belajar bagaimana berbicara dengan baik dalam
berkomunikasi dengan orang lain. Bertambahnya kosakata yang berasal

14
dari berbagai sumber menyebabkan semakin banyak pembendaharaan
kat yang dimiliki. Anak mulai menyadari bahwa komunikasi yang
bermakna tidak dapat dicapai bila anak tidak mengerti apa yang
dikatakan oleh orang lain. Hal ini mendorong anak untuk meningkatkan
pengertiannya.
10. Kegiatan Bermain
Permainan yang disukai cenderung kegiatan bermain yang
dilakukan secara kelompok, kecuali anak-anak yang kurang diterima di
kelompoknya dan cenderung memilih bermain sendiri. Bermain yang
sifatnya menjelajah, ketempat-tempat yang belum pernah dikunjungi
baik dikota maupun di desa mengasikkan bagi anak. Permainan
konstruktif yaitu membangun atau membentuk sesuatu adalah bentuk
permainan yang disukai anak serta mampu mengembangkan kreativitas
anak. Bernyayi meerupakan bentuk kegiatan kreatif lainnya. Sealain itu
bentuk permainan kelompok yang disenangi meruoakan permainan oleh
raga seperti basket, sepak bola, voleydan sebagainya. Jenis permainan
ini membantu perkembangan otok dan perkembangan tubuh.
11. Usia 10-12
Pada usia 10-12 tahun, perhatian membaca puncaknya. Materi
bacaan semakin luas. Anak-anak laki menyenangi hal-hal yang sifatnya
menggemparkan, misterius, dan kisah-kisah pertualangan. Anak
perempuan menyenagi cerita kehidupan seputar rumah tangga. Teman
sebaya umumnya dalah teman sekolah dan teman bermain di luar
sekolah. Pengaruah teman sebaya sangat besar bagi arah perkembangan
anak baik yang bersifat positf maupun negatif. Pengaruh positif terlihat
pada pengembanagan konsep diri dan pertumbuhan harga diri. Hanya
ditengah-tengah teman sebaya anak bisa merasakan dan menyadari
bagaimana dan dimana kedudukan atau posisidirinya. Keinginan untuk
berada ditengah-tengah temannya membawa anak untuk keluar rumah
menemuinya sepulng sekolah. Anak merasakan kesepian dirumah, tiada
teman. Kegiatan denag teman sebaya ini meliputi belajar bersama,
melihat pertunjukan, bermain, masak-masakkan, dan sebagainya.

15
Mereka sering melakukan kegiatan yang biasanya dilakukan orang
dewasa.

2.4 Perilaku Menyimpang

a. Pengertian Perilaku Menyimpang

Menurut Kartini Kartono (2011: 11) penyimpangan diartikan


sebagai tingkah laku yang menyimpang dari tendensi sentral atau ciri-ciri
karakteristik rata-rata dari rakyat kebanyakan/ populasi. Dalam bukunya
yang lain, Kartini Kartono menyebutkan juvenile delinquency ialah
perilaku kenakalan anak-anak; merupakan gejala sakit (patologis) secara
sosial pada anak-anak dan remaja yang disebabkan oleh satu bentuk
pengabaian sosial sehingga mereka itu mengembangkan bentuk tingkah
laku yang menyimpang. Juvenile deliquency menekankan sebab-sebab
tingkah laku yang menyimpang/ delinkuen anak-anak dari aspek
psikologis atau sisi kejiwaannya.

Menurut James Vander Zanden (dalam Kamanto Sunarto, 2000


;182) penyimpangan merupakan perilaku yang oleh sejumlah besar orang
dianggap sebagai hal yang tercela dan di luar batas toleransi. Perilaku yang
dimaksud yaitu perilaku yang sebaiknya tidak dilakukan oleh anak usia
sekolah. Anak yang menunjukkan tindakan yang diluar batas toleransi dapat
dikenai hukuman.

Pendapat lain dikemukakan M. Gold dan J. Petronio penyimpangan


perilaku dalam arti kenakalan anak (dalam Sarwono, 2011: 251)
merupakan tindakan oleh seseorang yang belum dewasa dengan sengaja
melanggar hukum dan yang diketahui oleh anak itu sendiri bahwa jika
perbuatannya itu sempat diketahui oleh petugas hukum maka anak tersebut
bisa dikenai hukuman. Jadi seorang anak melakukan tindakan
menyimpang secara sembunyi-sembunyi.

Terdapat penyimpangan perilaku sederhana dan perilaku ekstrim.


Penyimpangan perilaku yang sederhana semisal: mengantuk, suka
menyendiri, kadang terlambat datang. Sedangkan penyimpangan ekstrim
16
ialah semisal sering membolos, memeras teman-temannya, ataupun tidak
sopan kepada orang lain juga kepada gurunya (Mustaqim dan Abdul
Wahib, 1991:138).

Berdasarkan beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa


semua penyimpangan terkait dengan istilah-istilah perilaku negative
seperti tindak pidana dan kebrutalan. Akan tetapi, orang yang bertindak
terlalu jauh dari patokan umum lingkungan sekitar bisa juga disebut
sebagai penyimpangan. Penyimpangan kini tidak hanya orangtua, orang
muda, bahkan anak-anak usia sekolah menengah dan anak usia sekolah.
Anggota masyarakat yang melakukan penyimpangan terhadap norma

Suatu perilaku dikatakan menyimpang apabila perilaku tersebut


dapat mangakibatkan kerugian terhadap diri-sendiri maupun terhadap
oranglain. Perilaku menyimpang cenderung mengakibatkan terjadinya
pelanggaran terhadap norma-norma, aturan-aturan, nilai-nilai, dan bahkan
hukum yang berlaku.

b. Bentuk-Bentuk Perilaku Menyimpang Anak Usia Sekolah

Taufiq Rohman D., dkk (2006: 101) menjelaskan terdapat bentuk-


bentuk perilaku menyimpang di kalangan anak sekolah. Adapun bentuk
penyimpangannya meliputi penyimpangan primer, penyimpangan
sekunder, penyimpangan individu, penyimpangan kelompok,
penyimpangan situasional, serta penyimpangan sistematik. Berikut
penjelasan dari berbagai bentuk penyimpangan:

a) Penyimpangan Primer

Penyimpangan primer merupakan penyimpangan yang bersifat


temporer atau sementara. Penyimpangan ini hanya menguasai sebagian
kecil kehidupan seseorang. Seorang yang menunjukkan tindakan
penyimpangan temporer ini masih dapat ditolerir. Misalnya seorang
siswa membolos atau mencontek pekerjaan temannya.

Ciri-ciri dari penyimpangan primer antara lain:

a) Bersifat sementara
17
b) Gaya hidupnya tidak didominasi oleh perilaku menyimpang

c) Kesalahannya masih dapat ditolerir

b) Penyimpangan Sekunder

Penyimpangan sekunder merupakan sebuah penyimpangan


yang dilakukan oleh seorang anak secara khas. Anak ini disebut
melakukan penyimpangan sekunder karena anak ini sudah terbiasa
menunjukkan tindakan menyimpang di sekolah.

Ciri-ciri dari penyimpangan sekunder yaitu:

a) Gaya hidupnya didominasi oleh perilaku menyimpang

b) Lingkungan sekolah tidak dapat mentolerir perilaku menyimpang


yang dilakukan siswa

c) Penyimpangan Individu

Penyimpangan individu adalah penyimpangan yang dilakukan


secara perorangan. Penyimpangan ini ditunjukkan seorang anak
dengan melakukan perbuatan yang menyimpang dari aturan yang
sudah dibuat. Misalkan seorang siswa mencuri uang milik temannya.

d) Penyimpangan Kelompok

Penyimpangan kelompok merupakan tindakan menyimpang


yang dilakukan secara berkelompok. Siswa yang berkelompok dan
melakukan tindakan menyimpang biasanya ingin dianggap jagoan di
sekolah, hanya saja sekelompok siswa ini menunjukkan dengan cara
yang salah. Biasanya penyimpangan kelompok ini dilakukan oleh
siswa yang membentuk sebuah gank.

