Anda di halaman 1dari 1

Sekilas Sejarah Kedungkandang

Secara garis besarnya bahwa pada jaman dahulu wilayah kedungkandang adalah wilayah yang subur dan
makmur karena lahan pertaniannya cukup mudah untuk mendapatkan pengairan. Wilayah ini dilalui
oleh sungai besar yakni sungai Amprong tapi posisi wilayah lain di sebelah timur sulit mendapatkan
aliran air terlebih lagi dimusim kemarau. Dari permasalahan tersebut tercetus untuk dibuatkan tanggul
sungai, tetapi selalu gagal dikarenakan menurut masyarakat yang mempunyai keyakinan leluhur bahwa
sungai Amprong memiliki penunggu mahluk gaib. Sebagai kepercayaan agar dapat terlaksana
pembanggunan tanggul maka harus dibuat sesembahan atau tumbal dalam bahasa setempat. Singkat
cerita bahwa diadakan tayuban tujuh hari tujuh malam, pada puncak pertunjukkan Gandang Sinamnya
tandak dan dimasukkan kedalam jurang Kedung bersama dengan seluruh perlengkapan gamelan. Hingga
prosesi pembuatan bendungan dapat terlaksana. Setelah selesai semuanya maka dilanjutkan peresmian
dan sukuran atas keberhasilan proyek bendungan tersebut, yang dikenal dengan nama saluran Sungai
Amprong sampai sekarang. Sebelum acara ditutup, maka yang terakhir dibacakan do’a oleh Tokoh
Agama sekaligus ia memberikan nama dua pedukuan tadi menjadi satu desa yaitu Kedung Gandang.
Nama ini memiliki arti sebuah Kedung yang di tanami seorang tandak sedang gandang. Selanjutnya
untuk mempermudah sebutannya maka Kedung Gandang ini diberi sebutan Kedung Kandang yang
menjadi cikal bakal lahirnya nama Kedungkandang saat ini.