Anda di halaman 1dari 9

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PADA PENYAKIT YANG BERINFEKSI


PADA ISPA (INFEKSI SALURAN PERNAFASAN AKUT)

Dosen Pembimbing: Nurul Laili, S.Kep., Ns., M.Kep

Disusun Oleh:
Kelompok 8
Faiqotun Nazila 14201.08.16011
Khusnul Widad 14201.08.16017
Nafila Antasari 14201.08.16029
Merina HZ 14201.08.16024
Nanang Diaz A 14201.08.16030
Sa’adah 14201.08.16040
Syswati 14201.08.16046

SARJANA KEPERAWATAN

STIKES HAFSHAWATY PESANTREN ZAINUL HASAN

PAJARAKAN-PROBOLINGGO

2019
LAMPIRAN
SATUAN ACARA PENYULUHAN (SAP)
PADA PENYAKIT YANG BERINFEKSI

Pokok bahasan : Infeksi saluran penafasan akut


Sub pokok bahasan : Pentingnya penanganan penyakit infeksi
Sasaran : siswa/I SMP
Waktu : 30 menit
Tempat : Ruang Kelas
Hari/Tanggal : Kamis, 26 September 2019
Pembicara :
Faiqotun Nazila
Khusnul Widad
Nafila Antasari
Merina HZ
Nanang Diaz A
Sa’adah
Syswati

A. Tujuan Intruksional Umum


Setelah mengikuti penyuluhan kurang lebih selama 30 menit diharapkan klien dapat
mengerti dan memahami tentang penyakit yang berinfeksi

B. Tujuan Intruksional Khusus


Setelah mendapat penyuluhan selama 30 menit diharapkan mampu:
1. Memahami tentang definisi ISPA
2. Memahami tentang etiologi ISPA
3. Memahami tentang klasifikasi ISPA
4. Memahami manifestasi ISPA
5. Memahami pemeriksaan penunjang ISPA
6. Memahami penatalaksanaan ISPA
7. Memahami komplikasi ISPA
C. Materi
1. Definisi ISPA
2. Etiologi ISPA
3. Klasifikasi ISPA
4. Mmanifestasi ISPA
5. Pemeriksaan Penunjang ISPA
6. Penatalaksanaan ISPA
7. Memahami Komplikasi ISPA

D. Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab
3. Role play

E. Media
1. LCD
2. Laptop
3. PPT
1. Kegiatan ( proses kegiatan penyuluhan )

NO TAHAP WAKTU PENYULUHAN SASARAN


1. Pembukaan 5 menit 1. Mengucapkan salam 1. Menjawab salam
2. Memperkenalkan diri 2. Menyimak
3. Menjelaskan 3. Mendengarkan
tujuan 4. Menjawab pertanyaan
4. penyuluhan
5. Menyebutkan materi
pokok yang akan
disampaikan
6. Memberikan pertanyaan
apersepsi
2. Inti 15 menit Menjelaskan materi 1. Mendengarkan dan
penyuluhan: Memperhatikan
1. Definisi ISPA
2. Etiologi ISPA
3. Klasifikasi ISPA
4. Mmanifestasi ISPA
5. Pemeriksaan
Penunjang ISPA
6. Penatalaksanaan
ISPA
7. Komplikasi ISPA

3. Penutup 10 1. Memperhatikan 1. Mendengarkan


menit respon klien 2. Menyimak
2. Penyuluh memberikan 3. Menjawab salam
kesempatan kepada
sasaran untuk
3. bertanya dan
mengevaluasi dengan
memberi pertanyaan
kepada sasaran dan
mengadakan role
play
4. Penyuluh memberi
jawaban dengan
tepat
5. Menarik kesimpulan
6. Mengakhiri
penyuluhan,
berterimakasih
dan memberi
salam

1. Evaluasi
1. Cara : Tanya jawab
2. Jenis : Lisan
3. Waktu : Setelah dilakukan penyuluhan
Soal :
1. Definisi ISPA
2. Etiologi ISPA
3. Klasifikasi ISPA
4. Mmanifestasi ISPA
5. Pemeriksaan Penunjang ISPA
6. Penatalaksanaan ISPA
7. Memahami Komplikasi ISPA
MATERI

A. Pengertian Infeksi
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama
kematian pada anak di bawah lima tahun . (Riska Cahya W. Sukarto, 2016)
Menurut defmisi Depkes, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi
saluran pernafasan yang berlangsung sampai dengan 14 hari. (Thomas W. Burke, 2017 )
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) adalah infeksi akut yang melibatkan organ
saluran pernafasan bagian atas dan saluran pernafasan bagian bawah (Riska Cahya W.
Sukarto, 2016)
Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA) merupakan penyakit infeksi yang masih
menjadi masalah di Indonesia karena kasusnya masih cukup tinggi. ( Mei Ahyanti, 2013)

B. Etiologi

ISPA disebabkan oleh bakteri dan virus. Bakteri penyebab ISPA antara lain adalah
dari genus Streptokokus, Stafilokokus, Pneumokokus, Hemofillus, Bordetelia, dan
Korinebakterium. Virus penyebab ISPA antara lain adalah golongan Miksovirus,
Adenovirus, Koronavirus, Pikonavirus, Mikoplasma, Herpesvirus dan lain-lain.
Beberapa faktor lain yang diperkirakan berkontribusi terhadap kejadian ISPA pada
anak adalah rendahnya asupan antioksidan, status gizi kurang, dan buruknya sanitasi
lingkungan dan merokok. (Muttaqin, 2008).