Dalam penelitian ini, peneliti menemukan adanya sekelompok


siswa yang membuat gank. Sekelompok siswa ini menunjukkan
perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan oleh anak usia sekolah.
Sehingga peneliti tertarik untuk meneliti aktivitas siswa selama berada
di sekolah.

e) Penyimpangan Situasional
18
Penyimpangan jenis ini disebabkan oleh pengaruh bermacam-
macam situasi yang sedang terjadi. Situasi yang dimaksud yaitu situasi
atau keadaan di luar kendali seorang siswa. Siswa terpaksa melakukan
tindakan menyimpang karena situasi yang memaksa siswa tersebut
melakukan tindakan menyimpang.

Peneliti menemukan siswa yang sesuai dengan kriteria


penyimpangan situasional. Seorang siswa yang bertindak melanggar
aturan sekolah karena keadaan yang memaksa siswa tersebut bertindak
melawan aturan sekolah yang sudah ditetapkan. Siswa yang
melakukan tindak pemalakan terhadap temannya. Siswa melakukan
pemalakah karena siswa tidak mendapat uang saku dari orang tuanya.

Jadi dapat disimpulkan bahwa bentuk tindakan menyimpang yang


ditunjukkan seorang siswa tidak hanya dilakukan secara mandiri, akan
tetapi dapat dilakukan secara berkelompok. Siswa menunjukkan bentuk
tindakan menyimpak dikarenakan banyak faktor. Salah satunya karena
situasi yang memaksa siswa untuk melakukan tindakan menyimpang.

c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perilaku Menyimpang

Terdapat berbagai faktor yang menyebabkan seseorang melakukan


perilaku menyimpang. Faktor penyebabnya dapat bersasal dari dalam diri
seseorang itu sendiri dan dapat pula berasal dari luar diri seseorang atau
yang disebut berasal dari lingkungan. Menurut Jensen (Sarlito W.
Sarwono, 2011: 255) banyak sekali faktor yang menyebabkan kenakalan
remaja maupun kelainan perilaku remaja pada umumnya. Faktor-faktor
tersebut digolongkan sebagai berikut:

1) Rational chioce: teori ini mengutamakan faktor individu daripada


faktor lingkungan. Kenakalan yang dilakukannya adalah pilihan,
interes, motivasi atau kemauannya sendiri. Di Indonesia banyak yang
percaya pada teori ini,misalnya kenakalan remaja dianggap sebagai
kurang iman sehingga anak dikirim ke pesantren kilat atau
dimasukkan ke sekolah agama. Sebagian orang menganggap remaja
yang nakal kurang disiplin sehingga diberi latihan kemiliteran.
19
Social disorganization: kaum positivis pada umumnya lebih
mengutamakan faktor budaya. Penyebab kenakalan remaja adalah
berkurangnya atau menghilangnya pranata-pranata masyarakat yang
selama ini menjaga keseimbangan atau harmoni dalam masyarakat.
Orang tua yang sibuk dan guru yang kelebihan beban merupakan
penyebab dari berkurangnya fungsi keluarga dan sekolah sebagai
pranata kontrol.

2) Strain: intinya adalah bahwa tekanan yang besar dalam masyarakat,


misalnya kemiskinan, menyebabkan sebagian dari anggota
masyarakat yang memilih jalan rellibion melakukan kejahatan
melakukan kejahatan atau kenakalan remaja.

3) Differential association: menirut teori ini, kenakalan remaja adalah


akibat salah pergaulan. Anak-anak nakal karena bergaulnya dengan
anak-anak yang nakal juga. Paham ini banyak dianut orang tua di
Indonesia, yang sering kali melarang anak-anaknya untuk berkawan
dengan teman-teman yang pandai dan rajin belajar.

4) Labelling: ada pendapat yang menyatakan bahwa anak nakal selalu


dianggap atau dicap (diberi label) nakal. Di Indonesia, banyak
orangtua (khususnya ibu-ibu) yang ingin berbasa-basi dengan
tamunya, sehingga ketika anaknya muncul di ruang tamu, ia
mengatakan pada tamunya, “ini loh, mbakyu, anak sulung saya.
Badannya saja yang tinggi, tetapi nakalnya bukan main”. Kalau terlalu
sering anak diberi label seperti itu, maka ia akan jadi betul- betul
nakal.

Male phenomenom: teori ini percaya bahwa anak laki-laki lebih nakal
daripada perempuan. Alasannya karena kenakalan memang adalah
sifat laki-laki atau karena budaya maskulinitas menyatakan bahwa
wajar kalau laki-laki nakal.

Willis (2012: 93) mengatakan adanya perilaku menyimpang terjadi


karena faktor dari dalam diri sendiri, dimana faktor-faktor tersebut
yaitu:
20
a) Predisposing factor

Merupakan faktor bawaan sejak lahir yang yang


bersumber dari kelainan otak. Hal ini dapat terjadi akibat luka
di kepala ketika bayi ditarik dari perut sang ibu.

b) Lemahnya pertahanan diri

Merupakan faktor kontrol dan pertahanan diri terhadap


pengaruh- pengaruh negatif. Anak yang kurang memiliki
pertahanan diri akan mudah terpengaruh ajakan temannya
yang kurang baik.

c) Kurangnya kemampuan penyesuaian diri

Keadaan ini amat sangat terasa dalam pergaulan anak.


Anak yang mengalami hal demikian disebut dengan anak
kuper atau kurang pergaulan. Inti persoalannya adalah
ketidakmampuan penyesuaian diri terhadap lingkungan sosial.

d) Kurangnya dasar-dasar keimanan di dalam diri anak

Masalah agama belum diupayakan secara sungguh-


sungguh dari orang tua dan guru. Padahal agama merupakan
benteng diri remaja dari segala godaan dan cobaan.

Menurut Taufiq Rohman D., dkk (2006: 102), ada beberapa faktor
penyebab terjadinya perilaku menyimpang antara lain sebagai
berikut:

a) Sikap mental yang tidak sehat

Perilaku menyimpang dapat pula disebabkan karena sikap


mental yang tidak sehat. Sikap itu ditunjukkan dengan tidak merasa
bersalah atau menyesal atas perbuatannya, bahkan merasa senang.

Mental yang tidak sehat akan berdampak pada sikap yang


dilakukan oleh seseorang. Sikap tersebut biasanya muncul tidak
sesuai dengan kondisi yang sedang terjadi.

b) Ketidakharmonisan dalam keluarga


21
Tidak adanya keharmonisan dalam keluarga dapat menjadi
penyebab terjadinya perilaku menyimpang. Keadaan keluarga
yang penuh dengan masalah akan menjadikan seorang anak merasa
tertekan.

Salah satu ketidakharmonisan dalam keluarga yaitu sering


terjadinya pertengkaran orang tua. Pertengkaran orang tua dapat
membuat anak tertekan dan takut. Efek yang ditimbulkan dari
pertengkaran orang tua yakni dapat membuat anak melakukan
tindakan-tindakan yang semestinya tidak dilakukan.

c) Pelampiasan rasa kecewa

Seseorang yang mengalami kekecewaan apabila tidak


mengalihkannya ke hal positif, maka ia akan berusaha mencari
pelarian untuk memuaskan rasa kecewanya.

Seorang anak dapat dengan mudah merasakan kecewa,


akan tetapi tidak mudah untuk seorang anak mengontrol rasa
kecewanya. Sehingga pelampiasan rasa kekecewaan seorang anak
biasanya ke dalam hal-hal yang kurang baik seperti mengamuk,
memaki, dan lain sebagainya.

d) Dorongan kebutuhan ekonomi

Perilaku menyimpang juga terjadi karena dorongan


kebutuhan ekonomi. Perilaku menyimpang terjadi di kalangan
keluarga yang memiliki tingkat perekonomian tergolong rendah.

Seorang anak biasanya tidak mau tahu bagaimana kondisi


keluarganya. Terkadang anak ingin memiliki barang-barang yang
sama dengan yang telah dimiliki temannya. Akan tetapi orang tua
anak tersebut tidak dapat memenuhi seperti apa yang dimiliki
temannya. Kemungkinan negatif yang dapat terjadi dari dorongan
ekonomi seperti ini yaitu perbuatan mencuri atau merampok.

e) Ketidaksanggupan menyerap norma

Ketidaksanggupan menyerap norma ke dalam kepribadian


22
seseorang diakibatkan karena anak menjalani proses sosialisasi
yang tidak sempurna, sehingga tidak sanggup menjalankan
peranannya sesuai dengan perilaku yang diharapkan. Seorang
siswa tidak jarang menunjukkan tingkah laku yang bertentangan
dengan aturan atau norma yang berlaku. Anak yang menunjukkan
tingkah laku yang menyimpang dari aturan biasanya mendapat
cibiran dari temannya.

f) Adanya ikatan sosial yang berlain-lainan

Seorang anak cenderung mengidentifikasikan dirinya


dengan kelompok yang paling dihargai, dan akan lebih senang
bergaul dengan kelompok itu daripada dengan kelompok lainnya.
Dengan pengelompokkan tersebut individu akan memperoleh pola-
pola sikap dan perilaku kelompoknya. Jika kelompok yang digauli
memiliki pola perilaku yang menyimpang, kemungkinan besar
individu tersebut akan berperilaku menyimpang.

g) Keluarga broken home

Dilihat dari keluarga seperti ini tentunya aktivitas,


pengawasan, dan perhatian orang tua sangat kurang sehingga tak
heran di era globalisasi saat ini banyak tindakan-tindakan yang
dilakukan anak di luar batas normal.

Seorang anak yang memiliki keluarga tidak utuh merasa


kurang mendapat perhatian yang sempurna. Anak akan terus
mencari perhatian dari orang tuanya dengan berbagai cara.
Seringkali anak menunjukkan tindakan yang tidak semestinya
dilakukan oleh seorang anak hanya untuk mendapat perhatian dari
orang tuanya.

h) Orang tua bekerja di luar negeri

Kurang perhatian orang tua yang bekerja di luar negeri


semakin menambah beban mental anak terutama rasa sayang yang
kurang dari orang tuanya. Sering kita jumpai anak-anak tinggal dan

23
dititipkan bersama nenek, kakak, atau sanak saudara lain sehingga
aktivitas mereka kurang terawasi secara maksimal.

Orang tua yang bekerja di luar negeri terkadang hanya


memikirkan untuk memenuhi kebutuhan anak secara maksimal.
Padahal anak tidak hanya membutuhkan moril saja, akan tetapi
juga membutuhkan pengawasan langsung dari orang tua. Anak
akan lebih terarah jika di bawah pengawasan orang tuanya sendiri.

i) Kegagalan dalam proses sosialisasi di sekolah

Proses sosialisasi dianggap tidak berhasil jika anak tidak


berhasil bergaul dengan teman sebayanya di sekolah. Guru adalah
orang tua pengganti di sekolah, sehingga guru memegang peranan
dalam adaptasi anak di sekolah.

Menurut Kartini Kartono (2011: 21) kejahatan anak yang


merupakan gejala penyimpangan dan patologis secara sosial itu
juga dapat dikelompokkan dalam satu kelas defektif secara sosial
dan mempunyai sebab-musabab yang majemuk, jadi sifatnya
multi- kausal. Terdapat penggolongan gejala penyimpangan anak
menurut beberapa teori sebagai berikut:

1. Teori biologis

Tingkah laku sosiopatik atau delinquen pada anak-


anak dan remaja dapat muncul karena faktor-faktor
fisiologis dan struktur jasmaniah seseorang, juga dapat oleh
cacat jasmaniah yang dibawa sejak lahir. Kejadian ini
berlangsung:

(a) Melalui gen atau plasma pembawa sifat dalam


keturunan, atau melalui kombinasi gen; dapat juga
disebabkan oleh tidak adanya gen tertentu, yang
semuanya bisa memunculkan penyimpangan
tingkah laku, dan anak-anak menjadi delinkuen
secara potensial.

24
(b) Melalui pewarisan tipe-tipe kecenderungan yang
luar biasa (abnormal), sehingga membuahkan
tingkah laku delinkuen.

(c) Melalui pewarisan kelemahan konstitusional


jasmaniah tertentu yang menimbulkan tingkah laku
delinkuen atau sosiopatik. Misalnya cacat
jasmaniah bawaan brachydactylisme (berjari-jari
pendek) dan diabetes insipidius (sejenis penyakit
gula) itu erat berkorelasi dengan sifat-sifat kriminal
serta penyakit mental.

2. Teori psikogenis

Teori ini menekankan sebab-sebab tingkah laku


delinkuen anak-anak dari aspek psikologis atau isi
kejiwaannya. Antara lain faktor intelegensi, ciri
kepribadian, motivasi, sikap-sikap yang salah, fantasi,
rasionalisasi, internalisasi diri yang keliru, konflik batin,
emosi yang kontroversial, kecenderungan psikopatologis,
dan lain-lain.

3. Teori sosiogenesis

Para sosiolog berpendapat penyebab tingkah laku


delinkuen pada anak-anak remaja ini adalah murni
sosiologis atau sosial- psikologis sifatnya. Misalnya
disebabkan oleh pengaruh struktur sosial yang deviatif,
tekanan kelompok, peranan sosial, status sosial atau oleh
internalisasi simbolis yang keliru. Maka faktor-faktor
kultural dan sosial itu sangat mempengaruhi, bahkan
mendominasi struktur lembaga- lembaga sosial dan
peranan sosial setiap individu di tengah masyarakat, status
individu di tengah kelompoknya partisipasi sosial, dan
pendefinisian diri atau konsep dirinya.

4. Teori subkultur delinkuensi


25
Tiga teori yang terdahulu (biologis, psikogenesis
dan sosiologis) sangat populer sampai tahun-tahun 50-an.
Sejak 1950 ke atas banyak terdapat perhatian pada
aktivitas-aktivitas gang yang terorganisir dengan subkultur-
subkulturnya. Adapun sebabnya sebagai berikut:

a. Bertambahnya dengan cepat jumlah kejahatan, dan


meningkatnya kualitas kekerasan serta kekejaman yang
dilakukan oleh anak-anak remaja yang memiliki
subkultur delinkuen.

b. Meningkatnya jumlah kriminalitas mengakibatkan


sangat besarnya kerugian dan kerusakan secara
universal, terutama terdapat di negara-negara industri
yang sudah maju disebabkan oleh meluasnya kejahatan-
kejahatan anak remaja.