C. Klasifikasi
Klasifikasi penyakit ISPA dibedakan untuk golongan umur di bawah 2 bulan dan
untuk golongan umur 2 bulan – 5 tahun (Muttaqin, 2008):
1. Golongan Umur Kurang 2 Bulan
a. Pneumonia Berat
Bila disertai salah satu tanda tarikan kuat di dinding pada bagian bawah
atau napas cepat. Batas napas cepat untuk golongan umur kurang 2 bulan
yaitu 60x per menit atau lebih.
b. Bukan Pneumonia (batuk pilek biasa)
Bila tidak ditemukan tanda tarikan kuat dinding dada bagian bawah
atau napas cepat. Tanda bahaya untuk golongan umur kurang 2 bulan,
yaitu:
a) Kurang bisa minum (kemampuan minumnya menurun sampai kurang dari ½
volume yang biasa diminum)
b) Kejang
c) Kesadaran menurun
d) Stridor
e) Wheezing
f) Demam atau dingin.
2. Golongan Umur 2 Bulan - 5 Tahun
a. Pneumonia Berat
Bila disertai napas sesak yaitu adanya tarikan di dinding dada
bagian bawah ke dalam pada waktu anak menarik nafas (pada saat diperiksa
anak harus dalam keadaan tenang, tidak menangis atau meronta).
b. Pneumonia Sedang
Bila disertai napas cepat. Batas napas cepat ialah:
 Untuk usia 2 bulan - 12 bulan = 50 kali per menit atau lebih
 Untuk usia 1 - 4 tahun = 40 kali per menit atau lebih.
3. Bukan Pneumonia
Bila tidak ditemukan tarikan dinding dada bagian bawah dan tidak ada
napas cepat. Tanda bahaya untuk golongan umur 2 bulan - 5 tahun yaitu tidak
bisa minum, kejang, kesadaran menurun, stridor, gizi buruk.
D. Manifestasi Klinis
ISPA merupakan proses inflamasi yang terjadi pada setiap bagian saluran pernafasan
atas maupun bawah, yang meliputi infiltrat peradangan dan edema mukosa, kongestif
vaskuler, bertambahnya sekresi mukus serta perubahan struktur fungsi siliare (Muttaqin,
2008)
Tanda-tanda bahaya dapat dilihat berdasarkan tanda-tanda klinis dan tanda- tanda
laboratoris.
1. Tanda-tanda klinis
a. Pada system respiratorik adalah: tachypnea, napas tak teratur (apnea), retraksi
dinding thorak, napas cuping hidung, cyanosis, suara napas lemah atau
hilang, grunting expiratoir dan wheezing.
b. Pada system cardial adalah: tachycardia, bradycardiam, hypertensi, hypotensi
dan cardiac arrest.
c. Pada sistem cerebral adalah: gelisah, mudah terangsang, sakit kepala,
bingung, papil bendung, kejang dan coma.
d. Pada hal umum adalah: letih dan berkeringat banyak.
2. Tanda-tanda laboratoris
a. Hypoxemia
b. Hypercapnia
c. Acydosis (metabolik dan atau respiratorik)

E. Pemeriksaan Penunjang
Diagnosis ISPA oleh karena virus dapat ditegakkan dengan pemeriksaan laboratorium
terhadap jasad renik itu sendiri. Pemeriksaan yang dilakukan adalah biakan virus,
serologis, diagnostik virus secara langsung. Sedangkan diagnosis ISPA oleh karena
bakteri dilakukan dengan pemeriksaan sputum dan sampel darah (Rasmaliah, 2004).

F. Penatalaksanaan
Pedoman penatalaksanaan kasus ISPA akan memberikan petunjuk standar pengobatan
pada penyakit ISPA. Penatalaksanaannya yaitu :
Penatalaksanaan pada penderita ISPA menurut Corwin, 2009:
1. Istirahat untuk menurunkan kebutuhan metabolic tubuh.
2. Hidrasi tambahan untuk membantu mengencerkan mucus yang kental sehingga mudah
dikeluarkan dari saluran napas. Hal ini perlu dilakukan karena mucus yang
terakumulasi merupakan tempat yang baik untuk perkembangbiakan mikroorganisme
sehingga dapat terjadi infeksi bakteri sekunder.
3. Dekongestan, antihistamin, dan supresan batuk dapat mengurangi beberapa gejala
yang mengganggu.
4. Beberapa penelitian menyarankan zinc lozenges atau meningkatkan konsumsi vitamin
C dapat menurunkan tingkat keparahan atau kemungkinan infeksi beberapa virus
tertentu.
5. Diperlukan antibiotic apabila penyebabnya adalah bakteri atau sekunder terhadap
infeksi virus.

G. Komplikasi
1. Sinusitis dan otitis media akut
2. Infeksi saluran napas bawah, termasuk pneumoni dan bronchitis, dapat menyertai
ISPA
(Corwin, 2009)
DAFTAR PUSTAKA

.
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan.
Jakarta: Salemba Medika
T. Heather Herdman. 2016. Diagnosa Keperawatan definisi & klasifikasi 2015 – 2017
EDISI 5. Jakarta: EGC
Corwin, Elizabeth J. 2009. Buku Saku PATOFISIOLOGI. Jakarta: EGC
Giorgi Chakhunashvili. 2017. Implementation of a sentinel surveillance system for
influenza-like illness (ILI) and severe acute respiratory infection (SARI) in the
country of Georgia, 2015-2016.Elseiveir G. Chakhunashvili et al. International
Journal of Infectious Diseases 65 (2017) 98–100
Howard K. Butcher.2013. Nursing Interventions classification (NIC) Edisi keenam.
Indonesia:Elsevier
Jiarui Wu, Dan Zhang, Yutong Wang, Xiaomeng Zhang,.Shi Liu, Bing Zhang.2017.
Qingkailing injection for the treatment ofacute upper respiratory infection in
children: a systematic review and meta-analysis.