Dari faktor-faktor penyebab perilaku menyimpang yang


telah dipaparkan, dapat disimpulkan bahwa perilaku menyimpang
muncul disebabkan karena berbagai faktor dimana faktor internal
lebih berpengaruh terhadap perilaku menyimpang. Faktor internal
yang dimaksud disini tidak hanya yang berasal dari dalam diri
sendiri melainkan juga dampak dari lingkungan keluarga. Akibat
dari ketidakharmonisan hubungan anak dengan orang tua
menimbulkan dorongan-dorongan dalam diri anak yang
dilampiaskan dalam hal yang negatif. Sehingga anak kurang dapat
mengontrol diri di dalam hubungan sosial. Didukung dengan
penilaian lingkungan sekitar yang kurang baik mengakibatkan
anak semakin meluapkan rasa kesalnya dalam perilaku yang tidak
sesuai dengan aturan yang ada.

d. Strategi Penanganan Perilaku Menyimpang

Berger (Taufiq Rohman D., dkk 2006: 109) menyatakan


pengendalian sosial adalah cara yang digunakan untuk menertibkan
26
anggota masyarakat yang membangkang. Sedangkan menurut Roucek,
pengendalian sosial adalah proses terencana maupun tidak tempat
individu diajarkan, dibujuk, ataupun dipaksa untuk menyesuaikan diri
pada kebiasaan dan nilai hidup kelompok.

Untuk menanggulangi kenakalan pada anak memang tidak mudah.


Kenakalan pda anak memang sangat kompleks dan banyak sekali ragam
dan penyebabnya. Menurut Willis (2012: 127) terdapat 3 upaya dalam
penanggulangan kenakalan, yaitu:

a) Upaya Preventif

Upaya ini merupakan kegiatan yang dilakukan secara


sistematis, berencana dan terarah. Hal ini dilakukan untuk menjaga
agar kenakalan itu tidak timbul.

b) Upaya Kuratif

Upaya kuratif dalam menanggulangi masalah kenakalan anak


ialah upaya antisipasi terhadap gejala-gejala kenakalan tersebut,
supaya kenakalan tersebut tidak meluas dan merugikan masyarakat.
Apabila seorang anak melakukan tindak kejahatan, maka
kemungkinan tindakan negara yaitu sebagai berikut:

(a) Anak itu dikembalikan kepada orang tua atau walinya.

(b) Anak itu dijadikan anak negara.

(c) Dijatuhi hukuman seperti biasa, hanya dikurangi dengan


sepertiganya.

c) Upaya Pembinaan

Mengenai upaya pembinaan yang dimaksud ialah:

(a) Pembinaan terhadap anak yang tidak melakukan kenakalan,


dilaksanakan di rumah, sekolah, dan masyarakat. Pembinaan
seperti ini telah diungkapkan pada upaya preventif yaitu upaya
menjaga jangan sampai terjadi kenakalan remaja.

(b) Pembinaan terhadap remaja yang telah mengalami tingkah laku


27
kenakalan atau yang telah menjalani suatu hukuman karena
kenakalannya. Hal ini perlu dibina agar supaya mereka tidak
mengulangi lagi kenakalannya. Pembinaan dapat diarahkan
dalam beberapa aspek, yaitu:

(1) Pembinaan mental dan kepribadian beragama.

(2) Pembinaan mental ideologi negara yakni Pancsila, agar


menjadi warga negara yang baik.

(3) Pembinaan kepribadian yang wajar untuk mencapai


pribadi yang stabil dan sehat.

(4) Pembinaan ilmu pengetahuan.

(5) Pembinaan keterampilan khusus.

(6) Pengembangan bakat-bakat khusus.

Sejalan dengan pendapat tersebut, Taufiq RD., dkk (2006: 112)


berpendapat bahwa pengendalian sosial dapat bersifat preventif, represif,
gabungan, persuatif serta koersif. Berikut uraiannya:

1) Pengendalian Preventif

Pengendalian yang bersifat pencegahan. Dilakukan untuk


memperingatkan hal-hal yang mungkin akan membahayakan.
Langkah yang ditempuh dengan memberikan nasehat atau
memperingatkan akan kemungkinan bahaya.

2) Pengendalian Represif

Pengendalian yang bersifat denda atau sangsi. Seseorang yang


melanggar akan dikenai hukuman dan harus menjalani hukuman
tersebut sebagai bagian dari kesalahan yang telah dilakukannya.

3) Pengendalian Gabungan

Penggabungan diantara pengendalian preventif dan represif.


Dimaksudkan dengan memberikan nasehat atau aturan akan dapat
terhindar dari kesalahan atau penyimpangan agar tidak merugikan
semua pihak.
28
4) Pengendalian Persuasif

Dilakukan dengan pendekatan secara tidak memaksa,


memberitahukan melalui ucapan atau perkataan dengan memberikan
aturan atau norma yang berlaku.

5) Pengendalian Koersif

Pengendalian yang dilakukan bersifat memaksa. Dilakukan


jika langkah preventif, persuasif dan sebagainya tidak menimbulkan
efek jera.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa


pengendalian perilaku menyimpang terhadap anak dapat dilakukan
dengan berbagai upaya. Usaha yang dilakukan tidak hanya diupayakan
oleh salah satu pihak saja, melainkan dibarengi dengan upaya yang
dilakukan oleh pihak-pihak lain seperti sekolah dan masyarakat.

2.5 Masalah Anak Usia Sekolah


Masalah–masalah yang sering terjadi pada anak usia ini meliputi bahaya
fisik dan psikologi antara lain:
1) Bahaya fisik
a. Penyakit
Penyakit infeksi pada usia ini jarang sekali terjadi, penyakit yang sering
ditemui adalah penyakit yang berhubungan dengan kebersihan diri anak.
b. Kegemukan
Kegemukan terjadi bukan karena adanya perubahan pada kelenjar tapi
akibat banyaknya karbohidrat yang dikonsumsi sehingga anak kesulitan
mengikuti kegiatan bermain, sehingga kehilangan kesempatan untuk
mencapai ketrampilan yang penting untuk keberhasilan sosial.
c. Kecelakaan
Kecelakaan terjadi akibat keinginan anak untuk bermain yang
menghasilkan ketrampilan tertentu.
d. Kecanggungan

29
Pada masa ini anak mulai membandingkan kemampuannya dengan
teman sebaya bila muncul perasaan tidak mampu dapat menjadi dasar
untuk rendah diri.
e. Kesederhanaan
Kesederhanaan sering dilakukan oleh anak-anak pada masa apapun.
Orang yang lebih dewasa memandangnya sebagai perilaku yang kurang
menarik, sehingga anak menafsirkan sebagai penolakan yang dapat
mempengaruhi perkembangan konsep diri pada anak.
2) Bahaya Psikologi
a. Bahaya dalam berbicara
Kesalahan dalam berbicara seperti salah ucap dan kesalahan bahasa,
cacat dalam bicara seperti gagap atau pelat, akan membuat anak menjadi
sadar diri sehingga anak hanya berbicara bila perlu saja.
b. Bahaya emosi
Anak masih menunjukkan pola-pola ekspresi emosi yang kurang
menyenangkan seperti marah yang meledak-ledak, cemburu sehingga
kurang disenangi orang lain.
c. Bahaya bermain
Anak yang kurang memiliki dukungan sosial akan merasa kekurangan
kesempatan untuk mempelajari permainan dan olahraga yang penting
untuk menjadi anggota kelompok. Anak yang dilarang berkhayal karena
membuang waktu atau dilarang melakukan kegiatan kreatif dan bermain
akan mengembangkan kebiasaan penurut yang kaku.
d. Bahaya konsep diri
Anak mempunyai konsep diri yang ideal, biasanya merasa tidak puas
pada diri sendiri dan pada perlakuan orang lain. Anak cenderung
berprasangka dan bersikap diskriminatif dalam memperlakukan orang
lain.
e. Bahaya moral
Ada enam bahaya umumnya dikaitkan dengan perkembangan sikap
moral dan perilaku anak-anak :

30
1) Perkembangan kode moral berdasarkan konsep teman-teman atau
berdasarkan konsep-konsep media masa tentang benar dan salah
yang tidak sesuai dengan kode orang dewasa.
2) Tidak berhasil mengembangkan suara hati sebagai pengawas dalam
terhadap perilaku.
3) Disiplin yang tidak konsisten membuat anak tidak yakin akan apa
yang sebaiknya dilakukan.
4) Hukuman fisik merupakan contoh agresivitas anak.
5) Menganggap dukungan teman terhadap perilaku yang salah begitu
memuaskan sehingga perilaku menjadi kebiasaan.
6) Tidak sabar terhadap perbuatan orang lain yang salah.
f. Bahaya yang menyangkut minat
Tidak minat pada hal-hal yang dianggap penting oleh teman sebaya dan
mengembangkan.
g. Bahaya dalam penggolongan peran seks
Ada dua bahaya yang umum dalam penggolongan peran seks: kegagalan
untuk mempelajari organ seks, dan ketidakmampuan untuk melakukan
peran seks yang disetujui.
h. Bahaya dalam perkembangan kepribadian
Ada dua bahaya yang serius dalam perkembangan kepribadian periode
ini. Pertama, perkembangan konsep diri yang buruk yang
mengakibatkan penolakan diri, dan kedua, egosentrisme yang
merupakan lanjutan dari awal masa kanak-kanak. Egosentrisme
merupakan hal yang serius karena memberikan rasa penting diri yang
i. Bahaya hubungan keluarga
Pertentangan dengan anggota-anggota keluarga mengakibatkan dua hal:
melemahkan ikatan keluarga dan menimbulkan kebiasaan pola
penyesuaian yang buruk, serta masalah-masalah yang dibawa keluar
rumah. (Suprajitno 2004)

2.6 Konsep Anak Usia Sekolah Sehat

31
Pada anak usia sekolah, umumnya pada permulaan usia 6 tahun anak
mulai masuk sekolah, dengan demikian anak mulai mengenal dunia baru,
anak-anak mulai berhubungan dengan orang-orang di luar keluarganya dan
mulai mengenal suasana baru di lingkungannya. Hal-hal baru yang dialami
oleh anak-anak yang sudah mulai masuk dalam usia sekolah akan
mempengaruhi kebiasaan makan mereka. Anak-anak akan merasakan
kegembiraan di sekolah, rasa takut akan terlambat tiba di sekolah,
menyebabkan anak-anak ini menyimpang dari kebiasaan makan yang
diberikan kepada mereka (Moehji, 2009).

Anak sehat adalah anak yang dapat tumbuh kembang dengan baik dan
teratur, jiwanya berkembang sesuai dengan tingkat umurnya, aktif, gembira,
makannya teratur, bersih, dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Ciri-ciri anak sehat adalah tumbuh dengan baik, yang dapat dilihat dari naiknya
berat badan dan tinggi badan secara teratur dan proporsional; Tingkat
perkembangannya sesuai dengan tingkat umurnya; tampak aktif/gesit dan
gembira; Mata bersih dan bersinar; Nafsu makan baik; Bibir dan lidah tampak
segar; Pernapasan tidak berbau; Kulit dan rambut tampak bersih dan tidak
kering; dan Mudah menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Menurut (Andriyani,2012) karakteristik anak usia sekolah 9-11 tahun


dijabarkan sebagai berikut:

1. Karakteristik fisik/jasmani : anak memiliki pertumbuhan yang lambat


namun teratur, BB dan TB anak perempuan lebih besar dibandingkan anak
laki-laki pada usia yang sama, terjadi pertumbuhan tulang yang cepat,
pertumbuhan gizi permanen, nafsu makan mengalami peningkatan, dan
timbul haid pada anak akhir masa usia sekolah ini.
2. Karakteristik emosi : pada masa ini anak mulai memiliki rasa ingin tahu
yang kuat, suka menambah pertemanan, dan kurang kepedulian terhadap
lawan jenis.
3. Karakteristik sosial : anak mulai suka bermain dan mempererat hubungan
pertemanan dengan teman sebayanya.

32
4. Karakteristik intelektual : anak mulai berani menyuarakan pendapatnya,
memiliki minat besar terhadap belajar, mulai terlihat memiliki
keterampilan, rasa ingin tahu yang kuat, dan memiliki perhatian terhadap
sesuatu yang singkat.

2.7 Program Pemerintah untuk anak usia sekolah

Berbagai macam masalah yang muncul pada anak usia sekolah, namun
masalah yang biasanya terjadi yaitu masalah kesehatan umum. Masalah
kesehatan umum yang terjadi pada anak usia sekolah biasanya berkaitan dengan
kebersihan perorangan dan lingkungan seperti gosok gigi yang baik dan benar,
kebersihan diri, serta kebiasaan cuci tangan pakai sabun (Permata, 2010).

Upaya pemerintah dalam meng- atasi masalah tentang kebersihan yaitu


dengan mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1193/Menkes/SK/
X/2004 tentang Visi Promosi Kesehatan RI adalah “Perilaku Hidup Bersih
Sehat 2010” atau “PHBS 2010”. PHBS terdiri dari beberapa indikator
khususnya PHBS tatanan sekolah yaitu mencuci tangan dengan air yang
mengalir dan memakai sabun, mengonsumsi jajanan di warung/ kantin sekolah,
menggunakan jamban yang bersih & sehat, olahraga yang teratur dan terukur,
memberantas jentik nyamuk, tidak merokok, menimbang berat badan dan
mengukur tinggi badan setiap bulan, dan membuang sampah pada tempatnya
(Depkes, 2005). Salah satu wadah untuk mengembangkan promosi PHBS anak
usia sekolah adalah layanan Usaha Kesehatan Sekolah (UKS). Kegiatan UKS
di tinjau dari segi sarana dan prasarana, pengetahuan, sikap peserta didik di
bidang kesehatan, warung sekolah, makanan sehari- hari/gizi.

Departemen Kesehatan (2008) menjelaskan tujuan umum dari UKS


adalah meningkatkan mutu pendidikan dan prestasi belajar peserta didik dengan
meningkatkan perilaku hidup bersih dan sehat serta derajat kesehatan peserta
didik maupun warga belajar, dan menciptakan lingkungan sehat, sehingga
memungkinkan pertumbuhan dan perkembangan yang harmonis dan optimal
dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya.

33
Keberhasilan pelaksanaan program kerja UKS tergantung dari
keberhasilan masing-masing program kerja UKS. Menurut Mubarak dan
Chayatin (2009), program kerja UKS meliputi tiga unsur yaitu pendidikan
kesehatan di sekolah, pelayanan kesehatan di sekolah dan pembinaan
lingkungan sekolah yang sehat yang terwujud dalam Trias UKS. Terciptanya
kondisi lingkungan yang mendukung terhadap pelaksanaan proses belajar
mengajar tersebut diharapkan dapat berdampak terhadap meningkatnya
presatasi belajar yang akan dicapai oleh siswa.

2.8 Tinjauan Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
a. Data Komunitas
1) Demografi : Jumlah anak usia sekolah keseluruhan, jumlah anak
usia sekolah menurut jenis kelamin, golongan umur.
2) Etnis : suku bangsa, budaya, tipe keluarga.
3) Nilai, kepercayaan dan agama : nilai dan kepercayaan yang dianut
oleh anak usia sekolah berkaitan dengan pergaulan, agama yang
dianut, fasilitas ibadah yang ada, adanya organisasi keagamaan,
kegiatan-kegiatan keagamaan yang dikerjakan oleh anak usia
sekolah.
b. Data Subsystem
Delapan subsitem yang dikaji sebagai berikut :
1) Lingkungan Fisik
Inspeksi : Lingkungan sekolah anak usia sekolah, kebersihan
lingkungan, aktifitas anak usia sekolah di lingkungannya, data
dikumpulkan dengan winshield survey dan observasi.
Auskultasi : Mendengarkan aktifitas yang dilakukan anak usia
sekolah dari guru kelas, kader UKS, dan kepala sekolah melalui
wawancara.
Angket : Adanya kebiasaan pada lingkungan anak usia sekolah
yang kurang baik bagi perkembangan anak usia sekolah.

34
2) Pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial
Ketersediaan pelayanan kesehatan khusus anak usia sekolah,
bentuk pelayanan kesehatan bila ada, apakah terdapat pelayanan
konseling bagi anak usia sekolah melalui wawancara.
3) Ekonomi
Jumlah pendapatan orang tua siswa, jenis pekerjaan orang tua
siswa, jumlah uang jajan para siswa melalui wawancara dan
melihat data di staff tata usaha sekolah.
4) Keamanan dan transportasi.
 Keamanan : adanya satpam sekolah, petugas penyebarang
jalan.
 Transportasi Jenis transportasi yang dapat digunakan anak usia
sekolah, adanya bis sekolah untuk layanan antar jemput siswa
5) Politik dan pemerintahan
Kebijakan pemerintah tentang anak usia sekolah, dan tata tertib
sekolah yang harus dipatuhi seluruh siswa.
6) Komunikasi
 Komunikasi formal Media komunikasi yang digunakan oleh
anak usia sekolah untuk memperoleh informasi pengetahuan
tentang kesehatan melalui buku dan sosialisasi dari pendidik.
 Komunikasi informal Komunikasi/diskusi yang dilakukan
anak usia sekolah dengan guru dan orang tua, peran guru dan
orang tua dalam menyelesaikan dan mencegah masalah anak
sekolah, keterlibatan guru dan orang tua dan lingkungan
dalam menyelesaikan masalah anak usia sekolah.
7) Pendidikan
Terdapat pembelajaran tentang kesehatan, jenis kurikulum yang
digunakan sekolah, dan tingkat pendidikan tenaga pengajar di
sekolah.
8) Rekreasi

35
Tempat rekreasi yang digunakan anak usia sekolah, tempat
sarana penyaluran bakat anak usia sekolah seperti olahraga dan
seni, pemanfaatannya, kapan waktu penggunaan
c. Pengkajian yang berhubungan dengan anak usia sekolah
1) Identitas anak.
2) Riwayat kehamilan dan persalinan.
3) Riwayat kesehatan bayi sampai saat ini.
4) Kebiasaan saat ini (pola perilaku dan kegiatan sehari-hari).
5) Pertumbuhan dan perkembangannya saat ini (termasuk
kemampuan yang telah dicapai).
6) Pemeriksaan fisik.
7) Lengkapi dengan pengkajian fokus
 Bagaimana karakteristik teman bermain.
 Bagaimana lingkungan bermain.
 Berapa lama anak menghabiskan waktunya disekolah.
 Bagaimana stimulasi terhadap tumbuh kembang anak dan
adakah sarana yang dimilikinya.
 Bagaimana temperamen anak saat ini.
 Bagaiman pola anak jika menginginkan sesuatu barang.
 Bagaimana pola orang tua menghadapi permintaan anak.
 Bagaimana prestasi yang dicapai anak saat ini.
 Kegiatan apa yang diikuti anak selain di sekolah.
 Sudahkah memperoleh imiunisasi ulangan selama disekolah.
 Pernahkah mendapat kecelakaan selama disekolah atau
dirumah saat bermain.
 Adakah penyakit yang muncul dan dialami anak selama masa
ini.
 Adakah sumber bacaan lain selain buku sekolah dan apa
jenisnya.
 Bagaimana pola anak memanfaatkan waktu luangnya.
 Bagaimana pelaksanaan tugas dan fungsi keluarga.

36
2. Diagnosa dan Intervensi Keperawatan
a. Diagnosa keperawatan yang muncul terdapat dua sifat, yaitu :
1) Berhubungan dengan anak, dengan tujuan agar anak dapat tumbuh
dan berkembang secara optimal sesuai usia anak.
2) Berhubungan dengan keluarga, dengan etiologi berpedoman pada
lima tugas keluarga yang bertujuan agar keluarga memahami dan
memfasilitasi perkembangan anak

b. Masalah yang dapat digunakan untuk perumusan diagnosa


keperawatan yaitu :

1) Masalah aktual/risiko
 Gangguan pemenuhan nutrisi: lebih atau kurang dari kebutuhan
tubuh.
 Menarik diri dari lingkungan sosial.
 Ketidakberdayaan mengerjakan tugas sekolah.
 Mudah dan Sering marah.
 Menurunnya atau berkurangnya minat terhadap tugas sekolah
yang dibebankan.
 Berontak/menentang terhadap peraturan keluarga.
 Keengganan melakukan kewajiban agama.
 Ketidakmampuan berkomunikasi secara verbal.
 Gangguan komunikasi verbal.
 Gangguan pemenuhan kebersihan diri (akibat
banyak waktu yang digunakan untuk bermain).
2) Potensial atau sejahtera
 Meningkatnya kemandirian anak.
 Peningkatan daya tahan tubuh.
 Hubungan dalam keluarga yang harmonis.
 Terpenuhinya kebutuhan anak sesuai tugas perkembangannya.
 Pemeliharaan kesehatan yang optimal

37
3. Rencana Asuhan Keperawatan
a. Aktual
Perubahan hubungan keluarga yang berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga merawat anak yang sakit
Tujuan: Hubungan keluarga meningkat menjadi harmonis dengan
dukungan yang adekuat.
Intervensi:
1) Diskusikan tentang tugas keluarga.
2) Diskusikan bahaya jika hubungan keluarga tidak harmonis saat
anggota keluarga sakit.
3) Kaji sumber dukungan keluarga yang ada disekitar keluarga.
4) Ajarkan anggota keluarga memberikan dukungan terhadap upaya
pertolongan yang telah dilakukan.
5) Ajarkan cara merawat anak dirumah.
6) Rujuk ke fasilitas kesehatan yang sesuai kemampuan keluarga
b. Resiko/resiko tinggi
Resiko tinggi hubungan keluarga tidak harmonis berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga mengenal masalah yang terjadi pada anaknya.
Tujuan: ketidakharmonisan keluarga menurun

Intervensi:
1) Diskusikan faktor penyebab ketidak harmonisan keluarga.
2) Diskusikan tentang tugas perkembangan keluarga.
3) Diskusikan tentang tugas perkembangan anak yang harus dijalani.
4) Diskusikan cara mengatasi masalah yang terjadi pada anak.
5) Diskusikan tentang alternatif mengurangi atau menyelesaikan
masalah.
6) Ajarkan cara mengurangi atau menyelesaikan masalah.
7) Beri pujian bila keluarga dapat mengenali penyebab atau mampu
membaut alternatif.
c. Potensial atau sejahtera
Meningkatnya hubungan yang harmonis antar anggota keluarga.
Tujuan: dipertahankanya hubungan yang harmonis.
38
Intervensi:
1) Anjurkan untuk mempertahankan pola komunikasi terbuka pada
keluarga.
2) Diskusikan cara-cara penyelesaian masalah dan beri pujian atas
kemampuannya
3) Bantu keluarga mengenali kebutuhan anggota keluarga (anak usia
sekolah)
4) Diskusikan cara memenuhi kebutuhan anggota keluarga tanpa
menimbulkan maslaah.

39
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

3.1 Kasus
SD Airlangga merupakan salah satu Sekolah Dasar di kota X tepatnya di
wilayah kecamatan Makmur Raya. SD Airlangga memiliki siswa sebanyak
235 siswa dengan rincian 30 siswa kelas 1, 35 siswa kelas 2, 35 siswa kelas
3, 40 siswa kelas 4, 45 siswa kelas 5 dan 50 siswa kelas 6 dengan jumlah
guru pengajar sebanyak 25 orang. Siswa SD Airlangga mayoritas beragama
islam dan bersuku Jawa. SD Airlangga terdiri dari 2 lantai, pada tiap lantai
ada 2 buah kamar mandi yang dipisahkan antara laki-laki dan perempuan.
Di SD Airlangga juga memiliki kebiasaan setiap hari Senin selalu
dilaksanakan upacara bendera, setiap hari Jumat ada senam bersama yang
kemudian dilanjutkan dengan sarapan bersama, siswa diminta untuk
membawa bekal dari rumah. SD Airlangga terletak di tengah kota namun
berbatasan dengan tempat pembuangan sampah, sehingga halaman samping
sekolah terlihat kumuh dan terkadang tercium bau tidak sedap di ruang
kelas. Setiap minggunya selalu ada laporan siswa yang mengalami sakit
perut di UKS, diduga karena sering mengkonsumsi jajanan di depan
sekolah.

3.2 Data Inti komunitas


1. Sejarah
SD Airlangga didirikan pada tahun 2009 di daerah tengah kota. Pada
awal didirikan SD Airlangga hanya memiliki 3 ruang kelas untuk
bergantian, Sekolah diberi nama Airlangga sebab memiliki arti baik
pekertinya, diharapkan siswa lulusan dari SD Airlangga bisa menjadi
lulusan yang baik dan berguna bagi negara.
2. Demografi
Jumlah siswa di SD Airlangga sebanyak 235 siswa dengan rincian 30
siswa kelas 1, 35 siswa kelas 2, 35 siswa kelas 3, 40 siswa kelas 4, 45

40
siswa kelas 5 dan 50 siswa kelas 6. Jumlah guru pengajar di SD
Airlangga sebanyak 25 orang.
3. Kelompok etnis
Mayoritas siswanya berasal dari suku jawa
4. Nilai dan keyakinan
Mayoritas siswanya beragama islam.

3.3 Data subsistem komunitas

No Elemen Deskripsi
1. Lingkungan SD Airlangga terdiri dari 2 lantai, lantai satu digunakan
untuk siswa kelas 1-3, musholla, ruang guru, kantin dan
UKS, lantai 2 digunakan untuk ruang kelas 4-6 dan
perpustakaan. Pada tiap lantai ada 2 buah kamar mandi yang
dipisahkan antara laki-laki dan perempuan
2. Lingkungan Terbuka Pada halaman depan sekolah terdapat penjual makanan kaki
lima dan pada halaman samping sekolah merupakan tempat
pembuangan sampah.
3. Batas Batas wilayah sebelah utara adalah Kantor Kecamatan
Mulyorejo, sebelah timur adalah Universitas Airlangga,
batas sebelah selatan Masjid Agung Kota dan batas sebelah
Barat adalah Taman kota dan tempat pembuangan sampah
kota
4. Kebiasaan Setiap hari Senin selalu dilaksanakan upacara bendera, setiap
hari Jumat ada senam bersama yang kemudian dilanjutkan
dengan sarapan bersama, siswa diminta untuk membawa
bekal dari rumah
5. Transportasi Siswa kebanyakan diantar jemput oleh orang tua dan
beberapa siswa yang tempat tinggalnya dekat dengan sekolah
membawa sepeda ataupun berjalan kaki.
6. Pusat Pelayanan SD Airlangga berdekatan dengan Masjid Agung dan taman
bermain
41
7. Toko/Warung/Pasar Terdapat beberapa toko swalayan di sekitar SD Airlangga
yang biasanya digunakan oleh warga setempat untuk
berbelanja kebutuhan sehari-hari

3.4 FGD (Focus Group Discussion)

Tempat : Ruang rapat guru SD Airlangga

Hari, Tangal : Jumat, 13 September 2019

Waktu : 08.00-10.00

Peserta : Kepala sekolah, wali kelas 1-6, perwakilan orang tua siswa kelas
1-6

Pertanyaan yang diajukan beserta jawabannya:

1. Apa yang biasanya dilakukan oleh siswa pada saat jam istirahat?
Ada beberapa siswa yang bermain di lapangan, sedangkan siswa yang
lain biasanya ke halaman depan sekolah untuk membeli jajanan pinggir
jalan.
2. Bagaimanakah pelaksanaan program UKS di SD Airlangga?
UKS digunakan ketika ada siswa yang sakit untuk istirahat sejenak, tapi
biasanya siswa yang sakit langsung diminta untuk beristirahat di rumah.
Program dokter kecil UKS belum dilaksanakan karena guru masih fokus
untuk mempersiapkan ujian sekolah bagi siswa kelas 6.
3. Apakah orang tua wali murid membawakan bekal makanan pada
anaknya agar tidak jajan sembarangan?
Ada 5 ibu yang menjawab kalau mereka tidak membawakan bekal
karena tidak sempat memasak ketika pagi karena mereka juga harus
bersiap berangkat kerja. Kalaupun dibawakan bekal hanya saat hari
jumat ketika ada acara sarapan bersama dan biasanya makanan tersebut
juga dibeli ketika berangkat ke sekolah pagi hari.
4. Apa sajakah sakit yang dikeluhkan oleh siswa ketika datang ke UKS?
Guru jaga UKS mengatakan bahwasannya siswa yang datang ke UKS
mengeluhkan sakit perut, terkadang badannya panas dan juga batuk
42
pilek. Tapi dalam satu minggu pasti ada siswa yang datang ke UKS
dengan keluhan sakit perut
5. Adakah fasilitas seperti wastafel yang dilengkapi dengan sabun untuk
cuci tangan di sekolah ini? Jika ada dimana?
Tidak ada, jika siswa ingin cuci tangan biasanya di toilet, di toilet siswa
tapi tidak ada sabun karena biasanya hanya digunakan untuk buang air
kecil saja.

3.5 Analisa Data


No Data Subjektif Data Objektif
1. Orang tua wali siswa Banyak siswa yang membeli
mengatakan tidak pernah makanan/jajanan di depan
membawakan bekal makanan sekolah dan di kantin sekolah
karena tidak sempat memasak
ketika pagi
2. Kepala sekolah mengatakan Tidak ada fasilitas wastafel,
belum menyediakan fasilitas dan di tiap kamar mandi tidak
wastafel karena menurutnya ada sabun untuk mencuci
kamar mandi sudah bisa tangan
digunakan untuk mencuci tangan
3. Halaman samping sekolah Wilayah Barat sekolah
terlihat kumuh dan terkadang berbatasan dengan TPS Kota,
bau tidak sedap sampai di ruang setiap harinya ada sekitar 7
kelas karena halaman samping truk sampah yang membuang
sekolah berdekatan dengan sampah disana
Tempat Pembuangan Sampah
Kota

43
4. Kesadaran para siswa dalam Belum pernah dilakukan
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat penyuluhan tentang cuci
(PHBS) masih kurang, siswa tangan pada siswa SD
tidak melakukan cuci tangan Airlangga, kader dokter kecil
ketika akan mengkonsumsi juga belum dibentuk.
makanan dan tidak sedikit siswa
yang jajan sembarangan di depan
sekolah.

3.6 Diagnosa Keperawatan


1. Defisiensi kesehatan komunitas siswa SD Airlangga b.d
ketidakcukupan sumber daya: pengetahuan
2. Perilaku kesehatan siswa SD Airlangga cenderung berisiko b.d kurang
pemahaman

44
3.7 Intervensi Keperawatan :

N DX TUJUAN SASARAN NOC NIC METODE WAKTU TEMPAT PENANGGUNG SUMBER


O JAWAB DANA

1. Defisiensi Tujuan Primer: Pengetahuan: Domain 7 Demonstrasi, Senin, 16 Aula SD Pihak Sekolah: Iuran
kesehatan jangka Siswa SD Promosi Komunitas Ceramah September Airlangga Kepala Sekolah Mahasiswa
komunitas panjang : Airlangga kesehatan  5510 2019 Pihak Mahasiswa:
siswa SD  Mengatasi kelas 1-6  182308 Pendidikan Pukul Novianti L
Airlangga b.d penyakit Perilaku kesehatan: 08.00-
ketidakcukup sakit perut yang Cuci tangan 09.00
an sumber yang sering meningkat sebelum
daya: diderita kan makan
pengetahuan oleh siswa kesehatan  6484
(00215) SD (1-3) Manajemen
Airlangga  180501 lingkungan:
Praktik gizi komunitas
Tujuan yang sehat dengan
jangka (1-3) mengajarka
pendek : n siswa

45
 Mengatasi untuk
permasala membuang
han sampah
Perilaku pada
Hidup tempatnya
Bersih  6610
dan Sehat Identifikasi
yang resiko:
masih lingkungan
kurang kumuh
pad siswa dengan
SD mengajarka
Airlangga n kepada
siswa agar
tidak
mendekati
lingkungan
dekat TPS
karena

46
banyak
bakteri.
2. Perilaku Tujuan Sekunder: Pengetahuan: Domain 3 FGD (Focus Selasa, 17 Ruang Pihak Sekolah: Iuran
kesehatan jangka Guru dan Promosi Perilaku Group September rapat guru Kepala Sekolah Mahasiswa
siswa SD panjang: Orang tua kesehatan  Manajemen Discussion) 2019 SD Pihak Mahasiswa:
Airlangga  Perilaku siswa (1823) perilaku Pukul Airlangga Novianti L
cenderung kesehatan  182308 orang tua 08.00-
berisiko b.d siswa SD Perilaku agar tidak 11.00
kurang Airlangga yang membiarka
pemahaman tidak meningkat n anaknya
(00188) berisiko kan jajan
kesehatan sembaranga
Tujuan (1-3) n
jangka Domain 7
pendek: Deteksi Komunitas
 Meningkatk Risiko (1908)  5510
an  190802 Pendidikan
kesadaran Mengidenti kesehatan:
Siswa agar fikasi Pentingnya
menerapkan kemungkin sekolah

47
perilaku an risiko menyediak
hidup kesehatan an fasilitas
bersih dan (1-3) wastafel
sehat di  190801 dan sabun
sekolah Mengenali untuk cuci
tanda dan tangan
gejala yang  6484
mengidenti Manajemen
fikasikan lingkungan:
risiko (1-3) komunitas
dengan
mengadaka
n kegiatan
kerja bakti
sekolah dan
memberi
batas
berupa
tembok
agar

48
sampah
dari TPS
tidak
masuk ke
halaman
sekolah

49
3.8 Rencana Strategis Penyelesaian Masalah

NO DIAGNOSA TANGGAL IMPLEMENTASI


1. Defisiensi Senin, 16 1. Mendemonstrasikan cara cuci
kesehatan September tangan yang benar kepada siswa
komunitas 2019 Pukul SD Airlangga
siswa SD 08.00-09.00 2. Memberikan pemahaman kepada
Airlangga b.d siswa SD Airlangga tentang
ketidakcukupan pentingnya menjaga kesehatan
sumber daya: lingkungan dan tidak jajan
pengetahuan sembarangan
(00215)
2. Perilaku Selasa, 17 1. Mendiskusikan tentang
kesehatan siswa September pentingnya fasilitas wastafel dan
SD Airlangga 2019 Pukul sabun cuci tangan di sekolah
cenderung 08.00-11.00 2. Mendiskusikan tentang manfaat
berisiko b.d membawakan anak bekal
kurang makanan ke sekolah bagi
pemahaman kesehatan anak
(00188) 3. Mendiskusikan upaya
pengendalian lingkungan agar
tidak kumuh dengan beberapa
cara seperti kerja bakti

3.9 Komponen Evaluasi

NO DIAGNOSA TANGGAL EVALUASI


1. Defisiensi Senin, 16 1. Peserta yang hadir 98% siswa
kesehatan September SD Airlangga
komunitas 2019 Pukul 2. 100% peserta yang hadir
siswa SD 08.00-09.00 mampu mempraktekkan cara
Airlangga b.d cuci tangan yang benar
ketidakcukupan

50
sumber daya: 3. 100% peserta yang hadir
pengetahuan memahami pentingnya
(00215) perilaku hidup bersih dan
sehat di sekolah
2. Perilaku Selasa, 17 1. Peserta yang hadir 15 orang
kesehatan siswa September 2. 100% peserta FGD aktif dalam
SD Airlangga 2019 Pukul kegiatan diskusi
cenderung 08.00-11.00 3. 100% peserta yang hadir
berisiko b.d memahami pentingnya perilaku
kurang hidup bersih dan sehat di sekolah
pemahaman
(00188)

51
BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Anak usia sekolah merupakan anak yang sedang berada pada periode usia
pertengahan yaitu anak yang berusia 6-12 tahun. Pada usia sekolah, anak
memiliki karakteristik yang berbeda dengan anak-anak yang usianya lebih
muda. Perbedaan ini terlihat dari aspek fisik, mental-intelektual, dan sosial-
emosial anak.

4.2 Saran

Pada kelompok anak usia sekolah yang memiliki sifat-sifat khusus, juga
diperlukan suatu intervensi khusus untuk meningkatkan kesehatan pada
kelompok mereka.

52
DAFTAR PUSTAKA

Dharma, A., & Andryanto, M. (2010). Pengantar Psikologi . Jakarta: Erlangga.

Gunarsa, D. S. (2016). Psikologi Praktis: Dari Anak Sampai Usia Lanjut. Jakarta:
PT. BPK Gunung Mulia.

Moehji, S. (2009). Nutritional Science. Jakarta: Publisher of Sinar Sinarti Papas.

Santrock, J. W. (2017). Psikologi Pendidikan. Jakarta: Prenada Media Group.

Supariasa, & Hardiansyah. (2016). Nutrition Theory & Application. Jakarta: Book
EGC Medicine.

Yusuf, S. (2016). Psychology of Child and Adolescent Development. Bandung: PT.


Teen Rosdakarya.

Kartono, Kartini, 2011. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: PT Raja Grafindo


Persada.

Sunarto,Kamanto,2000, Pengantar Sosiologi, Edisi Revisi, Jakarta.

Sarwono. 2011. Psikologi Remaja.Edisi Revisi. Jakarta: Rajawali Pers.

Abdul .Wahib Dan Mustaqim, 1991. Psikologi Pendidikan,.Jakarta: Rineka Cipta.

Wilis, S.S. 2012. REMAJA DAN MASALAHNYA mengupas Berbagai Bentuk


Kenakalan Remaja, Narkoba, Free Sex, dan Pemecahannya. Bandung :
Afabeta

Fitri D, N, A. (2018). “SELF ESTEEM PADA ANAK USIA SEKOLAH DASAR


UNTUK PENCEGAHAN KASUS BULLYING”. Malang. Jurnal Pemikiran dan
Pengembangan SD.

Prasetyo, Y.B. dkk. 2014. Pelaksanaan Program Usaha Kesehatan Sekolah Dalam
Upaya Meningkatkan Derajat Kesehatan Pada Anak Usia Sekolah Dasar
di Lombok Timur. Jurnal Kedokteran Yarsi 22 (2) : 102-113

http://scholar.unand.ac.id/41305/5/kti%20full%20isny.pdf

53